Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(4) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati – YouTube

Transcript:
(00:01) Wabasyiril mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. Ini kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.
(00:34) 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah inalhamdulillah nahmaduagfir R TV. Saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawala. Saudaraku seiman dan seakidah sahabat Raja di mana pun Anda berada.
(01:30) Masih bersama dengan kami di saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Dan di kesempatan kita pagi hari ini kembali kami hadirkan sebuah kajian ilmiah yang kami pancaruaskan langsung dari studio di STDI Imam Syafi’i di Jember, Jawa Timur bersama Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala. Dan kembali kita akan mengkaji terkait dengan amalan hati dengan tema pembahasan di pagi hari ini, yakni akhlak yang mulia.
(01:58) Saudaraku seiman dan seakidah, kami ajak Anda untuk menyimak kajian ini dan Anda dapat berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Anda dapat mengirimkan pertanyaan melalui pesan WhatsApp ataupun main telepon di nomor 0218236543. Baiklah saudaraku seiman dan seakidah untuk selanjutnya kita akan simak nasihat dari Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala.
(02:23) kepada Ustaz Fatafadol Maskur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala asrofil iyaai wal mursalin nabiina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’d. Allahumma alimna ma yanfauna wanfna bima alamtana wazidna ilma.
(03:06) Allahumma faqqihna fiddin waimnat takwil. Ikhwatul iman, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa dan juga para pendengar di mana saja antum berada. Semoga senantiasa dalam keadaan sehat walafiat, senantiasa dimudahkan oleh Allah subhanahu wa taala dalam menjalani hidup ini dalam rangka berubiyah dan melaksanakan berbagai aktivitas.
(03:36) yang merupakan bagian dari kehidupan dunia yang tentunya semua hal itu kita berharap menjadi wasilah untuk meraih rida Allah subhanahu wa taala. Allahumma amin. Selawat dan salam untuk Nabi yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allahumma shallli wasallim ala abdika wa rasulika Muhammad.
(04:02) Ikhwat iman, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa rahimakumullah. Kembali kita melanjutkan pembahasan tentang amalul qulub, amalan-amalan hati yang tentunya dengan amalan tersebut hati akan menjadi baik, jiwa akan menjadi suci dan diharapkan dari kebaikan hati dan kesucian jiwa tersebut lahir berbagai akhlak-akhlak yang mulia. Ikhwatal iman.
(04:39) Begitu juga akhlak yang mulia akan mempengaruhi hati kita antara akhlak yang mulia dan jiwa yang suci. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ikhwat al iman, kaum muslimin dan muslimat dan juga para pendengar rahimakumullah. Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala menjelaskan tentang kedudukan akhlak yang mulia dalam Islam dan juga menjelaskan hakikat akhlak kemudian bagaimana atau apa saja wasilah untuk meraih akhlak yang mulia.
(05:12) Dan sisi yang lain beliau juga memperingatkan tentang akhlak-akhlak yang tercela dan apa saja sikap yang akan atau sebab-sebab yang akan menimbulkan atau yang melahirkan akhlak-akhlak yang tercalah tersebut. Beliau menjelaskan bahwa akhlak merupakan bagian dari agama yang tidak bisa dipisahkan. ini termasuk perkara yang menjadi perhatian utama agama Islam.
(05:47) Bahkan dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa misi utama beliau diutus oleh Allah Subhanahu wa taala adalah untuk menyempurnakan akhlak. Innama buitu liutamima shihal akhlakimal akhl. Aku diutus untuk menyempurnakan ya melengkapi dan menyempurnakan akhlak yang mulia. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa taala memuji nabi kita yang mulia alaihialatu wasalam dengan akhlak yang mulia.
(06:25) Qala taala wa innaka laala khuluqin adzim. Sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh berada di atas akhlak yang agung. Nah, kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah maksudnya wal makna innaka laal khuluqilladziarakallahu bihi Quran. Sesungguhnya kami Muhammad sungguh ya berada di atas akhlak yang telah ya Allah pilih ya. Allah pilih untukmu wahai Muhammad.
(07:04) Dan itu yang diutamakan oleh Allah untukmu Muhammad fil Quran. Di dalam Al-Qur’an Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kana khuluquul Quran. Ya, bahwa akhlak Nabi yang mulia alaihialatu wasalam adalah Al-Qur’an. Apa maksudnya? Bahwa semua perintah yang terdapat dalam Al-Qur’an beliau laksanakan dan larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an beliau tinggalkan.
(07:38) Jadi, beliau alaihialatu wasalam dalam perkataannya, dalam perbuatannya, dalam perilaku dan sikapnya mencerminkan kandungan Al-Qur’an secara menyeluruh. Kemudian Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan jama Allahu makarimal akihi taalawa wur bilfi wail jahilin. Kata Nabi alaihialatu wasalam, kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, Allah Subhanahu wa taala telah mengumpulkan ya semua akhlak yang mulia itu bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam firman-Nya, khuzil afwa ya berikanlah maaf ya wamur bil urfi.
(08:32) perintahkan dengan kebaikan waid anil jahilin dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Ada tiga hal yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada nabi kita yang mulia. Dan ketiga perkara tersebut merupakan kumpulan dari akhlak-akhlak yang mulia. Khudil afwa ya. Berikan kemaafan. Berikan kemaafan. Jika ada seseorang yang berbuat kesalahan kepadamu, ya dengan catatan hal itu tidak berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa taala, maka Allah perintahkan, “Khudil afwa ya berikan kemaafan.
(09:24) Wur bil urfi perintahkan dengan kebaikan wail jahilin dan berpaling dari orang-orang yang bodoh. Dalam hidup ini kita melihat fakta dan realitanya. kita hidup di tengah-tengah saudara kita kaum muslimin, bahkan di tengah masyarakat ya dengan berbagai ya dengan corak ragamnya perilaku sikap kebiasaan, tradisi, tutur kata dan berbagai perbedaan yang begitu banyak.
(10:01) Seringki dalam berinteraksi kita mendapatkan gangguan ya, mendapatkan cobaan nam bahkan disakiti ya baik secara lisan, secara fisik dan yang lainnya. Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa taala khudil afwah. Memang tidak mudah dan ringan untuk memaafkan. Kenapa demikian? Karena dalam diri manusia ada sifat ingin ya melampiaskan amarahnya.
(10:52) ingin kepuasan ya dirinya dan dia memiliki persepsi tatkala disakiti itu penghinaan baginya dan jiwa tidak mau ya tidak siap menerima hal itu. di dalamnya ada dorongan nafsu ya, keinginan jiwa untuk membalas. Ya, tapi bila dipandang dari sisi agama dan bila dilihat dari sisi ya akhlak yang mulia, ternyata yang demikian itu bila kita lebih memperhatikan sisi keuntungan ukhrawi, orientasinya ukhrawi dan juga rida Allah subhanahu wa taala. Bagi mereka memaafkan itu sesuatu yang sangat ringan.
(11:50) Karena tatkala mereka memaafkan, Allah akan memaafkan dia. Ala tuhibbuna ayagfirallahu lakum. Tidakkah kalian menginginkan Allah memaafkan kalian, mengampuni dosa-dosa kalian? Bila orientasi kita ya, pemahaman kita terhadap segala ya atau interaksi kita dalam dengan atau bersama manusia, kita memiliki orientasi ukhrawi.
(12:21) Bahwa kita tatkala berbuat kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan kebaikan itu berbagai macam bentuk dan pintunya. di antaranya kemaafan memaafkan, ya. Maka dalam hal ini Allah Subhanahu wa taala akan juga membalas kebaikan kita dengan kebaikan yang semisalnya. Kita memaafkan, Allah maafkan kita.
(12:53) Kita memberi, Allah akan memberikan yang lebih banyak. Barang siapa yang mengimpakkan hartanya, Allah akan memperlipat gandakan hartanya. Begitu seterusnya. Hal jazaul ihsani illal ihsan. Bukankah balasan kebaikan itu kecuali kebaikan juga? Ikhwatal iman para rahimakumullah. Bilurfi ya ajak kepada kebaikan perintahkan kepada kebaikan. N wail jahilin dan berpaling dari orang yang bodoh di dunia ini ya.
(13:33) Perbandingan orang yang paham, orang yang berilmu dengan orang yang bodoh. Ya, tentu yang mendominasi adalah kebodohan. Nah, populasi yang bodoh itu lebih banyak dari yang berilmu, yang awam. Nah, dan perilaku orang yang bodoh ya tentu tidak berdasarkan ya tinjauan penilaian sikap yang bijak. Namanya kebodohan. Kebodohan sumber seluruh kejahatan. Maka dia akan mengganggu menzalimi, mencaci dan seterusnya. Ya.
(14:13) Dan itu banyak di sekitar kita ya. Karena orang yang bodoh dalam berinteraksi dengan perilaku tidak menggunakan akal yang sehat, tidak menggunakan sikap yang bijak, ya hanya menggunakan emosinya. Bertutur kata tidak berdasarkan ilmu dan fakta dan data. ya bersikap tidak berdasarkan ya suatu ya keyakinan yang bar tapi hanya sebuah kebiasaan yang sesuai dengan ya status dia yang dominan diasi oleh kejahilan itu.
(14:54) Itu sikap orang yang bodoh ya yang tidak tahu tata kerama yang tidak melihat yang tidak ya ee menghadirkan dirinya ada perasaan orang lain. Dia hanya ya melihat dirinya sendiri, berbicara tanpa ilmu, bersikap tanpa ilmu, ya menyelesaikan masalah tanpa ilmu. Hanya dengan kebodohan. Apa yang akan dilahirkan dari kebodohan tadi? Selain dari kejahatan. Maka dalam kehidupan kita banyak ya kebodohan itu.
(15:29) Maka kata kata Allah Subhanahu wa taala kepada nabinya a jahilin ya berpaling jangan dihadapi. Karena seorang yang cerdas, orang yang bijak bila menghadapi orang yang jahil ya dan tidak berpaling pasti akan menjadi ya seperti perilaku dia atau mendekati perilakunya. Naam. Kemudian bagaimana akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam? Ya, beliau adalah seorang nabi yang telah dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala yang sungguh berada di atas tingkat yang tertinggi dalam akhlak yang mulia.
(16:07) Ya, Anas bin Malik radhiallahu anhu sebagai ya pelayan Nabi sallallahu alaihi wasallam khadimuhu ya 10 tahun beliau berkhidmat pada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau menceritakan bagaimana akhlak Nabi yang mulia alaihialatu wasalam. Bagaimana kepribadian beliau ya beliau tidak pernah ya memegang ya sepotong kain atau kain sutra yang alyan min kafi rasulah alaii wasallam yang lebih lembut dari telapak tangan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Subhanallah ya.
(16:43) Wasam dan tidak pernah mencium aroma yang lebih harum ya lebih wangi daripada ya aroma Nabi sallallahu alaihi wasallam. Walaqad khadamtu rasul wasam asasi. Saya telah memberikan ya pelayanan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam selama 10 tahun. Ak pernah beliau mengucapkan mengatakan kepada ya menghardi ya tidak pernah fa dan tidak pernah mengatakan kepadaku ya tentang sesuatu yang aku lakukan lima faal kenapa kamu lakukan hal itu wya la lam af’aluhu ala fa’alta dan juga tidak pernah mengatakan kepadaku tentang sesuatu yang tidak aku lakukan, yang tidak aku kerjakan. Beliau
(17:38) mengatakan, “Ala faata.” Kenapa ya? Kenapa engkau tidak melakukan hal ini? Ya, ala fa’alta, alangkah baiknya engkau melakukan hal ini. Subhanallah. Hadis diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Ini mencerminkan kepada kita tentang ya kepribadian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(18:05) Ya, beliau uswah kita, beliau qudwah kita, panutan kita. Ya Allah subhanahu wa taala juga menjelaskan bahwa Nabi alaihialatu wasalam ya bagaimana sikap beliau yang sungguh sangat menyayangi umat ini. Beliau yang sungguh sangat ya berusaha untuk memberikan yang terbaik pada umat ini dan bagi beliau sesuatu yang memberatkan umatnya.
(18:33) Suatu yang berat ya bagi diri beliau. Laq jaakum rasulum min anfusikum azizun alaium harun alikum. Telah datang kepada kalian seorang rasulumikum dari kalangan kalian juga. Azizun alaihium. Sangat berat bagi beliau diri beliau suatu yang memberatkan kalian ya. Suatu yang menyulitkan kalian. Suatu yang menyusahkan kalian. Harisun alaikum.
(19:05) Sungguh orang yang sangat ya peduli, bersungguh-sungguh dalam memberikan kebaikan kepada kalian. Bil mukminina raufurah rahim. Beliau orang yang sangat sayang ya kepada orang-orang yang beriman. Fabima rahmat minallah lintahum. Dan dengan rahmat Allah kamu Muhammad ya lintalah berlama-lembut dengan kaum mukminin.
(19:35) Jika memiliki jiwa yang e jiwa yang kasar atau akhlak yang tidak baik, maka tentu mereka akan berpaling dari iman. Ikhwat al iman para rahimakumullah. Begitu banyak keutamaan akhlak yang mulia dan akhlak yang mulia akan mempengaruhi jiwa kita. Akhlak yang baik akan mempengaruhi hati kita. Dan hati yang suci, hati yang baik juga akan melahirkan akhlak yang mulia.
(20:09) Antara akhlak yang mulia dan kesucian hati, dua hal yang terkoneksi. tidak bisa dipisahkan. Dua hal yang bertalian ya, ikatan yang erat sekali ya. Oleh karena itu di antara usaha kita untuk memperbaiki hati kita adalah memperbaiki akhlak kita. Ikhwat al iman para rahimakumullah, al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan, adinu kulluhu khuluk.
(20:42) Agama ini semuanya akhlak yang baik, khuluk. an zada alaika fil khulq zada alaika fiddin. Barang siapa yang bertambah akhlaknya kepadamu, maka tentu akan bertambah agamanya. Ya, jadi cerminan agama seseorang adalah akhlaknya. Karena agama Islam seluruhnya syariat Islam, akidahnya ya akhlaknya semuanya adalah menunjukkan kepada kemuliaan dan kebaikan.
(21:24) Ya, mengajak kita semua untuk menjadi pribadi-pribadi yang memiliki akhlak yang mulia, kepribadian yang mulia. Nam dan mencegah kita semua dari berbagai sikap yang tidak baik, perilaku yang jelek dan akhlak yang tercela. Jadi pertanyaan apa yang menjadi atau hakikat dari akhlak yang mulia ya atau definisi akhlak yang mulia. Al Imam Ibnu Qayyim memberikan ya satu penjelasan ya waqadqila inna husnal khuluq badlun nada wa kafful wtimalul.
(22:10) Kata beliau dikatakan bahwa hakikat dari akhlak yang mulia itu definisi akhlak yang mulia itu inna husnal khuluq badlun nada. memberikan kebaikan. Memberikan kebaikan. Kebaikan dalam artian yang seluas-luasnya. Kebaikan dalam urusan dunia apalagi urusan akhirat. berikan kebaikan baik dengan lisan tutur kata kita atau perbuatan kita iya dan kebaikan-kebaikan yang lain kita miliki. Berbagai kebaikan yang kita miliki.
(23:03) mungkin harta tahta ya dan ya berbagai kelebihan yang kita miliki ilmu ya keahlian semua kebaikan kita berikan menyebarkan kebaikan apapun bentuk kebaikan tadi dan banyak sekali pintu-pintu kebaikan maka badlun nada kita berikan kita sebarkan kan ya kita publikasikan kebaikan tadi kita berikan maksudnya bukan berarti publikasi begitu buat baik ya kita langsung ya ee diser ke sana tidak tapi kita menyebarkan kebaikan yang ada pada diri kita kita sebarkan agar bermanfaat bagi orang lain ya harta yang kita miliki kedudukan
(23:54) yang kita miliki ilmu yang kita miliki namam kekuatan fis yang kita miliki apa yang bisa kita berikan ya dari sisi kebaikan ini yang pertama badlun yang kedua kafulza kaf yaitu menahan diri atau ya meninggalkan nah kafulza aza yaitu gangguan kejahatan kejelekan jadi tinggalkan hal itu.
(24:35) Nah, menjauhi hal itu, menutup hal itu, ya. Jangan dibuka pintu-pintu kejahatan tadi. Tutup kaf tahan diri dari berbuat kejahatan, kejelekan. Nah, berbagai bentuk ya kejelekan, kejahatan, kerusakan. Nam baik dari lisan kita, perbuatan kita atau mungkin ya harta kita. Karena harta banyak sebagian menggunakan hartanya untuk mendukung hal-hal yang diharamkan agama ya.
(25:13) Mendukung kegiatan-kegiatan kemaksiatan atau untuk merongrong kebaikan. Jadi harta ini digunakan bukan untuk kebaikan, untuk membantu hal-hal ya merongrong kebaikan, membantu untuk memprovokasi ya kebaikan dan seterusnya. Harta itu digunakan untuk kejelekan bukan untuk kebaikan. Nah, ini bentuk dari akhlak yang mulia. kaf ditinggalkan hal yang seperti itu.
(25:49) Kedudukan berapa banyak orang yang kedudukannya untuk menyebarkan waliyyazubillah ke jahat, menzalimi orang lain ya menggunakan untuk berbuat nauzubillah berbagai kejelekan, jabatan, kedudukan digunakan untuk korupsi, mencuri, manipulasi dan seterusnya ya. menzalimi orang lain. Namasan, mumpung masih berkuasa ya. Tayib. Perkataan ya. Dia tinggalkan hal-hal yang menyakiti hati manusia.
(26:27) perkataan-perkataan yang dusta, palsu, membuat ya berbagai ya opini yang negatif ya, perkataan ya dan tidak mudah ya dengan ya menyebarkan berbagai tuduhan-tuduhan ya. Zaman sekarang ini ada pola pikir sebagian ya yang menjelaskan tentang ya bagaimana dia berusaha memprovokasi orang-orang untuk ya ee membatasi untuk ya menuduh sebagian kelompok tertentu misalnya ya dengan berbagai kejadian fenomena yang muncul dan kemudian tiba-tiba Ya, dalam istilah menjadikan orang lain sebagai kambing hitamnya dengan mudah dia menuduh.
(27:23) Ini lisan. Jaga lisan Anda. Kaful ada. Jangan menyakiti hati orang lain. Ya. Dan banyak hal kalau kita ingin ya memperhatikan bagaimana perilaku manusia ya di dalam masalah ya akhlak yang mulia ini, betapa banyak ya yang belum mampu untuk menahan diri. dari berbuat kejahatan.
(27:59) Dan kejahatan bukan berarti hanya ya bentuk fisik, jahatan fisik, tidak lisan dan berbagai hal. Yang ketiga, ihtimalul az. Ihtimalul az yaitu sabar dalam menghadapi cobaan, gangguan. Karena kita hidup berinteraksi dengan manusia dan betapa banyak ya gangguan yang kita hadapi itulah kehidupan. Karena dunia penuh dengan cobaan dan ujian. Nah, jaalna baukumin fitnatanirun.
(28:43) Sebagian fitnah bagi yang lain. Apakah kalian sabar? Ihtimalul ada. Nah, ini membutuhkan kepribadian yang yang betul-betul ya yang besar, jiwa yang besar. Nah, kepribadian yang bukan hanya ya di ee dikuasai oleh ya apa namanya itu yaitu ambisi sesaat atau emosi sesaat. Tapi kepribadian yang betul mempertimbangkan segala konsekuensi yang muncul dari sikap dia.
(29:37) Karena tatkala dia tidak sabar, dia harus membalas dan juga pasti ada konsekuensi yang negatif. Ya ihtimal alada sikap yang siap untuk memikul menghadapi cobaan dan ujian. Tiib ikhwat al iman para pemisa rahimakumullah. Kemudian al Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa akhlak yang mulia itu ya dibangun di atas ya ada empat pilar utama akhlak yang ee yang apa namanya itu? Akhlak yang sangat mendasar, akhlak yang sangat mulia.
(30:20) Jadi dibangun di atas empat akhlak yang mulia. Maka akan lahir dari situ akhlak-akhlak mulia yang lainnya. Ya wusnul khulu yaquumu albaati arkan. Jadi pilar utama, pilar utama akhlak yang mulia itu ada empat. Yang pertama kata beliau asabru, kesabaran. Dan yang kedua wal ifah. Alifah ini ya kemuliaan jiwa. Yang ketiga, asyajaah, keberanian. Ya, keberanian.
(31:08) Yang keempat, wal adlu dan keadilan. Jadi, empat pilar utama akhlak yang mulia. Yang pertama asabr. Yang kedua al-fah. Ikfa itu ya yang lebih tepat terjemahannya kemuliaan jiwa. Jadi ada yang jiwa-jiwa jiwa yang mulia. Nah, ada jiwa yang kerdil, jiwa yang rendah sekali. Ya, ini jiwa yang mulia. Kemudian wasyajaah, keberanian. Wal adal dan keadilan.
(31:42) Keberanian bukan berarti ngaur ya. Akan dijelaskan oleh beliau. Nah, nah ini pilar akhlak yang mulia. Kata beliau yaqamaki illa alaiha enggak ya mungkin tidak mungkin akhlak yang mulia itu pilar akhlak yang mulia itu tiang dari akhlak yang mulia itu ya dibangun kecuali di atas keempat sikap atau perilaku atau akhlak yang mulia yang menjadi pilar utama dari akhlak-akhlak yang lain.
(32:24) ru Sifat sabar itu akan ya mendorong seseorang ya menggiring seseorang nah atau akan menjadikan seseorang alil ihtimal yaitu siap menghadapi berbagai coba dan ujian kazmil ghaiz menahan amarahnya wafil ada dan membendung berbagai kejahatan. Walilm, sikap santun, wal anat, hilm lemahlembut wal anat, santun, rifq juga kasih sayang.
(33:05) Waamil thais wal ajalah ya tidak tergesa-gesa dan juga sikap ya cerobo ini semua lahir dari sifat akhlak assabar. Akhlak sabar. Jadi dengan kesabaran seorang bisa mengontrol dirinya. Dia meninggalkan kejahatan, santun, ya, lemah lembut, tidak ceroboh, dan tidak tergesa-gesa, menahan amarahnya. Kenapa? Dia memiliki sifat sabar. Jadi, semua akhlak yang tadi dibangun di atas pondasi kesabaran.
(33:36) Kalau tidak memiliki sabar, ya kita mengetahui apa yang terjadi. Dia tidak mudah memaafkan, bahkan dia membalas. dia akan mengganggu dan biasanya dalam pembalasan itu akan melebihi ya atau akan menjatuhkan kepada hal yang lain. Tidak sabar, tidak berlembut-lembut, kemudian ceroboh ya bersikap tidak mempertimbangkan ya berbagai sisi ya negatif dan positifnya. Tib.
(34:12) Kemudian wal ifah kemuliaan jiwa. jiwa yang mulia namam maka akan mendorong dia untuk ijtinabilir radil wal qabai minalli wal fi meninggalkan segala kejelekan kekejian dan kejelekan baik berupa perkataan atau perbuatan yaitu akan mendorong seseorang untuk meninggalkan perkataan yang keji perbuatan yang jelek ya ini ifah karena jiwa yang mulia, jiwa yang kerdil, jiwa yang hina.
(34:50) Ya, maka dia akan terjerumus ke dalam kehinaan tadi, kekejian tadi. Tapi jiwa yang bukan jiwa yang sombong ya, jiwa yang mulia. Kemuliaan jiwa ifah nam watahmilu alal haya. Dan ini akan mendorong dia untuk memiliki sifat malu haya. telah kita jelaskan pada pembahasan sebelum bagaimana sifat malu ya urgensi dan juga ee kedudukannya dan sifat malu wahua rasu kulli khair sumber seluruh kebaikan minal fuhs dan akan membendung dia dari fuhsy kekejian kejelekan wal bukhul bakhil kikir wal kadib dan dusta wal giahibah w namimah mengadu domba Apa yang
(35:43) menghalang seseorang dari pelakukan hal itu? Ifatun nafsi, jiwa yang mulia. Karena jiwa yang mulia tentu dia akan melakukan kemuliaan, kebaikan. Adapun ya berbuat kekejian, bakhil, kikir, kemudian dusta, gibah, namimah, ngadu domba. Ini perilaku jiwa-jiwa yang kerdil, jiwa-jiwa yang hina.
(36:21) Adapun seorang muslim memiliki jiwa yang mulia ya ikhfah ya memiliki kemuliaan jiwa, maka dia tinggalkan hal itu. Enggak pantas bagi dia seorang yang mulia, jiwa yang mulia, jiwa yang besar, jiwa yang mulia. Maka yang pantas bagi dia yang cocok bagi kemuliaan ya, kejujuran, kedermawanan, meninggalkan kejahatan, enggak ngebai orang, enggak adu domba, memiliki sifat malu, itu jiwa yang mulia. Namam ini yang harus kita miliki.
(36:57) Ya, ifah. Karena jiwa yang mulia dia tentu akan memposisikan di tempat-tempat yang mulia. Tapi jiwa yang hina, jiwa yang rendah ya maka sesuai dengan posisinya dia akan melakukan perilaku-perilaku dan sikap-sikap yang hina, yang rendah, yang enggak ada nilainya. Ya, tayib. Jadi sifat malu itu lahir dari kemuliaan jiwa tadi akan melahirkan ya sifat malu al-ffah ini yang pondasi yang kedua. Yang ketiga asyajaah.
(37:35) Syajaah itu keberanian. Keberanian di sini tentu yang positif bukan hal yang ngaur. Tidak ya. Keberanian yang disertai dengan sikap bijak tahmilu ala izzatin nafs yang akan mendorong dia menggiring dia untuk memiliki izzatun nafs jiwa yang besar kepribadian yang mulia jiwa yang besar maalimil akhlam yang lebih mengutamakan akhlak-akhlak yang mulia dan kepribadian-pribadian yang tinggi yang terpuji.
(38:25) Waal badli keberanian tersebut akan mendorong dia untuk badli berbagi wanada ya ala badli wada memberikan kebaikan ya. Alladzi hua syajaatun nafs wa quatu ala ikrajil mahbub mufarq yang suka berbagi itulah bentuk keberanian jiwa dan kekuatan jiwa yang siap untuk mengeluarkan sesuatu yang dia senangi dan dia cintai dan meninggalkan hal itu.
(39:02) ini karena dia yang memiliki sikap keberanian izah jiwa yang memiliki ya ee kebesaran dan keagungan. izzatul nafs. Dia cinta harta karena dia memiliki jiwa yang besar dia mampu mengeluarkan sesuai dicintai diberikan pada orang lain. Kalian tidak akan mer kebaikan sampai kalian mengimpakkan suatu yang kalian cintai.
(39:37) Ini membutuhkan syajaah keberanian jiwa tadi ya. memberikan sesuatu yang kita cintai, yang kita senangi kepada orang lain. Ini bukan suatu yang ringan. Hanya akan mampu dilakukan oleh jiwa-jiwa yang besar, jiwa-jiwa yang mulia, jiwa-jiwa yang agung. Syaajaah. Syaajaah. Ini maksud syjaah di sini ya. Syajaah, keberanian di sini. Namam ini maksudnya.
(40:10) Kemudian wal adlu. Dan yang keempat ada wal adlu. Pilar yang keempat akhlak yang itu keadilan. Dan ini akan selalu menjadikan dia dalam sikap yang ee akhlak ee yang selalu stabil dalam akhlak tadi yang selalu posisi tengah di antara akhlak-akhlak yang bertentangan ya. sikap yang ekstrem dan sikap yang ya enggak peduli.
(40:46) Jadi, ada orang-orang yang mempunyai perilaku yang berlebihan, ada orang-orang yang sama sekali subhanallah tidak memiliki sama sekali ya semangat untuk atau tidak memiliki sama sekali ya perilaku dan sikap yang baik. Enggak peduli dia. Yang satu berlebihan, yang satu enggak peduli.
(41:14) Nah, sikap adil itu kan berada di tengah antara sikap yang berlebihan dan sikap ya ketidakpedulian tadi. Maka yang demikian itu kata beliau akan mendorong dia untuk memiliki sikap aljudi wasakha. Ya, sifat aljud kedermawanan ya. kedermawanan yang itu merupakan sifat tengah antara al imsak walisrar bakhil kikir dan orang yang tabzir ya mubazir.
(41:45) Jadi sikap tengah itu adalah aljud wal karam. Dia tidak kikir, tidak bakhil dan juga tidak tabzir. Maka assakha wal jud kedermawanan antara kedua sikap yang tercela tadi. Al-haya sifat malu adalah sikap tengah antara azzul walqihah. Zul kehinaan walqiha yaitu sikap yang keji ya. perilaku yang kiha itu zul dia rendah sikap yang ya kihah perilaku yang sama sekali ya terlepas dari sifat malu tadi hal yang sangat tercela.
(42:39) Nah, maka sifat malu lahir. Orang yang malu bukan berarti dia menghinakan diri, merendahkan diri. Tidak. Tapi malu adalah sikap yang atau sifat akhlak yang mulia yang lahir di antara sikap ya kehinaan diri dan juga perilaku yang tercela tadi. Nah, wasyajaah ala khuluqisajaah keberanian yang lain ada sifat ya aljubun yaitu mengecut.
(43:14) Wat tahawur yaitu ngaur. Nah, keberanian itu di antara sikap itu syajarah. Apa yang melahirkan sifat syajaah tadi? Ada al-adil. Karena dia selalu stabil ya. Jadi berada dalam sikap tengah dalam di antara dua akhlak yang tercela. Waa khuluqilmi ya sikapun santun ya. yang lahir yang ada tengah di antara ghadab, emosi wal mahana kehinaan.
(43:50) Nam wasuquutun nafs jiwa yang rendahan akan lahir alhilm itu yang santun. Nah, nih orang yang santun selamat dari kedua sikap atau perilaku yang tercela tadi. Kemudian beliau memberikan satu kesimpulan wamyau jamiul akilah min. Sumber semua akhlak yang mulia itu dari keempat pilar utama ini. Yang pertama sabar ya, assabru.
(44:18) Yang kedua ifah yang ketiga asyajaah dan yang keempat adalah al-adl. Jadi pilar utama akhlak yang mulia ada empat. Sumbernya ada empat. Sikap yang pertama adalah asabr. Sabar. Yang kedua, ifah, kemuliaan jiwa. Yang ketiga adalah asyaja, keberanian. Nam. Dan yang keempat adalah al-adil, keadilan.
(44:53) Kemudian sebaliknya kata beliau, ada juga sumber ya munculnya akhlak-akhlak yang tercela. Karena lawan dari sifat yang mulia akhlak yang tercela. Ya, sebagaimana kita diperintahkan untuk memiliki akhlak yang mulia, kita juga di ya dilarang. Nam dari akhlak-akhlak yang tercela. Nah, beliau menjelaskan bahwa akhlak yang tercela, akhlak yang rendahan itu, akhlak safilah yang tercela itu juga kata beliau muncul dari empat perilaku. Yang pertama aljahlu, kebodohan.
(45:31) Wazzulmu kezaliman. Yang keempat, wasyahwatu, syahwat nafsu. Yang ke yang ketiga, syahwat nafsu. Yang keempat, algab ya marah. Ini sumber dari akhlak yang tercela. Kejahilan. Apa yang mau diharapkan dari kejahilan? Kejahilan sumber dari kejahatan. Nah, jadi tidak heran kalau orang yang jauh dari agama tidak memahami prinsip agama, dia akan sangat jauh dari akhlak yang mulia, tutur kata, sikap, perilaku, pergaulan, dan seterusnya. Karena jahil.
(46:19) Baik jahil dalam artian jahil dalam seluruh aspek agama enggak peduli atau jahil dalam sikap atau akhlak yang dituntut bagi dia untuk ya dia miliki tidak mengetahui tentang hal itu. Maka muncul sifat-sifat yang tercela tadi kejahilan. Maka bekali diri kita dengan ilmu. Ya, ilmu sumber kebaikan. Kejahilan sumber kejahatan. Wulmu kezaliman.
(46:51) Kezaliman karena zalim tidak lagi memposisikan suatu pada tempatnya. Nah, bila terjadi perkawinan antara jahil dan kezaliman ini udah ini dunia akan hancur semuanya ya. Kejahatan akan muncul. Zalim jahil. Itulah perilaku sikap manusia. Ya, kezaliman dan kejahilan. Inahuman jahula. Makanya berani dia memikul amanah. Kenapa? Karena kejahilan dan kezalimannya.
(47:32) Amanah yang Allah pikulkan, Allah berikan kepada langit dan bumi dan gunung, mereka enggak mampu memikulnya. Saking beratnya. Tiba-tiba manusia yang mampu atau yang mengambil amanah tadi mereka memikulnya. Kenapa? Ada dua sifat, jahil dan zalim. Inaluman jahula. Naam. Maka kezaliman, kejahilan ini sumber dari akhlak yang tercel.
(47:58) Yang ketiga, syahwat nafsu. Annafsul amaratu syahwat ambisi, syahwat nafsu. Ya. Dan kita mengetahui seringki yang mendominasi pribadi kita, diri kita nafsul amaratu syahwat. Dan apabila ya jiwa yang banyak kepada kejahatan itu yang mendominasi diri kita, maka akan timbul syahwat dan nafsu yang tidak terbendung.
(48:30) akan muncul ya ambisi dan bagaimana menghalalkan segala cara karena sahwan nafsunya untuk makan dunia ambisius untuk dunia ya jabat kedudukan harta dan semuanya wanita maka terjatuh kepada kekejian bahkan melakukan sifat perilaku yang mungkin binatang saya tidak melakukan tapi dia waliyazubillah karena syahwat nafsunya melakukan sesuatu yang mungkin sebagian binatang malu melakukannya nauzubillah Naam. Walab amarah.
(48:58) Naam. Jadi sangat tipis sekali perbedaan antara gila dan marah itu. Karena kalau sudah gila, kalau sudah marah itu perilakunya mendekati sikap kegilaan. Nam seperti itu. Dan gila tentu dari ee tentu tidak lagi menggunakan akal. sama tatkala seorang yang gab marah akal saya tidak berfungsi lagi karena sudah dikuasai oleh setan.
(49:30) Nah, maka dia melakukan sesuatu di bawah alam sadar ya enggak pun akalnya enggak pertimbangkan dia membunuh ini dan seterusnya. Begitu dia sadar dia nyesal. Kenapa? Akal sudah kembali. Oh iya. Waktu marah terjadi cerai. waktu marah di pembunuhan, waktu marah dan semuanya maka semua kejahatan muncul di situ.
(50:02) Nah, subhanallah ya. Semoga Allah Subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari berbagai sikap tersebut. Maka aljahlu ya akan melihat suatu yang baik itu jelek. Yang jelek baik itu karena kebodohan tadi. Namam. Yang sempurna dilihat kurang, yang kurang dilihat sempurna.
(50:27) Nah, begitu karena kebodohan tadi yang kezaliman kata beliau iya akan menjadikan seorang meletakkan suatu tidak pada tempatnya. Dia marah tatkala di posisi harus rida. Ya, dia tergasa-gasa di posisi dia harus ya harus ee apa namanya itu ya? Jangan tergesa-gesa. Nah, kemudian dia bakhil di deposisi dia harus memberi. Nah, dia seharusnya maju berbuat, tapi ya malah dia mundur.
(50:57) Nah, ini karena kezaliman tidak menempatkan sesuatu perilaku dan sikap pada posisi dia harus berlambut ya. Ya, malah di posisi dia harus berlalu lembut di posisi syiddah, sikap yang tegas. Nah, kemudian syahwah. Syahwat tadi mendorong dia untuk ya seperti kerakusan, bakhil, kikir ya. Adamil ifah yaitu jiwa yang rendahan ya.
(51:35) Wa ajasya yaitu ya sikap e ambisius yang berlebihan. Zul kehinaan wal danat hal yang rendahan tidak ada nilainya gitu. Itu syahwat. Nah wal gabab. Sikap marah tadi akan mendorong seorang kibir, sombong, hikm, dengki, hasad, uduhan, mengganggu orang lain, wasfah dan kebodohan tadi. Ini semua ya adalah perilaku dan akhlak-akhlak yang tercela. Ikhwatal iman, para pemirsa rahimakumullah.
(52:05) Ya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala ya menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia dan mudah-mudahan dengan akhlak yang mulia tadi kita masuk surga. Karena Rasul Sallah Wasam ditanya oleh ee oleh sahabat, “Apa yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga?” Takwallah wa husnul khulq. Takwallah husnul. Takwa pada husnul khalq. Naam.
(52:33) Masih luas pembahasan bab-bab tentang akhlak mulia ini. Tapi apa yang diberikan oleh Imam Ibnu Qayyim tadi sebagai landasan dan pondasi untuk membangun akhlak-akhlak yang mulia tadi. Diharapkan dengan akhlak yang mulia tadi hati kita semakin baik, jiwa semakin bersih, maka tentu akan semakin bermakna ya kehidupan yang kita jalani ini ya. Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.
(53:01) Wallahuam. Jazakallahu khairan kami sampaikan kepada Al Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian edisi pagi ini langsung dari studio di STDI Imam Assyafi’i di Jember, Jawa Timur. Dan untuk berikutnya kami akan undang Anda sahabat Roja di manaun Anda berada untuk berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.
(53:36) Anda dapat mengirimkan pertanyaan melalui pesan WhatsApp di nomor 0218236543 atau juga melalui L telepon di nomor yang sama. Baiklah Ustaz, kita akan coba angkat pertanyaan pertama melalui pesan WhatsApp Ustaz dari hamba Allah di Sumatera Selatan. Izin bertanya Ustaz. terkait dengan kebodohan, Ustaz, dan ilmu. Yang satu bisa mendatangkan akhlak yang baik dan yang satu mendatangkan akhlak yang buruk.
(54:04) Pertanyaannya, Ustaz, terkait dengan orang yang berilmu, Ustaz. Bahkan mengajarkan ilmu, tapi ternyata memiliki akhlak yang buruk, Ustaz. Mohon penjelasannya, Ustaz, dan nasihatnya. Tafadol, Ustaz. Ya, terima kasih. Barakallahu fikum. Ini pertanyaan yang bagus sekali. Ya, tadi jelaskan bahwa landasan akhlak yang jelek itu kebodohan. Iya.
(54:45) Dan tentunya sebaliknya orang yang ingin ya memiliki akhlak mulia maka dia harus berilmu. Tapi kenapa orang yang berilmu juga akhlaknya jelek? Nah, ini kembali kepada pribadinya. Jadi belajar ilmu mungkin hanya sebatas masalah pengetahuan tidak ya ee diimplikasikan ya diimplementasikan tidak diimplementasikan dalam kehidupan dan tidak bermasalah dengan ilmu.
(55:13) Ilmu enggak ada masalah. Ilmu semua mengajak kepada kebaikan tapi penuntutnya yang tidak mampu mengimplementasikan ilmu tadi dalam kehidupannya. Berarti di sini lemah dari sisi pengamalannya. Ilmu mengajarkan semua akhlak yang mulia. Ilmu mengajarkan kepada ya perilaku yang baik ya. Dan ilmu semakin dipelajari membuat seorang tawadu.
(55:41) Nah, tapi semakin belajar ternyata ya tidak bertambah mulia akhlaknya. Apa yang bermasalah? Berarti pribadi yang belajarnya jangan-jangan niat belajarnya keliru ya. Niat dalam belajar jadi masalah niatnya ini perlu diperhatikan dan kita enggak tahu apa niatnya. Yang penting seorang introspeksi diri. Jangan-jangan dia belajar bukan untuk memperbaiki diri.
(56:06) Hanya mencari popularitas atau urusan yang lain itu ya. Mampu berbicara, mampu menulis dan seterusnya tapi bukan untuk diamalkan. Ya, oleh karena itu di antara indikator keikhlasan dalam belajar ini sangat penting sekali ya. Niat pertamanya belajar untuk memperbaiki diri. Lihat memperbaiki diri berarti dari akhlak yang sebelumnya tidak baik dengan ilmu dia ingin mbaiki akhlak yang baik, yang jelek tadi. Kalau yang sudah akhlak baik disempurnakan lagi.
(56:38) Maka dengan ilmu tadi ini niat pertama memperbaiki diri ya. Memperbaiki diri ini yang pertama. Yang kedua ya untuk mengamalkan ya untuk mengamalkan ilmu yang dipelajari tadi. Ini niatnya yang pertama. Nah, yang ketiga ya di antara niat tadi adalah akhlak yang mulia ingin menyebarkan ilmu tadi karena ini warisan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nah, jadi untuk diamalkan.
(57:11) Nah, selain dari niat yang tiga itu tadi adalah juga dia ingin menyampaikan ilmu kebaikan tadi kepada orang lain. Jadi, kembali kepada pribadi tadi tidak bermasa dengan ilmunya. Ilmu mengajak pada kebaikan tapi pribadi yang mempelajarinya itu yang mungkin salah niat atau kurang taufik.
(57:36) Ini apa itu taufik? Kurang bimbingan dari Allah Subhanahu wa taala. Karena sesungguhnya akhlak yang mulia itu nikmat dari Allah Subhanahu wa taala. Nikmat dari Allah Subhanahu wa taala. Kemudian dari sisi lain kita harus memahami para ulama menjelaskan bahwa akhlak yang mulia itu ya ada dua akhlak yang meng dari bawaan lahirnya. Jadi Allah telah menanamkan dirinya akhlak yang mulia tadi. Dinamakan ini al-akhlak aljibiliyah.
(58:08) Jadi ada pembawaan dia sudah dari lahirnya ya sudah fitrahnya seperti itu. Nah, ada yang kedua muktasabah. Akhlak itu muktasabah memerlukan apa? Pelatihan, pembiasaan, muktasabah. Maka dengan membiasakan dia akan terbiasa. Ya. Waman yatasabbar yusabbiruhullah. Ini yatasabbar yusabbirullah. Dia selalu berusaha untuk sabar, melatih diri sabar, untuk sabar, untuk sabar. Maka Allah akan jadikan dia orang yang sabar.
(58:47) Nah, waman yuimuhullah alilmu taalum. Jadi ilmu ballum. Jadi ada usaha kita. Nam. Jadi ini jadi yang perlu diperhatikan bukan ilmunya yang bermasalah. Ilmu kalau ilmu itu benar qalallah waqala rasul ya itu enggak ada masalah. Tapi orang yang mempelajari ilmu tadi namam dan juga kurangnya taufik dari Allah, bimbingan dari Allah namam.
(59:16) Kemudian juga ya sebagaimana tadi yang poin yang pertama tadi itu kurangnya ikhlas dalam menuntut ilmu tadi. Naam. kemudian tidak membiasakan diri. Di sisi lain juga ya semua itu ada kita semua manusia mau ustaz mau gak ustaz semua manusia pasti banyak kekurangan naam tapi sisi positif yang ada pada mereka itu yang kita contoh yang negatifnya jangan dicontoh mampu kita memberikan nasihat sampaikan dan tentu kita juga menyampaikan kepada para ya yang atau tokoh masyarakat atau seorang ustaz atau siapapun namanya bahwa manusia belajar belajar bukan dari ya
(59:56) ucapan kita saja. Mereka belajar dari sikap dan perilaku kita. Itu pembelajaran ya pembelajaran. Maka hendaklah kita waspada. Amanah di pundak orang-orang yang berilmu atau yang ditokohkan masyarakat sangat besar ya. Mereka melihat tutur kata kita, perilaku kita, sikap kita.
(1:00:22) Nah, maka mudah-mudahan ya orang-orang yang atau dimuliakan dengan ilmu bisa menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat dan mudah-mudahan masyarakat memahami bahwa kendati mereka adalah orang yang berilmu. Mereka tidak maksum. Mereka tidak maksum. Artinya tidak suci dari kesalahan. Tapi yang baik muncul mereka itu diambil dan yang jelek tinggalkan. Kemudian jangan kita ikuti kejelekan tadi. Nah, seperti itu.
(1:00:51) Wallahuamakallahu khairan ustaz atas penjelasan dan nasihatnya. Dan untuk berikutnya ustaz kita akan angkat kembali pertanyaan insyaallah melalui l telepon di 0218236543. Kami persilakan. Iya, silakan. sudah masuk. Silakan. Iya. Dari siapa? Di mana Bapak atau Ibu? Saya dari Pasur ya, dari Sulawesi Tengah. Pust. Baik, silakan Pak Surya. Eh, ada dua pertanyaan.
(1:01:34) Saya sekarang sudah susah, sudah tidak bisa di Sulawesi Tengah. Iya, silakan, Pak. Iya, mungkin ini di luar tema pertanyaan, tapi sangat penting sekali, Ustaz. Baik, silakan. Karena inilah kesempatan yang baik ketemu Ustaz walaupun melalui televisi saja ya. pertama pertanyaan saya. [Musik] Silakan Bapak mohon untuk televisinya bisa dikecilkan saja untuk sementara Bapak menyimak melalui telepon terlebih dahulu. Baik, silakan Pak. Ee Pak Ustaz perkenalan pertama.
(1:02:20) Iya. Ya, ya, ya, ya, ya, ya. Pertanyaan pertama, Ustaz. Saya sudah 3 bulan tidak bisa lagi salat berjamaah di masjid karena sakit. Jadi, saya ingin bertanya, bagaimanakah menurut syariat kalau tidak bisa lagi salat berjamaah di masjid, tinggal salat di rumah? Itu yang pertama. Yang kedua, Ustaz, apakah bisa membaca Al-Qur’an dalam keadaan berbaring? Terima kasih. Mohon penjelasannya, Pak. Baik. Jazakallahu khairan.
(1:02:56) Bapak Surya di Sulawesi. Tafadol, Ustaz. Ya, terima kasih kepada Bapak yang bertanya di Sulawesi. Barakallahu fik. Ya, sebelumnya saya mendoakan ya semoga ee Bapak senantiasa ya atau diberikan kesembuhan oleh Allah Subhanahu wa taala dan senantiasa bisa bersabar dan yang tidak kalah pentingnya dalam setiap kondisi dan apapun selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Subhanahu wa taala. Tib.
(1:03:41) Satu hal yang harus kita ya pahami dan ini hal yang sangat mendasar dalam kita menjalani agama ini. Allah Subhanahu wa taala menginginkan kebaikan bagi kita semua sehingga syariat yang diturunkan syariat yang mudah untuk dilaksanakan. Bila tidak mampu dengan alasan yang diperbolehkan, ada solusinya.
(1:04:14) Salat berjamaah contohnya adalah yang wajib. Itu untuk kebaikan kita. Wajib bagi lelaki bukan sunah. Wajib ya. Yang enggak salat enggak ada nilai agamanya ya. Jadi salat berjamaah agak wajib. Tapi bagi mereka yang tidak mampu kena sakit ya enggak bisa berjalan atau mungkin enggak ada yang menuntun gitu ya. sakit, ada uzur, tidak bisa berjamaah.
(1:04:44) Ya, maka prinsip agama kita, fattaqulah mastatum ya fattaqulah mastatum. Bertakwa sesuai dengan kemampuan kalian. Bahkan seseorang apabila yang selama hidupnya menjadi kebiasaan, dia melakukan suatu kebaikan salat berjamaah ya dan melakukan hal kebaikan. Tapi ternyata kala sakit atau dia e dalam keadaan safar gitu ya ada atau ada mungkin sebab lain dia tidak mau melakukan.
(1:05:23) Bahkan dalam kondisi yang demikian itu Allah tetap menyempurnakan pahalanya karena dia ada orang yang terbiasa seperti itu. Itu kebiasaan dia. Tapi karena ada satu yang lain sebab uzur yang tidak menyebabkan dia tidak mampu melakukan maka subhanallah pahalanya tetap utuh. Jadi tatkala Bapak yang bertanya tadi tidak mampu dengan alasan yang betul karena sakit terbaring enggak mampu gitu berjalan ya.
(1:05:50) Nah, maka fattaqulah Bapak salat begitu azan terdengar siapkan diri ya mungkin anak atau keluarga membantu ya tidak mampu berwudu bisa dibantu untuk berwudu gitu ya. salat dalam kondisi yang Bapak mampu melakukan dalam kondisi berbaring. Ya, begitulah hadap ke Ka’bah. Masih bisa duduk ya duduk ya. Dan itu ikuti geraknya ya untuk rukuk atau sujud. Jika tidak mampu ya berbaring tadi.
(1:06:24) Jika masih mampu sejak berdiri kemudian enggak mau duduk berdiri lama ya begitu takbir berdiri dulu kemudian duduk. Fattaqulah mustatum ya pahalanya sempurna karena itulah mampu dilakukan ya. Nah, jadi ini poin yang pertama. Jadi beribadahlah sesuai dengan kemampuan tadi. Nah, kemudian bagaimana baca Al-Qur’an? Iya, diperbolehkan mau berbaring, berdiri, duduk ya.
(1:06:56) Karena orang-orang yang beriman itu yadkurunallaha qiaman wa quudan waa junubihim. Mereka berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk dan berbaring. Ya, yang terpenting adalah jangan sampai kita terh atau berhenti atau terputus dari ibadah. Dalam kondisi Bapak berbaring membaca Al-Qur’an, mendengarkan Al-Qur’an, kemudian berzikir bisa.
(1:07:29) Karena kendati fisik mungkin lemah, enggak bisa berdiri, tapi lisan tidak pernah lemah. Alhamdulillah ya. Selama lisan masih bisa digerakkan, berzikir kepada baca Al-Qur’an ya. Atau mungkin suruh anak kita dia baca Al-Qur’an kita yang mendengarkan. Ayo nak baca Al-Qur’an Nabi ingin mendengarkan Naam atau istri begitu juga. Nah, selama pendengaran bisa mendengar, bisa juga sambil berbareng kita bisa mendengarkan ya berbagai alhamdulillah media dan sarana untuk mendapatkan ilmu, mendekatkan diri kita kepada Allah.
(1:08:06) Dan ingat ya, terus dekatkan diri kepada Allah, banyak berzikir ya. Tatkala fisik kita lambu, kaki tidak mampu lagi berjalan jauh untuk pergi ya ee menuntut ilmu atau melakukan hal-hal yang lainnya, tapi lisan kita jangan pernah kaku ya. Terus berzikir, Pak, zikir pagi petang, baca Al-Qur’an. Jadi intinya diperbolehkan, Pak ya.
(1:08:32) Diperbolehkan ya sambil baring untuk membaca Al-Qur’an yang permasalahan tadi tidak mampu untuk salat berjemaah kena sakit gak ada masalah, enggak dosa ya. Bahkan pahalanya tetap sama atau sempurna karena itu yang mampu dilakukan oleh seseorang. Namam. Demikian. Wallahuam. Jazakallahu khairan ustaz atas doa dan nasihatnya. Dan untuk berikutnya Ustaz kita akan angkat kembali pertanyaan melalui pesan WhatsApp Ustaz.
(1:08:57) Pertanyaan dari hamba Allah tidak disebutkan di mana. Pertanyaan terkait dengan lembaga pendidikan atau pesantren, Ustaz, yang terkenal memiliki manhaj salaf dan memperhatikan ilmu. Namun sebagian besar guru dan pekerja justru tidak memiliki manhaj yang baik. Apakah hal seperti ini berdampak juga terhadap akhlak ee muridnya, Ustaz? Jazakumullahu khairan.
(1:09:24) Mohon penjelasannya, Ustaz. Fadol ustaz. I terima kasih atas pertanyaannya. ee tidak diragukan bahwa guru atau ustaz atau dosen ya memiliki amanah atau tanggung jawab yang besar dalam menunaikan amanah tarbiah pendidikan. Ya. Maka dalam hal ini hendaklah lembaga pendidikan betul-betul ya selektif nam dalam ee malakrut ya dalam penerimaan atau guru atau dan yang lainnya.
(1:10:27) Karena yang demikian itu tentunya sangat ya berpengaruh dalam ya proses tarbiah dan taklim. Bila guru-guru yang menjadi ya atau yang akan mengajarkan yang akan melakukan proses tarbiah tadi jauh dari akhlak yang mulia tidak berperilaku yang baik akhlak yang mulia maka secara otomatis akan mempengaruhi perilaku dan sikap anak didiknya. Ya.
(1:11:04) Dan jangan dipahami akhlak itu hanya sebatas ya. Tutur kata saya itu hanya bagian dari akhlak. Akhlak. Kalau kita ingin belajar lagi yang lebih luas, mempelajari lagi tentang masalah akhlak, ada akhlak. Bagaimana akhlak dia kepada Allah, akhlaknya kepada ya agama ini, akhlaknya kepada Rasul, akhlaknya kepada kitabullah, akhlak kepada kaum muslimin.
(1:11:29) Ya, yang dibengkul, kepada agama, kepada sesama. Nah, ini penting sekali. Makanya dahulu dahulu kalau kita melihat para ulama salaf dalam mendidik anak mereka, poin yang pertama yang mereka perhatikan sebelum mereka ya belajar ilmu-ilmu disiplin ilmu yang lain, mereka mencari guru yang betul-betul memiliki akhlak yang mulia dalam ungkapan adab yang baik.
(1:11:56) sampai mereka mengatakan kepada sebagian ya anak mereka ya waladi laamaaban minal adabian minal ilmi. Wahai anakku jika kamu belajar satu bab tentang akhlak tentang adab satu bab itu lebih saya cintai lebih saya sukai daripada engkau mempelajari 70 bab-bab ilmu. Lihat perbandingannya.
(1:12:30) Nah, begitu ibu Imam Malik mempersiapkan beliau untuk pergi ke majelis gurunya. Namam waqia beliau menasehati, taalam minhu adaban qobla an taalam minhu ilman. Wahai anakku, pelajari dari beliau adabnya terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmunya. Jadi penting sekali. Inilah merupakan prinsip pilar utama tarbiah islamiah ya, yaitu masalah ilmu ya, membangun kemampuan intelektualnya, ilmiah, membangun ya kemampuan atau semangat spiritualnya, ibadahnya, dan sosial dan akhlak mulianya. Ini tiga halak bisa dipisahkan. Tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Ini harus menjadi perhatian.
(1:13:18) Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki lembaga pendidikan ini amanah anak-anak kaum muslimin yang ada lembaga adalah amanah. Tergantung ke mana kita akan menggiring mereka. Maka selektiflah ya dalam merekrut ee tenaga guru atau dan yang lainnya kan itu akan mencerminkan. Nah, apalagi masalah ya tentang akidah, tentang pemahaman.
(1:13:49) Karena akidah tadi akan mengaruhi sikap dan perilaku antara iman dan akhlak memiliki korelasi yang sangat erat sekali. Naam tidak bisa dipisahkan. Man kana yukminu billahi wal yaumil akhir falyukrim jarah falyaqul khair aasmud itu yaukrim diifah. Siapa yang beriman pumul akhir bertutur kata yang baik hendaklah bertutur kata yang baik muliakan tamu, jangan ganggu tetangga dan seterusnya.
(1:14:16) Jadi memiliki korelasi yang sangat erat sekali. Maka hati-hati ya selektiflah dalam ya merekrut para guru ya para ustaz dan ustazah dalam lembaga pendidikan pendidikan kita. Nah, demikian. Wallahuam. Ee mungkin itu yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini.
(1:14:39) Mudah-mudahan apa yang telah dijelaskan dan dijawab tadi bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa membimbing kita untuk menjadi pribadi-pribadi muslim yang berakhlakul karimah dan menjauhkan diri kita dari akhlak-akhlak yang mulia. Dan perlu diketahui bahwa akhlak yang mulia adalah sebab di antara sekian banyak sebab Allah masukkan manusia ke dalam surganya. Demikian. Wallahuam.
(1:15:06) Wasallallahu was nabina Muhammad wa alihi wasahbihi wasallim. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan jazakallahu khairan kepada Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian pagi hari ini langsung dari studio di STDI Imam Syafi’i di Jember, Jawa Timur.
(1:15:35) Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda sahabat Roja di mana pun Anda berada. Semoga apa yang kita pelajari di kesempatan pagi hari ini mendatangkan ilmu yang bermanfaat yang dengannya bisa menjadikan amal-amal yang saleh. Mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga Allah pertemukan kita kembali di lain kesempatan.
(1:16:00) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak radio Rejab


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *