Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. – Fiqih Do’a dan Dzikir

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. – Fiqih Do’a dan Dzikir – YouTube

Transcript:
(00:00) Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan kelar kaca Anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Kadi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya. Dan kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat.
(00:28) Roja TV Anda para pemirsa Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabiina Muhammadin wa ala alihi wasahbih waamanwalah wa ashadu alla ilahaillallah Wahdahuikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Qallahu taala fi kitabihil karim. Ya
(01:40) ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma ba’. Kita lanjutkan saudarakuiman kitab Fiqhul Adhiyah wal azkar. Masih di bab tentang keutamaan menuntut ilmu. Kata As Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Albadr hafidahullah. Waqad jaa an salafi shh fi tafdililmiarun kirah.
(02:23) Dan telah banyak arar dari salafus saleh tentang keutamaan ilmu. Yaakul Tsuri berkata Asauri yaitu Sufyan bin Said ya atauri ma yuradullahu bisyaaiin afdol min thaolabil ilm thaiba alilmu fi zamanin afdol minhul yaum kata belia ma yuradullahu bisyaaiin tidaklah diingin inginkan padanya keridaan Allah pada sesuatu amal yang lebih utama dari menuntut ilmu.
(03:12) Artinya menuntut ilmu itu kalau betul-betul mengharapkan keridaan Allah maka itu amal yang paling utama. Wama tholibal ilmu fi zamanin afdol minhul yaum. Dan tidaklah ilmu dicari di suatu waktu yang paling utama dari hari ini. Maksudnya di zaman beliau, Pak. Kalau di zaman beliau saja kata beliau menuntut ilmu itu sangat utama.
(03:51) Bagaimana dengan zaman sekarang? Di zaman Sufyan atauri para ulama banyak sekali. Sementara di zaman ini masyaallah kebodohan meraja lela. Iya. Maka dari itu di zaman ini lebih ditekankan lagi kita untuk menuntut ilmu. Makanya kata Syekh Albani rahimahullah bahwa jihad yang paling agung di zaman ini adalah menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu. Makanya dalam hadis yang dirikan Tirmidzi demikian disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitab Jami Bayanilmi Fadlih Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya innakum fi zamanin katir fuquhauhu qolil khutoba katir mutuh qolil sualuh
(04:46) alamalu fihi kiral ilm Wasati zaman katir khutbauh qilil fuqoh katir sualuh qolil mu alilmu fi kirum minal amal a kamaqal sesungguhnya kalian berada di suatu waktu zaman yang ulamanya banyak penceramahnya sedikit yang memberinya banyak, yang minta-mintanya sedikit. Dan beramal di zaman itu lebih baik daripada berilmu.
(05:32) Dan nanti akan datang zaman yang penceramahnya banyak tapi ulamanya sedikit ya. Yang minta-mintanya banyak tapi yang memberinya sedikit. Maka berilmu di zaman itu lebih baik dari beramal. Maksudnya pahala menuntut ilmu di zaman itu luar biasa. ak. Makanya semakin kita berada di suatu zaman yang sangat dibutuhkan padanya ilmu, maka semakin besar pahala menuntut ilmu saat itu.
(06:05) Waqala Maimun bin Mihron, berkata Mailmun bin Mihron, semoga Allah merahmatinya. Inna matalalib fil balad kamali aininbah fil balad. Sesungguhnya perumpamaan seorang ulama yang ada di suatu tempat itu bagaikan mata air yang segar di tempat tersebut. Karena ya sebagaimana mata air itu, Pak, sumber orang untuk minum, memberi minum, pengairan dan yang lainnya.
(06:52) Demikian pula ya ketika ada seorang ulama di suatu tempat itu sumber kehidupan hati, Pak. Karena ya ilmu itu menghidupkan hati. Ilmu itu membimbing kepada kebaikan. Makanya adanya seorang alim ulama di suatu tempat itu wallahi ganimah buat orang-orang yang ada di situ. Saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Waqal Hasan Albashri. Berkata Alhan Albashri juga seorang tabiin.
(07:26) Alalim khairum minzahid fid dunya almujtahid fil ibadah. Yansyur hikmatallah. Fain qbilat hamidallah. Wain ruddat hamidallah. Orang yang alim, yang berilmu lebih utama, lebih baik daripada orang yang zuhud dalam kehidupan dunia yang sungguh-sungguh dalam ibadah. Kenapa? Karena seorang alim ya menyebarkan ilmu Allah Subhanahu wa taala. Kalau diterima dia memuji Allah. Kalau ditolak pun ia memuji Allah.
(08:11) Makanya disebutkan dalam hadis ya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam apa ya? Fadlul alim alal abid kafadlil qaramar ala syairil kawakib. Keutamaan ulama dibandingkan dengan ahli ibadah itu seperti apa ya? Seperti bulan dibandingkan dengan bintang. Iya. Ahli ibadah kebaikannya buat diri sendiri. Kalau ulama manfaatnya untuk banyak orang.
(08:47) Ahli ibadah kalau tidak punya ilmu sangat mudah jatuh kepada bidah, Pak. Ahli ibadah kalau enggak punya ilmu sangat mudah jatuh kepada sikap gulu. Tapi seorang alim ulama paham bagaimana cara ibadah sesuai dengan petunjuk Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Iya. Waqal al Imam Syafi’i.
(09:18) Berkata al Imam Asyafi’i, tholbul ilm afdol min shain nafilah. Menuntut ilmu itu lebih utama daripada salat sunah. Ya, menuntut ilmu lebih utama daripada apa? Salat sunah. Makanya disebutkan dalam hadis yang sudah pernah lewat ya, fadlil fadlul ilmi khairun min fadlil ya ibadah. Keutamaan ilmu itu lebih baik daripada keutamaan ibadah, Pak.
(09:50) Kenapa? Karena ibadah tidak akan beres kalau tanpa ilmu. Ya wasil al Imam Ahmad. Ayyuma ahabbu ilaika an usi baili tatawuan ajlis ansakhul ilm. Imam Ahmad pernah ditanya, “Mana yang paling engkau sukai? Aku salat malam itu salat sunah atau aku duduk mencatat ilmu? Kata Imam Ahmad, kunta tansak faant tamam bihi amroik fahu ahabu ilaih.
(10:31) Kalau kamu duduk mencatat ilmu, maka itu kamu akan memahami tentang agama kamu. Itu lebih aku sukai. Iya. Kemudian Imam Ahmad juga berkata, “Al ililmu la ya’diluhuai.” Ilmu itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Saudarakusiman. Nah, ini akhi. Kalau di zaman dulu ketika ulama banyak, Pak, ya. Orang butuh ilmu itu luar biasa sekali, Pak.
(11:05) Tapi ketika di zaman yang manusia lebih cinta dunia, Pak. Ya, di zaman yang manusia cinta dunia, cuan itu lebih dibutuhkan daripada ilmu. Iya. Karena di seperti di zaman sekarang, Pak, fulus itu dibagaikan Tuhan selain Allah. Sudah. Adapun ilmu seakan-akan tuh hanya sebatas sampingan saja. Yang penting dapat fulus, fulus, fulus. Subhanallah. Ikhwatlah Islam, saudaraku seiman.
(11:42) Kata beliau, “Ana ahlul ilm biadil manzilati rafiah w darajatil aliah.” Para ulama ya, bagaimana kita lihat kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa taala. Fainnal wajib ala man siwahum an yahfad lahum qadrahum. Maka yang wajib untuk kita semua, Pak, yaitu menjaga ya kedudukan para ulama. Tapi kenali dulu siapa ulama, siapa yang benar-benar ulama, siapa yang cuma diulamakan, siapa yang ngaku-ngaku ulama.
(12:23) Pada zaman sekarang ini banyak ya orang-orang yang diulamakan ternyata bukan ulama ya. Enggak punya pengetahuan tentang ilmu kecuali sedikit saja. hanya sebatas pandai retorika, pintar ngomong ya. Yang hadir banyak sudah khas disebut ulama. Pakai apa namanya sorban pakai ini pakaian ulama wah dianggap ulama sudah tapi kalau ngomong ngacau.
(12:55) Yang seperti itu yang diulamakan musibah saudaraku seiman. Kalau kita sudah mengulamakan orang yang bukan ulama, rusak agama, Pak. Di antara yang menyebabkan rusaknya agama itu adalah tadi menempatkan orang yang bukan ulama sebagai apa? Ulama yang kemudian dijadikan rujukan perkataannya ya. Sehingga akhirnya dia seenaknya ngomong tentang agama.
(13:25) Dan betapa banyaknya di zaman sekarang seperti itu, Saudaraku seiman. Ngomong enggak pakai dalil, ngomong cuma pakai pendapat pribadinya saja. Iya, tanpa ada dalil. Maka kenalilah siapa ulama itu, Pak. Siapa alim? Itu alim. Hakikat alim adalah yang alim tentang Al-Qur’an, tentang sunah, tentang tata cara memahami Al-Qur’an dan sunah, tentang pemahaman salafus saleh, tentang ya perkataan para ulama terdahulu.
(14:04) Ikhwat Islam, saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Kata beliau, kewajiban kita jaga ya kedudukan mereka. Pahami bahwa mereka punya kedudukan yang tinggi. Karena dengan adanya ulama kita bisa memahami Al-Qur’an, memahami sunah, memahami hadis, memahami tentang agama, din, dan kebutuhan kita kepada ilmu agama, Pak, melebihi kebutuhan kita kepada makan dan minum. Karena makan dan minum itu untuk kehidupan badan.
(14:45) Sedangkan ilmu agama itu untuk kehidupan hati. Saudaraku seiman, di akhirat yang bermanfaat bukan harta, bukan Pak, bukan kedudukan, bukan di akhirat itu yang bermanfaat apa? Ilmu yang bermanfaat yang diamalkan. Iya. Kata beliau, “Faqadata anin Nabi sallallahu alaihi wasallam.” Dan telah tsabit dari Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Laisa minna manam yarhamir kabirana wifimina haqqo.
(15:25) ” Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak tahu tentang hak para ulama. Ya, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar dan disahihkan oleh Syekh Albani rahimahullah. Lihat kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Laisa min bukan golongan kami.
(15:53) ” Kata-kata laisa minna itu, Pak, sering digunakan untuk makna bahwa itu dosanya dosa besar bukan dosa kecil. Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Masyaallah. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua. Kalau ya ini harmonis, Pak.
(16:20) Masyaallah, bagus masyarakat itu. Tapi kalau sebaliknya, yang tua meremehkan yang muda, yang muda enggak menghormati yang tua ya akhirnya apa yang terjadi, Pak? Pincang itu masyarakat itu. Wif liimina haqqoh. Dan bukan golongan kami orang yang tidak tahu hak para ula para ulama. Apa hak ulama itu, Pak? ya untuk kita jaga kehormatannya.
(16:54) Ulama itu bukan untuk kita gulu sama dia, bukan untuk kita kultuskan, bukan untuk kita ngesot sama dia, bukan ya. Ulama itu kita jaga kehormatannya, kita ambil ilmunya ya. Karena kata para ulama, daging ulama itu beracun. Menggibah ulama itu musibah, Pak, untuk kehidupan kita. Makanya musuh-musuh Islam, Pak, di antara cara mereka menghancurkan Islam dengan cara apa, Pak? Hah? Membunuh karakter para ulama.
(17:39) Dicari-cari kesalahannya, dicari-cari kekurangannya. Kemudian apa? Diviralkan. supaya apa? Supaya menjauhkan masyarakat dari ulama yang sebenarnya. Itu tujuan mereka, saudarakuiman rahimani warahimakumullah jamian. Maka dari itu ya akhi, ketika masyarakat jauh dari ulama, apa yang terjadi, Pak? Akhirnya mereka kehilangan apa? Kdwah, uswah.
(18:10) Akhirnya yang dijadikan uswah siapa coba? bintang film, penyanyi, tukang gulat. Itu yang jadikan uswah. Karena apa? Karena ulama sudah dihancurkan sehancur-hancurnya ya. Sehingga berhasil, Pak, tipu daya orang-orang kafirin untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Dengan cara apa tadi? Mematikan karakter para ulama.
(18:42) membunuh ya karakter para ulama dengan cara membulinya, merusak kehormatannya dan yang lainnya. Padahal tegaknya Islam adalah dengan adanya ulama. Ya, menghormati ulama sama saja kita membantu tegaknya Islam. Karena ul Islam itu apa? Tegak dengan ilmu dan amal. Kita butuh ilmu dan amal. Ikhwat Islam saudarus iman kata beliau h wa inna min adamfati qri ahlil wif makanatihim alidna ulama umah wauq millah wa ahlal walqha lafqah ilmil haid nifas.
(19:39) Kata beliau, ketika kita tidak paham tentang kedudukan ulama dan tidak menjaga kehormatan para ulama, ya, maka muncullah orang-orang yang berusaha untuk merusak kehormatan para ulama dengan mengatakan apa katanya, “Alah itu ulama tahunya tentang haid dan nifas doang.” Iya, akhirnya karena dengan tuduhan-tuduhan itu, ah ulama ini penjilat, ini ulama penguasa, ah ini ulama subhanallah seperti ya Syekh bin Bas dituduh seperti itu, Pak.
(20:19) Syekh Utsimin dituduh seperti itu. Ya, jadi siapa yang diulamakan coba? Akhirnya Pak Usamah bin Laden dan itu masyaallah saya pernah waktu dulu itu di Pondok Kopi kalau enggak salah ya saya ceramah ya tentang hukum bom bunuh diri. Setelah selesai kajian, ada seorang pemuda tinggi besar, dia ngajak debat. Dia bilang, “Saya tidak setuju.
(20:58) Anda mengatakan, ya pembunuh diri itu bukan syahid.” Saya bilang, “Loh, saya kan dari apa? Saya kan bawa perkataan para ulama. Saya bawa perkataan Syekh bin Bas, Syekh Utsimin, Syekh Fauzan dan masyaikh yang lainnya. Kata dia apa Pak? Saya juga punya ulama. Siapa ulama kamu? Usama bin Ladin. Hah? Ya.
(21:32) Ketika para ulama yang hak itu sudah tidak diakui, akhirnya yang diulamakan siapa, Pak? Kata saya, “Dari mana Usamah bin Ladin nuntut ilmu? Dia enggak punya guru ya. Sekolah di mana dia? Subhanallah. Orang kalau sudah salah mengulamakan, Pak, kholas rusak agamanya dia, Pak. Hancur agamanya. Saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Mimat alikal minhimqlil minqhim.
(22:10) Sehingga akibatnya apa? Akibatnya meremehkan kedudukan para ulama. Ya, tidak lagi menghormati para ulama. Wasarfulasil ifadati minhum. Akibatnya apa? Dia membantu menghalang-halangi manusia untuk bisa mengambil manfaat dari para ulama yang hak. Ya, wahya maqalatun fasidatun waalimatun kirah.
(22:42) Dan tentu itu adalah sikap yang berbahaya sekali saudarakuiman. Ya nasyaat qadiman in arbabil bid ahlil ahwa. Dan itu sudah muncul semenjak dulu. Dilakukan oleh siapa? Para ahli bidah yang benci kepada ahlusunah dan para ulama sunah. Maka yang mereka lakukan apa? Merusak kehormatan para ulama sunah. Ya, menjatuhkan mereka. Ikhwat Islam saudarakus iman warahimani warahimakumullah jamian.
(23:19) an ahil maqah la yaslamul wahid minhum min ahadi tawaju dan kebanyakan kata beliau orang-orang yang apa merendahkan para ulama yang hakiki orang-orang yang merusak kehormatan ulama yang betul-betul berpegang kepada kitabullah dan sunah rasul sallahu alaihi was itu enggak lepas dari dua kata beliau immat Matawa John sufi yang pertama orang tasawuf, orang sufi.
(23:56) Tahu kan orang sufi Pak? Bukan singkatan sumpek pikiran, Pak. Tasawuf itu sebuah firqah yang mereka itu tadinya tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah. Tapi caranya bukan dengan menuntut ilmu, tapi dengan semedi. Dan mereka mengklaim katanya punya ilmu laduni. Dan tasawuf ini memang paling anti dengan ilmu hadis terutama.
(24:30) Bahkan mereka kalau antum baca kitab-kitab tasawuf mengejek para para ahli hadis. Kata mereka apa? Kalian para ahli hadis sanadnya dari mayat ke mayat. Hadna haddasana fulan. Si fulan mayat. An fulan mayat. Adapun kami dari hidup ke hidup. Haddasana qolbi anbi ya. Orang tasawuf keyakinannya begitu, Pak ya. Mereka punya keyakinan kalau sudah sampai derajat tinggi, sudah sampai makrifat, itu enggak butuh lagi syariat.
(25:21) Ikhwat Islam saus iman biil maqilis minati. Di mana orang-orang tasawuf itu, Pak, berusaha untuk ya menjatuhkan kehormatan ilmu dan ulama. Karena memang kalau ilmu itu tersebar di suatu tempat, pasti tasawuf enggak bakal laku. Tasawuf itu lak ya larisnya di mana, Pak? Di tempat yang di situ enggak ada ulama. Ketika di situ ulamanya sedikit, enggak ada ilmu, tasawuf pasti laris.
(26:03) Tapi kalau di tempat yang di situ ada ulama yang betul-betul paham tentang kitabullah, sunah Rasulullah dan apa yang dipahami oleh para salafus saleh, enggak laris itu, Pak. Karena tasawuf itu dasarnya apa? Mimpi dasarnya apa? Ya, firasat-firasat yang mereka anggap itu karamah.
(26:29) Ya, tasawuf itu kan kebanggaannya cuma nyeritain tentang karamahkaramah. karamah gurunya bisa nembus langit. Guru saya bisa bolak-balik ke surga 70 kali sehari ya. Kerjaannya cuma nyebutin karamah aja, Pak. Ya, enggak punya ilmu sama sekali, Pak. Karena seperti itu tasawuf, saudaraku saya. Makanya ya mereka benci banget kepada orang-orang yang betul-betul apa? berdakwah dengan ilmu.
(27:05) Sebab ketika orang berdakwah dengan ilmu, habis mereka, Pak. Habis. Makanya mereka akan terus memerangi akhi ya orang-orang yang berdakwah di atas ilmu tafdil ibadahri alaih bau haiahwiahah lailatan bilqsusi orang-orang tasawuf zaman dulu itu mereka lebih memperhatikan tentang ibadah zikir begitu. Lalu menganggap itu apa itu ulama ya cuma bahas ilmu, ilmu, ilmu.
(27:53) Yang penting tuh amal kata mereka. Akhirnya apa? Gara-gara ucapan itu mereka enggak mau menuntut ilmu. Yang penting ibadah, ibadah, ibadah, ibadah, ibadah. Ya, mereka menceritakan tentang kisah Rabiah al-Adawiyah yang katanya ia salat semalam suntuk sampai subuh. Ya wa janiha baitun fi faqih yukarir ababil haidah.
(28:23) Dan di samping Rabiah aladawiyah ada seorang fakih yang yang mengulang-ulang tentang bab dan masalah haid sampai pagi. Falama asat raiah qolat lahu ya had wasal wasilabbihim mustagilunin nisa. L Rabiah berkata kepada ulama itu, “Kamu ya sibuk bahas tentang haidnya wanita sementara orang sudah sampai ke derjat yang tinggi.
(28:52) ” Dianggap remeh gitu, Pak. Padahal orang kalau enggak paham tentang fikih haid bisa apa? Ibadahnya rusak, Pak. Iya. Perempuan kalau enggak paham enggak paham fikih haid, rusak ibadahnya. Terus mau menganggap remeh ilmu. Subhanallah. Pernah seorang ahli ibadah ngirim surat kepada Imam Malik, menasihati Imam Malik agar ya fokus kepada ibadah. Maka Imam Malik pun membalas suratnya.
(29:31) Kata Imam Malik, “Apa? Sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada hamb-Nya berbeda-beda. Engkau diberikan rezeki oleh Allah ibadah dan aku diberikan oleh Allah rezeki ilmu. Dan saya yakin yang aku lakukan ini tidak lebih baik daripada apa yang kamu lakukan. Wasalam.
(30:00) Artinya beliau tetap menjaga perasaan dia. Iya. Tapi seluruh ulama sepakat ya, bahwa ulama jauh lebih baik daripada ahli ibadah. Dan hadisnya sahih dalam masalah ini, Akhal Islam. Makanya kata Imam Ibnu Siyab Az-Zuhri ya, satu ulama itu lebih berat digoda setan dibandingkan 1000 ahli ibadah. 1000 ahli ibadah yang enggak paham ilmu mudah dipermainkan oleh setan, Pak.
(30:35) Tapi seorang ulama dengan ilmunya dia paham bahwa ini waswas setan, ini kudaan setan dan yang lainnya. Ikhwat Islam saudaraku iman rahimani warahimakumullah jamian. Waliza daaba alahi alil wat tahdir min. Makanya kemudian orang-orang tasawuf melarang murid-muridnya untuk menuntut ilmu. Iya.
(31:08) Ken kenapa? Karena menurut mereka cukup kita ibadah saja sudah. Akhirnya mereka bikin apa, Pak? Zikir-zikir, muncul tarekat-tarekat. Iya. Kemudian mereka bikin-bikin lagi wirid-wiridnya. Kemudian mereka bikin lagi cara-caranya. Saya punya teman, dia di Tarekat Naqsyabandiah 10 tahun. Dia cerita ke saya, saya dulu, Ustaz sudah sampai derjat tinggi Ustaz.
(31:44) Jadi kalau zikirnya itu malam-malam, Pak, di tempat yang gelap. Ketika wirid itu yang dibayangkan wajah mursyid, ya. Nah, nanti setelah 5 menit tiba-tiba terang, Ustaz. Nah, itu mereka sebut dengan istilah mukasyafah, Pak. Terbuka kirai gaib gitu, ya. Makanya mereka itu disibukkan dengan itu, Pak. Wirid-wirid itu, Pak.
(32:21) Ya, tingkat tingginya mereka itu zikirnya bukan lailahaillallah lagi, Pak. Tapi apa? Hua hua hua hua hua hua hua. Iya. Nanti setelah itu mereka pingsan. Kalau sudah pingsan katanya sudah sampai derajat fana. katanya. Uh, ini istilah mereka bikin-bikin istilah seperti itu.
(32:51) Sama sekali enggak ada dalilnya dari Al-Qur’an, tidak pula dari sunah, tidak pula dari perbuatan para sahabat. Apa pernah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seperti itu? Mengajarkan kepada umatnya ya akal Islam. Bahkan dalam dunia tasawuf ada namanya wali majdub. Jadi suatu kondisi seseorang mau sampai derajat wali agak sedeng. Seperti antum lihat di YouTube itu ada orang enggak pakai baju ngerokok.
(33:24) Wah orang-orang nih ini wali ini wali majdub. Lailahaillallah. Makanya kemudian Ibnu Taimiyah menulis kitab apa? Aluliyaullah laisu bimajanin. Wali-wali Allah bukan orang gila. Apa pernah ada seorang sahabat mau jadi wali gelok dulu Pak sedeng gitu? Enggak ada. Abu Bakar manusia terbaik setelah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(33:54) Umar manusia terbaik setelah Abu Bakar as-Siddiq radhiallahu anhu ardh. Iya. Makanya ya, Akhi, antum lihat tasawuf ini digunakan oleh para penjajah untuk merusak Islam sampai hari ini. Karena ya dikirimi oleh teman ceramah seorang sufi bisa di Arab sana, Pak. Dia berbangga. Oh, kami ini katanya ya diundang oleh Presiden Amerika Donald Trump ke Gedung Putih.
(34:33) Tujuannya bahwa kami akan digunakan untuk memerangi dakwah salafiah dengan bangganya Pak Dia. Iya. Bahkan seorang sufi itu Jufri itu siapa namanya saya lupa itu. Dia mengatakan bahwa mencintai Netanahu itu siapa itu yang Israwel itu. Iya. Itu katanya termasuk kesempurnaan iman. Orang sufi loh, Pak yang ngomong begitu. Itu, Pak.
(35:08) Karena orang sufi itu punya keyakinan apa, Pak? Ya, orang sufi itu punya keyakinan apa namanya? Ee menunggali wihdatul wujud. Wihdatul wujud. Tahu kan wihdatul wujud? Di mana semua yang kita lihat itu adalah jelmaan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan ini ya wihdatul wujud yang paling sesat itu adalah wihdatul wujudnya Ibnu Arabi yang meyakini bahwa Allah bersatu dengan makhluk.
(35:49) Sehingga yang kita lihat dari makhluk itulah penjem penjelmaan dari Allah. Sampai Ibnu Arabi berkata, “Tidaklah anjing dan babi kecuali penjelmaan dari Allah.” Makanya dikafirkan oleh Imam Ghazali. Dan pengikutnya sampai hari ini banyak masalahnya, Pak. Dan dari keyakinan wihdatul wujud itulah muncul keyakinan apa? Semua agama sama.
(36:20) Orang yang menyembah patung sebetulnya menyembah Allah. Kenapa? Karena Allah bersatu dengan patung. Ya, makanya tidak aneh, Pak. Mereka kemudian memuji orang yang menyembah berhala. enggak masalah. Karena keyakinannya itu yang sangat sesat sekali. Makanya mereka sangat benci kepada dakwah tauhid. Sangat benci kepada apa? Dakwah tauhid. Ya, mereka menganggap dakwah tauhid itu katanya melecehkan para wali.
(36:56) Karena masalahnya mereka mempertuhankan wali. Bahkan mereka meyakini wali lebih tinggi daripada nabi dan rasul. Sampai pentolan mereka Abul Bisto mengatakan begitu. Maqamun nubuwah fil barzakhi fuq rasulunal wali. Kedudukan nabi di alam barzakh di atas rasul di bawah wali.
(37:23) Nabi kata mereka di atas rasul di bawah wali. Berarti yang paling tinggi apa? Wali. Di bawah wali nabi, di bawah nabi rasul. Subhanallah. Dibalik sama mereka, Pak. Kalau kita ahlusunah punya keyakinan di yang paling tinggi siapa? Rasul. Di bawahnya nabi baru wali. Sama mereka dibalik. Ya, bahkan mereka hampir tidak bisa membedakan antara wali dengan Allah.
(37:53) Karena menurut mereka wali itu bersatu dengan Allah Subhanahu wa taala. itu ada, Pak. Silakan baca buku yang ditulis oleh Dr. Fadl Ilahi yang berjudul Darah Hitam Tasawuf dan Sejarah Hitam Tasawuf. Beliau menulis buku itu langsung merujuk kepada kitab-kitab tasawufnya langsung. Ikota Islam, Saudaraku iman rahimani warahimakum jam. Ini bukan sebatas hisapan jempol Pak.
(38:23) Ya akhal Islam saudaraku seiman. Nah ini akhi kama yaakulu ahaduhum sebagaimana salah seorang sufi berkata afatul murid salat attawuj wa kitabatul hadis wal asfar. Salah seorang salah seorang kaum sufi tasawuf berkata begini. Penyakit murid itu tiga. Yang pertama menikah, yang kedua belajar ilmu hadis, yang ketiga kitab asfar.
(39:05) Jadi menurut mereka tiga ini yang bisa menghalangi seorang murid untuk sampai kepada Allah. Katanya apa? Itu menikah. Karena dalam dunia tasawuf menikah itu dianggap cinta dunia, Pak. Ya, Kak zaman sekarang untuk orang yang ninggalin istri dan anaknya hanya untuk katanya istilahnya dakwah lah gitu ya.
(39:37) 7 hari, 40 hari enggak dikasih nafkah katanya. Kalau masih mikirin anak istri masih cinta dunia kamu. Lailahaillallah. Padahal kata Rasul Sallah Wasam apa? Kafa bil marud yaqu. Cukuplah bagi seseorang dosa dia menyia-nyiakan orang yang harus dia tanggung hidupnya. Saudaraku iman. Yang kedua yang mereka harus jauhi seorang murid apa? Mencatat hadis.
(40:08) Ya. Yang ketiga apa? Mereka harus menjauhi kitab-kitab ilmu baru dia bisa jadi murid yang benar. Ya, subhanallah. Kalau seperti ini jadinya hancur, Pak. Rusak. Makanya enggak enggak aneh. Penjajah dulu menggunakan tasawuf untuk merusak Islam. Karena tasawuf yang paling enggak suka sama ilmu. Enggak suka mereka.
(40:38) Ilmu yang paling dibanggakan apa? Ilmu laduni. Ilmu laduni ya. Ikhwat Islam kasa iman. Nah, ini kelompok yang pertama, Pak, yang mereka itu enggak suka ulama ya. Maksudnya ulama-ulama yang betul-betul berpegang kepada Al-Qur’an dan sunah. Kelompok yang kedua kata beliau, waim tawajuhun fikri yhail maqhamat fikriah aqliahunin waham.
(41:26) Yaitu para pemuja akal di mana mereka ingin supaya manusia lebih mendewakan akal, Pak. Ya, sehingga mereka jatuh kepada apa? Sebatas perkiraan-perkiraan akal, dugaan-dugaan akal. I sehingga mereka menganggap ya akalah yang harus menjadi apa? Sandaran. Al-Qur’an, hadis itu ah itu di bawah akal katanya. Sehingga mereka bikin kaidah, setiap dalil yang bertabrakan dengan akal wajib ditolak atau ditakwil sesuai dengan akal.
(42:10) Orang kalau sudah mendewakan akal khas pak ya mereka akan meremehkan ilmu. Mereka akan meremehkan para ulama yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan ini, Pak, keyakinan siapa? Muktazilah. Demikian pula yang mirip dengan Muktazilah, yaitu dari kalangan kaum Asyairah yang terakhir pengikut Fakhrur Rzi.
(42:39) Iya. Ikhwat Islam, saudaraku sean rahimani warahimakumullah jamian. Sudah masuk isya belum? Ruya an Ismail bin ulayah q hadani q takama wasil bin yauman faq amr bin ubaid alasmaun maamul hasan wirinama tasmaun illaqidin mulqo diriwayatkan dari Ismail bin Ulayyah ia berkata menceritakan kepadaku Alyasa dia berkata Kata Wasil bin Atha suatu hari berbicara lalu Amr bin Ubaid tokoh Muktazilah berkata, “Tidakkah kalian mendengar itu? Tidaklah ucapan Al-Han Albashri Muhammad bin Sirin ketika kalian mendengarnya kecuali bagaikan kain haid yang
(43:44) dilemparkan yang dibuang.” Lihat ya. Amr bin Ubaid ini seorang pentolan Muktazilah, Pak. Dia meremehkan Al-Han Albasri, Muhammad bin Sirin. Padahal itu ulama-ulama tabiin semua, ulama-ulama masyhur. Apa katanya? Ah, ucapan Muhammad bin Sirin Al-Han Albasri bagaikan apa? Softek istilahnya, Pak. Kayak softech buat itu. Kemudian dibuang ke samba itu.
(44:18) Iya. an zaiman min z ahlil bid yuridu tafdilal kalam alqh dan diriwayatkan bahwa ada seorang pentolan muktazilah ingin lebih mengutamakan ilmu kalam daripada ilmu fikih ya apa kata dia inna ilma syafi’i wa abi hanifah jumlatuhu la yaklut min sarawiil imraah ilmunya syafi’i dan abu hanifah itu katanya enggak lepas dari celananya perempuan.
(44:55) Ngejeknya begitu, Pak. Ya, padahal Imam Syafi’i masyaallah ilmunya menjadi rujukan para ulama setelahnya, Pak. Siapa yang enggak butuh dengan ilmu Syafi’i? Sampai Imam Baihaqi berkata, “Seluruh ulama setelah Syafi’i ya merasa berjasa terhadap Imam Syafi’i. Karena beliau yang telah meletakkan berbagai macam ilmu ilmu-ilmu din.
(45:20) ” sudah masuk. Nam ikhwatal Islam. Untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *