{"id":3746,"date":"2025-11-27T20:53:13","date_gmt":"2025-11-27T13:53:13","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3746"},"modified":"2025-11-27T20:53:13","modified_gmt":"2025-11-27T13:53:13","slug":"ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/","title":{"rendered":"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin"},"content":{"rendered":"<p>(3) [Live] : Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[Live] : Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/HkGothcN5qk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) atau merusak kekhusyukannya itu supaya dihind dihindari. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roja Palu 101,8 FM. dan radio Roja Bandung 104.3 mm FM menyebar cahaya sunah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(00:56) Ik isaniakumhamdulillahamdan mubarok fahibuna wasatu wasalamu asil mursalin waa alihi wa ashabihi ajmain wabiahum bis yaumilqiamah amma ba&#8217;du ikhwat Islam azani allahuakum para pemerhati raja pendengar raja dan sahabat raja semuanya di mana pun antum berada di pagi hari ini tentunya kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala atas waktu yang Allah berikan kembali kepada kita satu hari ini dalam rangka untuk mentaatinya dan beribadah kepadanya. Ik Islam azani Allahuakum. Kita pun memohon kepada Allah Subhanahu wa taala semoga Allah memberikan kepada<br \/>\n(01:34) kita keberkahan dan karunia-Nya pagi hari ini hingga menjelang malam nanti. Dan ikhwat Islam azani Allahu wyakum kembali kami hadirkan di ruang dengar Anda dan layar televisi Anda suatu kajian ilmiah yang membahas dari kitab Riyadus Shihin buah karya dari Al Imam Annawawi rahimahullahu taala.<br \/>\n(01:59) Dan insyaallah kembali kita akan simak pemaparan pembahasan selanjutnya yang akan disampaikan oleh guru kita Al Ustaz Alfadil Mubarok Bah Mualim Lc. Mahi hafidullahu Taala. Dan pada pagi hari ini kembali beliau membahas melanjutkan pembahasan tentang hal penting dalam Islam untuk pembahasan selanjutnya karena pembahasannya cukup panjang dan banyak yang dibahas tentang hal penting tentunya kita sangat harapkan kepada Allah subhanahu wa taala kita bisa menyimak dengan baik pembahasan ini.<br \/>\n(02:27) Setelah kajian disampaikan oleh beliau, kami membuka sesi interaktif soal jawab. Dan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung, Anda bisa menghubungi di nomor lokal 0218236543 ataupun Anda dapat bertanya melalui chat WA di 0218236543. Nam ikhw Islam azani Allahu wyakum kita akan simak bersama dan alhamdulillah ustaz telah bersama kami berada di studio Aliman Center. Untuk itu kita akan simak dan kepada Ustaz kami persilakan. Falyatafadol maskur.<br \/>\n(03:06) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdalillahi nahmaduhu wasastainuhuastagfiruhubillah. hadalah asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasuluh ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatihi w tamutunna illa wa antum muslimun ya ayyuhanqubakumadzi khalaqakum min nafsin wahidah wq minha zaujaha yahanakumakumfirakumunubakumillahaasulahu faq fauzanima amma baah haditabah was<br \/>\n(04:25) maasyiral muslimin rahimani warahimakumullah. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita kembali bertemu dalam pembahasan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa ali wasallam dari kitab Riyadus Shihin min kalami sayyidil mursalin shallallahu alaihi wa alihi wasahbihi wasallam. Pembahasan kita yang terakhir masih tetap pada bab tentang hal-hal yang ee luar biasa, hal-hal yang amat sangat penting yang dikumpulkan oleh Annawawi rahimahullahu taala dari hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam pada pembahasan terakhir dari kitab beliau<br \/>\n(05:11) Riyadus Shihin min Kalami Sayyidil Mursalin sallallahu alaihi wasallam. Ee hadis terakhir yang kita bahas adalah hadis tentang ee peringatan Nabi alaihialatu wasalam ya tentang dunia yang mana beliau ee mengkhawatirkan akan terjadinya ya kepada umat beliau perlombaan dalam mengejar dunia ya dalam mengumpulkan harta atau yang lainnya dari hal-hal yang bersifat keduniaan.<br \/>\n(05:50) Ya, sebagaimana beliau bersabda, &#8220;Ya, walakini aksya alaikum dunya.&#8221; Akan tetapi aku khawatir pada kalian adalah tentang dunia anfasu fiha itu kalian berlomba-lomba dalam mendapatkan dunia ini. Yaqatahlu dan kalian bunuh membunuh satu dengan yang lainnya sehingga kalian pun binasa. sebagaimana telah binasa orang-orang sebelum kalian.<br \/>\n(06:24) Kemudian hadis yang berikutnya insyaallahu taala yaitu hadis Abu Zaid Amr ibn Akhtab al-Anshari radhiallahu anhu. Qala Nawawiu rahimahullah waan Abi Zaidin Amri Akht al-Ansharii radhiallahu anhu qal. Dari Abu Zaid namanya adalah Amr bin Akhtab al-Anshari. radhiallahu anhu.<br \/>\n(06:58) Beliau berkata, &#8220;Sa bina Rasulullah sallallahu alaihi wasallama alfajr. Pernah suatu ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam salat bersama kami, yaitu salat subuh ya. Salat subuh wasidal mimbar.&#8221; Kemudian beliau naik ke mimbar. Fakat hatta haduhru. Kemudian beliau menyampaikan ya ini pidato atau khotbah ya atau ee apa pelajaran-pelajaran ya sampai datangnya waktu zuhur. Fanazala fasolla.<br \/>\n(07:37) Kemudian beliau turun lalu salat salat zuhuridal mimbar hatta hadat alasr. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar. dan beliau menyampaikan pidatonya sampai datangnya waktu asarmazala. Kemudian setelah masuknya waktu asar, beliau turun dari mimbarnya kemudian salat mimbar. Kemudian beliau naik ke mimbar lagittaams sampai matahari terbenam. Beliau sampaikan pidato, nasihat, pelajaran.<br \/>\n(08:14) Faakbarna makana w hua kainun. Dan beliau menyampaikan kepada kami ya apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi faamuna ahfaduna. Maka orang yang paling mengetahui ya tentang apa yang beliau sampaikan itu adalah orang yang paling hafal ya, yang paling kuat hafalannya di antara kami.<br \/>\n(08:41) Hadis sahih riwayat Imam Muslim rahimahullah taala. Nah, hadis ini ya hadis Amr bin Akhtab al-Anshari radhiallahu taala anhu menjelaskan kepada kita tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang mana ya pada suatu hari beliau itu setelah salat subuh bersama para sahabat belum menyampaikan pidato atau khotbah ya yang sangat panjang sampai masuknya waktu zuhur.<br \/>\n(09:15) Kemudian setelah salat zuhur, beliau nyambung lagi sampai salat asar. Masuk salat waktu salat asar. Kemudian setelah itu beliau setelah salat asar beliau sambung lagi apa khotbahnya sampai ee sampai menjelang atau sampai terbenarnya matahari. Nah, ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana semangat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mengajarkan kepada umat beliau ya tentang atau perkara-perkara agama mereka ya.<br \/>\n(09:47) Beliau menyampaikan semua segala sesuatu disampaikan oleh Nabi alaihiatu wasalam hal-hal yang sudah terjadi, hal-hal yang akan terjadi. Ya, ini semua tentu sebagai peringatan bagi ee ee peringatan bagi umat beliau. ya. Nah, nah karena panjangnya khotbah itu ya sampai disebutkan oleh Amr radhiallahu taala anhu bahwa orang yang paling memahami, orang yang paling mengetahui tentang isi apa yang disampaikan oleh beliau itu adalah orang yang paling yang paling kuat hafalannya.<br \/>\n(10:27) Ya. Jadi hadis ini menjelaskan tentang ee semangat Nabi sallallahu alaihi wasallam, cinta beliau, kasih sayang beliau kepada umat beliau sehingga beliau betul-betul berupaya semaksimal mungkin untuk menyampaikan ya segala sesuatu ya yang Allah perintahkan kepada beliau dari kebaikan-kebaikan ya dunia dan akhirat.<br \/>\n(11:00) juga peringatan-peringatan dari beliau tentang ee hal-hal yang bermanfaat bagi umatnya agar mereka menjauhi menjauhinya. Ya, jadi ini pentingnya ee pelajaran agama. Pentingnya kita mengambil ilmu dari sumbernya ya. Karena ilmu yang benar itu adalah yang dari sumbernya Quran dan sunah ya. Bahkan juga ilmu-ilmu umum pun ya kalau seorang ingin mempelajarinya, mendalaminya hendaknya mengambil dari sumbernya.<br \/>\n(11:32) Jadi orang yang betul-betul mengetahui dan memahami tentang ya perkara-perkara tersebut ya yang berkaitan dengan hal-hal duniawi ya. Jadi kita mengambil ilmu dari ahlinya. Kemudian juga hadis ini menjelaskan kepada kita tentang persaksian para sahabat radhiallahu taala anhum. Ya, bahwa an Nabi alaihialatu wasalam telah menyampaikan semuanya.<br \/>\n(12:00) Ya, tidak ada sesuatu melainkan sudah disampaikan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ini hal-hal yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla kepada beliau untuk menyampaikan pada umat ini atau pada manusia. Itu sudah beliau sampaikan dan ini disaksikan oleh para sahabat-sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya.<br \/>\n(12:22) Maka sering kita dengar perkataan bahwa Nabi alaihiatu wasalam risalah. Beliau telah menyampaikan risalah Allah Subhanahu wa taala amanah. Dan beliau telah menunaikan melaksanakan amanah yang Allah pikulkan pada beliau ya dari risalah Allah kepada umat manusia. Kemudian washal ummah. Dan beliau alaihialatu wasalam benar-benar telah menasihati umat ini ya dengan nasihat yang baik dari lubuk hati seorang yang cinta pada umat umatnya ya agar mereka selamat dari azab Allah Subhanahu wa taala ya dan beliau telah meninggalkan umat ini wataroka umatahu<br \/>\n(13:06) ala baidqatin dan beliau telah meninggalkan umat ini di atas jalan yang putih bersih, terang benderang ya yang sangat jelas ya. Jadi semua sudah disampaikan oleh Nabi alaihiatu wasalam. Tinggal bagaimana seorang itu ya mempelajari agama Allah ya mempelajari Al-Qur&#8217;anul Karim dan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(13:38) Jadi hadis ini menjelaskan tentang ee bolehnya dalam kondisi tertentu ya untuk menyampaikan misalnya pelajaran dan mengambil waktu yang panjang ya. Ya, inilah kemudian yang ee bisa dipahami ya dari apa yang dikerjakan di zaman kita ini adanya daurah-daurah ilmiah.<br \/>\n(14:11) Ya, itu pun ya tidak setiap orang yang menyampaikan materi dalam doro itu mampu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi alaihi salalatu wasalam yang mulai dari setelah salat subuh sampai masuknya waktu zuhur. istirahatnya hanya salat zuhur. Kemudian beliau lanjutkan lagi ya apa yang beliau sampaikan kepada para sahabat ya sampai datangnya waktu masuknya waktu asar.<br \/>\n(14:36) Kemudian beliau sampaikan lagi e setelah salat asar beliau menyampaikan lagi apa yang beliau ingin sampaikan kepada mereka yaitu sampai terbenamnya matahari. ini luar biasa kekuatan beliau sallallahu alaihi wasallam dan Allah memang memberikan kepada beliau kekuatan ya karena beliau adalah pemegang atau pengemban risalah Allah Subhanahu wa taala yang terakhir ya yang Allah amanahkan untuk seluruh umat manusia.<br \/>\n(15:03) Jadi dalam kondisi tertentu boleh mengadakan ya kajian pelajaran ya dalam ee dengan mengambil waktu yang panjang ya dan mengambil waktu yang panjang ya misalnya 1 hari penuh ya atau mungkin ee 2 hari ya sesuai dengan ee apa namanya dengan apa yang ingin di disampaikan kepada peserta yang ikut dalam ee pelajaran-pelajaran tersebut.<br \/>\n(15:36) Kemudian juga hadis ini menjelaskan kepada kita ya bahwa ee daya ingat, pemahaman ya itu berbeda-beda antara satu dengan yang yang lainnya. Makanya Amar bin Akhtab al-Anshari radhiallahu taala anhu beliau mengatakan pada akhir hadis ini ya faamuna ahfaduna orang yang paling paham ya paling banyak ilmunya tentang apa yang disampaikan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam tersebut pada hari itu adalah orang yang paling kuat hafalannya.<br \/>\n(16:10) Ya, ini menunjukkan perbedaan yang ada pada manusia dalam hal ya dia ee menangkap sesuatu sesuatu yang disampaikan kepadanya ya dan menyimpan dalam benaknya itu berbeda antara satu dengan yang lainnya ya. Jadi ini hal-hal yang ee ada pada manusia. Maka bersyukurlah orang-orang yang diberikan kekuatan ya oleh Allah Taala.<br \/>\n(16:39) Kekuatan ini daya hafal ee hafal hafal hafalan mereka. orang yang Allah berikan kepada mereka dada yang lapang, penuh dengan ilmu. Ya, ini suatu nikmat yang besar dari Allah Subhanahu wa taala. Ee kemudian ee bahwa hadis ini menjelaskan kepada kita tentang manusia yang paling paham, yang paling alim, yang paling mengetahui tentang apa yang Allah sampaikan.<br \/>\n(17:13) ya kepada kepadanya adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya beliau adalah sebagai aatul ilm minal kitabi wasunah beliau adalah sebagai tempat penampungan ilmu dari Al-Qur&#8217;anul Karim dari wahyu Allah azza wa jalla dan sunah Nabi alaihialatu wasalam maka kita ya merupakan kewajiban kita sebagai umat dan hak Nabi sallallahu alaihi wasallam atas umatnya agar kita selalu ya ee memperbanyak mengucapkan selawat kepada Nabi alaihialatu wasalam karena beliau telah berbuat sesuatu yang terbaik bagi umat ini ya untuk mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Satu nikmat<br \/>\n(17:56) yang besar dari Allah Taala dengan diutusnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Subhan Allah Taala berfirman. Surat Ali Imran ayat ke-14.Quin. Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kaum mukminin ya anugerah yang besar, nikmat yang besar. Tatkala Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.<br \/>\n(18:41) Ya, yang mana rasul ini alaih membacakan pada mereka ayat-ayat Allah yazaki mensucikan jiwa-jiwa mereka dengan mengajarkan tauhid pada mereka dengan mengajarkan ibadah ya kepada mereka hanya kepada Allah mengajarkan ilmu pada mereka untuk tazkiyatun nufus. untuk membersihkan jiwa-jiwa mereka ya dari kesyirikan kepada tauhid, dari kejahiliahan kepada ilmu ya ee dan seterusnya dari nikmat-nikmat Islam yang Allah anugerahkan kepada umat manusia secara menyeluruh dan khususnya bagi orang-orang yang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah menetapkan hati<br \/>\n(19:23) kita, iman kita dalam hati-hati kita sampai akhir dari kehidupan kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan beriman pada Allah dan rasulnya sallallahu alaihi wasallam dalam keadaan bertauhid menyembah hanya kepada Allah subhanahu wa taala ya dan istiqamah di atas sunah Nabi alaihi salatu wasalam istiqamah di atas agama yang benar sebagaimana yang dipahami oleh para salafus saleh radhiallahu anhum ajmain. sahabat, tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan yang baik.<br \/>\n(19:57) Kemudian hadis yang berikutnya, waan Aisyata radhiallahu anha qalat. Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu taala anha. Beliau berkata, Q Nabi sallallahu alaihi wasallama. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, fala rawahulu. Ya, kata Nabi alaihiatu wasalam, &#8220;Barang siapa yang dia bernazar ya dia bernazar untuk melakukan satu ketaatan kepada Allah, satu amal kebaikan ya.<br \/>\n(20:45) dalam rangka mentaati Allah Taala maka hendaknya dia lakukan nazarnya itu ya waman nazaro dan barang siapa yang bernazar anyasiallah tapi nazar ini mengandung maksiat pada Allah subhanahu wa taala fala yi maka ada maka jangan dia lakukan nazar itu. Jangan dia lakukan nazar tersebut. Jadi nazar itu adalah nazar itu pada dasarnya ya ee kaitan dengan nazar ini ee di adalah satu hal yang seseorang mewajibkan hal itu pada dirinya padahal Allah tidak mewajibkan, rasul-Nya tidak mewajibkannya ya.<br \/>\n(21:28) Tapi dia mewajibkan satu amal itu atas dirinya sendiri. Ya, ini namanya nazar ya. Jadi misalnya seorang mungkin punya anak ya, sakit anaknya ya, kemudian dia bernazar, &#8220;Ya Allah, seandainya anakku ini sembuh atau Engkau sembuhkan, aku akan berpuasa selama satu pekan 7 hari.&#8221; Nah, apabila anaknya betul sembuh, ya, maka dia wajib berpuasa selama 7 7 hari. Ya.<br \/>\n(22:02) Jadi dia wajib berpuasa selama 7 7 hari karena dia mewajibkan dirinya. Tetapi misalnya anaknya tidak sembuh ya, anaknya ditakdirkan Allah Taala meninggal maka tidak ada kewajiban baginya untuk berpuasa 7 hari tersebut. Ya, ini hal yang ee perlu kita pahami tentang nazar. Jadi, nazar itu ibadah yang seorang wajibkan pada dirinya sendiri. Allah tidak mengharuskannya.<br \/>\n(22:31) Allah tidak mewajibkannya, tapi dia mewajibkan pada dirinya. Nah, oleh karena itu harus dia lakukan ya apa yang dinazarkan itu kalau memang sesuai dengan apa yang dia inginkan dari nazarnya itu, maka dia wajib mengerjakannya. Tidak boleh dia tidak mengerjakan nazar tersebut. Dan ini telah disebutkan oleh Al-Qur&#8217;anul Karim tentang ahli surga.<br \/>\n(22:59) Di antara yang dikerjakan oleh mereka ahli surga itu ketika di dunia adalah yufuna bidri. Ya, mereka senantiasa memenuhi nazar-nazar mereka. Ya, itu. Nah, kemudian nazar itu ada dua macam. Ada orang bernazar dalam hal berkaitan dengan amalan-amalan ketaatan. Contoh tadi adalah puasa. Apabila anakku sembuh dari sakitnya, aku akan berpuasa selama 7 hari.<br \/>\n(23:32) Nah, ini ini arti amal kebaikan. Nah, maka harus dilakukan. Kemudian ada nazar yang bersifat maksiat pada Allah Taala. Ya, ada nazar bersifat maksiat ya. Seorang misalnya karena dia benci pada saudaranya, dia bernazar ya bahwa aku tidak akan menginjakkan kakiku di rumahmu. Ya, dia bernazar demikian. Ini artinya nazar dalam maksiat.<br \/>\n(24:10) Karena ini Anda memutus silaturah silaturahim. Ya, misalnya ada seorang marah kepada saudaranya, dia bersumpah, &#8220;Ya, demi Allah aku tidak akan menginjakkan kakiku di rumahmu.&#8221; Ya. Nah, ini tidak boleh dilakukannya. Dia harus membayar kafarah. Membayar kafarah sumpahnya itu ya. Membayar kafarah sumpahnya. Karya sumpah untuk memutus silaturahim. Dan ini tidak dibenarkan.<br \/>\n(24:41) Maka Nabi alaihiatu wasalam mengarahkan pada kita apabila seorang bernazar yang pada dasarnya nazar itu ee tidak diwajibkan amalan yang dinazarkan itu tidak diwajibkan Allah kepadanya. Namun dia sendiri yang mewajibkan atas dirinya. Maka kalau demikian dia harus lakukan dan dia harus kerjakan apa yang dia nazarkan itu.<br \/>\n(25:05) Ya, bahkan seandainya misalnya ini contoh dalam hal puasa, apabila anakku sembuh, aku akan berpuasa selama 7 hari. Ya, subhanallah. Ana betul sembuh. Tapi orang tadi yang bernadar itu dia belum sembuh. Ee maaf ee sebelum dia mengerjakan puasanya 7 hari itu dia meninggal wafat. Maka orang yang tahu dari keluarganya bahwa dia pernah mengatakan apabila anakku sembuh aku akan berpuasa 7 hari.<br \/>\n(25:50) Ya, maka orang yang mengetahuinya dari keluarganya itu ya harus mengqada puasanya orang itu ya. Dia berpuasa untuk membayar nazar orang tersebut. Ini keluarganya tadi yang bernazar ee kalau anakku sembuh aku akan berpuasa 7 hari. Dan benar anaknya sembuh tapi sebelum dia berpuasa 7 hari dia meninggal.<br \/>\n(26:21) ya, maka keluarganya ya walinya itu berpuasa ya 7 hari karena itu adalah nazar dari saudaranya itu. Ini yang harus kita pahami. Kemudian hadis ini menjelaskan kepada kita ya bahwa nazar itu sesuatu yang dibolehkan ya. Boleh saja seorang bernazar, tetapi dalam hal-hal yang merupakan keta amal-amal ketaatan, kebaikan pada e amal kebaikan. Kemudian ee bahwa nazar dalam dalam bermaksiat pada Allah Taala itu tidak tidak berlaku.<br \/>\n(27:05) Ya, tadi ada kaitan dengan sumpah ya. Sumpah. Tapi misalnya seorang bernazar ya, aku bernazar apabila aku mendapatkan rezeki aku tidak akan berikan pada saudaraku ini. Dia bernazar. Nah, ini nazar yang tidak tidak baik ya. Maka dia tidak usah melakukannya ya. Kalau dia bersumpah baru dia membayar kafarah sumpahnya.<br \/>\n(27:38) Tetapi kalau dia tidak bersumpah ya, maka tidak usah dia ee membayar kafarah sumpah karena dia tidak sumpah. Cuma dia bernazar. Dan aku bernazar kalau misalnya aku dapat rezeki, aku tidak akan berikan pada saudaraku ini. Karena karena dia benci ketika itu pada saudaranya. Kemudian betul dia mendapatkan rezeki yang cukup ya, maka dia tidak usah membatalkan nazar dia itu.<br \/>\n(28:01) Tapi langsung dia berikan dari dari bagian dari rezeki itu diberikan kepada saudaranya. Kemudian hadis yang berikutnya, qawai rahimahullah taala umar radhiallahu anhana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam amarq waq ibrahim. Hadis ini dari Ummu Syariq ya radhiallahu anha. Ee beliau berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada beliau untuk membunuh cecak. Ya.<br \/>\n(28:38) Dan beliau bersabda kanafua Ibrahim karena cecak itu dia meniup apinya Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim dibakar. Ya, hadis ini muttafaqun alaih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ya. Jadi ini hal yang ee kita ini wajib untuk beriman pada hadis ini ya. tidak usah ditanyakan macam-macam tentang hadis ini.<br \/>\n(29:06) Intinya selama hadis itu sahih ya dan apa namanya ee hadis itu benar maka kita beriman kepada kandungan hadis itu dan kita tidak membenturkan dengan akal kita ya tidak membenturkan dengan akal kita atau perasaan kita atau yang yang lainnya. Hadis yang berikutnya. Wa Abi Hurairah radhiallahu anhu q kata annawawi rahimahullah dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, beliau berkata, qa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Manqala waagatan fialibatin falahu kad wa hasanah.&#8221;<br \/>\n(29:51) Barang siapa yang membunuh cecak ya, hewan yang melata di tembok dinding ya, barang siapa membunuh seekor cecat ya dengan satu kali pukulan, falahu kad waz, mak dia mendapat pahala ya segini dan segini dari kebaik-kebaikan hasanah. Dan barang siapa yang dia membunuh cecak itu dengan dua pukulan, karena pukulan pertama belum mati kemudian dipukul yang kedua kalinya ya falahu k wa hasanah dunal ula maka dia mendapat pahala sekian tapi di bawah yang per yang pertama tadi itu ya dan kalau dia memukul atau membunuh<br \/>\n(30:42) cecak itu pada sampai pada pukulan ketiga, artinya pukulan pertama tidak mati, pukulan kedua tidak mati, pukulan ketiga baru di pukul yang ketiga baru mati, maka falahu kad waad hasanah dia mendapatkan ee pahala sekian-sekian. Wafi riwayatin dalam redaksi yang lain kata Nabi alaihiatu wasalamin barang siapa yang membunuh cecak pada pukulan pertamauatu hasanah maka dicatat baginya 100 kebaikan yaik kalau dia membunuhnya dengan pukulan dengan dua pukulan maka ee itu berada pahalanya di bawah ituik dan kalau dia membunuh dengan pukulan yang ketiga ya maka pahala di bawah di<br \/>\n(31:44) bawah itu. Nah, para ulama mengatakan ya bahwa ee mengapa cecak itu disuruh kita membunuhnya. Selain alasan yang disebutkan dalam hadis Ummu Syariq ya, sebagian ulama mengatakan bahwa cicak ini apa? Memiliki racun. Entah dalam ludahnya atau dalam ya intinya ada racun yang bisa menyebabkan ee seorang terkena penyakit abros. Abros itu belang kulitnya ya.<br \/>\n(32:23) Kulitnya belang jadi putih. Padahal misalnya kulitnya sa matang tahu-tahunya muncul putih ya. dan itu bisa menyebar artinya bisa bertambah. Buktinya itu dari kecil membesar, membesar, membesar walaupun mungkin tidak sakit tapi itu ya semoga Allah menyelamatkan kita dari penyakit itu.<br \/>\n(32:52) Tapi itu adalah suatu hal yang memang ee membuat seseorang itu terkadang ini tidak percaya diri, dia merasa diri ada cacatnya itu karena ada belang dalam tubuhnya ya. Nah, ini jadi ee alasan yang disebutkan para ulama di antaranya tentang perintah untuk membunuh cecak itu karena dia ee mengandung racun pada ludahnya ya yang bisa menjadikan menyebabkan seorang ee terkena penyakit abros ya, yaitu belang pada kulitnya. Wallahu taala alam.<br \/>\n(33:28) Kemudian ee hadis ini tentu memberikan pelajaran pada kita tentang perintah untuk membunuh cacak. Itu adalah perintah dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Jadi kita jangan apa namanya perasaan udah enak aku ini binatang dia itu binatang ya dia tidak mengganggu. Tidak. Selama Rasul alaihi wasallam memerintahkan membunuh membunuh ya memukul dia sampai mati.<br \/>\n(33:53) Dan sekarang itu banyak misalnya di rumah-rumah kadang-kadang cacak itu mencari makanan masuk di apa ee bejana apalagi makanan yang bejana yang atau makanan yang tidak tertutup itu terkadang didatangi oleh cecak di dimakan ya. Ya itu kalau dia menyemburkan air liurnya ke makanan itu kemudian dimakan oleh manusia nah itulah salah satu penyebab penyakit baros itu tadi atau abros itu tadi ya itu penyebabnya ya.<br \/>\n(34:24) Maka dari itu hati-hati ya, makanan, minuman apalagi di malam hari hendaknya kita selalu menutupinya ya ditutup ya bejana-benjana itu supaya tidak didatangi oleh cecak atau cecak masuk ke dalamnya lalu apa? Minum makan dari makanan itu yang bisa berdampak buruk. Dan itu semua tentu dengan seizin Allah Subhanahu wa taala ya. Tapi yang jelas kita harus melakukan sebab ya.<br \/>\n(34:51) Karena kadang-kadang ada orang yang mungkin dia tidak menutup apa makanan padahal di malam hari bahkan di siang hari ya sebaiknya makanan selalu tertutup di bejananya ya. Karena cecak itu biasanya muncul ketika tidak ada orang dia itu datang ya makan ya. Kalau ada orang baru lari dia ya.<br \/>\n(35:16) maka sebaiknya kita menutup ee bencana-benjana yang di situ ada makanan atau minuman. Kemudian juga hadis ini menjelaskan kepada kita ee kita dianjurkan ya untuk membunuh setiap binatang. ya yang membahayakan bagi manusia ya. Apa saja ya dari contoh tadi itu para ulama mengkiaskan kepada binatang yang lainnya. Serangga-serangga yang membahayakan, yang mengandung racun misalnya berbahaya bagi manusia, berbahaya bagi kaum muslimin itu dianjurkan membunuh membunuhnya.<br \/>\n(36:14) Ya, makanya ada sebagian ulama memberikan ee kaidah dalam masalah ini ya. Ma ada ya toban qutila syaran ya ma&#8217;an qutila syaran. Artinya apa saja binatang yang dia itu mengganggu, menyakiti, mengganggu ya, maka secara hukum syari dibolehkan membunuh binatang tersebut. Ya maza syaran maza th&#8217;an qutila syaran.<br \/>\n(36:56) Tidak ada binatang secara tabiat binatang itu ya itu mengganggu membahayakan bagi manusia maka itu di ee boleh dibunuh. secara syari. Artinya dari hukum dari pandangan syariat boleh membunuh binatang itu atau serangga terbut kecuali semut. Semut itu tidak boleh di dibunuh ya. Semut tidak boleh dibunuh. Ya, ada kisah dalam hadis riwayat Imam Muslim, ada seorang nabi ya dia berteduh di di berteduh di satu tempat ya di bawah sebatang pohon.<br \/>\n(37:30) Kemudian ada seekor semut yang menyengat dia. Ya. Kemudian Nabi itu membunuh semua semut yang ada di dan kawan-kawannya yang ada di lubang itu. Makanya Allah menegur pada nabi tersebut, &#8220;Ya, apakah Anda membunuh ya semua umat yang bertasbih pada Allah itu hanya gara-gara seekor yang menyakitimu?&#8221; J ibaratnya begitulah ya. Nah, ini tentang semut ya.<br \/>\n(37:55) Jadi semut kalau yang mengganggu ya boleh dibunuh. Yang tidak mengganggu ya jangan dibunuh. Wallahu taala alam. Kemudian juga hadis ini menjelaskan bagi kita tentang pahala yang diberikan oleh Allah Taala kepada orang yang membunuh cecak itu dengan ee bertingkat-tingkat. Artinya satu pukulan mati pahalanya 100.<br \/>\n(38:19) Ya. Kemudian kalau dua pukulan baru dia mati itu di bawah itu. Kalau tiga pukulan di bawah pahala tersebut. Kemudian hadis yang berikutnya, insyaallah hadis ini kita baca pada kesempatan yang baik ini ya. Satu hadis lagi masih ada kesempatan. Qala Nawawi rahimahullah taala dari Imam annawawi rahimahullah berkata, &#8220;Waan Abi Hurairah radhiallahu anhu qal.<br \/>\n(38:45) &#8221; Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, bodqoh. Seorang berkata, &#8220;Ya sungguh aku benar-benar akan memberikan satu sedekahq.&#8221; Maka kemudian orang ini yang sudah berniat untuk memberikan sedekah, dia keluar yni dari rumahnya dia membawa sedekah itu. Fawadaha fi yadi sariqin.<br \/>\n(39:23) Kemudian dia berikan kepada seorang ternyata orang ini maling, suka mencuri. Ya. Jadi sedekah itu tadi diberikan kepada seseorang yang orang itu orang yang sering mencuri. Faasbahu yatahaduna. Akhirnya ketika orang-orang mendengar bahwa si fulan ini memberikan sedekah pada si pencuri tadi itu, mereka berbicara di pagi hari.<br \/>\n(39:57) Ya, faasbahu yatahadun. bagi mereka menjadikan bahan bicara ya bahwa tusuddiq alqin ini bahwa orang yni bahwa orang yang mencuri ini diberikan sedekah padanya oleh yang berniat memberikan sedekah tadi jadi bahan omomongan faqala Allahumma lakal hamdu laodqanna bodqatin kemudian orang itu lagi dia mengatakan ya Allah segala pujian hanya milikmu.<br \/>\n(40:30) Sungguh aku benar-benar akan memberikan sedekah. Fakoroja bisodqatihi. Kemudian dia keluar membawa sedekahnya untuk memberikan pada seseorang. Ya fawaitani ternyata orang yang diberikan sedekah itu ya seorang wanita yang yang berzina zaniahabahu keesokan harinya manusia berbicara lagi ya bahwa si wanita pezina itu wah dapat sedekah ini dari orang tadi itu.<br \/>\n(41:20) Ya yataun mereka berbicara ya malam e mereka ini tadi malam kata mereka si wanita pezina itu diberikan sedekah faqala Allahum lakal hamdu ala zaniyatin ya maka orang itu berkata, &#8220;Allahumma ya Allah lakal hamdu aku bersyukur pada engkau yni aku telah memberikan sedekah kepada seorang pezina itu.qtin. Kemudian dia ini berjanji lagi, &#8220;Aku akan berikan lagi sedekah.<br \/>\n(41:54) &#8221; Fakodqatihi fawah fiadi ganiin. Kemudian dan dia berniat yang ketiga tali ee ketiga kalinya untuk memberikan sedekah. Kemudian dia berikan sedekah. Tapi yang diberikan itu orang yang cukup. Ya, sedekah itu ternyata diberikan kepada seorang yang kaya. Di pagi hari orang-orang berbicara bahwa ya ternyata sedekah itu diberikan kepada seorang kaya.<br \/>\n(42:35) Faq allahumakal hamdu alikin waaitin waa ganiin. Dan orang yang bersedekah itu berkata, &#8220;Ya Allah lakal hamd, segala puji hanya milikmu ya Allah. Ya, segala puji hanya milikmu yang mana aku telah memberikan sedekah kepada seorang yang mencuri, seorang wanita yang berzina dan kepada seorang kaya. Fautiya faqila lahu.<br \/>\n(43:07) Ya, fautiya faqila lahu. Kemudian dia didatangi orang ini yang memberi sedekah itu lalu dikatakan kepadanya amma e eh fautiya faqil lahu. Kemudian ada yang datang kepada orang ini. Lalu dikatakan pada orang padanya ya pada orang yang memberikan sedekah kepada si maling orang yang mencuri, pada seorang wanita yang berzina dan pada orang kaya.<br \/>\n(43:44) dikatakan pada orang itu, &#8220;Yaukin, adapun sedekahmu yang engkau berikan kepada seorang yang mencuri, semoga dengan pemberian sedekahmu itu pada dia, dia yakni ee menjaga dirinya dari mencu mencuri. Semoga dia berhenti dari mencuri karena sedekahmu.&#8221; Ibaratnya begitulah. Dan semoga apa yang kau berikan pada seorang wanita yang berzina itu dengan pemberian sedekahmu itu semoga dia bisa yakni memelihara dirinya ya dari berzinair.<br \/>\n(44:30) Dan semoga pemberian sedekahmu itu kepada seorang kaya, semoga orang kaya itu bisa mengambil pelajaran. Ya, dia bisa ambil pelajaran supaya dia juga ikut bersedekah. Fayunfiq mimma atahullah. Ya, diambil pelajaran ya. Kemudian dari hartanya juga dia memberikan sedekah pada orang lain.<br \/>\n(44:59) Hadis ini muttafa alaih riwayat Imam ee diriwayat Imam Bukhari ee dan ini redaksi dari Sahih Bukhari juga riwayat Imam Muslim. Nah, hadis ini di antara hadis-hadis yang menarik untuk dibahas. Jadi, terkadang manusia itu dia memberikan sesuatu kepada atau memberikan sedekah pada orang ya yang mungkin ya dianggap oleh manusia itu tidak tepat ya, tidak tepat.<br \/>\n(45:32) Tapi dengan niat dia ikhlas karena Allah Taala ya bisa jadi ya yang tidak tepat itu justru ada hikmahnya. Contoh dia memberikan pada seorang yang suka mencuri. Maka dikatakan pada dia, &#8220;Semoga dan pemberianmu kepada orang yang mencuri itu dia menjaga dirinya dari mencu dari mencuri berikan pula pada orang yang zina dan seterusnya.&#8221; Ya, jadi semua itu ada hikmahnya ya.<br \/>\n(45:59) Dan orang ini ketika dia memberikan sedekah, dia tidak tahu tentang orang-orang itu ya. Bahwa ternyata yang satunya itu mencuri ya ee suka mencuri. Ternyata wanita yang diberikan sedekah itu seorang wanita yang berzina. Kemudian yang ketiga ee dia yang dia berikan sedekah itu ternyata orang yang cukup yang tidak pantas untuk mendapatkan mendapatkan sedekah ya. Nah, itu kembali pada niat.<br \/>\n(46:30) Jadi, seorang ketika dia mengeluarkan sedekahnya ya sesuai dengan niatnya. Artinya dia intinya dia ingin mengeluarkan sedekahnya. Kalaupun sedekah itu jatuh pada bukan orang di pada orang yang tepat, dia tetap mendapat pahala. Ya, orang yang memberikan sedekah itu tetap mendapat pahala.<br \/>\n(46:55) Ya, karena niat dia untuk memberi sedekah. Entah jatuhnya kepada siapa sedekah itu, dia yang memberikan sedekah tetap ee mendapat paha pahala dari sedekahnya. Kemudian hadis ini juga menjelaskan pada kita tentang keutamaan sedekah yang dirahasiakan ya yang disembunyikan. Dia ini diam dia berikan. Rupanya orang yang mendapat sedekah itu bercerita kepada yang lainnya.<br \/>\n(47:29) Ya, sehingga mereka tahu karena disebutkan dalam hadis ini ternyata pagi harinya mereka berbincang-bincang bahwa orang si maling ini yang diberikan sedekah. Ya. Jadi, wallahuam. Mungkin orang tadi itu bercerita kepada entah tetangganya atau temannya atau siapa orang-orang sehingga mereka tahu bahwa dia mendapat sedekah.<br \/>\n(47:55) Lalu mereka berbicara, &#8220;Loh, kok dikasihkan sedekah ini kepada si orang yang mencuri ini?&#8221; dan seterusnya ya. Jadi dia rahasiakan sedekahnya ini. Dia tidak umumkan ya. Dan ini fadilahnya besar. Orang memberikan sedekah tanpa mengumumkan tanpa mengas kepada siapapun cukup dia antara dia dan Allah Taala. Ini satu amal keba kebaikan menunjukkan keutamaan sedekah yang tersembunyi.<br \/>\n(48:21) Ya, sebagaimana disebutkan ee oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam shodqatus sirri. Ya, sedekah yang dirahasiakan itu akan me memadamkan murka Allah. Ya, memadamkan murka Allah. Kemudian ee hadis ini juga menjelaskan kepada kita tentang seorang itu dia tetap mantap ketika mendengar pembicaraan manusia. Karena orang-orang pada bicara tatkala dia memberikan sedekah satu kepada orang yang mencuri, satu kepada pezina, yang satu lagi pada orang kaya, itu menjadi omongan manusia manusia orang-orang di di tempatnya.<br \/>\n(49:08) Nah, tapi dia tetap bersabar ya dia karena memang itu sudah berlalu, sudah apa sudah terjadi aknya dia ya dimimpikan ya ee tentang dia didatangi oleh seorang atau dia mimpi bahwa apa namanya dia tuh sedekahnya itu bermanfaat ya. Sedekah itu bermanfaat ya. Ketika dia berikan pada seorang yang mencuri semoga orang itu berhenti dari perbuatan mencurinya.<br \/>\n(49:39) ketika diberikan pada seorang yang berzina. Semoga dengan sedekah itu seorang yang berzina tadi berhenti dari zina, perbuatan zinanya. Ya. Dan yang ketiga ketika dia berikan pada orang kaya ya jatuhnya harta sedekah itu pada orang kaya ya semoga orang kaya itu bisa mengambil pelajaran. Kemudian dia juga ikut memberikan sedekah ya.<br \/>\n(50:03) Jadi ada ada hikmahnya di balik itu semuanya. Maka kalau seorang sudah melakukan sesuatu kemudian ternyata dia dengar bahwa apa yang dilakukan itu tidak tepat sasaran ibaratnya begitu ya, maka sudahlah di ya pasrah karena memang sudah terja terjadi ya. Ya, pasra dengan apa yang di yang sudah ter terjadi. Tidak usah gelisah, tidak usah apa namanya ee membicarakan lagi ya, menyesali perbuatannya gak usah. Selama itu sudah berlaku, berjalan, ya, maka sudah cukup ya.<br \/>\n(50:44) Itu sebagai ee pelajaran ya dan tetap tenang ya karena itu sudah merupakan qada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian hadis ini juga menjelaskan kepada kita tentang anjuran untuk memberikan tetap memberikan peringatan kepada pelaku-pelaku maksiat ya dan ajak mereka kepada ee kebenaran ya agar mereka yang berbuat maksiat bisa bertobat ya dan mengambil pelajaran ya dari apa yang di ee ingatkan kepada mereka ya.<br \/>\n(51:20) Jadi intinya bahwa hadis ini juga memberikan pelajaran p kita tentang dakwah ya. Dakwah mendakwahi orang-orang yang atau pelaku-pelaku maksiat agar bertobat dari maksiat mereka. Ya, ini kewajiban para dai, para duat, para ulama ya dalam hal tersebut. Karena dakwah ini tidak hanya kepada orang yang sudah paham agama ya. Dakwah ini kepada semua.<br \/>\n(51:49) Makanya dakwah salaf ini tidak boleh eksklusif, tidak boleh tertutup. Dakwah kita ini kepada semua siapa saja ya, pelaku maksiat, pelaku bidah, dan semuanya siapa saja bahkan orang bukan muslim tetap wajib untuk diingat diingatkan. Ya, kalau mereka mau terima alhamdulillah ya tidak mau itu yang penting sudah diingatkan. sudah didakwahi. Iya.<br \/>\n(52:21) Jadi dakwah itu kepada semua kalangan ya. Dakwah tidak hanya pada ee kelompok tertentu ya, tapi untuk semua kalangan. Siapapun mereka baik mereka orang yang saleh atau orang pelaku maksiat atau yang lainnya ya tetap didakwa didakwahi. Karena dakwah ini peringatan itu bermanfaat ya. Akirikul mukminin. Ya, berilah peringatan karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.<br \/>\n(52:52) Ya, maka dakwah harus menyeluruh. Jangan khusus ya golongan-golongan tertentu itu yang didakwahi ya. Hanya orang berduit yang didakwahi. Tidak untuk semuanya ya. fakir, miskin ya, laki-laki, wanita ya, dan yang lainnya ya dari umat ini ya semua membutuhkan dakwah ini untuk diingatkan ya agar bertobat dari perbuatan maksiat jika mereka pelaku maksiat agar meningkatkan ibadah jika mereka adalah orang-orang yang banyak ibadahnya agar meningkat dan seterusnya. Ya, itu mungkin pelajaran ee kajian kita pada kesempatan yang baik ini.<br \/>\n(53:38) Insyaallah pada pertemuan akan datang kita membahas hadis tentang syafaat di hari kiamat kelak. Hadisnya panjang ya. Dan ini ada ee peristiwa tentang atau ee hadis ini tentang syafaat Rasul Sallahu Alaihi Wasallam ya ee yaitu Asyafaatul udma dan juga syafaat para rasul yang lainnya ya kepada umat-umat mereka.<br \/>\n(54:05) Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semuanya dan insyaallah masih ada waktu kurang lebih 15 menit untuk sesi tanya jawab. Demikian semoga bermanfaati hzakumullahu khairan wallahu taala alam. Enam ustaz. Jazakumullah khairan barakallahu fikum atas materi yang telah disampaikan Ustaz di kesempatan pagi hari ini. Dan ikhwat Islam azani allahu ayakum saatnya kami membuka sesi interaktif soal jawab.<br \/>\n(54:32) Bagi Anda ingin bertanya secara langsung Anda dapat menghubungi kami di 0218236543. Dan kami informasikan nomor ini untuk menghubungi secara langsung. Anda menghubungi melalui layanan lokal tidak bisa menghubungi melalui call WA. Dan bagi Anda yang ingin bertanya melai chat WA, Anda bisa kirimkan di 02182365436. Kita angkat yang pertama menepon terlebih dahulu.<br \/>\n(54:57) Silakan bagi Anda yang sudah terhubung ya. Silakan yang pertama telepon terlebih dahulu. Silakan bagi Anda yang sudah terhubung. Iya, silakan Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Bapak dan berada di mana ini Pak? Pak Iskandar dari Kalimantan Timur Pak. Silakan Pak Iskandar. Silakan. Begini Pak. Saya seorang marbot.<br \/>\n(55:15) Heeh. Artinya saya sering juga memandikan masalah mayat. Sering saya memandikan mayat dan ee saya mau tanyakan Pak Ustaz masalah ee mama eh masalah diudukkan mayat apakah sehabis mandi atau sebelum dimandikan mayat kan itu kan di sini mayoritas habis mandi baru diwudukkan mayat dan juga tak pertanya bagaimana caranya mengudukkan mayat itu inti pertanyaannya Pak Ustaz. Baik. Mewudukkan Pak ya. Mewudukan ya.<br \/>\n(55:49) Baik. Uduh mayat. Bagaimana caranya, Pak Ustaz? Baik. Baik, terima kasih Pak Iskandar atas pertanyaannya. Cukup, Pak. Ya. Iya, itu aja, Pak Ustaz. Baik, Pak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan, Ustaz.<br \/>\n(56:08) Ee baik. Tentang pelaksanaan ya ee memandikan mayat ya. itu yang pertama kali ya. Apabila seorang misalnya dia memandikan jenazah, yang pertama kali dilakukan adalah ee mayat itu diistinjakkan ya, artinya dibersihkan bagian ee dubur dan kemaluannya. Ini pertama ya. Kalau misalnya ee apa namanya? dikhawatirkan ada mungkin masih ada kotoran di perutnya, maka dianjurkan untuk di agak ditekan dengan dengan lemah lembut ya, supaya mungkin ada kotoran bisa keluar ya. Jadi yang pertama kali dibersihkan bagian apa<br \/>\n(56:55) bawahnya ya dan ini tentu dalam keadaan tertutup karena ada sebagian orang itu membandingkan jenazah. Jenazah itu di sesudah dibuka pakaiannya tuh ya ibaratnya telanjang bulat gak ditutup auratnya. Ini tidak benar. Jadi tetap harus ditutup bagian auratnya ya, tetap ditutup dengan selembar kain misalnya ya.<br \/>\n(57:22) Kemudian dari balik kain itu tadi dia di apa? Diistinja ya dibersihkan bagian kemaluannya dan duburnya. Setelah itu ya kemudian menginikan anggota wudunya ya. Jadi misalnya mulutnya dibersihkan ya tentu dengan sebat kain ditaruh di jari misalnya kemudian di dibersihkan ya mulutnya itu ibaratnya kumur ya kemudian juga hidungnya kemudian wajahnya kemudian tangannya kanan dan kiri ya kemudian kepalanya kemudian kakinya jadi ee ibaratnya diwudukan itu pada permulaan dimandikan ya permulaan di dimandikan itu yang kami tahu Wallahuam. Jadi itu pertama kali ya. Jadi bukan di akhirnya<br \/>\n(58:06) tapi di di awal itu sudah didahului dengan ee maudukan ee setelah membersihkan daerah auratnya, daerah kemaluannya ya dibersihkan ya itu e para ulama menyebutkan dengan orang yang bagian membersihkan apa namanya atau ee istinja kepada si mayat itu hendaknya dia memakai apa? lapisan kain ya, lapisan kain kemudian campur sabun misalnya ya untuk dibersihkan ya itu semua dibalik tetap dalam kondisi tertutup auratnya tidak boleh dibuka ya dilihat oleh orang-orang yang memandikan ini tidak dibenarkan dalam agama tetap ditutup auratnya ya<br \/>\n(58:49) selama di dimandikan tetap ditutup auratnya. Nah, ini keterangan tentang ee masalah apa namanya maudukan mayat tadi itu, yaitu wallahuam itu ee di awal dari ee ketika dimandikan pada permulaan ya. Wallahuam. Nam ustaz jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jaban yang telah diberikan. Demikian jaban Pak Iskandar.<br \/>\n(59:18) Mudah-mudahan bisa diamalkan dengan tepat dan ikhwat al islam azaniallahu wyakum kita angkat pertanyaan berikutnya kembali mulai telepon di 0218236543. Kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan ya. Asalamualaikum ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Saya Pak Hadi dari Jakarta. Pak Hadi silakan Pak Hadi.<br \/>\n(59:42) Apa pertanyaannya Pak Hadi? Langsung saja. Ee saya mau bertanya Ustaz. Mana yang lebih baik kita beramal? Heeh. Mana yang lebih baik kita beramal? Apakah beramal sedekah secara umum atau bersedekah dengan amal jariah. Karena katanya kan kalau amal jariah itu sampai kita meninggal, sampai kita pahalanya mengalir.<br \/>\n(1:00:06) Sedangkan kalau sedekah seperti biasa secara umum itu gimana, Ustaz? Mana yang lebih baik? Sedekah secara umum atau sedekah secara khusus? Artinya amal jariah begitu, Ustaz. Baik, cukup Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Demikian dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab.<br \/>\n(1:00:24) Silakan, Ustaz. Baik. Pertanyaan dari Pak Hadi ya di Jakarta bahwa sedekah yang ditanyakan tadi itu ya sedapat mungkin dua-duanya dilakukan ya. Dua-duanya dilakukan. Sedekah juga yang umum. Ada orang butuh kita berikan. Ya, ini juga tepat sasaran ya. Tetap dapat pahalanya. Pahala sedekah itu yang ditanyakan yang disebutkan tadi secara umum kita dianjurkan ya.<br \/>\n(1:01:03) Justru kadang-kadang sedekah yang dengan apa namanya dalam kondisi yang ee dibutuhkan, orang membutuhkannya kemudian kita berikan dia naik pahalanya lebih besar. Di saat orang itu betul-betul butuh, kita keluarkan mereka dari misalnya orang itu dari dari satu kesulitan misalnya dengan memberikan sedekah pada orang itu ya itu justru pahalanya luar biasa besarnya.<br \/>\n(1:01:32) Jadi tetap lakukan sedekah yang bersifat umum. Adapun sedekah jariah ya juga kalau memang punya harta silakan siapkan untuk untuk sedekah jari jariah ya. Kita misalnya ada pembangunan masjid satu pondok pesantren ya pondok pesantren sunah ya kita berikan ini untuk amal jariah.<br \/>\n(1:01:55) Jadi dua-duanya dilakukan ya karena sedekah tidak akan merugikan kita ya. Baik yang dikatakan oleh Bapak tadi secara umum ataupun amal sedekah jariah ya. Upayakan dua-dua dilakukannya. Ada untuk jariahnya dan ada untuk sedekah se kesehariannya pada orang-orang yang memang membutuhkan. Ya, dua-dua lakukan. Wallahu taala alam. Nam ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz.<br \/>\n(1:02:23) Dan kita akan angkat pertanyaan-pertanyaan melai chat wa yang sudah masuk Ustaz. Yang pertama, Ustaz, bagaimanakah caranya agar saya bisa meningkatkan atau mengakselerasi atau memaksimalkan dalam amal, Ustaz? Karena saya merasa hidup ini yang saya jalani adalah sia-sia sehingga saya bertekad untuk merubah dengan merasa dan merasa banyak ketinggalan.<br \/>\n(1:02:48) Bagaimanakah caranya agar bisa semangat dan memaksimalkan dalam amal Ustaz? Silakan, Ustaz. Ee baik. Setiap manusia tentu punya banyak kekurangan ya. Apa yang ditanyakan tadi ya? Yang pertama yang dilakukan pertama istiana billah. Mintalah pertolongan kepada Allah subhanahu wa taala agar Allah memberikan kekuatan pada kita untuk kita bisa meningkatkan amal ibadah kita.<br \/>\n(1:03:19) hal-hal yang sudah berlalu, yang terjadi ya itu cukup dan kita bertobat ya minta ampun pada Allah azza wa jalla ya karena tidak ada manusia yang luput dari doa. Kemudian kesempatan yang sisa yang ada ini itu yang dimaksimalkan ya karena toh amal itu dilihat akhirnya ya. Al&#8217;alu bil khawatim. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, amal itu yang dilihat akhirnya ya.<br \/>\n(1:03:49) Maka kesempatan yang ada ini manfaatkan dengan sebaik-baiknya ya. Selain amal-amal yang wajib, salat lima waktu, puasa, zakat, ee haji atau umrah atau yang lainnya juga perbanyak amalan-amalan sun sunah ya. Baik itu baik itu puasa atau salat-salat sunah, puasa-puasa sunah, sedekah-sedekah dan seterusnya.<br \/>\n(1:04:15) Pokoknya setiap ada peluang kita beramal, kita berupaya untuk bisa ikut dalam amal tersebut. Ya, mumpung masih sehat walafiat, ada kesempatan diberikan oleh Allah Taala, kita tingkatkan dan minta pertolongan pada Allah azza wa jalla. Ini yang pertama. Yang kedua, bergaul dengan orang-orang yang semangat dalam beribadah pada Allah Taala.<br \/>\n(1:04:42) Cari teman yang baik ya, yang dia bisa memberikan dorongan pada kita, semangat pada kita untuk beribadah. Karena teman itu punya pengaruh yang besar ya. Teman itu mempunyai pengaruh pada temannya. Makanya kita dilarang apa? Bergaul dengan teman-teman yang jelek karena dia akan menarik pada kejelekannya. Tapi kita justru diperintahkan bergaul dengan teman-teman yang baik. Ya. Jadi faktor teman itu penting ya.<br \/>\n(1:05:08) Kemudian yang ketiga kita ingat ya bahwa hidup ini ada batasnya dan kita tidak tahu sampai di mana dan sampai kapan. N oleh karena itu setiap ada peluang masuk dalam peluang kebaikan itu apa saja ya. Intinya dia adalah amal ya. Baik amal yang ibadah misalnya ibadah-ibadah yang kita lakukan, puasa sunah, salat sunah ee dan yang lainnya atau amal-amal lainnya ya yang bersifat sosial.<br \/>\n(1:05:39) Kita bisa membantu, kita bisa menolong ya kita berupaya untuk ee apa nam bisa ikut dalam amal kebaikan tersebut ya. Jadi tidak bisa dibatasi ya. Ada setiap ada peluang kita masuk ya dalam peluang itu ya. Jangan sia-siakan peluang yang ada. Karena pada umumnya peluang itu hanya se sekali ya. Nah, jadi tetap terus semangat mohon pada Allah azza wa jalla kekuatan hidayah taufik ya.<br \/>\n(1:06:07) Ya, karena Allah yang memberikan pada kita kekuatan itu ya. Kemudian bergaul dengan teman-teman yang baik ya. Kemudian tetap semangat ya berusaha untuk semangat dalam beribadah terutama ketika sendirian ya. Kalau ibadah pada di tengah orang banyak tuh biasanya semangat semuanya karena ada faktor lain di situ.<br \/>\n(1:06:30) Tapi seorang semangat ketika sendirian ya ini yang excellent yang istimewa. Ketika dia misalnya di malam hari orang pada tidur dia bangun salat dengan semangat dan dengan giat. Artinya di saat dia sendiri-sendirian ya justru tingkatkan amal itu. Ini akan nilainya akan lain dengan ketika seorang beramal di tengah orang banyak.<br \/>\n(1:06:56) Ya itu mungkin dapat kami arahkan. Wallahu taala alam. Nam ustaz jazakumullahu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas jawaban yang telah diberikan ustaz. Dan kita akan angkat satu pertanyaan kembali sebelum kita beralih ke pertanyaan berikutnya mulai telepon. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:07:15) Ustaz-ustaz, bolehkah kita bersedekah secara rutin diniatkan atas nama orang tua yang sudah meninggal? Apakah seak bersedekah tersebut tetap mendapatkan pah sedekah tersebut atau hanya orang tua saja? Dan manakah yang lebih afdal, Ustaz? Atas nama sedekah atas nama orang tua yang sudah meninggal atau sedekah untuk atas nama dirinya, Ustaz? Silakan, Ustaz.<br \/>\n(1:07:40) Baik. Jadi seorang itu dia bersedekah untuk apa? Dia mengatasnamakan atau untuk orang tua telah meninggal itu dibolehkan. Ya. Ya. Misalnya ya ada acara ya misal ada kerja bakti di masjid kita membeli misalnya nasi bungkus ya 10 biji misalnya kita sedekah untuk dengan semoga ini pahala ini untuk orang tua saya boleh tidak ada larangan.<br \/>\n(1:08:10) Ya, apakah orang yang memberi sedekah itu dapat pahala juga selain pahala orang tuanya? Jawabannya iya. Karena ini bagian dari misalnya birul walidain, berbakti pada orang tuanya walaupun telah meninggal. Jadi dia dapat pahala ya, orang tua juga dapat paha dapat pahala ya. Kemudian yang kedua yaitu hendaknya orang juga ee dia juga untuk dirinya ketika sedekah itu tidak hanya untuk orang tuanya tapi untuk juga ya untuk di dirinya.<br \/>\n(1:08:41) Ee suatu saat misalnya dia sedekah ini untuk ya ini untuk untuk dirinya ya bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya ya. Jadi usahakanlah bisa yang ini dan yang itu ya. Ya, kadang-kadang untuk orang tua kita ya dan sedekah kadang-kadang juga untuk kita sendiri ya. Yang jelas selama niat kita karena Allah Taala dan itu benar sesuai dengan tuntunan Nabi alaihiatu wasalam maka akan tersampaikan ya atau dicatat oleh Allah Taala dan diberikan pahala pada seorang anak yang berbuat demikian baik untuk orang tuanya maupun untuk di dirinya. Wallahu taala alam.<br \/>\n(1:09:23) N Ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum Ustaz. Jawabannya telah diberikan Ustaz dan kita akan angkat satu pertanyaan terakhir Ustaz melihat telepon di line telepon 0218236543. Kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan ya silakan. Iya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:09:53) Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Eh, saya Lazwardi Dahta dari Depok. Lazwardi di Depok ya. Silakan Pak Lazwardi. Baik Bapak mohon maaf Bapak menyimak saja lewat telepon jangan lewat televisi karena delay jadi biar kita waktunya bisa segera dijawab. Silakan Pak. Ya, Ustaz yang ingin saya sampaikan atau tanyakan mengenai zakat mal. He.<br \/>\n(1:10:19) Nah, dalam hal zakat mal ini itu ada namanya fisabilillah. Dalam hal ini fisabilillah itu bersifat seperti misalnya bisa enggak untuk masjid atau renovasi masjid ataupun kemudian juga untuk masalah lainnya seperti untuk memberikan Al-Qur&#8217;an atau ee membelikan Al-Qur&#8217;an untuk cari rumah tahfiz dan lain-lain yang lainnya. Mungkin fisabilillah itu cukup luas. Ustaz terima kasih baik atas bentuannya ya.<br \/>\n(1:10:50) Ya. Baik, terima kasih, Pak atas pertanyaannya dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan Ustaz. Baik. Wallahu taala alam. Dari apa yang saya ee pelajari selama ini bahwa zakat mal itu sudah ada ee delapan asnaf yang berhak menerimanya. Disebutkan dalam surah at-Taubah ayat ke-60. Ya.<br \/>\n(1:11:17) Adapun masalah misalnya seorang ingin memberikan apa? Beli Al-Qur&#8217;an untuk ee maahad pondok pesantren tahfidul Quran itu bukan dari zakat mal ya, tapi dari sedekahnya ya. Karena zakat mal itu sudah ada orang-orangnya, asnafnya sudah disebutkan ya. Maka untuk yang ditanyakan tadi itu sebaiknya dari sedekah kita ya, bukan dari bukan dari zakat. Seperti bangun masjid.<br \/>\n(1:11:46) Ya, bangun masjid bukan dari zakat. Bangun masjid itu dari ya infak yang selain zakat. Dan ini pernah ditanyakan juga pada para para sebagian ulama ya syekh masyaikh yang ee tentang masalah ini dan ya mereka menjawab demikian. Jadi kalau masalah untuk bangun masjid itu bukan dari zakat diambil ya atau renovasi masjid itu dari sedekah dari uang yang lain. Karena zakat sudah ada. zakat mal itu sudah ada yang berhak menerimanya. Wallahu taala alam.<br \/>\n(1:12:20) Nam ustaz jazakumullah khairan. Barakallah fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz. Dan pertanyaan dari Bapak tadi yang di Popala Zuwardardi adalah pertanyaan terakhir Ustaz di perjumpaan kita pada pagi hari ini. Tapi tentunya sebelum kita akhiri perjumpaan yang penuh dengan faedah ini, kami meminta kepada Ustaz untuk menyampaikan ikhtit. Silakan, Ustaz.<br \/>\n(1:12:45) Baik, kaum muslimin, kaum muslimat rahimakumullah, para pemirsa, para pendengar televisi Radio Roja di mana pun Anda berada. Semoga senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa taala. apa yang disampaikan tadi merupakan bagian dari ilmu ya pelajaran ya yang kita selalu bersyukur pada Allah azza wa jalla yang telah memberikan kepada kita taufik hidayah inayah dan demikian kita mau belajar mau menuntut ilmu ya ya karena ini bagian dari menuntut ilmu walaupun tidak secara langsung kita bertemu tapi ini salah satu media-media yang dengannya kita bisa mendapatkan kan ilmu. Maka nasihat kami pada kesempatan<br \/>\n(1:13:26) yang baik ini, mari kita terus ya belajar membekali diri dengan ilmu dan kita berupaya untuk bisa mengamalkannya walaupun sedikit demi sedikit ya. Dengan demikian maka seorang insyaallah akan bermanfaat ilmunya. Dan inilah yang doa yang ya diajarkan juga oleh Nabi alaihi wasalam.<br \/>\n(1:13:46) Allah&#8217;ni bima alamtani waimni ma yanfauni wazidni ilman. Ya. Ya Allah ajarkanlah aku ilmu bermanfaat ya. Kemudian, &#8220;Ya Allah ee berikan manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan pada aku. Kami ajarkan padaku ilmu ilmu yang bermanfaat dan berikanlah tambahan ilmu pada aku.&#8221; Nah, ini semoga betul-betul kita berupaya untuk bisa membekali diri kita dengan ilmu dan juga semoga bisa kita amalkan dan diterima amal-amal ibadah kita ya oleh Allah subhanahu wa taala. Jadi, tetap bersemangat ya.<br \/>\n(1:14:24) apa yang kita hadapi di masa di zaman yang banyak ujiannya, banyak fitnahnya, banyak godaannya, hendaknya kita selalu ya ee dan terus mendekatkan diri pada Allah subhanahu wa taala dan bertawakal pada Allah azza wa jalla dan melakukan sebab-sebab yang bermanfaat bagi diri kita ya dan keluarga kita.<br \/>\n(1:14:49) Semoga bermanfaat kami aturkan jazakumullah khairan kepada semua yang hadir atau semua yang mengikuti kajian ini ya. Apabila ada kekurangan, kesalahan, kekeliruan, kami selalu rujuk dari setiap kesalahan, kekeliruan dan mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wajazakumullah khairon. Subhanakallahum wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik wasallallahu wasallam wabarik ala nabina waa al ajmain.<br \/>\n(1:15:17) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan barakallah fikum kepada guru kita Al Ustaz Alfadil Mubarok B Mualim Lc Mahi. Hafrullahu taala atas waktu yang telah beliau berikan, materi yang telah beliau sampaikan dan jawaban-jaban yang telah beliau sampaikan untuk kita semuanya.<br \/>\n(1:15:43) Kita ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan-kebaikan yang telah beliau berikan. Semoga Allah subhanahu wa taala menjaga beliau di sana dan juga semoga Allah meluaskan keilmuan sehingga semakin banyak faedah ilmu dari setiap perjumpaan bersama beliau insyaallah. Allahum amin. Untuk rekan-rekan kami celengsi dan di studio Aliman Center, kami ucapkan terima kasih banyak atas kerja samanya. Kita bisa menghadirkan kajian yang bermanfaat ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin.<br \/>\n(1:16:06) Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kembali untuk kita bisa menghadirkan pada kajian-kajian berikutnya. Dan untuk Anda semuanya akhwat al Islam azaniallahu wyakum yang telah bersama kami dari awal hingga akhir, kami ucapkan terima kasih atas kebersamaan Anda. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum.<br \/>\n(1:16:23) Nantikan kembali kajian beliau insyaallah pada hari Selasa yang akan datang untuk kita ikuti kelanjutan dari pembahasan kitab Riyadus Shihin akhir kalam untuk kita semuanya. Semoga Allah mudahkan bagi kita mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan dan tetap jaga kesehatan untuk Anda semuanya. Barakallah fikum. Billahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:16:56) Inalhamdulillah R TV, saluran tilawah Alquran dan kajian Islam. M.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [Live] : Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin &#8211; YouTube Transcript: (00:01) atau merusak kekhusyukannya itu supaya dihind dihindari. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roja Palu 101,8 FM. dan radio Roja Bandung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3746","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [Live] : Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin &#8211; YouTube Transcript: (00:01) atau merusak kekhusyukannya itu supaya dihind dihindari. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roja Palu 101,8 FM. dan radio Roja Bandung [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:53:13+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"36 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/\",\"name\":\"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:53:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:53:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip","og_description":"(3) [Live] : Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin &#8211; YouTube Transcript: (00:01) atau merusak kekhusyukannya itu supaya dihind dihindari. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roja Palu 101,8 FM. dan radio Roja Bandung [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:53:13+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"36 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/","name":"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. - Kitab Riyadhus Shalihin - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:53:13+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:53:13+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-mubarok-bamualim-lc-m-h-i-kitab-riyadhus-shalihin-42\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M. H. I. &#8211; Kitab Riyadhus Shalihin"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3746"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3746"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3746\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3747,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3746\/revisions\/3747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}