{"id":4021,"date":"2026-07-13T09:42:07","date_gmt":"2026-07-13T02:42:07","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4021"},"modified":"2026-07-13T09:42:08","modified_gmt":"2026-07-13T02:42:08","slug":"19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","title":{"rendered":"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>ikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina may yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah lah wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum rqiba ya ayyuhalladzina [Musik] yuti waasulahu faq faza fauzanima. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin.<\/li>\n\n\n\n<li>Amma ba&#8217;du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita senantiasa memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan kita untuk tetap istikamah di atas agamanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetap kita dimudahkan untuk melaksanakan ibadah, melaksanakan salat magrib secara berjamaah. tetap kita dimudahkan untuk selalu berpegang teguh dengan Islam, dengan iman, dimudahkan untuk menuntut ilmu, mengadakan majelis ilmu yang mulia. Sebagaimana yang kita lakukan di malam hari ini di kajian rutin membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Akqidatul Wasitiyah karya dari Syikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Barakallahu fikum. Kita masih di pembahasan tentang ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang di nukilkan oleh penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi dan maha mulia yang selalu kita imani dengan pemahaman yang benar. Pemahaman akidah ahlusunah wal jamaah yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala sesuai dengan yang Allah tetapkan bagi dirinya di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi<\/li>\n\n\n\n<li>wasallam dengan tetap mempertimbangkan kaidah yang mulia dalam pembahasan ini. Isbatun bila tamsil wa tanzihun bila taatil. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Karena kita selalu mengatakan sifat-sifat Allah sesuai dengan kemahaungan dan kemahagiannya sebagaimana sifat-sifat makhluk sesuai dengan kelemahan dan kekurangannya sebagai makhluk.<\/li>\n\n\n\n<li>Isbatun bila tamsil menetapkan tanpa menyerupakan dengan makhluk. Watanzihun bila taatil. Dan mensucikan Allah Subhanahu wa taala dari sifat-sifat kekurangan. tanpa menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya. Inilah metode yang selamat dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Apalagi kalau kita mengetahui bahwa pembahasan tentang masalah ini menempati kedudukan yang paling penting dalam urusan agama kita. Betapa tidak mengenal Allah adalah kunci utama untuk menumbuhkan semua kebaikan-kebaikan di dalam hati kita yang merupakan inti dari keimanan. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa taala. menumbuhkan pengharapan, tawakal, rida dan semua kebaikan-kebaikan yang lainnya. Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an di surah Fatir. Innama yaksyallaha min ibadihil ulama. Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wa taala dengan rasa takut yang sebenarnya di antara hamba-hambnya hanyalah orang-orang yang berilmu.<\/li>\n\n\n\n<li>Maksudnya berilmu tentang Allah, mengenal Allah. Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala, a al ulamaul arifuna bihi. yaitu orang yang mengetahui, berilmu, dan mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan mengkaji dan mendalami makna nama-nama dan sifat-sifat Allah yang maha tinggi dan maha mulia. Inilah yang akan menyempurnakan rasa takut dan ketakwaan di hati manusia kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullahu taala, liannahu kullamaatil makrifatu billahi atamma wal ilmu bihi akmala kanatil khasiyatu lahu a&#8217;doma wa aksar. Hal ini dikarenakan semakin pengetahuan seorang hamba tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin pengenalannya terhadap Allah semakin besar, semakin sempurna, dan ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin kuat.<\/li>\n\n\n\n<li>Kanatil khasyatu lahu a&#8217;dom wa aksar. Maka otomatis rata rasa takut kepada Allah Subhanahu wa taala semakin besar dan semakin kuat pula. Bahkan kalau kita perhatikan ayat ini, Ikhwan akhwat fiddin rahimakumullah, kita akan dapati Allah Subhanahu wa taala mengkhususkan ya dengan adatul hasr lafaz yang menunjukkan makna pembatasan.<\/li>\n\n\n\n<li>Innama yaksyallaha min ibadihil ulama. hanyalah yang benar-benar bisa tumbuh rasa takut kepada Allah dalam diri mereka hanya orang-orang yang berilmu. Alkhasyah ini rasa takut yang disertai dengan ketundukan. Ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan ini dalam bentuk pengkhususan, artinya selain mereka tidak mungkin memiliki rasa takut di dalam hatinya, ya berarti dalil-dalil yang menyebutkan tentang al-khasyah di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang lain maupun hadis-hadis yang sahih ini hanya diperuntukkan untuk orang yang<\/li>\n\n\n\n<li>mengenal Allah saja. Ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Miftahu Daris Sa&#8217;adah. Ketika Allah Subhanahu wa taala misalnya menyebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an di akhir surah Albayyinah contohnya innalladzina amanu wa amilus shihati ulaika hum khairul bariyah. Jazuhumbihim jannatu adni tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada radhiallahu anhum waraduan apa terakhirnya dalika liman khasya rabbah berarti kan ini khasyiah lagi.<\/li>\n\n\n\n<li>Iya kan? Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka adalah di sisi Allah Subhanahu wa taala surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Surga yang kekal abadi yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini semua balasan yang agung. Tentu saja di akhirnya Allah mengatakan apa? Dzalika liman khasya rabbah. Itu adalah diperuntukkan bagi orang yang memiliki khasyiah. Rasa takut dengan ketundukan tadi. Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, berarti balasan-balasan ini tujukan kepada siapa? Hanya kepada orang yang mengenal Allah dengan kita menggabungkan dua dua ayat ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti karena tidak mungkin khasyiah itu tumbuh kecuali dengan kita mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Maka keutamaan-keutamaan seperti ini hanya ditujukan bagi orang yang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Contoh misalnya lagi yang lain. Di hadis yang sahih Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, &#8220;Ainani la tamassuhumanar.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka. Semoga Allah Subhanahu wa taala menjaga dan menyelamatkan kita dari azab neraka. Ada dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka. Ainun batat tahrusu fi sabilillah. Wa ainun bakat min khasyatillah. Pertama, mata yang batat bermalam, begadang, berjaga-jaga di jalan Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan yang kedua, ainun bakat min khasyatillah. Mata yang meneteskan, yang menangis, meneteskan air mata karena apa? Khasyiah. Takut kepada Allah. Kalau kita gabungkan dengan ayat tadi lagi yang di surat Fatir, yang bisa takut kepada Allah dengan khasyah ini hanyalah orang yang berilmu yaitu mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti keutamaan ini juga hanya didapatkan oleh mereka. Jadi jemaah sekalian rahimakumullah, di sini kita mengetahui keagungan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala dengan benar. Karena semua jenis ibadah, bahkan inti ibadah, keikhlasan, cinta, takut, berharap, rida, tawakal, tidak akan kita mungkin tidak akan mungkin bisa kita sempurnakan dalam diri kita kalau kita tidak mengenal kemahadahan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya ilmu ini sangat agung dan berkali-kali kita jelaskan keutamaannya. Dan tentu saja kita waspada dari penyimpangan-penyimpangan dari memahami ilmu yang agung ini. Karena kalau hal-hal yang berhubungan dengan inti keimanan seseorang salah dalam memahaminya, bisa dipastikan ya perkara-perkara yang berhubungan dengan kebaikan-kebaikan dalam agamanya tidak akan dicapai oleh hamba tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>yakni dasar utama keimanan salah berarti semua bangunan agamanya akan akan rusak. Naudubillah minzalik. Akan mudah runtuh. Ya, makanya ini yang menjadikan kita memberikan perhatian besar untuk memahami kaidah-kaidah dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Tauhid al-asma was sifat.<\/li>\n\n\n\n<li>Mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala dalam nama-nama dan sifat-sifatnya yang maha tinggi dan maha mulia. Kita berusaha memahami dengan sebaik-baiknya. Kita ingat kembali firman Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur&#8217;an. Walillahil asmaul husna fad&#8217;uhu biha. Wadarulladzina yulhiduna fi asmaihi sayujzauna maa kanu ya&#8217;malun. Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka berdoalah kalian kepada Allah dengan nama-namanya yang maha indah. Berdoa di sini termasuk berdoa meminta dan beribadah. Termasuk doaul ibadah. Ini perintah. Karena tidak ada yang lebih mulia dibandingkan ibadah yang di situ ada perenungan dan praktik terhadap makna, nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian Allah ingatkan, wazaru dan tinggalkanlah orang-orang yang yulhidun, yang menyeleweng, menyimpang dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Sayujzauna ma kanu ya&#8217;malun. Sungguh mereka akan mendapatkan balasan, azab yang besar di sisi Allah Subhanahu wa taala akibat dari perbuatan yang mereka lakukan.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi jemaah sekalian rahimakumullah, kalau kita tahu ibadah saja landasannya adalah kecintaan yang utuh dan ketundukan diri yang sempurna kepada Allah. Seperti penjelasan dari para ulama, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di beberapa kitabnya juga menjelaskan masalah ini. Bahwa ibadah atau penghambaan diri kepada Allah itu adalah ibaratun amma yajmau kamal hubbi wa kamala dzulli lillah.<\/li>\n\n\n\n<li>sesuatu yang menghimpun kecintaan yang utuh dan ketundukan diri yang sempurna kepada Allah. Sekarang landasan utama ibadah ini, jadi ibadah itu bukan cuma gerakan anggota badan saja tanpa ada rasa cinta dan ketundukan merendahkan diri di hati kita kepada Allah. Ya, kalau ini menyangkut dasar utama ibadah kita sekarang, bagaimana mungkin akan tumbuh di hati kita kecintaan yang benar kepada Allah, ketundukan kayak rasa takut, pengharapan, pengagungan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau mengenal kesempurnaan, kemahainggian nama-nama dan sifat-sifatnya, seseorang salah paham. Seseorang hanya mengandalkan akalnya, gampang menolak sifat-sifat Allah hanya karena pertimbangan. Katanya tidak masuk akal, padahal akalnya yang bermasalah. Bagaimana mungkin Al-Qur&#8217;an yang pasti benar ya la ya&#8217;tihil batilu min baini yadaihi wala min khalfihi.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak mungkin ada kebatilan padanya pada Al-Qur&#8217;an dari depan maupun dari belakangnya. Kebenaran yang mutlak seperti ini berarti kandungannya juga akan benar. Apa yang ditetapkan di dalamnya juga mesti benar. Datang sebagian orang yang kemudian menghukumi dengan akalnya, &#8220;Oh, ini tidak sesuai dengan akal.&#8221; Maka harus ditolak, harus ditakwilkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka kita hadapkan kepada orang seperti ini ayat Al-Qur&#8217;an. A antum alamu amillah. Apakah kamu lebih mengetahui dibanding untuk pasti yang pertama jawaban yang memberikan penjelasan kitaba paling lurus. Kemudian dengan mudah kita memberikan penjelasan. Ini namanya mengkaburkan. Ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau kalau begitu ini bukan memberikan hidayah, ini menyesatkan, membingungkan. Dan tidak mungkin Al-Qur&#8217;an yang agung yang Muhammad sallallahu alaihi wasallam tidak mungkin Al-Qur&#8217;an disifati dengan sifat yang seperti itu ya. Karena yang paling penting ini dengan pemahaman yang benar. Karena kalau sudah salah dalam masalah ini bisa dipastikan perkara-perkara agama yang lain akan salah dan rusak.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini jemaah sekalian rahimakumullah sifatnya dan sudah pernah kita bahas ini sifat kita selalu mengagungkan Allah supaya kita memiliki sifat yang di innahum kanu yusariuna fil khairati waadunana ragoban waohaban. Mereka adalah orang-orang yang selalu berlomba-lomba dalam mengenal Allah mulia. Berlomba-lomba dalam beribadah mengamalkan amal kebaikan.<\/li>\n\n\n\n<li>ayat Al-Qur&#8217;an dan merupakan sifat utama, ciri utama orang-orang yang bertakwa. Fastabiqul khairat. Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Wafialika falyatanafasil mutanafisun. Dan untuk kebaikan yang seperti asabiquun. Banyak ayat Al-Qur&#8217;an yang menyebutkan ini. Sekarang sesuatu kita akan berlomba mengerjakannya tidak mungkin bisa kita berlomba mengerjakan sesuatu kalau kita tidak mencintai sudah tadi ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Sesuatu itu kalau kita lakukan dengan cinta, kita akan sukai, kita akan senangi. Kalau kita sudah senangi, maka kita akan mencarinya, kita akan selalu berusaha melakukannya, mengejarnya, berlomba-lomba melakukannya. Jadi, ini semua dasarnya karena cinta. Makanya saya alladzatu tabiatun lil mahabbah. kelezatan terhadap sesuatu itu, kenikmatan terhadap sesuatu itu mengikuti rasa cinta kepadanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi kita lihat kenapa dakwah para nabi dan para rasul, kenapa petunjuk Al-Qur&#8217;an paling banyak menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah? Karena pertimbangan kaidah ini. Kalau kita mencintai Allah, pasti kita akan merasakan nikmat dekat dengannya. Manusia saja yang kita cintai, kita betah dekat dengannya, berlama-lama duduk dengannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, kalau kita mencintai seseorang, kita akan senang dekat dengan orang tersebut. Ini kecintaan manusia yang terbatas. Bagaimana dengan mencintai Allah Subhanahu wa taala yang merupakan ya perhiasan hati yang paling indah dan dambaan hati yang paling besar? Jadi maksudnya benar-benar pemahaman ilmu ini akan memperbaiki semua ibadah kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, sampai-sampai di dalam kitab Fikhil Asmail Husna, Syekh Abdur Razq hafidahullahu taala memberikan kesimpulan ketika membahas masalah ini. Kata beliau, wabil jumlah fal ubudiyatu bijamii anwaiha rojiatun ila muktadatil asma was sifat. Kesimpulannya kata beliau yang namanya ubudiyah penghambaan diri kepada Allahim rahimahullah taala akmalunasi ubudiyatan al mutaabbidu lillahi bijamiil asma wasifatillati yatoliu alaihal basyar orang yang paling sempurna penghambaan dirinya ibadahnya kepada Allah adalah orang yang beribadah kepada<\/li>\n\n\n\n<li>Allah dengan memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia. Maka sungguh beruntung sungguh demi Allah membaca kitab al-Aqidatul Wasitiyah dan kita pahami dengan benar keislaman kita, keimanan kita kan landasan landasan iman yang agung. Ya, landasan-landasan yang agung pada keimanan.<\/li>\n\n\n\n<li>Nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala berdasarkan akidah ahlusunah wal jamaah. Wallahi inilah satu-satunya jalan keselamatan, ilmu yang paling mulia, satu-satunya sebab yang agung yang akan memperbaiki diri kita, menjadikan kita selamat dunia dan akhirat. Selamat sampai kita berjumpa Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti.<\/li>\n\n\n\n<li>Disebutkan oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala. Kelanjutan dari pembahasan kita. Ada empat ayat Al-Qur&#8217;an yang di dalamnya terkandung penjelasan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha indah, yang maha tinggi. Ya, seperti sifat al-afu, maha pemaaf, ya. Al-maghfirah, maha pengampun.<\/li>\n\n\n\n<li>Sifat rahmat maha penyayang. Alizzatu wal qudrah. Sifat al-izzah maha mulia, maha perkasa. Alqudrah maha kuasa atas segala sesuatu. Coba kita perhatikan untuk yang berhubungan dengan pengampunan dosa, ya. Kekurangan-kekurangan kita dalam beramal dosa yang kita lakukan, masyaallah sudah berapa nama-nama Allah Subhanahu wa taala? yang kalau kita praktikkan kita akan dapatkan kemudahan untuk perbaikan dan membersihkan diri kita ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan tentu semakin banyak nama-nama yang maha indah seperti ini kan semakin menyemangati kita untuk mengamalkannya. Allah Subhanahu wa taala adalah al-afu, maha pemaaf. Allah Subhanahu wa taala alghfur maha pengampun. Attawab maha penerima tobat. Ini khusus berhubungan dengan dosa-dosa kita atau kekurangan kita dalam beramal, dalam menunaikan kewajiban.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini yang ini belum yang berhubungan dengan nama-nama lain seperti tadi arrahman arrahim maha pengasih lagi maha penyayang. Ya, di antara bentuk k sayang Allah Subhanahu wa taala memudahkan hamba-hamba yang bertobat kembali kepadanya. Bahkan kita bertobat sendiri ini kan juga taufik dari Allah. Yakni kalau kita semakin renungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin menumbuhkan kecintaan di hati kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Semakin kita yakini Allah Subhanahu wa taala memang sempurna kebaikan-kebaikannya, kasih sayangnya, bahkan melebihi kasih sayang siapapun di dunia ini yang paling sayang kepada kita. Misalnya ibu kita. Ingat sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim.<\/li>\n\n\n\n<li>Lallahu arhamu biibadihi min hadhi biwaladiha. Sungguh Allah subhanahu wa taala lebih sayang, lebih rahmat, lebih merahmati, lebih sayang kepada hamba-hambnya dibandingkan sayangnya seorang ibu kepada anak bayinya. Jadi kalau kita pahami ini dengan benar, apa yang tumbuh di hati kita? Cinta kepada Allah. Iya kan? Semakin kita memuji Allah, semakin kita selalu mensyukuri nikmat-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena tabiat hati manusia pasti akan selalu menghargai, selalu memuji dan mencintai pihak yang berbuat kebaikan kepadanya. Apalagi kebaikan yang demikian berlimpah kepada makhluknya. Ini ada empat ayat. Yang pertama firman Allah di surah An-Nisa ayat di dalam kitab al-Aqidatul Wasitiyah ini surah An-Nisa ayat 149. Azubillahiminasyaitanirrajim.<\/li>\n\n\n\n<li>in tubudu khairon au tukhfin fainnallaha kana afuan qodir intubudu khairon jika kamu menampakkan kebaikanmu atau kamu sembunyikan Kan sungguhnya Allah Subhanahu wa taala afuun maha pemaaf qadiran lagi maha kuatahu wa taala maha membalas perbuatan manusia dia sembunyikan atau dia tampakkan Allah maha mengetahui.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena innallaha la yakhfa alaihi saaiun fil ardhi wala fisama. Allah Subhanahu wa taala tidak ada satuun yang samar darinya, yang luput dari ilmunya yang maha sempurna dari semua makhluk yang ada di langit maupun di bumi. Kemudian ketika kamu memaafkan perbuatan buruk, sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha pengampun lagi maha kuasa.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini kan ada dua nama Allah yang maha indah yang digandengkan. Afu nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah. Dan tentu terkenal hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sahih. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lailatul qadar. Allahumma innaka afuun tuhibbul afwa fa fu anni.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, orang berbuat salah syukur-syukur diterima ketika dia bertobat. Ini Allah malah mencintainya. Ini menunjukkan karunia Allah Subhanahu wa taala yang sangat agung. Tuhibbul afa fafu anni. Maka maaf lebih banyak ditujukan untuk pemaafan dari kekurangan hamba ketika menunaikan kewajiban-kewajiban dalam agama.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau alghfur maha pengampun kan ini berhubungan dengan masalah perbuat dosa atau maksiat yakni melakukan hal-hal yang di haramkan dalam agama. Kalau al-afu itu lebih banyak ditujukan maknanya kepada apa? Pengampunan, pemaafan dari Allah untuk kekurangan hamba dalam menunaikan kewajiban-kewajibannya atau meninggalkan yang wajib misalnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang jelas pasti ini kita butuhkan semua. Ya Allah Subhanahu wa taala mencintai pemaafan. Makanya hamba yang pemaaf dipuji yang meskipun jelas pemaafan yang dimiliki oleh manusia pasti terbat orang yang berbuat salah ya kalau manusia orang berbuat salah sama kita ada yang mungkin kita maafkan tetapi iya kan apalagi kalau bersalahnya berkali-kali.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi Allah Subhanahu wa taala tidak demikian. Kalau hamba ini sungguh-sungguh memohon ampun kepadanya, ya Allah subhanahu wa taala ampuni dosa-dosanya, maafkan kesalahan-kesalahannya, bahkan setelah itu Allah mencintainya kalau dia sungguh-sungguh. Karena ini sudah pernah kita jelaskan kan ada faedah yang diterangkan oleh para ulama.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika dua nama Allah itu digandingkan, nama Allah yang maha indah, masing-masing menunjukkan makna kemaha ya menghasilkan lagi satu kemaha merupakan dari gabungan dari dua yang maha indah tersebut. Ini yang diistilahkan oleh para ulama alkamal fauqal kamal. Kesempurnaan di atas kesempurnaan. Ya, contoh seperti misalnya ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wahuwal gofurul wadud.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Dan Allah maha pengampun lagi maha mencintai hamba-hamba yang beriman dan mereka mencintainya. Al-wadud artinya Allah mencintai hamba-hambnya dan mereka mencintainya. Kenapa digandingkan dengan alghfur? Kembali kepada faedah tadi. Orang yang berbuat salah kalau di kalangan manusia dimaafkan dia sudah syukur-syukur.<\/li>\n\n\n\n<li>Subhanahu wa taala karena pemaafannya, pengampunannya sempurna. Allah Subhanahu wa taala ketika mengampuni dosa hamba-hambanya dan hamba ini sungguh ber Makanya orang yang bertobat kepada Allah, Allah kan gembira menerima tobatnya. Kita pernah dengar hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Lallahu asyaddu farhan bitubati ahadikum.<\/li>\n\n\n\n<li>Sungguh Allah subhanahu wa taala sangat gembira, senang menerima tobat salah seorang di antara kamu lebih gembira daripada gambaran kegembiraan yang paling besar dirasakan manusia. Disebutkan dalam hadis ini apa? seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan di padang pasir yang luas, membawa perbekalan di atas untanya, makanan, minuman, semua.<\/li>\n\n\n\n<li>Tiba-tiba di tengah padang pasir tersebut untanya lari. Orang ini jelas ya kemungkinannya binasa dia. Makanan minumnya sudah pergi semua. Ah, mau ngejar juga tidak bisa. Maka di ketika dia sedang berputus asa pun dia mendapati untanya lengkap dengan bekalnya semua ada di sisinya di sampingnya. Maka dia langsung memegal memegang tali kekang untanya sambil dia mengangah tangan berdoa kepada Allah saking gembiranya sampai salah dalam berdoa.<\/li>\n\n\n\n<li>Iya kan? Dia mengatakan apa? Allahumma anta abdi wa ana rbuk akhta min syiddatil farah. Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu. Aku adalah Tuhanmu. Ini bukan sengaja, tapi saking gembiranya dia sampai salah. Nah, ini kan gambaran kegembiraan yang paling besar dirasakan manusia. Allah lebih gembira ketika hambanya bertobat kepadanya. Yakni bagaimana agungnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Pengarang di ayat ini di surat An-Nisa ayat 149 ini kan Allah Subhanahu wa taala menggandengkan sifat pemaafan dengan qadiro maha kana afuan qadir. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha maha pemaaf lagi maha kuasakan karena dia tidak mampu tindas oleh orang yang kuat. Ditanya kamu marah tidak? Saya maafkan dia. Karena dia enggak berani melawan.<\/li>\n\n\n\n<li>tidak punya kemampuan. Iya kan? Allah Subhanahu wa taala ketika dia ingin membalas, menyiksa hambanya, siapa yang bisa menghalanginya? Ketika dia ingin memperhitungkan dosa-dosa kemudian dibalas semua satu persatu, tidak ada yang bisa mencegahnya. Ya, wamsaskallahu bidurin falafahu illahu.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan jika Allah menimpakan kepadamu keburukan, tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali dia sendiri. Bersamaan dengan itu, Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu, maha perkasa, maha kuat, tidak ada yang bisa melemahkannya atau melawannya. Seorang hamba ketika dia kembali kepada Allah, ketika dia berbuat dosa, berbuat lalai, ketika dia mengingat keutamaan ini, dia akan segera kembali dan bertobat kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena Allah Subhanahu wa taala maha kuasa untuk membalas atau menimpakan keburukan kepadanya. Tapi Allah Subhanahu wa taala masih memberikan kesemp yang jelas di ayat ini berarti ada penetapan dua nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah yaitu al-afuwu dan al-qadir. Maha pemaaf dan maha kuasa atas segala sesuatu. Berarti Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat maha memaafkan dan kudrah, maha mampu atau maha kuasa atas segala sesuatu yang kita wajib tetapkan karena Allah menetapkan bagi dirinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dengan kita kembali kepada kaidah, kita harus menafikan empat perkara, yaitu apa? Tidak boleh menyamakan dengan sifat makhluk. Laisa kamitlihi syaiun wahua. ada kelanjutannya setelah selesai salat Isya pembahasan ini. Barakallahu fikum. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/li>\n\n\n\n<li>Alhamdulillah Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu addi ila ridwan shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba&#8217;du barakallahu fikum maasyiral ikhwa Wal akhwat fiddin rahimakumullah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita lanjutkan pembahasan tentang ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi, yang maha agung yang di bawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab al-Akqidatul Wasitiyah. Ini tadi ayat yang pertama surat An-Nisa ayat 149 ya di bagian akhir Allah subhanahu wa taala menetapkan dua namanya yang maha indah al-afu dan al-qadir.<\/li>\n\n\n\n<li>Maha pemaaf dan maha al-qadir maha kuasa atas segala sesuatu yang berarti kita menetapkan dua nama Allah ini termasuk alasmaul husna dan kita menetapkan sifat kesempurnaan bagi Allah. yaitu sifat pemaaf dan sifat alqudrah maha kuasa atas segala sesuatu maha mampu. Ya. Dan seperti yang kita sudah selalu terangkan, kita menetapkan dua sifat ini karena Allah Subhanahu wa taala menetapkan bagi dirinya di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an juga ditetapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis yang sahih dengan kita selalu menafikan empat<\/li>\n\n\n\n<li>perkara. Pertama, tidak boleh kita menyerupakannya dengan makhluk. Kita katakan makhluk juga memiliki sifat pemaaf, tapi sifat makhluk sesuai dengan kekurangan dan kelemahannya. Adapun sifat pemaafan Allah Subhanahu wa taala tentu sifat yang maha tinggi dan maha sempurna. Laisa kamitlihiun wahua samiul bashir.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada satuun yang serupa dengan Allah, yang semisal dengan Allah dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Jadi kita menafikan yang namanya tamsil tanpa menyerupakan dengan makhluk. Yang kedua, wala takyif. Tidak boleh kita membagaimanakannya. Karena Allah Subhanahu wa taala dan rasulnya tidak menjelaskan hal tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Para sahabat juga tidak menanyakannya. Kita yakini kaifiah sifat Allah itu ada, tapi cuma Allah Subhanahu wa taala yang mengetahuinya. Kita hanya menetapkan maknanya dan itu pun kita katakan makna ini sesuai dengan kebesaran dan kemahaagungan Allah Subhanahu wa taala. Yang ketiga, walail.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak boleh kita menolak sifat Allah ini karena Allah menetapkannya dan hadis-hadis yang sahih menetapkannya. Ya, tidak boleh kita menolaknya. Dan yang keempat, wala tahrif. Tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya. Kita harus menetapkannya sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Tib. Berikutnya ayat yang kedua yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di pembahasan ini adalah ayat yang juga yang menyebutkan tentang sifat Allah, nama Allah alghfur arrahim.<\/li>\n\n\n\n<li>Di surah Annur ayat ke-22 Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Walya&#8217;fu waliyasahu ala tuhibbuna ay yagfirallahu lakum wallahu gofurur rahim.&#8221; Hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada dengan kesalahan tersebut. Apakah kalian tidak menyukai Allah Subhanahu wa taala mengampuni dosa-dosamu? Dan Allah Subhanahu wa taala maha pengampun lagi maha penyayang.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, kisah ini tentu saja kita ketahui disebutkan di dalam riwayat yang sahih. Sebab turunnya berhubungan dengan kisah haditul ifq. Kisah yang dusta, kekejian yang sangat buruk yang dituduhkan oleh orang-orang munafik kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu taala anha dengan tuduhan yang keji tentu saja yang tujuannya mereka adalah untuk mencela Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi Allah Subhanahu wa taala menurunkan ayat Al-Qur&#8217;an untuk mensucikan Aisyah radhiallahu taala anha dari tuduhan yang buruk tersebut. Tuduhan ini kita ketahui dihembuskan oleh orang-orang munafik dan sangat disayangkan sebagian dari orang yang beriman ada yang terpengaruh. Ya, di antaranya yang berhubungan dengan yang terpengaruh ini adalah salah seorang kerabat dari sahabat Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu yaitu Mistah Ibnu Utsah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini tergelincir beliau ya, yang dia ini adalah anak dari bibi Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu. Dan karena dia orang yang miskin tapi yakni benar-benar berislam dengan baik kecuali dalam masalah ini tentu dia tergelincir. Maka Abu Bakar Assiddiqar Assiddiq radhiallahu taala anhu kemudian bersumpah untuk tidak lagi memberikan biaya dalam ayat Al-Qur&#8217;an.<\/li>\n\n\n\n<li>mengingatkan dan menegur sahabat yang mulia ini. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wala ya&#8217;tul fadli minkum wasa&#8217;ati ayyu ulil qurba wal masak wal masakina wal muh wal muhajirina fisabilillah.&#8221; Ya walya&#8217;fu walusfahu ala tuhibbuna ay yagfirallahu lakum wallahu gfurur rahim. Dan janganlah orang yang memiliki keutamaan dan kelapangan di antara kamu bersumpah untuk ya untuk tidak memberikan nafkah kepada orang yang menjadi kerabatnya, yaitu orang yang miskin dan berhijrah di jalan Allah hanya karena kesalahan tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Hendaknya dia memaafkan dan berlapang dada menerima kesalahan itu. Apakah kalian tidak suka Allah subhanahu wa taala mengampuni kesalahanmu? Dan Allah Subhanahu wa taala maha pengampun lagi maha penyayang. Tentu saja sahabat yang mulia Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu ketika turunnya ayat ini langsung beliau melaksanakan perintah Allah tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, disebutkan ketika turunnya ayat ini maka beliau radhiallahu taala anhu berkata, &#8220;Bala wallahi nuhibbu ayagfirallahu lana.&#8221; Ya, sungguh demi Allah kami kita menyukai kita mencintai Allah subhanahu wa taala mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita. Maka setelah itu beliau kembali memberikan nafkah biaya hidup untuk kerabatnya tersebut dan memaafkan kesalahan-kesalahannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Itu inti dari sebab turunnya ayat ini. Yang jelas di ayat ini Allah Subhanahu wa taala menyebutkan ya dua namanya yang maha indah. Wallahu gfurur rahim. Dan Allah Subhanahu wa taala maha pengampun lagi maha penyayang. Alghfur arrahim adalah termasuk di antara al-asmaul husna. Nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah berarti mengandung sifat almagfirah, pengampunan, dan sifat rahmat yang juga wajib kita tetapkan berdasarkan kaidah yang tadi kita sebutkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ayat yang ketiga. Ya, karena kedua nama ini mungkin sudah pernah kita bahas, jadi kita tidak berpanjang lebar untuk membahasnya. Ayat yang ketiga, firman Allah Subhanahu wa taala di surat almunafiqun ayat ke-8. Walillahil izzatu walirasulihi walil mukminin. Dan milik Allahlah kemuliaan itu. Alizzah, kemaha perkasaan, kemaha muliaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan kemuliaan itu juga milik rasulnya sallallahu alaihi wasallam dan milik orang yang beriman. Ya, tentu sifat Allah al-Izzah ya adalah sifat yang maha sempurna. Manusia juga memilikinya. Seperti Allah tetapkan begini. Rasulullah sahu alam memilikinya, orang yang beriman memilikinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi sifat manusia tentu penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Adapun sifat Allah Subhanahu wa taala maha tinggi dan maha agung lagi maha sempurna. Tayib. Al-izzah yang merupakan sifat Allah Subhanahu wa taala meliputi semua makna yang maha tinggi dari sifat ini. Ya, ada yang namanya izzatul qadr, maha mulia kedudukannya. Ya Allah Subhanahu wa taala maha mulia kedudukannya sehingga tidak ada satu makhluk pun yang setara atau sebanding dengannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang kedua, izzatul qahar. Maha perkasa. Ya, izzatul qahr artinya maha maha perkasa. Ini juga makna izzah yang berlaku dalam bahasa Arab. Yang ketiga, izzatul imtina. Ya, maha perkasa. Dalam imtina tidak ada satu kekurangan pun yang bisa menimpanya. Tidak ada satu cacat maupun celaan pada dirinya yang maha yang maha agung dan maha mulia.<\/li>\n\n\n\n<li>Yni semua makna al-izza di sini wajib kita tetapkan bagi Allah subhanahu wa taala. Dan sekali lagi kita harus menafikan empat perkara tadi. Tidak boleh kita menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Tidak boleh kita membagaimanakannya, tidak boleh kita menolak sifat-sifatnya dan tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ayat yang keempat yang terakhir ya, yaitu firman Allah di surah Sad ayat 82 juga tentang sifat izzah maha mulia atau maha perkasa milik Allah subhanahu wa taala tentang ucapan iblis laknatullah alaih ketika dia bersumpah. Fabiizzatika lawiyannahum ajmain illa ibadaka minhumul mukhlasin. Maka demi kemuliaanmu, kemaha perkasaan-Mu ya Allah, sungguh-sungguh aku akan menyesatkan mereka, yakni manusia semua, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang mengikhlaskan agamanya atau orang-orang yang terpilih yang dijaga<\/li>\n\n\n\n<li>oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini juga menetapkan sifat al-izzah milik Allah. yang sesuai dengan keagungan dan kebesarannya, kemaha besarannya tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Ya, maka ayat ini juga menjelaskan tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah yang kita wajib menetapkannya sesuai dengan akidah ahlusunah wal jamaah dalam menetapkannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, tentu saja ayat-ayat ini kita bisa mengambil faedah darinya dalam hal yang berhubungan dengan keimanan dan perbuatan baik. Misalnya, karena Allah Subhanahu wa taala mencintai sifat pemaaf, maka kita hendaknya memiliki sifat ini. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Ma zadallahu abdan biaffin illa izzan.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Allah tidak menambah bagi seorang hamba dengan sifat pemaaf yang dimilikinya kecuali Allah semakin menambah kemuliaannya. Ini adalah sebaik-baik termasuk sebaik-baik akhlak. Orang berbuat salah jangan kita balas dengan kesalahan tapi hendaknya kita memaafkan, berlapang dada menerimanya. Apalagi itu dalam masalah urusan-urusan pribadi ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena dengan pemaafan akan semakin memuliakan dan meninggikan kedudukan kita di sisi Allah Subhanahu wa taala. Kemudian dengan kita menetapkan nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang mengandung makna pemaafan ini tentu menjadikan kita selalu semangat ya memohon ampun dan pemaafan Allah Subhanahu wa taala waktu kita melakukan kesalahan-kesalahan.<\/li>\n\n\n\n<li>Utamanya tadi pemaafan kan berhubungan dengan orang yang meninggalkan kewajiban. Orang yang tidak sempurna dalam menunaikan kewajiban-kewajibannya. Hendaknya dia selalu meminta pemaafan dari Allah Subhanahu wa taala. Karena Allah Subhanahu wa taala mencintai pemaafan bagi hamba-hambnya. Tib. Kemudian sifat al-izzah ya menunjukkan kita hendaknya takut kepada Allah subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena Allah maha kuat dan maha perkasa. Ketika Allah subhanahu wa taala ingin memperlakukan hambanya dengan apa saja tidak ada yang bisa melawan dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Maka ini menjadikan kita selalu berlindung kepada Allah, menjauhkan sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan Allah. Apalagi perbuatan perbuatan yang diancam ya dengan Allah subhanahu wa taala menyatakan perang kepadanya seperti dosa riba atau memusuhi orang-orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala dan dosa-dosa yang lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, barakallahu fikum. Ini penjelasan secara ringkas dari faedah yang bisa kita ambil dari ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi dan maha mulia dalam hubungannya untuk menambah dan menguatkan keimanan di hati kita. Bab. Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita di kesempatan malam hari ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk menambah dan menguatkan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala. Sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan dari antum, maka saya persilakan. Barakallahu fikum. N [Musik] Ya, Tiib. Kalau tidak ada pertanyaan lagi, karena memang ini kaidah-kaidahnya sudah sering kita ulangi. Insyaallah sudah paham ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita cukupkan sampai di sini kajian kita di malam hari ini. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisihsanin yaumiddin waakirwanahamdulillahiabbil alamin subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh tuh<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4021","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:42:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-13T02:42:08+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"name\":\"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:42:07+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:42:08+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:42:07+00:00","article_modified_time":"2026-07-13T02:42:08+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","name":"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:42:07+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:42:08+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/19-al-afuww-al-ghaffar-ar-rahman-al-qadir-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"#19. Al-Afuww, Al-Ghaffar, Ar-Rahman &amp; Al-Qadir &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4021"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4021"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4021\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4022,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4021\/revisions\/4022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}