Ustadz Ali Nur – Menuju Negeri Abadi

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(4) [LIVE] Ustadz Ali Nur – Menuju Negeri Abadi – YouTube

Transcript:
(00:00) lil kafirin. Takutlah kalian dengan api neraka yang membuat dia semakin nyala dan marah adalah manusia dan batu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.
(00:37) 3 FM. Menebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin wabihi nastainu ala umurid dunya waddin wasalatu wasalam ala asrofil iya wal mursalin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin yaumiddin amma ba ikhwati islamakumullah sahabat raja di mana pun Anda berada alhamdulillah di kesempatan Senin pagi yang berbahagia ini kembali kita akan simak program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab Aljannatuar menuju negeri abadi disampaikan oleh guru kita Ustaz Ali Nur Hafidahullah
(01:27) dari Kota Medan, Sumatera Utara. N setelah penyampaian materi, silakan nantinya Anda dapat bergabung bersama kami untuk bertanya seputar pembahasan di LAN telepon 0218236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di Cas WhatsApp di nomor yang sama 0218236543. Berikut kita akan simak penjelasan materi yang akan disampaikan.
(01:55) Selanjutnya kita persilakan kepada al Ustaz Fatafadol masyur ustaz. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wain’inuhu wafiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusinaatialina yahdihillah fahual muhtad wam yudlil falan tajida lahu wali mursyida. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh alladzi la nabiya ba’dah. Waqal Allah subhanahu wa taala.
(02:37) Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Waqza manq ya ayyuhalladzina amanutaqulah waquulu qulan sadida yuslih lakum aalakum wagfir lakum dunubakum whaasulahu faq faza fauzanima yaquakumadziqakum min nafsin wahidah wq minha zaujaha minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum rqiba amma ba’duqal had kitabullah wiral hadu muhammad shallallahu alaihi wasallam umur muhda wain bidah wa bidatinalah Kaum muslimin, kaum muslimat, para pemerhati Raja TV dan pendengar Radio Raja di mana pun Anda berada.
(03:49) Alhamdulillah kembali kita bertemu dalam pengajian menuju negeri abadi yang kita ambil dari kitab Aljannat wanar. Ikhwah azallahu wyakum. Untuk pagi hari ini kita masuk pada pembahasan berikutnya yaitu aljannatu laaisat tsamanan lil amal. Surga itu bukan imbalan atas amalan yang dilakukan seorang hamba.
(04:16) Imbalan ini bisa dikatakan gajilah ya. Gaji upah atas perbuatan atas suatu amalan yang dilakukan oleh seorang hamba. Aljannatu syaiun adzim. Surga itu sesuatu yang sangat agung. Dalam sebuah hadis menyebutkan bahwasanya surga itu merupakan satu hal yang mahal. Ala innaatallah silatallah galiah.
(04:51) Ketahuilah bahwasanya barang dagangan Allah itu sangat mahal. Ala ala wahiyal jannah. Ketahuilah dia adalah surga. Jadi surga itu makhluk Allah Subhanahu wa taala yang sangat agung dan terlalu mahal. Ya. Dan ee nikmat yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wa taala dalam surga itu nikmat yang mala ainun roat tak pernah terlihat oleh mata.
(05:23) Wala uzunun samiat dan tak pernah terdengar oleh telinga. Bahkan walahar ala qolbil basyar. Bahkan sedikit pun tak pernah terbetik dalam hati manusia. Itulah surga. Makanya al jannatuunim. Surga itu satu hal yang sangat terlalu agung. Sangat agung. La yumkinu ayanaahul maru bialihillati amilaha.
(05:51) Enggak kan mungkin bisa digapai oleh seorang hamba hanya dikarenakan amalan-amalan yang dia lakukan. Wa innama tunalu birahmatillahi wa fadlih. Surga itu hanya bisa didapati dengan cara jika Allah subhanahu wa taala memberikan rahmat dan kurunianya kepada manusia. Intinya ikhwah aazaniallahu wyakum ya. Ketika manusia beramal, sesaleh apapun dia, dia amalkan seluruh perintah-perintah Allah Subhanahu wa taala dan dia jauhkan seluruh larangan-larangan Allah Subhanahu wa taala. Bahkan dia sudah sampai derajat orang yang zuhud. Zuhud itu ikhwah
(06:35) meninggalkan satu perkara yang mubah. meninggalkan suatu perkara yang mubah jika tidak ada maslahatnya manfaedahnya untuk akhirat. Jadi bukan hanya meninggalkan yang haram, bahkan orang zuhud ini, bahkan orang yang zuhud ini orang yang meninggalkan yang haram. Ee orang meninggalkan yang mubah, yang mubah pun dia tinggalkan. Jika mubah tersebut tidak ada faedahnya untuk akhiratnya.
(07:06) Kalau sudah sampai tahap itu, ikhwah, apakah sudah bisa, sudah layak dia sebagai imbalan amalan yang dia lakukan itu sudah layak untuk mendapatkan surga? Belum. Masih terlalu jauh. Masih terlalu jauh. Demikian, ikhwah, ibaratnya begini, Ikhwah. Azallahu wyakum. Ada seorang yang cleaning service, kita katakanlah office boy.
(07:30) Kira-kira mungkin enggak ada orang yang memberinya gaji? memberinya gaji misalnya 1 triliun misalnya gaji seorang office boy gaji seorang seorang cleaning service yang kerjaannya ya membersihkan toilet demikan ikhwah ngepel lantai kemudian gajinya 1 triliun apakah ada bisa kita katakan takkan pernah ada demikian takkan pernah ada tetapi tetapi mungkinkah si pemilik pemilik perusahaan tersebut memberikan orang ini 1 triliun karena dilihatnya orang ini rajin, tepat waktu. Karena di akhirnya karena dia simpati dengan orang ini, mungkinkah dia diberi
(08:19) 1 triliun oleh si pemilik perusahaan? Jawabannya sangat mungkin. Ya, jawabannya sangat mungkin. Demikian demikianlah amalan yang dilakukan oleh manusia jika dibandingkan dengan surga. Demikian terlalu tinggi surga itu untuk digapai dengan amalan yang kita lakukan.
(08:46) Enggak enggak sampai ikhwah amalan itu enggak sampai tingg surga itu jauh di atasnya lagi. Demikian ikhwah azallahu. Tapi mungkin mungkin seorang itu mendapatinya tapi karena apa ikhwah? Karena kasihannya Allah kepada si manusia. Dia seorang yang bertakwa. Dia orang yang melaksanakan berupaya dengan beramal yang sebaik-baiknya, melaksanakan yang wajib, menjauhkan yang haram, melaksanakan dengan keikhlasan dan ketulusan hati.
(09:17) Maka dan dia berdoa kepada Allah, menangis minta surganya Allah Subhanahu wa taala. Maka Allah Subhanahu wa taala kasihan dengan orang ini. Demikian ikhwah kasihan. Karena Allah sudah kasihan maka ya sudahlah kamu masuk ke surga. Demikian ikhwah. Jadi sama sekali bukan dikarenakan imbalan atas amalan yang dilakukan oleh setiap setiap manusia.
