{"id":4048,"date":"2026-07-13T14:45:21","date_gmt":"2026-07-13T07:45:21","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4048"},"modified":"2026-07-13T14:45:22","modified_gmt":"2026-07-13T07:45:22","slug":"penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/","title":{"rendered":"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"\ud83d\udd34[LIVE] Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/SOXftu6HUds?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh innalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh wa naudubillahi Min Syuri anfusina Wamin sayiatialinaahdihillahu Fala mudillalah wudlil Fala hadialah wa asadu allaahaillallah wahdahuarikalah waadu anuham ya illantum muslimun [Musik] yaumum wah w<br><br>ahuq Muhammadin Sallahu Alaihi waihi Wasallam was umuri muhdata wa muhdatin bidah waulla bidatin dolalah waulla dolalatin finar Wadu Alhamdulillah maasyiral ikhwah Wal akhwat fiddin rahimakumullah Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala kita selalu memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-nya Alhamdulillah di pagi hari ini dengan taufiknya kita dipertemukan kembali di dalam majelis ilmu yang mulia di masjid al-ikhlas yang Mubarak ini di dalam kajian kita membahas perkara yang paling penting dalam agama<br><br>kita tentang iman yaitu mengkaji kitab ataudihu Wal bayanuajartil Iman penjelasan tentang pohon iman karya dari as Syekh alallamah almufassir as Syekh Abdurrahman Bin Nasir ass&#8217;di rahimahullahu taala Barakallah fikum pembahasan di kitab ini ya atau kitab kecil ini yang menyebutkan definisi dan penjabaran Iman dari ayat-ayat al-qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang menjelaskan makna Iman bahwa iman itu meliputi semua perkara dalam agama ini maksudnya Semakin banyak kita memahami petunjuk<br><br>al-qur&#8217;an dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Semakin banyak kita mempraktikkannya berarti iman kita semakin bertambah dan semakin meningkat anyya Iman ini setelah memohon Taufik dari Allah subhanahu wa taala ya upaya kita untuk mengusahakan dan menguatkan iman menumbuhkan Iman di hati kita setelah memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa taala benar-benar harus kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari benar-benar kita harus membaca al-qur&#8217;an dan merenungkan isinya membaca hadis-hadis Rasulullah<br><br>Sallallahu Alaihi Wasallam dalam dan mempraktikkannya semakin banyak yang kita pahami dan kita amalkan otomatis itu akan semakin menguatkan keimanan kita semakin menyempurnakan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala dan akan semakin hasilkan buah-buah iman yang indah dan manis sebagaimana yang Allah subhanahu wa taala janjikan di dalam al-qur&#8217;an yang itu merupakan ayat yang menjadi dasar penulisan kitab ini sebagaimana yang sudah Terangkan beberapa kali Barakallah fikum kita ingat kembali apa yang disebutkan oleh<br><br>Syekh di kajian kita yang lalu pernyataan dari Imam alhan albashri rahimahullahu taala ketika beliau mengatakanisal imanu iman itu bukanlah didapatkan dengan angan-angan dengan berangan-angan berkhayal ya atau bittahali dengan menghiasi diri dengan sekedar pengakuan tapi iman itu adalah sesuatu yang waqar fil Qolbi menancap kuat di dalam hati kemudian dibenarkan atau dibuktikan dengan amal-amal perbuatan ikhwan dan akhwat fiddin<br><br>rahimakumullah generasi utama umat ini yaitu para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang sudah kita ketahui iman mereka adalah iman yang direkomendasikan iman yang pasti benarnya dan merekalah generasi yang terbaik tentu saja dalam mewujudkan Iman ilmu dan amal dalam ilmu dan amal sampai-sampai dalam al-qur&#8217;an Allah subhanahu wa taala berfirman Fain amanu bimitl Ma amantum bihi faqod dan kalau mereka seperti keimanan yang kalian miliki wahai para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain maka sungguh mereka akan<br><br>mendapatkan petunjuk yakni keimanan mereka itu menjadi standar orang yang mengikuti keimanan seperti yang mereka Imani mereka akan mendapatkan petunjuk sekarang kita bertanya kenapa para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain bisa meraih keimanan yang demikian kuat bisa meraih keimanan yang demikian Teguh di dalam hatinya kan sudah pernah kita sebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari kunci atau rahasia keteguhan Iman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dari kisah dialog antara Raja Romawi heraklius atau<br><br>herakel dengan Abu Sufyan yang waktu itu menjadi utusan orang kafir Quraisy sebelum beliau masuk Islam radhiallahu taala Anhu sewaktu Raja Romawi ini yang memahami kitab Injil yang asli yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ketika dia bertanya tentang keadaan para sahabat w ahunum ya dia menyampaikan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji apakah seseorang yang mengaku sebagai nabi Ini benar-benar sebagaimana yang dia pelajari dari kitab Injil yang asli Ternyata semuanya benar benar semuanya terbukti dan betul<br><br>seperti nabi yang diterangkan dalam kitab tersebut di antaranya pertanyaannya adalah ini Apakah ada salah seorang di antara mereka di antara pengikut nabi Ini yang murtad meninggalkan agamanya setelah masuk Islam karena benci kepada agama ini yakni Setelah dia masuk islam dia mendapatkan hal-hal yang tidak disukai akhirnya dia benci akhirnya meninggalkan Islam ternyata dijawab oleh Abu Sufyan waktu itu dengan jujur dia mengatakan la tidak ada tidak ada yang murtad setelah masuk Islam di situlah kemudian Raja Romawi ini<br><br>mengatakan kadalikal imanu hina tuitu batul Qulub memang seperti itu keadaan Iman memang seperti itu gambaran Iman ketika basyasyah kenikmatan atau kemanisan iman itu telah merasuk dan menyatu di dalam hati manusia ini dalam Sahih Bukhari ya hadis yang sahih yang kemudian tentu ini dibenarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam karena diceritakan oleh Abu Sufyan Setelah dia masuk Islam kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam jadi iman itu ketika kemanisannya atau kenikmatannya telah menyatu dengan hati dan inilah yang<br><br>menjadikan iman itu benar dia tidak akan terpisah dari hati selama-lamanya Nah ini yang kita inginkan ketika kita mempelajari definisi iman atau batasan Iman seperti yang diterangkan oleh syekhdi di sini dengan ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang sahih bahwa kita butuh waktu membaca Alquran dan merenungkan isinya membaca hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memahaminya kemudian kita memprakkkannya inilah proses untuk menjadikan iman itu ke dalam hati kita dengan sebab ini setelah kita berusaha membersihkan<br><br>kotoran penyakit hati memasukkan kebaikan dari kandungan ayat-ayat al-qur&#8217;an dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan proses seperti inilah iman itu akan semakin bertambah dan semakin kuat dan ini yang dilakukan oleh generasi pertama umat ini para sahabat radallahu taala anhum ajmain kan mereka tidak ada yang mereka pelajari selain al-qur&#8217;an dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tidak ada yang mereka kaji Selain itu ayat Alqur&#8217;an turun Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam membacakannya menjelaskan maknanya<br><br>mereka pahami mereka amalkan Waktu mereka baca Alquran di rumah mereka renungkan masuk lagi keimanan di hatinya ya kan Alquran menyebutkanal dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-quran itu menambah imannya tidak ada yang mereka pelajari selain al-quran dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi W Ali wasallam makanya ini sudah kita Sebutkan keutamaan orang yang ketika belajar langsung mengkaji Alquran dengan tafsir para ulama Salaf orang yang langsung mengkaji hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi wasam ketika dibacakan ini pengaruhnya<br><br>sangat besar dan ini yang dilakukan oleh para sahabat Radiallahu taala anhum AJ di dalam surah Ali Imran Allah subhanahu wa taala berfirman wantumikumyatahum R mustim Bagaimana mungkin kalian bisa menjadi kufur atau kekufuran itu sangat jauh dari kalian wahai para sahabat ya karena di hadapan kalian dibacakan ayat-ayat Allah dan di kalangan Kalian ada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebaik-baik sumber iman ada di kalangan mereka dan itu yang mereka selalu pelajari jadi ikhwan dan akhwat fidin rahimakumullah maksudnya<br><br>seseorang tidak akan gagal dan tidak akan kecewa dengan izin Allah kalau dalam upaya perbaikan dirinya dia mempraktikkan petunjuk ini yakni dia baca al-qur&#8217;an dia renungkan isinya dia selalu berupaya membersihkan kotoran penyakit hatinya dengan cara beristigghfar dengan cara tadi membaca al-qur&#8217;an membaca sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Dengan memahami maknanya karena setiap kali kebaikan masuk ke dalam hatinya otomatis akan menggeser keburukan setiap kali dia mengusahakan ini akan terus bertambah imannya dan dia<br><br>tidak akan kecewa karena inilah yang dilakukan oleh generasi terbaik umat ini yang harusnya kita ikuti mereka dalam ilmu dan amal itulah yang dimaksud dengan wall dan orang-orang yang mengikuti para sahabat Radiallahu taala anhum ajmain dengan kebaikan jadi inilah solusi utama dari permasalahan kita yang berhubungan dengan masalah iman dan ini berhubungan dengan masalah semua dalam kebaikan agama kita ini yang harus kita praktikkan tentu setelah berdoa memohon pertolongan kepada kepada Allah subhanahu wa taala ya<br><br>jadi dari sini kita mengetahui metode yang terbaik dalam menuntut ilmu adalah yang langsung dibacakan ayat-ayat al-qur&#8217;an dijelaskan isinya waktu kita sebutkan di pembahasan kita yang lalu-lalu tentang penjelasan beliau haddul Iman wa tafsiruhu batasan dan definisi iman Syekh Abdurrahman assadi tidak banyak menjelaskan dari ucapan beliau sendiri tapi yang disampaikan ayat al-qur&#8217;an Allah berfirman seperti ini ini maknanya terkandung di dalamnya pemahaman Iman seperti ini dibacakan lagi ayat berikutnya kan sudah kita lewati banyak<br><br>sekali ayat al-qur&#8217;an dibawakan langsung yang berhubungan dengan menyebutkan tentang masalah Iman demikian pula hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Masyaallah ini yang di metode seperti ini yang dulu ditempuh oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain karena mereka hanya mendengarkan langsung dari hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam setelah itu ada penjelasan ketika menjelaskan dalil Jadi bukan terlalu banyak menyebutkan pembahasan ke sana keemi tapi tidak ada dalilnya ini tidak akan banyak faedahnya<br><br>dalam dalam hal menambah dan menguatkan keimanan keimanan di hati kita karena tentu saja petunjuk allah subhanahu wa taala dan petunjuk rasulnya Sallallahu Alaihi Wasallam adalah sebaik-baik sebab yang menumbuhkan kebaikan di hati kita kita ingat Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dalam Bukhari dan Muslim Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda Inna bala Ma baani Allahu bihi Minal Huda Wal Ilmi kamaliin asoba ardon sesungguhnya permisalan atau perumpamaan dari ilmu dan petunjuk yang Allah subhanahu wa<br><br>taala turunkan kepadaku adalah seperti perumpamaan hujan yang diturunkan di muka bumi maka sebaik-baik yang menyirami permukaan bumi atau tanah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan menjadikan sebab kehidupan dengan izin Allah adalah air hujan sebagaimana sebaik-baik yang menyerami hati kita ya untuk menumbuhkan kebaikan menumbuhkan Iman menyuburkan amal-amal Saleh keikhlasan cinta takut dan pengharapan kepada Allah dari hati kita adalah dengan senantiasa diisi hati kita dengan membaca dan merenungkan memahami kandungan ayat-ayat al-qur&#8217;an dan<br><br>hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain nah barakallahu fikum kemudian ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah pembahasan selanjutnya di kitab ini di fasal yang baru tentang ziadatul Iman wauks bertambah dan berkurangnya iman iman itu Bisa bertambah dan berkurang ini tentu dicantumkan sebagai pembahasan tersendiri oleh Syekh untuk menegaskan akidah ahlusunah Wal Jamaah ahlusunah wal jamaah Semua para ulama ahlusunah Wal Jamaah mengatakan Al imanu qulun wa amalun waazidu waquus<br><br>iman itu adalah ucapan dan perbuatan Bisa bertambah dan berkurang ya jadi iman itu Bisa bertambah dan berkurang bertambah dengan perbuatan taat amal-amal kebaikan dan berkurang dengan perbuatan maksiat tidak seperti pemahaman yang menyimpang seperti orang-orang murjiah yang mengatakan maal imaniun dosa itu tidak mempengaruhi Iman sehingga keimanan yang dimiliki ya naudubillah minzalik pemahaman yang sangat menyimpang keimanan yang dimiliki oleh orang pelaku maksiat orang yang bergelimang dalam perbuatan dosa sama dengan iman yang<br><br>dimiliki oleh malaikat jibril para nabi dan para rasul alaihiatu wasalam jelas ini merupakan penyimpangan yang nyata ya ya jadi ahlusunah Wal Jamaah meyakini keimanan itu bertingkat-tingkat bertambah dengan amal-amal kebaikan dan berkurang dengan perbuatan maksiat maka semakin banyak orang melakukan kebaikan otomatis imannya akan semakin meningkat dengan izin Allah subhanahu wa taala kita baca keterangan beliau faslun ya pasal yang baru Islami wa usulil Imani waqil ihsani Wat Uma ismuniniahu<br><br>waqwa WF kalau telah sabata ya telah kita tetapkan berdasarkan dalil dari ayat-ayat al-quran dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tentang makna iman dan bahwasanya iman itu adalah Ismun J satu nama yang meliputi semua syariat is Islam meliputi dasar-dasar keimanan dan hakikat Ihsan ya serta tawabi hal-hal yang mengikuti atau yang menjadi konsekuensi perkara-perkara tersebut dari perkara-perkara agama ini dalam hal yang berhubungan dengan urusan agama ini bahkan iman itu adalah nama yang meliputi semua perkara agama<br><br>ini maka dengan ini diketahui bahwa iman itu Bisa bertambah dan berkurang sebagaimana dia bisa kuat dan bisa lemah jadi iman itu ada pasang surutnya ya tidak seperti pemahaman orang-orang yang menyebutkan iman itu hanya satu kesatuan satu kesatuan yakni kalau hilang sebagian hilang semua ini seperti pemahaman khawarij pelaku dosa besar menurut ahlusunah Wal Jamaah jelas dosa besar mempengaruhi Iman tapi dosa besar juga bertingkat-tingkat ada dosa yang paling besar yaitu perbuatan Syirik membatalkan iman dari asalnya atau kekufuran tapi<br><br>ada juga dosa besar yang mempengaruhi Iman tapi tidak sampai menghilangkan dari asalnya makanya pelaku dosa besar disebut oleh para ulama ahlusunah Wal Jamaah Mukminun naqisul Iman orang mukmin yang imannya berkurang atau orang itu adalah orang mukmin dengan imannya dengan asal imannya sekaligus dia fasik dengan perbuatan dosa yang dilakukannya tentu selama dia tidak bertobat kepada Allah subhanahu wa taala ya Jadi tidak langsung dikatakan dengan perbuatan dosa besar hilang keseluruhan imannya seperti pemahaman khawarij ini<br><br>berhubungan dengan Akidah ahlusunah wal jamaah dan keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang tentu merupakan bagian dari dasar iman yang kita harus yakini dengan benar karena ini merupakan sebab yang akan membenarkan iman kita itu sendiri nah tib kata sy ekuj la syaran wala Hisan wala waqian maka permasalahan ini sama sekali tidak ada kerancuan dalam memahaminya tidak ada alistibah tidak ada syubhat dari semua segi baik dalam tinjauan syariat tinjauan his yakni perasaan atau akal manusia maupun pada tinjauan waqi<br><br>kenyataan yang terjadi bahwa keimanan itu bertambah dan berkurang Ya sudah kita pernah Sebutkan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain iman mereka tidak satu Abu Bakar assiddiq radallahu taala Anhu adalah yang paling tinggi imannya kita ketahui Berdasarkan kesepakatan para ulama ahlusunah wal jamaah Kalau dari segi penampilan atau amalan Zahir kelihatannya mereka semua Semangat tapi pada kenyataannya berdasarkan dalil-dalil yang sahih Abu Bakar ashsiddiq adalah sahabat yang paling utama dan itu diakui oleh para sahabat sendiri radhiallahu<br><br>taala anhum ajmain Kita pernah menukilkan pernyataan salah seorang ulama tabiin Bakar bin Abdullah almuzani rahimahullah taala yang mengatakan Ma saqahum Abu bakrin bikatrati shatin walaamin wala shodqatin Wakin bisyaaiin waqar Fi qolbihi tidaklah Abu Bakar asiddiq radhiallahu taala Anhu mengungguli mereka para sahabat hanya dengan banyaknya salat puasa atau sedekah tetapi dengan sesuatu yang kuat di hati beliau sesuatu yang menetap dengan kuat di hati beliau yaitu keimanan ya maka berbeda iman itu yang akan mempengaruhi kualitas<br><br>amal makanya orang yang beramal dengan banyak tapi keimanan di hatinya lemah itu akan bisa mempengaruhi menjadikan amalnya lemah bahkan bisa jadi amalnya tertolak karena buah iman adalah ikhlas buah iman adalah khusyuk dalam ibadah dan khusyuk adalah rohnya ibadah ya nyawa ibadah jadi keimanan di hati itu yang akan mempengaruhi kualitas amal Itulah sebabnya Kenapa ini kita usahakan nanti kita akan baca di sini tentang buah-buah dan faedah daripada iman itu kita akan dapati ternyata luar biasa keimanan yang benar itu<br><br>benar-benar semua kebaikan-kebaikan allah subhanahu wa taala akan jadikan bagi bagi hamba tersebut dengan sebab keimanan yang benar yang ada di hatinya tib walika Anna nususal kitabi wasunati shihatun Fi ziadatihi wa nuqsanii yang demikian itu karena dalil-dalil yang disebutkan dari al-qur&#8217;an dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas menyebutkan iman itu bertambah dan berkurang ya ya dengan tegas menyebutkan bahwa keimanan itu Bisa bertambah dan berkurang contoh dibawakan di sini mlui taala misalnya firman Allah subhanahu wa<br><br>taala di dalam surah Alfath ayat ke4ubillahyairim agar mereka menambah keimanan mereka bersama iman yang telah mereka miliki jelas kata-kata lizdadu supaya bertambah iman mereka pada keimanan yang telah mereka miliki di surat almuddattir ayat ke-31ina amanu dan akan menambah bagi orang-orang yang beriman keimanan mereka untuk menambah iman bagi orang-orang yang beriman yakni disempurnakan imannya ditambah kemudian di surah Ali Imran ayat<br><br>173 172 ah wakil ini para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mereka adalah orang-orang yang ketika manusia berkata kepada mereka yakni orang-orang munafik menakut-nakuti mereka ya orang-orang munafik berkata sesungguhnya sejumlah besar manusia yakni orang-orang kafir Quraisy telah berkumpul bersatu untuk menyerang kalian maka takutlah maka itu justru menambah keimanan mereka menambah yakinnya mereka dengan pertolongan Allah dan mereka mengatakan hasbunallahu waikmal wakil cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan dia dialah<br><br>sebaik-baik penolong Al Imran 173 ya Ini juga menyebutkan tentang bertambahnya Iman kemudian waid Ma unzilat suratuninhum yaakulu ayyukum ayyukum zadthu Hadi imana faammalladzina amanu fazadathum iman wahum yastabsyirun dan jika diturunkan satu surat dalam al-qur&#8217;an maka di antara mereka orang-orang munafik itu ada yang berkata Siapa di antara mereka yang menambah keimanannya dengan turunnya surat ini adapun orang-orang yang beriman maka itu menambah keimanan mereka dan mereka gembira dengan turunnya surah tersebut ini banyak sekali ayat-ayat<br><br>yang menyebutkan seperti ini seperti ayat yang tadi kita sebutkan dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah itu menambah keimanan mereka Wir Minal ayat dan ayat-ayat lain yang banyak disebutkan dalam Alquran yang menyebutkan tentang bertambahnya Iman sekaligus menunjukkan makna berkurangnya keimanan dengan sebab perbuatan perbuatan maksiat ya jadi ikhwan akhwat fidin rahimakumullah kan berarti jelas kalau kita ingin meningkatkan iman dan pasti kita butuh untuk melakukannya lakukan apa yang disebutkan<br><br>di ayat-ayat ini baca al-qur&#8217;an dan renungkan isinya Itulah sebabnya orang yang semangat untuk memperbaiki dirinya pasti pekerjaannya yang paling dominan yang paling banyak dilakukan adalah membaca al-qur&#8217;an membaca hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yakni kalau kita serius dan sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri ya Dan kita mengaku ingin mengikuti para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dengan benar apa yang kita lakukan ya kita lakukan sebagaimana yang disebutkan di dalam dalil perbaiki bacaan al-qur&#8217;an kita dan<br><br>setiap kita membaca al-qur&#8217;an berusaha untuk renungkan maknanya agar hati kita tersentuh banyak bertobat beristigfar kepada Allah supaya hati kita bersih agar kebaikan itu nantinya mudah masuk kotoran-kotoran akan tersingkirkan dengan kebaikan-kebaikan tersebut inilah prosesnya berusaha dan bersabar melakukan ini ini yang akan membuahkan hasil kebaikan pada iman kita makanya berzikir kepada Allah itu menguatkan iman dan orang yang kuat imannya pasti rajin berzikir dua-duanya tidak akan terpisahkan ya membaca al-quran orang<br><br>yang hatinya bersih pasti semangat membaca al-qur&#8217;an dan membaca al-qur&#8217;an dengan semangat akan membersihkan hati saling berhubungan dua-duanya kata Utsman bin Affan radhiallahu taala Anhu laatubuna lamaabiat Min kalamillah seandainya hati kita bersih maka dia tidak akan pernah merasa bosan tidak merasa puas untuk selalu membaca ayat-ayat al-qur&#8217;an jadi ini menggambarkan kepada kita bahwa semangat melakukan kebaikan-kebaikan itu itu merupakan tanda keimanan kita meningkat sebagaimana bukti bahwa keimanan kita juga benar di hati adalah<br><br>semangat membaca ayat aat-ayat al-quran atau semangat Melakukan amal-amal kebaikan jadi kita berusaha meningkatkan kualitas amal supaya iman kita bertambah dan seiring dengan semakin bertambahnya iman kita itu sendiri akan motivasi kita untuk semangat semangat dalam dan beramal dan semua Taufik tentu di tangan di tangan Allah subhanahu wa taala nah demikian pula alu ya dari segi perasaan atau akal waqi dan kenyataan mempersaksikan hal ini dari semua segi-segi pembahasan iman akan fil quati<br><br>walrati waujudilari wujudil mawani waalik karena sesungguhnya manusia dalam pengetahuan dan pemahaman tentang iman dalam mempraktikkan amal-amal mempraktikkan akhlak dan amal yang lahir maupun yang batin yang tentu mendukung Iman jelas berbeda-beda bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang sangat besar ya dalam masalah kekuatannya dalam masalah banyaknya beramal atau terlihatnya [Musik] dampak pengaruh iman itu pada dirinya atau terdapatnya penghalang-penghalang yang menghalangi keimanan tersebut dan dan sebagainya ya tadi sudah kita Contohkan<br><br>tentang keadaan Abu Bakar ashsiddiq radhiallahu taala Anhu kita juga sudah bisa merasakan di saat-saat iman kita meningkat semangat kita berbuat kebaikan juga besar meningkat Makanya kalau kita berada di waktu-waktu yang utama karena itu mendukung Iman semangat kita meningkat kalau kita misalnya berada di bulan Ramadan karena bulan yang penuh berkah motivasi kebaikan meningkat kita pun semangat melakukan kebaikan-kebaikan waktu kita berada di lingkungan orang-orang yang Saleh kita termotivasi untuk melakukan kebaikan-kebaikan waktu kita berada di<br><br>Haramain dua tanah suci misalnya termotivasi Melakukan kebaikan ya ini menunjukkan kepada kita bahwa pada kenyataannya memang keimanan itu bisa meningkat dan bisa turun di saat-saat kita sedang putur dan sering merasakannya kita malas melakukan kebaikankebaikan mudah untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk ya naudubillah minzalik tapi ini kenyataan yang kita rasakan nah sehingga jelas kata beliau di sini keadaan manusia dalam hal ini benar-benar sangat berbeda-beda atau bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang<br><br>sangat jauh F mminumaluahum Min tafasili ulumil Imani wa maarifi waalii maisbaihiuli umumi minalmin wa wa Akim maka orang-orang beriman yang sempurna imannya mereka memiliki rincian dari ilmu dan pengetahuan tentang iman juga pengamalan ya yang tentu tidak ada bandingannya tidak bisa dibandingkan dengan ilmu atau pengetahuan dari kebanyakan orang-orang mukmin yang awam ya sekarang contoh saja orang yang<br><br>melaksanakan salat yang satu berilmu dan satu tidak berilmu yang satu mengamalkan salat hanya sekedar mengikuti mungkin pengajaran dari orang tuanya atau dari gurunya yang disampaikan tanpa dalil dengan orang yang mengamalkan salat Setelah dia mengetahui dalil Setelah dia bisa membaca kitab sifat salat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang menukilkan Bagaimana tata cara salat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan dalil-dalilnya tentu akan berbeda meskipun sama gerakannya yang satu paham dalil yang tidak paham dalil<br><br>perbedaannya di sisi allah subhanahu wa taala sangat berbeda sangat jauh berbeda ya karena dia punya ilmu yang lebih dibandingkan orang yang kedua tadi ya jadi Semakin banyak kita mengetahui hal ini tentu kita semakin semakin diamalkan semakin besar pengaruhnya dalam menumbuhkan Iman dibandingkan orang yang tidak punya pengetahuan atau amalan seperti yang dilakukan oleh orang yang pertama tadi nah sebagaimana dalam amal dan akhlak faain katir minhum ulumunifatun mujmalah waaluhu qilatun diifah waaina katir minhum Minal muarti<br><br>wasubhati wasyahawati ma yudful imanaunu darjatin k ya pada kebanyakan dari orang-orang yang awam ini mereka hanya memiliki ilmu yang lemah kalaupun ada ilmu yang merupakan garis besar saja secara mujmal rinciannya banyak mereka tidak ketahui demikian pula amal-amal mereka sedikit dan lemah kalaupun ada yang beramal dengan amal-amal itu juga banyak-banyak yang mereka tidak ketahui dalilnya dan kebanyakan mereka ya kebanyakan mereka terdapat pada diri mereka muaradat banyak halangan-halangan atau syubhat dan syahwat disuruh<br><br>memilih oleh Allah subhanahu wa taala ya apakah dia memilih untuk segera berjumpa dengan rabb-nya memilih balasan di sisi Allah atau memilih dia tetap di dunia maka ternyata hamba ini memilih apa yang ada di sisi allah subhanahu wa taala mendengarkan ini para sahabat terdiam semua Abu Bakar assiddiq radhiallahu taala Anhu menangis ketika mendengarkan hadis tersebut yang lain pada heran kenapa Abu Bakar asiddiq menangis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menceritakan tentang hamba yang dia memilih apa yang ada di sisi Allah kenapa dia malah<br><br>menangis ternyata Abu Bakar ashiddiq radhiallahu taala Anhu paling paham tentang makna hadis tersebut yang tidak paham yakni yang lain paham secara umum ternyata beliau menangis karena ternyata hamba yang dimasud tersebut adalah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berarti ini menandakan beliau akan sebentar lagi wafat sehingga Abu Said al-khudri radhiallahu taala Anhu yang menceritakan hadis tersebut mengatakan wakana abu bakrin a&#8217;lamana bihi dan bahwasanya Abu Bakar asiddiq radhiallahu taala Anhu beliau adalah<br><br>orang yang yang paling paham paling berilmu di antara kami tentang makna dari Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tersebut Ini kata Imam Ibnu qayyim menunjukkan bahwa Abu Bakar asiddiq yang paling berilmu di antara mereka orang bisa mendengarkan dalil tetapi pemahaman mereka tentang dalil tersebut bisa berbeda-beda yang satu mungkin mengambil satu kesimpulan saja yang lain bisa mengambil banyak kesimpulan Karena dia sudah punya ilmu Sebelumnya dia sudah sudah pernah dengarkan keterangan para ulama sebelumnya sehingga dia bisa mengambil<br><br>banyak kesimpulan ini jelas berbeda dengan orang yang pemahamannya kurang dari itu dan bukti dari hadis tadi menunjukkan Abu Bakar ashiddiq radhiallahu taala Anhu ketika mendengarkan ayat-ayat al-qur&#8217;an atau Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam beliau benar-benar merenungkannya sehingga memiliki pemahaman yang tentu meningkatkan keimanannya lebih dibandingkan para sat yang lain Radiallahu taala anhum AJM ini yang tadi disebutkan oleh Beliau ya orang-orang yang beriman dari kalangan orang-orang awam Dia mungkin<br><br>punya ilmu tapi secara umum Tapi orang yang menuntut ilmu dia pelajari dalilnya dia paham rinciannya ketika kita mengamalkan amalan-amalan yang wajib maupun yang sunah ya waktu kita tahu rincian dalilnya kita amalkan dengan benar sampai lafaz zikir yang kita baca pun juga dengan benar ini berbeda dengan orang-orang yang mungkin zikir yang dibacanya bercampur ada yang sahih ada yang tidak sahih atau dalilnya tentang pengamalan amal tersebut ada yang diketahuinya ada yang tidak diketahuinya sangat berbeda nilai dan kedudukannya di<br><br>sisi allah subhanahu wa taala jadi benar-benar ilmu ini ilmu yang bermanfaat ini adalah Sebab utama yang akan meningkatkan keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wa taala semakin kita pelajari dan semakin berusaha untuk kita Kita mengamalkannya nah bal tajidul mukminina bal tajidul mukminina yatafawatuna tafawutan katstiran Fi nafsil ilmilladzi arofuhu Min ulumil Iman Bahkan kamu dapati orang-orang beriman sendiri bertingkat-tingkat atau berbeda dengan perbedaan yang sangat besar dalam ilmu dalam ilmu yang mereka telah<br><br>ketahui dari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan iman ini beriman kepada malaikat kita tahu malaikat adalah makhluk gaib yang Allah subhanahu wa taala ciptakan dari cahaya yang Allah subhanahu wa taala jadikan mereka selalu taat dan tunduk kepada perintahnya ini makna secara umum orang ketahui tapi nanti rincian dari nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya dari riwayat-riwayat yang sahih berbeda-beda orang mengetahuinya kemudian ada riwayat-riwayat yang dif tentang penamaan malaikat atau tugas malaikat yang tidak tidak ada dalilnya ini juga<br><br>ada orang yang tahu ada yang tidak tahu berarti kan berbeda-beda tentang keimanan apalagi Iman tentang Allah yang ini merupakan dasar dari semua keimanan dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah memahami tauhid bertingkat-tingkat keimanan kepada para nabi dan para rasul semua permasalahan ini ada rincian yang semakin orang mengetahui rinciannya semakin dia paham Berarti ilmu imannya semakin kuat sebab yang menguatkan imannya semakin besar dibandingkan orang yang tidak mengetahuinya jadi kita lihat di sini<br><br>bagaimana pengaruhnya pengaruhnya ilmu dalam meningkatkan keimanan kita nah ahaduhuma ilmuhu Fi qwiunihun la salah seorang di anara mereka ada ada yang punya ilmu yang kuat yang benar tidak ada keraguan tidak ada syubhat tidak ada kerancuan ya Wal akhar ilmuhu fihi diifun waainahu muaratun katstiratun tifu aid sementara yang kedua ilmunya lemah banyak penghalang-penghalang banyak syubhat dalam ilmunya yang akan melemahkan ilmu Iman tersebut ya Antum bisa rasakan orang yang memulai hijrah mulai ikut<br><br>kajian sedikit banyak dibandingkan dengan keadaannya waktu belum mengikuti kajian berbeda perhatiannya dalam salat berjamaah perhatiannya dalam mengamalkan amal-amal yang sesuai dengan dalil semangatnya untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang bidah apalagi kesyirikan pasti berbeda ya makanya tidak pantas orang yang sudah mengikuti pengajian tidak perhatian dalam salat berjamaah kalau tanpa ada halangan Dia sedang melakukan perjalanan azan dikumandangkan dia berhenti kecuari kalau ada uzur Yakni dengan Sebab Dia sudah<br><br>mengikuti kajian akan menjadikan semangatnya menjaga salat di awal waktunya salat berjamaah pasti beda dengan keadaannya dulu kalau itu imannya benar kalau Iman benar di hatinya dan semua dalam mengamalkan agama seperti itu ya keadaan orang-orang yang memahami agama berbeda dengan orang-orang yang pemahamannya kurang tentang agama iniikian Pa dalam masalah yang berkaitan dengan iman berbeda-beda bertingkat-tingkat ya orang-orang yang beriman di sini bertingkat-tingkat dengan perbedaan tingkatan yang sangat jauh misalnya orang apa ini<br><br>sifat-sifat Yang Mulia seperti al-hilm lemah lembut ya sifat sabar kemudian akhlak-akhlak Mulia lainnya berbeda di antara satu orang dengan yang lainnya ya Sesuai dengan tingkatan keimanan yang ada di dalam di dalam hati waadalika fil ibadatiirati kasati yusolinani shatan wahidatan wa ahaduhuma yuaddi hukqaha adohirata Wal batinata wa&#8217;budullaha kanahu yarohu faillam Yakun yarohu demikian pula pada ibadah-ibadah yang lahir seperti salat misalnya ada dua<br><br>orang yang melaksanakan salat yang sama mungkin berjamaah di Masjid sama-sama berdiri tetapi yang salah seorang diantara mereka menunaikan hak-haknya salat tersebut lahir dan batin ya dia melaksanakan rukun-rukunnya kewajiban-kewajibannya khusyuknya dia penuhi dia beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatnya kalau dia tidak bisa melihatnya dia yakin Allah melihat dirinya merasakan pengawasannya sementara orang yang kedua dia melaksanakan salat hanya secara Zahir saja dan batinnya tersibukkan dengan hal yang lain tidak<br><br>khusyuk jelas berbeda-beda tingkatannya ini juga berlaku untuk ibadah-ibadah yang lain Jadi ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah perkara iman itu memang membutuhkan perenungan dalam hal-hal yang berhubungan dengan iman kita itu kita butuh perenungan kita butuh memikirkan ya kita baca al-qur&#8217;an Kita Renungkan isinya tidak buru-buru kita pikirkan maknanya kita memahami tentang hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kita pahami kandungannya terus kita praktikkan ini sebab yang akan meningkatkan kualitas amal kita lahir<br><br>dan batin dan dengan sebab seperti inilah yang akan menjadikan Semakin banyak kita pahami dan amalkan agama ini semakin semakin besar dan semakin kuat kedudukan iman kita di sisi allah subhanahu wa taala baik Barakallah fikum Cukup sampai di sini Insyaallah kajian kita di kesempatan pagi hari ini semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita di sini memang pembahasan ini diingatkan oleh Syekh karena ini berhubungan dengan Akidah ahlusunah Wal Jamaah tentang sebab bertambah dan berkurangnya<br><br>Iman tib barakallahu fikum Sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan dari Antum silakan iya iya bimana Eh Apakah Allah menghendak ini tapi ituahan Iya sebentar ya Pak Iya Barakallah Fik pertanyaan sangat<br><br>baik sekali tentang makna firman Allah subhanahu wa taala yagfiru Lim Yasya wibuasya Allah mengampuni bagi siapa yang dikehendakinya dan mengazab bagi siapa yang dikehendakinya Maksudnya di sini Allah subhanahu wa taala memberikan pengampunan bagi siapa yang dikehendakinya yni orang-orang yang melakukan sebab-sebab sehingga Allah mengampuninya yang diazab adalah orang-orang yang melakukan sebab sehingga dia mendapatkan azab Allah subhanahu wa taala jadi ketika Allah Subhanahu Wa taa taala menjadikan seorang hamba<br><br>mendapatkan hidayah dia hijrah dia kenal sunah kemudian dia mengikuti kajian adapun dosa-dosanya yang lalu dia berusaha bertobat kepada Allah memohon ampun kepada Allah memperbaiki amalnya maka tentu dia akan dia yang melakukan sebab-sebab ini dan semua tentu dengan petunjuk allah dengan kehendak Allah maka dia akan dapatkan pengampunan tersebut adapun ada orang lain yang dia sudah mendapatkan nasihat sudah didakwahi dia tidak mau berubah dia tetap dengan perbuatan Maks maksiatnya Bahkan dia menentang kebenaran dan<br><br>kebaikan maka ini melakukan sebab-sebab keburukan maka Allah subhanahu wa taala akan mengazabnya Karena dia melakukan sebab-sebab tersebut yang jelas ketika Allah melakukan ini tentu dengan kehendaknya yang sempurna dengan keadilannya yang sempurna ketika Allah berikan kebaikan kepada hambanya maka itu adalah murni karena karunia dan rahmatnya ketika Allah berikan keburukan bagi hamba itu adalah karena keadilan dan hikmahnya Hikmah itu artinya pantas dia mendapatkan itu karena hikmah artinya Wadi maudii Al wajhil itqan<br><br>Allah senantiasa meletakkan segala sesuatu secara tempat secara tepat dan persis pada tempatnya Jadi tidak mungkin ada yang salah nah jadi dia akan berhak mendapatkan dengan dia melakukan sebab-sebabnya cuma kita yakini di sini di ayat ayat al-qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih Allah subhanahu wa taala menegaskan hadis sahih riwayat Imam muslim Allah subhanahu wa taala berfirman di Hadis Qudsi Inna rahmati sabaqati sesungguhnya rahmatku mendahului kemurkaanku ya dalam riwayat lain Inna rahmati tlibui sesungguhnya rahmatku<br><br>mengalahkan kemurkaanku jadi rahmat Allah itu sebab-sebabnya lebih besar daripada sebab-sebab kemurkaannya maka kita meyakini ya perbuatan baik akan dilipatgandakan pahalanya sampai 10 kali lipat bahkan sampai berkali-kali lipat yang tidak terbatas tapi orang berbuat salah tidak dituliskan kecuali satu kesalahan saja ya sebab rahmat Allah subhanahu wa taala lebih besar ketika Allah subhanahu wa taala di akhirat nanti penghuni surga telah masuk ke dalam surga Semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan kita semua termasuk ke dalam<br><br>golongan penghuni surga dengan rahmat dan karunianya ketika surga telah penuh ternyata karena saking luasnya surga masih banyak tempat-tempat yang kosong Allah menciptakan makhluk untuk mengisi tempat yang yang kosong tersebut Masyaallah ini makhluk-makhluk yang dimuliakan oleh oleh Allah subhanahu wa taala sementara untuk neraka jahanam juga seperti itu apa kata Rasulullah Sallallahu alaii wasallamalu Jah senantiasa neraka jahanam itu dilemparkan ke dalamnya penghuninya naubillahik dan terus diaeminta tambah Apakah ada tambahan Apakah ada tambahan<br><br>ini juga neraka juga luas ya naubillahaliktaul sampai kemudian Allah subhanahu wa taala meletakkan di atas neraka jahanam itu ya Khadam ya telapak kakinya yang maha mulia yang tentu tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk sampai kemudian neraka mengatakan cukupcukup jadi untuk memenuhi neraka Allah tidak menciptakan makhluk yang baru karena mereka tidak pantas Iya kan tapi untuk memenuhi surga yang kosong Allah menciptakan makhluk yang baru berarti Allah bisa memberikan rahmat kepada manusia lebih daripada apa yang<br><br>mereka kerjakan ini menunjukkan rahmat Allah subhanahu wa taala melebihi melebihi kemurkaannya nah ada hadis sedekahnya kita satu gunung emas tidak bisa mengalahkan sedekatnya sahabat watud I itu hadisnya sahih dalam sahih Bukhari dan Muslim Apakah memang level iman kita tidak bisa seperti imannya para sahabat iya jelas tidak bisa secara umum keimanan mere mereka mengungguli keimanan semua yang datang setelah mereka radhiallahu taala anhum ajmain Adapun untuk perorangan mungkin sahabat yang paling rendah yang paling sedikit<br><br>bertemu dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bisa jadi ada tabiin yang lebih mulia secara perorangan tapi secara keseluruhan tidak mungkin ada generasi yang bisa mengungguli keutamaan para sahabat secara keseluruhan radhiallahu taala anhum ajmain nah sehingga seperti tadi ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda Ya seandainya salah seorang di anara kalian berinfak dengan emas satu gunung uhud tidak akan bisa mencapai infak mereka em satu Mut satu genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja ini menunjukkan<br><br>keanan ituengaruhi kualitas dari amal n i bertanya Ustaz Apakah jika seseorang mempunyai gangguan sakit pada mentalnya merupakan termasuk keimanan yang lemah ya bisa jadi merupakan bagian dari keimanan yang lemah maka hendaknya dia berusaha untuk bertakwa kepada Allah dan menyelesaikan masalah ini dengan dalil dalil dengan cara penyelesaian sesuai dengan dalil dari al-qur&#8217;an dan sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan cara dipahamkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan keimanan keyakinan kalau Itu tipu daya setan dia<br><br>berlindung kepada Allah sebagaimana yang diterangkan di dalam hadis-hadis yang sahih Ustaz saat membaca Zikir pagi petang laah wahdahu la syarikal lahul Mulk walahul hamdu wahu Al Qadir ada yang menyebutkan 100 kali membacanya pahalanya seperti membebaskan satu orang budak ada juga yang menyebutkan bahwa<br><br>membaca 10 kali pahalanya seperti membahaskan empat orang budak lebih sahih yang mana i yang membaca 10 kali ada dalilnya untuk pagi dan petang coba di lebih diperhatikan lagi diteliti lagi biasanya itu kadang-kadang kita tercampur antara zikir secara mutlak dibaca dalam sehari ada zikir yang berhubungan dengan waktu tertentu misalnya pagi dan petang ya zikir yang 10 kali itu ada dalilnya dan itu hadisnya sahih adapun yang 100 kali itu apakah itu yang e dibaca dalam sehari kalau dibaca dalam sehari kan tidak khusus<br><br>berartis untuk pagi dan petang saja yang penting dibaca 100 kali begitu coba diperhatikan lagi tentang dalilnya ini kadang ujub dan dia itu muncul dan kita tepis dan begitu lagi Muncul lagi apakah ini tanda lemahnya iman kita lalu Bagaimana cara menghilangkan ujub dan Ri ini bukan tanda ya bisa jadi tanda lemahnya iman dan juga Memang setan akan menggoda kita tidak bisa orang itu ikhlas kemudian dia akan tenang-tenang saja ya Ikhlas itu kan sudah pernah kita sebutkan iman itu semakin kuat berarti di hati kita<br><br>semakin memiliki barang yang berharga setan itu pencuri pasti dia akan mengintai terus untuk mencuri barang tersebut oleh karena itu keimanan yang kuat juga itu sebagai juga sebagai pelindung kita penjaga kita dengan penjagaan Allah subhanahu wa taala dari upaya setan yang ingin merampas atau mencuri barang yang paling berharga yang ada di hati kita jadi setan akan selalu mengganggu akan tetapi Allah subhanahu wa taala menolong hamba-hamba yang beriman supaya dia bisa menolak gangguan tersebut ya Saya pernah Sebutkan dalam hadis riwayat<br><br>Imam muslim Kalau antum masih ingat bahwa para sahabat ada yang yang mengadukan permasalahan mereka di kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ada waswas bisikan-bisikan di hati mereka ketika itu Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam malah bersabdaakihul Iman Itulah bukti kekuatan Iman Di hatimu ya jadi Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam malah memujinya maka para ulama menjelaskan makna dari ucapan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ini kembali kepada dua hal ada yang mengatakan ketika ada Bisikan Setan hatinya menolaknya ini menunjukkan imannya kuat<br><br>makanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memujinya yang kedua justru adanya bisikan itu sendiri yang menunjukkan imannya kuat karena kalau seandainya imannya lemah buat apa setan menggoda dia ya setan akan menjadikan dia sebagai temannya ya tapi dengan adanya iman yang kuat di hatinya setan akan selalu berusaha untuk merusak iman tersebut berarti gangguan-gangguan dan bisikan setan tadi justru imannya kuat oleh sebab itu dia harusnya semakin kuat meminta pertolongan kepada Allah dan semakin bersemangat menolak Bisikan Setan<br><br>tersebut supaya tidak merusak keimanan yang benar yang ada di hatinya nah meninggalkan salat jemaah di masjid untuk laki-laki Apakah berdosa karena dilakukan tanpa uzur ya berd Meskipun pendapat yang terkuat dia bukan termasuk syarat sahnya salat orang yang melaksanakan salat tanpa berjamaah tanpa uzur salatnya sah tapi dia berdosa karena meninggalkan kewajiban salat berjamaah bagi bagi laki-laki tanpa uzur untuk adab dan tata cara berdoa sesuai yang diajarkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Seperti apa<br><br>Adakah waktu-waktu tertentu dan Apakah setiap salat selesai salat harus dilakukan Dan apakah memang harus mengangkat kedua tangan woh kalau adab-adabnya tentu banyak sekali ya kalau kita baca di penjelasan para ulama atau yang ditulis oleh para Ustaz tentu banyak diterangkan adab-adab dalam berdoa ya di antaranya tadi pertanyaan yang seb pertanyaan saya supaya ringkas masalah angkat tangan itu hadisnya Mutawatir di tempat-tempat yang tidak ada larangan mengangkat tangan kita angkat tangan hukum asalnya berdoa itu<br><br>Angkat tangan ya karena itu hadis-hadis yang menganjurkannya hadis-hadis yang sangat banyak diantaranya Kita pernah dengar Hadis Rasulullah Sallallahu wasam yang sahih Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala Rabb kita maha pemalu lagi maha pemurah Allah malu ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya kemudian ditolak dengan hampa ya kemudian waktu-waktu dikabulkannya doa ya tentu banyak disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih di waktu Safar waktu menjelang berbuka puasa antara azan dan iqamah sepertiga malam yang terakhir di hari Jumat ketika<br><br>menjelang matahari terbenam kan banyak disbutkan dalam hadis yang sahih ini makanya perlu kita rujuk kepada tulisan tentang masalah ini ya saya juga pernah menulis tulisan yang judulnya berdoalah kepadaku niscaya aku akan kabulkan ada di internet juga ada penjelasan adab-adab di situ kemudian setelah selesai salat setelah selesai salat itu yang dianjurkan kita berzikir karena Allah berfirman di dalam Alqur&#8217;an faumurullah qaman waudan Wa junikum kalau kalian telah menunaikan salat maka berzikirlah kepada Allah Adapun salat ee<br><br>berdoa itu dalam salat justru dilakukan yang utamanya kita lakukan berdoa itu di dalam salat karena waktu kita salat adalah sedang bermunajat kepada Allah sehingga di dua tempat dianjurkan memperbanyak doa kita tahu di waktu sujud berlaku untuk semua sujud dan ketika setelah membaca tahiyat dan selawat kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam utamanya terakhir di penghujung salat sebelum mengucapkan salam tentu kalau kita berjamaah ya kita mengikuti imam Kalau kita salat sendiri Kita bisa memperpanjang sesuai dengan keinginan<br><br>kita termasuk dalam hal membaca doa ya kalau kita ingin berdoa juga setelah selesai salat tidak mengapa tanpa kita khususkan misalnya setelah kita berzikir kita ingin berdoa boleh-boleh saja karena berdoa itu boleh kita lakukan setiap saat sesuai dengan hajat dan kebutuhan Kita cuman ya kita harus pahami tentang fikihnya antara tiga ibadah lisan membaca Quran berzikir berdoa yang paling utama itu asalnya adalah membaca al-qur&#8217;an kedua tingkatannya adalah berzikir memuji Allah seperti subhanallah alhamdulillah<br><br>lailah Allahu Akbar dan yang seterusnya yang ketiga berdoa meminta kepada Allah ini hukum asalnya tapi bisa jadi yang satu akan lebih utama jika ada sebab yang menjadikan dia lebih utama dibandingkan yang lain misalnya setelah selesai salat orang ingin baca al-qur&#8217;an boleh tetapi lebih diutamakan bagi dia untuk membaca zikir setelah selesai salat dalam keadaan dia ada hajat dan kebutuhan untuk minta kepada Allah ketika itu lebih utama dia berdoa karena ini ada hajatnya dan seterusnya seperti itu ya Jadi ini tingkatan-tingkatan<br><br>ibadah kedudukannya ini perlu kita pahami agar kita bisa mengamalkannya dengan benar sesuai dengan petunjuk allah subhanahu wa taala dan rasulnya Ti Barakallah fikum Cukup Sampai Sini Insyaallah kajian kita semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang kita akhiri shallallallahu wasallam wabarak ala Nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bihsanin Ila yaumiddin walhamdulillahi rabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika asyhadu<br><br>alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilai wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4048","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T07:45:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-13T07:45:22+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"29 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/\",\"name\":\"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T07:45:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T07:45:22+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-2\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T07:45:21+00:00","article_modified_time":"2026-07-13T07:45:22+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"29 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/","name":"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T07:45:21+00:00","dateModified":"2026-07-13T07:45:22+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pohon-keimanan-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-2\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4048"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4048"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4048\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4049,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4048\/revisions\/4049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4048"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4048"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4048"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}