(81) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah – YouTube
Transcript:
(00:00) PO 1 FM Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. menebar cahaya sunah Yaumiddin amma baad ikhwatul Islam, para pagar maupun pemirsa Raja di mana pun Anda berada.
(01:04) Di kesempatan malam yang berbahagia ini kembali hadir di ruang dengar Anda dan juga layar kaca Anda program kajian ilmiah dengan pembahasan syarah akidah athahawiyah bersama pemateri Al Ustaz Ahmas Faiz Asifuddin, MA hafidahullahu taala yang di mana alhamdulillah di kesempatan malam hari ini telah terhubung dan akan menyampaikan kajian secara langsung dari kota Solo. tentunya Anda para pendengar maupun pemirsa dapat bertanya seputar kajian yang akan kita simak di malam hari ini melalui layanan lain telepon atau pesan singkat WhatsApp ke nomor 0218236543.
(01:36) Untuk layanan-layan telepon dan pesan singkat WhatsApp untuk sesi tanya jawab nanti 0218236543. Baiklah para pagar maupun pemirsa Roja di mana pun Anda berada. Berikut kita akan simak pemaparan materi kajian ilmiah di malam hari ini. Dan kepada ustaz yang sudah terhubung di kesempatan ini kami persilakan.
(01:55) Falatafadol masykuran majur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa’inuhu wafiruh. W naudahi minururi anfusina wamin sayiati amalina may yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(02:34) Allahumma sholli wasallim wabarik ala abdika wa rasulika Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’ad. Para pemirsa dan pendengar yang dirahmati Allah di mana saja berada. Alhamdulillah pada kesempatan malam hari ini kita berjumpa kembali dengan senantiasa mendapatkan nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Mudah-mudahan kita senantiasa istikamah dalam mempelajari pokok-pokok dinul Islam dan menjalankannya sesuai dengan apa yang telah kita pahami bersama dan istikamah sampai akhir hayat kita dalam keadaan husnul khatimah.
(03:28) Berikutnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam At Thahawi dalam kitabnya Al-Aqidah Attahawiyah yang dijelaskan secara ringkas oleh Syekh Saleh Al Fauzan dalam Atta’liqat almukhtasarah ala matni alaqidah thahawiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Wa kullu amrin alaihi yasir.” Segala sesuatu mudah bagi Allah.
(04:01) Jadi, tidak ada yang sulit bagi Allah subhanahu wa taala. Dan dijelaskan oleh Syekh Salh Al Fauzan berdasarkan firman Allah Taala dalam surah Yasin ayat 82. Innama amruhu idza araian an yaquul lahu kun fayakun. Tidak lain ketetapan Allah. Jika Allah menghendaki sesuatu maka dia berfirman kepada sesuatu itu dengan firmannya kun. Jadilah sesuatu fayakun.
(04:43) Maka terjadilah sesuatu yang diinginkan, dikehendaki oleh Allah. Fahua yuhyi wa yumit. Maka Allah menghidupkan dan mematikan. Waakluquarzuqu. Dia menciptakan dan dia memberikan rezeki. Wti waamnu. Dia memberi dan dia tidak memberi mencegah pemberiannya. Wuhyil mauta ba fana. Dan Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati sesudah mereka binasa. Walika yasirun alaihi subhanahu wa taala.
(05:27) Dan itu mudah bagi Allah subhanahu wa taala. La yukallifuhuai wala yasuk alaihi. Tidak ada yang menjadi beban bagi Allah dan tidak sulit bagi Allah untuk melakukan semuanya itu. Khilafal makhluk. Berbeda dengan makhluk. Fainnahu yatakallafu bif’lil asya. Sesungguhnya makhluk itu terbebani ketika melaksanakan sesuatu. A yajizu anha atau kadang-kadang makhluk itu tidak mampu untuk melaksanakan sesuatu. Ammallah.
(06:08) Adapun Allah falaisa saaiun alaihi sh’ban. Maka tidak ada yang sulit bagi Allah subhanahu wa taala. Sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 28 seperti yang sudah kita kemukakan di muka. Ma khalqukum w ba’ukum illafsin wahidah. Tidaklah menciptakan kamu dan tidak pula membangkitkan kamu sesudah kematianmu kecuali menciptakan dan membangkitkan kembali satu orang saja.
(06:47) Jadi menciptakan seluruh makhluk, manusia dan jin dan semuanya dan juga membangkitkan mereka kembali. itu tidak sulit bagi Allah. Hanya seperti menciptakan dan membangkitkan kembali seseorang saja. Berikutnya, Al Imam At Thahawi rahimahullah mengatakan, “La yahtaju ila syai.” Allah tidak butuh kepada sesuatu apapun. Allahu subhanahu ghaniyun an kullai.
(07:24) Allah Maha Kaya tidak butuh kepada sesuatu apapun. Fallahu laisa bihajatin ilal khalqi. Maka Allah tidak butuh kepada makhluknya. Liannahu hual gani. Karena Allah itu maha kaya. Fahualladzi yi alqa subhanahu wa taala. Maka dialah Allah yang telah memberikan kepada makhluk. semuanya. Maha suci Allah Subhanahu wa taala.
(07:57) Jadi Allah tidak butuh kepada kita, tidak butuh kepada ibadah kita. Kitalah yang butuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Berikutnya, Al Imam At Thahawi rahimahullah mengatakan, “Membawakan firman Allah dalam surah Asyura ayat 11. Laisa kamitlihiun wahu samiul bashir. Tidak ada sesuatu, tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah dan dia maha mendengar dan maha melihat.
(08:34) Kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, hadza nafyun lasbih anillahi subhanahu wa taala. Ini adalah pernyataan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala. Ini peniadaan terhadap adanya tasybih dari Allah Subhanahu wa taala. Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun dan tidak ada sesuatu yang bisa menyerupai Allah Subhanahu wa taala.
(09:02) Tidak zatnya, tidak asmanya, tidak sifatnya. Wal kaf lidin nafyi. Sedangkan kaf dalam kamitlihi adalah untuk menegaskan peniadaan keserupaan itu. Jadi sungguh-sungguh tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah. Ini seperti firman Allah kata Syekh Salh Al Fauzan dalam surah An-Nisa ayat 70. Wa kafa billahi alima.
(09:38) Dan cukuplah Allah yang maha mengetahui. Al aslu wafallahu alima. Cukup Allah yang maha mengetahui. Walakin jaat al ba. Tapi di sini datanglah huruf ba. Billah wafa billahi alima. Asalnya waafallahu alima. Cukup Allah maha mengetahui. Tapi didatangkan ba di sini Allah berfirman dengan mendatangkan huruf ba untuk mentakid benar-benar Allah maha mengetahui dan cukup bagi Allah sebagai yang maha mengetahui.
(10:18) Wala yusbihuhu saiun minal asya. Tidak ada sesuatu yang menyerupai Allah. Tidak ada. sesuatu yang menyerupai Allah. Lal malaikah tidak malaikat walal anbiya war rasul tidak pula para nabi dan rasul walal auliya wala ayyuh makhluk tidak pula para wali dan tidak pula semua makhluk tidak ada malaikat yang menyerupai Allah tidak ada para nabi dan rasul yang menerupai Allah apalagi para wali dan apalagi makhluk-makhluk yang lainnya yang statusnya di bawah para wali.
(11:02) Jadi tidak ada sesuatu yang menyerupai Allah. Wahuas samiul basir. Lanjutan dari ayat adalah Allah menutup firmannya dengan wahu samiul basir. Dan dia maha mendengar, maha melihat. Fasamma nafsahu assami albasir. Maka Allah menamai dirinya. Dia menyebut namanya sebagai assami albasir yang kalau Allah disebut sebagai assami maka dia memiliki sifat maha mendengar.
(11:37) Kalau Allah menyebut dirinya bernama albasir maka dia memiliki sifat maha melihat. Fal ayah fi awaliha radun alal musyabbihah. Maka ayat ini di bagian pertamanya merupakan bantahan terhadap kaum musyabbihah. Kaum musyabbihah itu adalah orang-orang yang mengakui Allah punya nama, punya sifat.
(12:10) Lalu mereka menyerupakan dengan makhluk-makhluknya. sifat-sifatnya seperti sifat makhluk ini adalah musyabbihah. Sekalipun mereka ketika menetapkan Allah punya zat, mereka juga tidak mengakui bahwa ada sesuatu yang menyerupai zatnya Allah. Dan zatnya Allah tidak ada yang serupa dengan zat siapa saja. Tapi ketika mereka menetapkan sifat, mereka mengatakan sifat Allah itu seperti sifat makhluk. Nah, ini dibantah dengan ayat ini. Laaisa kamitlihi syai.
(12:50) Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah. Siapapun dia, entah itu malaikat, para nabi, para rasul, para wali, enggak ada yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala. Nama-namanya atau sifat-sifatnya tidak ada yang serupa dengan Allah. Wafi akhiriha radun alal muattilah. Pada akhirnya, artinya pada bagian terakhir dari ayat itu, itu merupakan bantahan kepada kaum muattilah, orang yang mentatil, orang yang meniadakan sifat-sifat Allah, orang yang tidak mengakui sifat-sifat Allah.
(13:33) Seperti Muktazilah yang menolak Allah punya sifat secara total. Meskipun mereka mengakui Allah punya nama, tapi mereka mengatakan bahwa Allah tidak punya sifat. Nama-nama Allah tidak menunjukkan sifatnya. Kemudian selain Muktazilah ada muaktilah yang lain. Misalnya adalah al-Asyairah. Meskipun al-Asyairah tidak menolak semua sifat Allah.
(14:05) Mereka hanya mengatakan ee Allah punya beberapa sifat terus meniadakan hakikat sifat-sifat yang lain yang mereka tidak akui sebagai sifat Allah. Mereka nyatakan ee tidak punya hakik. Artinya sifat-sifat Allah itu tidak sesuai dengan hakikatnya. Bukan mereka menolak hakikat dari sifat-sifat Allah yang hakikatnya adalah mereka tidak mengakui sifat-sifat Allah.
(14:42) Ketika misalnya mereka mengatakan bahwa balyadahu mafsutatan dalam ayat ini balyadahu mafsutatan bahkan dua tangan Allah itu terbuka. Mereka mengatakan ini bukan hakikat tangan, tapi diartikan dengan makna yang lain. Ketika mereka menyatakan bahwa iyad yang artinya tangan hakiki diartikan dengan sesuatu yang lain, maka hakikatnya mereka tidak mau mengakui Allah punya tangan yang sesungguhnya.
(15:16) Padahal Allah sudah menyampaikan beritanya dalam ayat yadahu mafsutan. Bahkan dua tangan Allah itu terbuka. Artinya tidak tidak bakhil. Allah Subhanahu wa taala dua tangannya terbentang. Terus mereka artikan sebagai quah. Diartikan sebagai kekuatan. Tangan itu diartikan sebagai kekuatan.
(15:44) Menolak hakikat dari tangan Allah yang hakikatnya tidak mau mengakui Allah punya tangan yang sesungguhnya. Karena mereka takut terjerumus pada tamfsil, terjerumus pada menyerupakan Allah dengan yang lainnya, menerupakan tangan Allah dengan tangan yang lainnya. Padahal tidak demikian. Karena tangan ini dinisbatkan kepada Allah. Yang kalau dinisbatkan kepada Allah berarti punya kekhususan yang hanya menjadi milik Allah saja.
(16:21) tidak sama dengan tangan manusia yang tangan manusia itu nisbatnya kepada manusia sehingga itu tangan khusus milik manusia yang penuh dengan kekurangan. Adapun ketika tangan dinisbatkan kepada Allah maka itu adalah tangan yang sempurna yang kita tidak boleh membayang-bayangkan hakikat dari tangan Allah Subhanahu wa taala. Kita tinggal percaya saja lah. Ini pada penutup ayat wahu samiul basir.
(16:50) Terdapat bantahan kepada kaum muqtilah, orang-orang yang menolak sifat Allah. Baik menolak seluruh sifat Allah ataupun sebagiannya. Wadallat ala annahu la yalzam minbatil asma wasifat atasbih bil makhluqat. Dan ayat ini menunjukkan bahwa tidak mesti ketika menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah itu kemudian ada tasybih dengan makhluknya. Tidak harus itu. Tidak mesti. Bahkan memang tidak demikian.
(17:25) Menetapkan nama bagi Allah, menetapkan sifat-sifat bagi Allah itu tidak berarti tasybih, ada keserupaan menyerupakan antara Allah dengan makhluk. Karena memang tidak ada keserupaan. Itu bukan tasbih. Menetapkan sifat Allah itu bukan tasbih, bukan penyerupaan antara Allah dengan makhluk dan tidak menimbulkan tasbih, tidak menyebabkan tasbih, tidak menimbulkan penyerupaan antara Allah dengan makhluk. Fasamu waul makhluq. Kita ulangi.
(18:02) Fasamuul makluqat la yusbihu w barallahi azza waalla. Maka pendengaran dan penglihatan makhluk itu tidak serupa dengan pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa taala. Allah maha mendengar, Allah maha melihat. Makhluk juga maha makhluk juga mendengar dan melihat.
(18:31) Tapi pendengaran makhluk tidak sama, tidak serupa sama sekali dengan pendengaran Allah. Penglihatan makhluk tidak sama dan tidak serupa sama sekali dengan pandangan Allah. Karena pandangan makhluk itu adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Sedangkan pendengaran Allah dan pandangan Allah itu adalah sifat di antara sifat-sifat Allah dari namanya assami wal bashir.
(18:58) Berikutnya, al Imam at Thaahawi rahimahullah mengatakan, “Khalaqal khalqo biilmihi.” Allah menciptakan makhluknya dengan ilmunya. Allah menciptakan makhluk dengan ilmunya. Allah maha tahu apa, siapa, dan bagaimana makhluk-makhluknya. Dan Allah menciptakan mereka semuanya itu dengan ilmu, dengan ilmu Allah Subhanahu wa taala.
(19:29) Syekh Salh Al Fauzuan hafidahullah membawakan menukilkan satu ayat dalam surah surah tabaroka alulk ayat 14. Ala yalamu man khalaqa wahual latiful khabir. Apakah pantas Allah yang menciptakan tidak mengetahui? Artinya jawabannya jelas. Tidak mungkin Allah yang menciptakan itu tidak tahu. Jadi Allah tahu bagaimana menciptakan apa yang diciptakan seperti apa yang diciptakan. Allah maha mengetahui. Wahual latiful khabir.
(20:12) Dan dia maha halus dan maha mengetahui. Jadi bahkan sebelum Allah menciptakan, Allah tahu apa yang akan diciptakannya. Seperti apa yang diciptakannya. Bagaimana dia menciptakan? Allah maha tahu ujungnya seperti apa, pertengahannya seperti apa, permulaannya seperti apa, macam-macam kehidupannya seperti apa. Allah maha mengetahui.
(20:41) Fakhalquhu dalilun. Kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, fakalquhu dalilun ala ilmihi subhanahu wa taala wa qudratihi. Maka penciptaan Allah terhadap makhluk-makhluknya merupakan dalil, merupakan bukti bahwa Allah maha mengetahui dan maha mampu. Allah maha mengetahui dan maha memiliki kudrah, maha memiliki kemampuan.
(21:12) Karena alkhaliq, nama Allah alkhaliq. Dan sifatnya maha menciptakan itu menunjukkan Allah punya ilmu, menunjukkan Allah punya kemampuan. Dan ini boleh disebut sebagai dalalatul iltizam. Artinya satu lafaz yang menunjukkan kepada makna lain di luar makna lafaz itu, tapi punya kaitan.
(21:53) Misalnya Allah alkhaliq, maka Allah sebagai alkhaliq, dia pasti punya ilmu dan dia pasti punya kemampuan. Dengan ilmu dan kemampuannya Allah menciptakan. Dan ee ketika seseorang manusia misalnya dia akan bisa membuat sesuatu kalau dia punya ilmu dan punya kemampuan. Ilmu saja enggak cukup. Ilmu saja tidak cukup.
(22:23) Seorang misalnya punya ilmu bagaimana cara membuat meja kursi, tapi dia tidak punya kemampuan, tangannya lemah, kemudian dananya terbatas, maka dengan kemampuan yang terbatas itu dia tidak bisa membikin meja kursi. Meskipun secara teori ilmunya tahu bagaimana bagaimana cara membuat meja kursi. Begitu juga keti orang memiliki kemampuan saja ilmunya tidak tidak punya, tenaganya kuat, uangnya ada, tapi dia tidak punya ilmu bagaimana caranya membuat meja kursi, maka tidak jadi meja kursi yang diinginkan.
(23:07) Jadi harus punya ilmu dan punya kemampuan. Dan Allah punya ilmu, punya kemampuan dan Allah maha menciptakan. Jadi Allah maha menciptakan itu sudah menunjukkan Allah punya ilmu yang sempurna, punya kudrah yang sempurna. Jadi ini dalalatul iltizam. Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah membawakan ayat kama qala taala.
(23:41) Sebagaimana Allah Taala berfirman, wama kanallahu liyjizahu minaiin fis samawati wa fil ard innahu kaana aliman qodiro. Dan tidak ada sesuatu yang bisa menjadikan Allah lemah baik itu di langit maupun di bumi. Tidak ada sesuatu yang menyebabkan Allah jadi lemah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah maha alim, maha mengetahui, dan maha kuasa, maha mampu. Maka Allah menciptakan makhluknya dengan ilmunya. Dia maha berilmu.
(24:16) Dan ini menunjukkan bahwa ilmu Allah itu sangat sempurna dan kudrahnya juga sangat sempurna. Berikutnya, al Imam Attahawi haf rahimahullah taala mengatakan, waqadar lahum aqdaro. Dan Allah menetapkan bagi mereka ketetapan-ketetapan takdirnya. Qaddarallah jalla waala al maqadir.
(24:49) Allah telah menetapkan takdir-takdir bagi para makhluknya. Walam yujid hadil asya biduni takdir. Allah tidak membuat makhluk-makhluknya ini tanpa takdir. Semua Allah ciptakan dengan ketetapan takdirnya masing-masing. Misalnya dalam surat Al-Hijr ayat 21 dibawakan oleh Syekh Salh Fauzan. Wa minaiin illaanazainuh wa nunazziluhu illa biqadarim.
(25:23) Tidaklah ada sesuatu kecuali di sisi kamilah perbendaharaannya. Jadi semua perbandaraan sesuatu ada di sisi Allah dan Allah dan kami tidak menurunkannya dan tidak membagikannya kecuali menurut ketetapan yang telah ditentukan. Fakullu saaiin qaddarahullah bimaqadir wa kaifiyat la takhtalif wala tataghayar.
(25:56) Maka segala sesuatu Allah telah tetapkannya ketentuannya dengan ketentuan-ketentuan tertentu, dengan takdir-takdir tertentu dan dengan kaifiat, dengan ee bentuk-bentuk dan ee kaifiat tertentu yang tidak berbeda dan tidak berubah. Maksudnya misalnya beliau bawakan keterangan seperti ini. Insan qadarah jismahu wa hawahu waahuibahu waahu insanananilan yamsiqif. Contohnya adalah manusia.
(26:41) Allah telah tetapkan ketentuan takdir fisiknya. Seperti kita lihat dari ujung kepala sampai ujung kaki ini adalah ketetapan takdir Allah. Ketetapan takdir dari Allah untuk fisik kita juga anggota-anggota badan manusia juga struktur tubuh manusia sudah Allah tentukan untuk manusia. waanahu. Begitu juga timbangan-timbangan manusia, berat badannya.
(27:13) Sampai jadilah manusia itu seorang manusia yang muktadil, yang seimbang. Dia bisa berjalan dan dia bisa berhenti. Luar biasa kalau kita renungkan ketetapan takdir Allah untuk manusia dan juga yang lain-lainnya. Walau ikaiun minal insan minibihi ikal jismu. Seandainya terjadi gangguan, terjadi kekurangan pada anggota tubuh manusia atau pada struktur tubuh manusia, maka tubuhnya menjadi timpang, tubuhnya menjadi tidak sempurna.
(28:02) Wakadzalika sairul kainat. Begitu juga semua makhluk lainnya. Jadi sudah ditetapkan ketetapan takdirnya. Allah ciptakan rambut manusia khas pada diri manusia. Allah ciptakan bulu-bulu pada badan manusia. Khas pada bulu-bulu badan manusia. Yang itu berbeda dengan apa yang terjadi pada hewan. pada monyet misalnya.
(28:32) Jadi itu adalah khas yang ada pada manusia. Seandainya ada kekurangan, ada gangguan, maka akan terjadi kepincangan dan ketimpangan pada tubuh manusia. Jadi, itulah kekuasaan Allah Subhanahu wa taala. Dia menciptakan dengan ukuran-ukurannya. Dia menciptakan dengan takdir-takdirnya. Wulluaiinahu bimqtar.
(29:01) Segala sesuatu di sisi Allah itu dengan ukuran-ukurannya, dengan ketetapan-ketetapannya, dengan takdir-takdirnya. Falikulliin maqadir yangitu biha. Maka segala sesuatu ada ukuran-ukuran, ada ketetapan-ketetapan yang dengan ketetapan-ketetapan itu makhluk itu menjadi pas. Manusia pas dengan kondisinya sebagai manusia. Batu pas dengan kondisinya sebagai batu.
(29:32) Pohon pas dengan kondisinya sebagai pohon. Hewan pas dengan kondisinya sebagai hewan. Walikulliin maqadir taktalif maqadiril akh. Segala sesuatu itu punya ketetapan-ketetapan takdirnya yang berbeda dengan ketetapan takdir pada yang lainnya. Wumala. Berikutnya, al Imam At Thaahawi rahimahullah mengatakan, “Wobahum ajala.
(30:06) ” Dan Allah juga menetapkan bagi mereka ajal-ajalnya, batas-batas waktunya. Almakhluqat laha ajal walaha nihayah. Semua makhluk punya batas waktunya, punya akhir waktunya, dan punya penghabisannya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Kullu man alaiha fan wabq wajhuika dul jalali wal ikram. Semua apa yang ada di muka bumi pasti binasa. Wabqo yang dan tetap abadilah wajah Allah Rabbmu yang memiliki keluhuran dan memiliki kemuliaan. Ini terdapat dalam surah Arrahman ayat 2627.
(30:59) Waqala subhanah Allah Subhanahu wa taala juga berfirman, “Kullaiin haliun illa wajha.” Semuanya binasa kecuali wajah Allah. Surah Al-Qasas ayat 88. Jadi kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullahiin lahu umur. Berdasarkan apa yang diterangkan di muka. Kullu saiin lahu umurun mahdud. Segala sesuatu punya umur tertentu.
(31:31) Haddadahullah subhanah. Allah telah batasi dengan batasan tertentu. Imma qasir wa imma thawil. Mungkin pendek, mungkin panjang. Ada orang lahir ditakdirkan umurnya pendek atau ditakdirkan umurnya panjang. Panjangnya umur itu 50 tahun misalnya atau panjangnya umur itu 100 tahun. Qa subhanah Allah subhanahu wa taala berfirman wama yuammaru mim muammar w yunquu min umurihi illa fi kitab innazalika alallahi yasir.
(32:20) “Tidaklah dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya kecuali semuanya itu sudah tertulis di Lauh Mahfuz. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah Subhanahu wa taala. Itu dalam surah Fatir ayat 11. Fal a’mar biyadihi subhanahu wa taala. Maka semua umur ada di tangan Allah subhanahu wa taala. Allah yang menentukan umur. Bukan kita yang menentukan umur.
(32:54) Kita boleh berusaha, kita boleh berdoa, tapi yang menentukan umur kita adalah Allah Subhanahu wa taala. Dan alangkah bahagianya seseorang kalau ditetapkan oleh Allah umurnya panjang digunakan untuk beribadah kepada Allah sampai husnul khatimah. Wah yadullu ala kamali rububiyatihi wa kamali qudratihi.
(33:23) Dan ini menunjukkan betapa sempurna rububiyah Allah, betapa sempurna qudrah Allah, kemahaampuan Allah. Maha sempurna. Rububiyahnya Allah maha sempurna. Famasya Allah kan. Wama lam yasya lam yakun. Apa yang Allah kehendaki pasti ada dan apa yang Allah tidak tidak kehendaki pasti tidak ada. Jadi semua yang ada, semua yang terjadi, semua yang kita ketahui ada, itu ada dengan kehendak Allah.
(33:57) Tidak ada yang terjadi di luar kehendak Allah. Kalau Allah tidak menghendaki terjadinya, pasti tidak akan terjadi. Berikutnya, al Imam at-Tahawi rahimahullah mengatakan, “Walam yakhfa alaihi saiun qobla ay yakhluqahum.” Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sesuatu sebelum Allah menciptakan mereka. Artinya Allah tahu tentang makhluknya sebelum Allah menciptakan makhluk itu.
(34:43) Dalam hadis Imam Bukhari dan Muslim bahwa Allah telah menetapkan takdir. Artinya Allah sudah tahu menetapkan takdir segenap makhluknya sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi 50.000 tahun. Jadi 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit, dan bumi, bukan menciptakan kita langit-langit dan bumi. 50.
(35:11) 000 tahun sebelum Allah menciptakan langit, langit dan bumi, tahu bahwa Allah akan menciptakan kita dan tahu bagaimana perjalanan hidup kita, bagaimana akhir hayat kita. Allah maha mengetahui sebelum Allah menciptakan kita sekalian. Jadi kita berdoa kepada Allah agar kita selamat hidupnya di dunia dan di akhirat.
(35:35) Jadi tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. Bal hua alimun bil asya qla tujad. Bahkan Allah maha mengetahui terhadap segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu ada. La annahu la y’lamuha illa ba’da an wujidat. Bukan Allah mengetahuinya sesudah segala sesuatu itu diadakan. Bahkan sebelum segala sesuatu itu diadakan, Allah sudah tahu.
(36:04) Kemudian Allah menetapkan takdir bagi segala sesuatu 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi. Waima ma hum amilun qobla ay yakluqahum. Dan Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan sebelum Allah menciptakan mereka. Alima ma yaul ibad qobla khalqihim.
(36:36) Artinya Allah maha mengetahui apa yang dikerjakan oleh para hamba sebelum Allah menciptakan para hamba itu. Anna hadza min ahl taah wadza min ahlil maksih. Bahwa hamba ini termasuk ahli taah, orang-orang yang taat dan yang lain sebagai orang-orang yang ahli maksiat. Allah tahu apakah seseorang menjadi ahli taah ataukah seseorang menjadi ahli maksiat sebelum Allah menciptakan hamba-hamb-Nya.
(37:09) Allah tahu bahwa Abu Lahab, Abu Jahal mati dalam keadaan kafir sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi selama 50.000 tahun sebelumnya. Jadi Allah tahu dan Allah tahu apa yang akan diciptakan sesudah kita dan tahu perjalanan hidup mereka dan akhir hayat mereka termasuk kita sekalian. Ya, apa yang kita lakukan Allah tahu.
(37:36) Sebelum Allah menciptakan kita, sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi 50.000 tahun sebelumnya. Jadi Allah maha mengetahui apa yang dikerjakan oleh para hamba sebelum Allah menciptakan mereka. Wa amarahum batihi wahahum maksiatihi. Allah memerintahkan mereka supaya taat kepada Allah whahum dan melarang mereka dari bermaksiat kepada Allah.
(38:08) Kama fiihi taala sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Taala. Surah Azzariyat ayat 56. W khalaqtul jinna wal insa illa liyabudun. Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaku. Khqohum awala. Pertama kali Allah menciptakan mereka jin dan manusia. Tumma amarahum.
(38:39) Selanjutnya Allah perintahkan mereka biibadatihi subhanah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa taala. Fahua subhanahu amarahum batihi wa ibadatihi. Maka dialah Allah yang memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah. Ma annahu ylamu ma humilun minqbl. Padahal Allah telah mengetahui apa yang dikerjakan oleh mereka sebelumnya. Apakah orang akan mentaati perintahnya? sehingga menjalankan apa yang Allah perintahkan.
(39:18) Apakah Allah perhatian kepada larangan-larangan Allah? Ya, apakah mereka, saya ulangi, apakah mereka perhatian terhadap larangan-larangan Allah sehingga mereka menjauhi larangan-larangan Allah? sehingga mereka menjauhi kemaksiatan. Allah sudah tahu. Akan tetapi dikatakan oleh Syekh Sal Fauzan, “Akan tetapi aljaza la yatarattab alal ilmi.
(39:49) ” Bahwa balasan itu bukan akibat dari ilmu Allah, balasan Allah, pahala Allah atau hukuman Allah. bukan dari ilmunya Allah. Maksudnya ketika Allah tahu bahwa ada hamba yang taat, bukan ketika Allah tahu, maka Allah dari pengetahuannya itu memberikan balasan. Ketika Allah mengetahui hamba akan berbuat maksiat, maka hukuman Allah terhadap hamba yang bermaksiat bukan ketika Allah tahu, bukan karena Allah tahu.
(40:33) Maka lalu Allah memberikan hukuman pada hamba itu sebelum hamba melakukannya. Tapi Allah memberikan balasan terhadap amal. Allah memberikan balasan kepada amal. Bukan, bukan Allah tahu hamba itu akan maksiat lalu dia menghukum sebelum hamba beramal. Bukan Allah memberikan pahala yang Allah ketahui seseorang akan taat sebelum hamba itu melaksanakan ketaatan. Tapi Allah memberikan pahala setelah orang melakukan ketaatan.
(41:05) Allah memberikan hukuman setelah seseorang melakukan kemaksiatan. Fallahu la yuadzibu alta bihasabil ilm illa idza waqa’a minhudzanbu. Maka Allah tidak mengazab kepada siapapun hanya karena Allah tahu Allah tidak mengazab kepada siapapun hanya karena Allah tahu.
(41:39) Tapi Allah mengazab kepada seseorang setelah orang itu melakukan perbuatan dosa. Wala yukrimul muhsin. Dan Allah tidak memuliakan orang yang berbuat ihsan hanya karena Allah tahu bahwa dia akan berbuat ihsan. Tapi Allah memberikan kemuliaan kepada orang yang berbuat ihsan ketika orang itu melakukan perbuatan ihsan. Fal jaza murattabun alal amal la alal ilmi wala alal qadar.
(42:09) Maka balasan itu merupakan akibat dari amal. Setelah orang beramal, Allah akan memberikan balasan. Kalau orang itu beramal baik, diberi balasan yang baik. Kalau orang berbuat kejahatan, maka akan dibalas dengan keburukan oleh Allah Subhanahu wa taala. Meskipun Allah sebelumnya sudah tahu, tapi Allah memberikan balasan sesudah amal itu terjadi.
(42:37) Bukan hanya karena Allah tahu. Bukan hanya karena Allah sudah mentakdirkan orang itu berbuat kejahatan, lalu Allah sebelumnya sudah memberikan balasan keburukan kepadanya. Tapi setelah orang itu berbuat keburukan, maka dibalas dengan hukuman oleh Allah Subhanahu wa taala. Setelah Allah, setelah seseorang itu melakukan kebaikan baru dibalas dengan kebaikan oleh Allah, mendapatkan pahala dari Allah bukan sebelumnya.
(43:11) Fafarquun bainal ilmi wa bainal jaza. Maka di sini harus dibedakan antara Allah tahu dengan antara Allah memberikan balasan. Walidzalika. Oleh karena itulah Allah memerintahkan mereka untuk berbuat kebaikan whahum dan melarang mereka dari perbuatan maksiat. Karena Allah tidak menghukum orang sebelum orang berbuat. Allah tidak memberikan pahala kepada seseorang sebelum orang melaksanakan perintah.
(43:46) Tapi setelah orang melakukan perintah, Allah berikan pahala. Setelah orang melakukan maksiat, maka Allah mengazab atau memberikan hukuman awami. Barang siapa yang mentaati perintah dan meninggalkan larangan, dia mendapatkan pahala. Waman awamir nawahi hasala alalq b’alihi hua laf’alillahi subhanahu wa taala.
(44:23) Barang siapa yang menyalahi perintah dan melanggar larangan Allah, maka dia mendapatkan hukuman karena perbuatan orang itu, bukan karena perbuatan Allah Subhanahu wa taala. Fal abdu hual musolli. Maka hambalah yang salat. Bukan Allah yang salat, tapi hamba yang salat. Wal muzaki. Hambalah yang memberikan zakat. Bukan Allah yang memberikan zakat, tapi manusia yang mengamalkan pemberian zakat. Wal haj.
(44:55) Manusialah yang pergi haji menunaikan ibadah haji. Bukan Allah yang menunaikan ibadah haji. Wal mujahid. Oranglah yang berjihad. Bukan Allah yang berjihad. Fal a’mal tunsabu ilaihi la ilallah. Maka amal perbuatan itu dinisbatkan kepada hamba. bukan kepada Allah.
(45:24) Amal-amal hamba itu dinisbatkan kepada hamba yang salat, hamba yang jihad, hamba yang berzakat, hamba yang berhaji. Hamba amal itu tidak disandarkan kepada Allah. Illa min jihatil khalqi wal ilmi wat takdir wat taufik. Kecuali dari sisi penciptaan. Artinya yang menciptakan amal itu adalah Allah, tapi yang melakukan amal itu adalah manusia.
(45:55) Jadi gerak-gerik orang salat itu yang menciptakan adalah Allah sehingga manusia bisa melakukan gerakan-gerakan salat. Kalau Allah tidak bisa menciptakan eh kalau kalau manusia tidak kalau Allah tidak menciptakan gerakan-gerakan itu, orang tidak akan bisa mengamalkan salat. Jadi Allah yang menciptakan, tapi yang mengamalkan salat itu adalah manusia.
(46:19) Allah yang mengetahui, Allah yang mentakdirkan, dan Allah yang memberikan taufik sehingga orang taat kepada Allah, sehingga orang meninggalkan kemaksiatan. Waaiin yajri bitqdirihi. Al Imam Athawi selanjutnya mengatakan, “Waulluaiin bitaqdirihi.” Segala sesuatu itu yajri bitqdirihi berlangsung dengan takdir Allah.
(47:01) Jadi tidak ada sesuatu yang berlangsung kecuali jika Allah mentakdirkannya. kecuali jika Allah menghendakinya. Laakna bqdiri lajuqillahi minhairati walfri walti walina walqr walmi wal jahlaiin yajri bqtirihi waisa fi mulkihiun lam yaqtirhu w yuriduh tidak diragukan lagi pasti Segala sesuatu itu terjadi dengan takdir Allah.
(47:45) Tidak ada yang keluar dari takdir Allah. Baik itu kebaikan, maka kebaikan itu dengan takdir dari Allah maupun keburukan. Semua keburukan terjadi dengan takdir Allah. Ketaatan itu terjadi dengan takdir Allah. Kemaksiatan terjadi dengan takdir Allah. Kekafiran terjadi dengan takdir Allah. Abu Lahab, Abu Jahal mati dalam keadaan kafir karena memang takdir Allah seperti itu.
(48:16) Wal iman juga dengan takdir Allah. Orang-orang yang beriman, Abu Bakar, Umar, dan para sahabat radhiallahu anhum. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mati dalam keadaan beriman itu adalah takdir dari Allah. Sakit sehat itu takdir dari Allah. Kaya miskin itu takdir dari Allah. Berilmu bodoh itu juga takdir Allah.
(48:43) Semuanya berjalan dengan takdir Allah. Tidak ada di wilayah kekuasaan Allah sesu sesuatu yang terjadi tanpa takdir dari Allah dan tanpa dikehendaki oleh Allah. Kalau Allah menghendaki terjadi, kalau tidak menghendaki maka tidak terjadi. Jadi dulu pernah terjadi ee debat antara seorang Muktazilah dengan seorang tokoh ahlusunah tentang takdir.
(49:17) Jadi ketika seorang muktazili ini disebut dengan Al-Qadi Abdul Jabbar al-Hamdani, Al-Qadi Abdul Jabbar al-Hamdani, salah seorang tokoh Muktazilah. Ketika dia masuk ke suatu forum, ada Abu Ishaq Al-Isfiraini dikenal dengan sebutan al-ustaz. Wahua min aimmatus sunah. Beliau termasuk imam ahlusunah. Ketika Abdul Jab Abdul Jabbar Almuktazili ini melihat Abu Ishaq Al-Isfira ini, maka ee Alqadi Abdul Jabbar mengatakan, “Subhana man tanazzaha anil fahsya.”
(50:27) Orang ini orang Muktazilah ini, tokoh Muktazilah ini ketika melihat Abu Ishaq Al-Isfirraini mengatakan subhana man tanaazzaha anil fahsya. Sekilas perkataannya adalah perkataan yang bagus. Maha suci Allah yang maha suci dari perbuatan keji, yang maha suci dari kekejian.
(50:52) Jadi Allah itu maha suci dari sifat keji. Artinya yang dia inginkan adalah tidak mungkin Allah berbuat sesuatu yang keji. Abu Ishaq Al-Isfiraini ketika melihat siapa yang mengatakan kalimat ini langsung paham maksudnya. Karena dia adalah tokoh Muktazilah. Tokoh Muktazilah adalah orang yang tidak percaya kepada takdir, tidak percaya bahwa kemaksiatan itu terjadi dengan kehendak Allah dan dengan takdir Allah.
(51:29) Maka Abu Ishaq langsung memberikan jawaban. Subhana man la yaq fi mulkihi illa ma yasya. Maha suci Allah yang tidak mungkin terjadi di dalam wilayah kekuasaannya kecuali apa yang dia kehendaki. Semua apa yang terjadi itu pasti dengan kehendak Allah. Termasuk kemaksiatan, termasuk perbuatan zina, termasuk kekafiran, semuanya terjadi dengan kehendak Allah.
(52:01) Kalau tadi ee Abu Alqadi Abdul Jabbar menginginkan bahwa kemaksiatan itu terjadi tidak dengan kehendak Allah. Kekafiran terjadi bukan dengan kehendak Allah. Dij dibantah semua yang terjadi itu dengan kehendak Allah. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Lalu Alqadi Abdul Jabbar mengatakan, “Ayobuna qahro.
(52:39) ” Apa mungkin? Eh, afan saya ulangi ee ee Alqadi mengatakan ayasyau rbuna ayo? Begitu pertanyaan Alqadi Abdul Jabbar. Ayasubuna ay yuso. Pertanyaannya, pertanyaan menjebak. Apa mungkin Allah menghendaki untuk dimaksiati? Apa mungkin Allah menghendaki untuk dimaksiati? Ini karena orang Muktazilah tidak membedakan ee antara iradah kauniah dengan iradah syariah.
(53:21) Maka dia paham iradah Allah itu hanya iradah kauniah saja. Sehingga maksudnya adalah masyiah. Apa mungkin Allah menghendaki untuk orang berbuat maksiat? dianggapnya menghendaki ini adalah ee iradah kauniah. Padahal ada iradah syariah Allah Subhanahu wa taala. Apa mungkin Allah menghendaki orang berbuat maksiat? Maka dijawab oleh ee Abu Ishaq Al-Isfiraini, ayo rbuna qahro.
(53:58) Apa mungkin seseorang memaksa untuk berbuat maksiat di hadapan Allah dengan memaksa sesuatu yang Allah tidak kehendaki terjadinya? Mungkinkah seseorang berbuat maksiat Allah tidak menghendaki lalu dia memaksa di hadapan Allah untuk berbuat maksiat seakan-akan merampas apa yang menjadi kewenangan Allah Subhanahu wa taala.
(54:24) memaksa Allah untuk dia berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa taala. Artinya tidak mungkin orang berbuat maksiat dia bisa memaksa sementara Allah tidak menghendaki dia berbuat maksiat. Sementara Allah tidak menghendaki terjadinya perbuatan maksiat. Terus orang memaksa diri bisa memaksakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah.
(54:55) Kemudian Abu ee Alqadi Abdul Jabbar Almuktazili mengatakan, “Aroita in mana alhuda waq alaiya birod ahsana ilaiya am.” Artinya apa? Bagaimana pendapatmu hai alisfirini? Kalau Allah menghalangiku dari hidayah, Allah tidak memberikan hidayah kepadaku dan Allah menetapkan takdir kepadaku untuk menjadi orang yang salah, orang yang hina, yang maksiat.
(55:39) Allah berbuat baik kepadaku atau Allah berbuat buruk kepadaku? Bagaimana pendapatmu? Jadi Allah menghalangi hidayah dariku. Aku tidak mendapatkan hidayah dari Allah dan bahkan mentakdirkan aku menjadi orang hina, menjadi orang yang maksiat. Lah kalau begitu Allah berbuat baik kepadaku atau tidak? Kata Abu Ishaq, “Kalau Allah menghalangimu dari apa yang itu menjadi milikmu, artinya kalau Allah tidak memberikan sesuatu yang itu memang milikmu, ya berarti dia berbuat keburukan kepadamu, berbuat yang tidak baik kepadamu. Karena dia tidak karena dia tidak memberikan hakmu kepadamu.
(56:31) Tapi kalau Allah tidak memberikan sesuatu yang itu menjadi milik Allah, kalau Allah tidak memberikan kepadamu sesuatu yang itu milik Allah, bukan milikmu, maka Allah mengkhususkan rahmatnya kepada siapa saja yang dikehendaki. Artinya itu wewenang Allah untuk memberikan apa yang menjadi miliknya Allah. Jadi semuanya ini milikannya Allah Subhanahu wa taala.
(57:07) Kalau dia tidak memberikan apa yang menjadi milik Allah kepadamu, itu Allah berarti adalah wenang Allah Subhanahu wa taala. Allah adil. Memang adilnya Allah seperti itu. Tidak memberikan kepadamu apa yang menjadi miliknya Allah. Tapi kalau tidak memberikan kepadamu apa yang memang seharusnya milikmu, ya memang betul. Tapi kan Allah tidak demikian.
(57:36) Semuanya apa yang ada di alam semesta itu adalah miliknya Allah. Kalau Allah tidak memberikan apa yang menjadi miliknya kepada seorang bukan berarti Allah tidak adil. Allah tetap adil. Di situ Alqadi terdiam, tidak bisa menjawab, tapi dia tetap meneruskan mazhab Muktazilahnya, tapi terdiam, tidak bisa menjawab ketika itu.
(58:03) Jadi ee sekarang kita lihat banyak orang yang terpengaruh oleh modelmodel Muktazilah. Menganggap Allah tidak adil. menganggap Allah itu tidak baik kepada hamba-Nya loh. Semuanya milik Allah Subhanahu wa taala. Allah beri atau tidak beri itu adalah mutlak kemenangan Allah Subhanahu wa taala. Tapi Allah pasti akan memberi sesuatu.
(58:28) Kalau kita taat kepada Allah dan tidak protes, Allah akan memberikan apa yang kita minta jika kita sungguh-sungguh dan ikhlas dalam permintaan kita. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang mungkin terpengaruh oleh pemahaman Muktazilah. Banyak orang yang menuntut hak yang bukan haknya. Menuntut sesuatu yang bukan haknya.
(58:58) Banyak sekali orang seperti itu menuntut sesuatu yang bukan haknya. Kalau saya misalnya punya uang, uang saya beri seseorang atau tidak saya beri, itu urusan saya. Enggak boleh protes seseorang. Kenapa saya enggak dikasih? Padahal saya lebih miskin dari si Fulan. A kok kamu malah beri si fulan A. Enggak kamu beri saya loh itu uang-uang saya, hak saya. Mungkin saya punya pertimbangan lain yang kamu tidak tahu.
(59:30) Itu manusia apalagi haknya Allah Subhanahu wa taala. Enggak boleh protes. Enggak bisa protes kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena itulah keadilan Allah Subhanahu wa taala. Jadi tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar takdir Allah.
(59:56) Kalau itu sampai diyakini ada, berarti menurut dia Allah memiliki sifat tidak maha sempurna. Karena ada sesuatu terjadi sementara Allah tidak menghendaki. Kan seperti manusia. Manusia sehebat apapun kekuasaannya pasti banyak kejadian di luar kehendaknya. Padahal kalau itu terjadi berarti orang itu tidak sempurna. Maka manusia sifatnya adalah tidak sempurna.
(1:00:25) Sementara Allah itu maha sempurna. Kalau maha sempurna harus diakui bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak dan takdirnya. Sampai sekian yang kita bahas pada kesempatan malam hari ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa dipahami. Ee wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Alhamdulillah kami ucapkan terima kasih Ustaz jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum atas bahasan kajian ilmiah di malam hari ini. Dan berikutnya para pendengar maupun pemirsa, kita masuk ke sesi tanya jawab. Silakan bagi
(1:01:01) Anda yang ingin terhubung di layar-layar telepon atau pesan singkat WhatsApp ke nomor 0218236543. Pertanyaan Anda dapat Anda tanyakan secara langsung di layanan-layan telepon ataupun pesan singkat WhatsApp. Baik, ee berikut ada pertanyaan dari pesan singkat.
(1:01:23) Kita akan bacakan untuk mengawali sesi tanya jawab malam hari ini. Baik. Ee bismillah, Ustaz. Saya baru pertama kali mengikuti kajian akidah thahawiyah dan saya banyak berpikir keras untuk memahami materi-materi yang disampaikan yang sepertinya lumayan berat. Apakah memang materi akidah tahawiyah ini levelnya tinggi? Mohon nasihatnya agar orang seperti saya dimudahkan dalam memahami dan tidak salah dalam ee memahami akidah. Barakallahu fikum, Ustaz. Amin.
(1:02:01) Ya, kita berdoa mudah-mudahan ini ee dipahami. Sebenarnya mungkin mudah, cuma kadang-kadang bahasa bahasa yang tertulis di sini memang perlu penjelasan lebih. Kadang-kadang kita juga mungkin kurang memahami apa yang harusnya dipahami oleh para pendengar, tapi kita berusaha untuk sesuai dengan bahasanya pensyarah. Jadi misalnya masalah takdir itu tadi ya, masalah kehendak semuanya terjadi dengan kehendak Allah. Itu kan pasti harus kita pahami dan itu mudah insyaallah.
(1:02:40) Selama kita tidak mempersulit maka itu akan menjadi mudah. Dan kita mohon taufik kepada Allah agar kita lebih dimudahkan oleh Allah untuk memahami permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam masalah ee akidah thahawiyah. Ada yang berat, ada yang mungkin ringan. Ee jadi masalah takdir itu intinya harus dipahami berdasarkan iman, bukan berdasarkan logika.
(1:03:06) Kalau kita logikakan nanti kita akan merasa berat. Tapi kalau kita imani semua itu dengan takdir Allah, semuanya terjadi dengan takdir Allah, itu nanti kita akan memahaminya dengan lebih ringan lah. Ketika Allah menciptakan manusia, menciptakan dengan segala perangkatnya dan sebelumnya Allah sudah tahu bahwa manusia itu akan menjadi orang yang taat atau menjadi orang yang ahli maksiat.
(1:03:36) Tapi kemudian meskipun Allah sudah tahu tetap Allah memerintahkan. Ini takdir kan urusan urusan Allah. Takdir itu urusan Allah. Selanjutnya Allah tetap memerintahkan kepada manusia, tetap memberikan larangan kepada manusia apa yang tidak boleh dilakukan, tetap memberikan perintah supaya orang mentaati Allah.
(1:04:04) Selanjutnya nanti ee apa yang sudah diketahui oleh Allah tentang seseorang maka orang itu akan berjalan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Ee jadi ee kita berdoa mudah-mudahan kita dimudahkan oleh Allah untuk memahami persoalan-persoalan akidah ee dari mulai rukun iman yang pertama hingga rukun iman yang terakhir. Karena iman itu rukunnya ada enam.
(1:04:32) Iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat, kepada kitab-kitab, kepada rasul-rasul, kepada hari akhir dan kepada takdir baiknya dan buruknya. Ya, itulah mengapa kita perlu mempelajari. Karena kalau kita tidak pelajari, maka kita tidak paham, tidak mengetahui apa yang mestinya kita ketahui dan kita pahami. Ee ini yang pertama.
(1:05:01) Yang kedua, bahwa Imam Thahawi ini sedang menjelaskan tentang akidah beliau dan akidah ee mazhab Hanafi dalam masalah akidah. ternyata tidak beda secara prinsipil dengan akidah ahlusunah wal jamaah. Artinya akidah mereka adalah akidah ahlusunah wal jamaah. Ee sehingga kita bisa tahu bahwa seluruh mazhab yang empat apakah itu Hanafi, ee Syafi’i, Maliki, Hambali dalam hal akidah mereka itu sama ya tokoh-tokohnya. dalam hal akidah mereka itu sama itu.
(1:05:42) Wallahuam bawab nam. Terima kasih Ustaz atas jawaban yang telah disampaikan. Semoga bermanfaat untuk para pendengar maupun pemirsa yang mengikuti kajian di kesempatan malam hari ini. Berikutnya para pedagang maupun pemirsa silakan Anda yang ingin bertanya secara langsung di layar-layamari ini kami persilakan.
(1:06:05) Nah, kita coba angkat di 0218236543 ya. Halo. Asalamualaikum. Silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Dari mana, Pak? Ee dengan RI di Tangerang. Di Tangerang. Silakan ke pertanyaannya. Asalamualaikum, Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi warahmatullahi wabarakatuh. Nah, ee yang ingin saya tanyakan begini, Pak Ustaz.
(1:06:30) Kadang-kadang saya tuh sering ngasa k kayak terjadi sesuatu deh, Pak Ustaz. ada kejadian-kejadian yang akan terjadi itu saya kayak seperti tahu duluan Pak Ustaz contohnya terjadi bagaimana itu yang dinamakan firasat atau ada ataukah itu sesuatu yang tidak boleh Pak Ustaz untuk diketahui Pak dan itu biasanya pasti terjadi Pak Ustaz kalau saya sudah tahu gitu Pak Ustaz.
(1:06:56) Nah itu mohon saran dan pendapat dari Pak Ustaz apakah ada contoh yang lebih ee jelas maksudnya terjadi apa? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nah bab terputus baik Ustaz. Apakah dapat disimak dengan jelas, Ustaz? Silakan. I, iya, bisa. Iya. Ya. Ee bisa saja seseorang memiliki firasat ee tetapi firasat itu tidak boleh dijadikan sebagai dalil bahwa sesuatu yang menurut firasat dia akan terjadi sesuatu meskipun setelah kejadian itu terbukti itu sesuai dengan firasat.
(1:07:34) Tapi firasat tetap tidak boleh dijadikan sebagai dalil bahwa dia tahu apa yang akan terjadi sesudah itu. Jadi tetap dia prinsipnya ee menyatakan diri tidak akan tahu, tapi kok saya sepertinya akan terjadi begini. Jadi dia mohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala agar sesuatu itu ee tetap menjadikan dia lurus dalam berakidah kepada Allah Subhanahu wa taala. Firasat itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil.
(1:08:02) Meskipun mungkin benar, tapi kalau itu adalah satu kebaikan maka kita bersyukur kepada Allah. Tapi kalau itu suatu keburukan, maka itu adalah musibah. Mungkin itu sebagai istidraj dari kita. Kadang-kadang kita perlu istigfar dengan perasaan-perasaan yang mungkin kita merasa sesuatu akan terjadi.
(1:08:28) Padahal ee akhirnya membawa kita terfitnah. Kalau saya mikir ini nanti akan terjadi seperti ini lah. Itu jangan menjadikan kita takabur atau sombong atau congkak. Dan yang jelas itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Wallahuam bawab. Baik Ustaz terima kasih atas jawaban dan nasihat yang telah disampaikan.
(1:08:55) Semoga bermanfaat untuk ikhwah atau Bapak yang bertanya di Tangerang tadi dan juga padan maupun pemirsa yang lainnya. Berikutnya masih di layanan-layan telepon ada para pedagar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung di kesempatan malam hari ini. Kita angkat kembali. Silakan. Halo. Halo. Ya. Iya. Halo. Silakan. Nah. Halo. Iya. Na sudah terhubung. Silakan. Iya. terputus.
(1:09:27) Bagi Anda pendengar maupun pemirsa Roja di mana pun Anda berada dapat bertanya secara langsung dalam program kajian ilmiah di sesi tanya jawab kajian akidah thahawiyah bersama Ustaz Faiz di kesempatan malam hari ini. Kita sapa kembali di layanan-layan telepon untuk para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung.
(1:09:45) Namam sudah terhubung. Halo, silakan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullah. Dengan siapa? Dari mana? A di iya agak diangkat suaranya Ibu anak Mbak di baik kalau pertanyaan langsung silakanya kurang jelas iya suaranya ee terlalu kecil Ibu bisa diangkat lagi. Iya. Halo. Halo. Iya, agak diangkat suaranya Bu. Ana kan dalam halut kondisi baik pertanyaannya apakah salat anak sahil di apakah salat anah. Iya.
(1:10:50) Mohon maaf terlalu kecil suaranya tidak begitu jelas terdengar. Nah, ee para pendengar maupun pemirsa di manap pun Anda berada, bagi Anda yang telah terhubung di layanan layan telepon untuk ee bertanya secara langsung agar mempersingkat langsung ke inti pertanyaan dan ee disampaikan dengan secara jelas. Barakallahu fikum. Atau kita beralih terlebih dahulu di layanan pesan singkat WhatsApp yang telah masuk.
(1:11:16) Di antaranya datang pertanyaan dari ee Padang, Abu Fatih bertanya ee Ustaz, apa faktor atau sebab yang bisa membuat kita futur dalam belajar, Ustaz? Apakah kita yang datang kajian ini sudah disebut penuntut ilmu? Demikian ee yang bisa menjadikan kita futur itu banyak ya banyak faktornya. ee mungkin faktor dunia.
(1:11:51) Karena kita terlalu berpikir tentang dunia, akhirnya kita bisa futur. Atau ketika kita mengharapkan sesuatu ee terkait dengan masalah sukses dunia tidak berhasil, itu juga bisa menyebabkan futur. Terus lingkungan itu juga bisa menyebabkan futur. Ee kurang rajin dalam mengikuti kajian-kajian yang ada itu juga bisa menyebabkan futur karena jiwa kita menjadi terasa kering kerontang karena jarang mengaji atau jarang membaca atau jarang mengikuti kajian-kajian yang ada.
(1:12:39) Subhat dan syahwat yang ada di sekitar kita juga bisa menyebabkan kita futur. Maka penyebab-penyebab yang bisa menjadikan kita futur itu kita jauhi. kita kalau merasa sudah mulai futur, semakin datang rajin ke masjid untuk beribadah, untuk salat, untuk baca Quran, berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala, kemudian mendekati ee ustaz misalnya yang kebetulan dekat atau bertanya-tanya kepada ustaz.
(1:13:10) intinya cari lingkungan yang baik yang bisa mendorong semangat kita untuk tetap istikamah dalam belajar, dalam mengaji, dalam melaksanakan apa yang kita pahami. Dan yang paling inti adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian yang kedua apa tadi? Lupa. Apakah orang yang menghadiri kajian sudah dapat disebut sebagai penuntut ilmu? Demikian, Ustaz.
(1:13:45) Ya, kalau kita bagi penuntut ilmu itu ada banyak. Mungkin ada orang yang menghadiri satu kajian itu maksudnya untuk menyegarkan jiwanya supaya tersirami dengan rohani yang baik sehingga semangatnya akan muncul. Tapi kalau misalnya yang disebut sebagai thaol ilmi adalah orang yang harus menghafal kemudian mengetahui dalil-dalil kemudian bisa meningkat kepada istimbat hukum. Ya, belum kalau sekedar menghadiri pengajian seperti ini.
(1:14:20) Apalagi kalau ee dari dulu sampai sekarang menghadari menghadiri kajian ee tapi tidak ada kemajuan secara ilmiah ee yaitu tidak disebut sebagai ee thollibul ilmi yang diharapkan. Tetapi bahwa rajin menghadiri kajian itu insyaallah sudah merupakan pahala dan apa namanya ee mendapatkan barokah dari majelis ilmu. Karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk sampai pada ee penuntut ilmu yang sesungguhnya.
(1:14:54) Tapi mudah-mudahan kita tetap mendapatkan pahala meskipun kelasnya kelas permulaan atau kelas kelas sederhana, tapi ya bagaimanapun itu tetap disebut sebagai penuntut ilmu secara umum. Ya, wallahuam bisawab. Iya. Baik, Mas.
(1:15:21) Jangan futur, jangan, jangan kemudian merasa kecil ee karena kita belum disebut sebagai penuntut ilmu yang sesungguhnya, tapi kita tetap disebut sebagai penuntut ilmu secara umum. Karena ini mencari ilmu menjadi segar jiwa kita, menjadi tahu dan dari tahu kita mengamalkan insyaallah itu ee pahala dari Allah Subhanahu wa taala. Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban serta nasihat yang telah disampaikan dari pertanyaan ee Abu Fatih di Padang Panjang dan semoga bermanfaat untuk para pendengar maupun pemirsa yang lainnya. Di sini ada pertanyaan-pertanyaan singkat yang ee berikutnya.
(1:15:53) Abu Abdillah, “Ustaz, izin bertanya, bagaimana pendapat ahlusunah mengenai sifat maiyah? Apakah jika diartikan dengan ilmu dapat jatuh ke takrif?” Demikian pertanyaannya, Ustaz. ee maiyatullah bahwa Allah menyertai menyertai dengan ilmunya dan itu tidak tahrif tidak tahrif ya tidak tahrif Allah mengetahui di mana saja ee manusia berada apa saja yang di dilakukan oleh manusia ada kesertaan atau maiah Allah yang khusus dan ada maiah Allah yang umum.
(1:16:39) Dan ketika Allah mengetahui semua manusia, semua makhluknya itu bukan berarti tahrif kalau diartikan bahwa Allah mengetahui dengan ilmunya. Karena kalau tidak mungkin Allah menyertai makhluk dalam arti zatnya berkumpul dengan manusia, menyatu dengan manusia, enggak mungkin itu seperti itu. Ee karena ayat-ayat yang menunjukkan tentang itu banyak sekali.
(1:17:10) Jadi yang dimaksudkan dengan maiyah adalah Allah mengetahui dan itu tidak tahrif. Karena Allah memang maha dekat. Dekat tapi dia tetap di atas. Allah maha dekat dengan hamba-hambnya. Karena Allah sangat mengetahui hamba-hambnya. Bahkan kedalaman diri hamba Allah itu maha mengetahui. Meskipun Allah tetap di atas. Dan itu adalah sesuatu yang sangat mungkin.
(1:17:36) Jadi Allah tetap di atas bukan berarti zatnya turun ke bumi ee bercampur dengan manusia. Bukan seperti itu. Tapi Allah walaupun di atas Allah menyertai. Seperti misalnya ini iias ini bukan iias ml ya, bukan iias dalam arti ini, tapi ini adalah iias aula. Kalau manusia seseorang pergi A naik bis fulan terus B naik bis yang lain.
(1:18:19) Ketika datang ke Jakarta misalnya atau ke Solo, lalu kita tanya sama siapa kamu? Sama si fulan, tapi tidak bareng satu bis. Kan bisa saja terjadi seperti itu. Nah, apalagi Allah Subhanahu wa taala ketika menyertai dengan ilmunya. Memang benar-benar Allah menyertai dengan ilmunya. Jadi tidak berarti itu tahrif. Tidak berarti itu tahrif. Karena memang Allah menyertai dengan ilmunya. Allah tahu. Dan dengan kesertaannya yang khusus atau yang umum.
(1:18:46) Allah tahu apa saja yang dilakukan oleh hamba. Dan kesertaan yang khusus itu berarti pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. Allah menolong hamb-Nya. dengan ilmunya, dengan kekuasaannya. Wallahuam. Nah, terima kasih Ustaz atas jawaban yang telah disampaikan dan para peregan maupun pemirsa Rojo di mana pun Anda berada.
(1:19:11) Kembali kita akan mengangkat di layanan-layan telepon untuk Anda yang ingin bertanya secara langsung di kesempatan malam hari ini di 0218236543 ya. Silakan. Halo. Iya, Bang. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Dari mana, Pak? Dengan Rahimul Amin di Sumatera Barat. Iya, Pak Amin ya. Di Sumatera. Silakan, Pak. Iya. Bismillah. Izin bertanya, Ustaz.
(1:19:36) Apakah ee apa perlakuan anak kita saat ini kepada kita sebagai orang tua itu ee keyakinan sebagai ee tatayul apa? Sikap kita dulu kepada orang tua gitu. Iya. Iya. Ee cukup maksudnya cukup insyaallah. Ee artinya ee perlakuan anak kita kepada kita saat ini apakah itu balasan? Apakah berarti balasan dari kita dulu berbuat kepada orang tua kita atau bagaimana gitu? Iya. Iya. Baik. Oh iya. Silakan diakinan tayul atau tidak gitu.
(1:20:13) Nah. Barakallah. Silakan Ustaz. ee itu bisa jadi merupakan aljaza min jinsil amal. Balasannya itu disebabkan oleh amal yang dilakukannya. Jadi begini, kalau misalnya kita sebagai anak kepada orang tua sering durhaka, sering berbuat yang tidak baik, lalu sampai besar terbawa dan itu dilihat oleh anak kita ee itu akan menular kepada anak kita.
(1:20:56) perangai kita yang biasa berbuat tidak baik kepada orang tua itu mungkin saja menimbulkan menimbulkan akibat atau dampak yang sama kita diperlakukan yang sama oleh anak kita ee sama seperti kita memperlakukan ee kepada orang tua kita karena Allah ingin membalas dan ini tidak termasuk dari tahayul. kecuali ada keyakinan-keyakinan tertentu.
(1:21:28) Tapi ee seseorang yang mawas diri, seseorang yang mai, ee dulu saya berbuat ee jelek kepada orang tua, ini anak saya sekarang berbuat jelek kepada saya. Jangan-jangan ee apa namanya? Jangan-jangan ini akibat saya dulu sering berbuat buruk kepada orang tua. Jadi kalau itu di dipahami dengan pemahaman yang positif, kita jadikan sebagai acuan untuk berdoa kepada Allah, bertobat kepada Allah dari hal-hal yang dulu pernah dilakukan kepada orang tua.
(1:22:03) Kalau orang tua masih hidup, lakukan perbaikan-perbaikan sekarang supaya itu juga bisa menjadi contoh bagi anak-anak kita. Lakukan kebaikan kepada orang tua. Kalau sudah meninggal, kita banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala untuk kebaikan orang tua. Dan nanti anak-anak kita akan melihat bahwa kita adalah orang yang baik.
(1:22:27) Maka insyaallah anak-anak pun akan menjadi baik, meneru kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Wallahuam bawab. Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban serta nasihat yang telah disampaikan. Berikutnya masih di layanan-layan telepon. Kami akan coba angkat untuk kesempatan berikutnya untuk Anda para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung 0218236543. Iya. Halo, silakan.
(1:22:52) Namo. Ya, sudah terhubung terputus. Anda yang ingin ee bertanya di kesempatan malam hari ini, silakan dapat menghubungi melalui layaran laine telepon di 0218236543. kita sapa kembali. Halo, silakan. Ya, sudah terhubung, terputus kembali. Berikut ada pertanyaan dari pesan singkat yang sudah masuk.
(1:23:20) Di antaranya, Ustaz, izin bertanya ee jika Allah sudah menciptakan takdir umatnya dan memberikan otak untuk berpikir, kenapa masih banyak orang masih berbuat dosa dan maksiat? Demikian pertanyaannya, Ustaz. Ya, itu ee Allah menciptakan manusia, menciptakan akal manusia, mentakdirkan manusia, semuanya tidak lepas dari ketetapan takdir dari Allah Subhanahu wa taala.
(1:23:58) Bahkan seseorang sudah ditetapkan takdirnya apakah dia menjadi ahli surga atau ataukah dia menjadi ahli neraka. Dan dahulu para sahabat radhiallahu anhum pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kalau semuanya sudah ditakdirkan ee surga atau neraka bagi kita, maka bagaimana sikap apa kita nyerah saja sama takdir kita?” Kata Rasulullah, “Tidak. Lakukanlah, berbuatlah, beramallah.
(1:24:25) Faullun muyassarun lima khuliqalah.” Berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan menuju takdirnya. Tapi kita tidak tahu takdir seperti apa yang akan ee menjemput kita. Jadi kita harus beramal. Adapun mengapa banyak orang durhaka, banyak orang maksiat, yaitu sudah merupakan iradah kauniah Allah Subhanahu wa taala.
(1:24:56) Kita berdoa mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah dari Allah, mendapatkan taufiknya dan yang durhaka menjadi tidak durhaka. Yang maksiat menjadi tidak maksiat, yang berbohong tidak lagi berbohong. Yang kufur meninggalkan kekufurannya dan menjadi beriman. Ya, kita tinggal berdoa saja. Tapi bahwa itu terjadi ya tentu tidak keluar dari kehendak dan takdir Allah Subhanahu wa taala. Meskipun punya otak, punya akal dan lain sebagainya.
(1:25:24) kita tinggal mendoakan mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah. Iya. Baik, Ustaz. Ee terima kasih jazakumullahu khairan atas jawaban yang telah disampaikan. Barangkali satu pertanyaan kembali di pesan singkat dari pertanyaan yang telah masuk.
(1:25:47) Nah, Ustaz, jika Allah berada di atas, mengapa saat terdekat seorang hamba dengan Allah adalah saat hamba bersujud? Apakah Allah berada di atas dan kedekatan hamba dengan Allah di sini bersifat majazi atau hakiki ataukah ada takwilnya? Mohon penjelasannya, Ustaz. Jazakumullahu khairan. Pertama, bahwa itu adalah nikmat dari Allah dan itu adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala.
(1:26:17) Allah menyatakan ketika seorang hamba sedang bersujud itu adalah suasana yang sedang paling dekat sedekat-dekatnya dengan Allah Subhanahu wa taala dan Allah tetap di atas dan Allah maha dekat. Artinya ketika seseorang menjauh maka Allah menyatakan dia jauh. Tapi bukan berarti Allah tidak melihat. Bukan berarti Allah tidak tahu, tetap tahu.
(1:26:45) Begitu juga ketika seseorang bersujud, banyak beribadah, maka Allah lebih mendekat kepada dia. Artinya ee artinya segala apa yang Allah segala apa yang dia minta, segala apa yang dia inginkan dari Allah akan dikabulkan oleh Allah. Karena dia sedang dalam keadaan sedekat-dekatnya kepada Allah subhanahu wa taala. Dan ini bukan takwil, bukan apa. Allah di atas tapi Allah dekat.
(1:27:15) Kalau manusia saja, makhluk saja bisa seperti itu, apalagi Allah Subhanahu wa taala. Jadi ee ketika kita lihat matahari sedang sunset atau sunrise itu sangat besar, kita lihat itu matahari ada di depan kita sangat dekat padahal matahari tetap di atas, bulan tetap ada di atas dan itu kalau makhluk itu saja bisa seperti itu, maka apalagi Allah Subhanahu wa taala.
(1:27:53) Jadi tidak ada yang mustahil bagi Allah dan itu bukan berarti ee majaz atau yang lain memang benar-benar seperti Allah maha dekat. Tapi Allah tetap di atas dekat karena coba tidak ada kecepatan yang melebihi Allah Subhanahu wa taala ketika ingin mencabut nyawa kita saat itu juga akan mati. Padahal Allah di atas di atas arsy, di atas semua makhluk. Tapi Allah maha dekat kepada hamba-hambnya. Dekat dalam keadaan Allah tetap di atas.
(1:28:22) Allah di atas tetap dekat dengan hamba-hamba yang ee mempunyai kedekatan secara khusus dengan Allah Subhanahu wa taala. Karena dia adalah orang yang rajin beribadah. Wallahuam. Ustawab. Baik Ustaz. Alhamdulillah. Terima kasih atas jawaban-jawaban yang telah disampaikan dan nampaknya waktu pulalah yang membatasi kita dalam kajian ilmiah di malam hari ini.
(1:28:47) Mohon sebagai istiham disampaikan ee sebagai istifadah atau penutup kajian kita, Ustaz. Silakan. Ya. Ee para pendengar dan pemirsa yang dirahmati Allah. kita kalau sekarang mengalami kesulitan-kesulitan di dalam memahami, marilah kita banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala dan kita semakin rajin menghadiri kajian-kajian.
(1:29:17) Karena ada kalanya seseorang memahami sulit persoalan itu bukan karena masalah itu sulit. Cuma mungkin karena Allah belum membuka pemahaman kita, belum membuka hati kita, sehingga ee memerlukan upaya untuk selalu berdoa kepada Allah, minta dimudahkan, dan juga berusaha untuk tetap rajin mengikuti kajian-kajian yang ada. Sama seperti halnya ee ee orang-orang yang memahami satu kitab itu susah ketika dia membaca semakin rajin membaca.
(1:29:52) lama-lama dibukakan pemahamannya oleh Allah Subhanahu wa taala. Ketika baca satu kitab enggak paham, mungkin baca kitab yang lainnya. Yang penting dia berusaha untuk memahami, mencari dan terus mencari sambil berdoa kepada Allah. Niscaya itu juga akan dimudahkan pemahamannya oleh Allah Subhanahu wa taala dan itu melanda siapa saja.
(1:30:17) Jadi mudah-mudahan tidak menjadi putus asa ketika pada saat pertama kali kita mengikuti kajian ada beberapa hal yang sulit untuk kita pahami. Ee tapi kita tetap rajin dan berdoa kepada Allah mudah-mudahan Allah beri kemudahan bukakan pintu hati kita untuk memahami ee al-Haq. Wasallallahu ala Nabi Muhammad waa alihi wasahbihi ajmain. Nam juga ucapkan terima kasih Ustaz jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum atas waktu yang telah disempatkan dalam menyampaikan ilmu dan juga kajian ilmiah di malam hari ini. Semoga ustaz beserta keluarga dapat e senantiasa
(1:30:55) dilindungi dan dijaga oleh Allah subhanahu wa taala dan diberikan kesehatan dan dapat bertemu kembali dalam menyampaikan materi-materi kajian berikutnya dari dari pembahasan ini di waktu dan kesempatan yang akan datang. Berikut pula kepada para ikhwah yang turut membantu tersenggaranya program kajian ilmiah di malam hari ini. Jazakumullahu khairan.
(1:31:15) Maka demikianlah para pemirsa RJA, kajian dari syarah akidah Tahawiyah disampaikan secara langsung dari kota Solo bersama Ustaz Ahmas Faiz Asifuddin, MA hafidahullahu taala. Ikuti kembali pada kesempatan pekan yang akan datang dengan materi-materi dan penjelasan bab-bab berikutnya.
(1:31:34) Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan taufik untuk kita semua dapat memahami apa yang kita simak dari nasihat dan juga kajian-kajian ilmiah yang kita dapatkan. Barakallah fikum wazakumullahu khairan. Kami pun undur diri. Ee kita tutup dengan doa kafiratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:32:01) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Yeah.
Leave a Reply