{"id":3643,"date":"2025-11-27T20:31:52","date_gmt":"2025-11-27T13:31:52","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3643"},"modified":"2025-11-27T20:31:53","modified_gmt":"2025-11-27T13:31:53","slug":"ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/yULFe9CqO20?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:02) asadu alla ilahaillallah wahdahu laarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasul bau ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radio Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan Kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat.<br \/>\n(00:40) Roja TV bagi Anda para pemirsa TV. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(02:32) Alhamdulillahi rabbil alamin hamdan katsiran thyiban mubarokan fihi kama yuhibbu rabbuna waardo. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammad wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba&#8217;d.<br \/>\n(03:02) Ikhwah sekalian yang Allah muliakan. Tidak lupa ana ingatkan kembali bahwa kita di sini duduk di sini atas izin dan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Ini merupakan nikmat besar yang wajib kita syukuri. Nikmat di mana Allah mudahkan kita untuk ibadah setelah salat magrib berjamaah dan kita harapkan pahalanya dari Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(03:42) Kita lanjutkan dengan menuntut ilmu. Sangat banyak sekali nikmat yang Allah berikan pada kita. Di antaranya nikmat iman, nikmat Islam yang dengannya kita berharap Allah masukkan kita ke surganya kelak dan Allah selamatkan kita dari api neraka. Karena pesan Allah Subhanahu wa taala, wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br \/>\n(04:14) Jangan kalian meninggal melainkan dalam keadaan Islam. Kita berharap berdoa minta sama Allah agar Allah wafatkan kita ketika kita wafat di atas Islam, di atas iman, di atas sunah. Karena kita semuanya yakin seyakin-yakinnya bahwa diri kita ini tidak mungkin sanggup menahan panasnya api neraka. Nikmat Allah sangat banyak.<br \/>\n(04:45) Nikmat sehat, nikmat harta, nikmat hidup dan sangat banyak tidak bisa kita hitung. Dan kewajiban kita hanya bersyukur. Dan dengan syukur Allah akan tambah nikmat. Allah Taala berfirman, &#8220;Lain syakartum laazidannakum walain kafartum in adzabiadid.&#8221; Kalau kamu syukur, aku akan tambah.<br \/>\n(05:19) Kalau kamu kufur sesungguhnya azabku sangat keras, kata Allah. Bersyukur ini lawan dari tidak syukur. Dan di antara jenis tidak syukur itu suka mengeluh. Ya, suka mengeluh itu berarti tidak bersyukur atau kurang bersyukur. Oleh karena itu kita latih diri kita untuk tidak mengeluh. masalah mesti ada. Tapi kita latih diri kita untuk tidak mengeluh.<br \/>\n(06:02) Karena mengeluh itu selain orang itu tidak bersyukur, itu akan menghilangkan berkah. Akan menghilangkan keberkahan. Oleh karena itu, ikhwannya Allah menjakan kita berlatih untuk tidak mengeluh supaya Allah kasih berkah. Apa dalilnya? Siapa yang tahu? Ana kasih contoh kisah Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail.<br \/>\n(06:35) Ketika Nabi Ismail sudah besar punya istri, Nabi Ibrahim berkunjung ke rumah Nabi Ismail di Makkah. Ternyata tidak ketemu. Ketemu sama istrinya. Nabi Ismail lagi keluar ada keperluan hajat. Ulama menjelaskan lagi berburu, nyari nafkah. Subhanallah. Seorang nabi nyari nafkah. Kemudian ditanya sama anak Ibrahim, istri beliau, &#8220;Gimana keadaan kamu?&#8221; Lihat jawabannya apa.<br \/>\n(07:17) Dia bilang, &#8220;Nahnu bisyarrin wadikin waiddah.&#8221; Kami dalam keadaan buruk, kami dalam keadaan sempit, kami susah, berat hidupnya. Wanita ini mengeluh. Kemudian singkat ceritanya Nabi Ibrahim bilang ke istrinya, &#8220;Kalau suamimu datang, ida zaujuk faqra alaihissalam.&#8221; Sampaikan salam dariku dan suruh ubah palang pintunya. Ceritanya Nabi Ismail datang, Nabi Nabi Ibrahim sudah pergi.<br \/>\n(08:01) Roman-romannya ada yang datang ini, tapi istrinya enggak ngasih tahu. Ada yang datang kata Nabi Ismail ya, seorang syekh sudah tua dan dia nanyakan tentang keadaan kita. Saya jawab. Dia jujur jawabnya seperti yang tadi disampaikan. Kemudian dia berpesan, dia mengucapkan salam kepada Anda dan suruh mengganti palang pintunya.<br \/>\n(08:34) Enggak tahu kalau yang dimaksud palang pintu itu dia. Terus kata Nabi Sulaiman, &#8220;Apa?&#8221; &#8220;Daka abi.&#8221; &#8220;Itu ayahku.&#8221; Ya. Dan yang dimaksud dengan palang pintu adalah anti. Berarti ana disuruh untuk menceraikan anti ilhaqi bia ahlik. Kata Nabi Sulaiman. Kembalilah ke keluargamu. Eh Nabi Sulaiman Nabi Ismail.<br \/>\n(09:05) Maaf ya kan kita mau cerita Nabi Sulaiman nih ceritanya ya. Barakallah fik akhi. Kata Nabi Ismail itu Abi itu ayahku. Palang pintu itu anti. balik dah cerai. Diceraikan sama Nabi Ismail. Kemudian Nabi Ismail nikah lagi. Kemudian Nabi Ibrahim suatu saat berkunjung lagi menengok keluarganya, nengok Ismail. Sama enggak ketemu juga lagi keluar juga.<br \/>\n(09:42) ditanya tentang keadaannya, dijawab sama istrinya yang kedua ini, &#8220;Nahnu bikhair. Kami dalam kebaikan.&#8221; Subhanallah. Kemudian dia memuji Allah Subhanahu wa taala tidak mengeluh. Kemudian ditanya sama Nabi Ibrahim, &#8220;Apa makananmu?&#8221; &#8220;Aaham.&#8221; Daging. &#8220;Apa minumanmu?&#8221; &#8220;Air, cuma daging sama air doang.<br \/>\n(10:12) &#8221; Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan, &#8220;Allahumma barik lahum fillahmi wal ma.&#8221; Ya Allah, berkahilah untuk mereka pada daging dan airnya. Sehingga kata ulama, orang Makkah itu kalau makan daging sama air doang itu enggak masalah pada mereka. Karena berkah doa Nabi Ibrahim. Kalau kita makan daging mulu, gimana ceritanya? Ya. Nah, kemudian ikhwan yang Allah menjadikan Nabi Ismail datang, Nabi Ibrahim sudah pulang. Kemudian tanya ada orang ya, ada Syekh Hasanul Hiah.<br \/>\n(10:54) Syekhnya penampilannya bagus, baik. Kemudian singkat ceritanya dia nanya tentang keadaan kita. Kita jawab dalam kebaikan. Kemudian pesannya ucapkan salam kepada Anda. Pesannya juga suruh tidak mengubah palang pintunya. Nah, itu ayahku. Kata Nabi Ismail. Palang pintu anti. Saya diperintah untuk tidak menceraikan anti. Nah, singkat ceritanya begini, Ikhwan.<br \/>\n(11:25) Saya tanya, Ikhwah. Ketika Nabi Ismail bukan Sulaiman ya, Nabi Ismail menikah dengan yang pertama, setelah itu dia ceraikan nikah dengan yang kedua. Kondisinya sama atau berbeda? Sama kondisinya. Nabi Ismail hidup seadanya. Tidak ketika nikah yang kedua dapat unta 10, enggak. atau zaman sekarang dapat Mercy atau Lamborghini? Lamborghini enggak? Kondisinya sama kondisinya hua-hua tahu hua-hua kalau orang Sunda itu keneh deh. Ya itu-itu aja kondisinya sama, enggak berubah.<br \/>\n(12:17) Tapi kita mendapatkan dua wanita yang memiliki sifat sikap yang beda. Yang satu mutasyakiah, suka ngeluh. Yang satu pandai bersyukur padahal dalam kondisi yang sama. Inilah manusia ikhwah ya. Ada orang yang masyaallah hidup seadanya bisa bersyukur dia berkah Allah kasih. Masyaallah. Rugi tidak wanita pertama rugi diceraikan oleh manusia terbaik yaitu Nabi Ismail alaihi salam yang nanti ketika meninggal di surga para nabi dan para rasul kedudukannya sangat tinggi sekali.<br \/>\n(13:07) Rugi rugi dunia akhirat berbeda dengan yang pandai bersyukur Allah turunkan keberkahan. Nah, tugas kita, Ikhwan yang Allah muliakan belajar untuk tidak banyak mengeluh. Tidak mengeluh. Dengan tidak mengeluh Allah kasih berkah. Dengan sering mengeluh hilang berkah. Lain syakartum laazidannakum walain kafartum innazabi lasadid.<br \/>\n(13:37) Ini mukadimah untuk supaya kita ingat, supaya kita terus bersyukur sama Allah apapun keadaannya. Syukur sama Allah sudah ya kan. Terus jangan lupa ngaji terus thaabul ilmi belajar belajar belajar belajar belajar belajar belajar belajar sampai meninggal insyaallah berkah. Nah pada pertemuan yang lalu kita bahas faedah yang pertama ya di mana Nabi Sulaiman itu meninggal dan jin-jin itu enggak tahu kalau Nabi Sulaiman meninggal.<br \/>\n(14:10) Tahunya itu ketika tongkatnya itu dimakan sama rayap putus. Kemudian Nabi Sulaiman jatuh tersungkur. Di surat Saba ayat 14 Allah berfirman, &#8220;Falamma qodina alaihil mauta maallahum ala mautihi illa dabatul ardhi takulu min saata.&#8221; Ketika kami putuskan kematian atasnya, tidak ada yang menunjukkan kematiannya.<br \/>\n(14:42) melainkan binatang dabah, dabatul ard artinya rayap. Rayap yang memakan tongkatnya. Falamma kharro ketika Nabi Sulaiman jatuh tersungkur, tabayyanatil jin. Jin baru sadar jin baru sadar. Anna lau kanu y&#8217;lamunal ghaib. Seandainya mereka tahu hal yang gaib, maabitu filabil muhin, mereka tidak berada di azab atau siksaan yang menghinakan. Ini menunjukkan bahwa jin tidak tahu hal yang gaib. Nanti kita akan bahas juga.<br \/>\n(15:20) Nah, pada pertemuan yang lalu kita bahas dari faedah yang pertama bahwa Allah Subhanahu wa taala telah menentukan kematian pada semua makhluk. Allah Taala berfirman, &#8220;Kullu nafsin zaqatul maut.&#8221; Setiap jiwa, setiap yang punya nyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian. Nah, ada beberapa hal yang disebutkan oleh penulis, nasihat-nasihat kematian atau bisa juga disebut kaidah-kaidah kematianlah boleh.<br \/>\n(16:01) Yang pertama annal mauta sayatika baktatan fi wqtinaka alal. Bahwa kematian itu akan mendatangimu tiba-tiba. Ada enggak dikasih tahu dulu? Anda nanti matinya sebulan lagi. Ada enggak? Anda matinya 10 tahun lagi atau nanti malam? Waduh seram. Enggak ada kan? Mati tiba-tiba bagqtin la yaktur laka al di waktu yang tidak pernah terpikirkan dalam pikiran.<br \/>\n(16:40) Ini sudah kita bahas ya. Kemudian yang kedua kun ala yakin tam bial mauta la yamnauhu jahun wala sultan wala husun. Kun ala yakin. Artinya yakinlah dengan keyakinan yang sempurna bahwa kematian itu tidak ada yang bisa menghalanginya. Baik itu kewibawaan orang, baik itu kerajaan, kekuasaan atau tembok atau dinding yang kuat.<br \/>\n(17:12) Enggak bisa. Pasti nembus. Antum pernah baca hadis tentang kematian Nabi Daud Alaih Salam? Siapa yang pernah baca? Ya, Nabi Daud ketika meninggalnya itu bapaknya Nabi Sulaiman. Ketika meninggalnya Nabi Daud itu dalam keadaan sehat, sehat walafiat ya. Belum tua juga. Dan beliau di hari itu melakukan aktivitas seperti biasanya.<br \/>\n(17:51) Beliau keluar keluar rumah, pintu-pintunya ditutup karena Nabi Sulaiman kata Rasul pencemburu sekali sehingga gak ada yang masuk menemui keluarganya satu-satu. Kemudian datanglah malaikatul maut. Masuk malakul maut, malaikat pencabut nyawa di rumahnya. Istrinya ketika memeriksa rumahnya kok ada orang di tengah rumah. Jadi malaikat malakul maut itu merubah dirinya jadi manusia waktu itu.<br \/>\n(18:22) Kemudian istrinya Nabi Daud bertanya kepada orang-orang yang di rumah yang mungkin pembantunya kata ulama ya. Siapa dia ya? Karena tiba-tiba orang datang. Nah kemudian Nabi Daud datang. Nabi Daud tanya, &#8220;Man anta?&#8221; &#8220;Siapa engkau?&#8221; &#8220;Ya, siapa engkau?&#8221; Kata malaikat tersebut, &#8220;Aku adalah seseorang yang tidak pernah takut kepada para raja.<br \/>\n(18:57) Aku orang yang tidak pernah takut kepada para raja dan tidak ada yang bisa menghalangiku.&#8221; Subhanallah. Nabi Daud ini seorang raja yang luar biasa, Akhi. Dia tahu sifat ini. Oh, malakul maut. Langsung anta berarti malakul maut. Kemudian Nabi Daud bilang, &#8220;Marhaban biamrillah.&#8221; Selamat datang dengan perintah Allah. Akhirnya diwafatkan di situ.<br \/>\n(19:21) Itu raja yang luar biasa saja meninggal juga. Nah, bapak dari Nabi Ismail. Kemudian kerajaannya diwarisi oleh Nabi Ismail alaihi eh Nabi Sulaiman. La haula wala quwata illa billah. Ya, Nabi Sulaiman. Bagus. Antum kasih tahu ya. Libet-libet ini ceritanya gimana ini bapak dari Nabi Sulaiman alaihi assalam ya.<br \/>\n(19:47) Tapi ada hikmahnya, Akhi. Hikmahnya berarti antum enggak ngantuk ya? Tidak ana salah ini. Masyaallah ada hikmahnya semua. Ada hikmahnya. Masyaallah. Tayib. Itulah kematian. Enggak bisa dihalangi, Akhi. Dengan apapun enggak bisa dihalangi. Kalau saatnya meninggal, meninggal sudah orang. dan bagtatan gitu.<br \/>\n(20:13) Kemudian yang ketiga yang kemarin kita bahas tadakar anil mauti sakarat. Ingat bahwa kematian itu ada sakaratnya. Kalau bahasa Indonesianya sekarat, sekaratul maut. Dan Rasul pernah berkata, &#8220;Lailahaillallah innil mauti sakarat.&#8221; Kata Rasul. Rasul sampai berkata demikian, &#8220;Lailahaillallah.&#8221; Kata Rasul, &#8220;Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.<br \/>\n(20:45) &#8221; Dan seorang sahabat pernah berkata, &#8220;Ajidukaan samawat atbaat alal ard wa ana bainahuma.&#8221; Atau utbiat alal ard wa ana bainahuma. Jadi seakan-akan itu langit itu ditimpakan ke bumi dan aku antara keduanya dihimpit dia saking beratnya. Wana nafsi yakruju minqbi ibro. Seakan-akan jiwaku itu keluar dari lubang jarum saking beratnya.<br \/>\n(21:16) yajuru mintiqami. Seakan-akan ada ranting duri yang ditarik dari kepala sampai kakiku. Itu digambarkan sama salah satu sahabat sampai seperti itunya. Itu namanya sakarat almaut. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala memudahkan kematian kita semua ketika Allah ambil nyawa kita. Yang keempat ini yang belum kita bahas ya atau sudah belum? Nah, ya akhi fainnat taubata la tuqbal maut.<br \/>\n(21:59) Kemudian hati-hati wahai saudaraku. Ketahuilah bahwa tobat itu tidak diterima ketika kematian. Jadi ketika nyawa ditenggorokan itu enggak diterima orang mau tobat. Allah Taala berfirman di surat Annisa ayat 18. Waisatit taubatu lilladzina ya&#8217;malun sayiat. Tobat itu bukan untuk orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Hatta idza had ahadahumul maut.<br \/>\n(22:34) Sehingga apabila datang kepada salah satu mereka kematiannya, q inni tubtulan baru dia berkata, &#8220;Aku tobat sekarang.&#8221; Walladina yamutuna wahum kuffar juga bukan untuk orang-orang yang mati, orang yang meninggal dalam keadaan kafir. Ulaika lahumzaban alima. Mereka kami siapkan azab yang pedih.<br \/>\n(23:02) [Musik] Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang dikatakan hasan oleh ulama riwayat Tirmidzi dan yang lainnya. Innallaha taala yaqbalu taubatal abdi maam yughir. Sesungguhnya Allah Taala menerima tobat seorang hamba selama belum sampai ditenggorokan nyawanya itu. Jadi tobat diterima. Oleh karena itu, ini anjuran untuk segera bertobat.<br \/>\n(23:32) Dan orang yang beriman juga diperintah untuk bertobat. Watubu ilallahi jamian ayyuhal mukminun. Kata Allah, &#8220;Bertobatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman.&#8221; Kok orang yang beriman disuruh bertobat? Iya, karena orang beriman pun bisa lalai. Iman naik turun. Oleh karena itu bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(23:55) Fah firaun alaihi laknatullah alana taubatahu wa imanahu mautihi falam tuqbal minhu. Firaun laknatullah alaih dia mengiklankan mengumumkan tobatnya ketika kematiannya dan tidak diterima. Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang ini di surat Yunus ayat 90 sampai 92. [Musik] Hatta adrakahul gqu q amantu annahu la ilahaillalladzi amanat bihi banu israil wa ana minal muslimin.<br \/>\n(24:42) Sehingga jika Firaun itu hampir mati tenggelam. Yakni Firaun ketika Firaun hampir mati tenggelam disebutkan di sini ya berkata dia, &#8220;Amantu aku baru beriman.&#8221; Annahu la ilaha illalladzi amanat bihi bani israil. Bahwasanya tidak ada sesembahan, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali yang diimani oleh Bani Israil. Silakan. Wa ana minal muslimin.<br \/>\n(25:16) Dan aku termasuk orang Islam. Kemudian apa kata Allah di ayat yang ke-91? Apakah baru sekarang kamu beriman, sebelumnya kamu terus melakukan maksiat dan kamu termasuk orang-orang yang melakukan pengrusakan? Kemudian di ayat 92-nya, falyauma nunajjika bibadanika litakuna liman khalfaka ayah.<br \/>\n(25:58) Pada hari ini kami selamatkan badanmu agar engkau termasuk menjadi orang ee menjadi tanda-tanda kekuasaan kami bagi orang setelah engkau. Wa inna katsir minanasi ayatinafilun. Sesungguhnya banyak dari manusia lalai lengah dari ayat-ayat kami. Subhanallah ya. Firaun itu masih ada sekarang ada mumminya kan ya yang mati banyak tuh tapi yang diangkat itu Firaun.<br \/>\n(26:32) Gimana ceritanya? Ya karena Allah. Allah telah mengatakan falyauma nunajjjika bibadanika. Allah selamatkan badannya. maksudnya awet ya. Ada di Mesir ada muminya sampai ada banyak orang masuk Islam karena melihat ini. Nah, yang kelima sekarang. Yang kelima. Am ya ibna adam. Ketahui wahai ibn adamunliku jasadika hulquma inanasuh salat asnaf atau salasat asnaf. Betul.<br \/>\n(27:30) Ini yang kelima ini luar biasa sekali, Ikhwan. Diingatkan sama Syekh, &#8220;Ketahuilah wahai anak Adam bahwa setiap kekuatan apapun kekuatannya yang ada di dunia ini, tidak sanggup untuk mengembalikan rohmu.&#8221; Sekali lagi, semua kekuatan yang ada di dunia ini tidak bisa mengembalikan rohmu ke jasadmu apabila sudah sampai ke kerongkongan.<br \/>\n(28:09) Kemudian manusia itu terbagi tiga ketika ee rohnya itu sudah sampai ke kerongkongan. Dan ini Allah Taala firmankan di surah Al-Waqi&#8217;ah ya. Bisa antum lihat ayat ke-83 sampai 96. Kita baca baik-baik. Allah berfirman, &#8220;Falaula idza balagtil hulquum.&#8221; Kalau begitu mengapa kamu tidak menahan nyawa ketika telah sampai di kerongkongan? Lihat Allah berfirman demikian. Falaula idza balagtil hulkum.<br \/>\n(28:57) Kenapa kamu tidak bisa menahan nyawa roh ketika roh itu sampai di kerongkongan? Ada enggak yang bisa nahan itu? Enggak ada. Sehebat apapun orang, sepintar apapun orang, ya, secanggih apapun alat, gak ada. Kemudian Allah berfirman, wa antum hinaidin tanzurun. Padahal kamu saat itu melihat orang yang sedang sekarat. Kita semua itu melihat orang sekarat.<br \/>\n(29:37) Tapi enggak bisa kita juga nahan rohnya. Kalau bisa nahan sih enak ya kan? Bapak kita yang kita cintai, emak kita jangan mati dulu. Kita tahan bisa enggak kita begitu? Enggak ada. Allah bilang, &#8220;Wa antum hinaidin tanzurun.&#8221; Kalian saat itu melihat orang yang sedang sekarat. Wahnu aqru ilaihi minkum wakin la tubsirun.<br \/>\n(30:14) Dan kami kata Allah lebih dekat kepada orang yang sekarat itu daripada kalian. Akan tetapi kamu enggak ngelihat. Ini kata Allah Subhanahu wa taala. Kemudian di ayat yang ke-86 Allah Taala berfirman, &#8220;Falaula in kuntum ghair madinin.&#8221; Maka mengapa jika kamu tidak diberi balasan? Tarjiunaha in kuntum shodiqin. Kamu tidak bisa mengembalikannya, yakni mengembalikan roh, mengembalikan nyawa itu jika kamu benar. Ya. Nah, itu. Lihat.<br \/>\n(31:06) Jadi Allah nyatakan di sini tidak ada yang sanggup untuk menahan roh nyawa ketika Allah cabut lewat malakul maut. Enggak ada manusia sepintar apapun ya, sehebat apapun ya, sekuat apapun ditambah dengan alat secanggih apapun di masa sekarang enggak ada. Kalau sudah Allah tentukan kematiannya mati sudah. Kemudian kita lihat pembagian manusia ada tiga di sini.<br \/>\n(31:39) Faamma in kanana minal muqorbin. Faamma in kana minal muqorbin. Kata Allah Subhanahu wa taala. Maka adapun jika orang yang meninggal itu termasuk orang-orang yang didekatkan minal muqarin faruh wa jannatun naim. Maka dia memperoleh ketentraman, rezeki, dan jannah. Surga yang penuh dengan kenikmatan.<br \/>\n(32:18) Ini orang-orang yang melakukan ketaatan yang dekat sama Allah itu Allah janjikan dengan ini tentram ya dan jannah yang penuh dengan kenikmatan. Kemudian yang berikutnya, waama inana min ashabil yamin. Ini yang kedua. Dan adapun jika orang yang dicabut nyawanya itu termasuk kelompok ashabul yamin ya golongan kanan. Fasalamul laka min ashabil yamin. Maka kesejahteraan bagimu dari ashabul yamin.<br \/>\n(33:00) Nah, ini yang berikutnya adalah orang yang suka mendustakan. Wa amma in kaana minal mukadzibinadin. Dan adapun jika yang meninggal itu orang yang suka mendustakan juga orang-orang yang sesat fanuzulum min hamim maka dia mendapat jamuan. Yakni jamuannya nanti dia akan dikasih air yang mendidih. Fanuzulun min hamim.<br \/>\n(33:38) Hamim ini air yang sangat panas yang mendidih ya. Kalau haus minum pakai itu ya mati orang. Tapi di neraka orang itu la yamutu fiha wala yahya. Tidak mati juga tidak hidup. Disiksa. Naudubillah. Watasliyatu jahim. dan dibakar ya oleh neraka jahim. Inna hadza lahua haqqul yaakin. Sesungguhnya ini adalah haqqul yaakin. Fasabbih bismi rabbikal adzim.<br \/>\n(34:19) Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Rabbmu yang maha agung. Nah, jadi yang kelima ini kita dikasih pemahaman oleh Allah Subhanahu wa taala bahwa semua kekuatan di dunia ini tidak mungkin sanggup menahan roh, menahan jiwa ya kalau sudah sampai ke kerongkongan. Yang keenam sekarang. Ilam ya bna adam annal mauta laisa lahu sinun muayan. Ketahuilah wahai Ibnu Adam bahwa kematian itu tidak ada umur batasan umurnya. Maksudnya tidak memiliki batasan umur. Laaisa lahu sinun muayyan.<br \/>\n(35:10) Kematian tidak ada batasan umur. Faqad yatika fi tufulatik. Kadang datang kematian ketika Anda masih kecil. A fi syababik. Atau ketika Anda masih muda, masih segarbugar. Banyak enggak yang mati, akhi? Banyak. Lagi main bola jatuh mati. Main sepedaan jatuh mati, naik motor keserempet mati meninggal maksudnya ya.<br \/>\n(35:47) Jadi enggak ada batasan umur. Faqad yatika fi tufulatik a syababik au fi haramik. Kadang mati dalam keadaan ketika sudah tua. Allah Taala berfirman di surah Al-A&#8217;raf ayat ke-34. Walikulli ummatin ajal. Kata Allah, setiap umat itu memiliki batas waktunya, memiliki ajalnya. Faid ja ajaluhum.<br \/>\n(36:20) Kalau datang ajal mereka, la yastakiruna saatan. Mereka tidak bisa meminta untuk ditunda sesaat pun. Wala yastaqdimun. Dan tidak bisa meminta percepatan sesaat pun. Enggak bisa diakhirkan, tidak bisa di tunda. Itu kematian. Ya, kalau misal orang mau tabrakan kadang berhenti dulu tet berhenti karena belum saatnya meninggal kata Syekh Utsmimin rahimahullah.<br \/>\n(36:55) Kemudian setelah itu glosor dua-duanya jebret mati. itu saatnya di situ. La yastakiruna sa&#8217;atan wala yastaqdimun. Dan subhanallah, ikhwan, ana pernah cerita ya bahasa Arab tuh ada gambarnya ada mobil ambulans. Diceritakan di bawahannya itu. Ini yang mengendarai ini sopir. Kemudian ada orang sakit, kemudian ada yang ngantar sehat.<br \/>\n(37:31) Spopir sama yang ngantar mesti sehat. Yang sakit diantar pakai ambulans itu ya. Mungkin yang sopir sama yang ngantar ini ngelihat yang sakit enggak lama nih orang nih ya. Sakit dan namanya sakit itu baridul maut. Akhi kata ulama baridul maut itu yang bisa menghantarkan kepada kematian. Bisa jadi pas kita sakit itu kematian kita itu jadi almarad itu baridul maut ya.<br \/>\n(38:01) Nah, ceritanya jalan tabrakan sama kontainer ya. Subhanallah. Yang meninggal supir sama pengantarnya. Adapun yang sakit masih hidup. Ya, itulah kematian. Yang sehat mati, yang sakit mesti hidup. Ya, ada yang sakit mulu enggak mati-mati juga ada. I kan ada enggak, akhi hidupnya sakit mulu ada enggak? Tapi enggak meninggal. Ada keluarganya kok enggak mati-mati.<br \/>\n(38:42) Ya sabar, akhi malas berobat ya. Nah, tapi yang sehat meninggal. Subhanallah. Ah itu inilah yni kaidah-kaidah kematian ini. Nah, kita sekarang masuk ke faedah yang kedua. Ya, faedah kedua ini penting. Faedah yang kedua nih termasuk akidah ini. Yang kedua ini, ini perlu kita ketahui. La ya&#8217;lamul ghaib illallah.<br \/>\n(39:14) Walaupun kita sering dengar, kita ulang-ulang dan kita kaji dasarnya dari Al-Qur&#8217;an dan hadis. Tidak ada yang tahu hal yang gaib kecuali Allah. Ini kaidah yang faedah yang kedua. Dan ini keyakinan akidah yang harus kita yakini. Hanya Allah saja yang tahu hal yang gaib. Kita tidak tahu dalilnya surat Saba ayat 14 tadi.<br \/>\n(39:45) Allah Taala berfirman, &#8220;Falamma tabayatil jin.&#8221; Ketika Nabi Sulaiman jatuh tersungkur, jin baru nyadar anlau yamunal gaib. Seandainya mereka tahu hal yang gaib, maabitu filabil muhin, niscaya mereka tidak berada di azab yang menghinakan. Nah, jin dari sini tahu hal yang gaib tidak, Ikhwan? Tidak tahu.<br \/>\n(40:15) Padahal kan lama Nabi Sulaiman berdiri megang tongkat itu sampai dimakan rayap kan tongkatnya kan dimakan rayap kan bukan waktu yang sebentar, sudah mati lama. Tapi jin itu enggak tahu kalau Nabi Sulaiman sudah meninggal, tetap berada dalam aktivitas, dalam kerjaannya. Disebutkan dalam azab yang menghinakan.<br \/>\n(40:42) Nah, itu disuruh untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan nurut di depan Nabi Sulaiman Alaih Salam. Enggak bisa bantah, enggak bisa nolak. Yang nundukkan siapa? Ikhwan Allah. Ya. Dan jin-jin ini enggak tahu yang gaib. Perlu diketahui ini jin-jin itu tidak tahu hal yang gaib. Ya. Jadi enggak boleh ada di hati kita jin tahu yang gaib. Enggak boleh.<br \/>\n(41:11) Walaupun betul jin itu memiliki kekuatan. Kekuatannya di atas rata-rata. Di manusia ini enggak bisa memiliki kekuatan. itu bisa terbang tadi bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis ya bisa terbang ke sana kemari itu jin. Tapi jin tidak tahu hal yang gaib ya.<br \/>\n(41:43) Kalau jin enggak tahu hal yang gaib gimana anak buahnya? Tahu yang dimaksud anak buah yang saya maksud siapa? Dukun. Dukun-dukun itu enggak tahu hal yang gaib. Makanya aneh kalau ada orang ke dukun nanya ya tentang apa yang dia rasakan, apa yang dialami dari kehilangan duit misalkan atau kehilangan barang. Padahal kalau orang mau nge-prank nge-prank dukun juga bisa sebenarnya, tapi jangan ya nge-prank dukun.<br \/>\n(42:12) Pak Dukun saya punya duit hilang nih berapa sekian ratus juta. Oh di sana. Tapi syaratnya begini begini begini. Ke dukun bohong. Saya enggak punya duit kok. Pasti enggak tahu tuh. Tapi jangan ya. Jadi enggak tahu hal yang gaib. Akhib. Kita lihat dalil yang lain. Surah An-Naml ayat 65.<br \/>\n(42:48) Allah Taala berfirman, &#8220;Kulla y&#8217;lamu man fis samawati wal ardhil ghaiba illallah.&#8221; Katakanlah, &#8220;Tidak ada yang tahu siapapun yang di langit dan di bumi hal ghaib kecuali Allah saja.&#8221; Nah, kecuali Allah saja yang tahu yang gaib itu. Ayat yang lain surat Al-An&#8217;am ayat 59. Ini ayat ajib, akhi. Alanam ayat 59 nih. Allah Taala berfirman, &#8220;Waahu mafatihul ghaibi la ya&#8217;lam illahu.<br \/>\n(43:24) &#8221; Dan di sisinya, artinya di sisi Allah saja kunci-kunci kegiban. Tidak ada yang tahu kecuali dia. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran. Kalau ada yang ngaku-ngaku tahu hal yang gaib, bohong. Dan wajib untuk di kita tidak percaya, wajib untuk tidak mempercayainya.<br \/>\n(43:54) Kemudian kalau antum lihat lanjutan ayat ini, ma fil barri wal bahar. Allah tahu apa yang di daratan dan apa-apa saja yang di lautan. Para ulama menjelaskan tentang ayat ini. Allah tahu apa yang ada di daratan. Di daratan dari semutnya, dari serangganya, di bawah tanah. Allah tahu. Dari binatang-binatang kecilnya Allah tahu.<br \/>\n(44:19) Dan apa yang di lautan? Dari pasirnya, dari ikan-ikannya. Berbagai macam jenis ikan dari bebatuannya, dari tumbuh-tumbuhannya Allah tahu. Subhanallah. Kemudian Allah bilang, &#8220;Wama taskutu min warqatin illa yamuha.&#8221; Tidak ada satuun daun yang jatuh dari tumbuhan melainkan Allah mengetahuinya. Satu persatunya daun jatuh. Allah tahu, Akhi. Subhanallah. Kemudian Allah bilang, &#8220;Wala habbatin fi dululumatil ard.<br \/>\n(44:54) &#8221; Tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi. Ini jamak muannas salim ini atau mulhaq. Bukan satu. Kegelapan-kegelapan bumi. Kata ulama apa? Kalau ada orang lemparkan benda sangat kecil di tengah lautan. Di tengah lautan di malam hari di waktu hujan. Berapa kegelapan tuh? Dilemparkan di samudra teng.<br \/>\n(45:22) Benda kecil masuk ke dalam samudra air sampai ke dasarnya. Berapa kegelapan? Gelapnya lumpur, gelapnya air yang dalam, gelapnya malam, ya kan? Gelapnya air hujan, gelapnya awan, lima kegelapan. Di mananya benda tersebut? Allah tahu walaupun sangat kecil. Allah tahu. Makanya kita jangan macam-macam. Di sini kita lagi duduk Allah tahu enggak tahu.<br \/>\n(45:57) Yang lagi ngantuk merem tahu enggak? Tahu. Tahu. Saya tanya antum tahu enggak jumlah rambut antum? Hah? Enggak tahu. Allah tahu tidak tahu? Kucing lewat berapa jumlah bulunya? Antum enggak tahu? Enggak tahu. Kita lemah. Allah tahu jumlah bulu kerbau. Allah tahu pasti tahu berapa-berapanya. Dibandingkan sama kita, kita enggak tahu sama sekali. Makanya kita lemah. Allah maha tahu.<br \/>\n(46:33) Makanya kita ketika kita berdoa sama Allah, Allah tahu tidak tahu. Jangan putus asa. Doa sama Allah. Allah maha tahu. Dan kita duduk di sini, Allah tahu tidak tahu. Kita harapkan pahala dari Allah Subhanahu wa taala, akhi. Nah, sudah masuk azan. Azan belum? Belum. Ya. Ya sudah lewat sedikit lagi, ya. Wala rbin wala yabisin illa fi kitabin mubin.<br \/>\n(47:01) Dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering kecuali sudah ada dalam lauh mahfuz. Nah, azan dulu, habis itu kita lanjutkan. Wasall ala Nabidina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wabarak wasallam. Ikhwat Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar.<br \/>\n(47:33) Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu ekber. E\u015fhed\u00fc en la ilaheillallah. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna Muhammadar Rasulullah. [Musik] Ashadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya al shah. Hayya alas shah.<br \/>\n(48:40) [Musik] Hayya alal falah. Hayya alal falah. [Musik] Allahu Akbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [Musik] Alhamdulillah wasatu wasalamu Rasulillah waa alihi wa<br \/>\n(49:48) ashabihi waman walah wala wula wala quwwata illa billah. Amma ba&#8217;d. Tib. Kita terus ngaji ya, kita belajar terus. Nah, kita ambil pelajarannya dari faedah yang kedua. Tidak ada yang tahu tentang kegiban kecuali Allah. Nah, di antara dalilnya surah Al-An&#8217;am tadi ayat berapa? ayat 59. Kemudian surat Hud ayat 123 Allah Taala berfirman, &#8220;Walillahi ghaibus samawati wal ardhi wa ilaihi yurjaul amru kulluhu.<br \/>\n(50:35) &#8221; Milik Allahlah kegiban langit dan bumi dan semua perkara semuanya dikembalikan kepadanya. Jadi dan semua perkara dikembalikan kepadanya. Jadi hal yang gaib di langit dan di bumi itu milik Allah. Jadi yang tahu hanya Allah semata. Ini kita harus memperkuat akidah ini, Ikhwan. Harus kuat supaya tidak jatuh pada kesyirikan. Berikutnya surat An-Nahl ayat 77.<br \/>\n(51:07) Allah Taala berfirman, &#8220;Walillahi ghaibus samawati wal ard. milik Allah pengetahuan yang gaib di langit dan di bumi. W amrus saati illa kalamil basar. Dan tidaklah urusan hari kiamat itu melainkan sekejap mata au hua aqrab atau lebih cepat. Ya. Surat Annahl ayat 77. Failmul ghaib lam yatholi alaihi malakun muqarun wala nabiyun mursalun.<br \/>\n(51:40) Nah, ini perlu diketahui ya. Jadi, ilmu tentang hal yang gaib tidak diketahui ya. Baik itu malaikat yang muqarab, malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus. Nabi dan rasul tidak tahu hal yang gaib. Fal malaikatu lay&#8217;lamunal ghaib. Para malaikat enggak tah enggak tahu hal yang gaib, apalagi jin.<br \/>\n(52:17) Lihat malaikat saja tidak tahu hal yang gaib apalagi jin. Makanya nanti kita bahas ada dua syubhat yang dibantah sama Syekh di sini. Syubhat tentang hal yang gaib berkaitan di antaranya tentang berkhidmah kepada ee katanya yang punya jin itu berkhidmah pada dirinya. Kalau istilah kitanya khadam. L ya khadam. Jadi kamu jangan macam-macam sama saya loh.<br \/>\n(52:46) Kalau macam-macam saya bilang ke guru saya nanti guru saya akan kirim 1000 khadam. Wah itu waduh takut orang ya. Khadam tuh khadam dari jin. Antum jangan ditipu. Jangan mau ditipu sama yang begituan. Enggak ada itu ya. Cuma ilmu kebal. Ilmu kebal kan ada tuh. Iya kan? Ada orang Islam mau berjihad latihan kebal dulu. Gimana ceritanya? Zaman Nabi enggak ada kebal-kebalan ya. Itu dari jin ya.<br \/>\n(53:24) Kemudian lidahnya digolok enggak mempan ya. Kemudian tangan dibeset enggak mempan. Subhanallah. Saya yakin kalau sama salah satu di antara antum bisa itu mempan pasti itu pasti. Saya punya kawan tapi sudah meninggal rahimahullah. Dia jualan golok. Goloknya saya kalau beli golok sama beliau tajam goloknya. Suatu saat ada yang nantang ceritanya ee orang katanya kebal.<br \/>\n(53:58) Coba nih enggak apa enggak mempan gitu. Jangan kata teman saya jangan coba-coba kebal. Subhanallah tanggung jawab sendiri ya. Iya tanggung jawab katanya. Ya sudah cuma digores dikit aja langsung ngucur darahnya ya. Jinnya kabur baca bismillah. Kaget dia masuk rumah sakit akhi. Ah, itu jadi yang mikir itu bohong. Bohong ya. Jangan percaya.<br \/>\n(54:35) Ah, itu saya ana punya guru juga. Kalau ada yang bilang enggak mempan, datang kita baca bismillah insyaallah bubar ya. Dan yang begitu-begitu akhi, ana pernah dulu, ana dulu pernah jadi salah satu murid seseorang di Cirebon. Ana dari Cirebon. Jadi, ana punya guru itu mendatangi beberapa orang yang matinya susah.<br \/>\n(55:08) Cerita ke ana, karena punya susuk ini, punya ini, punya itu. Oh, katanya matinya susah dulu tuh. Suruh bertobat. Alhamdulillah. Ya, jadi begitulah, Ikhwan. Jadi bagus kita ke sunah. Dan ulama bilang gini, jin itu, al jin la yakdumul ins. Jin itu tidak berkhidmah kepada manusia kecuali kalau manusianya berkhidmah sama jin. Itu nanti ada dalilnya, nanti kita baca itu dalilnya.<br \/>\n(55:45) Jadi sekali lagi jin tidak mau jadi khadamnya manusia kalau manusia itu membeli mengasih imbalan dulu. illa yakdumuhu. Mesti itu ada timbal baliknya. Mesti ya makanya punya khadam 1000 dan seterusnya enggak usah kan. Nabi Sulaiman berdoa, &#8220;Rabbigfirli wahabli mulka la yambaghi liahadin min ba&#8217;di.&#8221; Nabi ketika megang jin sampai lidahnya terasa dinginnya ke tangan beliau sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(56:28) Kalau kata beliau kalau enggak ingat Nabi, doa Nabi Sulaiman, diikat itu jin. Diikat di mana? Di tiang-tiang masjid. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam lepas karena ingat doanya Nabi Sulaiman. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan demikian. Kenapa kita berbangga-bangga punya khadam? Ya, Anda bisa katakan yang bilang saya punya khadam 100, 150, 200, 1000 itu sesat nyimpang ya.<br \/>\n(57:06) Karena mesti ulama bilang jin itu tidak berkhidmah kepada Anda, melainkan Anda berkhidmah sama dia. Nanti kita bacakan waktunya sudah habis. Nanti kita dari sini ya, dari malaikat itu enggak tahu hal yang gaib. Nanti dalilnya kita baca ayat samping. Terus kita akan lihat tentang jin. Jin tahu enggak nih hal yang gaib? Enggak ya kan? Nah, itu makanya harus tahu ilmunya supaya tidak menyimpang. Wallahuam. Biswab. Ini yang bisa kita bahas ikhwan.<br \/>\n(57:39) Mudah-mudahan manfaat. Kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfirubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Roja TV. Demikianlah ikhwat al Islam. Para pemisa dan pendengar Raja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(58:17) Kajian ilmiah yang telah kami hadirkan dan kami telah pancaruaskan dari Masjid Albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Roja TV salat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:02) asadu alla ilahaillallah wahdahu laarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasul bau ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3643","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:02) asadu alla ilahaillallah wahdahu laarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasul bau ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:31:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:31:53+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"23 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:31:52+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:31:53+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:02) asadu alla ilahaillallah wahdahu laarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasul bau ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:31:52+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:31:53+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"23 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/","name":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:31:52+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:31:53+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-12\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3643"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3643"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3643\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3644,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3643\/revisions\/3644"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}