Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc. – Ushul Ad-Da’wah As-Salafiyyah

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc. – Ushul Ad-Da’wah As-Salafiyyah – YouTube

Transcript:
(00:00) Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ba’du iklakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun Anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Kadio Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan kami mengucapkan
(00:36) selamat menyimak semoga bermanfaat. Roja TV Anda para pemirsa TV. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu waastagfiruh wa nauzubillahi min syururi anfusina wasayiati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhillalah.
(01:30) Waman yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulah haqqa tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqu rabbakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah waalaqa minha zaujaha wab minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulah ylih lakum aalakumagfirakumunubakum willahaasulahu faqad faza fauzan adima amma ba’d fainna
(02:38) asdaqal hadis kitabullah wa ahsanal hadi hadyu muhammadin shallallallahu alaihi wa ala alihi wasallamarral umuri muhdatuha Wa kulla muhdatin bidah. Wa kulla bid’atin dolalah wa kulla dolalatin finar. Alhamdulillah kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa taala pada hari ini, Sabtu malam yang ke-25 dari bulan Jumadil Ula 1447 Hijriah bertepatan dengan 15 November 2025.
(03:26) Kembali kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk duduk bersama di Masjid Jami Albarah dalam sebuah kajian rutin membaca kitab Ushulud Dakwah Salafiyah. Pokok-pokok dakwah salaf yang ditulis oleh Fadilat As Syekh Dr. Abdus Salam bin Barjas. Aul Karim rahimahullah. Selawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa ala alihi wasallam.
(04:03) Pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak. Dengan nama-nama Allah yang husna dan sifat-sifatnya yang ulia, kita berdoa, Allahumma inna nas’aluka ilman nafi’an warizqan thayiban wa amalan mutaqabbala. Allahumma inna nas’alukaliah fid dunya wal akhirah.
(04:33) Allahumma inna nas’alukal waliah fi dinina wa dunyana wa ahlina waina. Allahumur auratina wain raatina wahfadna min baini aidina win khalfina wa aimaninaamailina fauqina naubatika min tahtina allahum amin ahibati fillah jemaah masjid jami alarkah dan juga para pemirsa Raja TV, para pendengar radio Raja dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti kajian ini di mana pun berada.
(05:15) Pada malam ini kita masuk kepada al-aslut tha pokok ajaran dakwah salaf. Yang ketiga, addwatu ilallahi taala ala basirah. Berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala di atas ilmu pengetahuan. berdakwah kepada Allah Subhanahu wa taala di atas ilmu pengetahuan. Ini adalah pokok ajaran atau dakwah salaf yang ketiga setelah seseorang berilmu dan beramal. Setelah seseorang gigih mencari ilmu, gigih mengamalkan ilmu tersebut, maka dia mulai mendakwahkan ilmu tersebut dan berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala memiliki kedudukan yang penting
(06:24) di dalam agama Islam. Dan manusia sangat memerlukan dakwah kepada Allah Subhanahu wa taala. Sebelum kita masuk kepada apa yang disebutkan oleh penulis, saya akan menyebutkan urgensi berdakwah mengajak manusia kepada Allah dan hajat manusia kepada dakwah. Ahibati fillah, afani Allah wayyakum. Kaum muslimin yang saya cintai karena Allah.
(07:04) Semoga Allah subhanahu wa taala selalu memberikan afiat kepada kita di dunia dan di akhirat. Fadilat As Syekh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Albadr hafidahumullah di dalam kitab beliau MANatud D’wati ilallah wa ususu dakwati ghairil muslimin. Kedudukan dakwah kepada Allah Subhanahu wa taala dan landasan-landasan berdakwah kepada selain kaum muslimin.
(07:38) Di bab yang pertama beliau menyebutkan, “Ahammiyatud dakwah ilallah wa hajatul basyariyah ilaiha. Pentingnya berdakwah kepada Allah dan hajatnya manusia kepada dakwah tersebut.” Beliau menyebutkan di dalam bab ini bahwa dengan dakwah yatabayyanul huda minadzolal. Akan jelas mana yang petunjuk, mana yang kesesatan. Wal haqq minal batil. Mana yang kebenaran dan mana yang kebatilan. Wal ghai minar rasyad.
(08:15) Mana yang penyimpangan dan mana yang kelurusan. Wal kha minas sadatad. Mana yang kesalahan dan mana yang kebenaran. Wasalah minal fasad. Mana yang perbaikan dan mana yang kerusakan. Wahiya wadifatur rusul wa atbauhum ila yaumil qiamah. Dan dia adalah waaihim ila yaumilqiamah. Dan dia adalah kewajiban para rasul alaihialatu wasalam dan pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat.
(08:58) Di sinilah letaknya urgensinya, pentingnya berdakwah kepada Allah Subhanahu wa taala. Dengan dakwah kita akan mengetahui mana jalan petunjuk dan mana jalan kesesatan. Dengan dakwah kita mengetahui mana jalan yang benar dan mana jalan kebatilan. Dengan dakwah kita mengetahui mana penyimpangan dan mana kelurusan. dan seterusnya sebagaimana yang tadi disebutkan oleh penulis.
(09:30) Kemudian para ikhwan yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala, beliau juga mengatakan bahwa fadwatu ilallahun lil mujtama alladzi tujadu fihi minal minal halaq alajil wal ajil yang artinya maka berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala jaminan untuk masyarakat yang di dalamnya terdapat kehancuran, kerusakan baik di dunia ataupun di akhirat.
(10:13) Ini menunjukkan bagaimana pentingnya dakwah kepada Allah Subhanahu wa taala. Contoh misalkan perzinahan. Kalau seandainya tidak ada dakwah untuk mencegahkan perbuatan zina dan tersebarnya zina dan dianggap biasanya perbuatan zina, maka yang terjadi adalah kehancuran, kerusakan.
(10:43) Baik itu penyakit yang menyebar ataupun kerusakan-kerusakan manusia. Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, lamil fahisyatu hatta yin biha allati lam takun aslaina. tidaklah nampak perbuatan fahisyah di sebuah kaum sampai mereka menampakkannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar di tengah-tengah mereka penyakit taun.
(11:28) Penyakit yang mewabah dengan cepat tanpa ada obatnya dan penyakit-penyakit yang belum ada sebelum mereka. Dalam hadis yang lain dengan lafaz yang lain, faqad ahallu bianfusihimul maut ail halaq. Siapa yang membiarkan perbuatan zina di tengah kaum muslimin, maka mereka telah menghalalkan untuk diri mereka kehancuran, kematian. Jadi tersebarnya penyakit dan juga musibah yang datang dari Allah sebagai siksa dari Allah Subhanahu wa taala. Di sini letak pentingnya dakwah.
(12:09) Itu baru perbuatan zina. Dosa paling terbesar setelah membunuh. Belum lagi perbuatan ke ee kesyirikan yang disebut oleh Allah Subhanahu wa taala di dalam Al-Qur’an sebagai al-fasad, kerusakan di atas muka bumi ini. Dan tidak ada kerusakan yang lebih besar di atas muka bumi ini kecuali kesyirikan.
(12:40) Maka apabila ada dakwah mengajak kepada Allah, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, taat atas perintah Allah, menjauhi larangan-larangan Allah, maka ini daman lil mujtama. Ini adalah jaminan untuk masyarakat sehingga tidak terjadi kehancuran, kerusakan baik di dunia ataupun di akhirat. Kemudian beliau juga mengatakan, “Hajatul ummah iladwatiallahil kh almuklisah allati tusahihu aqaidahumunaqiha minal akdar wasyawabahum ma yajibuillahqihi wtinabi ma yahrum yang artinya hajat manusia kepada dakwah kepada Allah subhanahu wa taala yang murni yang menyelamatkan mereka atas akidah-akidah mereka.
(13:42) Kemudian membersihkan akidah-akidah mereka dari kotoran-kotoran, campuran-campuran. Dan dakwah yang mengajak mereka untuk mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Apa yang wajib atas mereka kepada Allah Subhanahu wa taala dan apa yang wajib atas mereka kepada makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa taala. Dakwah yang melarang mereka untuk mencegah akan yang diharamkan.
(14:12) minil fasadul waahid asqabul maut yang artinya hajat kepada dakwah-dakwah seperti tadi membersihkan akidah mengetahui kewajiban kita kepada Allah mengetahui ee kewajiban kita kepada makhluk-makhluk Allah menjauhi larangan-larangan yang dilangar oleh Allah kemudian mengenalkan kita kepada kerusakan dan agar kita menjauhinya.
(14:54) Ini hajat mereka ini seperti hajat mereka kepada air hujan. Kita sangat memerlukan air hujan. Di Arab Saudi beberapa waktu yang lalu, beberapa hari yang lalu ada salat istisqa karena lama tidak turun hujan. Hajat kita kepada dakwah seperti hajat kita kepada air hujan. Kata beliau seperti itu. Dan seperti hajat kita kepada makanan yang enak dan air yang dingin.
(15:19) Bahkan lebih dahsyat hajat kita kepada dakwah dibandingkan hajat kita kepada makanan dan minuman. Kenapa demikian? Karena siapa yang kehilangan makan dan minum maka ujung-ujungnya kematian. Warubama afdih mautal jannah. Dan terkadang setelah dia mati dia akan masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa taala. Wa amma man faqaddin fahua yatarattabu alaihil khususranul abadi alladzi yufdi bil abdi ilanar walqarar.
(15:49) Adapun akibat tidak ada dakwah kemudian hilangnya agama di tengah kaum muslimin yang menyebabkan kerugian abadi yang menghantarkan seorang hamba kepada nerakanya Allah Subhanahu wa taala dan nerakanya Allah Subhanahu wa taala seburuk-buruk tempat untuk bertinggal. Wa farqun bainal khasaratain kata Syekh.
(16:16) Dan beda antara dua kerugian tersebut. Kerugian karena tidak ada makanan, minuman, ujungnya kematian. Mungkin orang yang meninggal ini akan masuk surga. Adapun kerugian yang tidak ada dakwah, tidak ada ilmu, tidak ada petunjuk, tidak ada bisa membedakan mana yang hak, mana yang batil.
(16:40) ini ujungnya adalah ke dalam neraka kekal abadi di dalamnya dan berbeda antara dua kerugian tersebut kama sebagaimana berbeda antara langit dan sumur maka di sini pentingnya berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala. Nah, itu yang disebutkan oleh Fadilat As Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin sebagai mukadimah.
(17:06) saya bacakan dari perkataan beliau tadi dalam kitab makanatud dakwah Allah. Kembali kita ke kitab-kitab. Penulis Fadilat Syekh Abdus Salam bin Barjas Al Abdul Karim rahimahullah. Beliau berkata, “Idza mannallahu subhanahu wa taala alal muslim bil ilmi wal amal.” Jika Allah subhanahu wa taala memberi nikmat atas seorang muslim dengan ilmu dan pengamalannya.
(17:32) faaihi yubadir yubadiralirwatihimusadi maka hendaknya ia bersegera menyampaikan kebaikan ini kepada manusia menyampaikan kebaikan ini kepada manusia melalui cara mendakwahi mereka, menasihati mereka, memberi bimbingan kepada mereka. Kalau saya ingat-ingat tadi yang perkataan tadi, Subhanallah besar dan ini harus dinasihati para orang tua agar anak-anaknya mempersiapkan agar orang tua mempersiapkan anak-anaknya sebagai pendakwah-pendakwah Islam.
(18:20) Karena kalau seandainya tidak ada regenerasi maka akan hancur manusia. Harus ada orang-orang yang mengajari umat agar para orang tua berani menjadikan anak-anaknya sebagai pendakwah. Karena sekarang di zaman sekarang jujur saja sebagian orang tua bahkan yang kadang-kadang sudah lama ngaji, bahkan yang kadang-kadang sudah titelnya ustaz, anak-anaknya tidak diarahkan untuk menjadi pendakwah.
(18:58) Berdakwah, mengajak manusia kepada jalan Allah Subhanahu wa taala, mengajak manusia untuk mengenal agama Allah Subhanahu wa taala. Padahal dari kecil dari mulai SD di SD Islam Terpadu Tahfiz, SMP masuk pesantren, SMA masuk pesantren. Setelah SMA keluar kemudian belajar umum.
(19:27) Ini saya masih berkeyakinan bahwasanya ini adalah kerugian. tastabdilunadzi hua billadzi hua khair. Apakah mengganti yang lebih baik dengan yang lebih rendah? Orang-orang yang belajar ilmu umum ingin sekali belajar ilmu agama. Nah, kenapa ente dari semua sudah mulai kecil diajarkan sampai SMP sampai SMA kemudian ke umum? Alangkah indahnya nanti kita akan bahas bagaimana indahnya seorang pendakwah kepada Allah Subhanahu wa taala.
(20:03) Makanya para ikhwan yang dirahmati oleh Allah, kalau sudah berilmu dan beramal, pokok dakwah salaf adalah mendakwahkannya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri mendakwahkannya. Kemudian penulis berkata, “Fa inna hadza hua amalul anbiya alaihimusam.” Dakwah kepada Allah, memberikan nasihat kepada manusia, memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus kepada manusia adalah pekerjaan profesi para nabi alaihialatu wasalam.
(20:36) Alangkah indahnya seorang anak kita mencontoh kerjaannya para nabi alaihialatu wasalam. Kenapa diganti dengan yang umum-umnya ikhwah? Kemudian para orang tua juga dicekoki dengan perkataan tidak semua orang harus jadi ustaz. itu ada sedikit racun-racunnya dan diterima oleh sebagian lembaga pendidikan yang mengusung dakwah sunah lagi.
(21:03) Ini saya menasehhati, jangan sampai lembaga-lembaga pendidikan Islam membuka takhasus takhasus agama. Padahal lembaga pendidikan Islam membuka takhasus agama. Kok bisa, Ustaz? Iya. Karena lembaga pendidikan Islamnya lebih condong kepada ilmu-ilmu umum dibandingkan ilmu-ilmu agama. Dan itu sudah terjadi.
(21:35) Beberapa orang yang membuka lembaga pendidikan Islam kemudian di dalamnya membuka lembaga pendidikan takhasus khusus agama. Ini kan aneh itu lembaga pendidikan Islam khusus agama. Kok bisa? Nah, ini harus dinasihati kaum muslimin agar mempersiapkan anak-anaknya menjadi para pendakwah yang merupakan pekerjaan para nabi alaihialatu wasalam. Yaakulullahu taala an nabihi alaihalam.
(22:14) qul hadi sabili adu ilallahi ala basirah ana waman itabaan dalilnya adalah Allah subhanahu wa taala berfirman kepada sallallahu alaihi wasallam katakanlah wahai Muhammad sallallahu alaihi wasallam inilah jalanku mengajak kepada Allah di atas ilmu pengetahuan aku dan orang-orang yang mengikutiku ee kita baca tafsir dari ayat ini. Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
(22:44) Imam Ibnu Katsir rahimahullahu taala berkata, “Yaquulullahu taala liabdihiasuliqin alinuqahuakahuatahu wahwu syahadati alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah yadu ilallahi biha ala birah minzalik waqinin wa burhanin Washan syariin wa aqliin yang artinya Allah subhanahu wa taala berkata kepada hambanya dan rasulnya nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam agar mengatakan kepada selu tsaqalain kepada dua makhluk yang yang besar yang banyak yaitu jin dan manusia yaitu inilah jalannya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ini adalah
(23:49) napak tilasnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ini adalah ajarannya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Berdakwah itu ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Manusia yang berdakwah berarti dia sedang menjalani ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. yaitu berdakwah kepada syahadat lailahaillallah wahdahu la syarikalah.
(24:14) Mengajak manusia ke jalan Allah di atas ilmu pengetahuan, keyakinan dan petunjuk. Dan siapa saja ini inti pendalilnya siapa saja yang mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, berarti dia mencontoh perbuatan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya. Seluruh nabi dan rasul diutus oleh Allah Subhanahu wa taala untuk berdakwah.
(24:46) E Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya begitu banyak. Ubudullah maum ilahin ghairuh. Para nabi berkata Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Hud, Nabi Saleh, Ubudullah maum min ilahin girir beribadahlah kalian kepada Allah. Tidak. Kalian tidak memiliki Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah. Pekerjaan para nabi. Dakwah adalah pekerjaan para nabi.
(25:14) Maka alangkah indahnya ketika seorang manusia mengambil profesi para nabi alaihialatu wasalam yaitu berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala. Ini para ikhwah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. As Syekh Abdur Razzaq di dalam kitabnya tadi makan dakwah ilallah beliau mengatakan fi hadil ayah alikbar biilan nabiil karim alaihalamlakahuqahuikaanwatuallah di dalam ayat yang mulia ini surah Yusuf ayat 108 Del terdapat kabar bahwa jalan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan napak tilas Rasul sallallahu alaihi wasallam, metode Rasul sallallahu alaihi wasallam dan juga orang-orang yang mengikuti
(26:15) beliau dengan baik adalah berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala. Berarti siapa yang ingin mengetahui dirinya mengikuti Rasul sallallahu alaihi wasallam dengan baik atau tidak, maka hendaklah dia mengerjakan dakwah kepada Allah subhanahu wa taala. hendaklah dia mengerjakan dakwah kepada Allah subhanahu wa taala.
(26:40) Berarti kita bisa ambil ringkasan salah satu fadlud dakwah. Keutamaan berdakwah. Orang yang berdakwah adalah meniti jalan Nabi, mengambil profesi Nabi, mencontoh profesi Nabi Muhammad dan nabi-nabi alaihialatu wasalam lainnya. Alangkah indahnya pekerjaan yang seperti ini. Kemudian beliau berkata, penulis fadilat Syekh Abdus Salam bin Barjas Al Abdul Karim rahimahullah.
(27:13) Wallahu subhanahu wa taala rafaa manzilatad ilaihi al giir. Allah Subhanahu wa taala mengangkat kedudukan pendakwah kepada Allah di atas selainnya. Ini salah satu keutamaan lain dari orang yang berdakwah. Orang yang berdakwah diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa taala dibandingkan kaum muslimin yang lainnya.
(27:42) Orang yang berdakwah ucapannya paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Orang yang berdakwah ucapannya paling bagus di sisi Allah Subhanahu wa taala. faqala azza wallah subhanahu wa taala berfirman ini dalilnya waman ahsanu mimman daaallah waila shihan waq innani minal muslimin yang artinya dan siapakah yang lebih baik ucapannya dari orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal saleh dan ia berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang beragama Islam.
(28:24) Surat Fussilat ayat 33. Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah, perhatikan penafsiran ayat ini baik-baik. Ee saya bacakan dari kitab Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Manan, Tafsir Assa’di. Fadilat Syekh Abdurrahman bin Nasir Ass’di rahimahullah. Beliau mengatakan ketika Allah berfirman, “Waman ahsanu, siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah?” Yang dimaksud dengan kata siapakah? Alisttifham huna lit takqrir a la ahada ahsana mimman daa ilallah. Yang dimaksud dengan pertanyaan siapakah
(29:11) ini untuk penetapan maksudnya adalah peniadaan. Bagaimana itu? Artinya tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapannya daripada orang ee dibandingkan orang yang berdakwah kepada Allah. Bitlimil jahilin dengan cara mengajarkan orang-orang bodoh. Wail gfilina wal muidin.
(29:41) Memberikan nasihat kepada orang yang lalai dan orang-orang yang berpaling dari agama Allah. Sedikit saya menyimpang tentang kata lalai. Ada perkataan menarik dari ee Syaikhul Islam Ib Taimiyah rahimahullah. Beliau mengatakan, “Aslu kullil maksih alghahflah wasyahwah.” Sumber segala maksiat adalah kelalaian dan hawa nafsu. Dan itu yang terjadi zaman sekarang. Dan sangat irani lilasaf.
(30:15) Lilasab sangat irani kepada orang yang sudah ngaji akan tetapi hilang fokusnya gara-gara sibuk dengan barang yang selalu dia pegang. Bahkan sampai ke kamar mandi dia pegang. Sampai sebelum tidur dia pegang apa itu HP? Menghilangkan fokus. Dan ini sudah ada penelitiannya. Orang jadi otaknya jadi hilang fokusnya gara-gara sibuk. Belum mencerna yang satu dia scroll yang lain. Belum mencerna yang satu dia scroll terus.
(30:48) Kelalaian. Siapa yang bisa memberikan nasihat seperti itu? Tidak ada lain kecuali orang berdakwah. Kalau tidak ada pendakwah semuanya ke umum, siapa yang akan menjadi pendakwah? Para ikhwah, hati-hati itu para wali santri yang memberikan masukan-masukan kepada lembaga-lembaga pendidikan. Ustaz, tolong adakan yang umum.
(31:15) Akhir karena semua kan tidak semua orang harus jadi ustaz. Akhirnya 60 70% lulusan pesantren ke umum semua. Lalu siapa yang mau jadi pendakwah? Siapa yang mau menjadi meneruskan menuntut ilmu agama, menjadi ahli ilmu agama? Yang mana ilmu agama adalah dasar agar bisa berdakwah. Ini hati-hati para ikhwan yang dirahmati oleh Allah. Dan orang tua, wallahuam.
(31:43) Saya khawatir orang tua menzalimi anaknya kalau seandainya anaknya diarahkan ke umum setelah dia belajar ilmu agama dari mulai TK, SD, SMP, SMA. Para ulama terdahulu belajar agama dari mulai semenjak dini agar bisa menjadi ahli ilmu agama.
(32:08) Lah ini baru pertengahan SMA tidak dilanjutkan dia untuk menuntut ilmu agama. Dan kita tahu betul kalau sudah masuk ke umum maka porsi belajar ilmu agamanya tidak benar. Dan saya sering mengatakan belajar ilmu agama bukan tujuan untuk menjadi ustaz, tetapi tujuannya adalah untuk menjadi innalladzina amanu waamilus shihat ulaika humirul bariyah.
(32:33) Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal saleh merekalah manusia-manusia yang terbaik. dan belajar ilmu agama sampai SMA di pesantren. Kemudian kuliahnya ke umum tidak cukup menjadi orang-orang yang terbaik beriman dan beramal saleh. Begitu cara berpikirnya. Apalagi kalau seandainya anaknya ingin melanjutkan belajar ilmu agama. Tidak ada keluhan dari sang anak. Saya ingin menuntut ilmu agama. Lanjutkan.
(32:58) Jangan takut. Semua sudah dibagikan oleh Allah Subhanahu wa taala tentang rezekinya. Innallaha qasama aklaqokum kama qasama arzaqakum. Sesungguhnya Allah telah membagikan akhlak-akhlak kalian sebagaimana Allah telah membagikan rezeki-rezeki kalian. Dan saya khawatir para ikhwah dan ini khusus kepada yang sudah ngaji lama terutama dan sudah mulai mengusung mengikuti dakwah sunah.
(33:32) Hati-hati kadang-kadang berpikiran menghentikan pembelajaran anak dari ilmu agama. Saya khawatir dia terlalu mengikuti dunianya yang dia tidak akan pernah bawa. Hati-hati kelalaian. Ini saya tadi menasihati karena ada kata-kata kelalaian. Saya ulangi. Maksud daripada waman ahsanu mimman daa ilallah. Siapakah? Siapakah? Ini bukan untuk dijawab. Para ulama mengatakan sering kata-kata yang seperti ini maksudnya adalah lqrir untuk menetapkan wnah nafi dan maknanya adalah peniadaan.
(34:06) A la ahada ahsana mimman daaallah bitlimil jahilin wail gilin wal min. Tidak ada peniadaan. Tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapannya daripada seorang yang berdakwah kepada Allah dengan mengajari orang-orang yang bodoh, memberi nasihat kepada orang-orang yang lalai. Lalai.
(34:34) Lalai enggak fokus, enggak pernah baca Quran hari-hari enggak pernah baca Quran. Kemudian enggak pernah mau duduk di majelis ilmu. Berkurang majelis ilmu. Majelis-majelis ilmu berkurang. Yang offline ya. Yang online saya sering mengatakan perkataan Syekh Saleh Al-Utsimi rahimahullah, online itu bagaikan tayamum. Kalau tidak ada air baru online ya.
(35:08) Karena kalau sudah online sampingnya martabak pisang goreng. Ya, habis itu ustaznya lanjut kajian, dia tidur habis martabaknya hadir majelis ilmu. Dan begitu dari dulu, dari mulai zaman Jibril Alaih Salam belajar kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam, duduk bersimpuh di hadapan seorang guru begitu duduk sampai sekarang. Ini para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
(35:40) Kemudian yang lebih penting lagi wujalatilin dan menyanggah orang-orang yang batil. Waq bilibatahwa dan menegakkan perintah untuk beribadah kepada Allah dengan seluruh jenis macam ibadah. Siapa yang bisa mengajari seperti itu? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah kepada Allah Subhanahu wa taala. Ini sangat lil asab.
(36:07) Sangat disayangkan kalau sudah ada sebagian besar lebih daripada 50% lembaga pendidikan Islam kemudian tidak melanjutkan ke umum dengan dalih tidak semua orang jadi ustaz. L siapa yang berdakwah nantinya para ikhwah? Siapa yang berdakwah ini? Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Nah saya lanjutkan. dan perintah untuk mengerjakan ibadah tersebut dan mengerjakan ibadah yang terbaik sesuai dengan kemampuan. Siapa yang bisa ngajari seperti itu? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah.
(36:46) Kita sekarang harus naik kelas dalam ibadah. Bukan hanya sekedar selesai tunai kewajiban salat magrib. Bukan. Tetapi bagaimana salat magribnya diterima dan pahalanya besar. Pahalanya besar. Salat magrib yang ihsan. Salat magrib yang kedudukannya tinggi. Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Inulausoli wati illa usruhafa.
(37:21) ” Ada orang salat yang pahalanya cuma 1/10, 1/9, 1/8, 1/7, 1/6, 1/5, 1/3, 1/4, 1/3, setengah. Kita ingin pahala sempurna. Siapa yang bisa ngajari itu? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya tidak ada yang lebih baik ucapannya kecuali orang yang berdakwah.
(37:43) Dibandingkan ucapan-ucapan yang lain, tidak ada yang lebih baik kecuali orang yang berdakwah. Kemudian para ikhwan yang dirahmati oleh Allahu yang artinya tidak ada orang yang lebih baik kecuali orang yang memperingatkan umat untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa taala. Mengatakan kepada umat bahwa ini buruk di sisi Allah Subhanahu wa taala. Wajib kita tinggalkan.
(38:13) Nah, ini penting para ikhwan yang dirahmati oleh Allah. Siapa yang mau nahi mungkar? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah. Harus ada yang nahi mungkar. Kalau tidak kita akan dilaknat oleh Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana Bani Israil lu bani Israil al lisani Daud wa Isa Maryamika bimau yadunu laana munkar faalu ya’alun.
(38:39) Bani Israil dilaknat melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa putra Maryam. Mereka bermaksiat dan melampaui batas. Mereka tidak menegakkan nahi mungkar di tengah mereka. Sungguh buruk perbuatan mereka. Siapa yang bisa melakukan itu? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah. Makanya dakwah harus ada dua sisi, amar makruf dan nahi mungkar. Tidak cukup hanya amar makruf.
(39:08) Basyiran waziran memberikan kabar gembira, amar makruf waadziran memberikan peringatan. Dan kadang-kadang memberikan peringatan nahi mungkar itu tidak disukai oleh manusia. Dicaci maki, dihina, dibuat mem dan seterusnya harus bersabar. Khususan min hadwati ila asli dinil islam tahsini. Ini penting. Terutama terkhusus lagi dakwah ini mengajak kepada pokok agama Islam.
(39:42) Kita di negara yang demokrasi ini akhirnya bebas orang untuk mengutarakan pendapat. Di media-media sosial kita dapati orang menghina Allah, menghina Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan mudahnya tanpa ada batasan lagi. Dan termasuk kekeliruan dan tidak ada yang menangani ini kecuali para pendakwah adalah orang-orang yang menganggap dirinya ingin ilmiah.
(40:13) Lalu dia mendengar podcast, debat-debat antara mualaf dengan orang Islam eh dengan orang Nasrani. Dia anggap itu adalah ilmiah. Enggak ya, Akhi? Itu penuh dengan syubhat nantinya. Kalau seandainya engkau tidak ada dasarnya, tidak ada yang mencegah itu kecuali para pendakwah.
(40:37) Ini para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Watahsinii mujadalati billatihi ahsan. Siapa yang bisa me melawan musuh-musuh Allah subhanahu wa taala, mendebat musuh-musuh Allah dengan dengan ucapan yang lebih baik? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah. Wahyi amma yuduhu minal kufri wasirk. Siapa yang bisa melarang dari ee kebalikan Islam yaitu kekufuran dan kesyirikan? Tidak ada kecuali orang yang berdakwah.
(41:19) Faman lihat faman kana kadalik. Siapa yang keadaannya demikian yaitu para pendakwah. Fahua ahsanunasi qulan. Maka dia adalah manusia yang paling baik ucapannya. Wa asahuhum thqatan. Dan paling baik jalannya. Wa aqwamuhum maslakan. Dan paling lurus jalannya. Itulah para pendakwah. Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
(41:51) Alhan Albashri seorang tabii bertemu dengan pembesar-pembesar sahabat. Ketika beliau membaca ayat ini, waman ahsanu mim daallah. Beliau mengatakan, “Hadza habibullah yang berdakwah ini orang yang dicintai oleh Allah. Hadza waliyullah yang berdakwah ini adalah wali Allah.
(42:14) Hadza safwatullah yang berdakwah ini adalah hamba-hamba pilihan Allah. Had kiratullah yang berdakwah ini adalah hamba-hamba terbaik dari hamba-hamba Allah. H ahabbu ahlil ardiallah. Yang berdakwah ini adalah manusia penduduk bumi yang paling dicintai oleh Allah. Ajaballaha dawatih. Dia memenuhi panggilan Allah untuk berdakwah. Wada ma ajaballaha fi min dawatih.
(42:48) Dan dia mengajak manusia agar berjalan di jalan Allah subhanahu wa taala. Waila shihan fi ijabatih. Dan dia sudah beramal saleh dalam berdakwahnya tersebut. Waqala innani minal muslimin. Dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah.” Hadza khalifatullah. Inilah khalifahnya Allah di atas muka bumi. Para pendakwah.
(43:13) Masa orang tua tidak tertarik anaknya menjadi seperti itu dan masa antum-antum tidak tertarik dengan tugas seperti ini? H khalifatullah. Inilah khalifahnya Allah Subhanahu wa taala di atas muka bumi ini. Ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya perkataan Al-Han Albashri rahimahullahu taala. Makanya Fadilat Syekh Abdul Razak beliau mengatakan walaib tidak ada keraguanna aligha yuha himamulur nufus.
(43:53) yang artinya ee tidak diragukan lagi bahwa pujian yang sangat tinggi ini yuhafizul himam memotivasi tekad waulhibus syuur membakar semangat wau nufus menggerakkan jiwa iladwati ilallah untuk berdakwah kepada Allah. Artinya gini, para ikhwah, kalau sudah dengan penjelasan seperti ini kemudian masih malas berdakwah, dengan apaagi mau dijelaskan? Dengan apaagi mau dijelaskan? Walqiamu biha ala ahsani wajh.
(44:29) Dan hendaknya dia mengerjakan dakwah tersebut dengan sebaik-baiknya. Ini pada ikhwan azan tib habis waktu dan ini tanda kiamat. Cepat sekali waktu berlalu. Allah Taala. Habis azan saya minta waktu sedikit ya. Ikhwat al Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahuakbar.
(45:17) Allahuakbar. Allahuakbar. Eşhedü en la ilahe illallah. Ashhadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar rasulullah. [Musik] Ashadu anna muhammadar rasulullah. Hayya alah hayya alas shah. [Musik] Hayya alal falah.
(46:31) Hayya alal falah. [Musik] Allahu Akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallah. [Musik] Sikit mohon maaf. Ikhwan yang dirahmati oleh Allah. biar habis satu halaman maksud saya. Ee begitulah keutamaan berdakwah. Kemudian penulis menyebutkan lagi Fadilat Syekh Abdul Salam bin Barjas bin Abdul Karim rahimahullah.
(47:19) Amma tsawabihi wa ajrihi fahuaimun liidami amalih. Adapun pahala dari berdakwah ganjarannya maka dia sangat besar. Karena saking besarnya jenis perbuatannya apa pahalanya? ujih orang yang berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala akan memiliki seperti ganjaran pahala orang yang mengikutinya dalam kebaikan tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitp. J.
(48:07) Kalau seandainya ada orang yang berdakwah kemudian ada yang mengikuti dakwahnya, maka yang berdakwah ini akan mendapatkan pahala. Orang-orang yang mengikuti dakwahnya tadi nanti kita akan jelaskan di sini ada masalah. Dia akan mendapatkan pahala. Garis bawahi kata-kata itu. Dia akan mendapatkan pahala. Pahalanya sebesar apa? Nanti kita akan jelaskan.
(48:32) Ada penjelasan para ulama di situ. Tanpa mengurangi pahala orang-orang yang berbuat kebaikan tersebut. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Man daa ila hudan.” Siapa yang berdakwah kepada petunjuk kana lahu minal ajri mla ujuri manabiah, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya.
(49:02) Nah, kata-kata seperti ini apakah benar-benar semisal? Nanti kita akan bahas perkataan para ulama. Laquika min ujurihiman. Pahala-pahala tersebut tidak mengurangi pahala orang-orang yang mengerjakan kebaikan tadi. Ya, ini yang menunjukkan kepada pahala besar dari orang yang berdakwah. Tib.
(49:30) Sekarang permasalahannya terjadi ikhtilaf di antara para ulama. Apa yang dimaksud dengan mendapatkan pahala semisal dengan orang yang mengikuti kebaikan yang didakwahkannya? Saya mengajak antum salat lalu antum salat saya akan mendapatkan pahala semisal dengan yang antum kerjakan dari salat tersebut. Kata-kata semisal ini terjadi ikhtilaf di antara para ulama.
(50:01) Ada yang mengatakan pokoknya dapat pahala. Mutlaqul ajr. Pokoknya dapat pahala. Selama dia berdakwah, dakwahnya dikerjakan maka yang berdakwah dapat pahala. Sebesar apa? Pokoknya dapat pahala. Ada lagi yang mengatakan bahwa annaddallahu mlu ajril fa’ili hakikah. Bahwa yang menunjukkan yang berdakwah akan mendapatkan pahala seperti yang didakwahi mengerjakan kebaikan mendapatkan pahala.
(50:42) Saya misalkan ee mengajak antum untuk baca Quran, mengajak antum untuk berdoa, lalu antum baca Quran, lalu antum berdoa. Sebesar pahala yang antum dapatkan dari baca Quran dan berdoa, sebesar itu pula saya akan dapatkannya. Itu tafsiran yang ke berapa? Kedua. Coba perhatikan sekarang disebutkan di dalam kitab at-Tanwir syarah aljami sagir.
(51:11) Zahirul hadis almusawah. Secara lahiriah hadis ini maksudnya adalah yang berdakwah akan mendapatkan semisal sama persis dengan yang didakwahinya. Seberapa orang yang didakwahinya mengerjakan apa yang dia dakwahkan. Maka ya pendakwah akan mendapatkan pahala sebesar itu. Kemudian beliau mengatakan waqidatus syariah anal ajra ala qadr masyaqqah.
(51:42) Dan kaidah syariat mengatakan bahwa ganjaran pahala sesuai dengan kesulitan. Masyaqqatu man anfaq asar darahim laisa wadullu alaii anna insanan ala qatli akar yazir w yuqtas minhu. Artinya ee kata beliau, orang yang berdakwah akan mendapatkan pahala yang semisal dengan yang didakwahi. Apabila yang didakwahi mengerjakan kebaikan sebagaimana yang didakwahkan. Tetapi kaidah syariat tidak seperti itu.
(52:19) Bahwa ganjaran pahala sesuai dengan kesulitan. Siapa yang bersedekah 10 dirham tidak seperti orang yang menunjukkan menunjukkan ayo kalian sedekah. Maka kemudian antum sedekah. Apakah saya dapatkan pahala sedekah juga sebagaimana yang kalian dapatkan dari sedekah kalian? Di situ khilafnya ada yang mengatakan iya mendapatkan al-ajrul mutlq pahala yang sempurna.
(52:56) Sebagaimana yang didakwahi mengerjakannya mendapatkan pahala maka sebesar pahala yang dikerja yang didapati oleh orang yang didakwah ini yang mendakwahkannya juga mendapatkan pahala. Ini pendapat yang pertama. Pendapat yang kedua enggak mutlaqul ajr. Hanya sebatas pokoknya dapat pahala karena dia yang menunjukkan kebaikan. Karena dia yang menunjukkan kepada kebaikan. Itu khilaf di antara para ulama rahimahullah.
(53:23) Dan Imam Nawawi rahimahullahu taala mengatakan pendapat yang kedua tidak sama pahalanya. yang menunjukkan yang berdakwah tidak sama dengan yang mengerjakan dakwahnya tadi. Kata beliau, “Almuradu anna lahu tswaban kama lifa’ilihi tsawaban.” Saya berdakwah kemudian antum didakwahi, antum mengerjakan apa yang saya dakwahkan antum dapat pahala. Pahala saya juga dapat tapi tidak sama.
(53:53) Wala yalzam any yakuna qadra tsawabihima sawa. Dan tidak harus pahala kita berdua sama. Dan ini lebih condong kepada itu saya ya. Ini penjelasan lebih dalam lagi tentang addal alal khair kafailih. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti pelaku kebaikan tersebut.
(54:17) Nah, kata yang kita yang kita bincangkan dari dari tadi apa? Seperti pelaku kebaikan tersebut. Di situ ada penjelasan di para ulama. Penjelasan yang pertama apa? Pokoknya dapat pahala. Sebesar apa? Pokoknya berpahala. Penjelasan yang kedua bagaimana? Semisal pahalanya sama. Antum saya dakwahi agar bersedekah kemudian antum dapatkan pahala kerjakan sedekah tersebut.
(54:47) Antum dapatkan pahala sedekah tersebut maka menurut pendapat yang kedua, saya pun dapat pahala sedekah sebesar pahala antum. Ini pendapat yang kedua dan kita lebih condong kepada pendapat yang pertama sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama di antaranya Imamnawawi rahimahullah. Ada lagi penjelasan menarik dari Imam Almunawi. Beliau mengatakan, “Bal qad yakunu ajrul dal a’dama.
(55:14) ” Subhanallah. Bahkan terkadang pahala pendakwah lebih besar daripada pahala orang yang didakwahi. Kenapa? Karena orang yang didakwah ini tidak bisa beramal kecuali akibat dakwah yang berdakwah. Makanya manusia yang paling besar pahalanya siapa? Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tugasnya apa? Adu ilallah alas hadi sabili. Ini jalanku.
(55:54) Aku mengajak kepada Allah subhanahu wa taala. Maka para ikhwah saya nasihatkan yang punya anak dari mulai kecil belajar ilmu agama, sekolah agama, TK sudah belajar agama, SD belajar agama. Apalagi ini di samping samping sini saya lihat banyak sekolah-sekolah agama. SMP masuk SAT TV kemudian masuk lagi SMA. Engak rugi kalau seandainya ke umum.
(56:17) Lanjutkan belajar ilmu agama, lanjutkan jadi penuntut ilmu syar’i sampai menjadi ahli ilmu agama. Orang saja yang umum, mereka keluar jor-joran harta untuk menjadikan anaknya ahli ilmu umum. Dan itu hanya di dunia manfaatnya kalau dia tidak niatkan untuk ibadah. Sedangkan ilmu agama manfaatnya dunia akhirat kekal abadi.
(56:51) Ini yang bisa disampaikan. Wallahuam. Mohon doanya untuk kesembuhan penyakit yang saya alami, yaitu sakit syaraf yang ada di tangan dan kaki. Sudah 2 bulan ini terasa tak nyaman untuk aktivitas harian. Dengan nama-nama Allah yang husna dan sifat-sifatnya, kita berdoa, “Allahum rabbanas mudhibil bas isbi anasyafi la syifa illa syifauk syifaan la yadir saqaman wala anama.
(57:24) ” Wallahuam. Bagaimana sikap saya sebagai anak menghadapi seorang ayah dan ayah saya masih pemahamannya umum dan ayah saya tersebut tidak pernah bertanggung jawab atau kirim uang untuk kebutuhan anaknya dan tidak pernah mempedulikan anaknya. Yang paling utama sebagai seorang anak tetap berbakti kepada orang tua, mendoakan orang tua kebaikan.
(57:58) Kezaliman orang tua itu urusan orang tua dengan Allah. Tugasmu sebagai anak berbakti kepada orang tua. Wujud kita, wujud kita ini tidak bisa kita balas jasanya. Meskipun orang tua kita berbuat zalim. Asalkan kita tidak berbahaya nyawa, tidak berbahaya ee kecacatan tubuh, maka kita wajib berbakti kepada kedua orang tua.
(58:39) Karena keberadaan kita asal muuasalnya setelah takdir Allah kemudian orang tua kita. Makanya para ulama mengatakan badiul ma’ruf la yukafa. Orang tua itu yang memulai kebaikan. Sedangkan kita ini berbuat baik kepada orang tua. Kenapa? Karena sudah ada jasa orang tua. Maka kita mulai kita balas. Kita balas orang tua kita jasanya. Tapi orang tua berbuat baik kepada kita memulai kebaikan dan itu tidak bisa dibayar.
(59:09) Itu tidak bisa dibayar. Paham ya para ikhwah? Badiul ma’ruf la yukafa. yang memulai kebaikan tidak bisa dibayar, tidak bisa dibalas kebaikannya. Wallahuam. Dan tugas anak tadi mendoakan orang tua agar saleh. Kemudian juga dia juga ee mendakwahi orang tuanya ya jangan dibenci orang tua karena demi Allah para ikhwan tidak ada dosa yang Allah ingin segerakan siksanya.
(59:49) di dunia di samping Allah sediakan siksanya nanti di akhirat kecuali memutuskan hubungan rahim dan pemutusan hubungan rahim yang paling besar adalah durhaka pada orang tua. Wallahuam. Bagaimana cara mengarahkan anak jika ia memiliki cita-cita seperti menjadi insinyur atau dokter dan biasanya pendidikan tersebut ada di perguruan tinggi umum? bagaimana cara mengarahkan pendidikannya ke pendidikan agama dan melembutkan hatinya supaya bercita-cita menjadi pendakwah? Jawabannya adalah tentunya ini tugas orang tua yang pertama dia hubungi Allah subhanahu wa taala karena semuanya Allah subhanahu wa
(1:00:30) taala yang mengatur. Saya tidak mencela orang yang ke umum, tetapi kerugian yang akan dia dapatkan kalau seandainya dia mulai dari kecil kemudian dia pindah. Adapun dari mulai kecil dia umum-umum lanjutkan ya itu hak dia. Makanya kalau seandainya orang tua ingin diproyeksikan anaknya sebagai pendakwah, ahli agama, ahli ilmu agama, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wa taala agar anaknya dipahamkan ilmu agama dan menjadi ahli ilmu agama. Kemudian yang kedua harus ada usaha.
(1:01:11) Walladina jahadu fina. Orang-orang yang berjuang di jalan kami harus ada usaha. Dari mulai semenjak dini kenalkan dengan majelis ilmu, kenalkan ilmu agama, kenalkan, kenalkan. Sehingga anaknya mengenal ilmu agama. Kenalkan tugas pendakwah, kenalkan dengan para pendakwah, para ustaz yang saleh yang mengamalkan ilmunya sehingga dia ingin untuk juga menjadi pendakwah.
(1:01:42) Kemudian yang ketiga, arahkan dia ke sekolahan-sekolahan yang memang dia ingin ee dia di dalamnya belajar lebih dalam ilmu agama. Karena begini, para ikhwah, antum sekarang yang hadir seperti ini, ini kan kajian baca kitab untuk orang umum. Tapi kalau ingin jadi ahli ilmu agama, dia harus belajar dalam sebuah lembaga pendidikan ahli ilmu agama.
(1:02:09) Karena di dalamnya dia akan belajar ilmu-ilmu yang merupakan pondasi-pondasi dasar ilmu tersebut. Seperti belajar bahasa Arab, seperti belajar nahwu saraf, seperti belajar ilmu ushul fikih, ilmu usul tafsir, ilmu usul pokok-pokok. Karena dia ingin menjadi ahli ilmu agama. Bukan hanya sekedar paham ilmu agama. Enggak.
(1:02:40) Dan saya sering mengatakan yang jemaah dan tidak memposisikan dirinya belajar dalam ilmu agama tetap akan menjadi jemah. Sampai itu aja di jemah. Sedangkan yang belajar ahli agama itu yang di pesantren-pesantren tidak akan tidak berapa lama dia akan duduk di sini. itu terbukti dia yang akan menyagikan ustaz-ustaz yang ada ya karena dia dan belajar belajar ilmu agama tidak terlalu lama tidak begitu lama nanti dia akan mendakwahi manusia bahkan mendakwahi orang tuanya ini yang bisa disampaikan para ikhwan yang dirahmati oleh Allah kita berdoa
(1:03:16) dengan nama-nama Allah yang husna sifat-sifatnya yang mulia Allahumma inna nasaluka jannatal firdaus bighhairi hisabin wala adzab kami mohon kepada Engkau ya Allah masuk surga Firdaus tanpa hisab tanpa kami mohon kepada Engkau ya Allah melihat wajahmu yang mulia dalam surga dengan penuh kelezatan imanalukid laq baahu ab dan kami mohon kepada engkau keridaan yang tidak ada kemurkaan setelahnyaalukal has ma nabi Muhammadin sallallahu alaihi wasallam shh walidaini walqribai ajma kami mohon kepada engkau agar dikumpulkan di surga bersama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, para salafus
(1:03:57) saleh, orang tua dan seluruh kerabat. Wasallallahu nabina Muhammad walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Roja TV. Demikianlah al Islam.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *