{"id":4094,"date":"2026-07-13T14:56:24","date_gmt":"2026-07-13T07:56:24","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4094"},"modified":"2026-07-13T14:56:24","modified_gmt":"2026-07-13T07:56:24","slug":"penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/","title":{"rendered":"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"\ud83d\udd34[LIVE] Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/p8sd7K6sPNA?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a&#8217;malina yahdihillahu fala mudillalah. Wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br><br>Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah waqa minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba yauhalladina amanuta wam yutiillaha waasulahu faq faza fauzan adima sholli wasallim wabarik ala nabina muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin yaumiddin amma ba&#8217;du alhamd Alhamdulillah maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin hafidakumullah.<br><br>Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Kita memuji Allah subhanahu wa taala dan mengagungkannya, menyanjungnya atas semua limpahan taufik yang dimudahkannya bagi kita. termasuk tentu saja nikmat taufik, kemudahan dalam menuntut ilmu, kemudahan dalam mengkaji, selalu mengkaji agama Allah Subhanahu wa taala untuk mempelajari kandungan dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang tentu ini merupakan<br><br>sumber petunjuk kebaikan yang paling utama. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala di pagi hari ini kita dipertemukan kembali dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Al-Ikhlas yang mubarak ini. Di lanjutan kajian rutin kita membahas kitab yang sangat bermanfaat At-Taudihu Wal Bayanu Lisyajaril iman.<br><br>Penjelasan tentang pohon iman. tulisan dari As Syekh al-Allamah almufassir As Syekh Abdurrahman bin Nasir Ass&#8217;adi rahimahullahu taala. Alhamdulillah [berdehem] kita membaca mengkaji kitab yang agung ini tentu dengan niat untuk memperbaiki iman kita. Karena kita tahu iman adalah perkara atau karunia Allah yang paling mulia, yang paling agung yang diberikan kepada seorang hamba dalam kehidupan di dunia.<br><br>Karena inilah tentu yang menjadi sebab ya keselamatan dan kebahagiaan hidup kita di dunia dan di akhirat nanti. Kitab Taih wal Bayan Lisyajar Iman atau kitab ini menjelaskan tentang keimanan, sebab-sebab untuk menguatkan dan menumbuhkannya. Dan juga yang tidak kalah pentingnya [berdehem] di bagian akhir yaitu buah atau faedah manfaat dari keimanan.<br><br>Jika seseorang telah berusaha memperbaikinya ya semua kebaikan dunia dan akhirat kita akan kaji nanti insyaallah ini merupakan buah manis dari keimanan yang benar. Makanya kita ketahui ya pembahasan dalam kitab ini kan mengambil dalil dari firman Allah Subhanahu wa taala di surah Ibrahim alaihissalam. Azubillahiminasyaitanirrajim.<br><br>Alam taro kaifaallahu matsalan kalimatan thyibatan kasyajaratin thyibah. Kasyajarin thyibatin asluha tsabitun wa&#8217;uha fisama. Tuti ukulaha kulinin biidniha. Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah Subhanahu wa taala membuat perumpamaan dari kalimat thayibah, kalimat yang baik, kalimat yang indah, yakni kalimat iman, kalimat takwa, kalimat mengikhlaskan agama untuk Allah, mencari keridaannya.<br><br>ini diperumpamakan seperti pohon yang baik ya, yang mana pohon yang baik ini punya ciri-ciri asluha tsabit akarnya menancap kuat ke dalam tanah dan cabang-cabangnya, batangnya, cabang-cabangnya atau rantingnya menjulang ke langit. Pohon ini yang pertumbuhannya baik seperti ini, dia akan membuahkan mengeluarkan buah-buah yang indah dan manis setiap saat dengan izin Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Jadi mengusahakan pertumbuhan pohon ini dengan baik itu otomatis akan mengeluarkan buah yang manis ya. Buah yang manis berupa ikhlas dalam menjalankan agama, khusyuk dalam salat, berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah, selalu merasakan ketenangan ketika berzikir, beribadah kepada Allah, dan buah-buah yang lainnya.<br><br>Ya, tentu termasuk penjagaan dari Allah, perlindungan dari segala keburukan, kemudahan, taufik dalam melakukan kebaikan [berdehem] ya hidayah. Taufik yang sempurna dari Allah Subhanahu wa taala akan didapatkan sebagai buah dari pohon yang tumbuhnya benar di dalam hati kita. Oleh karena itu, Jemaah sekalian hafidakumullah, ini menunjukkan kepada kita bahwa mengusahakan pertumbuhan pohon iman di hati sebagaimana yang disebutkan di ayat ini itu perkara yang yang penting dan wajib.<br><br>Bahkan termasuk yang paling penting dan paling wajib kita usahakan dalam kehidupan kita. Karena bagaimana mungkin [mendengus] ya kita mengharapkan keselamatan ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti? Kalau iman kita dalam masalah, yakni tidak terasa buahnya, tidak terlihat manfaatnya, bagaimana kita akan mengharapkan keselamatan ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti? Ya, termasuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala dan tidak menyekutukannya.<br><br>Ini kan termasuk buah yang paling manis dari pohon iman, mengikhlaskan agama lah. Bagaimana kita akan bisa mengusahakan kebaikan-kebaikan besar ini kalau tidak dimulai dengan memperbaiki hati kita kemudian mengupayakan benarnya pertumbuhan pohon iman di hati kita. Jadi maksudnya kita bersabar, kita terus belajar dan memperbaiki perkara yang paling penting ini supaya amal-amal kita bermanfaat, amal-amal kita tidak gugur [berdehem] karena rusaknya iman di hati.<br><br>Naudubillahi minzalik. Allah azza wa jalla berfirman, &#8220;Wam yakfur bil imani faq habit amaluhu wahua fil akirati minal khasirin. Barang siapa yang mengingkari keimanan, maka sungguh telah gugur amal-amal perbuatannya, binasa amal-amal perbuatannya, dan di akhirat nanti dia termasuk orang-orang yang merugi.&#8221; Jadi kebaikan dalam agama ini adalah kebaikan yang sempurna [berdehem] ya.<br><br>Cuman kita yang kurang maksimal dalam memahami kemudian mempraktikkannya. Termasuk dalam hal-hal yang berhubungan dengan mengusahakan pertumbuhan pohon iman di hati, menguat menguatkan keimanan di hati kita. Ya, oleh karena itu sekali lagi pelajaran tentang keimanan yang disebutkan di dalam kitab ini adalah pelajaran yang sangat bermanfaat, yang sangat berharga untuk kita sabar mengkajinya.<br><br>Karena ini berhubungan dengan perbaikan sesuatu yang paling penting dalam agama kita. sesuatu yang merupakan sebab utama Allah Subhanahu wa taala menerima dan meridai seorang hamba ketika menghadapnya pada hari kiamat nanti. Oleh karena itu, sekali lagi kita berusaha bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala agar dimudahkan memahami keimanan dengan benar.<br><br>Ya, dulu para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain, keberadaan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di kalangan mereka merupakan seb sebaik-baik sebab yang menguatkan keimanan. Ya, sehingga disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an di bagian akhir-akhir surah Ali Imran ucapan dari [berdehem] orang-orang yang saleh ya para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<br><br>Mereka yang mengatakan rabbana innana samna munadi yunadi lil imani aninuikum anaminuikum faamna. [mendengus] Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengarkan munadian seorang penyeru yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Yunadi lil iman yang mengajak kami kepada iman. Dia mengatakan aminu birabbikum. Berimanlah kepada Rabbmu.<br><br>Maka kami pun beriman. Nabi sallallahu alaihi wasallam tentu sebaik-baik teladan dalam keimanan. Ucapan beliau, perbuatan beliau, akhlak beliau yang mulia. merupakan pengajak keimanan kepada para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Sehingga ketika kita mempelajari petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam, ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, hadis-hadis yang sahih dari beliau sallallahu alaihi wasallam ini merupakan sebaik-baik sebab untuk mengajak kita kepada keimanan.<br><br>yakni untuk menguatkan dan membenarkan pertumbuhan pohon iman di hati kita dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Jadi ini semua lengkap dalam agama. Tinggal bagaimana kita mengkajinya, memahaminya, kemudian berusaha mempraktikkannya dengan selalu meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa taala. Tib.<br><br>Oleh karena itu ya, jadi [berdehem] ini menjadikan kita bersungguh-sungguh, kita selalu bersandar kepada karunia Allah Subhanahu wa taala yang luas. Dan kita yakin Allah Subhanahu wa taala jawadun karim, maha dermawan, maha pemurah. Tentu karunia yang besar ini akan Allah mudahkan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mengusahakan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencarinya.<br><br>Barakallah fikum. Tib jemaah sekalian hafidakumullah. Saat ini kita masih melanjutkan pembahasan di alumurullati fiikril umurillati yustamadu minhal iman. Sebab-sebab atau perkara-perkara merupakan sebab yang menumbuhkan keimanan. Ya, perkara-perkara yang merupakan sebab yang menumbuhkan atau menguatkan keimanan.<br><br>Kita kemarin sampai di poin yang ketiga ya. Yang kedua adalah membaca Al-Qur&#8217;an dengan [berdehem] merenungkan isinya. Kemudian yang ketiga yaitu mengenal hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kemudian dilanjutkan penjelasan oleh Syekh di sini. [mendengus] Beliau berkata, [berdehem] &#8220;Tib fal mutadabbiru lil qurani fattadabburu lil qurani min a&#8217;dom turuki wal wasailil jalibati.<br><br>lil imani wal muqawiyathu. Merenungkan Al-Qur&#8217;an ketika membaca dengan tadabur, dengan penghayatan memahami isinya. ini termasuk sebesar-besar ya jalan termasuk jalan yang paling agung, yang paling utama dan sarana yang paling besar untuk menguatkan, untuk menumbuhkan dan menguatkan keimanan di hati. Al-Qur&#8217;an adalah sebaik-baik petunjuk.<br><br>Al-Qur&#8217;an adalah firman Allah. yang tentu Allah menurunkannya dengan ilmunya yang maha tinggi lagi maha sempurna. Ya, bahwa inilah yang paling dibutuhkan oleh manusia untuk perbaikan hati mereka, untuk menguatkan keimanan di hati mereka. Sudah berkali-kali kita sebutkan Al-Qur&#8217;an diturunkan termasuk hikmahnya yang paling utama adalah untuk menjadi syifaul lima fisur ya.<br><br>Ahmatul lil mukminin. Wahai orang-orang yang beriman, sungguh telah datang kepadamu mauidah, nasihat dari Allah, nasihat dari Rabbmu di dalam Al-Qur&#8217;an dan obat bagi penyakit hatimu serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Penyakit hati yang paling besar adalah iman yang lemah, hati yang tertutup sehingga tidak bisa menerima kebenaran.<br><br>Al-Qur&#8217;an diturunkan untuk memperbaiki itu sekaligus mengisinya dengan kebaikan. Jadi, semua petunjuk Al-Qur&#8217;an adalah sebaik-baik petunjuk. Semua kebaikan ada di dalam Al-Qur&#8217;an. Akan tetapi syaratnya agar kita bisa menggali kebaikan tersebut ya sudah kita pernah jelaskan Ibnu Qayyim rahimahullah taala menyebutkan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Ightatul Lafan walakinna dalalika maukufun ala fahmihi wafatil muradi minhu.<br><br>Tapi kebaikan dan keberkahan Al-Qur&#8217;an ini kita dapatkan maukuf tergantung ya. atau syaratnya adalah memahami kandungan isinya dan mengetahui maknanya. Jadi paham dan mengerti kandungan isi Al-Qur&#8217;an. Jadi baca Al-Qur&#8217;an itu bukan sekedar untuk banyak-banyakan, tapi harus ada yang tertinggal. Ya Allah subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Kitabun anzalnahu ilaika mubarok liyadabbaru ayatihi waliatakaro ulul albab.<br><br>&#8221; Kitab Al-Qur&#8217;an yang kami turunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Mubarokun, kitab yang penuh dengan kebaikan. Kebaikannya berlimpah. Semua kebaikan yang kita butuhkan ada di dalamnya. Agar manusia merenungkan isinya. dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya.<br><br>Jadi syaratnya untuk mengambil keberkahan Al-Qur&#8217;an adalah membaca dengan tadabur berdasarkan ayat ini. Membaca dengan perenungan. Jadi janganlah membaca Al-Qur&#8217;an hanya sekedar untuk mengkhatamkan, mengejar untuk menyelesaikan sekian banyak kalau tidak disertai dengan perenungan terhadap maknanya. memahami kandungan isinya.<br><br>Tib qal taala. Allah subhanahu wa taala berfirman ya dibawakan tadi ayat yang tadi kita bacakan surah Sad ayat ke-29. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Kitabun anzalnahu ilaika mubarok liyadabbaru ayatihi. Waliatadakaro ulul albab. Kitab Al-Qur&#8217;an yang kami turunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mubarakun, penuh dengan keberkahan agar mereka merenungkan isinya ya mentadaburi isinya, mentadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya.<br><br>Al-Qur&#8217;an adalah nasihat, sebaik-baik peringatan. Bagaimana mungkin kita bisa mengambil pelajaran darinya kalau kita hanya baca hurufnya kemudian dilewati? [berdehem] Ya, kita sudah pernah sebutkan contoh yang disebutkan oleh para ulama yang namanya obat. Bagaimana mungkin akan bisa memberikan kesembuhan dengan izin Allah kalau obat tersebut tidak menyentuh tempat sakitnya? [mendengus] Ya, kalau penyakit ada di hati, maka tentu menyembuhkannya adalah dengan cara memberikan obat tersebut di hati kita.<br><br>Inilah sebabnya Al-Qur&#8217;an dibaca dengan dengan pemahaman itu yang merupakan sebaik-baik penyembuh bagi obat, bagi penyakit di hati manusia, yakni penyakit lemah iman, penyakit [berdehem] kurangnya keyakinan, penyakit cinta dunia yang berlebihan, kurang ikhlas, tidak khusyuk, dan seterusnya. Obatnya adalah membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya.<br><br>Yang ini harus benar-benar ditempatkan pada tempat yang sakit tersebut. Barakallahu fikum. Nah, di sini Syekh menjelaskan rahimahullahu taala, fastikhroju barokatil Quran allati min ahamiha husul iman sabiluhu wa thquhu tadabburu ayatihi wa taammuluha. Perhatikan ayat ini di surah Sad tadi kata beliau, maka mengeluarkan keberkahan Al-Qur&#8217;an.<br><br>Keberkahan kita sudah sebutkan artinya alkhairul katsir. Kebaikan yang berlimpah, kebaikan yang banyak. Mengeluarkan kebaikan-kebaikan Al-Qur&#8217;an, keberkahannya. Yang mana termasuk yang paling penting di antara keberkahan Al-Qur&#8217;an adalah meraih keimanan, menguatkan iman. Ya, tidak ada penyakit yang melebihi keburukannya yang melebihi lemah iman, penyakit tidak khusyuk, penyakit tidak ikhlas, semua penyakit hati disebabkan karena hati yang tertutup.<br><br>Kan sudah pernah kita sebutkan penjelasan dari para ulama salaf. Maa abdun biuqubatin a&#8217;dom min qosawatil qbi. Ini pernyataan imam dari Imam Malik bin Dinar rahimahullahu taala. tidaklah seorang hamba ditimpa satu musibah di dunia ini yang lebih besar dari hati yang tertutup. Penyakit hati yang paling besar yang selalu diusahakan oleh setan iblis laknatullah alaihi untuk menyerang manusia dari arah ini karena menjadi sebab tertutup baginya pintu-pintu kebaikan.<br><br>Ya Allah maha mengetahui hamba-hambanya membutuhkan perkara ini lebih besar dibandingkan kesembuhan penyakit yang lain. Makanya Allah Subhanahu wa taala turunkan sebaik-baik petunjuknya, sebaik-baik anugerahnya. Ya, mukjizat yang paling utama bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam, Al-Qur&#8217;an diturunkan untuk tujuan yang paling besar ini yaitu menyembuhkan penyakit hati.<br><br>Ya, yang mana penyakit hati yang paling besar adalah kelemahan iman, kurangnya keyakinan tadi. Maka Al-Qur&#8217;an diturunkan ya keberkahannya bisa kita keluarkan yaitu sabiluhu. Jalannya atau caranya adalah dengan membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan ya mentadaburi, merenungkan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan memahami kandungan maknanya.<br><br>Ya. Jadi sudah kita sebutkan kebaikan dalam agama ini sudah sempurna. Cuman kitanya sendiri apakah mau menggali kebaikan tersebut dengan cara yang benar? [berdehem] Sudah kita pernah terangkan bagaimana metode para salaf dalam belajar Al-Qur&#8217;an. Mereka tidak buru-buru. Jangan terpengaruh dan mengikuti apa yang diilakukan oleh orang-orang belakangan.<br><br>Ya, yang menjadikan Al-Qur&#8217;an hanya sekedar bacaan yang indah di lisan, tapi tidak ada perenungan terhadap kandungan maknanya. Meskipun jelas kita mengakui bacaan Al-Qur&#8217;an yang indah ini merupakan perkara yang dianjurkan di dalam Islam. Menghafal Al-Qur&#8217;an dengan hafalan yang baik jelas ini keutamaannya besar.<br><br>Tetapi ini adalah sarana dan sarana tersebut akan menjadi indah kalau mencapai tujuannya. Ya, bacaan Al-Qur&#8217;an yang indah, hafalan yang kuat, bacaan yang benar tentu dengan tajwid dan makhraj yang benar. Kemudian dipahami kandungan isinya. Maka jadilah Al-Qur&#8217;an benar-benar sesuai dengan fungsi diturunkannya.<br><br>Inna hadal qurana yahdi lillati hiya aqwam. Sesungguhnya Al-Qur&#8217;an ini benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Nam. Jadi ini cara untuk mengeluarkan keberkahan Al-Qur&#8217;an Tib kama dukiro anna tadabburah yukul jahida min an juhudihi waamnaul madi aladini minaihi qala taala afalam yadabbarul Sebagaimana yang disebutkan atau dijelaskan oleh para ulama bahwa mentadaburi ya merenungkan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an ini akan menghentikan [berdehem] seorang yang menolaknya dari penolakannya.<br><br>yakni menyadarkan orang yang menyimpang dari penyimpangannya akan mencegah orang yang melampai batas terhadap agama dari sikap melampai batasnya. Ya, ini kita baca kisah-kisah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang ketika mereka mendengarkan ayat Al-Qur&#8217;an kemudian sadar, bertobat, kembali kepada Allah subhanahu wa taala.<br><br>Ini adalah sebaik-baik petunjuk yang Allah turunkan kepada manusia. Allah Subhanahu wa taala berfirman di surat Almukminun ayat ke-68. Afalam yadabbarul qula? Apakah mereka belum merenungkan makna Al-Qur&#8217;an sehingga menyadarkan mereka dari kesalahan? Ya. Menjadikan mereka dimudahkan rujuk kepada kebenaran. Jadi jemaah sekalian, ikhwani wa akhwati fiddin hafidakumullah, siapa saja yang merasakan ada satu keburukan yang menimpa dirinya, ya mungkin dia merasakan imannya sedang lemah atau mungkin dia merasakan kurang tenang<br><br>dalam hidupnya, banyak masalah yang dihadapinya, maka segera kembali kepada Allah Subhanahu wa taala [berdehem] dan bacalah Al-Qur&#8217;an. renungkan isinya semampu yang bisa kita lakukan. Yakni sekedar kita baca ayat-ayat yang pendek, maka ini menjadi sebaik-baik sebab yang akan menentramkan hati kita, meringankan masalah yang kita hadapi, dan menenangkan pikiran kita dengan izin Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Karena Al-Qur&#8217;an ini adalah sebab yang akan menghubungkan hati kita dengan Allah Subhanahu wa taala. Kan sudah pernah kita sebutkan pernyataan dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu taala anhu yang mensifati Al-Qur&#8217;an sebagai apa? Hablullahil matin. Al-Qur&#8217;anu hablullahil mamdudu bainasama wal ard. Al-Qur&#8217;an itu adalah tali Allah yang dibentangkan antara langit dan bumi.<br><br>Membaca firman Allah ini bukan ucapan manusia biasa ya. [berdehem] Ini adalah firman Allah Subhanahu wa taala yang merupakan sebaik-baik ucapan secara mutlak. Maka ini sebab yang akan menghubungkan hati kita dengan Allah Subhanahu wa taala kalau kita selalu membacanya kemudian berusaha memahami kandungan isinya yang akan menjadi sebaik-baik sebab dan petunjuk untuk kebaikan lahir dan batin kita. Namam. Barakallahu fikum.<br><br>[tertawa] [mendengus] Ai makna ayat ini ya makna firman Allah di surat almukminun tadi. Falau tadabbaruhu haqqo tadabburih lamanaahum mimma hum alaihi minal kufri wat takzib. Artinya seandainya mereka orang-orang kafir itu mau merenungkan makna Al-Qur&#8217;an dan dengan sebaik-baik perenungan maka pasti itu akan mencegah mereka dari perbuatan yang mereka lakukan ya kekufuran dan mendustakan petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Jadi selama orang itu masih ada kebaikan di hatinya, ketika dia membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya, dia akan dapatkan kemuliaan ini. Ya, tentu orang-orang yang telah tertutup hatinya seperti orang-orang munafik, naudubillah minzalik yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an. Sebab utama juga karena mereka tidak merenungkan makna Al-Qur&#8217;an sehingga hatinya selalu merana, hatinya semakin kotor, tidak pernah dibersihkan, maka lama-kelamaan tidak ada celah lagi untuk masuk kebaikan tersebut.<br><br>Sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an tentang orang-orang munafik. Afala yatadabbarunal qurana am ala qulubin aqfaluha. Apakah mereka tidak merenungkan? makna Al-Qur&#8217;an atau memang hati-hati mereka telah terkunci, telah tertutup. Nauzubillah minzalik. Ya, maka selama masih ada cela kebaikan yang bisa masuk, maka sebaik-baik yang akan masuk dan membersihkan kotoran di dalamnya adalah membaca Al-Qur&#8217;an dengan merenungkannya.<br><br>Tentu dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala untuk bisa melakukan kebaikan yang besar ini dengan benar. Nah, tib wa ajab lahumul imana wattibaa man jaa bihi. Dan kalau mereka membaca Al-Qur&#8217;an dengan sebenar-benar perenungan ya itu akan menjadikan bagi mereka menyebabkan mereka akan beriman kepada Al-Qur&#8217;an dan mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang membawa petunjuk Al-Qur&#8217;an ini. Itu makna ayat tadi.<br><br>Jadi [berdehem] perenungan terhadap Al-Qur&#8217;an adalah menjadi yang merupakan sebab utama orang-orang kafir mendustakan petunjuk di dalamnya karena mereka tidak merenungkannya. Orang-orang munafik tertutup hatinya. Maka orang-orang yang beriman ya tentu saja tidak pantas mengikuti keburukan yang ada pada diri mereka.<br><br>Al-Qur&#8217;an ini diturunkan untuk kebaikan besar yang Allah Subhanahu wa taala inginkan bagi hamba-hambnya. Apalagi sudah pernah kita sebutkan Al-Qur&#8217;an Allah mudahkan untuk kita mengambil pelajaran darinya. Beberapa ayat yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an di surah Al-Qamar ya. Ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, [tertawa] &#8220;Ya, walaqad yasarnal qurana lidzikri fahal mudakir.<br><br>&#8221; Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur&#8217;an ini sebagai peringatan, sebagai pelajaran. Apakah ada orang yang mau mengambil nasihat atau pelajaran darinya? Ya, hal min tholibil ilmi fayuanu alaihi. Itu penafsiran para ulama tentang ayat ini. Apakah ada orang yang mau menuntut ilmu Al-Qur&#8217;an dengan sebenar-benarnya kemudian pasti Allah Subhanahu wa taala akan menolongnya.<br><br>Jadi permasalahannya adalah ada pada kita yang kurang bersabar dan kurang sungguh-sungguh mengambil sumber kebaikan ini. [mendengus] Tayib. Waqala taala. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Bal kadzabu lima baladzabu bima lam yuhitu biilmih.&#8221; Di surat Yunus ayat ke-39. Ya. Bahkan mereka mendustakan, akan tetapi mereka mendustakan sesuatu yang mereka belum pahami ilmunya.<br><br>sesuatu yang mereka belum memahaminya dengan benar. Ya. A makna ayat ini. Falau hasahumul ihtu biilmihi lamanaahum minat takzibi waab lahumul iman. Artinya kalau seandainya mereka telah meraih, telah memahami ilmu Al-Qur&#8217;an ini, ilmu tentang kandungan Al-Qur&#8217;an, maka itu akan menghalangi, akan menjauhkan mereka dari sikap mendustakannya dan akan menjadi sebab mereka akan mendapatkan keimanan tersebut.<br><br>Ya, ini jadi contoh ayat-ayat yang dibawakan oleh beliau ya, tentang orang-orang kafir yang kalau seandainya mereka mau membaca Al-Qur&#8217;an dengan benar, mestinya mereka akan dijauhkan dari kekufuran tersebut mendapatkan hidayah Allah Subhanahu wa taala untuk bisa meraih keimanan. Inilah sebab yang ketiga ya. Jadi, beliau ulangi penjelasannya tentang masalah Al-Qur&#8217;an.<br><br>[berdehem] Ya. Kemudian memahami hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam ditambahkan dengan penjelasan ini. Maka tiga perkara ini sekali lagi menunjukkan kepada kita agama Islam ini agama yang sempurna. Petunjuknya sudah ada pada dekat dengan diri kita, tapi kita yang kurang memaksimalikal memaksimalkan manfaatnya.<br><br>Maka berkali-kali kita tekankan mulai sekarang kita harus memperbaiki cara kita membaca Al-Qur&#8217;an [mendengus] agar kita lebih bersabar untuk membaca dengan merenungkan kandungan isinya yang demikian penuh dengan keberkahan. Barakallahu fikum. Tiib. Kemudian perkara yang keempat arrabiah atau alam rabi. Perkara yang keempat.<br><br>sebab-sebab yang menumbuhkan keimanan dan menguatkannya. Kata beliau rahimahullahu taala, wamin turukin wamin turuki mujibatil imani wa asbabihi termasuk sebab yang menguatkan iman termasuk jalan-jalan yang menambah dan sebab yang menguatkan keimanan. Ya. Dan ini termasuk perkara yang penting yaitu makrifatun Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Wa makrifatu ma hua alaihi minal akhlaqil aliyati wal ausofil kamilah. mengenal Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam [berdehem] dan mengenal kemuliaan yang ada pada diri beliau berupa akhlak yang agung dan sifat-sifat yang sempurna yang mulia. yakni mengenal akhlak budi pekerti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang dipuji oleh Allah subhanahu wa taala dalam Al-Qur&#8217;an.<br><br>Wa innaka laa khuluqin adzim. Dan sesungguhnya engkau wahai Rasulullah benar-benar memiliki akhlak yang agung. Ya. Jadi mempelajari sifat-sifat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya orang-orang yang selalu membaca hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, bagaimana beliau ketika bermuamalah dengan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain, apalagi bermuamalah dengan keluarganya, kita akan dapati teladan yang benar-benar nyata.<br><br>Ya. Dan ini tentu akan menjadi perhatian bagi orang-orang yang beriman. Karena inilah caranya menggerakkan hati kita untuk semangat meneladani kebaikan dari hamba Allah Subhanahu wa taala yang paling mulia, rasul-Nya yang paling agung, yaitu nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Beliau menjelaskan, fainaman arofahu haqqol makrifati lam yartab fi sidqihi wasidqi ma jaa bihi minal kitabi wasunati waddinil haq. Sesungguhnya orang yang mengenal Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan benar ya pasti dia tidak akan ragu tentang kebenaran beliau, tentang mulianya akhlak beliau dan kebenaran petunjuk yang beliau bawa ya Al-Qur&#8217;an dan sunah dan agama yang benar ini, agama yang lurus ini.<br><br>Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baik hamba yang mempraktikkan petunjuk Allah Subhanahu wa taala di dalam Al-Qur&#8217;an. [tertawa] Masih ingat pernyataan Aisyah radhiallahu taala anha dalam hadis riwayat Imam Muslim ketika ditanya tentang akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam maka apa kata beliau? Kana khuluquuhu Al-Qur&#8217;an.<br><br>Akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah Al-Qur&#8217;an. yakni yang paling sempurna menegakkan perintah Al-Qur&#8217;an, yang paling menjauhi larangan-larangannya, yang paling menegakkan hukum-hukumnya, yang paling mempraktikkan nasihat-nasihatnya, yang paling sempurna adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Ya. Dan ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, kita sudah tahu sebagian dari para ulama menjelaskan ya contoh teladan yang nyata itu termasuk yang kita baca dari berita-berita atau hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam apalagi dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an tentang para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam ini pengaruhnya bisa lebih kuat daripada sekedar nasihat.<br><br>yang diucapkan. Karena contoh nyata itu ada kecenderungan hati kita untuk mudah meniru contoh yang disampaikan tersebut. Makanya dalam Islam kenapa para ulama menyebutkan bahwa ketika ingin kita ingin menampilkan telak teladan atau karakter yang baik untuk dicontoh oleh misalnya anak-anak kecil yang kita sedang didik ya sampaikan kepada mereka keteladanan yang benar-benar bersumber dari kisah yang nyata, bukan yang dusta.<br><br>Kisah-kisah dalam Al-Qur&#8217;an yang jelas-jelas kebaikannya. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, waquulitu bihi fuada. Semua kisah-kisah yang kami sebutkan kepadamu wahai Rasulullah dari kisah-kisah para nabi ini yang dengan itu kami kuatkan hatimu, yakni kami kuatkan keimanan di hatimu. [berdehem] Kisah-kisah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<br><br>Jadi keteladanan yang [berdehem] pengaruhnya akan sangat bermanfaat karena ada kecenderungan di hati manusia untuk lebih mudah mencontoh. [mendengus] Ya, makanya ini seperti yang diterangkan oleh beliau Syekh Abdurrahman As&#8217;di rahimahullah taala sewaktu menjelaskan di dalam kitab Almuin ala tahsili adabil ilmi wa akhlakil mutaallimin.<br><br>Ya, yakni sebab yang menolong kita untuk mendapatkan akhlak ilmu dan adab-adab penuntut ilmu. Di antara yang beliau sebutkan adalah perkara ini ya, bahwa pengaruh dari teladan yang langsung disampaikan di hadapan kita bisa lebih besar dibandingkan sekedar nasihat yang disampaikan. Karena apa? Ada kecenderungan manusia itu untuk lebih mudah meniru, mencontoh teladan yang nyata.<br><br>Ya, itu termasuk di antara makna sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim. Alarwahu junudun mujannadatun fama taarofa minhaalafa w tanakaro minha ikhtalafa. Jiwa-jiwa manusia itu adalah junudun mujannadah. Junud yakni kayak tentara yang selalu berkumpul, yang selalu berkumpul, yang selalu bersama satu sama lainnya.<br><br>Maka apa saja, siapa saja yang saling mengenal, saling dekat, selalu disebutkan di hadapannya, maka dia akan cenderung alalafa [tertawa] ya lebih dekat, [mendengus] lebih senang meniru atau lebih suka dengan orang tersebut. Wama tanaqaro minha adapun yang tidak dikenal, yang jauh, tidak pernah disebutkan di hadapannya, maka dia pun akan cenderung menyelisihi orang tersebut.<br><br>Ya, sehingga pastinya kalau tokoh-tokoh yang buruk yang sering disebutkan, yang sering ditokohkan disebutkan di depan anak-anak misalnya, maka itulah yang akan ditirunya. Ya, jadi ini termasuk memanfaatkan potensi yang ada pada jiwa kita dengan selalu membaca sejarah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mulia ini.<br><br>Kemudian tentu kisah-kisah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain untuk menumbuhkan semangat kita dalam meneladani hamba-hamba Allah Subhanahu wa taala yang mulia tersebut. Tib. [berdehem] Kama qala taala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala di dalam surah Almukminun ayat 69. [berdehem] Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Am llam ya&#8217;rifu rasulahum fahum lahu munkirun.<br><br>&#8221; Atau apakah mereka belum mengenal? Rasul yang diutus kepada mereka sehingga mereka mengingkarinya. Ya, perhatikan ayat ini. Mereka mengingkari, mereka menolak karena mereka tidak mengenal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Seandainya mereka mengenalnya maka mereka akan mendapati akhlak yang mulia yang menjadi sebab mereka akan membenarkan dan bersemangat mengikuti petunjuk yang beliau bawa alaihialatu wasalam.<br><br>A [berdehem] makrifatuhu tujibu lil abdil mubadar ilal imani mimman lam yukmin wiyadatal imani mimman amana bihi. Arti ayat ini yaitu mengenal Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam ini akan menjadikan seorang hamba bersegera mengimaninya. Yni bagi orang yang belum beriman. Adapun yang sudah beriman akan menambah keimanan, menambah keimanan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan menambah sikap berpegang teguhnya terhadap petunjuk yang beliau bawa.<br><br>Yni kita masih ingat dalam sirah nabawiyah kisah sahabat Abdullah Ibnu Salam radhiallahu taala anhu yang tadinya dia adalah seorang pendeta Yahudi ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah ya karena dia adalah orang yang berilmu memahami kitab Taurat dengan benar maka dia datang menyaksikan Nabi sallallahu alaihi wasallam menyampaikan nasihat ya di depan manusia.<br><br>Dan ketika dia melihatnya langsung dia membenarkan karena melihat wajahnya adalah seorang yang jujur, kemudian akhlaknya yang mulia yang kemudian menjadi sebab beliau kemudian beriman dan masuk Islam. Radhiallahu taala radhiallahu taala anhu wahabati ajmain. Tiib waqala taala han lahum ala tadabburi ahwalir rasuli addiyat lil iman.<br><br>Di ayat yang lain ya, di surat Saba ayat ke-46, Allah Subhanahu wa taala berfirman memotivasi [berdehem] mereka yakni orang-orang yang mendustakan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk merenungkan keadaan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang selalu lalu mengajak kepada keimanan. Allah berfirman, &#8220;Qul innama aidukum biwahidatin an taquumu lillahi matna wa furoda tumma tatafakkaru ma bishoikum min jinnah in hua illa nadziru baina yadai baina yadaizabin syadid Katakanlah wahai Rasulullah kepada<br><br>mereka, &#8220;Ya innama aidukum biwahidah hanyalah saya ingin menyampaikan nasihat kepadamu dengan satu nasihat, yaitu cobalah kalian berdiri untuk merenungkan karena Allah ya. Dua orang atau sendiri-sendiri berdua berdua atau sendiri-sendiri. Kemudian kalian pikirkan ya, tidak ada pada diri sahabat kalian ini yaitu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Kegilaan yang kalian tuduhkan itu tidak lain beliau hanyalah pemberi peringatan bagi kalian di hadapan azab Allah Subhanahu wa taala yang sangat pedih. Ini juga ya menunjukkan kalau mereka merenungkan memikirkan tentang keadaan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan akhlak mulia yang ada pada diri beliau mestinya mereka tidak akan ya tidak akan mendustakan petunjuk yang beliau bawa.<br><br>Waqsama waqsama taala bikamali had rasuli alaihissalam wa akihi waahu akmalu maklukin bihi nun walqalami w yasturun ma anta binikmati bimajnun wa inna laka laajron gir mamnun wa innaka laa khuluqin adim. Bahkan Allah bersumpah di dalam Al-Qur&#8217;an di surah Al-Qalam ayat 1 sampai ke4, Allah bersumpah untuk menyebutkan sempurnanya Rasul Allah yang mulia ini, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Agungnya akhlak beliau dan bahwasanya beliau adalah makhluk yang paling sempurna. Allah menyebutkan ini dengan sumpah ya di awalnya [berdehem] ya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Nun demi qalam, demi pena dan apa yang ditulisnya dan apa yang mereka tulis.&#8221; Ya, ma anta tidaklah engkau wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dengan nikmat dari Allah tidaklah engkau seorang yang gila.<br><br>Bukanlah engkau seorang yang gila dan sesungguhnya engkau akan mendapatkan pahala yang tidak terputus. Dan sesungguhnya engkau wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam benar-benar berada di atas akhlak yang mulia. Ini semua ya gambaran dari pujian yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang menunjukkan mengenal kemuliaan akhlak beliau dan keluhuran budi pekerti beliau termasuk sebab yang akan menambah dan menguatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya ini yang kita ketahui<br><br>kenapa para ulama menulis kitab-kitab sejarah memberikan perhatian besar untuk bahkan lebih khusus ya menulis kitab-kitab yang memuat tentang ya pribadi, budi pekerti dan akhlak mulia yang dimiliki oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, kita kenal seperti Imam at-Tirmidzi yang menulis kitab Asyamailul Muhammadiyah dan para ulama yang lainnya.<br><br>Karena tujuannya adalah untuk bisa ya [berdehem] memudahkan kita dengan izin Allah Subhanahu wa taala mengambil teladan kebaikan dalam upaya untuk menambah dan menguatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa taala. Meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa taala dengan cara meneladani sebaik-baik petunjuk yang ada pada diri Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Tib. Insyaallah cukup sampai di sini. apa yang bisa kami sampaikan di kesempatan pagi hari ini. Semoga semakin menambah ilmu yang bermanfaat pada diri kita dan semakin menyemangati kita untuk mengusahakan sebab-sebab yang semakin menguatkan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala. Barakallahu fikum.<br><br>Sebelum kita akhiri, seperti biasa kalau ada pertanyaan yang ingin sampaikan untuk ikhwan bisa disampaikan secara langsung untuk akhwat lewat tulisan kertas. Iya. Saya persilakan. Barakallah fikum. N. Iya. Kita mulai dari pertanyaan akhwat dulu yang sudah sampai. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullah. Izin bertanya, bolehkah kita mendawamkan? Ya, sering kita ucapkan contoh surah apa ini? Almukminun ayat ke-29 ya.<br><br>Surat Ibrahim apa ini? Ayat ke-40. Surah Azzariyat 5658 dan surat-surat yang lain. I maksudnya boleh ini kita baca terus-menerus kita dawamkan ya. Kita tahu dalam petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam ya. Ya, seperti yang dijelaskan oleh para ulama kita yang namanya amalan itu secara umum kalau kita diperintahkan membaca misalnya zikir, kita diperintahkan untuk banyak bertasbih, mensucikan Allah, memuji Allah dan seterusnya.<br><br>Kalau tidak disebutkan dalam jumlah tertentu, maka kita membaca secara umum saja. Memperbanyak zikir, perbanyak tanpa perlu dihitung. Kecuali kalau yang ada hitungannya tertentu seperti misalnya zikir setelah selesai salat misalnya, iya kan? Atau sebagian zikir yang misalnya pagi dan sore yang ada jumlahnya baru kita terikat dengan jumlahnya.<br><br>Ya, kalau ada ayat [berdehem] yang misalnya kita secara umum kan Al-Qur&#8217;an kita diperintahkan untuk membaca dan merenungkan is isinya, ada ayat-ayat tertentu yang mungkin kita ingin renungkan lebih, maka silakan kita baca misalnya dalam salat kita atau waktu kita sedang membaca Al-Qur&#8217;an. Kita ulang-ulangi boleh tanpa perlu kita sebutkan jumlahnya [berdehem] ya.<br><br>Jadi kita tahu sebagian riwayat yang sahih menyebutkan ya Nabi sallallahu alaihi wasallam mempraktikkan dan juga para ulama salaf kadang-kadang mereka satu malam mengulang-ulangi ayat tertentu karena mereka sedang merenungkan ayat tersebut untuk mengobati penyakit hatinya. Itu boleh kita lakukan dengan tujuan tadabur ya.<br><br>Cuma nanti jangan dijadikan seperti zikir yang kita baca misalnya habis salat sekian nanti sore lagi baca sekian. ini tidak perlu seperti ini. Kapan kita baca Al-Qur&#8217;an kita ingin renungkan ayat-ayat tertentu boleh-boleh saja kita ulang ayat tertentu dalam rangka untuk mengobati penyakit hati kita. Ya, itu boleh-boleh saja. Karena Al-Qur&#8217;an tentu semuanya adalah kebaikan.<br><br>Ya, kita berusaha untuk membaca Al-Qur&#8217;an dan mengkhatamkannya. Nanti ada ayat-ayat tertentu kita berhenti sebentar, kita renungkan, kita ulangi, tidak mengapa ya. Tapi jangan sampai dijadikan sebagai zikir yang dibaca di waktu tertentu dengan jumlah tertentu. Nam. Barakallahu fik. Bagaimana cara kita untuk mentadaburi Al-Qur&#8217;an setiap harinya? Apakah apa ini baca yang ada terjemahan dari depak? Berarti kita lebih baik membaca tidak banyak tetapi dengan artinya dan kita pahami.<br><br>Iya. Tidak mengapa. Sekarang ada terjemahan Al-Qur&#8217;an, alhamdulillah yang juga dibagi-bagikan dari Arab Saudi. Ada juga yang alhamdulillah telah diteliti oleh para ustaz. Kita bisa jadikan ini sebagai sebab untuk kita bisa memahami isinya. Meskipun ya tentu yang lebih baik kita berusaha belajar bahasa Arab agar kita mengenal bahasa Al-Qur&#8217;an atau makna Al-Qur&#8217;an ini lebih baik tentu saja.<br><br>Adapun pertanyaan tentang berarti lebih baik kita baca dengan paham meskipun sedikit maka betul lebih baik. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala membaca dengan perenungan meskipun sedikit lebih baik dari daripada membaca tanpa perenungan. Ya, kalau kita bisa membaca lebih banyak dengan perenungan tentu ini lebih utama ya.<br><br>Tapi kalau antara dua pilihan tadi, maka lebih baik membaca sedikit dengan perenungan daripada sekedar banyak tapi tanpa ada perenungan. Karena tidak ada yang tertinggal di hati orang tersebut. Nah, bagaimana cara menetapkan apa ini? Cara menerapkan di dalam rumah kita tentang mentadaburi Al-Qur&#8217;an. Ya. Dan mempelajari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Apalagi anak-anak kita sudah dewasa dan punya aktivitas sendiri, ya kita harus mengatur mereka dengan sebaik-baiknya. Kita mengajak, kita mengontrol mereka untuk tetap berusaha membaca Al-Qur&#8217;an. [mendengus] ya kita luangkan waktu kita untuk mengawasi mereka sesuai dengan kemampuan kita. Tentu saja mereka punya aktivitas ya.<br><br>Kenapa mereka bisa melaksanakan aktivitasnya sementara aktivitas yang bermanfaat untuk dunia akhirat tidak diberikan waktu? Ya harusnya sebagai orang tua tentu berusaha untuk mengarahkan mereka pada kebaikan ini. Ya, tetap harus dikontrol mereka dianjurkan untuk tetap berusaha membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya setiap hari. [berdehem] Tolong di ada yang baca agak kecil saya enggak bisa baca.<br><br>Ada satu pertanyaan lagi ini kurang kurang jelas bagaimana bisa baca? Iya. Fad lang wafiq. Barakallah ya Fadol. Iya. Iya. Barakallahu fikum. Pertanyaan<br><br>sangat baik dan bermanfaat sekali dari beliau yang bertanya. Jadi untuk masalah waktu yang tepat agar kita bisa lebih baik dalam membaca Al-Qur&#8217;an dengan merenungkan isinya itu secara umum ya tidak ada batasan waktu tertentu. Cuman pastinya yang lebih utama waktu kita membaca Al-Qur&#8217;an berzikir atau [berdehem] berdoa kan di saat-saat kondisi hati kita tenang, di saat-saat kita bisa [tertawa] lebih ya ee merenungkan isinya.<br><br>Mungkin di waktu-waktu yang misalnya ada keutamaannya secara umum sepertiga malam yang terakhir waktu kita bangun ya setelah kita melaksanakan salat malam kemudian kita baca Al-Qur&#8217;an atau dalam salat kita kita baca maka tentu ini lebih utama lagi. Ataupun di waktu-waktu yang lain. Ada sebagian orang yang mungkin lebih bagus dia membaca di waktu setelah selesai salat subuh ya.<br><br>Biasanya orang setelah beribadah tentu kondisi hatinya sedang dalam suasana ya tunduk kepada Allah, dalam suasana sedang senang dalam melaksanakan ibadah. Maka di waktu-waktu itu adalah yang paling utama. Yang jelas tidak ada waktu tertentu. Cuman seseorang kadang-kadang bisa berbeda satu orang dengan orang yang lain.<br><br>Ada di waktu-waktu tertentu ketika dia sedang khusyuk dalam ibadah misalnya dia habis melaksanakan mungkin siang hari dia habis melaksanakan salat duha misalnya. di waktu dhha setelah itu dia merasa pikirannya tenang. Dia baca Al-Qur&#8217;an ketika itu atau dia berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala tentu itu akan bisa lebih bermanfaat bagi dirinya.<br><br>Ada sebagian yang mengkhususkan membaca Al-Qur&#8217;an merenungkan isinya habis salat subuh ketika itu dia merasa lebih konsentrasi. Apalagi mungkin di masjid orang-orang sudah pulang dia duduk ya dan dimudahkan dia untuk bisa membaca dengan perenungan. Maka itu yang lebih utama baginya. Apalagi sambil dia menunggu salat isyraq ya, setelah matahari terbit sekitar 15 menit kemudian dia melaksanakan salat dua rakaat.<br><br>Dia dapatkan keutamaan juga yang berhubungan dengan salat isyraq yang seperti pahalanya haji dan umrah yang seperti disebutkan di dalam hadis yang dinyatakan derajatnya hasan oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Nah. Oh, ya. Silakan, Pak. tadi bahwa sallallahu alaihi wasallam. Iya. Iya. Ya. Barakallahu fikum. Ya, pertanyaan sangat baik sekali.<br><br>Jadi apa yang disebutkan dalam surat Albaqarah tersebut tentang orang-orang Yahudi alladzina aatainahumul kitaba ya&#8217;rifunahu kama y&#8217;rifuna abnaahum ya orang-orang yang kami turunkan kepada mereka Alkitab mereka mengenal Nabi sallallahu alaihi wasallam seperti mengenal anak-anak mereka sendiri tapi disebutkan kelanjutan ayat ini bagaimana wa inna fari minhumalq wahum yamun akan tetapi sebagian dari mereka menutupi kebenaran padahal mereka mengetahuinya.<br><br>Jadi mereka punya hasad, kedengkian di hati mereka karena maunya mereka itu nabi yang diutus dari kalangan Bani Israil. Jadi jelas kalau ada hasad ya bahkan tadi kita sebutkan Al-Qur&#8217;an saja orang-orang munafik mereka paham Al-Qur&#8217;an. Tentu ketika mereka baca harusnya bisa mereka renungkan. Bahkan yang menyampaikan Al-Qur&#8217;an di depan mereka adalah sebaik-baik pembimbing Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Mereka juga melihat akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mulia. Kalau para sahabat dengan sebab ya setelah taufik dari Allah dengan sebab mereka dibimbing oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam menjadi generasi yang paling utama. Kenapa orang-orang munafik tidak bisa mendapatkannya? Karena ada yang menutup di hati mereka. Naudubillah minzalik.<br><br>Kalau orang-orang ahlul kitab karena kedengkian, karena iri ya karena kesombongan, sikap [berdehem] melampai batas dan seterusnya sehingga terhalang dari kebaikan ini. Maka sama seperti yang antum sebutkan tadi ya, orang-orang yang hanya mengaku-ngaku tapi kemudian tidak belajar sunah, tidak mempraktikkannya, tidak mengenal bagaimana ee keyakinan yang diajarkan dalam Al-Qur&#8217;an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Kemudian petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Inilah yang menghalangi mereka dari mendapatkan manfaat dan kebaikan tersebut. Semoga Allah subhanahu wa taala membuka hati orang-orang yang tersesat agar kembali ke jalan Allah subhanahu wa taala yang benar. Nah, barakallahu fik. M, Pak, satu lagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.<br><br>ee bagaimana cara menjaga iman pada saat kondisi ee dunia yangu menjawabnya agak ee dan yang tidak jelas barakallah fikum. Iya. Barakallahu fikum. Nasihat untuk menghadapi semua keadaan adalah dengan selalu berdoa meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala. Bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena dunia ini memang tempat ujian ya.<br><br>baik dengan sebab terjadinya peperangan tersebut atau sebab yang lain. Dunia tempat ujian agar kita sadar bahwa dunia ini memang bukan tempat kesenangan yang hakiki, kesenangan yang murni itu hanya didapatkan oleh orang-orang yang beriman ketika mereka telah masuk ke dalam surga. Ya, baru mereka dapatkan semua apa yang mereka inginkan.<br><br>Walakum fiha maastahi anfusukum wakum fiha ma taddaun. Di dalam surga barulah kalian dapatkan semua yang diinginkan oleh jiwamu dan semua yang kalian minta. Ya. Jadi itulah sebabnya di dunia kita bersabar, tetap bersangka baik kepada Allah dan tetap belajar agamanya agar kita selalu dekat dengan sebab-sebab penjagaan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Itu yang kita lakukan. Semakin banyak masalah kita semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Semakin banyak beristigfar, semakin banyak memperbaiki diri untuk kita dimudahkan untuk bisa menghadapi masalah-masalah tersebut dengan baik. Nam. Barakallahu fikum. Tayib. Cukup sampai sini insyaallah kajian kita.<br><br>Semoga kita bisa mengambil faedah dan manfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin. Walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik.<br><br>Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Yeah.<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4094","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-13T07:56:24+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/\",\"name\":\"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-13T07:56:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-13T07:56:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-\u062d\u0641\u0638\u0647-\u0627\u0644\u0644\u0647\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-13T07:56:24+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/","name":"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-13T07:56:24+00:00","dateModified":"2026-07-13T07:56:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/13\/penjelasan-pokok-pohon-iman-ustadz-abdullah-taslim-m-a-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"\u00a0Penjelasan Pokok Pohon Iman | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A \u200e\u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4094"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4094"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4094\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4095,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4094\/revisions\/4095"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4094"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4094"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4094"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}