{"id":4079,"date":"2026-07-13T14:53:01","date_gmt":"2026-07-13T07:53:01","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4079"},"modified":"2026-07-13T14:53:01","modified_gmt":"2026-07-13T07:53:01","slug":"pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/","title":{"rendered":"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"\ud83d\udd34[LIVE] POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/PbGDR2Y3ViU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh innalhamdalillah nahmaduhu wanasta&#8217;inuhu wanastaghfiruh [Musik] Shallallahu Alaihi Wasallam<br><br>kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala atas semua limpahan nikmat dan karunianya atas Taufik kebaikan yang senantiasa dimudahkannya bagi kita yang dengannya kita bisa selalu berpegang teguh dengan petunjuk Islam petunjuk sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dengannya kita selalu bisa mengadakan majelis ilmu yang mulia yang merupakan sebab kebaikan besar [Musik] yang dulu ditempuh oleh para sahabat radhiallahu Ta&#8217;ala anhum ajma&#8217;in dan para imam ahlussunnah yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan<br><br>Alhamdulillah di pagi hari ini kita dipertemukan kembali di majelis ilmu di masjid yang mulia ini dalam lanjutan kajian kita membahas kitab kecil yang sangat bermanfaat buah karya dari Al Imam al-mufassir Al alamah Abdurrahman tentang bagaimana menumbuhkan Bagaimana mengusahakan agar Iman di hati kita pohon iman di hati kita mengeluarkan buah menghasilkan buah-buah yang manis dan indah yang dengan sebab ini akan menjadikan ibadah kita salat kita lebih khusyuk<br><br>lebih ikhlas kemudian amal-amal kita senantiasa dilandasi dengan cinta takut dan berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala yang tentu ini merupakan cita-cita atau Anugerah Terbesar yang Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala limpahkan kepada hambaNya Jika Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan seorang hamba untuk meraih meraih kemuliaan tersebut dan alhamdulillah kita berusaha untuk bisa mempelajari membahas pembahasan seperti ini menunjukkan kita ada keinginan untuk meraih karunia tersebut untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan diri<br><br>kita Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan kita dalam upaya untuk memperbaiki Iman di hati kita dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan kita untuk bisa merasakan manisnya buah-buah iman kita sudah ketahui bersama Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menjanjikan di dalam Alquran bahwa petunjuknya akan dimudahkannya bagi orang-orang yang ingin mempelajarinya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman di beberapa ayat di surat al-qamar walaupun sungguh kami telah memudahkan Alquran sebagai peringatan Apakah ada orang yang mau mempelajarinya<br><br>ketika menafsirkan ayat ini sebagian dari ulama Salaf ya sebagaimana yang dinukil diantaranya di dalam tafsir yang ditulis oleh penulis tafsir assadiin Rahman sebagian dari ulama Salaf ada yang mengomentari ayat ini Dengan mengatakan Apakah ada orang yang mau menuntut ilmu belajar Alquran sehingga Allah akan memudahkannya menolong dia untuk memahaminya dengan benar artinya di sini ikhwan dan rahimakumullah menuntut ilmu Belajar Alquran dengan niat untuk mengambil keberkahannya untuk mengambil kebaikan-kebaikan di dalamnya ini<br><br>merupakan Sebab semua kebaikan Sebab semua keutamaan di dalam Islam karena tidak ada satu sifat terpuji pun satu sifat Mulia pun kecuali Alquran mengajarkannya Alquran membimbingnya dan memudahkan sebab-sebabnya bagi orang yang mau mempelajarinya ya mempelajari ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengatakan di dalam Kitab Miftahul dari Sa&#8217;adah qullus syifatin Madah Allahu bihal Abdul Quran bahwa [Musik] sifat baik yang dipuji di dalam Alquran<br><br>semua sifat mulia yang dipuji di dalam Alquran maka itu merupakan buah dan hasil daripada menuntut ilmu merupakan hasil dan buah dari menuntut ilmu sedangkan semua sifat buruk yang dicela di dalam Alquran semua merupakan hasil dan buah dari kejahilan ketidakpahaman terhadap agama jadi jalan menuntut ilmu ini jalan yang mulia bahkan kemuliaan terbesar yang ada di akhir zaman saat ini ketika orang-orang sudah berpaling dari menuntut ilmu agama atau kalau adapun yang menuntut ilmu tapi dengan cara yang tidak sesuai dengan petunjuk<br><br>para ulama Salaf para sahabat radhiallahu Ta&#8217;ala anhum oleh karena itu selama kita masih mau belajar Ya selama kita masih mau meniti jalan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan menuntut ilmu maka selama itu pula kebaikan-kebaikan Allah akan berikan kepada kita Insya Allah selama itu pula Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan memudahkan untuk tumbuhnya kebaikan di hati kita untuk buah-buah Iman akan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan untuk tumbuh dari pohon iman yang kita tanam di hati kita dan sudah pernah kita sebutkan hadis yang shahih<br><br>riwayat Imam al-bukhari dan Muslim ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperumpamakan petunjuk yang beliau bawa seperti hujan yang baik sesungguhnya perumpamaan permisalan dari ilmu dan petunjuk yang Allah turunkan kepadaku adalah seperti perumpamaan hujan yang baik yang diturunkan di muka bumi selama kita masih mau mengambil hujan Wahyu kita menampungnya untuk kita jadikan sebagai pengairan pohon iman di hati kita maka selama itu selalu ada harapan untuk perbaikan pada diri kita Makanya jangan meninggalkan majelis ilmu<br><br>dan selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala agar kita dimudahkan mengambil manfaat dari ilmu demi Allah ilmu agama dengan izin Allah akan merubah kita sedikit demi sedikit akan memperbaiki keadaan kita dari yang tadinya perkara-perkara tentang iman belum kita ketahui kita pelajari kemudian kita semakin merasakan manfaatnya perbaikan Dalam pemahaman kita dalam pengamalan kita perbaikan dalam pandangan kita terhadap dunia kecintaan kepada dunia yang berlebihan akan semakin terkikis dengan izin Allah<br><br>kemudian akan menumbuhkan kecintaan kepada akhirat kemudian akan membawa kita perlahan-lahan untuk merasakan manisnya iman untuk lebih mendahulukan keridaan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dibandingkan keinginan hawa nafsu kita dan kebaikan-kebaikan yang lain sampai sahabat yang mulia Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu anhu di dalam sebuah riwayat yang shahih pernah menasehatkan tentang bagaimana ilmu ketika merubah seseorang tanpa disadari orang tersebut untuk kemudian dia merasakan hakikat dari kenikmatan beragama yang itu tidak<br><br>dirasakan oleh orang-orang yang jahil Beliau mengatakan Raja mafihi Mul ilmu ilmu akan membawa pemiliknya ini seorang hamba yang mempelajarinya ilmu akan menggiringnya tanpa disadari hamba ini untuk bisa merasakan hakekat Keindahan Islam yang sesungguhnya maka setelah itu hamba ini atau hamba-hamba yang belajar ilmu agama ini pasti mereka akan menganggap akan merasakan kemudahan menjalankan agama yang itu dirasakan berat oleh orang-orang yang melampaui batas mereka akan merasakan nikmatnya iman yang itu dianggap berat atau susah oleh<br><br>orang-orang yang jahil ini semua dengan Taufik dari Allah subhanahu wa ta&#8217;ala melalui kesabaran seorang hamba dalam menuntut ilmu setelah kita belajar tentang masalah iman dan nanti kita akan terus belajar Insya Allah ini pembahasan di dalam kitab ini di bagian akhir itu ada pembahasan tentang buah-buah iman dan faedah iman dan ini pembahasan yang menyebutkan tentang bagaimana manfaat besar setelah kita mengusahakan sebab-sebab iman dan bersungguh-sungguh selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meminta agar dimudahkan<br><br>kita meraih kesempurnaan iman tersebut ya jadi Ikhwan adalah sekarang permasalahannya ya mau tidak mau perbaikan Iman pasti kita akan berusaha mengusahakannya yakni tidak ada pilihan di hadapan kita kalau kita ingin selamat ketika menghadap Allah subhanahu wa ta&#8217;ala pada hari kiamat nanti ada kita tahu dan syaratnya seseorang menghadap Allah diterima harus dia membawa hati yang bersih kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih hati yang dipenuhi dengan iman yang benar bersih dari kotoran-kotoran syubhat dan<br><br>syahwat yang menghalangi tumbuhnya iman kemudian kita dapati kenyataan bahwa ciri-ciri iman yang benar masih banyak yang tidak kita rasakan contoh seperti yang mungkin saya pernah ungkapkan di kajian kita yang lalu pernyataan syaikhul Islam ketika beliau menjelaskan tentang konsekuensi atau kandungan dari memahami nama Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala di antara nama Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang maha Indah berterima kasih dalam terjemahannya atau maha bersyukur ya ini kandungan dari nama Allah ini Allah itu maha membalas perbuatan<br><br>hamba-hambanya dengan balasan yang lebih baik yang lebih tinggi dibandingkan apa yang diamalkan hamba tersebut Nah sekarang di antara maknanya sehubungan dengan amal yang kita lakukan Kalau amal itu benar pasti Allah akan berikan balasan dari amal yang kita lakukan dengan balasan yang segera dan juga lebih-lebih di akhirat nanti ya ini balasan yang segera di dunia berkata Jika kamu ketika mengamalkan<br><br>amalan Saleh tidak merasakan nikmat atau rasa manis di hatimu maka berarti kamu harus mencurigai amalmu Karena ini menunjukkan amal kita tidak benar maksudnya begitu alasan beliau karena Allah itu adalah bersyukur Maha berterima kasih makna dari nama Allah ini sehubungan dengan amal seorang hamba yakni kata beliau yaitu maknanya Allah pasti akan memberikan balasan bagi seorang hamba yang mengamalkan kebaikan kalau seandainya amalnya benar ya berubah Apa rasa manis yang langsung dirasakan di dalam hatinya<br><br>kenikmatan Sakinah ketenangan dan tuma&#8217;ninah kedamaian di hatinya ini balasan langsung yang Allah berikan karena Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala konsekuensi dari nama-namanya yang Maidah ya pasti dia akan berikan kepada hambaNya kandungan dari nama-namanya tersebut maka jika seorang hamba tidak merasakan hal ini berarti amalnya dimasuki hal-hal yang merusak yakni entah tidak ikhlas dalam beramal atau amal tersebut tidak terdapat padanya amal yaitu khusyuk misalnya atau hal-hal yang lain yang jelas amalnya sedang bermasalah<br><br>ya sekarang bisa kita rasakan sendiri dalam amal-amal perbuatan yang kita kerjakan Salat kita yang paling utama bagaimana kita laksanakan salat kemudian dzikir kita bacaan Alquran kita doa-doa kita puasa kita kita laksanakan betul tapi kebanyakan kita masih merasakan berat dan susah ini kenyataan yang menjadikan kita berpikir bagaimana kalau Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala mencabut nyawa kita dalam kondisi kita belum melakukan perbaikan ternyata amal kita masih bermasalah seperti yang diterangkan oleh syaikhul Islam maka tidak ada pilihan bagi kita kalau<br><br>kita ingin selamat demi Allah yang bisa kita lakukan saat ini adalah banyak berdoa kepada Allah karena kita Yakin Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala rahmatnya Maha luas dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari sebab-sebab rahmatnya Allah akan mudahkan baginya Kita yakin dengan makna firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Di Dalam Hadis Qudsi yang shahih Inna rahmati sesungguhnya rahmatku mendahului atau mengalahkan kemurkaanku berdoa dengan sungguh-sungguh Maksudnya kita ini serius menghadapi masalah yang sangat berat<br><br>ya karena sebagian dari kita dia merasa aman ada yang merasa aman dia merasa saya sudah ngaji Sesudah Belajar tauhid saya sudah menghadiri daurah-dauroh kita katakan semua itu adalah kebaikan betul tetapi bersamaan dengan kita ngaji kita yang hidup di akhir zaman ini kan juga banyak terkena fitnah banyak kita membaca berita-berita yang itu bisa mempengaruhi iman kita banyak kita menyaksikan tontonan mungkin atau kita mendengarkan hal-hal yang tanpa kita sadari mungkin akan bisa Mengurangi keimanan kita ya sekarang di handphone kita di<br><br>media-media yang mudah kita baca kita dapatkan berbagai macam hal-hal yang bisa mempengaruhi iman kita memang betul kita mengatakan pengajian kita menghadiri kajian tapi berapa kali kita dalam sehari kemudian setelah kita mengikuti kajian di rumah kita membaca Alquran berapa banyak yang Kita Renungkan dari ayat-ayat Alquran Kita Renungkan isinya itulah permasalahan kita makanya saya katakan tadi selama kita masih setia menghadiri majelis ilmu dan selalu meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala maka inilah kebaikan<br><br>yang kita harapkan inilah sebab keselamatan yang selalu kita harapkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala di tengah-tengah kelemahan yang ada pada diri kita kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita Ya sudah pernah kita Jelaskan juga para ulama Salaf dulu masih ada ikhwan yang datang Barakallah fiikum para ulama Salaf Dulu mereka memperbaiki diri dalam masalah-masalah yang paling besar yang paling berat untuk diusahakan yaitu mengusahakan niat yang ikhlas mereka lakukan di mana di waktu menuntut ilmu karena menuntut ilmu dengan cara yang<br><br>benar dengan niat yang ikhlas inilah yang akan memudahkan kita dengan izin Allah subhanahu wa ta&#8217;ala untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada diri kita rahimahullah ta&#8217;ala pernah mengatakan falaqnal Ilma lighairillahi faa baaya menuntut ilmu bukan karena Allah masih banyak niat-niat yang belum maksimal tetapi ilmu itu enggan kecuali membawa kami untuk mengikhlaskan niat Karena Allah ilmu membimbing mereka untuk meluruskan niat sebelum imam Adara putih Imam Mujahid Ibnu Jabbar al-maqih dari kalangan tabiin yang terkenal mengatakan<br><br>tolak kami dulu menuntut ilmu dalam keadaan niat kami belum besar niat kami belum maksimal kemudian di tengah perjalanan menuntut ilmu Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menganugerahkan niat Ikhlas untuk kami jadi majelis ilmu adalah peninggalan warisan dari para nabi dan para rasul warisan dari para ulama Salaf yang saat ini masih bisa kita pertahankan untuk memperbaiki Salat kita memperbaiki keikhlasan kita dalam amal ya kita semua saat ini Alhamdulillah niat kita ketika mengikuti kajian sunnah mengikuti pemahaman para sahabat<br><br>radhiallah ta&#8217;ala kita ingin menjadi termasuk golongan yang selamat makna yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku dan petunjuk mereka yang paling besar tentunya tidak lain adalah masalah iman masalah khusyuk dalam salat ikhlas dalam beramal dan masalah Iman bukan cuma sekedar pengakuan bukan cuma sekedar didapatkan dengan mengaku-ngaku atau menghiasi diri dengan penampilan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati kita masih ingat pernah kita nukilkan pernyataan dari Imam Al Hasan al-bashri<br><br>imam besar dari kalangan tabiin penduduk Basrah laisal iman iman itu bukanlah sekedar dengan angan-angan bukanlah sekedar dengan tahalli menghiasi diri dengan pengakuan-pengakuan tapi iman itu adalah sesuatu yang menetap kuat di dalam hati dan shodaqotul amal dibuktikan dengan amal-amal perbuatan maka oleh karena itulah ya pelajaran yang paling penting untuk kita usahakan dalam rangka ya mengharapkan keselamatan diri kita ketika menghadap Allah subhanahu wa ta&#8217;ala pada hari kiamat nanti adalah pelajaran tentang iman pelajaran tentang<br><br>bagaimana menumbuhkan rasa takut kepada Allah di hati kita pelajaran tentang bagaimana menundukkan hawa nafsu di jalan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala karena dua hal ini inti dari semua kebaikan dua hal ini pokok utama dari segala kebaikan menumbuhkan rasa takut kepada Allah di hati yang kedua menundukkan hawa nafsu di jalan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala ya ini menjadikan hati kita selalu kenal Allah karena ini yang akan menjadikan kita bisa menyingkirkan segala keburukan cinta kepada dunia yang berlebihan pasti disukai oleh hawa nafsu tidak ada<br><br>yang bisa menyingkirkan ini kecuali setelah kita mengenal keindahan nama-nama dan sifat-sifat Allah pernah mengungkapkan sebuah pernyataan yang terkenal orang yang terpenjara itu adalah orang yang terpenjara hatinya terhalangi hatinya dari mengenal rabbnya dari mengenal Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala sedangkan Al ma&#8217;tsur orang yang tertawan itu adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya jadi Hanya dua kesimpulan dari pernyataan beliau ini dan ini sama dengan pernyataan dari murid beliau Imam Ibnu qayyim rahimahullah ta&#8217;ala semua<br><br>kesimpulan sebab kerusakan yang ada pada diri manusia hanya dua yaitu kelalaian hati karena dia tidak mengenal Allah dan yang kedua hawa nafsu yang diperturutkan inilah penghalang utama yang akan menghalangi tumbuhnya Iman di hati kita ya oleh karena itu kita belajar tauhid kita belajar Iman intinya adalah menjadikan hati kita mengenal kemahaindahan nama-nama dan sifat-sifat Allah menjadikan hati kita hanya tunduk kepada Allah mencintai Allah takut dan hanya berharap kepadaNya yang dengan sebab ini semua kecintaan kepada makhluk akan<br><br>menjadi rendah dengan sendirinya karena kita telah mengenal kecintaan yang sesungguhnya yang ini Paling didambakan oleh hati manusia Oleh karena itu jamaah sekalian rahimakumullah ya Sekali lagi pelajaran tentang iman ini yang paling kita butuhkan saat ini karena menghadapi fitnah di luar yang demikian keras usahanya yang paling besar adalah merusak hati kita banyak orang tidak sadar dia merasa sudah beramal banyak sudah beramal dengan anggota badannya sudah mengamalkan ini dan itu jelas ini bukan berarti keburukan Tetapi kalau ini<br><br>tidak bersumber dari hati Maka nanti nilainya akan sia-sia sementara syaiton sasaran utamanya adalah selalu membisikan fitnah membisikan cobaan-cobaan ujian-ujian membersihkan godaan-godaan di hati kita kita lalai untuk menangkal tipu daya setan ini ya karena kita tidak mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan masalah iman dan menguatkan membersihkan hati kita serta menundukkan hawa nafsu kita di jalan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala pembahasan yang disebutkan oleh Syekh Abdurrahman rahimahullah Ta&#8217;ala ini masih menjelaskan tentang bagaimana penjabaran<br><br>iman penjabaran makna iman yang disebutkan di dalam ayat-ayat Alquran dan hadits-hadit yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terkadang di dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menggandengkan iman dengan amal saleh ya padahal kita tahu amal saleh merupakan bagian dari iman Kenapa digandengkan disebutkan orang-orang yang beriman dan beramal<br><br>saleh kadang-kadang digandengkan dengan Taqwa beriman dan bertakwa padahal termasuk bagian dari iman atau misalnya dengan sabar orang-orang yang beriman dan bersabar padahal sabar bagian dari iman karena adanya hajat untuk menyebutkan hal tersebut kadang-kadang Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala ingin menekankan satu permasalahan agar orang tidak menyangka misalnya iman itu yang ada di hati saja tidak terwujud dalam amal perbuatan untuk meluruskan hal ini Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menggandengkan hal-hal tersebut supaya mendapatkan perhatian<br><br>[Tepuk tangan] supaya orang tidak menyangka bahwa iman itu cukup dengan apa yang ada di hati saja memang pastinya Iman asalnya di hati ya takwa asalnya di hati kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dalam Hadis Shahih riwayat Imam Muslim kita ketahui jelas ada buahnya pada anggota badan manusia sehingga kalau orang yang mengatakan cukup saya bertakwa di hati saya kita katakan ini berarti bukan takwa karena takwa itu ya benar terdapat di hati asalnya tapi terlihat buahnya pada anggota badan terlihat dampaknya pada anggota badan<br><br>manusia Berapa banyak kita baca di dalam ayat-ayat Alquran Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh seperti di surat al-baqarah ayat 277 di surat Yunus ayat ke 9 di surat al-kahfi ayat ke-30 ayat 107 banyak Dalam Alquran berulang-ulang disebutkan tentang mereka ini orang-orang yang beriman dan beramal saleh Kenapa digandengkan iman dan amal saleh itu amal-amal Saleh itu termasuk bagian<br><br>dari iman ya termasuk konsekuensi iman dan amal-amal Saleh inilah yang menjadikan terwujudnya iman maka barangsiapa yang mengaku dia seorang mukmin orang yang beriman tapi dia tidak mengamalkan Apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan rasulnya berupa hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan maka berarti orang ini tidak benar dalam tidak jujur dalam pengakuan keimanannya amal-amal sholeh termasuk dari iman ya amal-amal Saleh ada yang wajib ada yang bersifat anjuran atau sunnah<br><br>tentu saja kalau itu wajib berarti mempengaruhi kesempurnaan iman yang wajib kalau itu amal-amal yang sifatnya anjuran atau sunnah berarti mempengaruhi konsekuensi iman yang bersifat anjuran dan sudah pernah kita baca mungkin pernah juga kita bahas di Hadits Arbain nawawiyah tentang ciri-ciri wali Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala senantiasa atau tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan amal yang lebih aku cintai melebihi dari yang aku wajibkan kemudian senantiasa hambaku mengamalkan satu amalan mengamalkan amal-amal yang<br><br>dianjurkan sehingga aku mencintainya maka amal-amal yang wajib maupun yang sunnah ini yang akan menyempurnakan iman sehingga dulu para ulama Salaf Ya seperti diterangkan oleh para ulama Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari misalnya menjelaskan dulu para ulama Salaf itu kalau mereka mendapatkan ayat Alquran atau Hadis yang memerintahkan atau menganjurkan beramal mereka tidak melihat Apakah ini wajib atau anjuran yang bersifat sunnah yang penting Allah mencintainya mereka semangat melakukan yakni mereka tidak beda-bedakan ini<br><br>wajib ini perintah wajib atau perintah anjuran ya tapi yang penting Allah perintahkan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala mencintainya mereka semangat sama semangat dalam melakukannya karena apa dorongan Iman di hati menjadikan sesuatu yang dicintai oleh Allah dianjurkan oleh Allah akan semangat dilakukan oleh orang-orang yang mencintai Allah Karena barangsiapa yang mencintai sesuatu dia akan senang dekat dengannya dia akan senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh kekasihnya inilah bedanya dengan orang sekarang orang sekarang dia berilmu<br><br>ketika turun perintah Allah dari Alquran atau Hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bukannya segera melaksanakan dia bertanya dulu ini perintahnya lihat dulu wajib atau tidak anjuran atau tidak ya kalau anjuran ya berarti boleh ditinggalkan kalau wajib baru kita laksanakan jadinya terbalik harusnya hatinya terpanggil untuk segera melaksanakan perintah dari kekasihnya tapi dia malah menunda-nunda dengan alasan kita lihat dulu ini perintah wajib atau perintah yang tidak wajib itu jelas perbedaannya makanya amal-amal sholeh ini termasuk<br><br>konsekuensi iman dan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Ketika memberikan balasan kepada hamba-hamba yang beriman agar dijadikan mereka semangat dalam beramal Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan buah iman mereka menjadikan mereka merasa nikmat dengan beramal sholeh Kenapa mereka merasa nikmat karena kenikmatan itu mengikuti rasa cinta mereka cinta kepada Allah maka mereka merasakan nikmat ketika mendekatkan diri kepada Allah inilah Sebabnya kenapa penting kita menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dengan sendirinya kita akan mencintai<br><br>amalan sholeh ini Kalau tidak salah Ingat saya juga pernah Jelaskan di kajian kita yang lalu Imam Ibnu qayyim Allah ta&#8217;ala dalam kitab al-falah menyebutkan kaidah itu mengikuti rasa cinta Kalau antum tidak mencintai sesuatu tidak mungkin bisa merasakan nikmat pekerjaan kita kalau kita tidak suka kita mungkin laksanakan tapi terpaksa dan pasti hasilnya tidak maksimal kalau kita belum mencintai zat yang kita ibadahi maka jadinya Salat kita pun terpaksa berat berdzikir pun sekedar mengucapkan di lisan tidak dari hati kenapa kita tidak<br><br>mencintai atau masih kurang dalam mencintai Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala itu mengikuti rasa cinta maka inilah Kenapa orang-orang yang beriman Di Dalam Alquran disebutkan mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan dan berlomba-lomba mengerjakannya karena mereka mencintai Allah ya sesuatu yang kita cintai dalam kehidupan kita pasti kita senang melakukannya pasti kita semangat tidak perlu kita dipaksa dan Islam harusnya lebih kita cintai dari apapun yang ada di dunia ini karena Islam tidak ada yang mengalahkan<br><br>keindahannya Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Maha Indah kalau seandainya hati kita mengenal Allah dengan benar pasti kita akan dimudahkan untuk mencintai Allah dan dengan sebab itu amal-amal kebaikan akan mudah kita lakukan sekarang berzikir kepada Allah disebutkan dalam Alquran apa ketahuilah dengan berzikir kepada Allah hati manusia menjadi tenang Siapa orang yang tidak ingin tenang hatinya bahkan dzikir ini bukan hanya menenangkan hati menghilangkan kegundahan masalah apapun yang kita hadapi dengan berzikir langsung menjadi<br><br>tenang ini pasti akan disukai oleh orang Tapi karena kita kurang cinta kepada Allah akhirnya berpikir pun Kurang semangat Ya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam disebutkan dalam hadis yang shahih tidak hajafahul amrud ketika menghadapi satu permasalahan yang sulit beliau segera melaksanakan salat karena salat adalah bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala bermunajat dengan Allah dan ini kesenangan orang yang beriman yakni orang yang beriman yang benar-benar telah mengenal rabbnya dan merasakan nikmatnya ibadah kita akan<br><br>saksikan Ya seperti gambaran keadaan para sahabat mereka ketika beribadah seolah-olah tidak ingin berhenti dari ibadahnya ketika membaca Alquran tidak pernah bosan membaca Alquran ini gambaran iman yang sesungguhnya cuman sayang kebanyakan kita merasakan ini justru dalam urusan-urusan dunia kalau makan tidak mau berhenti ya kalau dalam masalah urusan-urusan dunia dikejar siang dan malam ini kan gambaran orang yang ada saat ini yang harusnya ini ditemukan di dalam agama yang indah ini itulah perbaikan iman yang sesungguhnya<br><br>ya harus diarahkan kepada hal ini baik karena sebagaimana juga Allah menggandengkan atau digandengkan antara iman dan taqwa misalnya dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala di surat Yunus ayat 62-63 ala Inna Aulia Allahi lahaupun alaihim yahzan Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan bagi mereka dan mereka juga tidak bersedih hati mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa kepada Allah ini iman<br><br>meliputi perkara yang ada di hati Adapun bertakwa artinya menjauhi perkara-perkara yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala maka tidak mungkin dikatakan Wali Allah kalau melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam syariat Islam secara terang-terangan yakni sebagaimana penilaian sebagian orang saat ini yang menilai orang itu Wali hanya berdasarkan keanehan-keanehan yang dilakukannya ya dengan bantuan setan maka di ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menyebutkan iman yang meliputi apa yang terdapat di hati berupa keyakinan dan keinginan-keinginan<br><br>yang baik niat-niat yang baik dan ini tidak akan sempurna dilakukan oleh orang yang beriman sampai dia bertakwa kepada Allah menjaga diri dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah berupa kekufuran kefasikan dan perbuatan-perbuatan maksiat jelas orang yang telah merasakan manisnya iman dengan sendirinya dia akan membenci dan merasakan pahitnya hal-hal yang melanggar iman maka kekufuran dan kesyirikan pasti dia akan jauhi sejauh-jauhnya orang yang normal tubuhnya normal kalau dihadapkan pada makanan yang pahit apalagi basi apalagi<br><br>beracun dia akan menghindar dengan sendiri menjauhinya bahkan membuangnya Iman lebih daripada itu kalau imannya benar pasti dia akan menjauhi perbuatan kufur Syirik kefasikan maupun perbuatan maksiat kalau sekarang kita masih ya Terkadang ada perbuatan maksiat kita dengarkan misalnya nyanyian belum kita merasakan ada penolakan di hati kita itu sudah pasti tanda bahwa iman kita bermasalah Itu sudah pasti kita terlambat melaksanakan salat atau tidak berdzikir sesuai dengan apa yang biasa kita lakukan misalnya dalam sehari tidak<br><br>membaca Alquran dalam sehari tidak berdzikir harusnya ada rasa sakit di hati kita ini buktinya iman yang benar-biasa saja Ini pasti menunjukkan iman kita bermasalah jadi contoh-contoh ini banyak sebenarnya dalam diri kita cuman karena kadang-kadang kita tertipu kita merasa sudah memiliki banyak kelebihan-kelebihan dan ini yang akan menjadi sebab kecelakaan ya naudzubillahimindzalik Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menegaskan hal tersebut Di dalam FirmanNya di ayat tadi dan mereka adalah orang-orang yang selalu bertakwa kepada<br><br>Allah yakni mereka-mereka ini wali-wali Allah adalah orang-orang yang selalu bertakwa kepada Allah menjauhi perbuatan-perbuatan buruk tersebut hal ini kepada hamba-hambanya yang terpilih hamba-hambanya yang terbaik yaitu para sahabat radhiyallahu ta&#8217;ala anhum ajma&#8217;in di dalam Alquran di surat al-hujurat ayat ke-7 dan ke-8 inilah sifat hamba Allah yang imannya benar akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala<br><br>menjadikan kalian wahai para sahabat cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu zina perhiasan yang indah di hatimu serta Allah menjadikan kalian karroha membenci kekufuran kefasikan dan perbuatan maksiat mereka inilah orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk allah terbimbing menempuh jalan yang lurus Ini adalah karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Maha Mengetahui lagi Maha Sempurna hukum dan hikmahnya Allah ingatkan di sini kebaikan itu adalah karunia dari Allah para sahabat radhiyallahu ta&#8217;ala<br><br>anhuma&#8217;in mendapatkan ini sebagai karunia dari Allah makanya minta kepada Allah Karena Allah yang maha kuasa memberikan kepada mereka karunia yang agung ini dia juga tetap maha kuasa dan tidak pernah berubah sifat-sifat kesempurnaannya Dia Maha Kuasa untuk memberikannya kepada kita kalau kita sungguh-sungguh meminta sungguh-sungguh mengusahakan sebab-sebabnya ya Dan Allah ini adalah karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Sempurna hikmahnya artinya apa Allah Maha Mengetahui Siapa Yang Pantas mendapatkan karunia tersebut<br><br>maka usahakan untuk apa memantaskan diri kita sungguh-sungguh belajar sungguh-sungguh mengikuti pemahaman para sahabat dan Allah Hakim Hakim itu hikmah menempatkan segala suatu tempat para tempatnya tidak mungkin salah kalau orang yang tidak pantas mendapatkannya tidak akan dapat ya jadi selagi kita masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala untuk pantas mendapatkan nikmat ini Maka segeralah kita memperbaiki diri kita selagi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala masih<br><br>memberikan kesempatan kepada kita Mungkin cukup ya yang kita sampaikan dari kelanjutan pembahasan kitab yang sangat bermanfaat ini Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memudahkan kita untuk selalu bisa Istiqomah di atas kebaikan Islam petunjuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan istiqomah di atas jalan menuntut ilmu sampai kita menghadap Allah subhanahu wa ta&#8217;ala pada hari kiamat nanti mudah-mudahan apa yang kita bahas yang kita kaji bermanfaat Sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang Antum ingin sampaikan silahkan<br><br>Barakallah fiikum Bagaimana cara kita cara atau kiat menjaga agar Iman ini selalu terjaga kokoh terlebih di zaman fitnah yang penuh tipu daya di dunia ini ya Barakallah fiikum pertanyaan yang baik sekali sudah kita bahas dan menjadi ayat yang merupakan dasar pembahasan di kitab ini<br><br>firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala di surat Ibrahim Matan pohon yang baik perumpamaan kalimat-kalimat yang baik yaitu kalimat Iman kalimat ikhlas kalimat cinta kepada Islam Ya seperti pohon yang baik yakni pohon kurma Ya seperti pohon yang baik yang akarnya menancap kuat ke dalam tanah dan cabang-cabang yang menjulang ke langit yang pohon ini mengeluarkan buah-buahannya setiap saat dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala ini cara untuk menjaga Iman agar selalu kokoh yakni Istiqomah ini adalah buah salah satu<br><br>buah yang manis dari pohon iman tersebut Ya pastinya semua kebaikan Kalau kita tanyakan kiat kebaikan cara pasti yang pertama adalah berdoa dan meminta kepada Allah Karena semua kebaikan ada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala kemudian sebabnya ya harus melalui proses seperti yang disebutkan di dalam ayat tadi pohon tidak akan berbuah kalau tidak dimulai dengan proses yakni memilih bibitnya menanamnya dengan baik mengairinya menghilangkan tumbuhan-tumbuhan pengganggu baru akan berbuah Nah inilah yang kadang-kadang<br><br>orang salah pahami ketika dia bertanya Ustadz Bagaimana caranya melaksanakan salat bisa khusyuk Bagaimana caranya kita beramal bisa ikhlas ya Ini bukan dengan satu penjelasan kita sekedar ingin langsung lantas kita menjadi orang yang bisa beramal dengan ikhlas salat dengan khusyuk langsung bisa merasakan nikmatnya ibadah ini harus dengan proses kayak tadi pohon ditanam ya bagaimana pohon ini supaya menjadi kokoh Apakah ketika dia masih kecil sudah bisa bertahan ketika menghadapi terpaan angin yang kuat kan tidak dia butuh tumbuh dulu butuh<br><br>menjadi besar sehingga dia kokoh ketika menghadapi terjangan berbagai macam coba Jadi ada prosesnya coba yang kita katakan tadi selama terus kita berdoa kepada Allah kita belajar kita memperbaiki diri Insya Allah dengan izin Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan rahmatnya Yang Maha luas dan dengan Dia Maha Mengetahui kekurangan-kekurangan kita selama kita berusaha mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menolong kita membimbing kita untuk menghadapi cobaan-cobaan tersebut agar kita selamat di dunia dan di akhirat nanti Nah jadi<br><br>Intinya kita tetap belajar tetap mengusahakan sebab-sebabnya baca Alquran dan renungkan isinya nanti akan ada pembahasan tersendiri di bab setelah bab yang pertama ini di kitab ini tentang perkara-perkara yang menjadi sebab tumbuhnya iman yang menguatkan pertumbuhan pohon iman di hati kita insya Allah kita akan terus membahasnya di kajian kita ini Barakallah Bagaimana keadaan dan sikap Salafus Shalih pada saat menentukan calon pemimpin di suatu negeri Sikap mereka yang disebutkan di sunnah para Khulafaur Rasyidin ya<br><br>menentukan pemimpin itu bisa dengan cara SD kelas pemimpin yang sebelumnya menunjuk orang yang diketahuinya memiliki agama yang baik kemudian kecakapan dalam hal memimpin itu diperbolehkan atau ada Majelis Syuro yang terdiri dari orang-orang yang berilmu orang-orang yang mengetahui tentang sifat-sifat pemimpin yang memang bisa untuk memimpin inilah yang Majelis Syuro yang akan memilihnya Jadi bukan melibatkan orang-orang yang jahil orang-orang yang tidak tahu apa-apa kemudian mereka semua disuruh memilih ini yang tidak dilakukan<br><br>di zaman para Salafus Saleh yang jelas kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala dan memperbaiki diri ya karena kaidah yang disebutkan oleh para ulama karena alaikum sebagaimana keadaanmu begitulah keadaan pemimpinmu yakni kita memperbaiki diri yang ini dengan sebab kita memperbaiki diri Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menjadikan kebaikan bagi para pemimpin kita Oleh karena itu tidak disyariatkan di dalam Islam mencela pemimpin atau mengkritik terang-terangan di depan mimbar karena ini akan semakin memperburuk keadaan<br><br>memperburuk keadaan jadi kondisi yang ada saat ini adalah karena keadaan kita maka kalau kita ingin berubah hendaknya kita merubah keadaan kita Innallaha la yughoyyiru Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah keadaan diri mereka sendiri bagaimana cara menyelaraskan adab dan ilmu agar bisa berbuah meningkatkan keimanan kita pertama selalu berdoa kepada Allah berdoa dengan sungguh-sungguh meminta agar kita dimudahkan mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang kedua<br><br>belajar ilmu Kalau benar ilmu itu membimbing kita ilmu itu punya kekuatan mengarahkan hati kalau kita belajarnya benar Kenapa di dalam Alquran ilmu selalu disifati dengan kata-kata Sulton Allah tidak untuk yang Allah tidak turunkan keterangan tentang yaitu ilmu yadzina kami akan masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut karena mereka melakukan perbuatan Syirik yang Allah tidak turunkan Sultan ya ini ilmu tentangnya tidak turunkan dalil tentangnya kata sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallah kata-kata Sultan di dalam Alquran<br><br>maka artinya adalah hujjah ilmu agama sekarang secara bahasa arti Sulton apa Sultan itu ya pemerintah penguasa dari kata-kata salah tohta yakni punya kekuasaan kemampuan menundukkan punya kemampuan menguasai nah ilmu ketika disebut dengan kata-kata sultan menunjukkan ilmu itu bisa membimbing kita punya kekuatan ilmu itu jadi kalau kita belajarnya benar sesuai dengan pemahaman Salaf kita sungguh-sungguh kita niat kita ikhlaskan niat kita maka ilmu akan membimbing kita tadi kita Terangkan para ulama salah ya kan ilmu membawa mereka<br><br>sehingga merasakan hakikat manisnya Iman nikmatnya berislam ilmu membimbing mereka untuk ikhlas jadi ilmu itu mengarahkan kita kalau kita benar dalam menuntutnya Apakah ada korelasinya antara iman dan ujian harta yang dirasakan seseorang bila hartanya lagi berkurang maka tanda iman kita bermasalah atau seperti apa menyikapi ujian harta yang kekurangan tanpa menurunkan buah iman yang ada korelasinya itu adalah justru ketika kita terpengaruh ketika harta kita berkurang ibadah kita berkurang harta kita berkurang kita bersedih ini<br><br>justru menunjukkan iman yang bermasalah sekarang kalau seandainya ukurannya hartanya berkurang maka tanda imannya bermasalah ya ini justru tidak benar para sahabat radhiyallahu ta&#8217;ala anhum ajma&#8217;in bahkan pengikut para nabi para nabi Alaihi Wasallam mayoritas orang-orang miskin semua mayoritas ya disebutkan dalam Shahih Bukhari ayat baru apakah yang mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mayoritasnya orang-orang kaya atau orang-orang yang lemah lemah ekonomi lemah dari segi kedudukan jawabannya orang-orang yang lemah<br><br>dijawab hukum memang merekalah pengikut para rasul Alaihi Wasallam jadi para nabi dan rasul dari yang pertama sampai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mayoritas pengikutnya orang-orang miskin justru mereka yang paling kuat imannya paling sempurna imannya ya Ini bukan berarti orang kaya tercela tapi orang-orang kaya itu lebih banyak yang susah untuk mengikuti dakwah para nabi dan para rasul karena apa mereka mempertahankan kekuasaannya mereka punya beban kalau dia mengikuti berarti dia tidak bisa menjadi orang<br><br>yang ditokohkan karena dia harus mengikuti orang lain begitu Adapun orang-orang miskin tidak punya beban akhirnya mereka muda untuk diajak kepada kebenaran meskipun tentu masing-masing punya ujian orang-orang kaya juga banyak yang Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berikan kemuliaan kalau dia bersyukur memanfaatkan hartanya di jalan kebaikan cuman kalau hubungannya dengan masalah berkurang atau bertambahnya harta ini tidak tidak ada hubungannya dengan iman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala kadang memberikan seseorang kelebihan Allah<br><br>ingin memuliakan dia dengan Allah bimbing dia untuk bersyukur memanfaatkan hartanya dalam Jalan kebaikan kadang-kadang Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memberikan dia kekurangan atau kesempitan rezeki karena Allah ingin menyempurnakan kesabarannya Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala ingin menghindarkan dia dari fitnah fitnah harta nah ada ungkapan bahwa Ibadah harus dipaksakan begitupun kemaksiatan harus dipaksakan juga dihindari hubungan dengan keikhlasan dalam beribadah Apakah Ungkapan tersebut dibenarkan jika level beribadah kita masih<br><br>ditingkatkan mencari pahala Apakah itu juga dibenarkan Ibadah harus dipaksakan kemaksiatan juga harus dipaksakan untuk dihindari maksudnya ibadah itu harus dipaksakan sebagaimana manusia juga kita harus berusaha menghindarinya pertama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menyebutkan perintah itu beliau gandengkan dengan kemampuan beda kalau menghindari maksiat karena menghindari maksiat pasti semua orang mampu karena dia tidak jangan lakukan sekarang Jangan melakukan Jangan pergi ini kan semua orang mampu tinggal di<br><br>rumah sudah itu caranya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ketika aku melarang kalian dari sesuatu maka Tinggalkanlah dan ketika Aku perintahkan kalian melakukan sesuatu maka lakukanlah sesuai kemampuan karena berbuat ada orang yang mampu ada yang tidak tapi kalau meninggalkan semua orang mampu ya Siapa yang mengatakan saya tidak mau meninggalkan maksiat Siapa yang tidak mampu tinggal di rumah jangan pergi ke tempat tersebut selesai sudah ya kan Jangan lakukan Jadi kalau meninggalkan sesuatu Semua orang bisa<br><br>karena dia tinggal menahan dirinya Jangan melakukan hal tersebut beda kalau berbuat orang yang berjihad Tidak semua orang bisa ya kan karena ini butuh keterampilan butuh kekuatan tenaga dan seterusnya orang yang melaksanakan salat saja kalau sakit dia tidak bisa maka diperintahkan dia untuk salat duduk misalnya atau bahkan surat berbaring karena ada kemampuan di sini tapi kalau meninggalkan itu rata-rata orang mampu untuk melakukannya baik pertanyaan dari yang disebutkan di sini ibadah dipaksakan itu berhubungan dengan masalah proses<br><br>awal-awal kita memperbaiki diri ya memang harus dipaksakan Karena bagaimanapun orang yang sakit ketika dia ingin sembuh dipaksa untuk minum obat dipaksa dia untuk tetap makan makanan yang bergizi meskipun dia merasa pahit kalau sudah sembuh baru dia akan merasakan makanan tersebut nikmat jadi ini sama dengan kalau kita ditanya ya kalau kita ditanya Apakah mengusahakan perbaikan iman itu berat atau muda karena apa nafsu belum lagi pengaruh lingkungan banyak ada yang mengatakan mudah dua-duanya Benar jawabannya yang mengatakan mudah<br><br>dia kembali kepada asal ya ayat yang tadi kita baca walaupun Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman sungguh kami telah memudahkan Alquran Apakah ada orang yang mau mempelajarinya kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesulitan bagimu jadi asalnya Allah mudahkan hal tersebut dan tidak mungkin anugerah yang paling besar yaitu Iman justru Allah persulit bagi hamba-hamba yang ingin mereka sekarang Allah itu maha pemurah atau maha sempit rahmatnya Maha Pemurah Iya kan termasuk konsekuensi Allah Maha Pemurah dia akan memudahkan<br><br>kebaikan-kebaikan di dalam Islam tapi yang menjadi berat karena apa dan terbukti banyak orang-orang yang belum meraihnya Ini yang menjadi pertimbangan berat jadi hukum asalnya ibadah itu harusnya tidak perlu dipaksakan tapi bagi orang yang belum meraih kesempurnaan iman maka dia perlu memaksakan di awal-awalnya dalam proses untuk perbaikan dirinya dalam proses untuk menundukkan hawa nafsunya makanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Surga itu dilingkupi dengan hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsu maka kita harus<br><br>tundukkan kita harus paksa sementara neraka diliputi dengan dilingkupi dengan hal-hal yang disukai oleh syahwat manusia maka ini yang harus kita tinggalkan Apakah batal wudhu Seorang Istri ketika menyentuh bersentuhan kulit dengan suami atau anak laki-laki mereka jawabannya tidak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan mencium istri beliau Sebelum melaksanakan salat dan beliau tidak berwudhu lagi dan itu hadisnya Shahih ya sampai pun bersentuhan dengan orang yang bukan mahramnya itu menurut pendapat yang terkuat tidak membatalkan wudhu<br><br>tapi jelas kalau sengaja berdusta hukumnya tapi tidak membatalkan wudhu karena yang disebutkan di dalam Alquran menyentuh tapi berhubungan intim itu yang membatalkan wudhu jelas ya Jadi bukan menyentuh yang disebutkan di dalam ayat Alquran maknanya tapi melakukan hubungan suami istri itu yang jelas membatalkan membatalkan wudhu baik cukup sampai disini Insyaallah kajian kita semoga bermanfaat mohon maaf atas segala yang salah dan kurang kita akhiri Shallallahu Alaihi Wasallam<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4079","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T07:53:01+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/\",\"name\":\"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T07:53:01+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T07:53:01+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-5\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647-5\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T07:53:01+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/","name":"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T07:53:01+00:00","dateModified":"2026-07-13T07:53:01+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/pokok-pohon-iman-lanjutan-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-5\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4079"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4079"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4079\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4080,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4079\/revisions\/4080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}