{"id":3981,"date":"2026-07-13T09:29:05","date_gmt":"2026-07-13T02:29:05","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3981"},"modified":"2026-07-13T09:29:06","modified_gmt":"2026-07-13T02:29:06","slug":"1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/","title":{"rendered":"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, MA."},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh. W naudahi minuri anfusina wamatialina yahdihillahu fala mudillalah w yudlil fala hadialah wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih w tamutunna illa Ya ayyuhanakumziquum min nafs wahidah walaq minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladziasal<\/li>\n\n\n\n<li>bihial arham inallahaikum yaina amah Wir huda Muhammadin shallallahu alaihi wasallam umah Alhamdulillah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya, atas kemudahan dan taufik yang diberikannya kepada kita untuk kemudahan memahami dan mengamalkan Islam yang<\/li>\n\n\n\n<li>benar, mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. kemudahan untuk menuntut ilmu agama sehingga kita mudah dengan izin Allah untuk mempelajari kitab-kitab para ulama ahlusunah wal jamaah utamanya yang mengajarkan tentang keimanan, tentang iktikad akidah yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Alhamdulillah di kesempatan sore hari ini kita dipertemukan di Masjid Nurul Iman, Masjid yang Mubarak dalam kajian mengkaji kitab yang membahas tentang prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah. Kitab al-Aqidatul Wasitiyah, buah karya dari Syikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Pembahasan kitab ini [berdehem] pernah saya sampaikan di masjid ini sebelum masa-masa pandemi dulu yang sekitar 2 tahun atau lebih ya yang lalu cuma sempat terhenti yang insyaallah ya ketika dulu saya bawakan di malam hari<\/li>\n\n\n\n<li>di waktu malam hari antara magrib dan isya maka Maka insyaallah mulai saat ini nanti waktunya kita akan pindahkan ya. Kalau sekarang di hari Ahad ini karena bertabrakan dengan jadwal dari Ustaz Alfadil guru kita, Ustaz Irwandi Tarmidzi yang kemudian beliau insyaallah akan kembali melanjutkan kajian [berdehem] di hari Ahad siang katanya kalau tidak salah untuk rutinnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka untuk kajian ini nanti kita akan jadikan rutin setiap bulan sekali di pekan keempat hari Jumat setelah selesai salat Jumat insyaallah semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan ya. Jadi kita akan lanjutkan pembahasan kitab Al-Aqidatul Wasitiyah Bu karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah.<\/li>\n\n\n\n<li>[berdehem] Keistimewaan kitab al-Akqidatul Wasitiyah ini pembahasannya adalah pembahasan yang menyangkut prinsip-prinsip dasar iman. Prinsip-prinsip dasar akidah juga memuat masalah-masalah yang berhubungan dengan manhaj, metode pemahaman dan pengamalan ahlusunah wal jamaah. seperti nanti jelas setelah masalah-masalah yang berhubungan dengan iman kepada Allah, iman kepada malaikat sampai kemudian pembahasan tentang rukun-rukun iman yang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian nanti banyak fokus membahas perkara iman yang paling penting yang merupakan landasan tauhid yaitu iman kepada mengimani nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, maha terpuji. Nanti juga ada pembahasan bagaimana kita menyikapi para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan hukum orang-orang yang mencela mereka.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini pembahasan yang sangat luar biasa disebutkan dalam kitab ini. Sehingga kita perlu mengkajinya. Apalagi kita ketahui Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala adalah ulama ahlusunah yang terkenal dengan pembelaannya terhadap akidah ahlusunah wal jamaah. Kemudian terkenal dengan keilmuan beliau.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan nanti [berdehem] kita akan membaca keterangan yang beliau sampaikan di sini ya. Saya tidak akan menjelaskan dari awal lagi supaya tidak terjadi pengulangan mungkin bagi antum yang sudah pernah mengikutinya. Saya akan lanjutkan sampai di tempat terakhir kita berhenti dari kajian kitab ini yang telah kita mulai ee di waktu yang lalu ya sebelum pandemi. Barakallahu fikum. Tib.<\/li>\n\n\n\n<li>Ee kemarin juga yang kita baca masih sedikit ya baru kita mulai belum begitu jauh. Ya, di dalam pembahasan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala setelah menyebutkan mukadimah kemudian beliau mengatakan, &#8220;Amma ba&#8217;du.&#8221; Adapun selanjutnya alfirqtinjatilamati ahli sunati wal jamaah. Beliau berkata, &#8220;Amma ba&#8217;du.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Adapun selanjutnya maka ini adalah iktikad, keyakinan akidah. dari golongan yang selamat. Golongan yang selamat dari ancaman azab, ancaman api neraka. Yang mereka ini adalah golongan almansur yang selalu ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala sampai datangnya hari kiamat. Ahli sunnati wal jamaah. Mereka ini adalah ahlusunah wal jamaah.<\/li>\n\n\n\n<li>Saya sudah pernah terangkan di pertemuan yang lalu ya, di kajian kita yang lalu bahwa istilah alfirqatun najiah golongan yang selamat, atifatul mansurah golongan yang selalu ditolong oleh Allah, ahlusunah wal jamaah. Ini semua istilah yang maknanya satu. Alguraba orang-orang yang asing karena berpegang teguh dengan sunah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini istilah yang satu ya. Jadi orang yang mengikuti pemahaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Merekalah yang dimaksud dengan istilah-istilah ini. Karena ini diambil dari hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ringkasnya saja kita tahu hadis yang sahih tentang perpecahan umat.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan di akhir hadis ini, kulluha finar illa wahidah wahyal jamaah. Semua perpecahan kelompok tersebut semuanya diancam di dalam neraka kecuali satu yaitu aljamaah. Dalam riwayat lain Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan, mereka adalah orang-orang yang selalu mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.<\/li>\n\n\n\n<li>Inilah sebabnya mereka disebut dengan alfirqatun najiah. Golongan yang selamat, yakni selamat dari ancaman azab neraka. Ketika terjadi perpecahan umat, mereka disebut dengan almansurah. Selalu ditolong oleh Allah. Atifatul mansurah. Ya, disebutkan di dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, amrullah.<\/li>\n\n\n\n<li>Akan senantiasa ada di umatku ini sekelompok orang ya yang mereka itu selalu menampakkan memenangkan kebenaran. Dalam riwayat lain mereka selalu mansurin, ditolong oleh Allah subhanahu wa taala. Tidak akan merugikan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah Subhanahu wa taala sampai hari kiamat. Kenapa mereka ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala? Karena mereka selalu mengikuti pemahaman yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena mereka setia mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Makanya para ulama ahlusunah wal jamaah sepakat menyebutkan ketika menjelaskan makna hadis tadi semua mereka mengatakan hum ashabul hadis. Menurut kami, menurut aku, yang dimaksud dengan golongan yang selalu ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala, mereka adalah ashabul hadis, orang-orang yang selalu mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini pernyataan dari Imam albukhari, guru beliau Imam Ali Ibnul Madini. Sebelumnya lagi Imam Abdullah Ibnu Mubarak, Imam Ahmad juga mengatakan yang sama dan para ulama yang lain. Kenapa mereka ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala dengan berpegang teguh dengan sunah? Karena sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dijamin dijaga oleh Allah subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Pemahaman Islam yang benar dijamin selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka kalau kita dekat dengan pemahaman Islam yang benar, maka ketika itulah kita juga akan masuk dalam penjagaan Allah Subhanahu wa taala dan pertolongannya. Ini sebabnya ahlusunah wal jamaah disifati sebagai orang yang selalu mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat. radhiallahu taala anhum ajmain.<\/li>\n\n\n\n<li>Mereka disebut sebagai ahlusunah wal jamaah. Juga sudah jelas tadi ahlusunah artinya orang-orang yang setia belajar sunah, memahami dan mengamalkannya. Aljamaah adalah jemaah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Sebagaimana yang tadi kita sebutkan di dalam hadis yang sahih tentang perpecahan umat. Tiib ini sudah kita lewati.<\/li>\n\n\n\n<li>Wahual imanu billahi. Apa itu keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah? Keyakinan mereka adalah beriman kepada Allah. Waalaikatihi beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Waubihi beriman kepada kitab-kitab Allahusulihi. Beriman kepada rasul-rasul Allah. Wal baal maut. mengimani hari kebangkitan, hari kiamat setelah kematian. Walani bilqarihi dan mengimani takdir Allah yang baik maupun yang buruk.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah adalah keyakinan atau akidah Islam. Inilah yang disebutkan di dalam rukun iman yang enam yang kita tahu semua disebutkan di dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim riwayat Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu. Hadis Jibril yang terkenal ya diistilahkan dengan hadis Jibril karena malaikat Jibril datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam menanyakan tentang Islam, iman, dan ihsan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini semua sudah kita lewati pembahasannya. Tib sampai di sini. [berdehem] Maka selanjutnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala mulai memerinci pembahasan tentang akidah ahlusunah ini. Beliau berkata, &#8220;Waminal imani billahi al imanu bima washofa bihi nafsahu fi kitabihi wabima wasofahu bihi rasuluhu sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Dan termasuk iman kepada Allah. termasuk iman kepada Allah. Bahkan ini adalah landasan iman kepada Allah, yaitu mengimani atau beriman terhadap sifat-sifat Allah yang Allah tetapkan bagi dirinya di dalam kitabnya Al-Qur&#8217;an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tentu di dalam hadis-hadis yang sahih ini merupakan bagian dari iman kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena iman kepada Allah itu sebagian dari para ulama menjelaskan meliputi empat perkara. Pertama mengimani wujud keberadaan Allah. Yang kedua, al imanu birubiyatihi. Mengimani sifat rububiyah Allah. Kalau kita ditanya apa artinya rububiyah? Rububiyah itu artinya berhubungan dengan perbuatan-perbuatan Allah terhadap makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi semua sifat menciptakan, mengatur alam semesta, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, ya mendatangkan kebaikan, mencegah keburukan. Ini namanya rububiyah. Diambil dari kata-kata arrabbu. Allah adalah arraabb, Maha Pencipta dan pengatur alam semesta. Mungkin diterjemahkan bebas sebagian mengatakan artinya Tuhan.<\/li>\n\n\n\n<li>Begitu ya. Jadi itu maknanya rububiyah, mengimani rububiyah Allah. Yang ketiga, al imanu biuluhiyatillah. mengimani sifat uluhiyah Allah. Uluhiyah ini adalah konsekuensi dari rububiyah. Uluhiyah artinya mengimani bahwa Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan disembah. Ini merupakan konsekuensi dari rububiyah.<\/li>\n\n\n\n<li>Artinya orang yang menetapkan Allah pencipta satu-satunya pelindung satu-satunya pengatur alam semesta satu-satunya pemberi rezeki satu-satunya yang maha kuasa mendatangkan kebaikan satu-satunya mencegah keburukan satu-satunya maka harusnya dia hanya menjadikan Allah sebagai sembahan satu-satunya tidak ada sekutu baginya uluhiyah Allah [berdehem] ini diambil dari nama Allah Subhanahu wa taala Allah dan al-ilah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya Allah. Kita ketahui ini adalah nama Allah Subhanahu wa taala yang mencakup semua nama-nama Allah yang maha indah lainnya. Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma ketika menyebutkan definisi apa arti nama Allah, beliau berkata Allah adalah dulul uluhiyati wal ubudiyati ala khalqihi jamian. Dialah yang memiliki uluhiyah, hak untuk disembah wal ubudiah, hak untuk diibadahi semata-mata, satu-satunya terhadap semua makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini perkara yang ketiga yang berhubungan dengan iman kepada Allah. Kemudian yang keempat adalah mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah Subhanahu wa taala memiliki nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi. Kita harus mengimani sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi dirinya di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan ditetapkan oleh Rasulnya sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis-hadis yang sahih.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak boleh kita melewati Al-Qur&#8217;an dan sunah dalam hal ini ya. Makanya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala pernah mengungkapkan pernyataan beliau yang terkenal. La yusofullahu illa bima wasofahu illa bima wasofa bihi nafsahu fil quran w wasofahu bihi rasuluhu shallallahu alaihi wasallam la yutajawazul quran wal hadis.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita tidak boleh mensifati Allah kecuali sesuai dengan apa yang Allah sifatkan dirinya di dalam Al-Qur&#8217;an dan yang disifati oleh Rasulnya sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis yang sahih. Tidak boleh kita melampaui Al-Qur&#8217;an dan hadis. Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Ini empat perkara yang merupakan cakupan iman kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, di sini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala menyebutkan termasuk iman kepada Allah adalah iman mengimani apa yang Allah sifatkan bagi dirinya di dalam kitabnya Al-Qur&#8217;an dan apa yang disifatkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis yang sahih. Ibnu Taimiyyah rahimahullah taala di sini memulai dengan penjelasan tentang masalah iman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Kenapa dimulai dengan hal ini? Ya, tentu [berdehem] penyimpangan-penyimpangan dalam masalah ini di zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala sangat besar dan sampai saat ini. Padahal kita tahu iman kepada Allah dengan mengimani nama-namanya yang maha indah. sifat-sifatnya yang maha tinggi. Ini kedudukannya sangat tinggi dan sangat mulia di dalam Islam.<\/li>\n\n\n\n<li>[berdehem] Inilah yang menjadikan ibadah kita indah, yang menjadikan doa-doa kita bermakna, zikir-zikir kita nilainya sangat tinggi dan mulia. Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an. Azubillahiminasyaitanirrajim. Walillahil asmaul husna faduhu biha. Wulladzina yulhiduna fi asmaihi sayujzauna mau yammalun. Allah subhanahu wa taala memiliki nama-nama yang maha indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka berdoalah, beribadahlah kalian kepada Allah dengan nama-namanya. Memahami kandungan nama-namanya. Wadaru. Dan tinggalkanlah orang-orang yang yulhidun, menyeleweng dalam memahami nama-nama Allah, sungguh mereka akan mendapatkan balasan yang pedih dari apa yang mereka lakukan. Coba ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, kita renungkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini berhubungan dengan membahas kemuliaan dan kemahainggian zat Allah. Pembahasan tentang diri Allah Subhanahu wa taala. Ya, Allah itu menyebutkan bahwa dia memiliki nafs diri dalam terjemahan bahasa kita. nafsahu. Nah, pembahasan tentang zat Allah Subhanahu wa taala sudah kita ketahui orang yang salah paham dalam memahami sifat-sifat keutamaan Allah pasti dia akan salah dalam keimanannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kenapa demikian? Sekarang kita mencintai Allah dengan benar. Bagaimana caranya atau bagaimana mungkin kita akan bisa raih kalau tentang kemahadahan Allah kita salah dalam memahaminya? Bukankah manusia mencintai sesuatu ketika dia mengenal keindahannya? Manusia mencintai sesuatu ketika dia mengenal keindahannya, mengenal kebaikan-kebaikannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, tujuan untuk tujuan inilah Allah Subhanahu wa taala memperkenalkan dirinya dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi di dalam Al-Qur&#8217;an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya tidak mungkin seseorang bisa mewujudkan cinta kepada Allah yang benar, takut kepada Allah dengan benar, pengharapan kepada Allah, tawakal, rida dan semua amalan-amalan yang merupakan penopang iman yang utama kecuali kalau dia benar dalam mengenal Allah Subhanahu wa taala, mengenal nama-namanya yang<\/li>\n\n\n\n<li>maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Itulah makna firman Allah Subhanahu wa taala di dalam Al-Qur&#8217;an di surah Fatir. Innama yaksyallaha min ibadihi al ulama. Sesungguhnya hanyalah yang benar-benar memiliki rasa takut kepada Allah dengan sebenarnya. Di antara hamba-hambanya hanyalah orang-orang yang berilmu.<\/li>\n\n\n\n<li>Berilmu tentang Allah maksudnya. Kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, berilmu di sini maksudnya apa? Alulamaul arifuna bihi. Yaitu orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah Subhanahu wa taala. Ini menunjukkan kepada kita ketakwaan dan rasa takut ya keimanan yang benar hanya tumbuh seiring dengan kita semakin mengenal Allah dengan benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Ibnu Katsir rahimahullah taala dalam kelanjutan penjelasan beliau tadi ketika menafsirkan ayat ini berkataahuatu billahiam ilmu bihi akmalau wa aksar. Hal ini dikarenakan semakin pengetahuan seorang hamba tentang Allah, ya pengetahuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin tinggi ilmunya tentang kemahaungan Allah Subhanahu wa taala semakin besar, maka otomatis rasa takutnya kepada Allah, ketakwaannya kepada Allah semakin kuat dan semakin sempurna pula.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya ini, Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, sebenarnya ini merupakan gerbang utama untuk perbaikan iman kita. Membenarkan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala mengatakan, [berdehem] &#8220;Man arifallaha biasmaihi wa sifatihi wa af&#8217;alihi ahabbahu la mahalata.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Barang siapa yang mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji, maka dia pasti akan mencintai Allah subhanahu wa taala. Oleh karena itulah, ikhwan akhwat fiddin rahimakumullah, saya katakan tadi kitab al-Aqidatul wasitiyah ini kitab yang luar biasa.<\/li>\n\n\n\n<li>fokus pembahasannya tentang masalah iman. Kemudian membenarkan ittiba kita, semangat kita mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Antum tahu kemuliaan-kemuliaan dalam Islam ya dicapai dengan dua hal ini. Beriman kepada Allah dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>mengikuti petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Ya, Al-Qur&#8217;an saja menegaskan, &#8220;Walladzina amanu billahi wausulihi ulaika humusiddiquun.&#8221; Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada para rasul-Nya, mereka inilah orang-orang siddiq. Antum tahu siddiq ini adalah tingkatan derajat yang urutannya kedua setelah derajat atau tingkatan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya penuntut ilmu agama, orang yang belajar sunah, mereka adalah orang-orang yang kalau tujuannya belajar agama untuk menegakkan agama, mengamalkan agama dengan benar, maka mereka termasuk siddiq. Ini pernyataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Miftahu Daris Saadah. Manabal ilmauh bihil islama fahua miniddiqinatuhu ba&#8217;da darat nubuwah.<\/li>\n\n\n\n<li>Barang siapa yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk menghidupkan Islam, maka dia adalah termasuk orang-orang yang siddiq yang kedudukannya adalah setelah kedudukan para nabi alaihiusalatu wasalam. Jadi jemaah sekalian rahimakumullah, pelajaran tentang iman ini benar-benar pelajaran yang harus kita dahulukan di dalam agama kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengenal hal-hal yang berhubungan dengan akidah ini perkara yang paling penting ya. Karena inilah inti daripada kebaikan-kebaikan yang semua semua kebaikan-kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala janjikan di dalam Islam. Kita mungkin pernah mendengar sebuah hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam sahihnya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, &#8220;Inna ahlal jannati lataruna ahlal gurfati min fauqihim litafaduli ma bainahuma.<\/li>\n\n\n\n<li>Sesungguhnya penghuni surga nanti, penghuni surga nanti di dalam surga mereka akan memandang dengan kagum orang-orang yang menempati kamar-kamar yang indah di atas mereka karena perbedaan tingkatan antara keduanya. Ketika mendengar ini, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain berkata, &#8220;Ya Rasulullah, tilka manazilul anbiya laguhairuhum.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Wahai Rasulullah, itu kan tempatnya para nabi dan para rasul tidak akan mungkin dicapai selain mereka. Tingkatannya di surga tinggi lagi. Yakni mereka mengatakan itu pasti tingkatannya para nabi ya, para rasul, hamba-hamba Allah yang paling utama. Mereka ini alaihialatu wasalam tidak akan mungkin dicapai oleh selain mereka.<\/li>\n\n\n\n<li>Ternyata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak membenarkan ucapan mereka. Beliau bersabda, &#8220;Bala tidak demikian. Bala rijalun amanu billahi wasoddaqul mursalin.&#8221; Tidak demikian. Mereka yang menempati tempat tersebut adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan petunjuk para rasul alaihialatu wasalam.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi, antum perhatikan kedudukan tertinggi dalam agama dicapai dengan cara yang Allah mudahkan bagi hamba-hamba yang dipilihnya. Membenarkan iman, memperbaiki iman, beriman dengan benar. Kemudian setia mengikuti petunjuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan ini bagi kita semua.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya ya beriman kepada Allah yang di sini dimulai dengan penjelasan iman tentang nama-nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Ini adalah perkara yang penting untuk kita perhatikan. Ya. Sekarang kalau kita ingin tertarik dengan agama ini, sebenarnya kita ketahui ketertarikan terhadap agama, fitrah hati manusia.<\/li>\n\n\n\n<li>Seandainya hati kita bersih waktu belajar agama, hati manusia Allah ciptakan asalnya di atas fitrah yang cenderung mencintai agama Islam. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim. Inniqu ibadi inahu sesungguhnya aku menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif cenderung kepada tauhid, mencintai kebenaran, mencintai keimanan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari fitrah tersebut. Ini asal kecenderungan manusia yang dipalingkan oleh setan. Sekarang bagaimana untuk kita mengembalikan ketertarikan kepada agama? Ya, antum kan bisa membedakan saat ini mungkin di antara kita banyak yang mengamalkan agama dalam artian ketika salat berjamaah, alhamdulillah lima waktu kita berusaha datang ke masjid.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika ada waktu-waktu pelaksanaan amalan-amalan sunah setelah puasa yang wajib puasa sunah, salat sunah, berzikir, membaca Al-Qur&#8217;an, alhamdulillah kita laksanakan. Tapi coba kita bertanya, apakah kita mengamalkan semua ini dengan ketertarikan dari hati atau mungkin masih banyak karena terpaksanya? Atau paling tidak kita memaksa diri kita? Mungkin jawabannya yang kedua, kebanyakan masih dalam bentuk memaksa diri.<\/li>\n\n\n\n<li>Sekarang kenapa kita memaksa diri kita? Padahal agama ini diturunkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan hati manusia. Ya, [berdehem] sampai-sampai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahkan bersabda dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, iman manya billahian wabil islamian wabi Muhammadin shallallahu alaihi wasallam rasul akan merasakan lezatnya iman orang yang rida kepada Allah sebagai Rabbnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Antum tahu makna rida itu menerima dengan gembira, tidak ada rasa berat. Ini seandainya iman kita benar. Rida kepada Islam sebagai agama, yakni lapang menerima Islam, gembira dengan Islam. Wabi Muhammadin sallallahu alaihi wasallam rasula dan gembira terhadap Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul kita. Nah, makanya kenapa pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini didahulukan? Karena ternyata ini yang akan menjadikan kita atau mengembalikan ketertarikan kita terhadap agama.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau dengan mengenal kemaha nama-nama Allah dan kemahaurnaan sifat-sifatnya, kita mengenal kebaikan-kebaikan Allah yang Allah turunkan kepada kita, ini pasti menjadikan kita mencintai Allah. Sekarang makhluk saja ya keindahannya yang terbatas. Kita tertarik dengan sesuatu yang indah. Kalau kita berada di taman yang indah, melihat pemandangan yang indah atau sesuatu alat yang canggih, yang indah, kita tertarik beta berlama-lama berada di dekatnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Padahal ini keindahannya terbatas. Bagaimana kalau kita mengenal yang maha indah? Allah Subhanahu wa taala. Setelah kita mengenal Allah yang maha indah, kita mencintai Allah, otomatis kalau tujuan kita sudah benar, kita sudah mencintai Allah Subhanahu wa taala, maka dengan sendirinya amal-amal yang mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa taala, kita akan laksanakan dengan apa? Dengan gembira.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini kaidah penting ya. Kalau kita ingin merasakan nikmat ketika beragama, kita harus tumbuhkan cinta dulu. Makanya di dalam kitab Alfawaid, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala menyebutkan kaidah, alladzatu tabiatun lil mahabbah. Alladzatu tabiatun lil mahabbah. Kelezatan itu mengikuti rasa cinta. Kalau kita mencintai sesuatu, kita akan merasakan nikmat.<\/li>\n\n\n\n<li>tidak terpaksa lagi, tidak akan berat lagi kita lakukan. Ya. Maka dari sinilah benar-benar mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi. ini merupakan prioritas utama dari metode dakwah para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam ketika mengajak umatnya agar mereka tertarik mengikuti petunjuk yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa taala kepada para nabi alaihiatu wasalam.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya Ibnu Qayyim rahimahullah taala mengatakan, &#8220;Inna dakwatal anbiya warusuli alati asya.&#8221; Sesungguhnya dakwah para nabi dan para rasul berkisar pada tiga perkara. Berkisar pada tiga perkara. Pertama, takrifuhum birabil madui ilaihi. biasmaihi wa sifatihi wa af&#8217;alihi. Mengenalkan umat mereka tentang Allah yang manusia diajak ke jalannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Yaitu dengan mengenalkan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha terpuji, yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji. Ini yang pertama kali agar orang tertarik dengan tujuan. Kalau orang telah mencintai Allah, dia akan sedang mendekatkan diri dengannya. Dan mencintai Allah Subhanahu wa taala sendiri memang adalah kebutuhan hati kita yang paling besar.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, inilah sebab yang akan menghidupkan hati kita, menjadikan sempurna iman kita. Setelah yang pertama, baru yang kedua. Takrifuhum bit thqatil musilati ilaihi. Setelah itu baru mengajarkan kepada umatnya cara untuk bisa meraih keridaan Allah. Itu diajarkanlah cara beribadah yang benar yang sesuai dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Cara mendekatkan diri kepada Allah yang sesuai dengan kecintaan dan keridaan Allah. Yang ketiga, cakupan yang ketiga adalahum bimahumaihi mengenalkan kepada umatnya balasan kebaikan yang akan mereka dapatkan setelah mereka meraih keridaan Allah, yaitu mendapatkan kemuliaan di akhirat nanti di dalam surga. Jadi ini metode yang diterapkan oleh para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam sehingga menjadikan umat mereka tertarik dan bersemangat menjalankan Islam.<\/li>\n\n\n\n<li>Inilah sebabnya para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain kita lihat dalam biografi mereka, mereka adalah orang-orang yang bersemangat berlomba-lomba dalam kebaikan. Ulika yusariuna filhairati wahum lahaun. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tib ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah.<\/li>\n\n\n\n<li>Mungkin ada yang bertanya, kenapa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala ketika menyebutkan iman kepada Allah tidak memulai dengan iman tentang uluhiyah Allah, kewajiban beribadah kepada Allah subhanahu wa taala semata-mata dan tidak menyekutukannya. Kenapa dimulai dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah? Padahal kita tahu dakwah para nabi dan para rasul intinya adalah apa? Tauhid.<\/li>\n\n\n\n<li>Tauhid apa? Tauhid uluhiyah. Walaqod baatna fi kulli ummatin rasulan anudullaha wajtanibut thut. Sungguh telah kami utus pada setiap umat seorang rasul untuk menyerukan kepada umatnya hendaknya kalian beribadah kepada Allah semata-mata dan jauhilah segala sesuatu yang disembah selain Allah. Ini kan intidak para nabi dan para rasul.<\/li>\n\n\n\n<li>Kenapa bukan ini yang dibahas pertama kali? Maka jawabannya tidak ada pertentangan di antara keduanya. Karena yang namanya ibadah itu bukan cuma sekedar menyembah dengan anggota badan, tapi ibadah itu adalah menyembah Allah disertai dengan cinta, takut, dan berharap di hati kita. Kan tiga perkara ini merupakan tiang utama penopang iman.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ibadah itu bukan hanya gerakan-gerakan, tapi tanpa rasa cinta di hati kepada Allah. pengharapan, takut kepada Allah. Karena kalau cuma sekedar gerakan, orang-orang munafik juga bisa melakukannya. Apakah mereka beribadah dengan benar kepada Allah? Jawabannya tidak. Mereka beribadah seolah-olah pada anggota badannya, tapi hanya sekedar berpura-pura dalam hatinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Mereka benci kepada Allah Subhanahu wa taala. Ini jelas bukan ibadah yang diinginkan. Ya. Jadi tidak ada pertentangan antara hal ini. Karena seseorang yang telah mengenal kesempurnaan sifat-sifat Allah, kemahagian nama-nama dan sifat-sifat Allah, setelah dia mencintai Allah subhanahu Allah subhanahu wa taala, maka dia akan melaksanakan ibadah dilandasi dengan cinta. Inilah ibadah yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Oleh karena itu, kalau kita baca ketenangan dari para ulama sewaktu menjelaskan apa hakikat daripada ibadah, Syikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim menjelaskan apa ibadah itu hakikatnya adalah ibaratun amma yajmau kamal hubbi wa kamalli lillah. Sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan sikap merendahkan diri yang utuh kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ibadah itu harus ada kecintaan di dalam hati, ketundukan di dalam hati. Itu baru namanya ibadah. Maka ini tidak akan didapatkan kecuali setelah hamba mengenal Allah Subhanahu wa taala, mengenal nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Di dalam kitab fikih al-Asmail Husna diterangkan oleh Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Albadar hafidahullahu taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalil yang menyebutkan bahwasanya ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata sangat erat kaitannya dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Beliau mengambil dua ayat Al-Qur&#8217;an yang menjelaskan hal ini. Pertama, firman Allah Subhanahu wa taala di surah Azzariyat ayat 56 ya.<\/li>\n\n\n\n<li>W khalaqtul jinna wal insa illa liya&#8217;budun. Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku. Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan adalah untuk apa? Untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Ayat yang kedua yaitu firman Allah Subhanahu wa taala di akhir surah at-Talaq. Allah khalaqo sab samawati waminal ardhi mlahunna yatazalul amruahun anallaha qiru waallaha q aato bikulliin ilma Allah subhanahu wa taala dialah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi juga seperti itu.<\/li>\n\n\n\n<li>yang kemudian keputusan Allah, pengaturan Allah turun di antara langit-langit dan bumi. Allah menciptakan semua ini tujuannya untuk apa? Littlamu. Agar kalian mengetahui wahai manusia bahwasanya Allah Subhanahu wa taala maha kuasa atas segala sesuatu dan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala ilmu pengetahuannya meliputi semua makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ayat yang kedua ini kata Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala menunjukkan Allah menciptakan agar kalian mengenal sifat-sifat Allah. Ayat yang pertama, Allah menciptakan agar kalian beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah ilmu dan amal. Setelah kita mengenal Allah, maka kita akan mudah mempraktikkannya dalam amal, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. dan tidak menyekutukannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Barakallahu fikum. Oleh karena itulah, ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala mendahulukan pembahasan tentang masalah ini ya. Karena memang masalah ini adalah perkara yang sangat penting berhubungan dengan landasan iman. Iman kepada Allah Subhanahu wa taala tidak akan hidup kalau tidak ada cinta.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ruhnya iman adalah cinta kepada Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, dengan mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, barulah kita akan bisa mewujudkan keimanan yang benar. Bab. Barakallahu fikum. Sekarang kita lihat penyimpangan dalam tauhid.<\/li>\n\n\n\n<li>Uluhiyah [berdehem] apa dosanya? Perbuatan syirik. Perbuatan syirik. Apakah ada dosa yang melebihinya? Ada apa tidak? Dosa yang paling besar Allah tidak mengampuninya. Iya kan? Bagi orang yang meninggal tidak bertobat dari perbuatan syirik, maka akan gugur amal-amalnya. Innallaha la yagfiru ay yusyroka bihi wagfiru ma dunaalika lim yasya.<\/li>\n\n\n\n<li>Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala tidak mengampuni orang yang melakukan perbuatan syirik menyekutukannya dalam beribadah. Dan Allah subhanahu wa taala mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendakinya. Inilah syirik. dosa yang paling besar menyekutukan Allah Subhanahu wa taala. Tayib. [berdehem] Sekarang orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Apakah juga ancamannya keras seperti perbuatan syirik? Ya, tadi sudah kita bacakan ayatnya. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan ancaman yang keras. Tinggalkanlah orang-orang yang menyeleweng, menyimpang dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, sungguh mereka akan mendapatkan balasan yang pedih dari apa yang mereka kerjakan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini ancaman yang keras. Kalau kita lihat disebutkan di dalam ayat yang lain, ternyata ancaman yang berhubungan dengan perbuatan ini itu dosanya sangat besar. Bahkan menurut penjelasan sebagian dari para ulama bisa melebihi dosanya perbuatan syirik. Kita lihat di dalam ayat Al-Qur&#8217;an di surah Al-A&#8217;raf ayat ke-33 ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tentang ayat ini diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala sehubungan dengan masalah dosa orang yang salah dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah Subhanahu wa taala berfirman Al&#8217;raf ayat ke-33. qul innama haramaal fawahisya ma doar minha w bat katakanlah hanyalah Allah subhanahu wa taala mengharamkan hanyalah rabmu Allah subhanahu wa taala mengharamkan alfawahisy perbuatan yang kejil minha w baik yang nampak terang-terangan maupun tersembunyi di dalam hati.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini termasuk sifat-sifat iri, dengki, sombong, kemudian hasad, dan yang lainnya. Wal itma, kemudian perbuatan dosa yang lainnya. Wal bagiah. Di atas lagi perbuatan albagi. Menzalimi, menganiaya. bighiril haq. Wausriku billahi maam yunazil bihi. Di atas lagi yaitu perbuatan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan tentangnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan di atasnya lagi waquulu alallahi ma laun. Dan kamu berkata tentang Allah dengan sesuatu yang kamu tidak punya ilmu pengetahuan tentangnya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala menjelaskan di ayat ini Allah menyebutkan urutan-urutan dosa dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi. Ternyata di atas perbuatan syirik masih ada dosa, yaitu alqulu alallahi bila ilmin.<\/li>\n\n\n\n<li>Berkata tentang Allah, mensifati Allah, menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa ilmu. Berarti ini keburukan yang sangat besar. Makanya ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, kalau kita membicarakan tentang Allah nama-nama dan sifat-sifatnya, ingin ingat ini berhubungan langsung dengan kemuliaan dan keagungan Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau membicarakan tentang hukum Allah saja ada yang menyebabkan kekufuran. Apalagi ini dalam menyikapi keagungan dan kemuliaan Allah sendiri. Sebagian dari para ulama mencontohkan ya, ini [berdehem] contoh di kalangan manusia. Kalau kita menjelek-jelekkan seseorang berhubungan dengan hal yang di luar dari dirinya, dia akan marah.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi lebih marah lagi kalau kita menjelek-jelekan yang berhubungan dengan dirinya, dengan sifatnya. Kalau kita mengatakan mungkin rumahnya jelek, kendaraannya jelek, dia akan tersinggung. Tapi kalau bilang orangnya sendiri yang kita katakan jelek, sifatnya jelek, atau hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri, pasti dia akan lebih marah lagi.<\/li>\n\n\n\n<li>Oleh karena itu, penyimpangan dalam masalah ini benar-benar merupakan penyimpangan yang sangat besar sekali. Maka dengan itu kita perlu memahaminya dengan benar. Kita harus memahaminya sesuai dengan akidah ahlusunah wal jamaah. Ya, saya sebutkan di sini kesimpulannya. Insyaallah ini juga sudah sering kita dengarkan pembahasannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi akidah ahlusunah wal jamaah dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah kesimpulannya adalah yaitu menetapkan, meyakini dan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi dirinya di dalam Al-Qur&#8217;an dan yang ditetapkan oleh Rasul Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis-hadis yang sahih dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis-hadis yang sahih dengan menafikan empat perkara.<\/li>\n\n\n\n<li>Menafikan empat perkara yaitu yang pertama tidak boleh menyerupakan dengan makhluk tamsil. Yang kedua, tidak boleh membagaimanakan sifat-sifat Allah. Takyif. Kemudian yang ketiga, walail tidak boleh menolak sifat-sifat Allah. Dan yang keempat, wala tahrif tidak boleh menyelewengkan makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Insyaallah di kesempatan berikutnya Syaikhul Islam akan menjelaskan tentang masalah ini ya di dalam kelanjutan pembahasan tentang keimanan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Dan nanti beliau akan ee juga sebutkan contoh-contohnya yang disebutkan di dalam pembahasan kitab ini selanjutnya insyaallah.<\/li>\n\n\n\n<li>Barakallahu fikum. Ya, kita cukupkan sampai di sini kajian kita di kesempatan sore hari ini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat. bisa waktu yang ada kita jawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk di sini ya. Nanti juga ikwan bisa menjawab bertanya langsung. Tayib. Pertanyaan yang pertama di luar tema ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Asalamualaikum ustaz. Waalaikumsalam. Apakah seorang suami ataupun istri boleh menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada orang tua dan bagaimana cara agar rumah tangga bahagia dan tenang? Ya, menceritakan kepada orang tua itu manfaatnya apa? Kalau masalah itu akan menambah beban orang tua kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Bukan berbuat baik, malah menambah beban pikirannya. Ini malah tidak mendatangkan pahala, malah mungkin mendatangkan dosa. Karena kita ikut membebani orang tua kita yang mungkin dia sudah tua harusnya dibuat senang dan bahagia. Kemudian masalah juga kan tidak mesti masalah tersebut sesuatu yang [berdehem] mungkin diceritakan kepada orang lain karena kita ingin solusinya ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau memang butuh kita ceritakan orang lain harusnya kita ceritakan kepada orang yang berilmu atau bisa menasihati kita untuk memperbaiki keadaan. Bukan sekedar menceritakan. Ini perkara yang tidak dibenarkan di dalam Islam. Bahkan Allah Subhanahu wa taala memerintahkan atau memuji seorang hamba yang ketika ada masalah dia mengadukan kepada Allah, meminta solusi kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Diperbolehkan dia bertanya kepada orang yang berilmu untuk menanyakan tentang petunjuk Allah sebagai solusi dari permasalahannya. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an tentang ucapannya Nabi Yaakub alaihiatu wasalam yang mengatakan innama asu buniallah hanyalah aku mengadukan segala kesedihanku kegundahanku kepada Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ini tidak benar ya bukan termasuk berbakti kepada orang tua bahkan [tertawa] termasuk bisa jadi malah menambah beban orang tua kita. Naudubillah minzalik. Apakah berdosa jika seorang suami istri melarang bila ingin berbuat berbakti kepada orang tuanya? Jelas berdosa kalau betul-betul dia melarang. [berdehem] Cuman apakah ada yang seperti itu? Kalau betul-betul suami melarang atau istri melarang suami atau suami melarang istrinya berbakti kepada orang tua, jelas berdosa.<\/li>\n\n\n\n<li>Orang tua ini kita wajib berbakti kepadanya. Kita wajib menyambung hubungan dengan dia. Orang musyrik saja diperintahkan di dalam Al-Qur&#8217;an. Ya, washibhuma fid dunya ma&#8217;rufah. Tetaplah pergaulilah bergaul dengan orang tuamu. Tetap temani mereka ya di dunia dengan baik. Padahal kedua orang tua yang musyrik. Apalagi orang tua yang muslim.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalaupun sampai misalnya orang tua tersebut misalnya banyak melakukan hal-hal yang mencampuri urusan rumah tangga misalnya, maka dihadapi dengan baik. Bukan dijadikan istri kita dilarang untuk berbuat baik kepada kepada mereka. tetap kita harus ya membantu atau saling tolong-menolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan termasuk dalam hal yang merupakan ee berbakti kepada kedua orang tua.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, saya punya adik perempuan yang suka telat melaksanakan salat subuh. Saya tidak berani untuk menasehati dan membangunkannya karena itu sudah pernah saya lakukan. Namun dia menjadi marah besar dan kami menjadi tidak bertegur siapa dalam waktu cukup lama. Apakah saya berdosa? Saya hanya bisa doakan dan minta tolong kepada Allah supaya adik saya diberikan hidayah.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetap harus dinasihati. Kalau seandainya dengan kita yang menasihati dia marah, sampaikan kepada orang tua kita atau mungkin paman kita orang yang dia segani supaya bisa menegur dia. Karena membiarkan dia dalam kesalahannya tersebut ini justru semakin menjauhkan dia dari Allah Subhanahu wa taala. Ya, tentu saja kalau terjadi mungkin sudah kita bangunkan sekali kemudian dia marah, kita ambil waktu-waktu yang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika dia sudah tenang, kita terangkan bahwa karena kita sayang kepada dia, kita bangunkan dia. Kita ingin dia, kita tidak ingin dia kemudian jauh dari Allah Subhanahu wa taala. Kalau seandainya bisa, alhamdulillah. Kalau tidak saya katakan tadi bisa lewat orang tua yang menegur dia atau orang-orang yang mungkin dia segarin dalam keluarga kita untuk bisa [mendengus] memberikan nasihat kepadanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, ada beberapa orang yang mengadakan ziarah sampai ke luar kota itu sebenarnya hukumnya apa dalam syariat dan apakah tidak melunturkan akidah? Menziarahi tempat untuk ibadah sampai melakukan safar dikarenakan tempat tersebut pada zatnya itu dilarang di dalam Islam. Itu makna sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih riwayat Imam Muslim.<\/li>\n\n\n\n<li>La tusadur rihal illa ila masajid al masjidil Haram masjidi hadza wal masjidul Aqsa. Ya. Wa masjidul Aqsa. tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh sampai safar kecuali kepada tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjid ini dan Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsa ini menunjukkan kepada kita bahwasanya kita tidak boleh mengunjungi tempat tertentu karena zat tempat tertentu dalam rangka ibadah.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena zat tempat itu dalam rangka ibadah kecuali kepada tiga masjid tadi ya. Makanya misalnya orang yang melakukan umrah, jelas umrah disyariatkan karena ada dalilnya kemudian mengunjungi Masjid Nabawi disyariatkan. Tapi kalau misalnya dari Indonesia dia berniat mengunjungi kuburan Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak boleh.<\/li>\n\n\n\n<li>Dia berniat mengunjungi masjid Nabi karena ada hadisnya. Sampai di masjid Nabi baru dia mengunjungi, mengucapkan salam di kuburan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Itu ada dalilnya. Mengunjungi Masjid Quba, mengunjungi misalnya kuburan para sahabat yang mati dalam perang Uhud radhiallahu taala anhu. Itu diperbolehkan karena sudah sampai di sana.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi bukan niatnya dari sini asalnya adalah untuk itu. Niat asalnya dari sini adalah untuk umrah atau untuk mengunjungi Masjid Nabawi karena ada dalilnya. Nah, jadi ziarah yang seperti ini tidak diperbolehkan di dalam Islam berdasarkan apa yang disebutkan di dalam hadis tadi. Baik. Ini tadi IK. Iya. Insyaallah cukup kajian sampai di sini ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad waa alihibihihamdulillahamakallahum wabihamdika asadu ilahailla anta asagfiruka wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Ah.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3981","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:29:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-13T02:29:06+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"26 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/\",\"name\":\"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:29:05+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:29:06+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, MA.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:29:05+00:00","article_modified_time":"2026-07-13T02:29:06+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"26 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/","name":"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah - Ustadz Abdullah Taslim, MA. - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:29:05+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:29:06+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/1-kajian-al-aqidah-al-wasithiyah-ustadz-abdullah-taslim-ma\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"#1 Kajian Al Aqidah Al Wasithiyah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, MA."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3981"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3981"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3982,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3981\/revisions\/3982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}