{"id":4023,"date":"2026-07-13T09:42:38","date_gmt":"2026-07-13T02:42:38","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4023"},"modified":"2026-07-13T09:42:39","modified_gmt":"2026-07-13T02:42:39","slug":"20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","title":{"rendered":"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Asalam Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa&#8217;inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillah. yudlil fala hadialah wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qulan ulahu faq faza fauzanima amma ba asdaqal had kitabullah wirol hadi hadyu muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallamar umuri muhdaha wa muhda bidah wa bidatin dolalah waatin Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat<\/li>\n\n\n\n<li>fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang mempertemukan kita di Masjid Nurul Iman, masjid yang mubarak ini, yang penuh berkah ini. Di malam hari ini untuk kembali kita mengadakan majelis ilmu yang mulia, mengkaji ilmu agama Allah Subhanahu wa taala. Apalagi dalam perkara yang paling penting dalam urusan agama kita mengkaji prinsip-prinsip dasar Islam, mengkaji tentang keimanan dan tauhid kepada Allah Subhanahu wa taala yaitu melanjutkan kembali kembali melanjutkan pembahasan kitab<\/li>\n\n\n\n<li>yang sangat bermanfaat, kitab Al-Akqidatul Wasitiyah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Kita masih melanjutkan pembahasan di al-ayat. Ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala, sifat-sifat kemahaagungan, kemaha muliaan, dan kemahagiannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang ini merupakan mayoritas isi dan kandungan Al-Qur&#8217;an. Bagaimana kita memahami ayat-ayat ini dengan benar? sesuai dengan akidah ahlusunah wal jamaah agar kita bisa mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan agar kita tidak melakukan perbuatan yang dicela oleh Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur&#8217;an.<\/li>\n\n\n\n<li>Perbuatan orang-orang musyrik. Wama qadarullaha haqqo qadri. Mereka tidak memuliakan Allah dengan sebenar-benar pemuliaan. Ya, bagaimana mungkin seseorang hamba akan bisa memuliakan Allah dengan sebenar-benar pemuliaan, akan bisa memuji Allah dengan sebenar pujian, sebenar-benar pujian yang pantas bagi kemahaungan dan kemahaannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana mungkin hamba bisa menegakkan hal ini dengan benar kalau tentang nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi dan maha agung, dia tidak mengimaninya dengan benar, tidak menetapkannya dengan benar, tidak memahami, menetapkan dan mengamalkan kandungannya sebagaimana yang Allah Subhanahu wa taala dan rasulnya ridai bagi orang-orang yang beriman.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita harus ingat memahami nama-nama Allah yang maha indah adalah sebab utama yang menjadikan benarnya ibadah kita bahkan menjadi sebab kuat dan sempurnanya keimanan kita. Lihatlah ketika Allah Subhanahu wa taala memerintahkan di dalam Al-Qur&#8217;an azubillahiminasyaitanirrajim. Walillahil asmaul husna fad&#8217;uhu biha.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan Allah Subhanahu wa taala memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kepada Allah dengan nama-namanya yang maha indah. Beribadahlah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-nama yang maha indah. Lihatlah seorang sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang disebutkan dalam hadis yang sahih riwayat Imam Bukhari ketika dia benar dalam memahami nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifat kemahaagungannya yang menjadikan dia mencintai dan menyukai membaca ayat Al-Qur&#8217;an.<\/li>\n\n\n\n<li>mengulang-ulang membaca surah dalam Al-Qur&#8217;an karena terkandung di dalamnya nama-nama dan sifat-sifat Allah, yakni surah Al-Ikhlas yang disebutkan di dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Sehingga sahabat ini mengulang-ulangi di setiap rakaat salatnya setelah membaca Al-Fatihah, membaca surat selalu dia akhiri dengan surah qul huallahu ahad.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menanyakan kepadanya apa sebab dia melakukan itu, maka dia menjawab, &#8220;Liannaha sifatur rahmani wa ana uhibbu an aqra biha.&#8221; Karena surat ini menjelaskan sifat-sifat Allah yang maha agung, sifat-sifatnya yang maha tinggi. Dan saya suka, saya cinta membaca surat yang mengandung sifat-sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika mendengarkan ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Akhbiruhu annallaha yuhibbuh.&#8221; Sampaikan kepadanya bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mencintainya. Seorang hamba yang mencintai surat yang sangat pendek dalam Al-Qur&#8217;an yang anak kecil pun menghafalnya. Tapi dengan sebab dia mencintai surat ini karena kandungannya, memuat nama-nama Allah yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, yang maha agung.<\/li>\n\n\n\n<li>Dengan sebab itu Allah menganugerahkan kepadanya apa? Karunia tertinggi dalam agamanya. yaitu Allah subhanahu wa taala mencintainya. Dialah kekasih Allah azza waalla. Dia menjadi kekasih Allah subhanahu wa taala. Jadi di sini maksudnya jemaah sekalian rahimakumullah belajar tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini keutamaannya sangat besar.<\/li>\n\n\n\n<li>kesempatan kita meluangkan waktu untuk membahas kitab seperti kitab al-Akqidatul Wasitiyah yang pembahasan awal-awalnya sudah berapa kali kita lewati sangat menekankan bagaimana kita memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah azza wa jalla yang itu merupakan landasan utama keimanan di hati kita yang tentu kemudian nanti akan ada pembahasan masalah-masalah prinsip dasar agama lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya. Jadi memahami dan menghabis meluangkan waktu kita untuk membahas masalah ini, wallahi ini adalah sebesar-besar kebaikan yang kita gunakan waktu kita padanya. Karena ini merupakan bukti bahwa kita mengusahakan di hati kita tumbuh kecintaan kepada Allah Subhanahu wa taala dengan kecintaan yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Cukuplah ini merupakan sebab Allah Subhanahu wa taala insyaallah akan menganugerahkan kepada hamba-hamba yang seperti ini kemudahan untuk mencintai Allah dan Allah subhanahu wa taala tentu akan mencintai mereka. Allah Subhanahu wa taala di antara namanya yang maha indah adalah al-wadud. Wahual gfurul wadud. Dan dia Allah adalah alghfur al-wadud maha pengampun lagi maha mencintai hamba-hamba yang beriman dan mereka mencintainya.<\/li>\n\n\n\n<li>Al-wadud termasuk al-Asmaul Husna. Ya, disebutkan tadi di antaranya di surah Alburuj. Kata Syekh Abdurrahman Ass&#8217;di dan para ulama yang lainnya, al-wadud ini mengandung makna al-wadu dan almaud. Allah mencintai hamba-hamba yang beriman dan mereka mencintai Allah. [Musik] Tadi kita katakan, barang siapa yang mendapatkan kemuliaan ini berarti dia telah mencapai kedudukan tertinggi dalam agama.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah mencintai hamba-hamba yang beriman dan ketika Allah mencintai mereka maka Allah akan memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk mencintai Allah. Ya, makanya di antara kandungan dari nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah ini yaitu Allah memudahkan bagi hamba-hamba yang beriman yang dipilihnya sebab-sebab agar mereka mencintai Allah, selalu memuji dan mengagungkannya, selalu mensyukuri nikmat-Nya, selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala dengan hati yang dipenuhi dengan pengagungan, kecintaan, rasa<\/li>\n\n\n\n<li>takut, pengharapan, dan ketundukan yang sempurna. Dan sebab utama yang Allah jadikan itu bagi hamba-hamba yang dipilihnya tadi adalah Allah memudahkan mereka pintu-pintu taufik untuk mengenal akidah, nama-nama, dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Karena pastinya yang namanya mencintai Allah akan tumbuh di hati kita seiring dengan apa? Kita semakin mengenal kemahanya, kemahaungan nama-nama dan sifat-sifatnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, karena pasti orang yang tidak mengenal sesuatu bagaimana dia akan mencintainya? Orang Arab mengatakan, &#8220;Man jahila saianahu.&#8221; Barang siapa yang tidak mengenal sesuatu dia akan membencinya, memusuhinya. Allah itu bukan cuma indah, dia maha indah. Makanya disebut nama-namanya al-asmaul husna. Apa artinya alhusna? Balighatun fil husni gyataha.<\/li>\n\n\n\n<li>Mencapai puncak dalam kemahanya. Itulah sebabnya kita diperintahkan berdoa kepada Allah, beribadah kepada Allah dengan memahami nama-namanya yang maha indah supaya ibadah kita menjadi indah. supaya ibadah kita kita lakukan benar-benar dari hati dengan gembira, dengan senang, bahkan dengan berlomba-lomba. Walillahil asmaul husna faduhu biha.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah, maka berdoalah kepada Allah, beribadahlah kepada Allah dengan kandungan nama-namanya yang maha indah. Sifat-sifat Allah, sifat-sifat yang maha tinggi. Walillahil matsalul a&#8217;la. Dan Allah memiliki nama sifat-sifat yang maha tinggi. Apa artinya maha tinggi? Artinya sifatu kamalin, sifat yang maha sempurna.<\/li>\n\n\n\n<li>La naqso fiha biwajhin minal wujuh. Tidak ada kekurangan, tidak ada cacat, tidak ada celaan pada sifat-sifat Allah sedikitp dari semua sudut pandang, dari semua segi. Bayangkan kita mengenal yang maha indah, yang maha tinggi, yang maha mulia seperti ini. Bagaimana mungkin tidak akan tumbuh kecintaan kepada Allah? Yakni di dunia saja kita mengenal sesuatu yang indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Padahal keindahan makhluk tentu terbatas. Sudah kita suka, kita cintai, kita selalu puji dan agungkan. Bagaimana kalau kita mengenal yang maha indah, yang maha tinggi, yang maha mulia? Ya, ingat kembali pernyataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Man arofallaha biasmaihi wasifatihi wa af&#8217;alihi ahabbahu la mahalata. Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha terpuji, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji, maka dia pasti akan mencintai<\/li>\n\n\n\n<li>Allah subhanahu wa taala. Di sinilah jemaah sekalian rahimakumullah. Kenapa Al-Qur&#8217;an itu ketika menyebutkan tentang hukum-hukum Allah, ketika menyebutkan tentang perintah beribadah, menyebutkan tentang perintah dan larangan Allah, selalu Allah sertakan dengan penyebutan nama-nama dan sifat-sifatnya. Bahkan dalam satu ayat kadang-kadang dua sifat Allah disebutkan atau dua nama Allah yang maha indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kenapa? Karena orang akan bisa mengamalkan hukum Allah dengan benar, menegakkan perintah dan larangan Allah dengan benar. Kalau dia mengenal Allah, ya ketika dia mengenal Allah azza wa jalla maha pemurah, maha pengasih, maha penyayang. Balasan di sisinya adalah balasan yang sempurna. Kan dia akan semangat melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kan dia akan semangat menegakkan hukum-hukum Allah. Apalagi dia mengetahui Allah menurunkan hukum pasti untuk kebaikan dan kemaslahatan hamba-hambanya. Bagaimana mungkin orang tidak semangat berpegang teguh dengan hukum tersebut? Inilah sebabnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala mengatakan, Al-Qur&#8217;an itu ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah lebih banyak dibandingkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang surga dan neraka.<\/li>\n\n\n\n<li>tentang balasan kebaikan di hari akhir. Ya, di dalam Majmu Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala berkata, &#8220;Alquranu fihi minikril asmaai wasifati aksaru fihi mimma aksaru mimma fihi minikril aqli wasurbi w nikahi fil jannah.&#8221; Di dalam Al-Qur&#8217;an ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah lebih banyak dibandingkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang nikmatnya makanan, nikmatnya minuman, nikmatnya pernikahan di surga.<\/li>\n\n\n\n<li>Menikah dengan bidadari itu banyak dalam Al-Qur&#8217;an kan. Tapi lebih banyak lagi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Yakni kita bayangkan waktu kita membaca ayat-ayat tentang kenikmatan surga, makanan yang enak. Kenikmatan surga itu apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tentangnya? Aadu liibadi shihin. Ini hadis qudsi riwayat Bukhari Muslim.<\/li>\n\n\n\n<li>Aadu liibadi shihin ma ainun roat wunun samiat wala khatar ala qolbi basyar. Allah berfirman hadis qudsi, &#8220;Aku siapkan untuk hamba-hambaku yang saleh kenikmatan di surga yang perlu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, belum pernah terlintas dalam hati manusia saking nikmatnya.&#8221; Kenikmatan surga kalau kita baca lafaznya dalam Al-Qur&#8217;an memang sama dengan nama yang ada di dunia.<\/li>\n\n\n\n<li>Ada sungai-sungai yang mengalir di bawah taman-tamannya, ada buah-buahan. Ya, disebutkan ada anggur, kemudian ada kurma, ada kebun-kebun, kemudian ada istana-istana. Sama dengan apa yang ada di dunia tapi hakikatnya jauh lebih tinggi dan lebih mulia. Itu surga. Kata Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma dalam sebuah riwayat yang sahih, laisat fil jannati laisa fil jannati saiun mimma fid dunya.<\/li>\n\n\n\n<li>asma. Tidak ada satuun di dalam surga sesuatu yang sama dengan apa yang ada di dunia kecuali cuma namanya saja. Yang namanya sama, mirip tetapi hakikatnya jelas jauh berbeda. Yakni maksudnya waktu kita membaca tentang kenikmatan surga ini bukankah kita sangat termotivasi? Iya kan? untuk mengejar kenikmatan tersebut, untuk bersabar menundukkan hawa nafsu di dunia agar kita bisa meraih kenikmatan surga itu tentu dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebesar ini motivasi kita mengenal kenikmatan di surga, tapi motivasi untuk mengenal Allah lebih besar lagi. Buktinya dalam Al-Qur&#8217;an ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah lebih banyak, lebih sering disebutkan dibandingkan ayat-ayat tentang kenikmatan surga. Jadi di sini jemaah sekalian rahimakumullah sekali lagi belajar akidah ini adalah belajar meniti tangga kemuliaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Belajar meningkatkan kualitas iman yang sesungguhnya. Belajar menjadi hamba yang akan dipilih dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena sebagaimana kita semangat mengusahakan sebab-sebab yang menjadikan kita mencintai Allah, maka Allah akan mudahkan sebab-sebab itu untuk mencintai hambnya ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan ketika hamba dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala, maka pasti Allah akan mudahkan dia untuk mencintainya. Ya ayyuhalladzina amanu mayart minkumini fasaufaillahu biquin yuhibbuhum wauhibbunahu. Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang meninggalkan murtad meninggalkan agamanya, maka nanti Allah akan mendatangkan orang-orang yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah akan mudahkan bagi mereka sebab-sebab itu dengan mengenal kemaha nama-namanya, kemahagian dan kemahaungan sifat-sifatnya. Babakallahu fikum. Saat ini kita akan melanjutkan kembali membahas beberapa ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala di kelanjutan pembahasan kitab Al-Akqidatul Wasitiyah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini kitab yang sangat bermanfaat ini. Ayat-ayat yang menyebutkan tentang penetapan nama Allah Subhanahu wa taala atau nama bagi Allah Subhanahu wa taala. Kemudian ayat-ayat yang menyebutkan penafian. dia di ditiadakannya ya makhluk yang serupa dengan Allah, sekutu bagi Allah atau tandingan atau sesuatu yang setara dengan Allah subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Ingat sifat-sifat Allah sudah pernah kita sebutkan. Ada yang namanya sifat asubutiyah ya. Dan ada yang namanya sifat assalbiyah, sifat-sifat kesempurnaan yang Allah tetapkan bagi dirinya atau ditetapkan di dalam hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian ada sifat asalbiyah, sifat-sifat yang Allah nafikan, yang Allah sucikan dirinya darinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena kesempurnaan tidak akan terwujud, ya tidak akan bisa dikatakan sesuatu itu sempurna kalau hanya menetapkan tapi tidak mengandung penafian. Ya, lailahaillallah kan ada annafyu wal isbat. Lailahaillallah. Tidak ada sembahan yang benar, tidak ada yang pantas disembah kecuali hanya Allah. Jadi ada penafian kemudian penetapan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, seperti itu sifat-sifat Allah. Ada ada sifat-sifat yang Allah nafikan yang nanti kita akan sebutkan yang dengan penafian ini kita menetapkan sifat kebalikannya secara sempurna. Nanti kita akan sebutkan ayat-ayat yang dinukil insyaallah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu taala dalam kitab beliau yang sangat bermanfaat ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Pertama, ayat yang menyebutkan tentang penetapan nama bagi Allah. Ingat makhluk punya nama. Allah juga memiliki nama-nama yang maha indah. Tapi jelas nama Allah tidak sama dengan nama makhluk. Karena nama-nama Allah Subhanahu wa taala maha indah pasti sesuai dengan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada zatnya yang maha mulia.<\/li>\n\n\n\n<li>Tib. Di antara ayat yang menyebutkan tentang penetapan adanya nama bagi Allah. Misalnya di surah Ar-Rahman ayat ke-78. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Tabarokasmu dzil jalali wal ikram.&#8221; Maha tinggi dan maha agung. Ya, tabarokasmubika. Maha berkah nama Rabbmu, nama Allah Subhanahu wa taala yang dia itu memiliki keagungan dan kemuliaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Yakni nama Allah azza wa jalla memiliki nama. Ayat yang tadi kita bacakan sebelumnya. Bahkan Allah memiliki al asmaul husna, nama-nama yang maha indah. Walillahil asmaul husna faduhu biha. Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah, maka berdoalah kepada Allah dengan nama-namanya yang maha indah. Ingat, untuk nama-nama Allah yang maha indah ini tidak boleh kita menetapkannya kecuali ada dalilnya dari ayat Al-Qur&#8217;an atau hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Yakni tidak boleh dengan pemikiran kita sendiri. Karena nama Allah ini bukan cuma indah, bukan cuma baik, tapi dia maha indah dan maha baik. Tayib. Jadi ayat ini menetapkan Allah memiliki nama. Ya. Sehingga disebutkan di dalam hadis yang sahih riwayat Imam albukhari dan Muslim misalnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah mengajarkan di antara doa iftitah atau doa istiftah dalam salat kita yang cukup ringkas dibaca ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Subhanakallahumma wabihamdika wa tabaroka ismuka wa taala jadduka wala ilaha ghairuka. Maha suci Engkau ya Allah dan segala puji bagimu. Watabarokasmuka dan maha berkah nama-Mu. Wa taala jadduka. Maha tinggi kemuliaanmu. Dan tidak ada sembahan yang benar. Tidak ada Tuhan yang pantas disembah dengan benar kecuali Engkau semata-mata.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ada penetapan nama Allah Subhanahu wa taala di sini. Nah, ketika dikatakan tabarokasmuka atau tabarokasmu maha berkah nama Allah Subhanahu wa taala ya itu artinya nama Allah itu ketika digandengkan dengan sesuatu maka menjadikan sesuatu itu mesti akan disertai keberkahan ya mesti akan disertai dengan keber keberkahan dan banyak kebaikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita tahu dalam Islam kita disyariatkan untuk membaca bismillah dalam beberapa sebelum melakukan beberapa perbuatan seperti makan misalnya ya kan orang makan membaca bismillah di awalnya jelas keutamaannya besar menjadikan setan tidak bisa ikut makan bersamanya. Bahkan orang berwudu diperintahkan untuk membaca bismillah di awalnya sampai mohon maaf ya dalam hubungan intim disyariatkan kita meminta perlindungan kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalam hadis yang sahih riwayat Imam albukhari dan Muslim doa yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Allahumma jannibna waanibitana ma roqtana. Ya Allah jauhkanlah kami dari setan. Dan jauhkanlah setan dari karunia anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari hubungan intim ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Disebutkan dalam hadis yang sahih, &#8220;Barang siapa yang membaca zikir ini,&#8221; kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Fainnahu inqadallahu bainahuma waladan lam yadurrahusit abadan.&#8221; Sesungguhnya ya jika Allah menakdirkan dari hubungan intimum suami istri ini lahir seorang anak, maka setan tidak akan bisa mengganggunya atau mencelakakannya selama-lamanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi kalau tanpa membaca zikir ini, peluang godaan setan lebih besar untuk anak ini. Jadi baca bismillah kemudian Allahumma jannib setan dan seterusnya. Ini benar-benar merupakan perlindungan ya. Dan di sini kata para ulama, karena setan itu mendatangi manusia dalam semua keadaan mereka, termasuk naudubillah minzalik sewaktu seorang suami berhubungan intim dengan istrinya, yakni dia ikut serta dalam hubungan intim tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Coba antum baca sebagian dari para ulama ahli tafsir ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur&#8217;an ketika Allah menyebutkan ya tentang setan wasyarikhum fil amwali wal aulad. Sertailah mereka yakni wali-walimu itu, orang-orang yang mengikutimu itu. Sertailah mereka dalam harta mereka dan anak-anak mereka.<\/li>\n\n\n\n<li>Kata sebagian dari para ulama ya, naudubillah minzalik. Setan itu menunggu ketika suami istri akan berhubungan intim. Kalau mereka tidak menyebut nama Allah di awalnya, maka dia ikut serta bergabung dalam hubungan intim tersebut. J kalau sudah begini, bagaimana caranya anak ini akan dijaga dari tipu daya setan? Sewaktu hubungan intim orang tuanya saja setan ikut serta dalam hubungan intim tersebut. Naudubillah minzalik.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini kita lihat bagaimana berkah yang Allah jadikan dalam agama ini kan. Bagaimana perlindungan dari hal-hal yang tidak kelihatan? Bagaimana kita akan melihat setan ya yang setiap saat mendatangi kita? Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim, innyaana ya&#8217;ti ahadakum fi kulliin min sya&#8217;ni.<\/li>\n\n\n\n<li>Setan itu mendatangi salah seorang di antara kamu dari dalam semua keadaannya. Ya, termasuk waktu kita masuk ke dalam WC akan bisa melihat aurat kita. Kalau kita baca zikir termasuk baca bismillah sebelum masuk toilet ini akan melindungi aurat kita dari pandangan mata setan. Jadi banyak keberkahan menyebut nama Allah untuk kebaikan kebaikan-kebaikan urusan kita termasuk urusan dunia kita apalagi untuk akhirat kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, jadi ayat ini menyebutkan ya tentang keberkahan pada nama Allah Subhanahu wa taala kemudian menyebutkan sifat Allah dzil jalali wal ikram yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Maka di sini kita wajib untuk menetapkan Allah Subhanahu wa taala memiliki nama yang dengan nama-nama inilah Allah Subhanahu wa taala memperkenalkan dirinya kepada hamba-hamb-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan tentu saja nama Allah Subhanahu wa taala yang paling agung adalah nama Allah. Kemudian nama-namanya yang lain ini disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan khusus yang memuat tentang nama-nama Allah Subhanahu wa taala. Di situ disebutkan oleh mereka ada nama Allah Subhanahu wa taala yang merupakan induk dan tempat kembalinya semua nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu Allah, ya Arrab dan Ar-Rahman.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya nama-nama seperti ini tidak boleh kita namakan kepada makhluk. Dan kita harus memahami kandungan nama-nama yang agung ini agar kita benar-benar bisa menguatkan kecintaan, pengagungan, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa taala. Yakni di hati kita yang akan menjadi sebab kesempurnaan iman dan penghambaan diri kita kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, jadi kita menetapkan dengan ayat ini, Allah Subhanahu wa taala memiliki nama memiliki nama yang maha indah. Ya, oleh karena itu nama Allah sama dengan sifat-sifatnya itu ada pada zat Allah. Makanya bukan makhluk ya. Kita boleh berlindung kepada Allah dengan sifat-sifatnya karena sifat Allah itu ada pada zatnya. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan dalam zikir yang dalam hadis yang sahih, auudzu bikalimatillahi attammati min syarri ma khalaq.<\/li>\n\n\n\n<li>Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yakni kalimat Allah, firmannya, sifatnya. Ini bukan perbuatan syirik. Karena ini bukan berlindung kepada selain Allah, tapi berlindung kepada nama-nama atau sifat-sifat Allah yang ada pada zatnya. Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah berdoa, &#8220;Ya Hayyu, Ya Qayyum birahmatika astagitu.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Wahai Allah yang maha hidup, maha berdiri sendiri lagi menegakkan makhluknya. Dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Rahmat Allah adalah sifatnya. Dan sifat Allah bukan makhluk karena ada pada zat Allah Subhanahu wa taala yang maha yang maha agung. Tib. Jadi kita menetapkan Allah memiliki nama ya dan kita sudah sebutkan kaidahnya ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Nama-nama Allah tentu tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk karena nama-nama Allah adalah maha indah maha tinggi. Dan Allah subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Laisa kamitlihi saaiun wahua samiul bashir.&#8221; Tidak ada satuun yang serupa dengan Allah dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Tib.<\/li>\n\n\n\n<li>Itu ayat yang pertama yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Kemudian ayat berikutnya, ayat yang menafikan adanya makhluk yang serupa atau semisal sama dengan Allah. Pertama dibawakan ayat di dalam surah Maryam ayat ke-65. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Fa&#8217;budhu wasobir liibadatihi hal tlamu lahu samiya.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka beribadahlah kamu kepada Allah dan kuatkanlah kesabaranmu dalam beribadah kepadanya. Yakni kuatkan kesabaranmu untuk menetapi ibadah, menghadapi godaan hawa nafsu yang menghalangi kesempurnaan ibadah. Hal ta&#8217;lamu lahu samiya. Apakah kamu mengetahui ada yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala? Tentu ini istifham yang mengandung makna nafi.<\/li>\n\n\n\n<li>Yakni tidak ada. Sekaligus tantangan kepada orang-orang yang meragukan kesempurnaan sifat-sifat Allah. ditantang. Apakah kamu bisa menemukan makhluk yang serupa dengan Allah? Ya. Jadi di dalam Al-Qur&#8217;an itu disebutkan dinafikannya atau dittiadakannya makhluk yang serupa dengan Allah itu dalam berbagai lafaz seperti ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Sami yang sama atau yang serupa dengan Allah. Tadi ada juga ayat laisa kamitlihi saaiun wahua samiul basir. Dinafikan yang semisal dengan Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang semisal dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Kemudian dinafikan alkufu walam yakun lahu kufuwan ahad. Dan tidak ada satuun yang kufu sekufur setara dengan Allah sebanding dengan Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian dinafikan annid fala taj&#8217;alu lillahi andadan wa antum tlamun. Maka janganlah kamu menjadikan ya tandingan-tandingan yang dianggap setara dengan Allah dalam keadaan kamu mengetahui bahwa tidak ada tandingan yang setara dengan Allah. Kemudian Allah berfirman, &#8220;Fala tadribu lillahil amsal.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Maka janganlah kamu membuat permisalan-permisalan bagi Allah. Ini semua menunjukkan penafian ya. makhluk tidak mungkin ada yang setara atau serupa semisal dengan Allah Subhanahu wa taala. Tib ayat ini di surat Maryam Allah sebutkan di ayat sebelumnya. Rabbus samawati wal ardhi wa bainahuma fa&#8217;budhu wastobir liibadatihi hal ta&#8217;lamu lahu samiya.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah Subhanahu wa taala. Dialah Rabb yang maha mengatur, menciptakan langit-langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di antara keduanya, maka beribadahlah kepadanya semata-mata. Kuatkanlah kesabaranmu dalam beribadah itu karena tidak ada satuun yang se yang sama dengan Allah Subhanahu wa taala. Yakni kalau kamu sudah mengetahui tidak ada yang menciptakan selain Allah, tidak ada pencipta alam semesta, pencipta semua makhluk, tidak ada yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan sama dengan Allah, maka harusnya jangan<\/li>\n\n\n\n<li>jadikan sekutu dalam beribadah kepadanya. Ibadahlah hanya kepadanya semata-mata dan bersabar menjalankan ibadah. Karena kamu kan mengetahui tidak ada satuun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala dalam sifat-sifat kesempurnaannya. Nah, di sini jemaah sekalian rahimakumullah, Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala menjelaskan tentang contoh dari apa? assifat asalbiyah.<\/li>\n\n\n\n<li>Sifat-sifat yang Allah nafikan, yang Allah sucikan dirinya darinya. Kita sudah pernah sebutkan kaidahnya. Kalau antum masih ingat, para ulama ahlusunah wal jamaah menyebutkan yang namanya sifat-sifat yang Allah nafikan itu jumlahnya lebih sedikit dan selalu disebutkan dalam bentuk apa? mujmal global garis besar tidak dirinci.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena kalau untuk menunjukkan kesempurnaan, menunjukkan pengagungan dan pemuliaan itu ya metode yang benar adalah merinci sifat-sifat penetapan. Adapun penafian disebutkan secara umum. Kemudian penafian itu tidak hanya penafian semata-mata, tapi mengandung penetapan kebalikannya secara sempurna. Ini kaidah ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Sekarang begini, contoh ini dibawakan oleh Syekh Ibnu Utsim rahimahullahu taala. Kadang-kadang penafian itu belum tentu menunjukkan makna sempurna kalau tidak menunjukkan penetapan kebalikannya. Seperti begini ada dibawakan ucapan seorang penyair ya hubayyilatun ada sebuah kabilah ya ada sebuah suku atau perkampungan di Arab mereka itu tidak pernah menzalimi orang lain tidak pernah menyakiti orang lain tidak pernah berbuat sesuatu yang mendatangkan permusuhan disebutkan syair itu di dimulai dengan lafaz qubayilatun ini untuk tasgir mengecilkan atau meremehkan. Ternyata<\/li>\n\n\n\n<li>apa? Perkampungan ini atau suku bangsa ini tidak pernah menyakiti orang lain bukan karena dia kuat tapi karena justru dia lemah, tidak punya kekuatan. Kalau menyakiti orang lain atau mengganggu orang lain, justru dia takut akan diserang dan dijatuhkan. Berarti ini kan tidak menunjukkan pujian. Jadi ini maksudnya penafian semata-mata tidak mengandung makna kesempurnaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi kalau penafian itu ya untuk menetapkan kebalikannya itu baru menunjukkan makna kesempurnaan. Contoh misalnya kita mengatakan la takuduhu sinatun wala naum. Ini kan penafian. Allah tidak mengantung dan tidak tidur. Kenapa? Karena sempurnanya hidupnya. Al-hayat sifat Allah. Alyu yang maha hidup sempurna sehingga Allah tidak butuh tidur dan tidak mengantuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah menciptakan langit-langit dan bumi. Wala yauduhu hifduhuma. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Kenapa? Karena kemahakuasaan Allah, kemahaku Allah, kemaha perkasaannya sempurna. Berarti kita menetapkan sebaliknya dengan sempurna. Sama dengan di sini ya, tidak ada satuun. Apakah kamu mengetahui ada yang sama dengan Allah? Jelas ini penafian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak mungkin ada yang sama. Kenapa? Karena Allah maha sempurna dengan kesempurnaan yang mutlak sehingga tidak mungkin ada yang sama dengannya. Berarti kita menetapkan di sini kebalikannya yaitu sifat-sifat Allah maha sempurna dengan kesempurnaan yang mutlak tidak terbatas sehingga tidak mungkin ada makhluk yang sama yang sama dengannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi di sini ya contoh penetapan dari apa ini? Penyebutan dari sifat salbiyah. Sifat-sifat yang Allah nafikan dan kita katakan tadi sifat salbiah itu disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an lebih sedikit dan rata-rata disebutkan dengan dalam bentuk global atau garis besar saja. Nah, tayib. Kemudian ayat berikutnya yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala yaitu firman Allah tadi di surah Al-Ikhlas di akhir surah Al-Ikhlas ya. Walam yakun lahu kufuwan ahad.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan tidak ada satuun makhluk yang sekufu yang sebanding atau setara dengan Allah Subhanahu wa taala. Tib. Insyaallah kita akan lanjutkan nanti setelah selesai melaksanakan salat Isya ya. Kelanjutan dari beberapa ayat yang dibawakan di dalam kitab al-Aqidatul wasitiyah ini. Sallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain.<\/li>\n\n\n\n<li>Walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi<\/li>\n\n\n\n<li>wabarakatuh. Alhamdulillah alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufikiihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu addai ila ridwanih shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba&#8217;du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah, kita teruskan kembali membaca beberapa ayat-ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab al-Akqidatul Wasitiyah untuk menyebutkan<\/li>\n\n\n\n<li>sifat-sifat yang Allah Subhanahu wa taala nafikan dari zatnya yang maha mulia. Sifat-sifat yang Allah azza wa azza wa jalla sucikan dirinya dari sifat-sifat tercela tersebut. Tadi sudah kita sebutkan firman Allah Subhanahu wa taala di surah Al-Ikhlas ayat yang terakhir ayat yang keempat. Azubillahiminasyaitanirrajim.<\/li>\n\n\n\n<li>Walam yakun lahu kufuwan ahad. Dan tidak ada satuun yang sekufu, yang setara atau sebanding dengan Allah subhanahu wa taala. Nam. Jadi ini juga ya ayat yang berisi penafian alkufu sesuatu yang setara dengan Allah yang sebanding dengan Allah karena menetapkan yang penafian ini mengandung makna penetapan kebalikannya karena yaitu Allah memiliki sifat sifat maha sempurna yang mutlak ya sehingga tidak ada satuun makhluk yang serupa dengannya nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Maka ini juga ya dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala sifat-sifat kesempurnaannya yang Allah tetapkan bagi dirinya jelas tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Selalu kita mengatakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala itu sesuai dengan kemahagungan, kemaha besaran, dan kemahagiannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Adapun sifat-sifat makhluk selalu selalu dengan kekurangan, kelemahan, dan keterbatasannya sebagai sebagai makhluk. Makanya kalau kita menetapkan Allah Subhanahu wa taala memiliki assam wal bashar, mendengar dan melihat, maka itu adalah sifat kesempurnaan. Makhluk juga bisa mendengar, bisa melihat, tapi makhluk tentu terbatas dan penuh dengan kekurangan dalam pendengaran dan penglihatannya maupun sifat-sifat yang lain. Tib.<\/li>\n\n\n\n<li>Ayat yang berikutnya, ayat yang disebutkan di dalam surah Albaqarah ayat ke-22. Fala taj&#8217;alu lillahiad wa antum tlamun. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan atau sesuatu yang setara dengan Allah dalam keadaan kalian mengetahui bahwa tidak ada yang setara, tidak ada yang pantas menjadi tandingan bagi Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini juga ayat Al-Qur&#8217;an di surah Albaqarah ya. yang di sini terdapat perintah Allah pertama kali di dalam Al-Qur&#8217;an yaitu perintah untuk bertauhid mengesakan Allah dalam beribadah semata-mata dan tidak menyekutukannya. Kita tahu di awal ayat ini Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Ya ayyuhannasu rbakumulladzi khalaqakum walladina min qoblikum laallakum tattaquun.<\/li>\n\n\n\n<li>Alladzi ja&#8217;ala lakumul ardho firas wasamaa bina wa anzala minasama maan faak faakhroja bihi minsamarati rizq lakum fala taj&#8217;alu lillahiada wa antum tlamun. Wahai sekalian manusia, sembahlah semata-mata Rabbmu Allah Subhanahu wa taala yang menciptakanmu dan menciptakan orang-orang sebelummu agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.<\/li>\n\n\n\n<li>Dialah Allah yang menjadikan bagi kamu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai bangunan. Ya. Dan Allah turunkan dari langit itu air hujan. Kemudian Allah Subhanahu wa taala mengeluarkan atau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sebagai rezeki bagimu. Kalau kamu mengetahui cuma Allah yang melakukan ini satu-satunya, tidak ada sekutu baginya, maka janganlah kamu menjadikan sekutu.<\/li>\n\n\n\n<li>Janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah menyembah atau menjadikan sekutu dalam beribadah kepada Allah dalam keadaan kamu mengetahui bahwa tidak ada yang setara dan sebanding dengan Allah Subhanahu wa taala. Jadi ini juga ya di antara dalil dalam Al-Qur&#8217;an bahwa Allah mewajibkan manusia untuk beribadah kepada Allah semata-mata, tidak menyekutukannya dalam beribadah dengan keyakinan yang sudah mereka tetapkan secara fitrah.<\/li>\n\n\n\n<li>Bahwa cuma Allah satu-satunya pencipta alam semesta yang memberikan berbagai macam nikmat rezeki bagi manusia. hanya dia satu-satunya, maka tidak pantas untuk dijadikan sembahan itu diserahkan kepada ibadah atau sembahan diserahkan kepada selain Allah subhanahu wa taala. Yang jelas di sini ada penafian yang namanya nid andad jamaknya niddun ya kurang lebih maknanya sama dengan kufur sesuatu yang dianggap setara atau sebanding tandingan bagi Allah ya dianggap serupa dengan Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Nam. Jadi ini juga menafikan adanya tandingan atau sesuatu yang serupa dengan Allah. Kemudian ayat berikutnya, ayat yang keempat surat Albaqarah ayat 165. Waminanasi may yattakhidu min dunillahi andadai yuhibbunahum kahubbillah. Walladzina amanu asyaddu hubban lillah. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mereka mencintai.<\/li>\n\n\n\n<li>Tandingan-tandingan atau sekutu-sekutu itu seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat besar kecintaan mereka kepada Allah. Ya, ini menunjukkan pelaku syirik, orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, mereka itu mengambil sesuatu yang tidak pantas dijadikan sekutu bagi Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana mungkin tandingan bagi Allah sementara ini makhluk pasti penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Cukuplah sebagai bukti kekurangan mereka. Mereka diciptakan oleh Allah dan mereka tidak bisa menciptakan sebagaimana Allah yang maha menciptakan semua makhluk, maha mengatur semua makhluk di alam semesta, maha memberikan rezeki, maha menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan semua makhluk pada hari kiamat.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada yang bisa melakukan ini selain Allah, maka tidak pantas dijadikan ada tandingan-tandingan atau sekutu bagi Allah subhanahu wa taala. Makanya di sini orang yang mencintai selain Allah dengan kecintaan yang sama dengan Allah dikatakan di sini ini adalah pelaku syirik. Syaratnya kita harus mencintai Allah lebih daripada kecintaan kepada apapun.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya Allah berfirman di ayat ini tadi apa? Walladzina amanu asyaddu hubban lillah. Dan orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah. Bahkan di ayat ini kita perhatikan, jemaah sekalian rahimakumullah, seperti penjelasan Imam Ibnu Qayyim, orang musyrik itu mencintai Allah. Pelaku syirik dikatakan di sini mereka mencintai sembahan-sembahan atau tandingan-tandingan itu seperti mencintai Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti mereka juga mencintai Allah. Tapi itu belum menyelamatkan dari kesyirikan. Kalau mereka tidak menjadikan kecintaan kepada Allah lebih tinggi, lebih besar dibandingkan kecintaan kepada yang lain. Makanya di sini cinta yang ada di hati kita itu kita harus kendalikan, harus kita usahakan. Yang dominan adalah kecintaan kepada Allah dan semua kecintaan kepada yang lain mengikuti kecintaan kepada Allah supaya kita selamat dari kesyirikan yang setan juga masuk dari pintu ini untuk menjerumuskan manusia dari tauhid yang benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Malingkan mereka dari keimanan dan tauhid hanya semata-mata mengesakan Allah Subhanahu wa taala dalam beribadah. Tib yang jelas ayat ini juga menafikan adanya sekutu atau tandingan bagi Allah. Karena Allah subhanahu wa taala memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak tidak pantas untuk dijadikan makhluk sebanding setara dengannya yang kemudian dijadikan sebagai sekutu yang disembah bersama dengan menyembah Allah subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Tayib. Jadi intinya di sini ya kita mengambil faedah dari ayat-ayat ini yaitu untuk kita menetapkan kesempurnaan mutlak itu hanya milik Allah Subhanahu wa taala. Tidak ada satupun makhluk yang setara atau sekufu sebanding dengannya. Ya. Maka kalau seperti itu kita menetapkan sifat-sifat kesempurnaan hanya milik Allah, berarti hanya satu-satunya yang pantas untuk disembah, kita ibadahi, tempat kita meminta, kita berharap, kita bergantung, kita selalu berlindung, kita mengamalkan amal-amal ibadah kayak salat, bernazar,<\/li>\n\n\n\n<li>ya. Kemudian amal-amal ibadah, mencintai, takut, berharap, hanya meminta, memohon pertolongan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Tidak ada sekutu baginya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang memiliki kesempurnaan yang mutlak. Dialah yang maha kaya, yang maha kuasa atas segala sesuatu.<\/li>\n\n\n\n<li>Semua kebutuhan dan hajat kita hanya ada di tangannya semata-mata. Maka tidak pantas ibadah ini kita serahkan kepada kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, orang yang beriman ketika dia beribadah kepada Allah, hatinya tenang. Karena dia ketika meminta perlindungan yang melindunginya adalah zat yang maha kuat dan maha perkasa.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Beda kalau kita berlindung dengan makhluk. Ya, sekuat apapun makhluk ada makhluk yang lebih kuat dibandingkan dirinya. Sekuat apapun dia bisa dilemahkan. makhluk bisa tidur ya. Ada yang penjaga yang menjaga kita. Kalau dia ketiduran bagaimana? Ada satpam yang kuat dan banyak menjaga kita. Tayib.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau mungkin manusia dia bisa mencegah masuk. Kalau jin yang masuk tidak kelihatan mereka tidak bisa mencegah. Tapi kalau Allah yang menjaga kita, siapa yang bisa mengalahkan? Allah Subhanahu wa taala. Ya, tidak ada yang bisa mengalahkannya, tidak ada yang luput dari pengawasannya dan tidak ada yang bisa mencelakakan hamba-hamba yang dilindungi oleh Allah Subhanahu wa taala yang maha kuat lagi maha perkasa.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi, ini menjadikan kita semakin yakin untuk selalu bersandar kepada Allah dan tentu semakin selalu memuji dan mengagungkan Allah subhanahu wa taala karena kesempurnaan sifat-sifatnya. Bab. Barakallahu fikum. Itulah faedah yang bisa kita ambil dari beberapa ayat yang menyebutkan penafian ya. Ditiadakannya sekutu atau sesuatu yang serupa, sesuatu yang sama, tandingan bagi Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena dialah yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat yang mutlak, yang maha agung dan maha tinggi. Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita di malam hari ini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang mungkin ingin disampaikan sehubungan dengan materi atau di luar materi, maka saya persilakan. Barakallahu fikum. I silakan. Iya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Ustaz seluruh kaum muslimin. Amin. Amin. Amin. Barakallah fik. Asma dan diperbolehkan orang hanya mempelajari nama nama-nama dan sifat-sifat Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Contoh mempelajari aspek ee penatian terhadap nama dan sifat-sifat yang tidak layak. Saya cukup dengan meyakini bahwa taman si adalah tidak ada yang menandinginya tidak ada yang setara dengannya. Iya. Barakallah. Iya. Barakallahu fikum. Pertanyaan yang sangat baik sekali dari beliau yang bertanya ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa melimpahkan kebaikan dan keberkahan bagi antum dan bagi kita semua. Iya. mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tadi sudah kita sebutkan ini mayoritas isi Al-Qur&#8217;an. Berarti harusnya kita tidak mencukupkan diri dengan sesuatu yang sekedar standar atau mungkin bahkan di bawah standar.<\/li>\n\n\n\n<li>Apakah kita tidak ingin mencintai Allah, tidak ingin selalu mengagungkannya yang itu merupakan kebutuhan hati yang paling besar? Ingat iman yang sempurna itu dikatakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan halawatul iman. Ya, manisnya iman. Ada lagi tommal iman, kelezatan iman.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini sesuatu yang paling nikmat dalam hidup kita. Sampai ada ucapan salah seorang ulama seperti ini. Masakinu ahl dunya khju minha wquyaba ma fiha. Alangkah miskin dan kasihan orang-orang yang hidup di dunia ini ketika mereka keluar meninggal dunia mati. Mereka meninggalkan dunia ini belum merasakan kenikmatan tertinggi di dunia. Murid-muridnya ulama ini bertanya, &#8220;Wainab maha, apa itu kenikmatan yang paling tinggi?&#8221; Kenikmatan kebahagiaan yang paling tinggi di dunia.<\/li>\n\n\n\n<li>Beliau mengatakan, &#8220;Marifatullah wa mahabbatuhu wal unsu bikurbihi wasu liqih.&#8221; itu adalah mengenal Allah, mencintainya, merasakan kenikmatan ketika dekat dengannya, dan merasa rindu untuk selalu bertemu dengannya. Jadi, inilah kenikmatan tertinggi, kebaikan terbesar dan mudah kita pelajari karena Al-Qur&#8217;an itu adalah isinya mayoritas tentang masalah ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi, kita harusnya belajar nama-nama dan sifat-sifat Allah. Apalagi ini dimudahkan kita berusaha untuk mendalaminya. Karena inilah kebaikan yang paling besar. Yak. Ini kita sudah pelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Pelajari lagi kaidah-kaidah bagaimana hal-hal yang disebut tadi ya, sifat-sifat yang Allah nafikan setelah kita mempelajari sifat-sifat yang Allah tetapkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini kaidah-kaidah yang mudah dan ini adalah tuntutan hati yang paling besar. Jadi, orang yang mempelajari ilmu ini itu dengan kesenangan dan kegembiraan di hatinya. Kita tahu sesuatu itu kalau kita lakukan dengan cinta, pasti kita akan senang melakukannya. Ya, beda orang melakukan sesuatu dengan terpaksa karena dia benci maka dia akan susah memaksa dirinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi kalau laksanakan sesuatu dengan cinta pasti nikmat. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, alladzatu tabiatun lil mahabbah. Kelezatan atau merasa nikmat dengan sesuatu itu mengikuti rasa cinta kepadanya. Sekarang kita mengenal Allah Maha Indah. Kita akan mencintai. Sifat-sifat Allah selalu maha agung, maha mulia. pasti kita akan suka.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini akan menjadikan kita merasakan gembira, merasakan nikmat, merasakan lezat ketika mempelajari ilmu yang agung ini. Maka kata para ulama, inilah ya kemuliaan tertinggi yang harusnya kita habiskan waktu kita untuk selalu mempelajarinya. Karena setelah kita mengenal Allah, kita akan lebih nikmat berzikir kepadanya, selalu membaca ayat-ayatnya, selalu berdoa dan memohon kepadanya. Ya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ini jangan kita jadikan sebagai sesuatu yang kita anggap ah saya cukup dengan standar saja atau sampingan saja. Tidak. Justru kita mencurahkan sebanyak-banyak waktu kita untuk kita mengenal Allah Subhanahu wa taala. Dan ingat sesuai dengan kesungguhan kita mengusahakan kebaikan ini, sebesar itulah balasan dari Allah Subhanahu wa taala untuk memberikan taufiknya kepada kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Qul ma ya bikumbi laula duaukum.&#8221; Katakanlah, &#8220;Sesungguhnya Rabbku Allah Subhanahu wa taala tidak akan memberikan perhatian kepadamu kalau bukan karena doa-doamu dan ibadah-ibadahmu kepadanya.&#8221; Yakni semakin kita sungguh-sungguh mengenal Allah, maka Allah Subhanahu wa taala akan semakin memberikan perhatian kepada hamba-hambanya yang seperti ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian Allah akan memberikan karunia kecintaan kepadanya. Barakallahu fikum. Nam ya. Silakan, Pak. Waalaikumsalam warahmatullah. Tapi ada dua dipakai oleh Abdurrahman Bang Rahman Robi Pratama di Pangi. Apakah boleh? Iya. Barakallahu fikum. Nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ada di antaranya yang tidak boleh digunakan untuk makhluk seperti Allah, Arrahman itu tidak boleh. Maka termasuk kekeliruan tadi yang disebutkan contohnya Abdurrahman dipanggil dengan Rahman. Ini tidak boleh. Karena Rahman itu adalah nama yang khusus bagi Allah Subhanahu wa taala. Apalagi dengan alif dan lam. Adapun untuk rabbi, rabbi itu artinya adalah rabku.<\/li>\n\n\n\n<li>Cuman di sini yang saya ketahui asalnya tidak di ditujukan untuk nama Allah. Ini cuman penamaan ini kan bukan nama dari bahasa Arab ya, nama dari mungkin nama asing begitu ya, Rabbi kan. Iya. Lagi pula biasanya tidak pakai ba doel. Kalau rab dalam bahasa Arab kan pakai tasydid ya, rabbi. Jadi kata-kata rabbi ini bukan setahu saya asalnya bukan tujuannya untuk menyebutkan rabku.<\/li>\n\n\n\n<li>Ala kulial kalau disebutkan dengan alif dan lam arrab itu tidak boleh ditujukan untuk kepada selain Allah. Ya, ada sebagian dari lafaz dari nama-nama Allah yang bisa diberikan kepada makhluk, tetapi tidak boleh diniatkan kandungan maknanya seperti ada yang ada pada Allah. Seperti misalnya Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang manusia dalam Al-Qur&#8217;an. Faja&#8217;alnahu sami basir.<\/li>\n\n\n\n<li>Kami jadikan manusia itu mendengar dan melihat. Sementara nama Allah juga adalah assami albasir. Tentu ini berbeda. Waktu kita sebutkan untuk manusia sesuai dengan keadaannya sebagai manusia. Bisa mendengar, bisa melihat, tapi terbatas pendengarannya, penglihatannya. Kalau untuk Allah kan kita artikan maha mendengar lagi maha melihat.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan contoh-contoh lain ada yang seperti ini. Seperti Allah menyebutkan tentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bil mukminina raufur rahim. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam terhadap orang-orang yang beriman sangat penyantun dan sangat penyayang. Di antara nama Allah adalah arrauf dan arrahim. Maha penyantun lagi maha penyayang.<\/li>\n\n\n\n<li>Jelas berbeda antara sifat yang ada pada makhluk dengan sifat sifat Allah yang maha sempurna, nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Barakallah fik. Iya, silakan. Amin. Amin. Mengenahian maksudnya iman itu surga dunia itu maksudnya kita tidak tidak bisa memiliki sumnya maka diwajibkan tidak akan di akhirat itu.<\/li>\n\n\n\n<li>Ee pertanyaannya bagaimana ee mengenai kesempatan yang masuk surga tanpa bisa dapat ajar? R.000 adaan untuk mendapatkan keutamaan tersebut. I Tib. Pernyataan Ibnu Qayyim itu dinukil dalam kitab beliau, beliau nukil dari kitab beliau Alwabilus Sayib Minal Kalimi Thayib dari gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ibnu Taimiyyah mengatakan, &#8220;Inna fid dunya jannatan manam yadkhulha la yadkhulu jannatal akhirah.&#8221; Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini, dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Surga di dunia ini adalah kenikmatan mengenal Allah Subhanahu wa taala, kenikmatan berzikir kepadanya.<\/li>\n\n\n\n<li>nikmatnya ketika menjalankan salat, membaca Al-Qur&#8217;an, dan mengamalkan ibadah-ibadah yang lain. Ini semua kenikmatan ini kita akan capai setelah kita mengenal Allah dan menjadikan kecintaan kepada Allah, pengharapan, ketakutan kepadanya itu yang dominan di hati kita. Nam. Jadi inilah surga dunia yang sesungguhnya. Sekarang bagaimana dengan kaitannya dengan hadis yang menyebutkan tentang tadi ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam sahih Bukhari dan Muslim hadis riwayat siapa? Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu taala anhu radhiallahu taala<\/li>\n\n\n\n<li>anhuma Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda di awalnya uridat alaiyal umam ditampakkan kepadaku umat-umat yang terdahulu ya aku melihat ada seorang nabi yang pengikutnya cuman di bawah 10 orang ada pengikutnya cuman satu dua orang bahkan Nabi ada yang tidak punya pengikut ini bayangkan Nabi ya jadi bukan merupakan celaan kalau seseorang itu berdakwah tidak ada yang mengikutinya atau sedikit pengikutnya bukan merupakan celaan nabi saja ada yang tidak punya pengikut intinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Id rufi ali sawadun adzim ditampakkan kepadaku umat yang besar.&#8221; Fadonantu annahum umati. Saya menyangka itu umatku. Ternyata dikatakan ini adalah Musa dan umatnya. Berarti Bani Israil itu juga banyak ya. Kemudian setelah itu ditampakkan lagi umat yang lebih besar.<\/li>\n\n\n\n<li>Fakila dan dikatakan kepadaku, &#8220;Ya hum umat umatuka.&#8221; Mereka adalah umatmu. W maahum sabun alfan yadunal jannir hisabin wab. Dan bersama mereka ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Setelah menyampaikan hadis ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam masuk kembali ke rumah beliau.<\/li>\n\n\n\n<li>Para sahabat mendiskusikannya intinya setelah itu keluar dan beliau bersabda, &#8220;Humulladina la yastarquun wala yaktawun wala yatarun waihim yatawakalun.&#8221; Mereka adalah orang yang tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam tauhid, tidak meminta dirukiah, tidak melakukan pengobatan dengan kai besi panas.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini pengobatan yang dimakruhkan dalam Islam. Tidak melakukan tathayyur, menisbatkan nasib sial atau nasib beruntung dengan makhluk. Ya, ini kayak apa ini? Ee angka-angka yang dianggap angka sial, hari sial atau makhluk ini tanda kesialan ini mereka tidak lakukan ini. Wahim yatawakalun. Dan mereka hanya bertawakal kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi erat kaitannya dengan masalah mengenal Allah. Tidak mungkin orang bertawakal kepada Allah kecuali karena dia mengenal Allah itu maha kuat dan maha perkasa. Sehingga waktu dia bersandar kepada Allah, dia yakin dan merasa tenang. Dia yakin tidak ada yang bisa mencelakakan dirinya. Inilah tawakal yang sempurna. Jadi erat kaitannya keutamaan dalam hadis ini dengan memurnikan penghambaan diri kita kepada Allah dengan mengenal nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha yang maha tinggi, maha agung dan maha terpuji. Barakallahu fik.<\/li>\n\n\n\n<li>Tib. Silakan Pak. Manusia yang mengungkapkan nafsahu itu sebenarnya ini bagian dari hadis atau tidak ada asal usulnya? Iya. Hadis palsu itu disebutkan oleh banyak para ulama ya sebagai hadis yang palsu. Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Mauduat dan yang lainnya tidak ada asal-usulnya. hadis ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ya ada sebagian yang ee menyebutkan bahwasanya kalaupun dianggap maknanya benar itu diartikan seperti ini. Barang siapa yang mengenal dirinya penuh dengan kekurangan, maka dia akan mengenal Allah Subhanahu wa taala yang selalu maha tinggi dan maha sempurna. Begitu. Jadi manusia itu kalau dia mengenal dirinya kan penuh kekurangan.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti caranya supaya dia memenuhi kekurangannya dengan cara apa? Dia minta kepada Allah Subhanahu wa taala, selalu berdoa kepadanya, selalu meminta perlindungan dan bersandar kepadanya. Itu kalau diartikan yang benar. Yang jelas hadis tadi secara asal-usulnya tidak ada dan bukan merupakan ucapan Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, baik. Insyaallah cukup sampai di sini kajian kita di kesempatan malam hari ini. Sekali lagi mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa menetapkan kita di atas keimanan, di atas tauhid yang benar dan menjauhkan kita dari segala keburukan. Dan semoga Allah menjadikan kita istikamah di atas petunjuknya dan petunjuk Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam sampai kita menghadapnya pada hari kiamat nanti.<\/li>\n\n\n\n<li>Demikian mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain wa akhiru dakwana anilhamdulillahi rabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4023","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:42:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-13T02:42:39+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\",\"name\":\"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:42:38+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:42:39+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:42:38+00:00","article_modified_time":"2026-07-13T02:42:39+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/","name":"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya - Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:42:38+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:42:39+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/20-menetapkan-nama-allahmenafikan-yg-serupa-tandingan-bagi-nya-ustadz-abdullah-taslim-lc-ma\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"#20 Menetapkan Nama Allah,Menafikan Yg Serupa &amp; Tandingan Bagi-nya &#8211; Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4023"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4023"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4023\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4024,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4023\/revisions\/4024"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}