Barakallah fikum asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah Alhamdulillahi Al ihsanukrahu taufiki waahu wa Ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu Il Ridwan shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa Ikhwan Amma ba’du Alhamdulillah maasyiral muslimin kaum muslimin para pemerhati raja TV dan radio roak di mana pun Antum berada juga para ikhwan dan akhwat yang hadir di masjid albarkah hafidakumullah kita lanjutkan kembali pembahasan di jenis atau macam Tauhid yang ketiga tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah dicontohkan tadi di sini oleh Syekh muhad bin Jamil zainu rahimahullahu taala Fal istiw matsalan War Fi tafsiriabi fiahihil bukhi biahul Ul irtifau alladanialiq bijalalihi contohalnya misalnya sifat istiwa yang disebutkan di dalam beberapa ayat al-qur’an arrahmanu Alal arsyistawa Allah subhanahu wa taala beristiwa Allah yang maha pemurah beristiwa di atas arsynya ya Misalnya sifat istiwa ini disebutkan tafsirnya di dalam sahih Bukhari dari para ulama tabiin maknanya adalah Al Ulu Wal irtifa Maha tinggi di atas arsynya yang tentu saja ini sifat yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk karena Allah subhanahu wa taala berfirman di dalam surah Asyura laaisa kamlihiaiun Laisa kamlihiaiu wahua samiul bir tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat tidak ada yang serupa dengan Allah dalam nama-namanya sifat-sifatnya pada zatnya dan perbuatan-perbuatannya karena Allah subhanahu wa taala Maha Tinggi dan Maha Sempurna sehingga sifat-sifatnya pun Maha Tinggi dan Maha Sempurna sesuai dengan kemahatinggian kemahabesaran zatnya Adapun sifat makhluk sesuai dengan kelemahan dan kekurangannya pada makhluk makanya kaidah ahlusunah Wal Jamaah dalam masalah ini adalah isbatun bila tamsil wa tanziihun bila tatil menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menolaknya menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhlukil menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk dan mensucikan Allah bilatil tanpa menolak sifat-sifatnya makanya para ulama ahlusunah Wal Jamaah menjelaskan kaidah dalam masalah ini ketika kita menetapkan sifat-sifat Allah Ya kita harus menikan perkara tidak boleh menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk dengan dalil ayat yang tadi kita sebutkan kita katakan sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesarannya sifat makhluk sesuai dengan kelemahannya sebagai makhluk Allah subhanahu wa taala alalim Maha Mengetahui makhluk juga disebut berilmu tapi ilmunya makhluk ada keterbatasan ada ketidaktahuan padanya ada kelupaannya ada kejahilan Adapun ilmu Allah subhanahu wa taala tidak ada hal-hal yang seperti itu ilmunya Maha Sempurna tidak ada yang luput dari pengetahuannya tidak ada kelupaan tidak ada kejahilan padanya karena Ilmu Pengetahuan Allah subhanahu wa taala Maha Tinggi dan maha sempurna kemudian bila takyif tidak boleh kita membagaimanakan karena Allah subhanahu wa taala tidak menjelaskan tentang kaifiah sifatnya Bagaimana keadaan sebenarnya dari sifatnya itu ada tapi cuma Allah subhanahu wa taala yang mengetahui tidak ada yang mengetahuinya di kalangan makhluk para sahabat juga tidak pernah menanyakan tentang kaifiah sifat Allah subhanahu wa taala kita tahu Imam Malik dalam pernyataan yang terkenal ketika menyebutkan tentang masalah istiwa ya Beliau mengatakan istiwa adalah perkara yang dimaklumi maknanya secara bahasa Maha tinggi di atas arsynya itu maknanya Adapun kaifiahnya keadaannya yang sebenarnya ini tidak kita ketahui hanya Allah yang mengetahui mengimaninya wajib dan menanyakan tentangnya adalah perbuatan bidah yang tidak sesuai dengan Akidah ahlusunah Wal Jamaah kemudian yang ketiga W tatil tidak boleh kita menolak apa yang Allah tetapkan bagi dirinya karena ini merupakan sikap lancang kita meyakini Allah Maha Mengetahui apa yang pantas bagi kesempurnaan dan kemahatinggian zatnya sifat-sifat yang pantas bagi kesempurnaan dan kemahatinggiannya maka tidak boleh kita menetapkan sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya dan yang terakhir bila tahrif tanpa menyelewengkan kandungan maknanya kata para ulama Salaf maknakanlah ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan datangnya seperti yang ditunjukkan Dalam makna bahasa arabb ikhwan akhwat fidin rahimakumullah jemah sekalian rahimakumullah menetapkan dengan benar nama-nama dan sifat-sifat Allah sudah kita sebutkan tadi ini bagian dari yang tidak mungkin terpisahkan dari tauhid ibadah karena tauhid itu ada ilmu ada amal kita bisa mengamalkan dengan benar kalau ilmu kita tentangnya benar kalau ilmunya salah pasti pengamalannya juga salah ya Syekh Abdur roq di dalam Kitab Fikih Asmaul Husna menyebutkan tauhid itu ada ilmu dan amal dengan dalil firman Allah subhanahu wa taala di surah azzariah tadi ya Wul Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia ya kecuali agar mereka beribadah kepadaku berarti Allah menciptakan agar mereka beribadah kepada Allah mengamalkan ibadah tentang ilmu Allah subhanahu wa taala berfirman di surah atalaq ayat yang terakhir allahuladzi khalaq sab samawati Wal ardilahunna yatanazalul amruahunamu anallahirah Allah Subu Ta di yang menciptak langitlangit Dan Bumi menciptakanpis Langit Dan Bumi juga seperti itu yang kemudian perintah Allah pengaturan Allah turun di anara langitlangit dan bumi pencip iniaranetui Wah manusia sifatsatesan Allah ahuan Allah meliputi semua makhlukNya jadi ayat yang kedua menyebutkan apaqamu Allah menciptakan Agar kalian mengetahui yang pertama Allah menciptakan Agar kalian mengamalkan ibadah berarti tauhid ada ilmu ada amal tauhid amal akan benar kalau tauhid ilmunya benar makanya orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala kemungkinan besar pasti ibadahnya akan menyimpang karena ilmunya salah maka pengamalannya juga otomatis akan akan salah karena tidak sesuai tidak dibangun di atas kaidah yang benar tidak dibangun di atas ilmu yang benar sehingga inilah yang menjadi Sebab kenapa pembahasan meluruskan pemahaman tentang bagaimana memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala berdasarkan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain ini merupakan perkara yang tidak kalah pentingnya untuk kita senantiasa dakwahkan umat Islam agar kembali kepada pemahaman yang benar dan meluruskan kesalahan di dalam masalah ini tib di sini Ada penjelasan sedikit dari Syekh rahimahullah taala tentang beberapa istilah awalan atawil atawil tentu Maksudnya takwil yang tercela atau dengan istilah yang lebih sering disebutkan oleh para ulama Salaf dengan nama attahrif menyelewengkan makna tanpa dalil memalingkan makna al-quran dan Sunah tanpa dalil huiril Ayati W ahadtian aktilinla istiwa bimakna istaula memalingkan makna tekstual makna Zahir makna yang lahir dari ayat-ayat dan hadis-hadis yang sahih tentang sifat Allah kepada makna yang batil yang keliru seperti istiwa diartikan istaula ya sejak kapan bahasa Arab kekurangan kata sehingga untuk mengungkapkan satu makna harus menggunakan makna yang lain berarti al-qur’an tidak fasih berarti Allah subhanahu wa taala menurunkan al-qur’an untuk membingungkan umat Karena untuk mengungkapkan kata-kata istiwa istaulah harus dipakai kata-kata istiwa Maha tinggi di atas Arsy ya kalau istaula artinya menguasai Arsy belum lagi kita ketahui konsekuensinya berarti ketika dikatakan tumawa Alal ars kemudian Allah beristiwa di atas ars kemudian Allah menguasai Arsy Berarti sebelum itu Allah tidak menguasai Arsy lantas Siapa yang menguasainya ini semua menunjukkan pengertian seperti ini akan mengandung makna yang batil karena bertentangan dengan metode dari para ulama Salaf dalam memahami ayat-ayat seperti ini yang kedua attatil menolak sifat-sifat Allah artinya Hua jahdu sifatillahi wa nafyuha Anhu menolak dan menafikan sifat-sifat Allah tidak menetapkan sifat-sifat Allah kauluillahi alasamaai contoh sifat Allah Maha tinggi di atas langit ketujuh banyak kelompok-kelompok yang sesat yang menyangka Bahwasanya Allah subhanahu wa taala zatnya ada di setiap tempat ini jelas makna yang batil bahkan bisa mengandung makna kekufuran sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama ahlusunah Wal Jamaah nah yang ketiga atakyif membagaimanakan H sifaah menanyakan bagaimana keadaan yang sebenarnya dari sifat-sifat Allah Wana kaifiatahu k atau menetapkan kaifiah sifat Allah seperti ini faulullahi Alal Arsi la yusbihu makluqatihi w Yamu kaifiatahu ahadun illall maka sifat Maha Tinggi Allah di atas ars misalnya tidak ada yang mengetahui keadaan yang sebenarnya kecuali Allah subhanahu wa taala yang jelas dia tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk tidak bisa kita katakan seperti makhluk berada di atas meja misalnya di atas kursi tidak boleh menyerupakan sifat-sifat Allah sama dengan sifat yang ada pada makhluk ya karena Allah subhanahu wa taala la kamlii laisun wahuul birir tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan Allah Dan Dia Maha Melihat maha mendengar lagi maha melihat rabian yang keempat atamsil menyerupakan Hua tamilu sifatillahi bifati khalqihi menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhlukNya Fala yqu maka tidak boleh orang mengatakan yanzilullahu Allah subhanahu wa taala turun ke langit dunia seperti turunnya kita di tangga misalnya tidak boleh ya kita katakan Allah miliki sifat turun sesuai dengan kebesaran dan keagungannya tidak sama dengan sifat turun yang ada pada makhluk ya kita menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk dan hadis tentang turunnya Allah subhanahu wa taala diriwayatkan oleh imam muslim Imam Bukhari imam muslim dan para ulama yang lain meriwayatkannya waminal kadibi nisbatu H tasbih Il syikhil Islam Ibnu Taimiyah idlam najidhu Fi kutubihi bal wajadna nafyahu lamil Wat tasbih termasuk kedustaan besar menisbatkan sikap menyerupakan ini kepada sikhul Islam Ibnu taimiyyah rahimahullah taala dikatakan beliau menyerupakan sifat Allah mencontohkan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk ini semua dusta karena tidak pernah kita dapati keterangan itu di kitab-kitab beliau justru yang kita dapati beliau sangat keras menafikan meniadakan keserupaan dan penyamaan antara sifat-sifat Allah subhanahu wa taala dengan sifat makhlukNya yang terakhir yang kelima atafwidd Arya memasrahkan makna kita harus bedakan ada kelompok yang namanya mufawidah mereka mengatakan makna sifat-sifat Allah kita tidak tahu kita serahkan kepada Allah ini batil ini tidak benar ahlusunah mengatakan makna sifat-sifat Allah kita ketahui secara bahasa kita pahami maknanya tapi kita katakan tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk yang kita serahkan kepada Allah itu apa kaifiahnya keadaan yang sebenarnya Adapun maknanya kita tetapkan karena al-qur’an diturunkan dengan makna yang jelas kalau kita mengatakan maknanya tidak kita ketahui berarti dalam masalah-masalah akidah banyak kesamaran tidak jelas maknanya yang kita serahkan kepada Allah kita katakan kaifiahnya itu ada cuma Allah yang mengetahui Adapun makna sifat-sifat Allah kita ketahui kita tetapkan sesuai dengan pengertian dalam bahasa Arab contoh tadi seperti istiwa Apa maknanya Ulu Wal irtifa Maha tinggi di atas arsynya ya sebagaimana ini yang diterangkan di kalangan para ulama Salaf dari para tabiin dalam sahih sahih tadi dinukilkan Adapun kita tetapkan bahwasanya sifat ini tidak seperti yang ada pada makhluk dan kaifiah atau keadaan yang sebenarnya Cuma Allah subhanahu wa taala yang mengetahuinya Nah jadi menurut para ulama Salaf kita menyerahkan makna ini dalam kaifiahnya bukan dalam hal maknanya Fal istiw matalan maknahul Ul alladzi la yalamu kaifiatahu illallah contoh makna istiwa artinya Maha Tinggi Allah Maha tinggi di atas arsynya tapi kaifiah ya bentuk yang sebenarnya dari sifat ini tidak ada yang mengetahui kecuali Allah subhanahu wa taala ini di anara kaidah yang penting yang berhubungan dengan memahami tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala dan ini merupakan bagian dari akidah ahlusunah Wal Jamaah Manhaj para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan Barakallah fikum selesai sampai di sini pembahasan kita di kesempatan malam hari ini semoga bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita Sebelum kita akhir kiri kita jawab pertanyaan yang mungkin Antum ajukan Barakallah fikum Shallallahu wasallam wabarak ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin ada pertanyaan silakan Bolehkah taklid kepada seorang ulama dalam masalah akidah dalam masalah akidah dan masalah apapun dalam agama kita diperintahkan untuk ittiba bukan bertaklid kan kita tahu taklid artinya kata para ulama alir biduni dalil mengambil pendapat orang lain tanpa dalil kita diperintahkan beragama harus berdasarkan dalil Ya kembali kepada al-quran dan Sunah pendapat para ulama sekedar menjelaskan dalil karena mereka memahami jadi mengambil masalah akidah termasuk perkara yang penting dalam agama kita tidak boleh dengan taklid itu asalnya kecuali dalam kondisi-kondisi darurat misalnya dalilnya kita belum ketahui kita masih sedang mempelajarinya sementara ini masalah yang penting kita mengikuti penjelasan para ulama setelah itu tentu kita berusaha mencari dalilnya mencari penjelasan dari para ulama yang lain karena mengambil dengan dalil tentu akan menjadikan hati kita tenang karena ucapan yang tanpa dalil bisa jadi salah karena tidak ada landasannya dan nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Allah subhanahu wa taala makanya Allah subhanahu wa taala berfirman W janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya tidak ada dalilnya jangan diikuti karena sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa taala ada yang lain silakan amin amin Iya Barakallah fikum hadis yang sahih ya dalam sahih Bukhari Rasulullah sallu wasam bersabda inallah Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala menciptakan Nabi Adam di atas surah bentuknya ini diterangkan oleh Syekh ibnuimin rahimahullah taala bahwa ada yang mengartikan makna suratihi di sini eh sebagai idofah tasrif seperti orang misalnya mengatakan naqatullah ya dalam Alquran untanya nabi dikatakan naqatullah untanya Allah Baitullah bukan berarti Allah tinggal di itu ya tapi rumah yang dimuliakan oleh Allah unta yang dimuliakan oleh Allah ya sama dengan Nabi Isa Ya Roh dari Allah berarti ruh yang dimuliakan oleh Allah ya Jadi ini bukan menunjukkan Adam diciptakan dengan rupa Allah subhanahu wa taala tidak demikian ya lagi pula Syekh utsimin rahimahullah taala mencontohkan misalnya ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang ee penghuni kelompok yang pertama kali masuk ke dalam surga dalam hadis riwayat Imam muslim sesungguhnya zumr kelompok pertama yang masuk surga dalam bentuk bulanar di atas bentuknya bulan kira-kira Antum bayangkan manusia bentnya bulan bundaritu seper bulan Bul y tidak ada tangannya tidak ada kakinya karena bulat semua Apakah maknanya ini atau maksudnya mereka itu punya wajah yang cerah punya wajah yang bersinar seperti bulan tentu makna yang yang kedua ya jadi maknanya adalah Allah menciptakan Adam dengan rupa yang indah dengan rupa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala itu makna yang dijelaskan oleh para ulama kita tentang masalah ini dan ini sesuai dengan dalil ya karena kita tidak kita punya ke an tidak mungkin Allah subhanahu wa taala Menciptakan makhluk sama dengan sifat yang ada pada Allah subhanahu wa taala Nah apakah betul dalam mazhab Imam Syafi hanya menetapkan sekian nama dan sifat Allah dan apakah dalam hafalan masalah menetapkan nama dan sifat Allah masuk ke dalam itihad para ulama dan boleh berbeda-beda ya jelas Tidak boleh Ini masalah akidah yang paling penting bagaimana bisa berbeda-beda Imam Syafi’i tidak menetapkan demikian buktinya kitab-kitab akidah yang ditulis oleh para ulama ahlusunah Wal Jamaah contoh syarhusunah almuzani Murad murid utama Imam almuzani kitab syarhusunah menjelaskan akidah sesuai dengan Akidah ahlusunah Wal Jamaah dalam semua permasalahan agama ini sebagai bukti keberadaan kitab-kitab yang ditulis oleh langsung murid utamanya yang ini merupakan an gambaran tentang akidah Imam assyafi’i rahimahullah taala yang bersesuaian dengan kitab akidah yang ditulis oleh Imam Ahmad kemudian akidah dari mazhab Imam Abu Hanifah juga Imam Malik dan para ulama ahlusunah Wal Jamaah lainnya contoh seperti kitab alulil aliil gffar tulisan Imam adzzahabi ketika menjelaskan tentang penetapan sifat kemahatinggian Allah beliau dari mazhab Imam Syafi’i menukil pernyataan dari para sahabat para tabiin kesepakatan mereka dalam menetapkan sifat-sifat Allah seperti ini nah Barakallah fikum ya Ada pertanyaan yang berhubungan dengan masalah menggadaikan sawah ya nanti Antum tanyakan kepada Ustaz Erwandi hafidahullahu taala tentang masalah-masalah seperti ini Barakallah fikum untuk kajian kita di malam hari ini kita cukupkan mohon maaf atas segala yang salah dan kurang kita akhiri Shallallahu wasallam wabarak ala Nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin Ila yaumiddin walhamdulillahi rabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh waalaikumsam Roja TV demikianah ikhwat islamakullah para pemisa dan pendengarja di manaun anda berada kajian ilmiah yang telah kami hadirkan dan kami telah Pancar dari masjid albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cileungsi mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua wasalamualaikum
Ustadz Abdullah Taslim, M.A. | Minhajul Firqatin Naajiyah
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply