(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma – YouTube
Transcript:
(00:00) 3 FM menyebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim.
(01:00) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin wabihi nastain dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba’ad. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, hari Rabu malam Kamis tanggal 29 Jumadal Ula 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 19 November 2025. kita kembali diberi kekuatan,
(02:09) kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin tafsir Al-Qur’an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Kita berharap semoga Allah subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala.
(02:51) Allahum amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti. Seperti biasanya sebelum kita memasuki materi hari ini, kita akan membaca sebagian dari ayat-ayat yang tertulis di dalam surah yang mulia ini, surah A.
(03:36) Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi majelis kita. Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Musik] [Tepuk tangan] Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Bismillahirrahmanirrahim. Abasa wa tawalla. Abasa wa tawalla. An jaahul a’maul [Tertawa] wama yudrika la’allahu yazzakka wama yudri
(04:43) lahu yzakkar au yadzakkaru fatan ikrafaik [Musik] amma manistagna amma manista faanta lahu tasadda anta lahu tasadda W alika alla yazakka [Musik] wa amma man jaaka yas’a amma yas Wahua yakhsya wahua yakhsya
(05:52) faantahu talahuah [Musik] kalla innaha tazkirah kalla inna. Para hadirin dan hadirat sekalian serta para pendengar dan pemirsa rahimani warahimakumullah. Pada pertemuan yang lalu kita telah menyelesaikan pembahasan tentang ayat ke delapan. Apa bunyinya? Wa amma man jaaka yas’a. Apa artinya? Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, adapun orang yang datang kepadamu dengan
(07:00) bersegera. Siapa orang itu? Ibnu Ummi Maktum yang didatangi oleh beliau siapa? Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ayat itu menggambarkan bagaimana semangat lahiriah Ibnu Mas’ud. Eh, maaf. Ibnu Ummi Maktum. Semangat nopo? Lahiriah. Lahiriah si nopo? Sing keton yang kelihatan. Apa? Yang kelihatan datang. Mangsane ngaji mangkat. Mangkat.
(08:04) Ya, ketika di majelis nopo menyimak fokus ada hal yang penting ditulis. Setelah ditulis dihafalkan. Ini namanya semangat yang sifatnya lahiriah. Allah azza wa jalla di ayat selanjutnya yaitu di ayat yang keesembil yang akan kita bahas malam hari ini menjelaskan bahwa Ibnu Ummi Maktum ini enggak cuma punya keunggulan secara lahiriah saja.
(08:59) Akan tetapi beliau juga punya keunggulan secara batiniah. [Musik] Keunggulan secara batiniah itulah yang disebutkan di ayat yang kees9. Nopo? Wahua yaksya. Beliau datang dengan penuh semangat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk belajar. Bersegera, tidak menunda-nunda, tidak malas-malas. Kenapa? Karena beliau punya dorongan internal.
(09:49) Beliau punya amalan hati. Amalan hati itu adalah khas yah. Wahua yakya. Nanti kita akan jelaskan khasyiah itu apa. Khasyah sesuatu yang ada dalam hati. Sebuah amalan. Amalan itu adanya di dalam hati yang membuat beliau menjadi semangat dan semangatnya membara. Dari sini kita bisa mengetahui jemaah yang kami hormati, kenapa ada orang ngajine anget-anget anget-anget apa? Yo mombo tay ayam yo mombo angat-angat opo kuku.
(10:56) Jadi cuma semangat di awal kemudian turun turun turun turun baru k ora keton neng pengajian. Kenapa jemaah yang kami hormati? Karena banyak orang itu cuma mengandalkan sesuatu yang sifatnya lahiriah. [Musik] belum ada dorongan yang sifatnya batiniah. Kalau boleh saya umpamakan seperti pohon, batangnya, dahannya, daunnya itu sesuatu yang sifatnya noopo?
(12:03) Lahiriah, keton kelihatan. Kapan daun-daun itu akan hijau, akan subur? Kapan batang itu akan kuat, diterpa angin enggak gampang roboh. Kapan? Ketika punya akar yang kuat dan akarnya dalam menghujam ke tanah. Adapun pohon yang tidak punya akar kuat, akarnya hanya sekedar ya sekedarnya saja. Begitu kemarau dikit aja apa yang terjadi? Layu.
(12:58) Begitu ada angin, apa yang terjadi? Tumbang. itu seperti apa, Ustaz? Ya, seperti anu wong ngaji rame kur meluasinya hanya sekedar nopo ikut-ikutan. Berarti bukan karena kesadaran, bukan karena keyakinan, bukan karena motivasi internal, ya, hanya sekedar ikut-ikutan tren soale ustaz viral.
(13:51) Wah, nanti kalau saya enggak ikut hadir, nanti saya enggak bisa update di status, ya. Sehingga datang pengajian itu motivasinya bukan karena amalan hati, bukan karena kesadaran batin. Dan yang seperti ini biasanya tidak tahan lama. Seperti nopo? Mau pohon yang tidak punya akar kuat atau seperti bangunan yang gak ada fondasinya. Kelihatannya megah, kelihatannya indah, membuat orang banyak berdecak kagum. Tapi ternyata ada gempa dikit aja.
(14:42) Berapa skala Rikter? empat yo lumayan satu koma langsung nopo retak-retak ya enggak lama kemudian ambruk maka contohlah Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu yang bukan hanya unggul secara lahiriah. Bukan hanya semangat secara lahiriah menghadiri pengajian, akan tetapi beliau punya motivasi internal, punya amalan hati yang menjadi bahan bakar yang terus membuat api semangat itu menyala.
(15:41) itu korelasi antara ayat ke9 dengan ayat sebelumnya yaitu ayat ke berapa? Ayat ke-8. Mari kita kaji lebih lanjut ayat yang ke-9. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wah yakya.” [Tepuk tangan] Dan Ibnu Ummi Maktum datang dengan penuh semangat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau punya khasyah.
(16:22) Apa itu khasyiah? Khasah adalah perasaan takut. Nopo perasaan takut yang dilandasi ilmu nopo? Perasaan takut yang dilandasi ilmu. Ilmu tentang apa? Yo ilmu tentang objek yang dia takuti. Dalam hal ini nomor satu yang ditakuti sama Ibnu Ummi Maktum sinten? Allah. Berarti khasiah itu adalah perasaan takut kepada Allah. Kenapa? Karena punya ilmu pengetahuan tentang Allah.
(17:26) Dia mengerti tentang Asmaul Husna, nama-nama Allah yang mulia. Dia belajar tentang sifat-sifat Allah yang sempurna. Karena dia ngerti tentang Allah, itulah muncul perasaan apa? Takut. Itulah khasiah. Berarti khasiah itu adalah perasaan takut yang dilandasi nopo? Ilmu. Terus apalagi? Dan dilandasi pengagungan.
(18:09) Dilandasi nopo? Pengagungan. Pengagungan kepada siapa? Yo kepada Al Allah. Kenapa dia mengagungkan Allah? Karena ilmu dia tentang Allah itu membuat dia mengerti betapa besarnya Allah. Betapa dahsyatnya kekuasaan Allah. Kesadaran dia tentang besarnya Allah, tentang kuasanya Allah, tentang kerajaannya Allah, tentang surganya Allah, tentang nerakanya Allah, itu membuat dia menjadi mengagungkan Allah.
(19:00) Oke, kita ulangi nggih. Khasyah itu perasaan takut yang dilandasi nopo? ilmu koma pengagungan dan perasaan cinta. Perasaan opo? Cinta. Cinta kepada siapa? Yo kepada Allah. Kenapa kok kemudian muncul perasaan cinta kepada Allah? Karena ilmu tadi ketika dia belajar tentang Allah akan dia temukan, akan dia sadari betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Betapa sayangnya Allah kepada kita.
(19:54) Arrahmanirrahim. Maha pengasih maha penyayang. Yang Allah kasihkan. kepada kita yang Allah berikan kepada kita banyak no sedikit banyak pol kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk memperbaiki diri untuk bertobat untuk minta ampun kesempatan itu Allah berikan kepada kita sekali atau berkali-kali berulang kali selama nyawa Pak, belum sampai ke tenggorokan.
(20:41) Ketika kita menyadari betapa sayangnya Allah kepada kita, betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita, muncullah perasaan cinta. Ya. Sehingga khasiah kita ulangi adalah perasaan takut yang dilandasi ilmu pengagungan dan perasaan cinta. Berarti khasiah itu sama atau tidak dengan perasaan takut biasa? Sama atau tidak? Enggak sama. Perasaan takut biasa itu kadang-kadang enggak ada landasannya. Enggak ada landasannya.
(21:25) Kecuali hanya cerita-cerita jeren mau tahu contohnya takut apa? Wew gombel. Takut sundel bolong. Takut pocong. Takut suster suster ngesot apa suster gawa suntikan itu dari mana perasaan takut itu landasannya apa ilmu jerene terus film film fiksi film horor enggak ada landasannya itu bukan khasyah takut lewat kuburan ana sing wedi liwat kuburan ngisin-ngisinaken wis ngaji masih ora wani lewat kuburan
(22:33) wis gede maning ora gede tok wis tua lewat kuburan a enggak berani sih itu bukan khas itu takut yang enggak ada landasannya. Oh, ada ustaz takut kepada penjahat itu bukan khasiah. Kenapa? Karena enggak diiringi dengan perasaan cinta. Apa ada orang takut penjahat sambil mencintai? Enggak ada. Beda kalau takut sama harimau, Ustaz. Beda.
(23:16) Kenapa coba? Karena kalau kita takut kepada hewan buas, maka kita akan lari meninggalkan hewan buas itu. Berbeda dengan khasyah. Perasaan takut kita kepada Allah bukan akan membuat kita lari menjauh dari Allah, tapi justru kita akan lari mendekat kepada Allah. Beda jemaah. Dan inilah yang ada di hatinya siapa? Ibnu Ummi Maktum.
(24:02) Subhanallah. Hal yang menarik di sini adalah Allah Subhanahu wa taala mengatakan wahua yaksya. Dan Ibnu Ummi Maktum itu merasa takut dan tidak disebutkan objeknya. Dan Ibnu Ummi Maktum merasa nopo? Takut. Enggak disebutkan toh? Takut kepada apa? Takut kepada siapa? Ya jelas Ustaz takut kepada Allah. Oke. Itu nomor satu. Tentu khasiahnya kepada siapa? Kepada Allah.
(24:52) Tapi ketika tidak disebutkan objeknya secara spesifik di dalam ayat ini, maka sebagian ulama mengatakan ini menunjukkan ada makna yang lebih umum. Selain takut kepada Allah, ada juga takut kepada hal-hal yang lain. Contoh, takut kebodohan. takut opo kebodohan. Jadi Ibnu Ummi Maktum beliau merasa takut. Takut apa? Takut enggak tahu ilmu agama.
(25:39) Takut enggak tahu wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada nabinya. Takut enggak tahu cara salat, takut enggak tahu cara beribadah yang benar. Takut enggak update pelajaran akidah. Jadi bukan karena takut enggak update nopo berita paling hot ya atau takut enggak tahu gosip yang paling panas.
(26:26) Ada artis cerai, ada artis rebotan. Robotan apa? Gono gini. Wah, kamu ini enggak update. Kamu ini ku ku kudet. Wah, beda generasi. Kamu ini kurang update. Update apa? Oh, ada pemain bola sudah pindah transfer dengan nilai sekian. itu receh. Itu update info-info seperti itu buat seorang muslim itu receh.
(27:11) Seorang muslim itu adalah merasa takut, enggak tahu akidah yang benar. merasa takut ketinggalan pengajian tafsir, merasa takut, enggak tahu cara salat yang benar, cara puasa yang benar. Jadi, perasaan takut di sini objeknya enggak disebutin. Yang nomor satu takut kepada sinten. Allah. Yang kedua takut kepada kebohan. Ya. Kemudian juga takut akan dosa. Takut akan dosa.
(27:51) Kenapa? Karena dosa itu efek buruk yang ditimbulkannya luar biasa, sangat dahsyat untuk merusak kehidupan kita. Oke. Wahua yaksya. Kemudian yang harus diperhatikan jemaah yang kami hormati yang pernah belajar bahasa Arab. Nah, jadi saya mau tanya yang pernah belajar bahasa Arab yang belum yang belum belajar ngerungokaken saya tanya yang pernah belajar bahasa Arab yahsya fi’il apa? fi’il mudori fi’il mudori nek bahasa Inggris kan wonten past tens wonten apa present tens tense itu apa sekarang
(29:00) kalau present tense itu berlaku juga untuk besok enggak hah sing guru bahasa Inggris. Hah? Atau hanya sekarang aja? Sekarang to tanggung jawab loh direkam loh. Ano apa-apa pokoke jenengan nyong ya. Kalau fi’il mudhor’ itu kata kerja yang menunjukkan aktivitas sekarang, besok, dan seterusnya. Itu fi’il apa? Mud.
(29:38) Dan Allah azza wa jalla menggambarkan sisi kelebihan Ibnu Ummi Maktum di dalam ayat ini yaksya menggunakan fi’il mudhar yang menunjukkan apa? yang menunjukkan bahwa perasaan ini konsisten, berkesinambungan terusmenerus angat-angat apa mau kuku kuku bukan yaksya perasaan takut itu perasaan khasiah itu selalu ada di dalam hatinya Ibnu Ummi Maktum.
(30:36) Dan ini yang kita butuhkan, jemaah, yang kita butuhkan di dalam keseharian kita bukan sekedar salat, tapi konsisten untuk salat. bukan sekedar ngaji, tapi konsisten untuk ngaji. Ya, kalau enggak konsisten, kalau enggak konsisten salat berarti salat sepisan prain seminggu. Salat seminggu prein hah sewulan salat sewulan pre setahun ana ngaji-ngaji diundang pak pengajian anu an apa sih perayaan apa wong ngaji kok perayaan ngaji itu aktivitas harian bukan nunggu nop Apa perayaan k sih wulan apa ngaji takon wulan
(31:51) si tanggal apa anak apa yo ngaji konsisten. Saya tanya sama jenengan setiap pagi kita berdoa apa coba? Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an warizqan thyiban wa amalan mutaqobbalan. Nomor satu nopo? Ilman nafi’an. Ya Allah aku mohon kepadamu ilmu yang bermanfaat. Saya tanya itu kita minta setahun berapa kali? Hah? ketika perayaan bukan itu kita minta setiap hari berarti setiap hari harus nyari nyari nopo nyari ilmu apa ya nyari duit ya loro-lorone ustaz kan butuh mangan iya kan nomor satunya ilman nafi’an dulu nomor dua baru nopo rizqon thyyiban
(32:58) nomor ketiga amalan mutaqabbalan Berarti kita harus konsisten mencari ilmu. Boleh duit ya sing halal yang baik ya wa amalan mutaqabbalan dan beramal yang kira-kira bisa diterima sama Allah subhanahu wa taala. Terakhir dari ayat ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga [Musik] bahwa ngaji itu jemaah harus ada efeknya.
(33:40) Nopo ngaji itu harus ada efeknya. alias ngaji ku kudu ngefek. Kudu nopo ngefek. Ngefek siapa? Ya ada pengaruhnya. Apa pengaruhnya, Ustaz? Yaksya. Pengaruhnya nopo? Yaksya. Ngaji itu harus menumbuhkan keimanan. Bukan hanya sekedar kita mengetahui sebuah pengetahuan, bukan sekedar kita memahami sebuah teori.
(34:27) Buat apa kita ngerti teori kalau enggak pernah dipraktikkan? Buat apa kita punya ilmu kalau enggak diamalkan? Sehingga pelajaran pentingnya adalah ngaji harus nopo ngefek harus ada efek perubahan di dalam kehidupan kita. Perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Satu, hablum minallah. Dua, hablum minanas.
(35:09) Perubahan itu kelihatan satu hablum minallah. Hubungan kita sama Allah. Contohnya Ustaz salat sebelum ngaji salatnya bolong bolong. Bareng ngaji. Bareng ngaji malah sebuahnya telat. Wonten ada atau tidak? bareng ngaji malah ora subuhan wonten wonten muline jam 12 bubare jam loro ya arif nembe turu rong jam kon tangi terus subuhane kapan jam iya nek salat apa ini membawa perubahan Enggak enggak mahu perubahan dalam kehidupan.
(36:11) Ana ngaji mendem. Bayangkan karo ngaji karo mendem. Ana ngaji malah joget. Ngaji itu harus membawa perubahan di dalam diri kita. Kita menjadi lebih takut yaksya lebih takut kepada Allah. Bukan malah kita banyak berbuat maksiat ketika pengajian. Hablum minallahnya itu terus naik, terus dekat sama Allah Subhanahu wa taala.
(36:51) Baca Qurane tambah nopo? Rajin. Ora kaken dolanan apik. sudah mulai menata hidupnya punya prioritas di dalam aktivitas yang dia kerjakan. Kemarin-kemarin mungkin sebelum ngaji waktunya lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat yang tidak mendatangkan rida Allah. Setelah ngaji mulai dia menata hidupnya. Oh, ini kurang bermanfaat.
(37:26) Oh, ini enggak mendatangkan pahala. singkirkan HP-ne di sbuang y di shut down Qurannya di buka ya. Jadi enggak cuma update status, update pahala ya. Oke. Enggak cuma scroll apa HP tapi buka Al-Qur’an gitu ya. Oke, ini hablum minallah. Hablum minanas. Setelah orang ngaji harus ada efek di dalam kesehariannya.
(38:14) Hubungan dia dengan orang-orang terdekatnya harus tambah bagus. Siapa orang-orang terdekat kita? Ring satu kita siapa? Orang tua, Bapak dan Ibu. Kalau orang tua berarti anak. Kalau suami berarti istri kalau istri berarti suami. Itu ring satu kita. Setelah kita ngaji, coba lihat ada enggak perubahan di dalam diri kita ketika dipanggil sama Bapak Ibu kita.
(39:08) Pripun, Le? Hah? Nun. Nun Gigih dalam ya. Heh. Tukakan berambang. Pripun? Tanggung k lagi asyik. Asik apa? Main game. Wis ngaji kay enggak matching antara ngajinya dengan perilaku hariannya. Ora cocok kepada siapa? Orang tu. Orang tua kepada anak. Tambah nopo? Tambah sabar ya. Anak minta ditemani untuk main. Pripun seana ibune baik. Bapak lagi sibuk.
(40:07) Sibuk apa? HP. Mone ibune mana? Nggone bapake. Ibu lagi sibuk. Sibuk apa? HP. Akhirnya anak jadi bal pingpong dilempar dari sana ke sini. Kita sudah ngaji. Sudah ngaji harus beda. Suami setelah ngaji harus tambah tambah dermawan. Kepada siapa? Kepada istri. Ada dermawane m janda kampung sebelah mung bojone dewek pol jang istri setelah ngaji tambah nurut sama suami.
(41:03) Bu kopine ya dewek gawe dewek wis ngaji ki ya ku jangan sudah ngaji. Bu kopine nggih ya segera dilakukan. Itu namanya efek positif. Ini pelajaran yang kita ambil dari ayat yang kita pelajari malam hari ini. Semoga apa yang kita pelajari bermanfaat untuk kita semuanya. Terima kasih atas perhatiannya.
(41:34) Mohon atas segala kekurangannya. Kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasallallahu ala nabina Muhammadin waa alihi wasbi wasallam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply