{"id":4028,"date":"2026-07-13T09:43:25","date_gmt":"2026-07-13T02:43:25","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4028"},"modified":"2026-07-13T09:43:26","modified_gmt":"2026-07-13T02:43:26","slug":"22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","title":{"rendered":"22. Menetapkan Sifat Allah Al &#8216;Uluw (Maha Tinggi) &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A."},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu wafiruh wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah. Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaq minha zaujaha w minhuma rijalan katir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu ulahu faq faza fauzanima. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba&#8217;du.<\/li>\n\n\n\n<li>Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita senantiasa memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah azza waalla yang memudahkan kita untuk kembali bertemu di majelis ilmu yang mulia di malam hari ini di Masjid Nurul Iman yang mubarak ini.<\/li>\n\n\n\n<li>di dalam kajian kita melanjutkan pembahasan kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Aqidatul Wasitiyah, buah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Kita akan masih melanjutkan insyaallah pembahasan tentang sifat-sifat kemahaagungan dan kemahagian Allah. yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang sudah kita tekankan berkali-kali bahwa karena pembahasan ini adalah pembahasan yang paling penting yang berhubungan dengan menumbuhkan dasar keimanan, menumbuhkan tiang-tiang utama penopang iman,<\/li>\n\n\n\n<li>kecintaan, rasa takut, pengharapan kepada Allah, tawakal, rida dan semua kebaikan-kebaikan yang merupakan dasar utama iman. Maka memang pembahasan atau ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menyebutkan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala itu lebih banyak dibandingkan pembahasan-pembahasan lain yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an.<\/li>\n\n\n\n<li>bahkan sampai melebihi pembahasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir tentang surga dan neraka atau dahsyat dan kengerian keadaan pada hari kiamat nanti. Ini sudah pernah kita nukilkan di pertemuan-pertemuan kita yang lalu. Pernyataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab Majmuul Fatawa beliau rahimahullahu taala berkata, &#8220;Alquranu fihi min dzikril asma was sifati aksaru mimma fihi minikril akli wasurbi wikahi fil jannah wal ayatul mutadminatuikril asma wasifati aqron min ayatil maad<\/li>\n\n\n\n<li>Al-Qur&#8217;an di dalamnya, di dalam ayat-ayatnya yang membahas yang menyebutkan tentang nama-nama Allah yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha agung, yang maha sempurna lebih banyak dibandingkan ayat-ayat yang menyebutkan atau membahas tentang makanan, minuman yang nikmat atau pernikahan di surga. Kemudian lebih daripada itu, ayat-ayat yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allah secara kedudukannya lebih tinggi, lebih mulia dibandingkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang hari akhir atau hari kebangkitan.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti ini menunjukkan kepada kita jemaah sekalian hafidakumullah pembahasan utama atau sebab utama yang akan menumbuhkan iman, menguatkan tauhid dan akidah kita ya. Meskipun sebab-sebab yang lain juga pastinya berfungsi untuk menguatkan iman. Waktu kita membahas tentang surga kenikmatannya yang kekal abadi, tentang neraka atau tentang ahwal, kengerian-kengerian pada hari kiamat, peristiwa-peristiwa dahsyat pada hari kiamat ini pastinya akan menguatkan iman.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetapi yang lebih dibutuhkan dalam keimanan yang lebih menjadi sebab yang paling kuat dalam menguatkan keimanan adalah ketika seorang hamba mengenal Allah Subhanahu wa taala. mengenal nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, maha agung lagi maha sempurna. Ya, bahkan kita tahu kenikmatan di surga saja yang demikian agung dan tinggi menurut akidah ahlusunah wal jamaah yang juga sudah pernah kita jelaskan kenikmatan yang tertinggi di surga adalah bertemu dan memandang wajah Allah Subhanahu wa taala yang maha indah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini menjadi kenikmatan tertinggi yang menjadikan penghuni surga ketika merasakannya, mendapatkannya menjadikan mereka lupa kepada kenikmatan-kenikmatan lainnya di surga. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, tidak ada satuun yang lebih indah daripada mengenal Allah di dunia ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada yang lebih indah daripada orang yang beribadah mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat, berkomunikasi dengan Allah di dalam salat. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Idza qoma ahadukum ilas shati fainnahu yunajibbahu.&#8221; Jika salah seorang di antara kalian berdiri menunaikan salat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat, sedang berbisik, sedang berkomunikasi dengan Rabbnya, dengan Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Falyandzur ahadukum bima yunjih. Maka hendaknya masing-masing dari kalian melihat, memperhatikan bagaimana ketika dia bermunajat dengan Rabbnya. Itulah salat menempati kedudukan yang paling tinggi dibandingkan ibadah-ibadah yang lain. Jadi, ini semua menggambarkan kepada kita bahwa mengenal Allah Subhanahu wa taala yang kemudian menumbuhkan rasa cinta, takut, dan berharap.<\/li>\n\n\n\n<li>selalu mengharapkan, selalu menginginkan dekat dengan Allah, beribadah kepadanya, rindu saat-saat mendekatkan diri kepadanya di dunia. Ini adalah kenikmatan yang tertinggi puncak dari segala kebaikan. Dan ini adalah buah iman yang paling manis. Sehingga Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala pernah menjelaskan ketika beliau memaparkan makna dari doa yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang selainnya dinyatakan sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullahu<\/li>\n\n\n\n<li>taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah mengajarkan doa seperti ini. Wa asaluka lidatan ila wajhika wasuq liqika fiir mudirin wnatin mudillah. Allahumma zayinna bizinatil iman waj&#8217;alna hudatan muhtadin. Ya Allah, aku memohon kepadau kelezatan memandang wajahmu, kenikmatan memandang wajahmu di akhirat di surga nanti.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan kerinduan bertemu denganmu di dunia rindu untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah di dunia. Fi girro mudirotin tanpa ada bahaya. madarat yang membahayakan dan tanpa ada fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai hamba-hamba yang selalu mendapatkan dan mengikuti petunjukmu.<\/li>\n\n\n\n<li>Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam hadis ini ya, beliau terangkan dalam kitab Igotatul Lahfan min Masayidi setan fi masayidi setan. Beliau terangkan di ayat ini, Nabi S. Di hadis ini, di doa ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengumpul mengumpulkan menghimpunkan dua hal yang kedua-duanya merupakan kenikmatan tertinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang satu kenikmatan tertinggi di surga, yang satu kenikmatan tertinggi di dunia. Ya. Dan dengan taufik dari Allah, bagaimana kita mencapai kenikmatan tertinggi di dunia dan di akhirat ini adalah dengan mengenal Allah Subhanahu wa taala di dunia ini dengan memahami kandungan nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha sempurna.<\/li>\n\n\n\n<li>Walillahil asmaul husna fadauhu biha. Dan Allah subhanahu wa taala memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kalian kepada Allah, beribadahlah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-namanya yang maha indah. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala mengatakan, &#8220;Akmalunasi ubudiyatan almutaabbidu lillahi bijamiil asmaai wasifatillati yatholiu alaihil basyar.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Orang yang paling sempurna ibadahnya kepada Allah, penghambaan dirinya kepada Allah, adalah yang beribadah kepadanya dengan memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifatnya yang maha tinggi yang bisa dijangkau dengan pemahaman manusia. Oleh karena itu, ini yang selalu kita tekankan bahwa pembahasan yang disebutkan dalam kitab al-Akqidatul Wasitiyah, sungguh demi Allah ini adalah pembahasan tentang bagaimana memperbaiki perkara yang paling penting dalam iman kita.<\/li>\n\n\n\n<li>Pembahasan tentang bagaimana meraih puncak keimanan, bagaimana memurnikan tauhid ya dari jalurnya yang paling utama. Makanya ya tentu kita bersabar mengkaji dan menjelaskan, membahas apa yang diterangkan oleh beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam ayat-ayat yang beliau bawakan ketika menetapkan menjelaskan penetapan sifat-sifat Allah berdasarkan akidah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan para ulama ahlusunah yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan.<\/li>\n\n\n\n<li>TB jemaah sekalian hafidakumullah. Saat ini kita akan melanjutkan pembahasan di kitab Al-Aqidatul Wasitiyah ini tentang ayat-ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala yang berhubungan dengan penetapan sifat Allah al-ulu yang maha tinggi. Allah Subhanahu wa taala di antara namanya yang maha indah adalah aliyu wahuwal aliyul adzim dan Allah subhanahu wa taala dialah yang maha tinggi lagi maha agung.<\/li>\n\n\n\n<li>Di surah al-A&#8217;la Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Sabbihisma rabbikal a&#8217;la. Sucikanlah nama Rabbmu yang maha tinggi. Ya, kita perhatikan di dalam pembahasan ini. Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala menukil ada enam ayat dalam Al-Qur&#8217;an. yang menetapkan sifat kemahagian Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Nanti kita akan jelaskan bahwa para ulama ahlusunah wal jamaah dari zaman para sahabat, para tabiin, kemudian para atbaut tabiin termasuk imam mazhab yang empat semua sepakat menetapkan sifat maha tinggi Allah subhanahu wa taala dengan semua makna kemahagian. Karena kata para ulama ya, maha tinggi itu meliputi dua makna ya, ulu zzat dan ulu makna.<\/li>\n\n\n\n<li>Maha tinggi zatnya, yaitu Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya, di atas semua makhluknya pada zatnya. Dan juga secara makna sifatnya, sifatnya selalu maha tinggi, maha agung dan maha besar. Ada sebagian ulama yang menyebutkan ada tiga. Uluwuzuduzzat, uluus sifat atau ulu makanah dan ulu qahr. Allah maha tinggi pada zatnya, yaitu dia ada di atas semua makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wahuwal qoahiru fauqo ibadih.&#8221; Dan dialah Allah yang maha perkasa di atas semua hamba-hambnya. Kemudian uluus sifat, maha tinggi sifat-sifatnya, yakni maha agung, maha besar, maha mulia. Kemudian ulu qahr. Allah Subhanahu wa taala keperkasaannya maha tinggi. Sehingga ketika dia menetapkan sesuatu, memberlakukan sesuatu, tidak ada yang bisa melawannya, tidak ada yang bisa menghindarinya.<\/li>\n\n\n\n<li>tidak ada yang bisa luput darinya ya. Karena kemahak Allah Subhanahu wa taala maha tinggi dan mengalahkan semua makhluknya. Tayib. Sekarang kita akan lihat penetapan sifat ulu bagi Allah subhanahu wa taala. Sifat maha tinggi bagi Allah yang tadi kita katakan ini disepakati oleh para ulama ahlusunah wal jamaah.<\/li>\n\n\n\n<li>Imam Azzahabi rahimahullahu taala menulis sebuah kitab yang berjudul Al-uluwu lil Aliyil Gffar. Sifat maha tinggi bagi Allah yang maha pengampun lagi maha tinggi. Di sini beliau nukilkan dalam kitab ini dalil-dalil kemudian ya dari Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dan penetapan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<\/li>\n\n\n\n<li>para tabiin, para imam tabiin dan seterusnya yang menunjukkan kesepakatan mereka menetapkan Allah Subhanahu wa taala itu maha tinggi di atas arsynya, di atas semua makhluknya. Tib di sini kita akan sebutkan ada penjelasan yang diterangkan oleh As Syekh Muhammad bin Shh Al-Utsimin rahimahullahu taala dalam kitab Syarhul Akidatil Wasitiyah. bahwa para ulama ahlusunah wal jamaah ketika menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala maha tinggi pada zatnya, di atas semua makhluknya, mereka berdalil dengan Al-Qur&#8217;an, sunah, kemudian ijma, kesepakatan para ulama<\/li>\n\n\n\n<li>salaf, bahkan juga dengan dalil akal dan fitrah. Kita akan lihat ya misalnya dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an disebutkan dengan berbagai macam bentuk dalil yang menunjukkan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya. Misalnya ya, kadang-kadang Allah Subhanahu wa taala menyebutkan dia maha tinggi. Kadang-kadang Allah menyebutkan dia di atas makhluknya, di atas semua hamba-hambanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kadang-kadang Allah menyebutkan turunnya beberapa hal dari sisinya seperti Al-Qur&#8217;an Allah turunkan dan yang lainnya. Kemudian Allah juga menyebutkan naiknya ya malaikat naik kepadanya atau amalan-amalan saleh yarfauh Allah angkat kepadanya. Dan juga bahkan beberapa ayat yang menegaskan bahwasanya Allah subhanahu wa taala di atas langit.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita lihat yang pertama Allah Subhanahu wa taala menyebutkan sifat al-ul maha tinggi yang ada pada zatnya. Seperti tadi yang kita bacakan di ayat kursi. Wahuwal aliyul adzim dan Allah subhanahu wa taala maha tinggi lagi maha agung. Ya. Kemudian di surat al-A&#8217;la tadi ayat yang pertama. a sucikanlah nama Rabbmu yang maha tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian yang berikutnya di dalam Al-Qur&#8217;an juga disebutkan penegasan tentang Allah Subhanahu wa taala di atas semua makhluknya. Seperti ayat tadi di surah Al-An&#8217;am ayat ke-18. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wahuwal qohiru fauqa ibadih.&#8221; Dan dialah yang maha perkasa di atas hamba-hamb-Nya, di atas semua hamba-hamb-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian firman Allah Subhanahu wa taala di surat An-Nahl ayat ke-50. Yakhofuna rbahum min fauqihim waaf&#8217;aluna maa yummar. Mereka selalu takut kepada Allah subhanahu wa taala yang ada di atas mereka dan mereka selalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya, ini para malaikat yang disebutkan di ayat ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an turunnya dari sisi Allah ya. Seperti misalnya di surat Assajadah ayat keelima Allah berfirman, &#8220;Yudabbirul amro minasamaai ilal ard.&#8221; Allah mengatur urusan ya yang mengatur segala sesuatu dari langit ke bumi. Kemudian jelas tentang Al-Qur&#8217;an seperti misalnya dalam surah Al-Hijr ayat ke-9.<\/li>\n\n\n\n<li>Inna nahnu nazalnadzikro wa inna lahu lafidun. Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an dan kamilah yang akan menjaganya. menurunkan berarti dari atas ke bawah. Kemudian juga ya jenis dalil yang berikutnya yang keempat su&#8217;ul asyai ilaih. Naiknya beberapa hal kepada Allah. Beberapa perkara yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an naik kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, contoh seperti dalam surah Fatir ayat ke-10. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Ilhi yas&#8217;adul kalimut thyyibu wal amalus shhu yarfa.&#8221; Kepada Allahlah naik kalimat-kalimat yang baik dan amal-amal saleh diangkatnya. Jelas ini menunjukkan Allah subhanahu wa taala di atas. Karena yang namanya naik pasti dari bawah ke atas.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya. Kemudian di surat Alma&#8217;arij ayat yang keempat. Ta&#8217;rujul malaikatu waruh ilaihi fi yauminana miqdaruh khamsina alfasanah. Naik kepadanya para malaikat dan malaikat Jibril di dalam satu hari. ya yang kadarnya itu sama dengan alfasan sanah 50.000 tahun. Jadi kata-kata para malaikat naik kepadanya menunjukkan Allah Subhanahu wa taala di atas langit ketujuh di atas semua makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalil yang kelima, penegasan kaunuhu fisama. Bahwasanya Allah Subhanahu wa taala di atas langit. Seperti jelas dalam firman Allah di surat almulk ayat ke-16 dan ke-17. Aamintum man fisamaai ayaksifa bikumul ardho faidza hiya tamur. Apakah kamu merasa aman terhadap zat yang ada di atas langit yang dia dia mampu untuk menenggelamkanmu di dalam bumi ini yang tiba-tiba bumi itu berguncang.<\/li>\n\n\n\n<li>Di ayat berikutnya, amintum man fisama ayursila alaikum hasiba. Atau apakah kalian merasa aman ya terhadap zat yang ada di atas langit untuk dia bisa mengirimkan kepadamu badai batu? Ya, sehingga kamu bisa merasakan akibat dari peringatannya. Ya, fasata kaifa nadir. Sehingga kamu kalian akan mengetahui bagaimana akibat dari peringatannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini dalil-dalil yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an bermacam-macam seperti ini. Kemudian belum lagi dari hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam zikir yang kita kenal yang kita baca di waktu sujud membaca subhana rabbiyal a&#8217;la. Maha suci Rabbku yang maha tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih pernah bersabda, &#8220;Wallahu fauqal arsiyi.&#8221; Dan Allah subhanahu wa taala di atas arsynya. Ya, arsy itu kita tahu adalah makhluk Allah Subhanahu wa taala yang paling tinggi dan yang paling besar. Dan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan dia maha tinggi, lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan semua makhluknya tentu saja. Sehingga Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim pernah menyebutkan ketika menerangkan tentang surga firdaus kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Ya wahua aal jannati wa ausatuha wa fauqoha arsyur rahman.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Surga Firdaus itu adalah surga yang paling tinggi dan paling di tengah-tengah. di atasnya adalah arsnya Allah Subhanahu wa taala yang maha pemurah. Ini juga menegaskan tentang ya dalil dari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya. Kemudian ada hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu taala anhu.<\/li>\n\n\n\n<li>Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, &#8220;Ala tamuni wa ana aminun man fisama. Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Ya, tidak merasa aku memiliki sifat amanah. Padahal aku ini adalah orang kepercayaan, hamba kepercayaan zat yang ada di atas langit, yaitu Allah Subhanahu wa taala. Ini jelas sekali Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan hal tersebut dalam hadis yang sahih.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian juga hadis yang sahih yang diriwayatkan di dalam Sahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu taala anhu ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam berkhotbah di hadapan para sahabat ketika haji wada di waktu hari Arafah ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam setelah menyampaikan khotbahnya beliau mengatakan kepada mereka ala halag Ketahuilah apakah aku sudah menyampaikan semua? Apakah aku sudah menyampaikan semua? Apakah aku sudah menyampaikan semua? Mereka menjawab, &#8220;Qolu naam.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Iya, wahai Rasulullah, engkau telah menyampaikan semua sesuai dengan amanah Allah Subhanahu wa taala. Setelah itu, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengangkat tangannya ke langit meminta persaksian Allah dan kemudian menunjukkan kepada umat Islam yang ada di hadapan beliau radhiallahu taala anhum.<\/li>\n\n\n\n<li>Dan beliau sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Allahum ashad.&#8221; Ya Allah persaksikanlah ucapan mereka ini. Apa artinya? Nabi sallallahu alaihi wasallam mengangkat tangannya kemudian menunjukkan kepada mereka berarti Allah subhanahu wa taala di atas langit ketujuh. Kemudian ada takrir, persetujuan atau penetapan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>ini disebutkan di dalam sebuah hadis yang terkenal ya dalam Sahih Muslim ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam ya hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Muawiyah Ibnu Hakam radhiallahu taala anhu bahwasanya sahabat ini ingin memerdekakan budaknya seorang budak perempuan maka Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada budak ini untuk mengetahui keimanannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya, &#8220;Ainallah? Di manakah Allah?&#8221; Maka budak perempuan ini mengatakan fisama di atas langit. Allah maha tinggi di atas langit. Qala kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kembali, &#8220;Man ana?&#8221; Siapakah aku? Qalat. Maka budak perempuan ini menjawab, &#8220;Anta Rasulullah.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Engkau adalah rasul utusan Allah. Setelah itu, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Muawiyah Ibnu Hakam radhiallahu taala anhu, &#8220;Atiqha fainnaha mukminah.&#8221; Merdekakanlah budakmu ini, bebaskanlah. Karena dia adalah seorang perempuan yang beriman. Dari mana Nabi sallallahu alaihi wasallam mengetahui dia beriman? dengan pernyataannya Allah Subhanahu wa taala di atas langit dan dengan pengakuannya bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah rasul utusan Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, dalil-dalil yang sebanyak ini Al-Qur&#8217;an dan sunah yang mana tidak kita dapati satuun hadis yang menyebutkan bahwa para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain misalnya mengingkari ayat-ayat atau hadis ini atau mengatakan Allah Subhanahu wa taala itu tidak di atas, tidak di bawah, atau ada di mana-mana.<\/li>\n\n\n\n<li>Ya, ini jelas keyakinan-keyakinan yang sangat rusak tidak pernah kita dapatkan dari para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain menyatakan hal-hal tersebut. Jadi ini dalil yang menunjukkan tentang penetapan akidah ahlusunah wal jamaah. ya, kita sebutkan di awal agar nanti lebih mudah waktu kita membahas ayat-ayat yang dibawakan oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam pembahasan ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Tib, kita akan lihat ya ayat yang pertama dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala adalah firman Allah di surah Ali Imran ayat ke-55. Ini juga tambahan berarti dalil dari Al-Qur&#8217;an. Ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Isa alaihialatu wasalam, &#8220;Ya ya isa inni mutawaffika warofiuka ilaih.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Wahai Isa, sesungguhnya aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaku. Namanya diangkat berarti ke atas. Ya, yang ini menunjukkan Nabi Isa alaihi salatu wasalam belum wafat dalam artian belum mati. Karena nanti disebutkan oleh para ulama, pengertian dari wafat yang disebutkan di ayat ini adalah ada yang mengartikannya ditidurkan.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena wafat itu disebutkan di dalam beberapa ayat Al-Qur&#8217;an artinya tidur. Wahualladzi yatawaakum baili waamu ma jarahtum binnahar. Dialah Allah yang mewafatkanmu di malam hari. Artinya apa? Menurkan. Karena tidak semua orang mati di malam hari. Iya kan? Dan maha mengetahui apa yang kamu usahakan di siang hari.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi ketika Allah mengangkat Nabi Isa alaihi salalatu wasalam itu dalam keadaan ditidurkan dia kemudian Allah mengangkatnya. Ya, makanya di ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala berfirman di surat An-Nisa, waim min ahlil kitabi illa layumminanna bihi qobla mauti. Ya. Dan tidak ada seorang pun dari kalangan ahlul kitab kecuali mereka akan mengimaninya sebelum kematian Nabi Isa alaihi salatu wasalam.<\/li>\n\n\n\n<li>Karena dia diturunkan di akhir zaman sebagai tanda-tanda hari kiamat yang nanti ketika itu dia akan salat di belakang Imam Mahdi dan mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, tentu ini merupakan tanda-tanda hari kiamat. Intinya di ayat ini Allah Subhanahu wa taala menyebutkan Nabi Isa diangkat oleh Allah subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Berarti Allah Subhanahu wa taala maha tinggi zat-Nya di atas semua makhluknya. Tib. Maka berdasarkan ayat ini maupun ayat-ayat yang tadi sudah kita bacakan sebagaimana yang selalu kita bahas di pertemuan-pertemuan yang lalu, kita wajib menetapkan sifat al-ulu, kemahagian Allah dalam semua maknanya. Karena ayat-ayat Al-Qur&#8217;an menetapkannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menetapkannya. Ya, dengan kita perhatikan apa? Kita menafikan empat perkara. Pertama, bila tamsil. Tidak boleh kita menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Karena sifat makhluk sesuai dengan kelemahan dan kekurangannya sebagai makhluk.<\/li>\n\n\n\n<li>Adapun sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala sesuai dengan kemahagian dan kemahaungannya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Laisa kamitlihi saaiun wahu samiul bashir. Tidak ada satuun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Yang kedua, wala takyif. Tidak boleh kita membagaimanakan sifat Allah. tentang kaifiah atau keadaan yang sebenarnya dari sifat Allah itu ada.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi cuma Allah yang mengetahuinya. Makanya tidak boleh kita tanyakan karena para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain tidak pernah menanyakannya. Ya. Dan juga tidak diterangkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis-hadis beliau. Jadi cukup kita menetapkannya tapi tidak perlu kita membagaimanakannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Yang ketiga, wala taatil. Tidak boleh kita menolak sifat Allah ini karena Allah menetapkan bagi dirinya. Dan tentu Allah lebih tahu sifat kemuliaan dan kemahaungan yang pantas bagi dirinya. Apalagi juga dengan penetapan dalam hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Dan yang keempat, wala tahrif. Tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak boleh kita mengertikan dengan pengertian yang lain selain apa yang ditunjukkan dalam bahasa Arab. Ya, sebagaimana yang tadi kita sebutkan, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mengartikan dalil-dalil ini ya sesuai dengan apa yang diturunkan dalam Alqur dalam bahasa Al-Qur&#8217;an yaitu bahasa Arab. Ya. Bilisanin arabiyin mubin.<\/li>\n\n\n\n<li>Al-Qur&#8217;an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas. Ya, oleh karena itu kita wajib menetapkannya seperti ini. Kita ingat kembali kaidah ahlusunah wal jamaah ringkasnya dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Isbatun bila tamsilin wa tanzihun bila taatil. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk dan mensucikan Allah Subhanahu wa taala dari sifat-sifat kekurangan tanpa menolak sifat-sifatnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebagian dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang ya mengatakan yakni mereka menolak penetapan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya. Dan ini nauzubillah minzalik orang-orang yang celaka. Kita tahu dengan kita menetapkan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya ini kan akan menjadikan kita semakin tunduk kepada Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>menjadikan kita semakin merendahkan diri eh semakin mengakui kemahaungan dan kemaha besarannya. Sudah pernah kita jelaskan ya jemaah sekalian hafidakumullah. Di dalam salat itu menurut pendapat sebagian dari para ulama rukun salat yang paling agung adalah sujud. Ditegaskan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam bahwa sujud itu adalah keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, &#8220;Aqrabu ma yakunul abdu min rbbihi wahua sajid.&#8221; Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya, yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa taala adalah ketika dia sujud. Faaksirud duaa fihi. Maka perbanyaklah doa ketika sujud.<\/li>\n\n\n\n<li>Itu perintah dari Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim. Kenapa dia menjadi kedudukannya seperti ini setinggi ini? Karena di dalam sujud hamba kan merendahkan diri kepada Allah menunjukkan kelemahan dan kekurangan dirinya. Makanya dia melakukan sujud dengan meletakkan anggota badannya yang paling dimuliakan sejajar dengan kakinya di tanah atau di lantai atau di karpet.<\/li>\n\n\n\n<li>Setelah itu dia memuji Allah subhanahu wa taala dengan menyebutkan sifat kemaha tinggiannya. Dia mengatakan subhana rabbiyal a&#8217;la atau subhana rabbiyal a&#8217;la wabihamdih. Maha suci Rabbku yang maha tinggi dan segala puji baginya. Jadi menetapkan sifat ini, ini berhubungan dengan masalah tauhid yang sesungguhnya pengakuan seorang hamba akan kemahainggian, kemahaungan, kemaha besaran Allah.<\/li>\n\n\n\n<li>Inilah wujud dari tauhid penghambaan diri yang sejati. Maka orang-orang yang celaka ketika mengingkari sifat-sifat ini, sifat-sifat yang agung ini, apalagi dengan syubhat yang mereka katakan ya, bahwasanya kalau kita menetapkan bagi Allah Subhanahu wa taala itu dia maha tinggi, berarti Allah itu punya arah. Dibatasi oleh arah. Karena di ataskan itu arah.<\/li>\n\n\n\n<li>atau berarti Allah punya tempat? Kita jawab, &#8220;Siapa yang mengatakan seperti itu? Apakah ada dalilnya?&#8221; Tidak ada. Kalau itu konsekuensi yang berlaku pada makhluk, maka Allah Subhanahu wa taala sifat-sifatnya tidak sama dengan makhluk. Laaisa kamitlihi syaiun wahua samiul bashir. Allah Subhanahu wa taala tidak ada satuun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian kalimat lafaz seperti ini, aljihah arah atau almakan tempat atau al-had batasan. Ini kan kalimat umum. Kalau diartikan bahwasanya Allah itu punya arah, berarti dia diliputi sama arah yang merupakan makhluk. Jelas ini batil. Allah Subhanahu wa taala tidak ada satupun makhluk pun yang meliputinya. Ya, karena dia maha agung, maha besar, maha tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Demikian pula tempat tadi. Kalau diartikan seperti itu, maka jelas ini tidak benar, ya. Tapi kalau diartikan arah itu atau tempat tersebut adalah Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya dan arsy itu adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar, maka itu benar.<\/li>\n\n\n\n<li>Bersamaan dengan itu tidak perlu kita gunakan lafaz yang tidak ada dalilnya. Cukup kita mengatakan sebagaimana Al-Qur&#8217;an menyebutkan arrahmanu alal arsyistawa. Allah yang maha pemurah beristiwa di atas arsynya. Yang kita tahu ditafsirkan oleh para ulama istiwa artinya ala wartafa atau alulu wal irtifa. Allah maha tinggi di atas arsynya. Alhamdulillah yang menyebutkan ini adalah ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang demikian banyak dalilnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Hadis-hadis dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan hadis yang budak perempuan tadi, Nabi sallallahu alaihi wasallam langsung mengatakan dia adalah seorang perempuan yang beriman karena dia mengatakan Allah subhanahu wa taala di atas langit. Ya, oleh karena itu ini menggambarkan kepada kita bahwa sifat kesempurnaan seperti ini tidak pantas untuk diingkari.<\/li>\n\n\n\n<li>Bahkan bisa menjadi sebab seseorang kufur dalam keimanannya kalau mengingkari sifat kemahainggian dan kemahaurnaan Allah Subhanahu wa taala ini. Nah, bab karena berhubung sudah waktu isya, kita laksanakan salat dulu. Insyaallah kita teruskan nanti setelah selesai salat. Barakallahu fikum. Shallallallahu wasallam.<\/li>\n\n\n\n<li>Wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufikihi wainanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu addi ila ridwanih shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih amma ba&#8217;du barakallahu fikum maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin hafidakumullah kita lanjutkan<\/li>\n\n\n\n<li>pembahasan yang menyebutkan tentang ee ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menetapkan sifat al-ulu maha tinggi bagi Allah Subhanahu wa taala. Tadi ayat pertama sudah kita baca. Sekarang ayat yang kedua. Firman Allah di surat An-Nisa ayat 158 masih berhubungan dengan kisah Nabi Isa alaihialatu wasalam. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Barofa&#8217;ahullahu ilaih.<\/li>\n\n\n\n<li>&#8221; Bahkan Allah Subhanahu wa taala mengangkat Nabi Isa kepadanya. Ini juga menegaskan bahwasanya Nabi Isa diangkat oleh Allah Subhanahu wa taala. Berarti Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas semua makhluknya. Ya, ini kan merupakan jawaban dari persangkaan orang-orang yang menyangka membunuh Nabi Isa alaihi salat wasalam. Allah Subhanahu wa taala menjelaskan di ayat ayat di surat Annisa ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Wama qotaluhu w shuhu wakin syubbiha lahum. Mereka tidak membunuhnya, mereka tidak menyalibnya, tetapi itu diserupakan bagi mereka. Wa innalladzina iktalafu fihi lafi syakim min ma lahum bihi min ilmin ill w qalu yakina. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini ya benar-benar dalam keraguan tentangnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Mereka tidak memiliki ilmu kecuali hanya mengikuti persangkaan dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Kemudian Allah menegaskan, &#8220;Barofaahullahu ilaih.&#8221; Bahkan Allah subhanahu wa taala atau akan tetapi Allah subhanahu wa taala mengangkat Nabi Isa kepadanya. Wanallahu azizan hakima. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala maha perkasa lagi maha sempurna hukum dan hikmahnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini ayat yang kedua. Tentu penjelasannya sama dengan ayat yang pertama tadi. Kemudian ayat yang ketiga surah Fatir ayat ke-10. Ilaihi yas&#8217;adul kalimut thyibu wal amalus shihu yarfauh. Kepada Allah kalimat-kalimat yang baik itu akan naik, akan diangkat dan amal saleh diangkat kepadanya. Ini juga termasuk dalil yang tadi kita sebutkan bahwa Allah subhanahu wa taala menegaskan naiknya beberapa hal ini kepadanya menunjukkan Allah subhanahu wa taala di atas semua makhluknya di atas langit ketujuh.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ayat yang keempat di surah Ghafir atau surah almukmin ayat ke-36 ke-37 tentang ucapan Firaun laknatullah alaih ketika dia berkata kepada menterinya Haman. Firaun berkata, &#8220;Ya Haman laal ablugul asbab asbab samawati ilahi Musa inni laadunuhu kadiba.&#8221; Wahai Haman, buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku bisa mencapai tangga atau pintu-pintu.<\/li>\n\n\n\n<li>pintu-pintu langit supaya aku atau sehingga aku bisa melihat Tuhannya Nabi Musa atau sembahannya Nabi Musa karena sungguh aku menyangka dia berdusta. Ayat ini menjelaskan tentang apa? Berarti Nabi Musa alaihi salalatu wasalam menjelaskan kepada Firaun bahwa Allah Subhanahu wa taala Rabbnya ada di atas langit ketujuh.<\/li>\n\n\n\n<li>Makanya Firaun laknatullah alaihi memerintahkan kepada Haman untuk membuatkan untuknya bangunan yang tinggi agar dia bisa mencapai pintu-pintu langit untuk melihat Rabbnya Nabi Musa alaihi salatu wasalam. Karena dia menyangka Nabi Musa berdusta. Ini berarti menunjukkan para nabi yang terdahulu menjelaskan kepada kaum mereka, kepada tokoh-tokoh yang menentang mereka tentang Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi pada zatnya, di atas semua makhluknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebagaimana yang disebutkan oleh Firaun dalam keterangan ini. Ya, tentu saja permintaan dari Firaun ini bisa jadi permintaan yang betul-betul permintaan atau sekedar dia untuk mengejek Nabi Musa alaihi shalatu wasalam. Yang jelas ayat ini juga menetapkan Allah Subhanahu wa taala atas ada di atas langit, di atas semua makhluknya. Kemudian dua ayat yang terakhir, kelima dan keenam adalah firman Allah di surat almulk ayat ke-16 dan ke-17 yang tadi juga sudah kita bacakan.<\/li>\n\n\n\n<li>Aamintum man fisama ayaksifa bikumul ard faidza hiya tamur. Am amintum man fisama ayursila alaikumba fasata kaifa nadir. Apakah kalian merasa aman terhadap zat yang ada di atas langit yaitu Allah Subhanahu wa taala? Kalian merasa aman? terhadap zat ini untuk dia menenggelamkanmu di dalam bumi, maka tiba-tiba bumi itu berguncang.<\/li>\n\n\n\n<li>Atau apakah kalian merasa aman terhadap zat yang ada di atas langit untuk dia mengirim kepadamu ya badai batu, maka kalian akan mengetahui bagaimana akibat dari mendustakan peringatan dari Allah Subhanahu wa taala. Tentu maksudnya di dua ayat ini zat yang ada di langit sekali lagi adalah Allah Subhanahu wa taala.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini juga menunjukkan kepada kita dalil ini adalah dalil yang sangat tegas dan sangat kuat yang menetapkan sebagaimana keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah bahwasanya Allah subhanahu wa taala dengan zatnya ada di atas langit ketujuh di atas arsynya di atas semua makhluknya. Bab. Barakallahu fikum. Inilah dalil-dalil yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ya yang menetapkan sesuai dengan akidah ahlusunah wal jamaah yang disepakati oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain tentang sifat ulu kemahagian Allah subhanahu wa taala yang<\/li>\n\n\n\n<li>wajib untuk kita tetapkan dan kita yakini. Ya, tentu saja menetapkan sifat ini akan memberikan faedah keimanan kepada kita. Ya, dengan kita mengetahui Allah Subhanahu wa taala ada di atas langit menjadikan kita meyakini Allah subhanahu wa taala maha sempurna kekuasaannya. Ya, maha sempurna keagungan dan kebesarannya.<\/li>\n\n\n\n<li>yang itu akan menjadikan kita selalu tunduk kepada Allah, takut kepadanya, mengagungkannya dengan sebenar-benar pengagungan dan selalu berusaha menjalankan apa yang Allah Subhanahu wa taala perintahkan bagi kita dan menjauhi larangan-larangannya. Nam. Barakallahu fikum. Ya, selesai pembahasan tentang sifat al-ulu bagi Allah subhanahu wa taala dari apa yang dijelaskan oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam kitab al-Aqidatul Wasitiyah ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji di malam hari ini bermanfaat dan menjadi sebab yang semakin menguatkan keimanan, keyakinan, tauhid kita kepada Allah subhanahu wa taala. Bab sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan maka saya persilakan. Barakallahu fikum. Iya, silakan, Pak. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.<\/li>\n\n\n\n<li>Pelajaran kita ya turunannya nanti kan ee tentang Islam, tentang apa yang diajarkan oleh Nabi Smadan. Ini mungkin agak kejap. Saya kan baru belajar berproses ee menjalankan kita itu bermasyarakat yang kebaikan tradisi gaznya ya mungkin dalam waktu dekatnya ada ada industri saban. Nah derajatnya atau hukumnya itu gimana Ustaz? Kalau kita kita di berhubung di lingkungan hidup ee masyarakat yang mungkin tradisi menjalankan ee sesuatu yang di luar ee Nabi katakanlah itu bidah lah di sana.<\/li>\n\n\n\n<li>Nah, derajatnya itu gimana, Ustaz? Kalau kita ikut menjalankan itu, apa kita ikut ikut ee ikut ajaran itu apakah hanya sekedar tertolak atau malah kita menjadi haram dan berdosa sesuatu kegiatan ibadat. Iya. Barakallahu fikum. Ya, perbuatan bidah itu di samping tertolak dia juga berdosa. Bahkan dia lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadi kedudukannya perbuatan bidah itu setelah syirik. Kan Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan tentang bidah dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, man amila amalan laisa alaihi amruna fahua roddun. Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka tertolak.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian di hadis lain kan Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan waullu bidatin dolalah wau dolalatin finar. Semua bidah itu adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya di dalam neraka. Ya, para ulama menyebutkan kenapa bidah lebih berbahaya dibandingkan perbuatan dosa besar yang lain. Karena dosa itu kalau dilakukan orang menyadari dirinya salah kan masih mending dibandingkan orang yang merasa dirinya tidak bersalah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau orang yang merasa dirinya bersalah kan kemungkinan bertobat dia akan besar. Makanya coba perhatikan orang-orang yang melakukan dosa besar ya mohon maaf ya. Misalnya orang-orang yang suka ee berbuat kenakalan, orang-orang yang suka mabuk-mabukan. Naudubillah minzalik. Coba kalau kita ajak dia ke masjid pasti dia mengatakan, &#8220;Ah, saya ini orangnya kotor.<\/li>\n\n\n\n<li>Saya bukan orang yang suci. Saya tidak pantas ke masjid.&#8221; Berarti dia masih mengakui dirinya salah. Tapi coba orang yang melakukan perbuatan bidah, suruh di masjid, apakah dia mau lakukan? Bahkan dia semangat menganggap itu adalah kebaikan. Itu bedanya perbuatan dosa itu kalau di kita menyadari itu salah. berarti kita masih menganggapnya sesuatu yang buruk dan dengan itu Allah akan mudah berikan taufik untuk kita bertobat kepadanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi perbuatan yang dianggap itu baik, berani didakwahkan terang-terangan, berani bahkan disampaikan di masjid, ya ini jelas lebih buruk. Tidak pernah kita dengar ada orang misalnya preman yang datang ke masjid dan mengatakan, &#8220;Ya, minumlah khamar karena itu mendekatkan diri kepada Allah.&#8221; Tidak ada kan? pasti dia tahu itu salah. Tapi orang yang melakukan perbuatan yang menyimpang tadi, dia berani ceramahkan di masjid.<\/li>\n\n\n\n<li>Bahkan mengajak kaum muslimin naudubillah minzalik. Makanya kita hindari perbuatan seperti ini semaksimal yang bisa kita lakukan. Jangan ikut-ikutan karena perbuatan ini sangat buruk dan juga dampaknya sangat buruk ya. Menjadikan seorang hamba dimurkai oleh Allah Subhanahu wa taala. Nauzubillah minzalik. Tayib.<\/li>\n\n\n\n<li>Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum biihsanin yaumiddin wa akiru dawanahamdulillahiabbil alamin.<\/li>\n\n\n\n<li>Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4028","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>22. Menetapkan Sifat Allah Al &#039;Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"22. Menetapkan Sifat Allah Al &#039;Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T02:43:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-13T02:43:26+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\",\"name\":\"22. Menetapkan Sifat Allah Al 'Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T02:43:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T02:43:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"22. Menetapkan Sifat Allah Al &#8216;Uluw (Maha Tinggi) &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"22. Menetapkan Sifat Allah Al 'Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"22. Menetapkan Sifat Allah Al 'Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T02:43:25+00:00","article_modified_time":"2026-07-13T02:43:26+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","name":"22. Menetapkan Sifat Allah Al 'Uluw (Maha Tinggi) - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T02:43:25+00:00","dateModified":"2026-07-13T02:43:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/22-menetapkan-sifat-allah-al-uluw-maha-tinggi-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"22. Menetapkan Sifat Allah Al &#8216;Uluw (Maha Tinggi) &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4028"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4028"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4028\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4029,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4028\/revisions\/4029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}