(3) [LIVE] Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, M.A. – Ada Apa Dengan Remaja – YouTube
Transcript:
(00:00) 10.3 mm [Musik] menyebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Yassiru tuassiru. Mudahkan, jangan dibuat sulit. Apalagi berhadapan dengan remaja yang mungkin logikanya masih simpel dan sederhana ya. Jangan dibuat rumit. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja.
(00:56) Inalhamdulillah R TV. Saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi wanah. Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh la nabiya ba’da. Amma ba’du.
(01:32) Ikhwat al islamakumullah sahabat raja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan Selasa pagi ini kita akan simak bersama kembali kajian ilmiah yang kami secara langsung dari pertemuan rutin di setiap Selasa pukul .00 ini bersama Al Ustaz Abu Hasan Almaidani hafidahullah yang akan membawakan tema dari ee buku Ada apa dengan remaja.
(01:57) Dan pada kesempatan hari ini pula ya untuk pertemuan pembahasan buku tersebut merupakan pertemuan terakhir yang insyaallah akan berganti judul dengan tema yang lain di kesempatan yang akan datang. ee kesimpulan dari pertemuan yang cukup panjang dari pembahasan buku tersebut yaitu ada padengaran remaja dan faedah-faedah yang telah banyak kita dapatkan dari penjelasan beliau yang mudah-mudahan ee semuanya bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua.
(02:29) Dan saat ini akan disampaikan sinopsis atau ee penutup dari pertemuan yang selama ini kita laksanakan. Nam langsung saja kita akan simak bersama. Kepada Ustaz kami persilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah nahmaduhu wa’inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wasiati a’malina. May yahdihillah fala mudillalah.
(03:01) Wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanu ittaqulah haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma ba’du. Fainna ahsanal kalami kalamullah wahairal huda huda rasulillah sallallahu alaihi wasallam.
(03:33) Waar umur muhdasatuha wa muhdasatin bidah waulla bidatin dolalah wa dolatin finar. Para pemirsa, sahabat raja, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah. Pertama-tama tentunya kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat yang Allah limpahkan kepada kita semua. Selawat dan salam atas Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, keluarga beliau, sahabat beliau, umat beliau sampai hari kemudian.
(04:06) Para pemirsa, kaum muslimin dan muslimat, sahabat Raja yang dimuliakan Allah. Akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari buku ini, yaitu penutup ya ee sebagai pelengkap dari apa yang sudah kita sampaikan sebelumnya. Kita sadari bahwa segigi apapun kita belajar, sekuat apapun tekad kita untuk terus memperbaiki diri, sehebat apapun usaha kita untuk menjadi orang tua yang baik, guru yang baik untuk anak-anak kita.
(04:45) sebesar apapun harapan yang kita inginkan terhadap ee anak-anak kita, tentunya kita ingin anak-anak kita menjadi anak-anak yang saleh. Usaha apapun yang sudah kita lakukan untuk menggapainya, namun kita harus sadar bahwa tidak ada yang dapat memberikan itu semua kepada kita kecuali Allah Subhanahu wa taala.
(05:13) Kita hanya diberi kuasa mandat untuk berusaha ya. Namun yang menentukan tetaplah yang di atas sana yaitu Allah Subhanahu wa taala. Allah juga telah mengatakan innallaha la yugyiru ma biquin hatta yugyiru mafusihim. Allah tidak akan merubah nasib satu kaum hingga kaum itu merubah diri mereka sendiri.
(05:43) Artinya harus ada usaha yang kita lakukan untuk itu. Tidak bisa bermanggu tangan ya. Ya, seperti yang sudah kita jelaskan panjang lebar ya. Ee beberapa hal yang patut kita ketahui ya untuk bisa ee melaksanakan tugas yang mulia ini yaitu mendidik ya. Apalagi ee remaja ya ee sudah banyak ilmu-ilmu ataupun poin-poin yang sudah kita bahas.
(06:18) Ada satu yang tidak kalah pentingnya dan ini masuk bagian dari ikhtiar juga sebenarnya yaitu ee berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala ya. Ee tentunya faktor doa ini enggak boleh diremehkan ya. Bahkan ikhtiar belum dikatakan sempurna kalau kita belum memanjatkan doa. Minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena sesungguhnya pemilik segala karunia adalah Allah.
(06:50) Pemberi hidayah juga hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Yang kuasa dan sanggup membuka dan melembutkan hati manusia hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Yang mampu melapangkan dan menerangi jiwa hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Dan yang mampu menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri manusia hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Qul innal fadla biyadillah yutihi yasya.
(07:23) Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya karunia itu ada di tangan Allah Subhanahu wa taala. Allah memberikan kepada siapa yang dikehendakinya. Maka kita perlu memintanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Itulah doa ya. Berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka sudah sepatutnya kita selalu merasa fakir di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Dan kita jangan terlalu jumawa dengan semua usaha yang kita lakukan.
(07:56) Tanpa izin Allah, tanpa kehendak Allah Subhanahu wa taala itu tidak akan terjadi. Ya, kita tidak akan mungkin meraih dan menggapainya. Kita hanyalah insan yang lemah dan selalu membutuhkan fakir kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka kita diperintahkan untuk memohon dan meminta kepadanya.
(08:30) Nabi mengatakan, “Id saalta fas’alillah waastaanta fasta’in billah.” Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa taala. Jika kamu memohon bantuan, maka mintalah itu kepada Allah subhanahu wa taala. Maka iringilah setiap langkah kita dengan doa. Karena doa itu adalah ibadah. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Adua hual ibadah.” Doa itu adalah ibadah.
(08:59) Allah Subhanahu wa taala menyeru manusia untuk berdoa kepadanya. Dalam surah Gfir ayat 60 Allah Subhanahu wa taala mengatakan, “Waqbukumuni astajib lakum innalladina yastakbiruna ibadati sayaduluna jahannamaakirin.” Allah berkata Rabb kamu berfirman dan berdoalah kepadaku niscaya akan kupenankan ya kukabulkan untukmu.
(09:32) Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri mereka dari menyembahku, arti berdoa kepadaku, maka akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina. Maka jangan ee lupakan ya ee jangan ee lewatkan berdoa untuk anak-anak kita. Sertakan anak-anak kita di dalam doa-doa kita. Ya, mintalah kepada Allah Subhanahu wa taala agar memudahkan urusan kita, terutama urusan mendidik anak yang mana itu adalah perkara yang berat.
(10:08) Kita perlu memohon bantuan kepada Allah Subhanahu wa taala. Apalagi untuk meluluhkan dan melunakkan hati seseorang. Ya, tanpa izin Allah itu tidak akan mungkin terjadi karena hatinya ada di antara dua jari dari jari jari Allah Subhanahu wa taala. Ya, hanya Allah yang mampu merubah itu ya.
(10:36) Maka kita perlu bersungguh-sungguh minta kepada Allah Subhanahu wa taala ya. Jadi jangan diremehkan faktor doa ini. Mungkin kalau kita merasa semua ikhtiar sudah kita lakukan secara maksimal, usaha semua sudah kita tempuh ya, tapi mungkin belum terwujud juga boleh curigai. Jangan-jangan saya kurang berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala.
(11:08) Kurang meminta kepada Allah Subhanahu wa taala. atau kurang sungguh-sungguh berdoa meminta kepada Allah subhanahu wa taala, maka sungguh-sungguhlah dan jangan pernah kecewa dan putus asa berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria, walam akm biduaika saqiya.
(11:33) Ya, ketika Nabi Zakaria memohon kepada Allah agar diberi anak keturunan ya sampai usia senja atau usia tua, rambut sudah memutih, tulang-tulang sudah melemah, tapi Nabi Zakaria tetap berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala dan dia berkata, “Walam aku biduaika sakiya.” Aku tidak pernah kecewa berdoa kepadamu, ya Allah. Jadi kita perlu ya terus memohon kepada Allah Subhanahu wa taala ya di samping usaha-usaha yang sudah kita lakukan ya ikhtiar yang sudah kita tempuh jangan lupa ikhtiar yang terakhir.
(12:16) Bahkan ini merupakan ya setengah dari ikhtiar semua ikhtiar yang sudah kita lakukan yaitu berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, sebagaimana tidak akan lengkap ya ikhtiar tanpa doa. Sikit pula tidak akan sempurna doa tanpa ikhtiar. Karena keduanya harus berjalan berbarengan. Ya, kita berikhtiar itu menuntut kita untuk berdoa ya. Kita berdoa itu menuntut kita untuk berikhtiar ya. Nah, demikian.
(12:49) Jadi ee keduanya harus berjalan ee seiring ya. Nah, antara ikhtiar dan doa ya. Maka coba ee kita perhatikan ya diri kita ketika kita menghadapi tugas yang berat ini yaitu mendidik anak. Mungkin kita berkata dalam hati, “Apalagi yang belum saya lakukan kan begitu ya. Kayaknya semua sudah dilakukan ya.
(13:17) Nah, semua ikhtiar sudah ditempuh ya, semua usaha sudah dilakukan ya, ilmu sudah dituntut ya, bahkan sudah dieksekusi, tapi hasil belum seperti yang diinginkan, diharapkan. Mungkin satu ini, yaitu ikhtiar yang bernama doa. Ya, kita perlu ee sungguh-sungguh ya berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka coba cari waktu-waktu mustajab.
(13:49) ya waktu-waktu mustajabnya doa misalnya di sepertiga akhir malam di setiap selesai salat-salat fardu ya ee kemudian ya doa-doa yang kita panjatkan pada momen-momen tertentu misalnya pada saat turun hujan, berbuka puasa ya pada saat safar ya atau di tempat-tempat tertentu ya misalnya di ee Multazam. ya di ee Bukit Safa dan Marwah ketika kita sai atau ketika kita wukuf di Arafah misalnya kita wukuf di Arafah ya dan di tempat-tempat lain yang mana itu adalah tempat-tempat mustajab ya.
(14:35) Nah jangan ee lewatkan kita berdoa untuk anak-anak kita ya. Karena doakan mereka ya agar dilembutkan hatinya dan berdoalah untuk kita juga agar urusan kita dimudahkan ya. Nah, karena dia kan melibatkan dua ya, kita dan anak kita. Maka kita perlu berdoa untuk diri kita agar kita diberi keistikamahan, keteguhan dalam melaksanakan tugas mendidik ya.
(15:00) Dan yang kedua, kita berdoa juga untuk anak-anak kita agar hati mereka dilembutkan. Ya. Nah, demikian ya. Jadi ya jangan diabaikan faktor doa. Kalau kita lihat ya ee kisah Abu Hurairah dan ibunya. Abu Hurairah sudah habis-habisan ya berdakwah untuk ibunya, mengajak ibunya kepada Islam ya.
(15:31) Karena Abu Hurairah lebih dulu memeluk Islam daripada ibunya ya. Ibunya masih belum. mau masuk Islam masih bersi keras memegang agama yang lama dan itu membuat hati Abu Hurairah bersedih ya. Maka ia terus mendakwahi, ia terus ya apa namanya? menyampaikan ee nasihat ya, mauah kepada ibunya, mengajak ibunya kepada Islam, tapi tetap juga tidak mau.
(16:04) Ini menunjukkan bahwa ya memang hidayah di tangan Allah Subhanahu wa taala, bukan di tangan manusia. Jadi, semua ikhtiar mungkin sudah dilakukan oleh Abu Hurairah ya. Hingga pada suatu ketika ibunya menolak dengan keras. sehingga menyinggung Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan itu menambah kesedihan Abu Hurairah radhiallahu anhu hingga ia mendatangi Nabi dan menceritakannya.
(16:29) Ya, bahwa tadi ibuku mencelamu ya, menyerangmu ya. Ya, maka ini mungkin ikhtiar terakhir. Berdoalah untuk ibuku. Ya, Abu Hurairah minta doa dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, mungkin Abu Hurairah juga sudah berdoa itu ikhtiar ya, mendakwahi berdoa. Tapi mungkin satu ini ya, minta doa ya ujung-ujungnya ya tetap doa juga kekuatan doa ya. Tapi kali ini mungkin perlu orang lain ya.
(17:01) Nah, ia pun mendatangi Nabi dan minta kepada Nabi untuk berdoa untuk ibunya agar berdoa untuk ibunya. Maka Nabi pun mendoakan Ibu Abu Hurairah. Ya. Nah, kemudian Abu Hurairah pulang ya ke rumah. Nah, belum lagi sampai masuk ke dalam rumah, ibunya sudah menahannya dan berkata, “Tunggu dulu, jangan masuk.” Dalam hati Abu Hurairah, “Apa ada apa lagi ini, ya? Ee masalah apa lagi ini? Ternyata ia mendengar suara gemicik air dari luar.
(17:42) Oh, mungkin ibunya sedang mandi. Ya, kemudian ya ibunya pun menyambutnya, membuka pintu menyambutnya dan menyatakan ya keislamannya. Mengucap dua kalimat syahadat. Itulah kekuatan doa ya. Luar biasa. Kadang-kadang kita enggak tahu ya ee sebab apa orang itu dapat hidayah melalui jalur apa ya. Ya kadang-kadang semua usaha sudah kita lakukan untuk mendakwahi, membimbing, mendidik manusia ya ee atau orang tua kita, anak kita.
(18:20) Tapi kadang-kadang kalau hati itu belum terbuka, gimanapun hebatnya retorika kita, bagaimanapun hebatnya penjelasan kita, ya ee itu tidak akan mampu menembus hatinya karena hatinya ada di tangan penciptanya Allah Subhanahu wa taala. Ya. Nah, ini kisah Abu Hari ini memberikan kepada kita satu pelajaran bahwa jangan lupa fakor doa.
(18:50) Mungkin sudah berdoa sendiri tapi ya mungkin kurang kurang maksimal ya. Perlu mungkin doa orang lain ya. Nah, ya doa muslim untuk muslim yang lainnya anzaharil ghaib ya dari jarak jauh ya dari belakangnya itu termasuk salah satu doa yang mustajab. Nah, inilah ditempuh oleh e Abu Hurairah radhiallahu anhu. Ia minta kepada Nabi untuk berdoa.
(19:17) Tapi coba lihat kisah ini juga ya. Dari awal enggaklah Abu Hurairah langsung mendatangi Nabi dan lalu minta doa. Enggak ya. Yang yang bukan seperti itu yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Abu Hurairah telah mendakwahi ibunya ini habis-habisan ya. Sudah maksimal usaha berdoa juga. Beliau sudah berdoa, tapi mungkin ada satu celah yang belum ditempuh ya, belum ditembus, yaitu mungkin perlu doa orang lain yang lebih mustajab.
(19:52) Maka ia pun minta doa kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Nah, jadi bukan di awal mendakwahi ibu beliau Abu Hurairah langsung mendatangi Nabi dan minta doa. Enggak. Kebanyakan orang kayak gitu ya. Belum lagi dia berikhtiar, belum maksimal usahanya, ya langsung minta doa gitu ya. Sementara dia belum buat apa-apa. Ini enggak seimbang antara ikhtiar dan doa.
(20:18) Enggak seperti itu juga yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Jadi Abu Hurairah ini sudah jatuh bangun. Bahkan ia sudah merasakan kepahitan dan kesedihan karena dakwahnya ditolak. Bahkan ibunya menyerang Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, ini membuat hatinya tambah sedih ya. Tapi ya teringat mungkin ada satu ikhtiar yang belum dilakukan yaitu minta doa kepada orang lain.
(20:47) Mungkin berdoa sudah, berdoa sendiri sudah, tapi mungkin perlu doa orang lain ya karena ya mungkin itu lebih ee mustajab ya. Nah, itulah ee usaha yang ditempuh oleh Abu Hurairah dan Nabi mendoakannya dan akhirnya ibu Abu Hurairah ini pun masuk Islam. luar biasa terbuka hatinya. Itulah kekuatan langit ya, doa ya kepada Allah Subhanahu wa taala.
(21:13) Jangan diremehkan ya. Nah, kadang-kadang kita terlalu jumawa dengan apa yang sudah kita lakukan, ikhtiar yang sudah kita lakukan ya. Nah, seolah-olah semuanya sudah akan berjalan seperti yang kita inginkan. Enggak, ya. Eh Nabi juga mengatakan ya inna quluba bani adam baina usbuaini min asirahman.
(21:40) Sesungguhnya ee hati manusia itu di antara dua jari dari jari-jari Allah subhanahu wa taala. Allah membolak-balikkannya menurut kehendaknya. Ya. Nah, kita enggak tahu momen doa itu bertemu dengan ee kunnya Allah Subhanahu wa taala. Karena hakikat doa itu adalah menunggu kunnya Allah Subhanahu wa taala. Maka tetaplah berdoa. Sabarlah dalam berdoa.
(22:07) Istikamahlah dalam berdoa. Jangan pernah merasa kecewa ya. Ee lalu berkata, “Ah, sudah capek saya berdoa. Allah tidak pernah mengabulkannya.” Ya. Nah, Allah menguji kita lewat doa juga ya. Karena Allah akan melihat ikhtiar yang sudah kita lakukan sudah maksimal atau belum.
(22:33) Ya, kalau orang itu belum berikhtiar apa-apa lalu dia minta kepada Allah ya seperti ya dia minta kepada Allah agar anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah misalnya, tapi ikhtiarnya belum maksimal bahkan belum berikhtiar apapun. Lalu bagaimana bisa dikunkan sama Allah Subhanahu wa taala? Karena hakikat doa itu kan menunggu kunnya Allah.
(23:00) Kalau Allah sudah mengatakan kun, fayakun terjadi. Ya. Nah, tapi ya Allah tidak serta-merta ya mewujudkan apa yang menjadi keinginan kita, apa yang menjadi kehendak kita. Karena Allah akan menguji kita dengan ikhtiar yang sudah kita lakukan. sudah sejauh mana? Apa mungkin kita termasuk orang yang berputus asa? Ya. Nah, sudah tidak mau lagi berikhtiar, sudah letih katanya sudah capek.
(23:31) Ya, ya sabar. itu ujian menghadapi anak-anak kan seperti itu. Kadang-kadang kita sebagai orang tua sudah mau nyerah aja, sudah angkat tangan, ya sudah enggak tahu lagi apa yang mau bisa dilakukan ini, sudah mati kutu istilahnya, ya. Nah, lalu kita pun menarik diri dari ikhtiar, ya sudah cukup saya sudah berhenti mendakwahi anak saya, orang tua saya, mendidik anak saya, ya.
(24:02) Kenapa kayaknya sudah enggak ada harapan kita? Itu namanya putus asa. Lalu gimana kekuatan doa kita dalam kondisi kita berputus asa? Sementara Nabi mengatakan, “Udu’ullaha wa antum mukinuna bil ijabah.” Ya, berdoalah kamu kepada Allah dengan keyakinan doamu itu akan dikabulkan. Nah, itu perlu rasa optimisme, bukan pesimis, kecewa. Makanya Nabi Zakaria itu diuji sama Allah.
(24:32) Baru dikabulkan doanya ketika usia beliau sudah sepuh ya, sudah tua, rambut sudah beruban, tulang sudah melemah, baru dikabulkan. Ya, itulah yang Allah ceritakan di dalam Al-Qur’an ya. Eh dan e Nabi Zakaria pun mengatakan, “Walam aku, walam aku biduaika sakia. Walam akun biduaikaabbi sakiya. Dan aku tidak pernah merasa kecewa berdoa kepadamu, ya Allah.” Ya.
(25:11) Nah, demikian ee bukan menggerutu ya atau kita menunjukkan sikap protes dengan mengatakan, “Wah, untuk apa saya berusaha lagi? Untuk apa saya berikhtiar lagi? Untuk apa saya mendidik anak saya lagi kalau sudah seperti itu? Ya itu namanya kita ee putus asa. Ya Allah mengingatkan yau miruhillah illalmul kafirun.
(25:38) Tidak ada yang putus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir. Ya. Ya. Karena mereka tidak punya pegangan. Wajar mereka putus asa. Beda dengan muslim. Muslim itu punya pegangan ya, punya sandaran yaitu penciptanya, maka dia tidak boleh ya berputus asa kepada Allah Subhanahu wa taala ya. Nah, demikian. Jadi doa ini memperkuat ya kita katakan ee optimis optimisme kita bahwa Allah akan mengabulkannya ya.
(26:12) Nah, bahwa ini semua tidak akan sia-sia ya. Dan pada akhirnya Allah memberikan Yahya ya Allah subhanahu wa taala ya mengkaruninya anak yang santun saleh yaitu Yahya ya. Nah, demikian. Padahal beliau sendiri mengatakan, “Ya, ya inni wahanalmu minni wastaba ya tulang-tulangku sudah lemah, kepala sudah memuti, yaitu sudah tua. Tapi tidak pernah putus asa karena terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala.
(26:49) ” Nah, kita kadang-kadang ya baru kita menasihati anak sekali dua kali, berdoa sekali dua kali, lalu kita ee ambil kesimpulan. Ah, udah enggak bisa lagi itu enggak ada harapan lagi ya. Seolah-olah ya semua itu ada di tangan kita. Enggak. Bukan di tangan kita, tapi di tangan Allah Subhanahu wa taala. Ya.
(27:13) Jadi kita harus terus membangun rasa optimisme, bukan pesimis ya. bahwa apapun yang terjadi itu enggak akan sia-sia. Anggaplah misalnya kita sudah ee habis-habisan berdakwah, mendidik anak kita, ternyata sudah semua sudah dilakukan berdoa, minta doa, tapi anak itu tetap misalnya ee menyimpang, melenceng, tidak dapat hidayah juga.
(27:45) Itu enggak sia-sia yang sudah kita lakukan karena tercatat sebagai pahala. ya. Nah, selebihnya urusannya diserahkan kepada Allah ya. Allah yang akan menilai usaha kita bagaimana diterima atau tidak pertanggungjawabannya begitu ya. Ya, kalau kita sudah melakukan itu semua ya tidak usah bersedih ya tidak usah juga berputus asa ya. Coba lihat apakah semua nabi mulus dakwah mereka kepada keluarga mereka.
(28:19) Enggak. Nabi Luth dan sebelumnya Nabi Nuh ya istri dan anak mereka tidak mengikuti dakwah mereka menolak. Tapi coba lihat Nabi Nuh Alaih Salam tetap mengajak anaknya untuk beriman ya mengikuti dakwah beliau. Walaupun sepanjang hidup itu sudah dilakukan oleh Nabi Nuh Alaih Salam, tapi beliau tidak pernah berputus asa untuk dua, yaitu pertama ya berikhtiar ya mendakwahi anak ini sampai ya momen terakhirlah ya ketika anak itu mau tenggelam dan berdoa ya ia tetap mendoakan anak itu walaupun sudah tenggelam sebelum belum ya dilarang ya akhirnya Allah melarangnya
(29:14) ya bahwa ia dia itu bukan keluargamu ya bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan yang buruk bukan perbuatan yang baik ya Allah menerima ya usaha yang sudah dilakukan oleh Nabi Nuh bahwa itu sudah cukup-cukup bahkan lebih dari cukup ya. Nah, Allah menerima itu pertanggungjawabannya ya. Melihat usaha usaha yang sudah dilakukan.
(29:49) Luar biasa berdakwah siang malam ratusan tahun itu kalau enggak sabar kan enggak bisa. Itu yang Allah nilai ya dari kita sebagai orang tua ya. Karena urusan hati ya itu bukan domain kita juga, bukan di tangan kita juga ya, di tangan Allah Subhanahu wa taala ya. Nah, demikian ya. Jadi kan tidak otomatis anak nabi pasti saleh masuk surga. Enggak. Itu anak para nabi apalagi anak-anak kita yang enggak ada jaminan apapun. Bapaknya bukan nabi ya.
(30:27) Ee ee demikian. Jadi ee itu pelajaran bagi kita ya, bahwa di samping berikhtiar yang maksimal, jangan lupakan doa kepada Allah subhanahu wa taala ya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kita, yaitu mendidik anak-anak kita. Dan Allah mudahkan bagi anak kita untuk bisa menerima ya dakwah kita ya nasihat kita, pelajaran-pelajaran ya yang kita sampaikan, ilmu dan hidayah yang telah kita sampaikan kepadanya ya.
(31:08) Tapi kalau ya pert ya kalau dua-duanya tidak kita lakukan ya lengkaplah penderitaan itu. Mendidik anak enggak ikhtiar tidak dilakukan sama sekali bahkan diabaikan. Yang kedua, doa pun enggak pernah. Ya. Ya. Kalau dua hal ini tidak dilakukan, terlepas apa yang menimpa anak ini.
(31:38) Ya, boleh jadi anak ini dapat hidayah melalui tangan orang lain. Bisa juga ya. Banyak juga orang-orang yang orang tuanya sama sekali tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Bahkan bisa dikatakan buruk, bahkan sangat sangat buruk sekali. Tapi anak ini dapat hidayah. Hidayah kan di tangan Allah, bukan di tangan orang tua.
(32:01) Mungkin melalui tangan yang lain, melalui orang lain. Nah, kira-kira apakah orang tua ini lepas dari tanggung jawabnya nanti pada hari kiamat? Pertanggungjawaban mendidik anak pada hari kiamat? Iya, tentu saja tidak. Karena dia tidak pernah melakukannya, dia tidak pernah mengamalkannya. ya. Nah, kalau dua-duanya enggak itu sudah terlalu.
(32:27) Doa enggak pernah, ikhtiar juga enggak maksimal bahkan cenderung me apa ya kita kata mengabaikannya, melalaikannya. Lalu bagaimana bisa diterima pertanggungjawabannya? Ya, terlepas anak ini nanti akhirnya dapat didaya atau tidak, ya. Nah, demikian ya. Kalau anaknya ternyata tidak diberi hidayah sama Allah, anak itu tidak diberi hidayah sama Allah, ya lengkaplah penderitaannya dunia dan akhirat ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab.
(33:03) Ya, jadi itulah akhir dari pertemuan kita ya. Jadi, jangan lupa ya untuk terus berdoa kepada Allah, memohon kepada Allah mudah-mudahan. Pertama doa untuk diri kita supaya kita diberi keistikamahan dalam mengemban tugas yang berat ini ya. diberi ketabahan, kesabaran ya. Karena itu enggak mudah juga diberi kemudahan ya.
(33:28) Nah, dimuluskan semua usaha yang kita lakukan ya. Nah, demikian dibimbing kepada ee kita katakan ee kekuatan dan taufik ya untuk bisa melakukan semua itu ya. Itu yang pertama doa untuk diri kita dulu dan doa untuk anak-anak kita ya. Mudah-mudahan dilembutkan hatinya, dibuka hatinya kan begitu ya. Dilunakkan ilmu kepadanya ya. Nah itu kan masalah hati ya. Ya di tangan Allah Subhanahu wa taala.
(34:01) Kalau Allah buat keras keras keras batu. Tapi kalau Allah sudah lembutkan ya lembut selembut sutera. Itulah hati manusia yang penuh misteri yang enggak bisa kita selami misteri manusia itu. Misteri hati manusia itu. Maka urusan hati kan diserahkan kepada Allah bukan kepada manusia ya. Karena kita tidak punya domain apa-apa sebenarnya terhadap tidak punya akses apa-apa terhadap hati manusia.
(34:28) Bahkan hati kita sendiri kita enggak punya akses juga apalagi hati orang lain ya. Nah, demikian ya. Wallahuam bissawab. Tugas kita adalah ya lakukan apa yang Allah perintahkan. Misalnya untuk melembutkan hati, banyak-banyak berzikir kepada Allah, baca Quran ya. Nah, itu usaha yang kita lakukan ya.
(34:53) Menuntut ilmu, mendengar nasihat itu hal yang bisa melembutkan hati ya. Nah, demikian ya. Mudah-mudahan benar-benar lembut ya. Nah, enggak enggak jaminan juga ada di sana orang yang menuntut ilmu ya kan. Nah, usaha sudah dilakukan semua tapi hatinya tetap keras juga ya. Ee ya itu ee makanya hati itu kan rahasia Allah tidak diserahkan hukumnya ya kepada manusia ya hukum batinnya ya kepada manusia.
(35:25) Manusia hanya bisa menghukum yang nampak aja ya. Hati jangan di ee jangan dicampuri urusan hati manusia. Kadang-kadang kita sering salah dan keliru ya mencampuri urusan hati manusia ya. Nah, demikian ya. Wallahuam bissawab. Ya, mungkin itu saja ya sebagai pelengkap dari apa yang sudah kita sampaikan panjang lebar dari buku ini ya.
(35:55) Buku Ada apa Dengan Remaja? Membangun interaksi positif dengan remaja ya. Nah, mudah-mudahan ya bermanfaat bagi kita semua ya. Dan sebagaimana yang sering kita sampaikan ya, kita semua diuji ya, saya para hadir ee pemirsa sekalian ya diuji dengan anak, ujian anak. Kita sama-sama menghadapi masalah yang mirip-mirip lah hampir sama ya 11 12 ya.
(36:24) ya, para nabi diuji dengan anak-anak mereka, apalagi kita ya. Nah, jadi ya enggak usah terkejut ya. Oh, kenapa saya diuji dengan ujian seperti ini? Ya, Nabi aja diuji dengan anak-anak mereka apalagi kita ya. Banyak bentuk-bentuk ujian dunia ini. Salah satunya ujian ada yang diuji dengan istrinya, ada yang diuji dengan anaknya. Istrinya beres, anaknya yang susah diatur, kan gitu ya.
(36:49) Anaknya beres, istri yang susah diatur, ya. Macam-macam. Ada yang diuji dengan orang tuanya ya, jadi ganjalan dalam hidupnya ya. Ada yang diuji dengan saudara-saudaranya ya macam-macam ya. Seperti Nabi Nuh diuji dengan anaknya, Nabi Luth diuji dengan istrinya ya. Kemudian ee kita katakan Nabi Yusuf diuji dengan saudara-saudaranya, ya.
(37:18) Nah, jadi itulah dia ujian-ujian yang Allah berikan kepada manusia. Para nabi juga mendapatkan ujian seperti itu ya, apalagi kita ya. Nah, makanya kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian itu ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab. Itu saja mungkin lebih dan kurang saya mohon maaf. Aulu quli hadza astagfirullaha wakum liril muslimin innahu h gfurur rahim.
(37:46) Nam. Alhamdulillah. Baik, terima kasih banyak Ustaz. Jazakullah khair atas ee materi yang telah disampaikan pertemuan di kesempatan hari ini ya, pertemuan terakhir dari pembahasan buku kita yang telah ee panjang ya waktu yang panjang pembahasan buku Ada apa Dengan remaja ini.
(38:09) Dan tadi penutup telah disampaikan pula kesimpulan dari seluruhan pertemuan kita di ee yang lalu-lalu yang mudah-mudahan ee menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Dan tadi telah disampaikan pesan jangan lupa untuk terus selalu berdoa untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita. Baik, selanjutnya kami buka sesi interaktif, sesi tanya jawab dan alhamdulillah ada beberapa pertanyaan yang sudah masuk di layanan pesan WhatsApp dan bagi Anda yang lainnya silakan jika ingin bertanya Anda bisa mengirimkannya di nomor 0218236543 di pesan WhatsApp ya.
(38:43) Baik, yang pertama ada pertanyaan Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Ustaz, tadi dijelaskan bahwa doa yang dikabul adalah doa orang tua kepada anak. Namun, kenapa anak-anak saya yang sekarang mereka sudah pada dewasa mereka itu jauh dari Islam? Saya selalu berdoa dan berharap dari mereka kecil anak-anak saya ee doakan untuk menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.
(39:11) Lalu apakah ketika mereka sudah berumah tangga lepas tanggung jawab saya untuk ee melakukan amar maur nahi mungkar kepada mereka? Ustaz mohon jawaban dan penjelasannya. Iya tetap ya ya selaku muslim terhadap muslim lainnya apalagi masih ada ikatan ee nasab di sini ya. ya walaupun mereka sudah menikah bahkan punya anak ya kita tetap punya kewajiban ya sebagaimana kita juga punya kewajiban kepada sesama muslim ya yaitu istinsah memberi nasihat kan begitu ya nah ya apalagi itu anak kita tetap ada kewajiban itu ya nah amar makruf nahi mungkar itu kan luas ya baik itu kepada manusia di luar sana maupun orang-orang
(39:55) yang ada di dekat kita, di rumah kita ataupun yang ya hidupnya bertautan ya dengan kita misalnya anak-anak kita ya. Nah, tetap ada kewajiban itu ya. Tapi semua ya tentunya ee berbatas dengan kemampuan kan begitu ya. Nah, mungkin tidak seperti dulu lagi yang mana kita punya akses penuh ya, sekarang mereka sudah hidup sendiri-sendiri mungkin ya.
(40:23) Nah, tapi ya juga selaku muslim dengan muslim lainnya ya, selaku orang tua ya enggak akan putus status itu sampai mati ya. Ya, kita punya kewajiban untuk beramar makruf nahi mungkar, memberi nasihat, mengarahkan, membimbing, menuntun. Itulah tugas kita ya. Ya. Ee sebagai muslim ya. Kuntum khair ummatin ukhrijat linas tamruna bilufanhaunil munkar. Kan begitu. Kamu adalah sebaik-baik manusia yang dikeluarkan untuk umat manusia muslim.
(40:56) Ya, karena kamu takuruna bil marruf watanhauna anil munkar. Mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar ya. Apalagi itu anak-anak kita ya. Nah, tetaplah kita lakukan. Tapi ya sebagaimana saya katakan tadi semua tentunya berbatas dengan kemampuan ya. Nah, la yukalifulahu nafsan illa wha supaya kita tidak terlalu terbebani ya ee merasa ya apa namanya kita katakan ee beban yang menghimpit kita sehingga ee sebagian kita merasa wah saya merasa gagal ya itu juga enggak perlu seperti itu ya. Nah demikian ya dan teruslah berdoa ya.
(41:44) Kalau kita sudah berdoa, jangan letih berdoa ya. Ya kan doa cuma minta kepada Allah ya. Ya kan kita minta kepada Allah ya. Urusan sudah kita serahkan kepada Allah melalui doa ya. Sungguh-sungguhlah berdoa, sungguh-sungguhlah berikhtiar. Ee setelah semua itu, innal fadla biyadillah. Karunia di sisi Allah. Yutihi yasya.
(42:15) Allah memberikan kepada siapa yang dikehendakinya. Bukan domain kita lagi. Kita enggak punya kuasa untuk mengatakan kun fayakun kan gitu ya. Nah, sekeras apapun doa kita, sekeras apapun usaha kita, ya. Nah, tapi jangan putus asa. Nah, biasanya putus asa itu karena kita merasa gagal ya. merasa saya gagal jadi orang tua, ya.
(42:42) Jangan katakan seperti itu. Gagal itu kalau kita meletakkan tugas itu, kita merasa enggak mampu itu gagal gitu ya. Nah, ya selama hayat dikandung badan ya ya terus saja sebatas kemampuan. Iya kan enggak mungkin di luar batas kemampuan kita ya mau apa mau mau gimana lagi. Tapi ya Allah akan menilai sekeras apa usaha kita.
(43:07) Itu aja ya. sekeras apa usaha kita itu Allah akan nilai di situ ya. Ada nilainya di situ ya. Nah, demikian. Wallahuam bawab. Baik. Ya, mungkin ee jika ibaratnya Ustaz ya ee suami atau istri itu ada mantan tapi kalau anak tidak ada Ustaz ya. Jadi enggak bisa putus ya. Enggak bisa putus. Heeh. Ikatannya enggak bisa putus.
(43:32) Itu orang-orang yang bertautan hidupnya dengan kita. Heeh. enggak bisa putus dia. Maka kita terus punya kewajiban gitu ya. Ya, sebagai anak kepada orang tua ataupun sebagai orang tua kepada anak. Anak ya. Nah, ya suami istri ya kalau masih langgeng sampai e apa ya sampai tua ya kalau putus tengah jalan kan selesai urusannya. Itu jadi mantan istri ya, mantan suami.
(43:58) Iya. Nam ustaz. Baik. Terima kasih banyak Ustaz. Ee syukran jazak khair atas jawabannya. Demikian dan selanjutnya ada pertanyaan dari Ibu Indayu Rindia. Ustaz mohon penjelasannya apa ee pencerahannya apakah seorang ibu sambung kelak akan dimintai pertanggungjawabannya atas anak-anak sambungnya tersebut, Ustaz? Dan apakah ee doa-doa mereka dan juga amal perbuatan anak-anak sambung tersebut akan sampai kepada ibu sambungnya tersebut sehingga telah tiada ibu sambungnya? Ya, ibu sambung dengan anak sambung itu
(44:29) kan istilah aja ya. ya tetap orang lain ya tidak ada ke hubungan nasab di situ ya hubungan darah enggak ada di situ. Tapi selaku muslim terhadap muslim yang lainnya ya. Apalagi mereka hidup bersama kita ya. Enggak usah jauh-jauh teman kita aja lah kan punya hak yang lebih ya daripada orang-orang yang di luar sana ya. Manusia ada punya tingkatan ya di dalam hak mereka.
(44:57) Ada yang punya hak yang sangat tinggi yaitu hubungan orang ee anak dan orang tua kan begitu ya. Ya, orang anak punya ee apa namanya kewajiban yang besar terhadap orang tua. Karena orang tua adalah penyebab dia lahir di dunia ya. Nah, darah dagingnya ee yang mengandungnya, yang melahirkannya, yang menyusuinya ya punya tentunya punya hak yang lebih besar ya.
(45:27) Kemudian ya orang-orang yang ada di sekitar dia yang masih punya hubungan kekerabatan walaupun tidak langsung ya. Nah, kepadanya ya. Kemudian orang yang hidup bersamanya ya termasuk pembantu kita kan begitu ya. Dia punya hak juga karena hidup bersama kita. Orang tua sambung kita, anak sambung kita, yang hidup bersama kita. Kita punya kewajiban ya terhadap mereka ya. Nah, demikian.
(45:53) Sebagaimana hamba sahaya ya punya kewajiban, punya hak dan kewajiban juga apabila dia hidup bersama kita. Maka Nabi perintahkan untuk memperlakukan mereka ya dengan baik kan begitu ya. Padahal budak itu apalagi anak sambung kan begitu ya. Nah, yang masuk ke dalam kehidupan kita melalui suami kita walaupun itu bukan anak kandung kita ya.
(46:19) Walaupun itu bukan anak kandung kita. Nah, demikian ya. Jadi ee apakah doa mereka ya doa muslim dengan muslim yang lainnya ya. Nah, itu kan kita katakan ee hasil dari usaha yang sudah kita lakukan. Orang itu mau mendoakan kita tentunya enggak serta-merta mau mendoakan kita kalau dia merasa tidak terhutang budi ya atau dia merasa ada kita punya jasa yang yang perlu diapresiasi.
(46:52) Demikian juga anak-anak sambung kita. Kalau kita perlakukan mereka dengan baik, ya mereka akan begitulah dia hukumnya yang berlaku di alam semesta. Hal jazaul ihsan illal ihsan. Bukankah balasan dari kebaikan adalah kebaikan juga. Kalau kita memperlakukan mereka dengan baik, Allah akan buka hati mereka untuk berbuat baik kepada kita ya.
(47:16) Baik itu dalam bentuk doa kan begitu ya, ataupun dalam bentuk-bentuk yang lainnya. Nah, demikian ya. Nah, jadi bukan berarti wah dia bukan anak kandung saya, saya enggak mau urus. Yang kan dia hidup sama kita ya sama aja kalau budak hamba saya hidup hidup sama kita, saya kita enggak mau urus dia. Enggak boleh juga kan.
(47:42) Kita harus wajib juga mengajarinya, kita juga harus mendakwahinya. Kalau kita lihat dia misalnya melakukan hal yang perlu diluruskan itu kan kewajiban kita semua ya. Apalagi dia hidup bersama kita. Nah, demikianlah ya Islam memberikan ketentuannya kepada kita ya. Nah, demikian ya. Wallahuam bissawab ya. Baik, alhamdulillah. Terima kasih banyak Ustaz atas jawaban dan nasihatnya. Demikian ya untuk Ibu yang bertanya.
(48:14) Naam. Ada beberapa pertanyaan namun ee masih menunggu ya untuk sampai di ee layar kami ini di tab kami dan mungkin Anda bisa mengulangi kembali untuk pertanyaannya. Nah, Ustaz ee jika kita ya akan menikah kemudian si akhwat mensyaratkan ee sebelum menikah dan si calon suami menyanggupi.
(48:54) Namun setelah menikah ternyata hal tersebut tidak di ee tidak dilaksanakan. Ustaz, apakah ada hukuman tertentu di dalam syariat, Ustaz, jika ee syarat tersebut tidak dilaksanakan? Ya tentu ada ya kalau itu disebutkan dalam akad ya. Nah, itu bisa diajukan ke hakim sebagai gugatan. Kalau itu tercantum dalam akad ya. Karena itu kan akad itu kan mengikat ya. Misalnya sigah taklik itu kan disebutkan di dalam akad dan itu mengikat sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan di dalam sigah taklik itu ya.
(49:31) berapa bulan gitu enggak dikasih nafkah, maka ya ada bisa mengajukan gugatan cerai dan itu jatuhnya cerai kan begitu ya. Nah, ee seperti itu ee itu yang disebutkan di dalam akad. Tapi jika enggak disebutkan di dalam akad di balik layar ya kita katakan ya balik tangan, artinya waktu akad ya biasa enggak ada syarat-syarat apa-apa yang disebutkan ya. Tapi di belakang mungkin ya ada oh syaratnya.
(49:56) Nah, itu dibicarakanlah kesepakatan antara kedua belah pihak. Apakah syarat itu mengikat atau tidak? Ya, secara hukum tidak mengikat kan begitu ya. Ya, namanya juga ee kita katakan hubungan muamalah di antara manusia ya bisa batal, bisa ee diteruskan kan begitu ya. Nah, demikian ya itu bisa dibaca dibicarakan di antara mereka sendiri ya.
(50:22) ee apakah syarat itu tetap dilaksanakan atau diabaikan kan begitu ya. Nah, itu kalau tidak disebut di dalam akad ya. Nah, misalnya oh nah saya mau nikah tapi saya enggak mau dibawa ke luar kota misalnya ya kan. Nah, kalau itu disebutkan dalam akad ya mengikat tapi kalau tidak ya kan enggak ada ikatan di situ dengan kata-kata itu ya.
(50:53) Nah, dibicarakanlah di antara mereka apakah tetap dilanjutkan syarat itu atau tidak, kan begitu ya. Nah, menurut mekanisme yang berlaku begitu ya. Nah, demikian. Hm. Misalnya si istri menuntut ya kan dulu sudah ngomong kalau nikah enggak mau dibawa ke kampungmu misalnya lah begitu ya. Ee enggak mau dibawa pulang ke negaranya misalnya saya seorang nikah dengan orang luar negeri kan disyaratkan saya enggak mau dibawa ke negerimu misalnya.
(51:19) Tapi itu enggak disebutkan dalam akadanya omongan gitu aja ya di luar tapi ya dianggap itu persyaratan ya. Ini bisa dibicarakan di antara mereka apakah syarat itu tetap dilanjutkan atau tidak kan begitu ya. Tapi kalau disebutkan dalam akad itu ada hak untuk menggugat ya pihak ya apa namanya wanita misalnya di sini boleh menggugat ya karena di dalam akad itu masuk ya disebutkan begitu ya masuk dalam akad ya bolehkah persyaratan di dalam akad boleh ya boleh heeh wallahuam bisa misalnya ya ee maharnya mahar ee dengan hutang kan begitu ya, dengan
(52:08) cicilan misalnya disebutkan itu di dalam akad kan gitu ya, bukan tunai tapi cicilan. Nyicil ee berapa sebulan gitu ya misalnya ini kan gitu ya. Nah, itu kan tersebut di dalam akad itu mengikat ya. Nah, demikian. Wallahuam bawab. Nam, Ustaz. Baik. Alhamdulillah, Ustaz. Syukuran kecuali syarat yang membatalkan akad. Nah, itu enggak boleh.
(52:32) syarat itu syarat yang bertentangan dengan kitabullah. Misalnya syaratnya apa? Habis nikah ee 3 hari cerai gitu ya. Enggak boleh itu ya. Karena itu syarat yang membatalkan akad. Enggak boleh seperti itu. Karena dianggap main-main ya itu nanti jadi mut’ah ya. Ya kan? Nah dalam akar disebutkan kita cuma 3 hari nikah habis itu otomatis talak gitu ya.
(52:56) dalam akad enggak boleh seperti itu. Karena ee syarat itu menafikan akad itu ya, bertentangan dengan akad itu atau dalam istilah hadis sebut ya kulu syartin laisa fi kitabillah fahua batil walam yatasyar ya itu syarat-syarat yang bertentangan dengan syariat itu atau ya salah satunya bertentangan dengan akad itu sendiri ya akad itu kan mengikat ya pernikahan kan begitu ya. Nah, disyaratkan batal nikah itu kan gitu ya. Nah, itu kan bertentangan. Enggak boleh.
(53:29) Para ulama menjelaskan seperti itu. Iya. Jika si laki-laki mengetahui syarat itu syarat batil tapi dia mengiyakan. Tapi setelah menikah dia tahu itu batil dan tentunya tidak melaksanakannya Ustaz. Apakah bersalah juga Ustaz? Ya salah menyetujui akad e syarat batil. Salah. Iya. Makanya harus dia teliti syarat itu bagaimana. Kalau dia enggak tahu ya tanya gitu.
(53:53) Boleh enggak syarat seperti itu? Ya. Nah. N ya misalnya ada yang pernah bertanya, “Saya nikah dengan syarat istri saya mensyaratkan dia enggak mau dipoligami gitu.” Dan itu tersebut dalam akad. Dia tanya apakah itu berlaku? Ya, berlaku. Berlaku. Heeh.
(54:19) Karena itu syarat yang tidak membatalkan akad bersyarat, “Saya menikah denganmu 3 hari kita cerai.” otomatis ya. Nah, itu enggak boleh ya karena itu membatalkan akad itu sendiri. Ya, ya, ya. Nanti ya enggak ada beda dengan mutah gitu ya. Orang akan melakukan mutah kalau seperti itu ya. Nah, kawin kontrak istilahnya. Nah, iya. Iya. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ee syukran jazakallah atas jawaban dan penjelasannya.
(54:43) Masih ada waktu, Ustaz, ya? Iya, satu lagi. Eh, satu lagi pertanyaan. Nam ada pertanyaan dari orang tua yang anaknya sedang di pondok, Ustaz. Nah, ee dia di apa? Dinasehhati dan pernah juga dihukum oleh ee guru-gurunya. Namun akhirnya dia tidak suka kepada asat yang di pondok tersebut.
(55:12) Dan dia tentunya tidak betah, “Ustaz, dan bagaimana Ustaz cara menasihatinya ini?” ya masalah itu masalah kita sebenarnya di sini ya kurang koordinasinya tidak adanya koordinasi atau kurangnya koordinasi antara rumah dan sekolah di sini masalah anak itu banyak sebenarnya enggak semua bisa diselesaikan oleh sekolah ya enggak ke handle sekolah juga pondok atau apapunlah namanya ya nah demikian juga mungkin orang tua sudah ee semi menyerah atau ya sudah kayaknya sudah kewalahan ya. Akhirnya dia lempar itu ke pondok atau ke sekolah ya.
(55:51) Nah, dia ee niatannya apa? Dalam kepalanya apa? Dia ingin lepas dari beban itu. Ya, kebanyakan orang tua seperti itu. Ini yang menjadi masalah jadinya nanti ya. Karena ee sekolah juga dengan segala keterbatasannya ya. tidak mampu menghandle semua masalah anak. Jadi anak ini jadinya terkatung-katung jadinya ya. Dia ujung-ujungnya yang jadi korban si anak ini.
(56:20) Sekolah enggak mau dia berkorban ya. Mohon maaf ya. Ee karena banyak lagi banyak juga urusan mereka kan gitu ya. Bukan satu anak yang diurusi ya itu kata kata pondoknya kan begitu ya. E ya orang tua ya ini sudah super kewalahan ya. dia sudah melempar ini tanggung jawab ini kepada pondok atau sekolah.
(56:44) Jadi siapa di sini yang tergatung-gatung nasibnya? Ya si anaklah ya. Dia dapat hukuman dari sekolah, dari pondok karena melakukan kesalahan ya itu problemnya. Di rumah rumah kayak sudah tidak menerima begitu ya. Ya sudah kamu kan sudah di sekolahkan. Nah gitu kata orang tua ya. ya gimana mau selesai masalah anak ini coba ya enggak selesai akhirnya dia anak yang akhirnya menjadi bulan-bulanan hukuman di sekolahnya banyak anak-anak nasibnya seperti itu.
(57:22) Anak-anak yang jadi bulan-bulanan hukuman dan sanksi di sekolah sehingga akhirnya dia jadi kebal hukuman ya. Nah, di rumah juga semacam tidak diterima. Saya katakan semacam ya. Kenapa? Karena kata-kata orang tua ketika di rumah, “A kamu percuma sudah disekolahkan mahal-mahal, dipondokkan jauh-jauh.” Ya.
(57:44) Nah, seperti itu kan seperti semi penolakan sebenarnya sudah enggak diterima lagi ya. Ya, artinya masalahmu ke sana bukan ke sini gitu. Jadi anak ini terkatung-katung ini enggak jelas nasibnya ini ya. Nah, ini yang jadi akhirnya yang jadi korban jelas si anak jadinya ya. Jadi perlu koordinasiah antara orang tua di rumah dengan guru di sekolah ya.
(58:09) Nah, sehingga akan ringan beban itu. Kalau enggak ya semuanya di-handle sekolah, akhirnya nanti gurunya silap, akhirnya dipukul kan gitu ya, ditampar nanti ee orang tuanya protes gitu ya kalau dilakukan, diperlakukan seperti itu. Sementara orang tuanya ini juga enggak tahu diri dia sudah melepas anak ini ke sekolah gitu aja gitu ya. Ya kan enggak ketemu itu di mana ketemunya ya. Nah, demikian.
(58:34) Wallahuam bisawab ya. Ya. Nah, ini ya kita katakan bisa saya katakan kesalahan di semua pihak. Sekolah merasa bisa men-handle semuanya itu tidak mungkin mustahil ya kan. Nah, orang tua melepas bulat-bulat gitu anak itu ya tidak peduli ya tidak mau tahu. Mungkin dalam benaknya saya sudah menyerahkan itu semua kepada sekolah.
(59:04) Anehnya dia memang terserah sekolah. Begitu sekolah melakukan apa yang terserah itu dia komplain kan gitu ya. Ya enggak jelas ini. Enggak jelas ya. Ya. Ya. Yang dikorbankan di sini ya anak ya. Kasihan ya. Nah demikian. Orang tua enggak mau salah, sekolah juga enggak mau disalahkan juga kan begitu ya.
(59:35) Nah, dan merasa enggak bersalah karena mereka ee mungkin merasa menjalankan aturan kan begitu ya. Ya, gimana ya? Itulah masalah kita hari ini ya. Sangat kurang koordinasi antara pendidikan rumah dan sekolah. Nah, itu yang harus diperbaiki ya. Banyak sekolah hari ini mau pondok, mau sekolah, mau apalah namanya ya itu masalahnya ya. N. Nah, demikian. Nah. Bis ya. Mungkin sampai di sini dulu ya. Lebih dan kurang saya mohon maaf ya.
(1:00:04) Ee kita akan bertemu pada Selasa depan dengan materi yang baru. Subhanakallah wabihamdik asyhadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Demikian ikhwat Islam. E sahabat Raja di manap pun Anda berada. pertemuan kita di kesempatan hari ini ya di pertemuan terakhir bahasan buku ada apa dengan remaja.
(1:00:35) Alhamdulillah telah kita selesaikan dan mungkin jika Anda ingin mereview-nya kembali pelajaran kita silakan ya bisa melihatnya di ee channel YouTube kami atau di Facebook ya di Roja TV. Silakan Anda bisa mempelajarinya kembali, mengambil faedah-faedah yang telah lalu dan insyaallah ee ilmu tersebut tidak akan usang di telan masa. Demikian kami undur diri, mohon maaf apabila ada kesalahan. Ee wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:01:08) Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. menyebar
Leave a Reply