{"id":4157,"date":"2026-07-28T13:52:01","date_gmt":"2026-07-28T06:52:01","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=4157"},"modified":"2026-07-28T13:52:01","modified_gmt":"2026-07-28T06:52:01","slug":"akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/","title":{"rendered":"Akar Semua Masalah &amp; Solusi &#8211; Ustadz. Abdullah Taslim , M.A."},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Akar Semua Masalah &amp; Solusi  - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A.\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/4_mczkJieYk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">kita dengan taufiknya untuk mengenal Islam, kemudian mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang semoga Allah subhanahu wa taala menetapkan kita di atas kebaikan-kebaikan ini sampai di akhir hayat kita. Nikmat mengenal Islam dan nikmat mengenal sunah Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Mengenal jalan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Kita ketahui ini adalah nikmat yang besar yang Allah Subhanahu wa taala anugerahkan kepada manusia. Imam besar dari kalangan tabiin yang mulia Abul Abul Aliah Arryahi rahimahullahu taala pernah mengatakan, &#8220;Nikmatani lillahi alaiya la adri ayyuhuma a&#8217;d.&#8221; Ada dua nikmat yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepadaku.<br><br>Aku tidak tahu mana di antara dua nikmat itu yang paling besar. Ahadaniallahu lil Islam. Wa all yaj&#8217;alani min haula rawafid. Yang pertama dengan Allah Subhanahu wa taala memberikan hidayah kepadaku untuk masuk Islam. Dan yang kedua dengan Allah Subhanahu wa taala tidak menjadikan aku termasuk kalangan orang-orang ahlul bidah, orang-orang rawafid.<br><br>Ini nikmat terbesar. yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada manusia. Inilah karunia terbesar yang Allah Subhanahu wa taala nyatakan dalam Al-Qur&#8217;an. Karunia yang Allah Subhanahu wa taala turunkan dalam petunjuk yang dibawa oleh nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Allah azza wa jalla berfirman, azubillahiminasyaitanirrajim.<br><br>Laqallahualmin ba anfusihim alaihim ayatiumitaba hikmq lafialim mubin. Sungguh Allah telah memberikan karunia yang besar. kepada orang-orang yang beriman. Ketika Allah Subhanahu wa taala mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. Rasul ini membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan, membersihkan diri-diri mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Qur&#8217;an dan hikmah, yaitu sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br><br>yang sebelum itu mereka benar-benar di atas atau di dalam kesesatan yang nyata. Jadi, ikhwani wa akhwati fiddin aazakumullah, agama Islam ini diturunkan sebagai sebesar-besar karunia bagi semua makhluk di alam semesta. Bahkan bukan cuma manusia yang merasakan manfaatnya. ya, sampai binatang atau hewan pun juga merasakannya.<br><br>Makanya setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala dan hari akhir meyakini bahwa petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam inilah satu-satunya solusi untuk semua permasalahan yang dialami oleh manusia dalam kehidupannya di dunia ini, bahkan sampai di kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.<br><br>Para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam diutus oleh Allah subhanahu wa taala untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada umat-umat mereka. memperbaiki kerusakan yang terjadi pada umat-umat mereka. Ya, tentu lebih-lebih lagi nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Makanya sebagian dari para ulama ahlusunah wal jamaah ketika menafsirkan makna firman Allah Subhanahu wa taala yang disebutkan di beberapa ayat Al-Qur&#8217;an.<br><br>Wala tufsidu fil ardhi ba&#8217;da islahiha. Janganlah kalian melakukan kerusakan di bumi ini. Membikin masalah, membikin [berdehem] musibah di muka bumi ini setelah perbaikannya, setelah upaya untuk menghilangkan masalah itu, memperbaikinya. Apa yang dimaksud dengan berbuat kerusakan? Dan apa yang dimaksud dengan islah mengusahakan perbaikan di ayat ini ternyata diartikan oleh para ulama di dalam kitab-kitab tafsir, kerusakan itu adalah [berdehem] penyimpangan atau berpaling dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya.<br><br>Sementara upaya perbaikan itu adalah upaya yang dilakukan oleh para nabi alaihiusalatu wasalam yang membawa petunjuk Allah dan mengajak manusia kembali kepada agamanya. Ada pernyataan yang dinukil oleh beberapa ulama ahli tafsir dari salah seorang ulama salaf dari kalangan tabiut tabiin, Imam Abu Bakar Ibnu Ayyasy Al-Asadi maulahumul Kufi alkufi rahimahullahu taala.<br><br>Di antaranya dinukil oleh Imam siapa? Assuyuti dalam Adurul Mansur dan yang lainnya. [berdehem] Imam Abu Bakar Ibnu Ayyasy rahimahullah taala ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, &#8220;Innallaha ba&#8217;ata Muhammadan shallallahu alaihi wasallam ila ahlil ardhi wahum fi fasad faaslahahumullahuhammadin shallallallahu alaihi wa alihi wasallamana daa ila khilafi Muhammadunallahu alaihi wasallam.<br><br>Beliau berkata rahimahullah taala, &#8220;Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala mengutus Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada umat manusia di muka bumi ini, kepada masyarakat penduduk bumi ini yang ketika itu semua mereka dalam keadaan rusak. Jadi ketika diutus Nabi sallallahu alaihi wasallam, bumi ini bukan dalam keadaan baik, dalam keadaan lurus. Rusak semua.<br><br>Bukan cuma agamanya. Rusak masalah ekonominya, masalah sosialnya, apalagi masalah tauhidnya. Semua tatanan kehidupan mereka rusak. Ini kondisi manusia di zaman jahiliyah sebelum diutusnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Karena mereka tentu telah meninggalkan ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi yang sebelumnya, Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam dan keturunannya alaihialatu wasalam.<br><br>Ya. Jadi ketika Allah mengutus Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam keadaan mereka itu rusak dalam semua sisi kehidupannya, maka Allah memperbaiki mereka dengan petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kata beliau, &#8220;Maka barang siapa yang mengajak manusia, ya yang mengajak manusia kepada ajakan yang menyelisihi petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang tidak sesuai dengan dakwah sunah, maka berarti dia termasuk orang yang membuat kerusakan di muka bumi.&#8221;<br><br>Di sini antum perhatikan ya, ternyata masalah terbesar di muka bumi ini adalah penyimpangan dari agama Allah Subhanahu wa taala. Sumber akar semua masalah. Allah Subhanahu wa taala menurunkan agama untuk memperbaiki umat manusia. Dan orang-orang yang menyimpang dari agama ini dengan perbuatan maksiat mereka, merekalah yang merupakan sebab timbulnya berbagai masalah di muka bumi ini.<br><br>[berdehem] Coba antum perhatikan di dalam Al-Qur&#8217;an di awal-awal surah Al-Baqarah ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang orang-orang munafik ketika mereka ditegur karena perbuatan mereka yang menjadi sebab banyak masalah dan kerusakan di muka bumi. Ya, terjadi bencana di muka bumi dalam segala bentuknya.<br><br>Waidza qila lahum la tufsidu fil ardhi qolu innama nahnu muslihun. Ala innahum humul mufsiduna wakin la yasy&#8217;urun. Kalau dikatakan kepada mereka orang-orang munafik, mereka ditegur, &#8220;Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Jangan membuat masalah. Jangan mengundang sebab bencana. Jangan melakukan sebab yang mengundang bencana.<br><br>Apa kata mereka? Innama nahnu muslihun. Mereka berkata, &#8220;Kami ini hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.&#8221; Dipakai lagi innama. Innama itu untuk menunjukkan arti pembatasan. Yakni hanya mereka yang melakukan perbaikan di muka bumi. Seolah-olah orang-orang yang beriman yang mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak melakukan perbaikan.<br><br>Makanya Allah langsung membalik, &#8220;Ala innahum humul mufsiduna.&#8221; Ketahuilah sungguh mereka itulah pembuat kerusakan yang sebenarnya akan tetapi mereka tidak menyadarinya. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah di sini kita ambil pelajaran [mendengus] ya bahwa masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan masalah apa saja? Masalah ekonomi, masalah sosial, [berdehem] masalah kenakalan, termasuk masalah ketidakharmonisan dalam rumah tangga.<br><br>Semua masalah itu kerusakan. di muka bumi yang sebabnya adalah karena perbuatan maksiat, karena kita jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Makanya antum bisa bayangkan di sini ya, orang-orang yang sejati yang mengusahakan perbaikan atau mengusahakan [berdehem] kemaslahatan bagi umat ini tidak lain yang paling utama adalah para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.<br><br>Setelah itu orang-orang yang bersemangat mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa taala. Tidak lain mereka adalah orang-orang yang menyebarkan ilmu, mengadakan kajian-kajian yang mengajak kembali kepada tauhid, menjauhi perbuatan syirik, yang mengajak kembali kepada sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan bidah, maksiat, maupun penyimpangan-penyimpangan lainnya.<br><br>Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an [berdehem] di surah Asyura ayat ke-30. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wama asobakum mim musibatin fabima kasabat aidikum wfuir.&#8221; dan musibah apa saja yang menimpamu wahai manusia, maka itu adalah dikarenakan dosa-dosa yang kamu lakukan sendiri dan Allah memaafkan dari kebanyakan dari banyak dosa-dosamu.<br><br>Yakni kalau Allah tidak maafkan lebih banyak lagi musibah yang menimpa kita. bahkan bisa membinasakan semua yang ada di muka bumi ini. Coba lihat ya, disebutkan di sini musibah dalam bentuk apa? Nakirah fi fisiaki syar dalam bentuk nakirah umum dalam kalimat syarat. Baru kemudian ada jawabannya setelah itu yang berarti ini umum ya.<br><br>musibah apa saja yang menimpamu pada dirimu, keluargamu, musibah pada ah masalah ekonomimu, ketidakharmonisan, ketidaktenan, dan semua masalah umum Allah sebutkan di sini secara umum, maka itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dilakukan oleh tangan-tanganmu sendiri. Saya ingin menukilkan pernyataan yang dijelaskan oleh As Syekh Abdurrahman Ass&#8217;adi rahimahullahu taala dalam tafsir beliau.<br><br>Taisirul karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan. Ketika menjelaskan makna ayat ini, beliau berkata rahimahullahu taala, &#8220;Yukbiru taala annahu ma asobal ibada min musibatin fi abdanihim wa amwalihim wa auladhim wafima yuhibbuna wakunu wakakunu azizan alaihim illa bisababi ma qodamathu aidihim akallahaul ibada wakin anfusahum yadlimun. Allah Subhanahu wa taala menyampaikan atau mengabarkan kepada kita di ayat ini bahwa apa saja yang menimpa manusia ya berupa musibah baik pada tubuh kita yakni sakit, penyakit atau penyakit yang<br><br>macam-macam ya penyakit yang aneh-aneh atau pada harta mereka atau pada anak-anak mereka atau musibah dalam hal-hal yang mereka cintai dijadikan hilang hal-hal yang mereka sukai, yakni ketenangan hidup, kemudahan menghadapi urusan dan seterusnya atau dalam hal-hal yang mereka muliakan. Tidak lain itu dengan sebab terjadinya dengan sebab apa yang dulu dilakukan oleh tangan-tangan mereka berupa kesalahan atau perbuatan dosa dan maksiat.<br><br>Ya, semoga Allah subhanahu wa taala mengampuni dosa-dosa dan kekurangan kita. [berdehem] Dan bahwasanya apa yang dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa taala itu lebih banyak. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala tidaklah menzalimi manusia, akan tetapi manusia itu yang menzalimi diri mereka sendiri. [berdehem] Jadi ini ketika kita memandang dengan kacamata iman, inilah sumber segala permasalahan.<br><br>Sehingga seharusnya ketika banyak masalah orang itu semakin rajin ngaji, semakin banyak membaca Al-Qur&#8217;an dan merenungkan isinya, semakin mengoreksi pemahaman akidahnya, tauhidnya dalam [berdehem] ilmu dan praktik, semakin banyak bertobat dan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa taala. Di ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala berfirman juga menyebutkan tentang terjadinya musibah di daratan dan di lautan.<br><br>Antum tahu di firman Allah Subhanahu wa taala di surat Arrum ayat 41. fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidinasi liudziqohum ba&#8217;dadzi amilu laallahum yarjiun. telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan. Yakni musibah, bencana di daratan dan di lautan. Bima kasabat aidinas. Disebabkan perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia.<br><br>Apa hikmahnya? Liyudziqohum. Supaya Allah menjadikan mereka merasakan akibat dari perbuatan mereka. supaya mereka mau kembali kepada kebenaran. Jadi di balik semua ini ada peringatan dari Allah. Terjadinya musibah ini seandainya tidak diberikan dampak akibat dari perbuatan dosa manusia, manusia tidak menyadari.<br><br>[berdehem] Tidak menyadari bahwa perbuatan dosa itu akibat dari musibah yang muncul itu, yang timbul itu akibat dari dosa yang mereka lakukan sendiri. yang kebanyakan orang biasanya mencari kesalahan orang lain. [berdehem] Ya, sering kita sudah jelaskan dan para asatidah kita bahkan para ulama ahlusunah wal jamaah rahimahum hafidahumullah [berdehem] warahima man q tufiya minhum ya menjelaskan tentang bagaimana kita bersikap dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup dalam menghadapi masalah-masalah tidak mencari kesalahan<br><br>dari [berdehem] orang lain tidak mencari cari atau menyelesaikan masalah dengan justru melakukan hal-hal yang menyimpang dari petunjuk Allah dan rasul-Nya. Seperti sekarang orang-orang banyak menyalahkan pemerintah, menyalahkan masalah, membahas masalah apa ini MBG dan seterusnya. Ya, [berdehem] yang ini bukan solusi untuk menyelesaikan masalah yang menimpa kita saat ini.<br><br>Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Yakni masalah yang kita hadapi saat ini tidak lebih besar dibandingkan apa yang menimpa manusia di zaman jahiliah. Yang dengan sebab itu Allah Subhanahu wa taala mengutus rasulnya sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Ya, coba antum perhatikan ucapan yang tadi kita nukilkan dari pernyataan Imam Abu Bakar Ibnu Ayyasy rahimahullahu taala setelah beliau menyebutkan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam diutus untuk memberikan solusi kepada semua masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia dalam semua sisi kehidupan mereka.<br><br>Apa kata beliau setelah itu? Faman daa. Maka barang siapa yang mengajak manusia kepada khilafi, kepada sesuatu yang menyelisihi petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka berarti dia termasuk orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi. Jadi jangan menambah kerusakan dengan melakukan hal-hal yang menyimpang dari bimbingan ilmu agama, dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya, dari petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<br><br>Nah, oleh karena itu [berdehem] jemaah sekalian hafidakumullah, saat ini yang harusnya ada dalam pandangan setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, setiap menghadapi masalah apa saja ya kita harus ingat solusinya adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena segala sesuatu ada di dalam kekuasaannya.<br><br>Semua kebaikan kan ada di tangan Allah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam sebuah doa yang beliau ajarkan termasuk doa yang di baca di antara doa-doa istiftah yang disebutkan dalam hadis yang sahih. Wal khairu kulluhu fi yadaika wasyarru laisa ilaika. Ya Allah, kebaikan itu semua ada di tanganmu dan keburukan itu tidak dinisbatkan kepadamu.<br><br>Ya, kebaikan semua ada di tangan Allah. Berarti tidak akan bisa kita dapatkan kebaikan kalau bukan meminta kepada Allah dan kembali kepadanya. Berarti keburukan-keburukan yang terjadi dalam bentuk apapun di muka bumi ini adalah karena berpaling dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala yang diturunkan kepada nabinya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.<br><br>Makanya ada juga pernyataan dari Imam Abul Aliah Arriahi tadi seperti yang tadi kita nukilkan pernyataan di awal dalam pernyataan yang lain beliau mengatakan man asallaha fil ardhi faqod afsada fiha lianna shahasha wal ardhi bha barang siapa yang durhaka berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa taala Maka sungguh berarti dia telah merusak, melakukan kerusakan di muka bumi, membikin masalah di muka bumi ini.<br><br>Karena kebaikan langit dan bumi, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi adalah dengan taat. Dengan taat kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. [berdehem] Jadi, antum perhatikan kerusakan-kerusakan yang semakin banyak timbul ya bisa jadi karena ya [berdehem] mungkin sudah banyak orang-orang yang meninggalkan majelis ilmu, banyak orang-orang yang futur, orang-orang awam yang seharusnya kita ajak [berdehem] ya justru mereka yang mempengaruhi kita.<br><br>Keikhlasan kita sudah menurun. orang-orang yang mengikuti pengajian sudah ah terpengaruh ya dengan mungkin media sosial sehingga mereka ikut-ikutan melakukan apa yang mereka lakukan. Ini adalah pandangan orang yang memahami agama Allah Subhanahu wa taala. [berdehem] Ya. Jadi, contoh [berdehem] misalnya kita perhatikan dengan perkara yang paling besar dalam agama kita.<br><br>Perkara yang merupakan dasar landasan utama agama kita yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala, mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam beribadah semata-mata kepadanya dan tidak menyekutukannya. Ini perkara yang mungkin dianggap sebagian orang sudah jarang dilakukan. Padahal Al-Qur&#8217;an menegaskan justru banyak yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik.<br><br>Bagaimana Allah Subhanahu wa taala akan mengangkat masalah dari umat ini sementara perkara yang paling dimurkai oleh Allah subhanahu wa taala justru mereka lakukan dan banyak yang melakukannya. Ya, coba antum perhatikan dalam Al-Qur&#8217;an ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di surat Yusuf di ayat 105 tentang banyaknya kesyirikan yang terjadi pada umat manusia.<br><br>Wama yumminu aksaruhum billahi illa wahum musyrikun. Dan tidaklah kebanyakan mereka, kebanyakan manusia benar-benar beriman kepada Allah kecuali mereka masih dalam keadaan melakukan perbuatan syirik. Jadi kesyirikan itu tidak sedikit. Tidak mungkin Al-Qur&#8217;an pembahasannya paling banyak adalah membantah syirik. Mayoritas isi Al-Qur&#8217;an adalah membantah perbuatan syirik.<br><br>Utamanya syirik dalam hal meminta kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Syirik dalam hal berdoa. Petunjuk Al-Qur&#8217;an tidak mungkin banyak membantah masalah ini kalau kemudian dikatakan kesyirikan sedikit terjadi di kalangan manusia. Bagaimana doanya Nabi Ibrahim alaihi salatu wasalam ketika mendoakan berdoa kepada Allah untuk melindungi beliau dan anak keturunannya dari perbuatan syirik.<br><br>wajnubni waniudal asnambi innahunalna minanas. Wahai Rabku, jauhkanlah diriku dan anak-anak keturunanku dari menyembah berhala. Seorang nabi yang mulia yang dikatakan sebagai imamnya ahli tauhid berdoa kepada Allah menjauhkan diri beliau dan anak-anak keturunannya padahal keturunannya para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.<br><br>Nabi-nabi yang mulia ya termasuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa ali wasallam dijauhkan diri beliau dan anak keturunan dari menyembah berhala. Kemudian beliau melanjutkan, &#8220;Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala ini menyesatkan banyak manusia.&#8221; Maka siapa yang merasa aman setelah ada pernyataan yang seperti ini dari Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam? Jadi yang paling penting untuk kita perbaiki dalam hidup kita agar menjauhkan kita dari [berdehem] semua permasalahan atau dari musibah-musibah yang merugikan untuk<br><br>urusan dunia dan akhirat kita adalah menjauhkan diri dari perkara yang paling buruk dalam agama ini. Kezaliman yang paling besar ini, dosa yang paling dimurkai oleh Allah Subhanahu wa taala ini yaitu perbuatan syirik. Makanya terjadi banyak musibah hidup manusia yang jauh dari keberkahan, jauh dari pertolongan Allah.<br><br>Bukan karena kita kekurangan uang, bukan karena kita kurang canggih dalam urusan teknologi, bukan karena sebagaimana yang dianggap sebagian orang kebijaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dan seterusnya. [berdehem] Ya, karena perkara-perkara ini sudah terjadi sebelumnya. Semua permasalahannya adalah kembali kepada masalah tauhid, kembali kepada bagaimana kita rujuk kepada agama ini dalam semua permasalahan kita.<br><br>Coba lihat ada pernyataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala yang yang menyebutkan tentang syirik itu berpaling dari tauhid itu adalah sumber segala masalah dalam segala bentuknya. Ada pernyataan beliau di dalam kitab Alwabilusyib minal kalimi thayib. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata, &#8220;Waqallahu qan la yurdu w yudu.<br><br>[berdehem] alaihi alaihiri lam yubhi. Beliau berkata, &#8220;Sungguh Allah Subhanahu wa taala telah menetapkan satu ketentuan.&#8221; Allah telah menetapkan satu ketentuan yang tidak akan bisa dihindari, tidak akan bisa ditolak. Ini ketentuan yang pasti terjadinya, [berdehem] yaitu man ahabaian siwallahi. Barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah bukan karena Allah uzziba bihi maka orang itu akan diazab dengan sebab kecintaannya yang dipalingkan kepada selain Allah ini.<br><br>Jadi gara-gara masalah cinta, salah mencintai itu jadi sebab azab. Azabnya tidak jauh-jauh. Justru dari sesuatu yang kita cintai karena selain Allah dan bukan mendukung kecintaan kepada Allah. Alangkah banyaknya ini terjadi di kalangan kita [berdehem] ya. Dan barang siapa yang takut kepada selain Allah maka sesuatu itu akan dijadikan menguasai dirinya.<br><br>Yakni orang yang takut berlebihan kepada setan, takut kepada dukun, takut kepada selain [berdehem] Allah Subhanahu wa taala yang memang kerjaannya setan dan wali-walinya menakut-nakuti orang-orang yang beriman agar takut kepada selain Allah. Apa yang terjadi? Allah jadikan sesuatu ini yang akan menguasai dirinya.<br><br>Setan yang banyak menguasai manusia karena rasa takut mereka yang lemah kepada Allah dan lebih takut kepada wali-wali setan tersebut. Dan barang siapa yang mengutamakan sesuatu melebihi Allah subhanahu wa taala, itulah yang menjadi kesialan bagi dirinya. Syukman alaihi. Jadi kesialan itu gara-gara ya terbesarnya sesuatu terbesarnya adalah karena kesyirikan.<br><br>Mengutamakan sesuatu melebih dari mengutamakan keridaan Allah subhanahu wa taala. Itulah sumber kesialan. Dan barang siapa yang menyibukkan diri selain Allah Subhanahu wa taala maka dia tidak akan diberkahi dalam tersebut. Ya, bagaimana pekerjaan kita akan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa taala sementara kita lalai dalam pekerjaan kita.<br><br>Ketika azan berkumandang, ketika waktu ibadah tidak menjadikan kita segera ingat dan menghadap Allah Subhanahu wa taala. Ini kan banyak menimpa manusia. Perkara-perkara seperti ini semua adalah konsekuensi tauhid. Dan ternyata sumber masalah semua di sini. Nah, oleh karena itu jemaah sekalian hafidakumullah, antum perhatikan tadi kan masalah cinta yang salah ditempatkan saja menjadi musibah dan musibahnya tidak jauh-jauh dari sesuatu yang dicintai secara berlebihan tersebut yang tidak mendukung kecintaan kepada Allah.<br><br>[berdehem] Ya, sekarang kita mencintai ada bahkan perkara-perkara yang fitrah. Kita mencintai keluarga kita atau mencintai harta yang kita miliki yang mungkin kita dapatkan dengan cara yang halal. Alhamdulillah. Tapi ketika kita gunakan bisa jadi berlebihan atau hal-hal yang kita cintai ini memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala melalaikan.<br><br>sering terjadi ini sebab yang menjadikan turunnya azab dari Allah Subhanahu wa taala. Ya, oleh karena itu ini semua yang menunjukkan kepada kita bahwa perbaikan tauhid ini bukanlah perkara yang bisa ditunda-tunda, bukanlah perkara yang bisa diakhirkan. Karena apa? Di hati kita itu ada tempat untuk mencintai, tempat untuk takut, tempat untuk berharap.<br><br>Kalau tidak diisi dengan kecintaan, rasa takut dan pengharapan kepada Allah, maka setan akan berusaha mengisinya dengan hal-hal yang menyimpangkan kita dari tauhid. Sehingga hidup kita selalu dalam masalah karena jauh dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah ya Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang masalah cinta di dalam Al-Qur&#8217;an agar kita paham bahwa mencintai Allah Subhanahu wa taala lebih daripada kecintaan kita kepada apapun ini adalah termasuk konsekuensi<br><br>tauhid yang paling besar. Karena cinta kepada Allah Subhanahu wa taala itu adalah nyawanya iman. Kata Syekh Abdurrahman Ass&#8217;adi rahimahullah taala, hiya ruhul iman. Ini adalah ruh nyawa dari iman, cinta kepada Allah. Wa hakiut tauhid. Hakikat tauhid. Inilah tauhid yang sejati. Ya.<br><br>Wa ainut taabud dan inti penghambaan diri kepadanya. Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam surat Albaqarah ketika mengingatkan perbandingan antara pelaku syirik dan orang yang benar-benar beriman dalam masalah cinta. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Waminanasi waminanasi mayattakhidu minunillahiada yuhibbunahum kahubbillah. Walladina amanu asyaddu hubban lillah.<br><br>Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengambil menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Menjadikan selain Allah tandingan-tandingan, yakni jelas pelaku syirik maksudnya ini. Yang mereka mencintai tandingan-tandingan atau berhala-berhala itu seperti mencintai Allah dan orang-orang yang beriman. sangat besar.<br><br>Lebih besar kecintaan mereka, lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah. Apa makna yang bisa kita ambil dari ayat ini? Seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, orang yang berbuat syirik, yang menyembah berhala, mereka juga mencintai Allah. Jadi, dari mana kesyirikan yang terjadi pada diri mereka? Dari sisi mana kesyirikannya terjadi? Mereka mencintai berhala-berhala itu sama dengan mencintai Allah.<br><br>Jadi mencintai Allah kalau bukan dijadikan lebih daripada yang lainnya ini belum menyelamatkan dari kesyirikan. Makanya Allah tegaskan setelah itu. Dan orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah. Inilah baru menyelamatkan seseorang. Sekarang bagaimana antum nilai kebanyakan manusia dalam urusan cinta kepada dunia yang berlebihan, pekerjaan yang melalaikan, kesibukan mengejar materi ya yang itu bahkan ditegaskan di dalam Al-Qur&#8217;an dalam firman Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Yaamunair minal hayatid dunya wahumil akhirati hum gofilun. Kebanyakan manusia hanya mengetahui perkara-perkara yang nampak yang lahir dari kehidupan dunia ini. Sedangkan untuk urusan akhirat mereka mereka lalai. Inilah keadaan kebanyakan kita. Dari sinilah sumber masalahnya. Sakan, ya? Iya. Tib. Mungkin kita teruskan setelah salat atau bagaimana? Azan dulu terus hah salat baru setelah salat lanjut begitu ya.<br><br>Tib sesuai dengan yang biasa saja berlaku. Bab kita cumupkan dulu kajian kita insyaallah kita teruskan setelah selesai salat Isya. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allahu Akbar. Ashadu alla<br><br>[bernyanyi] ilahaillallah. [bernyanyi] ashadu alla ilahaillallah ashadu anna muhammadar rasulullah Allah ashadu anna muhammadar rasulullah. Hayya alasah. [bernyanyi]<br><br>Hayya alasah. Hayya alal falah. Hayya alal falah. [bernyanyi] Allahu Akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallah [bernyanyi] Allahu Akbar. Allahu Akbar. ashadu alla ilaha<br><br>Alhamdulillah. Alhamdulillahi ihsaniukahufi wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwani shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba&#8217;du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. Ikhwan dan akhwat fiddin aakumullah.<br><br>Kita teruskan sedikit pembahasan yang tadi kita kaji. Jadi [berdehem] akar semua permasalahan adalah ketika manusia berpaling dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Sehingga semua solusi dari semua itu adalah berusaha untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa taala dalam artian yang sesungguhnya memahami dan mengamalkan agama ini benar-benar lahir dan batin kita.<br><br>Untuk itulah Allah Subhanahu wa taala menurunkan petunjuk yang sempurna dalam agama ini yang dibawa oleh Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Di dalam Al-Qur&#8217;an di surah Al-Anfal ayat ke-24 Allah Subhanahu wa taala berfirman, azubillahiminasyaitanirrajim. Ya ayyuhalladzina amanutau lillahi walirasuli idza daakum lima yuhyikum.<br><br>Wahai orang-orang yang beriman, istajibu. Penuhilah, ikutilah seruan Allah dan Rasul-Nya yang mengajakmu untuk memberikan yuhyikum, artinya yuslihukum. Memberikan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan bagimu. Yakni menjauhkan kamu dari masalah, menjauhkan kamu dari sebab-sebab keburukan. Petunjuk Allah dan Rasul-Nya.<br><br>Kalau kita benar-benar pahami dan amalkan lahir dan batin kita, semakin banyak kita pahami dan kita amalkan, maka semakin banyak sebab-sebab kebaikan yang Allah akan sempurnakan, kumpulkan pada diri kita, berarti kita akan semakan dijauhkan dari sebab-sebab yang mendatangkan keburukan, bencana ataupun masalah. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah ya saya sudah katakan, kita katakan tadi semakin banyak [berdehem][batuk] kita merasakan atau kita mendapati masalah dalam kehidupan kita, harusnya kita bersangka baik kepada Allah<br><br>Subhanahu wa taala dan bersangka buruk kepada diri kita sendiri. harusnya kita semakin rajin untuk mempelajari agama ini, mengoreksi diri kita dengan kebaikan agama ini dan berusaha mempraktikkannya dengan sebaik-baiknya. Kita harus ingat [berdehem][batuk] Allah Subhanahu wa taala ya menjadikan solusi yang menimpa umat ini secara keseluruhan adalah ketika mereka rujuk kembali kepada agama.<br><br>Ini sudah sering kita dengarkan hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam sunannya dan dinyatakan sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullahu taala juga dinyatakan hasan oleh Syekh bin Bas rahimahumullahu taala dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu taala anhuma bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, &#8220;Idza tabayum bilinati wa akum Jika [berdehem] kalian telah melakukan jual beli dengan inah dalam muamalah melakukan riba, tidak peduli lagi halal dan haram.<br><br>Kemudian waumnabal baqar. Kalian sudah disibukkan dengan peternakan, rida dengan perladangan persawahan, yakni sibuk dengan urusan dunia. [berdehem] Kemudian kalian meninggalkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa taala dalam arti yang sebenarnya ketika itulah Allah Subhanahu wa taala menimpakan kehinaan kepadamu.<br><br>[berdehem] Allah Subhanahu wa taala jadikan kalian ditimpakan kehinaan. kerendahan dan Allah Subhanahu wa taala tidak akan menghilangkan atau mencabut kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama. Sampai kalian kembali kepada agamamu. Jadi inilah solusinya ya kembali [berdehem] kepada Allah subhanahu wa taala sebagaimana yang kita diajarkan di dalam tauhid.<br><br>[berdehem] Mencari keridaan Allah Subhanahu wa taala. Ini adalah inti dari segala kebaikan, kunci dari segala kebaikan yang ketika kita mengkhawatirkan sebab-sebab yang menjauhkan kita dari rida Allah Subhanahu wa taala, kita juga kembali kepada Allah dengan berlindung kepadanya. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah mengajarkan doa yang sangat agung yang benar-benar mewujudkan makna tauhid yang sejati dalam diri seorang hamba.<br><br>Di dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Allahumma inniid min sakatika wabuaatika min uqubatika wabika minka la uksanaan alaika anta kamaita ala nafsik. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridaanmu dari kemurkaanMu.<br><br>Karena kalau Allah murka pasti semua bencana akan menimpa manusia. Dan aku berlindung dengan pemaafanmu dari siksa atau hukuman dan aku berlindung kepadamu ya Allah darimu. Tidak ada yang kita takutkan kecuali pasti berasal dari Allah Subhanahu wa taala yang menimpakannya karena dosa dan maksiat yang kita lakukan.<br><br>Dan tidak ada yang kita cari keridaannya untuk menyelesaikan semua masalah itu kecuali Allah subhanahu wa taala dengan kembali kepadanya. Ya Allah, [berdehem] sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaanMu. Aku berlindung dengan pemaafanmu dari siksa atau azabmu. Dan aku berlindung denganmu darimu.<br><br>[berdehem] La uhsanaan alika anta kama nafsik. Aku tidak bisa membatasi pujian dan sanjungan bagimu ya Allah. Karena engkau adalah seperti pujian dan sanjungan yang engkau peruntukkan bagi dirimu sendiri. Inilah hakikat tauhid dan inilah cara untuk menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah, selalu kita katakan [berdehem] ya dalam kondisi-kondisi seperti ini kita harus lebih meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala.<br><br>Karena kita semua tahu solusi dari semua masalah adalah bertakwa. makang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan solusi dari semua permasalahannya. Wtaqillaha yajalahu min amrihi yusro. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah jadikan kemudahan dari setiap urusan yang dihadapinya. Bagaimana cara bertakwa? Kita semua tahu.<br><br>Tingkatkan semangat ngaji, semangat membaca Al-Qur&#8217;an, merenungkan isinya, pelajari tauhid dengan benar. praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan cukupkan diri dengannya tidak mengamalkan yang lain. Termasuk sunah dalam menyikapi kejadian-kejadian yang ada di saat ini.<br><br>Jangan ikut-ikutan orang-orang awam. Jangan ikut-ikutan orang-orang yang menyimpang dari pemahaman sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Jadi justru kita harus semakin kuat atau semakin semangat mendakwahi orang-orang yang belum paham sunah agar kenal dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br><br>Karena sungguh dengan sebab sunah ditegakkan masalah-masalah akan selesai, kesulitan-kesulitan Allah akan angkat. Ya, sebagaimana pernyataan sebagian dari para ulama salaf dengan sebab para ulama ahlul hadis yang menuntut ilmu Allah hilangkan bencana dari umat ini. Ada pernyataan salah seorang ulama salaf, Imam Ibrahim Ibnu Adham rahimahullah taala yang mengatakan, &#8220;Innallaha yarfaul balaa hadil umati birihlati ashabil hadisi fihi.<br><br>&#8221; Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala benar-benar menghilangkan bencana dari umat ini dengan sebab para ulama ahlul hadis yang selalu menuntut ilmu hadis, yang selalu mempelajari ilmu sunah dan menyebarkannya kepada manusia. Jadi semakin semangat dalam berdakwah, semakin marak menyelenggarakan kajian-kajian sunah.<br><br>Inilah justru yang menjadi sebab untuk mengangkat semua solusi yang ada di umat ini dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Yakni semakin kita kembali kepadanya, semakin kita banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala, semakin kita semangat untuk mengadakan kajian-kajian yang membahas akidah, membahas tauhid, membahas keimanan, mengajak manusia kepada manhaj salaf, manhaj para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.<br><br>Jadi dari dulu sampai sekarang kita tahu dakwah ahlusunah tidak pernah berhenti, tidak pernah berubah. Itulah yang dilakukan oleh para ulama kita ketika mereka ingin menyelesaikan masalah yang ada pada umat ini, [berdehem] ingin menyelesaikan masalah dari akarnya dan mencari solusinya, senantiasa mengajak umat ini kembali kepada petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan petunjuk Rasulnya sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Barakallahu fikum.<br><br>[berdehem] Inilah materi kajian yang ingin ana sampaikan di kesempatan malam hari ini. Semoga bermanfaat dan sekedar mengingatkan kita untuk lebih semangat kembali kepada agama ini, lebih semangat [berdehem] mempelajari ilmu yang bermanfaat yang mewariskan amalan saleh. Yang ini sungguh merupakan solusi dan sebab [berdehem] untuk meraih kebaikan di dunia dan di akhirat nanti.<br><br>Barakallahu fikum. Semoga bermanfaat dan [berdehem] menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Dan sebelum kita akhiri, kita persilakan kalau ada pertanyaan yang inum sampaikan. Barakallah fikum shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi ajma walhamdulillahiabbil alamin. Iya.<br><br>Silakan kalau ada pertanyaan. Iya. Dari akhwat bisa lewat kertas kalau mau bertanya.<br><br>Tib. Tidak ada pertanyaan? Kalau tidak ada kita cukupkan dan kita tutup kajian kita di malam hari ini. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik.<br><br>Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4157","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-28T06:52:01+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/\",\"name\":\"Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-28T06:52:01+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T06:52:01+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Akar Semua Masalah &amp; Solusi &#8211; Ustadz. Abdullah Taslim , M.A.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2026-07-28T06:52:01+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/","name":"Akar Semua Masalah &amp; Solusi - Ustadz. Abdullah Taslim , M.A. - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2026-07-28T06:52:01+00:00","dateModified":"2026-07-28T06:52:01+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2026\/07\/28\/akar-semua-masalah-solusi-ustadz-abdullah-taslim-m-a\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Akar Semua Masalah &amp; Solusi &#8211; Ustadz. Abdullah Taslim , M.A."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4157"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4157"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4158,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4157\/revisions\/4158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}