Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(81) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid – YouTube

Transcript:
(00:01) Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah waa alihi wasohbihi wa mawala. Saudaraku seiman dan seakidah sahabat RJA di manaun Anda berada.
(00:50) Masih bersama dengan kami di saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Dan di kesempatan sore Jumat ini, insyaallah kita hadirkan kembali kajian ilmiah yang kami pancarluaskan dari Masjid Agung Al-Ukhwah Kota Bandung, Jawa Barat bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Saudaraku seiman dan seakidah, Anda dapat menyimak kajian ini kurang lebih 90 menit ke depan dan Anda dapat berpartisipasi dengan mengirimkan pertanyaan Anda melalui pesan WhatsApp atau melalui l telepon di nomor 0218236543.
(01:26) Insyaallah setelah nasihat dari ustaz, kita akan coba angkat pertanyaan-pertanyaan Anda. Baiklah saudaraku seiman dan seakidah untuk selanjutnya kita akan simak nasihat dari Al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Kepada Ustaz Fatafadol maskur. Bismillahirrahmanirrahim.
(01:53) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda warinil haqq liudhirahu aladdini kullih wa kafa billahi syahida wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah iqroran bihi wa tauhida wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh sallallahu alaihi ma hadirin jemaah Masjid Agung Al-Ukhwah Bandung, juga para pendengar Radio Tarbiyah Sunah Bandung, pendengar radio Raj di beberapa kota dan radio-radio lain yang ikut gabung, pemirsa RJ TV dan TV-TV lain serta para netizen Kita kembali berjumpa melanjutkan kajian kitab Alqul Farid Fawaid Ala Kitab
(03:03) Tauhid. Pertemuan yang lalu kita sudah membahas syarat lailahaillallah yang tujuh. Ayat selanjutnya yang dibahas oleh mualif adalah An-Nisa 36. Allah berfirman, “Wa’budullaha wala tusyriku bihi saia.” Beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan dia dengan sesuatu pun. Ini ayat tentang tauhid.
(03:43) Mentauhidkan Allah dalam hal ibadah. Dari ayat ini ada beberapa faedah atau pelajaran yang sangat berharga. Pertama, kalimat wa’budullaha lalu diikuti dengan wala tusyiku bihi saia. Ini melahirkan satu kaidah di dalam syariat. Kalimat pertama, wa’burullaha perintah. Beribahlah kalian kepada Allah. Kalimat kedua, larangan.
(04:31) La tusyriku bihi syai. Antara perintah dengan larangan di sini dua hal yang bertolak belakang. Apa yang diperintahkan lawan dari apa yang dilarang. Perintahnya ibadah kepada Allah. Tauhidkan Allah dalam hal ibadah. Larangannya jangan musyrik. Tauhid dengan syirik adalah lawan. Lahir kaidah innal amro bisyai nahyun dididdih.
(05:10) Perintah untuk melakukan sesuatu berarti larangan dari hal yang sebaliknya. Perintah tauhid berarti larangan syirik. Dan kaidah itu lahir dari salah satunya adalah ayat ini. Kaidahnya menyatakan innal amro bisyai nahyun dididdih. Perintah untuk melakukan sesuatu berarti larangan untuk yang sebaliknya.
(05:53) seperti perintah berbuat baik kepada orang tua. Di dalamnya terkandung larangan menyakiti orang tua. Perintah untuk berkeluarkan zakat, infak, sodqah berarti larangan pelit. Perintah untuk memuliakan tamu, memuliakan tetangga. berarti larangan untuk berbuat kasar atau menghinakan mereka dan seterusnya. Begitu.
(06:34) Inilah faedah yang pertama dari ayat ini. Kedua, anal ibadatal makmuro biha fin nusus asyari tatadamanu al ikhlas lillahi azza wa jalla. Pelajaran kedua, ibadah yang diperintahkan di dalam nas-nas syariat sudah mencakup wajibnya ikhlas di dalam seluruh ibadah tadi. Ikhlas itu murni untuk Allah dari dua aspek.
(07:16) Aspek pertama ibadahnya itu sendiri ditujukan kepada Allah. tidak boleh kepada sesama makhluk. Kedua, niat ibadah kepada Allah juga harus ditujukan untuk meraih apa yang ada di sisi Allah. Keridaannya, pahalanya, rahmatnya, ampunannya, mahabbahnya, dan seterusnya. Jadi murnikan ibadah kita dari dua aspek tadi.
(07:52) Sebab ada kalanya ibadahnya ditujukan kepada Allah tapi niatnya ingin dipuji orang. Ada yang begitu? Banyak. Ini termasuk syirik. Mendakan Allah dalam hal niat walaupun syirik kecil. Kalau syirik besar ibadahnya ditujukan kepada selain Allah. Itu ibadah. Ah itu syirik besar. Tapi kalau syirik kecil, ibadahnya ditujukan kepada Allah. Niatnya dibagi dua, untuk Allah dan untuk manusia.
(08:23) Jadi perintah wa’budullaha wala tusriku bihi saai itu mengandung makna seluruh ibadah wajib ikhlas. Kenapa? Karena Allah menyebut la tusyriku bihi saia. Jangan kalian sekutukan Allah syaian dengan sesuatu. Syaian disebut nakirah dalam konteks nafi. Nakirah itu umum sesuatu. Apa sesuatu itu umumnya sesuatu bisa makhluk hidup.
(09:06) bisa benda mati dalam konteks nafi. Nafi itu kalimat negatif. Kalimat negatif itu mengandung kata-kata tidak atau jangan. Nah, wala tusyiku bihi saia. Ini kalimat negatif. Jangan kalian menyekutukan Allah syaian dengan sesuatu. Nah, annaqirah fiqin nahi tufidul umum. Kata yang nakirah, nakirah itu yang umum dalam konteks kalimat nafi itu memberi makna umum.
(09:57) Maknanya jangan kalian sekutukan Allah dengan sesuatu pun. Baik sesuatu itu malaikat, para nabi, para rasul atau makhluk-makhluk suci yang mulia atau dengan benda mati, pohon, patung, batu, atau ruh-ruh orang yang sudah mati. Enggak boleh Allah disekutukan dalam hal ibadah dengan sesuatu pun. Sehebat apapun makhluk tersebut, baik dari segi ukuran besar matahari, enggak boleh matahari diibadati atau ada planet yang lebih besar dari matahari, enggak boleh itu disembah.
(10:48) Ataupun malaikat yang ukurannya besar banget, suci, mulia, enggak pernah dosa, enggak boleh juga disembah. ini diambil dari la tusyriku bihi syai termasuk dalam hal niat ibadah kepada Allah harus fokus ditujukan meraih apa yang ada di sisi Allah. Inilah pelajaran atau faedah kedua. Faidah ketiga, ann syirka hua jaus saaiin minal ibadah lighhairillah.
(11:26) Pelajaran ketiga dari ayat ini kita tahu bahwa definisi syirik adalah menjadikan salah satu jenis ibadah ditujukan kepada selain Allah. Rukuk sujud dengan niat ibadah tapi kepada selain Allah enggak boleh. Bagaimana kalau sujudnya itu bukan dengan niat ibadah, tapi menghormat zaman baheula betul boleh.
(12:07) Malaikat disuruh sujud kepada Adam dan sujud. Yang enggak sujud, iblis durhaka. Bukan kepada Adam durhakanya, tapi kepada Allah. Dan itu dengan niat menghormat Nabi Yusuf. sujud ke ayahnya Nabi Yaakub. Saudara-saudara Yusuf sujud kepada Nabi Yusuf. Saat itu boleh syariat di zaman itu. Tapi begitu di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam enggak boleh.
(12:40) Enggak boleh umpama kita membolehkan sujud dengan untuk menghormat dengan dalil malaikat disuruh sujud ke Adam. Nabi Yusuf sujud. Itu mah syariat zaman baheula. Di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah dirubah. Enggak boleh. Nabi menyatakan dalam hadis sahih riwayat Imam Abu Daud.
(13:08) Lau kuntu amiron ahadan liyasjuda liahadin laartul marata litasjudhamiqi alaiha. Seandainya aku berhak boleh menyuruh seseorang untuk sujud ke orang lain, sujudnya menghormat, niscaya aku perintahkan para wanita untuk sujud ke suami-suaminya. Saking besarnya hak suami atas istrinya kalau boleh.
(13:44) Tapi karena enggak boleh, beliau tidak menyuruh ke para istri sujud ke suami untuk menghormat. Enggak. Karena terlarangnya sujud walaupun dalam rangka menghormatnya. Boleh seorang istri sujud ke suami walaupun dalam rangka menghormat. Seorang anak sujud ke orang tua walaupun dalam rangka menghormat. Seorang murid sujud ke gurunya walaupun dalam rangka menghormat.
(14:12) Siapa orang yang sujud sesama makhluk dengan niat ibadah, dia musyrik. Siapa yang sujud kepada makhluk dengan niat menghormat, dia maksiat tapi tidak dianggap musyrik. Ada enggak sujud atau rukuk ke sesama makhluk yang dibolehkan? Ada. Bukan dengan niat ibadah, bukan dengan niat menghormat, tapi karena ada keperluan. Kok bisa ada keperluan? Bisa.
(14:48) Contohnya kita duduk di atas kursi, ada benda pulpen, koin jatuh ke kolong kursi. Kita nyuruh anak kita ambilin. Anak kita ngambil sampai posisinya seperti sujud ya. Kadang ngadapang. Ngadapang tuh apa? Diarab dari sujud itu kita ada di atasnya. Apakah anak kita itu niatnya untuk beribadah kepada kita? Bukan. Menghormat kita? Bukan. Untuk apa tuh? ngambil koin, ngambil ballpin.
(15:22) Ada ada hajah, ada keperluan. Seorang sahabat kepala suku bangsa Ansar namanya Mughirah bin Sy’bah radhiallahu anhu. Ketika beliau sudah masuk Islam, hormatnya kepada Nabi luar biasa. Ketika Mughirah melihat Nabi berwudu pakai sepatu. Maka pas Nabi sallallahu alaihi wasallam giliran mencuci sepatu, Mughirah membungkuk di hadapan Nabi.
(15:59) Bungkuknya lebih dari ruku. Untuk apa? Mau membukakan sepatu Nabi sallallahu alaihi wasallam. Apakah bungkuknya Mughirah kepada Nabi itu beribadah kepada Nabi? Bukan. Menghormati dengan cara bungkuk? Bukan. Untuk apa? Karena ada keperluan yaitu membukakan sepatu oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dikatakan daau dauhuma fainni adkhaluhuma thhiratain.
(16:35) Biarkan jangan dibuka karena aku memasukkan kedua sepatuku ini memakai dua sepatu dalam keadaan suci. Lalu beliau mengusap bagian atas dari sepatunya. Beliau melarang itu enggak perlu dibuka, bukan melarang membungkuknya. Nah, Mughirah membungkuk itu karena ada keperluan. Kalau ada keperluan boleh.
(17:02) Umpamanya orang tua kita sudah sepuh, duduk di bawah, kita datang mau menyalami beliau, mau memeluk beliau. Enggak mungkin orang tua disuruh, “Ayo berdiri, saya enggak mau musyrik.” Enggak mungkin begitu. Boleh kita membungkuk peluk atau mencium tangannya. Membungkuknya bukan hormat, bukan juga menyembah, tapi karena ada keperluan. Anak kecil pakai sepatu, ternyata lepas talinya. Ibunya mau menalikkan tali sepatunya.
(17:39) Apa yang terjadi? Ibunya bungkuk di hadapan anaknya. Bungkuknya lebih dari ruku. Apa niatnya? Menyembah sang anak. Bukan. Menghormati sang anak? Bukan. Tapi ada keperluan. Kalau ada keperluan seperti itu boleh. Tidak dipukul rata semua sujud rukuk. Haram. Enggak. Kalau ada keperluan untuk tadi boleh.
(18:10) yang enggak boleh untuk menghormat dengan cara ruku dan sujud maksiat walaupun tidak musyrik. Kalau niatnya menyembah ya itu adalah musyrik. Jadi syirik adalah menjadikan menunjukkan amalan ibadah kepada selain Allah. apapun bentuk ibadah itu rukuk, sujud, menyembelih. Menyembelih itu ibadah. Qul innas shati wausuki wahyaya waamati lillahi rabbil alamin la syarikalah.
(18:50) Katakan olehmu sesungguhnya salatku wusuki sesembelihanku hidup matiku untuk Allah. itu ibadah menyembelih itu. Fasolli lirabbika wanhar. Salatlah kamu karena Allah dan menyembelihlah juga karena Allah. Berdoa adda wal ibadah. Doa itu ibadah. Maka tunjukkan doa kepada Allah karena itu ibadah.
(19:21) Ketika orang berdoa kepada selain Allah berarti ibadah kepada selain Allah. Jadi syirik artinya menunjukkan amal ibadah kepada selain Allahu azza wa jalla. Ada sebagian ulama yang mentakrif atau mendefinisikan syirik dengan musawatu ghairillahi billah fima hua min khasoisillah. Makna syirik yang kedua ini oleh sebagian ulama menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus bagi Allah.
(20:06) Disamakan Allah dengan makhluk atau disamakan makhluk dengan Allah maka itu tidak boleh. Dan itu termasuk syirik. Kalau umpamanya Allah mendengar, makhluk juga mendengar. Lalu ada orang berkata sama mendengar itu enggak boleh. Syirik dalam bidang rububiyah. Betul mendengar, kita mendengar, tapi hakikat dan kaifiat mendengarnya jauh berbeda. Laisa kamlihi saaiun.
(20:38) Jangan karena Allah dengan makhluk, makhluk dengan makhluk cara mendengarnya berbeda. Allah mengetahui, kita mengetahui cara dan hakikat kualitas mengetahuinya beda. Kita aja dengan semut beda. Cara mengetahui gula. Kalau kita mau mengetahui gula, gimana caranya? Dilihat, dicoba manis. tuh gula. Sebab kalau hanya bentuk kan banyak yang mirip gula.
(21:12) Soda api itu milik gula. Mirip gula pecin mirip gula. Rasanya beda. Cara kita mengetahui adanya gula dengan dilihat dan dicoba. Oh, ini gula nih manis. Gimana caranya semut mengetahui adanya gula? Gula tumpahin, kopi yang manis tumpahin, semutnya enggak ada. Enggak berapa lama tiba-tiba pring semut menyerbu gula yang tumpah itu.
(21:49) Gimana caranya semua tahu ada gula di sana? Sama dengan kita enggak? Gimana caranya? Wallahualam. Kita enggak tahu apa lihat ada seorang lihat lalu memanggil kita enggak tahu apakah semut punya mata apa tidak ya saya enggak memperhatikan tuh mungkin dia mengetahui dengan anten kan punya antena di kepalanya ya mungkin pakai antena si gula itu mengirimkan sinyal halo di sini ada aku gitu ketangkap lalu apakah begitu wallahualam yang jelas Cara manusia dengan semut dalam hal mengetahui gula jauh beda itu makhluk dengan makhluk loh.
(22:34) Cara mendengar kita dengan binatang beda. Cara melihat kita dengan binatang beda. Satu binatang dengan binatang lain beda. Itu makhluk dengan makhluk apalagi makhluk dengan khaliq. Laaisa kamlihi syaiun. Itulah pelajaran yang ketiga tentang makna syirik. Keempat anna quahu taala wala tusriku bihiatun nahyi wahyu kama hiya alqidah fil usul faquu w tus yufiduahuus maallahi fiin minal ahwal falairatin wahidah muamin zaman akqrar kalimat la tusriku bihi saai ini bentuk
(23:43) kalimat nahy nahi itu larangan bentuk kalimat yang isinya melarang dalam kaidah ushul ushul fikih bahwa sighatun nah yaqtaditrar. Bentuk kalimat larangan mengandung makna permanen. Permanen itu artinya larangan itu berlaku selama-lamanya sampai kiamat. Maka ayat ini mengandung makna Allah tidak boleh disekutukan dalam keadaan bagaimanapun dengan cara bagaimanapun oleh siapapun.
(24:34) Tidak hanya berlaku di satu keadaan, tapi dalam keadaan lain tidak berlaku. Oleh seseorang tapi orang lain enggak enggak berlaku. Di satu tempat tapi tempat lain enggak berlaku. Enggak begitu. di mana pun, kapanp, oleh siapapun, dalam keadaan bagaimanapun, bagaimanapun caranya, semua perbuatan syirik terlarang secara permanen. Maka enggak boleh sekali-kali, enggak apa-apalah syirik sekali saja, enggak.
(25:07) Enggak boleh. Itulah pelajaran yang keempat. Pelajaran kelima. Anal ubudiyata min aomi arkaniha mahabbatullahi azza wa jalla walid q waurullah fallallahu hualmud maal mahabbah watim falabuda an takuna hadil ibadah mutadamminatan hubballahi azza wa jalla maa tadammaini ruknainil akharini ini wahuma arraja wal khauf.
(25:54) Ayat ini pun menjelaskan rukun ibadah yang paling agung adalah mahabbah. Di dalam setiap ibadah wajib ada mahabbah. Mahabbah itu apa? Cinta kepada Allah. Setiap ibadah wajib disertai dengan rasa cinta kepada yang diibadati. Dari mana ini diambil? Dari lafaz Allah. Wab’burullaha. Sebab makna Allah berasal dari kata alilahu. Itu penjelasan Imam al-Kisai, seorang ahli nahwu.
(26:33) Dikutip oleh para ulama termasuk Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan Allah qala alqisai. Telah berkata Imam al-Qisai, Allahu asluhu alilahu. Allah itu lafaz asalnya dari kata alilahu. Hudzifatil hamjah wa udgimul lam. Lalu huruf hamzah pada alilahu i-nya hamzah dikasrh. Alilahu dibuang diganti dengan lam.
(27:12) Coba bayangkan alilahu i-nya dibuang diganti dengan lam. Jadi ada tiga lam. Alif lam lam lam kemudian ha. Dua lam di antara disatukan dengan tasdid dengan syiddah. Jadilah lafaz Allah. Allah itu selalu pakai alif lam. Enggak bisa tidak. Makanya laf Allah adalah lafaz yang paling makrifat. Paling makrifat, paling tertentu.
(27:50) Kalau Allah sesembahan yang itu tuh enggak ada yang lain. Allah berasal dari kata alilah. Sedangkan makna alilah adalah alma’budu hubban wa takiman. Makna ilah adalah sesuatu yang diibadati karena mencintai dan mengagungkan yang diibadati tersebut. Maka dalam lafaz Allah wajib terkandung pertama ada mahabbah, rasa cinta kepada Allah. Yang kedua ada pengagungan kepada Allahu azza wa jalla.
(28:32) Ini rukun dari ibadah. Wajib ada rasa cinta. Apa efeknya kalau ibadah disertai dengan rasa cinta? Efeknya pertama dia senang melakukan ibadah itu. Kedua enjoy menikmati karena beribadah kepada yang dicintai. Melaksanakan perintah yang dicintai. Maka kita akan melakukannya dengan semaksimal yang kita bisa disertai dengan perasaan senang dan betah.
(29:14) Ini yang kurang terhayati oleh umumnya kaum muslimin. Banyak di antara mereka ibadah dilakukan tapi ada rasa malas ingin segera selesai. Kalau sedikit lama menggerutu gitu kan. Kalau imam salat membaca surat yang apanya deh lama-lama amat panjang amat ingin segera selesai karena mahabbahnya kepada Allah yang dia cintai tidak ada. Ya, coba bayangkan kalau ada orang yang kita suka, yang kita cintai, kita ingin ketemu, melihat dari jauh aja senang, apalagi bertemu, dialog, ngobrol seharian betatunya. Ada yang mengalami begitu enggak? Iya.
(29:59) Coba penganten baru tapi dengan syarat saling mencintai. Ah, enggak mau pisah atuh. Sedikit ump keluar kamar untuk ke WC, ke buru-buru selama Jumat. Padahal baru 2 menit tuh ingin segera ketemu lagi. Itu baru ke orang loh. Ada di sini yang sudah jadi kakek, punya cucu, cinta sayang. Iya.
(30:33) Kangen enggak? Kangen kalau ketemu. Uh, senang. Kalau cucunya masih bayi ingin digulang gaper, diciumi di pangku. Kalau cucunya sudah bisa jalan, sudah lari ingin main-main. Masuk magrib, cucunya pulang ke orang tuanya, kita ke ke rumah orang ke rumah kita ingin segera besok ingin ketemu lagi cucu kan gitu.
(30:59) Kangen itu ke orang loh. Seorang mukmin kepada Allah harus lebih dari itu. Ketika bertemu dengan Allah melalui salat, melalui zikir, melalui baca Quran, melalui doa pasti betah. Jadi karena lafaz Allah adalah mengandung makna mahabbah. Salah satu di antara rukun ibadah adalah wajibnya ada rasa cinta kepada Allah. Dan ada dua rukun lainnya selain mahabbah yaitu raja dan khauf.
(31:43) Raja itu berharap. Khauf itu takut. Dalam ibadah sertakan ketiga-tiganya. Ada cinta kepada Allah dan ini melahirkan perasaan betah ketika ibadah. Ada khauf. Khauf itu takut kepada Allah. takut azabnya, takut murkanya, takut dicuekin. Dan di dalam setiap cinta enggak ada cinta tanpa takut itu enggak ada. Jadi di balik cinta pasti takut.
(32:28) Suami dengan istri saling mencintai, ada takutnya. Takut pasangan kita enggak perhatian, takut pasangan kita kebincut orang lain, takut pasangan kita meninggalkan kita, takut pasangan kita marah murka ke kita, kan pasti ada kepada orang yang atau sesuatu yang dicintai, baik orang ataupun benda mati, pasti di dalam rasa cinta ada juga rasa takutnya, takut kehilangan.
(33:02) takut rusak dan seterusnya. Dan ada harap berharap cinta raja dan khauf. Rojanya bukan nama radio. Rajana berharap mengharapkan apapun yang ada di sisi Allah. Mengharapkan kecintaannya, mengharapkan pahalanya, keridaannya, rahmatnya, ampunannya, surganya dan seterusnya. takut terap azabnya, murkanya, laknatnya, dan seterusnya.
(33:37) Tiga ini harus disertakan dalam setiap ibadah kita. Karena tiga-tiganya menjadi rukun ibadah. Itu lima faedah yang bisa kita ambil dari ayat tadi. Lalu Ibnu Mas’ud radhiallahu anh mengaitkan surah An-Nisa 36 tadi dengan surah Al-An’am ayat 151. Allah menyatakan, “Qul taalau atlu ma harrombukum alaikum alla tusriku bihi saai wabil walidaini ihsana.
(34:17) Katakan olehmu hai Muhammad dalam surah Al-An’am 151 taalau mari ke orang-orang ahlul kitab Yahudi, Nasrani atau kepada Seven Mari. Aku bacakan kepada kalian apa yang telah diharamkan Allah kepada kalian. yaitu jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Sama dengan ayat tadi yang kita bahas. Dan kepada orang tua hendaklah berbuat baik.
(34:52) Kata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu. Hadil ayah mutaalliqah bil ayatis sabiqah. Ayat ini berkaitan dengan ayat yang tadi. Maka beliau berkata, Ibnu Mas’ud berkata, “Man arada ayanzuro ila wasiyati Muhammadin shallallahu alaihi wasallam allati hiya khatimuhu falyaqro quluhu taala qul taalu ma haramaukum alaikum all tusriku bih wabil walidaini ihsana sampai ke ayat waqiman [Musik] bihi laakum tattaquun.
(35:48) Siapa yang ingin melihat kepada wasiat Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka silakan baca Al-An’am mulai 151 sampai 154. Ini wasiat Nabi sallallahu alaihi wasallam atas perintah Allah. Dalam ayat ini, katakan olehmu hai Muhammad, mari aku bacakan kepada kalian apa yang diharamkan Allah atas kalian, yaitu jangan kalian menyekutukan Allah dengan suatuun.
(36:27) Dan kepada orang tua hendaklah kalian berbuat baik terus sampai di ayat 154-nya. Inilah wazaati mustaqiman. Inilah jalan hidupku yang lurus. Fattabiu. Ikuti jalan hidup ini. Jangan kalian ikuti jalan-jalan lain. Nanti kalian terpisah dari jalan Allah. Lalu di akhir ayat ini menyatakanikum wasokum bihi. Inilah wasiat Allah kepada kalian agar kalian ini bertakwa. Ini wasiat Rasul sallallahu alaihi wasallam atas perintah Allah.
(37:13) Makanya Ibnu Mas’ud menyatakan, “Siapa yang ingin melihat kepada wasiat Muhammad sallallahu alaihi wasallam, silakan baca ini. Ini isi wasiatnya. Salah satunya jangan berbuat syirik. Dari ayat ini ada beberapa faedah. Pertama, annas syirka hua a’domu ma nahallahu anhu. Ayat ini menunjukkan bahwa syirik larangan Allah yang paling besar. Sebab di sini dikatakan, “Aku bacakan kepada kalian apa yang Allah haramkan atas kalian, yaitu syirik.” Disebut nomor satu sebelum yang lain-lain.
(37:54) Berarti ini larangan paling besar, paling keras. Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Kedua, annat tahrima huna tahrimun tahrimu diniin wa syariin. Pengharaman di sini adalah pengharaman dini syari. Makna pengharaman dini ini, pengharaman ini berupa agama, berupa syariat. Ada dua jenis tahrim, dua jenis pengharaman.
(38:40) Ada pengharaman dini syar’i, ada pengharaman kauni qadari. Sama dengan ayat. Ada ayat syar’i atau ayat dini, ada ayat kauni atau qadari. Sama dengan qada. Sudah kita jelaskan waqbuka. Qada itu ketetapan. Ada qada ketetapan syar’i, ada ketetapan kauni atau qadari. Pengharaman juga begitu.
(39:22) Apa makna pengharaman syari dini? Maksudnya ini berupa syariat. Diharamkan manusia untuk melakukan ini, ini, ini. Apa yang dilarang? Haram. Enggak boleh. Dan apa yang Allah larang di dalam ayat itu pasti buruk dan dibenci oleh Allah. Makanya dilarang dan diancam azab orang yang melanggar larangan ini. Itu pertama pasti dibenci itu yang dilarang itu.
(39:53) Kedua, tahrim syar’i belum tentu terjadi. Bisa terjadi, bisa tidak. Contohnya apa? Ya contohnya Allah melarang kita musyrik. Apakah semua manusia bertauhid tidak ada yang musyrik? Banyak. Larangan Allah yang berupa syariat tidak terjadi. Buktinya apa? Yang dilarang itu banyak dilanggar. Nyari semua yang Allah larang dilanggar oleh kebanyakan manusia.
(40:31) Allah mengharamkan dusta, dilanggar kadang oleh kaum muslimin. Allah mengharamkan mabuk, judi, riba, zina. Maling. Apakah semua manusia taat? Tidak. Lebih banyak yang tidak taat. Lebih banyak yang melanggar daripada yang taat. Itu karena pengharaman di sini pengharaman syari. Semua ketetapan Allah, baik perintah atau larangan berupa syariat belum tentu terjadi.
(41:04) Allah umpama menyuruh beribadah. Ya ayyuhanas’buduakum. Hai manusia, beribadahlah kalian kepada Allah. Apakah semua manusia ibadah? Tidak. Banyak yang tidak lebih banyak yang tidak. Allah melarang wala tusriku bihi sai jangan kamu sekutukan Allah dengan suatuun. Apakah semua manusia taat? Semua manusia bertauhid? Tidak.
(41:32) Banyak yang syirik. Karena syariat belum tentu terealisir dalam kehidupan manusia. Ini tahrim yang pertama. Tahrim yang kedua, tahrim qadari kauni. Pengharaman yang berupa takdir atau ketetapan Allah ini mah pasti terjadi. Tidak mungkin tidak. Karena takdir apa yang Allah takdirkan pasti terjadi. Kullu masyaa kanana wam yasya lam yakun.
(42:15) Semua yang Allah kehendaki pasti terjadi. Apa yang tidak Allah kehendaki tidak mungkin terjadi. Maksudnya ini masyiah qadariah kauniah. Ini kehendak yang berupa takdir yang Allah terapkan di alam. Semua yang Allah kehendaki berupa takdir pasti terjadi. Masiah juga ada dua. Ada kehendak syari’i, ada kehendak kauni qadari.
(42:45) Kehendak syari adalah kehendak Allah yang berupa syariat. Ibadah, salat, jangan mabuk, jangan zina, jangan mencuri. Itu kehendak Allah yang berupa syariat. Kalau kehendak Allah berupa syariat belum tentu terjadi. Buktinya enggak semua orang ibadah, enggak semua orang taat, tunduk, patuh, gitu. Tapi kalau kehendak yang berupa takdir pasti terjadi, termasuk tahrim.
(43:14) Contohnya apa? Contohnya dalam surah Al-Qasas ayat 12 Allah menyatakan, “Wa haramna alaihil marad minqabl.” Kami haramkan atas Nabi Musa seluruh wanita yang menyusui. Allah menggunakan lafaz waharamna alaihi. Ketika Firaun menerapkan aturan karena ada ramalan bahwa ada nanti turunan Bani Israil.
(43:49) Bani Israil itu bangsa yang dijajah oleh bangsa Firaun. Nanti akan ada yang menggulingkan kekuasaan Firaun. Makanya untuk mengantisipasi semua bayi laki-laki bunuh. Kalau bayinya wanita biarkan. Ibunda Nabi Musa ngandung bojol laki-laki. Apa yang terjadi? Takut dibunuh. Akhirnya masukkan ke peti dihanyutkan ke sungai Nil. Allah yang ngatur. Sungai Nil itu mengalir ke istana si Firaun.
(44:28) Dipungut. Eh, ada bayi lucu. Tadinya mau dibunuh tapi di dilarang. Udah kita adopsi. Akhirnya karena ini baru borojol sehari itu langsung dihanyutkan. Kalau tidak dihanyutkan kan dibunuh. Ya, ketahuan oleh ponggawa si Firaun pasti dibunuh, dihanyutkan. Maka sebagai bayi lapar, dia butuh ASI. Maka dipanggil wanita-wanita yang sedang menyusui untuk disusui.
(45:09) Apa yang terjadi? Bayi ini enggak, Bu menyusu. Allah menyatakan, “Waharamna alaihil marad minqbl.” Kami haramkan. Makna kami haramkan kami cegah bayi ini untuk menyusuk kepada wanita-wanita yang menyusuinya. Nah, ini pengharaman qadari kauni berupa takdir, bukan berupa syariat. Dan realitanya terjadi. Nabi Musa tidak mau menyusuk kepada wanita lain.
(45:45) Datang kicrik-kicrik kicrik kakaknya yang dari tadi mengikutinya lalu diberitahu, “Mau enggak aku beritahukan kepada kalian wanita yang mau menyusuinya? Ditunjukkan ke ibunya baru mau nyusu tuh.” Akhirnya ibunya dipanggil tinggal di istana dengan aman menyusui bayinya sendiri. Dari dalam ayat ini Allah menyatakan haramna alaihil maradinqabl.
(46:18) Kami haramkan Musa untuk menyusu ke wanita lain. Pengharaman di sini bukan pengharaman syari tapi kauni qadari. Maknanya enggak mau Musa menyusu ke wanita lain. Contoh lain dalam surah Al-Anbiya ayat 95. Waharamun ala qaryatin akhlaknaha antum la annahum la yarjiun. Kami haramkan atas sebuah negeri yang sudah kami binasakan bahwa mereka itu akan kembali.
(46:51) Semua yang sudah Allah musnahkan musnah sudah. sehebat apapun. Wakam ahlakna qablahum minqarnin hum asyaddu minhum batsya fanaqabu fil bilas fahal mim mahis. Betapa banyak negeri-negeri yang lebih kuat, lebih hebat dari kalian sudah kami musnahkan. Tuh dulu kita mendengar ada kaum Ad, ada kaum Tsamud, kaum Tuba itu hebat.
(47:25) Mereka itu ukurannya apa? Fisiknya kuat-kuat, raksasa gitu. Memahat rumah dari batu-batu. Kita enggak akan mampu. Sekarang musnah enggak ada yang tersisa. Kata Allah, “Wa haramun ala qyatin akhlaknaha.” Kami haramkan atas suatu negeri yang sudah kami binasakan untuk kembali. dicegah oleh Allahu azza wa pengharaman ini pengharaman kauni qadari bukan syari dan memang sebuah negeri yang sudah musnah musnah sudah tidak kembali lagi sampai sekarang ya inilah faedah yang kedua faedah ketiga dari ayat tadi jawazu munadaratil kuffar waifi
(48:24) [Musik] Ikum wujatil maslahah walamir subhatanas bisutil munarh allatiakaroha ahlul ilmi. Ketiga, ayat ini membolehkan diskusi dengan orang-orang kafir atau kelompok ahli bidah. Diambil dari pernyataan Allah, katakan olehmu, “Wahai Muhammad, mari aku bacakan kepada kalian.
(49:08) ” ada dialog, membuka ruang dialog dengan syarat ada maslahat dan syubhatnya tidak tersebar di kalangan manusia dengan syarat diskusi yang ditetapkan oleh para ulama, para ahli ilmu. billati hiya ahsan dengan syarat ada maslahat. Tapi kalau tidak ada maslahat, orang yang kita ajak diskusi itu bukan mencari kebenaran, penuh cacian, makian udah terkalahkan, hujahnya juga di belakang tetap ngeyel.
(49:54) Orang itu orang jahil, maka berpalinglah dari seorang sepertiu. Allah menyatakan, “Khuzil afwa bil urfi wa a’rid anil jahilin.” Jadilah kamu pemaaf. Perintahkan orang lain untuk berbuat baik dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. Kalau tidak ada maslahat, hanya mengundang madarat, maka tidak boleh. Ini faedah ketiga.
(50:30) Faidah keempat, wujub dakwah ila tauhidillah w makudun min qulihi qul taala atlu ma haramaukum alaikum. Ayat ini memberi faedah wajibnya mendakwahkan tauhid memberantas syirik. Mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah. Memberantas melarang mereka dari berbuat syirik.
(51:02) Dan ini diambil dari atlu alik atlu ma harrama alaikum rbukum. Aku akan bacakan kepada kalian. Membacakan ayat itu dakwah. Penyampaian ayat berisi ajakan. Untuk apa? Untuk mentauhidkan Allah dan menjauhi perbuatan syirik. Kelima, annallaha jamaa baina haqqihi wa baina haqqil makhluqo. Dalam ayat ini Allah menyatukan, menggabungkan antara hak dirinya dengan hak makhluk.
(51:47) Karena ayat itu berisi la tusriku billah bihi wabil walidaini ihsana wabil qurba wal yatama wal masakin wnis. Kata Allah, “Katakan olehmu hai Muhammad, aku bacakan kepada kalian apa yang Allah haramkan itu jangan kalian musyrik kepada Allah.” Ah ini hak Allah. Tauhidkan Allah. Terus hendaklah kepada kedua orang tua berbuat baik.
(52:19) Ini hak sesama manusia. Kepada wabidil qurba wal yatama, kepada kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada fakir miskin, kepada ibnus sabil. Hendaklah berbuat baik kepada mereka. Ini hak sesama manusia. Lihat betapa erat hak Allah dengan hak manusia. Bahkan dalam banyak ayat dan hadis, Allah mensyaratkan tertunaikannya hak Allah dengan syarat hak sesama manusia juga tertunaikan.
(53:02) Kalau hak Allah ditunaikan tapi hak sesama manusia tidak ditunaikan. Allah menolak ibadah orang itu. Contoh, manana yminu billahi walumil akhir. Falyaklir aasmut falyukrim diifah falyukrim jarohu. Siapa yang beriman kepadaan hari akhir hendaklah bicara baik atau diam. Ini hak manusia. Iman kepada Allah dan hari akhir hak Allah. Hendaklah memuliakan tamu, hendaklah memuliakan tetangga. Itu hak orang.
(53:36) Wallahi la yukminu. Wallahi la yukminu. Wallahi la. Demi Allah tidak beriman tiga kali. Siapa? M yamanu jaruhu bawaq. Orang yang suka ganggu tetangga. Jadi orang itu umpamanya ibadahnya rajin tapi ngeganggu nyakitin tetangga. Kata Allah enggak beriman. Hak Allah yang dia tunaikan oleh Allah ditolak.
(54:05) Karena apa? Karena dia mengabaikan hak sesama manusia. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, “Man la yaskurinas la yaskurullah.” Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia berarti dia tidak bersyukur kepada Allah. Dan Imam alkhattabi menjelaskan dengan dua makna. Mana pertama, siapa yang tabiatnya tidak bersyukur kepada kebaikan manusia, maka dia juga tidak akan bersyukur kepada Allah. Ini yang pertama.
(54:38) Kedua, makna kedua, siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia, berarti syukur dia kepada Allah ditolak dan tidak diterima oleh Allah. Lihat betapa Allah memperhatikan hak sesama makhluk dan mengaitkan dengan hak Allah azza wa jalla. Makanya bersikap baik, berakhlakul karimah kepada sesama manusia buah nyata dari ibadah dan dari iman.
(55:14) Sampai-sampai kesempurnaan iman seorang tu dilihat dari seberapa sempurna sikap dia kepada sesama manusia. Rasul sallallahu alaihi wasallam menyatakan, “Akmalul mukminina imanan ahasinuhum akhlaqo.” Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya kepada manusia. Lihat kaitan yang erat antara hak Allah dengan hak sesama manusia.
(55:47) Inilah poin yang kelima. Poin yang keenam. Anna tauhid rububiyah mustalzimun litauhidil uluhiyah. Fainnahu zakar huna kalimatbukum tumma alla tusriku bihi saia. Ayat ini menjelaskan tauhid rububiyah wajib melahirkan tauhid al-uluhiyah. Dalam ayat banyak, setiap kali Allah menjelaskan kerububiahan Allah selalu diakhiri dengan perintah untuk menyembah kepada Allah.
(56:26) Contoh dalam ayat ini Allah menyatakan, “Alu ma harromarbukum alaikum.” Aku bacakan kepada kalian apa yang diharamkan oleh Rabb kalian. Disebut Allah sebagai Rabb. Kita sudah jelaskan Rabb itu maknanya pencipta, pengatur, pemberi rezeki, yang menguasai, yang memberi manfaat, madarat, menghidupkan, mematikan, itu Rabb.
(56:56) Pengatur hidup dan kehidupan serta alam ini. Itu Rabb. La tus bih ini tauhid al-uluhiyah. Tauhidkan, esakan Allah dalam ibadah. Jangan syirik. Tauhid rububiyah harus melahirkan tauhid al-uluhiyah. Coba lihat. Ya ayyuhannasu rbakum alladzi khalaqakum walladzina min qoblikum laallakum tattaquun. Lihat Allah menyuruh ibadah kepada manusia.
(57:33) Lalu disebut alasannya. Hei manusia, beribadahlah kamu kepada Allah. Ini tauhid al-uluhiyah. Kenapa? Allah yang telah menciptakan kamu. Tuh menciptakan itu rububiyah Allah dan menciptakan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Allah menyuruh ibadah tauhid al-uluhiyah dengan alasan karena Allah menciptakan kamu.
(58:05) Satu-satunya pencipta kamu ini tauhid arrububiyah. Alasan kita beribadah karena Allah yang menciptakan, yang mengatur seluruh hidup dan kehidupan. Maka aneh kalau kita mengakui Allah satu-satunya pencipta, pengatur hidup dan kehidupan. eh nyembahnya kepada selain Allah enggak masuk akal. Tauhid arrububiyah wajib melahirkan tauhid al-uluhiyah. Ya, itu poin yang keenam.
(58:37) Cukup enam saja dulu. Insyaallah poin-poin yang lainnya akan kita bahas di pertemuan yang akan datang. Karena waktu untuk menjelaskan sudah habis. Kita masih punya sisa waktu untuk bertanya jawab kepada ee Abu Lukman. di studio radio Rojat Cilengsi dipersilakan untuk memandu tanya jawab dengan pendengar dan pemirsa. Wa shallallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wasallam. Silakan Abu Lukman.
(59:09) Jazakallahu khairan kami sampaikan kepada Al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian edisi sore ini langsung dari Kota Bandung, Jawa Barat. dari pembahasan kita kitab Ulul Farid Fawaid Ala Kitab Tauhid. Dan untuk berikutnya kami undang Anda untuk berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.
(59:33) Anda dapat mengirimkan pertanyaan ataupun menelepon kami di 0218236543. Baik, Ustaz. Kita angkat pertanyaan pertama dari hamba Allah tidak disebutkan di mana. Barakallahu fikum. Saya punya teman yang saat ini sepertinya keyakinannya sudah menyimpang, Ustaz. Mengganti kata Allah menjadi semesta dan mengaku sudah mengenal Allah lebih tinggi tingkatannya. Yang saya yakin dia sudah sesat tidak pernah salat lagi.
(1:00:06) Ustaz, saya ingin menasihatinya tapi ilmu merasa belum cukup tapi kalau dibiarkan takut terwarnai. Mohon nasihatnya, Ustaz. Apakah saya harus menjauhinya atau bagaimana? Jazakumullahu khairan. Tafadol ustaz tib. Wa jazakillahu khairo. Kalau ada kawan, sahabat, kerabat, keluarga yang menyimpang apalagi menyangkut aspek akidah.
(1:00:41) Hal pertama yang wajib bagi kita mengingatkan, menasihati. Kalau dia punya argumen, patahkan argumennya. Semoga dengan dipatahkannya argumennya, dia sadar akan kesalahannya lalu rujuk kepada yang benar. Itu yang pertama. Kedua, kalau ternyata melahirkan debat kusir, hujah kita belum terkuasai, sementara dia sudah banyak baca, banyak merenung, kita tidak mampu mematahkan hujah dia.
(1:01:24) Maka kalau diskusi dialog melahirkan madarat, hindari. Karena tujuan utama dari dialog atau diskusi adalah adanya maslahat. Kalau tidak ada maslahat malah madarat, hindari. Terus apa yang kita lakukan? Pertama, doakan dari jauh. Kedua, kalau ada orang yang bisa mematahkan argumentasi dia, minta tolong-tolong ajak dialog dia pemahamannya keliru gitu. Apa boleh minta tolong ke ustaz? Boleh.
(1:02:08) Cuma apa mau apa tidak? Karena apa? pertama sibuk daripada melain satu orang yang belum tentu ini lebih baik waktu untuk debat itu dipakai ngajar banyak orang yang mau mendengar kan gitu antara hasil dengan pengorbanan tidak seimbang. Kalau berhasil hanya satu orang yang dapat hidayah.
(1:02:36) pengorbanannya berkali-kali pertemuan sampai pening. Kalau yang gitu biasanya sukar atau susah untuk sekali dua kali dialog. Jadi belum tentu mau kurang efektif, kurang efisien. Nah, cari yang kira-kira bisa mematahkan argumentasinya tapi tidak memadaratkan kepada dia. Ya. Jadi doakan semoga Allah dapat hidayah.
(1:03:13) Ketiga, apa boleh enggak dijauhi? Harus dijauhi kalau khawatir mempengaruhi. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan almaru aladini khili falyanur ahadukum yukil. Seseorang itu agamanya akan dipengaruhi oleh agama kawannya. Maka hendaklah kalian memperhatikan dengan siapa kalian berkawan.
(1:03:40) Kalau berkawan dengan orang yang agamanya sesat menyimpang jauhi nanti terpengaruh. Kalau toh tak terpengaruh berantem terus. Apa nyaman bersahabat berkawan dengan orang yang seperti itu? Maka tinggalkan. Dan ini juga perintah Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an menyatakan kalau ada ayat yang dikufur au yustahzau biha atau diolok-olok, fala taqudu maahum hatta yakudu fi haditin giri. Jangan kamu duduk bergaul dengan mereka.
(1:04:11) Kalau masih tetap idam mluhum. kamu sama dengan mereka. Jadi daripada terpengaruh keyakinan kita, maka tinggalkan. Meninggalkannya bukan memusuhi, enggak mau salam, enggak mau saling tegur. Bukan. Kalau ketemu di jalan, ya biasa menegor gitu ya, mau ke mana ah bagaimana kabar dan seterus.
(1:04:42) Sudah, tapi pasas eh saya punya pemahaman baru sudah tinggalkan Afan. Saya enggak mau dengar lagi. Saya ada keperluan sudah tinggalkan. Ya, jangan bergaul rapat dengan orang seperti itu karena dikhawatirkan kita akan terpengaruh. Jangan sampai kita sok kepedean. Saya sering ngaji, enggak enggak akan terpengaruh oleh orang seperti itu. Akhirnya gaul.
(1:05:11) Ingat fitnah dahsyat menyambar, sedangkan hati super lemah. Jangankan kita, dulu ada ulama ahli debat, ulama itu memahami Quran, sunah secara baik dan benar, lalu dia memiliki saudara sepupu perempuan yang berfikrah khawarij. Dia mau meluruskan. Tapi karena perempuan yang bukan mahram enggak bisa kecuali dinikahi dulu. Akhirnya dia nikahi dengan maksud untuk diluruskan fikrah khawarijnya.
(1:05:46) Karena dia orang awam, wanita itu dia sendiri seorang alim dinikahi. Apa yang terjadi? Setelah menikah banyak dialog, banyak debat, akhirnya dia terpengaruh. Akhirnya dia lebih khawarij daripada istrinya. Bayangkan pengaruh perempuan yang buruk seperti itu. Seorang ustaz, seorang ulama, seorang alim bisa terbawa oleh pola pikir istrinya yang dianggap ilmunya di bawah dia tadinya dan akan diluruskan a terbalik. Ya.
(1:06:24) Maka jangan sekali-kali kita memiliki pemikiran saya tidak akan terpengaruh oleh kesesatan dia. Jangan khawatir suatu saat kena ya. Wallahuam bisawab. Silakan lagi hadir. Jazakallahu khairan ustaz atas penjelasannya. Dan berikutnya kita angkat penanya melalui line telepon di 0218236543. kami persilakan. Iya. Dengan siapa? Di mana? Silakan. Asalamualaikum.
(1:07:02) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Di mana? Dari hamba Allah di Jawa Timur. Asih. Baik, silakan. Ee ini Ustaz, ana kan apa berwasiat nanti kalau kan kami hanya hidup berdua dengan kakak perempuan. Heeh. Nanti kalau kami berdua itu enggak usah ditahlilin, enggak usah dituju hariin, pokoknya enggak usahlah gitu. Jadi anak itu nabung sendiri masalah ke akhirat.
(1:07:31) Kalau ada misalnya ada wakaf air itu ana juga ee ikut ikut apa namanya? Ikut nyumbang. Kalau ada masjid juga ikut nyumbang gitu. Baik. Itu bilang kayak gitu sama keluarga ustaz. E itu apa? Tapi kalau masalah sekian-sekiannya enggak ini berapa-berapa enggak ini enggak apa namanya ee disembunyikanlah enggak dikasih tahu gitu.
(1:08:01) Itu gimana Ustaz menurut ee menurut syariat Ustaz? Takutnya nanti jadi Ustaz penjelasan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Tafadol Ustaz. Iya. Hamba Allah Fulanah di Jawa Timur. ee hidup berdua dengan kakak, orang tuanya mungkin sudah tidak ada. Terus mungkin dua-duanya belum bersuami. Saya anjurkan segeralah nikah.
(1:08:31) Nah, sekarang dia berwasiat, “Kalau saya mati jangan ditahlilin.” Berarti wasiatnya ke kakaknya ya? Atau mungkin ke kerabatnya yang lain. Ada pamannya, ada bibinya gitu. Wallahualam. Wasiat ke keluarganya kalau mati jangan diadakan ritual apapun. Boleh. Bukan boleh. Bagus. Boleh.
(1:09:05) Bahkan wasiat tolong kalau saya mati hubungi Ustaz Fulan, suruh dia yang ngurus. Bukan dimandiin. Karena enggak boleh wanita dimandikan oleh laki-laki. Tapi nanti ustaz itu akan menyuruh wanita yang dia percaya untuk memandikan, mengkafani. Nanti yang mengurus salatnya kemudian penguburannya, Ustaz sunah yang dia percaya. Boleh, boleh. Bagus enggak apa-apa ya.
(1:09:32) Kalau ternyata kenyataannya nanti beda oleh keluarganya ditahlilin atau ada ritual-ritual yang bukan dari Islam, ya dia tidak berdosa. Yang berdosa yang masih hidup, yang mengurus jenazah dengan cara-cara yang keliru itunya yang dosa. Ya, itu pertama. Kedua tadi dikatakan ee penanya ini menyuruh atau dia suka nyumbang untuk apa? Air tadi, Teh? Untuk kepentingan-kepentingan sosial. Bagus enggak? Banget bagusnya.
(1:10:12) menyumbang untuk pembuatan sumur MCK umum atau membuat irigasi itu pahalanya jariah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam sabatun yajri lil abdi ujuruhunna fiqabrihi ba’da mautihi. Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seorang hamba ke alam kuburnya setelah kematiannya. Nah, salah satunya adalah semuanya aksi sosial ini ya.
(1:10:54) Salah satunya adalah orang yang mengalirkan sungai, membikin sungai untuk irigasi pengairan. Terus orang yang menggali membuat sumur untuk kepentingan umum atau man gorsan nakhlan a orang yang menanam pohon. Jadi tidak ada seorang pun hamba yang menanam pohon lalu dimakan daunnya kek buahnya baik oleh orang atau oleh binatang. Illa lahu bihi shodqah.
(1:11:29) Kecuali itu jadi sedekah bagi yang menanamnya. Menanam pohon, bikin sumur, mengalirkan air sungai. Itu aksi sosial yang pemanfaatannya permanen dan terangsa oleh banyak orang. Itu mengalir terus. Dia sudah mati ke alam kubur, tapi hasil karyanya, aksi sosialnya masih manfaat bagi orang yang masih hidup. Ngalir terus ke alam kuburnya tuh.
(1:11:58) Iya. Jadi menyumbang untuk kepentingan umum bukan hanya kaum muslimin saja. Orang kafir memanfaatkan, binatang memanfaatkan. Ya enggak apa-apa boleh bagus. Dan pahalanya pahala sodqah mengalir terus. Buka peluang kesempatan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Itulah manusia terbaik. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Khairunas anfaahum linas.
(1:12:27) Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling manfaat, paling banyak memberi manfaat dengan apapun. Kalau umpama kita punya rumah di pinggir jalan, kita ada garasi atau halaman, bebaskan orang untuk parkir di sana atau untuk atret. Kan gitu. Setiap kali ada orang yang ikut parkir dapat pahala. Jangan ditarif Rp20.000.
(1:12:58) Setiap kali ada orang ikut muter di sana mundur kan suka ada ya itu dapat pahala kan. Rata-rata kita ditutup atau halaman depan rumah itu dipasangi apa benda biar enggak ada orang parkir atau enggak ada orang muter di sana kan gitu. Pelit amat. Enggak mau pahala. Dia bukakan pintu garasi, halamannya kosongkan. Barangkali ada orang yang mau mutar. Barangkali ada orang yang butuh parkir untuk ke kepentingan sebentar.
(1:13:34) Jadi pahala. Jangan menggerutu. Ya pernah enggak kita lagi naik mobil, jalannya sempit, mau muter enggak ada, terus ada halaman orang. Terus kita parkir di sana apa? Belok atlet balik lagi. Merasa ter apa? Merasa tertolong. Iya. Senangsenang. Orang lain juga begitu.
(1:14:06) La yukminu ahadukum hatta yuhibba liakhih ma yuhibbuhu linafsihi minal khair. Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sebelum dia mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Kalau kita suka orang ngasih lahan parkir, ngasih lahan untuk muter, kita suka orang lain begitu ke kita, maka kita pun harus begitu.
(1:14:37) Apalagi umpak kantor, yayasan, dakwah atau travel, umrah dan haji punya halaman. Halaman itu dipasang. Dilarang parkir di sini, dilarang muter di sini. Pelit merusak citra dari dakwah itu sendiri. Ini yayasan dakwah tapi pelit. Sedah dengan parkir aja enggak mau tuh. Itu ladang pahala, Akhi.
(1:15:02) Ya, biarkan orang-orang ngambil manfaat dari apapun yang kita punya maka itu adalah sedekah bagi kita ya. Wallahuam bissawab. Cukup ya sampai di sini saja. Insyaallah kita akan kembali berjumpa di hari Jumat yang akan datang melanjutkan kajian kitab ini. Wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wasallam. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(1:15:33) Kami ucapkan jazakallahu khairan kepada Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah membimbing kita untuk kajian di Jumat sore hari ini langsung dari Masjid Agung Al-Ukhuwah Kota Bandung, Jawa Barat. Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda sahabat Roja di mana pun Anda berada.
(1:15:57) Semoga kebersamaan kita membawa ilmu yang bermanfaat dan mohon maaf untuk penanya yang begitu banyaknya yang belum bisa kita angkat pertanyaan di kesempatan sore hari ini. Semoga dipertemukan kembali di kajian-kajian berikutnya di Roja dan Radio Roja. Dan khusus bagi Anda yang ingin menyimak bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala bisa mengikuti bersama beliau dari pembahasan kitab Alqulul Farid Fawaid Ala Kitabi Tauhid.
(1:16:21) Insyaallah di setiap hari Jumat sore pukul 16.00 waktu Indonesia bagian barat sampai dengan selesai. Mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga Allah pertemukan kita kembali di lain kesempatan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *