Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. – Khutbah Jum’at

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube


Jum’at, 11 Jumadal Ula1445 H / 24 November 2023 M

inalhamdulillah nahmaduhu wastainuhu wasastagfiruh Wa naubillahi minuri anfusina wiatiina man yahdihillah Fala mudillalah waman yudlil Fala hadiaduaahaillallah wahdahuikah Muhammad abduhuas Q Allahu Taala Fi kitabihin Karim ya ayyuhalladina amanutaqulaha haqqa tuqatih Wa tamutunna illa Wa Antum muslimun waqala taala ya ayyuhanas ittaqubakumulladzi khalaqokum Min nafsin Wahidah wakalaq minha zaujaha W minhuma rijalan Kat waisaa wattaquah alladzi tasaalun bihi Wal Arham inallahaanaikumqiba waq taala ya auhina amanqulah Wa quan sadausakumakumfirakumakumillahahqan muhammadahu Alaihi was wa Muh bidah wa bidatin dolalah wa dolalatin finar umatal Islam sesungguhnya amalan Saleh adalah merupakan bekal yang terbesar yang akan kita bawa menuju kehidupan akhirat sesungguhnya amalan saleh ya akhal Islam adalah merupakan cahaya di hati kita bahkan kekuatan untuk hati kita untuk meniti jalan Allah subhanahu wa taala namun ya akhal Islam ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan setelah beramal saleh yang pertama Jangan sampai kita tertipu dengan banyaknya amal karena kita tidak tahu mana amal yang telah diterima oleh Allah subhanahu wa taala Jangan pernah kita merasai kita telah banyaknya amal saleh kita ya akhal Islam karena sesungguhnya kita tidak tahu kita akan wafat di atas Apa kewajiban kita adalah berharap kepada Allah agar Allah menerima amal kita dan kita khawatir Kalau amal kita belum diterima oleh Allah akibat daripada kekurangan-kekurangan yang kita lakukan ya ahal Islam orang yang tertipu dengan banyaknya amal seringkiali menimbulkan penyakit-penyakit yang yang bisa membatalkan amal itu sendiri di antara penyakit itu adalah ujub merasa dia lebih merasa dirinya lebih di sisi allah subhanahu wa taala demikian pula Ia pun menganggap remeh amalan manusia sehingga Ia terkena kesombongan ya akhal Islam dan itu saja sudah cukup untuk membatalkan amalnya bayangkan kalau ia merasa sombong dengan amalnya lalu ia mati di atas sombongannya itu ia wafat di atas suultimah naubillahaham Wah umat Islam nabi kita yang mulia alaihiatu wasalam bersabda in ahakum ahlil jannahtaakunuahu wa sesungguhnya Diantara Kalian kata Rasulullah ada yang selama hidupnya senantiasa beramal dengan amalan penduduk surga sehingga jarak ia dengan surga tinggal sejengkal lagi ya akhal Islam namun kemudian ketentuan berkata lain Ia pun di akhir hayatnya beramal dengan amalan penduduk neraka Ia pun mati di atasnya dan ia pun masuk ke dalam api neraka kita Yakin Allah tidak mungkin menzalimi seorang pun akan tetapi Si hamba yang zalim alhafiz Ibnu Rajab ketika menafsirkan hadis ini membawakan riwayat yang lain dalam Sahih Muslim Rasulullah sallu Al wasallam bersabda Inna ahadakum lalu biali ahlil Jannah Fima yabdinas seseorang di antara kalian ada yang mengamalkan amalan penduduk surga sebatas yang tampak kepada manusia ia tampak di hadapan manusia beramal Saleh akan tetapi Allah mengetahui apa yang ada dalam hatinya mungkin hatinya tidak mengharapkan wajah Allah 100%. mungkin hatinya ditimpa ujub dan sombong setelahnya Mungkin ia tertipu dengan amal saleh tersebut ya akhal Islam sehingga akhirnya di akhir hayatnya Ia pun beramal-amal keburukan dan ia pun wafat di atasnya ya akhal Islam akibat dia tertipu dengan banyaknya amal akhirnya ia wafat dalam keadaan suul Khatimah nauzubillah nasalullahalamata walfiah akal Islam umatal Islam ini sebuah kesalahan besar siapun kita sesaleh Apun kita jangan pernah kita tertipu dengan amal kita Al Imam Syafi’i rahimahullah saja tidak merasa dirinya Saleh Beliau berkata uhibbusihin Aku mencintai orang-orang Saleh tapi aku tidak termasuk orang-orang Saleh Semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka Subhanallah Siapa yang tidak kenal Imam Syafi’i akan kesalhan beliau ketakwaan beliau kefakihan beliau seluruh ulama sepakat akan Bagaimana beliau sebagai seorang alim yang ikhlas ilmunya semua umat Islam sangat membutuhkannya tapi Subhanallah ternyata Imam asyafi’i rahimahullah mengatakan Aku cinta orang Saleh tapi aku tidak termasuk orang Saleh mendengar itu Imam Ahmad berkata tuhibbus shihina wa anta minhum engkau mencintai orang saleh dan engkau termasuk mereka akal Islam itulah para para ulama mereka tidak tertipu dengan banyaknya amal mereka tidak menjadi orang-orang yang merasa dirinya sebagai wali Allah di sisinya karena banyaknya amal akan tetapi mereka senantiasa khawatir kalau mereka mati dalam keadaan suul Khatimah itu yang mereka khawatirkan pada diri mereka itulah yang harus kita pelihara ya akal Islam umat Islam di antara kesalahan kita dalam amal setelah selesai beramal kita ingin diakui keikhlasan kita dan kita marah ketika ada orang yang mengatakan kita tidak ikhlas padahal cukuplah hanya Allah yang maha tahu bahwasanya kita ikhlas mengharapkan wajahnya saja kita beramal tidak mengharapkan pujian siapapun kita beramal tidak mengharapkan pengakuan siapun kita beramal tidak mengharapkan penghormatan dan penghargaan dari siap pun juga karena penghargaan manusia dan penghormatan mereka ya akal Islam tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah maka kewajiban kita ya akal Islam mengharapkan wajah Allah semata bukan mengharapkan pengakuan manusia akan keikhlasan kita makanya para ulama menyebutnya sebagai riyaul ikhlas Ria orang yang ikhlas ia ingin diakui akan keikhlasannya dia ingin AG dihormati orang akan amal salehnya sehingga ia dianggap sebagai orang yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah waagfirullahagfirullah Li wakum Alhamdulillah was rulillah nabiina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi waman Walah wa Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa Asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh umat Al Islam amal saleh seharusnya menimbulkan ketawaduan amal saleh seharusnya menimbulkan ketakwaan kepada Allah rabbul alamin Allah berfirman Ya ayuhanasakumziqum wahai manusia beribadahlah kalian kepada RAB kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian Agar kalian bertakwa itulah tujuan kita ibadah kepada Allah kita beramal kita ber kepada Allah agar kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah namun ketika salat kita tidak menimbulkan ketakwaan ketika amal saleh kita tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa taala itu menunjukkan ya akhwal Islam amal saleh kita dipertanyakan barangkali amal amal saleh kita belum diterima di sisi allah subhanahu wa taala maka seorang hamba ya akhal Islam tanda seorang hamba yang amalnya diterima dia akan berusaha memperhatikan keabsahan amalnya dia akan berusaha supaya amalnya diterima oleh Allah subhanahu wa taala ia bersungguh-sungguh ia mempelajari apakah itu sesuai dengan sunah Rasulullah atau tidak adakah tuntunannya dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak sehingga Kemudian pada waktu itu keinginan terbesar dia adalah tashihul amal meluruskan Amal dia ya akhal Islam bukan sebatas amal itu sendiri kemudian dia takut dan khawatir Kalau amal itu dibatalkan oleh Allah karena itu yang terbesar setelah kita beramal saleh wallahi akhal Islam inilah ya akhal Islam menjadi tempat perlombaan kita wafizalika falyatanafasil mutanafisun Untuk itulah orang-orang yang berlomba-lomba itu hendaklah berlomba-lomba Allahumma shalli Ala Muhammad waa Ali Muhammad Kama shaita ala Ibrahim waa Ali Ibrahim innaka Hamidun Majid Wik ala Muhammad waa Ali Muhammad Kama barakta ala Ibrahim waa Ali Ibrahim innaka Hamid Majid allahumfirlil muslimina wal muslimat allahum aizzal islama Wal muslimin ya rabbal alamin Allahumma Antal qwiul Aziz Antal qwiul Ma Allah Al musliminal mustadafina Fi Palestin Min ahli gazzah ya rabbal alamin wansuril muslimina Fi kulli makan ya rabbal alamin allahummaillal kafarah Wal musyrikin Allah Allahumma tub Alaina innaka ant tawabur rahim Allahumma Atina Fid Dunya Hasanah wafil akhirati Hasanah waqina adzabanar wasallallahu ala Nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi Wasallam

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *