{"id":3641,"date":"2025-11-27T20:31:32","date_gmt":"2025-11-27T13:31:32","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3641"},"modified":"2025-11-27T20:31:33","modified_gmt":"2025-11-27T13:31:33","slug":"ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/","title":{"rendered":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/YRdLM3TRYHQ?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) R mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdulillah hamdan kairan thiban mubarokan fahunaard.<br \/>\n(00:47) Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu waasul. Ba&#8217;u ikhwat Islamakumullah. Sahabat raja di manapun Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan siang hari ini kita dapat bersua kembali dan kita akan simak bersama kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pembahasan rutin pembahasan kitab al-Aqidatu awalan lau ylamu disampaikan oleh Al Ustaz Afifi Abdul Wadud hafidahullahu taala dari Yogyakarta. Alhamdulillah kami sudah terkoneksi dengan beliau. Semoga Allah<br \/>\n(01:16) menjaga al ustaz beserta keluarga, berkahi ilmu yang telah disampaikan dan juga berkahi pertemuan kita di kesempatan hari ini. Dan pembahasan masih melanjutkan mengenai sifat ahlul jannah yaitu mengenai istiqamah. Dan kepada Anda sahabat Raja sekalian yang ingin bertanya setelah materi nanti, Anda bisa bertanya melalui layanan pesan WhatsApp ya di nomor 0218236543.<br \/>\n(01:45) Baik, kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada Al Ustaz kami persilakan. Falfadol masyur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi wa mawalah wala haula wala quwwata illa billah. Amma ba&#8217;du. Alhamdulillah.<br \/>\n(02:21) Para pemirsa radio Raja, Bapak, Ibu, kaum muslimin rahimani warahimakumullah. Insyaallah kita melanjutkan pembahasan kita min sifati ahlil jannah yang terambil dari kitab al-Aqidah awalan lau ylamun. Dan insyaallah kita masuk pada pembahasan satu di antara sifat ahlul jannah adalah al-istiqamah. Mereka ini istiqamah. Istiqamah kalau disingkat adalah dengan ungkapan luzumu sirattil mustaqim.<br \/>\n(02:55) Istiqamah artinya adalah orang yang senantiasa melazimi asirat almustaqim sehingga senantiasa lurus di atas asirat al mustaqim. Dia akidahnya lurus, ibadahnya lurus, akhlaknya lurus, dakwahnya lurus, dia manhajnya lurus. sehingga al kulihal itu bagaimana seorang dia istiqamah itu di atas siratal mustaqim dan tentu ini adalah perkara yang tidak ringan ini perkara yang sangat berat karena memang apa yang dikatakan nabi kita yang mulia sallallahu alaihi wasallam khuffatil jannah bil makari bahwasanya surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak<br \/>\n(03:41) menyenangkan istikamah itu ya sesungguhnya berjalan di atas siratal mustaqim itu adalah gampang. Karena secara umum Allah Nabi katakan innaddina yusrun. Agama ini adalah gampang, mudah pelaksanaannya mudah tidak membebani. Tidak maksudnya tidak membebani dengan beban yang berat. Dan bahkan kalau mau merenungkan juga setiap apa yang menjadi perintah Allah Subhanahu wa taala itu sesungguhnya merupakan kebutuhan kita. Keputuhan kita.<br \/>\n(04:22) Contoh umpamanya perintah untuk kita bertauhid. Maka perintah tauhid ini sesungguhnya kebutuhan kita. Karena seorang hamba itu hanya akan betul-betul hatinya merdeka ketika dia bertauhid. Kalau tidak, maka dia akan menjadi budak-budak yang hanya akan menyengsarakan saja. Budak nafsu, budak setan, budaknya para makhluk sehingganya akan terhina dan dia tidak akan mendapatkan keuntungan-keuntungan kecuali bahkan kesengsaraan.<br \/>\n(04:58) Salat. Salat itu sehari semalam lima kali. Dan sesungguhnya itu merupakan kalau kita merenung kebutuhan jiwa kita. yang salat memberikan ketenangan, kenyamanan, dia nyambung dengan Allah Subhanahu wa taala. Selain juga banyak efek-efek ee banyak dampak positif, hikmah di balai salat kalau seandainya orang mau mengupas satu persatu.<br \/>\n(05:24) Demikian, Prof. puasa, zakat, haji, dan seterusnya itu secara ini ee syariat ini adalah mudah dan ringan. yang menjadikan berat itu karena banyak hal. Banyak hal yang menjadikan berat itu karena yaitu di antaranya imannya tipis sehingga enggak punya kecintaan kepada Allah, enggak punya semangat beragama.<br \/>\n(05:51) Namanya enggak punya semangat ya ee ringan aja jadi berat banget. Kemudian karena kebodohan seseorang enggak paham tentang tekad ajaran Islam sehingga rasanya itu hanya diperintah, diperintah, diperintah, diperintah. Kemudian juga karena mungkin kawan-kawan yang buruk sehingga banyak sekali mengajak ke sana ke sini untuk dia kemudian meninggalkan kewajiban agama yang dari dalam di antaranya nafsuhu.<br \/>\n(06:20) Nafsu itu cenderung memerintahkan p keburukan dan lebih jahat lagi ketika nanti nafsu dia bersekongkol dengan setan. Maka sesuatu yang tadinya ringan menjadi begitu sangat berat. Di antara sifat alujannah istiqamah ini di antaranya ee dari ter semua dalam surat Fusilat ayat yang ke-30 dan berikutnya.<br \/>\n(06:47) Di antaranya Allah Subhanahu wa taala menyebutkan, innalladzina qalu rbunallah. Sesungguhnya orang mereka mengatakan rabbunallah. Rabbku adalah Allah Taala. Kalimat rabbunallah. Rabku adalah Allah artinya dia beriman kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Dia beriman kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Iya.<br \/>\n(07:11) Bukan sehingga seingga bukan sekedar hanya keyakinan dia yakin dengan Allah. Dia yakin dengan Allah dia beriman dengan apa yang diturunkan Allah lalu dia berjalan di atas syariat agama Allah. Ini ada kelas iman-kelas iman yaitu iman. Tmastaqamu. Kemudian mereka istiqamah. Dia tunaikan segala konsekuensi iman sampai dia kemudian mengakhiri kehidupan ini.<br \/>\n(07:38) Karena beribadah kepada Allah itu sampai akhir kehidupan kita. Wabud rbaka hatta yatiakal yaakin. Sembahlah Rabbmu sampai kamu ketemu dengan alyakin yaitu almaut. Sehingga tuntutan istiqamah adalah terus sampai kita ketemu Allah dalam keadaan yaitu di atas siratal mustaqim tidakok ke sana kemari. Tatanazalu alimul malaikah. Di saat ada ketika orang istiqamah di atas agamanya sampai dia menjelang ini kematiannya dia terus istiqamah.<br \/>\n(08:19) Maka di antara yang Allah sampaikan menjelang kematiannya para malaikat akan mereka turun. Bahkan akan datang malaikat sepanjang mata memandang. Dan kalau itu rohnya seorang mukmin yang istiqamah, malaikat yang datang dengan wajah yang berseri, dengan kain kafan yang berisi yang ee berbau sangat wangi. Sampai kemudian ketika malaikat ketika almaut datang, saat datangnya ajal, maka malakal maut baru datang kemudian mencabut nyawanya dan nyawanya dicabut seperti keluarnya air dari mulut ceret dengan sangat gampang. Dan hari-hari menjelang kematiannya itu<br \/>\n(09:01) akan disampaikan kabar gembira pula sehingga dia menjadi orang yang semakin rindu bertemu dengan Allah Taala. Man ahabba liqa Allah ahab ahab liqaah. Waman kariha liqa Allah kari Allah liqaah. Barang siapa yang dia suka bertemu dengan Allah, Allah akan suka bertemu dengan dia. Barang siapa yang dia benci bertemu dengan Allah, Allah akan benci bertemu dengan ini dia.<br \/>\n(09:26) Ee maksudnya sebagaimana Nabi jelaskan kata Aisyah yang Aisyah ini bingung atau sempat menanyakan, &#8220;Ya Rasulullah, karyatul maut kulluna naqrahul maut.&#8221; Tentang kematian ya Rasulullah. Kita semuanya orang yang tidak suka dengan kematian. Tentu demikian kalian kita semuanya. Kalau kita ditawari mati sekarang atau besok, tentu kita pasti ya jangan sekaranglah. Hanya tidak suka mati ini ada motivasinya.<br \/>\n(09:52) Ada karena cinta dunia, ada karena khawatir, kesiapannya kurang dalam menghadap Allah Subhanahu wa taala. Yang tercela adalah ketika orang dia takut mati atau enggak mau mati karena kecintaannya kepada perkara ini dunia. Ah, seorang mukmin ketika menjelang kematian itu Allah akan sampaikan kabar gembira tentang ampunan Allah, rahmat Allah, tempat yang akan dia tempati sehingga dia semakin ada kerinduan untuk segera mendapatkan itu.<br \/>\n(10:25) Maka ketika mayat seorang mukmin pun diangkat ee itu diusung ke kuburan, apa yang diungkapkannya? yang diucapkannya qattimuni, qattimuni, yaitu segerakan aku, segerakan aku. Ini adalah apabila rohnya itu seal seorang mukmin, malaikat mereka turun kemudian memberikan ini ee penegasan allahu wsanu wsiru bilitumadun.<br \/>\n(10:53) Kalian jangan takut, jangan sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian semuanya. Sehingga ini merupakan ini kabar gembira dari Allah kepada orang mereka istiqamah ini saat mereka menjelang kematiannya. Jangan takut, jangan sedih. Orang mukmin di dunia ini sudah takut kepada Allah Taala dengan dia bertakwa kepada Allah maka tidak akan berkumpul dua rasa takut.<br \/>\n(11:24) Barang siapa yang dia takut waktu hidupnya kepada Allah dengan dia memenuhi tuntunan syariat ajaran Allah, dia bertakwa kepada Allah, maka hari-hari menghadap Allah akan menjadi hari yang sangat membahagiakan. Hari-hari yang dia tidak akan diliputi rasa takut dan juga tidak akan sedih. Bagaimana akan sedih ketika dia meninggalkan dunia dan seisinya? memang sedih karena itu hal-hal yang banyak yang dia cintai dari perkara dunia dan seisinya itu.<br \/>\n(11:51) Tapi bagaimana akan bersedih ketika dia tinggalkan yang dia cintai tersebut? Dia mendapatkan yang lebih dia cintai lebih baik segala-galanya itu kamu akhirat dengan ee kenikmatan yang disediakan oleh Allah subhanahu wa taala. Dan sampaikan kabar gembira surga yang Allah telah ini ee janjikan kepada mereka. Nahnu aulukum dunya akhirah. Kami adalah wali-wali kalian di dunia dan di akhirat.<br \/>\n(12:22) Dan kalian di surga, apapun yang Anda inginkan bakal keturutan. Dan eh anda di surga ma tadiun, yaitu apa yang kalian minta, apa yang Anda selera akan terwujud, apa yang Anda minta akan ini segera terpenuhi. Nusulan min gofuri rahim. Ini semuanya hidangan dari Allah Subhanahu wa taala yang maha pengampun lagi maha ini penyayang.<br \/>\n(12:55) Ee ayat ini adalah satu di antara yang menunjukkan bahwa ahlul jannah yang mereka nanti akan menempati jannah di akhirat kelak. Maka di dunia ini dia tampil sebagai orang-orang yang istiqamah, orang-orang yang mereka benar-benar bagaimana lurus di atas ini jalan Islam, jalan yang lurus ini. Tentu pertanyaannya adalah kenapa sih ahlul jannah di dunia ini kok mereka yni istiqamah, bersikap istiqamah? Yang pertama, jawaban yang pertama, karena istiqamah itu adalah perintah Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(13:34) Liannallaha amarahum bil istiqamah. Allah subhanahu wa taala memerintahkan kepada kita semuanya kaum mukminin yang ingin menjadi ahlul jannah, hendaklah kita istiqamah. Istiqamah sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam ini ayat fastaqimu ilaih wastagfiruhu. Istiqamahlah kalian dalam berjalan menuju Allah subhanahu wa taala dan minta ampunlah kalian kepada Allah taala.<br \/>\n(14:14) Para ulama mengingatkan kepada kita bahwa perintah Allah ini istiqamah kemudian disusul dengan perintah untuk beristigfar kepada Allah subhanahu wa taala menunjukkan bahwa untuk kita istiqamah 100% itu kemungkinannya sangat kecil sekali. Bahkan mungkin enggak bisa. Dan Allah tahu tentang kelemahan kita.<br \/>\n(14:41) Allah tahu tentang kelemahan kita. Kemampuan kita untuk istikamah lenceng kepada Allah. Lahir batin itu enggak mungkin bisa 100%. Pasti ada kekurangannya. Ah, makanya bersama dengan kita istiqamah, beramal, meninggalkan larangan, melakukan amal saleh, kita banyak-banyak diperintahkan untuk beristigfar, mengikuti mengiri dengan istigfar untuk menyadarkan diri kita pula bahwa bersama dengan amalah kita pasti banyak kekurangan-kekurangannya. Itu pasti.<br \/>\n(15:13) Makanya kita salat, salat itu ketaatan wiridnya. di antaranya astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah, istigfar. Padahal salat itu adah adalah adalah ketaatan. Kemudian ketika Allah cerita tentang hamba mukmin yang ee malamnya itu dia salat malam, qiamulail mendekat kepada Allah, maka di penghujung malamnya di waktu sahur wabil ashari hum yastagfirun.<br \/>\n(15:45) Di waktu sahur mereka beristigfar. Padahal malamnya itu bukan berzina, bukan minum khamer, bukan begadang, bukan hura-hura, tapi mereka mendekat kepada Allah Taala. Tapi di pagi harinya Allah perintahkan dia e mereka Allah ceritakan ini beristigfar kepada Allah Taala. Kemudian ketika Allah Subhanahu wa taala mensyariatkan kepada para jemah haji setelah mereka wukuf di Arafah, mereka mabit di Muzdalifah, maka rangkaian ibadah haji yang penuh dengan mengingat Allah Taala dan ketaatan p Allah Taala ini bahkan jihad lahir batin. Lihat ini ee jasmani roh<br \/>\n(16:25) lihat e jihad badan harta ee dan waktu kita. Allah perintahkan kita tumma afidu min hafadas wastagfiruhu wastagfirullaha. Kemudian pertolaklah kalian dari mana manusia bertolak. wastagfirullaha lalu beristigfarlahkan kepada Allah Taala. Habis rangkaian haji dipakai di puncak acara haji.<br \/>\n(17:04) Lalu Allah perintahkan kita kaum mukminin agar beristigfar kepada Allah Taala. Bahkan manusia terbaik yang sangat amanah yang telah menunaikan setiap setiap perintah Allah dengan sempurna. Maka ketika terjadi Fathul Mekah, Nabi menguasai kota Makkah dan puncak di antara puncak kemenangan. Bahkan yang diperintahkan Allah apa? Fasabbih bihamdibika wastagfiru.<br \/>\n(17:32) Hendaklah Nabi beristigfar kepada Allah Subhanahu wa taala. Bertasbih, bertahmid, kemudian Allah perintahkan, kemudian istigfar. Maka ini semuanya mengingatkan pada kita bahwa di balik hebatnya ibadah kita seperti apapun, maka pasti ada kekurangannya yang layak kita untuk kemudian banyak-banyak beristigfar kepada Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(18:03) Demikian juga Rasul kita yang mulia sallallahu alaihi wasallam ee juga di di ayat yang lain Allah katakan perintah istiqamah itu fastaqim kama umirta isni beristiqamahlah kamu seperti yang diperintahkan Allah kepada engkau sehingga Allah perintahkan kepada nabi waman ma dan kepada kaum mukminin yang bersama nabi e yang bertobat kepada Allah Taala agar mereka ya ini istiqamah terus lurusim kama umirta waman taba maak wala t jangan melampaui batas jangan belok kanan jangan belok kiri jangan mumbul jangan ini jatuh rendah jangan ifrad<br \/>\n(18:52) jangan tafri jangan hulu beli-belian jangan ini meremeh-remehkan lurus istikamah nabi kita pun ketika ada Orang datang pada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam apa katanya? Ya Rasulullah, qulli fil islami qalan la asalu anhu ahdan ba&#8217;da. Ya Rasul sahu alai wasallam katakan kepadaku, ajarkan kepadaku sebuah kalimat Islam, sebuah ajaran Islam yang aku tidak perlu lagi bertanya kepada selainmu.<br \/>\n(19:29) Apa kata Nabi? Qul amantu billah tummaqim. Katakanlah, &#8220;Aku beriman kepada Allah Subhanahu wa taala.&#8221; Lalu istiqamahlah. Lalu istikamahlah. Perintah Nabi hanya dua, iman, istikamah. Tapi ini hakikat ajaran Islam. Bagaimana kita beriman dengan segala kelazimannya, segala konsekuensinya. Kemudian setelah itu bagaimana kita istiqamah.<br \/>\n(19:57) Bagaimana kita istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wa taala. Maka seorang mukmin yang dia memiliki sifat bagaimana senantiasa menyambut seruan-seruan Allah Subhanahu wa taala, maka ketika Allah memerintahkan istikamah, serah untuk istiqamah se ee ini maksimal mungkin sehingga bagaimana dia bertemu kepada Allah dalam keadaan dia betul-betul istiqamah, lurus di atas jalan. di Islam.<br \/>\n(20:37) Sehingga kalau kita punya kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita bangun, biasa umpamanya salat malam, maka istikamahlah salat malam. Kalau biasa berpuasa Senin Kamis, maka istikamah Senin puasa Senin Kamis. Kalau biasa punya waktu baca Quran, maka istikamahkanlah baca Quran tersebut. Kalau kemudian kita punya biasa kebiasaan azkar pagi, sabah, ak maah, azkar masa, zikir pagi, zikir petang, maka rawat dan istiqamahlah amalan-amalan itu.<br \/>\n(21:07) Karena yang Allah inginkan itu amalan itu adalah yaitu dawam, istiqamah terus-menerus dawam. Ahabbul amal ilallah ini atwamuha wainqala. Amalan yang sangat Allah cintai adalah amalan yang walaupun sedikit tapi terus dipelihara terus istikamah terus. Ini akan menjadikan semakin menjaga hati lebih menjaga hati manusia.<br \/>\n(21:34) Yang kedua, kenapa seorang mukmin dia harus istiqamah dalam kehidupannya itu? Karena seorang mukmin di dunia ini alujannah mereka istikamah agar mereka mendapatkan kabar gembira bil jannah. fid dunya ini mendapatkan kabar gembira di akhir dengan jannah di dunia ini. Karena orang yang istikamah akan Allah sampaikan ini ee busra, kabar gembira tentang surga sewaktu masih di dunia maupun nanti kelak di ini akhirat.<br \/>\n(22:09) Ketika masih di dunia ini di antaranya adalah saat menjelang kematian. Ayat yang tadi kita baca ini ini ee orang mereka istikamah menjelang kematiannya malaikat datang untuk memberikan penyemangat. Jangan takut, jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kalian.<br \/>\n(22:35) Maka di ayat yang lain juga dikatakan ala inna auliya Allah khaufun alaihim wsanun. Ketahuilah bahwasanya wali-wali Allah mereka itu tidak takut, tidak sedih. Wali-wali Allah. Wali Allah itu siapa? Alladzina amanu wau yattaquun. Setiap orang yang beriman, setiap orang bertakwa itu adalah wali Allah Taala. Semakin tinggi derajat keimanannya dan ketakwaannya maka semakin tinggi derajat kewaliannya.<br \/>\n(23:09) Semakin tinggi kewaliannya, semakin sempurna dia dalam menunaikan kewajiban dan sempurna dalam menikan yni amal-amal sunah semakin ini tinggi derajat kewalian dia. Karena para wali Allah mereka meraih derajat kewaliannya itu dengan menunaikan al-awamir ilim menunaikan perintah-perintah Allah Taala.<br \/>\n(23:35) Yaitu menunaikan dulu alfaraid hal-hal yang diwajibkan Allah kemudian disempurnakan dengan hal yang disunahkan Allah subhanahu wa taala. Ini ada para wali Allah taala. Sebagaimana dalam hadis wali yang telah sering kita dengar. Man walian faqantu bil harbi. Barang siapa yang dia ee memusihi waliku maka dia maka Allah telah umumkan perang denganu. Maka Allah telah umumkan perang.<br \/>\n(24:03) Barang siapa yang dia mengganggu wali Allah, menyakiti wali Allah, dia diumumkan perang oleh Allah Taala. Dan mana mungkin orang akan menang perang dengan Allah Taala menunjukkan tentang bagaimana bahayanya memerusi wali-wali Allah Taala.<br \/>\n(24:21) Ah, tentu di sini wajib kita untuk memahami siapa itu wali Allah dan siapa itu wali setan. Jangan sampai kita kemudian salah karena kita enggak memahami hakikat wali Allah wali setan. Wali Allah dianggap wali setan. Wali setan dianggap wali Allah Taala. Banyak di tengah-tengah kehidupan kita ini orang yang mereka lebih tepatnya wali setan tapi dianggap wali Allah Taala. Agamanya penuh dengan khurafat.<br \/>\n(24:47) agamanya penuh dengan syirik, agamanya penuh dengan penyimpangan, agamanya penuh dengan tipuan, tetapi dianggapnya wali Allah. Dianggapnya wali Allah. Agamanya penuh dengan yaitu rekayasa. Tapi dianggap wali yang hak yang betul-betul wali Allah ingin menegakkan Quran, menegakkan sunah, memerangi syirik, memerangi bidah, dianggap wali setan.<br \/>\n(25:25) Sehingga bagaimana bersikap keji, penuh dengan kedustaan, penuh dengan kotor mulutnya, lisannya kotor. Mengumpat, mencaci maki, membuat kedustaan untuk menjauhkan diri manusia. dianggapnya wali setan sehingga memeranginya, menghabisinya itu dianggapnya jalan mengantarkan ke surga. Ini karena kebalik. Wali setan dianggap wali Allah, wali Allah dianggap wali setan sehingga sal bersikap.<br \/>\n(25:57) Wali Allah itu digambarkan yang udung-udungnya tinggi. Kemudian kelihatan sakti mondruno. Kemudian pengagung kuburan. Sehingga yini orang-orang yang mereka justru menghidupkan syirik dan khurafat-khurafat dianggapnya wali Allah Taala dan enggak peduli lagi dengan syariat ajaran agama Allah Taala.<br \/>\n(26:23) Ini adalah karena salah di dalam ya itu memahami siapa itu hakikat wali Allah Taala. Ah wali Allah setiap orang yang beriman dan bertakwa. Iman yang tidak kecampur dengan syirik. Iman yang tidak modelnya munafik tapi iman yang hakiki. Bertakwa menunjukkan mereka bagaimana menunjukkan amalan-amalan zir yang menunjukkan dia orang tunduk patuh bertakwa kepada Allah Taala.<br \/>\n(26:51) Lahumul busro fil hayatid dunya wafil akhirah. Bagi mereka adalah kabar gembira di dunia dan di ee dan di akhirat. Adapun busra di dunia apa itu? Kabar gembira di dunia apa itu? ini ketika dia menjelang kematian orang mereka istiqamah yang mereka telah selama ini bagaimana menunaikan kewajiban-kewajiban agama Allah dengan yaitu rutin dengan istiqamah sampai kemudian menjelang kematiannya maka malaikat akan turun ketika mereka berada di ranjang kematian mendekati hari kematiannya masa malaikat memberikan kabar gembira kepada mereka tentang surga yang luasnya selas langit dan bumi.<br \/>\n(27:32) Malaikat menegaskan alofu wsanumun. Ini adalah orang-orang yang mereka istiqamah. Allah berikan kabar gembira. Surga yang diberitakan surga yang dijanjikan Allah Subhanahu wa taala. Dan sebagaimana juga di dalam ayatnya Allah katakan faamma inana minal muqarin. Ketika orang yang menjelang mati itu ada orang mereka muqarab.<br \/>\n(28:04) Orang yang mereka itu senantiasa ee mendekat kepada Allah didekatkan oleh Allah mereka selalu mendekat kepada Allah dengan amal-amal yang mereka lakukan. Mereka mendekat kepada Allah dengan amal yang wajib dan amal yang sunah. Maka orang mereka muqarabin ini ketika menjalang kematiannya apa yang akan didapatkan? Farahun waraihanun wa jannatu naim. Mereka akan mendapatkan ini kebahagiaan.<br \/>\n(28:30) Ini kebahagiaan, kesenangan, dan surga yang penuh dengan kenikmatan. bergabungnya antara kebahagiaan hati, kebahagiaan zahir, kebahagiaan lahir, kemudian surga yang akan dia dapatkan, maka ini adalah orang yang mereka di dunia istiqamah, mereka minal muqarabin, orang mereka senantiasa mendekat kepada Allah subhanahu wa taala maka bagi mereka adalah kabar gembira untuk mendapatkan jannah seperti yang disampaikan oleh para malaikat ketika mereka menjelang ini kematiannya.<br \/>\n(29:04) Adapun di akhirat kelak bagaimana ketika mereka di Ardul Mahsyar di hari harta dan anak-anak sudah enggak berguna lagi. Ketika manusia mereka itu melewati sirat ya pada saat yang sangat menegangkan segali. Maka orang-orang mukmin Allah berikan kemudahan-kemudahan yang merupakan bentuk kegembiraan bagi mereka.<br \/>\n(29:33) Melewati sirat ada yang secepat kilat, secepat kedipan mata, seat kuda lari, secepat manusia lari yang mereka kemudian mendapatkan yaitu jannah. Setelah selamat dari yni menempuh sirat tersebut. Allah berikan cahaya yang terang benderang. Di saat banyak orang mereka kegelapan kehilangan cahaya. Hari ketika Anda lihat orang mukmin laki-laki perempuan mereka berjalan dengan cahaya di depannya dan di belakang dan di sebelah kanannya.<br \/>\n(30:05) Mereka orang-orang yang sebagaimana di dunia mengambil cahaya Islam, mengambil cahaya Quran dan sunah, maka di saat mereka yaitu digiring menghadap Allah, maka mereka pun Allah berikan cahaya yang terang benenderang. Yang terang benerang bahkan dimuliakan Allah Taala. Hari ketika Allah yaitu mengumpulkan orang mukmin lalu mereka membawa menghadap Allah dalam keadaan seperti seorang duta. Seorang duta namanya duta dimuliakan.<br \/>\n(30:47) Kenapa dimuliakan? Karena di dunia mereka telah memuliakan Allah, memuliakan agama Allah. Maka saat mereka dibangkitkan menghadap Allah, saat-saat mereka berakini menghadap Allah, mereka akan dimuliakan pula oleh Allah, diperlakukan ke seorang ini buta. Sehingga seorang istiqamah disebabkan karena dia ingin mendapatkan yaitu kabar gembira jannah di dunia maupun di akhirat kelak.<br \/>\n(31:19) Yang ketiga, al jannah di dunia ini mereka istiqamah. Karena seorang ahli, seorang mukmin yakin seyakin-yakinnya anadatad dunya wal akhirah bil istiqamah ala amrillah. Kebahagiaan dunia dan akhirat itu tidak akan bisa diraih kecuali hanya dengan istiqamah di atas agama Allah, di atas yaitu perkara Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(31:42) keberkahan hidup, kenyamanan hati, kelapangan dada itu hanya akan didapatkan orang mereka istikamah. Orang yang mereka hatinya kacau, tidak fokus kepada Allah, dia ahli maksiat, enggak mungkin dia akan bisa hatinya tenang, nyaman, ini berbahagia, enggak akan bisa.<br \/>\n(32:09) Semua yang dibangun bukan di atas tauhid, bukan di atas ini mentauhidkan Allah, ibadah kepada Allah, mengesahkan Allah Taala, maka semuanya semu. Termasuk kebahagiaannya, kebahagiaan yang semu. kebahagiaan hakiki yaitu tenangnya hati ee longgarnya dada, lapangnya dada itu hanya didapatkan orang yang mereka betul-betul ee itu mempersembahkan hidupnya semata-mata kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(32:39) Dan keberkahan hidup itu bersama dengan ketaatan kepada Allah taala. Semakin taat kepada Allah semakin berkah. Dan berkah itu kebaikan yang banyak sehingga lahir batin itu akan mendapatkan kebaikan ee kebaikan karena keberkahan hidupnya tersebut. Lihat bagaimana di dunia ini nabi dan para sahabat Nabi Allah perlihatkan hasilnya di antaranya berapa banyak negeri-negeri yang telah ditaklukkan oleh yaitu kaum muslimin.<br \/>\n(33:09) Bahkan yang menjadi simbol kehebatan adalah negara Persi dan Romawi. Dua negara adi kuasa bagaimana bisa digulung oleh kaum muslimin. Dan ini merupakan buah ee tauhid, buah ketakwaan mereka kepada Allah Taala. Bayangkan muslimin, bagaimana Nabi dari seorang diri berdakwah lalu mendapatkan beberapa orang yang mereka mau beriman lalu sampai berkembang pan hijrah ke Madinah.<br \/>\n(33:35) Selama 10 tahun Nabi di Madinah maka berapa banyak negeri yang telah yaitu ditaklukkan dibuka dan diteruskan oleh para khulafa rasyidin dan hingga kemudian sangat meluas ke mana-mana Islam. Dunia akan dibukakan kepada orang-orang Allah akan berikan dunia kepada orang mereka betul-betul bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala memiliki isah.<br \/>\n(34:01) Adapun sekarang ini kenapa kita mukminin kelihatan hina kemudian enggak punya kebanggaan dengan Islam ya bahkan bangganya dengan orang kafir bagaimana mereka sangat justru ee sangat asing dengan agamanya. Muslim dalam hina rendah seperti ini bukan karena sedang tinggi-tingginya agama, tapi sedang rendah rendahnya beragama. Karena kuncinya kemuliaan itu hanya dengan kembali kepada agama.<br \/>\n(34:28) Kata Nabi, hatta tarjuinikum. Sampai kalian kembali kepada agama Allah Taala baru Allah akan cabut kehinaan itu. Pelajaran yang telah memberikan kepada kita sejarah yang telah berlalu, setiap penyelisihan kepada nabi akan menghasilkan hinaan. Contohnya perang Uhud.<br \/>\n(34:47) Bagaimana sebagian sahabat mereka mendorakai Nabi, wasiat Nabi untuk bertahan di Bukit Rumat, baik melihat menang atau kalah. Tapi kemudian ternyata sebagian muslimin menyelisihinya sampai akhirnya terjadi insiden Uhud tersebut. Padahal awalnya Allah telah memberikan kemenangan pada kaum muslimin. P kaum mukminin. Ini karena kecerobohan.<br \/>\n(35:06) Sehingga hinnanya muslimin ketika mereka meninggalkan agamanya, ketika mereka ini ee yaitu bersikap buruk kepada ini agamanya. Kemudian seorang mukmin mereka istiqamah juga. Kenapa? Karena khaufan min adzabillah. Mereka sangat takut dengan azab Allah Subhanahu wa taala. Nanti ada sesi dialog antara ahlul jannah dengan ahlun nar. Apa kata ahlul jannah ketika dia berdialog dengan kawannya yang ada di neraka? Wata ashabul jannah.<br \/>\n(35:49) Dan orang yang mereka menempati jannah mereka menyeru. Ini orang ahli jannah yang istikamah yang dulu istiqamah di atas imannya, di atas Islamnya. Dia berseruk kepada kawannya ini yang ada di neraka. Wada ashabul jannah ashabunar. Orang-orang yang mereka di jannah mereka menyeru pada orang mereka di neraka. Orang neraka, orang mereka tidak istiqamah.<br \/>\n(36:20) Orang mereka kemudian hancur-hancuran kehidupannya. anq wajna maanaunaqanukumq wa ahlunar kami telah mendapatkan apa yang Allah janjikan kepada kami. Perkara yang betul-betul hak nyata telah kami dapatkan. Apakah kalian telah mendapatkan janji Rabb kalian? Janji Allah Taala. Apakah Anda telah mendapatkan janji yang k Allah Taala? Betul.<br \/>\n(36:59) Kami telah mendapatkan janji Allah yaitu akan terazab. Diabana muinahumullahiin. Maka berserulah ini penyeru laknat Allah itu menyimpak kepada orang yang zalim. Di sini bagaimana ahlun nar yang mereka terazab diazab oleh Allah Taala karena di dunia mereka tidak istiqamah di atas agama Allah bahkan menentang agama Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(37:32) Orang-orang mukmin yang mereka lurus maka dia akan akan masuk jannah. Dan orang-orang mereka selama ini menghalangi agama Allah, durhaka kepada Allah kemudian menyimpang di agama Allah. Mereka akan menjadi ahlunar. Allinaillah. Orang-orang mereka menghalang dari jalan Allah Taala dan mereka mencari jalan yang sesat. Akti kafirun. Mereka dengan akhirat ini mengkufurnya e kufur.<br \/>\n(38:03) Maka bagi mereka adalah azab yaitu jahanam. haula alladina kadzabu albihim alatullahi alimin. Siapakah yang lebih zalim dibandingkan orang mereka itu membuat-buat kedustaan atas nama Allah Taala? Merekalah orang-orang yang telah membuat kedustaan atas nama Allah Taala.<br \/>\n(38:47) Mendustakan Allah, mendustakan kedustaan atas nama Allah Taala. Maka Allah menimpa orang-orang yang mereka ini zalim. Intinya bahwa barang siapa yang mereka menghendaki untuk menjadi ahlul jannah, hendaklah mereka istiqamah. Lalu pertanyaannya adalah gimana sih caranya, Kak? Gimana sih caranya agar kita bisa terbantu untuk mewujudkan istiqamah? Kata bet karena betapa sangat ini beratnya istikamah.<br \/>\n(39:20) Apalagi di zaman kita, zaman fitnah, zaman fitnah, fitnatus syahwat dan fitnatus syubhat. Fitnah syahwat. Fitnah di mana banyaknya syahwat terpampang. Ajakan-ajakan syahwat yang bisa menggelincirkan manusia dari sirat al mustaqim. Pintu-pintu fitnah syahwat sangat luar biasa, sangat banyaknya. Demikian juga pintu-pintu syubhat.<br \/>\n(39:47) Dua kekuatan ini, syahwat dan syubhat ini kekuatan yang bisa menyeret manusia keluar dari sirat mustaqim sehingga tidak istiqamah. Syahwat bagaikan gelombang lautan yang dahsyat. Sehingga di hari-hari ini kita berapa banyak orang mereka kemudian dengan berbagai macam ee tarikan-tarikan syahwat kacau baluk agama mereka.<br \/>\n(40:17) waktu mereka habis untuk hal-hal yang sifatnya syahwat sehingga sangat berkurang kadar baca Qurannya, sangat berkurang kadar berzikirnya, sangat berkurang kadar kebaikannya. Belum lagi ketemu nanti syubhat yang akan merusak ilmu, merusak pikiran sehingga tidak lagi bisa membedakan yang hak dengan yang batil. Yang tauhid dianggap syirik, yang syirik dianggap tauhid. Yang sunah dianggap bidah, yang bidah dianggap sunah.<br \/>\n(40:43) Yang maksiat dianggap taat, yang tak dianggap ini e maksiat. Ahlul haq dianggap ahlul batil. Ahlul batil diapg ahlul haq. Ini adalah karena rusak ilmunya. Ah, untuk kita bisa terpelihara bagaimana kita ini bisa istiqamah. Satu, hendaklah seorang ini durusul ilmi syari, belajar terus ilmu syari. Jangan pernah tinggalkan majelis ilmu.<br \/>\n(41:14) Karena ilmu ini adalah roh kehidupan seorang mukmin. Roh keimanan kita ini hidupnya sempurnanya tergantung ilmu yang kita miliki. Karena seorang mukmin harus mewujudkan segala macam ketaatan-ketaatan dan ketaatan itu dibangun dengan ilmu. Dan ilmu dikatakan Allah roh sesuatu yang akan memberikan kehidupan.<br \/>\n(41:41) kehidupan iman kita sangat berkaitan dengan ini eh sejauh mana kita perhatikan dengan ilmu agama ini. Demikianlah kami wahyukan kepada engkau ya Muhammad roh dari kami. Allah ungkapkan risalah wahyu dengan roh yang sifatnya ilmu ini akan menghidupkan yakni iman kita. Sehingga orang yang mereka jauh dari ilmu agama imannya terancamati. Ilmu ini disebabkan Allah dengan nur cahaya.<br \/>\n(42:11) Terangnya kita melihat sesuatu, meleknya mata kita, jelasnya kita membedakan sesuatu, itu ketika ada cahaya. Semakin kuat cahayanya, semakin kita kemampuan yang membedakan itu semakin jelas. Maka yang paling bisa membedakan hakikat perkara yang mereka berilmu dan yang paling tidak berilmu sampai tingkatannya kayak buta.<br \/>\n(42:29) Maka Allah katakan orang mereka berilmu kal basir kayak orang melihat dan orang mereka tidak berilmu kal ama kayak orang yang mereka ini buta. Dan ilmu juga dikatakan oleh Allah dengan ungkapan alma yaitu air yang bisa memberikan kehidupan dan menyegarkan iman kita kayak pohon iman. Seakwaktu bisa layu, bisa terancam kering mati.<br \/>\n(42:52) Maka akan bisa segar kembali apabila kemudian kita siram dengan e air risalah dengan ilmu agama. Itu adalah waki kenyataan yang ada. Di mana Anda ya ini tinggalkan majelis ilmu maka terancam iman Anda akan betul-betul popul akan iman Anda akan ini hancur. Yang kedua, hendaklah alikum bimhabati shihin. Bersahabat dengan orang-orang saleh. Orang saleh sahib-sahib. Kata pepatah, namanya sahabat itu menuntun.<br \/>\n(43:21) Kalau enggak nuntun ke neraka ya ke surga. Maka kata Nabi, &#8220;Pilih betul sahabat, teman Anda ini ee kata Nabi, almaru al khili ahadukumil.&#8221; Seseorang itu tergantung agama. Seseorang itu sangat tergantung eh seorang itu di atas agama kawan dekatnya. Agama dia seperti apa? Kurang lebih seperti kawan dekatnya. Maka pilihlah betul kata Nabi, seleksi betul, seleksilah betul siapa kawan dekat Anda. Jangan sampai Anda berkawan dengan iblis, dengan setan, dengan Dajjal, dengan para penjahat.<br \/>\n(43:58) Ibnu Qudamah mengajarkan kawan yang baik itu satu akil, orang yang berakal. Dia selalu punya pertimbangan dengan akalnya itu pertimbangan masalah sehingga tidak hanya hanya menyenangkan Anda. Soduka man shodqoka waisa man shodqoka. Sahabat Anda yang hakiki, teman Anda yang hakiki itu yang jujur kepada Anda.<br \/>\n(44:25) Salah-salah benar-benar sehingga Anda ee sehingga betul-betul dia setia dengan Anda untuk selalu ini diajak yang lurus. Waisa mantaqoka bukan orang yang selalu membenarkan Anda. Yang penting Anda senang sehingga sampai keblondrok-belondrok, kejelomprong-jelomprong sehingga ee temannya hanya pengin menyenangkan aja. Itu bukan teman sejati.<br \/>\n(44:50) Teman sejati itu yang jujur pada Anda. Anda salah diarahkan, Anda diingatkan. sehingga dia jujur, sehingga betul-betul sejati teman yang sejati adalah yang seperti itu. Pertama akil, kedua husnul khuluk. Husnul khuluq dan punya akhlak yang baik, akhlak yang bagus bukan ini orang-orang rusak akhlaknya. Kemudian yang ketiga yaitu orang yang mereka walau fasik.<br \/>\n(45:17) Bukan orang yang fasik, bukan orang bukan orang yang fasik, bukan orang mereka rusak. rusak perilakunya ahli maksiat wal mubtadi dan bukan bukan ahli bidah pula dan walau haris salad dunya dan bukan orang yang mereka ambisius dengan dunia berakal kemudian akhlaknya bagus bukan orang fasik bukan ahli bidah bukan ya ini orang yang ee ambisi dengan dunia maka inilah orang yang mereka layak jadikan sebagai kawan ini bagus jangan sembarang ambil kawat bisa celaka.<br \/>\n(45:56) Satu di antara kisah ee dampak kawan buruk adalah kematian Abu Thalib yang di situ ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang waktu itu masih menjadi gembong kekafiran. Bagaimana sampai Abu Thalib kemudian wafat dalam keadaan tidak mengucapkan kalimat lailahaillallah. Yang ketiga untuk Anda bisa istiqamah di antaranya alika aniral amal fi dunya alfaniah.<br \/>\n(46:21) Hendaknya memendekkan memendekkan ini angan-angan Anda tentang dunia. Rata-rata manusia itu angan-angan dunia itu panjang banget. Angan-angan dunia itu sampai notok tembok sana sedangkan garis kematian di sini. Sehingga banyak orang yang mereka kematiannya mendahului angan-angannya. Artinya angannya belum kecapek, keman sudah datang duluan sampai akhirnya manusia lupa dia itu akan mempersiapkan kampung akhirat. Dunia itu sifatnya kata Allah mata qalil dan mataulun gurur.<br \/>\n(46:54) Kenikmatan yang sedikit di waktunya singkat nilainya sedikit dan sifatnya banyak menipu. Singkat satu hari di akhirat 1000 tahun dalam hitungan kalian. Anda punya umur 100 kayak 2, kayak hanya punya umur 2,4 jam sedikit. Dunia itu kalau memperbudak seorang habis-habisan waktunya, tenaganya, pikirannya habis terkumpul dia menikmatinya sangat sedikit banget. Enggak nyucuk kata orang itu. Orang nyucuk.<br \/>\n(47:29) Ah, kalau kemudian Anda kumpulkan, kumpulkan, kumpulkan lalu Anda mati, yang Anda kumpulkan melangker kerak. Anda sudah diperas yang besar-besar, Anda enggak punya bekal di kamu akhirat. Celaka yang sangat luar biasa. Kemudian sifatnya menipu. Banyak orang mereka membayangkan akan bahagia dengan dunia.<br \/>\n(47:55) Ternyata banyak orang mereka telah sampai di puncak dunianya dan mereka belum mendapatkan kebahagiaan. Karena kebahagiaan urusannya adalah di sini di hati. Dan itu bisa terpenuhi ketika hati itu nyambungnya kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian e sehingga jangan panjang angan-angan tentang dunia. Boleh anda kaya kata Nabi. Tapi ini lagina limanq. Boleh anda kaya enggak apa-apa kaya yang penting takwa.<br \/>\n(48:23) Karena takwa akan mengendalikan urusan kehidupan ini Anda sehinga tanda akan bisa menjadi kendaraan menuju kepada tempat yang lebih baik. Sehingga Nabi mengajarkan kepada kita, &#8220;Kun fid dunya.&#8221; Jadilah Anda di dunia itu orang yang asing. Asing itu di antaranya ini orang biasanya mereka mengejar dunia, Anda mengejar akhirat. Asing. Akan menjadi asing.<br \/>\n(48:46) Perilaku Anda akan menjadi aneh di tengah-tengah orang mereka itu ambisius dengan dunia. Anda betul-betul menegakkan ini kedisiplinan menjadi orang yang mengejar kamu akhirat. Orang tenggelam dalam muharamat. Anda enggak mau. Asing aneh. aneh atau yang kedua aneh karena Anda betul-betul memegang agamanya lalu menjadi aneh di tengah-tengah manusia karena rata-rata manusia tidak peduli dengan agama sehingga akan ada orang mereka memegang agamanya kalqabit alal jamr kayak orang megang bar api panas membutuhkan kekuatan ini tersendiri kemudian<br \/>\n(49:31) atau seperti anak jalan musafir. Anda sadar dunia itu tidak bukan tempat menetap tapi hanya singgah sebentar akan berangkat lagi ke kampung yni akhirat. Kemudian yang keempat banyak-banyak mengingat kematian agar kematian di depan mata dan terus Anda mempersiapkan yang terbaik untuk menyebut kematian tersebut.<br \/>\n(49:52) Karena dengan mengingat kematian orang akan semangat beramal, akan segera bertobat, akan qaah dengan ini urusan dunianya, dengan ini semuanya maka insyaallah orang akan terjaga istiqamahnya. Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita, menunjuki kita dengan taufiknya untuk terus tetap lurus di atas jalan Allah Taala.<br \/>\n(50:16) Seandainya kita kepeleset kemudian segera kembali kepada Allah dan itu masih terhitung orang yang mereka istiqamah sehingga sampai wafatnya dipanggil Allah ya. Demikian Bapak Ibu sekalian mudah-mudahan manfaat dan semoga ee kita senantiasa Allah berikan anugerah istiqamah sampai kita kembali kepada Allah dalam keadaan khususnul khatimah.<br \/>\n(50:41) Matur nuwun wasallallahu ala nabiina Muhammadin wa ala alihi wasbihi wasallam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuham warahmatullahi wabarakatuh. Jazakumullah khair atas materi yang telah disampaikan oleh al ustaz di kesempatan hari ini dari pembahasan masih sifat ahlul jannah yaitu istiqamah. Dan tentunya kita selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa taala agar dikaruniai selalu keistikamahan kita di atas Islam dan sunah. Baik, selanjutnya mungkin ada satu dua pertanyaan yang kami ajukan Ustaz di kesempatan siang hari ini.<br \/>\n(51:15) Nam yang pertanya yang pertama asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Ustaz, bagaimana cara menanamkan agar anak-anak kita nanti ketika menghadapi masa depannya bisa istikamah dalam menjalankan atau memegang agamanya? Sedangkan di satu hadis dikatakan bahwa tidaklah berlalu satu waktu atau zaman, maka setelahnya lebih buruk.<br \/>\n(51:42) Nah, sedangkan ee anak-anak kita berada yang akan nantinya di zaman selanjutnya, Ustaz, kita khawatir akan keagamaan mereka, Ustaz. Bagaimana ee nasihatnya? Mohon menjelaskannya. Nah, bismillahirrahmanirrahim. tidaklah datang sebuah zaman illa baahu asar kecuali setelahnya itu adalah lebih buruk dibandingkan dengan sebelumnya.<br \/>\n(52:07) Dan asar ini adalah termasuk didapatkan dari rasul sahu alaihi wasallam. ee zaman memang secara keseluruhan semakin akhir semakin yni buruk dan itu dikaitkan dengan keberadaan para ulamanya bukan berkaitan dengan keberada kemakmuran sebuah negeri. Yang contoh yang paling gampang adalah yang dicontohkan oleh para ulama ini zamannya Umar bin Abdul Aziz kalau dari sisi kemakmuran itu jauh lebih baik dibandingkan dengan zamannya yakni Hajad bin Yusuf.<br \/>\n(52:41) Hajad bin Yusuf zamannya lebih dulu dibandingkan dengan Umar bin Abdul Aziz. Dan Haj bin Yusuf tahu sendiri bagaimana ganasnya dan sangat kejamnya. Dan di zaman Umar bin Abdul Aziz sangat ini merata kemakmuran. Sampai diriwayatkan dikatakan dalam sejarah orang-orang Khawarij yang biasanya itu menjadi otak pemberontakan itu di zaman Umar bin Abdul Aziz tiarap.<br \/>\n(53:12) Tiarab karena ibaratnya enggak ada alasan untuk memberontak sama sekali. Karena yang menjadi penggerak atau menjadi alasan utama ini adalah menghadapi pimpin yang zalim. Ah, tetapi secara umum zaman Haj Yusuf itu masih lebih baik dibandingkan dengan zamannya Umar bin Abdul Aziz.<br \/>\n(53:33) Karena berkaitan dengan ilmu, keberadaan ilmu dan ulama. Di zaman Haj bin Yusuf masih ada para sahabat Nabi, masih ada para sahabat Nabi. Masih banyak lebih banyak ulamanya dibandingkan pula di zaman setelahnya di zaman Umar bin Abdul Aziz. Demikian pula zaman kita sekarang ini.<br \/>\n(53:51) Kalau di sisi kemakmuran boleh jadi memang kemakmuran mungkin semakin makmur bisa lebih makmur. Tapi sisi agama lebih baik daripada yang ee lebih lebih buruk dibandingkan dengan yang sebelumnya. Tetapi kita bukan orang disuruh untuk pestimis seperti itu. Kita ada orang-orang yang selalu diperintahkan untuk memperbaiki. Sama dengan ketika kita dihadapkan kenyataan firaqudalah. Fqah itu kabar pasti yang pasti muncul dan terjadi di tengah-tengah kita.<br \/>\n(54:18) Tapi kita enggak boleh pasrah gitu aja dengan keberadaan Firaqudalah. Kita suruh betul-betul bagaimana berupaya menjadi bagian alfirqatun najiah, kelompok yang selamat. A mengantarkan anak kita bagaimana menjadi saleh dan salihah di tengah-tengah zaman fitnah seperti ini.<br \/>\n(54:37) Itulah tantangan tersendiri bagaimana kemudian kita berjuang mati-matian. orang tua perhatian dengan anak dengan di antaranya selain setelah dididik di keluar di rumah tangganya maka pilihkan sekolah-sekolah yang tepat untuk menyemai bibit kita. Dan ketika kita menyerahkan anak kita ke sekolahan, bukan artinya sekolah bertanggung jawab penuh membentuk karakter anak didik ini, anak ini, anak kita ini.<br \/>\n(55:09) Tapi sekolah ibaratnya mewakili kita, perpanjangan kita untuk mendidik anak kita yang bertanggung jawab penuh masih kita. Yang bertanggung jawab penuh masih kita. sehingga kita mesti mengawasi, kita menanya, kita melihat perkembangannya, kita bagaimana terus yaitu memantau sehingga harus ada kerja sama yang baik antara orang tua wali murid dengan ini sekolah sehingga keduanya kerja sama untuk betul-betul mencita anak yang baik.<br \/>\n(55:37) yang kuncinya tentu bagaimana membekali dengan pondasi-pondasi kesalehan sehingga tumbuh menjadi anak yang saleh. Yang kedua, menjaga dari segala hal yang akan merusak. Itu yang pokok perkaranya di situ. Bagaimana kita berusaha untuk mengantarkan anak ini memiliki pondasi-pondasi kesalehan sehingga punya modal untuk saleh dengan ilmu, dengan teladan, dengan yni pendidikan yang bagus.<br \/>\n(56:07) Kemudian betul-betul menjaga betul menjaga menjauhkan ibaratnya kita menanam tanaman itu enggak cukup kita kemudian ee kita kita tanam gitu aja. Ada perawatan yang intensif. Kita pilihkan media yang tepat, kemudian kita lanjutkan dengan penyiraman, pemupukan, kemudian cukup sinar matahari, kemudian perawatan proning-proning, kemudian juga ee tidak kalah pentingnya lagi nyemprot jamurnya, nyemprot serangganya. sehingga tumbuh bagus, sehat.<br \/>\n(56:37) Ini adalah perawatan tanaman dan begitu pula anak sangat dibutuhkan dual tersebut. Dan itulah hakikat upaya untuk mencapai kesalehan anak. Bagaimana mempersiapkan segala perkara yang dibutuhkan untuk tumbuh berkembangnya anak menjadi saleh. Kemudian dijaga betul, dirawat betul.<br \/>\n(56:55) Jangan sampai dia ini kemakan jamur, kemakan serangga atau menjadi busuk karena lingkungan yang rusak. Maka betul-betul dijaga. Sangat mengkhawatirkan. Apalagi di zaman kita sekarang ini, maka kuncinya pula ihfadilah yahfadka. Jagalah Allah, Allah akan menjaga Anda. Maka serahkan penjagaannya kepada Allah dengan apa? Dengan kita menjaga agama Allah Taala.<br \/>\n(57:19) Semoga kalau kita saleh menjaga agama Allah, betul-betul Allah akan menjaga anak atau putra-putri kita semuanya. Ee karena dampak daripada kesalahan kita, kita menjaga agama Allah, Allah akan jaga ini putra-putri kita. Wallahu taala alam bawab. Ustaz, alhamdulillah terima kasih banyak Ustaz. Syukran jazakullah khair atas jawaban dan nasihatnya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.<br \/>\n(57:45) Dan mohon maaf, Ustaz, satu pertanyaan tadi ee menutup perjumpaan kita, Ustaz, di kesempatan siang hari ini dan mungkin ada ee pesan yang dapat disampaikan untuk sahabat Raja sekalian di akhir acara ini, Ustaz. Silakan, Ustaz. Ya. Bismillahirrahmanirrahim. Bapak, Ibu sekalian.<br \/>\n(58:05) Singkatnya untuk kita istikamah itu pertama adalah itu semata-mata karunia Allah Subhanahu wa taala. Sehingga jangan lupa untuk kita betul-betul banyak-banyak berdoa kepada Allah Taala. Karena istikamah itu letaknya di hati kita. Hati kita teguh, istikamah, kencang, maka kita akan istikamah. Ee lah hati kita di tangan Allah Taala di antara dua jam Allah Taala. Maka jangan lupa berdoa banyak berdoa kepada Allah agar Allah meneguhkan hati kita.<br \/>\n(58:30) Allah in minta keteguhan di atas agama, keteguhan kokoh di atas ini akidahnya, dakwahnya, istiqamah secara umum di atas agama. Kemudian yang kedua tentu menempuh cara-cara yang syari yang telah diajarkan Allah. tidaklah kita akan istikamah kecuali kita menempuh jalan-jalan yang syari yang Allah telah tunjukkan ini.<br \/>\n(58:56) Di antaranya kita tadi mencari ilmu, jangan tinggalkan majelis ilmu, berkawan yang baik. Kemudian bagaimana kita betul-betul menjauhi hal-hal yang akan melalikan kita. Fitnah dunia, kemudian banyak-banyak mengat kematian. Ini semuanya adalah hal yang mesti kita wujudkan.<br \/>\n(59:14) Semoga dengan demikian Allah membimbing kita semuanya untuk bisa istikamah sampai kita kembali kepada Allah Taala. Terima kasih banyak Bapak Ibu sekalian. Matur nuwun sekali lagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Warahmatullahi wabarakatuh. Nam kami ucapkan sekali lagi untuk Al Ustaz terima kasih banyak atas waktu yang telah diluangkan oleh untuk ee dari antum untuk kami semua di siang hari ini dalam pembahasan kitab alqidatu aalanu yaamun sub pembahasan mengenai sifat ahlul jannah yaitu istiqamah.<br \/>\n(59:45) Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat, pertemuan yang diberkahi dan dirahmati Allah subhanahu wa taala dan ilmu yang diberkahi pula yang telah disampaikan. Semoga Allah memberikan terus e kesehatan kepada al ustaz untuk terus bisa memberikan faedah-faedah yang bermanfaat untuk kita semua. Demikian ikhwat Islamakumullah kajian di kesempatan siang hari ini bersama Al Ustaz Afifi Abdul Wadud hafidahullah dari pembahasan kitab alqidatu awalan lau yaamun. Kami undur diri.<br \/>\n(1:00:10) Mohon maaf apabila ada kesalahan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdulillah Roja TV, saluran tilawah Alquran dan kajian Islam. yang<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) R mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3641","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) R mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:31:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:31:33+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"30 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/\",\"name\":\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:31:32+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:31:33+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) R mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:31:32+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:31:33+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"30 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/","name":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:31:32+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:31:33+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun-2\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3641"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3641"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3641\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3642,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3641\/revisions\/3642"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}