(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma – YouTube
Transcript:
(00:00) 4.3 mm menyebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim.
(01:06) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta’inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, hari Rabu malam Kamis tanggal 6 Jumadatani 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 26 November 2025.
(02:08) kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin tafsir Al-Qur’an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala. Allahum amin.
(02:49) Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti. Seperti biasanya sebelum kita mengawali materi hari ini, kita akan membaca sebagian dari ayat-ayat yang termaktub di dalam surah yang mulia, surah Abasa.
(03:28) Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi majelis kita. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Bismillahirrahmanirrahim. Abasa wa tawalla. Abasa wa tawalla. An jaahul a’ma [Tepuk tangan] wama yudrika la’allahu yazzakka wama yudri laallahu yzak au yadzakkaru fatanfaah
(04:47) [Tepuk tangan] Amma manistagna amma manna faanta lahu tasaddau [Musik] tasadda wama alaika [Tepuk tangan] wikazak wa amma man jaaka yas’a [Musik] yas’a wahua yakhya wahua yakhya Faantahu talahhau kalla innaha tazkirah. [Musik] Para hadirin dan hadirat sekalian dan
(06:00) juga segenap pendengar serta pemirsa rahimani warahimakumullah. Sebelum kita memasuki materi hari ini, dimohon keikhlasannya untuk mendoakan saudara kita, jemaah kita yang sedang diuji oleh Allah subhanahu wa taala dengan sakit yang berat, yaitu Bapak Slamet Wardoyo dan Bapak Kusnarto.
(06:35) Kita doakan semoga beliau berdoa dan juga seluruh saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang diuji oleh Allah azza wa jalla dengan sakit. Kita doakan semoga mereka segera dikaruniai kesembuhan total oleh Allah subhanahu wa taala. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin arrahmanirrahim. Maliki yaumiddin.
(07:01) Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama shaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidum majid. Allahum rabbanas mudhibal bas isfi pak slamet wardoyo wa kusnartto muslimin antasyafi la sifaa illa siifauk syifaan la yugodirusqoma allahum rabbanas mudhibal bat isfihima waardal muslimin antas syafi la sifaa illa siifauk Muslimin anyafi laifa illaukifa yirqwanahamdulillahiabbil alamin.
(08:01) Para hadirin hadirat sekalian dan juga segenap mendengar s pemirsa rahimani warahimakumullah. Pada pertemuan yang lalu kita telah selesai membahas ayat keembilan. Apa bunyinya? Wahua yakya. Hari ini kita akan membahas ayat berikutnya yaitu ayat ke-10. Seperti biasanya kita akan mengawali dengan menyebutkan apa korelasi dan hubungan antara ayat kees9 yang sudah kita pelajari dengan ayat yang ke-10 yang akan kita pelajari.
(08:52) Jemaah yang kami hormati, kalau pada pertemuan yang lalu dan sebelumnya Allah Subhanahu wa taala [Musik] menceritakan kepada kita tentang kondisi seorang sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang punya keterbatasan fisik. Siapa itu? Abdullah Abdullah Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wa amma man jaaka yas’a wahua yaksya.
(09:35) ” Adapun orang yang datang kepadamu wahai Muhammad dengan penuh semangat wahua yaksya dan dia memiliki khas yah perasaan takut yang dilandasi ilmu, pengagungan dan perasaan cinta kepada Allah. Jadi Allah azza wa jalla di ayat yang ke-8 dan ke9 sedang menceritakan tentang kondisi Ibnu Ummi Maktum. Adapun di ayat yang ke-10 Allah Subhanahu wa taala berpindah menjelaskan tentang sikap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Ummi Maktum.
(10:33) Jadi ayat ke-8 dan ke-9 menjelaskan tentang kondisi Ibnu Ummi Maktum yang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sedangkan ayat yang ke-10 menjelaskan tentang sikap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam saat didatangi oleh siapa? Ibnu Ummi Maktum. Apa sikap yang Nabi sallallahu alaihi wasallam berikan kepada Ibnu Ummi Maktum? Allah sampaikan, “Fa anta anhu talahha.
(11:13) ” Engkau wahai Muhammad mengabaikannya. Mengabaikan siapa? Ibnu Ummi Maktum. Allah Subhanahu wa taala menceritakan sikap Rasul sallallahu alaihi wasallam sekedar menceritakan atau ada unsur teguran di situ. Ada unsur nopo teguran. Jadi Allah azza wa jalla bercerita bukan sekedar bercerita ya. Jadi dalam Al-Qur’an itu banyak kisah atau tidak banyak banget.
(12:04) Bahkan sebagian ulama mengatakan sepertiga Al-Qur’an isinya nopo? Kisah. Kisah-kisah yang dibawakan di dalam Al-Qur’an itu bukan ee dongeng, bukan kisah fiksi. Kancil nyolong timun, nyolong timun ya. Bawang merah, bawang putih, Malin, gondang. Kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an itu adalah kisah-kisah yang sangat berbobot yang ada pelajaran-pelajaran penting di dalamnya.
(12:49) Nah, Allah azza wa jalla di dalam surat ini menyebutkan sebuah kisah tentang Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Faan antahu talaha. Engkau mengabaikannya. Allah azza wa jalla ketika menyampaikan tentang sikap Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Ummi Maktum sejatinya itu adalah te guran.
(13:22) Teguran halus teguran apao halus. Teguran yang mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memiliki skala prioritas di dalam dakwah dan di dalam interaksi sosial. Jadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain, ketika kita mendakwahi orang lain itu kita harus punya skala nopo? Prioritas. Mana yang mendesak didahulukan.
(14:11) Mana yang boleh sementara dinopo? ditunda, dipending. Jadi teguran halus dari Allah Subhanahu wa taala kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita sebuah fondasi etika sosial. Jadi seorang muslim ketika dia bersosial, ketika dia bermasyarakat, dia punya pondasi etika. Apa pondasi etikanya? menempatkan nilai ketakwaan dan ketulusan hati di atas segala bentuk keunggulan duniawi.
(15:03) Pondasi etika bersosial di dalam agama kita adalah lebih mementingkan ketakwaan seseorang. dan ketulusan hatinya dibandingkan sekedar keunggulan nopo duniawi. Saya kasih contoh di samping kanan jenengan ada orang yang masyaallah rajin beribadah, ngaji mangkat terus salat ora tahu telat ramah sumeh. Hanya saja dia orang miskin enggak terkenal, enggak pernah viral.
(16:04) Di samping jenengan yang sebelah kiri ada seorang YouTuber terkenal, seorang nopo? YouTuber terkenal. Subscribernya sudah jutaan. Jutaan. 4,5 juta. Masyaallah. salat ora tahu ngaji apa maning kira-kira jenengan akan lebih ramah kepada yang mana? Hah? Jujur kapan maning kesempatan langk nek sing k to bendina ketemu ketika kita berinteraksi kita itu punya pondasi.
(17:04) Pondasinya apa? Pondasinya nilai ketakwaan seseorang di atas segalanya. di atas no segalanya. Kenapa? Karena yang dilihat sama Allah azza wa jalla bukan kedudukan sosial. Innallaha la yandzuru ila suarikum wala ila amwalikum. Walakin yandzuru ila qulubikum wa a’malikum. Allah Subhanahu wa taala itu bukan melihat casing kalian.
(17:46) Nopo casing? Casing siapa? [Musik] Tampilan. T tampil sugih ganteng apa maning? Viral itu semuanya nopo? tampilan wala amwalikum juga tidak melihat kekayaan kalian walakin yzuru ila qulubikum wa a’malikum tapi yang dilihat oleh Allah azza wa jalla adalah hati yang dipenuhi dengan keimanan, ketakwaan, ketulusan, keikhlasan, rasa takut kepada Allah subhanahu wa taala.
(18:42) Khas yah wa a’malikum. Dan yang akan dilihat oleh Allah amalan salat, ngaji, puasa, birrul walidain itu yang akan dilihat sama Allah azza wa jalla. Sehingga teguran Allah azza wa jalla kepada nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam ini mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang semisal Ibnu Ummi Maktum ini harus diprioritaskan harus didahulu harus dipentingkan dibandingkan yang lain.
(19:34) Kenapa, Ustaz? Karena biasanya karena umumnya orang-orang yang seperti Ibnu Ummi Maktum ini biasanya lebih tulus, biasanya lebih ikhlas. Biasanya ketika dinasehati lebih mudah menerima. Ada sebuah obrolan menarik yang terjadi antara kaisar Romawi yang dikenal dengan julukan Heraus dengan Abu Sufyan. sebelum Abu Sufyan masuk Islam.
(20:29) Jadi, Heraklius ini pengin tahu Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu siapa. Maka di antara delegasi Quraisy yang datang menemui Heraklius ini ditanya sama Heraklius, “Siapa di antara kalian yang punya hubungan kekerabatan paling dekat dengan Muhammad sallallahu alaihi wasallam? Kenapa ini orang cerdas nih?” Siapa kelir? Karena biasanya yang lebih ngerti tentang seseorang adalah kerabatnya.
(21:14) Maka angkat tanganlah sinten? Abu Sufyan. Padahal saat itu Abu Sufyan pro atau kontrak? Kontrak kepada dakwah siapa? Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan dilematis sebenarnya Abu Sufyan ini mau menjelek-jelekkan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tapi kalau menjelek-jelekkan tidak sesuai dengan apa? Fakta.
(21:51) Dan buat orang Arab jahiliah saat itu Arab jahiliah berarti musyrik. Kejujuran itu sangat dijunjung tinggi. Subhanallah. Wong musyrik. Bayangkan tapi menjunjung tinggi nopo? Kejujuran. Jadi dia itu enggak mau bohong. Kebohongannya itu dicatat sejarah kemudian menjadi aib. Walaupun ketidakjujurannya ee walaupun kejujurannya itu sebenarnya bukan mencari rida Allah, hanya sekedar untuk menjaga noo reputasi nama baik ya citra gitu ya tapi ya mending ya daripada wong sing ora jujur gitu loh ya tapi lebih mending lagi kalau jujurnya lillahi taala
(22:51) Di antara celah yang Abu Sufyan dengan celah itu beliau bisa menjatuhkan ya Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam cuma satu saja. Apa itu? Ketika Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan, Muhammad itu sallallahu alaihi wasallam pengikutnya orang kaya apa orang miskin? Orang-orang miskin. Pengikutnya para pejabat atau rakyat.
(23:27) Jelaka? Itu pertanyaan pengikutnya para bangsawan atau para budak? Itu pertanyaan siapa? Heraklius. Ah, di situ Abu Sufyan kayaknya menemukan amunisi untuk menjatuhkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang ikut adalah orang-orang lemah, para budak, orang-orang yang dipandang sebelah mata. Itu jawaban siapa? Abu Sufyan. Sesuai realita atau tidak? Sesuai sesuai.
(24:01) Sesuai realita. Memang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam awal-awal beliau berdakwah itu lebih dominan pengikutnya dari orang-orang lemah. Walaupun ada seperti Abu Bakar itu bangsawan. Betul. Akan tetapi dibandingkan yang lainnya seperti Bilal, seperti siapa? Sumayyah, seperti Yasir. Ammar. itu lebih banyak yang orang-orang lemah dari kalangan budak, rakyat jelata.
(24:39) Maka Abu Sufyan pun ha iki kesempatan. Maka kata Abu Sufyan, pengikutnya orang-orang lemah yang dipandang sebelah mata dan seterusnya. Artinya ini orang mungkin menurut bahasa kita sekarang receh ya. Re raja. Ternyata komentar Heraklius di luar perkiraan. Apa kata Heraklius? Wahakadza atbaul anbiya. yang namanya nabi dari zaman ke zaman ya seperti itu.
(25:24) Seperti itu maksudnya apa? Ya pengikutnya lebih dominan orang-orang lemah. Justru itu membuktikan bahwa Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah nabi seperti nabi-nabi sebelumnya. Para ulama menganalisa ungkapan Heraklius tadi yang itu kemudian dibenarkan ya dalam beberapa dalil ya. Kenapa kok para nabi lebih dominan pengikutnya dari kalangan orang yang lemah? Kenapa coba? Biasanya orang lemah itu lebih lebih halus hatinya, lebih lembut, lebih gampang di nasihati.
(26:22) Berbeda dengan orang punya kedudukan, berbeda dengan orang yang punya pengikut banyak, berbeda dengan orang kaya. Sering di antara mereka itu disebutkan oleh Allah azza wa jalla amma manisagna. Masih ingat manisna? Merasa enggak butuh. Merasa enggak butuh arep mangkat ngaji be sapa numpak apa kae ustaz motor lah kae sing mengeneeh. Subhanallah.
(27:02) Tapi yang hadir mudah-mudahan di sini enggak seperti itu. Nggih. Ya. Maka seperti Ibnu Ummi Maktum ini harus diprioritaskan kita hari ini ya ketika bertemu dengan orang yang beragam status sosialnya jangan cuma memperhatikan orang kaya tok.
(27:37) Jadi kalau misalnya jenengan jadi takmir masjid ya, yang datang ke masjid itu orang yang pakai mobil. Mobilnya apa? Mobil mewah dan ketone dompete kandut gak? Sambut gak? Sambutlah. Boleh, boleh. Tapi apakah sambutan Anda seramah itu ketika ada pemulung datang? Ketika nuwun sewu ada ojol yang nuwun sewu sudah lusuh jaketnya. Apakah Anda seramah itu menyambutnya? Jeng meneng bae apa takmir masjid.
(28:34) Ini pelajaran moral untuk kita semuanya ya. Dan ini bukan hanya di masjid saja, di sekolah pun juga demikian. pihak sekolah, guru, kepala sekolah, BK dan seterusnya. Ketika menghadapi siswa-siswa dari kalangan menengah ke atas, anaknya pejabat, anaknya sodagar, anaknya apaagi? Anaknya bos.
(29:16) Apakah sikap Anda sama? dibanding ketika menghadapi nu sewu anaknya buruh, maaf anaknya pemulung, maaf anaknya tukang beca apakah sikap Anda sama ketika ngeles ngeles mengeles bukan ngeles ya. Ketika memberikan les kepada seorang siswa yang bayarnya apa? gede dengan ngajar TPQ sing gratis. Apakah fokusnya sama? Di situlah keikhlasan kita di dalam berinteraksi diuji.
(30:08) Ya, seharusnya kita itu bersikap dan berwajah berseri-seri. Itulah kenapa kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ditegur di awal ayat surat Abasa. nopo abasa wat tawalla abasa bermuka masamwalla dan memalingkan muka jadi sikap yang baik ya perh sikap yang baik kepada orang lain terutama orang-orang yang lemah itu bukan hanya sekedar raut muka saja bukan hanya sekedar senyum yang senyum itu sebenarnya bisa di apa kan? Bisa dipoles ya.
(30:57) Tapi seharusnya bukan hanya senyum mukanya tapi juga ada perhatian, ada kehangatan emosional, tatapan mata yang fokus dan mendengarkan secara aktif ya. terutama kepada orang-orang yang lemah. Baik itu lemah hartanya, baik itu lemah fisiknya, maupun lemah imannya. Lemah nopo hartanya berarti orang miskin. Lemah fisiknya.
(31:40) Berarti orang yang punya kekurangan fisik, maaf buta atau noopo tuli ya atau bisu. Ya, itu kekurangan itu kelemahan fisik atau kelemahan iman. Orang yang pengin memperbaiki diri dan dulunya punya masa lalu yang kelam. Orang-orang seperti ini itu perlu disikapi dengan sikap yang ramah. Makanya masyaallah ya mulai ada di antara para ustaz yang menggunakan penerjemah.
(32:24) Menggunakan apao? Penerjemah. Penerjemah untuk teman-teman tuli. Teman-teman apao tulik ya? Dan penerjemahnya itu menerjemahkan isi pengajian. Jadi selama ini biasanya penerjemah ada dalam noo konferensi pers dalam berita. Menurut jenengan lebih urgen mana penerjemah di pengajian atau penerjemah di berita tentang perampokan, perceraian, rebut-rebutan gonogini lebih penting mana kira-kira? Dua-duanya penting masalahe pas pengajianana penerjemahe.
(33:19) Nah, sebagian ustaz sudah mulai itu di Jakarta ada pengajian yang disediakan apao penerjemah dan teman-teman tuli ya itu disendirikan di sebuah ruangan ada penerjemahnya. Nah, ini perlu dicontoh sama yang lain ya. Karena mereka pakai suara enggak bisa. Bisanya pakai nopo? bahasa isyarat ini saya enggak tahu gimana cara ya.
(33:46) Makanya kalau ada di antara jenengan yang punya kemampuan itu bisa ambil peran di situ ya. Pahalane insyaallah kaya pahalane ustaze. Masyaallah itu ya. Dan itu enggak cuma untuk teman tuli. Mereka lebih suka dikatakan teman tuli ya dibandingkan apa? Tunarungu. Ya, ini saya juga baru dapat ilmunya. Mereka lebih suka dikatakan teman tuli daripada tuna rungu.
(34:21) Makanya dari tadi saya pakai kalimat apa? Teman tuli ya. Mbok tuli ya. Itu lebih suka mereka ya. Itu bukan hanya yang mengambil manfaat. orang yang hadir di pengajian termasuk orang-orang yang mengikuti pengajian itu secara online dan rekaman itu nanti akan bertengger ya di YouTube atau di media sosial yang lainnya sekian tahun dan sekian tahun itu si penerjemah mudah-mudahan mendapatkan pahala seperti ustaznya. Ini namanya perhatian secara mak maksimal.
(35:06) Oke. Kemudian pelajaran yang diambil juga di sini adalah ketika Allah azza wa jalla menegur Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Faan antahu talaha. Talaha itu apa tadi? Me me mengabaikan. Mengabaikan. Kata sebagian ulama. Berarti kalau ada orang datang kita harus fokus. Jadi kalau ada orang belajar kita enggak boleh abai.
(35:41) Abai maksudde kepriwe? Mulang karo dolanan HP kowe oleh. Adakah guru yang seperti itu? Oh. Zaman jenengan sekolah biyen urung ana HP ya. Ya sudah. Yang masih sekolah anak-anak mahasiswa ada enggak dosen guru yang sambil ngajar sambil apa balesi WA gitu sambil nyimak Quran sambil ya update status ada enggak? Hm. Takut ya ngomongin fakta.
(36:26) Ada saya bilang gak ada. Ada wong karo nyimak Quran karo apa? Balesi WA. Wong karo nyimak Quran karo update status. Enggak benar ya. Itu termasuk talaha. Termasuk nopo? Talah. Mengabaikan murid itu hanya dilakukan guru atau orang tua juga? Mau wis merasa wah alhamdulillah wudu nyong siki kenaambok. Ada enggak orang tua ditanya sama anaknya pelajaran anak enggak paham Abi atau Pak ini gimana cara ngerjakannya? Bapak lagi sibuk ngana nggone ibune nggone umi ngana tergoboh-koboh datang ke tempat ibunya
(37:35) ternyata ibunya lagi live ibu lagi sibukang siapa anak kita itu bukan bal pingpong fokus, berikan perhatian kita. Oke. Berarti Allah azza wa jalla menegur siapa? Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan teguran yang halus dan harus diingat.
(38:13) Jemaah yang kami hormati, Allah menegur Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bukan untuk merendahkan beliau. Ini sering disalah pahami. Allah azza wa jalla menegur nabinya sallallahu alaihi wasallam bukan untuk menjatuhkan kehormatan beliau. Allah Subhanahu wa taala menegur nabinya Muhammad sallallahu alaihi wasallam bukan dalam rangka mengolok-olok beliau.
(38:46) Akan tetapi Allah Subhanahu wa taala justru ingin menunjukkan kepada kita betapa mulianya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, betapa jujurnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan betapa tulusnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Betapa noo mulianya, betapa jujurnya, betapa tulusnya. Kok bisa? Ah, ini harus kita dudukkan. Betapa apa mulianya Rasul, betapa jujurnya Rasul sallallahu alaihi wasallam. Betapa tulusnya Rasul sallallahu alaihi wasallam.
(39:24) Pertama kita kita bahas betapa mulianya Rasul sallallahu alaihi wasallam. Sikap ee bermuka masam ketika lagi fokus, sibuk, urusan penting, ada orang nyela. Kemudian bersikap masam. Manusiawi enggak? Manusiawi. Siapapun bisa melakukan itu. Sesuatu yang manusiawi buat orang lain dianggap biasa, buat manusia sempurna itu tidak biasa. Jadi Allah azza wa jalla sedang mendidik, membimbing nabinya Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk menjadi sosok yang sempurna, manusia yang sempurna dan paripurna.
(40:14) Justru itu menunjukkan kemuliaan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Buat orang lain itu hal biasa. Tapi buat beliau manusia yang sempurna itu enggak biasa. Jadi Allah azza wa jalla ingin membimbing nabinya Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk menjadi manusia yang paling sempurna yang betul-betul bisa dijadikan sebagai uswatun hasanah.
(40:47) Satu menunjukkan apao? Betapa mulianya. Yang kedua menunjukkan betapa jujurnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kok bisa, Ustaz? Betapa jujurnya sekali saya kasih ilustrasi kepada jenengan. Seorang tokoh, seorang nopo? Tokoh, pejabat, bisnisman ketika menulis biografi dirinya sendiri, kira-kira hal-hal yang enggak baik, yang enggak pantes, tahu nyolong rambutan itu.
(41:24) Itu kira-kira dia tulis enggak? Enggak. yang namanya orang nulis biografi pengin terlihat perfilkan yang baik-baik saja lah walaupun penulisnya orang lain penulisnya pengin e bersikap objektif ketika masuk ke meja si apa yang disebutkan biografinya langsung coret coret coret coret coret kenapa wah ini bisa merusak reputasi saya, citra saya yang saya bangun selama ini.
(42:03) Pertanyaannya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika menceritakan teguran Allah kepada beliau itu menunjukkan beliau jujur sejujur-jujurnya tidak ada yang ditutup-tutupi. Kenapa? Karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah, bukan bikinan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(42:37) Andaikan itu bikinan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka mungkin saja seperti yang dilakukan oleh sebagian orang diapain? Dicoret. Tapi buktinya enggak dicoret. Itu menunjukkan betapa jujurnya Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Terakhir apa tadi? Betapa tulusnya Rasul sallallahu alaihi wasallam. Saya tanya kepada jenengan, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bermuka masam mengabaikan Ibnu Ummi Maktum karena kemiskinannya Ibnu Ummi Maktum, karena keterbelakangan fisik Ibnu Ummi Maktum, atau karena hal lain? karena hal lain, karena beliau sedang sibuk mendakwahi pembesar-pembesar Quraisy yang kalau mereka masuk Islam
(43:20) dampak positifnya akan sangat besar buat Islam. Bukan karena beliau merendahkan seorang yang miskin dan buta. Dan ini menunjukkan betapa tulusnya Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya. Terima kasih atas perhatiannya mena segala kurangnya. Kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik.
(43:46) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply