{"id":3713,"date":"2025-11-27T20:47:59","date_gmt":"2025-11-27T13:47:59","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3713"},"modified":"2025-11-27T20:48:00","modified_gmt":"2025-11-27T13:48:00","slug":"ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/","title":{"rendered":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/uzcxUAUaDxU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keutentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis, kesalehan tidak cukup.<br \/>\n(00:27) Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwat Islam azaniallahu waakum. Alhamdulillahiabbil alamin hamdan mubarokan f yuhibbunaard wasatu wasalamu asil mursalin waa alihi wahabihi ajmain wabiahum bisumilqiamah ba ikhwat Islam azani Allahuakum para pendengar dan sahabat rajah di mana pun antum berada di malam hari ini.<br \/>\n(01:11) Malam yang kita mohon kepada Allah subhanahu wa taala akan keberkahan dan karunia dari Allah subhanahu wa taala. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan kepada kita berbagai kenikmatan di malam hari ini hingga menjelang esok pagi. Dan ikhwat Islam a wyakum kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala atas perjumpaan ini di mana kita kembali dapat menyimak satu kajian ilmiah yang insyaallah akan kita mendapatkan faedah dan juga beberapa ilmu yang bermanfaat yang akan disampaikan oleh guru kita.<br \/>\n(01:41) Dan pada malam hari ini kembali kita akan simak satu kajian ilmiah dari pembahasan kitab Sahih Aljamius Sagir yang insyaallah akan disampaikan oleh guru kita Al Ustaz Alfadil Dr. MH Hasan Ayatullah MA hafidullahu taala. Alhamdulillah kami telah terhubung dengan beliau dan sebelum kita simak kajian yang penuh dengan faedah ini, kami informasikan kepada Anda semuanya ikhwatal Islam azaniallahu wyakum.<br \/>\n(02:00) Setelah kajian disampaikan oleh beliau, kami buka sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda ingin bertanya secara langsung, Anda bisa menghubung kami di nomor di layanan nomor telepon lokal di 0218236543 ataupun Anda dapat bertanya melalui chat WA di 0218236543 dan Islam azani Allahu wyakum pada malam hari ini beliau akan membahas tema dengan judul bahaya gibah dan adu domba satu perbahasan satu pembahasan yang tentunya sangat menarik untuk kita simak bersama agar kita tiada jatuh dalam perbuatan tersebut baik Islam azani<br \/>\n(02:32) Allah wayakum kita akan simak bersama Dan kepada ustaz kami persilakan. Falatafad maskuron. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin wasallallahu wasallam wabaraka ala abdihi wa rasulihi nabiyina Muhammad waa alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin yaumiddin. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br \/>\n(03:08) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha w minhuma rijalanisa wattaqulahuna bihi arham inallahaikumq ya ahadina amanqulaha waulu sadida yuslih lakumakumfirakumunubakum wahulahuqan am kaum muslimin dan muslimat pemirsa Rajak TV, pendengar Radio Raja, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian kita malam hari ini.<br \/>\n(03:48) Semoga Allah azza waalla melimpahkan rahmat dan keberkahan pada umur kita, ilmu yang akan kita pelajari, harta kita, keluarga, dan seluruh aktivitas yang kita kerjakan. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah menyampaikan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, bijawamiil kalim. Aku diutus oleh Allah Subhanahu wa taala dengan diberi anugerah Jawamiul Kalim.<br \/>\n(04:15) Ibnul Athir rahimahullah menyebutkan arti dari jawamiul kalim annahu kanairal makna qililal lafz. Yang dimaksudkan beliau ini kata-katanya sedikit akan tetapi artinya luas. Dan ini menjadi sifat secara umum sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Selain beliau merupakan orang yang berbicara dengan wahyu, tidak dari hawa nafsu. Dulu pernah kita sampaikan bahwa Allah menegaskan wama yantiquil hawa in hua illa wahyu yuha.<br \/>\n(04:49) Dia tidak berbicara dari hawa nafsunya akan tetapi semua yang diucapkan adalah wahyu yang diturunkan. Dalam Sunan Abi Daud ketika Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma ingin menulis semua yang diucapkan Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(05:09) Orang Quraisy mengatakan taktubu kain rasulillahi shallallahu alaihi wasallam wahua basyarun yatakallamu firid walab. Kamu tulis semua yang engkau dengar dari dia padahal dia manusia biasa. Dia berbicara ketika dalam keadaan bahagia tapi juga dalam keadaan marah. Kamu tulis semuanya. Faamsakhu. Aku pun berhenti menulis sampai aku bertanya kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(05:35) Maka beliau mengatakan dengan menunjukkan telunjuknya ke mulutnya sambil mengatakan uktub fawalladzi nafsi biyadihi la yakuju minhu illa haq. Tulis aja. Tidak ada yang keluar dari sini kecuali kebenaran. Sebagai muslim ahlusunah pribadi yang disiplin dan bangga dengan agama kita. Tentu kita harus sadar dan yakin apa yang disebutkan di dalam dalil adalah sesuatu yang terbaik. Entah itu sifatnya ibadah ataupun pelengkap dan menjadi kebutuhan harian.<br \/>\n(06:09) Ketika seorang muslim berupaya menjalankan arahan Nabi sallallahu alaihi wasallam sekalipun tidak wajib, akan tetapi jelas ini ideal. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah pribadi teladan, ideal, dan semua yang beliau contohkan merupakan sebuah bentuk kesempurnaan. Maka kita menyadari bahwa iman itu bertingkat.<br \/>\n(06:35) Kemampuan orang-orang pun juga tidak sama. Semakin dekat seorang beraktivitas dengan hadis, maka dia akan semakin sempurna, akan semakin dekat dengan syariat. akan semakin benar dan jauh dari kesalahan. Maka usaha itu yang diutamakan dan kita berusaha mempelajari semua hadis atau yang disabdakan Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(07:07) Kita harapkan semoga Allah azza waalla memberikan kita kesempatan mendapat kebahagiaan orang-orang yang berada di garis lurus di atas ajaran beliau sallallahu alaihi wasallam. Kaum muslimin, pemirsa Raja TV dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian malam hari ini, kita akan membahas beberapa hadis biidiznillah. Di antara yang akan kita pelajari yang pertama adalah tentang masalah mengadu domba.<br \/>\n(07:44) Mengadu domba ini merupakan sebuah ucapan yang berbahaya ketika terkadang ucapan itu benar. Akan tetapi manakala diucapkan akan menimbulkan permusuhan, maka ucapan itu menjadi bumerang. Ini kalau seandainya ucapan itu benar dan tetap disampaikan hanya menuai madarat, bagaimana seandainya memang ucapan itu tidak benar dan memang tujuannya untuk menebarkan permusuhan dan ini namanya namimah.<br \/>\n(08:22) Ada istilah lain yang akan kita baca di dalam hadis dengan al-idah atau al-adhu yang akan kita bahas nanti. Dan ini merupakan satu dosa yang ditegur dan diperingatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan merupakan sebuah dosa besar. Kita bayangkan seorang muslim yang aman, yang tenang dan tentram, bersaudara dan erat hubungan keduanya.<br \/>\n(08:54) Gara-gara satu penyakit yang tidak suka dengan pertemanan maupun persahabatan, dia akan membuat onar sehingga dua orang ini bermusuhan. Kalau tidak sengaja, maka orang ketiga yang menyebabkan pertikaian dan perpisahan ini tercela luar biasa. Bagaimana dengan kondisi jika seandainya memang itu kesengajaan? Baik. Hadis yang ke-85.<br \/>\n(09:20) Dalam hadis ini disebutkan ini disebutkan oleh penulis dengan isyarat khad atau al-adabul mufrad. Albukhari rahimahullah menyebutkan hadis ini dalam kitab beliau Al-Adab almufrad bukan dalam Sahih Bukhari. Kemudian ada Hak. Ini juga diriwayatkan oleh Albaihaqi dari sahabat Anas ibn Malik radhiallahu anhu.<br \/>\n(09:46) Rasul sallallahu alaihi wasallam menyebutkan, &#8220;Atadruna maladah.&#8221; Ya, disebutkan, &#8220;Tidakkah kalian tahu apa itu adah? Dan hadis ini sebenarnya juga disebutkan di dalam Sahih Muslim. Maka wallahuam ee penisbatan atau menyebutkan hadis ini di luar Sahih Muslim. Padahal hadis ini dalam hadis yang sahih.<br \/>\n(10:17) Atau seandainya sebuah hadis yang disebutkan dalam Sahih Bukhari akan tetapi ternyata seseorang justru menyebutkan hadis ini diriwayatkan oleh Attabrani, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dirikan oleh Imam Ahmad. Para ulama ahli hadis mengatakan ini keliru. Karena kebiasaan para ulama ketika mereka menyebutkan hadis dan hadis itu sahih, maka mereka akan mulai dari sumber dan referensi yang paling sahih.<br \/>\n(10:39) Kalau hadis itu diriwayatkan dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, maka pengucapan dan penyebutan hadis ini sahih dalam Bukhari dan Muslim selesai. Kalau tidak disebutkan dari referensi lain pun sudah cukup. Akan tetapi seandainya yang disebutkan justru dari referensi yang di bawahnya. Seperti hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Almustadrak, diriwayatkan Al-Tabrani dalam Mujam Alkabir. Padahal hadis itu dalam Sahih Muslim. Maka banyak ulama yang menyatakan ini disayangkan.<br \/>\n(11:11) Kenapa tidak mengambil dari hadis yang sahih? Kecuali jika seandainya riwayat dalam Sahih Bukhari dan Muslim singkat. Kemudian dalam hadis yang lain disebutkan lebih lengkap dan detail dan sanadnya sahih pula. Maka kelebihan atau tambahan lafaz ini yang memang diharapkan.<br \/>\n(11:37) Akan tapi jika seandainya sama maka wallahuam hukum asalnya ee al-azu atau menyebutkan referensi yang paling tepat wallahuam disebutkan pada yang paling kuat. Nah, hadis ini sama di dalam Sahih Muslim. Kalau di sini disebutkan atadrunau, tahukah kalian tentang alad? Dalam riwayat Muslim dikatakan, &#8220;Ala unabbiukum maladhu?&#8221; &#8220;Maukah aku tunjukkan kalian tentang aladhu?&#8221; Kata Imam an-Nawawi rahimahullah, al-adhu bisa diharakatin alidahu, alidahu atau al-adhu.<br \/>\n(12:17) Dalam referensi ilmu hadis, kebanyakan riwayat disebutkan dengan harakat ini. Al-adhu. Adapun dalam referensi buku-buku bahasa, kebanyakan mereka menggunakan kata yang kedua al&#8217;idahu. Ya, tetapi maknanya sama. Disebutkan dalam beberapa riwayat termasuk dalam Muslim, Sahih Muslim. Hian namimatu alqalatu bainanas. Itu adalah adu domba.<br \/>\n(12:48) Mengucapkan perkataan antara orang-orang. Eh, Fulan ngomong tentang kamu begini. Datang lagi. Eh, kamu dibilang sama fulan begini. Kalau istilah sebagian masyarakat orang ini punya julukan. Si mulut ember jelek sekali. Gampang ngomong ke sana kemari mulutnya lebar. Sehingga dikatakan julukan yang kita sering malas mendengarnya. Ya.<br \/>\n(13:20) Dalam hadis ini dikatakan naqlul haditi min ba&#8217;dinasi ila ba&#8217;din liufsidu bainahum. ya mengunukil memindahkan ucapan ini ke orang lain karena memang tujuannya untuk merusak hubungan. Maka sebagian ulama memberikan definisi annamimah atau adu domba itu dan ini terkenal sekali disebutkan oleh para ulama nukilan sampai seperti kaidah namimah atau adu domba artinya naqlul hadisi ala wajhil ifsad. Ya, tadi seperti sama dalam riwayat ini.<br \/>\n(13:55) Artinya adalah menukil sebuah ucapan tujuannya untuk merusak hubungan. Hadis ini dimulai oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan ungkapan pertanyaan, &#8220;Tahukah kalian tentang alidahu atau al-adhu?&#8221; Dalam riwayat dikatakan dalam Sahih Muslim, &#8220;Maukah aku tunjukkan kepada kalian apa itu al-adhu? Ini menunjukkan bahwa pernyataan ini tidak biasa.<br \/>\n(14:29) Ini perkara besar yang bahaya jelek sekali harus diwaspadai. Dan kita tahu ketika seseorang akan berbicara, kalaupun dia tahu bahwa ini manfaat, tidak setiap hal bermanfaat pantas untuk diucapkan. Dan kita tahu di antara kesempurnaan Islam seseorang, dia akan berpaling dan meninggalkan setiap yang tidak bermanfaat.<br \/>\n(15:04) Hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Min husni islamil mari tarquu ma yakni.&#8221; Di antara tanda baiknya Islam seseorang, dia akan meninggalkan sesuatu disebutkan sebagian ulama yang tidak bermanfaat yang pertama barang haram, ucapan haram, kemudian tindakan haram.<br \/>\n(15:30) Ini yang haram haram ini tidak ada manfaatnya sama sekali maka harus ditinggalkan wajib. Yang kedua yang sifatnya ee makruh. Makruh artinya tidak sampai haram, tapi artinya dibenci. Bukan sekedar orang bilang, &#8220;Oh, kan makruh.&#8221; Cuma makruh. Ini kata-kata remeh yang tidak menunjukkan orang yang mengatakan berilmu. Maka makruh ini juga tidak bermanfaat. Yang ketiga, asyubhat liman la yatabayyanuha. sesuatu yang rancu.<br \/>\n(16:03) Karena orang yang tidak memahami pembahasan itu, maka ini juga tidak diperlukan. Orang ketika akan beramal, dia cari yang pasti dan dia perlu menyadikan ini pedoman, ini baik, ini tidak. Kalau ini ini mungkin baik, mungkin tidak. Tinggalkan yang meragukan. Maka orang yang pantas untuk ee menjadi seorang yang bijak, ideal, dan dia adalah orang yang ee alim, dia meninggalkan yang syubhat kalau dia tidak tahu.<br \/>\n(16:37) Kemudian yang keempat adalah fudul mubahat, sesuatu yang mubah tetapi berlebihan. Omongan bisa seperti itu. Maka kita katakan terkadang seseorang diam dan diamnya luar biasa. Ada orang bertanya dan dia tahu pertanyaannya lebih baik untuk dijawab dengan diam. Maka ini betul-betul bijak sekali. Ada orang bisa berbicara pada saat diperlukan. Kemudian ketika dia harus diam maka dia diam dan tahan.<br \/>\n(17:07) Apalagi seandainya ucapan itu dapat membuat bahaya orang lain. Kita sering mendengar hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam. Sehingga kalau seorang muslim akan berbicara, yang pertama dia akan perhatikan apakah omongan ini betul atau tidak.<br \/>\n(17:32) Kalau seandainya tidak betul, langsung tinggalkan. Kalau seandainya betul, maka dia akan ucapkan. Tapi ucapan ini baik atau tidak? Yang pertama betul atau salah. Yang kedua baik atau tidak aku sebutkan. Kalau ternyata tidak baik tinggalkan. Kalau ternyata baik maka dia akan sebutkan lagi. Apakah menyebutkan ini bermanfaat atau tidak? Kalau tidak ada manfaatnya tinggalkan.<br \/>\n(18:04) Kalau seandainya bermanfaat pun dia kembali berpikir bagaimana cara menyampaikan dengan cara yang baik. Maka memang untuk menjadi seorang muslim ideal, orang yang baik Islamnya, orang yang sempurna imannya tidak gampang. Kalau teori gampang memang. Dan kita lihat hadis ini bagaimana kita sangat sering kalau kita katakan bosan barangkali mudah-mudahan tidak.<br \/>\n(18:35) Akan tetapi kita sudah lebih dari sering mendengar manana yminu billahi wal yaumil akhiri falyaqul khairon liyasmut. Ya, orang berbicara yang baik saja kemudian diam. Dan rupanya diam itu membutuhkan latihan ekstra daripada berbicara. Kita katakan sering ada orang berlatih hadir di klat membayar untuk public speaking, cara berbicara yang bagus di depan orang. Tetapi kita jarang mendengar ada orang sampai membayar harta yang mahal untuk latihan diam dengan bijaksana. Tidak perlu modal, betul.<br \/>\n(19:15) Tetapi jarang ada orang sukses di situ. Maka kalau sampai pada perkara yang kita bahas, orang ngomong dan ternyata omongannya bakso berbulut ember. Ya, naqlul hadisi ala wajil ifsad. menukil ini untuk merusak hubungan. Ini merupakan dosa besar. Dan Azzahabi rahimahullah dalam kitab Al-Kabair, kumpulan dosa-dosa besar mengategorikan ee pengadu dombaan ini termasuk bagian dari dosa besar. Ada hadisnya dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.<br \/>\n(19:54) Dan itu juga sering kita dengar. Mar Nabi shallallahu alaihi wasallam biqabrain. Nabi sallallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan. Faqala innahumaan w yuabani fi kabir. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Dua penduduk kuburan ini sedang diuji atau diazab, disiksa oleh Allah dan keduanya disiksa bukan urusan yang besar.&#8221; Dalam riwayat lain dikatakan, &#8220;Bala innahu kabir.&#8221; Akan tetapi itu urusan besar juga.<br \/>\n(20:22) Ini besar tidak gampangnya. Amma ahaduhuma fakana yastatiru minal baul. Salah satu dari penghuni kubur yang disiksa ini dia tidak bersuci dari air kencingnya. Bersuci atau menutup. La yastatir itu artinya menutup. Menutup apa? Ada sebagian ulama menafsirkan menutup auratnya ketika buang hajat. Jadi kelihatan orang tidak peduli. Ini salah satu tafsiran dari hadis ini.<br \/>\n(20:53) Dalam riwayat dikatakan dia tidak menjaga air kencing biar tidak menajisi badannya. Dan ini ada riwayat lain yang menafsirkan dengan kata-kata la yastanzihu minal baul. dia tidak menjaga kebersihan dan kesucian badannya ketika dia bersuci, ketika dia buang air. Kemudian ee ada yang mengatakan tidak cebok dan semacamnya.<br \/>\n(21:23) Kemudian yang kedua, wa ammal akhar penduduk kubur yang satunya lagi yang sedang disiksa ini. Fakana yamsyi bin namimah. Dia selalu ke mana-mana mengadu domba, merusak hubungan, ngukil perkataan ini. Ngukil perkataan ini agar membuat orang tidak akur. Ini jelek sekali ya. Dan orang kadang-kadang tidak sadar kemakan ya. Kalau orang mau berpikir, &#8220;Saya tidak boleh berprasangka kepada orang lain.&#8221; Lalu dia tabayyun.<br \/>\n(21:57) Kita bayangkan prasangka baik saja kepada orang lain itu mahal. Apalagi sampai di zaman ini ada orang tabayyun. Ini memang sesuatu yang mahal. Dan terkadang memang betul ada sebuah realita dia pengin tabayyun tapi disembunyikan oleh orang lain berita yang sesungguhnya itu sehingga betul-betul permusuhan itu terjadi. Maka kita katakan bahwa ee hadis ini merupakan ancaman yang serius untuk orang yang memiliki hobi yang satu ini.<br \/>\n(22:36) gampang me apa menebarkan permusuhan. Terkadang orang ingin berusaha menunjukkan kalau dia tidak menyebarkan permusuhan, tetapi dia pancing orang untuk penasaran. Dia mengatakan ee fulan itu, &#8220;Ah, enggak usah, enggak usah kamu tidak usah tahu. Biar aku saja.&#8221; Apa maksudnya? Sehingga orang akhirnya bertanya, &#8220;Memang kenapa dan kenapa bagaimana? Memang sebenarnya ada apa dan seterusnya sehingga dia tidak sengaja dia telah memancing atau memang orang bilang semakin memperkuruh suasana.<br \/>\n(23:21) &#8221; Baik, hadis yang kedua berkaitan dengan hal yang serupa meskipun tidak sampai pada adu domba, tetapi ini juga salah satu dosa besar yang lain, yaitu ee kebiasaan ngerumpi, membicarakan kesalahan, kekurangan, dan sesuatu yang tidak disuka. Ya, disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Him ini Imam Ahmad, Mim, Imam Muslim, dal Abu Daud, ta at-Tirmidzi.<br \/>\n(23:56) Dari hadis Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Atadruna mal ghibah?&#8221; Tahukah kalian tentang gibah itu? Kalau giibah diartikan dengan bahasa Indonesia artinya menyebutkan kesalahan orang atau menyebutkan kekurangan orang agar lebih dari sekedar kesalahan. Karena terkadang yang disebutkan bukan kesalahan.<br \/>\n(24:18) Memang betul ada dan memang dia seperti itu. Akan tetapi ini kekurangan yang tidak disukai untuk disebutkan. Dan kita bukan sedang membahas tentang tawadu seseorang yang saleh. Kayak misalkan ada orang yang berusaha menjaga agar sedekahnya tidak diketahui orang lain. Ternyata ada orang yang tahu, ada orang yang melihat atau memergoki dia sedang sedekah.<br \/>\n(24:50) Lalu ee orang ini ingin cerita kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain pun bisa meniru sedekah orang tadi. Lalu orang pertama yang sedekah yang pengin menyembunyikan sedekahnya itu enggak suka itu diomong-omongkan. Ini enggak masuk dalam pembahasan ini. Wallahualam. ini tidak masuk dalam pembahasan ini.<br \/>\n(25:12) Tetapi pembahasan yang masuk dalam masalah gibah adalah ketika seseorang tidak suka, perbuatan dia diketahui, ucapan atau sifat dia diketahui karena memang disebut dalam bentuk kurang kekurangan. Baik. Atadrunal gibah. Tidakkah kalian tahu tentang gibah itu apa? Zikruka akaka bima yakro. Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka. Ya.<br \/>\n(25:39) Dan subhanallah ini definisi yang langsung Nabi sallallahu alaihi wasallam sebutkan sehingga tidak perlu dipelajari artinya dari buku-buku bahasa, buku-buku syarah. Sekedar seseorang membaca, Nabi sallallah alaihi wasallam tanya kemudian setelah itu dijawab sendiri. Dan kita tahu bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan tentang pertanyaan ini, tujuannya agar para sahabat lebih perhatian nanti. Nih jawabannya. Zikruka akhaka bima yakra.<br \/>\n(26:04) Engkau menyebutkan sesuatu pada diri saudaramu dan dia enggak suka itu disebut-sebut. Maka para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan menyebutkan sesuatu yang tidak disukai apa aja modalnya? Disebutkan oleh almunawi rahimahullah juga dalam kitab Faidul Qadir. Ketika seseorang meniru-niru gerakan.<br \/>\n(26:28) Kalau ada orang yang mungkin dia kalau berbicara mungkin agak feminim, molek, padahal ini laki-laki atau suaranya terlalu keras atau barangkali suaranya kebalikannya terlalu gemulai. atau karena orangnya pendek atau karena tingkahnya aneh sehingga orang mengikuti gerakannya. Atau bahkan ada orang yang menyindir dia entah dengan matanya, entah dengan gerakan tangannya atau dengan sebuah tulisan, ucapan, maupun isyarat-isyarat lain, maka ini termasuk dalam kategori besar gibah yang haram.<br \/>\n(27:19) Ya, disebutkan bahwa mengikuti mereka atau menyebutkan kesalahan yang tidak disuka oleh orang yang dibicarakan ini bisa dalam bentuk ucapan, tulisan, bahkan mungkin semacam simbol ya. Yang jelas semua yang sifatnya menyindir, menabrak atau apa, ini masuk dalam kategori gibah. Para sahabat bertanya, &#8220;Ina fqu ini.<br \/>\n(27:50) Disebutkan dengan singkat ya. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan&#8221;ikruk bima yakam yakun fi faqtah. Kalau yang kamu sebutkan ini betul-betul ada pada orang yang kamu bicarakan, ini namanya gibah. Tapi kalau kamu menyebutkan kekurangan yang ada pada saudaramu dan saudaramu tidak suka kalau kamu menyebutkan kesalahannya, tapi ternyata yang kamu bicarakan itu enggak ada pada diri saudaramu, maka engkau telah menuduh dia dengan kebatilan. Baik. Dalam riwayat lain dikatakan, &#8220;Ya Rasulullah, araita inana fihi maqul.&#8221; Ya Rasul, bagaimana<br \/>\n(28:29) seandainya aku menyebutkan tentang saudaraku satu sifat yang dia enggak suka kalau seandainya sifat ini disebutkan? Tapi memang benar orang itu kayak gitu. Contohnya bakhil. Contohnya bakhil misalkan, maka apakah ini adalah sesuatu yang dibolehkan? Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Itulah yang dimaksudkan dengan riba.<br \/>\n(28:54) &#8221; Jadi kalau kita menyebutkan kesalahan yang memang ada dan dia tidak suka sifat itu ada disebutkan, maka inilah yang dikatakan gibah terlarang. Adapun jika seandainya kita katakan dia pelit, bakhil padahal enggak, ah ini namanya tuduhan. Ini bukan lagi gibah atau menggunjing kesalahan dia. Akan tetapi ini justru merupakan sebuah fitnah dan tuduhan.<br \/>\n(29:20) tadi kita sebutkan bahwa seseorang terkadang menyebutkan sebuah ee sikap sifat, masalah dunia, masalah ee badan, harta, keluarga, pembantu dan seterusnya. Ini disebutkan demikian oleh para ulama. Seperti contohnya orang ini keluarganya dikenal dengan keluarga yang miskin, keluarganya menjadi sampah masyarakat lalu disebutkan itu.<br \/>\n(29:54) Ini masuk gibah atau disebutkan sifatnya oh pendek, cebol atau dia sakit matanya atau semacamnya. Dan dia enggak suka disebutkan seperti itu. Maka yang seperti ini termasuk gibah yang dilarang. Ya, termasuk kalau seandainya dia memiliki perangai yang diikuti gaya-gayanya. Ini juga termasuk gibah seperti yang kita sebutkan tadi.<br \/>\n(30:20) Termasuk kebiasaan sebagian orang yang memberikan isyarat. Isyarat semacam doa. Kalau seandainya tujuannya untuk menyindir, rupanya ini termasuk bagian dari gibah. Ya, seperti contohnya ini dicontohkan ini dinukil dari Alghazali rahimahullah. Beliau sampai mengatakan, &#8220;Iyaka wagibatal quro.<br \/>\n(30:51) &#8221; Hati-hati kalian jangan suka ngikutin gibahnya para pembaca Al-Qur&#8217;an. Memang bagaimana mereka kalau gibah? Disebutkan ee tapi ini bukan pembaca Al-Qur&#8217;an aja, tapi Alqurra almurain. Memang pembaca Al-Qur&#8217;an yang tidak ikhlas. Mereka yang pengin riak dan semacamnya, mereka ternyata suka juga punya hobi mengghibah. Ya, disebutkan mereka ini suka seolah-olah menunjukkan perhatian, mendoakan, tapi tujuan dia sebenarnya untuk sama-sama merendahkan orang yang diajak bicara atau bukan yang diajak bicara tapi yang dibicarakan. Disebutkan contohnya aslahahullah waqad saani wamani bima yajri alaih. Dikatakan<br \/>\n(31:33) oleh Imam Nawi rahimahullah ini sebagian orang bilang orang itu mudah-mudahan Allah perbaiki dia ya. Dia ini bikin ana kepikiran aja. Apa yang dia alami membuat ana tidak bisa tidur. Allah yuslihu. Mudah-mudahan Allah perbaiki dia. Nah, ini kata-kata seperti ini seolah-olah dia mendoakan tapi maksudnya nembak nih. Maksudnya adalah dia menggunjing dan menjelekkan. Berarti artinya sama ya.<br \/>\n(32:07) Maka ee Al-Ghazali menjadikan ini sebagai satu bentuk dan simbol hati-hati kalian dengan gayanya orang saleh. Kalau dia gibah gimana kata-katanya seolah-olah lebih religi, tapi sama gibah itu ngerumpi ya. Dan bahkan beliau mengatakan kerusakan dari kata-kata seperti ada dua.<br \/>\n(32:37) Yang pertama gibah yang tadi tetap namanya menyebutkan kejelekan orang yang digibahin. Yang kedua, tidak kalah jeleknya apa itu? tazkiyatun nafs. Seolah mereka diri kita ini saleh. Fulan Allah yuslihu. Mudah-mudahan dia Allah perbaiki dia. Seolah kita enggak dibutuhkan untuk diperbaiki. Seolah-olah mudah-mudahan Allah perbaiki dia saja. Kalau saya enggak usah, saya sudah baik.<br \/>\n(33:02) Begitu. Ini sampai dinukil dari sebagian ulama. Hati-hati doa seolah-olah kayak dia mendoakan, tapi ternyata dia pengin menunjukkan, &#8220;Nih, saya yang saleh.&#8221; Ini tipis. Tetapi para ulama berhati-hati dengan hati mereka. Sehingga yang seperti ini diingatkan agar kita yang awam ini tidak gampang terpengaruh. Ya. Baik.<br \/>\n(33:28) Terakhir, gibah atau menyebutkan sesuatu kesalahan yang memang tidak disuka oleh orang yang dibicarakan. ini dalam kondisi tertentu dibolehkan. Dan Al Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan ada enam kondisi seorang ketika menyebutkan kesalahan orang lain memang tidak apa-apa bahkan dibutuhkan.<br \/>\n(33:56) Dalam sebuah ungkapan Arab mengatakan, &#8220;Alqadhu laisa bighibatin fi sittatin.&#8221; Ya, menyebutkan kesalahan dan kejelekan orang tidak dinilai gibah pada enam kondisi. Yang pertama ee disebutkan ee apa namanya? Alqadhu laisa biibatin mutadallimin. Mutadallim artinya orang yang ingin melapor, mengadu. Datang ke ee mahkamah kehakiman.<br \/>\n(34:34) Lalu dia mengatakan, &#8220;Saya dizalimi, dirampas, bahkan berusaha untuk dibunuh misalkan.&#8221; Nah, otomatis yang dibicarakan itu adalah kejelekan. kesalahan dan orangnya yakin tidak akan rida disebutkan itu. Tetapi yang dia lakukan sekarang adalah lapor dan ee ingin mendapatkan keadilan di sebuah tempat dan lembaga yang tinggi untuk bisa memutuskan itu.<br \/>\n(34:59) Maka gibah ini tidak dipermasalahkan dalam syariat boleh. Mutadallimin. Yang kedua, wa muarrifin orang yang mengenalkan. Ketika di dalam satu tempat ada 10 orang Muhammad misalkan. Lalu ada Muhammad yang hafalannya kuat, ada Muhammad yang rajin salatnya, ada Muhammad yang putih, ada Muhammad yang tinggi, ada Muhammad yang pendek, hitam, dan misalkan hafalannya terlambat, bodoh, dan seterusnya.<br \/>\n(35:31) Ini Muhammadnya banyak. Lalu ada orang mengatakan, &#8220;Saya jadi Muhammad.&#8221; Muhammad yang mana? Muhammad yang orangnya pendek hitam dan memang dia tidak bisa diketahui kecuali dengan cara itu. Karena tadi Muhammad ada lima misalkan di tempat itu dan dia lagi buru-bur untuk mendapatkan fulan itu. Saya mencari Muhammad. Muhammad yang mana? Muhammad yang pendek dan warnanya hitam.<br \/>\n(35:55) Nah, seperti ini. Maka muarif atau mengenalkan seseorang dengan sifat yang tidak dikenal kecuali dengan sifat itu tidak apa-apa. Tetapi para ulama seperti Imam Ahmad rahimahullah mengatakan begitu ada sifat yang bisa disebutkan tanpa menyebutkan kesalahan itu berarti solusi. Tidak boleh. Kayak misalkan ada orang siapa namanya? Muhammad.<br \/>\n(36:17) Muhammad yang mana? Yang mempelajari ilmu fikih misalkan itu sudah kelihatan. Karena Muhammad yang ada di situ ada 100 orang mempelajari ilmu hadis misalkan. Sementara satu orang belajar fikih sudah disebutkan itu sudah cukup. Tidak perlu lagi dikatakan, &#8220;Oh, fulan yang tidak pandai, orang yang suka tidur, orang yang suka membikin jengkel temannya, tidak perlu disebutkan.<br \/>\n(36:42) Karena satu sifat yang tidak ada kesalahan dan kekurangan di situ sudah cukup untuk mengenalkan dia. Jadi, ini intinya kondisi yang kedua. Seorang boleh untuk menyebutkan kekurangan pada saat dia inginb menyebutkan ee apa namanya? pengenalan seseorang yang tidak bisa diketahui kecuali dengan sifat yang itu. Kemudian yang ketiga adalah muhadzirin.<br \/>\n(37:07) Muhadzir artinya memberi peringatan. Awas hati-hati. Fulan itu bukan dokter tapi gaya aja ijazahnya cuman beli misalkan. Ini jelas merupakan sebuah tendangan, serangan. Bukan hanya menyebutkan aib, tetapi ini dibutuhkan ketika seseorang akan berobat. Saya ini punya penyakit parah. Sudah 50 tahun saya mengidap penyakit ini. Sekarang saya mau datang ke dokter itu. Katanya orang-orang ini orangnya spesialis.<br \/>\n(37:46) Tapi ada yang tahu bukan. Dia bukan spesialis. itu hanya dukun saja, tapi dia bukan dokter. Dia hanya berkedok pakaian dinas kesehatan. Akan tetapi orang ini sebenarnya dukun. Misalkan. Maka ini merupakan peringatan yang disampaikan kepada orang lain. Muhadzir. Ya, ini menyebutkan kesalahan tidak apa-apa. Memberikan peringatan. Awas hati-hati jangan sama guru itu.<br \/>\n(38:13) Guru itu bahaya. Dia suka makan muridnya misalkan ya. Bahkan enggak harus dengan dicaplok, tapi bisa juga dengan seperti kasus-kasus yang ada sekarang. Nauzubillah. Kalau ada guru yang seperti itu, dosen kepada mahasiswa, ustaz kepada santri, waliyadubillah, ternyata dia memang hobinya kotor.<br \/>\n(38:38) Apakah seperti tidak diingatkan masyarakat? Otomatis wajib untuk disampaikan. Orang yang tahu dan menyembunyikan dia tidak nasuh. Dia tidak memberikan sesuatu yang terbaik untuk saudaranya semuslim. Ketika ada orang bertanya, &#8220;Saya pengin belajar sama itu.&#8221; Dan kita tahu bahwa sebenarnya itu tidak memiliki ilmunya. Cuman dia bisa berkamuflase, menipu orang sampai menghipnotis dan semacamnya.<br \/>\n(39:03) Kita katakan harus disampaikan apa adanya. Jangan itu orang begitu. Nah, ini namanya muhadir. Meskipun yang disebutkan adalah kekurangan, tapi itu yang dibolehkan. Yang berikutnya adalah mustaftin. Mustaftin artinya orang minta fatwa. Orang datang kepada seorang alim lalu mengatakan, &#8220;Mohon maaf saya pernah terjemus ke dalam sebuah dosa besar karena fulan geret saya untuk melakukan seperti ini.&#8221; Nah, dan seterusnya.<br \/>\n(39:36) Nah, ini otomatis menyebutkan aib. Tetapi ketika seorang meminta fatwa, seringki dia mau tidak mau menyebutkan gambaran yang ada. Sehingga sang mufti yang akan menjawab dan menyebutkan sebuah hukum syari tahu gambaran yang ditanyakan. Saya punya saudara keras kepala tidak mau membagi warisnya. Ketika kita berbicara ini ngamuk marah-marah padahal dia serakah pengin ngambil misalkan seperti itu.<br \/>\n(40:05) Lalu ada orang pengin berfatwa e bertanya kepada seorang alim mencari solusi. Apakah seandainya warisan ini dibagi dengan semuanya rata akan menyelesaikan masalah? Nah, ini dia kadang-kadang akan menyebutkan kesalahan saudaranya, tetapi karena ini mencari fatwa, maka boleh seorang melakukan itu. Kemudian wujahirin fisqo, orang yang menunjukkan kesalahannya terang-terangan, tidak malu dengan tindakan salahnya, tidak disembunyi-sembunyikan, terang-terangan dia bermaksiat di depan orang. Sudah orang seperti ini kata para ulama la hurmatalah tidak ada<br \/>\n(40:52) kehormatannya dia sendiri yang menghinakan diri sendiri. Maka orang seperti ini kalaupun diucapkan atau disindir-sindir kesalahannya tidak apa-apa karena memang dia adalah orang yang melakukan dosa besar dan tidak malu untuk menyebutkannya. Baik.<br \/>\n(41:12) Dan yang terakhir waman tholabal ianata fi isalati munkar atau orang yang minta pertolongan untuk menghindarkan sebuah kemungkaran. Contohnya dia melihat ada orang diperkosa dan dia tidak mampu untuk menghadapi orang yang memperkosa. Ada tiga orang misalkan mabuk semua dan gede semua badannya. Maka dia bilang, &#8220;Eh, tolong saya. Saya tadi dari gang yang situ ada perempuan di perkosa.&#8221; Maka dia mencari dukungan orang lain.<br \/>\n(41:36) Dia perlu omongkan apa adanya. Lalu orang-orang akan berbondong-bondong untuk mengejar di tempat itu dan sampai ee apa orang-orang yang jahat itu bisa dihilangkan. Tetapi maksudnya ketika seorang menyebutkan sebuah contoh dan memang itu perlu disebutkan dengan terang-terangan dan itu merupakan aib, maka harus dilakukan agar ee tujuan yang lebih mulia bisa tercapai. Ini gibah yang dibolehkan.<br \/>\n(42:09) Nah, adapun yang bukan seperti itu, maka sudah sepantasnya ditinggalkan bahkan diboikot orang yang mengerjakan. Imam Muslim ee Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab beliau Al-Azkar, beliau pernah mengatakan sebuah nasihat indah. Beliau mengatakan, &#8220;Yambagi, liman sami gibata muslim anyaruddaha wazjur qilaha.<br \/>\n(42:36) &#8221; Sudah semestinya ketika seseorang mendengar ada saudara lainnya sedang mengghibahi, mempergunjing, membicarakan kejelekan saudaranya, hendaklah dia membantah, menolak, mengingatkan. Faillam yanzajir bil kalam zajarahu biyadihi. Kalau ternyata dia tegur dengan ucapan tidak main, tidak mampan, maka dia bisa memberikan teguran lebih keras dan tegas lagi. Eh, jangan begitu.<br \/>\n(43:09) Artinya dia berusaha sekarang untuk melakukan aksi. Jangan dan seterusnya. Kalau faillam yanzajir bisani wala bil kalam, sudah diingatkan dengan tangan, diingatkan juga dengan mulut, ternyata tidak selesai. Orang-orang tetap gibah dan asyik saja dengan ngobrolin orang lain. Farqalikal majelis. Dia berdiri dan tinggalkan majelis itu.<br \/>\n(43:33) Dan orang diharapkan akan nyadar, &#8220;Ini fulan kenapa pindah tadi? Dia duduk enak sama kita.&#8221; Oh, jangan-jangan karena kita mulai ngelantun membicarakan orang lain. Wah, ini luar biasa. Kalau seandainya ada orang bisa ingat ketika diingatkan kesalahan dia, giibah. Dan alangkah banyaknya kita ini sering lengah. Karena lidah ini anggota badan yang tidak bertulang. Sehingga sangat mudahnya dia berbicara.<br \/>\n(44:00) Ketika dia tidak bisa diam maka dia akan berbicara kalau tidak manfaat langsung bahaya. Jarang ada orang bisa bertahan dia ngomong yang mubah terus. Jarang sekali. Kebanyakan orang bisa terserempet dan terpeleset ke dalam yang haram. Maka Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan ee innahul lisan ini adalah lidah.<br \/>\n(44:25) Ee kalau seandainya kita tidak sibukkan dia dengan zikir kepada Allah maka dia yang akan menyibukkan kita dari sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan akan lebih merugikan daripada manfaatnya. Nah, maka ee ini kalau kita bisa praktikkan luar biasa. Dan terkadang kita pengajian, setelah pengajian langsung gibah.<br \/>\n(44:52) Bahkan masih di tempat yang sama di masjid. Orang gerombol sebelum berangkat dan ee bubar ternyata sempat-sempatnya mereka ngobrol, &#8220;Aina fulan?&#8221; &#8220;Ah, malas sudah kalau dia sekarang bing diajak ngaji enggak pernah datang misalkan.&#8221; Apa manfaat dan maslahatnya ketika dia menyebutkan kesalahan orang? Jika kalau kecuali kalau dia memang sebutkan itu karena dia tahu saudaranya ini bisa menasehati ya. Akan tetapi jika seandainya tidak seringkiali orang juga masuk ke dalam gibah.<br \/>\n(45:23) Baik ini hadis yang kedua dan hadis yang ketiga tentang orang bangkrut. Ya, orang bangkrut yang hakiki ini disebutkan seperti yang disebutkan dalam ee riwayat ini. Hamim riwayat Imam Ahmad, ta Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Dan hadis ini sebenarnya juga disebutkan dalam Sahih Muslim. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis Abu Hurairah, &#8220;Atadruna mal muflis.<br \/>\n(45:57) &#8221; Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu? Q innal muflisa min umti man yaumalqiamatiin wasamin waakatin waqama waqfa waakala ma hadza wasafaka hadza waba hadza. Dalam hadis ini langsung dikatakan jawabannya. Sesungguhnya orang yang ee bangkrut betulan dari umatku ini adalah orang yang pada hari kiamat datang dia membawa pahala salat, puasa, dan pahala zakat.<br \/>\n(46:35) Tapi sayangnya dia punya banyak dosa. Disebutkan dia datang pada hari kiamat sudah mencela kawannya, menuduh berzina kawannya atau merampas harta orang lain atau menumpahkan darah orang lain atau memukul dan menyiksa orang lain. Dalam riwayat disebutkan para sahabat mengatakan, &#8220;Ya Rasulullah, innal muflisa fina man la dirhama lahu wala mata.&#8221; Orang bangkrut itu orang yang enggak punya uang.<br \/>\n(47:06) Para sahabat mengatakan tidak dirham yang dia punya dan tidak pula dia punya barang lain. Itu orang muflis bangkrut yang memang tidak bisa ngapa-ngapain. Bahkan dikatakan pilit itu muflis dari pemahaman para sahabat. Tetapi Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan innal muflisa min umati. Hakikat seseorang yang betul-betul bangkrut dari umat ini adalah ah yang disebutkan hadis ini dan ini adalah kebangkrutan hakiki yang sejati.<br \/>\n(47:39) Orang bangkrut yang sejati yang pasti bangkrutnya. Karena kalau dikatakan yang disebutkan oleh para sahabat ya, bahwa kami menganggap ada orang bangkrut, orang miskin adalah orang yang enggak punya duit. Ya. Maka Imam Nawawi rahimullah mengatakan, &#8220;Orang enggak punya duit itu dia kalaupun nanti mati hilang sudah tidak punya duitnya itu.<br \/>\n(48:02) Dia pernah menjadi miskin di dunia mati selesai urusannya. Dia akan sama dengan orang kaya nanti di hari kiamat. Kondisinya sama sudah hanya nanti tinggal mempertanggungjawabkan amal waktu di dunia. Menjadi orang miskin, menjadi orang kaya. Ya, bahkan sebelum mati pun ada orang yang selesai masa kemiskinannya. Dia bisnis apa? Sukses, kaya dia.<br \/>\n(48:28) Sampai ada orang bilang kaya baru dan semacamnya. Tapi maksudnya kalau yang disebut muflis atau bangkrut adalah orang yang tidak punya harta, maka ini bukan hakiki. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, orang yang betul-betul muflis dan bangkrut serugi-ruginya hitungannya di akhirat. Orang yang datang membawa pahala yang banyak sekali. Ada pahala salat, zakat, sedekah, jihad, baca Quran dan seterusnya.<br \/>\n(48:55) Tapi diimbangi bahkan dikalahkan dengan dosa-dosa yang banyak dia bawa juga. disebutkan dia sudah menumpahkan darah, sudah menzalimi orang, menuduh, bahkan menyalah-nyalahkan, menyiksa dan bahkan banyak sekali tindakan yang merugikan orang lain. Membuat ramai, membuat rusak rumah, menghancurkan tanah orang, atau menjatuhkan orang dan seterusnya.<br \/>\n(49:27) Nah, nanti kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, dosa yang banyak ini dia bawa akan mengalahkan pahala yang dia bawa meskipun banyak. Maksudnya orang tadi ketika bawa pahala salat, pahala zakat, pahala sedekah, dan lain-lainnya, tapi dia juga sudah berbuat zalim kepada orang lain. belum sempat minta maaf sehingga nanti ee kebaikan-kebaikan yang dia miliki seperti pahala salatnya, pahala sedekah dan baca Al-Qur&#8217;annya, pahala doa dan mungkin tahajud maupun yang lain-lainnya diambil sedikit demi sedikit untuk diberikan kepada orang lain yang pernah<br \/>\n(50:15) dia zalimi di dunia. Ya, yang pernah dia zalimi di dunia. Kalau seandainya pahala dia enggak cukup untuk nebus, dia punya amal saleh banyak, tapi dia enggak kuat untuk bayar kesalahan-kesalahan dia karena pahala dia habis misalkan. Nah, ini disebutkan di sini fain faniat hasanatuhu. Jadi kebaikannya sudah habis semuanya.<br \/>\n(50:42) Maka dibalik orang yang dizalimi dulu diambil dosanya campakkan ke orang yang menzalimi selama di dunia. Sehingga dalam hadis ini disebutkan di hari kiamat akan ada yaumul hisab, hari pembalasan dan pada saat itu tidak ada yang dizalimi. Orang yang sekarang tidak bisa mendapatkan haknya pada hari kiamat dia akan mendapatkan haknya.<br \/>\n(51:10) Allah azza waalla tahu semua hitungannya tidak akan terlewat sedikit pun dan nanti akan ada peradilan yang selengkap dan adil-adilnya. ini menjadi kabar gembira untuk orang-orang beriman sekaligus ancaman untuk orang-orang zalim yang mereka tidak perhatian dengan alam akhirat. Maka ee di dalam riwayat ini disebutkan bahwa orang yang ee betul-betul bangkrut dia akan diambil ee kebaikannya untuk membayar orang-orang yang pernah dizaliminya.<br \/>\n(51:45) Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, maka akan diambil kesalahan dari orang yang pernah dizalimi, dicampakkan ke dia. Ee Al-Nawawi rahimahullah sempat menukil perkataan sebagian orang-orang sekte di dalam Islam yang pengin rusak dari dalam. Mereka mengatakan, &#8220;Kok bisa ada orang ingin menjambret pahala kebaikan seseorang yang lain hanya karena ada kezaliman yang dimiliki orang lain?&#8221; Artinya, bagaimana si B yang dizalimi di dunia ingin mengambil pahala apa namanya? Si A yang pernah menzalimi dia kok ternyata si A habis sudah kebaikannya, maka dia memiliki dosa-dosa. Dosa ini akan dicampakkan ke Si Bukankah ini bertentangan dengan<br \/>\n(52:37) firman Allah, wala taziru waziratun wizrah ukhra. Setiap orang tidak akan menanggung kesalahan dan dosa orang lain. Seolah-olah hadis ini bertentangan dengan ayat yang tadi. Akan tetapi jawabannya kata Imam Nawawi rahimahullah tidak kontradiksi. Ya, karena sikap zalim yang dimiliki oleh orang itu sampai akan membayar dengan pahala kebaikan. Bahkan dia akan ambil kejelekan dari orang yang dizalimi.<br \/>\n(53:08) Sebenarnya itu adalah ulah tangan dia juga. Nah, jadi ee menilai bahwa dia adalah orang yang tidak ee melakukan kesalahan tidak benar. dia justru melakukan kesalahan itu. Sehingga yang jelas ee ini merupakan ancaman untuk orang yang memang dia ee tidak berhati-hati. Dan kita tahu bahwa amal ini berarti ada dua model.<br \/>\n(53:41) Yang pertama sifatnya melakukan, menerapkan, dan menjalankan perintah. Yang kedua, sifatnya adalah meninggalkan larangan. Terutama jika larangan itu berkaitan dengan hak orang lain, maka kita harus berhati-hati agar tidak merampas wewenang atau hak orang lain. Karena nanti pada hari kiamat orang betul-betul akan ee diadakan perhitungan selengkap-lengkapnya.<br \/>\n(54:13) Jadi kalau ada orang yang pernah melalui atau pernah melakukan kesalahan, maka kesalahan ini akan dituntut. Ya, ketika itu kesalahan kepada Allah, Allah maha pengampun. Akan tapi jika seandainya kesalahan itu dimiliki oleh sesama manusia dan manusia atau orang itu tidak memaafkan kita, maka ini akan menjadi sebuah tuntutan pada hari kiamat. Orang yang bijak adalah orang yang berusaha untuk menjaga modal, bukan memikirkan untung saja.<br \/>\n(54:44) Sebagaimana kata Ibnu Qayyim, seorang yang arif atau cerdas kemudian ee memang dia memiliki pandangan jauh ke depan ketika membangun sebuah ee apa namanya? rumah atau istana bahkan apapun bentuk bangunannya dia akan lebih perhatian pada pondasi yang kokoh sehingga dia bangun atau orang lain akan membangun setinggi dan semodel apapun aman.<br \/>\n(55:11) Tetapi orang yang tidak cerdas kata Ibnu Qayyim lebih perhatian pada penampilan bangunan dibuat atasnya megah padahal bawahnya keropos. ini akan berbahaya, akan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Demikian pula seorang muslim ketika dia tahu bahwa sesuatu bisa mengancam pada hari kiamat.<br \/>\n(55:36) Kalau dia tidak hati-hati, maka dia perlu memikirkan modal sebelum memikirkan laba atau keuntungan. Apa manfaat kalau seandainya dia mendapatkan keuntungan banyak, akan tapi ternyata modalnya sudah keropos dan hancur. Semoga ini bermanfaat dan ee ini yang dapat kita pelajari. Wallahuam bisawab. was abdi nab Muhammad waa alihi wasbihi ajhamdulillahiabbil alamin Enam ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum. Afan ustaz ada sedikit gangguan teknis trouble di studio<br \/>\n(57:19) sehingga agak lambat untuk merespon. Baik ikhwat al islam azaniallahuakum. Kita akan membuka sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda semuanya akhwat Islam yang ingin bertanya seputar pembahasan Tal samping oleh beliau tentang bahayanya adut domba dan gibah. Anda bisa bertanya secara langsung di layanan telepon 0218236543.<br \/>\n(57:43) Kami informasikan Anda menghubungi melalui layanan telepon tidak menghubungi call WA. Dan bagi Anda yang ingin bertanya melalui tulisan Anda bisa kirimkan ke chat WA di 0218236543. Nah, kita angkat pertanyaan pertama. Mai telepon terlebih dahulu. kami persilakan bagi Anda yang telah terhubung ya. Silakan. Iya. Nah, Ustaz, kami mohon maaf kembali ada sedikit trouble dan kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung ya.<br \/>\n(58:47) Silakan. Ya, kami persilakan pada Anda untuk bertanya di 0218236543 ataupun Anda dapat kirimkan pertanyaan mulai chat WA di 0218236543. Baik, terputus. Kami angkat pertanyaan mulai chat WA chat WA yang sudah masuk. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ustaz, apakah ee termasuk tidak gibah jika seseorang menceritakan riwayat orang lain yang tujuannya jika ditawarkan, maaf berhubungan dengan pernikahan, jika ditawarkan kepada orang lain, maka orang tersebut menyampaikan informasi tentang orang tersebut. Apakah ini termasuk tidak gibah ataukah ini termasuk gibah, Ustaz? Silakan, Ustaz.<br \/>\n(59:56) Iya. Ini termasuk gibah, tetapi gibah yang ditoleransi dan dibolehkan. Ya, sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika didatangi oleh Fatimah binti Qais kalau tidak salah ya, Fatimah binti Qais ketika dilamar oleh Abu Sufyan dan Abu Jaham, maka Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Amma Abu Jaham fala yadu asahu anatiqih.&#8221; Abu Jaham ini orangnya tidak meletakkan tongkat dari pundaknya.<br \/>\n(1:00:25) disebutkan dalam tafsirnya artinya dia galak suka mukul atau dalam riwayat lain dikatakan dia selalu safar sehingga keluarganya sering ditinggal. Wa amma Muawiyah fasuk lah. Adapun Muawiyah dia miskin enggak punya duit. Nah, inkihu usamah kamu nikah sama Usamah aja gitu.<br \/>\n(1:00:49) Dan ini menunjukkan bahwa Muawiyah dan Abu Jaham sekalipun keduanya adalah seorang sahabat yang mulia, memiliki keistimewaan. Akan tetapi karena dibutuhkan maka seseorang boleh untuk menyebutkan kekurangan tersebut. Bahkan kalau kita punya istilah namanya mak jomblang atau perantara untuk pernikahan, dia harus menjadi orang yang amanah, bukan memiliki target yang penting.<br \/>\n(1:01:20) Jadi, karena nikah bukan untuk sehari dua hari, akan tetapi bagaimana seseorang tidak dikecewakan. Maka dalam buku fikih disebutkan kalau ada seseorang yang dikecewakan dengan pilihan gara-gara dia diperdaya oleh perantara. Katakan orangnya begini begini begini begini. Ternyata setelah dia oke terima dia kecewa karena tidak sesuai dengan ee yang disebutkan dan di ee iming-imingkan.<br \/>\n(1:01:46) Maka dalam pembahasan fikih dan ada hadisnya Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan dia boleh untuk menuntut kepada orang yang menawarkan tadi ya orang yang apa mengiming-imingi dia maka dia boleh kamu katakan bahwa Fulanah ini begini-begini atau Fulanah mengatakan kamu katakan katanya pelamar yang fulan ini gini gini ternyata enggak maka boleh dia mengambil ee apa atau menuntut orang yang menjadi perantara dan Ini seringki dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah.<br \/>\n(1:02:21) Ketika dia diminta untuk ee menjadi perantara, dia justru menyebutkan kebaikan-kebaikan saja. Disebutkan, &#8220;Wah, ini kayaknya yang paling pantas kamu dia hafiz, dia apa segala macam.&#8221; Dan nanti dikatakan hafidah segala macam. Ya, padahal hukum asalnya seseorang ketika akan menikah dia memang tertarik karena keistimewaannya.<br \/>\n(1:02:46) Tapi ada sisi kekurangan yang dia tidak ketahui. Bisa jadi ke depan menjadi sebab pecahnya ee beduk rumah tangga. Nah, kalau seandainya kekurangan itu sudah diketahui dari awal, maka dia bisa jadi akan terima dari awal dan siap-siap. Karena ini memang sudah disebutkan dan aku tahu bahwa ini adalah kekurangan seperti itu. Wallahuam bissawab. Enam ustaz. Jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum berikan ustaz.<br \/>\n(1:03:17) Dan kita akan angkat pertanyaan mulai telepon di 0218236543. Kepada Anda yang telah terhubung kami persilakan untuk bertanya ya. Silakan ya. Silakan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Umu dan berada di mana? Dari Umu Abdullah di Cikarang. Baik, Umu Abdillah. Silakan Um Abdillah. Asalamualaikum, Ustaz. Waalaikumsalam. Eh, jadi gini, Ustaz.<br \/>\n(1:03:46) Jadi saya ada umahad yang cerita ke saya kalau suaminya itu udah 2 tahun menjalin hubungan sama seorang janda. Nah, terus dia ceritanya meminta bantuan gitu ke saya, &#8220;Tolong apa tegur si janda ini,&#8221; katanya gitu. Tapi ee apa ee kata dia kalau yang yang udah-udah kalau yang negur si janda itu pasti diblokir katanya gitu.<br \/>\n(1:04:11) Terus kalau misalnya kan gini, jadi semua kita tuh udah pada tahu. Terus kalau misalnya kita saranin ee udah Om goog cara aja gitu, itu termasuk adu domba atau enggak. Terus kalau kita menceritakan ke orang-orang yang misalnya ee umahat lain ini umahat ini minta tolong dibantu gitu. Butegur si janda ini ee apa termasuk gibah juga.<br \/>\n(1:04:31) Jazakallah khair. Baik, terima kasih Abdillah wazakillah khairon. Dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan Ustaz. Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu<br \/>\n(1:06:06) 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keotentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis, kesalehan tidak cukup.<br \/>\n(1:06:51) Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Nak, Ustaz, kami kembali persilakan kepada Ustaz untuk menyampaikan jawaban. Silakan, Ustaz. Baik. Ee mohon maaf. Yang pertama kita sampaikan bahwa seringki pertanyaan tentang keluarga disampaikan tidak lengkap sehingga sisi yang ditampilkan ditanyakan tidak mewakili kondisi sesungguhnya.<br \/>\n(1:07:33) Maka jawaban itu juga seringki hanya global dan tidak mewakili semuanya, akan tetapi secara umum. Kedua, ketika disampaikan tentang fulanah fulan terjadi begini dan seperti itu, otomatis itu ada kekurangan. Dan saya yakin orang yang diceritakan masalah keluarganya akan tersinggung dan dia tidak suka. Maka itu masuk dalam gibah.<br \/>\n(1:08:00) Kalau seandainya ada orang berdalih, saya meminta tolong orang lain, maka apakah permintaan tolong itu kemungkinannya betul-betul akan mendapat jawaban atau hanya sekedar menyebar aib saja? Orang kadang-kadang mengatakan, &#8220;Saya pengin ceritakan kepada orang lain biar dia bisa membantu.&#8221; Tetapi tanpa mempertimbangkan yang lain. Bahkan kadang-kadang orang itu hanya berdalih saja.<br \/>\n(1:08:33) Sementara dorongannya adalah bercerita. Karena si Fulanah ini lebih kepada hubungan dekat dengan saya daripada dia sebenarnya bisa atau enggak saya untuk membantu. Atau mungkin dia mengatakan, &#8220;Saya kepikiran dengan urusan fulan. Akhirnya saya ingin bercerita biar saya tidak terlalu terbeban dengan urusan fulana dan seterusnya. Maka ini maksudnya khibah dan tidak termasuk yang dibolehkan.<br \/>\n(1:08:58) Ya, orang yang dibolehkan itu kalau dia meminta pertolongan yang kira-kira akan ee membuahkan hasil. Kemudian yang ketiga tadi yang disampaikan ee iya minta cerai gugat cerai saja ya. ini termasuk ee salah satu tahrid untuk permusuhan. Cerai adalah sikap yang disukai setan. Dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa setan ini akan mendapat posisi yang penting ketika berhasil menceraikan seorang laki dari pasangannya.<br \/>\n(1:09:37) Dan iblis akan mengangkat derajat dia, mendekatkan dan dipuji di depan bala tentaranya. Sehingga perceraian sangat tidak diharapkan. Bahkan minta cerai tanpa urusan syar&#8217;i merupakan hal yang ee dilarang. termasuk ketika seorang laki-laki menjalin hubungan dengan tujuan untuk berpoligami. Ini adalah hal yang diizinkan di dalam syariat.<br \/>\n(1:10:11) Ketika seorang istri tidak mau dimadu kemudian dia menutut cerai ditambah dengan hasutan kawan-kawannya agar dia menceraikan saja atau nuntut cerai khuluk dan semacamnya maka ini adalah hasutan dan akan menjadi aunan untuk setan. Ya. Maka ee langkah yang tepat jika seandainya ada ee suami yang memang ingin menjalin hubungan yang syari berpoligami, maka dia minta yang realistis.<br \/>\n(1:10:42) Boleh saja seorang wanita mensyaratkan dari awal saya mau nikah dengan antum dengan catatan tidak di poligami. Kalau seandainya akhirnya mempoligami, maka dia punya syarat. dia minta cerai kalau seandainya dipoligami. Nah, itu boleh.<br \/>\n(1:11:04) Tapi kalau seandainya tidak ada syarat seperti itu, maka dia menuntut itu adalah hal yang tidak dibenarkan di dalam syariat. Ee kemudian ee kita juga sering mendengar bahwa ketika ada keluarga yang berpoligami dan sukses, artinya sukses tidak terjadi apa-apa di dalam rumah tangganya. Semua tertib, pembagian lancar, perhatian tidak terkurangi, bahkan secara ee syar&#8217;i semuanya terpenuhi. Kekurangan otomatis ada, tidak ada yang sempurna.<br \/>\n(1:11:37) Akan tetapi pembahasannya ketika banyak mulai hasutan-hasutan setanul ins, setan-setan manusia, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa kamu bisa dimadu? Kamu kurang bisa untuk meladani, eh kamu ya mudah-mudahan kuat ya apa segala macam. Sehingga yang tadinya ee seorang ee apa namanya? Ibu rumah tangga sudah terima dan tidak masalah dengan syariat Allah, kembali terguncang dan akhirnya menuntut dan semacamnya.<br \/>\n(1:12:10) Secara syari-orang yang juga menuntut dia atau apa mempengaruhi untuk yang seperti itu juga dilarang. Bukan hanya sekedar masuk dalam gibah terlarang, akan tapi bahkan termasuk wallahuam termasuk mengompori untuk melakukan ee perceraian. Wallahuam bawab. Nah, Ustaz, jazakumullah khairan. Barakallahu fikum ustaz atas jam yang telah antum berikan ustaz. Demikian jawaban untuk muabidillah mudah-mudahan dapat diambil faedahnya.<br \/>\n(1:12:41) Islam azani allahu wyakum. Kita angkat kembali pertanyaan berikutnya di 0218236543. Kami pesan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan. Baik, terputus. Kami tunggu kembali kepada Anda semuanya. Baik, Ustaz. Kita angkat pertanyaan dari pesan singkat, Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ustaz, saya adalah seorang hamba Allah.<br \/>\n(1:13:16) Apakah menikahi seorang PSK termasuk perbuatan baik atau dibolehkan oleh agama Islam dengan tujuan agar dia mau bertobat? Ustaz, mohon Ustaz berikan penjelasan. Syukran. Jazakumullah khairan. Silakan, Ustaz. Baik. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Tunkahul maratu liar arba.&#8221; Seorang wanita dinikahi dengan empat faktor biasanya. Limaliha karena hartanya, walamaliha karena kecantikannya, walihasabiha karena jasa-jasanya atau latar belakang dan keluarganya. Walidiniha karena agamanya.<br \/>\n(1:13:59) Fadfar biddinat yadak. Pilihlah wanita yang memiliki agama baik, engkau akan beruntung. Lalu ada orang punya alasan untuk berdakwah. Dia ingin menikahi seorang wanita pezina. Kita katakan bisa jadi dia berhasil, bisa jadi tidak. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Pilih yang agamanya bagus.&#8221; Kenapa dia malah justru pilih orang yang jelas agamanya bobrok? Para ulama mengatakan bahwa ee seorang wanita, saya pernah mendengar pengajian di Masjid Nabawi, seorang masyaikh mengatakan seorang pasangan boleh menut cerai pasangannya dalam kondisi dua kondisi<br \/>\n(1:14:43) jelek. Yang pertama meninggalkan salat. Yang kedua melakukan perzinaan. Maka kalau dari awal saja orang justru menyerang dari sisi perzinaan. Saya cari orang yang ahli zina agar dia meninggalkan zinanya. Apa jaminannya? Nah, sehingga wallahuam ee yang dikhawatirkan dia akan terbawa. Bahkan ini dari awal juga sudah ee menyelisihi ajaran dan arahan Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk memilih seorang wanita yang ee memiliki agama yang kuat.<br \/>\n(1:15:24) Ketika seorang memilih wanita yang beragama baik saja, tidak ada jaminan bahwa dia bisa ideal dalam menonton maupun bekerja sama dalam rumah tangga, bertakwa kepada Allah. Bagaimana jika seandainya dia seolah menantang dan menganggap dia sudah cukup untuk ee menaklukkan seorang wanita yang penjajah badannya. Dalam hadis disebutkan ee ada seorang sahabat mengatakan, &#8220;Ya Rasulullah innamroati la tarudu yadalamis.<br \/>\n(1:15:59) &#8221; Wahai Nabi sallallahu alaihi wasallam, istriku ini tidak menolak ada sentuhan tangan orang. Sebagian ee yang menafsirkan hadis ini mengatakan istrinya suka bercanda dengan laki-laki lain. Kalau digodain dia menjawab. Ada yang mengatakan bahkan kalau seandainya diajak untuk berzina dia mau. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika mendengar seorang sahabat mengatakan demikian, beliau mengatakan thqha cerai saja.<br \/>\n(1:16:30) Apa manfaat seorang istri dia tidak menolak ajakan orang, dia sudah menjadi istrimu. Maka sahabat mengatakan, sahabat yang tadi, lakinni la asbiru anha, aku tidak kuat untuk berpisah darinya. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, ya sudah kalau gitu sabar saja. Sabar itu sudah terjadi dan sifatnya semacam keluhan.<br \/>\n(1:16:55) Lalu bagaimana seorang calon suami yang belum ada apa-apa tiba-tiba dia mengatakan saya akan nikah orang yang sudah kotor untuk yang seperti itu. Maka anjuran kita jangan sppekulasi ya. Fitnah dan syubhat kuat. Kita tidak menjamin keimanan kita yang bisa menaklukkan diri sendiri apalagi orang lain yang sudah jelas kekurang kekuatan iman itu. Wallahuam bissawab.<br \/>\n(1:17:27) Nam Ustaz, jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum berikan Ustaz. Dan pertanyaan dari pesan singkat yang telah kami sampaikan dan telah ustaz jawab adalah pertanyaan terakhir di perjumpaan kita malam hari ini, Ustaz. Dan sebelum kita akhiri perjumpaan yang penuh dengan faedah ini, kami mohon kepada kepada Ustaz menyampaikan iktitam.<br \/>\n(1:17:45) Silakan, Ustaz. Baik, kaum muslimin pemirsa Raja TV rahimana warahimakumullah. Di antara ciri ahlusunah yang tidak dimiliki oleh orang lain bahwa ahlusunah memiliki sifat tunduk, nurut, mengagungkan, dan menghormati dalil. Ketika mereka mendatangkan Al-Qur&#8217;an dan hadis dan pemahaman dari para ulama salafus saleh, mereka terima dengan lapang dada dan mereka siap untuk nurut dan mengikuti. Ini yang mahal.<br \/>\n(1:18:34) Kita akan dapati bahwa sebagian besar sekte dalam Islam yang tersesat, mereka juga berdalil dengan Al-Qur&#8217;an dan hadis. Akan tetapi ketika seseorang tidak mengindahkan atau tidak menghargai Al-Qur&#8217;an dijadikan semacam bahan untuk dikritisi. Hadis pun demikian ditarik ulur sesuai dengan kemampuan akal dan hawa nafsu. Maka ini yang membedakan ahlusunah dari mereka.<br \/>\n(1:18:59) dari sejak zaman para ulama salafus saleh kemudian tabiin dan tabiut tabiin ulama empat mazhab dan seterusnya selalu ada saja orang-orang yang akan menjadi musuh dari agama ini. Mereka berdalil dengan dalil akan tetapi rupanya hawa nafsu lebih mengalahkan mereka. Maka ahlusunah memiliki ciri khas mengagungkan wahyu mengikuti dalil.<br \/>\n(1:19:28) mempelajari untuk diikuti bukan untuk ditentang. Satu nukilan menjadi penutup kita pada malam hari ini. Abu Nuaim dalam kitab Hilyatul Auliya menukil dari biografi Al Imam Assyafi&#8217;i rahimahullah ketika beliau suatu saat ditanya oleh seseorang tentang masalah hukum dalam syariat. Beliau mengatakan qada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kad waz.<br \/>\n(1:19:53) hukum Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk masalah ini seperti ini, seperti ini. Ternyata orang tadi mengatakan, &#8220;Wa anta ma qul?&#8221; Kalau pendapat antum wahai Imam Abu Abdillah bagaimana? &#8220;Wahai Imam Syafi&#8217;i, antum bagaimana pendapat antum?&#8221; Maka Imam Syafi&#8217;i marah. Beliau mengatakan, &#8220;Aturani fi kanisain au fi saumaatin au ala wasunar.&#8221; Kamu lihat memang aku ini pakai pakaian uskup.<br \/>\n(1:20:22) Kamu memperhatikan saya sedang di luar masjid atau bahkan di tempat ibadah orang-orang nonmuslim. Kamu melihat seperti itu. Apakah kamu menyangka saya menyampaikan hadis ternyata saya punya pendapat lain yang tidak sejalan. Ini tidak bagus dan ini pendapat yang berbahaya. Ya, artinya al Imam Syafi&#8217;i rahimahullah marah karena orang tadi seolah-olah menjadikan bahwa hadis itu pendapat pendapat Imam Syafi&#8217;i adalah pendapat yang lain.<br \/>\n(1:20:59) Ini bukan karakter dari sikap para ulama. Mereka ketika menyebutkan sebuah hadis, mereka siap untuk membangun pendapat mereka di atas dalil itu. Maka kita sebagai kaum muslimin dan individu ahlusunah sudah sepantasnya mengikuti kebiasaan para ulama. Mudah-mudahan kita mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa taala untuk selalu istiqamah di atas sunah. Wallahuam bawab.<br \/>\n(1:21:22) Wasallallahu wasallam wabarak ala abdihi wa rasulihi nabiyina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla ant. Nam ustaz jazakumullah khairan barakallah fikum atas waktu yang telah antum berikan ustaz di malam hari ini dan juga mat materi yang telah antum sampaikan serta jawaban-jaban yang telah antum berikan untuk kita semuanya.<br \/>\n(1:21:47) Kami mengucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa menjaga antum di sana dan keluarga antum. Dan juga semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memberikan keluasan ilmu sehingga semakin banyak faedah ilmu yang dapat kita ambil di setiap perjumpaan bersama antum. Insyaallah. Allahum amin.<br \/>\n(1:22:06) Dan juga untuk rekan-rekan kami semuanya K Roja Calangsi dan rekan-rekan kami lainnya yang telah menghadirkan acara ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin. Atas kerja samamanya kami ucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan barakallah fikum.<br \/>\n(1:22:23) Untuk Anda semuanya ikhwatal Islam, azani Allahu wyakum yang telah membersamai kami dari awal hingga akhir dari acara ini. Kami ucapkan terima kasih banyak atas persamaan Anda. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum. Nantikan kembali kajian beliau insyaallah pada hari Kamis yang akan datang dalam pembahasan kitab Sahih Aljamius Shaghir yang insyaallah kita akan ikuti kelanjutan pembahasan yang akan beliau sampaikan.<br \/>\n(1:22:40) Akhir kalam kami sampaikan kepada Anda semuanya di malam hari ini. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa taala agar diberikan keberkahan dan semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan bagi kita mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Billahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keutentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis, kesalehan tidak cukup. (00:27) Saksikanlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3713","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keutentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis, kesalehan tidak cukup. (00:27) Saksikanlah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:47:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:48:00+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"39 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/\",\"name\":\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:47:59+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:48:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keutentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis, kesalehan tidak cukup. (00:27) Saksikanlah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:47:59+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:48:00+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"39 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/","name":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:47:59+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:48:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-7\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3713"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3713"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3713\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3714,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3713\/revisions\/3714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}