(09:46) Karena kalau amalan-amalan saleh yang dilakukan oleh seorang muslim ya dia dilalkulasi maka maka kalau diberi imbalan surga itu belum cukup ya amalan itu, perbuatan dia, tugas-tugas dia, kewajiban dia di dunia itu belum cukup untuk mendapatkan surga. Seperti yang tadi itu seorang kalau dia bertugas sebagai cleaning service atau office boy enggak akan ada yang mendapatkan gaji 1 triliun dan dengan ikhwah.
(10:21) Tetapi ketika orang ini menangis salat tahajud mohon kepada Allah subhanahu wa taala surga. Allahumma inni asalukal jannata wazubika minanar. Allahumma ajinna minanar. Katanya, “Ya Allah berilah aku surga, jauhkan aku dari api neraka.” Dia menangis, dia berusaha untuk taat kepada Allah Subhanahu wa taala. Setiap kali dia salah, dia istigfar, tobat, nasuhah.
(10:46) Maka yang seperti ini membuat Allah itu kasihan dengan dia. Ingat, kasihan bukan sebagai imbalan ya. Hanya sebagai apa? Apa ikhwah? Sebagai apresiasi atas kesungguhan dia untuk dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. apresiasi sebagai kesungguhan dia menginginkan surganya Allah Subhanahu wa taala. Ingat bukan imbalan apalagi sebagai balasan gak ya, tapi sebagai apresiasi, sebagai tanda kasihan Allah Subhanahu wa taala pada seorang hamba. Demikian ikhwah rahimani Allahu waakum.
(11:24) Itu contoh kecil, mungkin lebih kecil lagi. Misalnya anak kita minta duit ke kita misalnya ya, biasanya jajannya 2.000, kali ini mintanya Rp20.000 misalnya ini ya kan kita katakan loh enggak layak. Masa kasih untuk dia yang biasanya jajannya R2.000 tiba-tiba dia minta Rp20.000. Demikian tapi dia nangis nangis. Umi berilah.
(11:54) Umi berilah. Misalnya nangis tersedu-sedu minta mohon pada uminya. Mau apa nak beli ini kepingin sekali. Maka orang tuanya karena kasihan bukan dikarenakan bukan dikarenakan sebagai apa namanya? Sebagai imbalan. Karena imbalan biasa gajinya jajannya hanya R2.000. Demikian ikhwah. Jadi ya sudah kasihan uminya yang seharusnya enggak layak dia diberi Rp20.
(12:19) 000 tapi kali ini sudahlah kasihan dikasihkan. Nah, demikian ikhwah. Lebih kurang demikianlah ilustrasinya antara surga dengan amalan-amalan yang kita lakukan. Ya, antara surga dengan amalan-amalan yang kita lakukan. Makanya kita katakan tadi bahwasanya takkan ada orang yang bergaji 1 triliun kalau dia hanya sebagai office boy atau dia sebagai cleaning service.
(12:43) Tetapi si pemilik perusahaan mungkin untuk memberi dia 1 triliun. itu sangat mungkin dikarenakan dia rajin apa namanya kerja jam 0.00 di jam jam .00 sudah sampai pulang jam .00 dia masih membersihkan kantornya ataupun toiletnya atau masih mengepelnya atau apalah namanya padahal sudah jam .
(13:06) 00 misalnya, maka sebagai apresiasi, masyaallah ini Bapak masyaallah rajin, gak pernah telat, gak pernah terlambat, tetiap disiplin orang yang rajin, tulus nampaknya tidak banyak apa namanya tidak bahasa bahasa Medannya tidak banyak cingkune gitu loh. Kira-kira tidak banyak apa tidak banyak tidak ee tidak banyak tingkah. Demikian ikhwah, semua orang senang dengan dia, dia sopan.
(13:30) Masyaallah. Dia bisa saja dikasihkan oleh seorang pengusaha atau punya perusahaan itu dikarenakan banyak duitnya. Mungkin 1T itu bagi dia suatu hal yang kecil. Sudahlah kamu nih 1 T. Mungkin sangat mungkin ikhwah sangat mungkin. Tapi ingat bukan sebagai gaji dia sebagai cleaning service. Itulah lebih kurang permisalan antara amalan manusia dengan surganya Allah Subhanahu wa taala.
(14:05) Jadi dia memberinya dikarenakan kasihan sebagaimana Allah Subhanahu wa taala memberi surga kepada orang-orang yang bertakwa, beramal bukan di karena imbalan amalan yang dia lakukan, tapi karena kasihan. Karena dia sudah meminta-minta, dia sudah mohon-mohon kepada Allah, berusaha taat kepada Allah sehingga Allah turunkan rahmatnya, turunkan kasihannya kepada orang ini. Allah beri dia karunianya untuk masuk ke surga.
(14:30) Rawa Muslim fihi an Abi Hurairat. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu qala. Dia berkata, “Qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam.” Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bersabda, ahadunum amalahuudkilaudkila ahadun. Seharusnya ahadan ini ahadun minkum amaluhu al jannah.
(15:04) Sesungguhnya tidak ada seorang pun di antara kalian yang amalannya memasukkan dia ke dalam surga. Ini kalau kita artikan secara terlit ya. Lay yudkilal layudkila ahadan minkum amaluhu al jannata. Bahwasanya tidak ada seorang pun. Ah, betul ya. Betul nih. Ahadun bukan ahadan. Ahadun minkum amalu al jannata.
(15:45) Tidak ada seorang pun yang dimasukkan ke dalam surga amalannya karena surga dikarenakan amalannya. Ikhwah azallahu waikum. Perhatikan. Artinya tidak tidak bisa amalan itu memasukkan orang ke dalam surga. Amalan itu tidak sampai pada derajat surga. Sehebat apapun dia beramal. Faqalu, para sahabat bertanya, “Wala anta ya Rasulullah.
(16:18) ” Bahkan Anda juga ya Rasulullah. Apa kata beliau? Wala ana aku juga. Coba kita perhatikan, apa ada orang yang lebih taat dibandingkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Apa ada orang yang lebih takut dibandingkan pada Allah ketimbang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Apa ada orang yang lebih mulia, lebih bertakwa dibandingkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Beliau pernah mengatakan, “Wallahi inniumakum fillah.” Demi Allah, aku adalah orang yang paling takwa kepada kalian. Kepada Allah ketimbang kalian dan orang yang
(16:49) paling takut kepada Allah ketimbang kalian semua. Demikian ikhwah, tidak ada yang bisa menyamai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Beliau sudah diampuni dosanya yang lalu akan datang. Begituun beliau kalau salat malam terlalu lama dan hatta tawarat qodama qodamuhu sampai eh hatta tawarat qodamahu sampai bengkak kakinya.
(17:20) Padahal beliau sudah diampuni dosanya yang lalu dan akan datang. Ya, seharusnya santai-santai aja kan seharusnya begitu tapi tidak demikian ikhwah ya. Beliau juga mengatakan, “Ana sayidu waladi Adam bila fakhar.” Aku adalah pemimpin anak Adam bila fakhar dan aku tidak bangga dengan hal itu. Demikian ikhwah, begitupun amalan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, perbuatan-perbuatan baik Rasulullah sallahu alaihi wasallam, ee amalan salehnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, ibadahnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, perjuangan-perjuangan Rasulullah
(17:53) sallallahu alaihi wasallam itu belum cukup untuk meraih surga. Kalau surga itu sebagai imbalan itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bagaimana dengan kita? Demikian, ikhwah. Ya tentu tambah enggak sanggup kita untuk menggapai surga dikarenakan amalan kita terlalu jauh amalan kita dengan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(18:19) Dari sisi kekhusyukan, dari sisi keikhlasan. Aduh terlalu jauh. Jadi ketika sahabat mengatakan wala anta ya Rasulullah Anda pun surga itu anda tak masuk surga karena amalan Anda. Sahabat ini bertanya wala ana aku juga sama sama seperti kalian aku tidak masuk surga dikarenakan amalanku aagamahuadinahmatin.
(18:51) Hanya saja Allah telah mencurahkan karunia dan rahmatnya kepadaku. Ikhwah, lagi-lagi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam masuk surga dikarenakan karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa taala bukan dikarenakan imbalan atas amalan yang beliau lakukan. Subhanallah. Betapa indahnya itu surga. Di mana itu surga? sampai amalan Rasulullah pun tidak cukup untuk dijadikan sebagai imbalan mendapatkan surga.
(19:23) Tetap dengan rahmat dan karunia dari Allah Subhanahu wa taala.Qqus allatiiru jannunal. Ada sedikit ganjalan bahwasanya nas-nas ini hadan nas ee nas-nas berikut ini atau dalil-dalil berikut ini mengesankan kepada kita bahwasanya surga itu merupakan imbalan untuk suatu amal. Maksudnya di sini penulis mengatakan, tapi di dalil yang akan datang yang akan beliau sebutkan, ada dalil dari Al-Qur’an yang mengesankan kepada kita bahwasanya ya surga itu imbalan atas satu amal bukan bukan dikarenakan rahmat Allah.
(20:19) Kaquulihi Taala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala. Fala tau nafsum ma ukfi lahum min quti aun. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dirahasiakan untuk dia. Min quti a’yun. Dari nikmat-nikmat yang membuat hatinya bahagia, yang membuat hatinya senang. Maksudnya surga. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana surga itu sebenarnya.
(20:53) Seperti yang kita katakan tadi, surga itu Rasulullah menyebutkan malainun roat wunun samiat w tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak pernah terbetik sedikit pun dalam hati kita. Ketika kita membayangkan bagaimana pohon-pohon surga, ketahuilah apa yang kita bayangkan itu masih terlalu jauh dengan yang hakikatnya.
(21:25) Ke kita ketika kita membayangkan bagaimana istana-istana yang Allah siapkan untuk penghuni surga, ketahuilah bahwasanya apa yang hakiki pada hakikatnya surga itu masih lebih jauh dibandingkan apa yang sedang kita pikirkan. Kalau kita membayangkan bagaimana indah dan cantiknya para bidadari, maka ketahuilah bahwasanya pada hakikatnya yang hakikinya bahwasanya apa yang kita bayangkan masih terlalu jauh dibandingkan yang sebenarnya.
(21:55) Apalagi ikhwah apa yang kita bayangkan apapun dia pohon, buah-buahannya apa saja yang Allah ceritakan tentang surga dalam Al-Qur’an dan dalam sunah Rasulull sahu alaii wasallam. Ya. Maka terbayanglah oleh kita ketika Allah Subhanahu wa taala mengatakan, “Fihima fakihatun waaklun warum.” Di dalam dua surga itu ada fakihah, ada buah-buahan, ada ee kurma, dan ada ruman, delima.
(22:29) Terbayang kitalah kurma, terbayang kitalah ee kurma, terbayang kitalah, terbayang kitalah delima, buah delima, terbayang kitalah buah-buahan, terbayang kitalah semua buah-buahan yang pernah kita lihat, duriannya, rambutannya, apalagi jeruknya, mangganya, kue ininya dan semuanya. Maka ketahuilah pada hakikatnya yang di surga itu jauh lebih tinggi dibandingkan apa yang sedang kita bayangkan.
(22:53) Itulah dia ikhwah. Enggak ada seorang pun yang tahu. Kata Allah, “Falaam nafsum ma ukiahum min quti aun.” Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana hakikatnya. Kalau nama-namanya sudah sampai kepada kita. Tapi hakikatnya kita enggak tahu. Tapi di sini ayat ayat ditutup. Jazaam bimau ya’malun.
(23:26) sebagai jaza, sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan. Ayat ini mengesankan kepada kita bahwasanya surga yang tak terbayangkan kita itu bagaimana indahnya, bagaimana nikmatnya. Ternyata jazaam bima kanu y’malun sebagai balasan atas apa yang yang telah mereka lakukan. Ini bagaimana? Tadi di atas disebutkan layudila ahadun aludkila ahadun minkum al jannah amaluhu.
(23:57) Bahwasanya tidak ada seorang pun di antara kalian masuk surga gara-gara amalannya. Tidak ada sebagai amalannya enggak ada. Tapi dalam ayat ini disebutkan jazaan bimau y’malun. Balasan bagi atas apa yang pernah mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan. Assajadah ayat 17. Tib. Ayat kedua Allah Subhanahu wa taala firman, jannuma bimtumalun. Itulah demikianlah surga yang akan kalian warisi.
(24:31) Surga tersebut bim kuntumalun dikarenakan yang dikarenakan yang dulu yang kalian lakukan. Surah Ala’raf ayat 42. Ayat ini, dua ayat ini jelas mengesankan bahwasanya surga itu merupakan balasan. imbalan bagi amalan seseorang. Semakin bagus amalannya, maka semakin tinggi derajat surganya. Jadi bukan hanya sebagai rahmah, bukan hanya sebagai ee karunia, gak, tapi memang imbalan. Demikian ikhwah ya.
(25:07) Jadi bagaimana sih dua a pertentangan? Sepertinya ada bertentangan antara ayat dan sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sabda Nabi tadi ikhwah sebagaimana yang kita sebutkan tadi dari Abu Hurairah Rasulullah mengatakan tidak ada seorang pun kalian yang masuk surga dikarenakan amalannya. W anta ya Rasulullah. Anda juga ya Rasulullah saya juga.
(25:36) Hanya saja Allah telah memberik memberikan kepadaku rahmat dan karunianya. Ini hadis mengatakan tidak akan diberikan sebagai surga, tidak diberikan sebagai imbalan. Sementara surah Assajadah ayat 17 dan Ala’raf ayat 43 menyebutkan surga itu sebagai imbalan. Ini bagaimana ikhwah? Jawabannya wala taar bainal ayati waalla alil hadis.
(26:05) Tidak ada pertentangan antara ayat yang telah kita bacakan dengan hadis yang telah kita sebutkan. Innal ayati analala sababun jannah. Karena ayat Alqur’an yang tadi kita katakan yang kita sebutkan asajadah ayat 17 sebagai balasan atas apa yang kamu lakukan. dengan surah Ala’raf ayat 43. Dikarenakan amalan yang kamu lakukan. Ya.
(26:45) Adapun ayat, ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa amalan itu sababun lidukhulil jannah. Sebab masuk surga. Ingat, sebab bukan imbalan ya. Ayat menyebutkan itu sebab masuk surga, bukan imbalan seorang untuk masuk ke surga. Begini ikhwah, mungkin bisa saya laan laha bukan sebagai balasan imbalan. Begini, kalau kita bekerja misalnya kita ambillah contoh misalnya seorang ee bekerja bekerja sebagai ahli kesehatan, dokterlah kita katakan spesialis ya.
(27:31) Dia seorang ee ahli spesialis bedah sejeri. Kita katakan saja sebagai dia sebagai onkologi misalnya ahli onkologi spesialis onkologi kanser ataupun kanker dan mungkin dia juga sebagai bedah bedah onkologi misalnya bedah bedah kanker. Kemudian datang pasien, ya ternyata ini perlu tindakan segera harus di dibedah dan harus diambil diangkat kankernya.
(28:04) Lantas si dokter ini, lantas orang ini sembuh ya. Lantas orang ini sembuh. Kemudian dan si dokter dapat imbalan ya dapat imbalan atas apa yang telah dia lakukan. Tib ikhwah azallahu wyakum. Mengenai apa yang dikerjakan dokter tadi itu dan dia mendapatkan imbalan itu namanya gaji. Itu namanya sebagai imbalan. Berapa yang dia dapati itu sesuai dengan apa yang dia lakukan. Demikian ikhwah.
(28:37) Makanya berbeda seorang dokter umum dengan dokter spesialis. Demikian ikhwah beda harganya beda dan biasanya juga punya tarif apalagi kalau dia seorang dokter yang yang terkait dengan PPJS bisa lebih murah diberikan. Jadi ikhwah azullahu wyakum berbeda tentunya antara dokter spesialis dengan dokter umum.
(29:04) Maka apa yang diberikan spesialis diberikan kepada spesialis biasanya lebih tinggi dibandingkan jasa dokter umum. Bab, sekarang ke kita katakan kesembuhan gimana? Orang ini sembuh, Tib. Orang ini sembuh, apakah si dokter yang menyembuhkan? Kita katakan tidak. Enggak. Bukan dokter yang menyembuhkan, tapi dia sebab kesembuhan. Siapa yang menyembuhkan? Allah Subhanahu wa taala.
(29:34) Sebagaimana kata Nabi Ibrahim Alaih Salam, “Waid maridu fahua yasfin.” Kalau aku sakit, dia yang menyembuhkan. Dokter itu hanya sebab perantara obat yang menyembuhkan. Bukan obat yang menyembuhkan hanya perantara. Kalau seandainya obat yang menyembuhkan, kenapa obat tersebut tidak sembuh untuk penyakit yang sama? Ya, sama persis penyakitnya. Tapi si A-nya sembuh, si B-nya kenapa enggak sembuh dengan obat ini? Padahal penyakitnya sama persis.
(30:01) Menunjukkan bahwasanya bukan obat itu yang menyembuhkan. Demikian. Demikian juga dokter spesialis tadi. Sama-sama penyakit kanser, sama-sama kanser, sama-sama penyakitnya mirip sama. Tapi kenapa ketika berobat dengan dokter ini yang ini sembuh, yang ini enggak sembuh? Karena memang bukan dia yang menyembuhkan.
(30:20) Kalau dia yang menyembuhkan berarti sudah masuk ilmu eksakta, ilmu pasti. Kalau kalau ini pasti sembuh untuk dengan dokter tersebut pasti sembuh. Berarti ini kan enggak pasti. Maka dokter itu hanya sebab kesembuhan sebagai usaha untuk meny untuk menyembuhkan. Yang menyembuhkan yang hakiki adalah Allah Subhanahu wa taala.
(30:39) Demikian juga tentang amalan. Amalan yang kita lakukan itu bukan imbalan ya. Bukan imbalan atas apa yang kita lakukan, tapi itu merupakan sebab seperti ilustrasi yang kita katakan tadi ya. yang kita katakan tadi si apa namanya si cleaning service tadi itu kenapa dia dikasih oleh pemilik perusahaan 1 triliun misalnya ya 1 triliun kenapa karena ada sebabnya apa itu dia rajin ini kan ikhwah dia rajin dia orangnya tulus tidak banyak tidak banyak bertingkah misalnya demikian nampak orangnya rajin dan loyal sehingga pemilik perusahaan sayang
(31:25) dengan dia dan dikasih sebagai hadiah 1 triliun gajinya enggak akan sampai sebegitu, Ikhwah. Jadi, apa yang dia lakukan? Disiplin, kemudian rajin, apa namanya loyal, orangnya tulus. Ini penyebab dia mendapatkan 1 triliun tadi. Bukan gaji. Gajinya terlalu tinggi. Terlalu tinggi 1 T itu sebagai gaji. Ah, demikian ikhwah. Demikian juga kita ya.
(31:55) Demikian juga manusia ketika dia ketika dia beramal itu bukan sebagai imbalan atas apa yang surga bukan sebagai imbalan atas apa yang dia lakukan, tapi sebagai apresiasi, sebagai rahmat ya, sebagai karena sebab itah sebab dia. Makanya ikhwah kalau kalau kalau kalau kita katakan begini nih ee ya kalau seandainya amalan itu bukan sebab seorang masuk surga, ya enggak usah beramal. Ikhwah itu keliru.
(32:26) Kenapa demikian? Apa penyebab kamu masuk kamu kamu dapat surga? Apa apa sebabnya? Modalmu apa? Demikian ikhwah. Orang itu nangis-nangis untuk mendapatkan surga. Mohon-mohon kepada Allah Subhanahu wa taala. menghinakan dirinya sehina-hinanya di hadapan Allah Subhanahu wa taala untuk mendapat kasihan Allah, untuk mendapat rahmat Allah Subhanahu wa taala sehingga harapannya Allah itu kasihan dan sayang kepada dia. Itu sebab demikian ikhwah.
(32:55) Terus Anda salat tidak apapun tidak kemudian dikatakan surga bukan imbalan atas apa yang kamu lakukan. Modalmu apa jadinya masuk surga? Demikian ikhwah ya. Jadi tidak bisa kita katakan bahwasanya ya sudahlah enggak usah beramal toh amalan bukan penyebab masuk surga. Amalan bukan sebagai imbalan. Bukan imbalan tapi sebab. Demikian ikhwah seperti anak yang minta jajan tadi. Kenapa orang tua akhirnya mengalah, menyerah ya ngasihkan Rp2.
(33:24) 000 karena kasihan tadi udahlah kasihan dia nangisnangis minta belas kasihan karena mau beli ini. Menyerahlah dia karena kasihan dikasihlah. Demikian ikhwah. Tapi untuk Allah bukan menyerah ya. Bukan menyerah. Ini ilustrasi. Kenapa dikasih R.000? Karena karena bukan sebagai kebiasaan jajan dia. Enggak. Karena kasihan lah kan.
(33:43) Dia mau beli ini, mau beli itu, mau beli mainan mungkin. Demikian ikhwah. Tapi kan sebabnya kan ada karena dia nangis-nangis. Coba dia nangis-nangis enggak nangis-nangis. Coba si ana tadi itu gak nangis-nangis dia ketika dia minta jajan. Umi minta duit Rp20.000. Dia enggak nangis. Dia diam-diam saja seperti biasa.
(34:01) Enggak akan dikasih Rp2.000 itu. Jadi nangis-nangis itu penyebab. Makanya uminya ataupun ibunya memberi Rp2.000. Itu ini ilustrasi yang sederhana. Demikian ikhwah azinallahu wyakum. Jadi surga bukan imbalan atas amalan seseorang makhluk manusia tapi dia sebab seorang itu masuk ke dalam surga. Makanya lakukan sebabnya itu, ikhwah.
(34:31) Lakukan sebabnya maka kemungkinan akan Allah Subhanahu wa taala akan rahmati. Ya, kalau seorang tersebut tulus, Allah pasti akan Allah pasti akan sayang dan kasihan kepada dia. Demikian ikhwah rahimallahu wyakum. Wafil hadisi nafun takunal jannah. Dan hadis menunjukkan bahwasanya surga itu bukan imbalan bagi imbalan atas amalan seorang manusia. Waqal firqatan. Dan sungguh ada dua firqah yang sesat dalam masalah ini.
(35:04) Aljabariyat hadis analin alal. Pertama yaitu orang-orang jabariyah yang mereka berdalilkan dengan hadis. Hadis bahwasanya mengatakan bahwasanya surga itu bukan imbalan atas amalan. Yaahuali amalih. Karena sesungguhnya seorang hamba itu tidak ada sedikit pun campur tangan terhadap amalannya. Maksudnya begini, Ikhwah. Jabariahnya begini, Ikhwah.
(35:43) Jabariah ini adalah dari kata-kata ee majbur yaitu orang yang dipaksa. Jadi aljabariyah ini yaitu ikhwah meyakini annallah anallaha khqu kulli menciptakan segala sesuatu min afalin min afali wail ibad bahwasanya Allah subhanahu wa taala menciptakan semua semua makhluk termasuk perbuatan hamba dan ee dan keinginan seorang hamba Jadi, seorang hamba itu tidak punya keinginan sama sekali, tidak punya kehendak dan tidak punya pilihan.
(36:25) Dia dipaksa oleh Allah Subhanahu wa taala untuk melakukan apapun. Termasuk amalan saleh dan termasuk juga kebaikan termasuk juga kejahatan. Jadi, orang-orang Jabariyah mengatakan, “Ya Allah yang mentakdirkan dia buruk sehingga dia mencuri, sehingga dia berzina.” Makanya amalan yang dia lakukan itu tidak layak.
(36:47) sebagai imbalan untuk mendapatkan surga. Kenapa? Allah yang nyuruh dia, Allah yang memaksa dia untuk melakukan itu. Itu e aljabariyah, ikhwah. Jabariah ini ini muncul pada awal-awal akhir ya, akhir abad abad pertama Hijriah dan atau di awal-awal abad kedua ya. Salah satu pencetus pemikiran ini ya, yaitu Jaad bin Dirham.
(37:16) Jaad bin Dirham ini ikhwah azallah karena dia mengatakan Allah itu enggak bicara dan Allah itu enggak punya sifat katanya. Ya sungguhnya Allah itu enggak bicara kepada Nabi Musa Alaih Salam. Hingga akhirnya khalifah pada waktu itu Khalid bin Abdillah al-Qusari itu menetapkan hukuman eksekusi mati untuk si Ja’ad bin Dirham. Demikian ikhwah.
(37:43) Kemudian yang juga sangat dikenal yaitu Jaham bin Safwan yang akhirnya ini dia membuat ee pemikiran Jahmiah. Demikian ikhwah. Itulah dia yang menyatakan bahwasanya manusia itu tidak punya pilihan atas apa yang dia lakukan. Jadi dia ya bahasa kita bagaian robotlah yang dikendalikan, bagaikan drone yang dikendalikan.
(38:09) Jadi kalau dia berbuat sesuatu kebaikan ya ee maka surga itu enggak layak untuk dia. Kenapa demikian? Karena bukan dia yang melakukan. Allah yang Allah yang menghendaki itu. Nah, demikian ikhwah itu satu. Kemudian wal qadariyatu istadallat bil ayah. Adapun alqadariyah yang tadi jabriyah, yang ini qadariyah. Kalau Jabriyah berdalilkan dengan hadis bahwasanya surga bukan sebagai imbalan atas amalan.
(38:40) Adapun yang seberang apa namanya? Berseberangan pemikirannya itu Al-Qadariyah. Al-Qadariyah berdalilkan dengan dua ayat yang di atas yang sudah kita bacakan tadi. Mereka mengatakan waqalu mereka mengatakan innaha tadulu alaal jannahul amal. Mereka katakan bahwasanya karena Allah Subhanahu wa taala mengatakan jazaam bima kanu y’malun sebagai balasan atas apa yang mereka telah lakukan.
(39:06) Kemudian tilkal jannat urum bima kuntum tamalun. Ini merupakan surga yang kalian warisan dikarenakan apa yang kalian amalkan. Itu menunjukkan bahwasanya surga surga itu imbal atas apa yang atas apa yang mereka lakukan dilakukan oleh seorang hamba. Kenapa bagi mereka? Karena memang seorang hamba itu layak dapat surga dikarenakan amalannya.
(39:31) Kenapa demikian ikhwah? Karena alqadariyah ini, ikhwah mereka pemikirannya ya pemikirannya bahwasanya apa yang dilakukan oleh manusia itu sama sekali tidak ada campur tangan Allah subhanahu wa taala. Sama sekali tidak ada campur tangan Allah subhanahu wa taala.
(39:50) ketika dia mau salat itu ya udah itu dia Allah enggak tahu dengan apa yang akan dia lakukan dan tidak ada sedikit pun kehendak Allah di sana. Demikian ikhwah. Jadi ketika dia mau berbuat jahat ya sudah itu tidak ada kehendak Allah sama sekali. Itu itu pilihan dia. Allah enggak campur tangan di situ. Ketika dia berbakti kepada orang tua ya Allah enggak campur tangan di situ. Bahkan Allah enggak tahu apa yang akan dia lakukan. Demikian ikhwah. Jadi manusia itu mustaqillah.
(40:14) apa namanya? Terlepas dari kehendak Allah setiap amalan dan keinginan yang dia yang mereka keinginan dan amalan yang mereka lakukan. Inilah al-qadariyah. Al-Qadariah ini, ikh al-qadariyah ini sudah ada pada zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Rasulullah sudah pernah spil pada masalah ini. Beliau katakan, “Alqadariyatu majusu hadil ummah.
(40:41) ” Qadariah itu adalah majusi umat ini. Kenapa demikian, ikhwah? Karena orang majusi meyakini meyakini ada dua Tuhan. Pertama Tuhan Tuhan nur. Nur ini cahaya yang dia menciptakan kebaikan-kebaikan. Ada yang Tuhan kegelapan zulum zulumahmah dan dia yang menciptakan keburukan-keburukan. Jadi ada dua Tuhan.
(41:10) Tuhan yang menciptakan kebaikan dan Tuhan yang menciptakan keburukan. Demikian ikhwah. Jadi ada dua Tuhan. Orang-orang Qadariah dia punya dua tuhan. Pertama Tuhan Allah yang menciptakan dia. Yang kedua dia menciptakan dirinya sendiri. Karena sedikit pun tidak ada campur tangan Allah Subhanahu wa taala di sana. Inilah ikhwah dua dua firkah yang sesat yang disebutkan oleh para ulama. Demikian ikhwah.
(41:35) Abdullah Ibnu Umar pernah berkata ya ketika disinggung kepada beliau tentang ada orang Qadariah begini-begini mengingkari takdir ya mereka mengikati takdir. Apa kata kata Abdullah bbn Umar radhiallahu anhu. Kalau kamu bertemu dengan mereka ya apabila kamu bertemu dengan mereka faakbirum tolong beritakan kepada mereka ibna umar barium minna umar bariun minhum sungguhnya Ibnu Umar berlepas diri dari mereka inahum bari min dan mereka juga berlepas diri dariku jadi jangan kait-kaitkan aku dengan dia.
(42:15) berlepas diri Abdullah bin Umar dari mereka. Kenapa? Mereka ini pengingkar-pengingkar takdir. Demikian ikhwah. Makanya mereka katakan ya surga itu merupakan imbalan bagi amalan seseorang. Karena tidak ada tidak ada sedikit pun tidak ada sedikit pun di situ ee campur tangan Allah subhanahu wa taala. Demikian ikhwah bab kita baca lagi.
(42:40) Yaak syari atahawiyah fi hadil masalah. Berkata eh seorang yang pensyp pensyarah ada kitab athahawiyah dalam masalah akidah ikhwah yang mensyarahnya adalah Imam Ibnu Abi Iz. Ibnu Abi Iz al-Hanafi. Beliau yang membuat kitab yang menulis kitab syarah akidah at Thaahawiyah.
(43:05) Ini yang dia maksud oleh penulis pensyarah thahawah masalah dalam masalah ini adapun hubungan antara balasan dengan amalq alabaratu walqariatu sungguh jabariah dan qadariah itu sudah sesat dalam masalah ini. Fahadallahu ahlusunah. Dan Allah telah memberikan petunjuk kepada ahli sunah walaul hamdu wal minnah. Hanya untuk Allahlah.
(43:38) Hanya hanya milik Allahlah segala pujian dan karunia. Fa innal ba allati fin nafi ghairul ba allati fil isbat. Sesungguhnya huruf ba yang pada kalimat pada kalimat nafi sesungguhnya ba pada kalimat negatif beda maknanya dengan kalimat ba yang ada pada kalimat positif. Kalau kalimat negatif itu tidak ya.
(44:02) Seperti yang kita sebutkan tadi hadis yang pertama yaitu ahadunum amalul jannah. Itu kalimat negatif bahwasanya salah seorang kalian tidak akan masuk tidak akan masuk surga dikarenakan amalan kalian. Itu kalimat negatif. Di situ ada ba ya, ada ba yang disebutkan dalam ee dalam hadis ada rubah di kalimat yang hadis yang kalimatnya negatif.
(44:36) Layadkulal jannatu ahadun biamalih. Layadkulal jannatu ahlun biamalih. Tidak akan masuk surga seorang itu dikarenakan amalannya. Ini kalimat negatif dan biamali di situ ada huruf ba. Huruf ba yang di sini, huruf ba yang ada dalam kalimat negatif berbeda dengan makna huruf ba yang ada di dalam kalimat positif. Wal manfiyu fiihi.
(45:08) Adapun ba yang ada dalam kalimat negatif, sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, layadulal jannata ahadun biamalih. Takkan masuk surga seseorang dikarenakan amalannya. Albau iwadun baul iwad. Ba di sini bad bab yaitu ee sebagai iwad, yaitu sebagai pengganti imbalan iwadun. ya imbalan misalnya saya bekerja, saya digaji, gaji saya itu iwat namanya ya, iwat sebagai imbalan atau gaji atau ee sebagai apa namanya ya? Sebagai gajilah kita katakan sebagai imbalan jasa.
(46:02) sebagai jasa ahadunali tidak akan mas surga seorang dikarenakan amalannya biamali biamali bani di sini adalah sebagai imbalan makanya tidak akan ada orang yang masuk surga karena sebagai imbalan atas agama atas amalannya wahua ayakunal amalal ayakunal amalalamaniul Jadi dalam hadis ini maknanya adalah yaitu seorang yaitu amalannya amalan seseorang sebagai balasan ee bahwasanya surga itu sebagai balasan atas amalan seseorang. Makanya Rasulullah menyebutkan kalimatnya kalimat negatif.
(46:47) Ahadunali takkan masuk surga seseorang. J ahadun biamalih. Takkan masuk surga seorang dikarenakan amalannya. Karena ba di sini sebagai imbalan makanya tidak tidak dikatakan tidak. Lan la eh lan di sini ikhwah sebagian ulama menyebutkan nafiul muabbad. Nafi tapi dia selamanya ya selamanya.
(47:18) Namun yang rajih allahuam bab lan ini ee huruf nafi yang menunjukkan nafi mustakbal. penafian. Tapi yang akan datang seperti seperti lafyu ee la itu na kalau la itu nafyunya naf ya. Adapun ee kalau lam lam itu nafunya sekarang. Kalau la nafyunya yang kemarin. Nah, demikian ya. Ee untuk madhi ee penafian tapi untuk yang lalu. Kalau lam penafian yang sekarang.
(47:52) Adapun lan penafian akan datang. Demikian ikhwah rahimullah wyakum. Kalaupun diartikan seperti faillam tafalu w’alqual tafalu. Apabila kalian tidak melakukannya, maka selamanya kalian tidak akan melakukannya. Artinya kalaupun kalian enggak bisa membuat tandingan ayat, maka selamanya kalian tidak akan bisa tidak akan bisa melakukan tandingan terhadap ayat tersebut. Membuat satu ayat sebagai tandingan.
(48:23) Bab lan di sini ikhwah untuk penafian lil mustqbal. Kalian yang akan datang enggak akan mampu melakukannya. Demikian ya. Kama zaamat kama zaamattazilah. Sebagaimana dikatakan oleh almuktazilah analila mustahiun dukhulal jannati albihi biamalih. Bahwasanya seorang yang beramal berhak untuk masuk surga untuk masuk surganya Allah dikarenakan amalannya.
(48:54) Demikian ikhwah balzalika birahmatillahi wa fadlih wal. Dan demikian itu adalah dikarenakan rahmatnya. Kemudian wal baati fihi. Adapun ba dalam firman Allah jaam bimau yalun balasan atas apa yang mereka lakukan. Ini kan kalimatnya kalimat kalimat positif. Kalau yang tadialadulal jannata ahadun biamalih. Tidak akan masuk surga seorang dikarenakan amalannya.
(49:26) Lan di sini karena dia kalimatnya kalimat negatif maka maksudnya ba biamali di sini artinya sebab ah artinya iwad yaitu sebagai imbalan. Adapun dalam firman Allah surah Assajadah ayat 17 jazaam bima kanu ya’malun. Surga itu sebagai balasan. Bima kanu ya’malun. Ba di sini bima kanu yaun. Bi bima kanu ada ba di situ. Ba itu maksudnya itu lisabab. Baus sabab.
(49:56) Ba sebagai sebab maknanya sebab a bisababi amalikum yaitu kamu masuk surga dikenakan sebab amalan kamu. Bukan imbalan. Nah, bukan imbalan. Wallahu taala hua khqul asbab. Allah Subhanahu wa taala yang menciptakan sebab-sebab. Wal musabbabat dan sebab dan musabab. Farajaa kullunjal mahdadillahmatih.
(50:30) Dengan demikian semuanya ya baik dalam hadis baik makna hadis yaitu ahadali. Demikian juga dengan firman Allah jazaam bimau ymalun. semuanya itu maknanya adalah kembali kepada sebab yaitu karunia Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi kalau di dalam hadis layadkal jannata ahadun biamalih, takkan pernah masuk surga seorang dikarenakan amalannya sebagai imbalan, tetapi sebagai rahmat Allah, bukan sebagai imbalan. Demikian juga ayat.
(51:12) Ayat mengatakan jazaam bima kanu y’malun sebagai balasan bima kanu yammalun ba di situ sebab yaitu sebagai yaitu sebagai balasan sebab amalan yang kalian lakukan. Dengan demikian baik hadis maupun ayat kedua-duanya mengerucut pada bahwasanya masuknya seorang hamba itu dikarenakan rahmat Allah bukan dikarenakan amalan yang disebut sebagai imbalannya.
(51:43) Demikian iklahakum semoga bermanfaattagfirullah wakum muslimin inf nam. Terima kasih jazakallahu khairan. Barakallah fikum ustaz atas penyampaian materi yang sangat bermanfaat sekali di kesempatan ini berkaitan dengan tema surga bukan imbalan suatu amal. Nah, ikhwat Islamakumullah. Silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung di L telepon 021 8236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543.
(52:18) Baik, pertanyaan pertama kita bacakan dari pesan singkat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Dari Pak Arif Dedi Sentik di Bekasi. Salam. Ya, pertanyaan pertama. Kalau ada orang yang ditempatkan di surganya kelak pada derajat yang lebih tinggi dari orang lain, apakah ini juga bukan karena amalnya yang lebih baik dari lainnya sehingga itu merupakan imbalan dari Allah Subhanahu wa taala? Kemudian pertanyaan yang kedua, apakah ada kemungkinan orang yang masuk surganya belakangan tapi derajatnya di surga lebih tinggi dari orang lain yang
(52:58) masuk surga lebih dahulu? Mohon nasihatnya, Ustaz. Jazakallahu khairan. Nah, karena ba yang kita maksud tadi jaam bim yalun sebagai balasanal jannatuma bimau yalun itu merupakan surga yang kalian wariskan dikarenakan apa yang kalian lakukan itu sebab apa yang kalian lakukan.
(53:25) Ee demikian juga halnya dengan seorang di surga itu di surga itu memiliki tingkatan-tingkatan seperti yang sudah kita bahas anna lil jannati darajat. Bahwasanya surga itu memiliki darajat. Darajat itu tingkatan ke atas ya. Tingkat ke atas. Rasulullah pernah mengatakan, “Faaltumul jannah fasalul firdaus fnahu aal jannati waatuha.” Apabila kalian minta surga langsung minta firdaus.
(53:57) Karena surga firdaus itu yang paling tinggi dan yang paling tengah. Artinya tempat yang paling istimewa. Lantas ee ee penyebabnya ini bagaimana penyebabnya? Penyebabnya bagaimana? Apakah imbalan? bukan imbalan juga, tapi itu merupakan sebagai sebab amalannya itu menyembutkan sebab. Demikian ikhwah bab kita lihat siapa yang berada di surga firdaus. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(54:27) Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi, bagaimana ikhwah ee kita ketahui bahwasanya kalau kita lihat dari sisi amalan, tidak ada seorang pun yang bisa menyamai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Demikian ikhwah. Kalau kalau perbuatan mungkin bisa ada yang bisa menyamai, tapi ketulusan ee kebaikan hati karena posisi seseorang juga menyebabkan pengaruh terhadap kelipat gandaan nilai amalan seseorang tersebut. Seperti istri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(55:01) Ketika mereka beramal nilainya tidak sama dengan amalan yang bukan istri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Karena sebaliknya juga kalau mereka berbuat maksiat maka hukumannya juga tidak sama dengan hukuman wanita biasa. Sama dengan sahabat. Sahabat ketika beramal beda imbalannya dengan yang bukan sahabat. Makanya Rasulullah pernah katakan asabi.
(55:25) Janganlah kalian cela sahabatku nafsi Muhammad demi zat yang jiwa Muhammad di tangannya. Seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud tidak akan bisa menyamai infak mereka. Infak gandum w makanan walaupun hanya segenggam w nasifah segenggam ee dua tangan atau segenggamnya.
(55:55) Bayangkan ikhwah kenapa posisi mereka sebagai seorang sahabat ya banyak sekali faktornya. Pertama dikatakan sahabat. Kalau Ibnu Masud mengatakanu abarum quluban karena hati mereka yang paling baik waqu ilman, yang paling sedikit eh yang paling banyak dalam ilmunya. Waqallum taqallufan yang mereka yang paling sedikit takalufnya. Artinya posisi mereka sebagai sahabat dikarenakan perjuangan-perjuangan mereka bersama Rasul dan ketulusan mereka terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebabkan walaupun mereka beramal sedikit tapi nilainya banyak.
(56:31) Itu kalau sedikit apalagi banyak. Para sahabat umumnya amalan mereka jauh lebih banyak dibandingkan orang-orang setelahnya. Demikian ikhwah posisi dia sebagai sahabat saja sudah menyebabkan dia mendapatkan nilai yang lebih. Makanya itu semua termasuk sebab. Demikian ikhwah termasuk sebab bukan imbalan ya, bukan imbalan.
(56:54) Oleh karena itu, Allahuam bisawab, orang-orang yang yang ee penempatannya di surga melebih dari orang-orang yang lainnya itu dikarenakan semuanya dikarenakan dikarenakan sebab, bukan sebagai imbalan. Allahuam bisawab. Adapun adakah orang yang terakhir masuk neraka ee yang terakhir keluar dari neraka atau terakhir masuk terakhir masuk ke surga? Bisakah apakah dia bisa mendapatkan tempat yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang lebih dahulu masuk surga? Jawabannya tidak.
(57:24) Karena dalam hadis disebutkan bahwasanya mereka yang terakhir masuk surga, mereka yang terakhir keluar neraka dan terakhir masuk surga itu dia akan menepati tempat yang paling rendah. Begituun tempat yang paling rendah itu jauh lebih mewah, lebih bernilai ketimbang 10 kali kekayaan dunia. Makanya orang yang masuk yang terakhir itu Rasul Allah mengatakan kepada dia, “Coba kamu bayangkan kemewahan-kemewahan dunia.” Dia bayangkan Allah katakan untukmu 10 kali lipat.
(58:02) Untukmu 10 kali lipatkan ikhwah. Jadi, allahualam bawab zahir daripada hadis yang sudah yang sudah pernah kita kaji bahwasanya ya orang yang terakhir berarti tempatnya juga yang terakhir. Allahuam bis nam nam. Terima kasih jazakallahu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas jawaban yang disampaikan. Semoga bermanfaat untuk penanya dan kita semua yang menyimak.
(58:29) Pertanyaan terakhir di kesempatan ini dari Pak Abdullah di Bogor. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, apakah surga dan neraka sekarang sudah diciptakan secara nyata atau baru akan diwujudkan setelah kiamat datang? Dan bagaimana nasib kaum orang munafik yang secara lahir tampak Islam tetapi hatinya kufur? Apakah mereka kekal di neraka seperti orang kafir? Mohon nasihatnya, Ustaz. Jazakallahu khairan.
(59:01) Seperti yang telah kita pelajari di awal-awal kitab Jannat wanar ini ya, bahwasanya surga dan neraka itu makhluqatan. Dua makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala dan dia sudah ada pada saat ini. Surga dan neraka pada saat ini sudah Allah Subhanahu wa taala ciptakan. Demikian juga di antaranya seperti kisah Nabi Adam Alaihi Salam yang dikeluarkan dari surga.
(59:28) Ya, surga itu apakah surga yang nanti? Iya. Sama surga itu juga surga yang nanti yang akan dimasuki oleh orang-orang mukmin. Demikian juga ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kisah dalam kisah Isra dan Mikraj. Jadi surga dan neraka itu sudah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala sekarang ini.
(59:52) Hanya memang manusia-manusia secara umum belum ada yang masuk ke sana ya. Belum ada yang masuk ke sana. Rasulullah yang pernah masuk ke sana. sudah melihat tapi yang lain belum. Demikian ikhwah ya. Jadi dalam masalah ini sekarang ini surga itu sudah Allah Subhanahu wa taala ciptakan. Neraka juga Allah Subhanahu wa taala juga sudah sudah ciptakan.
(1:00:16) Dan nanti orang-orang yang mas surga ingat itu bukan dikarenakan imbalan tapi dikarenakan rahmat. Ya. Rahmat. Orang yang terakhir masuk surga maka tempatnya tempat yang paling rendah. Demikian itu kalau yang terakhir ya kalau kita bicarakan yang terakhir. Tapi kalau yang bukan terakhir itu belum tentu.
(1:00:35) Misalnya begini sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya orang-orang fakir lebih dahulu masuk surga selama 500 tahun ketimbang orang-orang kaya.” Demikian, Ikhwah ya. Bukan yang terakhir ya. Bukan yang terakhir. Jadi bagaimana? Apakah nanti orang-orang kaya yang masuk surga ini akan tempatnya lebih tinggi dibanding orang-orang fakir? Bisa jadi ya terakhirnya orang-orang kaya ini masuk surga dikarenakan apa? Hisabnya banyak.
(1:01:00) Makanya dia tertunda masuk surga. Tapi ingat ikhwah, amalan orang-orang kaya yang masuk surga ini mereka punya amalan-amalan yang enggak enggak dimiliki oleh yang enggak bisa dilakukan oleh orang-orang fakir. Jadi keterlambatan mereka masuk surga bukan dikarenakan tingkatan tempat mereka yang lebih rendah, tapi dikarenakan hisab mereka lebih banyak, lebih lama. Demikian ikhwah.
(1:01:23) Tapi derajatnya boleh jadi derajatnya lebih tinggi dibandingkan derajat orang-orang yang yang fakir. Makanya ikhwah orang-orang fakir pada zaman sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ahludur bil ujur.” Ya Rasulullah, telah orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala.
(1:01:42) Rasulullah katakan, “Kenapa ya?” Yus yusuna kama nusolasumuna. Mereka berpuasa seperti kami puasa. Mereka salat sebagaimana kami salat. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan mereka beberapa zikir yang dapat menyamakan menyamakan derajat amalan mereka. Kemudian mereka pun bahagia. Tak lama kemudian datang lagi orang-orang fakir.
(1:02:08) Ya Rasulullah ternyata mereka orang-orang ahlud dusur, orang kaya telah melakukan apa yang kami lakukan. Apa kata Rasulullah? Dalika fadullah yuti yasya. itu merupakan keistimewaan anugerah karunia yang Allah Subhanahu wa taala berikan. Jadi kalau antara orang fakir saleh yang masuk surga dengan orang-orang kaya yang saleh surga boleh jadi yang kaya itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang-orang yang fakir dikarenakan keterlambatannya dikarenakan hisab yang sedang mereka lakukan. Adapun yang terakhir sekali masuk surga tempatnya itu yang paling rendah di surga kelak.
(1:02:39) Demikian ikhwah bab itu saja kajian kita. Semoga apa yang kita bahas manfaat lebih dan kurang mohon maaf wastagfirullah muslimin inah gurah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih. Jazakallahu khairan barakallahu fikum atas penyampaian materi dan jawaban-jawaban yang disampaikan ustaz. Nam ikhwati Islamakumullah.
(1:03:05) Demikian program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab Aljannatu wanar menuju negeri abadi. Semoga apa yang telah kita simak dengarkan dapat menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua dan tentunya semoga kita dapat mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah Subhanahu wa taala selalu memberikan kemudahan bagi kita dalam beramal saleh. Amin ya rabbal alamin.
(1:03:30) Kami yang bertugas pamit undur diri. Mohon maaf atas segala kekhilafan. Terima kasih. Jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum atas kebersamaan Anda. Wabillahi taufik wal hidayah. Subhanaka Allahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:03:52) inalhamdulillah nahmadufir


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *