Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

TV dimanapun anda berada jazakumullah bagi anda para pemirsa Roja TV yang tersayang lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung kajian Islam asyhadu alla ilaha illallah wahdahula syarikalah wa Asyhadu anna muhammadan abduhu warosuluh ya ayyuhalladzinallah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita lanjutkan kembali pada sore hari ini hari Kamis tanggal 7 Safar 1445 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 24 Agustus 2023 masehi kita lanjutkan kembali pembahasan dari hadis Al Arba’in nawiyah kita sampai kepada hadis yang kelima hadis dari Ummul mukminin Ummi Abdillah Aisyah radhiyallahu Ta’ala anha Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita baca terlebih dahulu hadis yang kelima itu Hadits dari umil mukminin Aisyah radhiyallahu anha hadis yang singkat padat dan banyak mengandung pelajaran-pelajaran yang berharga al-hadis hadis yang kelima Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam artinya dari Ibunda orang-orang yang beriman Ummu Abdillah Aisyah Semoga Allah meridainya ia berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda barangsiapa mengada-ada di dalam urusan agama kami ini yang bukan darinya yang tidak termasuk dari Urusan Agama kami ini maka ia tertolak kata nabi bahwa Raden hadis riwayat Bukhari dan Muslim dalam riwayat Muslim Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan Barang siapa mengamalkan sebuah amalan yang bukan tergolong dari urusan kami atau tidak termasuk dari urusan keagama kami ini maka ia tertolak kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam inilah hadits yang sangat mulia sekali hadis yang sangat Agung sekali yang akan kita jelaskan atau kita akan dengarkan keterangan dari para ulama tentang hadis yang kelima ini sebelum kita melihat kepada istri hadis ini terlebih dahulu kita akan memperkenalkan secara singkat siapa Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu taala yang pertama bahwa beliau dikatakan Ummul mukminin Ibunda orang-orang yang beriman ini merupakan Kemuliaan bagi beliau radhiyallahu Ta’ala anha karena posisi beliau adalah sebagai ibundanya orang-orang yang beriman ibunda dari seluruh orang-orang yang beriman maka ini merupakan Kemuliaan bagi Aisyah radhiyallahu ta’ala anha sebagai ibu bagi mereka bagi orang-orang yang beriman kemudian hal ini juga merupakan Kemuliaan bagi orang-orang yang beriman karena mereka memiliki ibunda seperti Aisyah Di mana mereka wajib memuliakan menghormati Aisyah membela hak-haknya dan tentunya selalu mengenang beliau mengenang jasa beliau kemuliaan-kemuliaan beliau keutamaan-keutamaan beliau radhiyallahu ta’ala anha inilah berkaitan dengan posisi beliau sebagai Ibunda orang-orang yang beriman Umbul Mukminin Kemudian yang kedua kuniyah beliau adalah Ummu Abdillah Mengapa disebut Ummu Abdillah para ahli mengatakan bahwa beliau sangat mencintai keponakannya sendiri sangat mencintai keponakannya yang bernama Abdullah yaitu Abdullah bin Zubair bin awwam anak dari asma binti Abu Bakar yakni Abdullah bin Zubair bin awwam adalah keponakan dari Aisyah oleh karenanya beliau diberikan kuliah sebagai Ummu Abdillah yang Abdillah ini kembali kepada Abdullah bin Zubair bin awwam radhiyallahu ta’ala anhu kemudian yang berikutnya bahwa Aisyah adalah putri dari sahabat yang mulia Abu Bakar As Siddiq inilah berkaitan dengan Aisyah di mana Aisyah sendiri banyak memiliki keutamaan-keutamaan diantara keutamaan-keutamaan Aisyah yang pertama adalah bahwa Aisyah ahabunnas Ila rasulillah Shallallahu Alaihi Wasallam ini orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu ketika salah seorang sahabat nabi bertanya kepada nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam Ya Rasulullah Siapakah manusia yang paling kau cintai Siapakah orang yang paling kau cintai jawab nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam adalah Aisyah kemudian sahabat yang bertanya kembali bertanya Fa Minal Rizal kalau dari kalangan laki-laki siapa Jawab nabi yang mulia adalah abuha Bapaknya Aisyah yaitu Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu inilah berkaitan dengan keutamaan yang mulia yang dimiliki oleh Aisyah yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian yang berikutnya lagi bahwa Aisyah adalah wanita yang paling Fakih yang paling pandai dalam agama ini secara mutlak dari seluruh wanita-wanita yang ada di masa itu bahkan dari seluruh istri-istri nabi maka Aisyah lah yang paling Faqih yang paling mengerti tentang agama yang mulia ini bahkan beliau radhiyallahu ta’ala anha menghafal tidak kurang dari 2210 hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini keutamaan beliau yang kedua maka kalau ada yang bertanya misalnya siapa yang lebih utama di antara dua istri Nabi Apakah Khadijah radhiyallahu ta’ala anha ataukah Aisyah radhiyallahu ta’ala anha maka jawabannya adalah tafsir secara rinci yakni di awal-awal dakwah nabi di negeri Mekkah tentu yang sangat berjasa adalah Khadijah binti khuwailid radhiyallahu ta’ala anha sedangkan di akhir kehidupan Nabi bahkan ketika nabi telah wafat yang sangat berperan untuk menyebarkan ilmu agama adalah Aisyah di antaranya radhiyallahu taala di antara sahabat-sahabat nabi yang berjasa adalah istri nabi yang mulia ini yaitu Aisyah radhiyallahu Ta’ala anha kemudian keutamaan beliau yang ketiga bahwa Aisyah satu-satunya istri Nabi dari seluruh istri nabi yang ada yang berjumlah 11 istri nabi itu yang dinikahi oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dalam keadaan masih perawan masih gadis ketika itu dan Aisyah radhiyallahu ta’ala anha mendapatkan giliran bersama nabi dua malam sekaligus dua malam yakni Saudah binti zaman yang telah berumur istri nabi juga Ummul mukminin memberikan malamnya giliran malamnya kepada Aisyah sehingga Aisyah bersama nabi dua malam Sedangkan istri nabi yang lainnya satu malam inilah keutamaan dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha jadi Saudah menghadiahkan ya giliran malamnya kepada Aisyah dalam rangka mencari cintanya nabi yang mulia untuk Saudah ini kemudian para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di antara keutamaan lainnya dari Aisyah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala membersihkan diri Aisyah dari tuduhan keji dari fitnah keji yakni berzina inilah berkaitan dengan keutamaan Aisyah di mana Aisyah disebutkan dalam di dalam ayat Alquran tentang ee pembersihan dirinya atau bahwa Aisyah tidaklah melakukan perbuatan keji tersebut dan allah-lah yang langsung membersihkan nama Aisyah di dalam Alquran Al Karim kemudian keutamaan beliau lainnya adalah bahwa para sahabat nabi senang memberikan hadiah kepada nabi yang mulia Sallallahu alaihi wasallam pada saat nabi berada di rumah Aisyah pada saat nabi berada di rumah Aisyah inilah keutamaan dari Aisyah yang membuat istri-istri nabi lainnya menjadi cemburu ya kemudian para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala di antara keutamaan Aisyah lainnya juga bahwa nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam mendapatkan Wahyu dari Allah subhanahu wa taala di balik selimutnya Aisyah dibalik dari selimutnya Aisyah radhiyallahu taala anha di rumah Aisyah kemudian keutamaan beliau yang ketujuh bahwa nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam wafat yakni bersandar pada dadanya Aisyah wafat dan bersandar di dadanya Aisyah radhiyallahu ta’ala anha inilah diantara keutamaan dari sekian banyak keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Ummul mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu Ta’ala anha Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memasuki penjelasan tentang hadis yang mulia ini hadis yang kelima yaitu hadis Aisyah Di mana para ulama Memberikan komentar Memberikan komentar tentang hadis yang mulia ini di dalam kitab ilmu yang ditulis oleh Syekh Ali Hasan Al Habib Abdul Hamid beliau membawakan hadis sebagai pembahasan tersendiri dan tentunya banyak perkataan para ulama yang dibawakan oleh Beliau di sini kita dengarkan keterangan dari para ahli ilmu mengenai hadis yang mulia ini yang pertama dari Syekh alamah Al muhaddits Muhammad Nasrudin Albani rahimahullah dibawakan di sini oleh Beliau rahimahullah mengatakan tentang hadis ini hadits ini termasuk kaidah yang sangat besar dari kaidah-kaidah agama Islam dan hadis ini merupakan jawami alkalim nabi yaitu ucapan nabi sabda Nabi yang singkat namun padat banyak mengandung pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya sungguh hadits ini sangat jelas di dalam membantah seluruh kebatilan atau seluruh Bid’ah dan perkara-perkara yang diada-ada dalam agama ini inilah tentang perkataan dari Syekh Albani rahimahullah ta’ala tentang hadis Aisyah ini kemudian yang lainnya diantaranya Al Imam an-nawawi Al imam an-nawawi yang membawakan hadits ini dalam kitab Al arbainnya Beliau mengatakan sendiri kata beliau termasuk hadis yang semestinya dihafal oleh setiap muslim dan dipakai untuk membatalkan atau untuk menolak seluruh kemungkaran-kemungkaran yakni seluruh bidang-bidah dalam agama ini dan disebarkan tentang hadis yang mulia ini kepada kaum muslimin yang tentunya agar mereka Paham agar mereka mengerti mengerti tentang beragama ini tidak dibenarkan yakni seorang beragama dengan sumber bidah tentunya dengan sumber yang benar sunnah nabi yang mu Shallallahu Alaihi Wasallam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian Syekh Ali rahimahullahu ta’ala menjelaskan dalam kitabnya ini Oleh karena itu Fa Amrul bid’ah khotiru perkara Bid’ah ini adalah perkara yang sangat bahaya sekali dan banyak dari umat Islam yang lalai dari masalah seperti ini dan tidak ada yang mengetahui dari mereka kecuali ahli ilmu kecuali para ulama dan cukup bagimu sebuah Dalil yang menunjukkan tentang bahayanya bid’ah dalam agama ini yaitu sabda Nabi yang mulia shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan yang lainnya kata nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam Sungguhnya Allah menutup Pintu Taubat bagi orang yang berbuat bidah bagi sohibul Bid’ah bagi ahli bidah kata nabi sampai ia betul-betul meninggalkan bidahnya inilah berkaitan dengan yang di keterangan nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai peringatan keras terhadap masalah bidah ini Karena nabi selalu mengulang-ulang dalam hadisnya dalam khotbatul hajahnya di hadapan para sahabat tentang perkara Bid’ah yang bakal terjadi kelak maka ini merupakan kebenaran dari nubuwwah berita kenabian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam sering kali nabi mengulang-ulang waiyyakumbuh hati-hati kalian dari perkara-perkara baru dalam agama karena Setiap perkara baru dalam agama disebut dengan bidah kata nabi benar dan setiap yang beda itu sesat dan setiap yang sesat itu bertempat di neraka kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada khulafah kesimpulan yang diberikan oleh Syekh Ali rahimahullah dalam kitabnya inikal dan kesimpulan dapat dikatakan setiap amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam apabila seorang mengerjakan hal ini maka tidaklah menambah baginya kecuali jarak yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena sesungguhnya Allah diibadahi dengan perintahnya langsung dengan perintah Allah melalui nabinya Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Allahlah dan allah tidaklah diibadahi dengan al-a’raf dengan pendapat-pendapat manusia dan tidak pula dengan hawa nafsu manusia inilah keterangan dan kesimpulan dari beliau rahimahullahu ta’ala berkaitan dengan hadis yang mulia ini Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk lebih lanjutnya lagi kita lihat dalam kitab Fathul qawi Al Matin Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr menjelaskan kepada kita tentang hadis Aisyah ini mana Siapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka tertolak yang tidak ada contoh dari ajaran agama kami maka tertolak kata nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan kepada kita tentang hadis yang mulia ini yang mulia ini merupakan pokok dari timbangan amal-amal Zahir amal-amal yang nampak yakni berkaitan dengan amal ibadah misalnya dilakukan oleh seorang hamba hendaknya dia mengacu kepada hadis yang mulia ini apakah ibadahnya selama ini sesuai dengan contoh-contoh dari Rasul ataukah tidak ini yang perlu kita evaluasi ini yang perlu setiap muslim dan muslimah mengevaluasinya berdasarkan hadis yang mulia ini sebagai timbangan tolak ukur dari ibadah dari amal saleh yang dikerjakan selama ini apakah ada contoh dari nabi atau tidak kalau ada contoh dari nabi walillahilham namun jika tidak ada contoh dari nabi maka nabi sudah mengatakan jauh-jauh hari bahwa Raden maka amalan tersebut tertolak semua dan amalan yang tidak ada contohnya tidak akan dianggap kecuali jika benar-benar ada contoh dari agama ini ya Ada dalilnya dari agama ini keamanan sebagaimana hadis Innamal A’malu binniyat Sesungguhnya semua amal-amal itu tergantung dengan niatnya aslun sebagai pokok yang sebagai timbangan dari seluruh amal-amal yang batin ya ini amal-amal hati dan setiap amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka haruslah ya Ada keikhlasan dari amal tersebut kepada Allah semata kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka dengan demikian amalnya akan dianggap oleh Allah subhanahu wa taala ya ini akan diberi pahala oleh Allah subhanahu wa taala jadi dalam hal ini ada dua hadis sekali lagi yang dijelaskan oleh Syekh hafidzahullah di sini hadis yang pertama sebagai tolak ukur dari seluruh amalan-amalan yang nampak amalan-amalan yang Zahir ya yaitu hadis Aisyah ini Adapun hadis Innamal A’malu binniyat ini kebalikannya sebagai tolak ukur sebagai timbangan bagi seluruh amal-amal batin amal-amal hati Artinya bahwa dua hadis ini mencakup seluruh agama mencakup Seluruh ajaran agama Islam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentu dua hadis ini menjelaskan tentang dua syarat diterimanya amal ibadah dua syarat diterimanya amal ibadah yang pertama ikhlas karena Allah berdasarkan hadis Innamal A’malu binniyat dan yang kedua mutta’bah yakni sesuai dengan contoh nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu hadis Aisyah mana dan hal ini bisa kita lihat dalilnya di ayat yang terakhir dari surat al-kahfi di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman Paman kanayarjolihat artinya Barang siapa ingin berjumpa dengan rabbnya kelak di negeri akhirat yakni di surga maka hendaknya ia melakukan amal saleh jadi amal dikatakan amal saleh ingkana muwafikan oleh sunnah jika cocok dengan sunnah nabi sesuai dengan contoh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam maka amal tersebut dinyatakan sebagai amal saleh ini yang kedua ini syarat yang kedua tidak berbuat Syirik kepada Allah subhanahu wa taala atau mengikhlaskan amal ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa taala jadi inilah berkaitan dengan dua syarat diterimanya amal ibadah yang Allah Nyatakan langsung di akhir ayat yang mulia ini dari surat al-kahfi Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala kembali kita kepada perkataan Syekh Abdul Muhsin di sini hafizahullah Beliau mengatakan Isa Fu ilatul ibadah kalau wudu Minal Jannah apa wassalah wa ghairizalik izafu syar’i fainnah ghaira mu’tabarah apabila seorang hamba mengerjakan ibadah-ibadah seperti wudhu mandi janabah salat dan lain sebagainya namun ibadah-ibadah tersebut menyelisihi Contoh Rasul menyelisihi aturan agama maka ibadah-ibadah yang dikerjakan itu tertolak sia-sia mengerjakan Ibadah abcd dan seterusnya namun tidak sesuai dengan contoh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Nah di sini Syekh Abdul Muhsin hafidzahullah memberikan sebuah contoh dari sisi muamalah dari sisi muamalah yang tidak ada contohnya dari nabi bagaimana itu yaitu Beliau mengatakan bahwa akad atau muamalah yang rusak Maka wajib dikembalikan kepada orangnya itu dan tidak boleh yakni dilanjutkan akad yang rusak tadi atau muamalah yang rusak tersebut dan hal ini ditunjukkan oleh kisah al-asif yakni orang yang di sewa orang yang dikontrak orang yang digaji begitu yang berzina ya dengan istri tuannya maka nabi yang mulia Shallallahu salam bersabda kepada Ayahanda orang yang disewa ini ya amal walidatu walham Adapun kambing yakni harta yang kau berikan ini maka dikembalikan kepada engkau yakni ditolak oleh Nabi karena apa Karena apa yang diberikan oleh Ayahanda pemuda ini tidak ada contohnya dalam Syariat agama dalam syariat nabi yang mulia ya ini dikarenakan pemuda ini masih bujangan kemudian ia berzina dengan istri majikannya maka pemuda ini dicambuk terus sekali dan diasingkan selama setahun maka ini adalah Syariat agama ya hukum yang berlaku dalam sunnah nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam Adapun Ayahanda Pemuda tersebut yang telah memberikan semacam uang tebusan atau harta kepada majikan itu maka ini tidak diterima oleh Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam baik Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala ini berkaitan dengan muamalah yang tidak benar muamalah yang tidak ada contoh dari nabi maka tertolak seperti itu sebagaimana hadis Bukhari Muslim yang menjelaskannya tadi kemudian diberikan di sini keterangan lagi buaya dulu hadis ala bidah merdu Datun hadis ini ini hadis Aisyah di atas menunjukkan bahwa barang siapa Berbuat bid’ah dalam agama yang tidak ada contohnya dalam agama ini maka ia tertolak dan pelakunya berhak mendapatkan ancaman dari agama ini Madinah dan sungguh nabi telah bersabda di negeri Madinah apa kata Nabi dalam hadis Bukhari Muslim kata nabi yang artinya Barang siapa berbuat perkara baru dalam agama di negeri Madinah ini atau melindungi orang yang berbuat kejahatan yakni kejahatan dalam urusan dunia apalagi kejahatan dalam urusan agama barangsiapa melindungi orang yang berbuat ya bid’ah dalam agama ini dilindungi maka ia mendapatkan laknat dari Allah laknat dari para malaikat dan laknat dari umat Islam yakni makna la’na di sini adalah aktor dunia terjauh dari kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lihatlah oleh para jamaah betapa kerasnya peringatan dari nabi yang mulia bahwa siapa saja kata nabi berbuat Bid’ah ya di negeri Madinah ini ya negeri yang dimuliakan kota suci kemudian kata nabi melindungi atau melindungi pelaku bidah atau pelaku kejahatan secara umum ya maka akan mendapatkan laknat dari Allah laa anak dari para malaikat dan laknat dari seluruh umat Islam oleh Rasulullah salamatan Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita lihat keterangan selanjutnya dari beliau muslim riwayat Muslim Manado yang di Barang siapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dalam agama kami maka ia tertolak maka riwayat yang kedua dari muslim ini jauh lebih umum sifatnya dari riwayat yang pertama jadi riwayat yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari Muslim yaitu Man ahdasah malaikat di dalam ajaran agama kami yang tidak ada asal-usulnya tidak ada contohnya dari agama kami maka ia tertolak jadi riwayat yang kedua sifatnya lebih umum dari riwayat yang pertama dikarenakan riwayat yang kedua ini mencakup Siapa saja yang mengamalkan atau berbuat Bid’ah yaitu Apakah ia sendiri yang berbuat beda atau ada orang lain yang lebih dahulu berbuat Bid’ah yakni Mungkin ia mengikutinya dan Ia melakukan atau ia sebagai yakni pengikut dari Bid’ah tersebut dari Bid’ah tersebut Jadi intinya bahwa Siapa saja yang berbuat bid’ah dalam agama ini apakah dia yang langsung berbuat bidah dalam agama atau dia ikut-ikutan dalam dalam berbuat bidah tersebut atau ya yakni hanya mengekor saja dari dalam berbuat beda maka amal bidahnya itu kata nabi yang mulia raddun aimardul Yani tertolak ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut di sini makna qauli fil hadis roddun yakni makna dari sabda Nabi yang mulia dalam hadis yang mulia inirat Dun ya ini tertolak maknanya adalah mardudun Alaihi Yang Ditolak atau ditolak oleh Allah subhanahu wa taala amalan bidah tersebut wahu min itu wakil masdar adalah sebenarnya bentuknya adalah masdar roddaya Seperti contohnya yang dimaksud adalah makhluk atau Nash yang dimaksud adalah mansukh yakni terhapus Wal makna dan maknanya adalah amalan bidah tersebut adalah amalan yang batil dan tidak dianggap oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak diberi pahala oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak termasuk dari hadis yang mulia ini yaitu perbuatan-perbuatan yang mengandung maslahat untuk menjaga agama atau terjaganya agama Islam atau untuk jembatan atau sebagai jembatan agar dapat paham dalam dalam agama yang mulia ini agar dapat memahami agama yang mulia ini ini sebagai penghubung untuk memahami agama Islam ini maknanya begitu seperti mengumpulkan Alquran jadi mengumpulkan tulisan-tulisan yakni dari ayat-ayat Alquran yang ada di masa dahulu dikumpulkan di zaman Utsman bin Affan menjadi mushaf ya menjadi satu mushaf misalnya atau membukukan misalnya ilmu bahasa atau ilmu Nahwu atau yang semisalnya maka yang seperti ini tidak mengapa dan ini tidak termasuk dari hadis yang mulia itu jadi hal-hal seperti ini merupakan masalah bagian dari masalah ya untuk memahami agama Islam atau untuk ya terjaganya agama Islam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala selanjutnya kita dengarkan di sini Beliau mengatakan lagi al-hadit itu yaitu hadis ini menunjukkan tentang dimutlakkannya penolakan semua amal-amal yang menyelisihi ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menolak seluruh perbuatan-perbuatan yang tidak ada contoh dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam walaupun tujuan dari pelakunya adalah baik niatnya baik Namun karena tidak ada contoh dari nabi maka tertolak maka tertolak berapa banyak orang ingin berbuat baik Berapa banyak orang berniat baik dalam agama Namun sayang tidak cocok dengan contoh Rasul maka tidak dianggap ini tidak diberi pahala oleh Allah subhanahu wa ta’ala jadi niat yang baik niat yang lurus niat yang bagus belumlah cukup dalam beragama maka harus disertakan dengan yakni contoh dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam maka berkaitan dengan hadis Innamal A’malu binniyat ada di antara para ulama menjelaskan sesungguhnya amal-amal yang Saleh tergantung dengan niat yang Saleh yakni amal yang Saleh dikatakan Saleh jika sesuai dengan contoh Rasul dan niat yang Saleh dikatakan Saleh jika ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita lihat contoh yang diberikan di sini oleh Syekh Abdul Muhsin Hafidz Allah ta’ala tentang niat yang baik tidak cukup dalam beragama langsung di zaman Nabi langsung di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu dikatakan di sini [Musik] yaitu kisah tentang seorang sahabat nabi ketika di pagi hari raya Idul Adha ini sebelum pelaksanaan salat hari raya sahabat nabi Ini sudah menyembelih hewan kurbannya niatnya bagus niatnya baik niatnya adalah agar ia dapat dengan segera ya menyantap dan menikmati daging hewan kurbannya itu begitu pula bagi seluruh anggota keluarga ataupun tetangga misalnya bisa dia bagi-bagi bisa dia yakni berikan kepada mereka agar mereka segera menikmati hidangan dari daging hewan Kurban tersebut inilah niat dari sahabat yang mulia ini namun Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam katakan kepada sahabat ini apa kata nabi satu ke satulah Min yakni kambingmu itu adalah kambing biasa yakni sembelihan biasa kata nabi bukan sembelihan kurban bukanlah tergolong dari hewan kurban kata nabi Kenapa karena telah disembelih sebelum pelaksanaan salat Raya Lihatlah oleh para jamaah Bagaimana Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam menolak perbuatan sahabat ini walaupun niatnya bagus walaupun niatnya baik untuk memberikan kebaikan kepada diri sendiri kepada keluarga dan orang-orang yang ia cintai Namun karena tidak sesuai dengan contoh rasul disembelihnya sebelum pelaksanaan salat hari raya Nah inilah berkaitan dengan makna hadis yang mulia yang langsung ada di zaman Nabi ditolak oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam maka nabi perintahkan kepada sahabat ini untuk kembali menyembelih ya kambing yang lain sebagai hewan kurban tentunya setelah pelaksanaan salat hari raya nabi hendaknya engkau menyembelih lagi setelah salat hari raya ini setelah salat hari raya engkau boleh menyembelih lagi engkau Ya wajib menyembelih lagi ya sebagai hewan kurban adapun yang tadi telah disembelih adalah sembelihan biasa kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali di sini kita lihat keterangan dari Syekh hafizallah KNI Ketika dilihat ya dalam hadis yang mulia ini dari apa yang ada isi dari hadis yang mulia ini menunjukkan bahwa seluruh amal ibadah seluruh amal perbuatan yang tidak ada contoh dari agama ini maka dia tertolak maka dia bertolak kata nabi kata beliau hafizahullah ta’ala dan kebalikannya mafhum mukhalafah pemahaman kebalikan dari hadis Aisyah ini adalah amal ibadah atau perbuatan yang sesuai dengan contoh Rasul sesuai dengan contoh nabi maka diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala yakni tidak ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala [Tertawa] maknanya adalah Amalan apa saja yang didasari oleh hukum agama yang ada dalilnya ada dasarnya ada contohnya dari nabi maka diterima oleh agama ini oleh Allah subhanahu wa ta’ala woman kanardhu namun jika kebalikannya tidak ada dalil dari agama ini maka amal tersebut ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala kita lihat pelajaran-pelajaran berharga yang dibawakan oleh Syekh Abdul Muhsin Hafiz Allah Taala di sini beliau memberikan kurang lebih 6 pelajaran berharga yang pertama tahrimmul ibtidak fiddin diharamkannya berbuat bid’ah dalam agama Nah sekarang berkaitan dengan bidah Apa definisi bidah kalau kita melihat langsung kepada hadis nabi yang mulia tadi hadis Aisyah Tadi sebenarnya nabi langsung memberikan definisi Bid’ah yaitu dari lafaz yang pertama atau riwayat yang pertama riwayat Bukhari Muslim di mana Nabi mengatakan Barang siapa mengada-ada dalam urusan agama kami yang tidak ada contohnya dari Urusan Agama kami ini maka ia tertolak yakni Al ih Datu fiddin mengada-ada dalam urusan agama itulah makna bidah menurut nabi ya Mulia Shallallahu Alaihi Wasallam atau boleh kita juga memakai definisi-definisi lain yang diberikan oleh para ulama kita di antaranya oleh Al Imam asyatibi dalam kitabnya Isam rahimahullahu taala di mana Beliau mengatakan tentang definisi bidah adalah tariqotun fiddin ya thoriqotun fiddin muftaran Syariah Al Mubarak fitta’abbud lillahi Subhanallah bahwa bidah adalah kata beliau rahimahullah suatu cara dalam urusan agama ingat dalam urusan agama yang diada-ada yang menandingi ajaran agama itu sendiri yang bertujuan untuk beribadah kepada Allah secara berlebihan Saya ulangi ini merupakan definisi Bid’ah yang bagus dari Al Imam Syafi’i dalam kitab Beliau rahimahullah mengatakan bahwa bidah itu adalah suatu cara dalam agama suatu cara dalam beragama yang di ada-ada ya yang tidak ada contohnya yang menandingi ajaran agama Islam itu sendiri ini seolah-olah seperti ajaran agama dilihat oleh orang awam Oh ini ajaran agama begitu yang bertujuan untuk beribadah kepada Allah secara berlebihan Nah inilah berkaitan dengan definisi beda baik kemudian pelajaran yang kedua dikatakan di sini oleh Syekh hafidzahullah an Al Amanah al-maghni ala Bin Atin mardudun alasahibi amalan yang dibangun di atas bidah yang itu yang tidak ada contohnya dari agama ini maka tertolak ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang ketiga bahwa larangan dalam agama mengandung kerusakan artinya Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah melarang umatnya untuk berbuat bidah maka Apabila ada di antara umat ini berbuat bid’ah dalam agama tentu agamanya akan rusak agamanya akan sia-sia tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan diberi pahala oleh Allah subhanahu wa taala kemudian yang keempat apabila dikerjakan tanpa bimbingan dalil agama Seperti contohnya seorang salat sunat setelah pengerjaan salat asar Misalnya ini begitu selesai salat ashar ya orang ini mengerjakan salat Sunnah orang ini mengerjakan salat Sunnah tanpa atau mengerjakan salat lainnya tanpa sebab atau mengerjakan siam pada saat hari raya misalnya ataupun yang lain maka perbuatan seperti ini batil yakni tertolak dan tidak dianggap oleh Allah subhanahu wa ta’ala jadi sia-sia mengerjakan amalan yang tidak ada contoh dari agama yang mulia ini kemudian yang kelima [Musik] bahwa hukum yang dimunculkan oleh Hakim yang tidak dapat merubah isi dari ajaran agama ini ini hukum yang dimunculkan oleh seorang penguasa tentu tidak dapat merubah yakni hukum agama tidak dapat merubah hukum agama sebagaimana nabi mengatakan yakni yang bukan dari Urusan Agama kami jadi kalau ada orang ya memasukkan urusan-urusan agama yang memang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW maka siapapun yang berbuat siapapun yang melakukan sekalipun orang yang memiliki kekuasaan misalnya maka tidak dapat merubah hukum agama tidak dapat merubah hukum agama kemudian yang keenam yang terakhir kata beliau an-nas bahwa perjanjian atau perdamaian atau akad yang rusak Maka tertolak Arab yakni apa yang telah diambil ya dari perjanjian tersebut dikembalikan lagi karena tidak ada contoh dalam yakni sunah Nabi yang mulia atau contoh dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana hadits al-asif ya yang menunjukkan hal ini inilah keterangan dari beliau hafizallahu taala tentang hadis yang kelima dan kita akan lengkapi sedikit dari keterangan Syekh Ali Hasan Al Abdul Hamid dalam kitabnya ilmu salul beda di mana kitab yang mulia ini menjelaskan secara panjang lebar berkaitan dengan definisi bidah dan hal-hal lainnya hal-hal lainnya yang bisa kita jumpai dalam kitab yang bagus sekali ini diantara pembahasan yang akan kita Jelaskan di sini berkaitan dengan kesempurnaan agama Islam ketahuilah oleh para jamaah bahwa agama Islam sebelum nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam wafat telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka makna sempurna adalah tidak membutuhkan tambahan apalagi pengurangan sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-maidah ayat 3 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman Al Yauma akmatul lakum dinakum nikmatiin Islam Madinah yang artinya pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu telah aku cukupkan nikmatku atasmu dan aku Ridho Islam menjadi agamamu kita dengarkan keterangan dari al-hafir Ibnu Katsir dalam tafsir beliau tafsir Ibnu Katsir apa kata Al Hafiz Ibnu kafir mengenai ayat yang mulia ini Beliau rahimahullah mengatakan hadzihi Akbar ini termasuk sebesar-besar nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat Islam karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan Agama Islam untuk mereka Maka umat Islam tidaklah membutuhkan agama selain dari Islam itu sendiri tidak butuh dengan agama-agama yang lain kecuali agama Islam wala Ila nabiyyin illa wala Ila nabiyim sholawatullah Assalamualaikum dan umat Islam tidak pula membutuhkan nabi kecuali hanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Oleh sebab itu Allah jadikan beliau sebagai penutupnya para Nabi Muhammad Shallallahu salam kepada seluruh jin dan manusia maka tidak ada perkara yang halal dalam agama ini kecuali apa yang beliau halalkan walaharamah illa maharamah dan tidak pula ada perkara yang haram kecuali apa yang telah ditegaskan haramnya oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam waladzina illa masyaraah dan tidak pula ada ajaran agama kecuali dengan syariat beliau Sallallahu Alaihi Wasallam inilah keterangan yang sangat bagus sekali dari al-hafir Ibnu Katsir tentang ayat yang mulia tadi penjelasan dari beliau mengenai sempurnanya agama Islam Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala kemudian lebih lanjut di sini kita lihat tentang hadis yang mulia di mana orang-orang Yahudi telah memahami telah mengetahui sempurnanya agama Islam bisa kita bayangkan musuh Islam diantaranya orang-orang Yahudi telah mengetahui secara persis bahwa agama Islam telah sempurna maka dalam hadis Umar ada seorang Yahudi berkata kepada Umar Khattab radhiyallahu ta’ala anhu innakum kalian wahai umat Islam membaca satu ayat dari Quran kalian yang apabila Ayat tersebut turun pada agama kami ini agama Yahudi maka kami akan Jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya Lihatlah kebahagiaan orang Yahudi kebanggaan orang Yahudi jika ayat itu turun pada agama mereka maka Umar bertanya kepada Yahudi ini Ayat apa yang kau maksud si Yahudi berkata Kal aliauma akmatul lakum dinakum Islam Madinah Ayat tersebut adalah yang terdapat dari surat al-maidah ayat 3 yang tadi dibaca Ali Yauma akmaltu lakum dinakum pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu telah aku cukupkan nikmatku atasmu dan aku Ridho Islam menjadi agamamu Lihatlah orang-orang Yahudi sangat mengetahui secara persis tentang sempurnanya agama Islam kesempurnaan agama Islam ya Dan mereka sangatlah bahagia jika Ayat tersebut turun pada agama mereka namun ayat ini turun pada agama Islam agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tentunya tidak membutuhkan tambahan apalagi pengurangan dalam hal ini Umar Rad berkomentar terhadap orang Yahudi wallahi innila alam sungguh demi Allah aku mengetahui hari turunnya ayat tersebut kepada nabi kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan persis waktunya aku pun mengetahui turunnya tersebut yaitu turun kepada rasul Sallallahu Alaihi Wasallam ya menjelang ya wukuf di Padang Arafah pada hari Jumat ini pada saat nabi akan wukuf di pada Arafah turunlah Ayat tersebut yang menunjukkan tentang sempurnanya agama Islam Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala dalam hal ini ayat yang mulia tadi langsung nabi Jelaskan sejelas-jelasnya Ya se terang-terangnya apa kata Nabi dalam hadis yang mulia kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mabaqiya syaiun Ma ba qiya syaiun yuqarib yuqaribhukum Ilal Jannah illa waqadbuyyina lakum kata nabi yang mulia tidak ada ajaran Islam yang tertinggal lihat tidak ada ajaran Islam yang tertinggal kata nabi yang dapat mendekatkan kalian ke surga yang dapat menjauhkan kalian dari siksa neraka kecuali telah dijelaskan kecuali telah diterangkan Lihatlah keterangan nabi yang mulia mengenai Ayat tersebut bahwa nabi jelas-jelas telah menerangkan Seluruh ajaran agama Islam mulai dari a sampai z semuanya telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam Oleh sebab itu kita dengarkan keterangan Imam Malik salah seorang guru dari Imam As Syafi’i rahimahullah jami’an Imam Malik menjelaskan ayat yang mulia tadi dari surat al-maidah ayat 3 apa kata Imam Malik Hasanah kata beliau rahimahullah Barang siapa Berbuat bid’ah dalam agama Islam ini dan ia pandang mau bid’ahnya adalah Hasanah bahwa Bid’ah tersebut adalah bidah Hasanah kata beliau bila tersebut baik menurutnya maka sungguh ia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam telah berkhianat di dalam menyampaikan risalah Islam ini karena Allah telah berfirman akmatul lakum dinakum Dan Seterusnya pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu telah aku cukup telah aku cukup nikmatku atasmu ada telah menjadi agamamu maka pada saat turunnya ayat tersebut di zaman Nabi di padang Arafah yang bukan termasuk ajaran agama Islam ketika itu maka pada hari ini pun pada hari aku berada di sini kata Imam Malik Imam Negeri Madinah maka juga bukan tergolong dari ajaran Islam bukan termasuk dari ajaran agama Islam Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai contoh ya Sebagai contoh di zaman Imam Malik di zaman dahulu ada seorang berkata kepada Imam Malik wahai Imam Saya ingin memulai miqat saya ini dari Masjid Nabawi kita tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menentukan miqatnya orang-orang Madinah yaitu dari mana Dari Zul hulaifah atau bir Ali namanya atau abiyar Alifah atau bir Ali orang-orang Madinah ya Sekian kilo lah dari Masjid Nabawi jaraknya maka orang ini berkata Saya ingin mengambil miqat untuk berumroh atau berhaji dari Masjid Nabawi ini maka Imam ya ulama tersebut menolaknya membantahnya jangan kau lakukan seperti ini jangan kau lakukan yang seperti ini karena perbuatanmu ini adalah Bid’ah karena perbuatanmu ini adalah bidah artinya tidak boleh menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat miqat ya dimulainya ibadah umroh atau Haji ditentukan oleh Rasulullah langsung tempatnya ditentukan oleh Nabi yang mulia yaitu di dzul hulaifah atau beralih untuk orang-orang yang akan berumur atau berhaji dari negeri Madinah inilah berkaitan dengan ee contoh langsung tentang ayat yang mulia tadi ya sebagai bantahan terhadap orang-orang yang senang berbuat beda maka sekali lagi Imam Malik menegaskan Siapa saja yang berbuat bidah kemudian dia pandang bahwa bidah tersebut Hasanah baik begitu maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah berkhianat di dalam menyampaikan risalah yakni bertolak belakang dengan ayat yang mulia aliyaum dan seterusnya Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala ini Berkaitan dengan keterangan bahwa agama Islam agama yang telah sempurna Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian pembahasan yang berikutnya berkaitan dengan kewajiban mengetahui perkara Bid’ah kewajiban mengetahui beda-beda dalam agama yakni agar kita tidak terjerumus ke dalamnya hal ini sesuai dengan perkataan sahabat nabi yang mulia perkataan sahabat nabi yang mulia sahabat hudzaifah bin Ali Yaman di mana beliau radhiyallahu an mengatakan kannas Rasulullah para sahabat nabi dahulu kebanyakan Mereka bertanya kepada nabi tentang perkara-perkara baik hal-hal yang bagus-bagus kepada nabi ya Misalnya para sahabat bertanya kepada Nabi Ya Rasulullah amal apakah yang paling utama wahai Rasulullah amal apakah yang sangat dicintai oleh Allah nah itu sebagai contoh ya Adapun aku kata sahabat hudzaifah Adapun diriku bertanya kepada nabi mengkhususkan untuk bertanya kepada nabi tentang perkara-perkara buruk dalam agama karena aku khawatir kalau-kalau diriku terjerumus ke dalamnya Aku khawatir jika diriku terjerumus ke dalam ya fitnah ke dalam bidah dan seterusnya yang buruk itu Nah inilah perkataan dari sahabat yang mulia hudzaifah bin Ali Yaman Shahih butsir sahabat yang menyimpan rahasia nabi rahasia negara Radiallahu taala Anhu kemudian ungkapan dari sahabat ini sesuai dengan pepatah Arab mengatakan Arab tuh syarlali Syar walakin Lita wakih Wa man laa ya ariful khairim minas Aku berusaha mengetahui yang buruk bukan dalam rangka mengerjakan yang buruk namun dalam rangka ya terjauh dari perkara yang buruk tersebut barangsiapa tidak mengetahui keburukan dari kebaikan akan terjerumus ke dalamnya akan masuk ke dalamnya Nah inilah berkaitan dengan yakni kewajiban umat Islam untuk mengetahui perkara-perkara Bid’ah di samping dia wajib mempelajari sunnah-sunnah nabi dan mengamalkannya maka dia pun harus mengetahui mana-mana saja amal-amal yang tergolong yang tergolong dari bidah sebagaimana seorang muslim dan muslimah wajib mempelajari tauhid bertauhid dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari maka dia pun wajib untuk mengetahui lawan dari tauhid yaitu perbuatan-perbuatan Syirik agar tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan Syirik tersebut Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala inilah berkaitan dengan yakni kewajiban seorang muslim untuk ya yakni mengetahui perkara beda kemudian pembahasan berikutnya lagi adalah Asbabul bidah sebab sebab terjadinya Bid’ah Syekh Ali Hasan Al Hanabi rahimahullahu taala menjelaskan paling tidak ada tiga sebab ya Ada tiga sebab ya terjadinya bidah yang pertama adalah al-jahlu Bima sadiril Ahkam Biu wabi wasahi Fahmi Hah wabi wasahiha yakni bodoh terhadap sumber-sumber hukum agama dan wasilah-wasilah ini perantara-perantara yang mengarahkan kepada agama itu sendiri jadi seorang tidak mengetahui hukum-hukum agama itu sendiri awam terhadap yakni agamanya sendiri dan tidak mengetahui yakni wasilah atau perantara seperti bahasa Arab ataupun yang semisalnya Nah inilah sebab yang pertama dengannya muncul bidah yaitu kebodohan yang ada pada diri seorang maka pada dasarnya musuh terbesar bagi kita adalah kebodohan diri kita sendiri sebagaimana kepada Arab mengatakan Anna su’ana bimajahilu manusia memiliki musuh yang terbesar bagi dirinya itu kebodohan dirinya jadi kebodohan dirinya adalah musuh terbesar bagi kehidupan manusia tentunya Kita terlahir Kita terlahir ke dunia ini tanpa dibekali ilmu agama oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana Allah berfirman dalam ayat yang mulia wallahu akh rajaku mim butuni ummahatikum Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak memiliki ilmu tidak tahu apa-apa kata Allah maka kita wajib untuk mempelajari ilmu agama agar hilang kebodohan yang ada pada diri kita kebodohan yang ada pada keluarga kita dan berganti dengan ittiba mengikuti contoh Rasul sunah Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian sebab yang kedua terjadinya Bid’ah adalah mutabatul Hawa fillah kamu mengikuti hawa nafsu mengikuti hawa nafsu maka sebab yang kedua ini dapat melahirkan bidah-bidah dalam agama ini dikarenakan seorang memperturutkan hawa nafsunya tidak mengikuti dalil hanya hawa nafsu yang ia berturutkan maka tentunya dapat menimbulkan kemudian sebab yang ketiga yang terakhir adalah Tahsin jadi menganggap baik dengan akal semata menganggap baik dengan akal semata Ingatlah kita dengan perkataan Imam asy-syafi’i ya manistah sana barang siapa menganggap baik ya segala sesuatu dianggap baik yakni menurut akalnya sungguh ia telah mengadakan syariat sungguh ia telah berbuat syariat atau yakni eee berbuat ya tentang agama ini melakukan perkara tentang agama ini ya tentunya tidak ada dalil tidak tidak ada dalil yang iya ikuti dia hanya mengikuti yakni ee perasaan kami saja atau akalnya semata yang tentunya tidak didasari oleh dalil apapun baik dari Alquran maupun dari hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam baik para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala pembahasan yang berikutnya lagi mandi lagi yumaizul bidah Siapakah orang yang dapat membedakan bidah mana Bid’ah mana sunnah mana sunah mana bidah Siapa yang dapat membedakan hal itu semua Syekh Ali Hasan menjelaskan apabila seorang ingin mengetahui mana Bid’ah mana yang bukan bidah maka dia harus memiliki dua ilmu paling tidak dua ilmu yang harus dia miliki yang pertama kata beliau dia paham betul menguasai ya sirah Nabi sejarah kehidupan Nabi dan sunnah-sunnah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam dari a sampai z dari seluruh kehidupan Nabi dia paham betul Bagaimana Nabi hidup Bagaimana Nabi beragama Bagaimana Nabi bermuamalah berdakwah dan lain sebagai paham betul dan mengetahui sunah-sunah beliau memahami dan menguasai sunah-sunnah beliau ini yang pertama Kemudian yang kedua makrifat menguasai ilmu usul Bid’ah mengetahui dan menguasai ilmu usul Bid’ah Nah inilah yang beliau tulis dari karya ilmiah beliau ini ilmu Ushul beda di mana dengan ilmu ini seorang dapat mengetahui dan membedakan mana beda mana yang bukan beda Para jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentu dalam kehidupan ini perlu kita perhatikan bahwa tentang hal-hal yang dikaitkan ya Jadi kalau kita bagi ibadah menjadi dua ada ibadah yang mutlak ya ada ibadah yang muqayyad jadi ada ibadah yang bersifat mutlak saja tanpa ada kaitan apapun namun ada ibadah yang kebalikannya ada muqayyatnya ada ikatan-ikatan tertentu misal ya Ada kurang lebih 7 ya kaitan atau ikatan di sini Yang pertama adalah sebab Yang Kedua jenis jadi jenis ibadah yang ketiga cara atau sifat ibadah yang keempat jumlah atau bilangan ibadah yang keenam waktu beribadah yang yang kelima itu yang keenam tempat ibadah dan yang ketujuh kita tambahkan di sini pemahaman dalam beragama yang pertama berkaitan dengan sebab jadi suatu ibadah jika memiliki sebab begitu yang terkait dengan sebab maka wajib ada dalil yang menjelaskannya dan jika seorang mengerjakan suatu ibadah tanpa sebab sama sekali atau sebabnya tidak ada dalilnya maka tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala misal ketika seorang berpuasa asal puasa saja asal puasa saja dia tidak ada sebab apapun yang disyariatkan oleh agama ini maka siangnya atau puasanya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala Kemudian yang kedua jenis ibadah apabila suatu ibadah memiliki jenis tertentu maka wajib ada dalil yang menjelaskannya jenis ya jenisnya contoh dalam berkurban kita mengenal jenis jenis hewan kurban ya kambing atau domba atau sapi atau unta Jika seorang berkurban dengan seekor kuda misalnya dengan jenis hewan lainnya yang tidak ada contoh maka tertolak ini sebagai contoh kemudian yang ketiga adalah kaifiyah atau cara atau sifat ibadah ini pun harus dengan dalil jika seseorang mengerjakan Ibadah yang sifatnya ingat sifatnya atau caranya tidak ada contoh dari nabi maka tertolak misal dzikir berjamaah di sini yang kita tolak bukan dzikirnya tetapi caranya sifatnya tidak ada contoh dari nabi ya di masa langsung konkret di masa sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud atau Ibnu Mas’ud ketika Ibnu Mas’ud melihat di sebuah masjid ada sekelompok umat Islam yang berhalaqah untuk berzikir dengan cara mereka tersendiri yaitu dengan mengumpulkan kerikil-krikil kemudian ada yang memimpin mereka ya berzikirlah kalian dengan mengucapkan Subhanallah Ah ini mereka dengan kerikil subhanallah subhanallah subhanallah ya bertakbirlah kalian Allahu Akbar Allahu Akbar dan begitu seterusnya Maka langsung perbuatan mereka ini sifat dan cara zikir ini langsung dikritik oleh sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud wahai haqqum ya ummata Muhammad Ma asroa ala katakum sungguh celaka kalian wahai umat Muhammad sungguh celaka kalian alangkah cepatnya kalian binasa Lihatlah oleh kalian para sahabat nabi banyak masih banyak yang hidup pakaian mereka Belumlah usang perabot rumah tangga mereka Belumlah hancur Apakah kalian ketika melakukan dzikir seperti ini ya di sini Ibnu Mas’ud memberikan Dua pertanyaan hanya Dua pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab Apakah kalian menganggap bahwa cara kalian beribadah seperti ini berzikir ala kalian ini lebih pandai dari caranya Rasul berzikir nabi yang mulia berzikir dengan jari jemari subhanallah subhanallah alhamdulillah Allahu akbar Allahu akbar beliau Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan mereka ini dengan batu-batu kerikil dengan batu-batu kerikil atau kita lihat di zaman sekarang dengan yang semisalnya maka Ibnu Mas’ud langsung memberikan pertanyaan yang pertama Apakah cara kalian beribadah seperti ini lebih hebat lebih bagus dari cara berzikirnya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam atau pertanyaan yang kedua atau apakah kalian ingin membuka pintu kesesatan Dua pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab Dua pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab ini berkaitan dengan kaifi atau cara atau sifat dalam beribadah kemudian yang keempat jumlah ibadah jadi suatu ibadah yang berkaitan dengan jumlah atau bilangan tertentu maka harus dengan dalil apabila seorang mengerjakan Ibadah dengan bilangan-bilangan tertentu Namun tidak ada contoh dari nabi maka tertolak tertolak ya Misalnya berzikir ala Sufi ya dengan ribuan kali sekian puluh ribu kali misalnya tidak ada contoh dari nabi merdu maka tertolak perbuatan seperti ini kemudian yang kelima tentang waktu jadi ibadah apapun yang berkaitan dengan waktu tertentu maka wajib dengan dalil harus dengan dalil kemudian yang keenam tempat yang suatu ibadah yang berkaitan dengan tempat maka wajib adanya dalil Jika seorang mengerjakan Ibadah yang dikaitkan dengan tempat yang tidak ada contohnya dari nabi maka tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan yang terakhir begitu pula berkaitan dengan pemahaman ya ini pemahaman beragama siapa saja pemahaman beragamanya yang tidak sesuai dengan pemahaman agama Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan tidak sesuai dengan pemahaman agama para sahabat ya maka tertolak Karena nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya jadi wajib kita yakni memahami agama sebagaimana dipahami oleh Nabi sebagaimana dipahami oleh para sahabat radhiyallahu taala anhum ajma’in Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala inilah berkaitan dengan kajian kita pada sore hari ini mudah-mudahan kajian kita yang singkat di sore hari ini bermanfaat bagi kita semua bisa kita pahami bisa kita amalkan semoga hadis yang kelima ini sebagai ee Pemberi Semangat bagi kita untuk kembali mengevaluasi agama kita sendiri ibadah kita sendiri Apakah aqidah kita sudah sesuai dengan Akidah nabi dan para sahabat Apakah ibadah kita selama ini sudah sesuai dengan contoh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam atau ke ataukah belum Bagaimana muamalah kita bagaimana dakwah kita bagaimana bagaimana yang lain Apakah sudah sesuai dengan contoh Rasul ataukah belum maka kita bisa melihat kembali kepada hadis Aisyah agar ibadah kita semua agar amal-amal ibadah kita semua diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala Yaitu sesuai dengan contoh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan sebelumnya ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala barangkali ini yang dapat disampaikan pada sore hari ini mudah-mudahan sekali lagi bermanfaat bagi kita semua mohon maaf kalau ada kesalahan dan kita akhiri dengan doa penutup majelis Subhan Allahumma Bi hamrik asyhadu alla ilaha illa Anta astagfirukatu Billahi assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *