{"id":3737,"date":"2025-11-27T20:51:52","date_gmt":"2025-11-27T13:51:52","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3737"},"modified":"2025-11-27T20:51:53","modified_gmt":"2025-11-27T13:51:53","slug":"ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/","title":{"rendered":"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/7zq7vYVXWeY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Tu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah Roja TV bagi Anda para pemirsa Raja TV. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(01:03) Alhamdulillahiabbil alamin wabihi nastainu umid dunya waddin wasalatu wasalam ala asofiliya wal mursalin waa alihi wa ashabihi waman tabiahumin yaumiddin amma ba ikhwat Islamakumullah sahabat raja alhamdulillah di kesempatan Senin pagi yang berbahagia ini kembali kita akan simak bersama program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab aljannatu wanar menuju Negeri Abadi dengan tema nikmat surga disampaikan oleh guru kita Ustaz Ali Nur hafidahullah dari Kota Medan, Sumatera Utara. Nam ikhwat Islamakumullah.<br \/>\n(01:43) Seperti biasa setelah penyampaian materi silakan nantinya Anda dapat bergabung bersama kami untuk bertanya seputar pembahasan di line telepon 0218236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543. Berikut kita akan simak penjelasan materi yang akan disampaikan.<br \/>\n(02:09) Selanjutnya kita persilakan kepada al ustaz falatafadol masyukur. Ustaz asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wain&#8217;uhu wastagfiruh wa naudubillahi min syururi anfusinaatialina may yahdihillah fahual muhtad wam yudlil falan tajida lahu waliyan mursyida. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh alladzi la nabiya ba&#8217;dah. Waq Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(02:47) Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih w tamutunna illa wa antum muslimun. Waqq ya ayyuhalladina amanutqulah waquulu sadida yuslih lakum aalakumagfirakumunubakum whaasulahu faq fauzan. Ya ayyuhanqubakumulladziqakum min nafsin wahidah walaq minha zaujaha w minhuma rijalan wattaqulahalladziasal bihi wal arham inallahaanaanaikumqib amma baqal had kitabullah wir had muhammad shallallahu alaihi wasallam umur muhatu wa muh Kaum muslimin, kaum muslimat, para pemerhati Raja TV dan pendengar Radio Roja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(03:52) Alhamdulillah kembali kita bertemu dalam kajian menuju negeri abadi yang kita ambil dari kitab Aljannah wanar. yang pertemuan lalu kita sudah memasuki pembahasan terkait dengan ee keutamaan ataupun keistimewaan nikmat surga jika dibandingkan dengan nikmat dunia. Kita sudah tahu, ikhwah bahwasanya manusia itu lebih suka dengan hal-hal yang nampak di depan mata dia.<br \/>\n(04:33) Dia lebih tertarik dengan suatu hal yang nampak ada di hadapannya ketimbang dengan sesuatu yang masih ee janji apalagi yang belum pernah dia lihat, belum pernah dia saksikan. Oleh karena itu, Ikhwah, keyakinan seorang untuk menggapai surga itu sangat kuat sekali terkait dengan keimanannya terhadap iman terhadap hari akhirat. Oleh karena itu, keinginan dia untuk beramal saleh, keinginan dia untuk meraih surga itu sangat kuat sekali kaitannya dengan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa taala menyebutkan dalam Al-Qur&#8217;an<br \/>\n(05:24) tentang bagaimana nikmat surga dan bagaimana pula nikmat dunia. Membandingkan antara nikmat surga dengan nikmat dunia yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan. Gunanya apa, Ikhwah? agar kaum muslimin semakin kuat keyakinannya untuk mendapatkan surga itu. Kemudian ee sayangnya banyak manusia itu lebih suka dengan dunia.<br \/>\n(05:57) Makanya Allah Subhanahu wa taala balsirunal hayatad dunya. Kalian lebih mengutamakan dunia ketimbang akhirat. Padahal wal akhiratu khairu wa abqo. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Semua kaum muslimin yakin bahwasanya ada yang namanya kampung akhirat dan itu adalah kampung yang kekal yang kenikmatannya jauh lebih luas, lebih ee luar biasa ketimbang nikmat dunia.<br \/>\n(06:34) Tetapi tentunya keimanan ini bertingkat-tingkat. Kemudian Allah Subhanahu wa taala menyebutkan kita kepada kita bahwasanya nikmat dunia itu sangat sedikit. Mataud dunya qolil. Kenikmatan dunia itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan kenikmatan surga. Jika dibandingkan kenikmatan akhirat yang akan diterima oleh seorang yang mukmin atau orang-orang yang mukmin.<br \/>\n(07:06) Allah menyebutkan dengan kalimat sedikit dalam sebuah ayat Allah Subhanahu wa taala famaulyat dunya fil akhirati illa qil. &#8220;Tidaklah kenikmatan dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya sedikit.&#8221; Artinya perbandingannya itu terlalu bahkan sangat jauh. Sedikit sekali perbandingannya. Ya, mungkin para ikhwah masih ingat bagaimana Allah Subhanahu wa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membandingkan tentang dunia dan akhirat, yaitu bagaikan seorang mencelupkan tangannya di lautan luas.<br \/>\n(07:52) Mencelupkan tangannya di lautan luas. Kemudian air yang menempel di tangan ini itulah nikmat dunia. sisanya lautan dunia, samudera luas, itulah nikmat akhirat. Kita bisa tak bisa kita bayangkan perbandingan itu ya. Tak bisa kita bayangkan. Kita lihat poin yang kedua ya. Poin kedua. Hua afdolu min haitun na. bahwasanya nikmat surga itu lebih afdal, lebih baik dari sisi jenis.<br \/>\n(08:28) Faysabu ahlil jannati. Maka penduduk surga akan diberi ganjaran yaituum afdal mimma fid dunya. Sungguh mereka akan diberi balasan yaitu berupa makanan mereka. Minuman mereka, perhiasan mereka, rumah-rumah mereka itu jauh lebih afdal, lebih utama, lebih mahal, dan lebih-lebih yang lainnya ketimbang apa yang telah mereka miliki semasa di dunia. Balla wajha lil muqaranati.<br \/>\n(09:09) Bahkan tidak bisa dibandingkan, tidak ada sisi pembandingnya. Ya, saking jauhnya antara nikmat surga dengan nikmat dengan nikmat dunia saking jauhnya tidak ada sisi pembandingnya. Ikhwah, kalau seorang membandingkan seorang membandingkan kecantikan wanita A dengan kecantikan wanita si B, dia katakan, &#8220;Wanita ini lebih cantik dibandingkan wanita B.<br \/>\n(09:41) Wanita ini lebih mempesona dibandingkan wanita B. Seorang membandingkan ketampanan seorang laki-laki dengan ketampanan laki-laki yang lain, maka dia katakan lebih tampan si A ketimbang si B. Demikian dan itu ada derajatnya, tapi ada sisi pembandingnya. Tetapi kalau seorang mengatakan si fulan itu lebih ganteng dibandingkan monyet, maka kita katakan ini bukan pembandingan ya. Itu bukan pujian juga.<br \/>\n(10:16) itu bahkan sebuah penghinaan karena dia membandingkannya dengan hewan. Demikian ikhwah rahimullah wyakum. Jadi dunia dengan akhirat itu memang enggak bisa dibanding-bandingkan sebenarnya ya. Tapi Allah Subhanahu wa taala menyebutkan ikhwah supaya manusia itu paham dengan paham dengan bagaimana sebenarnya bagaimana hakikat daripada surga itu.<br \/>\n(10:40) Prinsip awalnya sudah sering kita sebut-sebut ya. Sebagaimana ee sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang surga. Surga itu maa ainun roat. Di mana surga itu tak pernah terlihat oleh mata. Wala uzunun samiat tidak pernah terdengar oleh telinga. Wbilar bahkan tak pernah terbetik dalam hati. Jadi ikhwah kalau dia tak pernah terlihat oke tak pernah terdengar okelah masih bisa kita bayang-bayangkan.<br \/>\n(11:20) Tetapi kalau sampai tak terbayang ah itu dia ikhwah. Artinya kan daya nalar manusia itu belum sampai untuk memikirkan bagaimana nikmat surga itu sendiri. Sakin terlalu tingginya nikmat tersebut. Demikian kalaupun ada nama-nama yang sama seperti Allah Subhanahu wa taala menyebutkan, fihima fakihatun wa nakhlun wa rumman. Sungguh dalam dua surga itu terdapat ee buah-buahan, terdapat ee nakhl, terdapat kurma, terdapat delima.<br \/>\n(12:03) Jadi di surga itu ada kurma, ada delima. Tuh terbayang kitalah ee kurma dan delima yang ada di di dunia. Karena kita hanya bisa menggambarkan satu kata dengan suatu lafaz dengan makna yang pernah kita lihat. Ya, kita hanya bisa membayangkan satu lafaz dengan makna yang pernah kita lihat. Demikian ikhwah rahimani wyakum.<br \/>\n(12:39) Makanya ketika kita mendengar kurma, kita mendengar delima, maka terbayang kitalah kurma dan delima. satu bentuk kurma dan delima. Dari mana bayangan-bayangan itu? Sesuatu yang pernah kita lihat, yang pernah kita saksikan. Permasalahannya adalah delima itu merupakan unsur nikmat yang ada di surga. Demikian juga ee kurma yang ada salah satu nikmat dalam surga.<br \/>\n(13:06) Adapun semua yang di surga ini wala khatar ala qalbil basyar tak terbayang dalam benak. Nah, itu gimana kira-kira ikhwan? Itulah sangin apa namanya ee di samping nilainya sangat sedikit, jenisnya juga enggak bisa dibandingkan. Demikian ikhw rahimahullah wyakum ya bal la wajha lil muqarani. Bahkan tidak bisa dibandingkan tidak ada pembanding.<br \/>\n(13:35) Ya q ibnu taimiyah rahimahullah ya. Naimul jannah lausbihun naimud dunya. La fil asma la illa fil asma. Nikmat surga sedikit pun tidak menyerupai nikmat dunia. Illa fi asma. Hanya namanya saja yang sama. Amal hqinahuma minar. Adapun yang hakikatnya, perbandingannya terlalu jauh yang tak yang tidak bisa ditakar, tidak bisa diperkirakan oleh seorang manusia.<br \/>\n(14:22) Jadi hanya nama saja. Jadi ikhwah kalau kita membaca membaca dalam Al-Qur&#8217;an, membaca dalam hadis di saat Allah Subhanahu wa taala menceritakan tentang bagaimana nikmat surga, bagaimana tentang buah-buahan surga, bagaimana tentang minuman-minuman surga, bidadari-bidadari surga, ee istana-istana surga, pohon-pohon surga. Demikian juga Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menceritakannya ya.<br \/>\n(14:46) Maka selama dia masih terbayang di benak kita, ketahuilah hakikat surga itu tak seperti itu. Ya, ketahuilah bahwasanya hakikat surga itu tak seperti itu. Kita sudah bahas terkait dengan misalnya ee ketika Allah subhanahu wa taala menceritakan tentang ee apa ya? Sungai sungai surga ya kan. Sungai surga itu ada sungai khamar ya.<br \/>\n(15:16) Khamar yang disebut ladzat lisyaribin. Ada yang sangat ee lezat untuk diminum. Yang kata Allah la yusaddauna anha tidak akan buat pusing. Wala yunzafun tidak akan buat mabuk. Allah juga menyebutkan fiha anharum labanin dalam di surga itu ada ee sungai sungai susu lamag tidak akan berubah rasanya.<br \/>\n(15:49) Kemudian sebutkan juga di dalam surga itu ada nahr asl musoffa, ada sungai madu yang murni tanpa campuran. Satu lagi, alma al asin. Maul asin. Sungai yang ter dari di dalamnya ada air yang yang segar. Ikhwah, empat sungai ini air segar, kemudian khamar, sungai susu, sungai apa lagi? Satu lagi sungai. Sungai air segar, sungai khamar, sungai susu, sungai madu. Kita terbayang tuh ya.<br \/>\n(16:23) Kita terbayang kan? Kita terbayang bagaimana sungai susu, terbayang kitalah bagaimana sungai madu, terbayang kitalah bagaimana sungai khamar. Karena apa? Karena kita pernah melihat sungai, pernah melihat yang namanya sungai, pernah kita lihat yang namanya susu. Yang pernah kita lihat paling sungai yang isinya air yang mengalir. Kita gantilah sungai air itu.<br \/>\n(16:47) Kita bayangkan yang ngalir itu susu. Kita bayangkan yang mengalir itu adalah madu. Kita bayangkan yang mengalir itu adalah khamer. Demikian kita bayangkan. Tapi apakah begitu secara hakiki? Tidak. Terus mengapa kita bisa membayangkan? Kita hanya bisa membayangkan sesuai dengan apa yang pernah kita saksikan langsung. Demikian.<br \/>\n(17:14) Makanya input data kita akan membayangkan kepada kita sesuatu yang pernah kita saksikan. Dan surga tak seperti itu. Selama dia masih terbetik dalam hati, surga tak seperti itu. Makanya Syaikhul Islam Ibim mengatakan illa fil asma. persamaannya itu hanya di nama. Adapun hakikatnya jauh berbeda, tidak sama, bahkan tidak bisa ditakar oleh pikiran manusia.<br \/>\n(17:39) Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah, apa kata beliau? Lauad dunya biasrihajulin tummaana kaahu lam yarqun. Seandainya seorang itu diberi dunia dan seisinya, bayangkan dunia dan seisinya, ikhwah, belum ada orang yang diberikan dunia dan seisinya. Ada sebagian kecil. Siapa nih orang terkaya sekarang ini? Ah, itu hanya sebagian kecil dari dunia, ya.<br \/>\n(18:08) Apabila seseorang diberi dunia dan seisinya kemudian dia mati dalam keadaan seperti itu, maka kalau dia bawa dunia dan seisinya itu nanti di hari akhirat, maka seolah dia enggak mendapatkan kebaikan sedikit pun. Bayangkan ikhwan, dunia seisinya di akhirat gak laku. Apa kata Ibnu Qayyim? Al jannatuirum minad dunya nauan waqron.<br \/>\n(18:35) Sungguh dunia itu ee sungguh surga itu jauh lebih baik. Baik dia daripada nikmat dunia. Baik dari sisi jenis apalagi jumlah. Demikian ikhwah rahimani Allahuikum. Itu ungkapan Ibnu Qayyim ini. Beliau ingin apa ya ungkapan yang terbaik yang bisa mencakupi dari sus segala aspek.<br \/>\n(19:01) Beliau menyebutkan mengungkapkan dengan seperti ini ya. Apa tadi? Seandainya seorang diberikan dunia dan seisinya, ya dunia dan seisinya, maka kalau dia dibandingkan dengan surga, orang ini seperti belum dapatkan kebaikan sedikit pun. Artinya kalau dia bawalah itu nanti nikmat-nikmat dunia seisinya nanti di akhirat ke surga, orang menganggap dia enggak punya apa-apa. Bayangkan ikhwah, itulah dia.<br \/>\n(19:26) Sementara belum pernah ada manusia yang mendapatkan dunia dan seisinya. Kita lihat lagi bagaimana kata Imam Nawawi. Para ulama sepakat bahwasanya nikmat surga itu jauh lebih baik ketimbang nikmat dunia. W fiha dan yang di dalamnya. Dan sesungguhnya nikmat surga itu bukan sejenis dengan nikmat dunia. Imam alqurtubi rahimahullah pernah mengatakan, &#8220;Lau laam yakun fil jannati illa al amanu minal maut.<br \/>\n(20:12) &#8221; Seandainya di surga itu tidak. Ini ini seandainya ya Imam Al-Qurtubi memberikan seandainya seandainya nanti di surga tidak ada nikmat apapun kecuali enggak mati. Itu aja. Saya ulangi Imam al-Qurtubi ingin apa? mengekspresikan bagaimana nikmat surga itu. Apa kata beliau rahimahullah? Seandainya di surga itu tidak ada nikmat apapun selain enggak mati, itu aja. Jadi orang masuk surga enggak mati. Yang lebihnya enggak ada. Enggak ada nikmat yang lain.<br \/>\n(20:42) Ini seandainya ini saya ulangi. Seandainya penduduk surga itu diberi nikmat hanya tak meninggal selainnya enggak ada nikmat-nikmat yang lain. Lakana dalalika naiman yafuquud dunya. Sungguh nikmat enggak meninggal itu itu sudah melebihi seluruh nikmat dunia. Fakaifa bimaallahu fiha ma yuqadir ma yuqadir qadr lantas bagaimana lagi kalau seandainya sudahlah dia tak meninggal ditambah dengan nikmat-nikmat yang lain yang tak bisa ditaksirat ikhwah masyaallah Imam Qurtubi memberikan perbandingan ini semua ikhwah<br \/>\n(21:25) para ulama itu ingin agar kita itu yakin dengan nikmat surga itu. Bagaimana nikmat surga itu? Sebab dia tak terbayangkan ya. Sebab dia tak terbayangkan dan mereka ingin paling tidak ada pendekatanlah pendekatan definisi itu. Demingat ikhwah tiga tiga ulama memberikan tiga empat eh empat para ul empat ulama memberikan empat pendikat pendekatan. Kalau Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Nah itu hanya sama namanya saja.<br \/>\n(21:56) &#8221; Nah, demikian hakikatnya jauh beda. Sebutkan hanya nama ya. Karena banyak kan kita lihat ada persamaan nama seperti bidadari, buah-buahan dan lainnya. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan yaitu kalau seorang mendapatkan dunia seisinya kemudian dia dia ya bawalah itu ke surga ini orang enggak dapat apa-apa. Diaanggap enggak punya apa-apa. Bayangkan, Ikhwan. Kemudian Imam Nawawi mengatakan gak bisa itu beda, beda, beda nikmat ya.<br \/>\n(22:23) Beda nikmat seperti yang kita katakan tadi. Misalnya si fulan wajahnya tampan. Si monyet kan juga wajahnya juga punya. Mungkin di antara monyet itu mereka ada yang lebih tampan mungkin ya di antara para monyet. Tapi kan bentuknya beda ya, beda jenis. Kemudian Imam Al-Qurtubi juga mengatakan ini beri pendekatan yang lebih lagi ikhwah.<br \/>\n(22:49) Kalau di surga itu tidak ada nikmat yang lain kecuali hanya tidak tidak meninggal. Sungguh itu saja nikmat sudah cukup melebihi nikmat dunia dan seisinya. Konon lagi ada nikmat-nikmat yang lain yang Allah siapkan untuk penduduk penduduk surga. Ikhwah ya kita kembali kepada kitab fnahu maudius fil jannahirun minadun w fiha. tempat tempat cambuk penduduk surga ya tempat gandungan cambuk lah ya kan biasa kan cambuk itu ada cantolannya ya kalau bisa kan biasanya kita cantolan itu paku kali ya ya ada paku dicantolin tuh supaya cambuknya bisa nyantol atau mungkin ada tempat cantolan khusus<br \/>\n(23:32) kita enggak tahu yang mana ini jenisnya intinya bukan cambuknya loh hanya tempat cantolannya ya hanya tempat cantolan cambuk Itu saja lebih mahal ketimbang dunia dan seisinya. Allahu Akbar. Gimalah kira-kira dari apa tuh cantolannya itu cantolan bukan ingat bukan cambuknya cantolannya aja tempat nyantol tempat menggantungkan cambuk tempat apa akulah namanya.<br \/>\n(24:08) Entah apalah kita lihat entah apalah kira-kira itu saja harganya lebih mahal ketimbang dunia seisinya nilainya lebih tinggi ketimbang dunia seisinya wafi sahihil bukhari wa muslim an abi hurairat radhiallahu anh dari Abi Hurairah radhiallahu anhu qala dia berkata qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bersabda, jntiirun minadun wha.<br \/>\n(24:44) Sungguh kata beliau, tempat menggantungkan ee cambuk penduduk surga itu lebih mulia, lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya. Makanya ikhwah enggak bisa dibayangkan ya terbuat dari apa rupanya kita enggak tahu. Tak bisa dibayangkan ya. Itu masih tempat gantungan cambuk. Gimana dengan cambuknya? Demikian. Terus cambuknya terbuat dari apa? Allahuam.<br \/>\n(25:18) Yang jelas kalau cantol tempat cantolannya tempat menggantungkan cambuk saja lebih mahal ketimbang dunia dan sisa seisinya. Apalagi cambuknya. Itu masih cambuk, Ikhwah. Kalau kita punya cambuk di rumah, apakah memang itu yang paling mahal harta kita? Kan tidak ikhwah. Masih ada sofa, masih ada tab, masih ada HP, masih ada apalagi? Masih ada furnitur yang bahkan rumah itu sendiri jauh jauh bahkan sangat jauh lebih mahal ketimbang cambuk.<br \/>\n(25:47) Demikian ikhwah ya. Artinya kan kalau kita bandingkan dengan cambuk di dunia itu kan satu hal yang bukan mahal-mahal sekali. Artinya semua orang bisa memilikinya. Demikian ikhwan semua orang bisa memilikinya. Bukan harta seorang yang paling berharga. Ah demikian juga di surga. Cambuk itu bukan bukan harta yang paling berharga ya milik yang kalau bahasa anak-anak sekarang. Ah itu hanya recehlah. Kira-kira gitulah ikhwah. sesuatu yang receh.<br \/>\n(26:21) Demikian ya, apalagi tempat cantolan cambuknya, tempat ee nyangkut menggantungkan cambuknya. Tapi begituun benda yang sangat remeh-temeh di surga ya itu jika dibandingkan dengan dunia. Belum ada apa-apanya dunia ini, Ikhwah. Begitulah ikhwah rahimakumullah wyakum. Ya, hadis diriwayatkan dalam kitab Mkatul Mashaih. Dan hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kita lihat lagi hadis yang lain.<br \/>\n(26:49) Bagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membandingkan antara dunia seisinya dengan dengan surga. Wafil hadisil akhori alladzi yarwihi albukhariyu wal muslim. Alladzi yarwihi albukhari wa muslim. Ada hadis yang lain di dalam hadis yang lain yang juga diriwayatkan oleh Imam albukhari dan imam dan Imam Muslim an Abi Hurairah radhiallahu anh dari Abi Hurairah radhiallahu anhu qala dia berkata qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam laqusin laqusi ahadikum minal jannatiirun mimma alam kata beliau Sungguh<br \/>\n(27:38) qoba qaus qoba itu ikhwah memang dalam bahasa Arab ini masyaallah kosakatanya tuh kaya sekali sehingga setiap benda ada nama-nama detailnya ya. Kita tahu kaus. Kaus itu kan busur ya. Kaus itu busur. Busur ini ada qobanya. Ada qobanya. Ada maqbadnya. Ada ada senarnya. Demikian ikhwah. Jadi kalau qoba ini, qoba ini yaitu ee dari mulai kita tahu bentuk busur ya.<br \/>\n(28:15) Bentuk busur kan begini ya. Ya, lebih kurang beginilah dia tempat kita pegang busur itu tengah-tengah tuh biasanya tuh ya di tengah-tengah busur tempat kita pegang. Biasanya kan yang megang tangan kiri nih yang tangan kanan menarik menarik anak panah. tempat pegangnya itu dari tempat pegangnya sampai ke ujung busur ke ujungnya itu namanya qobah ya qobah berarti dalam satu busur ini ada qobaini ada dua qop qoba atas dan qoba bawah ah demikian itu itu namanya qabah menunjukkan sebuah apa namanya kalau dalam bahasa Arab itu jarak lah tapi jarak yang sangat dekat sebagaimana yang Allah Subhanahu wa taala pernah sebutkan<br \/>\n(29:02) dalam qira surat An-Najm ketika Allah subhanahu wa taala menceritakan tentang bagaimana dekatnya dekatnya Rasul sahu alaihi wasallam dengan Ibrahim eh dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Fakana qoba qausaini a adna. Fakana qoba qausaini ana.<br \/>\n(29:27) Di mana pada waktu itu Jibril posisinya dengan Rasul itu sangat dekat. sedekat busur atau lebih dekat lagi daripada busur. Satu busur kita ee wallahuam berapa standar busur orang dahulu? Apakah semeter ataukah semeter 25 cent? Kita enggak tahu. Ee Allahuam. Intinya kan gak ada orang yang pegang busur sampai 5 m tuh enggak ada ya. Gak ada juga dia punya busur sampai 3 m gimana dia bawanya. Umumnya busur itu semeter, 1 m atau 1 m 25 mungkin.<br \/>\n(29:55) Mungkin ya mungkin. Tapi intinya lebih kurang demikianlah ikhwah. Dan sebegitulah jarak antara Rasulullah wasam dengan Jibril alaihi salam. Fakanaqa qoba qusaini a adna di sebutkan qosa a adna atau lebih dekat lagi daripada qoba kausain tadi itu ikhwah rahimunallahu wyakum ya.<br \/>\n(30:19) Rasulullah menyebutkan ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan walaqusi ahadikum minal jannati sungguh qoba busurnya kalian sungguh qoba apalah namanya dalam bahasa Indonesia yaitu sudahlah kita namakan qoba aja lah ya qoba ingat qoba itu dalam busur dari mulai tempat pegangan sampai ujungnya baik ujung atas maupun ujung bawah itu qoba namanya berarti satu busur tu ada dua Qoba ya. Sungguh qobanya penduduk surga.<br \/>\n(30:50) Berarti kan setengah busur ini ya. Setengah busur. Sungguh qobanya salah seorang kalian di surga kohairun mimma tholaat alaiyams. Itu lebih baik ketimbang dunia yang disinari oleh matahari. Demikian ikhwah. Karena memang kalau dunia itu tak tersinar, matahari kan lebih redup, Ikhwah. Ya, beda dengan yang disinari oleh matahari.<br \/>\n(31:21) Matahari cerah sehingga semua pun bisa cerah. Kemudian yang Pak Tani mulai dia membajak sawah. Ah, demikian ikhwah bisa bekerja jika dibandingkan kalau hujan. Ya. Ya. Di sini ee Rasulullah mengibaratkan ya dalam cuaca yang cerah, matahari yang terbit, bukan matahari yang mendung.<br \/>\n(31:45) Demikian ikhwah, sungguh qobanya penduduk surga itu lebih baik ketimbang dunia di saat terbitnya matahari. Dan dunia di saat terbitnya matahari itu cukup indah, Ikhwan. Ya, Tib. Hadis ini tadi diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kita lanjut. Kita lanjutkan lagi. Waqorana waqorana nisau ahlil jannah binisaid dunya. Lantas Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membandingkan antara wanita surga dengan wanita dunia.<br \/>\n(32:26) Demikian ikhwah, wanita surga dengan wanita dunia. Karena kan ikhwah, kenapa wanita tidak laki-laki. Laki-laki itu kan pemimpin. Salah satu keindahan dunia itu dengan adanya wanita dan anak-anak dan harta benda. Seperti ayat yang sudah kita baca di pertemuan lalu hubbusahwat minanisa walinq minhabiil musalami manusia itu dihiasi dihiasi pada diri manusia itu kecintaan, kesukaan, kecenderungan pada wanita, anak, anak, harta, benda, emas, dan perak ee kuda yang terlatih kemudian hewan ternak serta perkebunan.<br \/>\n(33:20) Dalika mataul hayatid dunya. Itulah kesenangan dunia. Tapi ingat yang di sisi Allah itu lebih baik. Demikian ikhwah ya. Jadi kenapa wanita? Karena wanita itu merupakan perhiasan yang paling tinggi berharganya ya. Paling tinggi posisinya paling tinggi. Terutama dia adalah wanita yang salehah. Ikhwah, rumah itu mata.<br \/>\n(33:52) Rumah itu harta, perabotan-perabatan juga mata. Itu merupakan harta benda dunia. Demikian semua yang kita lihat ini kesenangan-kesenangan dunia ini dikatakan mata. Apapun dia, rumah mewah, mobil mewah, apa ee mungkin Anda punya kendaraan berupa jet misalnya, rumah mewah, villa yang luar luasnya luar biasa atau emas intan yang harganya enggak karu-karuan misalnya ya.<br \/>\n(34:26) Allah Subhanahu wa taala Rasulullah mengatakan semuanya itu itu jauh di bawah seorang wanita yang salehah. Rasulullah katakan adunya mata. Dunia itu perhiasan, dunia itu kesenangan, adunya mata. Tapi ingat, wahairul mata imraatun shihah. Sebaik-baik perhiasan dia adalah wanita yang salehah. Demikian ikhwah. Makanya wanita masuk ya. Wanita masuk dalam masalah ini.<br \/>\n(34:55) Di sini Rasulullah membandingkan antara wanita surga dengan wanita dunia. Demikian ikhwah ya, wanita dunia yang terbaik itu belum ada apa-apanya dibanding dengan wanita surga. Tapi ketika dia di dunia ya bukan wanita salehah setelah masuk surga. Bukan.<br \/>\n(35:17) Ketika dia masih di dunia secantik-cantiknya wanita yang wanita salehah usulah salehah dia cantik masyaallah ya. idaman kaum laki-laki misalnya ya, idaman kaum laki-laki sudah salehah, cantik, kaya dan lain-lainnya lah. Itu belum ada apa-apa jika dibandingkan dengan bidadari surga. Beda halnya nanti wanita salehah ini nanti sudah masuk surga itu beda lagi ceritanya. Demikian ikhwah.<br \/>\n(35:42) Tapi perbandingan wanita itu ya, wanita yang merupakan penghias dunia ini, pembuat semangat dunia ini, membuat ee apa namanya? Dunia ini menjadi bervariasi, membuat dinamika ada di dunia ini, membuat sebuah perjuangan. Demikian ya, ikhwah rahimahullah wyakum. Jika dibandingkan dengan dibandingkan dengan wanita akhirat, apa kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berdasarkan hadis sahih sahih Bukhari an Anas ibn Malik radhiallahu anhu qala dia berkata qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bersabda lau<br \/>\n(36:30) anna imroatan minanisai ahlil Seandainya wanita penduduk surgaat alal ardi muncul di bumi. Masyaallah. Seandainya nih ya seandainya seandainya wanita surga muncul di bumi, laadat ma bainahuma, niscaya akan terang menderanglah bumi dan langit. Sedangkan matahari saja, ikhwah, hanya bisa menerang menerangi separuh bumi.<br \/>\n(37:07) Itu matahari tuh. Bagaimana kita lihat triknya? Bagaimana sinar yang cukup luar biasa, yang sangat luar biasa dari matahari itu pun hanya bisa menerangi setengah bumi. Demikian ikhwah, belum pernah ada kejadiannya matahari itu membuat terang semua bumi. Demikian sebaik-baiknya setengah bumi. Demikian, ikhwah.<br \/>\n(37:33) Itu yang paling yang paling paling kuat. Setengah bumi. Beda halnya dengan bidadari. Kalau bidadari wanita penduduk surga muncul muncul di bumi, tidak setengah tidak setengah bumi ikhwah yang terterangi. Bahkan seluruh bumi bumi yang bulat semuanya akan terang dengan munculnya seorang wanita bidadari, wanita surga. Kemudian apalagi ikhwan? Bukan hanya secara terang. Walaat maahumhan.<br \/>\n(38:08) Dan seluruh dunia akan menjadi wangi. Masyaallah. Tak terbayang kita itu parfum apa itu mereknya. Enggak tahu kita ya. Bayangkan ikhwah. Beda kalau turun ke bumi ya membuat bumi dan dunia ini akan menjadi harum semerba dengan harum bidadari. Wasifu alhairun minad dunya wha. Sungguh selendang yang ada di kepala seorang bidadari.<br \/>\n(38:41) Kainlah namanya kita gak tahu apa nih apa nasif ini kalau kita artikan secara terlitnya itu ya selendang atau penutup kepala. Penutup kepala ya bukan yang lain ya. Hanya penutup kepala. Sungguh penutup kepala bidadari surga itu lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya. Itulah perbandingan yang disebutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang wanita surga dengan wanita dunia.<br \/>\n(39:15) Demikian ikhwah ikhwah kalau kalau kita lihat para penyairlah para pujangga-pujangga ketika mereka ketika mereka mengibaratkan kecantikan seorang wanita, mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang pernah mereka lihat yang ada di muka bumi ini. Bahkan bisa mereka bisa mengibaratkan seseorang yang lain yang belum pernah yang belum pernah terbetik dalam hati mereka, yang belum pernah terbayangkan oleh mereka. Sementara surga itu tak terbayangkan.<br \/>\n(39:47) Saya berikan contoh ikhwah ee seperti misalnya para pujangga ini mereka mengibaratkan wanita itu apa kata mereka? Ia berjalan bagaikan angin yang malu menyentuh dedaunan. Artinya mereka mengibaratkan begitulah tenangnya seorang wanita yang wanita yang mempesona jalannya itu lembut dibandingkan dengan dengan angin ya.<br \/>\n(40:15) Karena memang angin yang pernah mereka tahu ikhwah ya. sesuatu yang lembut, yang semilir itu ya hanya angin yang mereka tahu. Maka diumpamakanlah wanita ini berjalan bagaikan angin, bagaikan angin yang malu menyentuh dedaunan. Demikian ikhwah ya, kalau angin yang kuat itu kan bisa menghancurkan dedaunan, menggurun daunan. Tapi ini enggak.<br \/>\n(40:42) Ini hanya angin yang hanya bisa membuat angin itu membuat daunan itu menari. Kenapa? Ya, yang hanya pernah mereka tahu daun. Ya. Ya. Mereka hanya tahu tentang daun, mereka pernah tahu tentang angin. Maka diibaratkanlah wanita itu dengan angin atau dengan angin yang sedang menyentuh dedaunan. Apalagi kata mereka, wajah-wajahnya ba purnama.<br \/>\n(41:12) Kenapa purnama, ikhwah? Kenapa purnama? Ya mereka tahunya purnama. Mereka tahunya ee sesuatu yang indah, yang sedap dipandang mata, sejuk mata memandangnya ya bulan purnama bukan matahari. Karena kita tidak bisa menantang matahari. Mengapa mereka mengibaratkannya dengan bulan purnama? Karena itu yang bisa mereka tahu, Ikhwah. Itu yang pernah mereka saksikan. Itu yang pernah mereka lihat. Jadi, mereka akan umpamakannya bagaikan sesuatu yang pernah mereka lihat.<br \/>\n(41:41) Demikian, ikhwah. Kemudian apa lagi kata mereka? Matanya bagaikan bintang. Teduh, bercahaya. Nah, demikian ikhwah ya. Teduh, berbinar, bercahaya, menarik. Demikian. Kenapa dengan bintang? Ya karena memang ada bintang. Itulah yang bisa mereka umpamakan. Sesuatu yang hanya pernah mereka lihat. Kemudian apalagi kata mereka? Senyumnya bunga yang baru disapa.<br \/>\n(42:14) Senyumnya bagaikan bunga yang baru disapa sang fajar. Bunga ikhwah. Kenapa bunga? Karena bunga yang pernah mereka lihat. Jadi kalau kita kita lihat apa kata mereka tentang seorang wanita, ia berjalan bagaikan angin yang malu menyentuh dedaunan. Wajahnya purnama, matanya bintang, senyumnya bunga yang baru di Safah Fajar.<br \/>\n(42:39) Ini semua ibarat-ibarat yang pernah dilihat di dunia, ikhwah. Dan ingat, surga itu ma ainun roat wala uznun samiat wala khatar alaqbil basyar. Surga itu tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan satu hal tak pernah terbetik dalam hati. Jadi, para pujangga tidak bisa mengibaratkan para bidadari karena tak bisa terbetik dalam hatinya.<br \/>\n(43:07) Demikian ikhwah. Makanya kalau kita baca hadis-hadis Rasulullah tentang nikmat surga, tentang bidadari surga, tentang apa namanya? Tentang ee istana surga, kita kalau bisa saya katakan kita hanya bisa melongo. Melongo apa ada yang seperti ini? Ah, gitu ikhwan. Apa ada yang seperti ini? Karena memang di luar bayangan kita, di luar ekspektasi kita, di luar betik hati kita.<br \/>\n(43:33) Demikian, ikhwah. Jadi now ataupun ee jenis nikmat surga itu itu beda dengan ee jenis nikmat daripada di dunia yang sekarang kita kita rasakan. Kemudian waunqim kitab fi kitabina h. Kalau engkau mau untuk mengetahui lebih dari bagaimana tentang nas-nas yang menjelaskan, dalil-dalil menjelaskan tentang keistimewaan nikmat surga itu ya, maka Anda bisa membaca fal khusus yang menceritakan dengan tentang nikmat surga di buku kita ini. Demikian ikhwah rahimani wyakum.<br \/>\n(44:33) Jadi di sini ya penulis menyebutkan perbandingan itu bukan hanya dari sisi apa namanya jumlah. Karena jumlah nikmat dunia itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah nikmat yang ada di surga. Bahkan jenisnya juga sangat berbeda ya. Jenisnya juga sangat berbeda.<br \/>\n(44:59) Kalau kita lihat ikhwah seperti yang disebutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tadi, kalau kalau bidadari itu datang muncul di dunia niscaya akan membuat terang seluruh dunia. Terbayangkan oleh kita, berarti itu lebih lebih kuat dong cahaya dibandingkan matahari. Karena setahu kalau kalau menurut ee akal kita semakin kuat cahaya sesuatu benda maka akan semakin jauh pancarannya. Kalau dia semakin redup maka semakin dekat juga pancarannya. Demikian ikhwah.<br \/>\n(45:28) Itu kan logika kita, Ikhwah. logika kita, nalar kita sehingga mengeluarkan narasi kita bahwasanya yang namanya cahaya itu menerangi itu sejauh mana cahaya itu menerangi suatu tempat, maka tergantung dengan sejauh mana kekuatan cahaya itu. Semakin kuat cahaya itu, maka akan semakin jauh dia menerangi satu tempat.<br \/>\n(45:54) Semakin luas tempat yang dia terangi. Seperti yang kita katakan tadi, matahari itu hanya bisa menerangi setengah bumi. Bidadari bisa menerangi seluruh bumi. Berarti pancaran cahayanya itu lebih ini pakai logika kita ya. Berarti pancaran cahayanya itu lebih kuat dibandingkan matahari. Kalau bidadari lebih kuat cahayanya dibandingkan matahari, apa bisa kita nikmati untuk melihatnya? Logika kita tidak, kan? Demikian ikhwah logika kita mengatakan tidak berarti enggak indah, enggak bisa dilihat.<br \/>\n(46:28) Matahari saja enggak bisa kita lihat. Terlalu teri cahaya untuk kita lihat. Makanya akan akan merusak mata kita. Makanya di dunia ketika seorang pujangga mengibaratkan seorang wanita, dia pilih satu benda yang dia terlihat ee bercahaya tapi apa namanya? Tapi teduh untuk dipandang mata. Tidak bosan mata memandangnya.<br \/>\n(46:55) Itu ikhwan. Kalau matahari enggak bisa kita pandang. Itulah makanya mereka mengibaratkan seorang wanita yang mempesona itu dengan rembulan. Dan bukan semua rembulan, bukan dengan bulan sabit juga ikhwah, tapi dengan bulan purnama. Begitulah ikhwah rahimunallahu wyakum. Jadi intinya adalah ya mengenai apa namanya tentang jenisnya itu memang terlalu jauhlah ya kalau dibandingkan dengan jenis yang ada di akhirat.<br \/>\n(47:28) Sini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membanding-bandingkan yang memang tak terbandingkan juga tutup kepala penduduk surga lebih lebih ee lebih mahal lebih baik ketimbang dunia isinya tempat cantolan tempat gantungkan cambuk penduduk surga lebih berharga ketimbang dunia saya isinya udah udah enggak udah masuk enggak masuk nalar kita sudah ikhwah jadi gimana itulah yang membuat seharusnya kita membuat kita semangat untuk mendapatkan surganya Allah Subhanahu wa taala mohon kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(47:59) Untuk itulah maka harus berlomba orang mendapatkannya. Demikian ikhwah di sini Allah Subhanahu wa taala ingin agar kita bersemangat untuk mendapatkan nikmat-nikmat surga. Itu pun ikhwah seperti yang sudah kita bahas, amalan yang sudah kita lakukan sebanyak apapun tidak mampu dijadikan sebagai imbalan untuk mendapatkan surga.<br \/>\n(48:24) Tapi kita bisa membuat Allah Subhanahu wa taala sayang kepada kita. Kita bisa kita bisa minta kepada Allah agar Allah kasihan kepada kita dengan cara taat kepada Allah, melaksanakan perintahnya, berupaya dengan semaksimal mungkin dan menjauhkan larangannya. Kalau kita tergelincir, kalau kita berdosa, maka mohon maaf pada Allah subhanahu wa taala, mohon ampun kepada Allah, tobat kepada Allah dengan tobat nasuhah.<br \/>\n(48:48) Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa mencintai kita semua. Demikian ikhwah rahimullah wyakum bab ee untuk ee jenis yang kedua ya. Untuk yang kedua ini ee sampai di sini saja. Insyaallah akan kita bahas pada pertemuan yang akan datang yaitu yang ketiga perbandingan antara nikmat surga dan nikmat dunia. Allahuam bawab.<br \/>\n(49:12) Nam nam. Terima kasih. Jazakallah fu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas penjelasan materi yang sangat bermanfaat sekali di kesempatan ini berkaitan dengan nikmat surga. N ikhwat Islamakumullah silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung dian telepon 0218236543. atau pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543.<br \/>\n(49:39) Pertanyaan pertama kita awali dari pesan singkat dari Abu Salman di Tangerang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Apakah orang-orang yang terdahulu, baik yang muslim ataupun kafir yang sudah wafat, apakah sudah berada di surga atau neraka atau apakah menunggu sampai hari kiamat dahulu? Mohon nasihatnya, Ustaz. Jazakallahu khairan. Nam.<br \/>\n(50:04) Barakallahu fik. Ikhwah aallahu wyakum. Untuk orang-orang yang sudah meninggal, yang sudah wafat, apakah mereka sudah berada di surga? Belum. Surga itu nanti. Surga dan neraka dimasuki nanti setelah terjadinya hari kiamat. setelahnya manusia, setelah manusia berada di padang mahsyar kemudian di di digelarnya sidang ilahi, mahkamah pengadilan ilahi.<br \/>\n(50:38) Kemudian di sanalah nanti akan ditetapkan di mana orang ini, apakah di surga ataukah di neraka. Demikian ya. Jadi belum ada yang di surga sekarang ini. Tapi ingat, surga sudah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Neraka sudah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Demikian ikhwah. Jadi mengenai ee surga belum ada yang masuk.<br \/>\n(51:06) Tapi roh orang-orang mukmin sudah masuk ke surga. Rohnya saja belum dengan jasadnya. Ikhwah. Seperti yang sudah pernah kita pelajari dalam kajian kita perjalanan setelah kematian. bahwasanya ketika seorang itu pindah dari alam dunia ke alam barzakh, baik di alam barzakh itu dia mendapatkan nikmat surga ee nikmat barzakh, nikmat kubur, maupun mendapatkan azab kubur.<br \/>\n(51:38) Yang mendapat nikmat dan azab itu roh dan jasad. Ingat roh dan jasad. Bukan rohnya saja, roh dan jasadnya. Oh, apakah jasad yang sekarang berada di yang kita lihat ini? Allahuam bisawab. Yang jelas roh itu akan kembali ke jasad. Allah menyebutkan, Rasul menyebutkan akan kembali ke jasad dan akan dibangkitkan disuruh duduk oleh malaikat nunkar dan nir.<br \/>\n(52:03) Syadidul intihar yang sangat kuat bentakannya. Aswadan azraqan yang warnanya hitam kebiru-biruan. Demikian ikhwah. dan akan bertanya, &#8220;Marabbuka wabiyuka wa dinuka.&#8221; Tiga pertanyaan yang sudah diberitahu kepada kita dan jawabannya juga sudah diberitahu kepada kita sekarang. Demikian, ikhwah.<br \/>\n(52:32) Jadi dalam masalah ini ketika mereka ya ketika seorang mukmin yang mendapatkan yang berhasil menjawab pertanyaan maka Allah Subhanahu wa taala mengatakan abdi benar hambaku waisuahu minal jannah dan bentangkan untuk dia karpet dari surga waftahu faahuahu babanal jannah dan bukakan untuk dia pintu ke surga maka di saat itulah dia melihat baga Bagaimana surganya? Bagaimana fasilitas surga yang tadinya tak pernah terbetik dalam hati, sekarang dia sudah sudah bisa melihatnya langsung. Oh, begini rupanya surga. Demikian ikhwan. Tapi ingat, dia belum bisa masuk. Hanya pintu surga saja<br \/>\n(53:11) dibukakan untuk dia. Dia hanya bisa lihat-lihat dari alam barzakh. Dia belum boleh masuk tapi rohnya sudah bisa masuk. Ya, rohnya sudah bisa masuk. Makanya ikhwah ee orang yang hidup di alam barzakh ya itu mirip dengan orang yang di dunia yang rohnya itu dalam keadaan mimpi. Nah, mirip terkadang terpisah, terkadang kembali lagi ke dalam jasadnya.<br \/>\n(53:37) Demikian juga alam yang di alam barzakh ya. Di alam barzakh terkadang Allah subhanahu wa taala mengizinkan mereka roh ini untuk pergi ke surga. Makanya ada sebuah hadis sebutkan untuk arwah untuk ruh para ee orang-orang yang mati syahid maka Allah akan menempatkan ruh mereka berada di burung yang berwarna hijau yang sarangnya itu berada di bawah arasy.<br \/>\n(54:04) Dan burung ini dia akan beredar ke mana-mana terserah dia. Dia dia menikmati terbang ke sana kemari dalam surga. Adapun yang tidak orang saleh yang tidak mati syahid juga Allah letakkan roh mereka di burung surga. Tapi burung ini Allahuam bab hanya bisa bertengger tidak bisa ke mana-mana. Demikian ikhwah ya itu dia.<br \/>\n(54:29) Jadi jadi rohnya sudah masuk ke dalam surga tapi orangnya belum. Jadi sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah roh ini kadang-kadang dia balik ke orangnya di alam barzakh kadang dia pergi ke surga. Demikian ikhwah. Jadi kesimpulannya Allahuamsawab seperti yang pernah kita pelajari bahwasanya untuk manusianya belum bisa masuk ke dalam surga. Demikian juga neraka.<br \/>\n(54:57) Karena masuknya manusia ke surga dan neraka nanti setelah terjadi hari kiamat. Tetapi roh-roh mereka, roh-roh orang saleh mereka sudah masuk ke surga. Demikian ikhwah. Adapun orang-orang yang tidak berhasil menjawab, dia akan mendapatkan mendapatkan azab azab azab ee barzakh, azab azab kubur. Ya, makanya mereka berdoa, &#8220;Rabbi la tuqim saah.&#8221; Orang yang mendapat azab kubur ini mengatakan, &#8220;Ya Allah, jangan terjadikan hari kiamat.<br \/>\n(55:25) &#8221; Kenapa? Karena dia tahu ketika Allah membukakan pintu neraka kepada mereka, mereka tahu bahwasanya azab yang sedang menunggu dia lebih parah ketimbang azab yang sedang dia derita di alam barzakh. Allahuam bawab. Nam. Nam terima kasih jazakallah fu khairan barakallahu fikum ustaz atas jawaban yang telah disampaikan semoga bermanfaat untuk penanya namat Islamakumullah silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung diilan telepon 0218236543 ya silakan baik terputus kita beralih ke pertanyaan melalui pesan singkat kembali dari Pak Heri Purwanto.<br \/>\n(56:04) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, apakah pernah meminta rukiah itu bisa menghilangkan poin masuk surga tanpa hisab meskipun penyakitnya belum sembuh dan itu sudah lama meminta rukiahnya waktu saya masih sekolah dan sekarang saya sudah punya anak tapi belum sembuh juga. Mohon nasihat nesta syukron. Baik ikhwah ahahuakum.<br \/>\n(56:31) Rasulullah pernah bersabda ketika beliau nanti di akhirat ya datanglah satu kelompok manusia sangat banyak. Rasulullah bertanya kepada Jibril, &#8220;Apakah itu umatku?&#8221; Kata Rasulullah, kata Jibril, &#8220;Enggak, itu umat Nabi Musa. Tapi umatmu di sana tuh.&#8221; Jadi ada sekelompok umat yang jauh lebih banyak. Qad saddal ufuq.<br \/>\n(57:02) Ufuk itu penuh dengan ufuk umat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kata Jibril, &#8220;Yang paling depan itu adalah umatmu yang paling utama. Mereka sebanyak 70.000.&#8221; Sabuna alfan. 70.000. Alladina yadurunal jannah big hisab. Yang mereka itu masuk surga dengan tanpa hisab.<br \/>\n(57:28) Lantas ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan kriteria mereka ini. Pertama, la yastarquun, tidak minta rukiah. Wala yaktawun, tidak minta, tidak berobat dengan cara kai. Kai itu besi panas. Wala yatayyarun. Tidak melakukan tatayyur. Tatayyur ini, ikhwah ee segala sesuatu yang dianggap dapat mendatangkan kesialan atau kesenangan. Begitu ya. Ada di sana ada iyafah, ada attiarah.<br \/>\n(57:59) Kalau iyafah ini hanya terkait dengan burung. Adapun tatayyur terkait dengan burung dan benda-benda yang lainnya. Kemudian waahiwakalun dan mereka bertawakal hanya kepada Allah subhanahu wa taala. Itu persyaratan yang disebutkan ya. Itu persyaratan yang disebutkan. Apakah memang tidak boleh minta rukiah? Boleh.<br \/>\n(58:19) Ikh minta rukiah boleh. Demikian boleh minta rukiah. Tapi untuk orang persyaratan orang yang masuk surga dengan tanpa hisab itu dia tidak pernah minta minta untuk dirukiah. Bagaimana kalau dia mohon ampun kepada Allah tidak lagi minta rukiah? Sebenarnya ikhwah tidak harus minta ampun. Karena minta rukiah itu bukan satu hal yang terlarang. Itu dia tidak minta rukiah.<br \/>\n(58:42) Dia merukiah dirinya sendiri ya. Dia merukiah dirinya sendiri kemudian ee apa namanya? Menunjukkan bagaimana ketawakalan dia. Jadi dia ya saya minta saya minta rukiah. Saya merukiah diri saya sendiri berdoa kepada Allah. Karena memang itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa taalaum.<br \/>\n(59:06) Allah mengatakan, &#8220;Minta kepadaku, aku akan aku akan ee berikan apa yang engkau minta langsung kepada Allah Subhanahu wa taala.&#8221; Dia yakin dengan itu semua. Ya. Jadi zahirnya hadis salah satu syaratnya la yastarquun. Mereka tidak minta rukiah. Ingat, meminta rukiah itu boleh. Tapi sebagai tanda saking tawakalnya dia kepada Allah, dia tidak minta rukiah. Dia merukiah dirinya sendiri.<br \/>\n(59:30) Allahuam bisawab. itu zahir daripada hadis yaitu syarat orang-orang yang masuk ke surga dengan tanpa tanpa hisab. Ikhwah para pemirsa Rajah TV dan pendengar Radio Rajah di mana pun Anda berada. Ee saya kira itu sajalah kajian kita pada ee pagi hari ini. Semoga sedikit yang kita sampaikan tadi bermanfaat.<br \/>\n(59:49) Semoga kita tetap terus semangat untuk mendapatkan surganya Allah Subhanahu wa taala. Kita mohon kepada Allah untuk dirahmati, disayangi, dikasihani. Semoga Allah subhanahu wa taala mengasihani kita semua dan mengumpulkan kita semua di dalam surga sehingga kita tahu bagaimana hakikat surga itu. Insyaallah.<br \/>\n(1:00:08) Demikian ikhwah azallahuikum semoga bermanfaat. Waasttagfirullahakum muslimin inal gfurahim. Alalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih. Jazakallahu khairon wabarakallah fikum. Kepada guru kita Ustaz Ali Nur hafidahullah atas ilmu yang sangat bermanfaat dan waktu luang yang telah diberikan untuk kita semua.<br \/>\n(1:00:34) Demikian nikmat Islamakumullah program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab Aljannatu Wanar menuju negeri abadi dengan tema nikmat surga. Semoga apa yang telah kita simak, dengarkan dapat menjadi bahan muhasabah agar setiap langkah, ucapan dan amalan kita hari ini dan seterusnya benar-benar menjadi sebab yang dapat mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wa taala dan menjauhkan kita dari sebab-sebab murka Allah. Amin ya rabbal alamin. Kami yang bertugas pamit undur diri.<br \/>\n(1:01:05) Mohon maaf atas segala kekhilafan. Terima kasih. Jazakumullahu khairon wa barakallahu fikum atas kebersamaan Anda. Wabillahi taufik wal hidayah. Subhanaka Allahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. RJ bagi anda para pem TV<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah Roja TV [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3737","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah Roja TV [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:51:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:51:53+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"29 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/\",\"name\":\"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:51:52+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:51:53+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah Roja TV [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:51:52+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:51:53+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"29 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/","name":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:51:52+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:51:53+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-30\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3737"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3737"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3737\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3738,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3737\/revisions\/3738"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}