{"id":3667,"date":"2025-11-27T20:40:08","date_gmt":"2025-11-27T13:40:08","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3667"},"modified":"2025-11-27T20:40:09","modified_gmt":"2025-11-27T13:40:09","slug":"ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/","title":{"rendered":"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#039;ala Kitabit Tauhid\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/_tHDT5-d8SU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawalah. Saudaraku seiman dan seakidah sahabat Roja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(00:58) Masih bersama dengan kami di saluran Tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Dan di kesempatan sore hari ini kembali kami hadirkan kajian ilmiah yang kami pancarluaskan langsung dari Kota Bandung, Jawa Barat tepatnya di Masjid Agung Al-Ukhwah bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Dan seperti biasa di kesempatan Jumat sore ini kita kembali akan membahas kitab Alqulul Farid Fawaid Ala Kitabi Tauhid dengan judul pembahasan sore hari ini hak Allah Subhanahu wa taala atas hamba-hamba-Nya. Saudaraku seiman dan seakidah, kami ajak Anda untuk menyimak kajian ini dan Anda juga dapat<br \/>\n(01:36) berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Anda dapat mengirimkan pertanyaan Anda melalui pesan WhatsApp ataupun l telepon di nomor yang sama di 0218236543. Baiklah, untuk selanjutnya kita akan simak nasihat dari Al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Kepada al ustaz fatafadol maskuro. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(02:08) Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda winil haqqo liyudhirahu aladini kullih wa kafa billahi syahida wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah iqrar bihi wa tauhida wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh sallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wasallam Hadirin jemaah Masjid Agung Alukhuwah Bandung, para pendengar Radio Tarbiyah Sunah Bandung, pendengar Radio Roja di beberapa kota, pemirsa Rajat TV dan TV-TV lain.<br \/>\n(03:02) Kembali kita berjumpa melanjutkan kajian kitab Alqul Farid, fawaid ala kitab Tauhid. Kita masuk ke pembahasan hadis dari Muad bin Jabbal radhiallahu anh. Kata Muad, &#8220;Kuntu radifan Nabi sallallahu alaihi wasallam ala himarin.&#8221; faq ya muad atadri ma haqqulahi alal ibad wama haqqul ibadi alallah qulu waasuluhu aam qal haqqallahi alal ibad an ta&#8217;buduhu wala tusriku bihi saia wahaqul ibadi alallah yadziba man yusyrika bihi saia qol qulu ya rasulullah afala ubasyirunas qol la tubasyirhum fayattaqilu kata muad aku dibonceng oleh nabi sallallahu alaihi wasallam di atas seekor himar keledai<br \/>\n(04:17) lalu beliau berkata kepadaku, &#8220;Wahai Muadz, tahu Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba hak hamba atas Allah? Aku menjawab, &#8220;Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.&#8221; Lalu beliau berkata, &#8220;Hak Allah atas hambnya adalah para hamba beribadah kepadanya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun.<br \/>\n(04:56) Jadi mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik. Dan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Jadi asal tidak musyrik tidak akan diazab. Kata Muad, &#8220;Aku bertanya lagi, wahai Rasulullah, bolehkah aku beritahukan berita gembira ini kepada manusia?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jangan kamu beritahukan kepada mereka nanti mereka itikal.<br \/>\n(05:41) &#8221; Etikal itu bersandar kepada keterangan ini di atas pemahaman yang keliru atau salah. Hadis ini riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam dua kitab sahihnya. Dari hadis ini ada banyak faedah pelajaran yang berharga dari segala aspek. Aspek fikih, aspek tauhid, aspek akhlak juga. Faidah pertama annahu yajuzul irdaf aladabah.<br \/>\n(06:29) Syaritata an takuna qodiron wala alaiha wakuna shohibuha ahaqqa bisodriha. Faedah pertama, hadis ini menerangkan boleh berboncengan di atas satu kendaraan dengan syarat kendaraannya itu mampu, tidak memadaratkan. Selama keledai itu mampu memikul dua orang, enggak masalah. Dan pemiliknyalah yang nyetir, yang mengendalikan.<br \/>\n(07:14) Karena itulah dalam Sunan Abu Daud dan At-Tirmidzi ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam berjalan kaki. Lewatlah seorang sahabat dengan kendaraannya kuda. Orang itu berkata, &#8220;Irkab, ya Rasulullah, naiklah engkau wahai Rasulullah. Terus sahabat itu mempersilakan Nabi sallallahu alaihi wasallam di depan. Berkatalah Nabi alaihiatu wasalam, &#8220;La anta ahaqu bisodriatika minni.&#8221; Enggak.<br \/>\n(07:59) Engkau lebih berhak mengendalikan binatang tungganganmu daripada aku. Illa an taj&#8217;alahi. Kecuali kalau engkau memberikan binatang ini kepadaku. Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam dibonceng. Inilah faedah yang pertama. Boleh berboncengan di atas satu kendaraan selama kendaraannya itu mampu dan yang nyetir adalah yang memiliki kendaraan tersebut.<br \/>\n(08:43) Yang kedua, tawaduun Nabi sallallahu alaihi wasallam waulatofatuhu liashabihi. Fainnahu arkaba muadan wa ardafahu w yadullu ala tawadi w tawadu fi a maqomatihi lammaana hadal irdaf ala himarin fainnal himar laisa kal ba&#8217;ir. Kedua, hadis ini menjelaskan tawadunnya Nabi sallallahu alaihi wasallam dan kelemahlembutan beliau kepada para sahabatnya.<br \/>\n(09:31) Karena beliau membonceng Muad dibonceng di belakangnya. Dan ini menunjukkan ketawaduan beliau. Terlebih ketawaduan beliau itu beliau mengendarai himar. Boleh dikatakan hemar itu binatang tunggangan yang paling rendah, kecil dari segi harga paling murah, kualitas paling jelek. Beda dengan kuda atau unta. Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Ahmad memiliki himar yang diberi nama Ya&#8217;fur.<br \/>\n(10:15) Kadang diberi nama ada lagi quswa. Ada berapa himar milik Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan ini menunjukkan dibolehkannya memiliki lebih dari satu kendaraan binatang tunggangan apabila dibutuhkan. Ketiga, annahu yajuzu ayut sualus syari ala yafu jawabahu hatta lam y&#8217;rifhu yakunu samuhu wa aqluhu wubbuhu hadiron fianaya taklimihi wafihi.<br \/>\n(11:01) Hadis ini pun menjelaskan bolehnya melontarkan pertanyaan syari kepada orang yang belum tahu jawabannya sampai apabila dia tidak kalau dia tidak tahu lalu ditanya dia akan lebih fokus pendengarannya pikirannya mendengarkan jawaban dan Ini metodologi Quran dan sunah. Betapa banyaknya ayat ketika Allah mau menjelaskan sesuatu yang penting dalam Quran, Allah suka memancing dengan pertanyaan terlebih dahulu.<br \/>\n(11:47) itu banyak seperti alqariah. Malqariah wama adrakamal qariah. Hari kiamat. Tahukah kamu apa hari kiamat itu? Kemudian tahukah kamu apa hari kiamat itu? Jadi sebelum Allah menjelaskan tentang kiamat, salah satu kondisi yang terjadi ketika kiamat, Allah melontarkan dulu pertanyaan.<br \/>\n(12:23) Untuk apa fungsinya? Untuk memancing perhatian dan fokus pihak yang diajak bicara. Dan dalam Al-Qur&#8217;an banyak yang seperti itu. Umpamanya wa ashabul yamin, ma ashabul yamin ada golongan kanan. Tahu enggak kamu siapa golongan kanan ini? Lalu dijelaskan. Wa ashabus syimal. Ma ashabus syimal. Lalu dijelaskan.<br \/>\n(12:59) Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam pun banyak bertanya terlebih dahulu sebelum menjelaskan. Atadruna manil muflis? Tahu enggak kalian siapa orang yang bangkrut? Lalu beliau menjelaskan, jadi banyak termasuk para sahabat. Di antaranya Abu Hurairah radhiallahu anhu ketika meriwayatkan hadis riwayat Imam Bukhari dalam kitab sahihnya, ma min mauludin illa yuladu alal fitrah. Tidak ada bayi yang lahir kecuali lahir di atas fitrah.<br \/>\n(13:36) Lalu Abu Hurairah bertanya kepada murid-muridnya, &#8220;Atadruna malal fitrah?&#8221; Tahu enggak kalian apakah yang dimaksud fitrah dalam ayat dalam hadis ini? Lalu beliau menjawab, &#8220;Alfitrah Islam.&#8221; Fitrah itu Islam. Jadi sebelum menjelaskan dipancing dengan pertanyaan. Dan ini metodologi yang bagus.<br \/>\n(14:08) Guru umpamanya menerangkan sesuatu kepada muridnya. Anak-anak, kalian tahu enggak apa tema kita sekarang tentang anu? Menurut kalian, pendapat kalian tentang anu tuh gimana? Nah, itu perhatian murid-murid fokus. Barulah guru menjelaskan di saat anak sedang puncak fokus dan perhatian. Nah, dalam hadis ini pun Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Muad, &#8220;Ya Muad, atadrima haqqulah alal ibad waqul ibadi alallah.<br \/>\n(14:48) &#8221; &#8220;Wahai Muad, tahu enggak apa hak Allah atas hambanya dan hak hamba atas Allah?&#8221; Muad belum tahu jawabannya. oleh Nabi ditanya itu dibolehkan untuk mencuri perhatian, menarik perhatian agar ketika dijelaskan lebih fokus ya. Dan itu metode yang baik ketika mengajarkan. Itulah yang ketiga. Keempat, annal insan yunada fil asli biismihi.<br \/>\n(15:25) Hadis ini menjelkan menjelaskan bahwa orang pada asalnya dipanggil dengan namanya seperti hadis ini ya Muad atau dibolehkan dengan sesuatu yang memang menjadi panggilan khusus bagi dia. Tidak namanya boleh laqabnya boleh kunyahnya. Seperti umpamanya ya Aba Fulan namanya bukan aba fulan ada nama aslinya tapi dia lebih dikenal dengan sebutan kunyahnya.<br \/>\n(16:13) Boleh. Kadang-kadang lebih terkenal kuniahnya daripada nama aslinya. Atau laqab. Laqab itu julukan yang khas bagi dirinya. Itu dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung hinaan atau celaan. Adapun kalau laqab atau kunyah di dalamnya mengandung celaan atau hinaan tidak boleh. Seperti si pincang, si picek, si hitam.<br \/>\n(16:56) Walaupun realitanya begitu, tapi laqab itu mengandung unsur penghinaan. Maka tidak boleh. atau dengan julukan laqab yang menunjukkan keburukan dia. Wahai si malas seumpamanya, wahai si dungu dan yang sejenisnya, maka tidak boleh. Karena Allah menyatakan la yasum minumin asa ayakunuir minhum. di beberapa kalimat setelah itu, wala talmizu anfusakum wala tanabazu bil alqab.<br \/>\n(17:38) Tidak boleh saling merendahkan, tidak boleh saling memberi gelar sebutan dengan sebutan-sebutan yang buruk, maka tidak boleh. Adapun kalau sebutan itu tidak mengandung penghinaan, pelecehan, bulian seperti umpama bahkan ada pujian, wahai si rajin, wahai si bageur, si cerdas, maka dibolehkan. Itulah yang keempat.<br \/>\n(18:18) Kelima, annahu yajuzu ayukrana ayukrana shallallahu alaihi wasallam allahi azza waalla fi makrifatil ulumi syariah. Hadis ini mengisyaratkan boleh menyandingkan [Musik] antara Rasul sallallahu alaihi wasallam dengan Allah dalam pengetahuan ilmu syar&#8217;i. Seperti jawaban Muad ketika ditanya apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba atas Allah? Dia menjawab Allahu rasuluhu alam.<br \/>\n(18:58) Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Di sini disandingkan antara Allah dengan rasul-Nya dibolehkan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, salatun man kunna fihi wajada bihinna halawatal iman. Ada tiga perkara. Siapa orang yang memiliki ketiga perkara ini dalam dirinya, dia akan merasakan manisnya iman. Nah, yang pertama ayakunallahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwahuma.<br \/>\n(19:41) Kalau Allah dan rasulnya lebih dia cintai daripada yang lain, Allah dan rasulnya di sini disandingkan, disatukan. Boleh dalam rangka pertama tadi mengenalkan ee ulum syariah. Kedua me menerangkan kewajiban kepada Allah dan rasulnya dalam hal mencintai. Adapun kalau menyandingkan Allah dan Rasul-Nya dalam rangka menyamakan hak, maka tidak boleh.<br \/>\n(20:25) Dalam hal menyamakan hak untuk di apa? Ee dalam masalah yang menjadi hak khusus bagi Allah. Seperti ketika sahabat berkata, &#8220;Masyaallahu was&#8217;ta.&#8221; Tergantung kehendak Allah dan kehendak engkau. Menyamakan antara kehendak Allah dengan kehendak Rasul-Nya. Maka ini tidak boleh. Karena apa? Kehendak itu merupakan hak prerogatif Allah. Allah memberi kehendak kepada makhluknya. Nabi tidak memiliki kehendak sendiri.<br \/>\n(21:10) Wama tasyauna illa ay yasya Allahu rabbul alamin. Ini namanya masyiah kauniah. Artinya kehendak yang berupa takdir. Nabi sallallahu alaihi wasallam atau manusia tidak memiliki kemampuan untuk mentakdirkan sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Maka tidak boleh. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;La taqul masyaallah wasita walakin qul masyaallahu wahdah.<br \/>\n(21:51) &#8221; Jangan kamu katakan masyaallah wasitta, tapi katakan masyaallah saja. Inilah yang kelima. Dan ini perkataan ini hanya boleh dikatakan ketika Nabi masih hidup. Adapun setelah beliau mati tidak boleh mengatakan Allah dan Rasulnya yang lebih tahu seperti sekarang. Tahu enggak kamu tentang ini ini? Kita jawab Allah dan Rasul Allah wa Rasul alam. Enggak boleh.<br \/>\n(22:31) itu khusus ketika beliau masih hidup. Sebagaimana diungkap dalam kitab Sahih Bukhari, Umar pada suatu hari bertanya kepada para sahabatnya, para sahabat Nabi tentang ayat yang terdapat dalam surah Albaqarah 266. Di ayat itu Allah menyatakan ayawadu ahadukum takun lahu jannah minilabinajtihal anhar lahu minarat faahul kibar wahuatun fahaunqatika Allah berfirman, &#8220;Apakah kamu suka kalau kamu memiliki kebun, kurma, anggur yang di bawahnya<br \/>\n(23:45) banyak mengalir sungai, di dalamnya menghasilkan buah-buahan.&#8221; Lalu pemiliknya ini menua tua datang masa tua dan dia masih memiliki anak-anak yang lemah. Anak-anaknya masih kecil belum bisa ngurus kebun tersebut. Ee orang tuanya sudah sangat tua. Lalu datanglah angin panas yang mengandung api lalu terbakar habis.<br \/>\n(24:20) Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya agar kalian berpikir. Nah, ini ditanyakan oleh Umar kepada para sahabat. Qara sahabat berkata, &#8220;Allahu a&#8217;lam. Allah yang lebih tahu hanya Allah. Mereka tidak mengatakan Allahu wa rasuluhu a&#8217;lam. Saat itu Nabi sudah wafat, Abu Bakar juga sudah tiada.<br \/>\n(24:58) Yang menjadi khalifah adalah Umar bin Khattab radhiallahu anhu bertanya tentang ayat ini. Bagaimana menurut kalian tentang ayat ini? Para sahabat-pabat Allahuam. Allah yang lebih tahu. Tidak memakai rasulnya. Ya. Jadi tidak boleh mengatakan Allahu wa rasuluhu a&#8217;am setelah beliau wafat. Maka ini dikhususkan bagi para sahabat yang sezaman dengan beliau.<br \/>\n(25:37) Setelah beliau wafat, para sahabat tidak lagi mengatakan Allahu wa rasulu aam, tapi cukup mengatakan wallahuam. Kita juga mengatakan begitu. Tahu enggak kamu tentang hal ini? Kita enggak tahu jawab. Wallahuam. Ya, inilah faedah kelima. Faidah keenam. Anna haqqallahi azza waalla alal ibad mufassarun fil hadis. Wahua ayuduhu yusriku bihi.<br \/>\n(26:13) Waqal ibadi alallah mufassarun fil hadis wahua alla yuadzib la yus yusriku bihi. Hadis ini menerangkan bahwa hak Allah atas hamba ditafsirkan [Musik] di dalam kalimat setelah pertanyaan ini, yaitu hamba beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan suatuun. Itu hak Allah. Hak maknanya kewajiban hamba. Hak Allah wajib ditunaikan dilaksanakan oleh hamba.<br \/>\n(26:53) Jadi menjadi kewajiban hamba mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik kepada Allah. Adapun maksud dari hak hamba atas Allah adalah ditafsirkan di dalam hadis ini, Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan Allah dengan satuun. Asal tidak musyrik, tidak diazab. Kalau hak hamba eh kalau hak Allah adalah kewajiban hamba, maka hak hamba adalah kewajiban Allah.<br \/>\n(27:36) Kalau Allah bisa punya kewajiban? Allah sendiri yang mewajibkan dirinya untuk berbuat begini, begini, begini. Dan banyak dalam Al-Qur&#8217;an. Kataballahu laaglibanna ana wa rasuli. Allah telah mewajibkan. Maksudnya mewajibkan untuk diri sendiri. Laaglibanna ana wa rasuli. Aku akan menangkan aku dan para rasulku. Dan banyak ayat atau hadis yang menjelaskan bagaimana Allah mewajibkan untuk dirinya untuk melakukan sesuatu.<br \/>\n(28:12) Itulah keenam. Ketujuh bayan fadillahi azza waalla waomi kamaqik min annahuil makhluk takar waisa alabilil muawad. Hadis ini pun menjelaskan karunia dan kedermawanan Allah kepada hamba-hambnya dalam bentuk Allah menyatukan hak Allah dan hak hamba. Seperti dalam hadis ini hak Allah disebut, hak hamba juga disebut.<br \/>\n(29:02) Seperti ayat yang sudah kita bahas di pertemuan yang lalu. Waqadbuka alla tabudu illa iyah wabil walidaini ihsana wabil qurba wal yatama wal masakin. Sampai akhir ayat. Allah telah menetapkan bahwa jangan kalian ibadah kecuali hanya kepadanya. Itu hak Allah. Lalu dan kepada orang tua hendaklah berbuat baik. Ini hak orang tua.<br \/>\n(29:35) Dan kepada wabidil qurba, kaum kerabat wal yatama, anak-anak yatim wal masakin, anak orang-orang miskin. Disebut juga hak hamba-hambanya disandingkan dengan hak Allahu azza wa jalla. Nah, ini karunia Allah sekaligus takarruman kemuliaan Allah kepada hamba-hambnya. Kedelapan. admut tauhid wahua anna maal muahid ilal jannah wa annahu salimun minzabillah.<br \/>\n(30:12) Hadis ini menjelaskan agungnya tauhid dan ending dari tauhid, kesudahan dari orang yang bertauhid adalah ke surga. Dan dia akan selamat dari api neraka. Asal tidak syirik alias bertauhid tidak akan diazab. Artinya akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah azza wa jalla. Kesembilan.<br \/>\n(30:53) Annahu yajuzu ayuqal labaik was&#8217;dai kama waradat fi riwayatin ukhro idqala muad labaik was sa&#8217;adai. Hadis ini pun menjelaskan dibolehkannya menjawab panggilan dengan lafaz labbaik wasa&#8217;daik. Sebagaimana dalam riwayat lain. Jadi ketika Nabi menyatakan ya Muad. Muad langsung menjawab labaik wasa&#8217;daik. Dibolehkan. Apa makna dari labaik? Kalimat labaik yakni mustajiban lak.<br \/>\n(31:31) Lebih baik itu kami memenuhi panggilanmu, tapi dengan adab, dengan santun, dengan attitude. Terus boleh juga ini ditujukan kepada makhluk, boleh juga ditujukan kepada Allah. Seperti ketika talbiah umrah atau haji, jemaah haji, jemaah umrah melakukan talbiah dengan sebut dengan melantunkan labaika labaikallahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik.<br \/>\n(32:31) Innal hamda wikmata laka wal mulk la syarikalak. Boleh kepada Allah, boleh kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam pun boleh. Karena mengungkapkan ucapan labaik tidak mengandung pengagungan atau pengkultusan berlebihan kepada pihak yang memanggil. Boleh enggak ini kepada selain Allah dan Rasul-Nya ada guru manggil ya fulan. Lalu kita menjawab labaik boleh.<br \/>\n(33:07) itu sekedar urf, itu sekedar adab ya dibolehkan mengatakan labaik wasa&#8217;adaik. Faidah yang ke-10 karena tafsiral muslim minal mandub. Memberikan kabar gembira kepada orang lain itu sunah. Disunahkan. Karena itulah ketika Nabi menyatakan Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan Allah dengan suatuun. Ini kabar gembira.<br \/>\n(33:48) Lalu Muad menyatakan, &#8220;Afala ubasyirunas? Boleh enggak aku beritahukan kabar gembira ini kepada manusia?&#8221; Dalam hadis lain, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Ahabbul a&#8217;mal ilallah sururun tudilu ala qolbil muslim.&#8221; Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah memasukkan kegembiraan kepada hati sesama muslim.<br \/>\n(34:20) Jadi memberi berita gembira itu kepada orang lain sunah, boleh, dan ibadah. Karena itulah ketika Ka&#8217;ab bin Malik, Ka&#8217;ab bin Malik orang yang ditahdir, dihajr oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam berdasarkan perintah Allah. Hajarnya hajar bahasa Arab ya, bukan bahasa Indonesia dihajar. Dihajar itu dimusuhi, tidak diajak bicara, tidak dijawab salamnya.<br \/>\n(34:55) Disebabkan karena melakukan kesalahan fatal. Ketika ada seruan perang, perang Tabuk, dia tidak ikut tanpa alasan. Lalu turun syariat hajr dia. Artinya dibiarkan salamnya pun tidak dijawab. Orang-orang dilarang berbicara dengan dia. Berapa lama? 40 hari. Sahabat-sahabat dekatnya tidak lagi menjawab salamnya, tidak menjawab pertanyaannya, tidak merespon perkataannya, dibiarkan.<br \/>\n(35:42) Setelah 40 hari tambah istrinya disuruh pulang ke rumahnya, ke rumah orang tuanya. Pulangkan tanpa niat menceraikan. Pokoknya pulang dibiarkan dia sendiri selama berapa lama? 10 hari. Jadi genap 50 hari itu sampai nangis-nangis tobat Ka&#8217;ab bin Malik dan dua kawannya ada tiga orang. Nah, sampai setelah 50 hari turun ayat yang menjelaskan tobat Ka&#8217;ab dan dua kawannya diterima dan sanksi larangan berbicara dicabut.<br \/>\n(36:31) Ketika pertama kali turun ayat yang menerima tobatnya Ka&#8217;ab bin Malik, ada orang datang ke Ka&#8217;ab lalu menyampaikan ayat tentang diterimanya tobat Kaab. Ini berita gembira ini. Apa yang dilakukan oleh Kaab? Saking gembiranya dia memberikan baju yang dipakainya kepada orang yang pertama kali memberitahukan berita gembira itu kepada dirinya.<br \/>\n(37:12) Saking gembiranya sampai sujud syukur dibuka bajunya dikasih kepada orang tersebut dan sahabat lain kemudian datang memeluk. Kemudian air mata pun tertumpah. Lalu Mua Ka&#8217;ab bin Malik datang kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam. Begitu ketemu langsung Nabi tersenyum. Biasanya buang muka. Ketika sanksi hajar ini diterapkan tidak menjawab ini tersenyum.<br \/>\n(37:51) Maka sebagai berita gembira atau syukur atas berita gembira ini, Ka&#8217;ab mensqahkan kebunnya dan diterima oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Jadi memberitahukan berita gembira kepada orang lain itu adalah ibadah, melakukan kebaikan dan layak diapresiasi, diberikan balasan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, hadis riwayat Imam Abu Daud dan an-Nasai dengan sanad yang sahih.<br \/>\n(38:25) Beliau berkata, &#8220;Man sha ilaikum ma&#8217;rufa fakafi&#8217;u.&#8221; Siapa orang yang telah berbuat baik kepada kalian, balas kebaikannya. Adapun kata-kata busyra, busyra ini ada tiga maknanya. Pertama, busra itu berita baik. Menyampaikan berita baik. Wabasyirisirin. Kasihi busyra, berita gembira, berita baik kepada orang-orang yang sabar. Itu contohnya.<br \/>\n(39:05) Atau umpamanya ada orang yang memberi memperoleh keuntungan tapi dia belum tahu. Kita sudah tahu. Umpamanya orang istrinya lagi hamil besar melahirkan. Kita tahu ee bapak anak itu belum tahu. Lalu kita katakan, &#8220;Ubasyiruka bimauludi waladika.&#8221; Aku beritahukan kepadamu, aku beritahukan kabar gembira dengan kelahiran anakmu itu berita baik.<br \/>\n(39:52) Atau ada orang yang safar lama lalu pulang. ke keluarganya. Masih di jalan kita sudah tahu tapi keluarganya belum tahu. Lalu kita bilang ke keluarganya, &#8220;Ubasirukum biqudumi ahlum atau gaibikum.&#8221; Aku beritakan kabar gembira kepada kalian tentang datangnya orang yang safar keluar kalian, maka keluarga itu gembira. Boleh ya. Ini busyra yang pertama.<br \/>\n(40:23) Jadi ditujukan kepada orang tertentu. Kedua, boleh menyampaikan busyro itu bisa juga berita gembira secara umum kepada siapapun, tapi isinya berita gembira juga. Umpama diumumkan bahwa harga BBM turun Rp100. lumayan ini keuntungannya untuk siapa? Untuk semua orang. Diumumkan bahwa biaya rumah sakit gratis. Mimpi aja dulu.<br \/>\n(41:10) Ini berlaku untuk semua orang gitu ya. Diumkan bahwa gunung-gunung sampah di Kota Bandung besok dijamin sudah bersih. Sekarang wayahna sampai malam masih menggunung. Besok dijamin bersih. Kita tahu bocorannya maka boleh disampaikan secara umum. Itu juga busra. Yang ketiga, busra tapi sarkasme, berita tapi buruk. Seperti Allah berfirman di dalam Ali Imran ayat 20, fabasyirhum biadzabin alim. Berikan kabar kepada mereka tentang azab yang sangat pedih.<br \/>\n(42:06) Jadi busyra itu bisa kebaikan, bisa keburukan, bisa berita baik, bisa berita buruk. Tapi kalau umpamanya dikatakan ada busyra untuk kalian, berarti ini busyra yang baik, berita baik. Tapi kalau berita buruk harus diqayyid dengan menyebut keburukan seperti fabasyirhu fabasyirhum biadzabin alim. Inilah faedah ke-10.<br \/>\n(42:41) Ke-11. Quuhu waqul ibadi alallah alla yuadzib man yusriku bisai lain annahu yatruk syirka faqat wul w yulzamu bil ibadah. ibadau jumlah ibadah ibadillahirka jumlah b jumlatil fnaha mubayatun muhatun Irki minil ibadah. Adapun yang dimaksud kalimat hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengazab selama dia tidak berbuat<br \/>\n(43:54) syirik. ini tidak boleh disalah pahami. Oh, kalau begitu asal tidak musyrik tidak akan diazab. Dan melakukan dosa besar bukan syirik. Dia mencuri, dia berjudi, dia mabuk, dia berzina, dia begini, dia begitu. Asal tidak syirik, tidak akan diazab. Ada yang salah paham seperti itu ya. Nah, ini yang menjadi penyebab Nabi melarang agar tidak iktikal.<br \/>\n(44:35) Makna itikal itu ini hanya bersandar kepada hadis ini dengan pemahaman yang keliru, yang salah. Makanya ada orang, &#8220;Ah, yang penting tidak musyrik saya mah.&#8221; Lalu melakukan dosa-dosa yang lain. Nih jaminannya asal tidak musyrik tidak akan diazab. Ini keliru. Ini tidak benar. Disebut wafah laisa bisahih.<br \/>\n(45:01) Ini tidaklah benar. Tapi penjelasannya falabuda maarkir syirki bifillil ibadah. Meninggalkan syirik itu secara otomatis melakukan ibadah. Karena konteks kalimat ini diawali oleh kon kalimat hak Allah atas hamba-hambnya. Hak Allah diibadati. Makna ibadah bukan hanya menyembah.<br \/>\n(45:39) Ibadah itu semua ucapan dan perbuatan yang diridai dan dicintai oleh Allah. ucapan, perbuatan ataupun hati, baik zahir ataupun batin. Maka apapun perbuatan yang dicintai dan diridai oleh Allah adalah ibadah. Seperti membuang duri atau gangguan dari jalan itu dicintai oleh Allah. Itu ibadah, itu aplikasi iman.<br \/>\n(46:11) Berkata yang baik atau diam itu aplikasi iman, itu ibadah. Menahan diri, tidak mengganggu, tidak menyakiti orang lain, itu juga ibadah. Nah, apalagi salat, saum, kemudian menjauhi semua yang dilarang itu ibadah yang agung. Maka wajib ditunaikan sebagai hak Allah. Hak Allah tidak hanya disembah, tapi semua perbuatan ee perintahnya dilakukan, larangannya dijauhi, itu hak Allah.<br \/>\n(46:48) Karena itulah maka kalimat Allah tidak akan mengazab seseorang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. berkaitan dengan kalimat Allah wajib diibadati. Jadi, selain tidak syirik juga beribadah kepada Allah azza wa jalla. Karena itulah maka Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika ditanya, &#8220;Boleh enggak aku beritahukan kepada orang?&#8221; &#8220;Enggak, enggak boleh.&#8221; Takut itikal.<br \/>\n(47:30) Ettikal itu salah paham bersandar kepada pemahaman hadis ini yang disalah pahami. Poin berikutnya. Anar raja idamada alaihi annahu yujibul aman min makarillah. Hadis ini pun menjelaskan bahwa raja, raja itu harapan. Harapan apabila dijadikan sandaran mengakibatkan dia merasa aman dari makar Allah. Maka ini berbahaya. Tidak boleh merasa aman dari makar Allah.<br \/>\n(48:22) Makana Nabi menyatakan la tubasyirhum fattaqilu. Jangan kamu beritahukan kepada mereka nanti mereka itikal. Iktikal itu berharap berlebihan secara tidak realistis. Seperti tidak realistis gini. Orang durhaka tidak tobat tapi dia berharap dapat ampunan dari Allah. Karena Allah mah gfurur rahim. Walaupun saya berdosa besar dan Allah mah pasti mengampuni saya, masukkan saya ke dalam surga. Allah gfur rahim.<br \/>\n(49:00) Itu disebut harapan yang lebah, yang berlebihan, tidak realistis. Kenapa? Harapan wajib dimiliki setelah ikhtiar. Kalau berharap tanpa ikhtiar namanya tamanni atau mengkhayal, berangan-angan. Seperti contoh umpamanya kita bekerja di kantor, swasta ataupun negeri tiap hari.<br \/>\n(49:38) Lalu kita berharap setiap bulan dapat gaji. Itu Raja dan itu realistis, rasional. Ada hubungan sebab akibat. Kenapa ada harapan dapat gaji? Karena ada sebab. Sebabnya kerja. Atau kita punya satu lahan perkebunan, kita garap, kita cangkul, kita tanam, kita siram. 2 3 bulan kemudian berharapan. Ini harapan itu realistis, rasional karena hasil ikhtiar.<br \/>\n(50:20) Kalau sekarang orang pengangguran enggak kerja, enggak apa, lalu dia nanti saya akhir bulan dapat gaji. Berharap begitu, tapi enggak ada ikhtiar. Itu bukan harapan, tapi apa namanya? Ngelamun, angan-angan khayalan. Ya, enggak. Kita punya tanah sepetak, dibiarkan tidak ditanam, tidak digarap, lalu berharap 4 bulan yang akan datang saya panen.<br \/>\n(50:54) Itu harapan bukan? Bukan tapi apa? Khayalan tadi berangan-angan tanpa ikhtiar, tanpa usaha. Begitu pula orang dosa terus-terusan, tobat tidak, istigfar tidak, lalu berharap dapat ampunan. Mengkhayal itu bukan berharap ya. Enggak. Karena itulah maka kalau orang hanya tidak musyrik tapi melakukan dosa besar lalu berharap tidak akan diazab, itu kekeliruan itu iktikal.<br \/>\n(51:29) itu yang tidak boleh gitu ya. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang. Timbul pertanyaan, apakah Muad memberitahukan enggak perkataan Nabi ini ke orang lain? Padahal sudah dilarang tuh. Jangan. La tubasyirhum fattaqilu. Jangan kau beritahukan hadis ini kepada siapapun nanti mereka iktikal.<br \/>\n(52:00) Pertanyaan, apakah Muad menyampaikan hadis ini ke orang lain? Iyalah menyampaikan. Apa buktinya? Ini kita tahu nyebar kejutaan orang. Nah, dari hadis ini jawazu kitmanil ilmi lil maslahah. Hadis ini menjelaskan dibolehkannya menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan. Kalau dijelaskan madarat, jangan dijelaskan. Baik madarat itu karena orang itu pemahamannya dangkal bisa salah paham.<br \/>\n(52:35) Atau ada orang yang sengaja memancing keributan, memancing masalah. Ditanya masalah yang apabila kita jawab pasti menimbulkan kontroversi, kan gitu ya. Ada menurut kamu apa? dia sudah tahu jawaban kita apa, tapi sengaja biarpos nanti bisa dikasuskan kan gitu ya.<br \/>\n(53:00) Ada yang sebenarnya itu enggak enggak boleh dijawab, enggak boleh dijelaskan. Ini Muad dilarang oleh Nabi memberitahukan ini demi kemaslahatan. Nah, tapi Muad menyampaikan menyampaikan kenapa? Apakah dia berdosa karena melanggar larangan Nabi? Tidak. Pertama, Muad menyampaikan ini di akhir hayatnya taatuman karena takut dosa menyembunyikan ilmu.<br \/>\n(53:39) Kedua, Muad menyampaikan hadis ini kepada orang yang dijamin tidak akan ittikal, tidak akan salah paham dalam penerapannya. Dijamin tuh orangnya yang yang menerima hadis ini orang yang paham, yang cerdas tidak akan salah paham sehingga madaratnya terhindarkan, ilmunya tetap tersampaikan. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada Abu Hurairah.<br \/>\n(54:11) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Binaan laqal yashadu alla ilahailla mustaqinan bihabuhu fabasyirhu bilah.&#8221; Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada Abu Hurairah, &#8220;Bawa dua sendalku ini. Siapa orang yang kamu temui di balik kebun kurma ini?&#8221; Dan dia bersaksi lailahaillallah secara yakin dengan hatinya. Beritahukan kepada dia berita gembira dengan surga. Dia dijamin surga.<br \/>\n(54:52) Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh Abu Hurairah menyampaikan berita gembira ini kepada dia. Dan berbeda dengan kepada Muad. Kalau kepada Muad jangan diberitahukan. Kepada Abu Hurairah boleh. Bahkan disuruh. Hadis ini sahih riwayat Imam Muslim. Apa maknanya? Maknanya adalah pertama orang yang diberikan kabar gemb di dijamin tidak akan itikal, tidak akan salah paham.<br \/>\n(55:29) Kedua, orang tersebut memang orang yang layak dijamin dengan surga. Karena apa? Ternyata orang yang ditemui pertama kali oleh Abu Hurairah di balik kebun ini adalah Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Oh, karena ini memang sudah dijamin masuk surga dan dijamin tidak akan itikal. Ya, poin terakhir, hirsus sahabah ala nasr khairil wal ilmi.<br \/>\n(56:04) Hadis ini menjelaskan semangat para sahabat yang besar untuk menyampaikan berita gembira dan ilmu. Makanya Muad secara antusias bertanya, &#8220;Afala ubasyirunas? Boleh enggak aku beritahukan kabar gembira ini ke orang-orang?&#8221; Dan ini menunjukkan semangat beliau untuk memberikan kabar gembira dan ilmu kepada orang-orang. Ya, inilah beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini.<br \/>\n(56:31) Kita cukup sampai di sini dan kita masuki sesi tanya jawab. Kepada Abu Lukman di studio Radio Rojat Silingsi dipersilakan untuk memandu tanya jawab dengan pendengar dan pemirsa. Wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wasallam. Mangga Muad. Jazakallahu khairan.<br \/>\n(56:59) Kami sampaikan kepada Al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian sore hari ini langsung dari Kota Bandung, Jawa Barat. Dan berikutnya kita akan bacakan beberapa pertanyaan yang telah masuk dan juga semoga kita dapat mengangkat penelepon di nomor 0218236543. Baik Ustaz, kita baca pertanyaan pertama mulai pesan WhatsApp dari hamba Allah di Purwakarta.<br \/>\n(57:23) Ustaz, pertanyaannya Ustaz, jika seseorang sudah berusaha mengikuti petunjuk Allah sesuai Al-Qur&#8217;an dan sunah dengan taubat dan melakukan amal-amal saleh, tapi merasa belum mendapatkan sakinah, ketenangan. Ustaz terkadang masih sering overthinking, trauma karena qadarullah ada salah satu anaknya yang kena kanker 5 tahun lalu.<br \/>\n(57:52) Pertanyaannya ustaz, apakah ia belum mendapatkan sakinah? Bagaimana ini, Ustaz? Mohon penjelasannya. Tafadul, Ustaz. Tib. Barakallahu fik. Sakinah maknanya ketenangan jiwa, ketentraman batin yang Allah turunkan kepada orang-orang yang beriman sebagai balasan kontan atas ibadah yang dilakukannya selain balasan yang tertunda nanti di akhirat. Jadi kalau Allah mau membalas amalan hamba yang baik, benar, bagus diterima, Allah beri balasan kontan di dunia dan nanti di akhirat balasan tertunda juga ada.<br \/>\n(58:45) Apakah balasan kontan di dunia? Pertama, sakinah. Jiwanya tenang, hatinya tentram. Kalbunya teduh betah dalam melakukan ibadah. Allah berfirman dalam surah al-Fat ayat keempat. Walladzi anzalas sakinata fi qulubil mukminin liydadu imanam ma imanihim. Allahlah yang menurunkan sakinahnya kepada hati orang-orang mukmin untuk menambah iman mereka dari iman yang sudah ada sebelumnya.<br \/>\n(59:29) Ketika ngaji kayak begini, maka Allah turunkan juga sakinah. Majamaun fiitin minutillah yatluna kitaballahuna bainahum illa gasathumurah rahmah wa unzilat alaihimus sakinah. tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah membaca Quran, mempelajari isinya, kecuali Allah curahkan rahmat, Allah turunkan sakinah. Jadi itu adalah balasan kontan.<br \/>\n(1:00:04) Inilah yang kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, surga dunia. Kata beliau, &#8220;Inna fil jannati a inna fid dunya jannatan.&#8221; Man lam yadkhulha lam yadkhul jannatal akhirah. Di dunia ini ada surga. Siapa yang belum merasakan surga dunia, dia tidak akan masuk surga di akhirat. Apa surga dunia ini? kenikmatan rohaniah, kelezatan jiwa, ketentraman ketika melakukan ibadah kepada Allah azza wa jalla.<br \/>\n(1:00:45) Adapun kalau ibadahnya ada yang kurang apalagi banyak yang kurangnya. Kalau salat dia tidak ikhlas, kalau salat dia melamun, tidak khusyuk. Jangan berharap tenang jiwanya. Malah Allah ancam dengan azab. Fawailul lil musollin alladzina hum an shatihim sahun. Jadi orang yang sahun lalai dia enggak akan tenang jiwanya, enggak akan tentram hatinya. Hambar.<br \/>\n(1:01:26) Harus diperbaiki itu salatnya. Perbaiki salat dari lima aspek. Jaga salat dari lima aspek. Dalam lima aspek. Walladzina hum ala shawatihim yuhafidun. Orang beriman orang yang menjaga salat-salat mereka. Jaga lima aspek. Siapa yang menjaga lima aspek ini dijamin salatnya bakal diterima dan memperoleh ketentraman ketentraman jiwa. Pertama, jaga keikhlasan. Niat.<br \/>\n(1:02:06) Jangan ingin dipuji. Jangan niatkan untuk dunia. Kedua, jaga kekhusyukannya. Jangan melamun. Sebab khusyuk ruh dari salat. Ketiga, jaga mutabaahnya sesuai dengan salat sunah Nabi. Karena beliau bersabda, &#8220;Sollu kama roitumuni usoli.&#8221; Salat kalian sebagaimana kalian melihat aku salat. Jangan ditambah, dikurang, dirubah.<br \/>\n(1:02:48) Keempat, jaga kalau laki-laki ya berjamaah di masjid bersama imam. Kelimanya jaga aspek waktunya. Lakukan di awal waktu. Jangan ditunda, jangan diakhir-akhirkan. Walaupun masih ada zuhur .30 waktunya masih ada, tapi tanpa uzur enggak boleh. Itu sama dengan melalaikan salat.<br \/>\n(1:03:19) Siapa orang yang menjaga salat dari lima aspek ini akan Allah kasih reward kont dalam bentuk apa? Ketenangan jiwa, ketentraman batin, kenyamanan sakinah yang Allah janjikan. Jadi kalau kita sudah beramal saleh, beramal ibadah, tapi kenapa hambar? Kenapa dia itu tidak merasakan ketenangan? malah gelisah. Coba introspeksi diri apa yang kurang dari ibadahnya.<br \/>\n(1:03:52) Pertama, lihat niat dia melakukan ibadah itu untuk akhirat atau untuk dunia? Untuk Allah ataukah untuk pujian manusia? Lihat kekhusyukannya. Kalau ibadah itu membutuhkan kekhusyuan seperti umpamanya salat, baca Quran, zikir, doa, umrah dan haji, dan seterusnya ya. Ketiga, coba tadi perhatikan mutabaahnya. Jangan-jangan tercampur kebidahan, jangan-jangan tata cara pelaksanaan ibadah itu kurang atau ditambah-tambah atau bahkan dirubah ya.<br \/>\n(1:04:32) dijamin tidak akan dapat sakinah. Ya. Dan seterusnya introspeksi dan perbaiki dari aspek itu. Kalau semua aspek sudah terperbaiki, Allah tidak akan ingkar janjinya. Pasti akan memberikan sakinah yang dia janjikan kepada orang-orang yang melakukan ibadah secara benar. Wallahuam bissawab. Silakan lagi. Jazakallahu khairan Ustaz atas penjelasan dan nasihatnya.<br \/>\n(1:05:03) Dan untuk berikutnya kita angkat penanya melalui laine telepon. Kami persilakan. Iya, sudah masuk. Silakan. Silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Di mana Bapak? Ini Ustaz. Di kota-kota besar kan? kuburan susah, Ustaz. Ah, berarti ada yang di dikubur ee di dalam diang itu ee ada yang saya ada yang dua orang, tiga orang, empat, seorang, lima orang, Ustaz.<br \/>\n(1:05:42) Nah, kemudian bagaimana arwah mereka itu? Nah, kadang-kadang yang dikubur itu ada orang muslim, ada yang banyak dosanya. Bagaimana keadaan arwah mereka itu, Ustaz? Baik, Bapak mohon maaf. Dari mana Bapak? ee di kota besar tu lahan lahan perkuburan perkuburan kan ee ee susah ustaz dikit jadi banyak dalam satu liang itu orang yang berkubur. Iya. Baik. Nah.<br \/>\n(1:06:06) Nah. Jadi bagaimana hubungan arwah sama arwah dalam kubur itu? Ada yang ee beramal baik, ada yang tidak, Ustaz? Baik. Nah, itu yang keduanya ee cukup Bapak satu pertanyaan saja ya, Bapak I. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Tafadol ustaz, bolehkah menguburkan di satu lubang kuburan lebih dari satu mayit dua atau tiga gitu ya? Hukum asal menguburkan mayit, satu kuburan satu mayit.<br \/>\n(1:06:46) hukum asal begitu dalam kondisi normal dan memungkinkan dari segala segi harusnya satu kuburan, satu mayit. Tapi bila ada uzur yang menyebabkan atau tidak memungkinkan dikuburkan satu kuburan satu mayit, baik karena lahan yang terbatas atau lahan luas tapi SDM terbatas. Mayatnya banyak, orang yang mau menguburkan terbatas. Kalau satu-satu enggak akan mampu, lelah atau lama.<br \/>\n(1:07:25) Akhirnya satu kuburan dua tiga mayat dibolehkan. Seperti umpamanya ada bencana alam, tsunami kayak, gempa kayak gitu ya, banyak korban ribuan. Orang yang tidak mati pun mereka menderita kehilangan tempat tinggal. harus ngurus mayat yang bergelimpangan. Enggak mungkin satu mayat satu kuburan. SDM-nya kurang.<br \/>\n(1:08:00) Akhirnya satu kuburan 10 20 mayat. Dibolehkan, dibolehkan. Pernah enggak ini dilakukan di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam? Iya, pernah. yaitu ketika perang Uhud lebih dari 70 sahabat wafat gugur sebagai syuhada. Dan orang yang tidak mati dalam keadaan luka, lelah, berdarah. Akibatnya apa? Nabi sallallahu alaihi wasallam menguburkan para syuhada Uhud.<br \/>\n(1:08:32) Ada yang satu lubang dua, ada yang tiga, ada yang empat. Bagaimana kalau orang-orang yang dikuburkan tersebut ada yang saleh, ada yang banyak dosa? Maka tidak apa-apa. Selama sama-sama muslim. Dan yang paling depan, paling menghadap kiblat, orang yang paling saleh. Kalau kesalehannya sama seperti para sahabat, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh orang yang paling banyak hafalan Qurannya itu paling depan, paling menghadap kiblat.<br \/>\n(1:09:13) Baru yang setelah itu yang kedua, ketiga dan seterusnya. Ya. Jadi tidak apa-apa dalam kondisi darurat baik lahan yang kurang atau karena terlalu banyaknya jenazah sementara yang ngurusnya sedikit dibolehkan menguburkan satu kuburan lebih dari dua jenazah. Walaupun ada yang saleh, ada yang banyak dosa. Di satu kuburan kan boleh.<br \/>\n(1:09:40) Dan yang paling depan adalah yang paling saleh, yang paling banyak hafalan Al-Qur&#8217;annya. Adapun kalau satu kuburan dengan orang kafir, maka tidak boleh. Jangankan satu kuburan, lahan pekuburan, khusus orang muslim, orang kafir jangan di sana. orang kafir khusus di pekuburan orang-orang kafir dan sebaliknya orang muslim tidak boleh dikuburkan di pekuburan orang-orang kafir apalagi satu lubang bersama-sama ya wallahuam bisawab silakan yang terakhir Adiar Abu Lukman.<br \/>\n(1:10:22) Jazakallahu khairan Ustaz atas penjelasannya. Dan pertanyaan terakhir kembali kita angkat melalui pesan WhatsApp Ustaz dari hamba Allah tidak disebutkan di mana. Izin bertanya Ustaz. Putra saya kesatu bernama Abdullah Adnan Ar-Rasyid. Yang kedua Thaha Abdur Rauf. Tapi dipanggilnya Aa dan Dede. Ustaz, bagaimanakah menurut hukum syari? Mohon penjelasannya, Ustaz. Tafadol, Ustaz.<br \/>\n(1:10:49) Iya. Barakallahu fik. Nama tadi tidak termasuk nama yang terlarang. Nama Thaha, nama Adnan, nama ee Rasyid itu dibolehkan karena dari segi makna tidak mengandung unsur yang terlarang. Adnan mungkin dari aden ya, nama surga. Rasyid maknanya orang yang berilmu dan beramal. Dan itu boleh ditujukan kepada makhluk. Makanya para khalifah yang adil disebut khulafaur rasyidin. Dibolehkan.<br \/>\n(1:11:32) Ya, termasuk Abdur Rauf dibolehkan. Walaupun rauf dibolehkan karena rauf itu betul nama Allah tapi oleh Allah juga ditujukan kepada makhluk, kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. seperti qad jaakum rasulum minkum ee rasulum min anfusikum harisun alaikum terus harisun azizun alaihima anitum harisun alaikum bil mukminina rfurah rahim telah datang kepada kalian seorang rasul dari bangsa kalian rasul ini azizun alaihi maitum Aziz.<br \/>\n(1:12:22) Makna aziz di sini berat sekali penderitaan bagi dia melihat kalian menderita. Bebannya berat melihat penderitaan kalian. Umatnya menderita, nabi lebih menderita lagi. Itu makna aziz. Harisun alaikum. Bersungguh-sungguh untuk memberikan kebaikan kepada kalian. Bil mukminina rauf rahim. Dan kepada orang mukmin, Rasul ini rauf dan rahim.<br \/>\n(1:12:53) Ini menunjukkan boleh ditujukan kepada makhluk. Memberi nama rauf kepada orang boleh, rahim boleh. Kalau rahman yang tidak boleh. Ya, aziz boleh. Jadi tidak ada pelanggaran syari. Lalu panggilannya Aa sama Dedek ya enggak masalah. A mungkin kakaknya, Dedek mungkin adiknya. Karena nama Aa dan Dede mubah atau panggilan Aa dan Dede tidak terlarang.<br \/>\n(1:13:27) Selama tidak mengandung unsur terlarang, boleh saja dibolehkan ya. Apalagi ada maksud aa kakaknya, Dede adalah adiknya. Dibolehkan. Ya, demikian. Wallahuam bisab. Cukup sampai di sini. Insyaallah kita teruskan. kajian ini di Jumat yang akan datang. Subhanakallah wabihamdik ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik walhamdulillahi rabbil alamin.<br \/>\n(1:13:54) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan jazakallahu khairan kepada al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah membimbing sesi tanya jawab dan juga kajian kita di sore hari ini langsung dari Kota Bandung, Jawa Barat. Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda, sahabat Roja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(1:14:21) Semoga ilmu yang kita pelajari di kesempatan sore hari ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga Allah pertemukan kita kembali di lain kesempatan. khususnya bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala di setiap hari Jumat sore pukul 16.00 waktu Indonesia bagian barat sampai selesai. Kami dari studio undur diri.<br \/>\n(1:14:46) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawalah. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3667","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#039;ala Kitabit Tauhid - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#039;ala Kitabit Tauhid - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawalah. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:40:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:40:09+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"27 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/\",\"name\":\"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid 'ala Kitabit Tauhid - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:40:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:40:09+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid 'ala Kitabit Tauhid - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid 'ala Kitabit Tauhid - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawalah. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:40:08+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:40:09+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"27 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/","name":"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid 'ala Kitabit Tauhid - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:40:08+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:40:09+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustaz-abu-haidar-as-sundawy-al-qaulul-farid-fawaid-ala-kitabit-tauhid-3\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid &#8216;ala Kitabit Tauhid"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3667"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3667"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3667\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3668,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3667\/revisions\/3668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}