[LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. – Serial Fiqih Pendidikan Anak No : 221 – YouTube
Transcript:
(00:04) Jat Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta’inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d.
(00:55) Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan pagi menjelang siang yang berbahagia kali ini hari Senin tanggal 3 Jumadatani 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 24 November 2025 kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin Senin pagi di Masjid Manarul Ilmi di komplek Pondok Pesantren Tunas Ilmu di Desa Gedung Wuluh Purbalingga ini.
(01:49) Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat. sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala. Allahum amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.
(02:30) Bapak, Ibu yang kami hormati, segenap hadirin hadirat dan juga pendengar serta pemirsa rahimani warahimakumullah. Kembali kita mengkaji tema fikih pendidikan anak. Kali ini kita memasuki serial nomor 221 yang mengangkat tema mengembangkan bakat anak dengan bijak. Apa tema kita hari ini? Mengembangkan bakat anak dengan bijak.
(03:07) Satu hal yang harus kita sadari, Bapak, Ibu yang kami hormati, bahwa anak itu merupakan amanah. Nopo amanah? amanah yang sangat berharga yang diberikan oleh Allah kepada kita para orang tua. Dan Allah Subhanahu wa taala telah membekali anak-anak kita dengan fitrah. Kapa, Bu? Fitrah fitrah yang suci. Dan tugas kita para orang tua adalah bagaimana membentuk anak ini menjadi pribadi yang saleh, shah dan bermanfaat.
(04:01) Jadi tugas kita adalah bagaimana kita bisa menemukan bakat anak kita, minat anak kita, kecenderungan anak kita. Kemudian kita kembangkan. Jadi ditemukan kemudian diapakan? Dikembangkan. menemukan bakat anak dan mengembangkan itu bukan hanya untuk kesuksesan di mana? Di dunia.
(04:39) Karena ada sebagian orang beranggapan bahwa mengembangkan bakat itu hanya terkait dengan urusan dunia saja. Oh enggak. Akan tetapi mengembangkan bakat anak itu selain untuk kesuksesan di dunia, tapi juga ini akan menjadi bekal yang sangat baik, yang sangat berharga di akhirat. Terus bagaimana cara kita mengembangkan bakat anak kita dengan bijak di hadapan kita? Ada berapa langkah, Ibu-ibu? Ada berapa langkah? Ada tiga langkah.
(05:20) Langkah yang pertama, prioritaskan pendidikan fardu ain. Apa? Yang pertama, prioritaskan pendidikan fardu ain. Apa itu pendidikan fardu ain? ilmu-ilmu yang wajib diketahui oleh setiap manusia. Ilmu-ilmu wajib eh ilmu-ilmu yang wajib untuk diketahui oleh setiap nopo manusia. Laki-laki atau perempuan? Laki-laki atau perempuan? Ya, rakyat atau pejabat semuanya.
(06:07) Tua muda besar atau kecil? semuanya namanya juga fardu ain ya. Ain itu artinya setiap dari kita. Ya. Jadi yang pertama harus dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah memberikan pendidikan yang sifatnya fardu ain. Ini yang kemudian membedakan antara konsep mengembangkan bakat anak di dalam ajaran Islam dengan konsep mengembangkan bakat anak di dalam ajaran-ajaran Barat.
(06:51) Jadi yang ngomong tentang pengembangan bakat itu enggak cuma ajaran Islam. Di dunia Barat juga mereka ngomongin tentang pengembangan bakat. Lah terus bedanya apa? Di dalam agama Islam sebelum anak itu diarahkan bakatnya ke mana, dia harus punya pondasi dulu dan pondasinya harus kokoh. Apa pondasinya? Ya ilmu-ilmu yang fardu ain.
(07:17) Ya, saya tanya sama jenengan, para sahabat itu jumlahnya banyak apa sedikit? Banyak atau sedikit? Banyak. Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam meninggal dunia, jumlah sahabat itu ada 100.000 lebih. Pinten, Bu? 100.000 lebih? Pertanyaannya adalah 100.000 sahabat itu apa semuanya ulama? kabehan ustaz bu mboten mereka itu punya keahlian yang berbeda-beda. Ada yang jadi pemimpin.
(08:04) Contohnya alkulafaur rasyidin. Sinten? Abu Bakar, Umar, sepi jeneng? Ki Abu Bakar. Umar, Utsman, Ali itu contoh pemimpin. Ada di antara sahabat yang menjadi dai, jadi ustaz. Sinten? Mus ab. Mus’ab bin Umair. Contoh yang lain, Muad bin Jabal. Itu yang jadi dai, jadi ustaz. Ada juga di antara mereka yang menjadi sodagar.
(08:51) Contohne Abdurrahman bin Auf. Ada di antara mereka yang jadi panglima perang hebat. Sinten? Khalid bin Walid. Coba jenengan perhatikan para sahabat itu yang jumlahnya 100.000 tadi enggak semuanya jadi ulama. Ada yang jadi panglima perang, ada yang jadi sodakar, ada yang jadi pemimpin, ada yang jadi dai.
(09:23) Berarti mereka itu punya bakat yang sama atau yang beda? Beda. Tapi Bapak Ibu yang kami hormati, fondasi agama mereka kuat semuanya. Nopone sing sami Bapak Ibu pondasi agamanya. semuanya kuat. Berarti kalau seandainya Bapak, Ibu anaknya kemudian jadi dokter bukan jadi ustaz, pripun, Bu? Boleh atau tidak boleh? Boleh. Sing penting dokter sing saleh.
(10:10) Kalau seandainya anak jenengan nanti jadi arsitek, boleh atau tidak? Sing penting arsitek sing saleh. Seandainya nanti ada di antara putra-putri ibu atau putra Bapak Ibu ada yang menjadi tentara jadi polisi. Pripun? Boleh. Sing penting tentara dan polisi yang saleh. Nek anake jenengan jadi presiden, pripun? Boleh. Tapi presiden sing saleh lah. Untuk menjadikan mereka saleh itu kan harus dari awal.
(10:52) Sejak kecil kita sudah memprioritaskan yang namanya pendidikan a agama. Yaah. Apa itu yang fardu ain? Fardu ain, Ustaz. ilmu-ilmu tersebut ya. Pertama tentu ilmu akidah itu enggak bisa ditawar itu ya. Tauhid yang lurus, akidah yang murni itu sejak kecil anak kita sudah kita ajari.
(11:26) Seperti dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Umurnya masih 6 tahun, 7 tahun. Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Ya ghulam le id sa’alta fas’alillah. Kalau kamu minta sesuatu mintalah kepada sinten? Allah. Berarti sejak kecil itu sudah dididik akidahnya. Akidahnya itu ketergantungan hanya kepada sinten? Allah.
(12:02) Terus apalagi selain akidah, Ustaz? Ibadah yang setiap hari dia kerjakan. nopo sedurunge salat nek jenengan bad salat nopo riyin bu wudu-edug salat ibadah yang harian mereka kerjakan wudu diajari wudu yang benar setelah wudu baru nopo salat makanya apa kata Allah subhanahu wa taala waur ahlak Artinya adalah perintahkan keluargamu untuk salat. Kalau yang dimaksud di sini adalah Bapak, Ibu, berarti perintahkan kepada siapa? Anak-anak kalian.
(12:50) Kalau yang dimaksud suami berarti perintahkan kepada istri kalian. Wastabir alaiha. dan bersabarlah di dalam mengerjakannya. Berarti ngajarin salat niku butuh sabar ya. Dan kita pernah membahas tahapan-tahapannya bagaimana ya bukan sekarang waktu untuk mengulanginya. Jadi harus dibikin dalam diri anak kita pondasi yang kuat yaitu pondasi agama.
(13:29) Kenapa, Ustaz? Kalau anak itu enggak punya pondasi agama, itu kalau boleh diumpamakan seperti kapal ndak ada kompasnya. Nek sekarang enggak ada navigasinya. Apa yang terjadi dengan kapal? Di tengah lautan enggak ada penunjuk arah. Apa yang terjadi? Ya, terombang-ambing.
(14:05) Bisa-bisa nabrak nopo karang bocor terus tenggelam. Ya, jadi poten e profesi apapun kalau enggak ada pondasinya itu bahaya. Dokter misalnya dokter itu kalau enggak ada pondasi agama sing dipikir kur apa duit priwe balik prwe balik modal wong mlebu kedokteran kui larang apa murah larangusan juta. Yang ada di benaknya adalah bagaimana duitnya kembali.
(14:42) Pakai cara apa? Enggak peduli. Wong anu ora kudu caesar, kudu caesar supaya apa? Duit akeh ya sebagian. Ora kabehan tapi akeh sing kaya ku ya. Enggak harus operasi. Padahal aslinya ndak harus operasi. bisa lahiran dengan cara normal. Tapi karena nek lahirane normal duite kur setitik akhirnya wah ini enggak bisa, Bu. Bahaya ini.
(15:24) Harus apa? Caesar lumayan pirang juta git. Ini kalau enggak ada apanya Bapak Ibu? Enggak ada pondasinya. Yang ada di benaknya hanya nyari duit. Nyari duit, nyari duit. enggak peduli apakah menyusahkan orang atau tidak menyusahkan. Tapi kalau seorang dokter itu punya pondasi kuat agama, maka yang ada di dalam dirinya adalah bagaimana saya bisa jujur.
(15:51) Jujur di dalam menyebutkan fakta kepada pasiennya. Oh, ini sih insyaallah bisa lahiran normal. Itu namanya jujur. Kalau memang enggak bisa lahiran normal, ya sampaikan ini bahaya. Memang betul-betul enggak bisa gitu loh. Bukan bisa tapi dibilang enggak bisa. Jujur. Kemudian niatnya adalah membantu orang.
(16:18) Dilihat pasiennya. Kalau misalnya dia datang gawa duit nang kersek. Duitnya nang apa? Nang kersek. Isine kur receh tok. lah yo pasien kay masa arep di kenakan tarif seperti yang datang gawa sing bisa digesek y sama atau beda bueda ini kalau pondasinya ku kuat begitu pula ini berlaku kepada semua profesi polisi begitu, tentara begitu, pejabat begitu, ya.
(17:04) Maka langkah yang pertama ini adalah prioritaskan pendidikan nopo? Fardu ain. Mari kita pindah yang kedua. Apa langkah yang kedua? Kenali dan kembangkan bakat anak. Kenali dan kembangkan. Berarti ada berapa hal? Ada dua. Satu nopo? Mengenali. Yang kedua mengembangkan. Jadi, ada dua proses yang harus kita jalani.
(17:47) Proses yang pertama adalah kita mengenali anak kita ini punya bakat apa. Ustaz, wong aku kenal kok anakku. Kenal apane? Kenal jenenge. Kenal apane? Kenal tanggal lahire. Benar nih Bapak-bapak kenal tanggal lahir anaknya biasanya pada kelalen mbok takoni ya pada kayak nyong. Yang kita kenali dari anak kita itu paling namanya ya mungkin juga makanan kesukaannya tapi potensi bakat anak kita itu belum tentu kita tahu loh.
(18:29) Belum tentu kita bisa mengetahui bakat anak kita. Karena apa, Bapak Ibu? Belum tentu anak itu memiliki kecenderungan hobi yang sama dengan siapa? Orang tuanya. Belum tentu. Saya tanya sama jenengan, apa mesti nek bapake tentara, anake pengin jadi tentara? Mesti nopo? Mboten? Loh, belum tentu. Ada sebagian anak yang malah wah, saya enggak mau jadi tentara.
(19:03) Kenapa? Karena bapak saya tentara. Loh, kok bisa? Karena saya melihat bagaimana ibu saya ditinggal-tinggal. Ditinggal dari Timor-Timur, ditinggal lagi ke Irian, ditinggal lagi ke Aceh, ditinggal lagi ke mana. Dan saya juga merasa bagaimana saya ditinggal sama Bapak saya. Saya enggak mau. Pokoknya nanti kalau besar jadi nopo? Tentara.
(19:28) Enggak mesti Bapak, Ibu. Jadi kalau jenengan jadi dokter enggak mesti anake tertarik jadi dokter. Jadi minat satu anak dengan anak yang lain itu beda beda. Jenengan punya empat anak, apakah mesti anak 1 2 3 4 minatnya sama? Belum tentu. Padahal bapak dan ibunya sama, mbah kakunge sama, mbah putrine sama. Tapi bakat itu beda-beda.
(20:06) Maka tugas kita, Bapak, Ibu menemukan bakat. Itu bagaimana caranya, Ustaz, menemukan bakat? sudah kita bahas di serial fikih pendidikan anak nomor 188. Nomor pinten, Bu? 188. Judule menggali potensi anak. Kalau jenengan tertarik, pengin tahu, silakan dicari lagi rekamannya ya. Insyaallah masih ada tinggal dimasukkan ke YouTube ya.
(20:44) Judul ini menggali nopo wau potensi anak. Masukkan nama saya di situ ya. Insyaallah nanti bisa ditonton lagi. Saat itu kami sebutkan langkah-langkah praktis untuk mengetahui potensi anak tuh bagaimana. Langkah pertama apa, langkah kedua apa, langkah ketiga apa? Di situ saya sampaikan juga ada uji coba minat dan bakat anak.
(21:09) Jadi anak itu perlu diuji coba. Oh, kira-kira kalau dikasih kayak gini kelihatan ada minat atau tidak? Bagaimana dia menyelesaikannya? Itu silakan jenengan lihat di sana. Oke. Kalau sudah ketemu bakatnya maka tugas kita adalah mengembangkan. Contoh. Masyaallah. Anak ini kalau diajak hadir pengajian dia akan menyimak enggak seperti teman-temannya.
(21:42) Biasanya bocah cilik dijak pengajian pripun, Bu? Playon kaya sapa, Bu? Kayak sapa, Bu? Jajal kaya ramane karo ternyata anak jenengan enggak kayak gitu. Anak ini kok masyaallah ya, setiap diajak ke pengajian mesti duduk menyimak. Bahkan ketika tambah umur dia nopo nulis. Kemudian ketika dia anu pulang ke rumah ditanya, “Leh, coba tadi pengajiannya apa?” Bisa ngulangi walaupun mungkin ngulangi poin-poin pentingnya. Antusias.
(22:31) Wah, ini kayaknya bakatnya di ilmu agama. Kalau anak kita itu bakatnya di ilmu agama, Bapak, Ibu, maka kembangkan itu. Fasilitasi anak kita dengan guru-guru yang berkompeten. Guru-guru yang berkompeten itu di mana, Ustaz? Ya, di sekolah Islam. Contohne dimasukkan ke mana, Bu? pondok. Sayangnya ada sebagian orang tua anake pengin mondok.
(23:08) Dia sudah ngomong sama bapak ibunya, “Aku pengin mondok.” Apa jare bapak ibune? Aja ngemben arep mangan apa? Subhanallah. Aja mondok k madesu. Ngertos Bu. Madesu. Masa depan surat jere sapa? Kata siapa? Pemikiran dan anggapan memondokkan anak itu masa depannya suram. Itu pemikiran yang sudah usang. pemikiran yang ketinggalan opo zaman.
(23:59) Nek mi dulu ada orang berpemikiran seperti itu yo wajar karena ilmu agama mungkin belum berkembang seperti sekarang. Maksudnya belum tersebar dengan lebih baik dibandingkan sekarang. Tapi di zaman ini masih ada orang tua yang punya pemikiran primitif seperti tadi ya. Nek mondok jadiadi apa? Madeso arep mangan apa ya? Mangan segak.
(24:24) Mangan apa sih? Ya saya tanya sama jenengan Bapak Ibu katanya kalau mondok madesuh berarti nek sekolah umum masa depan cerah gitu ya. Itu kan yang mereka katakan kan kalau mondok masa depannya suram. Berarti ben masa depannya cerah sekolah-sekolah umum.
(24:56) Pertanyaannya tamatan sekolah umum sing dadi pengangguran wonten nopo mboten? Ora kur sekolah umum S1 sarjana pengangguran wonten kathah L terus mana buktinya? Ya maka kalau anak kita pengin mondok fasilitasi. Fasilitasi. Dan sekarang alhamdulillah di pondok itu banyak pondok-pondok yang sudah memberikan bekal kepada anak didiknya. Enggak cuma sekedar ilmu agama, tapi juga dibekali skill, dibekali keterampilan, dibekali ilmu wirausaha.
(25:39) Alhamdulillah di pondok kami ini di tunas ilmu santri-santrine ku ora kursiu tok kon ngapa? Kon macul. Iya. Disuruh maju, disuruh bertani. Ya, enggak cuma itu. Disuruh latihan dagang, ya. Kemudian belajar datang ke satu ee apa namanya? Bisnis ke bisnis yang lainnya. Setiap pekan diajari, “Oh, sekarang latihan bikin ee mie ayam, nanti besoknya latihan ee ngurusi ee bibit.
(26:12) ” Bikin apa? menyiapkan bibit tanaman. Nanti besoknya lagi diajari bagaimana memijahkan ee ikan ya, ikan geramai gimana caranya? Jadi enggak melulu belajar nopo ilmu agama. Sehingga anak itu ketika keluar dari pondok dia punya dua sisi kemampuan. Satu sisi agama, yang kedua sisi keteram keterampilan skill ya.
(26:43) Oke, ini kalau anak ini punya potensi di bidang agama. Ada sebagian anak potensinya bukan di bidang agama. Potensinya ini masyaallah senenge utak-utik. Senenge nopo? Utak-utik. Utak-utik apa? Utak-utik pulpen. Dia apa? Dibongkar. Ahli bongkar tanpa pasang. Biasane nek jenengan niki dibongkari sing dijukut apane? Pire pirtos nggih? Apa jenengan tongkari pulpen ya? Nanti naik level bukan cuma pulpen yang dibongkar.
(27:30) Sing dibongkar apa? Aja langsung radio, mainan, motor-motoran dia dibongkari gitu pakai apa namanya? Ee obeng. Setelah itu terus muhendi ya lama-lama kemudian bongkari radio apa dan seterusnya. Wah ini kayaknya punya bakat ini. Jadi apa? Hah? Teknisi. Masyaallah. Jadi teknisi. Gak apa-apa. Saya tanya bakat menjadi teknisi halal no mboten halal.
(28:02) Fasilitasi anak kita. Fasilitasi anak kita. Jangan kita paksakan anak kita untuk melakukan sesuatu yang bukan bakatnya ya. Kecuali kalau terkait dengan prioritas pendidikan yang fardu ain. Ya Allah azza wa jalla dalam surah Azzukhruf ayat 32 berfirman, “Nahnu qasamna bainahum maisyatahum fil hayati dunya.
(28:34) ” Kamilah atau Allah yang menentukan di antara para manusia itu penghidupan mereka. saat mereka berada di dunia. Jadi, satu orang dengan orang lain itu jenis penghidupannya bisa beda-beda. Ada yang jadi pedagang, ada yang jadi petani, ada yang jadi ee pejabat, ada yang jadi dokter, ada yang jadi insinyur, ada yang jadi arsitek. Ya, warofa ba’ahum fauqo ba’din darajat.
(29:01) Dan kami jadikan mereka itu berbeda-beda tingkatannya. Ada yang kaya, ada yang miskin. Liyatakhidza ba’duhum ba’dan sukhriya. Agar mereka bisa saling memanfaatkan antara satu dengan yang lainnya. Langkah yang terakhir yang ketiga, Bapak Ibu yang kami hormati, jangan memaksakan anak pada bidang yang tidak diminati. Ini yang tadi saya sampaikan.
(29:34) Ada sebagian orang tua menjadikan anak sebagai wadah untuk mewujudkan ambisi orang tuanya. Jadi mentang-mentang orang tuanya dokter, anake kudu jadi dokter. Mentang-mentang orang tuanya anggota dewan, anake kudu jadi anggota dewan. ini memaksa karena belum tentu anak itu punya potensi ke sana ya. Belum tentu anak punya potensi ke sana sehingga jangan dipaksain.
(30:07) Anak itu kadang-kadang tidak mau apalagi ditambah tidak mampu. Sudah tidak mau terus apao tidak mampu akhire dikarbit dino? dikarbit enak nopo mboten pelem karbitan mboten gedang karbitan mboten gak enak ya kenapa karena enggak punya kemampuan ya jadi jangan dipaksain anak kita lah terus bagaimana ustaz ya mudahkan dia penginnya ke mana ya selama itu masih dihalalkan di dalam agama kita ya apa kata Rasul sallallahu alaihi wasallam dalam hadis Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Yassiro wala tuassiro.
(31:00) Permudahlah, jangan dipersulit. Itu kaidahnya, Bapak, Ibu. Jadi, kalau anak kita lebih suka kepada sebuah bidang, maka jangan dipaksain untuk menekuni bidang yang lain. Kecuali kalau itu masih dalam proses pencarian. itu gak apa-apa ya. Misalnya kasih tugas di ee nanam, wah kok ternyata hasilnya bagus atau kebalikannya hasilnya enggak bagus.
(31:35) Suruh dia kasih tugas untuk beternak misalnya. Apa itu tang istilahnya tangan itu apa namanya? Kalau apa punya ternak bisa ee berkembang dengan baik. Apa istilahnya apa? Si si apa J? Sinum atau apa istilahnya? Apa? Si sinungan. Iya, Bu. Sinungan ya. Jadi dia itu kalau dikasih apa gitu dia bisa bagus gitu ya. Ya, kalau enggak salah itu istilahnya dalam istilah Jawa.
(32:17) Jadi ketika dia disuruh merawat ayam misalnya itu bisa telaten gitu ya. Kemudian ee bisa bertelur, kemudian bisa ee membuat dengan izin Allah azza wa jalla ayam itu ngerami ya, terus akhirnya bisa berkembang, telurnya bisa ee menetes jadi anak. Ada sebagian anak masyaallah ya, tapi ada sebagian anak diwai ayam malah mati. gitu ya. Oh, berarti ini pakatnya bukan di sini.
(32:55) Kita kasih yang lainnya. Kalau masih dalam proses pencarian itu bukan memaksa namanya. Itu bukan memaksa. Kalau masih dalam proses pencarian itu artinya adalah memberikan kesempatan. A cocok enggak cocok pindah B. B cocok enggak cocok pindah C. Itu enggak apa-apa.
(33:20) Tapi kalau misalnya anak sudah menemukan bakatnya, misalnya dia bakatnya di ee arsitek misalnya, ada sebagian anak masyaallah enggak pakai penggaris. Nek garis bisa apa? Lurus. Ana bocah liane nganggo penggaris bengkok-bengkok. Padahal wis nganggo nopo penggaris. Ada anak gambar hanya dengan ee apa? Bayangkan ya. Hanya dengan apa istilahnya? Imajinasi bisa. Ada sebagian anak wis ngeblak ora kur bayangakan.
(33:57) Enggak cuma dikasih contoh ngeblak hasile ora apik. Oh berarti ini potensinya bukan di situ ya. Kalau anak sudah nemu potensinya, maka jangan dipaksain untuk mencari potensi yang lain. Selama potensi atau bakat anak itu adalah bakat yang halal, tentunya harus yang halal. Jadi, jangan sampai anak itu punya dibiarkan ketika dia memilih pakat yang haram dibiarkan begitu saja oleh orang tuanya. Tidak boleh seperti itu. Tapi orang tua mengarahkan.
(34:28) Semoga apa yang kita pelajari bermanfaat. Masih ada sisa waktu beberapa saat. Kalau ada pertanyaan bisa disampaikan. Baik. Jazakumullah khair ustaz. Kami bacakan pertanyaan pertama. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah.
(34:48) Ustaz, saya punya anak lulusan pondok namun belum punya skill untuk memasuki dunia kerja. Masih kesulitan dalam mencari bakat anak. E mohon solusinya, Ustaz. Jazakumullah khairan. Saya anjurkan kepada saudara atau saudari penanya untuk melihat kajian yang tadi saya sampaikan judulnya menggali noopo potensi anak. Ya, di situ Anda akan menemukan cara membantu anak untuk menemukan minat dan bakatnya.
(35:19) Bahkan di situ saya bikin tabel. Saya bikin tabel ya. ya, skor minat, skor bakat, skor konsistensi, kemudian rata-rata. Jadi dibikin beberapa kolom, di sini saya kasih contoh ada kolom berdakwah, kolom bertani, arsitektur, memasak, ya ada beberapa kolom Anda bisa tambahkan. Anda bisa tambahkan kolom apaagi, kolom apaagi, kolom apaagi.
(35:51) Setelah itu Anda nilai anak ini minatnya ke mana, ya? minatnya ke mana. Kalau seandainya kemudian bisa ditemukan, maka itulah yang Anda arahkan. Anak Anda mau ke mana, ya? Dan jangan merasa segan atau jangan pelit untuk mengeluarkan duit demi untuk menemukan apa? Bakat dan minat anak ya. Nah, karena kan misalnya kita mau mengetahui anak kita bakat masak atau tidak kan harus pakai modal.
(36:23) Modal apa ya? Modal duit ya, anak dikursuskan atau di rumah dibelikan bahan buat masak kemudian kita dampingi anak kita. Jadi jangan ee pelit untuk keluar apa duit ya demi agar anak ini bisa menemukan minat dan bakatnya. Baik. Jazakumullahon. Pertanyaan berikutnya, Ustaz. Bagaimana cara membimbing anak yang punya bakat menghafal Al-Qur’an? Saat ini sudah hafal 5 juz, Ustaz.
(36:57) Mohon arahannya. Jazakumullah khairan. Wazakallah khair. Bagaimana membimbing anak yang punya bakat menghafal Al-Qur’an? Yang pertama adalah ketika anak itu sudah masyaallah punya kemampuan untuk menghafal, maka kita perlu untuk membantu anak menemukan guru yang baik. Menemukan apao? Guru yang baik. Kalau ternyata Anda orang tua itu punya kemampuan untuk menjadi guru yang baik, maka jadilah Anda sebagai guru anak Anda sendiri.
(37:38) Ternyata bapak ibunya masyaallah bacaan Qurannya bagus, tekun juga. Ya sudah, Anda yang jadi guru. Oke. Ini yang pertama temukan guru yang baik. Yang kedua, kembangkan kemampuan anak itu secara bertahap. Hari ini anak bisa menghafal satu ayat. Sudah satu ayat dulu. Nanti setelah 1 minggu tingkatkan dari satu ayat menjadi berapa? Dua ayat.
(38:13) Biarin dulu selama 1 bulan misalnya atau berapa pekan. Nanti setelah anak sudah lancar dua ayat, tingkatkan lagi. Jadi berapa? 3 ayat. Nanti mungkin suatu saat anak bisa menghafalkan satu halaman ya. Satu halaman. Oke, sudah. Jadi yang kedua adalah lakukan secara bertahap. Setelah anak ini masyaallah selesai menghafalkan Al-Qur’an 30 juz ya dan anak ini masih punya rasa haus untuk menghafal, maka alihkan kepada menghafal hadis-hadis Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(38:55) Ya, menghafalkan Al-Qur’an. Selesai menghafalkan Al-Qur’an menghafalkan apa? Hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan ini harus berkonsultasi dengan ahlinya ya. Karena hadis-hadis Rasul sallallahu alaihi wasallam itu ada tahapannya ketika kita mau menghafal. Ya, biasanya kalau dalam literatur pesantren itu diawali dengan menghafal kitab hadis yang ringkas. Biasanya dimulai dari kitab arbain.
(39:27) Nopo arbain? arbain na wawi biasanya kayak gitu. Nanti pindah lagi ke kitab berikutnya. Jadi harus pakai bimbingan. Wallahuam. Baik, terima kasih Ustaz. Jazakumullah atas jawabannya. Pertanyaan berikutnya, “Ustaz, bagaimana menyikapi banyaknya pondok sunah tingkat SMP dan SMA yang banyak terjadi kezaliman di dalamnya seperti bullying, pemukulan, dan yang lainnya.
(40:03) Namun ketika diadukan ke pihak pondok untuk diberikan efek jera bagi pelakunya, pihak pondok mengatakan belum bisa menerapkan hukuman untuk santrinya. Mohon arahannya, Ustaz. Jazakumullah khairan. pertama perlu untuk ee memandang permasalahan secara jernih dan jujur ya. Bullying nopo bullying perundungan itu terjadi di sekolah umum atau di sekolah agama? Di mana terjadinya? dua-duanya.
(40:47) Duauanya di sekolah agama ada, di sekolah umum juga ada. Ini yang harus kita bersikap jujur ya. Kenapa kok kita harus awali itu dengan fakta ini? Supaya tidak ada kesan bahwa bullying itu hanya terjadi di mana? di pesantren ya. Masih ingat jenengan kejadian ada bom yang meledak di salah satu sekolah umum. Ternyata salah satu faktornya qon adalah karena pelakunya sering dibully.
(41:27) Itu terjadi di mana? Di pondok bukan? Jadi ini fakta pertama yang harus kita sadari. Yang kedua, bullying itu ya kalau kita lihat di zaman kita dulu masih kecil, pernah enggak jenengan diwadani? Bu, biyen pas SD diwadani tahu apa ora? Pernah diwiwi tahu ora? sering itu kan kira-kira bullying zaman dulu gitu ya.
(42:07) Ya. Terus ketika jenengan diwi diwadani bunuh diri mboten? Buktinya sih urip. Berarti kita itu harus menguatkan opo? Mental anak kita. Jadi kita itu Bapak Ibu harus menguatkan mental anak kita. Sebagaimana dulu kita pernah mengalami kondisi-kondisi seperti itu ya nangis-nangis tapi kan setelah itu selesai sudah gitu loh. Enggak dijadikan beban pikiran.
(42:46) Kalau kita mencari lokasi tempat yang enggak ada bullying, enggak ada perundungan, kayaknya enggak ada itu. Kecuali di surga. Di mana, Bu? Di surga. Maka langkah yang kedua adalah kuatkan mental anak kita. Kita sampaikan kepada anak kita, Le, Nduk, di mana pun kamu berada, selama kamu masih di dunia, maka hal-hal yang tidak enak itu pasti akan kamu hadapi selama di mana? Di dunia.
(43:28) Kamu akan terbebas dari hal-hal yang tidak enak kapan? Ketika masuk surga. Maka sing kuat le kamu dicu dihina, kamu di apa namanya? Di caci itu enggak ngurangi kedudukanmu di hadapan sinten? Allah. Jadi, anak harus dikuatkan mentalnya. Oke, ini poin yang kedua.
(43:58) Poin yang ketiga, sikap Anda lapor kepada pihak pesantren itu sudah benar. Sikap Anda lapor ke pihak pesantren bahwa terjadi bullying itu sudah benar. Dan saya anjurkan laporan itu kalau bisa dilakukan secara kolektif. Jadi enggak cuma satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang. Sehingga nanti pihak pesantren itu menganggap bahwa ini adalah sesuatu yang se se serius ya.
(44:30) Nah, karena pesantren melihat itu sesuatu yang serius, maka dia akan berusaha bagaimana memberikan solusi. Tadi dikatakan pihak pesantren mengatakan belum bisa memberikan hukuman. Hukuman tergantung ya hukuman apa ya. Jadi kalau yang dimaksud hukuman digebugi ora jangan. Hukuman itu kan enggak selalu berkonotasi nopo fisik.
(45:00) Mungkin enggak hukuman push up? Mungkin enggak hukuman suruh ngoseki kamar mandi? Mungkin apa mboten? Mungkin ya. Maka Anda bisa memberi masukan kepada pihak pesantren bahwa hukuman itu bukan sesuatu yang dilarang di dalam agama kita. Cuman jenis hukumannya apa? Anda kasih masukan hukuman.
(45:28) Coba misalnya pelakunya dikasih ee hukuman berupa membersihkan kamar mandi, nyapu masjid, ngepel, itu kan hukuman yang mendidik dan bermanfaat juga untuk kebersihan pondok. Dan yang terakhir kepada pihak pesantren seharusnya memberikan nasihat, wejangan yang lebih intens, lebih sering ya kepada murid-muridnya, kepada santri-santrinya.
(45:58) Karena seandainya setiap hari kita belajar ilmu agama kok kita tidak menyayangi teman kita lah. Terus ilmunya buat apa? Harusnya ilmu itu kan diamalkan. Kalau anak-anak pondok enggak mengamalkan ilmunya, loh itu siapa yang mau mengamalkan? Maka pihak pesantren seharusnya sering-sering untuk memberikan wejangan kepada para santrinya agar mereka mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki terutama terkait interaksi bagus positif kepada teman-temannya.
(46:29) Ini yang bisa kita pelajari. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon atas segala kekurangannya kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply