{"id":4010,"date":"2026-07-13T09:39:11","date_gmt":"2026-07-13T02:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4010"},"modified":"2026-07-13T09:39:11","modified_gmt":"2026-07-13T02:39:11","slug":"14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","title":{"rendered":"#14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA"},"content":{"rendered":"\n<p>(22) #14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA &#8211; YouTube<br>https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=4JRexGwCUL4<\/p>\n\n\n\n<p>Transcript:<br>(00:22) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah [berdehem] nahmaduhu wa&#8217;inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.<br>(01:04) Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba&#8217;du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa melimpahkan berbagai macam nikmat taufik dalam kebaikan, kemudahan dalam menjalankan [berdehem] urusan-urusan agama kita dan urusan dunia kita.<br>(01:46) Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan kita untuk selalu menuntut ilmu agama. Apalagi mengenal akidah, mengenal tauhid yang merupakan sebab keselamatan kita ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti. Alhamdulillah. Barakallahu fikum. Di malam hari ini kita dipertemukan kembali di dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Nurul Iman yang mubarak yang penuh berkah ini.<br>(02:27) Di lanjutan kajian rutin kita mengkaji kitab Al-Akqidatul Wasitiyah buah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Kita tahu kitab yang agung ini memuat prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah sebagaimana yang beliau nyatakan di awal-awal pembahasan kitab ini yang sudah kita pernah lewati.<br>(02:59) Fahadza fahadtiqodul firqatin naji almansurati ila qiyam sa&#8217;ati ahlisati wal jamaah. Maka ini atau [berdehem] isi kitab ini adalah menjelaskan tentang iktikad, keyakinan akidah, golongan yang selamat, yang selalu mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. Ahlusunah wal jamaah. Jemaah sekalian rahimakumullah.<br>(03:36) Pembahasan di awal-awal kitab ini yang sudah kita kaji beberapa pertemuan kita tahu menjelaskan tentang perkara yang paling penting dalam agama kita yaitu bagaimana kita mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah. mengenal nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi dan maha agung yang itu ternyata mayoritas kandungan isi Al-Qur&#8217;an.<br>(04:07) Ini adalah perkara yang paling penting dalam agama kita. Karena ini menyangkut sebab yang menumbuhkan keimanan dari dasarnya, menyangkut sebab yang akan menumbuhkan dan menguatkan kecintaan kita kepada Allah, rasa takut kita kepadanya, dan pengharapan kita kepadanya. Yang kita tahu perkara-perkara ini merupakan tiang-tiang utama penopang iman.<br>(04:42) Allah Subhanahu wa taala ketika menyebutkan orang-orang yang saleh di dalam Al-Qur&#8217;an senantiasa Allah Subhanahu wa taala sebutkan tiga [berdehem] sifat yang agung ini selalu ada pada diri mereka. Seperti ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang para nabi dan para rasul di surah Al-Anbiya ayat ke-90.<br>(05:11) Auzubillahiminasyaitanirrajim. Innahum kanu yusariuna fil khairati waadunana rogoban waohabanu lana khosiin. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera berlomba dalam melakukan kebaikan karena rasa cinta di hati mereka kepada Allah. Dan mereka selalu berdoa kepada kami, kepada Allah Subhanahu wa taala dalam atau dengan perasaan takut dan berharap.<br>(05:48) Inilah dasar keimanan yang paling utama. Bahkan ini yang disebut oleh para ulama sebagai ruh atau nyawa nyawa iman. Cinta kepada Allah Subhanahu wa taala dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman Ass&#8217;di, imam ahlut tafsir yang kita kenal dengan tafsirnya Taisirul Karimir Rahman. Beliau menjelaskan kedudukan cinta kepada Allah.<br>(06:18) Kata beliau, &#8220;Hiya ruhul imani wa hakiut tauhidi wa asasut taqarubi wa ainut taabbud.&#8221; Cinta kepada Allah itu adalah ruh, nyawa iman hakikat tauhid. Tauhid yang sejati. inti peribadatan kepada Allah dan landasan utama pendekatan diri kepadanya. Yakni jemaah sekalian rahimakumullah, bagaimana iman akan bisa hidup, bagaimana akan bisa menumbuhkan kebaikan-kebaikan? Bagaimana buah-buah iman berupa ikhlas, khusyuk dalam beribadah, merasakan manisnya iman, berlomba-lomba dalam kebaikan.<br>(07:20) Yang ini merupakan sifat-sifat hamba-hamba Allah yang saleh yang kita ketahui bersama. Bagaimana semua ini akan tumbuh [berdehem] kalau dasar iman, akar iman tidak kita usahakan pertumbuhannya dengan benar? yaitu dengan mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah, mengenal nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi dan maha agung.<br>(07:47) Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur&#8217;an di surah Fatir dalam ayat yang kita kenal tentang keutamaan ilmu. Innama yaksyallaha min ibadihi al ulama. [berdehem] hanyalah yang takut kepada Allah. Yakni yang bisa mencapai takut kepada Allah yang sebenarnya. Tunduk kepada Allah, takwa kepada Allah. Allah batasi dengan innama.<br>(08:26) Ya, ini termasuk adawatul hasr. Kata yang menunjukkan arti pembatasan dalam bahasa Arab. hanyalah yang bisa memiliki rasa takut kepada Allah dengan sebenarnya hanyalah orang-orang yang berilmu yang punya pengetahuan tentang apa? Pengetahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Seperti yang dijelaskan di dalam tafsir Ibnu Katsir.<br>(08:50) A al ulamaul arifuna bihi hanyalah yang memiliki rasa takut kepada Allah dengan benar yaitu al ulama alarifuna bihi. orang yang berilmu dan mengenal Allah Subhanahu wa taala. Karena wajar orang yang semakin mengenal sifat-sifat keagungan, kebesaran, kemahakan, kemahakuasaan Allah, kemahakuannya, pasti dengan sendirinya akan tumbuh rasa takutnya, rasa tunduknya, pengagungannya.<br>(09:26) Hanya meminta dan berharap kepada Allah, hanya takut. kepada kekuasaannya, kepada ancaman azabnya, bahkan menjadikan dia akan berpaling dari makhluk untuk menghadapkan dirinya kepada Allah semata-mata. Inilah tauhid yang sesungguhnya. Ya, Ibnu Katsir rahimahullah taala melanjutkan penjelasannya. Kata beliau, liannahu kullama kaatil makrifatu billahi atamma wal ilmu bihi akmala kanatil khasyatu lahu a&#8217;doma wa aksar.<br>(10:07) Hal ini dikarenakan semakin pengetahuan seorang hamba tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin bertambah, semakin sempurna, dan ilmu tentang hal ini semakin kuat, otomatis rasa takutnya, ketundukannya, dan ketakwaannya kepada Allah semakin besar pula. Jadi ini memang ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini adalah jalur utama untuk menyempurnakan ketakwaan, menyempurnakan dasar-dasar utama dari keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala.<br>(10:52) Jemaah [berdehem] sekalian rahimakumullah. Kita ingat ya, bagi antum yang menghadiri kajian-kajian yang lalu, apa yang di jelaskan tentang keutamaan seseorang yang mengenal Allah subhanahu wa taala tentang sahabat yang ketika menjadi imam dalam sebuah perjalanan syariah ya, perjalanan peperangan atau jihad di jalan Allah.<br>(11:22) yang dia selalu membaca setelah surah al-Fatihah, surah pendek diakhiri dengan surah al-Ikhlas setiap rakaat seperti itu. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim ya ringkasnya para sahabat yang lain setelah pulang dari perjalanan perjalanan ini melapor kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyuruh mereka tanya, &#8220;Saluhu liyiin yasnaualik.<br>(11:55) &#8221; Kalian tanyakan kepada dia apa alasannya dia melakukan itu. Maka beliau sahabat yang mulia ini radhiallahu taala anhu berkata, &#8220;Liannaha sifatur rahmani wa ana uhibbu an aqroa biha.&#8221; Karena surah Al-Ikhlas ini terkandung di dalamnya sifat-sifat Allah yang maha pemurah. Dan aku cinta, aku suka membaca surat ini karena mengandung sifat-sifat kesempurnaan Allah.<br>(12:30) Ketika mendengar alasan ini disampaikan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, beliau sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Akhbiruhu annallaha yuhibbuh.&#8221; Sampaikan kepadanya bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mencintainya. Karena surah Al-Ikhlas ya yang kita tahu ini surat yang sangat ringkas. Kandungan isinya [berdehem] semua tentang Allah, tentang nama-nama dan sifat-sifatnya.<br>(13:02) Tidak ada penjelasan tentang surga dan neraka. Tidak ada penjelasan tentang ibadah kayak salat atau puasa atau yang lainnya. Tidak ada penjelasan tentang makhluk yang ada cuma tentang Allah Subhanahu wa taala nama-nama dan sifat-sifatnya. Karena mencintai dan selalu membaca, merenungkan surat yang pendek ini ringkas ini, hamba ini meraih kedudukan tertinggi dalam agama yaitu Allah subhanahu wa taala mencintainya.<br>(13:35) Jadi jemaah sekalian rahimakumullah ya. Ini semua menjadi motif besar, motivasi besar bagi kita untuk lebih semangat memahami ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang tadi sudah kita sebutkan. Ini mayoritas isi Al-Qur&#8217;an yang berisi penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Karena kita punya hati, hati kita itu punya tabiat.<br>(14:07) Dia akan mencintai sesuatu yang indah, apalagi yang maha indah, yang sempurna, yang maha tinggi, dan maha agung. Kalau tidak segera kita isi dengan kecintaan kepada Allah, dengan mengenal kesempurnaan kemahagian nama-nama dan sifat-sifatnya, maka setan yang akan merusaknya dengan membisikannya untuk mengagumi keindahan dunia yang palsu.<br>(14:38) Karena mau tidak mau hati harus terisi. Hati manusia itu kan ibaratnya wadah seperti gelas ya, mangkuk. Kalau tidak diisi dengan kebaikan, pasti setan yang mengisinya dengan keburukan. Alqulubu aiatun. Hati manusia itu seperti wada atau mangkuk. Bagaimana akan tumbuh rasa takut kepada Allah? Hati itu punya tabiat.<br>(15:08) Dia akan takut kepada sesuatu yang punya kekuatan, yang bisa mendatangkan keburukan, yang kemarahannya bisa membahayakan dirinya. Ini semua secara sempurna ada pada sifat-sifat Allah, ada pada nama-nama Allah. Ya, tapi karena kita kurang mengenal Allah, akhirnya setan yang akan mendatangkan kepada kita bisikan-bisikan untuk takut kepada makhluk.<br>(15:42) Dikesankan makhluk itu bisa berbuat begini, berbuat begitu, apalagi dengan tontonan-tontonan film sekarang. Akhirnya rasa takut di hati kita kepada Allah lemah, lebih takut kepada makhluk. Sehingga banyak orang-orang yang ketika di hadapan manusia, di hadapan orang kelihatan dia orang yang taat beribadah. Ketika sendiriannya dia berani berbuat maksiat karena lemahnya rasa takut kepada Allah.<br>(16:11) Karena kurangnya merasa diawasi atau merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah subhanahu wa taala. ini terjadi ya. [berdehem] Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an tentang para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain di surat Ali Imran yaitu mereka ditakut-takuti oleh setan yang mengatakan kalian akan diserang oleh sejumlah besar manusia.<br>(16:48) Alladzina qala lahumunasu innanasa qod jamau lakum faksyauhum. Mereka ini ditakut-takuti oleh orang-orang munafik. Mereka mengatakan sejumlah besar orang-orang kafir Quraisy berkumpul bersatu dalam jumlah yang banyak untuk menyerang kalian. Maka takutlah. Maka Allah berfirman, &#8220;Fazadahum imanan.<br>(17:21) &#8221; Mendapatkan ancaman seperti ini justru bertambah iman mereka. Kenapa? Rasa takut mereka dipenuhi dengan takut kepada Allah. Iman mereka yang menguatkan mereka. Iman mereka meyakinkan kepada mereka. Semua makhluk tidak akan bisa mencelakakan hamba kalau Allah Subhanahu wa taala menjaga dan melindungi mereka. Ya, jadi ini justru menambah iman mereka.<br>(17:52) Waqolu dan mereka malah mengatakan hasbunallahu wanikmal wakil. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung kami. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kami. Dan dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya, yang seperti ini adalah orang-orang yang benar-benar beriman. Justru ditakut-takuti imannya semakin bertambah.<br>(18:20) Kemudian Allah Subhanahu wa taala menjelaskan, memang ini adalah tipu daya setan. Innama dalikumu dalikumusit yukifu auliyaahu fala takofuhum wfuni intum mukminin. Itu adalah memang tipu daya setan yang dia ingin menakut-nakuti kamu dengan wali-walinya, teman-temannya. Maka jangan takut kepada mereka dan takutlah kepadaku semata-mata.<br>(18:55) jika kamu benar-benar beriman. Nah, yang seperti ini kan dalam kehidupan kita banyak dan ini menjadi sebab rasa takut kita kepada Allah lemah. Sudah kita sebutkan tadi hati itu wadah. Ada tempat untuk menampung rasa takut. Kalau tidak diisi dominan dengan takut kepada Allah, maka setan akan menjadikannya diisi dengan rasa takut kepada makhluk.<br>(19:25) Bayangkan sudah berapa lama kita terlambat mengantisipasi keadaan hati kita ini untuk diisi dengan yang benar-benar. Ya, sehingga saat ini waktu kita ingin belajar tentang iman, belajar tauhid, ya mesti kita harus setelah berdoa kepada Allah mengeluarkan dulu hal-hal yang telah mengisinya dari bisikan dan tipu daya setan tersebut.<br>(19:53) [berdehem] Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah, maka hasilnya lihatlah kalau sekarang kita merasakan ibadah ya salat kita masih jauh dari khusyuk, kecintaan kita kepada dunia masih berlebihan, persiapan dan semangat kita mempersiapkan diri untuk akhirat juga tidak begitu besar. Rasa nikmat atau berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah.<br>(20:26) Ini juga jauh dari apa yang kita baca dari contoh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Ini semua adalah dampak dari lemahnya tumbuh keimanan di hati kita sehingga buahnya tidak terasa. Sehingga buahnya tidak terasa. Jadi sekarang kita hanya bertanya kenapa seperti ini? Kenapa seperti ini? Maka jawabannya iman itu seperti pohon.<br>(20:56) Kalau Anda menanam akarnya dengan baik, menguatkan pertumbuhannya, menyiramnya dengan baik, menghilangkan pengganggu-pengganggunya, hal-hal yang mengganggu pertumbuhannya, maka dia akan mengeluarkan buah-buah yang indah setiap saat dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Allah Subhanahu wa taala berfirman di surat Ibrahim ya tentang perumpamaan pohon iman dan ada satu kitab kecil yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Assadi.<br>(21:35) Ini juga dianjurkan untuk dibaca. Ada terjemahannya. Attaudihu wal bayan lisyajaratil iman. Penjelasan tentang pohon iman. Ini kitab yang luar biasa ya. Jangan mengharapkan hasil atau buah kalau dari asal kita tidak menanamnya dengan baik. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Alam taro kaifaallahu matsalan kalimatan thyibatan kasyajaratin thyibatin asluha tsabitu wa&#8217;uha wa&#8217;uha fisama tu ukulaha kullainin biidnibbiha.<br>(22:21) Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat-kalimat yang baik? Kalimat iman, kalimat takwa, kalimat ikhlas, kalimat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kalimat-kalimat yang baik dalam Islam itu perumpamaannya seperti pohon yang baik yang ciri-ciri pohon yang baik itu akarnya tsabit kuat menancap di dalam tanah.<br>(22:51) Wa faruha, cabang-cabangnya, batangnya dan ranting-rantingnya naik ke atas, menjulang ke langit. Pohon seperti ini akan mengeluarkan buah-buah yang indah dan manis setiap saat dengan izin Allah. Di sini jemaah sekalian rahimakumullah. Seandainya pertumbuhan pohon iman seperti ini yang kalau tidak tumbuh dengan baik, yakni masih dikatakan iman itu benar, tidak mengapa.<br>(23:30) Mungkin kita mengatakan, &#8220;Alhamdulillah, yang penting iman saya benar.&#8221; Meskipun tidak setinggi itu, tapi ternyata keadaannya bukan seperti itu. Kalau tidak tumbuh dengan benar, tidak keluar buahnya, berarti dikhawatirkan iman seperti ini tidak diterima kalau kita bawa ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti.<br>(23:55) Jadi permasalahan ini bukan permasalahan yang bisa ditunda atau permasalahan yang orang mengatakan saya cukup dengan ini saja. Kata-kata cukup ini standar siapa? Ya harus standar itu adalah agama. Orang yang salatnya tidak khusyuk, bagaimana salatnya akan menyelamatkan dia ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala? Padahal khusyuk itu kata para ulama adalah rohnya salat.<br>(24:28) Yakni nyawanya salat. Apalagi ikhlas. Belum lagi tadi berlomba-lomba dalam kebaikan, merasakan manisnya iman dan seterusnya. [berdehem] Amal-amal yang kita kerjakan bisa kita rasakan. Kalau iman kita benar, amal-amal saleh itu lebih nikmat dibandingkan makanan atau minuman yang paling lezat. Harusnya kita rasakan seperti itu.<br>(24:57) Ya, sekarang anggota badan kita kalau sehat, bagaimana kita akan menghadapi makanan yang enak? Pasti kita lahap kan? Iya kan? Kalau badan kita sakit, apa yang terjadi? Dikasih makan. Rasanya pahit, rasanya kenyang, perutnya mual. Iya kan? Contoh saja, bawa makanan enak ke rumah sakit. Kira-kira akan dimakan oleh para pasien atau tidak? Tidak.<br>(25:24) Orangnya sedang sakit lah. Seperti itu hati yang sakit. Kalau hatinya sakit ya bagaimana imannya akan tumbuh dengan benar? Hati itu adalah tempat kita menanam pohon iman. Ibaratnya tanah yang tandus, tanah yang tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kita tanam ya tidak akan keluar buahnya. Ini kalau seandainya [berdehem] ya perkara yang mungkin kita bisa tunda untuk perbaikannya, permasalahannya kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita, sementara keadaan kita masih begini-begini saja.<br>(26:06) Kapan kita akan memperbaiki diri? Kalau tidak salah ingat di pertemuan-pertemuan kita yang lalu, saya pernah menukil pernyataan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Ini saya sengaja apa ini ulang-ulang lagi pelajaran yang lalu karena sudah lama kita libur ya kajian ini disebabkan karena saya beberapa kali ee umrah dan bertepatan waktunya.<br>(26:32) Jadi sehingga tidak bisa tergantikan begitu maksudnya. Jadi ada pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala sewaktu menjelaskan tentang nama Allah yang maha indah yang disebutkan di beberapa ayat Al-Qur&#8217;an yaitu Asyakur nama Allah Asyakur. Ini dinukil oleh Syekh Abdur Razak di dalam kitab fikih Fikhul Asmail Husna.<br>(27:04) Asyakur artinya terjemah bahasnya mungkin maha berterima kasih begitu ya. Maha bersyukur. Maha berterima kasihlah untuk Allah. Kalau biasanya kita gunakan syukur kan untuk manusia begitu ya. Maha berterima kasih. Maksudnya Allah itu ketika kita berbuat baik dibalasnya dengan yang lebih daripada apa yang kita lakukan.<br>(27:28) Karena Dia maha pemurah, maha luas karunianya. Ya, orang yang berbuat dosa saja setelah diampuni dosanya Allah mencintai dia. Apalagi orang yang berbuat kebaikan. Tib. Ada penjelasan dari beliau termasuk kandungan dari nama Allah ini balasan yang didapatkan oleh orang yang beramal dengan benar. Kata Ibnu Taimiyah rahimahullah taala, beliau berkata, &#8220;Idza lam tajid lil amali halawatan fi qolbika fattahimhu fainnarba taala syakurun.<br>(28:23) &#8221; yakni annahu laudalila amalihi min halawatin yajiduha fi qolbihi wa tumninatin wirahin wa qurrati ainin fahaitsu lam yajid dzalika faamaluhu madkhul beliau Beliau berkata seperti ini, &#8220;Jika kamu ketika beramal tidak merasakan nikmat di dalam hatimu, ini kayak orang sakit tadi, dikasih makan enak malah tidak enak, malah ngerasa mau muntah.<br>(29:08) Coba kalau sehat, maka dia akan makan dan minta tambah.&#8221; Kan begitu. Kalau kamu dalam beramal tidak merasakan manis atau nikmat, kata beliau, fattahimhu. Curigailah amalmu. Yakni curigai keadaan imanmu. Ada sakit. Kenapa? Kata beliau, &#8220;Fainnallaha syakur.&#8221; Dalilnya karena Allah itu adalah asyakur. Maha bersyukur, maha membalas perbuatan hamba dengan balasan yang lebih baik.<br>(29:42) Yakni arti dari nama nama Allah ini bahwa Allah pasti akan membalas orang yang beramal saleh dengan benar dengan balasan yang lebih baik. Bukan cuma pahala. Jelas kalau pahala dia dapatkan pahala yang berlipat ganda. Lebih daripada itu, Allah akan memberikan balasan kepada orang yang beramal ini dengan dia merasakan manis atau nikmat di dalam hatinya.<br>(30:13) Merasakan gembira, tenang, ya merasakan tentram di dalam jiwanya. Ini balasan yang pasti kata beliau. Sehingga fahaitsu lam yajid dalika faamaluhu madkhul. Jika seorang yang beramal dia tidak merasakan hal ini berarti amalnya rusak. Tentu lebih baik dibandingkan semua. Ini adalah sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih.<br>(30:51) Man sarratu hasanatuhu wasa&#8217;athu sayi&#8217;atuhu fahua mukmin. Barang siapa yang merasa gembira ketika melakukan kebaikan, senang hatinya ketika melakukan ibadah, dan merasa sakit atau sedih ketika melakukan perbuatan maksiat, maka berarti dia orang yang imannya benar. Nah, sekarang kita bertanya sama diri kita. Kapan kita merasakan kegembiraan dan kesenangan? Sayangnya masih banyak ketika berurusan dengan urusan dunia kita ini.<br>(31:29) Kalau kita jujur, kita akan katakan demikian. Ya, kita akan katakan demikian. Kalau kita dapat uang banyak, diundang makan yang enak dibandingkan waktu kita melaksanakan ibadah. dibandingkan waktu kita berzikir kepada Allah, dibandingkan waktu kita membaca Al-Qur&#8217;an, dibandingkan waktu kita menghadiri majelis ilmu. Maksud ana tadi pertanyaannya kalau terus seperti ini keadaan kita kemudian kita dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa taala, apakah kita bisa menjamin diri kita selamat? Itu pertanyaannya.<br>(32:13) Sementara tidak ada alasan bagi kita petunjuk Allah telah turun. Tapi kenapa hati kita tidak mau mengambil pelajaran untuk memperbaiki permasalahan terbesar dalam diri kita ini, yaitu masalah iman. Membenarkan iman di hati kita. Allah Subhanahu wa taala ketika menegur Ahlul Kitab di dalam firmannya di surah Al-Hadid ya ayat ke berapa? 16 atau 15 ya Allah subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Alam yakni lilladzina amanu an taksya&#8217;a qulubuhum lidzikrillahi wama nazala minal haq.<br>(33:09) [berdehem] Wala yakunu kalladzina utul kitaba minqoblu faola alaihimul amadu faqosat qulubuhum wairum minhum fasiquun. Ahlul kitab ditegur karena turun kepada mereka Alkitab ada petunjuk Allah. Mereka tidak manfaatkan untuk perbaikan iman. Allah berfirman, &#8220;Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka itu tunduk, khusyuk ketika mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang Allah turunkan kepada mereka.<br>(33:56) &#8221; Yakni kapan lagi waktunya? Kalau bukan sekarang sudah ada kebenaran, sudah ada petunjuk, bahkan petunjuk yang sempurna Al-Qur&#8217;an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Wala yakunu. Dan janganlah mereka berbuat seperti orang-orang ahlul kitab yang ketika berlalu masa yang panjang mereka tetap dalam kelalaian, tidak juga memanfaatkan petunjuk yang turun kepada mereka.<br>(34:24) Akhirnya apa? Fa alaihimul amadu. Berlalu masa yang panjang dan faqosat qulubuhum. Hati mereka membatu. Bagaimana akan ditanami iman hati yang seperti ini? Dan kebanyakan mereka menjadi orang-orang yang fasik. Ini kan peringatan dari Allah. Bahkan disebutkan di dalam hadis riwayat Imam Muslim, [berdehem] kata sahabat yang mulia Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu taala anhu, peringatan dari Allah ini turun setelah mereka masuk Islam 4 tahun.<br>(35:03) 4 tahun sudah cukup diberikan peringatan atau teguran ini ya. Kata beliau dalam hadis riwayat Imam Muslim, makana baina islamina waina anabanallahu biadhil ayati illa arbau sinin. Tidak ada jarak antara keislaman kami dan ketika Allah menurunkan teguran kepada kami di ayat ini kecuali 4 tahun. Bandingkan dengan kita sudah berapa lama kita mengenal Islam? Ya.<br>(35:34) Kemudian sudah berapa lama kita mengenal kajian sunah? Sudah berapa lama kita bisa membaca Al-Qur&#8217;an? Tapi kenapa kondisi hati kita seperti itu? Berarti kan ada yang salah. Alhamdulillah kita pahami kesalahannya masih di dunia ya. Kita masih bisa berusaha memperbaiki diri. Tapi ini harus segera. Jangan ditunda-tunda. Ingat, iblis laknatullah alaih tidak pernah berhenti menggoda manusia.<br>(36:09) Upaya dia untuk merusak hati itu setiap saat dilakukan. Di dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan fitnah-fitnah itu selalu ditampakkan di hadapan hati oleh setan supaya merusaknya. ul fitanu alalubiardiludan udan. Jadi selalu dia menggoda, tidak pernah libur ya setiap saat. Makanya banyak orang yang hatinya rusak yang dengan sebab itu imannya tidak hidup sebagaimana mestinya.<br>(36:47) Terlihat dari amal-amal yang mereka lakukan tentu banyak kekurangannya. Yang tentu kita juga mengakui hal yang sama. Dan kita selalu berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala agar Dia senantiasa memperbaiki keadaan kita, merahmati, mengampuni kekurangan-kekurangan kita, memaafkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita.<br>(37:12) Cuma kita ingat ini jangan ditunda. Setelah kita mengetahui peringatan ini, segera kita memperbaiki diri. Jemaah sekalian rahimakumullah. Kita ingat ya, saya juga pernah nukilkan di kajian kita yang lalu, menunda kebaikan itu termasuk tentara iblis. Jadi, iblis bukan hanya menggoda kita untuk meninggalkan kebaikan, tapi menundanya juga termasuk godaannya.<br>(37:42) Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, attaswifu min junudi iblis. menunda kebaikan mengatakan nanti masih bisa nanti. Ini termasuk tentara iblis dan terbukti banyak menyesatkan manusia, memalingkan mereka dari kebaik dari kebaikan-kebaikan sampai tiba-tiba ajal menjemput mereka dalam keadaan belum mempersiapkan dirinya.<br>(38:05) Naudubillah minzalik. Babakallahu fikum. Kita akan teruskan setelah selesai salat nanti dengan tanya jawab ya karena waktu sudah masuk ya. Shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br>(38:42) Alhamdulillah. [berdehem] Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrullahu ala taufqihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah taiman lisanih wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu addi ila ridwanih shallallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba&#8217;du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah.<br>(39:10) Di sesi yang kedua ini kita langsung lanjut dengan tanya jawab ya. Kalau ada hal-hal yang antum mau tanyakan maka saya persilakan. Tidak ada tambahan materi berhubung kondisi suara ana yang gak bisa dipaksakan. Barakallahu fikum. Silakan kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan yang berhubungan dengan materi ataupun di luar materi.<br>(39:29) Barakallahu fik. Silakan. Waalaikumsalam. Oke. Iya. Barakallahu fikum. Untuk hadis yang tadi kita sebutkan ya, karena itu dilakukan oleh sahabat ini berarti itu boleh kita lakukan ya. Meskipun tidak bisa juga kita katakan itu mutlak sebagai sunah yang harus kita ikuti. Intinya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kan tidak melarang beliau.<br>(40:29) Berarti ini termasuk hal yang beliau setujui. Cuman mestinya alasannya juga seperti sahabat tersebut karena dia melakukannya dalam rangka ya karena dia mencintai surat tersebut, selalu merenungkan kandungan surat tersebut. Ini diperbolehkan. Sampai sebagian ulama salaf saja kan sampai ada yang mengulang-ulangi ayat yang mereka baca di satu malam.<br>(40:50) Saya berkali-kali karena mereka merenungkan isinya. Kalau tujuannya untuk ini maka diperbolehkan ya. Dan memang tidak mengapa seorang itu membaca lebih dari satu surat setelah al-Fatihah kan. Jadi tidak mengapa kita lakukan. Cuman tidak kita katakan secara mutlak itu adalah sunah yang bersumber dari perbuatan Nabi sallallahu alaihi wasallam karena beliau tidak melakukan hal tersebut.<br>(41:18) Yang kedua, cara membersihkan kotoran penyakit hati. I membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya. Karena Al-Qur&#8217;an diturunkan sebagai syifaun lima fis sudur. Obat bagi penyakit hati manusia. Jadi [berdehem] banyak membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya termasuk menuntut ilmu supaya kita mendapatkan penjelasan [berdehem] yang bisa meluruskan kesalahpahaman kita dari masalah-masalah akidah, masalah keimanan kita.<br>(41:50) Kemudian banyak beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena dosa-dosa yang sudah terlanjur masuk dan mengotori hati kita itu cara untuk membersihkannya adalah beristigfar, bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Tentu kemudian menjauhi perbuatan maksiat. Kalau ini kita lakukan dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala memohon agar dibersihkan hati kita, disucikan jiwa kita, kita membaca doa seperti Allahumma ati nafsi taqwaha wazakiha anta khairu man zakaha anta waliyuha wa maulaha. Ya Allah berikanlah kepada<br>(42:26) jiwaku ketakwaannya. Sucikanlah jiwaku. Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkaulah yang menjaga dan melindunginya. dan doa-doa yang lain yang mengandung makna pembersihan hati dan jiwa. Ini termasuk usaha yang kita lakukan dalam rangka membersihkan kotoran penyakit hati agar mudah masuk kebaikan-kebaikan yang kita dengarkan atau yang kita baca dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang disertai dengan perenungan terhadap isinya.<br>(42:56) Barakallah fik. [mendengus] Kalau mau silakan yang lain. Bab. Barakallahu fikum. Kalau tidak ada lagi pertanyaan, maka [berdehem] kita cukupkan sampai di sini. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memudahkan kita mengambil pelajaran dari peringatan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan memperbaiki diri jika ada kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.<br>(43:37) Semoga Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita semua istiqamah di atas Islam, di atas iman, di atas sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sampai di akhir hayat kita. Barakallahu fikum. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(22) #14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA &#8211; YouTubehttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=4JRexGwCUL4 Transcript:(00:22) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah [berdehem] nahmaduhu wa&#8217;inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4010","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>#14 Al-&#039;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"#14 Al-&#039;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(22) #14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA &#8211; YouTubehttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=4JRexGwCUL4 Transcript:(00:22) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah [berdehem] nahmaduhu wa&#8217;inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:39:11+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"18 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"name\":\"#14 Al-'Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:39:11+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:39:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"#14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"#14 Al-'Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"#14 Al-'Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","og_description":"(22) #14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA &#8211; YouTubehttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=4JRexGwCUL4 Transcript:(00:22) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah [berdehem] nahmaduhu wa&#8217;inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:39:11+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"18 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","name":"#14 Al-'Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:39:11+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:39:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/14-al-ainaani-2-mata-yang-maha-mulia-bagi-allah-yg-maha-agung-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"#14 Al-&#8216;Ainaani (2 Mata Yang Maha Mulia) Bagi Allah Yg Maha Agung &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4010"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4010"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4010\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4011,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4010\/revisions\/4011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}