(81) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah – Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim – YouTube
Transcript:
(00:00) Masih bersama kami saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam TV Roja yang kami pancar luaskan dari Masjid Albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi Bogor. Dan ikhwat al Islam sesaat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung dari Masjid Albarkah.
(00:29) Kami yang bertugas mengucapkan selamat mengikuti Roja TV bagi Anda para pemirsa TV. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nastainu ala umurid dunya waddin wasalatu wassalamu alal mabuti rahmatanil alamin nabiina Muhammadin waa alihi wasohabatihi watabiin waman tabiahum biihsanin yaumiddin. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatihi w tamutunna illa wa antum muslimun.
(01:22) Ya ayyuhannasuttaqu rabbakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasa bihi wal arham innallahaana alaikumqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qulan sadida yuslih lakum a’alakum wagfir lakum dunubakum willaha waasulahu faq faza fauzanima amma ba ikhwah sekalian sekalian.
(01:52) Semoga Allah azza waalla menjaga keistikamahan kita dalam belajar dan kita betul-betul ditinggikan derajatnya oleh Allah karena ilmu yang kita pelajari. Karena manusia betul-betul terhina sekali dan pada asalnya kalau dia tahu dimulai dari yang hina diakhiri dengan sebuah kehinaan dan di antara dua ujung itu dia membawa sesuatu yang hina.
(02:19) Kita pernah dengar kisah seorang tabiin Malik Ibnu Dinar rahimahullah. Beliau wafat tahun 127 Hijriah. Ada yang mengatakan tahun 130 Hijriah. Kebanyakan riwayat beliau dari tabiin juga ada beberapa sahabat yang beliau sempat meriwayatkan, akan tetapi kebanyakan riwayat dari tabiin. Beliau ini pernah melihat seorang pejabat lewat.
(02:46) Pejabat ini panglima perang namanya Muhalab Ibnu Abi Sufrah. Dikatakan bahwa Muhalab ini seorang panglima yang sukses, memerintah atau memimpin pasukan bisa menaklukkan banyak kota-kota untuk menambah daerah kekuasaan dinasti Bani Umayyah.
(03:14) yang menugaskan dia adalah Hajjaj Ibnu Yusuf Atsaqafi diletakkan di tempat yang dikenal dengan Khurasan. Khurasan pada akhirnya sempat menjadi kota yang makmur dengan ilmu riwayah. Seperti Imam Bukhari dari Khurasan. Kemudian daerah Naisabur juga termasuk Khurasan. Karena Khurasan ini kota yang luas meliputi kalau sekarang Afghanistan, Kazakhistan, Turkmanistan, Tjikistan, bahkan daerah Iran ini semua masuk di kota yang masuk dalam Khurasan.
(03:49) Nah, ini muhalla Ibnu Abi Sufrah karena dia memang pejabat, jalannya sombong, kelihatan congkak. Maka Malik Ibnu Dinar melihat itu beliau komentar, beliau mengatakan, “Ama talam anna hadhi misyatun yakrahuallah.” Kamu enggak nyadar ya, gaya jalan kayak begini ini adalah gaya jalan yang Allah benci. Illa anyakuna fin. Kecuali kalau memang di depan musuh.
(04:20) Kalau di depan musuh engkau mau sombong-sombongkan tidak ada masalah. Karena memang mereka perlu dihancurkan mentalnya dan dihancurkan orangnya. Tapi tidak ada masalah begini, kamu jalan sombong begini. Dan dia pejabat panglima juga. Tapi seorang alim tidak basa-basi. Melihat seperti itu, beliau katakan apa adanya.
(04:39) Ini jalan yang Allah benci. Jawabannya dia mengatakan, “Ama tarifi.” Kamu enggak kenal aku ya? Maka Malik Dinar mengatakan, “Anta awaluka nutfatun.” Saya kenal kamu. Kamu yang dari awal penciptaanmu adalah air sperma yang hina sekali. Wairuk jifatun qadirah. Dan nanti kesudahanmu akan menjadi bangkai yang juga kotor. Gak ada orang suka.
(05:09) Wa anta f bainaalika tahmilulir. Dan kamu ke mana-mana sekarang bawa kotoran. Jadi kotor sampai kotor di mana-mana bawa kotoran. Subhanallah. Kalau kita lihat ya, ada orang yang Allah uji dengan penyakit sampai dia mau buang hajat aja enggak bisa. Akhirnya Allah bikin dia sakit, dokter membuatkan pembuangan buatan.
(05:33) Ini baunya ke mana-mana ya. Dan orang kalau sudah begitu biasanya ya sudah sakitlah. sakit dan memang kadang-kadang malu untuk menerima tamu. Bahkan sebagian keluarga tidak menerima tamu untuk mengunjungi orang tuanya kalau memang sudah sakit separah itu. Padahal itu Allah yang ciptakan.
(05:55) Nah, sekarang kita enggak nyangka semua kita punya kebutuhan itu. Kalaupun seandainya Allah jaga kesehatan kita, mudah-mudahan Allah jaga terus kesehatan kita. Tapi ketika kita masuk ke kamar mandi itu ya kita semua tidak bisa lepas dari itu. Itu kelemahan. Tetapi kelemahan itu kesempurnaan. Kalau kita enggak bisa ke situ, sakit kita berarti. Ya, tapi memang itu sudah tipenya kita.
(06:19) Maka sebenarnya orang itu hina di semua arah. Lalu Allah muliakan mereka dengan iman dan ilmu. Itu di surah almujadilah. Yarfaillahzina amanu minkum walladina utul ilma darajat. yang ditinggikan itu orang punya iman, punya ilmu. Dulu pernah kita sampaikan Al-Ajurri eh bukan ee oh iya. Al-Ajurri rahimahullah dalam mukadimah Akhlaqul Ulama beliau mengatakan Allah memilih hambnya dikasih hidayah.
(06:45) Di antara hambanya yang dikasih hidayah Allah pilih lagi orang yang mau belajar agama. Karena banyak orang yang punya hidayah tidak belajar agama. Maka orang yang mau belajar agama pilihan di atas pilihan. Dan orang yang belajar pun macam-macam. Ada yang ilmunya manfaat, ada yang tidak.
(07:03) Dan sering kita pelajari ini adabnya para ulama. Ketika sebagian orang menyangka belajar itu menimba maklumat, poin apa yang dihafalkan, yang dibaca, itulah belajar. Disangka bahwa belajar itu hanya memindahkan maklumat, informasi. Padahal seorang thalibul ilm yang beneran dia tahu bahwa ini ibadah. Dia tahu bahwa ini yang bisa memaksimalkan juga penghambaan kepada Allah.
(07:35) Maka seringki para ulama mengatakan majelis seperti ini tidak digantikan. Kalaupun di zaman sekarang ada rekaman atau ada pelajaran dari jarak jauh, tetapi majelis itu tidak bisa beda eh tidak bisa disamakan. ketika malaikat mengepakkan sayapnya, ketika rahmah, kemudian tumakninah dan juga ketika mereka bisa memanfaatkan ibadah itu.
(08:00) Maka orang yang datang pun berbeda-beda. Ada orang yang sampai berdoa kemudian di jalan dia akan memurajaah yang dipelajari. Ini al-Ajurri rahimahullah dalam kitab akhlakul Ulama mengatakan thalibul Ilm kadang belajar berangkatnya barengan kadang sendirian. Kalau sendirian dia manfaatkan untuk membaca Al-Qur’an, untuk mengingat kebesaran Allah, untuk zikir.
(08:27) Kalau dia barengan, maka barengan itu biasanya tidak lepas dari dia bareng dengan kawan sejawat. Maka digunakan untuk murajaah bersama. Atau kadang dia berangkat bersama orang yang lebih rendah ilmunya, maka dia manfaatkan untuk berbagi atau dia berangkat bersama orang yang lebih pandai dari dia maka dimanfaatkan untuk istifadah.
(08:50) Dan kita barangkali jarang yang sampai punya kepikiran seperti itu. Bahkan yang disampaikan Ibnu Jamaah rahimahullah sebelum belih guru istikharah dulu mencari tahu. Dan memang benar orang ketika sudah belajar maka di hatinya ada simpati kepada guru. Semua akhlak ini tepat dan pantas diberikan penghormatannya kepada guru yang memang layak.
(09:15) Sementara seringkiali banyak pertanyaan, kalau seandainya seorang akan belajar kepada ahl bidah, orang yang punya kekurangan di dalam ilmu atau ibadah, maka kata para ulama juga mengatakan kalau memang tidak ada ilmu yang dikuasai kecuali orang-orang seperti itu. Seperti misalkan riwayat yang memang hanya dikuasai sebagian yang memiliki kebidahan.
(09:42) Maka memang diriwayatkan dari mereka ilmu hadis kayak Abdullah ibn Mubarak rahimahullah. Beliau sampai mengatakan, “Ada sebagian guru, kalau aku hadir dan teman-temanku melihat, aku malu sekali hadir di majelisnya dia.
(10:02) Tapi bagaimana pula? Karena memang riwayat itu hanya pada guru ini, tetapi memang seringkiali menjadi fitnah.” Pada saat sebagian orang mengatakan, “Oh, ternyata fulan hadir di majelis itu.” Berarti ada sebuah rekomendasi secara tidak langsung. Berarti guru ini recommended, bisa dipelajari ilmunya. Nah, berarti orang ketika akan belajar memang perlu mempertimbangkan maslahat madarat itu.
(10:27) Kalau seandainya memang ada maslahatnya, bagaimana kalau tidak ada maslahatnya sama sekali? Pengin saja ramai gitu. Orang bilang sekarang tuh hore. Jadi mau belajar itu hore-hore aja gitu. belajar cari yang viral, pelajaran yang nyaman, tempatnya yang kelihatan elegan. Ya, elegan itu kan singkatan elegan gitu ya.
(10:57) Jadi belajar di tempat yang memang malah tidak terhormat sampai orang berusaha untuk mengupas eh bukan mengupas tapi ee berusaha untuk menyuguhkan pengajian ini bagaimana dirasa nyaman oleh kaula yang tidak tua. Ya, jadi kelihatan sekali pengajian itu gaul sehingga bisa merambah masyarakat-masyarakat yang enggak suka pengajian. Tapi kita perhatikan, apakah memang harus seperti itu? Ngaji dulu para ulama mereka menjaga muruah.
(11:25) Bahkan di antara bentuk penghormatan kepada ilmu enggak usah dibagi. Kalau orang yang memang tidak mau, kalau dia mau silakan datang. Kalau sandi tidak mau, ngapain kita harus ngalah-ngalah kemudian kasih-kasih mereka? Sudah enggak usah begitu. Subhanallah. Ini para ulama praktiknya begitu. Sehingga ilmu ini terhormat dan para ulama terhormat.
(11:45) Ketika orang tidak tahu bagaimana cara menyebarkan ilmu, akhirnya disangka dengan berbagai cara. Seolah-olah yang penting ini nyampai. Akhirnya apa hobi masyarakat diikuti sampai tidak lagi dipertimbangkan muruah atau martabat. Padahal martabat itu penting sekali. Dulu para ulama tidak membandingkan saja ini karena haram atau makruh, tetapi mubah pun ditinggalkan kalau hanya kalau untuk menjaga sebuah kehormatan ilmu.
(12:18) Baik ikhwah sekalian, kita akan mempelajari poin yang ke9 dan 10 insyaallah biidiznillah ya. Poin yang ke9 almualif rahimahullah mengatakan an yuhsina khitabahu maikhi biqadril imkan. hendaklah dia berusaha memperindah, mengatur tutur kata kepada gurunya sebisa mungkin. Baik, bagaimana cara dia mengatur dan memperlembut? Ditinjau dari sisi syar’i dan dari sisi uruf.
(12:55) Kebiasaan masyarakat yang sopan itu bagaimana? Kata-kata yang bisa dikatakan terhormat itu bagaimana? Ya wala yaquulu lahu lima wala la nusallim wala man naqala had bayangkan ini kata-kata yang dinukil sejak masa Ibnu Jamaah rahimahullah. Ibnu Jamaah wafat 733 Hijriah. Bahasa Arab memang melalui masa perkembangan, tetapi inilah kata-kata yang sering diucapkan masyarakat awam ketika mereka ngobrol dengan sesama. ini tidak pantas disampaikan kepada seorang guru.
(13:31) Kalau dikatakan memang memang ada dalilnya. Iya, memang ada dalilnya. Larangan untuk mengatakan seperti ini. Ini dikatakan ee contohnya lima. Lima itu artinya mengapain. Tapi apakah kita pantas ngomong kepada guru kita, “Ngapain ya kita dianjurkan sebaiknya begini-begini. Emang ngapain? Emang enggak boleh?” Ya gitu kan gak sopan sama sekali.
(13:55) ini mau ngajarin atau mau belajar mau ngantang ini. Begitu dikatakan pula la nusallim. La nusalim itu artinya enggak terima. Ana enggak terima atau saya kurang sepakat ketika ada pembahasan lalu gurunya mengatakan demikian. Dia mengatakan la nusallim ya seperti ini enggak enggak mesti benar. Tayib.
(14:21) Kalaupun ada pendapat lain atau memang ada referensi lain nanti ada caranya bagaimana cara mengutarakan. bukan langsung dibantah. W man naqal. Siapa yang ngomong kayak begini? Jadi gurunya menyebutkan sebuah pendapat. Siapa yang ngomong kayak gini? Gitu. Wala aina maudiuhu. Mana mana mana referensinya mana begitu. Wasibhu dalalik atau yang semacamnya. Karena seperti ini tidak beradab.
(14:41) Kata-kata yang digunakan bukan untuk bertanya tapi untuk membantah. Kalaupun dia bertanya tanyanya bukan tafaqquuh tapi taannut. Tafakqhuh artinya pengin tahu. Kalau taanud artinya nantang. Dan ada dalam hadis ketika seorang mengatakan belajar untuk bertanya kepada orang alim, nunjukkan ilmunya atau untuk debat.
(15:14) Man taalamal ilma mimma yubt bihi wajhullah la yataallamuhu illa liyumari bihi asufahai bihi al ulama. untuk membanggakan diri depan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh. Aasrifa ilaihi wujuhanas fararunar atau dia pengin cari pengikut orang-orang biar lihat dia, dia punya ilmu ini. Entah dia bertanya atau dia membantah atau ketika di majelis dia ingin kelihatan berdiskusi pengin yang seperti itu.
(15:40) Jadi memang realitanya ada orang-orang yang kalau bertanya taannutan bantah nantang. ini di mana-mana di setiap lapisan ada orang kayak begitu. Fain artifadatahu. Kalau seandainya dia pengin menimba ilmu yang bermanfaat kepada gurunya hendaklah dia lemah lembut untuk menyampaikan. Majlisin akilah. Kalau dia milih momen yang lain lebih afdal. Dia pernah melihat ada guru salah.
(16:16) Kalau dibantah langsung biasanya pecah ya, tapi ditunggu waktu yang lain. Entah nanti, besok atau apa dikatakan ahsanallahu ilaikum zakartum fadilatukum. Antum pernah bilang begini ini saya pengin dapat tambahan referensinya. Tidak langsung dia merasa seperti terbantah ketika di waktu yang sama dia ngomong begini. Ini siapa yang ngomong kayak begini? Oh, tersinggung. seperti itu.
(16:47) Maka kalau seandainya bisa di waktu yang berbeda afdal wa ba salaf dinukil dari perkataan sebagian salaf. Manyaikihi lima lam yuflih abada. Kalau ada orang bilang kepada gurunya, “Kenapa? Kenapa?” Dia tidak akan beruntung sama sekali selamanya. Dia tidak akan beruntung.
(17:11) Tadi kita sebutkan karena memang kebanyakan yang bertanya seperti itu tujuannya nantang. Kalaupun memang ada kesalahan, maka tidak semua guru kita maksum. Tetapi caranya harus diatur. Dulu di antara murid Ibnu Abbas ada yang seperti itu. Syekh Salh Al Usaimi hafidahullah menukil perkataan Ibnu Abdil Bar dalam Jami’u Bayanilmi wafadlihi.
(17:34) Ada sebagian murid Ibnu Abbas dia suka nantangin begitu maka dia tidak dapat ilmunya. Ada seorang yang lain, tabiin Urwah Ibnu Zubair rahimahullah. Beliau hati-hati, sopan sekali ketika berbicara. Akhirnya dia memiliki ilmu yang banyak yang diambil dari Ibnu Abbas. Padahal bukan berarti Urwah Ibnu Zubair tidak membantah. Membantah. Kalau kita lihat dalam beberapa riwayat, beliau sampai pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas, “Wahai Ibnu Abbas, antum enggak takut menyelisihi Abu Bakar dan Umar?” Ketika Abu Bakar dan Umar menyatakan sebuah instruksi, sekarang kaum muslimin hajinya ifrad
(18:13) saja. Kok antum bilang tamatu, antum enggak khawatir, antum kuwalat istilahnya begitu. Artinya kata-kata seperti ini memang bukan hanya ee bertanya, tetapi ada semacam bantahan. Tetapi kapan itu disampaikan? Barangkali memang pembahasannya sudah perlu sekali untuk diperuncing.
(18:38) Sampai Ibnu Abbas mengatakan, “I’qil ya Urayyah ummaka ya Urayyah.” Karena namanya Urwah dikecilkan dalam bahasa Arab jadi Urayyah. “Wahai Urayyah, tanya ke ibumu.” Ibunya maksudnya bukan Asma, tapi Aisyah radhiallahu anha. Karena Urwah sering tanya ke bibiknya Aisyah. Tapi maksudnya memang terjadi perbincangan di antara mereka seperti itu, tapi ketika sopan, sabar, maka ternyata ilmu guru itu mahal dan cara diambilnya memang dengan kesabaran. Baik.
(19:09) Dikatakan pula waidakarik saian fala yaqul hak qulu khatar samu au hak qala fulan. Kalau gurunya mengatakan sebuah pendapat, maka jangan dia timpali dengan mengatakan, “Iya, saya sudah pernah dengar.” Atau, “Oh, itu kayak pendapat saya.” Wah, ini namanya tidak tahu diri. E, Syekh Albani mengatakan demikian.
(19:31) Oh, pendapatnya sama dengan pendapat anak. Loh, ente siapa? Sampai ente punya pendapat. Nah, ada orang kayak begitu. Nah, ketika gurunya mengatakan sebuah pendapat, dia tidak pantas lelalu mengatakan, “Oh, iya itu yang sebenarnya saya rajihkan.” Nah, ini tidak pantas ya. Illa anlamaarikalik. Kecuali kalau memang dia sadar gurunya memang pengin mengerti pendapat dia atau mempersilakan untuk menjawab. Nah, dia sampaikan apa adanya.
(20:03) Bisa jadi ada manfaatnya untuk muzakarah atau saling berdiskusi. Nanti pun bisa dibenarkan oleh Syekh kalau seandainya ada yang lebih tepat. Tetapi hukum asalnya ketika Syekh menyampaikan sebuah informasi, dia tidak langsung mengatakan, “Oh, iya saya sudah lama dengar.
(20:25) ” Karena pernyataan seperti ini memberikan kesan tidak butuh ya, tidak butuh kepada guru atau alistighna. Oh, iya ini begitu. Wakadza la yaquulu qala fulanun khilaf had a rawa fulanun khilafahu had ghairu shahih wahwualik. Apalagi dia mengatakan, “Oh, antum ngomong gitu.” Tapi ada ustaz lain bilang tidak sama dengan itu. Wah, ini namanya ngadu ya. Namanya mengadu domba.
(20:50) Oh, ada pendapat ulama lain yang mengatakan tidak sama dengan pendapat antum. Ini namanya su adab. Tidak beradab sama sekali. Kalaupun memang seluruh dunia tidak berpendapat seperti pendapat syekhnya, maka dia sampaikan tidak seperti itu caranya. Wa asikhu ala quin dalilin walam yadhar lahu ala khilafiwabin sahwa.
(21:17) Kalau seandainya gurunya mengatakan sebuah pendapat dan ngotot ini gurunya yang ngotot bukan muridnya ya. Kalau seandainya gurunya memang ngotot untuk menyampaikan sebuah pendapat dan muridnya memang berusaha untuk paham kok kayaknya enggak nyambung gitu, kayaknya enggak begitu. Atau memang gurunya betul-betul kelihatan salah, tapi kelihatan salahnya itu tidak sengaja. Mungkin karena lengah, lalai, atau tidak ngerti.
(21:47) Begitu apa sikapnya? Fala yugyiru wajhahu aai. hendaklah dia tidak merubah mimik mukanya mukanya dengan mimiknya orang Arab juga mengatakan demikian. Mereka memiliki sebuah ungkapan entah nutqan atau isyarah. Bisa dengan kata-kata yang tegas atau dengan isyarat. Bahkan dalam riwayat hadis orang bisa dikatakan, “Wih, hadis ini mungkar banget.
(22:21) ” Hanya dengan mengatakan ini kata-kata bahaya ini. Kalau orang Arab bilang, “Hm gini nih tangan dibalik set ini. Ini artinya adalah halik. Ini kacau sudah hadisnya ini.” Begitu. Jadi zaman sekarang kalau ada orang bilang, “Ah, Fulan ini kalau sudah bilang fulan gini itu artinya oh kasihan dia. Sudah artinya dia dulu sempat jadi orang alim tapi setelah itu dia Nah.
(22:45) ” atau ngejek dengan mulut ya. Jadi atau dengan mata mata dengan lirikan kayak begini. Nah, ini enggak enak banget. Sudah kayak begini ya dikatakan atau ketika seorang menunjukkan giginya di bibir kelihatan. Pokoknya ini semua adalah mimik-mimik yang menunjukkan pengingkaran dari perkataan Syekh. A yusiru ila girihi munkir lima. Apalagi sampai ngomong ke kawannya.
(23:18) Begini, ini jelek banget. Ketika ada sebuah pendapat, lalu murid ngomong ke orang yang hadir lainnya. H ini kayak begini nih. Biasanya memang dari awal sudah ada informasi. Begitu gurunya ngomong sesuatu kan benar kan gitu. Tapi dia enggak ngomong tapi cuman pakai isyarat begitu. ini tidak sopan sama sekali dalam majelis itu tidak sopan sama sekali baluhu bibisrinahir tapi dia menghargai itu dengan penampilan yang tetap bisa masuk akal atau yang kelihatan bagus yakunik musiblatinya alaihi wasallam. Kalaupun gurunya tidak benar, gurunya ternyata betul-betul
(24:11) salah karena memang lalai, lupa, atau karena kurang menguasai. Wajar. Wajar kalau ada guru kurang menguasai. Kurang menguasai apa? Bahasa. Baca kitab salah-salah misalkan. Lalu ada orang tuh itu baca kitabnya a kayak begitu. Gimana mau diambil manhajnya? Loh, manhaj sama bahasa apa bedanya? Atau ada apa pengaruhnya? Salah baca kitab langsung dikatakan wah bahlul.
(24:46) Ya, artinya memang kita dikatakan orang ketika akan menyampaikan tidak pantas sering salah atau kurang tepat ya. Kalau guru sering salah bahkan dalam yang paling rendah mesti misalkan baca baca kitab ternyata salah-salah nanti khawatirnya pemahaman juga keliru begitu. Tapi kalaupun secara terjadi seperti itu, maka setidaknya seorang murid menyangka memang yang maksum itu cuman para nabi.
(25:09) Adapun orang biasa sangat mungkin mereka salah. Pelajaran bahasa, pelajaran waris, pelajaran sejarah, lalu enggak ngerti, enggak ingat, atau bahkan memang dulu waktu belajar ini kayaknya kuburan saya di sini ini ya. Jadi setiap sampai di pelajaran itu mesti gagal gitu. Yang dikuasai tidak semuanya wajar seperti itu.
(25:38) Baik dikatakan walyatahafad min mukhabatiik bima yaaduhu ba’dunasi fi kalamihi w yaliqu khituhu bihik fahimt wasadri w insanahwiik. Hendaklah seorang menjaga lisannya ketika berbicara dengan gurunya dari kata-kata yang sering dipakai oleh sesama mereka, sesama orang-orang awam. Contohnya tadi disebutkan ashbag itu sampai sekarang orang Arab juga pakai itu.
(26:11) Ashbag itu artinya ayyu saaiin bika kamu ngapain gini? Masa sama gurunya antum ngapain syekh gitu kayak enggak pantes kan. Nah, artinya kalaupun seandainya dia ketemu dan syekhnya sedang lagi ngapain bisa dikatakan akdimuk syaian? Apakah aku bisa bantu? Kan begitu. Syekh ngapain Syekh? Kayak gitu kagak pantas banget begitu.
(26:33) Fahimta? Paham Syekh? J kita lagi ngomong nanti bukunya dikumpulkan di sini kita jilid nanti kita kembalikan apa itu paham? Oh gitu kan enggak pantes ngomong ke guru kayak begitu. Was dengar Syekh ini juga enggak pantas atau tadri antum tahu sudah begitu w insan wahai manusia manusia ngomong ke syekhnya itu ngapain gitu ya ini kata-kata yang tidak sopan walika la yahu ma bihiiruhu mimma la yaliqu khitusik bihi wainana hakiya demikian pula ketika sedang cerita ke seorang syekh dan menceritakan itu menggunakan kata ganti seperti kita ngajak ngobrol syekhnya. Maka jangan sampai mengesankan
(27:19) cerita itu kayak ngajak bicara Syekh. Dan dalam bahasa Arab biasanya orang kalau ngomong orang itu ketika belajar dia perlu ee bertanya kepada kawannya. Arait. Nah, begitu. Jadi mereka orang-orang Arab itu biasa menggunakan kata ganti anta dalam cerita. Anda tidak mikir, ana tidak ngajak ngomong antum, enggak. Tapi ana sedang cerita.
(27:51) Anda sedang cerita tentang perjalanan ana atau kawan-kawan ana atau apa. Ah, itu istilahnya kayak ana pengin memahamkan cerita ini kepada antum. Seolah-olah biar antum ini betul-betul mengikuti cerita ana, maka menggunakan kata ganti antum gitu. Fahimta gitu. Anta arta anata. Kamu kalau mau belajar ini sebenarnya ana tidak sedang ngajak ngobrol antum tapi ini menyebutkan sebuah kaidah belajar itu harus begini begitu. Nah dalam bahasa Arab itu orang sering menggunakan kata ganti anta.
(28:23) Tapi kalau lagi cerita sama syekhnya enggak pantas dibuat seolah-olah cerita itu sedang kena syekhnya. Begitu dikatakan mluq fulanun lifulanin anta qilul bir. Seperti dia lagi cerita ada Ahmad misalkan ngomong sama Muhammad, “Kamu itu tidak punya kebaikan lah.” Tapi ngomongnya di depan Syekh ini fulan ngomong sama fulan kamu itu.
(28:50) Nah, jadi syekhnya sempat kaget gitu loh. Loh, ini kok kamu itu jangan-jangan ana yang diajak bicara. Padahal kan cerita. Maka dikatakan oleh Ibnu Jamaah wainana hakian meskipun dia sedang menyebutkan sebuah cerita, tapi jangan pakai damir ini begitu. Jangan pakai kata ganti ini. Wamaaka khair.
(29:07) Kamu enggak punya kebaikan blas gitu. Nah, ini kan lagi ngomong cerita tapi ceritanya sama syekh jangan sampai syekh salah paham. Wasibhuika atau yang semacam ini. Aral hikayati bihi. Kalau dia mau cerita depan Syekh, maka dia menggunakan kata ganti yang biasanya pakai kiasan saja biar Syekh itu tidak nyangka dia yang diajak ngomong gitu.
(29:37) Nah, contohnya di sini disebutkan qala fulanun lifulan al ab’adu qolilul bir wal baidi khair wasibhuik. Ini artinya kalau diterjemahkan bebas itu orang yang ee apa namanya? Sedang dibicarakan atau orang tersebut gitu. orang tersebut itu memang enggak punya kebaikan atau orangnya tidak terpuji. Orang tersebut itu enggak kita ngajak ngobrol syekh, tapi orang yang dibicarakan begitu.
(30:01) Albaid itu maksudnya orang yang jauh maksudnya yang berhubungan dengan itu. Nah, ini seperti contohnya ketika menceritakan tentang kisah kufurnya Abi Thalib. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim disebutkan lamma tuffiya au lamma mata Abu Thalib. Ketika Abu Thalib hampir wafat atahu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka beliau datang Rasul sallallahu alaihi wasallam kepada Abu Thalib. Faqala ya am qul la ilahaillallah kalimatan uhajjujaka bihaallah.
(30:38) Wahai pamanku katakan lailahaillallah. Kalimat ini akan aku jadikan senjata pamungkas membela kamu di depan Allah. Tapi di situ ada Abu Jahal dan Abdullah ibn Abi Umayyah. Setiap Nabi sallallahu alaihi wasallam menawarkan lailahaillallah keduanya mengatakan millati Abdul Muthalib. Kamu enggak suka sama agama nenek moyang.
(31:02) Falam yazal bihi Rasulullah sallallahu alaihi wasallamaniik. Setiap Nabi sallallahu alaihi wasallam mengulangi, mereka ulangi lagi. Ah, kamu enggak suka ya sama agama nenek moyang sampai hatta idza kanana akhir maqal ala millati abdil muthalib. Sampai terakhir kisahnya Abu Thalib mengatakan, “Ya sudah, yang dipilih adalah agamanya Abu Thalib.
(31:28) ” Di sini ee Abdul Muthalib ya maksudnya masih tetap kafir, enggak mau Islam. Nah, di riwayat ini ada seorang periwayat namanya Al-Musayyib Ibnu Hazm. Ayahnya Said Ibnu Musayyib. Beliau ketika menceritakan ini maka beliau rubah damirnya. Ketika menceritakan tentang akhir hayat dari Abu Thalib, dia mengatakan, “Hua ala millati Abdil Muthalib.” Dia mati dengan mengusung agama nenek moyangnya.
(31:55) Kata-kata hua ini dalam bahasa Arab juga digunakan kiasan agar tidak dipahami bahwa yang mati kafir itu saya atau kamu yang lagi cerita atau yang mendengar cerita. Biar tidak ada kesan seperti itu, dia sengaja menggunakan kata-kata dia akhirnya mati kafir. Nah, seperti ini ee pantas dan dipilih agar tidak disalah pahami ketika cerita kepada seorang guru.
(32:29) Waatahafadu min mufajaik bisati raddin alaihi. Hendaklah dia menjaga juga di depan gurunya. Jangan membuat kaget gurunya. Gimana membuat kaget gurunya? Bantah. Jadi gurunya ngomong langsung dia bantah. Ini gurunya kaget. Wih, murid ana bantah dibantah gitu. Kalau sudah dibantah begitu meskipun gurunya punya ilmu dan akan menjelaskan ilmu itu.
(32:56) Tapi kalau dari awal sudah dimulai mukadimahnya dengan bantahan, sudah malas mau ngajar. Begitu. Maka dikatakan, “Fainnahu yaq mimman lainul minasi.” Karena yang seperti ini sering terjadi banyak di kalangan orang-orang yang tidak ngerti adab. Begitu gurunya ngomong apa langsung bilang enggak kok. Gitu. Padahal dia memang benar enggak. Tapi jawabnya gimana? Jangan langsung begitu. Bantah itu jelek.
(33:23) Dulu waktu ana masih SMA Syekh kami mengatakan sahih had ini benar apa enggak? Ada sebagian murid bilang kawan ana lah syekh la taklla. Jangan kamu bilang jangan. Enggak. Tapi naam walakin ya. Iya. Akan tetapi artinya ini bukan berarti kita menyetujui sebuah kesalahan, akan tetapi cara bagaimana menyampaikan pendapat di depan Syekh seperti itu.
(33:53) Nah, dikatakan eh fayqul qulu kad yaqulah muraduka fialika kadar laka kad fayqu la mahar wasibik. Ketika guru mengatakan, “Kamu pernah ngomong gini kan? Atau ini kan yang kamu pahami atau ini yang kamu bayangkan.” Lalu murid ketika tidak seperti itu, dia mengatakan, “Enggak, aku enggak ngomong.” Atau dia mengatakan, “Enggak, ana enggak kebayang kayak gitu saya.
(34:22) Berarti antum salah paham kayak gitu parah sekali.” Nah, sehingga ketika ada guru bertanya, “Ini maksudmu bukan gitu?” Ah, ini enggak copat. Bukan itu maksud ana, gitu. Akan tetapi dijelaskan dengan pendapat yang ee apa namanya? Lembut. Balquu cara yang tepat yatalfa bil mukasarah.
(34:48) Hendaklah dia lemah lembut dalam berdiskusi dengan gurunya. Almukasar ini maksudnya murajaah. Bagaimana beliau dijawab pertanyaannya alik ketika ingin membantah menjawab. ini seperti misalkan ente pernah ngomong begini atau ente memahaminya seperti ini. Nah, maka murid bisa mengatakan ee iya mungkin ana yang salah Syekh.
(35:17) Dan sekarang saya pengin mendengar pembenaran dari antum. Nah, artinya jawabannya sama. Ana tidak ngomong begitu atau ya mungkin ana yang salah paham atau salah ucap atau bagaimana. Intinya syekh itu rida. betul-betul rida. Dan antum perhatikan, ada orang yang memang dari sananya istilahnya itu wataknya murid itu sopan.
(35:41) Sehingga guru nyaman ngajar ke murid yang sopan. Masuk kelas itu ingat murid yang sopan dan semangat. Karena tidak mesti orang pemalu itu tidak bertanya. Ada orang pemalu tapi bertanya dan pertanyaannya sopan. Jadi guru itu jawabnya senang. Di waktu yang sama kadang dia masuk kelas, ternyata sebagian muridnya belajar aja kayak ogah-ogahan banget.
(36:05) Apalagi ngobrol sama kawannya, nanti akan dibahas ini. Ngobrol sama kawannya atau dia bahkan tidak mendengarkan sibuk dengan perkataan yang lain. Ya, dikatakan lagi di sini walikafah taqririn wa jazm kaqui alam takl awaisa muraduka kad fala yubadiru birdi alaihi biqui au ma hua muradi. Ya.
(36:35) Demikian pula kalau syekh ingin memastikan ke dia, maksud antum begini kan? Atau antum dulu pernah ngomong begini kan? Maka dia tidak perlu langsung ngomong buru-buru. Enggak, Syekh. Bukan kayak begitu. Tidak seperti itu. Walakin bal yaskut. Dia diam dulu. Kalau diam Syekh ini sudah paham dari awal. Oh, berarti enggak gitu.
(37:00) Jadi kalau murid dikatakan antum ngomong kayak begini kan ternyata murid diam. Nah, ini orang sudah tahu. Oh, berarti enggak nih. Berarti enggak. Cuman ketika akan jawab memilih kata-kata atau mungkin dia mau jawab enggak bisa. Gak apa-apa enggak bisa. Mungkin guru akan mencari kata-kata lain. Tetapi setidaknya dari awal dia sudah tidak terbantah. Begitu.
(37:24) yaralika bikalamin latifin yufhim qdahu minhu atau dia memilih kata-kata lain yang kira-kira syekh juga bisa paham kalau dia sebenarnya tidak seperti yang ditanyakan dan dipastikan oleh syekh itu. Faillam yakun buddun min tahriri qasdihi waqui falyaqul faanalana aquu kad. Kalau memang mau tidak mau, dia harus menolak, menunjukkan pendapatnya apa adanya.
(37:52) Karena memang mungkin syekhnya berulang atau syekh memang tidak basa-basi atau kelihatan syekh memang betul-betul pengin tahu pendapat kita bagaimana kamu begini. Maka dia memilih kata-kata ya sekarang ana ngomong itu. Padahal aslinya kan enggak tapi dia sekarang ana ngomong gitu berarti tadinya enggak.
(38:16) Nah syekh itu bisa paham dengan jawaban-jawaban yang seperti itu. Audu ila qasdi wuidu kalamahu. Atau ya saya siap untuk mengikuti pendapat yang antum perintahkan, tapi ana dulu pernah ngomong begini gitu. Nah, ini kan sekarang tujuannya tercapai. Tujuannya ingin mengatakan kalau yang antum sangka saya ngomong gitu enggak. Saya mengatakan yang seperti ini.
(38:41) Cuman saya siap untuk mengikuti arahan antum gitu. Itu kan enak dengarnya itu. Baik. Wala yaqul alladzi quluhu alladzi qaduhu litadamunirda alaih. Dan dia jangan membalas langsung ngomong, “Enggak, Syekh, yang ana maksudkan itu begini.” Nah, kayak gini kelihatan sekali dia membantah. Wika maudin lima w nusallim fain lana fain munnaik fain suilna fain wasibalik liyakuna mustafhiman lil jawabi sailan lahu adabin wfi ibarah.
(39:29) Ya, kalau seandai dan sebiknya dia ee ketika memang harus bertanya, dia bertanya yang baik ya. Dia memang kalau memang ada waktunya dan momennya seperti itu ya dia omong apa adanya. Kenapa demikian? Kalau bukankah seperti ini atau bukankah kita dilarang untuk seperti itu? Munna minzalik fain suilna.
(39:56) Kalau kami nanti ditanya seperti ini, bagaimana jawabnya? Nah, artinya kita mau nanya, kita milih, kalau nanti kami ditanya, bagaimana nanti jawabnya? Nah, seperti ini ee seolah-olah guru itu tidak merasa dibantah. Liyakuna mustafhiman lil jawabi sailan lahu bihusni adab. Agar dia menyampaikan sebuah pertanyaan itu mendapatkan jawaban yang bermanfaat.
(40:25) ya, mendapatkan jawaban dengan cara yang betul-betul beradab dan walutfi ibarah dengan kata-kata yang sopan. Syekh Salh Utsimi mengatakan ini pembahasan penting. Ketika seorang belajar, dia perlu juga menyiapkan kata-kata yang tepat ketika menyampaikan pertanyaan. Karena ilmu itu didapatkan dengan dua cara. Yang pertama ma yabtadiu bihikhu eh ifadatan ya atau bibadlah.
(40:55) Jadi ilmu yang memang dari awal gurunya pengin nyampaikan. Yang kedua ilmu yang dikeluarkan dari guru. Ma yustakhroju bihi bisualin wastifham. Atau memang ilmu yang tersimpan di otak gurunya dan baru dikeluarkan kalau ditanya. Jadi ini dua-duanya sama dibutuhkan. Kalau kita belajar buku-buku ahli hadis, ada buku khusus namanya sualat, pertanyaan-pertanyaan. Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad.
(41:28) Al-Ashram bertanya juga kepada Imam Ahmad. Kemudian Yahya bn main punya murid ditanyakan kepada Ibnu Main Aduri. Kemudian juga ada beber Sijzi bertanya kepada gurunya. Dan ini semua para ulama mengatakan siapa penulis buku itu? Bisa dikatakan buku itu milik gurunya atau milik muridnya. Karena kalau dikatakan milik gurunya, jawaban itu dari gurunya semua.
(41:53) Kalau mau dikatakan milik muridnya, karena yang nyusun dan bertanya adalah muridnya. Sah-sah saja. Tapi maksudnya sebagian orang ilmunya baru ketahuan ketika ditanya. Dulu salah seorang syekh kami mengatakan di Jamiah Islamiyah ini ketika saya belajar ini Syekh Ana sudah tua. Syekh Ana sudah tua. Beliau cerita tentang masa muda beliau.
(42:17) Dulu di Jamiah ini kami punya salah satu dosen kalau ngajar sudah setengah mati menguasai dirinya sendiri. Artinya nyampaikan itu sudah kesulitan banget mengatur kata-katanya. Bahkan ngatur gaya duduknya sudah kayak orang enggak pde sekali. Kayak sudah susah sekali untuk ngatur dirinya sendiri gitu. Tapi subhanallah ketika ditanya ilmunya kelihatan luas.
(42:36) Ada orang model seperti itu. Nah, seperti ini ketika orang bertanya dan dijawab ini kan ilmu semua. Ilmu semua. Maka orang yang muwafaq adalah orang yang bisa menyampaikan sebuah pertanyaan. pertanyaan itu manfaat sehingga jawabannya pun manfaat seperti itu. Dan sebagian ulama dia bisa menyampaikan jawaban tetapi situasinya tidak dia suka untuk menjawab.
(43:12) Contohnya Abdur Razzaq Assan’ani rahimahullah ketika diminta oleh sebagian murid untuk menyampaikan hadis dalam kondisi berjalan, beliau enggak suka. Beliau mengatakan ini tidak termasuk takzim. Orang menghormati hadis itu duduk. Imam Malik rahimahullah setiap akan menyampaikan hadis beliau sisiran, jenggotnya disisir, pakai pakaian yang terhormat duduknya juga tenang. Baru menyampaikan hadis.
(43:37) Ketika sambil jalan seperti tidak menghargai. Meskipun tidak mesti seperti itu. Nabi sallallahu alaihi wasallam juga ditanya sambil jalan, enggak ada masalah. Cuman sebagian orang tidak suka begitu. Bahkan ada di antara ee biografi sebagian ulama wafat karena dikerubungin muridnya.
(43:58) Jadi murid-muridnya ini pengin bertanya, pengin belajar, pengin mendengar fatwa atau apa sampai mereka berjubel di keledainya jatuh. Kemudian karena memang padatnya itu wafat. Ada orang yang seperti itu. Syekh Utsimin rahimahullah, beliau termasuk tidak suka kalau ada orang ee apa mengiringi beliau.
(44:23) Beliau jalan begini kemudian murid-murid datang untuk ngiringi beliau. Beliau enggak suka. Beliau toleh ke belakang. Mau apa? Mau tanya. Tanya sekarang. Kalau ditanya sudah beliau jalan sendiri dan jalannya cepat. Dan ini dikenal Syekh Utsmin kayak gitu. Sampai suatu saat ana pernah apa namanya? ee duduk di satu tempat sama beberapa masyaikh. Ada orang lewat, orang tua pendek pakai jubah kemudian ada imamahnya begini jenggotnya putih.
(44:54) Kata Syekh, “Wallahiakarani Syekh Utsimin Syekh yang bareng sama kita sudah tua. Dia mengatakan, “Ana setiap Syekh ini lewat ana ingat Syekh Utsmimin karena jalannya cepat.” Dan memang Syekh itu sering kalau salat Asar itu mestikan kita memang ngepos di situ musim haji.
(45:12) Kemudian Syekh memberikan fatwa kita sebagai mutarjimember penerjemah kita duduk bareng Syekh itu. Nah, setiap salat Asar itu orang mesti lewat situ gitu pendek jenggot putih jalan cepat. Sampai Syekh itu bilang, “Ana setiap lihat orang ini ingat Syekh Utsimin.” Dan memang ternyata beliau suka seperti itu. Kalau jalan ternyata memang tidak suka ada orang ngawal begitu.
(45:31) Dan yang Anda pernah lihat sendiri Syekh Hudzaifi. Syekh Hudzaifi karena beliau imam dan pimpinan imam Masjid Nabawi, beliau sering dikawal. Tapi beliau habis ngisi pengajian, beliau ambil sandalnya dikempit begini, tek bawa kitabnya cepat. Iya. Nwal ditinggal.
(45:51) Ana sering lihat itu karena beliau lewat mesti di tempat lewat tempat duduknya kita orang Indonesia itu cepat sekali. Artinya seorang murid ketika akan bertanya dia perlu memperhatikan juga apakah Syekh ini rida dengan kondisi dengan ungkapan dan bahasa yang akan disampaikan. Ini yang kesembil. Kemudian pembahasan yang ke-10 al-Asyir. Iza samiik yadkuru hukman fi masalah. Apabila dia mendengar gurunya menyebutkan sebuah hukum dalam satu permasalahan au faidatan mustagrabah atau sebuah informasi baru tapi memang asing aneh.
(46:29) A yah hikayatan atau guru itu menceritakan sebuah kisah au yunsyidu syro atau guru ini menyampaikan bait syiir ya wahua yahfadu dalalik. Sedangkan murid sudah hafal, sudah ngerti pembahasan yang disampaikan kok diulang-ulang aja misalkan. Lalu muridnya sudah ngerti duluan. Asg ilaihi isgha mustafidin lahu fil mutaattisin ilaih farihin bihi.
(47:02) Hendaklah murid tetap menunjukkan bahwa ini adalah ilmu baru seperti yang haus untuk mendengar. W. Menunjukkan kalau dia semangat pengin mendapatkan manfaat dan informasi baru seperti yang bahagia sekali mendengar itu. Padahal sudah ngerti sebelumnya. Nah, kadang ada orang kayak gitu dengar. Oh, pernah dengar. Jadi, gaya mimik itu katanya mewakili sekali.
(47:30) Dan antum lagi ngomong tahu-tahu yang antum ajak bicara kelihatan sudah kayak tadinya mau dengerin gitu, begitu antum ceritain kayak nunduk gini, oh kayaknya enggak tertarik sudah. Apalagi kalau bukan hanya tidak tertarik, dia kemudian mengatakan terus akhirnya begini kan kayak gini. Ini berarti sudah pernah disampaikan. Nah, ini enggak pantes.
(47:56) Enggak pantes karena nanti akhirnya membuat Syekh tidak tertali untuk melanjutkan. Tapi dia menunjukkan kalau dia pengin mendapatkan ilmu itu mutaattis seperti haus untuk mendengarkan itu. Bahagia. Kaannahu lam yasmauq. Seolah-olah dia belum pernah mendengar itu. Belum pernah kita sampaikan itu perkataan Atha. Ternyata Ibnu Jamaah menyebutkan di sini, qala Atha Atha ibn Abi Rabah ini salah seorang tabiin senior di Makkah, Abu Muhammad Almakki ini yang waktu itu beliau termasuk rujukan di masalah ilmu hadis dan fikih.
(48:31) Inni laasmaul had minaruli waamu bihi minhu faurihi min nafsi anni la uhsinu minhu aku barangkali mendengar seseorang bercerita atau menyampaikan hadis aku sudah lama dengar itu. Tapi aku tampakkan kepada dia seolah-olah aku belum pernah mendengarnya. Dan ini beliau sampaikan sebenarnya untuk me apa? menjelaskan kepada orang-orang yang gampang bantah.
(48:58) Pada pertemuan yang lalu kita sampaikan bahwa Atha Ibn Abi Rabah ada di majelis ada orang berbicara tiba-tiba langsung dibantah oleh siapa namanya orang yang hadir di situ. Maka Atha Ibn Abi Rabah marah. Beliau meng ya subhanallah hakadal majelis ainal ilm? Mana ilmu itu? Mana akhlak? Masa ada orang ngomong langsung dibantah, “Demi Allah, aku sudah pernah mendengar sebuah ilmu, tapi aku memang betul-betul menunjukkan kalau aku belum pernah mendengar.” Tapi ini untuk menghormati majelis.
(49:31) Termasuk perkataan yang ini setelahnya beliau mengatakan, “Innasyab laatahaddatu biaditin faastamiuahu kaam asmuahu wqad samuhu qla yulad.” Sungguh sebagian anak muda menyampaikan satu hadis, “Aku berusaha berpura-pura. Aku belum pernah mendengar hadis itu. Padahal aku sudah dengar hadis itu sebelum anak muda ini dilahirkan.” Karena senior banget. Dan anak muda ini seperti ini.
(50:00) Dan antum tahu ada sebuah nukilan kalau tidak salah dari Ibnu Abbas bahwa memang yang pantas berbicara di satu majelis adalah yang berumur di samping yang berilmu. Tetapi umur itu memang dipertimbangkan ketika mau hadir, ketika mau nyalamin, ketika mau berbicara, maka yang dimulai dari umur. Dan ini diambil dari beberapa hadis yang sahih.
(50:25) Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam ada kasus, lalu ada sebagian sahabat cerita, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Kabbir kabbir mulai yang tua dulu kalau mau cerita.” Meskipun yang muda lebih tahu ceritanya, tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam selalu mendahulukan umur. Nah, demikian pula ketika di zaman Ibnu Abbas kalau tidak salah di majelis ada anak muda banyak ngomongnya.
(50:46) Maka Ibnu Abbas mengatakan, “Nak, seperti ini cara orang punya ilmu.” Artinya dulu sebagian kami tidak berani berbicara sampai dia belajar 20 tahun. Nah, ini ada orang langsung pengin tasadur. Tasadur itu artinya pengin tampil gitu di majelis atau di masyarakat seperti itu. Ini sudah masuk waktu azan kah? Baik, silakan azan dulu.
(51:20) Ikhwatal Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahuakbar. Eşhedü en la ilaheillallah. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar rasulullah. Ashadu anna muhammadar rasulullah. Hayya alas shah.
(52:34) Hayya alas shah. Hayya alal falah. Hayya alal falah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallah. Baik, kita lanjutkan.
(53:53) Kalau seandainya Syekh bertanya kepada dia dengan sebuah pertanyaan sebagai mukadimah pelajaran, antum pernah hafal atau antum pernah membaca beberapa ikhtiarat atau pilihan dan tarjih yang disampaikan oleh beberapa ulama begini misalkan atau kalian pernah mendengar ada syiir yang seperti ini, maka jangan langsung ngomong, “Oh, iya, Syekh Ana sudah hafal kayak gitu.” Itu enggak pantes.
(54:24) Karena menunjukkan dia seperti tidak butuh lagi dengan ilmu yang akan disampaikan Syekh. Kalau Syekh kemudian mengatakan, “Ya sudah, kalau sudah hafal ngapain ana sampaikan lagi gitu.” Nah, maka seperti ini tidak tepat. Wa ee apa? Wala yaqul la. Tapi juga jangan ngomong saya tidak hafal karena berarti itu bohong. Dia sudah hafal, tapi kenapa dia mengatakan tidak? Lima fi minal kadib.
(54:48) Karena berarti nuansanya bohong. Bal yaquul uhibbu an astafidahu minasikh. Atau dia mengatakan yang bagus itu ana pengin mendengar dari antum. Saya pengin belajar dari antum sekarang. A asmaahu minhu atau ana pengin mendengar dari antum. A bauda ahdi. Ana pernah hafal tapi kayaknya sudah lupa karena sudah lama gitu.
(55:13) sudah lama gitu. A hua min jihatikum asah atau hafalan ana ini enggak ngerti gimana. Insyaallah kalau antum yang sampaikan lebih sempurna karena memang realitanya banyak orang menghafal apalagi kalau dia hafalnya otodidak. Sering salah baca sendiri. Ketika disampaikan memang kelihatan oh ini ana sudah tahu tapi ternyata salah.
(55:44) baik hafalannya apalagi pemahamannya. Maka dalam metode menghafal Al-Qur’an dulu para ulama bilang harus punya guru. Jangan atau tidak menghafal Al-Qur’an itu. Karena orang tidak nyadar ketika dia salah dalam menghafal harakat panjang pendek. Nah, ini sering sekali. Sering sekali. Jangankan yang tidak punya guru, punya guru saja kadang-kadang kelewat panjang pendeknya bacanya. Loh, kok kayak gini bacanya gitu. Dan itu kelewat seperti itu. Bahkan huruf saja bisa salah.
(56:15) Ganonimtum, gonintum, ahwan. Kan beda artinya. Tapi orang ketika menghafal dan tidak punya guru kayak begitu sering. Ah maka murid itu ketika ditanya guru dan dia mengatakan hua min jihatikum asah. Kayaknya antum kalau sampaikan hafalan antum itu lebih tepat. Begitu. Kalau dia tahu bahwa syekhnya memang menghendaki itu, karena syekhnya mungkin pengin ngetes atau pengin nunjukkan ini murid saya sudah ngerti atau karena memang Syekh memang pengin memprioritaskan muridnya dulu tahu apa enggak. Sehingga kalau kadang-kadang guru itu ingin mengecek murid-murid saya ini nol putul istilahnya itu betul-betul
(57:25) nge-blank enggak ngerti sama sekali atau sudah pernah belajar cuman mungkin perlu peningkatan dimantapkan. Nah, seperti ini sering guru bertanya dulu. Nah, maka kalau ada memang seperti itu tidak apa-apa. Murid memang menyampaikan, “Iya saya sudah hafal cuman hafalannya mungkin kurang.” Sampaikan ini begini begini begini.
(57:49) Tidak ada masalah seperti itu. Karena justru yang seperti ini ingin menyepakati harapan Syekh seperti itu. Kemudian wala yambagi lolbi yukarri suala ma ya wifhama ma yafham fnahu yuduz zaman warubama adjarikh. Tidak pantas seorang murid yang sudah paham mengulangi pertanyaan. Sudah pernah ngerti? Diulangi lagi pertanyaannya.
(58:25) Karena itu akan menghilangkan waktu, menyia-nyiakan masa. Waktunya dia, waktunya Syekh juga sama-sama di hilangkan. Dan barangkali guru ini marah karena hukum asalnya guru ketika menyampaikan capek kok. Ternyata muridnya bilang, “Afwan, coba diulang Syekh gitu.” Tidak apa-apa. Kalau memang orang belum paham, nanti akan disampaikan. Kalau memang dia membutuhkan itu, enggak ada masalah.
(58:52) Akan tetapi kadang ada orang dia sudah paham tapi pengin ngulangi. Ini kan namanya menghabiskan waktu atau dia tidak perhatian. Ya, ini dikatakan qala zuhriu rahimahullah. Ini seorang ahli hadis Ibnu Syihab Azzuhri. Iadatul hadisi asyaddu min naql sakr. Mengulangi hadis atau ini bisa dimaksudkan hadis atau pembicaraan menyampaikan penjelasan tapi harus diulangi dengan cara yang sama.
(59:23) Lebih berat daripada memindahkan batu. Ya. Apalagi kita kalau misalkan ngajar dua kelas, ngajar dua kelas materinya sama. Enaknya itu enggak usah persiapan. Tapi pas nyampaikan bosan. Ini tadi yang disampaikan disampaikan lagi. Apalagi kalau orangnya sama ini orangnya sudah pernah dengar tapi enggak paham-paham misalkan atau dia sudah paham tapi kita nyampaikan lagi. Ini juga membosankan.
(59:53) Nah, maka sampai dikatakan dia lebih berat dari memindahkan batu. Wambaghi an la yuqasir fil isi wat tafahum. Hendaklah seorang murid tidak terlalu meremehkan dalam urusan mendengarkan atau fokus dengan penjelasan guru. Ya. A yasguhnahu bifikrin au hadis tumma yastaidik ma q atau dia sendiri yang menyibukkan diri dengan membayangkan ngelamun.
(1:00:28) Jadi ketika guru sedang menjelaskan, dia malah mikir yang lain-lain. Nanti enaknya saya makan siangnya ke mana? Nanti acara ini terus gimana? Pulangnya pakai apa? Ya. Kemudian setelah itu dia bilang, “Syekh Afwan, ulangi dong. Loh, tadi ngapain aja?” Dan subhanallah model kayak begini nih banyak ya. Lagi dijelaskan tahu-tahu senyum sendiri ini ngapain ya? Ini pelajaran senyum sendiri.
(1:00:55) Subhanallah. Ada dua model orang kayak begini. Yang satu senyumnya itu dia santun. Santun gitu. Jadi maksudnya dia enggak sedang ngapa-ngapain. Dia diam aja begini. Yang lihat gurung ngomong itu dia lihatin. Tapi setelah itu senyum sendiri. Ini kayaknya kebayang sesuatu. Kebayang sesuatu dan tatapan kadang-kadang kosong.
(1:01:20) Ngantuk atau dia sudah kecapekan ngelamun dia sret kayak gitu. Tapi matanya tetap ke situ. Cuman pikirannya tidak seperti itu. Nah, ini ternyata Ibnu Jamaah sudah ngerti ada model begitu. Maka enggak pantas ada orang ketika guru menjelaskan dia mikir apa nanti bilang sama Syekh, Afan Syekh tadi gimana? Loh, gitu. Kemudian dikatakan liannaalika isaatu adab yang seperti itu tidak beradab sama sekali.
(1:01:51) Bal yakunu musan likalamihi hadirni lima yasmau min awali marrah. Hendaklah seorang murid itu betul-betul mendengarkan al-isgha atau al-insat itu artinya mendengar plus memperhatikan. Bukan sekedar ijtima. Ijtima itu mendengar. Tapi kalau sampai insot itu artinya seorang mendengar plus konsentrasi. Jadi otaknya ikut jadi mendengar tapi juga sambil berusaha untuk memahami dari sejak yang dia dengarkan pertama.
(1:02:26) Baulahuatan lahu. Sebagian guru tidak mau kalau diminta afan syekh diulang enggak mau. Bahkan kadang-kadang marah untuk memarahi muridnya karena kok enggak dengar kenapa begitu. Waidza lam yasma kalamikdihi. Kalau seandainya memang dia tidak mendengar suara Syekh karena jauh.
(1:02:58) Dan ini kalau dulu memang pengajian sebesar apapun ya tidak ada mikrofon ya. Seadanya sudah. Yang datang duluan itu yang dapat tempat depan yang terlambat ya sudah di belakang sana sudah. Dan subhanallah mereka rebutan untuk hadir semakin dekat dengan Syekh itu menjadi gaya para tullabul ilm sejak dulu. Sampai sekarang pun demikian.
(1:03:23) Syekh Abdul Muhsin Abbad hafidahullah ketika beliau masih ngajar sebelum beliau mulai itu murid-murid sudah duluan itu sampai ana lihat murid-murid itu habis salat magrib langsung gruduk gruduk ke situ pengin dekat dengan Syekh sampai tidak jarang mereka meletakkan kayak tempat mushaf gitu. Jadi sebelum magrib di sekitar kursi syekh itu sudah banyak yang tempat-tempat mushaf begini.
(1:03:48) Nah, sampai berkali-kali ditanya, “Syekh, tolong murid-murid antum itu ditegur. Ini tempat-tempat mushaf ini dipakai untuk meletakkan buku dan sekaligus boking tempat. Sehingga ketika salat magrib orang mau jemah susah, ribut begitu. Nanti kalau dihilangkan ngamuk gitu.” Nah, jadi memang ketika dia duduk jauh dari Syekh mungkin tidak mendengar.
(1:04:12) Kalau zaman sekarang mau yang di depan sendiri, mau yang sambil tiduran di pojokan sana yang dulu waktu daurah untuk tempat makan itu ya tetap sama dia bisa mendengar itu bisa mendengar tapi maksudnya memang berbeda tempat yang dekat dengan yang jauh. Kalau seandainya dia memang jauh dan tidak mendengar, aam yafhamhu maal isaihi wal iqbali alai atau dia berusaha untuk paham tapi memang tidak paham.
(1:04:36) Syekh sudah menjelaskan dia sudah konsentrasi begini tapi ternyata enggak paham lagi. Falahu yasalik iadatahu ahimahu ba’da bayani uzrihi bisualin latif. Maka bolehlah dia meminta agar diulang. Dia minta diulang tapi dengan kata-kata yang lembut plus disebabkan alasannya. Disebutkan alasannya, “Afan Syekh, ana kok belum paham gitu atau afan syekh, pemahaman ana masih dangkal.
(1:05:04) Mohon antum sabar boleh atau tidak kalau diulangi?” Itu guru itu ketika dia sampaikan seperti itu ngulanginya rida karena ini muridnya menyadari begitu. Dan subhanallah yang disampaikan oleh Syekh Saleh Utsaimi sekarang zaman kita zaman teknologi. Orang barangkali mengatakan udah enggak usah minta diulang sudah gampang kan ada rekamannya.
(1:05:32) Nanti tinggal rekaman ini mau diulang-ulang sampai 100 kali enggak ngamuk gitu ya. Tetapi memang beda meskipun di rekaman kita bisa, tetapi tadi kita sebutkan ilmu ini bukan hanya sekedar memindah maklumat tetapi ada keberkahannya. ya, ada doanya malaikat, kemudian ada ibadahnya di situ ya. Sehingga dulu para ulama sampai mengatakan ini seperti yang di sampaikan oleh ee Umar bin Abdul Aziz.
(1:06:06) Beliau bilang kepada salah satu ulama Madinah namanya Abu Bakar ibn Ibnu Hazm. Beliau bilang, “Coba kalian lihat hadis-hadis, kumpulkan, sampaikan ke masyarakat. Hendaklah mereka duduk di masjid. Wal yufsyul ilm. Agar ilmu ini bisa diajarkan disebarkan di masjid. Yang tidak tahu biar tahu. Begitu. Dan berbeda antara orang yang melihat pengajian hanya dari rekaman atau YouTube ya online segala macam.
(1:06:35) Termasuk tidak sama orang yang menyampaikan ilmu di masjid dengan orang yang menyampaikan ilmu di balik layar, di balik kamera. Enggak ngerti dia. Dia ini interaksi dengan siapa? Dengan orang masak, orang tidur, orang ngobrol atau sama orang yang betul-betul mau mendengarkan.
(1:06:58) Kita dulu waktu ngajar zaman corona, kana ya kana itu dulu ya kita lagi belajar ngajar-ngajar capek-capek persiapan 2 jam seteng kita ngajar tahu-tahu mikrofon sebagian mahasiswa itu kebuka. Eh itu sudah hijau ya. Salam di Lampung Merah. Dia Lampung Merah ya. Kita ini lagi syarah-syarah begini ternyata dia seperti itu. Nah, bagaimana akan sama keberkahannya? Ya, belajar seperti itu.
(1:07:22) Maka dulu di antara contohnya Imam Nafi’ maula Abdullah bin Umar pernah beliau duduk di masjid habis subuh. Ternyata tidak ada yang hadir kecuali satu orang. Imam Malik. Dan ternyata ilmunya nafi’. Karena para ulama ahli hadis membandingkan yang bisa menyerap ilmunya Abdullah bin Umar ini siapa? Antara anaknya Salim atau Nafi’ mantan budaknya.
(1:07:55) Karena dua-duanya adalah orang yang betul-betul dekat mulazamah kepada Abdullah bin Umar. Tapi ada yang mengatakan Nafi’ lebih hebat padahal mantan budaknya. Dan ketika Nafi’ ini ngajar di masjid, ternyata sempat pernah punya murid satu orang Malik, Imam Malik bin Anas. Dan ternyata Allah jadikan keberkahan itu ilmunya Imam Nafi’ ke mana-mana melalui perantara murid ini yang satu.
(1:08:26) Orang tidak mesti menilai yang hadir banyak viral terekam sampai subscribe-nya berapa itu orang zaman sekarang kalau perlu beli subscriber ya biar kelihatan angkanya sedikit yang belakang K gitu ya kayak banyak banget tidak di dinilai dari seperti itu. Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah hadir di majelis Syekh Muhammad Nasir Sa’di rahimahumullahu jamian. Sendirian.
(1:08:51) Tadinya yang hadir banyak mengerucut sedikit sedikit sedikit sedikit sampai tidak tersisa kecuali anak aja kata Syekh Utsimin. Dan ternyata Allah memberikan keberkahan ilmu itu. Syekh Muhammad Nasir Sa’di wafat. Dilanjutkan Syekh Utsimin. Dan pengajian itu semakin besar, semakin besar, semakin besar.
(1:09:09) Tadinya di maktabah atau perpustakaan enggak cukup akhirnya di masjid. Enggak cukup akhirnya masjid diperluas. Dan sampai sekarang murid-murid beliau ngajar di kampus-kampus, pengajian di masjid-masjid, di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri. Kita enggak ngerti keberkahan ilmu di mana. Dan memang belajar itu tidak hanya menukil maklumat.
(1:09:33) Orang mungkin hafalannya kuat, tetapi tidak ada jaminan dari hafalan itu dia paling bagus ilmunya. Maka Syekh mengatakan, “Wa aswau min.” Ini Syekh Saleh Utsaimi. Beliau wa aswa minza. Yang lebih jelek dari ini, kebiasaan sebagian orang di majelis bahkan di kelas sibuk dengan HP-nya. Ketika dia sedang bertanya dengan Syekh, dia sibuk dengan HP. Ketika Syekh sudah ngajar, dia sibuk dengan HP.
(1:09:57) Apalagi lagi di majelis ngobrol dengan Syekh yang di yang di HP ini. Iya. Ana lagi di pengajian ini. Apa kayak gini? Gak sopan sama sekali. Kemarin kita sudah baca bagaimana Ibnu Jamaah rahimahullah mengatakan, “Jangan begitu, selonjor kaki aja tidak sopan, sandaran saja tidak sopan, bahkan ngajak ngobrol kanan kiri tidak sopan.
(1:10:21) Ini ngobrol, oh iya ramai lagi.” Habis itu dia keluar. Nah, ini merupakan penampilan yang tidak beradab. Bahkan Syekh Salh Usimi hafidahullah beliau di beberapa majelis umum eh belajar majelis khususnya beliau kadang ada orang duduk agak ke belakang gitu.
(1:10:42) Beliau tanya, “Antum mau ikut pengajian apa cuman pengin dengar-dengar aja? Kalau mau pengajian ada belajar itu agak maju gini.” Dan orang duduk itu haitsu yantahi ilaihil majelis. Majelis itu sampai mana? Dia duduk di situ bukan di belakang sambil tiduran itu. Oh, hadis ini dengar ana gitu ya. Nanti alhamdulillah kita bukan di asrur riwayah ya. Kita bukan di waktu orang haddasana wa akhbarana. Nanti khawatirnya yang di pojok sambil tiduran itu juga bilang haddasana haddasana.
(1:11:13) Padahal dia dengarnya sambil tiduran. Ya, tapi ala kullial mudah-mudahan ilmu kita bermanfaat dan kita bisa istiqamah seperti ini. Wallahuam bisawab. Ini dapat kita pelajari. Semoga bermanfaat kurang lebihnya mohon maaf. Fasallallahu wasallam wabarak ala abdihi wa rasulihi nabina Muhammad wa alihi wasahbihi ajmain.
(1:11:33) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik walhamdulillahiabbil alamin. Roja TV Islam rahimaniallahu wyakum telah kita simak bersama kajian ilmiah yang bermanfaat bersama asatidah kita. Semoga yang singkat ini dapat menambahkan ilmu dan berfaedah untuk kita semuanya. kami yang bertugas mengucapkan
Leave a Reply