Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah – YouTube

Transcript:
(00:03) Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [Musik] Menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah Alhamdulillahiabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala sayyidil mursalin waa alihi wa asabihi w tabiahum bisanin yaumiddin.
(00:49) Amma ba TV dan pendengar radio R dirahmati Allah Subhanahu wa taala di mana saja Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan malam hari ini kembali kita bertemu dalam kajian dan pembahasan ilmiah dari pembahasan akidah ahlusunahti wal jamaah melalui pembahasan risalah akidah syarah akidah thahawiyah bersama Ustaz Ahmad Faiz Asifuddin hafidahullahu taala langsung dari Pondok Pesantren Imam Bukhari dan alhamdulillah kita terkoneksi bersama beliau langsung saja kita akan mulai pembahasan dan kami berikan kesempatan bagi ikhwah dan akhwat fillah yang ingin bertanya terkait dengan pembahasan di
(01:21) pertemuan ke-elapan ini. ini Anda bisa menyampaikan pertanyaan via chat WhatsApp di line telepon 0218236543. Demikian juga dari nomor yang sama untuk ee pertanyaan secara langsung. Baik, kita mulai pembahasan dari syarah akidah tahawiyah malam ini dan kepada Ustaz kami persilakan. F tafad masykur. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah.
(02:18) Wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d. Para pemirsa dan pendengar Radio Rajak dan TV Rajak yang dirahmati Allah di mana saja berada. Alhamdulillah pada kesempatan malam hari ini kita bisa lanjut membahas masalah-masalah pokok dalam akidah ahlusunah wal jamaah melalui kitab at-taqat almukhtasarah ala matni al-aqidah at- thahawiyah yang disyarah oleh Syekh SH Al Fauzan hafidahullah.
(03:17) Maka kita lanjut pembahasan pada poin berikutnya yang disampaikan oleh Al Imam Abu Jafar at-Tahawi rahimahullah. Beliau rahimahullah mengatakan pada poin yang ke-35, wasiatuhu tanfud laat lil ibad. illa ma syaalahum fama syaalahum kan wama lam yasya lam yakun dan masiah Allah itu berlangsung maksudnya kehendak Allah Subhanahu wa taala itu pasti berlangsung tidak ada kehendak Bagi hamba tidak ada masyiah.
(04:19) Tidak bisa para hamba melaksanakan apa yang menjadi kehendak mereka kecuali apa yang Allah kehendaki buat mereka. Maka apa yang Allah kehendaki bagi mereka itu pasti terjadi dan apa yang Allah tidak kehendaki maka tidak terjadi. Syekh Saleh Al Fauzan hafidahullah menjelaskan Allah subhanahu wa taala lahu masyiah wal ibad lahu masyiah. Artinya apa yang dikatakan oleh al Imam at-Thawi rahimahullah ini menerangkan bahwa Allah punya masyiah, Allah punya kehendak dan hamba juga punya kehendak.
(05:15) Walakin masatal ibad muratah ala masatillah. Akan tetapi kehendak hamba itu pada peringkat sesudah kehendak Allah. Artinya kehendak hamba itu akan mengikuti kehendak Allah. Waaisat mustaqillatan. Kehendak hamba itu tidak berdiri sendiri. Walihadza qala subhanahu wa taala.
(05:51) Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala berfirman, wama tasyauna illa ayasyaallah. Innallaha kaana aliman hakima. Dalam surat al-insan ayat 30. Dan tidaklah kamu akan dapat mewujudkan apa yang kamu kehendaki, kecuali ketika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Dalam ayat lain surah at-Takwir Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wama tasyauna illa ayasyaallahu alamin.
(06:39) ” “Tidaklah kamu akan dapat mewujudkan apa yang engkau kehendaki kecuali apabila Allah Rabbul Alamin menghendakinya.” Faja’ala linafsihi masyiatan hiya min sifatihi. Maka Allah menjadikan untuk dirinya kehendak. Allah menyatakan bahwa dirinya punya kehendak dan kehendak Allah ini termasuk sifat Allah, sifat iradah, sifat kehendak. Wa’ala liibadihi masyiatan hiya min sifatihim.
(07:20) Dan Allah menjadikan para hambanya juga punya kehendak. Yang kehendak hamba itu merupakan sifat para hamba. Kehendak Allah itu adalah sifatnya Allah. Kehendak para hamba itu adalah sifat para hamba. Warobat masyiatahum bimasiatihi subhanah. Allah mengikat kehendak para hamba pada kehendak Allah Subhanahu wa taala.
(07:56) Artinya kehendak para hamba itu terikat dan tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa taala. Wafi radun alal qadariyati wal jabriyati. Pada pernyataan al Imam At Thaahawi ini yang didukung dengan ayat dalam surah Al-Insan maupun surah at-Takqwir tadi merupakan bantahan terhadap kaum Qadariyah dan kaum Jabriyah.
(08:34) Kaum Qadariyah itu adalah orang-orang yang ber paham bahwa Allah tidak mentakdirkan. Mereka menolak apa yang dilakukan oleh para hamba itu merupakan kehendak Allah. Seperti yang sudah pernah kita jelaskan ketika para hamba melakukan perbuatan misalnya perbuatan maksiat maka itu bukan kehendak Allah tapi mutlak itu merupakan kehendak hamba.
(09:18) Karena orang Qadariah itu menolak takdir tidak percaya bahwa Allahlah yang menghendaki dan mentakdirkan perbuatan-perbuatan hamba. Karena mereka tidak membedakan antara iradah kauniah dengan iradah syariah. Padahal iradah Allah itu kalau diteliti maka ada iradah yang bersifat kauniah dan ada iradah yang bersifat syariah.
(09:50) Iradah kauniah itu adalah kehendak yang bersifat ketetapan takdir dari Allah Subhanahu wa taala. Sedangkan iradah syariah adalah ketetapan yang merupakan syariat dari Allah Subhanahu wa taala. Allah mensyariatkan kepada para hambnya berupa perintah dan larangan. Itu iradah syariah atau kehendak syar’i dari Allah. Ada kehendak yang bersifat kauni, bersifat takdir dari Allah Subhanahu wa taala.
(10:21) Nah, orang-orang Qadariah tidak percaya bahwa perbuatan hamba itu merupakan kehendak dan ketetapan takdir dari Allah. Tapi ini dibantah dengan firman Allah Subhanahu wa taala yang tadi kita sebutkan. Dan itulah yang menjadi pernyataan al Imam At Thaahawi dan pernyataan seluruh ahlusunah wal jamaah bahwa Allah punya kehendak dan hamba punya kehendak.
(10:54) Sedangkan kehendak hamba tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa taala. Juga ini merupakan bantahan terhadap kaum Jabriyah. Kaum Jabriyah itu adalah orang-orang yang menyatakan bahwa semua yang dilakukan oleh manusia itu adalah takdir dan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Sementara manusia tidak punya kehendak, tidak punya pilihan, tidak punya keinginan, semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa taala.
(11:37) Dan ini terbantah dengan ayat yang tadi kita sebutkan. Wama tasyaun, tidaklah kalian berkehendak. Artinya tidak tidaklah kalian bisa mewujudkan apa yang kalian kehendaki kecuali apabila Allah menghendakinya. Jadi itulah yang dipahami oleh kaum Qadariyah dan kaum Jabriyah. Mereka adalah dua kaum yang saling berlawanan. Al-Qadariyah menolak takdir.
(12:07) Jabriyah menyatakan semua apa yang dilakukan oleh manusia itu tanpa kehendak dari manusia itu sendiri, tanpa keinginan dari manusia itu sendiri. Tapi itu mutlak merupakan kehendak Allah. Dijelaskan oleh Syekh Saleh Alfa Fauzan hafidahullah falqadariyah yanfuna masyiatallah lalil ibad. Orang-orang Qadariah menolak adanya kehendak Allah terhadap perbuatan-perbuatan hamba.
(12:39) Artinya perbuatan hamba itu tidak dikehendaki oleh Allah. Waj’aluna lil abdi masyiatan mutlaqatan. Mereka menganggap ee bahwa hamba punya kehendak mutlak tanpa dicampuri oleh kehendak Allah Subhanahu wa taala. Waal abda mustaqillun b’alihi wa irodatihi waatihi. Dan bahwa hamba itu ee merdeka. Hamba itu punya perbuatan-perbuatannya sendiri, punya kehendaknya sendiri, punya masyiahnya sendiri tanpa dicampuri oleh kehendak Allah Subhanahu wa taala.
(13:35) Hadza mazhabul qadariah minal muktazilah wairihim. Inilah mazhab qadariah baik dari kalangan Muktazilah ataupun yang lainnya. Ee bahkan orang-orang Qadariyah itu sampai tidak percaya bahwa Allah mengetahui perbuatan-perbuatan hamba sebelum hamba melakukan perbuatan itu. Jadi orang-orang Qadariyah sampai menyatakan Allah tidak punya ilmu, tidak mengerti apa yang akan dilakukan hamba, kecuali setelah hamba melakukan perbuatan itu.
(14:19) Sementara turunannya adalah Muktazilah. Muktazilah mengakui Allah itu punya ilmu. Tapi Muktazilah tidak mengakui bahwa Allah menghendaki kejadian yang dilakukan oleh para hambanya. Dan kedua-duanya baik qadariah, ghulat, maupun muktazilah itu adalah orang-orang yang tersesat jalannya dalam masalah takdir.
(14:49) Wal Jabriyah yaakulun. Sedangkan orang-orang Jabriah mereka mengatakan al abdu laisa lahu masyiah. Hamba itu tidak punya kehendak. Kata orang-orang Jabriyah. Wa inamal masatu lillahi faqat. Tapi masiah itu hanya kepunyaan Allah saja. Kehendak itu hanya kepunyaan Allah saja. Waldu yatahar biduniari wodatihi.
(15:23) Manusia bergerak itu tanpa ikhtiarnya, tanpa usahanya, tanpa pilihan darinya, dan tanpa kehendak darinya. Mlu ma taharrokal alah. Seperti sebuah alat itu bergerak. Alat itu akan bergerak kalau digerakkan oleh manusia. Lah manusia perbuatannya itu tidak atas pilihannya sendiri, tidak atas kehendaknya sendiri, tapi itu digerakkan oleh kehendak Allah Subhanahu wa taala. Atun golat fiati.
(16:01) Satu kelompok gulu berlebihan di dalam menetapkan masiah Allah yaitu orang-orang jabriyah. Watifatun golongan yang lainnya golat fiati masatil abdi gulu berlebihan di dalam menetapkan kehendak hamba. itu adalah mazhabnya orang-orang Qadariah dan Muktazilah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka. Wa amma ahlusunati wal jamaah.
(16:36) Adapun ahlusunah wal jamaah fabatul masyiatain. Maka mereka menetapkan adanya dua masyiah. Maksudnya Allah punya masiah, hamba punya masyiah. Allah punya kehendak. Hamba juga dikasih kehendak oleh Allah Subhanahu wa taala. W’alu masyiatal abdi marbu marbutatan bimasiatillahi. Mereka menjadikan kehendak hamba itu terikat pada kehendak Allah. Akzan minal ayatain sabiqotain.
(17:15) Dengan mengambil dua ayat yang sudah kita baca bersama. eh beberapa saat lalu, yaitu wama tasyauna illa ayasyaallah. Kamu tidak akan bisa mewujudkan apa yang kamu kehendaki kecuali jika Allah menghendakinya. Itu ada dalam dua ayat, surah Al-Insan ayat 30 dan At-Takwir ayat 29. Jadi kehendak hamba itu terikat pada kehendak Allah.
(17:49) dia berkehendak untuk ee mendapatkan sesuatu, tapi sesuatu itu tidak akan dia dapatkan sesuai dengan kehendaknya kecuali apabila Allah Subhanahu wa taala menghendakinya. Wama tasyaun faquluhu wama tasyaun. Firman Allah Taala pada surah al-insan dan surah at-Takwir. Wama tasyaun. Dan tidaklah kamu bisa mewujudkan apa yang kamu kehendaki. Fihibatu masyiatil abdi.
(18:23) Pada firman Allah Taala ini terdapat penetapan adanya kehendak manusia. Manusia punya kehendak. Waqul sedangkan firman Allah Taala illa ayasya Allah. kecuali menurut apa yang Allah kehendaki. Ini di sini terdapat penetapan adanya masyiah kehendak bagi Allah Subhanahu wa taala. Wafil ayah dalam ayat ini pula terdapat petunjuk anna masyiatal abdi laisat mustaqillatan.
(19:02) Bahwa kehendak hamba itu tidak berdiri sendiri. Wa innama hiya marbutun bimasiatillah. Tetapi kehendak hamba itu terikat dengan kehendak Allah. Tergantung pada kehendak Allah. Liannahu khalq min khalqillah. Karena masyiah kehendak hamba itu adalah makhluk di antara makhluk yang diciptakan Allah Subhanahu wa taala. Hamba adalah makhluk kehendak yang dimiliki oleh hamba. itu juga makhluk Allah Subhanahu wa taala.
(19:37) Jadi kehendak hamba itu makhluk, hamba itu sendiri juga makhluk. Khalaqoahu wa khalaqo masyiatahu waalaqa iradatahu. Allah telah menciptakan hamba dan telah menciptakan kehendak hamba serta menciptakan keinginan hamba. Walihadza lamma qala ba’dunas. Oleh karena itulah ketika sebagian orang berkata kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Masyaallah wasta ini atas kehendak Allah dan atas kehendakmu.
(20:23) ” Ada sebagian orang dahulu pernah berkata kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan ini dalam riwayat Ahmad juga Albukhari di dalam Al-Azabul Mufrad Ibnu Majah dan Annasaidi amil yaum wallailah. Mereka mengatakan ini atas kehendak Allah dan atas kehendakmu. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam langsung menjawab kepada orang itu, “Aja’altani lillahian.
(20:57) Apakah engkau jadikan aku sebagai tandingan bagi Allah?” A syarikan fil masiah. Artinya menjadi sekutu dalam hal kehendak. Jadi seakan-akan dengan perkataan masyaallah wasitta itu orang itu ingin menjadikan kehendak Allah dan kehendak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu sama sejajar. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam menjelaskan dengan kalimat tanya aja’altani lillahian.
(21:38) Apakah engkau ingin menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah dalam hal kehendak? Enggak benar itu yang seperti itu. Tetapi katakanlah qul masyaallahu wahdah. Katakanlah masyaallah saja. Adapun kehendakku itu ikut kepada kehendak Allah. Saya tidak akan bisa mewujudkan apa yang aku kehendaki tanpa adanya kehendak dari Allah Subhanahu wa taala. Jadi katakanlah kehendak Allah saja. Walamma balag nabiya annauman yaquulun.
(22:12) Ketika sampai kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam bahwa ada orang-orang yang berkata, “Masyaallah wasyaa Muhammad atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad angkaroalik.” Maka Nabi mengingkari perkataan ini. Waqala qulu masyaallah. Tumma syaa Muhammad. Katakanlah oleh kalian masyaallah. Kemudian syaa Muhammad.
(22:40) Ini adalah atas kehendak Allah. Kemudian atas kehendak Muhammad. Pakai kata-kata kemudian karena kehendak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu mengikut dan tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa taala. Sehingga di sini didatangkan dengan kalimat tumma. Kemudian bukan dengan wau atas kehendak Allah dan atas kehendakmu.
(23:07) Karena kalimat dan atau wawu di sini artinya menyejajarkan seakan-akan kehendak Allah dan kehendak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu sejajar, sama atau setingkat. Padahal tidak. Kehendak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa taala.
(23:33) apa yang Nabi inginkan, apa yang Nabi kehendaki tidak akan terjadi kecuali apabila Allah menghendaki. Jadi ee kehendak Allah bersifat mutlak dan pasti terjadi. Sementara apa yang dikehendaki oleh hamba itu tidak akan terjadi kecuali apabila Allah menghendakinya. Ini yang dikatakan dan dijelaskan oleh Al Imam Abu Jafar at-Tahawi tentang kehendak Allah dan kehendak hamba.
(24:09) Kesimpulannya, Allah punya kehendak dan hamba punya kehendak tetapi hamba tidak akan bisa memenuhi apa yang menjadi kehendaknya kecuali jika Allah menghendakinya. Karena kehendak hamba terikat pada kehendak Allah Subhanahu wa taala. Berikutnya, al Imam atahawi rahimahullah mengatakan, “Yahdi may yasya wimu waufi fadla waudillu yasya waakdilu waabtali adla.
(24:46) ” Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dia kehendaki. Dan Allah memberikan perlindungan dan memaafkan sebagai fadl karunia dari Allah Subhanahu wa taala. Sebaliknya Allah menyesatkan siapa saja yang dia kehendaki dan Allah menghinakan serta memberikan bencana sebagai keadilan dari Allah Subhanahu wa taala. Artinya ada orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan hidayah.
(25:29) Ada orang yang dikehendaki oleh Allah untuk tersesat. Lah ketika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melindunginya, itu adalah karunia dari Allah. Ketika Allah menjadikan seseorang tersesat itu adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa taala. Dijelaskan oleh Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah. Allahu subhanahu yahdi may yasya.
(26:01) Allah subhanahu wa taala memberikan hidayah, memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dia kehendaki. Wudillu may yasya. Dan dia menjadikan tersesat kepada orang yang dia kehendaki. Wahadza biqadaillahi waqadarihi. Dan ini dengan qada dan takdir Allah Subhanahu wa taala. Jadi memberikan hidayah dan menyesatkan itu merupakan takdir dari Allah Subhanahu wa taala.
(26:39) Jadi Allah memberikan hidayah kepada yang Dia kehendaki, menyesatkan yang Dia kehendaki. Ini adalah ketetapan takdir dari Allah Subhanahu wa taala yang disebut sebagai iradah kauniah, kehendak kauni Allah Subhanahu wa taala. Adapun secara syari Allah tetap memerintahkan hatta kepada orang kafir sekalipun, hatta kepada orang yang diketahui bahwa dia tetap dalam keadaan kafir sampai matinya tetap Allah memerintahkan dia untuk beriman. Tapi Allah sesatkan secara kauni.
(27:16) Walakinnahu yahdi man ya’lamu annahu yasluhu lil hidayah. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa? Kepada orang yang Allah tahu bahwa dia layak untuk mendapatkan hidayah. Jadi Allah tidak sewenang-menang. Allah memberikan hidayah kepada yang dikehendaki. Tapi Allah tahu bahwa orang itu layak mendapatkan hidayah.
(27:47) Waahti man yahris ala thabil hidayah wauqilu alaiha. Dan Allah memberikan hidayah kepada orang yang bersemangat untuk mencari hidayah. Allah memberikan hidayah kepada orang yang bersemangat untuk mencari hidayah dan dia apa namanya ee yuqbil alaiha. Menghadap hidayah. Artinya dia mencari berusaha untuk mendapatkan hidayah. Maka orang yang seperti ini Allah akan beri hidayah. Finnallaha yuyiruhu lil yusro.
(28:22) Sesungguhnya Allah akan memudahkannya menuju kemudahan. Yasya bisababi hidayati walhair. Sebaliknya Allah akan menyesatkan orang yang dia kehendaki. Mengapa Allah menyesatkan orang yang dia kehendaki? bisababi hidayah walhair. Karena dia berpaling, dia tidak mau mencari hidayah dan tidak mau mencari kebaikan.
(28:56) Dia berpaling dari hidayah. Dia tidak mau mencari hidayah. Dia tidak mau mencari kebaikan. Karena itulah fayudilluhu Allah Subhanahu wa taala uqubatan lahu. Allah sesatkan dia sebagai hukuman bagi dia karena dia tidak mau cari hidayah. ala khair disebabkan karena dia berpaling dari hidayah dan dia tidak mau untuk mencari kebaikan maka disesatkan oleh Allah subhanahu wa taala. Yuwalika quluhu taala.
(29:38) Ini dijelaskan oleh Allah di dalam firmannya. Faamma man wattaqo. Dalam surah allail ayat 5 sampai ayat 7. Faamma wattaqo. Maka adapun orang yang mau memberikan sebagian rezeki yang Allah telah berikan kepadanya. Wattaqo dan dia bertakwa. Wasaddaqo dan dia membenarkan bil husna dengan adanya pahala yang baik di surga.
(30:14) Fasanuyassiruhu lil yusro. Maka akan kami mudahkan dia menuju kemudahan, menuju kebahagiaan. Jadi orang yang dia memang cinta kepada kebaikan, cinta kepada ketakwaan dan membenarkan, percaya, beriman dengan adanya surga, dengan adanya pahala surga, tidak mengejek, dengan adanya pahala surga, tidak mengecilkan arti pahala surga, akan dimudahkan oleh Allah dia menuju kemudahan dan menuju kebahagiaan.
(30:51) Maka ayat ini menjelaskan sabab minal abd. Jadi sebabnya adalah dari hamba. Hambalah yang telah berusaha untuk beriman, untuk bertakwa, untuk membenarkan kebaikan, untuk membenarkan adanya surga. Hambalah yang telah melakukan sebab itu. Walqadaru min jihatillah subhanahu wa taala.
(31:21) Sedangkan takdir, takdir berupa hidayah itu datangnya dari Allah Subhanahu wa taala. Takdir berupa kemudahan dari Allah Subhanahu wa taala itu datangnya dari Allah. Tapi yang melakukan sebabnya, sebab untuk mendapatkan kebaikan itu adalah manusia. Berikutnya surat allail pada ayat 8 sampai 10 Allah berfirman, “Wa amma man bakhila wastagna waadzaba bil husna fasanuyassiruhu lil usro.
(31:56) ” Adapun orang yang bakhil, pelit, dan merasa dirinya cukup, tidak butuh kepada Allah, tidak butuh untuk beriman kepada Allah. Wadzaba bil husna. Dan dia mendustakan, dia ingkar dengan adanya pahala yang baik di surga. Fasanuyassiruhu lil. Maka akan kami mudahkan dia menuju kesukaran kesengsaraan. Ini pun sor sabab minal abd walqadar minallahi azza wa jalla.
(32:31) Sebab itu datangnya dari hamba. Hambalah yang melakukan upaya sebab sebab yang dilakukannya adalah menghindar dari ketakwaan, merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, maka Allah mentakdirkan dia untuk menjadi orang yang tersesat dan menuju kepada kesengsaraan. Walakin qadarahullahu uqubatan lahu.
(33:02) Tetapi Allah menetapkan takdir baginya itu dengan takdir kesengsaraan ini sebagai uubah lahu, sebagai hukuman dari Allah untuk orang ini. Mengapa? Karena dia pekerjaannya, kegiatannya, isi hatinya adalah untuk bertentangan dengan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Merasa tidak butuh kepada Allah dan tidak percaya dengan adanya surga.
(33:34) Faqaddarallahul hidayata fadlan minallah. Maka Allah mentakdirkan hidayah ini menetapkan adanya hidayah bagi orang yang dia kehendaki fadlan minallah sebagai karunia dari Allah. Jadi kalau kita mendapatkan hidayah maka pahamilah itu sebagai fadl, sebagai karunia dari Allah Subhanahu wa taala. Bukan karena kita adalah orang hebat, tapi karena Allah memberikan karunia kepada kita. Kenapa? Karena kita menginginkan hidayah itu.
(34:12) Hidayah. Dan ini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada seseorang yang menginginkan kebaikan dan menginginkan hidayah. Maka Allah mudahkan orang ini untuk mendapatkan kebaikan dan untuk melakukan kebaikan. Wa limaslahatihi. Dan ini adalah untuk kemaslahatan orang tersebut. Jadi hidayah yang Allah berikan karena orang itu mencari hidayah, cinta kepada hidayah maka Allah beri hidayah, beri semangat untuk berbuat kebaikan untuk kemaslahatan orang tersebut.
(35:00) La maslahatan lillahi azza wa jalla. bukan untuk maslahat Allah Subhanahu wa taala. Ini yang perlu kita pahami. Jadi kalau kita mendapatkan kebaikan dari Allah, mendapatkan hidayah, menjadi orang bertakwa, itu adalah kasih sayang Allah yang Allah berikan kepada kita untuk kepentingan kita sendiri, bukan untuk kepentingan Allah. Karena Allah tidak terpengaruh apapun.
(35:27) Orang sedunia mau menjadi taat tidak terpengaruh. Allah Subhanahu wa taala sedunia menjadi orang durhaka juga kekuasaan Allah tidak terpengaruh sama sekali. Jadi bukan untuk kemaslahatan dan kepentingan Allah tapi untuk kepentingan dan kemaslahatan para hambanya yang saleh. Wa amma idlaludin faadlun minhu subhanahu wa taala.
(35:55) Adapun ketika Allah menyesatkan orang-orang yang tersesat, maka ini adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa taala. Inilah apa namanya? Sifat adil Allah Subhanahu wa taala terhadap orang yang Allah sesatkan. Itulah yang adil. Itulah sifat Allah yang adil seperti itu. Memang seperti itu yang adil. Jazaan lahum alaim. sebagai balasan bagi mereka atas keberpalingan mereka.
(36:26) Dan mereka tidak mau mencari, tidak mau ee mencintai kebaikan. Waa taatillah. Tidak mau untuk taat kepada Allah Subhanahu wa taala. Disebabkan mereka berpaling. Tidak mau menghadap kepada kebaikan, tidak mau mencintai ketaatan kepada Allah, maka Allah sesatkan. Itulah yang adil bagi mereka. Lam yadlimhum saia’a.
(37:02) Allah tidak berbuat zalim kepada mereka sama sekali. Ini adalah ulah mereka sendiri. Akhirnya disesatkan oleh Allah sebagai keadilan dari Allah, bukan kezaliman dari Allah. Walihadza najidu fil ayat. Oleh karena itu kita temukan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an misalnya firman Allah dalam surah Albaqarah ayat 258. Wallahu yahdilimin.
(37:31) Dan Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang zalim. Mengapa Allah tidak memberikan hidayah? Karena mereka adalah orang yang zalim. Zalim kepada dirinya, tidak mau kepada kebaikan, tidak mau kepada hidayah. Yang mereka maukan adalah kezaliman. Wallahu la yahdilumal kafirin. Surat Albaqarah ayat 264. Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang kafir.
(37:55) Mengapa Allah tidak memberikan hidayah? Karena mereka lebih memilih kekafiran. Wallahu yahdilal fasin. Dan Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang fasik. Mengapa? Karena mereka lebih memilih kepada kefasikan. Faja’alaulma wal kufro wal fisqo asbaban liadamil hidayah. Maka Allah menjadikan kezaliman, kekafiran, dan kefasikan itu sebagai sebab untuk tidak mendapatkan hidayah.
(38:30) Kezaliman orang senangnya zalim terus, akhirnya tersesat. Orang senangnya kafir terus, tidak peduli kepada keimanan, maka akhirnya tersesat. Orang fasik terus menyimpang dari ketaatan terus. Kalau ada kefasikan dia suka, kalau ada ketaatan dia benci. Nah, ini menjadi sebab dia tidak mendapatkan hidayah.
(39:00) Wahi min af’alil ibad jazahum alaiha. Ini semuanya kezaliman, kekafiran, kefasikan adalah perbuatan-perbuatan hamba. Allah balas mereka atas perbuatan-perbuatan itu. Adlan minhu sebagai keadilan dari Allah Subhanahu wa taala. Laulman bukan kezaliman dari Allah tapi inilah yang adil dari Allah Subhanahu wa taala.
(39:31) Wamaahumullah wakin kanu anfusahum yadlimun. Dalam surat Annahl dijelaskan ayat 33. Wamahumullah. Allah tidak zalim kepada mereka, akan tapapi mereka merekalah yang zalim kepada diri mereka sendiri. Fala yaliqu bihi subhanahu wa taala an yukrima man h wasfuhu. Maka tidaklah pantas bagi Allah untuk memuliakan orang yang seperti ini sifatnya, perangainya.
(40:05) Senangnya zalim, senangnya kafir, senangnya fasik. Maka tidak layak untuk dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Waid laqui subhanahu wa taala amalalilin. Begitu juga tidak selayaknya bagi Allah untuk menghilangkan pahala dari amalnya orang-orang yang beramal. Itulah karunia dari Allah Subhanahu wa taala.
(40:33) Yang pertama tadi itulah keadilan dari Allah. Ketika Allah tidak menghilangkan nilai dari amalan-amalan dari orang-orang yang beramal, maka ini adalah karunia dari Allah. Qa subhanah Allah subhanahu wa taala berfirman, am hasiballadzinaarahusiatialahumadina [Tepuk tangan] amanu wailus shihati sawaan mahyahum waamatuhum sa yahkumun.
(41:07) Apakah orang-orang yang berbuat keburukan menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh? Yaitu sama dalam kehidupan mereka dan sama dalam kehidupan dalam kematian mereka. Enggak mungkin Allah akan menjadikan mereka orang-orang yang berbuat kesalahan, berbuat dosa sama dengan orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
(41:38) Dianggap sama dalam kehidupan mereka dan kematian mereka. Saa ma yahkumun. Alangkah buruk ma yahkumun penilaian mereka. Betapa buruk, berapa, betapa salahnya penilaian mereka itu. Ini dalam surat Aljasiyah, Aljasiyah ayat 21. Kemudian ayat berikutnya Allah juga berfirman Aljaah 22 yakni ayat yang seterusnya.
(42:15) Walaqallahus samawati wal ard bilhaqqi walitujza nafsin bima kasabat wahum yudlamun. Allah menciptakan langit-langit dan bumi dengan benar. Artinya dengan tujuan Allah menciptakan langit dan bumi tujuannya benar. Tidak untuk main-main dan untuk dibalas setiap orang sesuai dengan apa yang diusahakannya. Dan mereka tidak dizalimi oleh Allah Subhanahu wa taala.
(42:44) H jaun yunzahullahu ini adalah kezaliman yang Allah maha suci dari sifat zalim seperti itu. W subhanahu wa taala. Dan Allah Subhanahu wa taala juga berfirman, amalina amanu wailhat mufsidina ard amalul muttaqina kal fujjar. Apakah kami menjadikan orang-orang beriman dan beramal saleh seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Ataukah kami menjadikan orang-orang yang bertakwa seperti orang-orang yang berbuat kejahatan? Ini surat Sad ayat 28.
(43:29) Jadi, fallahu subhanahu wa taala la yudi’u ajro man amila shiha. Maka Allah Subhanahu wa taala tidak akan menghilangkan pahala dari orang yang berbuat kesalehan. Wala yujazi ahadan bighiri fi’lihi wabhoiri kasbihi. Allah tidak membalas siapapun sesuatu yang bukan pekerjaannya, sesuatu yang bukan usahanya. Jadi Allah tidak membalas siapapun dengan balasan yang itu bukan pekerjaan orang tersebut, bukan usaha orang tersebut. W tuzauna illa ma kuntum tamalun.
(44:07) Dan tidaklah kalian itu dibalas oleh Allah kecuali berdasarkan apa yang kalian kerjakan.alu abdi. Maka amal perbuatan itu semuanya hamba yang melakukannya. Minal khair baik itu pekerjaan yang baik wasyar maupun perbuatan yang buruk. Yang membalas perbuatan baik dan buruk itu adalah Allah. Wal mujazatu balasan. Balasan dari perbuatan baik buruk itu minallah. Fadlan sebagai karunia.
(44:38) Kalau itu kebaikan itu adalah karunia. Kalau itu keburukan maka itulah adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa taala. Wauhum yataqallabuna fi masyiatihi baina fadlihi wa adlihi. Semuanya ee bergerak ber putar di dalam kehendak Allah antara karunia dan keadilan Allah. ibadakubatillahi ahlah wailir wa ahlilfriir semua hamba itu tidak keluar ketika bergerak ketika melakukan aktivitas dari kehendak Allah Subhanahu wa taala. Jadi semuanya itu dalam lingkaran
(45:47) kehendak Allah Subhanahu wa taala yang itu berkisar antara karunia dan keadilan Allah. Karunia kepada orang-orang yang taat dan kepada ahlul khair, orang-orang yang berbuat kebaikan. Waina adlihi dan juga keadilan Allah yang Allah lakukan kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Jadi semuanya tidak keluar dari lingkaran kehendak Allah.
(46:19) Sebagian mendapatkan karunianya, sebagian sebagian yang lain mendapatkan keadilan dari Allah. Yang mendapatkan karunianya adalah ahlut taah, ahlul khair. Yang mendapatkan keadilan dari Allah adalah ahlul kufri wasirki. Wahadza hu laqu bihikmatihi waomatihi subhanah.
(46:46) Inilah dia yang layak dengan hikmah Allah dan keagungan Allah Subhanahu wa taala. mukhtalafat. Maka Allah tidak mengumpulkan antara perkara-perkara yang berlawanan dan berselisihan. Bal yanzilul asyai fi manaziliha. Bahkan Allah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Yang berhak mendapatkan kebaikan akan mendapatkan kebaikan.
(47:23) yang mendapatkan yang berhak mendapatkan ee keadilan, maka dia akan tindak, maka Allah akan menindak dia dengan sesuai dengan kekafiran, kemaksiatan yang dilakukannya. Jadi, Allah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Walihadza min asmaihi, kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, walihad min asmaihi. Oleh karena itu di antara nama Allah itu adalah al-Hakim.
(47:47) Allah namanya Al-Hakim. Wamin sifatihi alhikmah. Dan di antara sifatnya adalah hikmah. Allah memiliki sifat hikmah. Namanya adalah al-hakim. Al-hakim artinya adalah alladzi yadu al asyaa fi mawadiiha. Alhakim. Nama alhakim yang punya sifat hikmah. Artinya adalah Allah yang maha meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Fadul fadla fi ahli taah.
(48:22) Maka Allah letakkan karunianya kepada orang-orang yang taat. Dan Allah letakkan azab, Allah berikan azab fi ahlil kufri wal maasi kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat. Hza fadluhu subhanahu wa adluhu. Inilah dia karunia Allah subhanahu wa taala dan inilah dia keadilan Allah. Keadilannya dengan cara mengazab orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat.
(48:54) Karunianya dengan cara memberikannya kepada ahlut taah. dan itu ditempatkan sesuai dengan tempatnya masing-masing. Jadi itulah Allah Subhanahu wa taala. Jadi tidak ada ee makhluk yang ada di muka bumi ini, terutama manusia dan jin, kecuali mereka bergerak di dalam lingkaran mas Allah. Masiah Allah.
(49:27) Tidak ada yang keluar dari masiah Allah Subhanahu wa taala antara karunia dan keadilan Allah. Subhanahu wa taala. Ini saja yang bisa kita kaji pada kesempatan malam hari ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Jadi, masih berkisar tentang masalah kehendak Allah Subhanahu wa taala. Apa yang Allah kehendaki terjadi, apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain.
(50:06) Nam ustaz jazakallah khair wabarakallahu fik atas syarah dan penjelasan yang disampaikan Ustaz. Barakallah fikum dan pendengar serta pamar TV. Demikian kita berikan kesempatan bagi ikhwah dan akhwat fil ingin bertanya perihal pembahasan di malam hari ini.
(50:24) Dan bagi Anda yang baru bergabung dalam pembahasan syarah akidah thahawiyah di laine telepon 0218236543. Sebelum kami terima via telepon ada pertanyaan yang sudah masuk via chat WhatsApp. Baik kami angkat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Barakallahu fikum. ee kehendak Allah Subhanahu wa taala di atas segala kehendak manusia. Wasal berkaitan dengan ee keinginan yang ada pada ee seorang hamba ketika dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala dan kemudian ee ada perubahan di dalam kehidupannya dengan adanya ikhtiar atau dengan tanpa ikhtiar.
(51:06) yang menjadi pertanyaan, “Ustaz, seberapa jauh usaha dan ikhtiar kita di dalam merubah takdir? Apakah itu juga merupakan ee kehendak dari Allah Subhanahu wa taala? Mohon nasihatnya. Jazakallah khair.” Iya. Yang pertama tentang yang dimaksudkan dengan merupa takdir adalah kita menginginkan takdir yang baik dan tidak menginginkan takdir yang buruk. menimpa kita.
(51:40) Sementara takdir baik dan buruk ee itu kita tidak ketahui sebelum terjadinya. Maka untuk mendapatkan dan meraih takdir baik, kita harus berikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam ikhtiarnya. Terkait dengan kehidupan dunia misalnya, kita juga harus bersungguh-sungguh agar kita terhindar dari takdir yang buruk.
(52:06) Maka kita lakukan upaya-upaya yang baik-baik dengan berjuang. Adapun nanti kemudian apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan ee ee apa yang kita apa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita bersabar. Maka ada dua hal yang harus kita lakukan di sini. Pertama, sebelum takdir terjadi, kita harus berusaha sungguh-sungguh beristianah kepada Allah Subhanahu wa taala dan mohon perlindungan dari segala keburukan.
(52:46) Berdoa dan kemudian melakukan usaha-usaha yang real itu sebelum terjadinya takdir. Ketika takdir sudah terjadi, maka kita tidak ada lain kecuali bersabar. Jadi, tidak ada lain kecuali bersabar. ee kira-kira jawaban saya sudah ee sesuai dengan pertanyaannya atau belum? Nah, Ustaz, jazakallah khair, barakallahu fik. Baik, kami akan angkat pertanyaan selanjutnya, Ustaz. Masih via chat WhatsApp. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(53:20) Orang kafir adalah orang yang sama sekali tidak menyembah Allah. Orang kafir yang pura-pura Islam disebut orang munafik. Orang Islam yang berbuat syirik disebut musyrik. Pertanyaannya, Ustaz, benarkah orangorang Quraisy yang dahulu didakwahi oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, mereka juga menyembah Allah. Mereka adalah orang musyrik yang berarti pada asalnya mereka adalah muslim bukan orang kafir.
(53:47) Manakah pemahaman seperti ini, Ustaz? Mohon penjelasannya. Jazakallah khair. Ee orang kafir itu pengertian secara secara istilah ya kafir itu adalah orang yang mengingkari Allah, tidak menyembah Allah sama sekali. Orang musyrik adalah orang yang di samping menyembah Allah juga menyembah kepada selain Allah. Tapi hukumnya kafir. Orang musyrik itu hukumnya adalah orang kafir.
(54:16) Kemudian orang munafik adalah orang yang secara zahir dia muslim tetapi hatinya penuh kebencian terhadap Islam, penuh kebencian terhadap Nabi, Al-Qur’an dan kepada Allah Subhanahu wa taala. Tapi orang munafik ini hakikatnya adalah kafir. Nah, orang-orang kafir Quraisy itu ee sebagian di antara mereka ada yang menyembah Allah tapi juga menyembah kepada selain Allah.
(54:53) Jadi mengapa mereka itu menyembah berhala? Alasannya adalah karena untuk mendekatkan diri sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadi mereka hakikatnya ingin menyembah Allah, tapi karena ee mereka merasa tidak bisa untuk langsung menyembah Allah, maka mereka mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembahan terhadap berhala-berhala. Mereka mengatakan, “Ma nabuduhum illa liuqorbuna ilallahiulfa.
(55:25) ” Kami tidak menyembah kepada berhala-berhala berhala itu, tapi kami jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Nah, itu yang disebut sebagai ee orang musyrik. Hakikatnya orang kafir itu juga orang musyrik. Karena apa? Karena hakikatnya orang kafir itu kan ngerti tentang Allah, tapi yang disembah adalah selain Allah.
(55:50) Kadang-kadang mereka melakukan penyembahan kepada Allah, tapi juga kepada selain Allah. Contohnya orang-orang kafir Quraisy disebut kafir atau disebut sebagai kaum musyrikin ketika dikisahkan dalam Al-Qur’an. Iibu filulqullaha muklisina lahudinahun. Ketika mereka naik di atas kapal, diombang-ambingkan diah di tengah gelombang lautan yang besar, suasana mencekam.
(56:28) Mereka hatinya ikhlas kepada Allah, menyembah Allah dengan ikhlas, memohon kepada Allah dengan ikhlas. Tapi ketika mereka sudah selamat, diselamatkan oleh Allah ke daratan, kembali mereka menjadi orang-orang musyrik. Jadi tidak disebut bahwa mereka adalah aslinya orang muslim, tapi mereka sejak awal adalah orang-orang yang ee musyrik.
(56:57) Artinya di samping menyembah Allah juga menyembah kepada yang selain Allah. Hakikatnya mereka adalah orang musyrik. Orang kafir adalah orang musyrik. Orang musyrik adalah orang kafir. Orang munafik juga orang kafir. Tapi istilah-istilah itu disendirikan untuk membeda-bedakan. Kalau orang kafir adalah tidak menyembah Allah. Orang musyrik di samping menyembah Allah juga menyembah selain Allah.
(57:20) Orang munafik orang yang secara lahir seperti Islam tapi hatinya penuh penentangan kepada Islam. Wallahuam. Nam Ustaz jazakallah khair atas penjelasan ee dan juga jawaban yang disampaikan. Barakallah fik ustaz. Kami angkat selanjutnya ada pertanyaan via telepon di 021 8236543. Baik, kita angkat. Halo. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(57:46) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak? Di mana? Ee Allah Yunalji. Allah melindai di Lubu Basung, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Masyaallah. Ahlan wasahlan. Silakan Bapak pertanyaannya. Yang ingin saya tanyakan. Boleh kita pertama bolehkah kita berdoa ya Allah berilah rezeki halalan misalnya ada orang yang menyewa kedai dengan ee harga sekian misalnya jika kau menghendaki.
(58:25) Yang kedua, mohon maaf Pak diulangi kembali tadi pertanyaan yang jika Allah menghendaki sebelumnya. Hah? Diulangi lagi pertanyaannya, Pak. Ee pertanyaannya itu ya Allah ee saya beli lambar rezeki yang lawan Taibah misalnya adalah menyewa kedai saya ini dengan harga sekian jika Engkau menghendaki berdoa seperti itu. Baik.
(58:55) Kemudian ee yang saya tanyakan ee lagi yaitu ee yaitu apakah kita berimpak itu semua rezeki yang diberikan Allah atau bagaimana? Baik, Pak. Nah, jazakallah khair, Pak. Kita akan simak jawabannya. Silakan, Ustaz. Ee cukup jelas pertanyaannya, Ustaz? Diulang tapi baik pertanyaannya. Baik. Ya.
(59:23) Adapun yang pertama terkait dengan doa, Ustaz, apakah boleh kita berdoa kepada Allah? Ya Allah, berikanlah hamba rezeki yang halal dan thayib. Ya Allah, ee berikanlah kepada hamba ee orang yang menyewa tempat ini dengan harga sekian apabila engkau kehendaki. Ada tambahannya seperti itu, Ustaz. Itu yang pertama. Adapun yang kedua, berapakah besaran infak yang sepatutnya kita keluarkan, Ustaz, di dalam berinfak. Demikian, Ustaz.
(59:52) Yang pertama ada tuntunan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam supaya kita berdoa. Allahumma inni as’aluka ilman naf’ warizqan thyib wa amalan mutaqbala. Allahumma inni asaluka. Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepadamu ilmu yang bermanfaat. rezeki yang thayib ya. Rezeki yang thayib artinya rezeki yang halal.
(1:00:25) Wa amalan mutaqabbala dan amalan yang diterima itu ee memang diajarkan kita berdoa seperti itu. Adapun yang terkait dengan apa tadi? Ee supaya disewa gimana? Agar disewa dengan nilai sekian apabila kau kehendaki Allah. Begitu ustaz. kurang lebih ya kalau kita minta kepada Allah itu ee sesuatu yang lebih besar nilainya daripada ee menyebutkan jumlahnya sekian dan sekian.
(1:01:06) Kalau sekian dan sekian itu kan itu permintaan yang ee apa istilahnya? permintaan yang sesungguhnya nilainya tidak tidak tinggi di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Sebaiknya kita berdoa dengan Allahumma inni asaluka ee rizqan thyiba misalnya. Jadi atau misalnya, “Ya Allah, mohon agar ee apa namanya? Saya mau menyewakan tempat ini mudah-mudahan apa namanya saya mohon agar Engkau mudahkan segala rezeki sehingga sewa apa tempat ini laku disewa.
(1:01:48) ” Ya, tentunya ketika memohon seperti itu kita sudah menetapkan harga dan harga itu tidak harus sesuai dengan apa yang ee ee apa namanya? Harga itu tidak mesti harus kita mintakan kepada Allah. Harus sekian ya Allah. Tapi sampaikan saja artinya sampaikan saja kepada yang akan menyewa harganya sekian. Kemudian kita mohon barokah dari Allah Subhanahu wa taala dari penyewaan itu.
(1:02:13) Kemudian ketika kita berdoa hendaknya jangan ditambahi dengan insya’ta kalau engkau berkehendak. Ya, kalau engkau berkehendak. Jadi kita kalau memohon itu dengan yakin kepada Allah, “Ya Allah anugerahkanlah tidak apabila engkau berkehendak.” Jadi tidak ada tambahan yang seperti itu. Ee ini yang pertama. Kemudian astagfirullahalazim.
(1:02:44) Yang kedua, seberapa besarkah kita berinfak ee apabila kita memiliki rezeki? Apakah ada ketentuan khususnya, Ustaz? Oh, tidak ada. tidak ada ketentuan ee seberapa besar infak yang harus kita keluarkan ketika kita punya rezeki. Kecuali zakat ya. Kecuali zakat itu ada ketentuannya.
(1:03:13) Zakat mal itu adalah sudah mencapai nisab dan sudah mencapai 1 tahun. Jadi perhitungan 1 tahun sudah mencapai nisab dari tahun dari tanggal pertama sampai akhir ee sampai 1 tahun itu nisab itu tidak berkurang ee karena satu dan lain hal tapi tetap dan mungkin bisa bertambah maka baru di situ ada ketentuannya. Itu yang dinamakan zakat.
(1:03:42) Zakat itu juga infak. Infak wajib yang berupa zakat. Adapun infak-infak yang lain tidak ada ketentuannya kecuali infak wajib yang terkait dengan infak untuk keluarga, untuk anak-anak sekolah ya. Besarannya itu ditentukan dengan seberapa besar kebutuhan anak ya misalnya atau seberapa besar kebutuhan istri untuk belanja. Itu sudah berdasarkan kesepakatan.
(1:04:08) Kalau anak ee sekolah ee itu besarannya sudah tertentu ya, kecuali itu ya. Tapi kalau infak-infak yang lain tidak ada ketentuannya. Wallahuam. Sawab. Nam ustaz. Jazakallah khair atas jawaban dan pencerahannya. Demikian yang bertanya Bapak yang ada di Sumatera. Semoga menjadi pencerahan dan jawabannya bermanfaat. Barakallahu fik. Kami angkat selanjutnya pertanyaan via chat WhatsApp.
(1:04:34) Ustaz asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kalau ada yang berhujah dengan ayat wama tasyauna illa ayasyaallah innallahana aliman hakima. Dan ayat yang lain w tasyauna ayasyaallah. Artinya apakah dengan ayat ini sebagian ee berdalil bahwa ee membenarkan akidah atau keyakinan Jabariah di mana kehendak hamba itu ada dengan sebab adanya kehendak Allah.
(1:05:05) Mohon nasihatnya, Ustaz. Dan penjelasan terkait dengan tafsir ayat ini yang benar. Jazakallah khair. Iya. Wama tasyauna illa ayyasya Allah justru menjelaskan wama tasyaun. Kamu tidak berkehendak. Artinya hamba itu punya kehendak. Yang dimaksudkan tafsirnya adalah kamu tidak akan bisa memperoleh apa yang engkau kehendaki.
(1:05:36) Dan fakta di lapangan manusia punya kehendak dan ini enggak bisa di enggak bisa dibantah. Wii, fakta, kenyataan tidak bisa dibantah bahwa manusia punya kehendak. Tapi apa saja yang kita kehendaki tidak akan terjadi tanpa ada kehendak Allah. Jadi ayat ini sebenarnya adalah hujjatun alaihim la lahum. Hujjah untuk membantah mereka bukan hujah untuk membela mereka.
(1:06:01) Jadi tidak benar ayat ini justru membantah mereka bukan membela mereka. Karena wama tasyaun itu menunjukkan orang punya kehendak. Dan itulah yang dinyatakan oleh para ulama. Dan kenyataannya kita itu punya kehendak. kita itu bukan seperti ee ee apa namanya? Benda mati yang digerak-gerakkan oleh angin misalnya atau bukan ee benda mati yang seperti orang yang menggigil kedinginan.
(1:06:43) Menggigilnya tanpa kehendak kita itu bukan. Tapi kita punya kehendak, punya karsa, punya keinginan. ingin makan misalnya kan enggak mungkin tanpa ada keinginan untuk makan lalu kita bisa makan. Tapi ketika kita punya keinginan untuk makan kadang-kadang tidak tercapai apa yang kita inginkan. Kenapa? Karena Allah tidak menghendaki. Kita ingin sekali makan.
(1:07:10) Begitu kita ingin meraih makanan itu, tangan kita tidak sampai karena tiba-tiba lumpuh. misalnya karena Allah menghendaki kejadian itu. Jadi tidak benar itu. Jadi tidak benar berdasarkan ayat ini untuk mengatakan manusia itu tidak punya kehendak. Kehendaknya tergantung mutlak pada kehendak Allah sehingga menyatakan bahwa manusia tidak punya kehendak. Ini tidak benar.
(1:07:37) Justru ayat ini menegaskan manusia punya kehendak tapi kehendaknya tidak bisa berdiri sendiri. kehendaknya itu akan mengikuti kehendak Allah Subhanahu wa taala. Nam Ustaz jazakallah khair atas jawaban dan pencerahannya. Kami angkat kembali pertanyaan selanjutnya via telepon. Silakan. Halo. Baik. Mohon maaf terputus. Silakan bisa dihubungkan kembali bagi ikhwah dan akhwat fil yang mungkin baru bergabung pembahasan syara akidah thahawiyah.
(1:08:09) dan kami buka sesi soal jawab via telepon di 021 8236543. Baik, kita angkat kembali. Halo. Nah, silakan silakan. Sudah masuk. Iya. Halo, silakan. Iya, dari Makassar, Ustaz. Ah, dengan siapa Bapak? Asalamualaikum warahmatullah. Sebelumnya dari Mayya, Ustaz. Baik, pertanyaannya Bapak ini.
(1:08:39) Apakah boleh Ustaz kalau berdoa begini umpamanya, “Ya Allah, kalau baik buat kami, tolong Ya Allah sembuhkan penyakit kami.” Iya. Nah, dan kalau tidak baik buat kami, kami serahkan kepada Engkau, ya Allah. Nah, itu apa enggak boleh itu, Ustaz? Terima kasih. Asalamualaikum. Barakallahu fik. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakallahu fik Bapak.
(1:09:05) Kita akan simak jawabannya. Silakan, Ustaz. Ya. Ketika sudah tidak ada pilihan lain kecuali dengan berdoa seperti itu, maka itu ada tuntunan, ada tuntunan dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Jadi begitu itu ee kalau misalnya hidup ini baik, ya Allah hidupkanlah saya.
(1:09:32) Dan kalau kematian adalah baik bagi saya, maka matikanlah saya. Jadi tidak minta hidup, tidak minta kematian, tapi ditunjukkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam doa yang seperti itu. Artinya pilihannya kalau memang kehidupan itu baik, hidupkanlah saya. Dan kalau yang ternyata kematian itu lebih baik, ya terserah kepada pilihan Engkau, ya Allah Subhanahu wa taala.
(1:09:57) Eh seperti doa Allahumma aslihli dini alladzi hmm amri wa dun fiha ma aktiha mailan. Jadi yang terakhir itu eh waj’alil hayata ziadatan li fi kulli khair. Jadikanlah kehidupan bagi saya ee sebagai tambahan atas segala kebaikan. Kalau saya dihidupkan, hidupkanlah dengan apa namanya? Dengan segala kebaikan. Dengan semakin bertambah kebaikan saya.
(1:10:49) waj’al al mauta eh waj’alil mauta eh rohat dan jadikanlah kematian itu sebagai istirahat bagi saya dari segala keburukan itu. Sebagian ulama mengatakan ya kalau memang hidup saya baik ee tambah dengan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan. Tapi kalau engkau matikan saya maka ee apa? Jadikanlah kematian itu sebagai istirahat dari segala keburukan.
(1:11:20) Wallahualam nam ustaz jazakallah khair atas jawaban dan pencerahannya. Barakallah fik. Kami angkat kembali pertanyaan selanjutnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, apakah doa yang terbaik untuk ee memberikan bimbingan kepada anak-anak untuk bisa menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala? ada kesulitan dan ada hal-hal yang membuat gelisah ketika kita melihat anak-anak tumbuh dan berkembang dalam ee pelanggaran syariat. Mohon nasihatnya, Ustaz.
(1:11:59) Apakah ada doa yang bisa kita baca secara khusus untuk kebaikan anak? Barakallah fik. Ya misalnya doa rbana hablana min azwajina wurriyatina qurun walna lil muttaqina imama. Itu kan doa yang perlu kita baca terus-menerus. Rabbana hablana. Ya Allah anugerah anugerahkanlah kepada kami ee ee istri kami dan anak keturunan kami sebagai sesuatu yang menyedapkan pandangan mata kami. Itu doa yang perlu kita baca terus-menerus.
(1:12:33) Kita sering baca. Kemudian juga doa-doa yang lain ee ee doa seperti waaslihli fiurriyati. Perbaikilah saya dalam keturunan saya. Dan doa-doa yang lain misalnya doa ee mendoakan barokah untuk anak-anak kita. Ee bebas dengan bahasa yang bebas. Kalau misalnya ee kita tidak hafal doa-doa yang maksur, kita bisa menggunakan doa-doa yang dengan bahasa bebas, yaitu ya Allah perbaiki keturunan saya supaya menjadi baik.
(1:13:11) Di antara doa salat malam mungkin ada yang Allahumahdini apa? Ee Allahumahdini liahsani alakhlaq. Ya Allah ee berilah hidayah kepadaku atau ihdina untuk saya dan anggota keluarga saya. Ihdina liahsanil akhl menuju akhlak yang baik. Wasrif anna sayiaharu sayah illa an itu misalnya ada di dalam salat ee yang bisa kita gunakan untuk salat lail pada doa iftitah.
(1:13:50) Dan palingkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang bisa memalingkan kami dari akhlak yang buruk atau tidak ada yang bisa memalingkan akhlak yang buruk dari kami kecuali Engkau. Itu adalah di antara doa-doa yang perlu kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa taala. Nanti bisa dilihat di banyak buku doa yang sudah mungkin sudah terjemahan itu insyaallah banyak doa-doa yang terkumpul yang sesuai dengan asar-asar dan ee berdasarkan kitabullah dan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. termasuk doa pagi dan petang itu perlu kita baca
(1:14:27) supaya ee apa namanya ee kita dan keluarga kita dan anak-anak kita juga terlindungi dari keburukan-keburukan. Kalau kita tidak bisa doa dengan bahasa yang sudah maksur diriwayatkan dari Nabi, ya kita berdoalah insyaallah suara kita didengar oleh Allah Subhanahu wa taala karena Allah maha mendengar.
(1:14:55) berdoa dengan doa apa saja ya artinya ketika ketika itu pada satu doa yang mutlak yang tidak terikat dengan waktu dan tidak terikat dengan saat-saat tertentu. Wallahuam bawab. Jazakallah khair wabarakallahu fik atas pencerahannya ustaz.
(1:15:19) Kami angka pertanyaan terak terakhir di kesempatan malam ini dari pemirsa RJA melalui WhatsApp. Asalamualaikum warahmatullah. Ustaz, bagaimanakah ee pernyataan yang menyampaikan ketika ada orang yang mengajak kepada kebaikan dan kepada ketaatan beribadah, lalu dia mengucapkan Allah subhanahu wa taala belum berkehendak untuk kebaikan itu pada saat ini atau dengan lafaz yang semisalnya belum datang saatnya atau belum datang waktunya. Semoga nanti ke depannya kita atau saya bisa beribadah.
(1:15:49) Ee apakah pernyataan seperti ini dibenarkan? Mohon nasihatnya, Ustaz. Jazakallah khair. Ya, ketika seseorang tidak minat untuk berbuat kebaikan, jangan kemudian disandarkan kepada Allah Subhanahu wa taala. Justru sebaliknya dia mudah-mudahan saya menjadi orang yang mendapatkan hidayah dari Allah. Bukan pada saat ini saya belum dikehendaki kok tahu.
(1:16:17) Seharusnya dia husnudan kepada Allah Subhanahu wa taala. Um ini ada orang mengajak kepada saya berarti ini mungkin jalan bagi saya bahwa Allah sedang menghendaki saya untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri. Jangan kemudian keburukan yang dia lakukan itu dinisbatkan kepada Allah. Ini karena Allah belum mendapat memberikan hidayah. itu suudon.
(1:16:44) Walaupun semua ee keburukan itu dikehendaki oleh Allah, tapi tidak boleh orang kemudian menisbatkan ee kepada Allah dan suudon kepada Allah Subhanahu wa taala. Sebaiknya seharusnya dia justru mengatakan ee ya alhamdulillah bahwa ada orang yang mengajak saya mudah-mudahan ini adalah menjadi jalan bagi saya untuk mendapatkan hidayah Allah selanjutnya. Bismillah.
(1:17:10) Jadi berusaha seker sekuat mungkin untuk ee ee mengikuti jalan Allah Subhanahu wa taala. Itu mungkin yang bisa saya sampaikan. Wallahu alam. Alhamdulillah jazakallah khair atas jawaban dan pencerahannya. Dan demikian pendengar pemis yang bertanya semoga menjadi pencerahan dan jawabannya bermanfaat.
(1:17:29) Ini merupakan pertanyaan kami terakhir sebagai kesimpulan serta ikhtitam kajian malam ini. Kami persilakan Ustaz ya. Jadi kita harus tawadu kepada Allah Subhanahu wa taala, merendahkan diri serendah-rendahnya kepada Allah subhanahu wa taala sehingga kita merasa butuh kepada Allah. Ee dan jangan sampai kita melakukan penentangan-penentangan secara sengaja kepada Allah.
(1:17:57) Ee apabila kita melakukan hal-hal yang tidak diridai oleh Allah karena hawa nafsu, maka kita segera bertobat kepada Allah. Termasuk di dalam masalah pemahaman. Jadi pemahaman ini masalah pemahaman yang sangat serius harus kita pahami dengan baik. Jangan sampai kita tersesat jalannya mengikuti ee paham Jabriyah atau Qadariah di dalam masalah takdir.
(1:18:27) Dan kita mengikuti apa yang disabdakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam terkait dengan masalah takdir yaitu hendaknya kita beriman kepada Allah ee beriman kepada takdir Allah baiknya dan buruknya. Kemudian kita berusaha agar kita selalu mendapatkan takdir yang baik dan menghindar dari takdir yang buruk dengan selalu berdoa dan beristianah kepada Allah dan minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang buruk.
(1:18:58) Terus melakukan usaha-usaha yang real wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Alhamdulillah. Jazakallah khair kami sampaikan kepada Ustaz Ahmad Fais Asifuddin hafidakallahu taala ustaz atas pembahasan demikian juga syarah dan juga beberapa penjelasan jawaban pertanyaan semoga bermanfaat dan jazakallah khair kita akan sambung kembali di kesempatan pekan yang akan datang dalam pembahasan penjelasan akidah syara akidah ahlusunahti wal jamaah dari akidah thahawiyah dan kita akan simak kembali langsung dari pondok pesantren Imam Bukhari bersama Ustaz Ahmad Faiz Asifudin hafidahullahu Taala. Kami mohon
(1:19:35) maaf ada sejumlah pertanyaan tidak bisa kami sampaikan karena keterbatasan waktu yang ada. Silakan bisa ikuti kembali dan semoga apa yang kita pelajari malam ini Allah berikan taufik dan hidayah untuk bisa kita mengamalkan, memahami dan mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
(1:19:52) Kurang lebihnya kami mohon maaf dan di penghujung kajian kami tutup dengan kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilaha illa ant astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *