{"id":3699,"date":"2025-11-27T20:46:07","date_gmt":"2025-11-27T13:46:07","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3699"},"modified":"2025-11-27T20:46:10","modified_gmt":"2025-11-27T13:46:10","slug":"ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/wZSn4755umE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan kelar kaca Anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radio Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat.<br \/>\n(00:38) Roja TV Anda para pemirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdalillah. Ah fala mudillalah wudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br \/>\n(01:39) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha wauluan sadida yuslih lakum aalakumagfirakumunubakum willahaulahuq Qanima amma ba&#8217;du fain asqitabullah wakiral hadi hadyu Muhammadin shallallahu alaihi waa alihi wasallamarul umuri muhdatuha fainna kulla muhdatin bidah wa kulla bidatin dolalah wa dolatin finar.<br \/>\n(02:28) Ikhwah sekalian yang Allah muliakan, pada kesempatan ini kita lanjutkan pembahasan dari kitab Albayan Min Qasosi Al-Qur&#8217;an. Dan kita berharap dan meminta pada Allah Subhanahu wa taala agar Allah subhanahu wa taala memberikan ilmu yang manfaat kepada kita, memberikan pahalanya dan mengangkat derajat kita semua. Amin. Ikhwah yang Allah muliakan, pada kesempatan ini kita akan bahas lanjutan dari fawaid dari kisah Nabi Sulaiman Alaihissalam.<br \/>\n(03:11) Dan pada kali ini kita bahas faedah yang kedua, alfaidatu ananiyah. Antum bisa lihat di halaman 570. Faedah yang kedua, la ya&#8217;lamul ghaiba illallah. La yalamul ghaiba illallah. Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali Allah. Ini wajib kita yakini. Ini merupakan akidah. Sekali lagi bahwa hal yang gaib itu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah semata. Hanya Allah.<br \/>\n(03:48) Manusia tidak tahu, jin tidak tahu, para nabi pun tidak tahu, malaikat yang dekat dengan Allah pun tidak tahu hal yang gaib. Jadi yang tahu hanya Allah semata, apalagi dukun. Oleh karena itu enggak boleh kita mendatangi apa? Dukun. Dukun ini enggak tahu hal yang gaib. Kita sudah bahas beberapa dalil ya dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala dan kita lanjutkan ya sudah sampai 571.<br \/>\n(04:33) Failmul ghaibi lam yat alaihi alaihi malakun muqarbun wala nabiyun mursalun. Ilmu ghaib tidak ada yang tahu. Baik itu malaikat yang dekat wala nabiun mursal. Begitu juga nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, enggak boleh kita mengatakan bahwa malaikat tahu hal yang gaib atau para nabi tahu hal yang gaib ya atau Nabi Muhammad tahu hal yang gaib.<br \/>\n(05:11) Ini enggak benar. Allah Subhanahu wa taala berfirman di surah Albaqarah ya ayat ke-31-32. Waama adamal asmaa kullaha. Allah mengajarkan kepada Adam semua nama. Siapa yang mengajarkan kepada Adam? Allah. Tumma aradahum alal malaikati. Kemudian memperlihatkan kepada para malaikat. Faqal dan Allah berfirman, &#8220;Ambiuni biasmai haulai inuntum shodikin.<br \/>\n(05:49) &#8221; Kabarkan padaku tentang nama-nama itu jika jika kalian benar. Apa jawaban para malaikat? Qolu subhanaka la ilma lana illa ma alamtana. Mereka menjawab, &#8220;Maha suci Engkau, ya Allah. Kami enggak memiliki ilmu kecuali apa yang Kau ajarkan kepada kami. Innaka antal alimul hakim. Sesungguhnya Engkau adalah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana.&#8221; Di sini malaikat enggak tahu hal yang gaib.<br \/>\n(06:27) Kalau hal kalau tahu hal yang gaib, niscaya malaikat akan menjawab pertanyaan Allah Subhanahu wa taala. Ayat ini menegaskan sekali lagi bahwa malaikat tidak tahu hal yang gaib. Wahadza Jibril. Dan ini Jibril ketika bertanya kepada Rasul kita sallallahu alaihi wasallam tentang kapan hari kiamat terjadi. Nabi sallallahu alaihi wasallam menjawab, &#8220;Mal masulu anha bi&#8217;lama minasil.<br \/>\n(07:05) &#8221; Yang ditanya tidak lebih tahu dari si penanya. Yang ditanya nabi kita sallallahu alaihi wasallam. Yang bertanya malaikat Jibril. Di sini dinafikan oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Rasul sallallahu alaihi wasallam tidak tahu hal yang gaib. Mata saah? Kapan hari kiamat? Enggak tahu. Malaikat Jibril, malaikat pilihan Allah Subhanahu wa taala yang dekat dengan Allah, yang membawa wahyu, memberikan wahyu kepada para nabi juga enggak tahu.<br \/>\n(07:39) Sangat jelas Rasul mengatakan, &#8220;Mal masulu anha biama minasil.&#8221; Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. ini menegaskan bahwa para malaikat tidak tahu hal yang gaib dan nabi tidak tahu hal yang gaib. Wakalikar rasul, para rasul juga alaihiatu wasalam la ylamunal ghaib. Tidak tahu hal yang gaib.<br \/>\n(08:09) illa ma alamahumullahu bihi thqil wahy melainkan yang Allah kasih tahu kepada mereka lewat wahyu Allah taala berfirman di surat aljin ayat 26 sampai 27 alimul ghaib Allah itu yang mengetahui hal yang gaib fala yudhiru ala ghaibihi ahada tidak Allah tampakkan kegaibannya nya kepada siapapun. Illa manirad mir rasul. Kecuali orang yang Allah ridai dari kalangan rasul.<br \/>\n(08:49) Fa innahu yasluku min baini yadaihi wamin khalfihi rosoda. Sesungguhnya dia yakni memberikan ya menempatkan penjaga-penjaga yni para malaikat min baini yadaihi wamin khalfihi. Ya. Dari depan dan dari mana? Belakangnya. Jadi Allah menegaskan di sini bahwa tidak ada yang tahu hal yang gaib itu. Allah tidak menampakkan kepada siapapun kecuali kalau Allah mau kepada rasul itu yang Allah ridai.<br \/>\n(09:34) Fahad Nuh alaihissalam akhbaro qumahu annahu la y&#8217;lamul ghaib. Lihat Nabi Nuh dia habarkan pada kaumnya bahwa beliau tidak tahu hal yang gaib. Kita lihat dalilnya. Surat Hud ayat 31. Allah Taala berfirman tentang Nabi Nuh Alaih Salam. Wala akul lakum indinullah. Aku tidak berkata kepada kalian aku memiliki perbendaharaan perbendaharaan Allah. Wala aamul ghaib. Dan aku tidak mengetahui hal yang gaib.<br \/>\n(10:05) Wala akulu inni malak. Dan aku tidak berkata bahwa aku adalah seorang malaikat. Nah di sini jelas tegas. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Nuh Alaih Salam, &#8220;Aku tidak tahu hal yang gaib.&#8221; Nabi Ibrahim ketika didatangi oleh para malaikat dalam bentuk manusia lam ya&#8217;rif annahum malaikah. Nabi Ibrahim tidak tahu kalau mereka itu malaikat.<br \/>\n(10:32) Dari sini menegaskan juga bahwa para nabi tidak tahu hal yang gaib. Dalilnya surat azzariyat ayat ke-26 sampai 28. Allah Taala berfirman ketika para malaikat datang bertamu kepada Nabi Ibrahim. Allah berfirman, farag ahlihi samin farag ahli. Nabi Ibrahim pergi secara diam-diam ahli ke keluarganya. Fajain samin.<br \/>\n(11:15) Kemudian dia membawa daging anak sapi yang gemuk yang sudah dibakar. Ya, ini saking karamnya Nabi Ibrahim Alaih Salam. Nabi Ibrahim itu terkenal dermawan. Tamu datang dikasih daging sapi muda bakar. Faqarbahu ilaihim. Kemudian didekatkan oleh Nabi Ibrahim kepada mereka. Ini tamu yang sangat dermawan. Jadi yang namanya suguhan itu jangan sampai tamu yang dekat ke suguhan.<br \/>\n(11:48) Ini berarti si tuan rumah enggak ngerti, enggak ngerti adab. Kan biasanya tamu malu kan. Masa yang dekatin makanan. Lihat Nabi Ibrahim dekatkan makanan ke mereka. Ini adab kalau di datangi oleh tamu kita yang dekatkan makanan. Faqarbahu ilaihim. Kemudian kalimatnya, &#8220;Ala takulun.&#8221; Tidakkah kalian mau makan? Tidakkah kalian makan? Lihat kalimatnya juga indah. Enggak.<br \/>\n(12:20) Ayo makan. Makan. Makan. Enggak. Ala takulun. Ajakan yang halus. Al takulun. Kemudian ternyata mereka enggak mau makan. Allah firmankan di surat azzari ayat 28. Faujasa fi faujas minhum khifa. Maka Nabi Ibrahim menyimpan rasa takut karena mereka. Ini tamu aneh. Disuguhi makanan enggak makan. Qolu la takhaf.<br \/>\n(12:55) Mereka bilang jangan takut. Wabasyaruhu bighulamin alim. Dan mereka mengasih kabar gembira kepada Nabi Ibrahim akan mendapatkan anak yang alim. Anak yang alim itu siapa maksudnya? Nabi Ishak. Ya, ada ghulam alim, ada ghulam halim. Ya, lihat kita kembali ke kisah Nabi Sulaiman ya. Wahada Sulaiman alaihissalam la ya&#8217;lamul ghaib.<br \/>\n(13:31) Nabi Sulaiman pun tidak tahu hal yang gaib. Ini penegasan bahwa para nabi itu enggak tahu hal yang gaib. Fahua lam yadri bilqis waumiha waahumu yasjuduna lisyamsi min dunillahi hatta aamahul hudhud bidalik. Nabi Sulaiman tidak tahu tentang Bilqis, tentang kaumnya. Mereka menyembah matahari sampai hud-hud yang menghabarkan kepada Nabi Sulaiman alaihissalam.<br \/>\n(13:57) Wahu alaihissalam lam yakun yadri hatta ainahabal hudhuduama tafaqat thir. Bahkan beliau alaihi salam tidak tahu ke mana perginya hud-hud. Ketika memeriksa pasukan pasukan burung dilihat enggak ada hud-hud. Ya, dipik ketika pasukan berbaris diperiksa oleh Nabi Sulaiman ternyata hudhud enggak ada. Tahu enggak Nabi Sulaiman hud-hud ke mana? tidak tahu.<br \/>\n(14:27) Ini menegaskan juga bahwa Nabi Sulaiman walaupun nabi dan raja yang besar tidak tahu hal yang gaib. Walaupun nundukkan jin dengan izin Allah tidak tahu hal yang gaib. Berarti kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Allahlah hanya Allahlah yang tahu tentang hal yang gaib. Wahaza rasuluna shallallahu alaihi wasallam amarahullahu azza waalla an yukhbiranas annahu la y&#8217;lamul ghaib.<br \/>\n(14:58) Dan ini Rasul sallallahu alaihi wasallam Allah perintahkan kepada beliau untuk mengasih tahu, ngasih khabar, kasih informasi kepada manusia bahwa beliau enggak tahu hal yang gaib juga. Dalilnya surah Al-An&#8217;am ayat 50, Allah bilang qul. Kalimat qul artinya apa? Perintah katakanlah laul lakum ininullahu wamul ghaib.<br \/>\n(15:25) Aku tidak memiliki aku tidak aku tidak berkata kepada kalian aku memiliki perbendaharaan-perbendaharaan Allah dan aku tidak mengetahui hal yang gaib. Wakum inni malak. Aku tidak berkata aku adalah eh malaikat. In attabiu illa ma yuha ilai. Aku hanya mengikuti wahyu yang diwahyukan kepadaku.<br \/>\n(15:52) Di surah Ala&#8217;raf ayat 188 Allah berfirman, &#8220;Qul, katakanlah wahai Muhammad.&#8221; Jadi ini perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Qulla amliku linafsin naf&#8217;an wro illa masyaallah. Katakanlah, &#8220;Aku tidak mengetahui atau aku tidak memiliki bagi diriku kemanfaatan atau kemudaratan. illa masyaallah kecuali yang Allah kehendaki.<br \/>\n(16:21) Walau kuntu alamul gaibak minalir wani seandainya aku mengetahui hal yang gaib niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak pernah terkena tersentuh dengan yang namanya keburukan. Ini pengakuan atau perintah Allah kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk mengumumkan kepada manusia bahwa beliau sallallahu alaihi wasallam tidak tahu hal yang gaib.<br \/>\n(16:46) Allah kasih tahu kepada Nabi Muhammad untuk mengumumkan demikian. Eh, ada orang bilang Nabi Muhammad tahu hal yang gaib. Ya, ini sebuah kekeliruan akidah yang menyimpang. Ya, in ana illa nadzirun wa basyir liquumi yukminun. Aku hanyalah pemberi peringatan dan kabar gembira untuk kaum yang beriman. Lihat malaikat enggak tahu yang gaib. Jin tidak tahu hal yang gaib.<br \/>\n(17:16) Sekarang masuk ke eh tadi malaikat enggak tahu hal yang gaib. Para rasul enggak tahu hal yang gaib. Sekarang masuk ke jin. Ini jin banyak diperbincangkan oleh kita. Ya. Dan banyak orang takut sama jin. Dan banyak orang yang bangga punya jin, punya khadam. Nah, kita bahas di sini supaya tahu ilmunya. Jin tidak tahu hal yang gaib.<br \/>\n(17:41) Ini perlu ditegaskan ya sekali lagi bahwa jin, para jin itu tidak tahu hal yang gaib. Allah Taala berfirman di surah Saba ayat 14. Falamma ketika Nabi Sulaiman khar itu jatuh jatuh tersungkur tabayyanatil jin. Maka jin baru sadar baru jelas bagi jin. Allau kanu y&#8217;lamunal ghaib. Seandainya mereka tahu hal yang gaib ma labitu filabil muhim.<br \/>\n(18:19) Mereka tidak tetap berada dalam siksaan yang menghinakan. Antum bisa bayangkan Nabi Sulaiman berdiri dengan tongkatnya. Kemudian tongkat itu dimakan rayap sampai jatuh tongkat itu putus. Itu waktu yang tidak pendek. Sehari atau 2 hari? Hah? Bukan sehari bukan 2 hari juga. Bukan sepekan bukan. Bukan sebulan juga. Lama Nabi Sulaiman berdiri.<br \/>\n(19:01) Dan dari sini kita mengetahui bahwa jasadnya para nabi itu utuh ketika meninggal. Nanti di faedah yang ketiga ya. Sampai itu yang namanya tongkat putus dan Nabi Sulaiman baru jatuh. Dan di situlah jin sadar bahwa Nabi Sulaiman sudah meninggal. Maka disebutkan di sini, falamma kharra. Ketika Nabi Sulaiman jatuh tersungkur, baru jin-jin itu sadar bahwa kalau mereka tahu hal yang gaib, ah lihat. Kalau mereka tahu hal yang gaib, berarti mereka tahu tidak hal yang gaib? Tidak tahu.<br \/>\n(19:42) Ya, niscaya mereka tidak berada dalam siksaan yang menghinakan. Waqadil jin annahum la ylamunal ghaib. Dan jin pun telah berterus terang. Soroha itu telah mengatakan dengan terus terang bahwa mereka tidak tahu hal yang gaib. Walika fi quihim. Yang demikian itu ada dalam ucapan mereka sendiri. Allah abadikan di surah Aljin.<br \/>\n(20:19) Ada namanya surah Aljin, surah Jin khusus ya, ayat yang ke-10. Nah, ada sebagian orang, Ikhwan, kalau antum mau ngelihat jin baca surat ini semalaman ya. Benar enggak ini? Hah? Ini enggak benar juga ya. Tayib. Ini enggak bohong enggak enggak bohong. Enggak benar bohongan ya. Terus juga kalau ketemu jin mau ngapain? Ya tidak. Allah berfirman ayat berapa tadi? Ayat 10.<br \/>\n(20:53) Wa anna la nadri. Lihat kata jin. Sesungguhnya kami atau kita semua tidak tahu. La nadri. Kita tidak tahu. Kami tidak tahu. Asyarun urida biman fil ard. Apakah keburukan yang diinginkan terhadap siapa yang ada di bumi? Am ar bihim rbuhum rasyada atau rab mereka. Ini Allah menginginkan kebaikan untuk mereka ketika Nabi Muhammad diutus dan mereka tahu ada bola-bola api yang menyerang mereka.<br \/>\n(21:29) Ya. Ah, itu mereka bilang begini, &#8220;La nadri kami enggak tahu.&#8221; Berarti jin tidak tidak tahu. Jelas banyak sekali dalilnya bahwa jin enggak tahu. Tapi subhanallah ada orang mau menjadikan jin sebagai khadam dan bangga lagi. Ya, sudah jelas menyimpangnya. Kalau begini, Ikhwan. Fa alimna jamian watabayana annahu la yamul ghaib illallah.<br \/>\n(21:59) Kalau kita semua tahu bahwasanya tidak ada yang mengetahui kegaiban kecuali Allah. Falimza yadhabul ba&#8217;du minna ilal kahanati wal arofin. Maka kenapa ada sebagian kita mau pergi ke tukang dukun eh ke para dukun itu? tukang ramal itu ya aneh kan kata beliau aneh limaz nusoddiquuhum kenapa kita membenarkan ucapan mereka fi kadibihim w dajalihim minallahi burhanun mubin kenapa kita harus membenarkan mereka tentang kedustaan mereka dan kebohongan mereka dari Allah sudah sangat jelas Amma shallallahu alaihi wasallam. Tidakkah sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam<br \/>\n(23:01) bisa mencegah kita dari mendatangi mereka? Bukankah Nabi sudah bersabda, &#8220;Man atafan fasaalahuaiin lam tuqbalahu shatu arbaina lailah.&#8221; Ini hadis sahih, Ikhwan riwayat Muslim. Kata Rasul, &#8220;Barang siapa yang mendatangi peramal, dukun, peramal kemudian sekedar bertanya tentang sesuatu, lam tuqbalahu shatu arbaina lailah.<br \/>\n(23:35) &#8221; Salatnya tidak diterima selama 40 hari atau 40 malam. Wal hadis sahih. Kalau misalkan kalau gitu enggak kita enggak salat juga dong. Enggak. Bukan begitu. tetap salat ya tobat. Kalau ada yang datang ke dukun nanya. Kemudian dia berkata, &#8220;Ana enggak salat karena ada hadis ini.&#8221; Tidak juga. Enggak boleh antum enggak salat ya. Antum tobat, antum salat.<br \/>\n(24:07) Tapi memang memang ancamannya begini. Cuma nanya doang ya. Ini saking bahayanya kan. Berikutnya Rasul sallallahu alaihi wasallam eh tumma inna mimma anzala ala Muhammadin. Kemudian di antara yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Allah berfirman oh sebelumnya ya ada yang keloncat satu paragraf.<br \/>\n(24:33) Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Man ata arfan a kahinan fasodqohu bima yaakul.&#8221; Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun kemudian membenarkan ucapannya. Kalau yang pertama tadi hanya bertanya ya. Orang yang hanya bertanya ke dukun salatnya tidak diterima 40 hari. Dan ingat akhi dukun sekarang berubah bajunya ya. Dukun sebagiannya.<br \/>\n(25:04) dukun sebagiannya berubah. Masih ada yang mempertahankan ininya apa namanya? Ee modelnya masih ada ya acak-acakan kemudian macam-macam. Kadang pakai cincin lima-limanya pakai sini pakai ya begini ya. Tidak. Hm. jarang mandi karena nanti enggak manjur kalau mandi ya, apalagi wudu.<br \/>\n(25:39) Terus ee sekarang berubah sekarang sebagian dukun itu pakai peci ya kemudian bersih ya tapi kerjaannya dukun ngeramal orang ya banyak tuh seperti itu. itu hati-hati itu ciri-cirinya ya seperti itu. Datang antum, antum di Oh, antum nih bapaknya si fulan ya, emaknya si fulan ya. Di rumah antum ada begini-begini nih. Ini pasti dukun nih.<br \/>\n(26:10) Ya kalau orang yang normal enggak begitu, akhi. Lanjut. Allah bila Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, man atafan a kahinan. Siapa yang mendatangi peramal atau dukun fasodqohu bima yaakul kemudian membenarkan ucapannya. Ini membenarkan membenarkan si dukun ucapan dukun. Kalau tadi tanya doang. Faqad kafaro bima unzila ala Muhammadin sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(26:48) Maka dia telah kufur kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan di antara apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah firman Allah Taala surah Jin ayat 26 tadi. Alimul ghaib fala yudhiru ala gaibihi ahada. Yang tahu tentang ghaib itu hanya Allah. Dan Allah tidak menampakkan kepada siapapun hal yang gaibnya. Tidak ada.<br \/>\n(27:16) Jadi kalau ada orang meyakini dukun tahu hal yang gaib ini menyimpang. Kalau ada orang yang datang ke dukun dan bertanya kepada dukun dan membenarkan ucapan dukun telah mengkufuri ayat-ayat ini dan telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa ala alihi wasallam. Faidana kahin arda ilmal gaib.<br \/>\n(27:45) Kalau dukun atau peramal dia mengklaim punya pengetahuan ilmu ghaibusdiquatii minfha. Kemudian orang-orang yang bodoh membenarkannya ketika dia datang ke dukun itu. Fafi takdibun lori Quran. Maka yang demikian itu dalam hal ini ada takzib pendustaan kepada Al-Qur&#8217;an. Ayat yang sangat tegas, jelas.<br \/>\n(28:19) biayatillahi subhanahu wa taala dan kafir terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wa taala waabqo majalun lisubahi wadolalat nah supaya tidak ada tempat bagi syubhat-syubhat tidak ada tempat bagi kesesatan-kesesatan falnatawaqofu falnatawaqof qolilan maa quiihi taala Maka kita berhenti sejenak. Kita tadaburi firman Allah Taala surah Albaqarah ayat ke-101 sampai 103.<br \/>\n(28:56) Kita tadaburi ayat ini, Ikhwan. Nanti penulis membawakan tafsir Syekh Sa&#8217;di. Sampai panjang ana lihat ini ya. Sampai tiga halaman beliau menurunkan perkataan Syekh Nasir Sa&#8217;di. Mudah-mudahan selesai kita baca. Kita tadaburi dulu ayat ini pelan-pelan. Di surah Albaqarah ayat 101, Allah Taala berfirman, &#8220;Walamma jaahum rasulum minillah.<br \/>\n(29:25) &#8221; Ketika datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah, musoddiqu lima maahum. Membenarkan apa yang ada pada mereka. Nabum minalladina utul kitabi kitaballahi waruhurihim. Maka ada kelompok dari ahlul kitab ya yang diberi kitab Taurat. Nabadza. Nabaz itu artinya melemparkan melemparkan kitab Allah warahurihim di belakang punggung mereka.<br \/>\n(30:05) Kaahum la yalamun. Seakan-akan mereka tidak mengetahui, tidak punya ilmu. Watabin al mulki Sulaiman. Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan sayatin ya di kerajaan Sulaiman pada masa kerajaan Sulaiman. W kafar sulaimanu wakinayatina kafaru. Ini Allah menegaskan Sulaiman tidak kafir. Akan tetapi setan-setan itu yang kafir.<br \/>\n(30:46) Yallimunan siihro. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia. W unzila alal malakaini bibil Harut wa Marut. Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia. yang bernama Harut dan Marut. W yallimani min ahadin hatta yaakula innama nahnu fitnatun fala takfur. Dan keduanya tidak mengajarkan siapapun sehingga berkata sesungguhnya kami hanya sebagai ujian. Fala takfur.<br \/>\n(31:25) Jangan kamu kufur, jangan kamu kafir. Fataallamuna minhuma. Maka mereka pun mempelajari sihir dari keduanya. Mauqu bihi bainal mari wauji. Yang bisa mencerai-beraikan yang bisa menceraikan antara suami dengan istrinya, antara pasangan. W hum bidorina bihi min ahadin illa biidnillah. Dan Allah nyatakan mereka sama sekali tidak bisa mencelakakan, memudaratkan kecuali dengan izin Allah.<br \/>\n(32:04) Mereka mempelajari sesuatu yang memudratkan mereka dan tidak memberikan manfaat kepada mereka. Walaqad alimu. Dan sungguh mereka sudah tahu lamanarahu maahu fil akhirati min khalaq. Siapa yang membelinya, maksudnya siapa yang menggunakan sihir itu maahu fil akhirati min khalaq, tidak akan mendapatkan bagian keuntungan di akhirat.<br \/>\n(32:36) Wabisaro bihi anfusahum. Maka alangkah buruknya dan alangkah buruknya apa yang mereka beli untuk diri mereka. Lau kanu ya&#8217;lamun. Kalau mereka tahu, jadi Allah tegaskan tuh permainan yang mereka lakukan dari sihir, perbuatan sihir itu, itu sangat buruk buat mereka. Jadi sihir itu, Ikhwan, enggak ada baiknya sama sekali.<br \/>\n(33:07) Ya Allah ketika berbicara tentang sebagian maksiat, minum khamar saja. Ini kata Syekh S&#8217;di ada bagusnya tapi dosanya lebih besar, ada baiknya maksudnya. Tapi tentang sihir sama sekali enggak ada bagusnya. Tentang sihir murni syarnya keburukan itu mahad murni buruk. Walau annahum amanu wattaq. Dan seandainya mereka beriman dan bertakwa lubatum minillahi khair maka mereka mendapatkan pahala dari sisi Allah itu lebih baik. Lau kanu ya&#8217;lamun. Kalau mereka mengetahui.<br \/>\n(33:46) Nah, ini kita akan baca tafsir Syekh Sa&#8217;di, Ikhwan, ya. 1 2 3 tiga halaman. Syekh Nasir As Sa&#8217;di rahimahullah dalam kitab Taisiril Kalimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Manan ini beliau ee nukil dari halaman 60 sampai 61. Beliau nukil ditaruh di sini ya. Beliau berkata, &#8220;Syekh Abdurrahman Ass&#8217;di siapa gurunya?&#8221; Syekh Sa&#8217;di itu e gurunya siapa? Hah? Syekh Utsimin rahimahullah.<br \/>\n(34:29) Ana dapat cerita, Ikhwan, dulu di masa beliau itu masjidnya itu ya sangat sederhana. Masjid beliau itu sangat sederhana, masih lempung tahu lempung tanah liat masih sederhana. kemudian belajar di situ dan keluar dari masjid itu ulama ulama di antaranya Utsimin dan murid-muridnya yang lain yang makruf. Subhanallah. Ini menunjukkan bahwa yang namanya keberkahan itu tidak tidak dilihat dari tempat ya.<br \/>\n(35:02) Kalau bagus sekolahkan anak di tempat yang apa? Mewah, megah. Enggak, akhi. Tempat seadanya belajar berkah. Ya, justru kita salah kalau misalkan kita sudah mulai membangga-banggakan kemewahan, sudah senang dengan oh megah-megah nih, bagus nih. Gitu. Antum ingat peristiwa ee Islam di Andalusia ya ketika kaum muslimin itu lupa dengan atau ya lupa sama Islamnya mundur cuma membangga-banggakan bangunan mereka hancur.<br \/>\n(35:38) Itu orangnya seperti itu. Di antara sebabnya seperti itu. Ya, saya Saadi masyaallah dari tempat yang sangat mutawadi, sederhana muncul dari situ para ulama ya. Makanya belajar itu intinya serius bukan dilihat dari apanya tempatnya. Syekh Nasir eh Abdurrahman bin Sa&#8217;di berkata, &#8220;Walamma jaahum rasulul karim bil kitabilim bilhaqil muwafiq lima maahum.<br \/>\n(36:12) &#8221; Ketika datang kepada mereka, Rasul yang mulia ini membawa kitab yang agung dengan membawa kebenaran yang sesuai dengan apa yang ada pada mereka. Wu yazumunaahum mutamasikuna bikitabihim. Mereka mengklaim bahwa mereka berpegang teguh dengan kitab mereka. Falama kafaru biar rasul wabia fik minina utul kitaba kitaballah. Jadi ketika mereka kafir terhadap rasul yang datang ini dan kafir kepada apa yang dibawa oleh Rasul ini, mereka melemparkan kitab mereka, kitab Taurat yang Allah turunkan pada mereka di belakang punggung mereka yang diturunkan kepada mereka.<br \/>\n(36:53) Thohuhu rbatan anhu. Mereka lempar karena enggak suka. Ya, kitab Taurat dilempar sama mereka. Ya waruhurim Allah bilang di belakang punggung mereka w abl filad ini sangat kuat Allah dalam mengisahkan tentang apa? Tentang berpalingnya mereka dalam agama atau dari agama. Kaahum fi fli minal jahilin.<br \/>\n(37:22) Seakan-akan mereka melakukan ini menjadi orang-orang yang jahil yang enggak tahu sama sekali. Tidak tahu. Kata Syekh Sa&#8217;di, wahum yalamuna sidqohu waqiyata ma jaa bihi. Padahal mereka tahu tentang kebenaran dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan ee kejujuran beliau dan kebenaran beliau. Maksudnya sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(37:51) Tabayana bialq min ahlil kitab lam fiidim. Nah, saya baca supaya maknanya sempurna, Ikhwan. Ya, jelas dengan hal ini bahwa kelompok dari ahlul kitab ini tidak memiliki apa-apa dalam tangan mereka karena mereka melemparkan apa? Taurat. Enggak suka sama Taurat mereka. Karena yang datang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada mereka tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, tidak sesuai dengan keinginan mereka.<br \/>\n(38:23) Kemudian dikatakan di sini, &#8220;Haitsu lam yukminu biar rasul fas kufron bikitabihim min haitu la yasurun.&#8221; Di mana mereka tidak beriman kepada rasul ini, maka kekufuran mereka menjadi kufur juga terhadap kitab mereka sendiri. Ya, bihaitu min haitsu la yasyurun. di mana mereka eh dari sisi mereka tidak tidak sadar itu tidak sadar akan hal itu.<br \/>\n(38:56) Di dalam kitab mereka disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad. Ketika Nabi Muhammad datang membawa kebenaran, mereka tidak mengimani Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Berarti mereka tidak mengimani juga terhadap kitab mereka. Walammaana minal awaidil qadar wal hikmatil ilahiyah anar yanfa. Ini penting sekali nih.<br \/>\n(39:19) Kadang ikhwan kalau kita baca tafsir dengan betul-betul ingin mentadaburinya banyak sekali pelajaran, banyak sekali fawaid dari ulama yang ditulis dengan tangan-tangan mereka di kitab tafsir itu. Fawaid banyak sekali. Cuma sayangnya banyak di antara kita yang belum bisa bahasa Arab. Kalau masyaallah tahu, masyaallah indah baca itu.<br \/>\n(39:38) Makanya para ulama ketika baca kitab itu masyaallah senang mereka. Ana kemarin ngobrol sama ee Syekh Akram, Syekh Albani rahimahullah. Di akhir-akhir hayat beliau masih membaca 15 jam per hari. 15 jam per hari. Bayangkan baca kitab itu Syekh ee Albani rahimahullah. Nah, kita kembali di sini. Kata beliau, di antara ketetapan takdir al-awaid al-qadariyah artinya ketetapan-ketetapan apa? Takdir. Wal hikmatil ilahiyah.<br \/>\n(40:19) Dan hikmah ilahiyah bahwa orang yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya amahul intifa bihi yang memungkinkan dia bisa mengambil manfaat darinya. Falam yantafi tapi dia tidak mau mengambil manfaat. bil is bruuh maka dia akan diuji dia akan melakukan sesuatu yang memudaratkan baginya jadi kebalikannya ibadat rahmanya biibadatilan contoh nomor satu orang yang tidak beribadah kepada Allah arrahman dia akan menyembah siapa al-autsan menyembah berhala lihat tidaklah orang meninggalkan sesuatu yang manfaat melainkan dia akan melakukan sesuatu yang tidak manfaat.<br \/>\n(41:13) Waman taroka mahabbatallah wa khaufahu warojaahu bimahabbati ghairillahi wa khaufihi warjaihi. Orang yang tidak memenuhi hatinya dengan cinta Allah, dengan rasa takut kepada Allah, dengan raja, maka dia akan diuji dengan mencintai selain Allah, takut kepada selain Allah, mengharap kepada selain Allah. Inilah rahasianya kenapa orang itu sempit hatinya.<br \/>\n(41:46) Karena apa? di diisi bukan dengan mahabbah kepada Allah, harapan kepada Allah, takut pada Allah. Kalau hati seseorang atau hamba penuh dengan cinta Allah, dengan ee mahabbah, dengan khauf dan raja, maka dia akan menjadi orang yang paling bahagia di atas muka bumi ini.<br \/>\n(42:14) Paling bahagia hatinya penuh dengan ketenangan, kenyamanan, dengan iman. Ya. Tapi kalau tidak diisi dengan itu, dia apa? Cinta kepada orang. Kalau sudah mencintai orang lebih daripada cinta Allah, wah sudah itu sudah bahaya buat hatinya. Ya, kalau sudah mengharap kepada selain Allah, penuh dengan harapan kepada selain Allah, wah sudah payah ya.<br \/>\n(42:46) Orang kalau berharap kepada orang lain kecewa tidak, Ikh? kecewa kalau orang itu berpaling sakit hati. Tapi kalau berharap pada Allah kecewa tidak? Tidak kecewa. Dan kalau hati dipenuhi rasa takut kepada Allah, Allah jadikan manusia takut pada dia. Ini kata ulama. Waman lam yunfiq maalahu fiatillah. Ini contoh yang ketiga.<br \/>\n(43:16) Orang yang tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, anfaqahu fiatian. Orang yang tidak membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, dia akan belanjakan kepada ketaatan kepada setan. Orang yang enggak berjuang dengan hartanya untuk di jalan Allah, dia buat macam-macam. Ya.<br \/>\n(43:42) Kemudian yang keempat, waman tarokadul rabbihi ubtuliya bidzullil abid. Orang yang meninggalkan penghambaan, orang yang tidak menghambakan diri, menghinakan diri kepada Allah dengan ibadah, sujud, rukuk, dia akan menghinakan diri kepada selain Allah, kepada makhluk abid, kepada hamba Allah. Waman tarokal haq ubtuli bil batil. Orang yang tidak mengambil al-Haq, maka dia akan mengambil apa? Kebilan.<br \/>\n(44:09) Demikian juga mereka kata Syekh kalalika haulail yahud. Mereka orang-orang Yahudi lam nab kitaballah ketika mereka membuang kitab Allah di belakang punggung mereka itabatin. Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh para para setan. Nah itu ya watakali minihri ala mulki Sulaiman.<br \/>\n(44:44) Kemudian membuat-buat sihir dari apa yang dibaca di masa kerajaan Sulaiman. Haitsitu akhrojaton linas asihir. Di mana setan itu mengeluarkan itu mengeluarkan untuk manusia sihir itu. Ya, itu yang membuat sihir-sihir keluar itu setan. Orang supaya belajar. Makanya tidak mungkin bertemu orang yang belajar Quran, sunah dengan orang yang belajar sihir. Sebagaimana hati ini kalau dipenuhi dengan Quran, musik enggak akan masuk.<br \/>\n(45:17) Tapi kalau hati kosong dari Quran, musik masuk, nyanyian masuk, macam-macam masuk. Nah, dan ini pelajaran ya. Wamu anna Sulaiman alaihalam yastiluhu wabihi has lahul mulkulim. Mereka mengklaim Sulaiman itu menggunakan sihir sehingga dengan sihir itu dia mendapatkan kerajaan yang besar. Ini kata mereka tu ini klaim yang jelas tidak benar ya.<br \/>\n(45:50) Dan Allah bantah. Wama kafara Sulaiman walakin asyayatina kafaru yuallimunanasir. Mengajarkan sihir kepada manusia. Jadi yang ngajarkan sir itu siapa? Setan. Jin-jin itu ya. Nah. Makanya kalau ada orang dekat sama jin sudah sesat sudah. Maksudnya punya mengatakan punya khadam dari jin.<br \/>\n(46:17) Kemudian dia bisa ini bisa itu baca orang baca tangan orang ngeramal. Ya, saya tahu ada kamu bapakmu, saya tahu ibumu, saya tahu apa yang kamu lakukan saya tahu. Begitu. Ini dari siapa? Setan ya. Nah, Tib sebelum kita lanjutkan Isya sudah sampai? Sudah masuk, Pak. Iya, insyaallah kita azan dulu.<br \/>\n(46:47) Kita lanjutkan sedikit lagi insyaallah ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wabarak wasallam. Ikhwatal Islam untuk selanjutnya ikhwatan Islam. Untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahuakbar. Ashadu alla ilahaillallah. E\u015fhed\u00fc la ilahaillallah.<br \/>\n(47:57) Ashadu anna muhammadar rasulullah. [Musik] Ashhadu anna muhammadar rasulullah. Hayya alah hayya alas shah. [Musik] Hayya alal falah. Hayya alal falah. [Musik] Allahuakbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [Musik]<br \/>\n(49:15) Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi wanwalah wala haula wala quwwata illa billahi amma ba&#8217;d. Kita lanjutkan ee dua atau tiga paragraf lagi. Ana baca cepat, Ikhwan. Kemudian ada pertanyaan yang insyaallah kita bahas. Penulis rahimahullah berkata, &#8220;Wahum kadzabatun fidzalik.<br \/>\n(49:44) &#8221; Mereka orang-orang yang bohong, berdusta dalam masalah itu. Yakni yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman itu menggunakan sihir. Falam yastmiluhu Sulaiman. Falam yastmilhu Sulaiman. Sama sekali Nabi Sulaiman tidak menggunakan sihir. Bal nazzahahu sodiq fiqilihi. Bahkan Allah sucikan ya dalam Allah sucikan Nabi Sulaiman tentang tuduhan tersebut. Kill di sini artinya tuduhan ya.<br \/>\n(50:19) Kill omong-ngomong gitu ya tambar burung. Allah berfirman wama kafara Sulaiman. Sulaiman tidak kafir ya. Dan eh wakinatina kafaru. Akan tetapi setan-setan yang apa? Yang kafir. Jadi Sulaiman gak kafir dengan belajar sihir dan tidak mempelajari sihir. Falam yataallamhu. Tapi Allah bilang wakinatina kafaru yallimunan. Setan-setanlah yang kafir dan merekalah yang mengajarkan apa? sihir min idlim w bani adam dari penyesatan yang mereka lakukan dan membuat bani adam tersesat mereka semangat untuk membuat manusia tersesat yahudihro demikianlah demikian juga orang-orang Yahudi itu kata Syekh Nasir<br \/>\n(51:14) Sa&#8217;di itu mengikuti sihir melakukan sih alladzi unzila alal malakain min ardil Iraq yang Allah turunkan di negeri Babilonia, di negeri Irak. Ya. Jadi mereka melakukan dan menggunakan sihir dan mempelajari sihir orang-orang Yahudi itu ya. Anzala alaihima asihro imtihanan minallahibadihi. Allah turunkan kepada kedua malaikat itu sihir dalam rangka menguji hamba-hambanya. Ya. Dan mereka ngajarkan sihir.<br \/>\n(52:00) Tapi tidaklah malaikat itu mengajarkan sihir melainkan apa? Melainkan mengatakan innama nahnu fitnah. Kita ini apa? Ujian. Ya, wama yuallimani min ahadin. Tidaklah mereka berdua yni malaikat itu mengajarkan ee sihir kepada siapapun melainkan mesti menasehatinya. Lihat yanshahu dan berkata, &#8220;Innama nahnu fitnatun fala takfur.<br \/>\n(52:32) &#8221; Kami ini ujian. Ingat jangan kafir. Itu kata para malaikat. Eh, kata dua malaikat tadi. La tata asihro fnahu kufrun. Lihat jangan belajar sihir karena sihir itu kekafiran. Ini nasihat dua malaikat itu. Fayanhayanih. Dan keduanya melarang sihir. Kedua malaikat itu melarang apa? sihir dan menghabarkan tentang derajat sihir.<br \/>\n(53:10) Sedangkan setan-setan itu mengajarkan sihir kepada manusia untuk menyesatkan untuk tadlis. Tadlis tadlis itu menipu ya idlal menyesatkan. Kemudian wisbatuhu man barahullahu minhu wahua sulaimanul imtihanan maak lahum hujjah. Kemudian mereka nisbatkan dan mempromosikan bahwa sihir ini itu dari Nabi Sulaiman padahal sudah dilepaskan.<br \/>\n(53:44) Maksudnya Allah membersihkan nama Nabi Sulaiman dalam firman Allah ini. Wama kafara Sulaiman. Ya. Dan dua malaikat mengajarkan sihir itu dalam rangka menguji menguji manusia ya. Serta dibarengi dengan nasihat. Nasihat jangan kamu belajar sihir. Sihir itu kafir. Sebuah kekufuran ya. Supaya ada hujah itu maksudnya. Faulai alyahud yattabiun alladziamahuatin atau tuallimuhin.<br \/>\n(54:21) Mereka orang-orang Yahudi itu mengikuti sihir, belajar sihir yang diajarkan oleh setan-setan. Wasrulladzi yallimulakan. Dan sihir yang diajarkan oleh dua malaikat farqu ilmal anbiya wal mursalin. Mereka meninggalkan ilmunya para nabi dan rasul. Waqbalu ala ilmayatin. Mereka menghadap dan belajar ilmu setan. Wun yasbu maunasibuhu.<br \/>\n(54:48) Dan semua orang itu condong sesuai dengan yang sesuai dengannya. Tib. Sampai sini ikhwan. Insyaallah kita lanjutkan ya pada pertemuan berikutnya. Ana kira hari ini selesai sampai ini masuk ke bab. Ya qadarallah masyafaal. Insyaallah kita lanjutkan. Mudah-mudahan Allah kasih umur panjang. Ada pertanyaan? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada dua pertanyaan.<br \/>\n(55:27) Satu pada surat Saba ayat 13. Kenapa jin-jin itu membuat patung 2 minggu lalu tidak sempat terbahas. Yang kedua, kalau imam batal saat berjamaah, makmum di belakang maju menggantikan lalu bagaimana mikrofonnya? Dipasang oleh imam yang batal atau bagaimana? Jazakallah khairan. Ini pertanyaan bagus. Yang pertama tentang ee ayat 13 surat Saba di mana di situ dijelaskan tentang jin-jin yang membuat patung-patung.<br \/>\n(56:04) Ya, bagaimana penjelasannya? Sebenarnya nanti akan dibahas tersendiri tapi ana ee jawab supaya tidak ada syubhat ya. Ulama menjawab, ikhwan yang Allah muliakan di masa Nabi Sulaiman Alaih Salam itu dibolehkan membuat patung. Dan itu syariat beliau. Itu syariat beliau. Dan setiap nabi punya syariat yang berbeda. Dan di masa beliau boleh membuat patung.<br \/>\n(56:29) Dan sangat jelas Allah sebutkan watamatil ya kan. Mereka membangun patung-patung waharib, tempat-tempat yang tinggi maharib watamsil. Nah, tetapi ulama ketika menjelaskan hal ini, mereka penjelasannya sangat bagus supaya tidak ada syubhat. Karena sebagian kita kalau gitu boleh dong kita bikin patung. Ya kan? Tidak.<br \/>\n(57:01) Karena gini, ketika Nabi Muhammad membawa syariat dan syariat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mengharamkan atau menask memansuh syariat yang sebelumnya, maka syariat sebelumnya di dimansuk. Syariat Nabi Sulaiman boleh membuat patung ini dinasekh, dihapus dengan syariat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(57:27) Maka terhapus hukum boleh membuat patung dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Karena Rasul pernah berkata kan, &#8220;Kalau kamu melihat timsal ya, maka di ini apa? Kepalanya ditiadakan, wajahnya ditutup ya.&#8221; &#8220;Illat thatahu k&#8221; kata Rasul sallallahu alaihi wasallam. Nah, ada sebagian ulama yang mengatakan, &#8220;Betul Nabi Sulaiman membuat patung-patung lewat jin, tapi patung-patung yang dimaksud patung-patung yang tidak ada arwahnya, bukan ee makhluk hidup gitu. Patung yang dimaksud patung ee tumbuh-tumbuhan gitu<br \/>\n(58:13) ya. semua ee patung yang tidak ada arwahnya, tidak ada apa namanya rohnya. Nah, itu itu dua jawaban dari ulama yang insyaallah kita akan bahas di waktunya. Kemudian pertanyaan yang kedua tentang imam batal saat berjamaah, makmum di belakang maju menggantikan. Kemudian gimana mikrofonnya? Tayib. Kalau misalkan jauh banyak gitu ya kan antum gimana? Siapa yang ngambil mikrofonnya? Boleh dua-duanya. Boleh imam yang batal boleh juga imam yang tidak batal.<br \/>\n(58:53) Eh boleh juga imam yang maju yang tadi menggantikan imam yang batal tadi. Antum ambil kalau misalkan siapa di sini? Ee Ciko ya. Ciko nih. Ciko baru datang nih ya. Ciko maju ke depan. Mik-nya di bawah kan sik ngambil ngambil pasang sendiri. Batal salatnya tidak batal salat ya.<br \/>\n(59:21) Karena ini termasuk untuk kesempurnaan salat dan termasuk gerakan yang mustahab, gerakan yang disukai. Dan kalau antum belajar fikih, gerakan dalam salat itu ada lima jenis. Bisa wajib, bisa sunah, bisa mubah, bisa makruh, bisa haram. Gerakan dalam salat itu ada lima hukum. Bisa wajib ketika antum misalkan kalau tidak bergerak salat enggak sah. Contoh lagi salat, di tengah salat antum ingat bahwa di kepala antum nih topi nih ada najisnya. Ya.<br \/>\n(59:58) Kalau antum diam sampai akhir batal tidak salat antum? Batal. Karena najis. Wajib dilepas. Ya tidak dilepas sudah. Walaupun lebih dari tiga kali. Gimana kalau antum punya baju luar juga kena najis dikencengin sama anak yang sudah berumur? Ya, misalkan gimana? Lepas pakai baju dalaman ya, Ustaz. Gimana kalau tiga gerakan kan membatalkan salat? Gak gak ada itu ya. Tayib.<br \/>\n(1:00:30) Dalilnya apa? Dalilnya hadis Abu Dawud. Rasul sallallahu alaihi wasallam pernah salat kemudian Rasul ngimami para sahabat sendalnya ada najisnya. Ketika Rasul sallallahu alaihi wasallam salat tengah-tengah salat Rasul ngelepas sendal secara otomatis para sahabat pada ngeletas ngelepas sendal mereka ya.<br \/>\n(1:00:50) Pada ngelepas sendal mereka tuh masyaallah para sahabat itu ketika Rasul lakukan sesuatu langsung ikut tuh. Enggak bertanya-tanya. Kalau zaman sekarang kenapa ya Rasul ya enggak itu langsung dilepas. Selesai salat, rasul tanya, apa yang membuat kalian melepas sendal-sendal kalian? Kata para sahabat, kami melepas kalian karena kami melihat alqana faalqani, kami melihat dua sendal kamu lepas maka kami pun melepas sandal kami.<br \/>\n(1:01:20) Rasul bilang tadi ada Jibril datang padaku menghabarkan padaku bahwa di sendalku ada apa? Najisnya. Ya, ini membuktikan bahwa bergerak di sini wajib. Kalau enggak bergerak, batal enggak salat kita? Batal. Justru bergerak wajib. Ada bergerak yang sunah. Bergerak yang sunah mustahab itu yang terkait dengan kesempurnaan salat.<br \/>\n(1:01:50) Dalilnya apa? Dalilnya ketika Rasul sallallahu alaihi wasallam salat malam dan ee tidur di rumah salah satu istri beliau, Maimunah. Ada Ibnu Abbas di Sahih Bukhari. Ada tuh di Bukhari. tidur di rumah Rasul. Rasul bangun salat malam. Ibnu Abbas lihat Rasul bangun ikutan juga salat malam. Tapi Ibnu Abbas di samping kiri Rasul sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(1:02:10) Diputar sama Rasul sallallahu alaihi wasallam ke samping kanan. Karena kalau jemaah dua orang makmumnya berada di mana? Di sebelah kanan. Sejajar apa mundur sedikit? Hah? Sejajar. Bukan mundur sedikit. Sejajar ya kan? Ada sebagian kita mundur sedikit. lah gitu ya. Gak sejajar akhi. Sejajar. Lihat Rasul menggerakkan siapa? Ibnu Abbas. Berapa gerakan? Banyak.<br \/>\n(1:02:35) Ini gerakan yang sunah. Kalau membuat kesempurnaan salat itu sunah. Ya. Nah, masalah ee tadi mik kan untuk kesempurnaan salat sehingga antum bergerak boleh antum ambil antum ini ya. Jadi ada gerakan yang mubah. Yang mubah ee yang makruh ada.<br \/>\n(1:03:07) Nah, contoh yang mubah bawa gendong siapa? Anak Rasul pernah enggak membawa gendong cucu beliau? Pernah. Rasul sujud taruh lagi rukuk ee berdiri angkat digendong ya. Ketika putri beliau meninggal, cucunya masih kecil diajak sama Rasul salat. Nah, itu gerakan yang lain. Contoh, misal antum lupa matikan ringtone HP. Kalau misalkan antum masuk di kantong, masukkan ke kantong kemudian lagi salat lagi khusyuk-khusunya ada rington tet yang perah dangdutan lagi akhi. Sebagainya.<br \/>\n(1:03:44) Iya enggak? Aduh, masa orang lagi salat suruh joget. Gimana ceritanya? Rington jangan begitulah akhi ya. Ah, terus antum ambil, ambil, buka, matiin, tak masukin lagi. Enggak batal salatnya. Dan itu menyempurnakan salat. Justru kalau antum diamkan saja terganggu enggak? Terganggu. Imam terganggu. Aduh, ini siapa? Ini yang lain terganggu. Wah, dangdutan lagi ya.<br \/>\n(1:04:12) Tidak antum ambil aja. Kalau kan digini-gini susah kan? Susah. Antum ambil tek lihat matiin tak. Jangan dilihat, &#8220;Oh, siapa yang nelepon nih? Yang WA siapa?&#8221; Jawab dulu. Ah, ini parah kalau gini ya. Gak sampai itu. Itu gerakan yang mustahab. Boleh. Dan ada yang mubah, ada yang makruh, ada yang haram itu ada pembahasan tersendiri.<br \/>\n(1:04:39) Tapi kita lag lagiak lagi enggak bahas fikih ini ceritanya lagi boleh enggak gerakan itu? Boleh ya dan waktunya juga singkat ya mudah-mudahan. Tapi enggak janji kalau misalkan ada lagi kita bahas ya. Tib. Mungkin ini yang kita bisa sampaikan. Mudah-mudahan manfaat. Kita akhiri wasallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wabarak wasalam. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:05:15) [Musik] Roja TV. Demikianlah ikhwat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3699","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Ya&#039;la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:46:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:46:10+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"28 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:46:07+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:46:10+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:46:07+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:46:10+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"28 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/","name":"Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc. - Al Bayan Min Qashashil Quran - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:46:07+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:46:10+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yala-kurnaedi-lc-al-bayan-min-qashashil-quran-13\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Ya&#8217;la Kurnaedi, Lc. &#8211; Al Bayan Min Qashashil Quran"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3699"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3699"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3699\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3700,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3699\/revisions\/3700"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3699"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3699"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3699"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}