{"id":4155,"date":"2026-07-28T13:51:24","date_gmt":"2026-07-28T06:51:24","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4155"},"modified":"2026-07-28T13:51:25","modified_gmt":"2026-07-28T06:51:25","slug":"menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","title":{"rendered":"Menetapkan Al Qur&#8217;an Dari Sisi Allah &#8216;Azza Wajalla &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A."},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Menetapkan Al Qur&#039;an Dari Sisi Allah &#039;Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/COW-SunPQBg?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah nahmaduhu wa nasta&#8217;inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a&#8217;malina. May yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadialah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.<br><br>Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba&#8217;du. Alhamdulillah. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat jemaah Masjid Nurul Iman. yang semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan rahmat, keberkahan dan kebaikan dari sisi Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Alhamdulillah kita bersyukur kepad-Nya, kepada Allah azza waalla yang memudahkan berbagai macam nikmat dan kebaikan bagi kita termasuk nikmat besar yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan bagi kita di malam hari ini di masjid yang penuh berkah ini untuk kembali kita mengadakan majelis ilmu yang mulia. Diilanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat.<br><br>Kitab Al-Aqidatu Alwasitiyah, buah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Alhamdulillah kita masih melanjutkan pembahasan tentang ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menyebutkan tentang sifat-sifat kemahagian dan kemahaagungan Allah Subhanahu wa taala. Masih berkaitan dengan pembahasan kita di pertemuan yang lalu tentang Al-Qur&#8217;an.<br><br>Ya, Al-Qur&#8217;an adalah kalamullah yang bersumber dari berasal dari sisi Allah Subhanahu wa taala dan bukan makhluk. [mendengus] Makanya Al-Qur&#8217;an adalah sebaik-baik ucapan yang merupakan sumber petunjuk kebaikan bagi manusia. Makanya Al-Qur&#8217;an [berdehem] tidak bisa didatangkan yang semisalnya oleh orang-orang kafir Quraisy ketika Allah Subhanahu wa taala menantang mereka dalam beberapa ayat Al-Qur&#8217;an untuk membuat yang seperti atau yang semisal dengan Al-Qur&#8217;an.<br><br>Ya. Dan Allah Subhanahu wa taala menegaskan ancaman keras dengan azab neraka bagi orang yang mengatakan Al-Qur&#8217;an adalah makhluk. Inza illa qulul basyar sausli sauslihiqar. Faqala inza illa sihrun yar. Inza illaul basar sausliq. Ya, orang kafir itu mengatakan Al-Qur&#8217;an ini tidak lain adalah tidak lain kecuali adalah sihir yang dipelajari dari orang-orang yang terdahulu.<br><br>Al-Qur&#8217;an ini tidak lain adalah kecuali ucapan manusia biasa. Maka Allah berfirman, &#8220;Sausliqar.&#8221; Saya akan masukkan orang yang mengatakan seperti ini ke dalam neraka sakar. Naudubillah minzalik. Maka kita wajib meyakini sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang sudah pernah kita kaji juga di pertemuan yang lalu.<br><br>Sebagaimana yang ditetapkan dalam akidah ahlusunah wal jamaah. Al-Qur&#8217;an adalah kalamullah ya firman Allah ucapan Allah bukan makhluk. minhu bada wa ilaihi yaud yang berasal dari sisi Allah subhanahu wa taala dan akan kembali kepada Allah subhanahu wa taala nantinya. Barakallahu fikum. Kemudian setelah itu jemaah sekalian hafidakumullah masih berkenaan dengan ayat-ayat yang menyebutkan tentang Al-Qur&#8217;an.<br><br>Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab al-Aqidatul Wasitiyah ini membawakan beberapa ayat Al-Qur&#8217;an. yang menetapkan bahwa Al-Qur&#8217;an itu diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala. [mendengus] Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman dengan Al-Qur&#8217;an. Kemudian didengarkan oleh malaikat Jibril.<br><br>Lalu malaikat Jibril menyampaikannya kepada rasul utusan Allah Subhanahu wa taala sesuai dengan perintahnya. Ya nazala bihiruhul amin alb alaqbika litakuna minalirin bilisanin arabiim mubiyin. Alqur&#8217;an itu dibawa turun [berdehem] oleh roh yang terpercaya yakni malaikat Jibril alaihialatu wasalam. diturunkan ke dalam hatimu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam agar kamu memberikan peringatan kepada manusia bilisanin arabiyin mubin dengan bahasa Arab yang jelas.<br><br>[berdehem] Maka di ayat-ayat yang disampaikan atau dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam pembahasan lanjutan di kitab al-Akqidatul Wasitiyah ini adalah ayat-ayat yang menetapkan annal qurana munazzalun minallahi taala. Bahwa Al-Qur&#8217;an ini diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala. Karena Allah Subhanahu wa taala adalah alaliyu almutaali yang maha tinggi.<br><br>Yang sudah pernah kita jelaskan semua makna kemahagian ada pada sifat Allah Subhanahu wa taala. Dia maha tinggi pada zatnya karena dia berada di atas semua makhluknya. Ya, maha tinggi di atas arsynya. Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar. Dan Allah Subhanahu wa taala yang maha pemurah. alal arsistawa Allah yang maha pemurah beristiwa yakni ala wartafaa maha tinggi di atas arsynya [berdehem] maka ketika disebutkan di ayat-ayat ini Al-Qur&#8217;an itu diturunkan dari Allah menunjukkan Allah Subhanahu wa taala<br><br>maha tinggi dan sekaligus menunjukkan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah sifat Allah yang berasal dari Allah Subhanahu wa taala. Maka Al-Qur&#8217;an termasuk firman Allah atau kalamullah dan kalamullah adalah termasuk sifat-sifat kesempurnaan kemahaagungan Allah azza waalla. Tib. Kita lihat ayat-ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam pembahasan ini.<br><br>Ayat yang pertama dibawakan firman Allah Subhanahu wa taala di surah Al-An&#8217;am ayat 155. [mendengus] Wahadza kitabun anzalnahu mubarok. Dan kitab Al-Qur&#8217;an ini ya adalah kitab yang ini yang tertulis. Kitab artinya maktu yang tertulis tertulis dalam allauhul mahfud yang terjaga di sisi Allah Subhanahu wa taala. tertulis di lembaran-lembaran catatan para malaikat dan tertulis di mushaf-mushaf yang kita baca di masjid, di rumah-rumah kita atau di pondok-pondok pesantren.<br><br>[berdehem] Ya, inilah kitab Al-Qur&#8217;an yang kami turunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang kami turunkan mubarakun penuh dengan keberkahan. Mubarok, yakni penuh dengan kebaikan. Karena Al-Qur&#8217;an adalah sebaik-baik petunjuk, sebaik-baik bacaan yang akan menumbuhkan iman di hati. Karena Al-Qur&#8217;an diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala sebagai obat penyakit hati manusia.<br><br>Ya, dalam surat Al-Isra ayat 82 Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Waazzilu [berdehem] minal qurani ma hua syifau warahmatul lil mukminin.&#8221; Dan kami turunkan di dalam Al-Qur&#8217;an sesuatu yang merupakan syifa, obat penyembuh, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ini keberkahan Al-Qur&#8217;an. [berdehem] Kalau kita baca dan kita renungkan isinya sehingga kandungan maknanya yang indah menyentuh hati kita, maka semua penyakit-penyakit buruk dengan izin Allah Subhanahu wa taala Allah akan hilangkan ya dari hati hamba tersebut. Yakni<br><br>penyakit kurang dalam ikhlas, cinta dunia yang berlebihan, lalai dari mengingat Allah. Ini penyakit-penyakit paling besar. penyakit tidak khusyuk dalam beribadah. Ya. Kemudian [berdehem] penyakit yang berhubungan dengan sebab-sebab yang menghalangi seorang hamba dari keimanan yang benar, ketakwaan kepada Allah.<br><br>Penyembuh paling utama dengan izin Allah Subhanahu wa taala adalah pada ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang diturunkannya. Makanya lebih spesifik disebutkan di ayat yang lain sebagai syifaun lima fudur obat bagi penyakit hati. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Ya ayyuhanasu q ya ayyuhanasuq jaatkum maidumbikumul lima furi wuda warahmatul lil muslimin.<br><br>&#8221; Wahai sekalian manusia, sungguh telah datang kepadamu mauidah, nasihat dari Rabbmu, dari Allah Subhanahu wa taala, serta obat bagi penyakit di dalam dadamu dan rahmat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang muslim. Ini Al-Qur&#8217;an ya. Jadi semua makna keberkahan termasuk dalam hal mengobati penyakit hati yang menghalangi keimanan setelah sembuh kemudian yang mengisi hati dengan kebaikan untuk menjadikan keimanan kita ya ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala semakin sempurna.<br><br>Al-Qur&#8217;an adalah sebab yang menjaga kita dari berbagai macam tipu daya setan. Ya, [berdehem] karena berpegang teguh dengan petunjuk Al-Qur&#8217;an menjadikan hati kita dijaga dengan penjagaan ilmu, penjagaan dari Allah Subhanahu wa taala. Sehingga ketika ada bisikan setan berupa fitnah syubhat atau syahwat, maka dengan izin Allah Subhanahu wa taala Al-Qur&#8217;an yang akan menjadi penangkal ya fitnah-fitnah atau bisikan setan tersebut.<br><br>Ya, seperti yang kita ketahui Al-Qur&#8217;an itu diperumpamakan oleh para ulama seperti penjelasan Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Allah jadikan sebagai penjaga hati bagi hati manusia. yakni penjaga keimanan di dalam hati manusia itu seperti Allah jadikan penjagaan langit dengan bintang yang menjadi panah api atau meteor yang membakar setan atau jin-jin jahat yang ingin mencuri-curi dengar berita di langit ini.<br><br>Sebelum diutusnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, banyak yang mencuri-curi berita yang kemudian mereka lontarkan berita itu kepada para dukun, tukang sihir, tukang ramal yang mereka ini adalah teman-temannya setan di dunia. Bahkan mereka setan dari kalangan manusia di dunia. Dengan cara ini terkadang mereka bisa mengetahui hal-hal yang mungkin dianggap manusia gaib padahal itu diambil dari berita-berita di langit.<br><br>Setelah diutusnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, maka Allah jadikan penjagaan langit lebih ketat lagi dengan bintang-bintang yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an sebagai syuhubah api yang akan membakar mereka. Ya, makanya disebutkan di dalam surah Aljin ya ucapan para jin yang masuk Islam. Wa kunna naquu minha maqidastamiljidahu rasoda.<br><br>Kami dulunya sebelum diutus Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa ali wasallam memiliki tempat-tempat duduk untuk ya mengintai di langit ini mencuri-curi berita, mencuri-curi dengar berita yang Allah Subhanahu wa taala sampaikan kepada para malaikat. Tapi barang siapa yang ingin mendengarnya sekarang, mencuri-curi dengar saat ini, dia akan dapati ada panah api yang selalu mengintai untuk membakarnya.<br><br>Nah, seperti ini gambaran yang diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim tadi dalam penjelasan sehubungan dengan pembahasan kita seperti ini. Gambaran ilmu yang bersumber dari petunjuk Al-Qur&#8217;an, petunjuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menjaga hati kita, menjaga keimanan di hati kita, menjaga tauhid kita.<br><br>Ketika setan berusaha untuk merusaknya dengan bisikan-bisikan, dengan fitnah, syubhat dan syahwat. Coba bayangkan orang yang tidak membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya, tidak belajar agama, eh bukankah setan akan selalu menggodanya setiap saat dan godaan setan itu demikian dahsyat dan kuat. Bagaimana dia akan selamat sementara dia tidak mengusahakan penjagaan ilmu bagi dirinya? Ya, ingat sudah pernah kita nukilkan pernyataan dari sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib Radhiallahu taala anhu tentang kedudukan ilmu agama. Al ililmu<br><br>khairun minal mali. Al ililmu yahrusuka wa anta tahrusul ma. Ilmu itu lebih baik daripada harta. Karena ilmu akan menjagamu, sedangkan harta kamu yang harus menjaganya. Al-Qur&#8217;an ini penuh dengan keberkahan di antaranya dia akan menjaga hati kita dengan izin Allah. Sampai [berdehem] ketika ada bisikan setan, Allah Subhanahu wa taala akan menjadikan bisikan-bisikan ini tidak berarti.<br><br>Bahkan semakin menguatkan keimanan seorang muslim. Ini kalau tidak salah beberapa waktu atau di kajian ini saya pernah menjelaskan ya bahwa setan itu memang kerjaannya membisikan. Sebab-sebab yang merusak iman di hati kita tidak pernah berhenti terus berkali-kali. Mungkin sekali lolos, kedua kali dia bisa berpaling.<br><br>Tap kali berikutnya, keempat, kelima, keenam ada yang bisa menempel. Kalau tidak dengan penjagaan Allah Subhanahu wa taala, binasalah. Tidak ada yang selamat. Ya, sampai sekelas para sahabat mengalami bisikan setan. Bahkan disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an, nabi saja digoda oleh setan. Tidak ada yang lepas dari godaan setan.<br><br>Cuman ada yang diselamatkan dan dijaga oleh Allah. Ada yang nauzubillah minzalik Allah berpaling darinya sehingga setan yang menguasai dirinya. Disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, ada beberapa orang sahabat yang pernah datang menemui Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. menanyakan tentang keadaan yang mereka alami, yakni berupa banyaknya bisikan setan di hati.<br><br>Para sahabat ini generasi yang terbaik. Iman mereka adalah iman-iman yang kuat, iman-iman yang sempurna. Datang mereka kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ini dalam Sahih Muslim ya, hadis sahih. Mereka berkata, [mendengus] &#8220;Ya Rasulullah, innana wajadna fi anfusina ma yataadomu ahaduna yatakallama bihi.&#8221; Ya Rasulullah, kami mendapati dalam diri kami ada bisikan-bisikan, yakni godaan godaan setan yang salah seorang dari kami itu merasa berat untuk mengungkapkan bisikan-bisikan tersebut, untuk mengucapkan bisikan-bisikan itu karena sangat<br><br>bertentangan dengan iman. Disebutkan dalam riwayat lain ya mala inakirru minasama ilal ard ahabbu ilaihi minatakallama bihi. Bisikan-bisikan itu salah seorang di antara kami lebih memilih seandainya dia jatuh dari langit ke bumi daripada mengucapkan bisikan-bisikan itu. Mendengar ini apa jawaban Nabi sallallahu alaihi wasallam? Beliau berkata dalam sebagian riwayat, &#8220;Awaqod wajtumu, apakah kalian telah merasakan bisikan-bisikan itu?&#8221; Ada riwayat lain yang menyebutkan, &#8220;Daka shihul iman.&#8221; Itulah bukti kekuatan iman<br><br>di hatinya. Ada lagi riwayat lain, tentu ini semua riwayat yang semakna ya, yang mengatakan, &#8220;Alhamdulillahilladzi rodda kaidahu ilal waswasah.&#8221; Segala puji bagi Allah yang menolak tipu daya setan menjadi bisikan-bisikan yang tidak berarti. Apa makna dan arti dari semua riwayat ini? Dan ini tentu riwayat ini semua dibawakan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Alwabilus Sayyib kalau bukan kitab Ightatul Lafan ya.<br><br>Salah satu di antara dua kitab ini atau mungkin dua-duanya karena saat ini tidak ingat persis ya. Jadi apa kesimpulan dari riwayat ini? Kenapa Nabi sallallahu alaihi wasallam malah memuji para sahabat yang merasakan hal ini? Bahkan beliau mengatakan inilah bukti kekuatan iman di hatinya. Para ulama menjelaskan, ada yang mengatakan adanya bisikan setan di hati seorang hamba merupakan bukti ada keimanan yang benar di hatinya.<br><br>Karena tidak mungkin setan akan menggoda hati yang kosong dari iman. Buat apa digoda wong kosong? Tidak ada keimanan yang benar. Yakni kalau imannya rusak, setan masa akan, yakni pencuri masa akan mengambil sesuatu yang rusak. Pastinya yang namanya pencuri akan mencari sesuatu yang berharga. Jadi bukti dengan adanya bisikan setan ini menunjukkan ada yang berharga di hati hamba ini, yaitu keimanan yang benar.<br><br>Berarti ini kesimpulannya apa, Jemaah sekalian? Hafidakumullah, iman yang benar itu pasti akan berusaha digoda oleh setan untuk dirampas, dirusak. Maka bagaimana keadaan seorang hamba yang sudah mengusahakan keimanan yang baik, tapi dia tidak mengusahakan penjagaan bagi iman tersebut? Ya, dalam urusan dunia kita kalau kita memiliki sesuatu yang berharga, apakah kita akan letakkan begitu saja tanpa ada penjagaan, tanpa apa ini dibuatkan sesuatu yang merupakan pengamanan berlapis? Ini urusan dunia kita, apalagi urusan agama kita. Dan penjagaan bagi iman kita<br><br>adalah penjagaan dari Allah Subhanahu wa taala melalui ilmu Al-Qur&#8217;an. Hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang kita kaji. Yang ini menjadi seperti panah api yang akan membakar setiap syubhat, fitnah yang dilontarkan oleh setan, fitnah syubhat maupun syahwat. Nah, sekarang yang jadi masalah bagaimana kalau hamba tidak memiliki penjagaan seperti ini? Baik, ini pendapat pertama atau penjelasan yang pertama yang diterangkan oleh para ulama.<br><br>Yang kedua, sebagian lain menjelaskan kuatnya iman yang dimaksud oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di hadis ini. Karena penolakan dari hati hamba yang beriman ini ketika ada bisikan setan. Bagaimana bentuk penolaknya? Dia merasa berat. Bahkan dia memilih lebih baik jatuh dari langit ke bumi daripada mengikuti bisikan setan.<br><br>Ini semua kan taufik dari Allah. Ketika ada bisikan setan, maka iman yang kuat akan menolaknya, akan mengingkarinya. Sehingga bisikan setan ini bukannya melemahkan dia, justru semakin menguatkannya. Makanya tadi Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam salah satu lafaznya apa? Segala puji bagi Allah yang menolak melemahkan bisikan-bisikan setan ee tipu daya setan menjadi bisikan-bisikan yang tidak berarti bahkan semakin menguatkannya.<br><br>Masyaallah. Ini contoh keberkahan Al-Qur&#8217;an, keberkahan ilmu agama. Ya, cuma di sini kita ingat jemaah sekalian hafidakumullah, selalu kita ingatkan keberkahan Al-Qur&#8217;an kita bisa keluarkan dengan apa? dengan kita membaca dan merenungkan isinya. Karena merenungkan isinya ini yang menyentuhkan keindahan Al-Qur&#8217;an kepada hati kita.<br><br>Makanya disebutkan di ayat lain ya yang semakna dengan ayat yang tadi kita baca. Kitabun anzalnahu ilaika mubarok liyadabbaru ayatihi waliatakar ulul albab. Kitab Al-Qur&#8217;an yang kami turunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mubarokun penuh dengan keberkahan. Apa tujuannya? Liyadabbaru ayatihi.<br><br>Agar manusia bisa merenungkan isinya, memahami kandungan maknanya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya. Makanya keberkahan Al-Qur&#8217;an [berdehem] ya tergantung dari kita. sejauh kita bagaimana kita membaca dan merenungkan isinya. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Ighatul Lafan ketika membahas masalah ini, beliau berkata, &#8220;Walakinnahu mau ala fahmi wafatil murodi minhu.<br><br>&#8221; Akan tetapi kebaikan dan keberkahan Al-Qur&#8217;an kita dapatkan maukufun. Tergantung dari sejauh mana kita memahami isinya dan mengerti kandungan maknanya. Barakallahu fikum. Tib. Jadi kesimpulannya tadi [berdehem] ya kata Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah taala, &#8220;Wal hasil anal qurana kitabun mubarokun anwain anwail barokati quranilim.<br><br>&#8221; Kesimpulannya, Alquran adalah kitab yang penuh berkah, penuh dengan kebaikan. Maka semua bentuk keberkahan akan didapatkan ketika kita membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya. Makanya semua permasalahan yang kita hadapi, sebaik-baik cara menyelesaikannya adalah baca Al-Qur&#8217;an dan renungkan isinya.<br><br>Karena membaca Al-Qur&#8217;an berarti menghubungkan kita dengan Allah Subhanahu wa taala. Apakah ada yang lebih sempurna kebaikan-kebaikan dan limpahan rahmat karunianya melebihi Allah Subhanahu wa taala? Bagaimana keadaan hati manusia ketika berhubungan dengan Allah Subhanahu wa taala dalam menghadapi masalah apapun pasti akan Allah Subhanahu wa taala mudahkan itu baginya.<br><br>Itu ayat yang pertama yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Kemudian ayat yang kedua, [berdehem] firman Allah azza wa jalla di surah al-Hasyr ayat ke-21. Masyaallah, ini juga merupakan ayat yang sangat agung. Bagaimana Al-Qur&#8217;an yang diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala ini pengaruhnya dalam membenarkan dan meluruskan hati kita.<br><br>Allah azza wa jalla berfirman, &#8220;Lau anzalna hadal qurana ala jabalilaroitahu khosiam mutasoddiam min khasyatillah watilkal amsalu nadribuha linasi la&#8217;allahum yatafakkarun. Seandainya kami turunkan Al-Qur&#8217;an ini kepada sebuah gunung, gunung batu. Ini gunung kan ini perumpamaan dari benda yang paling kokoh, yang paling keras, maka kamu niscaya kamu akan menyaksikan Al-Qur&#8217;an itu akan tunduk dan akan pecah.<br><br>karena takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan itulah perumpamaan yang kami buat bagi manusia agar mereka bisa memikirkannya. Kan Allah sebutkan di sini, &#8220;Kalau kami turunkan Al-Qur&#8217;an kepada batu, berarti Al-Qur&#8217;an diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala sebagaimana ayat yang pertama tadi ya.<br><br>[berdehem] Cuma di sini Allah Subhanahu wa taala memperumpamakan supaya mengingatkan kepada kita bahwa hati manusia kalau tidak tunduk ketika Al-Qur&#8217;an diturunkan, ketika dia membaca dan merenungkan Al-Qur&#8217;an, isi kandungan Al-Qur&#8217;an yang indah, maka sungguh keterlaluan batu saja sampai takut, tunduk dan bisa berpecah, bisa terpecah.<br><br>Maka masa hati manusia yang tidak yang asalnya tidak mungkin sekeras batu, iya kan? Tidak tunduk ketika Al-Qur&#8217;an diturunkan. [berdehem] Di surat Albaqarah ayat 74 Allah Subhanahu wa taala berfirman ketika mengingatkan hal ini. Tumma qosat qulubukum min ba&#8217;dialika fahiya kal hijarati asyaddu qaswah. Wa inna minal hijarati lama yatafajarjar minhul anhar.<br><br>Lama yatafajar minhul anhar wa inna minha lama yasqakuj minhul ma wa inna minha lama yahbitu min kyatillah. Kemudian hati kalian menjadi kaku, keras setelah itu yang kemudian hatimu itu menjadi seperti batu bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu itu ya [berdehem] ada yang bisa mengalir air di sela-selanya.<br><br>Ada yang terbuka celanya untuk air mengalir. Kemudian di antara batu itu [berdehem] ya ada juga yang takut yang jatuh karena takut kepada Allah subhanahu wa taala. Yni ini kan perbandingan yang Allah sebutkan bahwa hati manusia tidak pantas untuk demikian kaku dan keras sehingga tidak bisa menjadi takut dan tunduk ketika dibacakan di hadapannya ayat-ayat Al-Qur&#8217;an.<br><br>[berdehem] Padahal benda-benda seperti ini saja Allah Subhanahu wa taala sebutkan mereka punya perasaan. Ya, makanya di sini dalil kata sebagian dari para ulama ini dalil yang menunjukkan bahwa gunung atau batu itu punya punya perasaan tapi tentu tidak kita ketahui ya. Sebagaimana kan disebutkan semua makhluk itu, semua benda itu bertasbih kepada Allah.<br><br>Tapi walakin la tafqahuna tasbihahum. Tapi kalian tidak bisa memahami tasbihnya mereka. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan tentang Gunung Uhud dalam hadis riwayat Imam Muslim, bagaimana? Uhudun jabalun yuhibbuna wa nuhibbuh. Gunung Uhud itu adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya. Ini gudung bisa punya perasaan mencintai.<br><br>Ketika Allah Subhanahu wa taala menghendakinya, Allah Maha Kuasa menjadikan benda-benda yang kita katakan benda mati ini ternyata bisa memiliki ihsas, punya perasaan, punya indra. [berdehem] Ya. Nah, jadi di sini Allah Subhanahu wa taala menyebutkan perumpamaan ini untuk hati manusia. Makanya Al-Qur&#8217;an diturunkan itu tujuannya adalah untuk melunakkan hati.<br><br>Supaya hati tidak keras membantu, membatu, bacalah Al-Qur&#8217;an dan renungkan isinya. Ya, ini sebabnya Al-Qur&#8217;an disebutkan sebagai bentuk pujian kepada orang-orang yang dianugerahkan padanya ilmu yang agung ini. Dalam firman Allah Subhanahu wa taala, &#8220;Bal huaatum bayyinatun fi sudurilladzina utul ilma.&#8221; Akan tetapi Al-Qur&#8217;an itu adalah merupakan ayat-ayat yang jelas yang Allah jadikan di dalam dada orang-orang yang diberikan ilmu kepadanya.<br><br>Inilah Al-Qur&#8217;an yang menjadi sebab yang akan melunakkan hati. Hati kalau lunak maka keikhlasan akan semakin kuat. Khusyuk kepada Allah akan mudah didapatkan. Cinta, takut, berharap, tawakal kepada Allah, dan semua kebaikan-kebaikan yang lainnya akan mudah Allah Subhanahu wa taala wujudkan. Karena kebaikan hati merupakan sebab kebaikan semua anggota badan manusia.<br><br>Ya, ala wa inna fil jasadi mugotan shal jasadu waid fasadat fasadal jasadu ala wahya alqalbu. Ketahuilah dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau segumpal daging ini baik, semua anggota badan akan baik. Kalau rusak maka semua anggota badan akan rusak. Barakallah [berdehem] fikum. Kita akan teruskan lagi insyaallah nanti setelah selesai melaksanakan salat Isya karena sudah waktu salat.<br><br>Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwan shallallahu alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani amma baakallahu fikum Ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah, kita lanjutkan pembahasan dari ee<br><br>ayat-ayat yang dinukil oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab Al-Akqidatul Wasitiyah untuk menetapkan bahwasanya Al-Qur&#8217;an diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala. [mendengus] Jadi ayat yang kedua sudah kita bacakan tadi dan sudah kita jelaskan surat Al-Hasyr ayat ke-21 yang di sini merupakan perumpamaan yang berhubungan dengan ee fungsi atau tujuan utama, salah satu tujuan hikmah besar diturunkannya Al-Qur&#8217;an adalah untuk melembutkan hati manusia agar tidak mengeras bahkan melebihi kerasnya<br><br>batu yang padahal gunung yang demikian keras saja ketika diturunkan padanya Al-Qur&#8217;an maka dia akan tunduk bahkan bisa hancur terpecah ya karena takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, pelajaran yang kita ambil dari ayat ini bahwasanya membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya, menyentuhkan hati kita dengan kandungan Al-Qur&#8217;an yang indah ini merupakan sebab sebaik-baik sebab untuk menjadikan hati kita khusyuk, menjadikan hati kita tunduk, menjadikan hati kita memiliki rasa takut kepada Allah subhanahu wa taala.<br><br>Allah azza wa jalla berfirman di dalam surah al-Hadid. Alam yni lilladzina amanu azubillahiminasyaitanirjim. Alam yni lilladina amanu qulubuhumikrillahi w nazala minal haqq wala yakunu kalladina utul kitaba minqoblu faola alaihimul amadu faqosat qulubuhum wairum minhum fasiquun. pun belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka itu tunduk ya ketika mengingat Allah subhanahu wa taala dan tunduk kepada kebenaran yang Allah turunkan kepada mereka.<br><br>Dan janganlah mereka bersikap seperti orang-orang ahlul kitab sebelum mereka yang ketika telah berlalu masa yang panjang mereka tetap dalam kelalaian, tidak mau merenungkan dan membaca dengan benar kitab yang diturunkan, petunjuk yang diturunkan kepada mereka sehingga hati mereka pun menjadi membatu, menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka menjadi orang-orang yang fasik.<br><br>Ya, ini merupakan teguran ya bagi orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah dengan membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya untuk menjadi sebab kebaikan pada hati mereka yang kemudian menjadi sebab pada semua anggota badan mereka. Barakallahu fikum. Jadi ayat yang kedua ini adalah syahidnya Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur&#8217;an dari sisinya.<br><br>Kemudian yang yang berikutnya, ayat berikutnya yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala. PB Tunggu sebentar ya.<br><br>Iya. Ayat ketiga ini sekaligus rangkaian ayat ketiga, keempat, dan kelima itu adalah firman Allah di surat An-Nahl ayat 101, 102, 103 [mendengus] yang dibawakan oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala untuk menetapkan Al-Qur&#8217;an itu diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala. Azubillahiminasyaitanirrajim.<br><br>Waidza baddalna ayatam makana ayatin wallahuam alamu bima yunazzilu qolu innama anta muftar bal aksaruhum la ylamun qul nazzalahu ruhul qudusi mirbika bilhaqqi liyabitina amanu Walaq walaqamu annahum yaquuluna innama yuallimuhu basyar lisanulladzi yulhiduna ilaihi a&#8217;jamiyu wahza lisanun arabiyum mubin. Tiga ayat yang menetapkan, yang menjelaskan, menegaskan bahwa Al-Qur&#8217;an benar-benar diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Berarti dia adalah sifat Allah Subhanahu wa taala dan bukan makhluk. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Dan jika kami menggantikan satu ayat [berdehem] dengan kedudukan ayat lain dan Allah Subhanahu wa taala yang maha mengetahui tentang ayat-ayat yang diturunkannya, qalu orang-orang kafir itu mengatakan, innama anta muftar.<br><br>&#8221; Kamu ini wahai Nabi Muhammad, wahai Muhammad sallallahu alaihi wasallam hanyalah seorang yang mengadakan kedustaan. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Qul katakan wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada mereka, Al-Qur&#8217;an ini diturunkan oleh malaikat Jibril, dibawa oleh malaikat Jibril dari Rabbmu, dari Allah Subhanahu wa taala dengan kebenaran untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman serta untuk menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.<br><br>Sungguh kami telah mengetahui Sungguh kami mengetahui bahwa mereka benar-benar mengatakan [berdehem] bahwa mereka mengatakan ya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam diajarkan oleh kepadanya tentang Al-Qur&#8217;an ini oleh seorang manusia. Padahal bahasa yang mereka tuduhkan sebagai orang yang mengajarkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu adalah bahasa ajam bukan bahasa Arab.<br><br>Sedangkan Al-Qur&#8217;an dengan bahasa Arab yang jelas. Tiga ayat ini semua menyebutkan Al-Qur&#8217;an itu ya diturunkan dari Allah Subhanahu wa taala. Ya. Maka jelas sekali ayat-ayat yang dibawakan di sini oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala menetapkan bahwa Al-Qur&#8217;an dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Sehingga ini wajib kita tetapkan sebagaimana yang selalu kita pelajari dari akidah ahlusunah wal jamaah ya.<br><br>bahwa Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat alkalam. Karena Allah Subhanahu wa taala menetapkan bagi dirinya sifat alkalam, yakni berbicara, berfirman. Tapi kita meyakini ini adalah sifat kesempurnaan yang sesuai dengan kemahaagungan dan kemahaan Allah. Tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Laisa kamitlihi saiun wahua samiul bashir.<br><br>Tidak ada satuun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Ya, sehingga kita wajib menetapkan sifat ini bagi Allah Subhanahu wa taala. Karena disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan kembali kita ingatkan untuk menafikan empat perkara, yaitu bila tamsil tanpa menyerupakannya dengan makhluk.<br><br>bila takyif tanpa menanyakan bagaimananya. Karena itu cuma Allah Subhanahu wa taala yang maha mengetahui kaifiahnya. Kemudian bila taktil, bila taatil tanpa menolak sifat-sifat ini dan bila tahrif tanpa menyelewengkan kandungan maknanya. Jadi kita menetapkannya bagi Allah Subhanahu wa taala dengan mengatakan sifat ini sesuai dengan kemaha besaran, kemahaungan dan kemahagian Allah Subhanahu wa taala tidak sama dengan sifat yang ada pada makhluk.<br><br>Tib. Kemudian yang terakhir mengenai apa faedah yang kita dapatkan dari sisi ya kebaikan atau peningkatan iman kita dengan mengimani ayat-ayat ini bahwasanya Al-Qur&#8217;an diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala. [mendengus] Ya. Kata Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah taala hal ini akan ajab lana dalalikaal Quran.<br><br>menjadikan [berdehem] kita mengagungkan Al-Qur&#8217;an ini ya. Al-Qur&#8217;an diperlakukan tidak sama dengan yang lainnya. Penempatannya pun kita diperintahkan untuk menempatkannya di tempat yang dimuliakan, tempat yang ditinggikan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam beberapa riwayat yang sahih, kitab suci yang diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala diletakkan di tempat yang tinggi yang dimuliakan.<br><br>Ya, [berdehem] karena kita memuliakan dan mengagungkannya. Kemudian tentu saja kita berusaha membaca, merenungkan isinya, memahami maknanya agar kita bisa melaksanakan perintah-perintah di dalamnya. Kemudian meninggalkan larangan-larangan dan hal-hal yang dicela oleh Allah Subhanahu wa taala serta membenarkan berita-berita yang Allah Subhanahu wa taala beritakan di dalamnya tentang perkara-perkara yang gaib.<br><br>Ini kewajiban kita mengimani Al-Qur&#8217;an ini mengimani Al-Qur&#8217;an ini serta mempraktikkan kandungan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Bab. Barakallahu fikum. Ya. Maka dengan ini selesai pembahasan tentang ayat-ayat yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala yang menyebutkan atau menetapkan Al-Qur&#8217;an adalah dari Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji di kesempatan malam hari ini bermanfaat dan menjadi sebab untuk semakin menguatkan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifat kemahagian dan kemahaurnaannya. Bab sebelum kita akhiri kajian kita, kalau ada pertanyaan yang ingin antum sampaikan, maka dipersilakan ya.<br><br>Kita baca dulu pertanyaan yang sampai lewat kertas ini. Bolehkah membaca Al-Qur&#8217;an dengan mendengarkan kajian di YouTube? Membaca Al-Qur&#8217;an dengan mendengar kajian bagaimana? Sambil mendengar, sambil ikut kajian? Ya tidak boleh. Al-Qur&#8217;an itu ketika dibacakan kita harus dengarkan. [mendengus] Karena itu yang diperintahkan dalam Al-Qur&#8217;an.<br><br>Wa quri al quranu fastamiu lahu waitu la&#8217;allakum turhamun. Dan jika Al-Qur&#8217;an dibacakan maka dengarkan baik-baik dan perhatikan agar kamu mendapatkan rahmat. Makanya tidak boleh seseorang itu misalnya ya di kendaraan sambil dia menyetel murotal dia ngobrol dengan temannya. Tidak boleh.<br><br>Kalau butuh ngobrol, matikan dulu murotalnya karena itu perintah. Dan juga tidak boleh seseorang itu misalnya ketika ada orang yang sedang membicarakan masalah penting, dia ikut duduk situ kemudian dia baca Al-Qur&#8217;an dengan suara yang keras ya supaya tidak menjadi sebab orang-orang itu kemudian ya memutuskan pembicaraannya. Mungkin ada pembicaraan yang penting ya.<br><br>Ala kuli Al-Qur&#8217;an ketika dibacakan atau diperdengarkan kewajiban kita adalah harus mendengarkannya baik-baik dan memperhatikannya agar mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa taala. Kalau mungkin maksudnya pertanyaan ini membaca Al-Qur&#8217;an yaitu mendengarkan kajian tentang Al-Qur&#8217;an dibahas di YouTube. Ya jelas boleh kalau yang dibahas adalah tafsir dari para ulama ahlusunah wal jamaah yang menukil asar-atar para sahabat yang menjelaskan Al-Qur&#8217;an dengan penjelasan yang benar dari para ulama ahlusunah wal jamaah.<br><br>Seperti misalnya tafsir Ibnu Katsir yang dibahas atau mungkin tafsir Ass&#8217;di, Syekh Abdurrahman Ass&#8217;di yang juga sudah ada terjemahannya ya. atau tafsir dari para ulama ahlusunah lainnya. Jelas itu diperbolehkan dan termasuk ilmu yang sangat bermanfaat. Enam. Apakah semua apa ini? Oh, apakah sama pahalanya saat baca Al-Qur&#8217;an [berdehem] dengan dan tanpa wudu? Ya, jelas tidak sama.<br><br>Ya, lebih utama seseorang itu membaca Al-Qur&#8217;an dengan sempurna dalam keadaan wudu. Bahkan kata para ulama, ketika kita membaca Al-Qur&#8217;an, berzikir atau berdoa, itu lebih utama kalau kita melakukan [berdehem] ya dengan adab-adab seperti yang kita lakukan dalam salat. Kita menghadap kiblat misalnya dalam keadaan aurat kita tertutup ya.<br><br>Kemudian dalam keadaan kita masih ada wudu, itu lebih utama meskipun diperbolehkan. Misalnya orang berzikir ya tidak menghadap kiblat itu boleh. Tetapi lebih utama kalau dalam keadaan lebih sempurna tadi. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Inni karihtu an adkurallaha illa ala thaatin. Sesungguhnya aku tidak suka berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala kecuali dalam keadaan suci, dalam keadaan ada wudunya.<br><br>Tapi di riwayat yang lain, Aisyah radhiallahu taala anha juga dalam Sahih Muslim mengatakan, kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yadkurullaha ala kulli ahyanih. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berzikir kepada Allah dalam semua keadaannya baik suci maupun tidak suci. Tapi ini menunjukkan bahwa itu diperbolehkan.<br><br>Tetapi dalam keadaan suci jelas lebih baik dan lebih lebih utama, lebih besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa taala. Ya, silakan Pak. sujud tilawah itu ya, Pak. Iya. Tadi lebih utama, lebih utama kita menghadap kiblat lebih utama kalau harus tidak, tapi dia lebih afdal dan lebih utama. Lebih utama dalam keadaan tertutup aurat kita, lebih utama dalam keadaan kita ada wudu, itu lebih utama, lebih afdal.<br><br>Kalaupun tidak, maka tidak mengapa diperbolehkan. Barakallah fik. saya tapi iya barakallahu fik itu ada dalilnya ada solusinya disebutkan di dalam hadis yang sahih. Jadi, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim, ketika ada bisikan-bisikan seperti ini kita diperintahkan kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, falytahi.<br><br>Pertama dia hentikan putuskan bisikan-bisikan itu. Kemudian berlindung kepada Allah ucapkan azubillah minasyaitanirrajim [berdehem] ya. Dan mengatakan yang disebutkan di dalam hadis tersebut ucapkan amantu billahi wabasulihi. Aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Jadi kita lakukan cara seperti ini. Insyaallah dengan sebab itu Allah Subhanahu wa taala akan menghilangkan dari diri hamba tersebut.<br><br>Dalam sebagian riwayat juga ada setelah kita taawud, kita semacam menghembus ke kiri kita tiga kali seperti itu. Itu juga hadisnya sahih ya. Itu diperbolehkan untuk kita praktikkan sebagaimana dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika ada bisikan-bisikan setan. Enam. Ee saya enggak tahu juga ya bisa ee kemungkinan besar kalau itu bisikan-bisikan buruk dari setan.<br><br>Karena setan kan tidak mungkin mengajak kepada kebaikan. Ah. Nah, bagaimana cara menghadapi seorang apa ini NPD? Itu apa itu NPD yang ada di dalam lingkungan keluarga saya sendiri. di mana orang tersebut selalu merasa paling benar dan tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. Semua orang harus mengalah dan mengikuti dia.<br><br>Ya, orang seperti ini kita yang kita bisa lakukan adalah kita berdoa semoga Allah subhanahu wa taala memberikan hidayah kepadanya dan terus kita ingatkan dia bahwa manusia itu adalah tempatnya salah. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih bersabda, &#8220;Kullu bani Adam khatun.&#8221; Semua anak manusia itu adalah selalu berbuat salah.<br><br>Hanya para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam yang terjaga dari kesalahan itu pun karena penjagaan dari Allah Subhanahu wa taala. Sehingga mereka dikatakan maksum ya terjaga dari kesalahan karena penjagaan dari Allah subhanahu wa taala. Kita harus ingatkan dan sadarkan dia akan kenyataan ini. Ya, tentu dia bukanlah seorang nabi ya pastinya.<br><br>Maka sadarkan dia untuk menyadari tentang hakikat keadaan dirinya. Semoga Allah azza wa jalla merahmati sahabat yang mulia Abdullah bin Mas&#8217;ud yang mengatakan rahimallahu arofa qadro nafsih. Semoga Allah merahmati seorang hamba yang tahu keadaan atau kadar nilai dirinya. Nah, bagaimana jika ada orang yang tidak pernah salat, tidak pernah puasa, lisannya menyakiti orang lain, tapi dia rajin bersedekah dan memberi sedekahnya juga selalu diungkit-ungkit. Masyaallah.<br><br>I ini dululumatun ba&#8217;du fauqo ba&#8217; ya. Kegelapan satu di atas yang lain. Semoga Allah azza waalla memberikan hidayah kepadanya. Yang jelas kalau dia tidak salat, tidak puasa. [menghela napas] Ini sebagian dari para ulama mengatakan orang seperti ini bahkan bisa dikatakan keluar dari Islam. Naudubillah minzalik.<br><br>Kalaupun dia bersedekah maka sedekahnya juga tidak berarti. Ya, [berdehem] bagi orang yang bagi pendapat yang mengatakan ini kufur. Sebagaimana pernyataan seorang tabiin yang mulia yang mengatakan kana ashabun Nabi shallallahu alaihi wasallamaian minalun. Para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak memandang ya, tidak menganggap ada amalan-amalan yang ditinggalkan menjadikan kekufuran selain salat.<br><br>Jelas kalau salat itu menjadikan orang yang meninggalkannya kufur. Apalagi dia tidak puasa juga. Nauzubillah minzalik. Hendaknya orang seperti ini kita nasihati untuk menyadari kewajibannya agar dia tidak menjadi orang-orang yang merugi dunia dan akhirat kalau dia masih tetap dalam perbuatannya tersebut. Wali iyadubillah. Tib. Cukup sampai di sini insyaallah.<br><br>Kajian kita di malam hari ini semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin. Walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik.<br><br>Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [mendengus] [menghela napas]<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4155","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Menetapkan Al Qur&#039;an Dari Sisi Allah &#039;Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menetapkan Al Qur&#039;an Dari Sisi Allah &#039;Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-28T06:51:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-28T06:51:25+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\",\"name\":\"Menetapkan Al Qur'an Dari Sisi Allah 'Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-28T06:51:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T06:51:25+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menetapkan Al Qur&#8217;an Dari Sisi Allah &#8216;Azza Wajalla &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menetapkan Al Qur'an Dari Sisi Allah 'Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menetapkan Al Qur'an Dari Sisi Allah 'Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-28T06:51:24+00:00","article_modified_time":"2026-07-28T06:51:25+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/","name":"Menetapkan Al Qur'an Dari Sisi Allah 'Azza Wajalla - Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-28T06:51:24+00:00","dateModified":"2026-07-28T06:51:25+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/menetapkan-al-quran-dari-sisi-allah-azza-wajalla-ustadz-abdullah-taslim-lc-m-a\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menetapkan Al Qur&#8217;an Dari Sisi Allah &#8216;Azza Wajalla &#8211; Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4155"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4155"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4155\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4156,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4155\/revisions\/4156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}