{"id":4132,"date":"2026-07-28T13:46:28","date_gmt":"2026-07-28T06:46:28","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4132"},"modified":"2026-07-28T13:46:29","modified_gmt":"2026-07-28T06:46:29","slug":"kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/","title":{"rendered":"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#8217;ala &#8211; YouTube"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#039;ala\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/p_Kss9taP1I?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p>Transcript:<br>(09:17) [berdehem] [batuk] [berdehem] [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu<br>(10:24) wafiruh. Wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br>(11:04) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha wab minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham. Innallaha kaana alaikum raqiba. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qu sadida yuslih lakum aalakumagfirlakum dunubakum wam yutiillaha waasulahu faqad faza fauzanima.<br>(11:45) Amma ba&#8217;du fain asdaqal hadis kitabullah wakiral huda huda Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhdasatuha waulla muhdain bidah waulla bidatin dolalah wa dolatin finar wa ba&#8217;du. Alhamdulillah [berdehem] maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. Ikhwan dan akhwat serta adik-adik sekalian hafidakumullah.<br>(12:20) Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang mengumpulkan kita kembali di Masjid Al-Ukhuwah yang mubarak ini di siang hari ini dalam majelis ilmu yang mulia dalam mengkaji kitab yang sangat bermanfaat yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah pemahaman dasar ahlusunah wal jamaah yaitu kitab syarhusunah yang ditulis oleh Al Imam Abu Muhammad Alhan Ibnu Ali Ibnu Khalaf Albarbahari rahimahullahu taala yang kitab ini sudah kita sebutkan tadi memuat prinsip-prinsip dasar pemahaman manhaj ahlusunah wal jamaah<br>(13:08) yang tentu sangat kita butuhkan sebagai seorang muslim yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat sangat kita butuhkan pembahasan kitab-kitab seperti ini di akhir zaman yang penuh dengan fitnah. Kita mengetahui bersama jemaah sekalian hafidakumullah tentang hati manusia yang merupakan sumber kebaikan yang kebaikannya akan menentukan kebaikan semua anggota badan manusia.<br>(13:42) Sebaliknya keburukan akan menentukan keburukan semua anggota badan manusia. Kita ingat kembali sabda Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ala wa inna fil jasadi mdotan id shahal jasadu kulluh waidza fasadat fasadal jasadu kulluh ala wahiyalqbu. Ketahuilah sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging.<br>(14:09) Yang segumpal daging ini kalau baik maka semua anggota badan manusia akan baik. Kalau segumpal daging ini rusak, maka semua anggota badan manusia akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati manusia. Inilah hati yang merupakan yang kedudukannya seperti raja bagi semua anggota badan yang semua menuruti perintahnya.<br>(14:33) Nah, sekarang permasalahannya hati itu mudah berbolak-balik. Bahkan summialqbu min taqallubihi dinamakan alqolbu. Ya, dalam bahasa Arab kita terjemahkan dengan arti hati karena memang sifatnya yataqalab. Sampai kita semua kenal dalam hadis yang sahih kata Anas bin Malik radhiallahu taala anhu, termasuk doa yang banyak dibaca oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam adalah ya muqallibal qulub tsabbit qolbi ala dinik.<br>(15:09) Wahai Allah yang maha membolak-balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas agamamu.&#8221; Ya, ini hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Nah, hati ini tempat keimanan, tempat keyakinan yang benar yang menentukan seorang hamba akan diterima dan diridai oleh Allah Subhanahu wa taala kalau dia membawa hati yang bersih ketika menghadapnya.<br>(15:40) Man khas rahmana bil gaibi waa biqbim munib uduha bisalam. yaitu orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa taala yang tidak kelihatan di hadapannya dan dia datang menghadapnya dengan membawa hati yang selalu munib, selalu ingat, selalu kembali kepada Allah. Masuklah kalian [berdehem] ke dalam surga. Ya, inilah hati yang akan diterima ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala.<br>(16:15) [berdehem] Yauma la yanfau maalu wala banun illa man atallaha biqolbin salim. Pada hari kiamat nanti yang tidak akan bermanfaat harta maupun anak-anak keturunan kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat yang bersih. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala artinya salim salima min kulli syubhatin wa syahwah.<br>(16:44) selamat dari setiap fitnah syubhat dan syahwat. Syubhat artinya kerancuan dalam memahami agama, kesalahpahaman dalam memahami Al-Qur&#8217;an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Yakni pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari manhaj para salaf, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Kemudian syahwat, yakni memperturutkan keinginan syahwat ya mulut dan kemaluan.<br>(17:10) Jadi selamat dari dua hal ini. Selamat dari segala sesuatu yang menyimpang dari tauhid dan akidah yang benar. Selamat dari penyimpangan terhadap ittiba mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Nah, inilah hati yang akan diterima ketika menghadap Allah. Maka tentu yang seperti ini benar-benar butuh untuk kita sungguh-sungguh berdoa kepada Allah agar dianugerahkan hati yang agung ini yang akan diterima ketika menghadapnya.<br>(17:47) Kemudian tentu kita butuh sesuatu yang meneguhkannya, [berdehem] yang menguatkannya. Dan Allah Subhanahu wa taala hanya akan meneguhkan hati manusia ketika seorang hamba akan diteguhkan hatinya ketika dia berpegang teguh dengan [berdehem] agama ini. Berpegang teguh dengan landasan utama Islam yaitu dua kalimat syahadat.<br>(18:15) Asyhadu alla ilahaillallah wa anna muhammadan rasulullah. Dua kalimat syahadat inilah yang merupakan inti penjabaran dari kitab-kitab para ulama yang memuat tentang prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah seperti kitab syarhusunah yang ditulis oleh Imam Albarbahari ini. Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam surat Ibrahim alaihialatu wasalam.<br>(18:41) Yutsabbitullah amanu bilqulis tsabiti fil hayatid dunya wafil akhirah. Allah akan meneguhkan keimanan, menguatkan hati orang-orang yang beriman bilquli tsabit dengan ucapan yang teguh yang ditafsirkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Maknanya dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar.<br>(19:08) Masalah akidah dan ittiba. tauhid dan ittiba. Ya, Allah akan meneguhkan hati orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh ini, dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar ini dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Jadi, orang yang tidak mempelajari dan tidak kenal, tidak mendalami prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah, bagaimana dia akan selamat ketika menghadapi fitnah, syubhat dan syahwat.<br>(19:40) yang mana setan ketika menggoda manusia dengan fitnah ini, fitnah yang dahsyat ini, jangankan kita yang lemah, orang yang semulia Nabi Adam alaihialatu wasalam, bapak kita semua, bapak manusia. Ketika digoda oleh iblis dengan dua fitnah ini, terjerumus dia. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an ya, digoda syahwatnya untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa taala.<br>(20:08) dengan diberikan alasan ma nahakumabukuma [berdehem] anajaria illa anuna malakaini takuna minal kholidin rabmu Allah subhanahu wa taala tidak melarang kalian memakan buah ini kecuali supaya kalian tidak menjadi ya malaikat dan menjadi makhluk yang kekal ini fitnah syahwat Ditambah dengan syubhat.<br>(20:41) Waqosamahuma inni lakuma laminanin. Iblis bersumpah di hadapan mereka berdua, &#8220;Aku ini pemberi nasihat menginginkan kebaikan untuk kalian berdua. Tergoda.&#8221; Nabi Adam alaihi salalatu wasalam nabi yang mulia, kekasih Allah Subhanahu wa taala yang kemudian dia bertobat dan Allah menerima tobatnya. Nah, kita sekarang anak-anaknya yang tinggal di dunia, bagaimana kita akan selamat kalau tidak punya bekal ilmu yang kuat setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk menghadapi fitnah ini? Ikhwani wa akhwati fiddin rahimakumullah.<br>(21:19) Antum tahu akidah yang benar itu akan menguatkan hati sesuai dengan namanya akidah. Artinya sesuatu yang mengikat hati supaya tidak gampang berubah, supaya sifatnya yang mudah berganti-ganti atau berubah dikuatkan. Inilah fungsinya akidah. Ketika Allah Subhanahu wa taala menjelaskan [berdehem] penyimpangan-penyimpangan atau syubhat, hal-hal yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah, Allah membuat perumpamaannya di dalam Al-Qur&#8217;an di surat Ibrahim alaihialatu wasalam sebelum ayat yang tadi kita baca.<br>(22:07) digambarkan seperti pohon yang hanya seperti benalu tidak punya akar yang kuat. Walu kalimatin khitatin kasyajaratin khitatinutat min fauqil ardhi ma laha min qor. Dan perumpamaan kalimat-kalimat yang buruk, kalimat kufur, kalimat bidah, [berdehem] ya, kalimat-kalimat yang menyimpang dari keimanan itu seperti pohon yang buruk yang [berdehem] ujutat min fauqil ardhi yang mengapung di atas permukaan bumi tidak punya ketetapan.<br>(22:55) Jadi hal-hal yang menyimpang itu tidak akan kuat. Makanya orang-orang yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah itu mudah berubah-rubah. Mereka tidak punya ketetapan. Hari ini mengikuti syubhat ini, besok mengikuti syubhat yang kedua, besok menyimpang lagi dalam syahwat yang ketiga.<br>(23:17) Kemudian bercampur syahwat yang syahwat dan syubhat yang di kali yang keempat, kelima sampai mereka binasa kecuali orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa taala. [berdehem] Ya, karena mereka tidak punya keteguhan. Adapun orang-orang yang beriman dengan kalimat tauhid. Allah Subhanahu wa taala sebutkan di ayat sebelumnya tentang perumpamaan kalimat thayibah.<br>(23:44) Kita ketahui alam alam taro kaifaallahu matalan kalimatan thyibatan kasyajaratin thyibatin asluha tsabitu wauha fisama tuaha kulinim biidniha. Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik? Kalimat tauhid, kalimat al-ikhlas, kalimat iman seperti perumpamaan pohon yang baik yang ciri-cirinya akarnya menancap kuat ke dalam tanah.<br>(24:27) Kemudian ranting-rantingnya, dahan e cabang-cabangnya menjulang ke langit, tumbuh ke atas. Pohon ini akan mengeluarkan buah-buah yang indah, yang manis setiap saat dengan izin Allah, dengan izin Rabbnya. Jadi, inilah gambaran tentang manfaat belajar akidah ahlusunah wal jamaah. mempelajari kitab-kitab yang memuat manhaj, prinsip, dasar sangat kita butuhkan di akhir zaman.<br>(24:58) Oleh karena itu, antum baca keterangan para ulama seperti yang disebutkan misalnya oleh Syekh Abdus Salam Ass-Usuhaimi hafidahullahu taala dalam kitab Kun Salafiyan Alal Jaddah. Di antara keistimewaan terbesar mengenal manhaj salaf atau orang yang mengikuti manhaj para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain bahwa asabatahum keteguhan mereka, keistikamahan mereka itu lebih kuat dibandingkan orang-orang yang menyimpang dari manhaj ini.<br>(25:33) Yakni orang-orang yang menyimpang itu gampang berubah setiap saat mereka bahkan bisa berubah karena mereka tidak peduli. tidak punya dasar pijakan. Adapun orang yang mengenal manhaj salaf, mereka selalu berpegang teguh dengan manhaj ini karena merasakan inilah kebenaran dan mereka berusaha mempelajarinya dengan dalil, dengan argumentasi yang jelas.<br>(26:02) Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih, asar-asar para sahabat itu pun dinilai dengan riwayat-riwayat yang sahih. Tidak ada yang lebih kuat pengaruhnya dalam menguatkan keimanan melebihi mempelajari dalil. I [berdehem] karena orang ketika jauh dari dalil akan mudah tersesat. Man farq dalila sabila. Kata Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala, &#8220;Barang siapa yang menyelisihi dalil maka jalannya akan tersesat.<br>(26:34) Jadi inilah keistimewaan manhaj salaf [berdehem] ya. Ahlusunah wal jamaah. Kita tahu istilah lainnya adalah alfirqatun najiah. [berdehem] Golongan yang selamat. Apa artinya selamat? Selamat dari ancaman azab neraka di akhirat nanti. Karena 73 golongan, 72 masuk neraka. Diancam neraka.<br>(27:05) Ya illa wahidatun kecuali yang satu. Wahyal jamaah. Berarti selamat dari ancaman azab neraka. Di dunia mereka selamat dari penyimpangan-penyimpangan. Mereka selamat dari jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka yang dipimpin oleh setan. Nauzubillah minzalik. [berdehem] Ada sebuah riwayat yang sahih dan pernah kita bawa bawakan juga di kajian-kajian yang lalu dalam Sahih Bukhari yang merupakan bukti bahwa pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain adalah pemahaman yang lebih mendekatkan kita kepada istiqamah, lebih meneguhkan kita di jalan Allah Subhanahu<br>(27:47) wa taala. Tentu semua dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Ini dalil yang dijadikan oleh para ulama sebagai bukti tentang hal ini, yaitu kisah ketika Abu Sufyan berdialog dengan raja Romawi Heraklius yang mengetahui tentang ciri-ciri nabi yang diutus di akhir zaman dari kitab Injil asli yang dipelajarinya.<br>(28:14) Di antara pertanyaannya tentang pengikut para nabi, pengikut Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, nabi yang terakhir, dia bertanya, &#8220;Wahal yartadu ahadun minhum sakhtan lidinihi ba&#8217;da dakala fihi.&#8221; Apakah ada salah seorang di antara mereka yang murtad, yni pengikut nabi ini? Apakah ada salah seorang di antara mereka yang murtad meninggalkan agamanya dalam keadaan benci kepada agama ini setelah masuk Islam? Dijawab oleh Abu Sufyan, &#8220;La tidak ada.<br>(28:53) Tidak ada yang murtad dengan gelombang fitnah dan ujian yang demikian besar yang mereka alami, tidak ada yang meninggalkan agama ini.&#8221; Masyaallah. Ya, ini bagaimana dahsyatnya penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy ketika awal-awal Nabi sallallahu alaihi wasallam mendakwahi Islam. [berdehem] ya, bagaimana permusuhan, penindasan kezaliman yang mereka alami, tapi tidak ada yang meninggalkan agama ini.<br>(29:24) Ketika itulah jawaban ini kemudian dibenarkan oleh raja Romawi ini yang kemudian nanti diceritakan oleh Abu Sufyan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam setelah masuk Islam. Kemudian tentu dibenarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Makanya dimuat dalam Sahih Bukhari di kitab Badiil Wahyu ya, permulaan turunnya wahyu.<br>(29:45) Ketika itu dijawab oleh raja Romawi ini dengan mengatakan, &#8220;Kadzalikal imanu hina tukitu basyasyatuhul quluba.&#8221; Hina tukitu basyasyatuhul qulub. Memang seperti itu gambaran keadaan iman ketika kemanisan iman itu basyasyah. Kenikmatan iman itu telah bercampur dan menyatu dengan hati manusia. Yakni hati tidak mau meninggalkannya selama-lamanya.<br>(30:20) Hati ketika menemukan sesuatu yang memang didambakannya, perhiasan yang paling indah baginya, dia tidak akan melepaskannya selama-lamanya. Seperti itu gambaran hati manusia ketika bertemu dengan kebenaran iman, akidah yang lurus, pemahaman agama yang sahih, maka dia tidak akan meninggalkan selama-lamanya. Ini hati yang tentu masih lurus sama sesuai dengan fitrah yang Allah Subhanahu wa taala jadikan penciptaan manusia di atas fitrah itu.<br>(30:57) Maka prinsip dasar agama itu mengajarkan kita kembali kepada fitrah yang benar, kembali kepada akidah yang sahih, apalagi yang berhubungan dengan iman kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi di sini poin pentingnya jemaah sekalian hafidakumullah belajar manhaj salaf di akhir zaman ini adalah termasuk perkara yang paling wajib untuk kita usahakan.<br>(31:24) [berdehem] Ya, di lingkungan kita, di masyarakat kita, kita tahu banyak ditawarkan pemahaman-pemahaman agama yang semua dibungkus dengan dalil seolah-olah menampilkan kebenaran. Yang kemarin sudah kita baca dari pembahasan di kitab Syarhusunah [berdehem] ya. tentang bidah. Kenapa bidah ini? Perbuatan-perbuatan bidah yang terjadi di umat ini menjadi bidah yang besar dan banyak orang-orang yang mengikutnya, mengikutinya.<br>(32:07) Bahkan banyak orang-orang yang memperjuangkannya rela membelanya mati-matian. Kenapa terjadi seperti itu? Padahal ini menyimpang dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Sudah kita bahas kemarin kata Imam Albarbahari rahimahullah taala an bidu kabirta kibar wadika bidatin uhat fi hadil ummah. Ketahuilah bidah itu meskipun awalnya kecil tapi dia akan berulang dilakukan.<br>(32:50) Kenapa berulang? Dianggap baik. dianggap sebagai amal yang luar biasa keutamaannya. Karena seperti itu iming-iming yang diberikan oleh setan dari kalangan jin dan manusia untuk melariskan dagangan bidah ini. Diulang-ulang sampai menjadi bidah yang besar, demikianlah kejadian setiap bidah yang ada di umat ini. Setan punya tipu daya.<br>(33:22) Afaman zuyina lahu suu amalihi faroahu hasana fainnallaha yudillu yasyaahdi yasya. Apakah orang-orang yang dihiasi buruknya amal perbuatannya kemudian dia menganggapnya baik maka dia melihatnya sebagai sesuatu yang baik. Maka sesungguhnya Allah subhanahu wa taala menyesatkan siapa yang dikehendakinya dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Ini bidah.<br>(33:50) laris dagangan bidah ini karena orang yang melakukannya tidak merasa bersalah. Sehingga banyak orang-orang yang melakukannya karena iming-iming. Kalau melakukan ini langsung masuk surga keutamaannya besar. Adapun kalau belajar harus mengkaji ini butuh waktu, butuh mending kita jalan pintas ya. [berdehem] Padahal jalan pintas menuju penyimpangan. Nauzubillah minzalik.<br>(34:19) [berdehem] Bidah adalah jenis dosa yang paling disukai oleh iblis karena manusia tidak menyadari keburukannya. Kalau orang menyadari keburukan perbuatannya, dia akan mudah bertobat dan mohon ampun kepada Allah karena tahu dia jelek. Saya sudah pernah nukilkan sebuah asar yang ya dalam arar ini ada kelemahan dari segi sanadnya kata para ulama.<br>(34:50) Tapi sering dinukil arar ini oleh Imam Ibnu Qayyim dan juga guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menurunkan menunjukkan maknanya benar. Iblis pernah berkata seperti ini. Akhlaktu bani Adam bidzunub faakahuni bilistigfar wabi ilahaillallah. Aku membinasakan manusia dengan perbuatan dosa, maksiat. Tapi mereka balas membinasakan aku dengan memohon ampun, istigfar, bertobat, dan dengan kalimat lailahaillallah.<br>(35:29) yang menyebab yang merupakan sebab pengguguran dosa-dosa. Falamma roitualik ketika aku melihat kenyataan ini, kata iblis laknatullah alaih, batu fihimul ahwa. Aku pun menyebarkan pemahaman memperturutkan hawa nafsu, pemahaman syubhat, kerancuan di antara mereka. Fahum yudnibuna wala yatubun liannahum yahsabuna annahum yuhsinuna suna&#8217;a.<br>(36:01) Maka setelah itu mereka berbuat berbuat dosa, berbuat maksiat dan tidak bertobat kepada Allah karena mereka menyangka telah melakukan perbuatan yang sebaik-baiknya. Ini tipu daya setan, tipu daya iblis. Nah, siapa yang menjamin kita tidak termasuk yang tergoda kalau bukan karena penjagaan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala? Kemudian dengan sebab mengkaji kitab-kitab yang menguatkan akidah, menguatkan prinsip, dasar pemahaman kita, manhaj kita.<br>(36:40) Agar kita bisa menjadi orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an. Satu-satunya golongan manusia yang masih tersisa setelah para sahabat Muhajirin dan Ansar. Walladzinauhum biihsan. Dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan. Radhiallahu anhum waraduan. Merekalah orang-orang yang Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada Allah.<br>(37:09) Wa aad lahum jannatin tajri tahtahal anhar. Yang Allah siapkan bagi mereka surga ya yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mengikuti para sahabat dengan baik. Berarti kan harus dengan setelah taufik dari Allah harus mempelajari petunjuk mereka bagaimana mereka menafsirkan Al-Qur&#8217;an, memahami hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br>(37:35) mereka bagaimana mereka dalam menjalankan agama utamanya dalam berkeyakinan berakidah. Karena Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala ketika menafsirkan makna mengikuti mereka dengan kebaikan ya almuttabiuna lahum bisihsan orang-orang yang mengikuti para sahabat Muhajirin dan Ansar dengan kebaikan kata beliau, &#8220;Humulladina yattabiunahum fiimul hamidah waofihimul jamilah.<br>(38:04) lahum fri walaniah. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Mengikuti para sahabat dalam jejak-jejak mereka yang indah dan sifat-sifat mereka yang mulia yang selalu mendoakan kebaikan untuk mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan mendoakan para sahabat.<br>(38:32) Kita membahas di sini juga akan dibahas bagaimana kita menyikahi para sahabat. Bahkan kita wajib mengikuti pemahaman mereka. Bagaimana kita harus memuliakan mereka karena mereka adalah orang-orang yang diridai oleh Allah, generasi yang terbaik di umat ini. Setelah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Setelah para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.<br>(38:55) Ini kan cara untuk bisa mewujudkan hal ini adalah setelah taufik dari Allah, setelah kita berdoa sungguh-sungguh memohon kepada Allah adalah dengan belajar agama ini utamanya belajar prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah agar kita bisa meniti jalan seperti yang mereka tempuh dengan taufik dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala.<br>(39:24) Ingat jemaah sekalian hafidakumullah tadi golongan yang selamat itu satu sedangkan yang menyimpang 7 72 golongan. Sudah kita bahas juga beberapa kali ya. Secara peluang satu berbanding 72 kan kecil peluang untuk selamat kalau bukan karena pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. Jadi sekali lagi ya, karena sedikitnya orang-orang yang selamat di akhir zaman, maka kita semua harus tergerak hati kita untuk mengusahakan keselamatan.<br>(40:02) Jangan merasa aman. Nabi sallallahu alaihi wasallam telah menegaskan bahwa orang-orang yang berpegang teguh di akhir zaman adalah alguroba. Innal islama bada gariban wasudu gorban lil guroba. Islam itu permulaan datangnya asing dan nanti akan kembali asing. Yakni selalu orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran itu sedikit jumlahnya.<br>(40:31) Bahkan sudah pernah kita terangkan yang hadir pengajian saja belum tentu semuanya keluar sebagai orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ada seleksi lagi. Karena selalu yang sedikit itu yang dipuji. Waqolilum min ibadiyakur. Dan sangat sedikit di antara hamba-hambaku yang pandai bersyukur. [berdehem] Ya qolilam ma taskurun.<br>(41:01) Sedikit di antara kamu yang benar-benar bersyukur. Sampai saya saya pernah nukilkan juga beberapa kali pernyataan dari Imam Albar ee Imam albukhari rahimahullahu taala yang ketika beliau menyebutkan tentang keadaan para penuntut ilmu di zamannya. Padahal sudah pernah kita jelaskan Imam Imam Bukhari ini hidup di zaman keemasan periwayatan hadis.<br>(41:32) di abad ke-3 Hijriah ya, masa keemasan periwayatan hadis. Artinya ketika itu yang menghadiri majelis ilmu apalagi sekelas Imam Bukhari yang mengadakannya ribuan orang yang datang. Bagaimana orang semangat belajar ilmu sunah ketika itu. Tapi kata Imam Bukhari, di antara mereka nanti yang keluar benar-benar berpegang teguh dengan sunah sedikit jumlahnya.<br>(42:01) Padahal banyak yang hadir di hadapan beliau. Kata Imam Bukhari rahimahullahu taala, afdolul mukmin afdol muslimina rajulun ahya sunatan min sunani rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Q umat asbiru ya ashab sunan fainnakum aqllunas. Orang muslim yang paling utama adalah seseorang yang berpegang teguh dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang telah ditinggalkan oleh manusia.<br>(42:37) Maka bersabarlah wahai ahlusunah. Wahai ahlusunah sesungguhnya jumlah kalian paling sedikit. Bersabarlah wahai ahlusunah karena jumlah kalian paling sedikit di antara manusia. Lihat para ulama telah mengingatkan kita. Jadi belum tentu yang hadir dalam pengajian yang membeludak jemaahnya kemudian semua keluar dalam keadaan berpegang teguh dengan ilmu sunah, mengamalkannya, bersabar menghadapi godaan-godaan di dalamnya kecuali orang yang dijaga oleh Allah subhanahu wa taala.<br>(43:16) Ar ini kan dinukil oleh Imam siapa? Alkhatib albaghdadi dalam kitab aljami liqir rawi wa adab sami. Kemudian [berdehem] beliau membawakan komentar yang disebutkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Kenapa Imam Bukhari mengatakan, &#8220;Bersabarlah wahai ahlusunah sesungguhnya jumlah kalian paling sedikit.<br>(43:40) &#8221; Padahal kan di hadapan beliau banyak murid ribuan. Tidak mungkin Imam Bukhari tidak menyaksikan hal ini karena sudah kita katakan tadi beliau hidup di abad ketiga Hijriah zaman keemasan periwayatan hadis. [berdehem] Ya. Jadi beliau memaksudkan di sini adalah isyarat bahwa yang hadir yang banyak itu belum tentu keluar semuanya menjadi ahlusunah yang sesungguhnya.<br>(44:13) Karena jumlah mereka selalu paling sedikit, apalagi di akhir zaman. Nah, oleh karena itu kenyataan seperti ini kan menjadikan kita berpikir untuk keselamatan diri kita. Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Kalau di zaman dahulu orang sudah takut, apalagi zaman kita sekarang. Begitu budaya syubhat itu masuk lewat handphone kita atau media sosial yang kita miliki, kita baca, kita tidak tahu bahwasanya syubhat telah masuk.<br>(44:44) Dan kita tahu bagaimana syubhat kata para ulama ketika masuk ke dalam hati manusia, yarauna analifatun wasubhat khatah. Mereka memandang bahwa hati manusia itu sangat lemah, sedangkan syubhat itu mudah menyambar, mudah mempengaruhi, mudah menimbulkan kerancuan dan keragu-raguan dalam hati seseorang yang terkena perangkapnya.<br>(45:14) Makanya ilmu agama ini sungguh ya ilmu agama yang kita pahami, kita pelajari dengan pemahaman yang benar. Sungguh adalah nikmat terbesar yang masih tersisa dari peninggalan para ulama salaf di akhir zaman. Jangan sampai kita luput untuk mempelajari sebaik-baik bekal ini untuk keselamatan kita. Ya, ingat penuntut ilmu disifati oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu dalam riwayat asar yang sahih [berdehem] ketika menyebutkan golongan manusia yang selamat.<br>(45:58) Ada dua golongan. Satu yang celaka, yang selamat. Faalimun rabbani. Seorang yang berilmu yang yang mendidik manusia di atas ilmu yang benar, di atas ilmu yang sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan petunjuk rasul-Nya alaihialatu wasalam. Yang kedua, wa muta&#8217;allimun ala sabili najah. Penuntut ilmu yang selalu berada di atas jalan keselamatan.<br>(46:25) Jadi berpegang teguh dengan ilmu. Maka ini dengan izin Allah menjamin keselamatan kita. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah, jangan ada salah seorang pun di antara kita yang merasa aman dengan mengatakan, &#8220;Saya sudah ngaji, saya sudah mengikuti kajian ini, sudah belajar tauhid berkali-kali, ya. Jangan sampai termakan tipu daya setan kemudian merasa aman.<br>(46:53) Di akhir zaman ini orang bisa berubah dalam sekejap. Ingat hadis yang pernah kita bawakan dalam Sahih Muslim. Yusbihurulu mukminan waumsi kafiran. Ketika dahsyatnya fitnah muncul di akhir zaman, ada orang yang di pagi hari beriman, sorenya telah menjadi kafir. Ini terjadi atau wumsi mukminan wausbihu kafiron.<br>(47:19) Sorenya masih beriman, besok besok paginya dia telah menjadi kafir. Ingat, bukan hanya imannya turun, bukan hanya terjadi apa? pendangkalan iman, melemahkan imannya, bukan menghilangkannya. Bahkan pagi beriman, sorenya telah menjadi kafir. Kan waktu yang singkat, tidak sampai 24 jam orang bisa berubah seperti itu.<br>(47:44) Karena fitnah yang datang sekali berganti di akhir zaman. Wallahi jemaah sekalian hafidakumullah kalau kita tidak punya pegangan yang kuat dengan selalu meminta kepada Allah subhanahu wa taala ya karena dia adalah alhafid yang maha menjaga hamba-hamba yang beriman dari segala sesuatu yang merusak keimanan mereka kalau bukan dengan memohon perlindungan Allah Subhanahu wa taala setelah itu mempelajari petunjuk dalam agamanya mempelajari manhaj salaf agar kita terjauh dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang.<br>(48:18) Kalau bukan dengan pertolongan Allah Subhanahu wa taala melalui sebab ini, tidak ada seorang pun di antara kita yang selamat. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah sekali lagi mempelajari kitab-kitab akidah syarhusunah albarbahari, ada syarhusunah al Imam almuzani, ada ushulus sunah tulisan Imam Ahmad [berdehem] ya bin Hambal rahimahullahu taala.<br>(48:45) Syarhusunah almuzani tadi adalah prinsip dasar akidah Imam Assyafi&#8217;i. [berdehem] Kemudian kitab al-Aqidatut Thahawiyah, prinsip dasar akidah Imam Abu Hanifah Nu&#8217;man Ibnu Tsabit alkufi rahimahullahu taala. Mukadimah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah, Imam penduduk Madinah rahimahullahu taala.<br>(49:11) Kemudian kitab syarhusunah yang datang setelah mereka [berdehem] termasuk kitab-kitab di zaman sekarang. Kitab al-Aqidatul Wasitiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ya. Dan kitab-kitab akidah lainnya yang ditulis oleh para ulama. Al-Aqidatus Sahihah oleh Syekh Bin Bas ada. Kemudian akidah ahlusunah wal jamaah, Syekh Ibnu Utsaimin dan yang lainnya.<br>(49:32) Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab dasar yang mengikat hati kita dengan prinsip dasar agama yang benar. supaya kita punya keteguhan iman seperti yang dimiliki oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang mendapat sebaik-baik didikan, sebaik-baik tarbiah dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menjadikan mereka tidak akan meninggalkan agama ini dengan ditawarkan dengan keindahan apapun.<br>(50:05) Karena orang yang telah mengenal akidah yang benar, keindahan Islam itu di hatinya tidak ada yang mengalahkannya, menjadikan dia tidak akan mau menggantikannya selama-lamanya dengan apapun. [berdehem] Jadi maksudnya di sini, ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, ajakan kita untuk bersabar belajar kitab-kitab manhaj. Bismillah.<br>(50:36) [berdehem] belajar kitab-kitab akidah. [berdehem] Karena pemahaman Islam dari dasar yang benar ini yang akan menyelamatkan kita dari sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa taala. [berdehem] Kan iman yang menyimpang bisa menjadikan seseorang itu kufur dan gugur amalamalnya. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an.<br>(51:16) yakfur bilani faqit amaluhu wahua fil akirati minal khirin. Barang siapa yang kufur terhadap keimanan, maka sungguh telah gugur amal-amalnya dan di akhirat nanti dia termasuk orang-orang yang merugi. Antum tahu dalam Al-Qur&#8217;an di surah at-Taubah kan disebutkan ada orang-orang yang mengucapkan kalimat kufur, kalimat yang bertentangan dengan prinsip dasar akidah.<br>(51:43) Akhirnya dia menjadi kafir setelah beriman. [berdehem] Yahlifuna billahi maqu kalimatal kufri wa kafaru ba&#8217;da islamihim. Mereka bersumpah kepada Allah mereka tidak mengucapkannya. Padahal sungguh mereka telah mengucapkan kalimat kekufuran dan mereka telah menjadi kufur setelah berislam. Ada kalimat-kalimat yang diucapkan bisa menggugurkan akidah.<br>(52:13) Dan banyak di kalangan kaum muslimin yang menisbatkan diri kepada Islam mengucapkan kalimat seperti ini karena mereka jahil terhadap pembahasan akidah, pembahasan tauhid. Padahal masalah akidah sudah kita bahas beberapa kali. Di dalam Islam itu bukan cuma perintah dan larangan. Ada berita-berita yang harus kita benarkan yang kalau sebagiannya kita ingkari bisa menggugurkan amalan kita meskipun kita mengamalkan semua yang disyariatkan dalam Islam.<br>(52:45) Contoh yang kita bahas pernah [berdehem] mengenai orang-orang yang mengingkari masalah takdir. Berarti mengingkari sifat qudratullah, kemahakuasaan Allah. Sebagaimana pernyataan Abdullah bin Umar radhiallahu taala anhuma yang dimuat di hadis pertama dalam Sahih Muslim. ketika menyatakan [berdehem] sikap berlepas diri dari orang-orang Qadariah yang mengingkari takdir Allah Subhanahu wa taala sampai beliau mengatakan, &#8220;Lau anfaqo ahaduhum mlaudin dahahaban maqilallahu minhu hatta yummina bilqadar.<br>(53:21) &#8221; Salah seorang di antara mereka seandainya berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud tidak akan diterima sampai dia mengimani masalah takdir. Yakni amal-amal yang besar. banyak gugur seketika di saat seseorang itu mengingkari prinsip dasar agama ini yang berhubungan dengan masalah-masalah yang wajib diimani dalam keimanan seperti masalah takdir tadi atau masalah iman kepada malaikat ya.<br>(53:50) Ada sebagian orang yang mengatakan malaikat itu misalnya hanya simbol kebaikan tidak ada wujudnya. Ini kufur menentang ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih yang menyebutkan keberadaan wujud para malaikat. Ya, perkara ini kelihatan sepele, tapi ini bisa menggugurkan agama, menjadikan seorang keluar dari Islam. Lah, bagaimana yang seperti ini tidak menjadikan kita khawatir sementara syubhat dan kerancuan seperti ini demikian banyak tersebar di masyarakat kita.<br>(54:22) Bahkan ya beberapa di antaranya mungkin sering dikirim ke media sosial kita. J kita ikut-ikut membacanya. Kalau bukan karena pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala, mungkin banyak yang akan terpengaruh dan tergoda. Nauzubillah minzalik. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah ya kuatkan keimanan niscaya dengan sebab itu Allah subhanahu wa taala akan menguatkan kita, menjadikan kita istikamah di atas agamanya.<br>(54:55) yakni kuatkan tauhid kita, kuatkan pemahaman akidah kita, kuatkan ittiba kita kepada sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kan sudah pernah kita jelaskan Imam Ibnu Qayyim ketika menafsirkan makna asiratul mustaqim, jalan Allah yang lurus. Kata beliau, asiratul mustaqim itu adalah tauhidul ibadati wa tauhidul mutabaah. Mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam beribadah, tidak melakukan perbuatan syirik.<br>(55:24) Kemudian hanya mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam beribadah, tidak melakukan perbuatan-perbuatan bidah. Itulah jalan Allah yang lurus. Jadi, inilah sekali lagi manfaat dari kita mempelajari akidah yang benar, akidah ahlusunah wal jamaah. mengkaji kitab-kitab yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah seperti yang kita sedang bahas ini yaitu akidah ee kitab syarhusunah tulisan al Imam Abu Muhammad Albarbahari rahimahullahu taala.<br>(56:05) Kita lanjutkan sedikit ya membahas kembali ee poin-poin yang disebutkan oleh Imam Albarbahari dalam kitab Syarhusunah. Kita sekarang sampai di poin yang ke-25. Kata beliau rahimahullahu taala. Wal imanu bil masihid dajal. [berdehem] Dan mengimani yang namanya Almasih Addajjal. Almasihud Dajjal.<br>(56:54) Pendusta besar yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda-tanda hari kiamat. Ya, Almasih ada yang mengatakan artinya karena dia berjalan di muka bumi dengan cepat. Ada juga yang mengatakan dia mamsuhul ain ya, matanya buta satu ketika dia mengaku sebagai Tuhan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim bersabda, &#8220;Innahu a&#8217;warun wa inna rbakum innahu awaru wa inna rbakum laaisa bi&#8217;war.<br>(57:25) &#8221; Sesungguhnya dia matanya buta sebelah dan sesungguhnya Rabbmu tidak akwar. Menunjukkan Allah Subhanahu wa taala memiliki dua mata yang maha mulia. [berdehem] Ya, addajal ini termasuk perkara yang wajib kita kita imani keluarnya pada hari kiamat nanti. Dan itu disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih ya, bahwasanya dia adalah pendusta besar yang mengaku sebagai Tuhan.<br>(57:55) Dan Allah Subhanahu wa taala berikan ujian bagi manusia dengan keluarnya pendusta besar ini dengan membawa keanehan-keanehan yang menjadi sebab banyak orang-orang yang tertipu dan mengikutinya. Tib. Dia akan keluar di akhir zaman menyebarkan fitnah di kalangan manusia. Nanti akan diikuti oleh orang-orang Yahudi dan juga banyak dari kaum perempuan yang mengikutinya.<br>(58:26) Serta tentu orang-orang yang lemah akalnya, orang-orang yang tidak berilmu, dia akan keliling di muka bumi ini [berdehem] dengan membawa fitnah bagi manusia. Sampai ketika dia memperdaya manusia agar beriman kepadanya, dia seolah-olah memerintahkan kepada langit untuk hujan, maka turunlah hujan. [berdehem] Ya.<br>(59:00) Kemudian melakukan hal-hal yang aneh sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Bahkan mungkin antum pernah dengar hadis yang disebutkan dalam Sahih Muslim tentang sahabat Tamim bin Aus Addari radhiallahu taala anhu yang melakukan perjalanan di laut bersama beberapa orang dari sukunya atau dari teman-temannya.<br>(59:24) yang kemudian mereka terdampar di sebuah pulau. Di pulau itu mereka terdampar di malam hari setelah diombang-ambingkan sama ombak. Ya. Kemudian mereka [berdehem] keluar dari kapal. Mereka menjumpai ada binatang yang bisa berbicara yang mereka tidak ketahui mana wajahnya dan mana belakangnya. Penuh dengan bulu. yang intinya binatang ini kemudian mengatakan ada seseorang yang berada di dalam rumah di tengah pulau ini.<br>(1:00:01) Kalian datangi dia karena dia ingin menanyakan kabarmu. Intinya akhirnya mereka ketakutan dikira ini adalah setan. Akhirnya mereka datang ternyata mereka dapati di tempat itu ada seorang yang terikat. Inilah Dajjal yang kemudian dia menanyakan tentang beberapa hal. Di antaranya dia menanyakan tentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang diutus di akhir zaman.<br>(1:00:24) yang berarti itu merupakan tanda-tanda dekatnya dia keluar. Ya, [berdehem] sampai kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian memanggil para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain untuk menceritakan kepada bel kepada mereka bahwa apa yang dia beritakan tentang Dajjal ini ternyata dilihat langsung oleh Tamim Add-Dari ini yang kemudian dengan sebab itu dia masuk Islam dan setelah masuk Islam dia menceritakan kisahnya tersebut.<br>(1:00:52) Jadi, Dajjal sudah ada saat ini di sebuah pulau yang tentu Allah tidak akan perlihatkan sampai Allah mengizinkan ya atau menakdirkan dia keluar untuk menyebarkan fitnah di akhir zaman. Nah, TB. Kemudian juga ada sebuah hadis yang menyebutkan tentang Dajjal ya yang [berdehem] berkenaan dengan masalah fitnah yang besar. Tayib. Saya akan bacakan hadis ini karena ada sebuah faedah yang berkenaan dengan masalah.<br>(1:01:47) Bagaimana keutamaan orang yang selalu mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Allah kuatkan imannya menghadapi fitnah yang sangat besar. Seperti fitnah Dajjal ini yang [berdehem] kita tahu para nabi saja yang terdahulu yang bukan di zaman mereka keluar fitnah Dajjal. Mereka peringatkan umatnya akan besarnya fitnah ini.<br>(1:02:08) [tertawa] Bismillah tayb. [berdehem] Dalam sebuah hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, yakrujud dajalu fayatawajahu kibalahuulun minal mukminin fatalaqul al masalihu masalihud dajal. Ketika Dajjal keluar, maka ada salah seorang dari kalangan orang-orang yang beriman, seorang mukmin yang nanti disebutkan dia ini adalah seorang yang seorang syahid yang paling mulia kedudukannya.<br>(1:02:58) Karena dia langsung berhadapan dengan Dajjal dan dia membantahnya di hadapannya. Kemudian datang kepadanya salah seorang dari kalangan kaum mukminin ini. Lalu dia disambut oleh para pengawal-pengawal Dajjal, para pengikutnya yang [berdehem] kemudian intinya mereka bertanya kepadanya, &#8220;Kamu ingin ke mana?&#8221; Maka orang ini berkata, &#8220;Amudu ila hadalladzi yakruj.<br>(1:03:29) &#8221; Aku akan pergi kepada orang yang keluar ini yang mengaku sebagai Tuhan ini. [berdehem] Kemudian para pengawalnya berkata kepadanya, &#8220;Awa awama tminu birabbina.&#8221; Apakah kamu tidak beriman dengan Rabb kita ini? Ini dajal ini. [berdehem] Maka dia pun berkata, &#8220;Ya maabbina khafaun. Rabb kita Allah Subhanahu wa taala tidaklah samar. Ini bukan Rabb kita.<br>(1:04:02) Maka mereka pun mengatakan, &#8220;Uktuhu, bunuhlah dia.&#8221; Kemudian mereka saling berkata satu sama lain, &#8220;Alaisaq nahakumukum taqtulu ahadan dunahu.&#8221; Bukankah Rabb kalian, yakni Dajjal, dipanggil sebagai Rabb ya di kalangan pengikutnya, bukankah dia telah melarang kalian untuk membunuh seorang pun kecuali dia yang melakukan? Qala.<br>(1:04:26) Akhirnya mereka pun membawa orang ini menuju kepada Dajjal. Kemudian [berdehem] faidza roahul mukminu qala ya ayyuhanas had dajalulladzi zakara Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka ketika orang ini, orang yang beriman ini melihat Dajjal, dia berkata, &#8220;Wahai sekalian manusia, ini dihadapkan manusia semua.<br>(1:04:54) Inilah dajal pembohong yang diberitakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.&#8221; Q fur dajalu bihi fayusyaju fayakul khuduhu wasajjuhu wasujuhu. Dajjal kemudian [berdehem] memerintahkan anak buahnya kemudian dia di disakiti ya dilukai. Dia mengatakan, &#8220;Ambil dia, tangkap dia, kemudian siksa dia, lukai dia. Ya. Kemudian sampai dilukai punggungnya dan perutnya dan Dajjal berkata kepadanya,&#8221;Um, kamu tidak beriman juga kepadaku.<br>(1:05:38) &#8221; Maka dia telah tetap mengatakan, &#8220;Antal antal masih kadzab.&#8221; Kamu adalah seorang pendusta. Ya. Kemudian [berdehem] diperintahkan dia untuk dipotong atau dibelah badannya dengan gergaji yang besar ya dari atas kepalanya sampai kakinya. Kemudian Dajjal berjalan di antara kedua potongan tubuhnya. Kemudian Dajjal berkata kepadanya, &#8220;Kum, berdiri.&#8221; dihidupkan kembali.<br>(1:06:09) Maka dia langsung berdiri. Ya, orang-orang semakin beriman yang tertipu kepada Dajjal. Kemudian Dajjal berkata kepadanya, &#8220;Ya atumminu bi, kau mau beriman kepadaku.&#8221; Maka orang ini mengatakan, &#8220;Mazdadu fika illa basiratan.&#8221; Semakin menambah keyakinanku bahwa kamu benar-benar dajal yang diberitakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br>(1:06:38) Ya. Kemudian intinya dia mengatakan setelah itu, &#8220;Wahai sekalian manusia, [berdehem] ya sesungguhnya dia tidak akan bisa melakukan ini lagi kepada seorang pun setelahku di kalangan manusia.&#8221; Kemudian setelah itu Dajjal menangkapnya untuk menyembelihnya ya, tetapi dia tidak mampu melakukannya. Yang kemudian intinya di akhir hadis ini diberitakan bahwa orang ini adalah orang yang ya syahid.<br>(1:07:08) mati syahid yang paling utama dari umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam karena perjuangannya untuk ee menentang Dajjal. Dan yang menjadi poin penting di sini adalah orang ini mengatakan hadad dajal dalam sebagian riwayat hadad dajalul kadzabulladzi haddasana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br>(1:07:32) Ini adalah dajal pendusta yang diceritakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada kami. Kata para ulama, jelas orang ini kan bukan sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dia tidak pernah bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi dia mengatakan yang diberitakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada kami menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu belajar sunah dalam hidupnya.<br>(1:07:57) Dia selalu belajar hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sehingga dia mengetahui ciri-ciri Dajjal yang diutus di akhir zaman dan dia menghadapinya. Semakin Dajjal mempraktikkan ya fitnah dan tipu dayanya, dia mengatakan, &#8220;Mazdad mazdadtu.&#8221; Aku tidak tidak bertambah kecuali semakin yakin keyakinanku bahwa kamu adalah dajal pendusta yang diberitakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada kami.<br>(1:08:26) Yakni melalui hadis-hadis yang dipelajari oleh oleh seorang seorang hamba beriman tersebut. Al kulihal ini menunjukkan kepada kita seperti apa yang kita terangkan tadi. Menuntut ilmu yang benar dengan pemahaman Al-Qur&#8217;an dan sunah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Inilah sebab yang akan menyelamatkan kita menghadapi fitnah dan godaan-godaan yang besar.<br>(1:08:51) Yang jelas ya tentu saja fitnah dajal adalah termasuk fitnah yang paling besar di akhir zaman ya yang ketika orang-orang menghadapinya benar-benar hanya orang-orang yang dikuatkan keimanannya oleh Allah Subhanahu wa taala yang akan selamat dari dahsyatnya fitnah tersebut. Barakallahu fikum.<br>(1:09:14) Nah tayib [berdehem] ya. Insyaallah cukup satu poin ini yang kita bisa tambah dari kajian kita di kesempatan siang hari ini. Mudah-mudahan apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk kita semua. Sebab yang akan menyelamatkan kita dari fitnah dalam kehidupan dunia ini untuk dijaga oleh Allah subhanahu wa taala sehingga kita menghadap Allah subhanahu wa taala dengan membawa hati yang bersih, hati yang selamat dari berbagai macam fitnah yang menyesatkan tersebut.<br>(1:09:42) Barakallahu fikum. Kita beri kesempatan bagi antum yang ingin menyampaikan pertanyaan dari yang berhubungan dengan materi ataupun pertanyaan lain yang di luar materi. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin waa alihi wasbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin. Walhamdulillahiabbil alamin. Silakan kalau ada pertanyaan.<br>(1:10:14) Iya. Apa ini yang tidak bisa iya setelahnya gak bisa lagi apa ini? Iya iya. Pokoknya tidak bisa lagi melakukan kehannya. Kan dia seperti orang ada orang yang meninggal orang tuanya dihidupkan lagi orang tuanya. Itu fitnah-fitnah. Tapi setelah orang ini dia tidak bisa lagi melakukannya. Nah, ya. Nah, ee kaitannya dengan fitnah zaman sekarangat apakah ada selain untuk keluarga keluarga yang ee jauh dari kita dan tidak lagi tidak lagi apakah ada doa atau untuk menguatkan anak yang jauh dari orang tua agar ee akidahnya kuat dan kita dari<br>(1:11:18) sebab Iya. Barakallahu fikum. Bentar. Ya, tentu saja kalau itu adalah anak kita atau anggota keluarga kita, kita punya tanggung jawab untuk mengupayakan penjagaan terhadap agama mereka. Ini termasuk keumuman makna firman Allah Subhanahu wa taala. Ya ayyuhalladina amanu anfusakum wa ahlikum wa hijar.<br>(1:11:55) Wahai orang-orang yang beriman, pelihara pelihalalah dirimu, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batuan. [berdehem] Maksudnya kalau kita mengetahui anak kita jauh, misalnya dia sekolah atau melakukan yang hal yang lain, kita harus memastikan bahwa dia selamat dalam pergaulannya.<br>(1:12:15) kita harus terus mengontrol dia. Kalau misalnya itu sekolah, carikan sekolah yang baik yang kira-kira bisa menjaga keimanannya apalagi menambah ee ilmunya supaya menjadi sebab keselamatan bagi dirinya dan bahkan menjadi sebab dia membimbing kita. Ya, kalau kita mengetahui dia lingkungan yang jauh, kita selalu ingatkan dia, kita selalu kontrol dia karena ini kewajiban kita.<br>(1:12:38) Ya, tentu kita doakan kepada Allah Subhanahu wa taala. Bagaimanapun juga doa orang tua ya tentang anaknya adalah doa yang dikabulkan. Kita manfaatkan doa ini dengan sebaik-baiknya untuk penjagaan kebaikan agama kita. Apalagi ketika dia jauh dari kita. Tapi jangan sampai kita melalaikan kewajiban kita. Karena jauhnya dia ini juga adalah ya harusnya menjadi tanggung jawab kita untuk ya bisa tetap mengusahakan penjagaan agamanya dengan cara selalu melihat keadaannya, mengontrolnya agar dia selamat dari sebab-sebab yang ya menjadikan dia terfitnah utamanya dalam<br>(1:13:13) ee kebaikan agamanya. Nam. Barakallahu fik. Iya. Iya. Hadisnya sahih 10 awal di ayat surat Alkahfi. Iya. [berdehem] Itu hadisnya sahih. Itu termasuk di antara sebab-sebab yang melindungi kita dari fitnah dajal. Menghafalnya dan tentu memahami kandungan maknanya. Nah. I silakan<br>(1:14:38) itu ee apa poin yang ada ayat awal tapi tidak [berdehem] iya ya secara umum ee karena ini berita dari Nabi sallallahu alaihi wasallam kita wajib membenarkannya. Yang jelas ee meskipun tidak ada menceritakan tentang Dajjal, tapi kan awal-awal surat Al-Kahfi menceritakan tentang yakni orang-orang yang teguh dalam keimanannya, yang bertahan ketika ada godaan dari kaumnya untuk mengajak mereka kepada keburukan.<br>(1:15:20) Al kulihal ini kanan merupakan sebab yang menguatkan keimanan seseorang dan yang jelas karena ada dalilnya dari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam maka kita wajib untuk membenarkannya. Nah, barakallahu fik. I yang mengatakan seperti itu dia termasuk punya adari atau bagaimana? Pernah diberitahu sama beliau? Ya, jelas tidak ada akan ada yang mengetahuinya karena itu akan keluar di akhir zaman.<br>(1:16:06) Kalau seandainya diketahui sekarang orang akan mengeluarkan dia sekarang pengikutnya. Ya, jadi banyak orang-orang yang menebak-nebak ini tidak benar. Bagaimana mungkin ada di Indonesia dari mana itu penjelasan seperti itu? Kecuali kalau dia mungkin sepupunya Tamim Addari yang ikut dalam peristiwa tersebut. Ya, jadi ini tentu Allah azza wa jalla samarkan pulau tersebut karena nanti akan keluarnya di akhir zaman. Ya.<br>(1:16:30) Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Masih ada yang lain? Silakan [berdehem]<br>(1:17:49) Iya. yang disebutkan dalam Sahih Muslim itu membaca 10 awal surah Alkahfi dan juga dalam riwayat juga sama Sahih Muslim juga yang sahih akhir 10 akhir ayat akhir dari surat Al-Kahfi ya. Jadi dua-duanya ini riwayatnya sahih. Masih ada yang lain? Silakan<br>(1:19:08) dari ibu-ibu mungkin ada. Iya. Kalau tidak ada kajian, kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabiyina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisihsanin yaumiddin.<br>(1:19:51) Wa akiru dakwanahamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Transcript:(09:17) [berdehem] [batuk] [berdehem] [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu(10:24) wafiruh. Wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.(11:04) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4132","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#039;ala - YouTube - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#039;ala - YouTube - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Transcript:(09:17) [berdehem] [batuk] [berdehem] [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu(10:24) wafiruh. Wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.(11:04) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-28T06:46:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-28T06:46:29+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"30 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/\",\"name\":\"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta'ala - YouTube - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-28T06:46:28+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T06:46:29+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#8217;ala &#8211; YouTube\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta'ala - YouTube - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta'ala - YouTube - Transkrip","og_description":"Transcript:(09:17) [berdehem] [batuk] [berdehem] [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta&#8217;inuhu(10:24) wafiruh. Wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.(11:04) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-28T06:46:28+00:00","article_modified_time":"2026-07-28T06:46:29+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"30 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/","name":"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta'ala - YouTube - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-28T06:46:28+00:00","dateModified":"2026-07-28T06:46:29+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/kajian-kitab-syarhus-sunnah-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a-hafidzahullahu-taala-youtube\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"[Kajian Kitab] Syarhus Sunnah &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Hafidzahullahu Ta&#8217;ala &#8211; YouTube"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4132"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4132"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4133,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4132\/revisions\/4133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}