{"id":3992,"date":"2026-07-13T09:32:38","date_gmt":"2026-07-13T02:32:38","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3992"},"modified":"2026-07-13T09:32:38","modified_gmt":"2026-07-13T02:32:38","slug":"6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","title":{"rendered":"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wam yudlil fala hadialah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah. Walaq minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladziasaluna bihi wal arham innallahaanaana alaikumqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu qulan sadida yuslih lakum aalakumagfir lakum dunubakum Amma baqal had kitabullahir huda huda Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhdatuha wa muhda bidah waulla bidatin dolalah wa<\/li>\n\n\n\n<li>dolatin finar wa ba&#8217;du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita selalu memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan taufiknya bagi kita dalam kebaikan dalam menjalankan perintah-perintah yang diwajibkan dalam agamanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengamalkan amalan-amalan sunah. Taufik dari Allah Subhanahu wa taala kita syukuri yang memudahkan bagi kita untuk senantiasa menuntut ilmu agama sebagaimana yang kita adakan di malam hari ini di masjid yang penuh berkah ini, yaitu mengadakan majelis ilmu yang mulia untuk melanjutkan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab al-Aqidatu Al-Wasitiyah.<\/li>\n\n\n\n<li>Akidah Alwasitiyah. Buah karya dari Syikhul Islam Abul Abbas Ahmad Ibnu Abdul Halim ibnu Abdus Salam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. MaaSyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Kita masih di pembahasan tentang ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab ini yang berhubungan dengan penetapan nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, sifat-sifatnya yang maha agung.<\/li>\n\n\n\n<li>Sekarang kita akan membahas tentang penetapan sifat asam&#8217;u wal bashar. Allah Subhanahu wa taala memiliki pendengaran dan penglihatan. Tentu saja ini banyak disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan juga hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang dibawakan di dalam kitab al-Aqidatul Wasitiyah ini oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Dua ayat di dalam Al-Qur&#8217;an. Pertama, firman Allah Subhanahu wa taala di surah Asyura ayat ke-11. Ini ayat yang selalu kita ulang-ulang karena menyebutkan kaidah penting dalam manhaj ahlusunah wal jamaah. Kaidah penting dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Laisa kamitlihi saiu wahu samiul bashir.<\/li>\n\n\n\n<li>Laisa kamlihi. Tidak ada sesuatu yang serupa dengannya. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala dan dia maha mendengar. lagi maha melihat. Assami albasir ya. Assami artinya memiliki pendengaran. Tentu pendengaran Allah maha sempurna karena tidak ada satuun yang luput dari apa yang dilakukan oleh makhluknya dari pengawasan Allah, dari pendengaran Allah dan penglihatannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka Allah Subhanahu wa taala menyebutkan manusia juga disifati dengan samian basir. Di mana itu? Misalnya di surat al-Insan ayat yang kedua. Inna khalaqnal insana min nutfatin amsyajin nabtalihi faja&#8217;alnahu sami basir. Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari nutfah tetesan mani yang bercampur yang kemudian kami mengujinya.<\/li>\n\n\n\n<li>menguji dengan perintah dan larangan Allah dengan Allah menurunkan syariat kepadanya. Faja&#8217;alnahu maka kami jadikan manusia itu bisa mendengar dan bisa melihat. Sifat manusia meskipun secara asal lafaznya sama, tapi hakikatnya berbeda. Karena manusia bisa mendengar dan melihat dengan pendengaran dan penglihatan yang terbatas.<\/li>\n\n\n\n<li>Adapun Allah Subhanahu wa taala maha mendengar dan maha melihat dengan sifat pendengaran dan penglihatan yang maha sempurna sesuai dengan kemahagian dan kemaha besaran Allah Subhanahu wa taala. Tib di ayat ini yang tadi kita sebutkan mengandung kaidah besar dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Kaidah yang selalu disebutkan oleh para ulama kita ketika membahas masalah ini yaitu isbatun bila tamsilin wa tanzihun bila taatil.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Kita menetapkan karena Allah menetapkan bagi dirinya. Kita tidak melampaui apa yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sahihah. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah taala mengatakan, &#8220;La yusofulahu illa bima wasofa bihi nafsahu wama wasofahu bihi rasuluhu shallallallahu alaihi wasallam la yutajawazul quranu wal hadis.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; itu tidak boleh kita mensifati Allah kecuali sesuai dengan sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya. Di mana? Di ayat-ayat Al-Qur&#8217;an tentu saja. Kemudian di dalam yang ditetapkan di dalam hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang ditetapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis-hadis yang sahih.<\/li>\n\n\n\n<li>La yutajawazul quranu wal hadis. Tidak boleh kita melampaui Al-Qur&#8217;an dan hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi isbatun bila tamsil menetapkan tanpa menyerupakan watanzihun bila taatil. Dan mensucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan tapi tanpa menolak sifat-sifat yang ditetapkannya. Makanya ayat ini, ayat yang pertama ini surat Asyura ayat ke-11 ini beberapa kali sudah kita isyaratkan di penjelasan di pertemuan-pertemuan yang lalu.<\/li>\n\n\n\n<li>Ayat ini membantah dua kelompok yang menyimpang sekaligus. pertama almuwatila atau musyabbihah. Mereka yang menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Kita tahu ini hukumnya kufur. Menurut akidah ahlusunah wal jamaah. Salah seorang ulama terdahulu mengatakan, &#8220;Man syabbahallah bikalqihi faqad kafar. Barang siapa yang menyerupakan Allah Subhanahu wa taala dengan makhluknya, maka sungguh dia telah kufur.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini tidak ragu lagi karena demikian banyak ayat Al-Qur&#8217;an. Walam yakun lahu kufuwan ahad. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa atau setara dengan Allah. Fala tadribu lillahil amsal. Janganlah kamu membuat perumpamaan atau hal-hal yang semisal yang disamakan diserupakan dengan Allah. Halamuah samiya.<\/li>\n\n\n\n<li>Apakah kamu mengetahui ada yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala? Pasti jawabannya tidak ada. Jadi ini hukumnya kufur. Kelompok yang kedua adalah al-muattilah. Orang-orang yang selalu menolak sifat-sifat Allah. Seperti kelompok Jahmiyah, ahlul kalam yang mereka katanya menjadikan sandaran akal padahal akal mereka tidak sehat sungguh.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena bagaimana mungkin Allah menetapkan bagi dirinya mereka mengatakan ini tidak masuk akal. Terus akal yang mana? Sementara akal itu, akal sehat itulah yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Al-Qur&#8217;an juga Allah yang menurunkannya harusnya sangat bersesuaian antara Al-Qur&#8217;an dengan dalil-dalil yang sahih.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang jelas penolakan mereka ini justru yang tidak masuk akal. Dan sudah pernah kita sebutkan beberapa kali mereka itu ketika menolak sifat-sifat Allah membuat konsekuensi dulu dari pemikiran akal mereka yang kurang konsekuensi yang batil. yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk baru ditolak. Seperti yang pernah kita contohkan kemarin, mungkin kita pernah lewati contoh sifat Allah mencintai.<\/li>\n\n\n\n<li>Berapa banyak ayat Al-Qur&#8217;an, hadis-hadis yang sahih yang menyebutkan Allah mencintai, mencintai makhluknya yang berbuat kebaikan atau mencintai amal-amal saleh seperti apa? Innallaha yuhibbut tawwabina wa yuhibbul mutathahirin. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan dirinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Mereka bikin kaidah entah dari mana ambilnya. Tidak mungkin Allah bisa mencintai. Karena mencintai itu ada makna kelemahan hati. Ada makna kelemahan yakni kelemahan hati di dalamnya. Ini berlaku untuk apa? Untuk manusia lah. Ini pembicaraannya manusia atau Allah. Kan Allah telah menyatakan dirinya laisa kamlihi saiun.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengannya. Apa yang bisa berlaku kepada manusia? Kalau itu benar, maka itu hanya berlaku untuk manusia atau untuk makhluk. Adapun Allah Subhanahu wa taala maha sempurna, maha tinggi. Sebagaimana zatnya maha agung, maha sempurna, maha besar, maka demikian pula sifat-sifatnya maha tinggi dan maha sempurna.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak berlaku hal-hal yang mungkin berlaku pada makhluk. Jadi mereka membuat keserupaan dulu baru menolak. Jadi terjerumus dalam dua perbuatan yang kedua-duanya sangat buruk. Naudubillah minzalik. Sama seperti mereka menafikan sifat wajah misalnya wabqo wajhuika dzul jalali wal ikram.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan akan kekallah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Ada yang menolaknya, ada yang mentakwilkannya. Karena tadi tidak mungkin Allah punya wajah. Karena kalau Allah punya wajah berarti Allah memiliki bagian-bagian tubuh. Dibuat hal-hal yang berlaku pada makhluk kemudian diterapkan pada Allah. Akhirnya dengan alasan ini ditolak katanya tidak masuk akal.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini semua adalah mukadimah atau pengantar yang sangat rusak. Ya, kita yakini Al-Qur&#8217;an itu adalah sebaik-baik petunjuk. Lafaz-lafaznya mengandung petunjuk. Karena Allah mensifati Al-Qur&#8217;an waman asdaqu minallahi haditah. Siapakah yang lebih benar ucapannya dibandingkan Allah subhanahu wa taala? Waman ahsanu minallahi siapakah yang lebih indah ucapannya, firmannya dibandingkan Allah subhanahu wa taala? Kita yakin tidak mungkin ada lafaz yang salah.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang sifat-sifat kesempurnaannya. Tujuannya untuk memperkenalkan kepada kita bahwa Dia Maha Tinggi, maha sempurna, maha agung. Makanya Allah menyebutkan sifat-sifat ini, maka kita harus menetapkannya. Karena ini merupakan bagian dari iman dan ini sebab yang menjadikan kita mencintai Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Iya kan? Karena semakin kita mengenal segi-segi kemaha, nama-nama dan sifat-sifat Allah ini yang akan menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana pernyataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Man arfallaha biasmaihi wasatihi wa af&#8217;alihi ahabbahu la mahalata.<\/li>\n\n\n\n<li>Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji, pasti dia akan mencintai Allah subhanahu wa taala. Eh, bagaimana orang ini akan bisa mencintai Allah ketika ada satu sifat bukannya berusaha memahami kemahanya, kemahaurnaannya, dia malah mencari cara untuk menolaknya atau mentakwilkannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Naudubillah minzalik. Ya, tidak mengambil petunjuk dari lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an, tapi justru mencurigai ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, mencurigai makna hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Naudubillah minzalik. Oleh karena itu, ini juga selalu kita ingatkan ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, memang merupakan nikmat besar seseorang hamba, apalagi yang di hidup di akhir zaman yang penuh dengan fitnah, Allah berikan kepadanya hidayah untuk mau belajar Islam yang benar, tunduk kepada nas, dalil syariat.<\/li>\n\n\n\n<li>Seorang hamba yang ada kecintaan untuk dia ingin mengambil sebaik-baik petunjuk dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Itu yang menjadi kesenangannya ketika dia belajar agama. Al-Qur&#8217;an dipelajari kandungan maknanya, hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam karena dia meyakini inilah sebaik-baik petunjuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Fa inna asdaqal hadisi kitabullah wahairul huda huda Muhammadin sallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah Al-Qur&#8217;an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Karena inilah dulu yang dialami oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<\/li>\n\n\n\n<li>Al-Qur&#8217;an turun dibacakan di hadapan mereka dan mereka mengatakan samna wa. Mereka tidak pernah memprotes, tidak pernah menanyakan, tidak pernah mentakwilkan atau menyelewengkan makna ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. sehingga hati mereka menjadi bersih, iman mereka tumbuh seiring dengan semakin turunnya ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di hadapan mereka.<\/li>\n\n\n\n<li>Kan kita tahu ciri-ciri orang yang beriman. Innamal mukminunalladina idukirallahu wajilat qulubuhum waidza tuliat alaihim ayatuhuathum imanan waihim yatawakalun. hanyalah orang-orang yang beriman, yakni orang-orang yang benar imannya adalah orang-orang yang ketika disebut nama Allah maka hati mereka takut, bergetar dan ketika dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Allah bertambah imannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti mereka membaca ayat Al-Qur&#8217;an atau dikaji di hadapan mereka Al-Qur&#8217;an dengan dijelaskan maknanya dan mereka berusaha merenungkannya. tidak ada penolakan, tidak ada upaya untuk menyelewengkan maknanya. Dengan sebab ini, semakin belajar semakin bertambah iman. Nah, ini yang kita inginkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya kita ingin jelaskan bahwa kaidah dalam memahami ingat, ilmu yang paling agung di dalam Islam adalah ilmu tentang mengenal Allah. Berarti pastinya ilmu ini Allah jelaskan di dalam Al-Qur&#8217;an dengan penjelasan yang paling gamblang, yang paling mudah dipahami. Yuridullahu bikumul yusro wala yuridu bikum alusr.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah menghendaki kemudahan bagimu dan dia tidak menghendaki kesusahan. Ini dalam masalah syariat, apalagi dalam masalah akidah yang paling penting yang menyebab yang menjadi sebab kesempurnaan iman kita. Maka tidak ada hal-hal yang perlu ditakwilkan dengan pentakwilan seperti ini. Apalagi membuat konsekuensi yang batil kemudian menolak sifat-sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Naudubillahimiz minzalik. Oleh karena itu, pemahaman agama yang menjadikan kita curiga terhadap ayat Al-Qur&#8217;an ketika turun baca, bukannya kita mencari kandungan maknanya untuk menambah iman kita, tapi malah mencari apa takwilnya. Ini kayaknya tidak masuk akal, ini tidak sesuai dengan Allah. Bagaimana yang seperti ini akan menjadi sebab kebaikan? Al-Qur&#8217;an diturunkan sebagai petunjuk bukan untuk membingungkan tapi disikapi dengan pemahaman yang rusak seperti ini malah justru menjadi sebaliknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Naudubillah minzalik. Tib ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Laisa kamitlihi saaiun wahua samiul bashir. Tidak ada sesuatu makhluk pun yang serupa dengan Allah tidak pada zatnya, tidak pada nama-namanya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya. Tidak ada yang sama semuanya. Dan dia maha mendengar lagi maha melihat.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita sudah pernah sebutkan kaidah, kita ulangi lagi karena ini kaidah yang penting, ilmu yang paling agung di dalam Islam. Ya, setiap penafian sifat-sifat yang Allah nafikan bagi dirinya itu bukan penafian semata-mata. Karena penafian almahd. Penafian semata-mata tidak mengandung pujian.<\/li>\n\n\n\n<li>Sementara Allah semua penjelasan yang berhubungan dengan kemahagian dan kemahaungannya semua pujian. Maka penafian dimaksudkan adalah untuk isbatu kamali dididdiha. Menetapkan kesempurnaan dari kebalikan sifat yang dinafikan tersebut. Coba saya ulangi pelajaran kita yang lalu. Misalnya di dalam ayat kursi Allah berfirman, &#8220;La takuduhu sinatun wala na.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Apa artinya? Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Kalau seandainya cuma penafian biasa, orang tidak mengantuk misalnya manusia. Walillahil matalul a&#8217;la. Tentu saja Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat yang maha tinggi. Manusia orang tidak tidur, orang tidak mengantuk. Terpuji enggak? Ya biasa saja. Mungkin memang dia lagi sudah-sudah baru bangun tidur, memang dia tidak sedang capek atau seterusnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetapi kalau disebutkan kesempurnaan kebalikannya, Allah Subhanahu wa taala tidak mengantuk dan tidak tidur. Kenapa? Karena hidupnya Allah maha sempurna. sehingga dia tidak butuh tidur atau mengantuk. Ya, ketika Allah Subhanahu wa taala menciptakan langit-langit dan bumi, kemudian Allah berfirman, &#8220;Wama manana min lugu dan kami tidak ditimpa capek.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Ini menunjukkan Allah maha kuat, maha perkasa. sempurna kekuatannya, keperkasaannya, sehingga tidak capek ketika menciptakan langit-langit dan bumi. Sama dengan lafaz ini, Allah tidak ada satuun yang serupa dengannya. Kenapa? Karena dia maha sempurna, karena dia maha agung, maha tinggi. Sedangkan makhluk semua penuh dengan kekurangan.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka tidak mungkin ada yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala. Jadi ayat ini menetapkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala maha sempurna dalam semua sifat-sifatnya. Allah Subhanahu wa taala maha tinggi, maha agung dalam semua sifat-sifatnya. Kemudian di akhir ayat ini Allah Subhanahu wa taala menyebutkan dua sifatnya, assami dan albasir.<\/li>\n\n\n\n<li>Maha mendengar lagi maha melihat. Tiib ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Sehubungan dengan dua sifat ini, assami mendengar ya asam secara bahasa artinya idrak asut, bisa menjangkau atau mendengar suara. Tentu saja Allah Subhanahu wa taala maha sempurna pendengarannya sehingga tidak ada yang luput satuun dari apa yang diucapkan oleh makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Meskipun mereka bersamaan semua mengucapkannya. Meskipun Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya, pendengarannya meliputi mereka semua. Kita tahu kisah yang berhubungan dengan firman Allah Subhanahu wa taala di ayat pertama surah almujadalah atau almujadilah. Qod sami Allahuallati tujadiluka fi zaujiha watasttaqi ilallah wallahu yasma tahawurakuma.<\/li>\n\n\n\n<li>Sungguh Allah mendengarkan ucapan seorang perempuan yang datang mengadu kepadamu wahai Rasulullah tentang perbuatan suaminya serta dia mengadu kepada Allah dan Allah mendengarkan percakapan kalian berdua. Aisyah radhiallahu taala anha ketika datangnya perempuan ini, ada Aisyah ada di rumah ya, dia ada di sudut kamar ikut mendengarkan pembicaraan keluhan perempuan ini kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Subhanallah.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebagian dari ucapannya itu Aisyah tidak dengarkan dengan baik karena manusia terbatas. Tapi Allah Subhanahu wa taala menyatakan dari ayat ini bahwa dia mendengarkan dan tidak ada yang samar. Makanya di dalam hadis riwayat Imam albukhari dan Muslim sehubungan dengan ayat ini, Aisyah radhiallahu taala radhiallahu taala anha berkomentar, &#8220;Tabarokalladzi wasi samuhu al aswata.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Wallahi inni lafil hujrati wa inna haditaha layakfa alaiya ba&#8217;duhu. Maha suci Allah. yang pendengarannya meliputi semua suara. Tidak ada yang luput dari pendengarannya. Sungguh demi Allah ketika terjadi pembicaraan ini, saya ada di dalam kamar ya. Dan sesungguhnya sebagian dari yang diucapkan oleh perempuan tersebut ketika mengadu kepada menyampaikan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Ada yang samar tidak aku dengarkan dengan baik.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi Allah Subhanahu wa taala maha mendengarkan semua. Ini menunjukkan berarti Allah Subhanahu wa taala pendengarannya maha sempurna. Kemudian asam&#8217;u mendengarkan di samping maknanya tadi adalah idrakus saut, mendengarkan suara. Ada juga makna lain yang diterangkan oleh para ulama dan ini termasuk makna dari sifat Allah Subhanahu wa taala assami.<\/li>\n\n\n\n<li>Yaitu maknanya adalah asami artinya almujib yang mengabulkan. Contohnya seperti yang disebutkan di dalam surah Ibrahim ayat ke-39. Innabbi lasamiud dua. Sesungguhnya Rabbku Allah Subhanahu wa taala, dialah yang maha mendengarkan doa. Apa artinya mendengarkan di sini? Sekedar mendengar saja, tidak.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi mendengarkan untuk mengabulkannya. Jadi maknanya di sini adalah mujibud doa. Sesungguhnya Rabbku maha mengabulkan doa. Berarti di sini pendengaran yang ada makna khususnya. Seperti ketika salah satu yang kita baca dalam salat kita, dalam zikir salat kita ketika bangkit dari ruku, samiallahu liman hamidah. Allah mendengarkan seseorang yang memujinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Maksudnya mendengarkan di sini mengabulkan. Allah mengabulkan doa hamba yang memujinya. Makanya setelah itu kita memuji Allah subhanahu wa taala waktu i&#8217;tidal. I kan rabbana wakal hamdu mil asamawati dan seterusnya. Kemudian kita sujud kita juga mensucikan Allah kemudian berdoa kepadanya. Baik. Jadi termasuk makna di sini mendengarkan adalah mengabulkan doa.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti di sini makna yang lebih khusus. Oleh karena itu, nama Allah Subhanahu wa taala ini bisa kita gunakan dalam doa-doa yang kita panjatkan agar Allah subhanahu wa taala mengabulkan permohonan kita. Jadi kita berdoa kepada Allah dengan doa kebaikan. Kemudian kita sebut, &#8220;Ya Allah, terimalah doaku, kabulkanlah doaku, innaka antas samiud dua.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Sesungguhnya Engkau maha mendengarkan doa, yakni maha mengabulkan. Mengabulkan doa. Atau kita sebut nama Allah, innaka antal mujib misalnya. Sesungguhnya Engkau maha mengabulkan permohonan hamba-hamba-Mu. Boleh. Boleh saja. karena terkandung di dalamnya makna yang lebih khusus yaitu mengabulkan doa. Sebagaimana juga makna dari assami maha mendengar itu terkadang lebih dari sekedar mendengarkan artinya suara.<\/li>\n\n\n\n<li>Ada makna lain yang terkandung di dalamnya seperti makna pertolongan dan penguatan dari Allah. Misalnya ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman di surah Thaha ayat ke-46, Allah berfirman kepada dua nabinya yang mulia, Nabi Musa dan Harun alaihialatu wasalam. Innani mauma asma wa aro. Sesungguhnya aku bersama kalian berdua.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini kebersamaan yang khusus. Kebersamaan yang mengandung makna Allah senantiasa menolong mereka, memberikan taufik, menjaga mereka berdua. Asmau wa ar. Aku mendengar dan aku melihat. Di sini mendengar. Di sini bukan cuma sekedar mendengar ketika mereka berbicara atau berdoa, tapi ada janji dari Allah mendengarkan di sini mereka akan selalu ditolong, akan selalu dikuatkan, akan selalu dijaga ketika menghadapi Firaun laknatullah alaih.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka ini berarti mengandung makna yang lebih khusus daripada sekedar mendengarkan suara. Makanya nanti ketika kita membahas sifat Allah Subhanahu wa taala assami ini misalnya termasuk yang dibahas oleh para ulama pertama assami asalnya assam ada asalnya adalah sifat zat artinya selalu ada pada Allah subhanahu wa taala terus-menerus Allah subhanahu wa taala memiliki sifat ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Adapun dengan makna tambahan tadi, maka dia termasuk makna sifat fi&#8217;liah, sifat perbuatan yang Allah lakukan dengan kehendaknya. Ketika Allah menghendaki memberikan pendengaran dan penglihatan yang lebih kepada dua nabinya yang mulia, maka Allah lakukan sesuai dengan kehendaknya. Tentu kepada hamba-hamba yang dipilihnya Allah Subhanahu wa taala di samping mendengarkan ketika mereka berdoa atau memohon Allah Subhanahu wa taala juga berikan pertolongan penjagaan dan penguatan taufik bagi mereka.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, juga ada makna ancaman karena disebutkan ini berkenaan dengan perbuatan dari orang-orang kafir yang melakukan keburukan. Maka Allah mengancam, Allah mendengarkan ucapan mereka berarti terkandung di dalamnya ancaman dari Allah Subhanahu wa taala. Contoh seperti firman Allah Subhanahu wa taala di surah Az-Zuhruf ayat ke-80.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Am yahsabuna anna la nasmu sirrohum wa najwahum bala warusuluna ladaihim yaktubun.&#8221; Atau apakah mereka menyangka bahwa kami tidak mendengarkan pembicaraan rahasia atau bisik-bisik mereka? Bala sama sekali tidak. Sungguh para rasul-rasul kami, yakni para malaikat, di sisi mereka ada yang mencatat semua apa yang mereka bicarakan itu.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka di sini Allah mengatakan, &#8220;Apakah mereka menyangka kami tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan secara rahasia dan yang mereka saling membisikkan satu sama lain bisikan-bisikan mereka?&#8221; Ini tentu mengandung makna attahdid wal waid ya, ancaman dari Allah Subhanahu wa taala bahwa perbuatan buruk yang mereka rencanakan untuk makar itu Allah Subhanahu wa taala maha mendengarnya apa yang mereka bicarakan dalam dengan rahasia tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan Allah Subhanahu wa taala maha kuasa untuk memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka tersebut. Oleh karena itu, dengan ini kita memahami makna sifat Allah Subhanahu wa taala ya, assama ini luas dan semua mengandung makna yang maha indah, yang maha tinggi sesuai dengan kemaha tinggian dan kemahaurnaan Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Oleh karena itu, semua makna ini kita tetapkan dan sewaktu kita membaca Al-Qur&#8217;an kita ketika kita melewati sifat Allah ini maka kita artikan sesuai dengan apa? Karinah atau indikasi yang ada pada ayat tersebut. Seandainya itu hanya sekedar menjelaskan sifat Allah Subhanahu wa taala yang bisa menjangkau dengan pendengarannya semua yang ada pada makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>suara-suara atau permohonan yang ada pada makhluknya. Maka ini berarti kembali kepada makna asal sifat assama. Kemudian jika ada qarinah yang menunjukkan makna yang lebih seperti contoh yang disebutkan di ayat-ayat tadi, maka kita artikan sesuai sesuai dengan indikasi atau qarin tersebut. Tib. Itulah makna nama Allah Subhanahu wa taala assami maha mendengar.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian Albasir maha melihat albasir yakni almudriku lijamiil mubsarat. Dialah yang bisa menjangkau semua makhluknya dengan penglihatannya. Dialah yang bisa menjangkau semua makhluknya dengan penglihatannya yang maha sempurna. Tentu saja nanti akan ada pembahasan di ayat-ayat lain. Allah Subhanahu wa taala menetapkan sifat albasir itu juga bisa bermakna sama dengan al-Alim yang maha mengetahui.<\/li>\n\n\n\n<li>Seperti contoh di dalam surat Al-Hujurat ayat yang ke-18. Wallahu basirum bima tammalun. Dan Allah Subhanahu wa taala maha melihat apa yang kamu perbuat. Sebagian dari para ulama mengartikan di sini albasir di sini artinya maha mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia. Insyaallah nanti akan ada kelanjutan pembahasan setelah selesai kita melaksanakan salat Isya.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena sudah waktu azan kita cukupkan dulu. shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wa asabihi waman tabiahumin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhillahi ihsanih wasukrhu alafiihi wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah lisanih wa asadu anna muhammadan abduhuasuluhu ridwih shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba&#8217;du.<\/li>\n\n\n\n<li>Alhamdulillah maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Kita lanjutkan sedikit pembahasan yang berhubungan dengan penetapan dua nama Allah Subhanahu wa taala dan dua sifatnya yang maha agung ini yaitu assami dan albasir. Di ayat yang kedua yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab ini adalah firman Allah di surah An-Nisa ayat ke-58.<\/li>\n\n\n\n<li>Auzubillahiminasyaitanirrajim. Innallaha niim ma yaidukum bih. Innallaha kaana sami basir. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala, dialah sebaik-baik yang memberikan nasihat kepadamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha mendengar lagi maha melihat. Ayat ini disebutkan di surah An-Nisa ayat ke-58. Di awalnya Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Innallaha ymurukumadul amanati ahliha waidza hakamtum bainanasi anahkumu bil.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala memerintahkan kepadamu untuk selalu menunaikan amanah kepada orang yang berhak mendapatkannya. Dan jika kamu memberikan hukum di antara manusia, hendaknya kamu memberikan hukum dengan adil. Setelah Allah memerintahkan ini, Allah berfirman, &#8220;Innallaha niim yaidukum bih.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala sebaik-baik yang memberikan mauidah atau nasihat kepadamu. Ini jelas merupakan nasihat karena hal-hal yang memperbaiki hati manusia. yang memperbaiki diri manusia kalau diamalkan maka ini disebut dengan nasihat. Innallaha kaana sami basiro. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha mendengar lagi maha melihat.<\/li>\n\n\n\n<li>Disebutkan di dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud dan dinyatakan sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullah taala bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yakni dari sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu taala anhu Abdurrahman Ibnu Sakhar Addausi itu nama beliau Abu Hurairah radhiallahu taala anhu.<\/li>\n\n\n\n<li>Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membaca ayat ini dan hadis ini hadisnya sahih ya. Dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullah taala dalam kitab sahih Sunan Abi Daud. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah membaca firman Allah di surah An-Nisa ini ayat ke-58 ini. Kata Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, &#8220;Fawad ibahu ala ainihi wallati talihi taliha ala udunihi.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam setelah membaca ayat ini meletakkan jarinya ya meletakkan ibu jarinya ala udunihi pada telinganya. Kemudian jari yang berikutnya yakni jari telunjuknya pada matanya. Nabi sallallahu alaihi wasallam melakukan seperti ini ketika membaca ayat ini. Ini hadisnya sahih. Dan tentu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak mungkin memaksudkan dengan ini menyerupakan Allah dengan makhluk. Ya, tidak mungkin sama sekali.<\/li>\n\n\n\n<li>Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentu adalah sebaik-baik yang menjelaskan makna firman Allah. Sehingga para ulama menjelaskan di sini maksud perbuatan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah tahqiku isbati sifat, menegaskan penetapan sifat Allah ini. Bahwa Allah subhanahu wa taala memiliki pendengaran dan penglihatan.<\/li>\n\n\n\n<li>Sehingga ketika ada yang menanyakan apakah hal ini boleh kita praktikkan waktu kita menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah? Sebagian para ulama mengatakan, &#8220;Kalau dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman ya, maka tidak perlu kita lakukan. Kalau kita sudah bisa menetapkan dan meyakinkan ya menjelaskan dengan tujuan untuk menetapkan sifat-sifat Allah, maka tidak perlu kita contohkan seperti ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Kecuali kalau dalam kondisi-kondisi ya tidak ada yang akan salah paham, maka kita praktikkan sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tujuannya adalah untuk menetapkan atau menguatkan penetapan sifat tersebut. Bahwa Allah Subhanahu wa taala benar-benar memiliki pendengaran dan penglihatan yang sesuai dengan keagungan dan kebesarannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Karena sebagaimana pembahasan kita di sifat-sifat Allah yang lalu kan kita mengetahui akidah ahlusunah wal jamaah ketika kita menetapkan sifat Allah seperti yang Allah tetapkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, kita menetapkannya dengan menafikan empat perkara.<\/li>\n\n\n\n<li>Apa itu? Pertama, bila tamsil. Tidak boleh kita menyerupakan sifat Allah dengan makhluk. Tidak boleh kita menyerupakan. Dalilnya tadi sudah kita baca di ayat yang sebelumnya. Yang kedua, wala takyif. Tidak boleh kita membagaimanakan. Tidak boleh kita-reka. Oh, mungkin begini ini, mungkin begini. Karena ini akan mengantarkan pada perbuatan menyerupakan Allah dengan makhluk.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya ini dilarang. Kita yakin kaifiah atau hakikat sifat Allah itu ada. Tapi Allah yang maha mengetahuinya. Dan karena Allah tidak memberitakannya kepada kita dan para sahabat tidak pernah menanyakan, tidak pernah membahasnya, maka kita tidak boleh melampaui dari petunjuk mereka. Karena itu berlebih-lebihan dalam urusan agama yang tercela.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang ketiga, wala taatil. Tidak boleh kita menolak sifat Allah. Apalagi dengan alasan, &#8220;Oh, ini tidak masuk akal, ini mengandung arti seperti ini.&#8221; Ini semua adalah cara memahami yang salah. Kita yakini apa yang Allah tetapkan itulah yang pantas, yang sesuai dengan kemahaagungan dan kemahaan Allah. Karena Allah yang menetapkan bagi dirinya sendiri.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan Allah lebih mengetahui tentang sifat-sifat kesempurnaannya. Dan yang keempat apa? Wala tahrif. tidak boleh kita menyelewengkan maknanya. Tidak boleh kita memalingkan maknanya dari makna yang disebutkan dalam bahasa Arab tanpa ada dalil tayib. Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mempraktikkan ketika membaca ayat ini, beliau meletakkan kedua jarinya, jari ibu jari dan jari telunjuk pada telinga dan mata beliau untuk menguatkan penetapan sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi tujuan ini yang diinginkan. Makanya kalau sudah tercapai dengan penjelasan dan orang sudah memahaminya, sebagian para ulama mengatakan tidak perlu kita melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini. Tentu saja nanti kita akan bahas. Allah Subhanahu wa taala termasuk sifat yang Allah sebutkan bagi dirinya adalah Allah subhanahu wa taala memiliki ainan dua mata yang sesuai dengan kemahaagungan dan kemahaannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak sama seperti apa yang ada pada makhluk. Dengan kedua mata ini Allah Subhanahu wa taala melihat ya Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang Nabi Musa alaihialatu wasalam di surah Thaha ayat ke-39 di akhir ayat. Walitusnaa ala aini. Dan agar kamu dipelihara di dalam keluarga Firaun dengan pengawasan pandangan mata kami.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini kita tetapkan karena Allah menetapkan bagi dirinya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan tentang Dajjal dalam hadis-hadis yang sahih di antaranya hadis riwayat Bukhari riwayat Imam Muslim beliau mengatakan tentang dajal apa? Innahu a&#8217;waru wa inna rbakum laisa biwar. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Rabb kalian Allah Subhanahu wa taala tidak buta sebelah matanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini menunjukkan Allah Subhanahu wa taala memiliki dua mata yang dengan itu Allah Subhanahu wa taala melihat melihat maha melihat dengan penglihatan yang maha sempurna yang tentu tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Tib kalau begitu mendengar. Apakah kita menetapkan juga berarti Allah punya telinga? Jawabannya tidak boleh. Kita tidak boleh melampaui Al-Qur&#8217;an dan sunah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini ingat kaidahnya. Apa yang Allah tetapkan ini yang kita tetapkan. Adapun yang Allah tidak tetapkan, tidak boleh kita menetapkannya. Sebagaimana juga tidak boleh kita menafikannya karena Allah tidak menafikan. Jadi apa yang ada itulah yang kita tetapkan. Dan kita meyakini kaidah tadi. Semua sifat-sifat Allah sesuai dengan kemahaungan dan kemahagiannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Semua maknanya adalah makna yang maha sempurna. Tidak ada kekurangan padanya, tidak ada cacat. Kalau ada yang muncul dalam kesan, dalam pikiran kita, itu kembali kepada pikiran kita yang terbatas. Atau itu mungkin bisikan setan. Adapun Al-Qur&#8217;an maknanya hak benar selalu menunjukkan pada pemahaman yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Selalu menunjukkan kepada hidayah kebaikan. Kalau kita mengikutinya, menetapkannya apa adanya, maka kita akan mendapatkan hidayah petunjuk Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, inilah yang kita pahami dari kedua ayat ini. Kita menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala maha mendengar dan maha melihat yang tentu saja faedahnya menjadikan kita selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita tahu sifat-sifat Allah seperti ini seperti Allah maha mengawasi. mempersaksikan perbuatan kita. Allah maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui. Ini kalau kita renungkan dan selalu hadirkan di hati kita, maka akan menjadikan kita memiliki sifat muraqabatullah, selalu merasakan pengawasan Allah. Makanya kebaikan seperti ini, sifat-sifat mulia seperti ini, kita butuh untuk kuatkan dengan cara apa? Kita baca ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menyebutkan tentang sempurnanya pengawasan Allah, penglihatannya kita renungkan. Maka<\/li>\n\n\n\n<li>dengan sebab ini penyakit di hati kita yang selalu kurang yakin dengan pengawasan Allah, penglihatan Allah akan hilang. Kemudian diganti dengan tumbuhnya sifat muraqabatullah. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa taala yang nanti menjadikan kita akan selalu menjauhi perbuatan maksiat. Baik kita ketika kita dalam keadaan sendirian maupun di hadapan orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Tentu saja keutamaan seperti ini ada pada semua sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Makanya inilah manfaatnya kita mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala dengan pemahaman yang benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Alhamdulillah selesai pembahasan dari dua ayat ini yang semoga kita bisa mengambil faedah kebaikan, ilmu yang bermanfaat untuk meningkatkan keimanan kita, menyempurnakan tauhid kita kepada Allah subhanahu wa taala. Barakallahu fikum.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, sebelum saya akhiri saya persilakan kalau ada pertanyaan yang mungkin ingin disampaikan ee jemaah ikhwan bisa langsung bertanya. Ada pertanyaan? Bagaimana jika saya mempunyai teman yang berbohong kepada saya lalu meminta meminta maaf kepada saya? Maka terhitungkah dosa baginya? Orang yang berbohong itu kan bukan cuma dosa sama manusia, lebih utama lagi dosa kepada Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Kan berbohong dosa besar termasuk tanda-tanda orang munafik. Ayatul munafiki salatun hadasa kadaba. Tanda-tanda orang munafik ada tiga kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Yang pertama kalau dia bicara berdusta, dosa besar. Jadi bukan hanya masalahnya dia minta maaf sama orang yang dia bohongi, tapi lebih penting lagi dia memohon ampun kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Apalagi kalau ini menjadi sesuatu yang biasa dia lakukan. Naudubillah minzalik, maka bisa tercetak pada dirinya sifat bohong. Di dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, &#8220;Wzalurulu yakbuah kadiba hatta yukallah.&#8221; Senantiasa seseorang itu berdusta, mengutamakan dusta, dan memilih dusta sehingga lama-kelamaan dia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.<\/li>\n\n\n\n<li>Yakni sudah tercetak sifat itu pada dirinya. Nauzubillah minzalik. Makanya ini kita harus hindari, kita harus jauhi, kita harus selalu minta kepada Allah Subhanahu wa taala agar dijauhkan dari sifat bohong maupun sifat sifat buruk lainnya. Sifat Allah begitu agung dan sempurna. Seyoganya sebagai makhluk kita hanya membutuhkan dan mencintai Allah, Rasul-Nya dan menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Namun bagaimana bila ada manusia yang menggunakan seperti benda yang dipercaya memiliki hal tertentu seperti benda-benda pusaka atau benda yang diwariskan dari keturunan sebelumnya diwariskan, diwasiatkan untuk dijaga. Ya, ini termasuk hal-hal yang bisa membawa kepada perbuatan syirik. Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan tentang tamimah yang mungkin terjemahan bahasnya kayak jimat begitu ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Man taq tamimatan faq asr. Barang siapa yang bergantung kepada jimat maka sungguh dia telah berbuat syirik karena akan menjadikan dia bergantung kepada makhluk secara berlebihan. Kan sudah pernah kita nukilkan Ibnu Taimiyah mengatakan asal perbuatan syirik inna asl syirki waqidatahullati bunya alaiha attauqu bighirillah. Ini pernyataan Ibnu Qayyim rahimahullah taala bukan Ibnu Taimiyah ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Beliau mengatakan, &#8220;Sesungguhnya asal perbuatan syirik dan pondasinya yang semua bangunan syirik dibangun di atasnya adalah ketergantungan kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Bersandar kepada selain Allah.&#8221; Maka kita orang yang meyakini benda-benda seperti ini punya kekuatan sehingga harus dijaga, harus dimuliakan dan seterusnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini jelas bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik bahkan bisa menjadi syirik yang besar. Nauzubillah minzalik. Mohon petunjuk, Ustaz. Apa yang harus dilakukan atas benda-benda pusaka yang dimiliki agar tidak mempengaruhi keyakinan. Kalau kita yakini benda-benda ini bisa membawa kepada merusak keyakinan tadi, menjadikan orang bersandar, ya maka dibakar saja.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita berdoa kepada Allah misalnya ada jinnya kita berlindung kita bacakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an perlindungan seperti tiga qul atau kita bacakan ayat kursi misalnya kita berdoa kepada Allah agar dilindungi kita bakar kita musnahkan jangan juga kita berikan kepada orang karena akan digunakan orang lain nantinya ya kita bakar kita musnahkan kalau itu kita khawatirkan akan membawa kepada keyakinan yang merusak tersebut. Nah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, saya ini ada hutang-hutang kecil yang ingin melunasinya dengan meminjam di bank konvensional. Solusinya, Pak Ustaz, karena saya takut mati meninggalkan hutang, tapi saya enggak punya harta benda. Ya, barakallah fik. Berdoa dan minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena Allah Subhanahu wa taala kalau kita sungguh-sungguh meminta pertolongan kepadanya, maka dia akan mengabulkannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita sungguh-sungguh minta kepada Allah agar dilepaskan dari keburukan-keburukan atau kesalahan-kesalahan kita di masa lalu ini. Kemudian Allah Subhanahu wa taala kita tahu menjanjikan di dalam Alquran, &#8220;Ujibu daw idan, aku akan menjawab seruan orang yang berdoa ketika dia berdoa kepadaku.&#8221; Yang jelas kita minta sungguh-sungguh kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka semoga Allah subhanahu wa taala memberikan jalan keluar terbaik dari masalah yang sedang ee anti hadapi atau si penanya ini menghadapinya. Nah, ada yang lain? Silakan. Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita cukupkan shallallahu wasallam mubarak ala nabina Muhammadin waa alihi wa asabihi waman tabiahumin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3992","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:32:38+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"25 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"name\":\"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:32:38+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:32:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:32:38+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"25 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","name":"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:32:38+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:32:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/6-menetapkan-sifat-mendengar-dan-melihat-bagi-allah-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"#6 Menetapkan Sifat Mendengar Dan Melihat Bagi Allah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3992"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3992"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3992\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3993,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3992\/revisions\/3993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3992"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3992"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3992"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}