Ustadz Dr. Musyaffa Ad darini || Menggapai Khusyu’ dalam Sholat – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(22) [LIVE] Ustadz Dr. Musyaffa Ad darini || Menggapai Khusyu’ dalam Sholat – YouTube

Transcript:
(00:00) 104.3 mm menyebar cahaya sunah. Cek ini kir alhamdulillah masyaallahnya ro ini. Ag dekat. Siap. Agak ke depan. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi
(01:14) wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. Man yahdillahu fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(01:53) Ya ayyuhalladzina amanu ittaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa taala. dengan takwa yang sesungguhnya dan jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan Islam. Amma ba’d fainna asdaqal hadisi kitabullah wakiral huda huda Muhammadin shallallahu alaihi wasallamaral umuri muhdasatuha fainna kulla muhdatin bidah wa kulla bidatin dolalah wa kulla dolalatin finar.
(02:47) Para jemaah sekalian, hadirin dan hadirat ikhwati wa akhwati fillah aazanallahu wa iyakum. Alhamdulillah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah Subhanahu wa taala atas nikmat-nikmatnya yang tak terhingga. Dengan nikmat-nikmat itulah kita bisa hadir di majelis ilmu ini. Kita bisa mengisi kehidupan kita dengan amal-amal saleh.
(03:30) Dengan nikmat-nikmatnyaalah kita bisa mendapatkan surganya Allah Subhanahu wa taala. Marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat-nikmatnya yang tak terhingga tersebut sehingga nikmat-nikmat ini terus Allah jaga untuk kita dan semoga Allah subhanahu wa taala memberikan tambahan kepada kita nikmat-nikmat yang lainnya. Amin. Amin ya rabbal alamin.
(04:08) Selawat dan salam keberkahan dan kenikmatan semoga selalu terlimpahkan dan tercurahkan kepada nabi yang sangat kita cintai dan sangat kita junjung tinggi. Nabi yang paling besar jasanya dan kebaikannya kepada kita. Nabi yang tidak ada satuun amalan yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga kecuali telah beliau jelaskan.
(04:47) Dan tidak ada satuun amalan yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam neraka kecuali telah beliau peringatkan umatnya darinya. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan selawat dan salamnya kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Begitu pula kepada seluruh keluarga beliau, seluruh sahabat beliau, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti beliau dan para sahabatnya dengan baik hingga hari akhir nanti.
(05:28) Ikhwati wa akhwati fillah rahimana warahimakumullah. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tema yang sangat penting bagi kita semuanya. menggapai khusyuk dalam salat. Pembahasan ini sangat penting. Kenapa? Karena berkaitan dengan ibadah salat. Ibadah yang sangat istimewa. Salat menjadi ibadah yang sangat diistimewakan oleh Allah Subhanahu wa taala.
(06:15) Buktinya Allah memilih cara yang istimewa untuk mensyariatkannya, yaitu dengan peristiwa apa? Isra Mikraj. Ibadah-ibadah yang lain atau syariat-syariat yang lain tidak dengan cara ini dalam mensyariatkannya. seperti zakat ya disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan turunnya wahyu kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(06:53) Wa aqimus shauz zakah. Ibadah haji. Cara pensyariat. Cara pensyariatannya adalah dengan diturunkannya wahyu kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Walillahi alanasi hjul bait manistata’a ilaihi sabila. Begitu pula ibadah puasa. Cara pensyariatannya dengan diturunkannya wahyu kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(07:32) Ya ayyuhalladzina amanu kutiba alaikumusam kama kutiba alalladina min qablikum la’allakum tattaquun. Tapi ibadah salat diistimewakan oleh Allah subhanahu wa taala dengan cara yang istimewa. Kalau ibadah-ibadah yang lain, wahyu turun dari langit kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(08:01) Kalau ibadah salat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam diangkat oleh Allah Subhanahu wa taala untuk menghadap kepadanya, untuk menerima syariat salat. Ini menunjukkan Allah sangat mengistimewakan ibadah salat. Dan ibadah salat ini, para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah, ibadah yang sangat dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Ini salah satu keistimewaan ibadah salat.
(08:35) Sangat dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Apa buktinya? Buktinya ketika pertama kali Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk salat, Allah inginnya berapa kali dalam sehari? 50 kali. 50 kali. Bukan hanya lima kali. Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa taala sangat mencintai ibadah salat. Makanya Allah Subhanahu wa taala ingin agar manusia itu banyak melakukannya.
(09:17) Bukan hanya sedikit, tapi banyak melakukannya. Kalau 50 kali dan waktunya itu 24 jam, berarti dalam 1 jam lebih dari dua kali. dalam 1 jam lebih dari dua kali. Dan itu perintah wajib. Perintah wajib. Tapi karena Allah Subhanahu wa taala mengetahui bahwa umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah umat yang tenaganya lemah, maka Allah subhanahu wa taala memberikan keringanan yang sangat besar sekali.
(10:08) Hanya disisakan seper 10nya. hanya disisakan seperepnya, tapi pahalanya seperti 100%. Pahalanya seperti satu persatu. Padahal yang dilakukan hanya seperepnya. Dan ini merupakan rahmat yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa taala untuk umat ini. Termasuk di antara yang menunjukkan keistimewaan ibadah salat ini, Allah Subhanahu wa taala menjadikannya sebagai rukun Islam kedua.
(10:57) Setelah syahadatain. Setelah syahadatain yang dengan syahadatain itu seseorang masuk Islam. Kalau tidak ada syahadatain, maka seseorang belum masuk Islam. Setelah itu, rukun Islam yang paling penting adalah ibadah salat. Ini menunjukkan bahwa ibadah salat itu ibadah yang sangat istimewa sekali. Makanya ibadah salat ini juga dijadikan sebagai tiang agama Islam.
(11:42) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam sebuah sabdanya mengatakan, “Wa amuduhus sha.” Tiangnya Islam adalah ibadah apa? salat. Kalau agama Islam itu diibaratkan sebuah bangunan, maka tiang-tiangnya adalah Islam, adalah salat itu. Tiang-tiang bangunan agama Islam adalah salat itu. Kalau bangunan tanpa ada tiangnya, apakah bangunan itu bisa berdiri? Jawabannya tidak bisa.
(12:26) Harus ada tiangnya. Kalau tadinya ada bangunan kemudian tiangnya dihilangkan, apa yang terjadi? Roboh bangunan itu. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Aldulladzi bainana wainahumusakaha faqad kafar.” Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, adalah ibadah salat. Inilah pembeda antara kita dengan orang-orang di luar Islam.
(13:02) Maka barang siapa yang meninggalkan salat, dia telah terjatuh ke dalam kekufuran. Barang siapa meninggalkan salat, kata Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dia terjatuh ke dalam kekufuran. Para ulama memang berbeda pendapat tentang kadar meninggalkan salat ini. Apakah satu kali meninggalkan salat langsung dianggap kafir? Ataukah harus semua salat dia tinggalkan baru dianggap kafir? Syekh Muhammad ibn Salh Al-Utsimin mengambil pendapat yang kedua bahwa meninggalkan salat yang menjadikan seseorang keluar dari Islamnya adalah ketika dia meninggalkan semua salat.
(14:00) Karena dalam hadis ini disebutkan, faman tarakaha a faman tarakasah. Barang siapa yang meninggalkan salat dan di situ ada alif lamnya wa amuduhus shah tiangnya. Eh alahdulladzi bainana wa baina humusah. Ada alif lam dan alif lam itu menunjukkan makna umum. Maksudnya semua salat. Kalau seseorang meninggalkan semua salatnya, maka dia keluar dari Islamnya.
(14:41) Ini menunjukkan bahwa ibadah salat itu ibadah yang sangat inti dalam agama Islam. Dia menjadi tiang agama ketika tiang itu tidak ada. maka agama Islam seseorang menjadi hilang. Para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah, termasuk di antara keistimewaan ibadah salat yang akan kita bahas adalah bahwa dia termasuk amalan yang paling utama di dalam Islam.
(15:22) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah ditanya oleh sahabat Abdullah Ibn Mas’ud radhiallahu anhu tentang ayyul amali afdal? Amalan apakah yang paling mulia? Amalan apakah yang paling utama? Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Asalatu liwaqtiha.” Salat di awal waktunya. Ini menunjukkan keistimewaan dari ibadah salat.
(15:59) Dan termasuk di antara keistimewaan dari ibadah salat yang lainnya bahwa nantinya dia menjadi amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah subhanahu wa taala. Kalau salatnya baik, maka amalan yang lain menjadi baik. Kalau salatnya buruk, maka amalan yang lain juga akan menjadi buruk. Ketika salat menjadi amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba, maka ini menunjukkan bahwa ibadah salat ini menjadi penentu baik buruknya amalan ibadah yang lainnya. Para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah.
(16:43) Kita harus benar-benar memperhatikan salat kita. Karena ibadah-ibadah yang lain itu tidak akan dilihat kalau salatnya rusak. Ibadah-ibadah yang lain baru akan dilihat ketika salatnya bisa diterima. Tapi kalau salatnya tidak bisa diterima, salatnya buruk, maka ibadah-ibadah yang lain tidak akan dianggap oleh Allah Subhanahu wa taala.
(17:20) Maka perhatikanlah benar-benar ibadah salat kita. Kemudian para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah. Tema kita sangat penting untuk kita bahas karena berkaitan dengan khusyuk. Dan khusyuk di dalam salat itu merupakan bagian yang sangat inti. Jadi salat itu bagian yang sangat inti di dalam Islam. Dan dalam salat ini kita bahas khusyuknya. Dan khusyuk itu bagian yang sangat inti dalam salat kita.
(17:57) Khusyuk itu menjadi roh salat kita. Rohnya salat kita adalah kekhusyukannya. Makanya khusyuk dalam salat kita itu pengaruhnya sangat besar dari sisi pahalanya. Juga dari sisi kuatnya pengaruh salat kita terhadap pribadi kita. Orang kalau salatnya benar-benar khusyuk, maka pahala salatnya akan semakin besar.
(18:43) Semakin kuat khusyuknya, maka pahalanya semakin besar. Semakin tipis khusyuknya, semakin sedikit khusyuknya, maka pahala salatnya juga akan semakin semakin sedikit. Jangan dikira orang yang salat itu pahalanya sama. Kalau sama-sama salat empat rakaat, sama-sama salat fardu, maka ibadahnya maka pahalanya sama. Gak seperti itu ya.
(19:16) Pahala salat seseorang itu sangat dipengaruhi oleh kekhusyukannya. Di dalam hadis ya disebutkan innar rajul lansarifu a min shatih wama kutiba lahu illa usro shatih tusuuha tumunuha subuuha sudusuha khumusuha nisfuha. Sungguh ada orang yang selesai dari salatnya, akan tetapi tidaklah dicatat pahala baginya kecuali hanya seperep salatnya.
(20:17) Ada yang hanya mendapatkan 1/nya, 1/8nya, 1/7-nya, 1/6nya, seperlimanya, 1/4empatnya, sepertiganya, setengahnya. Kata para ulama, di antara yang mempengaruhi pahala salat yang paling besar adalah kekhusyukannya. Makanya sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, “Lais laka min shatik illa ma aqalta minha.
(20:59) ” Kamu itu tidak mendapatkan pahala dari salatmu kecuali bagian yang kamu sadar, bagian yang kamu khusyuk di dalamnya. kecuali bagian yang kamu ingat darinya. Maksudnya khusyuk ya yang ada khusyuknya itulah yang ada pahalanya yang besar. Makanya semakin banyak kadar khusyuknya maka semakin besar kadar pahalanya. Ini pengaruh khusyuk yang pertama untuk salat kita.
(21:41) Pengaruh khusyuk yang kedua ini bisa kita rasakan dalam diri kita, dalam kepribadian kita. Tadi dikatakan salat itu eh afwan khusyuk itu adalah rohnya salat kita. Kalau ada sesuatu tidak ada rohnya apa jadinya? mati. Ada jasad tidak ada rohnya. Mati dia. Kalau ada jasad, ada rohnya hidup.
(22:25) Ketika tidak ada rohnya, maka dia tidak akan bisa berpengaruh kepada yang lainnya. Orang mati dia enggak bisa mempengaruhi yang lain. Gak bisa nasihati, gak bisa memberikan rasa aman. Ya, yang ada malah apa? Takut ya. Orang-orang itu aneh ya. Kalau sama orang yang punya nyawa enggak takut ya. Tapi kalau sama orang yang tidak bernyawa kok malah takut. Ini aneh.
(22:59) Ini harusnya gak takut sama sekali orang yang tidak punya nyawa karena sudah enggak bisa bergerak. Ini kalau malah kalau orangnya sudah mati malah takut. Kalau orang kepada orang yang masih hidup malah enggak takut. Di rumahnya orang hidup enggak takut dia, tapi di rumahnya orang-orang yang mati itu malah takut.
(23:22) Siapa yang masih takut ke kuburan? Ya, ini aneh ini. Ini sebenarnya ee paradigma yang terbalik ya. Gimana kok bisa seperti itu? Itu kan orang mati semua. Harusnya enggak takut kita kepada orang yang masih hidup saja tidak takut. Ke rumahnya orang yang hidup enggak takut tapi ke rumahnya orang yang sudah mati kok malah takut.
(23:56) Tiba ingin menyampaikan ya, bahwa ketika salat itu tidak ada rohnya, maka dia tidak ada pengaruhnya terhadap diri seseorang. Berbeda ketika salat itu rohnya sangat kuat, maka pengaruhnya terhadap diri seseorang menjadi sangat kuat. Makanya jangan salahkan ayatnya. Innas shaha anil fahsya wal munkar. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Sesungguhnya salat itu bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar.
(24:42) ” Ustaz, nyatanya banyak manusia salat dia korupsi, salat dia berzina, salat dia mabuk-mabukan, salat dia pacaran dan seterusnya. Ini berarti ayatnya yang salah. Jawabannya bukan ayatnya yang salah, orangnya yang salah. Karena dia tidak bisa menghadirkan salat yang hidup. Kalau salat dia hidup ada rohnya dan rohnya kuat, maka salat bisa benar-benar menjadikan dia menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
(25:23) Makanya kita harusnya benar-benar menjadikan salat kita itu hidup. Hidup itu dengan khusyuk tadi. Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Innal insana khuliqa halu massahusarru jazua waidza massahul khairu manua illal musallin alladina hum ala shatihim daimun.” Sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan suka ngeluh. Manusia itu suka apa? Ngeluh. Halu.
(26:11) Haluk itu suka ngeluh. Apa-apa dikeluhkan oleh manusia. Itu sifat dasar manusia. Di antara sifat dasar manusia jahul. Jahul itu banyak. Jahilnya di antara sifat manusia zalum banyak zalimnya. Di antara sifat manusia kafur itu banyak ingkarnya. Ya, ada semuanya dalam ayat Al-Qur’an.
(26:46) Ini sifat-sifat dasar manusia yang tidak baik yang disebutkan di dalam ayat ini halu. Halu itu suka ngeluh. disebutkan, dijelaskan halu ini di ayat setelahnya. Idza massahul khairu eh idza massahus syarru jazua. Kalau dia ditimpa keburukan maka dia banyak ngeluh kepada orang. Waidza massahul khairu manua. Tapi kalau dia mendapatkan kebaikan, dapat rezeki banyak hartanya, manuaah.
(27:27) Dia menjadi orang yang suka nahan nahan pemberiannya. Dia tidak dermawan. Sudah banyak uangnya, kepengin lebih banyak lagi. Tetap tidak dermawan. Manusia itu memang punya sifat dasar seperti itu, cinta dunia. Tapi kata Allah Subhanahu wa taala, “Illal musallin.” Kecuali orang yang salat.
(28:07) Orang-orang yang benar-benar salat, dia akan dijauhkan dari dua sifat itu. Jadi, kalau dia ketimpa musibah, tidak banyak ngeluh kepada manusia. Kalau dia punya harta yang banyak, maka dia akan menjadi dermawan. Illal musallin. Kecuali mereka yang salat. Apakah hanya salat saja? Gak. Salat yang berkualitas. Alladzina hum ala shatihim daimun. Yaitu mereka yang salatnya khusyuk.
(28:49) Yaitu mereka yang salatnya khusyuk. Orang-orang yang salatnya berkualitas. maka salat tersebut bisa mempengaruhi kepribadian dia. Dia menjadi orang yang bertakwa, orang yang takut melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, kemungkaran-kemungkaran. Dia kebaikannya juga akan semakin kuat. Dia menjadi orang yang kalau punya uang dia menjadi dermawan.
(29:24) Gak pelit. dilapangkan hartanya gak pelit dia. Kemudian jiwanya juga menjadi kuat. Ada musibah musibah menimpa gak masalah bagi dia karena jiwanya kuat. Dia kuat menghadapi ujian-ujian hidupnya. Makanya dulu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika ditimpa sesuatu yang mengganggu pikiran beliau, ujian-ujian dari Allah Subhanahu wa taala, selalu yang beliau lakukan adalah salat.
(30:04) Selalu yang beliau lakukan adalah salat. Menghadap Allah subhanahu wa taala. Jadi mengeluhnya bukan kepada FB, enggak ngeluh di IG, enggak ngeluh di TikTok, enggak ngeluh di media-media sosial, gak. Dia ngeluhnya di salat dia. Dia ngeluhnya di sujud-sujud dia. Ngeluhnya kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan hanya Allah yang mampu mengangkat ujian-ujian yang menimpa dia.
(30:51) Orang yang salat, para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah, jiwanya akan menjadi kuat. Makanya para jemaah sekalian rahimani rahimakumullah kalau kita lihat ya orang-orang yang kepribadiannya kuat itu mereka dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Para ulama mereka kepribadinya kuat-kuat karena mereka memang setiap malam bermunajat kepada Allah subhanahu wa taala.
(31:26) Mendekat kepada Allah subhanahu wa taala. berdoa kepada Allah. Makanya mereka jiwanya menjadi kuat. Orang-orang tidak mampu menghadapi ujian-ujian yang menimpa. Mereka banyak menjerit. Ulama-ulama masih tetap kuah. Kalau kita lihat di atasnya mereka para nabi, mereka adalah orang-orang yang paling teguh hatinya. Di saat umatnya itu sudah merasa khawatir yang sangat luar biasa, para nabi masih tenang.
(32:08) Ya, Nabi Musa ketika umatnya sudah sangat khawatir nanti mereka ketangkap oleh bala tentara Firaun. Falamma taroal jam’an qala ashabu Musa inna lamudraquun. Ketika dua kelompok ini sudah saling melihat, jadi kelompoknya Nabi Musa, para sahabatnya Nabi Musa sudah melihat kelompoknya Firaun.
(32:43) Bala tentara Firaun yang sangat banyak itu dilihat oleh sahabatnya Nabi Musa menunjukkan apa? Jarak mereka sudah dekat. Makanya sahabat-sahabatnya Nabi Musa mengatakan, “Inna lamudrakun.” Sungguh kita akan disusul oleh mereka. Kita akan ditangkap semuanya. Kita akan dibunuh semuanya. Nabi Musa tenang.
(33:17) Nabi Musa mengatakan ini ya belum ada wahyu kalau Nabi Musa nanti akan bisa menjadikan laut itu terbelah. Nabi Musa sudah mengatakan kalla inna mabi sayah. Tidak akan terjadi yang seperti itu. Sungguh bersamaku ada Rabbku dan dia akan memberikan petunjuk kepadaku. Ini kekuatan seorang nabi ya. Kekuatan hati, keteguhan hati seorang nabi karena dia sangat dekat dengan Allah Subhanahu wa taala.
(33:57) Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika berada di gua Tsur ketika dikejar-kejar oleh orang-orang kafir Quraisy ketika akan berhijrah ke Kota Madinah, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam berhenti dulu, sembunyi dulu. di Gua Ths bersama siapa? Sahabat Abu Bakar. Orang Quraisy. Sebagian dari mereka sudah sampai di mulut gua. Mereka tinggal melihat ke bawah sedikit.
(34:43) Mereka akan melihat kaki Nabi sallallahu alaihi wasallam bersama sahabat Abu Bakar radhiallahu anhu. Sahabat Abu Bakar sudah sangat khawatir akan ditangkap oleh orang-orang kafir Quraisy. Tapi apa kata Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Wahai Abu Bakar, apa pendapat apa pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah orang ketiganya? Apa pendapatmu terhadap dua orang yang ditemani oleh Allah subhanahu wa taala?” Allah orang ketiganya.
(35:33) Ini keyakinan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang sangat kuat. Keteguhan hati Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang sangat luar biasa karena dekatnya beliau dengan Allah Subhanahu wa taala. Orang yang salat juga seperti itu. Semakin banyak orang salat, semakin kuat salatnya, maka semakin dekat dia dengan Allah Subhanahu wa taala.
(36:04) Karena sebenarnya orang yang salat itu dia benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa taala. Orang yang salat itu dia benar-benar bermunajat kepada Allah Subhanahu wa taala. Munajat artinya apa? Berbisik-bisik dengan Allah, berdialog khusus dengan Allah. Itulah arti munajat dalam bahasa Arab. berbisik-bisik dan bisik-bisik itu tidak akan dilakukan oleh seseorang kecuali yang dibisiki itu dekat.
(36:39) Ketika dikatakan bahwa orang yang salat itu berbisik-bisik dengan Allah, maka ini menunjukkan bahwa orang yang salat itu benar-benar dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Ya, benar-benar diperhatikan oleh Allah subhanahu wa taala. Para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah. Orang yang khusyuk dalam salatnya, dia akan menjadi orang yang benar-benar beruntung.
(37:18) Dia akan menjadi orang yang benar-benar selamat. benar-benar menang dengan surga Allah Subhanahu wa taala. Allah sebutkan itu dalam surat Almukminun di awalnya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Qad aflahal mukminun alladzina hum fi shatihim khasiyiun. Sungguh beruntung, sungguh selamat, sungguh menang. Kaum mukminin, aflah bisa diartikan beruntung, bisa diartikan selamat, bisa diartikan menang. Kaum mukminin itu benar-benar menang. Kaum mukminin itu benar-benar beruntung.
(38:05) Kaum mukminin itu benar-benar selamat. Tapi apakah setiap mukmin seperti itu? Jawabannya tidak. Mereka yang selamat, mereka yang menang, mereka yang beruntung adalah yang punya sifat alladzina hum fi shatihim khasyiun. Mereka yang salatnya khusyuk. Mereka yang salatnya khusyuk. Jadi kekhusyukan dalam salat itu sangat besar pengaruhnya terhadap diri kita, terhadap kebaikan kita, baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Maka carilah khusyuk dalam salat kita.
(38:59) Berusahalah untuk khusyuk dalam salat kita. Bagaimana caranya kita mendapatkan khusyuk? Inilah tema ya, inti dari tema kajian kita pada kesempatan kali ini. Bagaimana kita bisa menggapai khusyuk dalam salat ini. Yang pertama, para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah. Agar kita bisa khusyuk dalam salat, mintalah kepada Allah Subhanahu wa taala hati yang khusyuk.
(39:34) Mintalah kepada Allah Subhanahu wa taala hati yang khusyuk. Dan ini telah dituntunkan, diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Di antara doa yang beliau panjatkan adalah doa Allahumma inni as’aluka ilman nafi’ waqalban khasiah waisanan dzakir ini doa salah satu doa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(40:15) Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan lisan yang selalu berzikir. Doa ini doa yang sangat penting untuk kita karena menjadi sebab banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Ilman nafiah. Ilmu yang bermanfaat ini sangat besar maslahatnya untuk kita. Ilmu kalau bermanfaat dia menjadikan orangnya semangat dalam melakukan ilmu itu.
(41:01) Semangat menerapkannya dan semangat mengajarkannya kepada orang lain. Jadi di dirinya dia mendapatkan manfaat yang banyak dari ilmunya. Orang lain juga mendapatkan banyak manfaat dari ilmunya. Ini kalau ilmu bermanfaat, itulah pintu kebaikan yang sangat besar. Dengan ilmu akhirnya kita mengetahui mana pintu-pintu kebaikan, mana amal-amal yang sesuai dengan tuntunan dengan ilmu juga akhirnya kita bisa memberikan kepada orang lain ya ilmu tersebut.
(41:39) waqalban khasiah. Ini juga sesuatu yang sangat besar pengaruhnya, sangat banyak manfaatnya untuk manusia. Hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk. Hati yang tunduk. Hati yang fokus kepada Allah Subhanahu wa taala. Walisanan dzakiro. Lisan yang selalu berzikir. Ini juga luar biasa ya.
(42:13) Ketika lisan kita selalu berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala maka akan banyak sekali pahala-pahala yang kita dapatkan. Kelihatannya kita duduk tapi kita mendapatkan pahala dari geraknya lisan kita. Dan ini amalan yang sangat istimewa ya. Membasahi lisan dengan zikir kepada Allah subhanahu wa taala itu amalan yang sangat istimewa sekali. Pernah ada seorang sahabat datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan dia bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, aku melihat syariat Islam kok banyak sekali.
(43:00) Maka kabarkan kepadaku, tunjukkan kepadaku satu amalan yang aku bisa terus melakukannya yang aku bisa jadikan sebagai pegangan dalam amalanku. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan kepada sahabat ini, la yazalu lisanuka ratban minikrillahi azza waalla. Lisanmu basahi terus dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala.
(43:36) Kalau kita ingin mendapatkan amalan ini dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan amalan selalu berzikir ini, maka berdoalah dengan doa ini. Allahumma inni as’aluka ilman nafi’a waqalban khasia’ waisanan dzakirah. Kemudian doa yang kedua dari Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk hati yang khusyuk adalah Allahumma inni audzubika min ilmin la yanfa’ wamin qalbin la yaksya’ wamin ainin la tadma wamin da’watin la tusma.
(44:20) Kalau tadi minta hati yang khusyuk, kalau ini minta Allah lindungi dari hati yang tidak khusyuk. Allahumma inni azubika min ilmin la yanfa. Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak ber manfaat. Kalau tadi minta ilmu yang bermanfaat, kalau ini minta perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Waminqbin la yaksya.
(44:54) Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk. Kalau tadi minta hati yang khusyuk, kalau ini minta perlindungan dari hati yang tidak khusyuk. Kemudian wamin ainin la tadma. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang tidak menangis, dari mata yang tidak menangis, tidak mengeluarkan air mata.
(45:29) Ini menunjukkan kerasnya hati. Orang yang sulit menangis karena Allah subhanahu wa taala itu menunjukkan apa? hatinya keras. Ya, maksudnya di sini kita meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa taala dari hati yang keras yang menjadikan mata tidak bisa menangis. Wamin da’watin la tusma. Ya Allah, aku minta perlindungan kepadamu dari doa yang tidak diijabahi, tidak didengar. tidak diperkenankan.
(46:13) Minta kita minta kepada Allah agar Allah selalu mengabulkan doa-doa kita. Ya, ini dua doa yang bisa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa taala agar kita diberikan hati yang khusyuk. Para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah. Sebelum kita teruskan lagi, mungkin kita perlu ya menyinggung apa yang dimaksud dengan khusyuk dalam salat.
(46:45) Ini belum kita bahas. Padahal kita sudah ee menyebutkan khusyuk dalam kajian ini beberapa kali ya. Tib. Apa yang dimaksud dengan khusyuk dalam salat? Khusyuk dalam salat itu, para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah adalah fokus dan tenangnya hati dalam menjalankan salat. Fokus dan tenangnya hati dalam menjalankan salat yang disertai dengan rasa tunduk dan merendah kepada Allah subhanahu wa taala. Inilah yang kita maksud dengan khusyuk dalam kajian kita.
(47:28) Saya ulangi, khusyuk dalam salat adalah fokus dan tenangnya hati dalam menjalankan salat yang disertai dengan rasa tunduk dan merendah kepada Allah subhanahu wa taala. Bagaimana kita mendapatkan kekhusyukan dalam salat ini? Yang pertama tadi kita harus banyak meminta kepada Allah Subhanahu wa taala agar Allah memberikan kepada kita hati yang khusyuk.
(48:01) Yang kedua yang bisa kita usahakan untuk mendapatkan salat yang khusyuk adalah berusaha untuk merasa selalu dilihat oleh Allah Subhanahu wa taala. Kita harus menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dilihat oleh Allah. Atau kalau bisa lebih baik lagi kita sedang melihat Allah. Seakan-akan kita sedang melihat Allah Subhanahu wa taala.
(48:47) Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Abdullah ibn Umar radhiallahu anhuma. Beliau mengatakan, “Akhada Rasulullahi shallallahu alaihi wasallam biba’di jasadi faqal u’budullah kaaka tarah.” Suatu ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengambil bagian dari badanku. Maksudnya mungkin menggandengnya.
(49:27) Kemudian beliau mengatakan, “Beribadahlah engkau kepada Allah Subhanahu wa taala seakan-akan engkau melihatnya.” seakan-akan engkau melihatnya. Ustaz, maksudnya seakan-akan engkau melihatnya itu bagaimana? Kalau engkau melihat Allah, bagaimana engkau beribadah? Itulah maksudnya. Kalau Allah bisa engkau lihat dan ada di hadapanmu, maka bagaimana engkau beribadah? Hadis ini bukan mengajak kita untuk membayangkan Allah. Gak.
(50:06) Karena kita tidak bisa membayangkan Allah Subhanahu wa taala. Tapi hadis ini mengajak kita untuk beribadah sekyuk mungkin, sebaik mungkin sebagaimana ketika Allah bisa kita lihat dan ada di depan kita. Itu maksudnya. A’budullah kaannaka tarah. Beribadahlah engkau kepada Allah Subhanahu wa taala seakan-akan engkau melihatnya. Kalau misalnya kita bisa melihat Allah Subhanahu wa taala, Allah di depan kita ya kita sadar Allah melihat kita, kita bagaimana akan beribadah kepadanya? Kita akan beribadah dengan sebaik-baiknya. Kita akan beribadah dengan sekhusyuk-husyuknya.
(50:57) Dan itulah yang diinginkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam hadis beliau ini. Ada juga ya hadis berkaitan dengan al-ihsan. Ketika Jibril ya bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang ihsan. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menjawab bahwa ihsan adalah an ta’budallah kaannaka tarah.
(51:28) Faillam takun tarah fainnahu yarak. Beribadahlah engkau ee dengan engkau beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala seakan-akan engkau melihatnya. Apabila engkau tidak melihatnya, maka sungguh dia melihatmu. Tingkatan yang pertama, tingkatan yang paling tinggi. Seakan-akan kita melihat Allah Subhanahu wa taala itu tingkatan yang paling tinggi.
(52:02) Kalau tidak bisa seperti itu, maka sadarlah bahwa Allah Subhanahu wa taala itu melihat. Kalau kita bisa merasa selalu diawasi oleh Allah, selalu dilihat oleh Allah subhanahu wa taala, maka kita bisa benar-benar menjalankan ibadah dengan kualitas yang sangat tinggi. Bayangkan kalau kita merasa dilihat oleh Allah ketika salat kita dan Allah melihat hati kita bagaimana, Allah melihat gerakan kita bagaimana, tentunya kita akan benar-benar membaguskan salat kita.
(52:47) Kalau misalnya ada anak kecil, ya, ada anak kecil kita minta kepada dia, “Ayo kamu salat, nanti saya lihat, ya. Kalau salatmu bagus, maka kamu tak kasih Rp100.000.” Anak kecil merasa diawasi oleh kita. Apa yang dilakukan oleh anak kecil ini? dia akan salat dengan sebaik-baiknya karena dia merasa diawasi oleh kita yang akan memberikan kebaikan kepada dia.
(53:30) Walaupun ya ini sebenarnya kurang baik ya, tapi sebenarnya ibadah kita dengan Allah hampir sama dengan ini. Kita kan salat itu kepengin mendapatkan apa? Pahala. Kita salat itu kepengin mendapatkan pahala, kepengin mendapatkan rida Allah, kepengin mendapatkan cinta Allah subhanahu wa taala.
(54:01) Dan kita tahu bahwa ketika salat kita dilihat oleh Allah Subhanahu wa taala baik, maka kita akan mendapatkan kecintaan dari Allah. Kita akan mendapatkan rida Allah yang sangat tinggi dan kita akan mendapatkan pahala yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita ingat sisi ini bahwa Allah selalu mengawasi kita, bahwa Allah selalu melihat gerak-gerik kita, hati kita, maka kita akan berusaha untuk menjadikan salat kita itu salat yang paling baik. Makanya hadirkan kesadaran itu.
(54:39) Hadirkan kesadaran bahwa kita selalu dilihat oleh Allah Subhanahu wa taala. Kemudian yang berikutnya, yang ketiga, agar kita bisa mendapatkan khusyuk dalam salat kita, maka salatlah seakan-akan itu salat terakhir kita. Ingatlah bahwa bisa jadi salat yang kita lakukan itu adalah kesempatan terakhir yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk salat.
(55:27) Bisa jadi salat yang kita lakukan itu adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita untuk salat. Salatlah seakan-akan itu adalah salat terakhir kita. Dan ini sudah diwasiatkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dari sahabat Abu Ayyub radhiallahu anhu. Beliau mengatakan, “Ja rajulun ilan Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(56:04) ” Pernah ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Faqala, “Ya Rasulullah alimni wa ajis.” Orang itu mengatakan, “Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, ajarkan kepada aku ilmu, tapi ringkas saja jangan panjang-panjang. Karena kalau ilmu itu panjang akan banyak yang hilang.” Ya, seperti kajian seperti ini ya, 1,5 jam, 1 jam ya.
(56:37) Nanti yang tersisa mungkin 1 menit. Kajiannya kepanjangan, Ustaz. Iya. Enggak ada pilihan lain? Kalau hanya 5 menit nanti panitianya yang kecewa. Hanya kultum antum sudah jauh-jauh datang ke sini. Kalau kajiannya tidak panjang, maka ya sangat disayangkan sahabat ini mengatakan, “Ya Rasulullah, ajarkan kepada aku ilmu, tapi jangan panjang-panjang. Aujis yang ringkas saja.
(57:17) ” Apa kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Beliau menyabdakan, beliau berpesan, beliau berwasiat, “Qumta fi shatik fasolli shat muwadd.” Apabila engkau berdiri dalam salatmu, maksudnya apabila engkau mendirikan salat, maka salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah dengan dunia. Salatlah. seperti salatnya orang yang akan berpisah dengan dunia.
(57:55) Coba antum bayangkan ya, kalau misalnya ada orang divonis mati, divonis qisos, dikatakan kepada dia, “Kamu nanti jam 10.00 akan dikisos.” Dan kalau sudah dikisas itu gak ada kemungkinan masih bisa hidup. Ya sudah. Kalau kisas hukuman mati ini jam 10. Akan dikisas. Jam 10 kurang seperempat dia dikasih kesempatan untuk salat. Sekarang kamu salat dulu.
(58:30) Nanti setelah salat kita akan tegakkan hukum qisas kepadamu. Apa yang akan dilakukan oleh orang ini dalam salatnya? dia akan salat sebaik mungkin karena dia sadar bahwa itu adalah salat terakhir dalam kehidupan dia. Dan bisa jadi salat yang akan kita lakukan demikian. Hanya saja yang mencabut nyawa kita langsung Allah Subhanahu wa taala.
(59:08) Maksudnya tidak kita tidak dikisas tapi dicabut nyawa kita. Bisa jadi seperti itu kan tidak ada yang menjamin umur kita bisa lebih lama dari 1 jam yang akan datang, bisa lebih lama dari setengah jam yang akan datang, bahkan bisa lebih lama dari 5 menit, bahkan lebih kurang dari itu. Gak ada yang menjamin umur kita.
(59:36) Maka ketika kita salat ya ingatlah pesan Rasulullah ini. Sholli shat muwaddin. Salatlah engkau seperti salatnya orang yang akan berpisah dengan dunia agar kita benar-benar menjaga kualitas salat kita. Yang berikutnya yang keempat agar kita bisa menjaga kekhusyukan salat kita. Renungi bacaan ee renungi makna takbir setiap kita membacanya. Renungi takbir-takbir dalam salat kita.
(1:00:40) Kalau kita membaca takbir, maka jangan hanya di lisan saja, tapi resapi. Sehingga takbir tersebut benar-benar ada dalam hati kita. Apa lafal takbir itu? Allahu Akbar. Apa arti Allahu Akbar? Allah Maha Besar. Allah yang paling besar. Tidak ada yang lebih besar daripada Allah Subhanahu wa taala. Itulah artinya kalau kita selalu meresapi makna setiap takbir yang kita baca dalam salat kita, maka kita akan mudah untuk khusyuk dalam salat kita.
(1:01:31) Karena di setiap takbir itu terselip pesan agar kita itu fokus dengan Allah agar kita itu bisa benar-benar konsentrasi dengan Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena Allah maha besar. Yang lainnya itu jauh lebih kecil daripada Allah Subhanahu wa taala. Masalah dunia sangat kecil.
(1:02:09) Masalah bisnis apabila dibandingkan dengan Allah tidak ada apa-apanya. Masalah rumah tangga apabila dibandingkan dengan Allah Subhanahu wa taala tidak ada apa-apanya. Allah paling besar. Allah maha besar. Maka ini pesan yang Allah selipkan untuk kita dalam takbir ini agar kita itu benar-benar fokus kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita sedang menghadap Allah dan Allah itu maha besar.
(1:02:44) Kita sedang menghadap Allah dan Allah itu paling besar. Maka harusnya kita fokus kepada Allah Subhanahu wa taala. Harusnya kita benar-benar konsentrasi dengan Allah Subhanahu wa taala. Ketika kita salat, kita sebenarnya benar-benar menghadap kepada Allah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam sebuah sabdanya mengatakan, “Inna ahadakum idza kaana fisah fainnallaha qibala wajhih.
(1:03:39) ” Sesungguhnya salah seorang dari kalian ketika dalam salatnya maka Allah Subhanahu wa taala sungguh berada di hadapannya. Sungguh Allah Subhanahu wa taala itu di hadapannya. Kibala wajhi di depan wajahnya. Maksudnya di hadapannya. Ini menunjukkan bahwa orang yang salat itu benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa taala dan Allah mengingatkan kepada dia bahwa Allah itu maha besar. Allahu Akbar.
(1:04:19) Ketika rukuk Allahu Akbar ketika sujud Allah akbar. Duduk di antara dua sujud, Allahu Akbar. Subhanallah. Ini rahmat dari Allah Subhanahu wa taala ya. kepada kita. Coba bayangkan kalau bacaan tak bacaan intiqal ya zikir untuk intiqal ini berpindah dari satu gerakan ke gerakan yang lainnya dalam salat itu tidak mengingatkan kita kepada Allah. Maka betapa sulitnya kita khusyuk.
(1:04:52) Banyaknya takbir ini akan menjadikan kita mudah untuk khusyuk. Karena kita selalu diingatkan dengan takbir kita. bergerak Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Gak ada yang lebih besar daripada Allah. Gak ada yang lebih penting daripada Allah Subhanahu wa taala. Ini yang harusnya kita fokuskan diri kepadanya.
(1:05:17) Ini yang harusnya kita khusyuk kepadanya. Ini rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah. Setelah takbir ini berarti yang kelima, renungi bacaan di dalam salat kita. Kalau kita ingin bisa khusyuk dalam salat kita, kita harus merenungi bacaan dalam salat kita. Dan perenungan ini akan sulit dilakukan oleh seseorang ketika dia tidak paham apa yang dia baca.
(1:06:15) Kalau takbir tadi mudah ya, Allahu Akbar cuma diulang-ulang. Jadi kita sudah hafal Allahu Akbar itu Allah Maha Besar, Allah paling besar, paling penting. Ya, Allah paling agung. Itu yang harus kita fokus kepadanya. Ini orang-orang awam mudah, tapi yang ini lebih sulit. merenungi bacaan-bacaan salat kita.
(1:06:47) Tapi sebenarnya tidak tidak sulit-sulit amat. Sebenarnya masih mudah. Hanya saja banyak dari kaum muslimin yang malas tidak perhatian kepada salatnya. Makanya ana sering sampaikan ya kepada para jemaah ya. Kalau kita belum tahu makna bacaan-bacaan salat kita, maka malulah kepada Allah subhanahu wa taala. Malulah kepada Allah.
(1:07:27) Bacaan salat kita itu banyak atau sedikit? Sedikit, para jemaah. Coba takbiratul ihram, Allahu Akbar. Antum sudah tahu? Setelah itu doa iftitah. Allahu Akbar kabira walhamdulillahi katsir wubhanallahi bukrata wa asilah. Ini yang paling ringan. Atau misalnya subhanakallahumma wabihamdik wa tabarakmuka wa taala jadduk wala ilaha ghairuk. Ini juga ringkas.
(1:08:07) Atau misalnya Allahumma baid baini wain kaya kama bainal masriqi wal magrib. Allahumma naqini minun walaya kama yun abyadu minadanas dan seterusnya. Ini doa istiftah. Kemudian setelah itu al-fatihah. Setelah al-fatihah doa rukuk subhana rabbiyal adzim. Setelah itu doa i’tidal atau zikir ik’tal. Rabbana wakal hamd mil asamawati wail al ardhi wamil am minaiin ba’du.
(1:08:45) Kemudian setelah itu doa atau zikir sujud subhana rabbiyal a’la. Kemudian setelah itu doa di antara dua sujud. Rabbighfirli rabbigfirli atau rabbighfirli warhamni wajburni warfani wahdini waafini warzuqni. Setelah itu tasyahud ya. Attahiyatu lillah wasalawat wat thayibat. Asalamualaika ayyuhan nabiy warahmatullahi wabarakatuh. Asalamu alaina wa ala ibadillahi shihin. Ashadu alla ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(1:09:17) Setelah itu selawat untuk nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Selawat Ibrahimiyah. Allahumma sholli ala Muhammadin wa ala ali Muhammad kama shaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidum majid. Muhammadin waa ali Muhammad Ibrahim Ibrahim inaka hamid majid. Setelah itu salam. Asalamualaikum warahmatullah. Asalamualaikum warahmatullah. Sudah selesai.
(1:09:45) Itu kalau antum kumpulkan dalam kertas paling hanya satu halaman, satu halaman. Ngfalkan satu halaman sulit atau mudah? Mudah. Mudah. Banyak orang-orang awam dari kaum muslimin itu hafal lagu sampai 10 lagu, sampai 30 lagu. Hafal teksnya itu, hafal liriknya, hafal. Itu jauh lebih banyak dari bacaan salat. Jauh lebih banyak dari bacaan salat.
(1:10:32) Sehingga harusnya setiap kaum muslimin itu hafal terjemahan dari bacaan salat dia dari awal sampai akhir. Ini manfaatnya sangat besar sekali. Kalau antum tidak paham apa yang antum baca di dalam salat, akan sangat sulit mendapatkan khusyuknya salat itu. Antum mikirkan apa? Terus kalau antum tidak bisa merenungi bacaan salat antum, yang antum pikirkan apa? Makanya para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah, malulah kepada Allah subhanahu wa taala ketika belum hafal terjemahan dari bacaan-bacaan di dalam salat kita.
(1:11:18) Kita harus punya usaha untuk mengetahui makna dan kandungan dari bacaan-bacaan salat kita. Antum salat sudah berapa ribu kali dalam hidup ini? Masa dari dulu sampai sekarang enggak tahu apa yang dibaca? Mana perhatian kita terhadap rukun Islam yang kedua ini? Mana perhatian kita? terhadap syariat salat yang diistimewakan oleh Allah Subhanahu wa taala.
(1:11:57) Ini dari dulu sampai sekarang enggak hafal terjemahan dari bacaan salat kita. Banyak dari kaum muslimin yang sudah tidak mau belajar bahasa Arab. Makanya mereka tidak paham bacaan-bacaan dalam salatnya. Ditambah lagi untuk menghafal terjemahan bacaan salat pun tidak mau. Ini keterlaluan. Belajar bahasa Arab susah. Iya sudahlah enggak usah belajar bahasa Arab kalau susah. Karena memang waktu untuk belajar agama sedikit.
(1:12:31) Karena memang ada tuntutan untuk bekerja. Tapi untuk menghafalkan terjemahan ini sangat mudah. Kalau antum sudah hafal terjemahan dari bacaan salat antum itu subhanallah manfaatnya sangat besar. Ketika antum mengatakan alhamdulillahi rabbil alamin. Antum paham apa maksudnya. Ketika antum paham apa maksudnya antum bisa renungi itu.
(1:13:00) Sehingga ketika antum mengatakan alhamdulillahi rabbil alamin itu benar-benar meresap di hati arrahmanirrahim. Antum paham artinya bisa benar-benar meresap di hati antum. Maliki yaumiddin. Ada pengagungan Allah Subhanahu wa taala ya. Ada pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa taala. Iyaka na’budu wa iyaka nasta’in.
(1:13:25) Ya, antum tahu ya bahwa kita itu sangat butuh dengan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala ya. Dan hanya kepadanya kita meminta pertolongan dan beribadah. Ihdinasiratal mustaqimatalladina anamta alaihim ghairil magdubi alaihim. Kita tahu apa yang kita minta. Yang kita minta kepada Allah adalah hidayah yang lurus, petunjuk yang lurus, jalan hidup yang lurus.
(1:13:51) Yaitu jalannya orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa taala. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Bukan jalannya orang-orang yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Ketika kita tahu makna dari al-Fatihah, maka kita bisa khusyuk ketika membaca Al-Fatihah.
(1:14:21) Ketika antum rukuk misalnya dan antum renungi makna subhana rabbiyal adzim, antum akan mudah khusyuk. Maha suci Allah yang maha agung. Jadi antum bisa merasakan bahwa ketika antum rukuk itu benar-benar mengagungkan Allah. Antum benar-benar tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, badan antum tunduk, kemudian mulut antum berikrar bahwa Allah itu maha agung.
(1:14:56) Nah, ini bisa menjadikan kita benar-benar khusyuk dan merenungi salat kita ketika sujud. Iya. Antum benar-benar merendahkan Allah meletakkan bagian yang paling mulia dari badan antum ke tempat yang paling rendah. Bahkan lebih rendah dari, mohon maaf pantat antum. Pantat antum jadi lebih tinggi dari bagian yang paling mulia dari badan antum yaitu dahi.
(1:15:30) Dan ketika itu antum membaca subhana rabbiyal a’la. Maha suci Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi. Karena Allah maha tinggi maka kita merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapannya. Ini kalau kita renungkan ya bacaan-bacaan dalam setiap salat kita ya dalam setiap gerakan salat kita maka kita bisa benar-benar khusyuk. Mudah untuk khusyuknya.
(1:16:01) Kalau antum enggak tahu ya arti subhana rabbiyal alam ya gimana antum bisa khusyuk. Tasyahud yang agak panjang. Kalau antum enggak tahu maknanya ya repot ya untuk dituntut khusyuk itu repot. Antum bayangkan ke mana-mana nantinya. Seringkiali ya kita ketika tidak khusyuk dalam salat ya karena tidak tahu makna dari bacaan-bacaan itu. Akhirnya kita terpaksa membayangkan yang lain.
(1:16:36) Kita terpaksa membayangkan yang yang lain. Sampai ada orang awam itu yang mengatakan, “Saya itu, Ustaz, kalau salat yang tak bayangkan itu Ka’bah, Ustaz.” Karena kalau ana melihat Ka’bah itu bisa fokus. Makanya kalau saya salat di Indonesia yang tak bayangkan di hadapan ana Ka’bah. Ini enggak ada tuntunannya seperti itu.
(1:17:02) Tapi kenapa dia mencari cara seperti itu? Karena dia tidak paham bacaan-bacaan itu sehingga dia tidak bisa merenung. Gak bisa fokus, gak bisa konsentrasi. Makanya langkah awal untuk kita bisa merenungi bacaan-bacaan dalam salat kita adalah menghafal terjemahannya. Dan ana sedang menyampaikan ini kepada orang-orang yang memang belum paham bahasa Arab.
(1:17:31) Kalau antum sudah paham bahasa Arab, enggak usah ngfalin. Sudah tahu semuanya. Tapi belajar bahasa Arab itu lama. Kalau antum paham bahasa Arab, bahkan antum bisa merenungi dalamnya makna bacaan-bacaan itu. Tapi itu lama untuk orang awam akan susah. Yang paling mudah bagi orang awam adalah menghafalkan terjemahannya. Hafalkan terjemahan setiap bacaan-bacaan itu. Setorkan kepada teman kita.
(1:18:02) Iya. Ini taawun dalam kebaikan dan ketakwaan. Coba tulis semua bacaan dalam salat. Kemudian tulis di sampingnya terjemahan. Kemudian setelah itu hafalkan. Setelah hafal coba storkan ke teman. Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala Rabb semesta alam.
(1:18:29) Arrahmanirrahim yang maha pengasih lagi maha penyayang. Maliki yaumiddin yang menjadi raja pada hari kiamat nanti. Iyaka na’budu wa iyaka nastain. Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Ihdinasiratal mustaqim. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus siratadzina anamta alaihim. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan kenikmatan kepada mereka.
(1:18:59) giril magdubi alaihim waladin. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan jalannya orang-orang yang tersesat. Ini sangat mudah ya. Setorkan itu hafalan kita kepada teman kita. Kemudian setelah itu praktikkan dalam salat kita. Ketika kita membaca alhamdulillahi rabbil alamin kita benar-benar paham artinya.
(1:19:24) Ini akan mengantarkan kita kepada kekhusyukan. Kalau ada yang bertanya, “Ustadz, ana punya teman, dia sudah paham bahasa Arab, tapi salatnya enggak khusyuk, Ustaz. Salatnya enggak khusyuk. Sehingga pengetahuan seseorang terhadap makna bacaannya tidak otomatis menjadikan dia khusyuk.” Maka jawabannya sudah seperti itu saja masih susah khusyuk.
(1:19:57) Apalagi? Apalagi enggak punya modal sama sekali. Memang orang-orang yang sudah paham bahasa Arab bisa jadi enggak khusyuk. Karena memang setan juga masih terus berusaha keras untuk merusak dan mengurangi kualitas salat seseorang. Itu yang sudah paham bahasa Arab. yang sudah hafal artinya juga seperti itu.
(1:20:28) Nanti masih harus berjuang untuk melawan godaan-godaan setan dalam salatnya. Subhanallah ya. Setan itu seringki menggoda kita dengan sesuatu yang berharga yang menurut kita berharga agar salat kita itu benar-benar sedikit pahalanya. sampai seperti itu. Makanya jangan heran ya, ketika setan, ketika iblis itu memberikan ee atau menentukan pasukan-pasukan khusus untuk merusak salat seseorang.
(1:21:11) Apa nama setan yang bertugas khusus untuk merusak salat seseorang? Hah? Khinzib. Jadi ada pasukan khusus agar salat seseorang itu tidak khusyuk. Ada ada pasukan khusus ini menunjukkan bahwa pasukan ini benar-benar berpengalaman. dia takhasusnya di situ. Keahliannya dalam menggoda orang dalam salatnya. Ya, jangan heran kalau misalnya kita sering ingat sesuatu dalam salat kita.
(1:21:59) Sebelum salat kita lupa kunci tak taruh di mana ya. Di dalam salat ingat kita. Oh, iya. kuncinya di sana ini ya kerjaan khinzib ini dia diingatkan agar apa? Agar konsentrasinya buyar. Yang punya masalah dalam bisnis sebelum salat sulit dia cari masukan, cari insight, cari ee ide dalam bisnisnya. Akhirnya ketika salat setan menggoda dia. Ada ide seperti inilah.
(1:22:40) Ini ide yang bagus ini dalam bisnismu. Kamu kalau melakukan yang seperti ini, keuntunganmu akan luar biasa. Ini menurut orang tersebut sangat berharga. Benar tidak? Iya. Dia cari-cari itu di luar salat enggak dapat. di dalam salat dia enggak berpikir itu dikasih sama setan agar apa? agar salatnya buyar, agar dia selalu melalang buana ke dunia lain.
(1:23:13) Ya, ini kerjaan setan yang penuntut ilmu juga sering mengalami seperti ini. Dia belajar ilmu agama ya kemudian mendapati ada masalah yang tidak dia pahami dalam ilmu agama itu. Kenapa kok bisa seperti ini? Salat dikasih sama setan jawabannya. Iya. Ilmu agama dikasih sama setan. Untuk apa? Biar salatnya rusak.
(1:23:47) Ya, maksudnya rusak ini maksudnya pahalanya banyak hilangnya. Biar khusyuknya rusak. Ini setan seringki seperti itu. Bahkan ya ini lebih aneh lagi ya, orang-orang yang was-was itu aneh ya. Kalau dia makan tidak ada was-wasnya. Dia makan biasa ya. Tapi kalau ibadah salat was-was terus. Takbir bisa sampai 10 kali dia.
(1:24:22) Tapi kalau makan, minum, jalan gak was-was. Dia pakai pakaian gak apa-apa. Was-wasnya hilang di situ. Tapi kalau salat, Subhanallah, itulah peperangan ya antara kita dengan setan. Jadi walaupun kita sudah punya ya senjata untuk ee mendapatkan kekhusyukan ya masih ada peperangan yang berjalan terus setiap hari. Setiap salat kita berjalan terus.
(1:24:56) Itu makanya ya kita harus benar-benar mempersiapkan senjatanya. Kita juga harus benar-benar ee gigih dalam mempertahankan kekhusyukan dalam salat kita. Para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah. Cara yang keenam. Benar ya? Keenam ya. Cara yang keenam agar kita mendapatkan kekhusyukan di dalam salat kita adalah ingat bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:25:36) tadi tadi sudah ana sampaikan ya. Bermunajat itu apa? Berbisik-bisik dengan Allah, berdialog khusus dengan Allah. Ini arti munajab. Dan ini disebutkan di dalam hadis muttafaqun alaih dalam sahih Bukhari, sahih Muslim. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Inna ahadakum id qoma fi shatih fainnahu yunaji rabbah.
(1:26:09) Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila dia mendirikan salatnya, sesungguhnya dia itu bermunajat kepada Rabb-Nya.” Orang kalau lagi salat itu sebenarnya dia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa taala, berdialog khusus dengan Allah Subhanahu wa taala. Ini kemuliaan ya, kemuliaan yang sangat luar biasa.
(1:26:40) Menghadap kepada Allah, berdialog khusus dengan Allah Subhanahu wa taala dan tidak ada yang lebih mulia daripada Allah Subhanahu wa taala. Antum kalau dikasih kesempatan untuk menghadap kepada presiden, merasa mulia, tidak merasa mulia. Dan antum merasakan itu adalah kesempatan emas. kesempatan emas untuk mendapatkan kebaikan dari presiden.
(1:27:07) Antum kalau dijadikan tamu istimewa oleh raja, raja Saudi misalnya atau raja Yordan atau raja yang lainnya, dikasih kesempatan bertemu, berdialog khusus menghadap kepada raja. Waktu menghadap, waktu berdialog khusus ini adalah waktu yang sangat istimewa. Ini kemuliaan yang khusus bagi kita. Kalau kita ingat seperti itu, maka kita akan mudah untuk khusyuk dalam salat.
(1:27:56) Kita merasa kita sedang menghadap kepada Allah, kita sedang mendekat kepada Allah, kita sedang berbisik-bisik berdialog dengan Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita punya kesadaran seperti ini, maka insyaallah salat kita akan baik, salat kita akan benar-benar berkualitas. Ustaz, maksud dari dialog ini apa? Ya dialog memang. Jadi kita berbicara, Allah menjawabnya.
(1:28:23) Dan ini disebutkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadisnya. Hadis sahih juga. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam hadis qudsi. Jadi Allah Subhanahu wa taala berfirman, tapi bukan ayat Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Qasamtus shat baini waina abdi nisfain. Aku membagi salat antara aku dan hambaku menjadi dua bagian.
(1:28:59) ” Yang dimaksud dengan salat di sini adalah bacaan al-Fatihah. Ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Fatihah itu bagian yang sangat inti di dalam salat. Sampai-sampai disebut salat. Padahal yang dimaksud adalah al-Fatihah. Kata Allah Subhanahu wa taala, “Aku membagi salat yang maknanya adalah al-Fatihah menjadi dua bagian. Setengah bagiannya untuk hambaku, setengah bagiannya untuk aku.
(1:29:31) ” Wali abdi masal. Dan untuk hambaku apapun yang dia minta. Faidza qalal abdu alhamdulillahi rabbil alamin. Qallahu taala hamidani abdi. Apabila seorang hamba mengatakan alhamdulillahi rabbil alamin maka Allah jawab. Allah katakan hamidani abdi. Hambaku telah memujiku. Di sini ada dialog di sini ada munajat.
(1:30:04) Waidza qala arrahmanirrahim. Qallah asna alai abdi. Ketika seorang hamba membaca arrahmanirrahim maka Allah jawab. Allah katakan hambaku telah menyanjungku. Wa qala maiki yaumiddin. Ketika seorang hamba di dalam salatnya membaca maliki yaumiddin, maka Allah subhanahu wa taala jawab. Allah katakan, “Majjadani abdi.
(1:30:41) ” Hambaku telah mengagungkanku. Hambaku telah mengagungkan aku. Faid qala iyaka na’budu wa iyaka nastain. Ketika seorang hamba di dalam salatnya membaca iyaka na’budu wa iyaka nastain qal Allah jawab. Allah katakan hadza baini waina abdi wali abdi ma saal. Ini antara aku dan hambaku dan untuk hambaku apapun yang dia minta.
(1:31:18) Faid qala ihdinasiratal mustaqimathalladzina anamta alaihim ghairil maghdubi alaihim waladin. Maka Allah subhanahu wa taala menjawabnya. Allah Subhanahu wa taala mengatakan kepadanya, “Hadza liabdi wali ma saal.” Inilah bagian hambaku dan untuk hambaku apa yang dia minta. Jadi ada dialog di sini antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa taala.
(1:31:55) Sadarilah hal ini ketika kita salat. Sadarilah hal ini ketika kita membaca Al-Fatihah dalam salat kita sehingga apa? Kita bisa khusyuk. Dialog seorang hamba dengan Rabbnya dalam salatnya juga terjadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Doa itu mengajukan permohonan kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:32:36) Doa itu berbisik-bisik kepada Allah Subhanahu wa taala. Salat itu maknanya apa? Doa. Makanya perbanyak doa dalam salat kita. Itu tempatnya doa salat itu. Terutama ketika kita sujud. Ketika kita menjadi paling dekat dengan Allah Subhanahu wa taala, aqrabu ma yakunul abdu mirbihi wahua sajid. Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud.
(1:33:16) Dalam hadis yang lain disebutkan, wa amma fis sujud fajtahidu fihi minadua. Adapun di dalam sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian untuk berdoa. Bersungguh-sungguhlah kalian untuk berdoa. Karena ketika itulah kita paling dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Juga ketika sebelum salam ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan maka hendaklah dia memilih-milih doa yang dia sukai.
(1:33:54) Hendaklah dia memilih-milih doa yang dia sukai ini sebelum salam. Maka perbanyaklah doa sebelum salam. Ini waktu-waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Kadang-kadang ya kita melihat ya orang-orang itu menyingkat salatnya kemudian setelah itu berdoa lama setelah salatnya. ini bukan dosa ya, boleh seperti itu.
(1:34:25) Tapi yang lebih afdal dari itu adalah kita melamakan salat kita. Kita melamakan salat kita. Karena selama kita masih di dalam salat, selama itu juga kita masih menghadap kepada Allah Subhanahu wa taala. Selama itu juga kita masih bermunajat kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:34:52) Sehingga harusnya kita perbanyak doa itu di dalam salat kita. Ustaz, ana pengin doa antara azan dan iqamah. Kan itu waktu yang mustajab. Maka jawabannya kita bisa salat qabliah sambil berdoa di dalamnya. Kita bisa salat qabliah sambil berdoa di dalamnya. Itu masuk dalam doa di antara azan dan iqamah. Dan itu juga masuk dalam doa di dalam salat.
(1:35:28) Sehingga di situ malah terkumpul banyak sebab mustajabnya sebuah doa. Jadi di samping kita doa di antara azan dan iqamah, di situ juga kita doa dalam sujud misalnya, maka ini menjadi lebih mustajab. Lamakan salat itu sehingga kita banyak berdoa di dalamnya. Bab yang ketujuh, untuk mendapatkan kekhusyukan di dalam salat, lamakan gerakan-gerakan di dalam salat kita.
(1:36:11) Semakin kita cepat dalam gerakan salat kita, maka semakin kita sulit untuk khusyuk, semakin kita lamakan gerakan-gerakan dalam salat kita, maka semakin mudah kita mendapatkan kekhusyukan. Jadi kalau rukuk ya jangan sebentar, rukuklah yang lama. Renungi gerakan rukuk itu.
(1:36:43) Ulang-ulang subhana rabbiyal adzim dengan pengulangan yang banyak tidak ada masalah. Ya, kita ulang lima kali, 7 kali, 9 kali, 11 kali, 99 kali boleh. Gak ada batasan. Memang yang paling afdal dan paling minimal adalah tiga kali. Minimal yang paling afdal itu tiga kali. Tapi tidak ada batasan untuk jumlah terbanyaknya. Kita boleh membacanya berkali-kali.
(1:37:25) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di salat malamnya kalau rukuk itu lamanya luar biasa. Disebutkan dalam sebuah riwayat rukuknya itu lamanya hampir sama dengan lamanya berdirinya. Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kalau berdiri juga sangat lama.
(1:37:55) Pernah suatu ketika beliau itu berdiri sampai selesai membaca surah An-Nisa dari surah Al-Baqarah. Surah Al-Baqarah sampai surah An-Nisa itu 5 juz lebih 4 halaman setengah. Setiap juznya itu 20 halaman. Kalau 5 juz lebih 4 halaman setengah berarti berapa ini? 14,5 halaman. Ini lama. Dalam riwayat itu disebutkan rukuknya beliau hampir sama dengan itu.
(1:38:37) Ini menunjukkan ya, bahwa bacaan rukuk itu bisa dibaca berkali-kali tanpa ada batasan. Kalau batasannya cuma tiga kali ya, terus Rasulullah baca apa dalam rukuk yang sangat lama itu? Makanya para ulama dari sini mengatakan ya bacaan rukuk itu bisa dibaca berkali-kali. Diulang lamakan rukuk kita ketika iktidal lamakan ik’tal kita ketika sujud lamakan sujud kita.
(1:39:16) Ketika duduk di antara dua sujud, lamakan gerakan itu. Dengan demikian, maka kita akan mudah mendapatkan kekhusyukan. Ya, asalkan tidak sampai ngantuk ya. Ada orang sujudnya lama ternyata ternyata tidur dia ya. Kalau ngantuk berhenti dari salatnya. Kalau ngantuk ya segera selesaikan salatnya, tidur saja atau mencari sebab ya agar ngantuknya hilang.
(1:39:58) mungkin lari-lari dulu ya, mungkin sekat jam dulu ya, agar ngantuknya hilang baru setelah itu salat lagi. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya pernah memerintahkan kepada ee dalam sebuah hadisnya, barang siapa yang ngantuk dalam salatnya, maka tidurlah. Ya, barang siapa yang ngantuk dalam salatnya maka tidurlah.
(1:40:24) Ya, ada hadis naisa ahadukum wahua yusolli falyansarifyanam. Apabila salah seorang dari kalian ngantuk ketika sedang salat, maka sudahi salatnya dan tidurlah. Hatta ya’lama ma yaqul. Sampai dia benar-benar tahu lagi apa yang dia ucapkan. Ya, kalau ngantuk sudah ya sudahi salatnya kemudian tidur sebagaimana dipesankan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam ya.
(1:40:53) Tapi kalau misalnya dia bisa menghilangkan ngantuknya dengan minum kopi misalnya atau dengan gerakan-gerakan tertentu, ya silakan. Silakan melakukan itu. Ketika ngantuknya hilang salat lagi. Para jemaah sekalian rahimana warahimakumullah.
(1:41:14) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dahulu kalau salat malam itu lama sekali. Dahulu beliau ya sebagaimana di jelaskan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu anha, beliau itu kalau salat malam itu empat rakaat. Empat rakaat. Empat rakaat. Empat rakaat. Ini maksudnya sebagaimana dalam riwayat Ibunda Aisyah yang lain. Dua rakaat, dua rakaat tapi jaraknya sangat dekat. Jadi dua rakaat salam kemudian langsung salat lagi.
(1:41:51) Kemudian jarak antara empat rakaat yang pertama dengan empat rakaat yang kedua itu agak panjang. Makanya beliau mengatakan bahwa dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu salatnya empat rakaat. Empat rakaat. Kemudian beliau mengatakan, “Fala tas’al an husnihinna watulihinna.
(1:42:23) ” Maka jangan tanya lagi bagaimana bagusnya salat beliau dan bagaimana panjangnya salat beliau. Beliau kalau salat panjang-panjang dan ini membantu seseorang untuk khusyuk dalam salatnya. Ya, kalau salat 23 rakaat hanya dalam 7 menit. Ya, ini kayak kultum saja. Ini kuliah 7 menit 23 rakaat dalam 7 menit itu 1 menitnya 3 rakaat lebih.
(1:43:03) Itu gimana bisa khusyuk? Gimana bisa khusyuk? Tamak niah saja hilang ya. Apalagi khusyuknya. Wong tamakninahnya ada saja khusyuknya belum tentu ada. Gimana kalau tamakninahnya hilang ya khusyuknya semakin sulit didapatkan. Bab yang berikutnya ee ada perkataan Ibnu Qayyim ini. Ada perkataan Ibnu Qayyim bagus ya.
(1:43:38) Beliau mengatakan wasastahilu husul khusyu maal ajalah wqri qatan. Beliau mengatakan, “Mustahil khusyuk bisa ada ketika seseorang salatnya cepat-cepatan.” Beliau mengatakan, “Mustahil.” Bisa dipastikan orang yang salatnya cepat-cepatan itu enggak khusyuk. “Balla yahsulul khyu qat illa mainah.” Kata Ibnu Qayyim, khusyuk tidak akan didapatkan sama sekali kecuali dengan adanya thamninah.
(1:44:16) Waama zadainah izdada khusyuah. Semakin bertambah tamakninahnya maka akan semakin bertambah khusyuknya. Waama qalla khusyuuhuaddat ajalatuh. Dan semakin berkurang khusyuknya maka semakin cepat salatnya seseorang. Ini menunjukkan ya, bahwa kalau kita kepengin khusyuk maka lamakan gerakan salat kita. Dan itu memang yang kita rasakan ya. Kalau salat kita cepat-cepatan khusyuknya itu susah.
(1:44:57) Kalau salat kita itu bisa benar-benar lama, maka semakin mudah kita untuk mendapatkan kekhusyukan. Kemudian para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah yang ke-elapan. Yang kedelapan rencanakan doa di tempat-tempat atau di waktu-waktu yang mustajab. Misalnya ketika sujud ya, kemudian sebelum salam ya, sebelum kita melakukan salat rencanakan untuk doa di sujud-sujud kita.
(1:45:42) Rencanakan untuk doa sebelum salam kita. Kenapa ini bisa mendatangkan kekhusyukan? Karena kalau kita sadar bahwa nantinya kita akan mengajukan permohonan kepada Allah dengan permohonan yang banyak, kita akan malu ketika salat kita tidak baik. Ini secara psikologi manusia seperti itu. Kalau misalnya ya antum kepengin mengajukan permohonan kepada orang lain, kalau secara mendadak kemudian orang tersebut tidak tahu kebaikan antum, akan sulit antum mendapatkan apa yang antum minta dari dia. Benar tidak? Iya. seperti itu.
(1:46:30) Ketika kita ingin permintaan-permintaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala itu diijabahi, didengar, diperkenankan oleh Allah Subhanahu wa taala, maka harusnya kita melakukan ibadah salat kita sebaik mungkin, sekhuk mungkin. Makanya ketika kita merencanakan untuk banyak berdoa di sujud-sujud kita, untuk banyak berdoa di sebelum salam kita, itu akan mendorong kita untuk memperbaiki salat kita, akan mendorong kita untuk salat dengan sekhusyuk mungkin agar nanti doa-doa kita di sujud-sujud kita di sebelum salam kita benar-benar didengar oleh Allah
(1:47:22) Subhanahu wa taala. Dan ini ana melihat masih banyak yang tidak melakukannya. Padahal salat itu maknanya adalah doa. Maka harusnya kita banyak berdoa di dalam salat kita. Dan harusnya kita merencanakan ya doa-doa yang akan kita panjatkan di dalam di dalam salat kita. Yang kesembilan, agar kita bisa mendapatkan kekhusyukan dalam salat kita, jadikanlah tempat, badan, pakaian, dan sikan kita benar-benar mendukung kekhusyukan kita dalam salat.
(1:48:19) jadikan apa tadi? Tempat, badan, pakaian, situasi, dan kondisi. Jadikan lima hal ini benar-benar mendukung kekhusyukan salat kita. Jadi misalnya tempat jadikan tempat kita itu benar-benar bersih. Bukan hanya suci. Suci kalau kotor bisa tidak suci kotor? Bisa. Suci kalau kotor itu akan mengganggu kekhusyukan kita.
(1:49:07) Jadikan tempatnya itu suci, bersih, kemudian wangi misalnya, tidak bau. Ini mendukung ketenangan kita dalam salat. Contohnya lagi misalnya badan, ya. Kalau badan kita bersih, tidak banyak keringatnya, maka kita salat bisa lebih nyaman, bisa lebih tenang. Beda kalau misalnya kita keringetan ya, pelikat semuanya badan kita, kita tadi melakukan aktivitas yang sampai ya gobyos ya ee dengan keringat.
(1:49:49) Maka kalau kita langsung salat apa yang terjadi? Ya enggak nyaman salat kita. Kalau salatnya tidak nyaman, maka sulit untuk bisa mendapatkan kekhusyukan. Maka jangan seperti itu ya. Salat itu menghadap kepada zat yang paling mulia. Harusnya kita benar-benar menjadikan badan kita itu bersih, wangi. Pakaian juga seperti itu.
(1:50:22) Kalau pakaian kita kotor, pakaian kita bau, pakaian kita tidak nyaman, ya, maka salat kita juga akan sulit untuk tenang, sulit untuk khusyuk. pakaian kita misalnya menjadikan kita malu. Misalnya pakai pakaian oblong ya, kaos oblong. Salat berjamaah pakai kaos oblong ngepras lagi. Ketika salat ya orang yang masih lurus fitrahnya dia akan malu.
(1:50:52) Yang lainnya pakai pakaian muslim ya, pakaian yang pantas untuk menghadap kepada Allah. Dia seperti itu sendiri. Ini juga akan menjadikan orang itu terganggu ketenangannya. Maka jangan seperti itu. Pakai pakaian yang indah. Khudu zinatakum kulli masjid. Ambillah pakaian-pakaian indah kalian di setiap tempat sujud kalian.
(1:51:21) Ya, maksudnya ketika salat kita harusnya menggunakan pakaian yang indah sehingga mendukung kekhusyukan dan ketenangan salat kita. Situasi dan kondisi maksudnya lingkungan ya, kondisi, situasi lingkungan. Jangan sampai kita itu salat di tempat yang gaduh di samping ada suara musik yang kencang ya, apalagi musiknya musik dangdut ya. atau musiknya musik ee apa? Musik disco.
(1:51:53) Musik yang sering di setel di klub-klub malam. Dak dik duk dak dik duk. Kita salat di di samping tempat seperti itu. Situasinya enggak mendukung untuk khusyuk. Cari tempat lain. Walaupun dengan mengakhirkan salat kita. Yang penting masih di dalam waktunya. Jangan salat di tempat-tempat yang seperti itu.
(1:52:18) Karena nantinya salatnya tidak akan khusyuk. Ana pernah ya, ana sampai sekarang masih ingat pernah melakukan perjalanan berhenti di masjid besar. Kayaknya enak ini salat di sini. Masjidnya besar ya. Ana ee pikiran ana ini nanti akan nyaman. salatlah di situ. Ternyata di dalam salat mereka ee sedang ada acara yang dalam acara itu di dibunyikan suara yang sangat keras sekali. Suara rebana yang sangat keras sekali.
(1:53:00) Ana sampai sekarang masih ingat ya bagaimana ana salatnya waktu itu. Jadi enggak enggak khusyuk sama sekali. Dan ini subhanallah kok ada ya yang kegiatan yang seperti itu di dalam masjid. Bukankah masjid untuk itu adalah haknya orang yang salat? Haknya orang yang salat dalam masjid itu yang paling tinggi.
(1:53:24) Ya, jangan sampai digagu dengan kegiatan yang seperti ini. Subhanallah ya. Enggak enggak enggak khusyuk sama sekali karena ada suara gaduh yang sangat luar biasa. Kemudian kondisi kita juga ya lihat kondisi kita. Kalau kita pikirannya tidak tenang, maka salat kita akan sulit untuk khusyuk. Maka tenangkan pikiran.
(1:54:00) Kalau misalnya kondisi kita sedang menahan kotoran, ya menahan bab atau menahan kencing ini akan sulit untuk khusyuk. Maka keluarkan dulu kotoran itu ke toilet ya. Walaupun kita ketinggalan satu rakaat, dua rakaat, bahkan satu jemaah, satu salat penuh kita ketinggalan, lebih baik kita mengeluarkan kotoran itu dulu daripada kita salat dapat jemah tapi khusyuknya tidak ada.
(1:54:38) Kemudian ketika makanan sudah dihidangkan, ya situasi seperti ini akan menjadikan kita kurang khusyuk kalau salat dulu ya. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dahulu pernah bersabda, “La shata biadrat thaam wala wahua yudafuhu alak akhbasat.” Gak ada salat di hadapan makanan-makanan. Maksudnya ketika makanan sudah dihidangkan jangan salat dulu.
(1:55:18) sudah makan saja makanan yang dihidangkan itu sehingga kekhusyukan kita dalam salat tetap terjaga. Wala wahua yudafiul akban. Begitu pula ketika seseorang sedang menahan dua kotorannya. Ya, keluarkan dulu dua kotoran itu. Jangan ditahan. Karena kalau kita menahan kotoran itu, akhirnya khusyuk kita tidak ada.
(1:55:45) Bahkan bisa jadi kita mengotori masjid, bisa jadi kita enggak tahan ya. Apalagi yang sudah berumur ya, sehingga sering dol, enggak bisa ditahan. Ya, ini membahayakan masjidnya, membahayakan orang-orang yang salat di sampingnya dan juga membahayakan salat dia. Begitu pula ketika kita berada di samping orang yang bau, orang yang punya bau badan, ini akan sulit ya untuk mendapatkan kekhusyukan karena ini baunya mengganggu terus.
(1:56:31) Ustaz, bagaimana solusinya? Solusinya kita bisa kita bisa pindah walaupun kita dalam salat. Pindah. Begitu pula ketika di kanan kiri kita bau orang ngerokok misalnya. Jadi dia ngerokoknya di luar masjid, tapi karena rokoknya itu akhirnya bau mulutnya menjadi sangat sangat tidak sedap ya. Bau pakaiannya juga seperti itu.
(1:57:07) Karena ya ee bau rokok ini bisa ke mana ya. Orang yang tidak merokok pasti sangat sensitif dengan bau ini. Kalau misalnya keadaan kita seperti itu, kita di saf pertama misalnya qadarullah masya fa’al. Di samping kita perokok, di samping kita yang lain perokok juga. Ini susah untuk khusyuk. Bolehkah kita mundur? Jawabannya boleh.
(1:57:35) Mundur untuk mempertahankan kekhusyukan kita. Lebih baik kita di saf kedua tapi tidak terganggu dengan bau yang sangat mengganggu itu daripada kita di saf pertama tapi kekhusyukan kita hilang. Makanya para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah ya. Ketika kita merasa pakaian kita bau, badan kita bau, jangan sampai kita ee tidak memperhatikannya.
(1:58:07) Perhatikanlah badan kita. Seorang muslim itu sangat dianjurkan untuk bersih, untuk wangi. Sampai dikatakan attuhuru syatrul iman. Bersuci itu se setengah dari keimanan. Bersih itu setengah dari keimanan. Jadi Islam itu sangat menganjurkan kebersihan dan sangat menganjurkan wangi. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dulu sangat senang dengan wewangian.
(1:58:48) Sampai disebutkan di dalam hadis hubbiba ilaiya attib. Aku dijadikan senang kepada minyak, kepada parfum. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu disyariatkan untuk kita sukai. Rasulullah senang apa? Kita disyariatkan untuk senang. itu ini menunjukkan bahwa Islam itu mengajarkan kepada kita kebersihan.
(1:59:18) Islam juga mengajarkan kepada kita wewangian. Jadi jangan sampai kita malah terkenal dengan kekumuhan, kekotoran, dan terkenal dengan bau yang tidak sedap. Itu sangat tidak selaras dengan ajaran-ajaran Islam. Para jemaah sekalian rahimani warahimakumullah. Termasuk di antara situasi yang tidak mendukung kekhusyukan kita adalah ketika ada pemandangan-pemandangan yang mengganggu kita.
(1:59:57) Kalau ada pemandangan-pemandangan yang mengganggu kita, merusak konsentrasi kita, maka jangan salat di situ. Misalnya ya, ada orang kita salat di tempat yang kita bisa melihat orang sedang melakukan kemaksiatan. Ini berbahaya bagi salat kita. Di depan kita misalnya ada orang yang mengumbar auratnya. ya. Jangan salat di situ.
(2:00:28) Salat di tempat lain yang tidak ada gangguan untuk kekhusyukan kita. Kemudian yang ke-10. Yang ke-10 agar kita bisa menjaga kekhusyukan kita memandang atau melihat tempat sujud kita. melihat tempat sujud kita. Dengan kita melihat tempat sujud, maka kita akan lebih mudah khusyuk daripada kita melihat ke depan. Walaupun boleh melihat ke depan boleh ya.
(2:01:11) Dan disebutkan atau bisa dipahami dari beberapa hadis bahwa sebagian sahabat dulu kalau salat itu menghadap ke depan. Tapi menghadap ke depan ini akan lebih menyulitkan kita untuk khusyuk, fokus, dan konsentrasi. Karena kalau kita menghadap ke depan itu ee semakin banyak pemandangan yang bisa kita lihat.
(2:01:51) Kalau kita seperti ini ya, ini semuanya kelihatan semua ini. Sehingga kemungkinan gangguan kita untuk khusyuk itu lebih banyak, lebih besar. Beda kalau kita menghadap ke tempat sujud kita, mengarahkan pandangan ke tempat sujud kita, maka kita bisa lebih fokus dan kita lebih bisa ee lebih mudah untuk mendapatkan kekhusyukan dan itu juga ya menjadikan kita lebih merasa merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa taala.
(2:02:35) yang ke-11 ya. Ini yang terakhir ya. Berusaha sekuat tenaga untuk fokus dengan salat kita. Berusaha sekuat tenaga untuk fokus dalam salat kita. Ya, kita walaupun tahu semua cara tadi, setan itu akan terus berusaha untuk merusak kekhusyukan kita. Makanya kita juga harus memaksa diri kita untuk kembali fokus dalam salat kita.
(2:03:14) Kalau misalnya kita ternyata sudah berada di dunia lain, ya, maka kembalikan kembalikan diri kita ke salat kita. Nanti setan akan goda lagi, kita akan lari lagi ya pikiran kita akan memikirkan hal yang lain yang diinginkan oleh setan itu. Ketika kita sadar langsung balik ya, balik ke salat kita lagi.
(2:03:45) Kita harus terus berusaha untuk menjaga fokus kita dalam dalam salat. Kalau kita tidak ada usaha untuk ini, maka cara-cara yang tadi akan menjadi sia-sia. Kita harus benar-benar berusaha dan berjuang untuk ee mempertahankan kekhusyukan kita. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita sebagai orang-orang yang bisa benar-benar khusyuk dalam salat kita.
(2:04:17) Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala terus menjaga kita di atas kebaikan. Amin. Amin ya rabbal alamin. Wasallahu wasallam w nabina Muhammadin waa alihibihi tabiahum bisanin yaumiddin. Walhamdulillahi rabbil alamin. Baik. Ee untuk selanjutnya kita akan membaca beberapa pertanyaan. Bab, pertanyaan yang pertama. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(2:05:06) Bagaimana kita mendapatkan kekhusyukan dalam salat berjamaah sementara saf tidak rapat dan tidak lurus? Ditambah lagi dengan imam yang kurang menjalankan sunah dalam salat. Ya, ini memang sulit ya. Khyuk menjadi semakin berat ketika situasi dan kondisi tidak mendukung. Di antara gangguan situasi dan kondisi adalah keadaan jemaah yang lain.
(2:05:37) Kalau jemaah yang lain itu tidak memperhatikan sunah-sunah Nabi dalam salat, maka semakin berat ya cobaan kita untuk mendapatkan kekhusyukan. Diminta rapat malah menjauh. kita merapatkan pundak dia malah menjauh lagi. Kalau keadaannya seperti itu memang susah ya. Jadi hati sudah tidak tidak kompak ya, sudah tidak sehati ee sehingga menjadi susah untuk mendapatkan kekhusyukan. Kemudian misalnya jemaah yang lain tidak perhatian dengan safnya ya.
(2:06:30) Safnya ee tidak lurus ya. Disuruh lurus enggak mau. Ada yang ngambil tempat tertentu di masjid. Jadi jemaah itu cuma lima, tapi dia di sana sendiri, di paling pinggir. Disuruh merapat gak mau. Saya pengin salat di sini. Nah, ini masalah besar seperti ini. Jadi, memang kalau kita salat berjamaah dengan orang-orang yang seperti ini lebih sulit ya untuk mendapatkan kekhusyukan.
(2:07:11) Apalagi ditambah imamnya misalnya cepat-cepatan ya. Ditambah lagi imamnya bacaannya enggak karuan. Ini luar biasa ya. Makanya ana melihat ya tidak mengapa seseorang memilih masjid yang lebih jauh untuk mendapatkan kekhusyukan dalam salatnya. Tidak mengapa. Tidak harus salat di masjid yang paling dekat. Kalau misalnya masjid yang paling dekat itu ya ee suasananya tidak mendukung kekhusyukan dia dalam salat bahkan merusak kekhusyukan dia dalam dalam salat.
(2:07:50) Lebih baik dia salat di masjid yang agak agak jauh ya, yang dia bisa salat dengan khusyuk di sana. Wallahuam. T pertanyaan yang berikutnya. Asalamualaikum, Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah merahmati jemaah semuanya. Amin. Amin ya rabbal alamin. Izin bertanya, bolehkah menggabungkan doa-doa di saat rukuk dan sujud? Terus di antara dua sujud di luar doa umum.
(2:08:26) Ustaz jawabannya boleh ya. Ana menguatkan pendapat yang membolehkan. Jadi doa atau zikir rukuk itu banyak ya. Ada subhana rabbiyal adzim ya. Ada subhanakallahumma rabbana wabihamdik allahummagfirli. Ada juga zikir-zikir yang lainnya. Bolehkah kita gabungkan dalam satu rukuk kita? Ana melihat dan menguatkan pendapat yang membolehkan. Itu disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah.
(2:08:59) Ada sebagian ulama yang tidak membolehkan ya. Seperti Syekh Albani rahimahullah. Beliau mengatakan gak boleh. Tapi ee harusnya dia mengulang-ulang satu doa tertentu. Kalau dia ingin memanjangkan rukuknya, pilih salah satu doa rukuk atau zikir rukuk. Kemudian ulang-ulang saja. Kalau menggabungkan tidak boleh. Wallahu taala alam. Ana lebih condong ke pendapat yang membolehkan.
(2:09:31) Karena ee itu kita lakukan di ee ibadah-ibadah yang lainnya seperti wirid setelah salat. Wirid setelah salat itu banyak dan wirid yang banyak itu tidak datang dalam satu riwayat, tapi itu gabungan dari banyak riwayat. Maka yang seperti ini nyatanya dibolehkan. Berarti di dalam salat juga demikian sampai ada dalil khusus yang melarangnya.
(2:10:10) Kemudian doa pagi dan sore, zikir pagi dan sore itu kan banyak. Apakah itu dari satu riwayat? Jawabannya tidak. Itu dari banyak riwayat. nyatanya boleh di gabungkan. Maka harusnya di dalam salat juga boleh digabungkan. Bahkan ya seperti Syekh Albani ya dan ulama-ulama yang lainnya, beliau menggabungkan doa di antara dua ee doa duduk di antara dua sujud dari berbagai riwayat yang tadi ana sampaikan itu ada di sifat salat Nabi.
(2:10:54) Rabbighfirli warhamni wajburni warf’i, wahdini waafini warzuqni. Urutan ini itu sesuai dengan yang disebutkan oleh Syekh Albani dalam sifat salat Nabi. Ini bukan dari satu riwayat itu. Itu dari banyak riwayat kemudian digabungkan oleh beliau menjadi satu doa yang panjang itu nyatanya boleh ya. Maka yang lainnya pun dibolehkan. Wallahu taala alam.
(2:11:27) Sebagaimana kita dalam sujud ya, kita boleh berdoa dengan doa yang banyak. Misalnya ada riwayat-riwayat dari doa-doa Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam ee kemudian kita baca dalam sujud, maka gak ada masalah di situ. Maka doa atau zikir dalam rukuk pun boleh, zikir dalam sujud pun boleh kita gabungkan. Ya, ini perbedaan pendapat di kalangan para ulama.
(2:11:54) Ana tidak merendahkan pendapat yang lain, tapi hanya menyebutkan bahwa inilah yang lebih kuat dengan tetap menghormati pendapat yang tidak membolehkan. Wallahu taala alam. Bab yang berikutnya, bismillahirrahmanirrahim. Tadi ustaz bilang kalau pas salat berjamaah sebelah kita qadarullah bau badan mengganggu khusyuk salat lalu boleh mundur ke saf kedua.
(2:12:19) Cara mundurnya bagaimana? Sedang di belakang ada barisan jemaah juga. Iya. Yang ana maksud tadi mundur kalau dimungkinkan mundur apabila itu masih dimungkinkan. Misalnya saf kedua masih kosong. Saf kedua masih kosong. Kalau tidak dimungkinkan ya irtikabu akhafid darorain. Iktikabu akhafid dararain. Kita mengambil mudarat yang paling ringan yaitu tetap berada di tempat itu.
(2:12:52) Karena gak bisa mundur sudah enggak bisa. Kalau masih dimungkinkan ya maka kita boleh ee mundur untuk mencari tempat yang lebih mendukung kekhusyukan kita. Wallahuam. Tib. Pertanyaan yang berikutnya. Ketika mengucapkan Allahu Akbar sering terlintas bahwa Allah lebih besar dari alam semesta.
(2:13:16) Apakah ini dibenarkan atau apakah ada dalil yang menerangkan tentang besarnya zat atau wujud Allah? Gak. Ya, gak ada. Tapi apa yang dibayangkan seperti ini? Benar. Memang Allah Subhanahu wa taala lebih besar dari alam alam semesta. Allah Subhanahu wa taala lebih besar dari alam semesta.
(2:13:43) Tidak ada hadis yang menjelaskan khusus tentang kebesaran Allah Subhanahu wa taala. Tapi ada hadis-hadis yang menunjukkan betapa besarnya Allah Subhanahu wa taala. Misalnya malaikat. Malaikat pembawa arsy itu sekarang ada berapa? Ada empat. Di hari kiamat nanti ada berapa? Ada delapan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa jarak antara pundaknya satu malaikat itu dengan ujung telinga bagian bawahnya ini sampai perjalanan 700 tahun kalau tidak salah.
(2:14:33) Sampai perjalanan ee berapa tahun ee ratusan tahun intinya. Malaikat itu sangat besar sekali. Iya. Ma baina syahmati udunihi ilai atiqihi masirat sabiati. Jadi malaikat ini saking besarnya sampai-sampai jarak antara ujung telinga bagian bawah ini sampai pundaknya itu sama dengan jauhnya perjalanan 700 tahun.
(2:15:23) Satu malaikat baru ini sampai sininya saja. Belum tangannya seperti apa, belum kakinya seperti apa. Itu salah satu dari makhluk Allah Subhanahu wa taala. Dan itu ada delapan dari kiamat nanti. Mereka memikul satu arsy. Tapi coba bayangkan di atas arsy itu ada kursi. Kursinya kursi itu besarnya kalau bumi dan langit itu disatukan.
(2:16:06) Kemudian diumpamakan seperti koin. Koin itu di lempar ke padang pasir yang luas sekali. Maka koin itu langit dan bumi. Sedangkan padang pasir yang luas sekali itu ibarat kursinya. Ini disebutkan dalam salah satu riwayat. Kemudian perbedaan perbandingan antara kursi dengan arasy bagaimana? Seperti kain itu ya kain itu kursinya sedangkan arasynya itu padang pasirnya.
(2:16:48) Sedangkan arsy atau singgahsana Allah Subhanahu wa taala itu padang pasirnya. Coba antum bisa bayangkan betapa besarnya arsynya Allah Subhanahu wa taala dan Allah maha besar. Allah lebih besar dari itu. Allah lebih besar dari itu. Disebutkan di dalam ayat ya di surah Az-Zumar. Wama qadarullaha haqqa qadrih wal ardu jamian qabduhu yaumalqiamah wasamawatu matwiyatun biyamini.
(2:17:34) Mereka orang-orang kafir itu tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya. Padahal Allah Subhanahu wa taala itu sangat luar biasa besarnya. Wal ardu jamian qdatuhum. sampai bumi semuanya ini nantinya akan digenggam oleh Allah Subhanahu wa taala. Ada di genggaman Allah Subhanahu wa taala.
(2:17:59) Wasamawatu matwiatum biamini. Sedangkan langit yang sangat besar itu akan dilipat-lipat oleh Allah Subhanahu wa taala dengan tangan kanannya. Dengan tangan kanannya saja. Ini menunjukkan betapa besarnya Allah Subhanahu wa taala. Tapi berapa besarnya Allah? Wallahuam. Tapi kalau makhluknya saja sampai seperti itu dan dikatakan bahwa Allah paling besar, Allah maha besar, maka itu menunjukkan betapa besarnya Allah Subhanahu wa taala. Ya, akal manusia tidak sampai ke sana.
(2:18:43) Akal manusia tidak bisa sampai ke sana. Sekarang saja ya, manusia itu tidak bisa mengetahui batas alam semesta. Mana batas alam semesta? Manusia sekarang enggak tahu dia ada bermiliar-miliar galaksi. Subhanallah. Galaksi saja bermar-miliar. Gimana ini? Itu baru alam semesta. Dan Allah lebih besar dari itu. Allah maha besar.
(2:19:13) Sedangkan yang di bawahnya saja sudah tidak diketahui oleh manusia. Ilmu manusia sudah gak sampai ke sana. Intinya ya Allah Subhanahu wa taala itu maha besar dan kita harus mengagungkan Allah Subhanahu wa taala. Pertanyaan yang kedua, doa yang lebih baik ketika salat dalam bahasa Arab dengan doa yang maksur atau dalam bahasa kita? Jelas ya.
(2:19:42) Yang paling afdal dalam masalah doa adalah doa yang maksur. Ada dalam Al-Qur’an misalnya atau dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ini yang paling afdal. Kemudian yang kedua, doa dalam bahasa Arab. Ya, doa dalam bahasa Arab lebih afdal daripada doa dalam bahasa lain. Masuk di dalamnya bahasa Indonesia, masuk dalamnya bahasa Inggris, masuk dalamnya bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan seterusnya.
(2:20:15) Tapi tetap boleh ya bagi kita untuk berdoa dengan bahasa selain Arab. Tapi urutan keafdaliahannya seperti tadi. Yang paling afdal adalah yang maksur. Maksur itu dinukil ya dari Al-Qur’an ya. Karena itu firman Allah ya. Tidak ada yang lebih afdal daripada firman Allah. Dinukil dari hadis ya. Tidak ada yang lebih afdal setelah Al-Qur’an dari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(2:20:47) Kemudian setelah itu doa dari ee orang lain. Dan yang paling afdal adalah pakai bahasa Arab. Karena bahasa Arab itu bahasa yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala untuk kitabnya yang paling mulia yaitu Al-Qur’an. Itu juga bahasa yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala untuk bahasa nabinya yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(2:21:09) sehingga bahasa Arab lebih afdal daripada bahasa yang yang lain. Ya, bukan berarti menjelekkan atau merendahkan bahasa lain, tapi ini mengakui keutamaan bahasa Arab ya. Dan yang paling terakhir adalah bahasa selain Arab ya, tidak ada perbedaan antara bahasa Indonesia, bahasa Jawa atau bahasa yang yang lainnya. Wallahuam. Baik. Pertanyaan yang terakhir. Asalamualaikum Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(2:21:40) Semoga Allah selalu menjaga ustaz dan keluarga dalam kesehatan dan ketaatan. Begitu pula para jemaah semuanya. Amin. Amin ya rabbal alamin. Mohon izin bertanya, apakah bacaan hamdan katsiran thyyiban mubarakan fih di saat i’tidal bisa diamalkan? Ini ada ee pertan ustaz yang mengatakan itu ya bukanlah doa ketika i’tidal ya.
(2:22:13) Ini perbedaan pendapat di kalangan para para ulama ya. Ada yang mengatakan boleh ya. Ya. Seperti Imam Nawawi rahimahullah ya. Beliau mengatakan bahwa doa tersebut adalah doa iktidal. Dan mayoritas ulama mengikuti beliau dalam masalah ini. Bahwa itu memang zikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika i’tidal.
(2:22:46) Bukan zikir untuk khusus untuk sahabat yang ee menceritakan itu saja. Tapi ini bisa berlaku umum untuk semua kaum muslimin dalam iktidalnya. Wallahu taala alam. Ana lebih condong ke pendapat itu ya. Wallahuam. yang ana tahu bukan riwayat hadisnya dif ya, tapi ee ee ustaz tersebut mengatakan ini bukan doa untuk i’tidal, tapi karena dia bersin maka dia membaca doa itu.
(2:23:19) Karena dia bersin maka dia membaca doa itu bukan karena iktidalnya tapi karena bersinnya. ini yang disampaikan oleh ustaz tersebut yang ana pahami ya. Ee Imam Nawawi rahimahullah mengatakan ya itu berlaku umum ya karena dalam salat dan tidak diingkari oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ya. Dan ee ada kaidah dalam ee ilmu ushul fikih.
(2:23:50) Al ibratu biumumil lafz la bikhususi asabab. Jadi yang dinilai itu ee redaksi atau keumuman redaksi sebuah hadis bukan ee peristiwa khususnya, bukan sebabnya. Jadi, jadi sebab disyariatkannya sesuatu itu bisa tertentu. Tapi ketika sudah menjadi syariat maka berlaku umum. Itu maksudnya ya. Al ibratu biumil laf lahususi asabab.
(2:24:24) Ya, sebab disyariatkannya sesuatu bisa khusus. Oh, sebabnya ini makanya disyariatkan ini. Tapi setelah menjadi syariat ya, maka tidak harus dengan sebab itu, dengan sebab-sebab lain pun gak ada masalah karena sudah menjadi syariat yang berlaku umum. Ya. Bab jemaah sekalian rahimani warahumullah.
(2:24:46) Mohon maaf karena sempitnya waktu dan sempitnya ilmu. Kita akhiri kajian kita sampai di sini. Kita baca doa yang sering digunakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mengakhiri majelis-majelis beliau untuk mendoakan para sahabatnya. Allahumim lana min khasyatika ma tahulu bihi bainana waina maksiatik wtika mauna bihi.
(2:25:20) Waminal yaqini ma tuhawinu bihi ala musibatid dunya wtina biasmaina wa absarina wa quatina ma ahyaitana waj’alhul warit minna wajal fa’rana alaamana wurna ala manana w tajalid dunya akbar hammina wabag ilmina wina bidunubina yarhamuna wasallahu wasall waka nabina muhammadin wa alibi asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhikumsalam war


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *