(21) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah – Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(21) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah – Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim – YouTube

Transcript:
(00:00) ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba’du ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari masjid albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat.
(00:37) Roja TV bagi Anda para pem Baja TV ini apa? Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(01:59) Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nastainu ala umurid dunya waddin wasalatu wasalamu alal mabuti rahmatanil alamin nabiina muhammadin wa ala alihi wasohabatihi wat tabiin waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun ya ayyuhanasqubakumadzi khalaqakum min nafsin wahidah wq minha ya aina amanqulaha wa sadliakumalakumfirakumunubakumillahaasulahu faq fauzanima amma ba ikhwah sekalian semoga Allah azza waalla memberikan kita keikhlasan keistiamahan dan kesabaran
(02:57) dalam belajar. Dan kita dulu pernah menyampaikan orang yang cepat bosan, tidak sabar dalam belajar, dia orang yang gagal. Apalagi takut untuk capek dan susah, ini gagal dari awal. Al Imam Syafi’i rahimahullah beliau mengatakan, “La yatlubal ilm man thabahu tamallul winan nafsi fayuflih.
(03:23) ” Tidak bakal ada orang sukses dalam belajar kalau dia belajarnya cepat bosan atau merasa tidak butuh dengan ilmu. Kemudian dia akan sukses dalam belajar. Wakin manabahu bidin nafs wqilismatil ulama aflah. Akan tetapi orang yang sukses dalam belajarnya adalah orang yang siap untuk merendah apa adanya. Dari sisi fasilitas juga apa adanya.
(03:53) Dan dia siap untuk membela, mengabdi, dan belajar membantu para ulama. Dia yang akan sukses. Maka kita belajar tentang adab seorang penuntut ilmu kepada gurunya yang disampaikan oleh para ulama dan dipraktikkan dulu. Barangkali di zaman sekarang karena orang jarang mempraktikkan sampai dikenal ini sebagai aib atau mungkin tidak sopan, berlebihan dan seterusnya.
(04:20) Memang kita sampaikan beberapa ungkapan itu seperti berlebihan. Akan tetapi sebenarnya yang ditekankan oleh para ulama adalah agar seorang murid menghargai, menghormati gurunya. Dan ini yang hilang di kalangan para pelajar dan penuntut ilmu sehingga keberkahan itu seperti tidak ada. Bahkan ketika seorang tahu dia berilmu kelihatan dari tutur katanya dan sikap di dalam majelis menghadapi orang yang mungkin tidak lebih tahu dari dia berbeda antara orang berilmu dengan orang tidak berilmu.
(04:56) Seperti dinukil oleh Alkhatibul Baghdadi rahimahullah dalam kitab aljami’ liakhlaqi rawi wa adab sami. Seorang tabiin senior Atha ibn Abi Rabah. Ini ulama yang dipuji oleh Alauza’i rahimahullah. Mata ahah ibnu Abi Rabah yaum matat wahua ard ahlil ardhi fi zamanihi wala yahduru majelisahu illa tisatun tsamaniah. Ini Atha Ibn Abi Rabah.
(05:28) Orang yang ketika wafat dia adalah orang yang paling diridai ilmunya. Ketika hadir di majelisnya hanya cuman atau delan orang. Tapi beliau adalah seorang yang senior. Suatu saat beliau sedang berada dengan para muridnya dan ada beberapa orang di situ. Ini yang cerita salah satu muridnya namanya Muad ibn Muad atau siapa begitu. Dia mengatakan, “Kunna inda Atha ibn Abi Rabah. Fatahaddasa rajulun bihad.
(05:54) ” Ternyata di majelis itu ada seorang berbicara. Faar lahu rajulun fi hadisihi. Tiba-tiba ada yang memotong, ada yang membantah langsung apa yang diomongkan orang pertama tadi langsung dibantah dan tidak menunggu orang itu selesai. Maka beliau ngamuk. Atha Ibn Abi Rabah bukan beliau yang berbicara. Yang berbicara orang lain.
(06:17) Akan tetapi ada orang mendengar tidak sabar langsung dibantah. Begitu beliau ingin memberikan pelajaran. Beliau mengatakan, “Ya subhanallah aina hadil akhlaq wama hadil ahlam.” Beliau mengatakan, “Mana akhlak kalian ini?” Subhanallah. Inuntu waamu minu wa inni afqahu minhu sungguh aku mendengar seorang berbicara dan aku jauh lebih tahu dari dia.
(06:45) Hadis itu sudah aku dengar lama sekali, tetapi aku diam. Seolah-olah aku belum pernah mendengar itu agar dia bisa menghargai orang yang berbicara. Minimal ketika dia akan menjelaskan maka dia tunggu orang itu selesai berbicara. Tetapi seperti ini watak dan karakter orang berilmu tidak sama dengan orang tidak berilmu.
(07:07) Baik itu di dunia pendidikan maupun watak masyarakat. Maka kita akan lihat orang yang pernah belajar dengan orang yang tidak pernah belajar ketika ada perbedaan kelihatan sekali sikapnya. Anarkis, lebih suka okol dan tidak berpikir panjang. Kalau mau berdiskusi tidak sabar. Kalaupun omong-omongan suaranya seperti akan berantem. Ini menunjukkan watak orang yang tidak berilmu.
(07:33) Maka ikhwah sekalian, dulu pernah kita dengar nasihat Imam Malik rahimahullah kepada sebagian pejabat ya. Idza ta’alamtaian min ilmillah falyuro alaika samtuh walyadhar fikauh. Engkau apabila belajar ilmu agama, hendaklah ilmu itu kelihatan bekasnya dalam berbicara tutur kata, sikap. Dan apabila akan menasehati, apalagi akan menunjukkan sebuah sikap yang diawasi oleh orang banyak.
(08:01) Tidak pantas sama orang yang punya ilmu dengan orang yang tidak punya ilmu. Efeknya pun berbeda. Sama-sama tindakan yang konyol tapi dilakukan orang berilmu akan lebih parah akibatnya. Maka ikhwah sekalian, kita ini belajar ya. Kita belajar biar kita ngerti dulu para ulama bagaimana mereka belajar itu.
(08:21) Dan subhanallah di poin yang insyaallah akan kita bahas mudah-mudahan malam ini sampai betul-betul Ibnu Jamaah rahimahullah memberi contoh bagaimana seorang thalibul ilm bersikap di majelis. Dan ini barangkali jarang dibahas juga di majelis. Sehingga kita mungkin akan membayangkan majelisnya para ulama dulu bagaimana.
(08:45) Zaman sekarang lebih susah karena di zaman sekarang awarid atau gangguan-gangguan itu lebih banyak. Dulu ketika tidak ada fasilitas bahkan sang guru saja ketika menyampaikan suara itu disampaikan oleh mubaligh. Tidak ada mikrofon. Tetapi mereka betul-betul datang untuk belajar dengan serba keterbatasan. Tapi enggak menghalangi mereka untuk belajar.
(09:09) semangat sekali dan sunyi majelis itu sunyi khusyuk sekali bukan karena suara tidak didengar akan tetapi memang kita pernah menyampaikan Imam Malik rahimahullah menyebutkan majalisul ulama tuhadonu bil haibati wal khyuk majelisnya para ulama selalu diliputi dengan kehormatan, kewibawaan dan kekhusyukan bukan karena gurunya ingin dihormati bukan karena majelisnya besar, tempatnya mulia. dan yang menyampaikan viral bukan.
(09:39) Akan tetapi karena mereka sadar ini majelis ibadah yang dihadiri oleh malaikat maka tidak pantas ada orang sembrono. Dan yang paling rugi dia sendiri ketika dia menampilkan sikap yang tidak bijaksana. Pada pertemuan sebelumnya kita membahas ketika seorang thalibul Ilm menghadiri majelis khususnya Syekh. Kalau majelis umum rata-rata para ulama lebih menganggap santai alias mereka tidak terlalu ketat.
(10:17) Dan ini siapapun boleh hadir kemudian mereka tanpa mencatat pun banyak. Ini majelis umum, tetapi majelis khusus memang ada para ulama memiliki beberapa majelis yang lebih daripada orang lain. Nah, ketika seorang thalibul ilm masuk ke majelis khusus syekhnya, sedangkan syekh ini sedang berbicara dengan murid-murid yang lain, maka dia sepantasnya minta izin.
(10:41) Kita kemarin sudah bahas itu. Minta izin dan minta izin dengan salam dan suara yang lirih. kecuali kalau tidak didengar. Kemudian dia ketuk dengan ujung-ujung kuku. Bahkan kita sebutkan itu. Ini ada sikap berlebihan dan kita katakan yang seperti tidak mungkin dilakukan kecuali kalau dindingnya kaca atau triplek yang semacamnya bisa kalau diketuk dengan ujung jari kedengaran.
(11:07) Kalau tidak maka menggunakan halaqah. Halaqah itu bunderan yang ada di pintu. Nah, rupanya ini menjadi kebiasaan dulu ketika mereka mengetuk biar tidak pakai tangan. Mereka pakai bunderan yang ada di daun pintu diginikan. Ini kalau sekarang jadi simbol apa? Masa lalu ya. Pintu yang lama dibikin kayak ada gantungan bundernya.
(11:30) Itu kan jarang. Itu sekarang jadi hiasan. Kalau dulu untuk seperti itu sampai para ulama mengatakan kalaupun perlu menggunakan itu karena tidak didengar silakan. Tapi kalau dia datang, Syekh ini sudah melihat tapi ternyata tidak meloleh. Syekh sudah tahu kehadiran ini kok. Ternyata Syekh terus melanjutkan pelajaran jangan masuk. Berarti Syekh tidak menghendaki kamu masuk.
(11:55) Bisa jadi majelis itu lebih khusus. Kita tidak pantas masuk atau mungkin kita terlambat. Baik. Kalau seandainya dirasa Syekh ini belum merasakan atau menyadari kehadiran kita, maka boleh dengan mengeraskan suara atau mengetuk dengan yang lebih keras. Tapi pun tidak lebih dari tiga kali. Karena izin itu tetap cuman tiga kali. Selesai.
(12:21) Kalau diizinkan masuk, maka yang diharapkan masuk pertama adalah yang lebih tua, menyalami para apa gurunya dan tidak membuat dajah atau keributan. Ana kemarin sampai contohkan kadang ada orang datang belakangan di majelis khusus bukannya sudah membuat orang lain pecah perhatian. Masih tanya-tanya kabar salaman disalamin semua lagi. Ini sudah telat datangnya.
(12:48) Pengajian terhenti gara-gara kehadiran dia. Dia masih salaman semua. Habis itu dia tanya, “Gimana sehat?” Oh, jangan tanya sehat sekarang. Kamu sudah telat sudah bikin prahara di pengajian. Ya, maka kita katakan ini ternyata disampaikan oleh Ibnu Jamaah rahimahullah. Beliau wafat 73 berarti di abad ke-8.
(13:12) Beliau membahas ini detail dan ini akan kita lihat lagi bagaimana contoh seorang beradab dalam majelisnya. Beliau menyebutkan pada poin yang masih kelanjutan kemarin majelis wahadu maahuakah sakam yamu bikam hadusak Kalau dia masuk ke dalam majelis syekh itu dan memang sudah ada beberapa murid dan ternyata beliau sedang menyampaikan pelajaran kok dia datang jadi diam. As Syekh tadi sudah menyampaikan pengajian gara-gara dia hadir Syekh menghentikan pelajarannya.
(14:10) ini sebenarnya isyarat berarti ada yang terganggu dengan kehadirannya ya. N sampaikan ini ada orang tidak nyadar begitu di majelis khusus pengajian yang sedang berlangsung dia masuk pengajian terhenti. Kalaupun dia tidak menghentikan orang dengan secara biasa sudah akan terpecah perhatiannya. Noleh semua siapa yang hadir.
(14:37) Kalau masjid besar seperti ini, alhamdulillah ada orang masuk di pojok sana tidak ketahuan ya. Tapi coba antum bayangkan pintunya di depan sini. Satu orang terlambat atau setengah orang terlambat itu semua masjid ke situ bukan di sini lagi sekarang. Begitu. Maka ketika Syekh sedang menyampaikan pengajian lalu ada orang yang masuk qiyam atau dia masuk syekhnya tidak ada murid dan tidak sedang pengajian tapi sedang salat. Dan kelihatan memang sebagian ulama masyaallah salatnya panjang.
(15:07) Ana melihat salah seorang syekh kami di kuliah hadis. Subhanallah. Ketika satu saat ana cari tempat yang sepi, ana pengin murajaah hadis. Ternyata syekh yang ngajar ana ini masuk salat panjang banget. Panjang sekali. Ana menguraja hadis sampai lebih dari 20 30 itu Syekh ana lihat gini masih salat enggak ada yang tahu. Dan Syekh ini apa kutrahnya ini atau kesimakan disret sudah orang enggak kenal.
(15:35) Ana ngelihat karena beliau masuk di Masjid Nabawi itu dia cari apa? Salah satu tiang kemudian salat lama sekali bilang, “Masyaallah ini mungkin di antara sirnya beberapa ulama mereka bisa menikmati ilmunya karena mereka dekat dengan Allah azza waalla. Jadi ada ee apa amal andalan antara mereka dengan Allah Subhanahu wa taala.
(16:00) Dan subhanallah ketika beliau jadi ketua prodi Rais Qism waktu itu, masyaallah ana perhatikan beliau menjadi orang yang amanah. datang pertama kali bahkan membuka pintu kantor ini jarang kalau untuk pejabat kayak gini datang awal jarang dan memang enggak ada masalah seperti itu selama tidak melanggar kode etik pekerjaan tidak masalah ya seperti misalkan pejabat datang jam 09 sementara kantor mulai perkuliahan jam 030 gak ada masalah itu selama pekerjaan memang selesai dan dia datang untuk mimpin rapat atau orang tanya atau bagaimana keb enggak ada masalah tapi ana lihat beliau masyaallah datang sebelum kantor
(16:32) mulai perkuliahan kemudian beliau Kau pulang terakhir itu yang salat panjang tadi itu ya. Masyaallah. Ini kalau ada seorang syekh salat sendirian atau dia sedang zikir kepada Allah atau dia sedang menulis atau dia sedang membaca. Gara-gara kita masuk maka semua rutinitas dan aktivitas itu berhenti. Nah, ini berarti beliau terganggu. Beliau terganggu.
(16:59) Au sakata walam yabdau bikalam atau beliau terdiam dan tidak segera ngajak bicara. Kita masuk beliau tidak banyak ngomong. Kalau memang orangnya wah datang karena kehadiran kita malah kelihatan senang enggak sendirian. Karena memang sebagian orang kayak begitu sebagian masyaikh Subhanallah nelepon mahasiswa taal dikira ada urusan penting.
(17:24) Ternyata cuma di minta teman untuk minum kopi dan teh saja. Ada model-model kayak gini mungkin Syekh Kopi dan Syekh Teh itu mungkin ada zaman sekarang ya. Dan memang benar ada beberapa orang kayak begitu ditelepon dikira ada urusan penting ternyata datang ke rumahnya cuma untuk nemenin minum kopi saja. Ngobrol ke sana kemari enggak ada manfaatnya.
(17:40) Ini kayaknya bukan Syekh aja ini mungkin dosen biasa. Jadi maksudnya kalau ternyata Syekh ini diam dan ngomongnya sedikit kelihatan enggak tertarik begitu, ee hendaklah dia tahu diri. Kalau memang dia mengucapkan salam, ini yang diharapkan. Dia mengucapkan salam kemudian pamit.
(18:03) Dikatakan di sini, falyusallim waakruj sarian. hendaklah dia ketemu, assalamualaikum, salam, cium kepalanya misalkan karena orang biasa seperti itu. Nah, kalau urf di tempat kita mungkin cium tangan atau yang semacamnya untuk takzim atau ihtiram ya untuk menghormati saya itu pergi sudah.
(18:22) Kecuali kalau gurunya minta dia untuk tinggal sebentar duduk di situ. Nah, kalau dia duduk di situ jangan lama-lama juga. Karena bisa jadi guru ketika mengatakan, “Eh, duduk dulu mau ke mana? Jangan keburu-buru seperti itu. Seringki hanya basa-basi atau mungkin enggak enak. Ini sudah datang masa ana enggak sambut. Padahal dia sedang dalam kesibukan. Maka muridnya ini sudah semestinya tahu diri juga.
(18:47) meskipun dipersilakan duduk dia tidak lama-lama izin berangkat seperti itu. Hendaklah ketika orang menemui gurunya di majelis atau dia hadir di pengajiannya hendaklah hatinya sudah kosong. Artinya dia siap untuk menerima nasihat, pelajaran dari semua kesibukan-kesibukan dan pikirannya juga sama. Jangan hadir ketika nu. Nuas itu ngantuk ya.
(19:26) Ana bilang memang tidur di pengajian itu apa sama dengan tidur di peperangan? Ya kalau orang subhanallah diperang ngantuk luar biasa. Ini adalah nikmat dari Allah. Dan dulu dalam hadis yang sahih dikatakan para sahabat ketika akan memandikan Nabi sallallahu alaihi wasallam mereka bingung sampai debat.
(19:50) Anujaru Rasulullah sallallahu alaihi wasaridu mautana. Apakah kita akan membuka baju Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk kita mandikan seperti kebiasaan kita atau tidak? Nagsiluhu fiubihi. Kita tetap memandikan pakai baju begitu. Dalam kondisi seperti itu. Faalqallahu fihimun naum. Allah membuat mereka ngantuk semua. Ya, kalau pengajian ngantuk itu takdir ya.
(20:13) Nah, dikatakan di sini maka hendaklah ketika dia datang bukan ketika ngantuk atau marah atau lapar banget. Orang kalau lapar sekali itu masyaallah bikin lemas ya atau dalam keadaan haus. Liyansari shodruhu lima yuqal wa ma yasma. agar hatinya ini bisa menerima yang dipelajari nanti dan eh bisa menerima yang dia dengar. Wa hadikam yajidhu jalisan inahu ka yufa ala nafsihi darsah fainna kulla darsin yafutu la iwadahu ya.
(20:55) Dan apabila dia hadir di majelis Syekh ternyata gurunya belum datang. Hendaklah dia duduk saja ditunggu syekhnya agar nanti ketika syekhnya datang segera mulai pelajaran dia tidak ketinggalan. Dan memang hukum asalnya adab dalam belajar itu murid datang duluan baru guru. Nanti bubarnya baru guru yang duluan. Ini adabnya seperti salat jemah.
(21:24) Salat jemah itu adab dan yang paling bagus adalah makmumnya datang duluan, imam datang belakangan seperti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau keluar dari rumah itu melihat dulu, “Oh, ternyata para sahabat sudah siap salat Isya dimulai.” Kalau ternyata para sahabat dilihat ternyata masih ada yang belum hadir, beliau mengakhirkan salat Isya.
(21:43) Nah, dan orang yang sering terlambat salat sering dicela. dicela ya dicacat dia salah itu meskipun tidak berdosa selama memang dia tidak meremehkan akan tetapi para ulama mengatakan itu yulamu ya yulamu itu artinya dicela orang yang sering terlambat dalam salatnya dan demikian pula orang yang belajar seperti itu dikatakan karena pelajaran itu kalau sudah mulai rata-rata dia tidak akan menunggu murid ya dan ini mestinya kita pahami.
(22:15) Nih bukan hanya terpaksa penumpang saja yang memahami kereta. Kereta katanya kalau terlambat biasa, tapi begitu dia berangkat enggak nungguin kita. Loh, kita siapa? Ditunggu kereta. Nih pelajaran juga lebih penting dari itu. Lebih penting dari itu. Sampai ee apa namanya? Syekh Salh Utsaimi pernah mengatakan, “Baik, sekarang di zaman ini mudah sekali orang mau mencari yang tertinggal.
(22:41) ” ya, lima hadis ketinggalan atau satu paragraf dia ketinggalan, dia mungkin bisa mencari rekaman. Akan tetapi sebenarnya rekaman itu hanya yang bisa didengar. Akan tetapi keberkahan yang asli yang seorang thalibul ilm itu mendapatkan dengan talaqi dia tidak dapatkan.
(23:04) Bagaimana para malaikat datang juga awal apalagi salat Jumat mereka di pintu-pintu melihat siapa yang datang alawal fal awal ya. Siapa yang duluan datang ketika imam sudah keluar dan akan mulai khotbah, mereka tutup semua catatannya itu. Maka dalam majelis ketika malaikat datang, kita terlambat. Terlambat sudah kita dengar rekaman itu tidak sama dengan hadir.
(23:22) Dan ini seperti dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam sunan Abi Dawud dengan sanad yang sahih. Tasmaun wausmau minkum wausmau mimman sami minkum. Kalian sekarang mendengar dari aku, kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan nanti akan ada orang mendengar dari kalian dan murid-muridnya lagi akan mendengar dari murid kalian. Itu hukum asalnya belajar itu talaqi terlambat.
(23:43) Memang betul bisa cari bukunya apalagi kalau sudah dicetak. Akan tetapi apakah sama dengan orang yang hadir di awal? Seperti itu. Baik. Kemudian ee subhanallah ini ada nukilan dari Yazid Ibnu Harun rahimahullah. Yazid Ibnu Harun ini gurunya Imam Ahmad dan gurunya para ulama. Dan beliau adalah seorang alim yang fiqah, ahli hadis, meninggal tahun 118.
(24:10) Beliau mengatakan, “Man khaoba ee man gaba kh.” Orang yang tidak bisa hadir rugi sekali dia. Wa akala nasibahul ashab. Nanti jatah dia akan dimakan oleh teman-temannya. Itu urusan dunia orang aja ngerasa rugi. Tapi dalam urusan akhirat sebenarnya lebih parah lagi. Tetapi memang jarang orang menyadari karena gak ngerti akhirat ini betul-betul lebih berharga atau tidak dari urusan dunia.
(24:37) W yatru alaihi liyakujaih wainana naimanar hatta yastaqidma yaud. Dan dia tidak ketuk pintunya kalau ternyata gurunya belum keluar. Syekh ayo keluar keluar. Kita sudah nunggu nih semua enggak pantas kayak begitu. Kalau seandainya gurunya tidur, maka dia tidak bangunkan sampai gurunya yang keluar atau mereka yang pergi dulu kemudian datang.
(25:05) Nah, kecuali kalau memang sudah ada janjian ya gurunya bilang nanti tolong bangunkan saya. Atau memang sudah ada peraturannya ini kita mau seperti ini. Kalau kecapekan ya memang perlu diingatkan. Itu urusan lain ya. Wasabru khairun lahu. Kalau seandainya dia sabar dia lebih baik.Q.
(25:25) Faqad rya anna ibn abbasinana yajlisu fi thab ilmin ala babi zaid ibn tsabitin hatta yastaiqid fayuqalu lahu ala nuqidzuhu lak fayquulu la warubbama thola muqamuhu waqathu asyams kadzalika kan salafu yaf’alun ya dan orang yang ee menunggu sabar dengan dia nunggu di luar sampai gurunya keluar ini lebih afdal seperti yang dinukil oleh Ibnu Abbas dulu pernah kita ceritakan ini dalam Sunan Addarimi ketika beliau Ibnu Abbas ini mencari dan belajar ilmunya para sahabat sampai datang ke pintu seorang ulama. Ini diceritakan Zaid bin Tsabit dalam riwayat yang ada dalam ee Musnad Addarimi dan ee dalam kitab alkhatibil
(26:07) Baghdad tidak disebutkan bahwa itu Zaid bin Tsabit. Akan tetapi Ibnu Abbas datang ke rumah sebagian sahabat ternyata innahu qail dia tidur. Faatawassadu ridai ala babihi maka aku copot imamahku aku jadikan bantal aku tidur depan pintunya aku tidur depan pintunya tasfiu ala wajh sampai angin berhembus menerbangkan debuk ke mukaku.
(26:34) Fayakuj faroni fqu maaka rasulillahi wasamilak. Apa yang membuat engkau datang sampai kayak begini wahai sepupu Rasul sallallahu alaihi wasallam? Kalau antum utus seorang, aku akan datang ke rumahmu. Maka Ibnu Abbas mengat. Dalam riwayat ini ada orang menawarkan, “Mau ana bangunkan?” “Oh, jangan.” Kata Ibnu Abbas, “Jangan.
(26:53) Biar betul-betul ilmu itu dipelajari dengan keridaan gurunya.” Subhanallah. Diceritakan dalam ee apa namanya? Beberapa riwayat dan ini bukunya di apa namanya? Dicetak bukunya. Buku seorang ulama namanya Muhammad Ibnu Ishaq Abul Abbas As-Sarraj. Beliau wafat tahun 313 Hijriah. Beliau ini hanya akan menyampaikan hadis di tengah malam.
(27:25) Ya, jadi beliau punya hadis-hadis yang khusus, tidak dimiliki oleh para ulama lainnya. Dan beliau hanya akan menyampaikan di tengah malam, otomatis orang yang hadir harus tidur di depan pintunya. H. Lalu ada beberapa murid yang mencatat ini, meriwayatkan. Kemudian dikasih judul buku ini, kitab Albaitutah. Albaitutah itu artinya menginap. Jadi kumpulan hadis-hadis yang didapatkan setelah menginap di depan pintu gurunya.
(27:52) Dan ini dicetak ada 133 halaman ya buku ini. Kumpulan hadis-hadis tentang macam-macam. Akan tetapi maksudnya dulu para ulama sampai seperti itu dan ini hak gurunya. Orang mau datang silakan mau belajar. Jadi dulu orang itu ketika belajar melihat keridaan guru sama sekali zaman sekarang.
(28:16) Ya Allah kita lihat prihatin sekali ini guru sampai bilang nanti malam ana datang kalian kalau mau belajar silakan. Zaman sekarang sebagian mahasiswa cuman dirubah jadwalnya saja. Ustaz saya juga kerja tolong perhatikan saya. Was salam. Ini beda sekali memang ya gaya belajar zaman sekarang dengan saya dulu. Baik. Disebutkan di sini bahwa para ulama salaf mereka kebanyakan mengerjakan itu ya.
(28:42) Wikahu wqtin yas alaihi. Dan dia tidak meminta syekhnya untuk ngajari dia entah baca kitab atau baca Al-Qur’an di waktu yang memberatkan. Karena biasanya beberapa guru sudah mengatur waktunya untuk belajar di sini, untuk belajar di sini. Kalau diminta mengganti waktu kepadau kadang-kadang beliau tidak suka atau memang belum terbiasa minimal aam tajriatuhu bil iqra fi atau waktu yang memang beliau mungkin tidak beberatan akan tetapi waktu itu jarang untuk beliau lakukan belajar atau mengajar yaktari alaihi waqtan khan bihiiri wainanaisan
(29:22) kabir dia tidak minta waktu khusus guru ini sudah menentukan waktu untuk murid-murid nya dia bilang, “Syekh, ana pengin dong waktu khusus. Ana mau baca kitab atau mau setor hafalan atau apa di waktu tertentu meskipun dia orang yang terpandang atau pejabat bahkan kepala ya rais ya orang terpandang pejabat begitu atau dia kabiron orang yang memang terpandang mungkin anak dari seorang ulama yang dicontohkan seperti itu.
(29:57) Sehingga guru ketika melihat ini anak seorang alim gak enak mau nolak. dikatakan akhirnya lima fi minatui wal humqi alik karena di sini ada kedunguunguunguanungan, ada kebodohan sebenarnya. Jadi dia kenapa sampai ngatur guru itu sampai sebagian murid bilang, “Syekh, ana pengin baca buku ini.
(30:21) Ana enggak mau kalau buku-buku yang dibaca sama orang-orang di masjid itu ana pengin beda lagi. Ana kan sudah sudah masyaallah gitu. Jadi dia pengin minta buku khusus, waktu khusus pula.” Nah, ini kata Ibnu Jamaah rahimahullah itu humqu alikh itu bodoh yang dia tunjukkan di depan gurunya ya watarau nyombong dia. Eh dikatakan watabati wal ilm. Dia juga menyombongkan diri dan menunjukkan kebodohan di depan para pelajar lain maupun di ilmu itu sendiri.
(31:00) Dan bisa jadi ketika gurunya melihat dia sungkan untuk menolak, akhirnya guru memaksakan dan mengusahakan. Iya sudah di waktu ini. Padahal di waktu itu As Syekh punya kerjaan yang lebih penting gara-gara dia akhirnya dia dengan berat hati mengikuti permintaan murid.
(31:26) Dan ini membuat murid itu tidak beruntung karena hukum asalnya orang belajar dengan keridaan guru. Kok dia minta dengan keberatan hati dari sang guru. Baik, ini sampai ee apa namanya? Dinukil dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu. Beliau mengatakan, “Kam min muridinil khairi lam yusibhu lan yusibahu.” Betapa banyak orang yang pengin kebaikan dia tidak mendapatkannya.
(31:53) Artinya ini orang yang minta waktu khusus atau buku yang khusus ini mungkin dia semangat belajar tetapi semangatnya tidak didukung dengan adab. Sehingga yang seperti ini tidak mendapatkan kesuksesan dalam belajarnya. Dan sebenarnya ilmu itu hukum asalnya bukan dipelajari sendiri-sendiri, sembunyi-sembunyi.
(32:13) Ilmu itu hukum asalnya dipelajari bersama dan di tempat terbuka. Bahkan dalam Sahih Bukhari dinukil dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau pernah mengatakan, “Fainnal ilma la yahliku hatta yakuna sirro.” Ilmu itu tidak akan sirna sampai tidak diobrolkan orang banyak. Ini beliau sampaikan sebenarnya berkaitan dengan hadis.
(32:37) Ketika hadis itu hampir tidak ada orang belajar. Umar ibn Abdul Aziz seorang alim dan beliau menjadi pejabat ketika akhirnya beliau memiliki jabatan, beliau manfaatkan untuk menyebarkan hadis. Beliau minta kepada seorang ulama Madinah namanya Abu Bakar Ibnu Hazam. Unzur maana min hadisi Rasulillahi shallallahu alaihi wasallam fakthu fani khiftu durusal ilmi wahabal ulama.
(33:02) Kamu lihat semua hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kamu tulis, aku khawatir ilmu ini akan hilang dan para ulama segera wafat. Wala yuqbal illa haditun Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan jangan engkau campur dengan perkataan selain hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Wal yufsyul ilm. Hendaklah para ulama menyebarkan ilmu ini. Wal yajlisu.
(33:23) Hendaklah mereka duduk di masjid-masjid. Hatta yama y’lam. sampai orang-orang yang tidak tahu jadi tahu. Fainnal ilma la yahliku hatta yakuna sirro. Karena ilmu ini akan hilang pada saat orang-orang tidak membahasnya. Kalau orang-orang pelajar, orang-orang agama, orang-orang yang ngenal sunah tidak membicarakan sunah itu, maka ini akan sirna sedikit demi sedikit. Karena orang awam lebih tidak mungkin lagi membicarakan itu.
(33:54) Sampai dulu pernah kita sampaikan Ala-Auza’i rahimahullah keluar dari rumahnya mendapat murid-muridnya ngobrol tentang dunia. Kecewa beliau. Antum orang yang tahu ilmu ini kalau tidak membicarakan hadis, siapa yang akan bicarakan hadis ini? Sehingga ilmu itu akan hilang. Dan obrolan menunjukkan kapasitas keilmuan.
(34:19) Orang kalau memiliki pikiran dia butuh sekali buku dengan cetakan ini di mana? Maka dia akan di obrolan-obrolan yang nyambung dengan dia, kawan-kawan pelajarnya dia akan tanya, “Eh, sudah dapat belum cetakan buku itu? Kalau cetakan yang ini bagaimana? Kalau cetakan yang ini bagaimana? Ini ada syarahnya enggak?” tanya obrolannya itu berkaitan dengan yang sedang dipentingkan.
(34:41) Yang dipentingkan apa? yang menjadi perhatian dia. Kalau para penuntut ilmu tidak membicarakan itu, berarti memang kualitas mereka rendahan. N dulu pernah ceritakan orang Indonesia ini masyaallah akrab dengan orang Yaman, dengan orang Jaza. Bedanya orang Jaza ketika nunggu bis itu buka mushaf ya. Kemudian ada yang buka buku orang Yaman juga buku buka kitab gitu. Orang Indonesia buka HP ya.
(35:07) Ini jadi beda modelnya. Mungkin HP-nya juga ada Al-Qur’annya. Wallahualam. Ya, mungkin aja ya. Baik. Kemudian dikatakan di sini fain badaahikin muinqahu jamaah bidalik. Kalau yang memang minta waktu berbeda adalah gurunya karena ada uzur, karena ada kepentingan sehingga jadwalnya dirubah ah tidak apa-apa. Karena ini yang minta adalah gurunya.
(35:38) karena memang ada maslahat atau bersama dengan jemaah yang lain. Baik, sekarang kita masuk pada pembahasan yang ke delapan. Nah, ini sekarang kita melihat bagaimana Ibnu Jamaah rahimahullah kasih contoh kita pengin beradab di majelis itu bagaimana ya. An yajlisa baina yadikhi jalsatal adab kama yajlisusiu baina yadail muqri. Hendaklah orang yang mau belajar duduk di majelis dengan duduk yang beradab seperti anak kecil di depan guru yang ngajari Al-Qur’an.
(36:15) Almuqri itu artinya orang yang ngajari Al-Qur’an anak kecil. Dialkin biar ditalkinnya itu penuh perhatian. Dulu anak-anak kecil itu duduknya seperti tasyahud awal. Nah, dulu orang belajar itu begitu ditalkin. Jadi orang yang belajar masyaallah sampai sekarang ana lihat di TPA sebagian ee TPA Arab Saudi itu kalau misalkan gurunya di tiang begini kemudian ada halaqah besar begini yang dapat jatah ngaji maju nanti ada mejanya Syekh itu.
(36:47) Nah dia di depannya itu duduknya begitu enggak mungkin kan dia sampai kakinya kayak orang mau minum kopi ya. Ya. Anak kecil itu memang dia lebih gampang untuk diarahkan. Kalau orang gede kadang ngatur sendiri gurunya diatur juga. Tapi ini anak kecil ketika dia di depan gurunya ini yang bisa diatur dan diarahkan. Mestinya belajar itu seperti ini.
(37:08) Kata Ibnu Jamaah seperti Sabi anak kecil belajar di depan almqri guru yang akan mengajarkan Al-Qur’annya duduknya seperti orang tasyahud. Kalau tidak seperti itu bisa dengan bersila. Ah, dikatakan di sini au mutarabbi’an bitawaduin wa khudu atau dengan duduk bersila dengan penuh ketawaduan dan kekhusyukan. Nah, ini menjadi lambang orang yang duduk dengan khusyuk dan perhatian itu im duduknya seperti tasyahud atau seperti orang bersila.
(37:37) Ini yang betul-betul bisa konsentrasi duduknya. Dan duduk bersila ini merupakan duduk yang disyariatkan di dalam salat untuk orang yang membutuhkan. Wallahualam. Kalau tidak salah Syekh Albani beliau mengatakan meskipun tidak ada kebutuhan dia mau salat dengan bersila pun tidak masalah. Karena ada riwayat itu yang beliau sahihkan.
(38:01) Yusoli mutarabbi’an ya dengan bersila. Nah, sebagian ulama mengatakan duduk bersila itu hanya kalau lagi sakit. Nah, ketika majelis sedang dilakukan dan orang duduk, maka duduknya itu dengan cara bersila. Wasukunin w khusyu dengan tenang dan dia khusyuk. Waus ilikir ilaih. Dia mendengarkan beneran dan melihat ke gurunya. Subhanallah.
(38:26) Ana beberapa kali mendengar Syekh Saleh Utimin di majelisnya. Beliau melihat ada beberapa muridnya lalu beliau katakan, “Anta naam anta. watajah ilaiya. Beliau mengatakan, “Iya, kamu angkat kepalamu, lihat ke ana.” Ya, artinya biar murid itu memperhatikan guru. Ya, bikatihi alaihi mutaqilan liquiaitu yuhwijuh maranah.
(38:58) hendaklah dia betul-betul fokus dengan semua badannya dan dia berusaha menggunakan akalnya untuk menyerap yang disampaikan gurunya agar tidak perlu gurunya untuk mengulang perkataannya lagi. Ya, karena mengulang perkataan itu sebenarnya berat kalau guru yang menawarkan. Paham antum? Ana mau ulangi ini.
(39:20) Ngulanginya ini sudah agak berat ini. Kadang ada guru yang memang masyaallah sabar dia gurunya iniang masyaallah. Saya akan ulangi. Paham? Saya akan ulangi lagi karena diaang ngerasa ini muridnya sudah ada yang paham tapi masih ada yang belum paham. Ini guru yang sabar. Masyaallah. Dia akan mengatakan saya akan ulangi lagi dikasih contoh yang lain lagi.
(39:40) Luar biasa ada orang seperti itu kayak Imam Syafi’i rahimahullah ngulangi sampai 40 kali. Ana yakin zaman sekarang enggak ada guru yang sampai sabar ngulangi pembahasan yang sama sampai 40 kali. Ente paham? Alhamdulillah enggak paham urusan ente dengan umat ente gitu. Nah, ini maksudnya ketika seorang belajar biar guru tidak perlu mengulangi maka dia perlu fokus dan perhatian konsentrasi.
(40:07) Nah, dikatakan di sini wal yaltaf miniratin hendaklah dia tidak menoleh-noleh kalau memang tidak ada kondisi darurat. Wuru yaminihi tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Atau menoleh ke atasamihairi hajah atau dia melihat ke depan padahal tidak ada kebutuhan. Dan subhanallah orang ketika sedang dalam keadaan spaneng atau mungkin kalau kita bilang sekarang kondisi kita ini bukan kondisi para ulama ya. Kita kalau belajar itu kita akan tebit bosan gitu.
(40:45) Akhirnya begitu ada pintu kebuka, ceklek gitu. Itu sak kelas tuh noleh grek. Siapa itu? Ini orang dalam keadaan apa? Mungkin kalau diceritain dajal melompat mereka ya. Ini karena ada suara pintu gitu langsung pek kayak gitu. Ini masalahnya orang dalam keadaan ngantuk begini, begitu ada pintu set kebuka hilang ngantuknya. Ah, langsung lihat begini begini.
(41:09) Nah, ini dikatakan tidak pantas dia menoleh ke mana-mana tanpa ada kebutuhan. Wyama bih lahu kalamihi maah. Apalagi kalau guru ini sedang khusus menjelaskan untuk orang ini. Paham antum belum? Ya sudah, ana mau ulangi. Eh, sedang dijelaskan khusus untuk orang ini noleh kan ini kan galil adab gitu. Kemudian atau dia sedang diajak bicara oleh gurunya entah sedang ditanya atau antum punya pertanyaan lalu muridnya ini bertanya bertanya kepada gurunya sambil noleh ke jendela. Ini kayaknya orang agak gimana-gimana ini.
(41:45) Ini mau nanya tapi toleh-toleh gitu. Kemudian ilai hendaklah dia melihat hanya kepada gurunya. Jangan gampang bingung kalau ada suara ribut. Kalau suara ribut wajar ada orang memang menoleh ya kalau ribut banget gitu. Tetapi tidak mesti yang seperti ini kemudian membuat dia gusar. Ngapain pikirin gitu? Kemudian dikatakan atau kemudian noleh terus. Ini enggak pantas sekali. Subhanallah.
(42:22) Ana pernah lihat cuplikan yang ada di pengajiannya Syekh Salh Utsaimi. Dia murid-muridnya banyak kan tapi di majelis khusus. Sedang pengajian begini kayaknya ada barang jatuh itu kedengaran di apa di YouTube itu kedengaran gitu. Itu orang noleh nolehnya lama. Biasalah orang kan kayak gitu di masjid.
(42:42) Kemudian ada mungkin mihrab atau apa bukan ee apa namanya mungkin sutrah atau yang ini penghalang ini sitar jatuh karena suaranya agak keras melihatnya itu lama. Syekh sempat terhenti dari syarahnya lalu beliau mengatakan masjid ini punya pengurus. Kalau ada apa-apa yang akan ngurus adalah penanggung jawabnya. Kita mau belajar jangan sampai lihat ke sana gitu.
(43:04) Nah, ini subhanallah seperti itu kadang-kadang orang apa namanya tidak perhatian ya. Dan subhanallah ada seorang ulama namanya Mis’ar Ibnu Qidam. Mis’ar Ibnu Qidam ini seorang ulama ahli hadis. Beliau seorang ulama yang fqah. Tapi suatu saat beliau hadir di sebuah halaqah, lalu ada halaqah lain. Beliau ini kayak pengin tahu halaqah lain bahas apa gitu.
(43:36) Maka dia menoleh begini menoleh yang dilihat bukan orang jalan, bukan orang teriak, tapi halaqah lain gitu. Maka ada yang negur dikatakan, “Ma yafutuka aksar mimma nadarta ilaih.” Yang kamu rasakan kehilangan itu jauh lebih banyak daripada yang kamu cari dari halaqah lain itu. Ya, dia sudah ada di halaqah. Yang halaqah ini tidak diperhatikan, dia malah cari halaqah yang lain. Ini cuplikan ini kisahnya.
(44:01) Dan ada hal yang serupa. Ini diceritakan oleh eh salah seorang ulama tentang Syekh Utsimin. Syekh Utsaimin. Beliau ini sedang hadir di majelisnya Syekh Abdurrahman bin Sa’di bin Nasir Ass’di. Ini memang gurunya. Dan masyaallah memang Syekh Utsimin rahimahullah ketika cerita guru ana ini sabar sekali. Ana pernah belajar dengan beliau aslinya banyak sedikit sedikit sedikit sedikit sampai terakhir yang bisa hadir di majelis itu bertahan satu orang ini Syekh Muhammad Sh Utsimin ini.
(44:32) Sampai Syekh Nasir Sa’di rahimahullah sayang sama Syekh Utsmimin ini. Dan satu orang tetap diajar. Yang tadinya banyak berkurang, berkurang, berkurang, berkurang sampai tinggal satu orang ini Syekh Utsimin rahimahullah dan ternyata Allah kasih keberkahan yang banyak. Itu masjid Syekh Utsmimin yang sekarang di Qasim itu aslinya masjid Syekh Nasir As Sa’di.
(44:50) Muhammad Ibnu Nusar As Sa’di. Belajarnya cuma di tempat yang kecil. Kemudian tambah sedikit-sedikit ketika Syekh Utsimin mulai mengajar, mengajarnya di perpustakaannya. Kemudian tambah banyak, tambah banyak sampai enggak cukup tempatnya. Akhirnya di masjidnya sampai di masjidnya enggak cukup lagi. Akhirnya diperbesar itu masjid sampai sekarang.
(45:10) Dan ketika Syekh Utsimin sudah tidak ada, diteruskan murid-muridnya di pengajian itu. Jadi, masyaallah ternyata beliau punya cuplikan kisah. Syekh Utsimin ketika hadir di majelis Syekh Muhammad bin Nasir Ass’di lagi belajar masih kecil masih kecil tah ada burung masuk burung masuk ke masjid. Set. Syekh Utsimin lagi hadir di majelis begini.
(45:35) Lihatin gini Syekh Nasir S’di karena sayang sama Syekh Utsimin. Dilihat kemudian dikatakan, “Ya Muhammad, taqyidul ilmi khair.” E bukan dikatakan apa? Sidul ilmi khairun minid thiir. Ya, beliau mengatakan, “Wahai Muhammad, berburu ilmu itu lebih baik daripada berburu burung. Padahal beliau cuma ngelihat aja gitu, enggak berburu beliau gitu.” Tapi masyaallah cuplikannya itu para ulama.
(46:02) Ternyata mereka sampai begitu dan ini membekas, membekas sekali gitu. Apalagi kalau pengajian di pinggir jalan ada mobil lewat sampai hafal tadi ada mobil mewah lewat satu. Aduh ini kayaknya pelajarannya itu membuat dia enggak nyantol. Kok bisa ngerti ada berapa mobil yang lewat. Ini kan kurang kerjaan banget ini sampai nolehnya begitu. Nah, subhanallah.
(46:22) Antum kalau tahu gimana rasa guru sedang mengajar, tahu-tahu muridnya senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri, ngobrol sendiri. Kalau ngantuk saya bilang takdir sudah tidak apa-apa. Tapi kalau ngobrol sendiri ini repot ya. Kita lagi mensyarah di sana ada keributan atau kesibukan sendiri gitu.
(46:47) Bahkan subhanallah sebagian orang ketika masuk kelas dia hidup dengan alamnya sendiri. Bukan hanya senyum-senyum. Kadang ada orang senyum sendiri tapi enggak bawa apa-apa. Ana bilang, “Mudah-mudahan antum sehat-sehat saja.” Tetapi masalahnya kadang dia bawa HP begini, dia lihat gini kemudian senyum-senyum. Kan repot sekali seperti ini. Ini kan tidak menghargai sekali.
(47:08) meskipun dia tidak sama yang lain, kadang-kadang sama kawan di sebelahnya, sama kawan sebelahnya dia senyum-senyum giniituini sama saling menglihatkan HP-nya kemudian tertawa, “Wuh, ana enggak sabar kalau begitu.” Tapi maksudnya ini enggak kebayang di majelisnya para ulama.
(47:28) di majelisnya para ulama jangankan seperti itu, orang mau menyiapkan pensil atau pena diorotin begini mereka enggak berani. Di majelisnya Abdurrahman bin Mahdi, di majelisnya Imam Malik, mereka sampai apa namanya? Mengeluarkan suara sedikit enggak berani. Imam Syafi’i rahimahullah merubah atau membolak-balikkan safahat atau buku lembaran ini pelan-pelan biar Imam Malik tidak kedengaran. Ini imam, muridnya Imam.
(47:52) Maka apa namanya? Ee sebagian murid mereka menerapkan itu juga. Ana pernah contohkan kepada antum. Murid Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Kalau Imam Syafi’i lagi ngelihat aku, minum aja aku enggak berani menghargai gurunya.” Ini sekarang di tempat-tempat pengajian itu ya anggota pengajinya makan gorengan ya. Ya tidak apa-apa.
(48:19) Sudah memang kita beda beda zaman mungkin jadi beda mazhab juga ya. Ya. Dikatakan di sini wala yanfudukummahu dan hendaklah dia tidak mengibaskan lengannya. Alkum itu tempat untuk masukkan tangan. Dan dulu memang ee pakaian orang-orang dulu itu kumnya itu agak lebar. Kadang-kadang ada orang gini-gini itu.
(48:45) Nah, ini jangan dikibaskan karena itu memang bukan aktivitas belajar. ini bisa mengganggu wahsiru dan tidak menyingsingkan lengan bajunya. Ya, karena memang itu bukan adab. Sekaligus ini biasanya dilakukan untuk kerja. Entah ngangkat barang atau orang sedang mencari dunia. Kalau belajar tidak seperti itu. Enggak harus ayo siap-siap belajar ya. Ayo. Orang belajar enggak perlu kayak gini-gini, enggak perlu. Itu bahkan tidak beradab.
(49:17) Dan jangan banyak gerak. Enggak tangannya, enggak kakinya, enggak badannya yang lain. Ya, mungkin kalau orang pegal itu urusan lain ya. Maka Syekh Shusaimi hafidahullah beliau kalau ada muridnya yang pegal, beliau katakan, “Saya tidak sarankan untuk menyelonjorkan kaki.
(49:41) Karena menyelonjorkan kaki merupakan tindakan yang bisa menghancurkan kewibawaan orang.” Ini termasuk khawarimul muruah. Menyelonjorkan kaki di majelis umum itu merupakan tindakan yang bisa menjatuhkan muruah atau kewibawaan seseorang. Meskipun uruf atau tradisi di masyarakat berbeda-beda, tetapi sekarang banyak orang kayak begitu. Antum di depan pejabat atau di depan guru yang antum hormati, antum enggak mungkin selonjoran gini. Enggak mungkin.
(50:07) Di majelis seperti itu para ulama. Nah, Syekh Salh Utsim mengatakan yang kecapekan kakinya berdiri kan kakinya selonjor itu ya kan? Kalau berdiri kan selonjor kakinya. Nah, tetapi ee selonjornya berbeda dengan orang yang selonjor gini ya. Nanti kalau sudah hilang pegalnya duduk lagi. Nah, itu banyak yang seperti itu. Nah, kemudian beliau mengatakan walau yadahu al lihyatihi.
(50:33) hendaklah dia tidak pegang dengan tangannya jenggotnya. Ya, kalau enggak punya jenggot enggak bisa pegang. Tapi yang punya jenggot banyak kadang ada orang menghilangkan kebosanan begini begini begini gitu. Kadang mainan jenggot sampai begini-gini kan. Ini kalau jenggotnya panjang itu kan bisa sampai kayak gini.
(50:58) Biar memang dia apa namanya? Ee mencari kerjaan karena bosan. Tapi ini sayangnya tidak sesuai dengan adab majelis. Ini sudah waktunya azan belum? Ini sudah ya. Baik, silakan azan dulu. Ikhwatan Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahuakbar. Allahuakbar.
(51:46) Eşhedü en la ilaheillallah. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar rasulullah. [Musik] Ashhadu anna muhammadar rasulullah. Hayya alas shah. Hayya alas shah. [Musik] Hayya alal falah. Hayya alal falah.
(52:54) [Musik] Allahu Akbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [Musik] Baik. Beliau katakan dalam kitab ini, wadahi jangan sering pegang jenggot atau mulutnya.fi ini yang disebutkan jangan gampang untuk gerak-gerakkan jenggot
(54:01) sampai di hidungnya. Nah, digini-giniikan. Ini kan kurang kerjaan ini. A yastakriju biha minhuai. atau bahkan dia mengeluarkan sesuatu dari hidungnya. Ini repot ini. Ini menjijikkan ya. Dan memang kalau kita katakan ee tradisi berbeda. Seperti misalkan tradisi sebagian orang membuang ingus ini bukan aib di apa majelis umum ya. Se lagiini c srut gitu.
(54:33) Nah, ini di beberapa kalangan bukan aib, tapi sebagian kalangan aib sekali, bahkan menjijikkan sekali. Kalau di Arab Saudi misalkan seperti ini biasa, di sini tidak. Maka enggak sepantasnya kita di majelis umum sot kayak gitu ya. Tayib di Arab Saudi orang sampai keluar sendawa gitu. Itu aib sekali di Indonesia biasa sekali.
(54:59) itu menunjukkan memang masing-masing tradisi berbeda dan orang tidak bisa dipaksakan orang tidak sopan. Loh, tidak sopan itu menurut penilaian siapa? Kayak orang Arab ketika mereka pegang kepala, dicium atau dipegang-pegang biasa. Biasa sekali karena orang Indonesia uh awas pukul ini kejadian enggak cuma satu dua orang banyak yang seperti itu. Kawan Arab pegang kepala orang Indonesia.
(55:24) Awas diulang lagi. Iya. Dan ini karena memang perbedaan kebiasaan. Nah, sekarang di majelis ilmu tidak pantas orang mengeluarkan ingus atau saudara-saudaranya. Wala yaftahu fahu wala yaqrau sinnahu. Dan jangan di pengajian dia sering membuka mulutnya atau bahkan mainan giginya. Ini berarti ada ya orang kayak begitu ya. Jadi giginya diketok-ketok atau gimana begitu. Wala yadribul ard birohatihi.
(55:53) Jangan sering mukul-mukul tanah atau tempat duduk dengan tangannya. Gini-gini kayak gini. Nah, ini mungkin orang lagi bosan itu seperti itu ya. Terus ini yang akan dicontohkan ini betul-betul ri banget ya. Dikatakan a yutu alaihi biasabiihi atau garis-garis dengan jarinya. Nah, gambar kalau zaman sekarang itu mungkin pakai ballpin tanda tangan-tanda tangan gambar di kertas kayak begitu kalau ada pelajaran itu sampai gambar gitu gambar bisa dapat pemandangan lengkap itu berarti pengajian dan pelajarannya
(56:29) bagaimana itu ya dikatakan wala yusyabbiku biyadai dan dia tidak menggenggamkan tangannya memasukkan jari-jarinya begini kayak gini ini juga termasuk tidak sopan di pengajian Atau ada orang iseng dengan sarungnya, mainan sarung aja ini di pengajian gitu. Dikatakan juga wala yastanidu biadryaikh.
(56:59) Dan tidak pantas seorang bersandar padahal gurunya ada. Subhanallah. Syekh Salh Utsaim setiap pengajian dan daurah daurahnya panjang sekali. Kalau sudah mulai pengajian itu panjang sekali daurahnya. Dari pagi sampai jam 10. Habis salat subuh sampai jam 10.00. Nanti mulai asar sampai jam 10.00 malam.
(57:20) Dan ana lihat sangat jarang beliau sandaran di kursinya Masjid Nabawi. Antum tahu itu kan gede itu. Itu beliau tidak sandar. Beliau mengajar mengajar begini dan beliau pegang bukunya itu memegangi kertas yang beliau syarah itu. Beliau tidak sandar dan beliau ketika sampai kecapekan pernah beliau sampai pingsan jatuh karena beliau memang tidak sandar dan beliau ketika menyampaikan itu karena beliau tidak seperti itu.
(57:43) Nah, muridnya ini yang berat. Kalau orang lagi ngomong dia punya kesibukan yang tidak ngomong kemudian ada tembok. Subhanallah. Ana pernah sampaikan kepada antum kayaknya perlu diadakan penelitian ini. Kenapa tembok dan tiang ini menjadi tempat favorit di setiap pengajian? Ada apanya? Nah, ini ternyata Ibnu Jamaah rahimahullah mengatakan ini tidak pantas seorang seperti itu.
(58:08) Dikatakan wala yastanidu biadryaikh. Tidak pantas dia sandaran sementara dia sedang belajar pada gurunya. ila haitin kepada dia bersandar ke tembok au makhaddatin atau bantal bantal yang antum tahu orang Saudi suka pakai kayak gini bukan bantal untuk tidur tapi untuk tangan seperti ini. Nah, ini enggak pantas orang belajar ya gini.
(58:35) Jadi Syekhnya jelaskan dia begini ini enggak pantas sekali. Au darabizin. Darabizin itu artinya adalah pegangannya tangga. Jadi kalau ada tangga kan suka ada pegangan pagarnya itu. Nah, dipakai sandaran itu juga enggak pantes seperti itu. Ana enggak ngelihat antum kayak gitu. Jadi, ana santai aja ngomongnya gitu.
(59:01) A yaj’alu yadahu alaiha atau tangannya pegangan darabizin tadi itu tangga apa pagarnya tangga itu yang gini. kan capek orang kan cari kerjaan. Nah, pegangan itu kadang pegangan tembok atau pegangan apa. Nah, ini kan tidak perhatian mengurangi perhatiannya. W jambahu tidak sepantasnya dia membelakangi gurunya. Widu aladihi wari. Tidak pantas dia meletakkan tangan di balik badannya. Gimana? Gini.
(59:33) Jadi di di apa? di pengajian tangannya ini untuk nahan badannya ke belakang. Nah, enaknya kalau kayak gini ini kakinya selonjor. Pas banget itu kalau duduk di mana ya? Kalau di lapangan, di taman kayak gitu. Tuh pantes. Kalau di pengajian kayak begini nih. Wah, kayak begini. Enggak pantes sekali ya. E ternyata ini dibahas ini oleh Ibnu Jamaah rahimahullah di pengajian dia taruh tangannya di belakang begini.
(59:58) Uh, gitu. A jambihi atau di sebelahnya tetap aja juga tidak pantas begini. Wala yukiru kalamahu min ghairi hajah. Tidak pantas dia banyak ngomong di majelis kecuali kalau ada kebutuhan. Kalau enggak ada kebutuhan kok ngobrol aja kayak gitu. Itu kelihatan ini enggak perhatian dengan pelajaran. Wala yahqi ma yudha minhu a ma fihi badaatun.
(1:00:23) Dan dia tidak perlu menceritakan sesuatu yang gampang membuat orang lain tertawa. Di majelis membuat orang lain tertawa. Parah kan? atau cerita yang kotor enggak pantes di majelis mukatin sua adab atau dia ngobrolin sesuatu yang tidak pantas dalam masalah adab. Wala yadhairi ajab. Dan jangan tertawa kalau tidak ada yang mengherankan.
(1:00:53) Ya, tertawa terlambat saja bermasalah ya. Kayaknya loading ya. Jadi tertawanya belakangan orang sudah selesai tertawa baru ada orang tertawa. Ini kayaknya repot ini ya. Tapi orang tertawa kalau tidak ada sebabnya tidak pantas di majelis. Wala liajabin dunasyaikh. Dan tidak pantas dia tertawa tapi bukan dari gurunya.
(1:01:14) Gurunya tidak menceritakan apa-apa. Dia tertawa sendiri. Nah, dan ana sampaikan kepada antum kira-kira gimana perasaan seorang guru menyampaikan sementara muridnya ada yang tertawa. Mungkin tertawanya ini ada mubarirnya, ada sebabnya. Kok tiba-tiba tertawa? Biasanya dia teringat. Wallahualam masa lalu ya. Bisa jadi.
(1:01:38) Kok bisa diingat-ingat pas di pengajian? Karena memang selama beraktivitas enggak bisa keingat. Pas keingat pas di pelajaran gitu. Jadi senyum-senyum sendiri. Ana kalau ada lihat kayak gitu pura-pura enggak lihat saja. Pura-pura enggak lihat. Tapi kalau sampai ngajak kawannya tertawa wah ini yang bisa jadi dosa besar ya. Dosa besar pengajaran ya.
(1:01:57) Fain gabahu tabama tabassumanil battah. Kalau memang dia harus tertawa, diusahakan ditahan sampai senyum saja tapi enggak pakai suara. Subhanallah. Nabi sallallahu alaihi wasallam tersenyum. Terkadang beliau tertawa sampai kelihatan gigitarinnya. Tapi jarang. Tapi seringnya beliau tersenyum. Dan sebagian ulama mengatakan senyuman itu menunjukkan kebijaksanaan.
(1:02:23) Orang itu berakal tapi tertawa terbahak-bahak menunjukkan orang ini tidak mikir. Enggak pantas ada orang terhormat, tertawa, terba wak. Jelek sekali. Jelek sekali. Bahkan Azzahabi rahimahullah beliau ketika membicarakan tentang tertawa, beliau mengatakan orang yang sudah berumur lebih tidak pantas lagi tertawa terbahak-bahak daripada anak muda. Karena anak muda masih wajar, mereka suka main-main.
(1:02:52) Kalau ada orang berumur kemudian tertawa kayak anak muda, mereka mungkin pengin muda lagi ya. Tetapi maksudnya ini lebih tidak pantas. Kata Azzahabi rahimahullahu taala, wala yuksirutanahnuha min ghairi hajah. Jangan terlalu banyak berdehem padahal tidak ada kebutuhannya. Ada kebutuhannya biar gurunya cepat selesai. Ya. Wala yabsuq dan jangan meludah.
(1:03:18) Wala yatanakha ma amkanahu. Apalagi sampai mengeluarkan riak ya. Mengeluarkan yang warna-warni dari mulut atau hidungnya. Dan jangan wallah maksudnya itu mainan liur di mulutnya. Ini jengkelin banget ya di pengajian, di pelajaran mainan liur ya. Mainan liur itu kapan saja enggak bagus apalagi pas di pelajaran.
(1:03:43) Baludu min fi bindilinqtinhi. Dia ambil air liurnya kalau memang ada dengan tisu atau dengan robekan kain. Kalau tidak ada maka dengan ujung baju. Meang dulu orang kalau tidak punya kaos tangan, tidak ada tisu, tidak apa, kalau mereka mau mengeluarkan itu di bajunya begini, di bajunya begini dikeluarkan seperti itu. Waataahaduata aqdamihi wa irhaihi.
(1:04:16) hendaklah dia selalu menutup kakinya dan menurunkan bajunya ketika dia sedang bermajelis. Wasukun badaniiakaratihi. Hendaklah badannya tenang ketika sedang diajak bicara oleh guru. Wa khutahu jahdah. Kalau dia bersin berusaha ditahan suaranya biar sampai tidak meledak. Ya wasat wajhahu bimilin nahwihi.
(1:04:48) Dia tutup mukanya dengan sapu tangan atau baju atau yang semacamnya. Waabahu baaddihi jahda. Kalau dia menguap hendaklah dia berusaha nutupi mulutnya setelah dia berusaha untuk tidak membuka mulut. Kalau ternyata kebuka juga tutup mulutnya. Nah, ini sebenarnya tidak hanya khusus di pengajian. Di luar pengajian pun demikian.
(1:05:13) Bahkan ada sebuah hadis yang mengatakan, “Faidza qala ha dah minhitan.” Kalau orang nguap sampai hah kayak gitu itu setan tertawa. Maka ee Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan falyaqimata. Kalau bisa itu ditahan sekuat mungkin. Begitu. Nah, lalu beliau menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Ini disebutkan oleh para ulama meskipun dalam sanad periwayatannya ada yang lemah. Akan tetapi ini asar asar atau nasihat dari Ali radhiallahu anhu.
(1:05:39) Beliau mengatakan, “Min haqqil alimi alaik an tusallima alalmi amatan watakusahu bittahiyah.” Di antara hak guru yang harus kita tunaikan ketika kita mengucapkan salam, kita ucapkan salam secara umum kepada orang-orang. Nah, guru ini diucapin salam sendiri.
(1:06:04) Bukan ngucapin dua kali salam, akan tetapi mungkin ditambahi dengan bertanya kabar atau dihormati dengan datang mencium kepala dan semacamnya. Meskipun yang lain tidak disalamin jabat tangan, tapi gurunya disalamin. Itu merupakan taksis atau mengkhususkan hak guru dari yang lain. Wa anajlisa amamahu. Dan engkau duduk di depannya. Wala tusyirannaahu biyadik. Jangan engkau tunjuk dia. Ini loh Syekh ini.
(1:06:27) Jadi dia sedang mencari eh Syekh ada enggak ini gitu? Itu enggak pantes juga di depan gurunya ditunjuk gurunya begini ya. Kalau begini bagaimana ya? Ini tradisi orang kadang-kadang dia seperti tidak pantas ya. Tapi begini bagaimana? Wallahuam. Ini tergantung pada kebiasaan masyarakat ya. winaika girahu. Jangan engkau lihat dengan matamu orang lain.
(1:06:54) Engkau sedang di pengajian pada satu guru, tapi matanya ke mana? Ke orang lain. Ini enggak pantas. Wannaq fulanun khilafahi. Ini penting juga. Jangan engkau sebutkan pendapat lain di depan gurumu. Ketika guru mengatakan, “Tidak boleh seseorang lewat depan orang salat.” Oh, tapi ada syekh lain mengatakan boleh. ini enggak sopan sekali. Ini enggak sopan sekali.
(1:07:20) Kalau dia akan mengajak diskusi, diskusinya pun dengan sopan dan dengan cara yang bijak. Apakah dalam masalah ini ada khilaf ya Syekh? Atau mungkin ada pendapat lain kalau tidak salah ana ini banyak salahnya. Ada sebagian pendapat yang pernah Anda dengar. Ah tapi dengan cara yang sopan sekali kalau memang harus berdiskusi.
(1:07:39) Tapi kalau dia mendengar syekhnya mengatakan sesuatu langsung dia katakan loh tapi ada syekh lain mengatakan boleh. Ini namanya nabrak-nabrakin kayak ngadu ya. Ini enggak boleh sekali, enggak pantas. Wagtabannaahu ahada. Jangan mengghibahi orang di depan guru. Wlubanahu. Jangan kau cari-cari kesalahannya. Waalla qiliratah. Kalau gurumu salah, kamu bisa terima dan memaklumi kesalahannya. Waaikaillah.
(1:08:05) Hendaklah engkau menghormati gurumu karena Allah, bukan karena cari perhatian. Cari perhatian bagaimana cari nilai biasanya subhanallah itu murid kalau sudah cari perhatian sama guru, wah luar biasa. Begitu enggak ngajar lagi uh berubah ya. Ini parah sekali seperti ini. Dan termasuk orang yang melihat ini siapa gurunya. Kalau gurunya pejabat dihormati sekali. Kalau bukan maka biasa sekali. Nah, ini juga sama.
(1:08:30) Ini takzim bukan karena Allah akan tapi karena urusan dunia. Waathuidmati. Kalau gurumu butuh sesuatu, kamu berusaha menjadi orang pertama yang membantu gurumu itu. Wi majelisihi. Jangan engkau bisik-bisik dengan gurumu di majelisnya. Wudu bubihi. Dan jangan engkau mengambil bajunya. Eh Syekh digeret-geret mungkin bajunya. Syekh syekh syekh gitu. Ini enggak pantas sekali.
(1:08:58) Kalau mau mengundang memanggil dengan panggilan yang terhormat. Wala tuhilla alaihi kasal. Kalau Syekh sedang capek, jangan engkau paksa. Dan subhanallah sebagian guru mereka tidak suka ketika dalam kondisi capek ditanya. Bahkan Al Imam Abdur Razzaq Assan’ani rahimahullah beliau tidak suka menjelaskan hadis ketika beliau berjalan. Jadi tunggu duduk dulu.
(1:09:24) Wala tasybaa min thuli shuhbatihi. Jangan cepat bosan ketika lama belajar. Dan ini membutuhkan kesabaran. Orang belajar itu butuh kesabaran. Dulu orang ketika akan belajar membutuhkan waktu sampai 30 tahun. Ini yang dinukil dari Anas bin Malik radhiallahu anhu. Sebagian orang ketika bermulazamah dia sampai 30 tahun belajar ke seorang guru. Ini kita baru berapa tahun atau mungkin berapa kali aja sudah bosan ya.
(1:09:52) Sudah gitu nanti kalau ditanya, “Kamu belajar ngaji apa enggak?” “Oh, iya itu Ustaz Fulan itu ustaz anak.” Padahal dia ngaji aja jarang-jarang ya. minha guru itu bagaikan kurma. Kamu tunggu-tunggu kapan jatuhnya kurma itu. Kalau di Indonesia bukan kurma tapi durian ya. Ya, ditunggu ini kapan jatuhnya.
(1:10:16) Karena kita enggak ngerti kapan manfaat yang keluar dari mulut guru itu. Walaqad jamaa radhiallahu anhu fi hadil wasiyati ma fihi kifayah. Kata Ibnu Jamaah rahimahullah, nasihat Ali radhiallahu anhu itu betul-betul lengkap sekali. Disebutkan juga beliau masih menukil lagi tambahan biar kita ngerti bahwa detailnya orang beradab itu bagaimana contoh-contohnya.
(1:10:36) Q ba’duhum. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Waminimiki all yajlisa ila janibih.” Di antara bentuk penghormatan ini tergantung ya, berbeda. Dan memang sebagian tempat hampir sama. Dikatakan di antara bentuk penghormatan kepada syekh tidak duduk di sebelahnya. Ya meskipun bukan berarti tidak boleh. Bukan. Wallahuam. ini beda apa ee kebiasaan tempat mungkin beda-beda.
(1:11:06) Jani tidak duduk di sebelahnya wala ala musahu wisadatihi dan jangan duduk di tempat duduk guru. Wisadah itu artinya tempat yang biasa disiapkan untuk guru. Ah dia duduk di atas tempat gurunya. Ini enggak pantes ternyata. Kalau dulu kita waktu masih kecil dibilang, “Kamu kalau duduk di kursinya guru nanti udunen.
(1:11:29) ” gitu. bisulan ya bisulan tapi ini enggak benar ya tapi maksudnya ternyata memang tidak pantas tempat salat khusus dari guru itu oh dipakai sama muridnya ini enggak pantes gitu amarika fala ya’alu illa ja alaihi alaihifatuh kalau gurunya nyuruh bagaimana ayo duduk di sini gitu misalkan ada syekh syekh datang kemudian ada orang suruh syekhnya bilang eh silakan duduk sini nah dia tidak langsung, “Oh, iya, Syekh.” Oh, langsung duduk di sebelahnya.
(1:12:02) Enggak sebegitu. Tapi dia berusaha untuk nolak dengan cara yang apa namanya? Yang lembut dan sopan. Karena dia tahu bahwa biasanya yang duduk di sebelahnya Syekh ini bukan orang sembarangan. Ini yang disebutkan dalam kitab ini ya. Kemudian dikatakan ee kecuali kalau gurunya yang nyuruh dan memang kelihatan sekali gurunya ini pengin dituruti gitu.
(1:12:30) Maka tidak apa duduk sebentar kemudian ana mau di belakang ini lebih bagus. Para ulama berbeda pendapat ini yang lebih afdal mana? Kalau guru mengatakan silakan duduk di sini kayak pengajian, seminar, tablig akbar di depan biasanya untuk penceramah kan tah-tahu ada orang datang belakangan tek. Ini mana kursinya Syekh? Itu situ. Wah, duduk depan dia. Kayak gini kan enggak pantas banget tuh.
(1:13:00) Enggak pantas banget duduk depan. Kecuali kalau memang syekhnya itu mengatakan, “Eh, silakan sini.” Nah, kayak gitu pun sekarang para ulama beda pendapat ini yang afdal. Mana kalau seandainya guru mengatakan, “Silakan duduk bersama saya di sini.” Apakah dia maju langsung di situ karena gurunya yang minta atau dia mengatakan enggaklah afdalnya sebagai adab ana di belakang ana tolak dengan ee alasan yang masuk akal gitu. Walladzi yatarajjah ma qaddamttuu min tafsil.
(1:13:30) Kata Ibnu Jamaah, “Yang rajih adalah yang aku sebutkan dengan rinci. Kalau seandainya dia melihat gurunya itu betul-betul ngotot, kamu harus duduk di sebelah anak.” Karena sebagian guru memang ketika punya murid dia suka dengan muridnya. Dia tidak ingin sendirian dan dia ditemani oleh murid yang memang cocok kalau ngobrol nyambung, kalau dijelaskan langsung paham dan memang muridnya ini sopan. Ada orang-orang yang tenang dengan muridnya seperti itu.
(1:13:56) Ya fain azamiku bima amarahu bihiasu alaifatuhuul amri aula wa fasul adabi aula. Kalau gurunya minta betul-betul dan dia merasa kayaknya Syekh akan keberatan ini kalau ana tolak, ya sudah dia duduk di depan. Tapi kalau ternyata tidak terlalu seperti itu, maka hukum asalnya mengedepankan adab lebih afdal.
(1:14:19) Lijawazi an yaqsidikhu khairahu wahartirami walita bihi fayuqobiluhika bima yajibu minimik wal adabi maahu. Karena bisa jadi syekh ini pengin ketika nyuruh muridnya ayo maju ke sini dia mungkin ada yang mau disampaikan atau memang pengin berdiskusi atau mau tanya-tanya sesuatu seperti itu. Ini yang dapat kita pelajari. Mudah-mudahan bermanfaat kurang lebihnya mohon maaf.
(1:14:42) sallallahu wasallam w abdiul Muhammad wa ali washbihi ajmain. Ada beberapa pertanyaan di antaranya bagaimana menghadapi fitnah HP ya ketika orang menjaga pandangan syahwat ketika sendirian dan semacamnya. Ini pernah ditanyakan kepada Syekh Abdul Muhsin Abbad. Beliau mengatakan kun syujaan. Beliau ditanya oleh seorang murid pakai kertas begini.
(1:15:13) Syekh, gimana ini? Kalau saya di depan orang, saya bisa menjaga pandangan saya. Tapi kalau saya sendirian, saya selalu kalah dengan hawa nafsu saya. Kata Syekh, “Kun sujaan.” Jadilah orang pemberani. Lawan itu hawa nafsunya. Begitu. Dan kalau seandainya kelemahan kita disendirian, jangan sendirian. Dan kita kalau bisa di depan orang kita merasa terjaga, jangan sendirian.
(1:15:32) Bagaimana caranya agar bisa mengamalkan ilmu? Ya, kita berusaha untuk menerapkannya. Contohnya misalkan ada zikir yang apa namanya ee kita pelajari, praktikkan langsung praktikkan ya. Nabi sallallahu alaihi wasallam apabila beliau akan tidur, beliau perintahkan sahabatnya untuk berwudu sebelum tidur. Dalam Sahih Bukhari dikatakan, “Khtajaaka fatawad wuduaka l.
(1:16:00) ” Kalau kamu mau wudu, eh kalau kamu mau tidur, maka wudu dulu seperti engkau mau salat. Aiman usahakan tidurmu miring ke kanan. Perkara nanti ketika tidur kayak kitiran itu kayak apa? Kipas begitu. Ah itu urusan lain. Yang penting ketika akan tidur dia sudah taruh di arah kanan begitu.
(1:16:27) Ma qul baca bismika wu jambi wabika amut inq nafsi farhamha wa arsaltaha fah bimafad bihi ibadakain. Ini doa sebelum tidur. Tidak apa-apa orang mengatakan bismikallahumma amutu wa ahya. Tidak apa-apa. Itu juga termasuk doa yang masyur. Tapi kadang-kadang orang kalau tidak praktikkan itu kelewat. Kelewat.
(1:16:53) Dan subhanallah, Imam Ahmad rahimahullah beliau setiap membaca hadis, beliau berusaha untuk praktikkan hadis itu meskipun sekali seumur hidup. Termasuk beliau ketika membaca hadis tentang hijamah, tentang berbekam. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah memanggil satu orang tukang bekam kemudian membekam beliau dikasih upah. Maka kata Imam Ahmad, “Aku panggil sengaja tukang bekam untuk mempraktikkan hadis itu.
(1:17:13) ” Ya, jadi beramal dengan cara yang seperti itu. Salat malam. Ah, kita praktikkan. Kita bangun malam meskipun salat cuman dua rakaat, yang penting kita sudah berusaha untuk mengamalkan itu. Cara menasihati orang yang selalu menuntut ilmu tapi dia tetap putus asa dan tidak mau menimba ilmu lagi.
(1:17:32) Apa yang buat dia semangat lagi? Menuntut ilmu. Orang yang selalu menuntut ilmu tapi dia malas untuk tidak menuntut ilmu lagi. Itu maksudnya gimana? Ya, tapi yang jelas istikamah membutuhkan perjuangan ya. Dan futur itu merupakan kondisi yang kalau kita bilang wajar. Iya. Banyak orang futur. Futur itu artinya dia lemas.
(1:17:58) Dan ee seorang agar bisa istiqamah dalam ee keimanan dan ketakwaannya, dia perlu mencari lingkungan yang bisa mendukung. Yang kedua, dia perlu berdoa kepada Allah. Yang ketiga, dia perlu sering membaca sepak terjang dan perjuangan para ulama salaf. kita ini belum rajin kalau kita melakukan, “Oh, saya sudah begini, saya sudah begini.” Belum apa-apa yang dilakukan oleh para ulama kita, belum ada apa-apanya.
(1:18:23) Maka kita masih punya tugas dan tanggung jawab yang panjang. Nah, mudah-mudahan dengan seperti itu dia bisa memperbaiki motivasinya. Wallahuam bisawab. Mudah-mudahan bermanfaat kurang lebihnya mohon maaf. Sallallahu wasallam wabarak abdi nabina Muhammad waa alihi wasbihi ajmain. Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilahailla anta astagfiruka walhamdulillahiabbil alamin.
(1:19:00) [Musik] Roja TV. Demikianlah ikhwat Islam. Para pemisa dan pendengar Raja di mana pun Anda berada. kajian ilmiah yang telah kami hadirkan dan kami telah pancarluaskan dari Masjid Albarah, Jalan Pahlawan


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *