(3) [LIVE] Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. – Faedah Sejarah Islam – YouTube
Transcript:
(00:00) Roja TV kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Di mana Allah Subhanahu wa taala sebutkan dalam firmannya surah Al-Imra ayat 31. Qul inumhibbunallahunullah. Katakanlah, “Ya Muhammad, jika kalian benar-benar cinta kepada Allah, fattabiuni, maka ikutilah aku.” [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja.
(00:35) Inalamdillah R TV. Saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wan. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhwat al Islamakumullah.
(01:17) Sahabat Raja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan hari ini di hari Jumat kita akan simak bersama kembali kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pembahasan faedah-faedah sejarah Islam disampaikan oleh Al Ustaz Dr. Ali Musri Semjan Janputra hafidahullah dari STAMsyah Pekanbaru Riau.
(01:36) Alhamdulillah kami sudah terkoneksi dengan beliau dan mudah-mudahan koneksi kami lancar hingga akhir acara nanti. Dan setelah materi kami akan sediakan sesi tanya jawab. Bagi Anda yang ingin bertanya silakan bisa mengirimkan pertanyaannya melalui layanan pesan WhatsApp ataupun Anda bisa menghubungi kami secara langsung di layanan dan telepon.
(01:58) Langsung kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada al ustaz kami persilakan. Fafadol maskur. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah. La haula wala quwwata illa billah. Pemirsa pendengar dirahmati Allah subhanahu wa taala.
(02:25) Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa melimpahkan rahmat karim kepada kita tetap selalu membimbing kita di atas jalan yang benar. memberikan kesabaran kepada kita di dalam beribadah serta dalam menghadapi sebagai ikan, cobaan diberikan Allah kita juga kita jadikan sebagai hamba-hamba yang selalu bersyukur dialah nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita karena dengan bersyukur itu Allah Subhanahu wa taala senantiasa menambah nikmatnya kepada kita dan dengan kesabaran itu pula kita akan mendapatkan ampunan serta penghapusan dari dosa-dosa kita pemisa pendengar dirahmati Allah Subhanahu wa taala akan kita akan melanjutkan
(03:03) pelajaran kita tentang yaitu argumentasi orang-orang yang menyai sifat Allah yaitu pertama mereka menuduh jika kita mengatakan Allah tapi berbicara sesuai dengan berbicara dengan huruf dan suara yang didengar mereka mengatakan itu adalah sesuatu yang baru di dalam sifat Allah ini yang dibincangkan tak harus ada sesuatu yang baru dalam sifat Allah nah ini ya sehingga mereka menggunakan istilah ee hawajib Jadi bahwa tidak ada hawad sifat Allah. Nah, oleh sebab itu para ulama fik menjelaskan atau dimaksud dengan hawadis
(03:35) di sini di mana yang telah berkali-kali kita jelaskan di mana konsep atau teori orang-orang a bid para ahli kalamnya yang menakwil dan menyingkan pemahaman sifat-sifat Allah ini mereka selalu menggunakan istilah anigu saya katakan mereka tidak menggunakan istilah-istilah yang ditetapkan Allah dalam Al-Qur’an sunahnya sehingga mereka dengan istilah yangu tadi mereka beristilah mereka menafsirkan sesuatu yang membuat masyarakat awam kurang memahami istilah-istilah tersebut sehingga masyarakat awam menyani mengikuti penjelasan mereka. Nah, oleh sebab itu
(04:07) ulama kita biasanya memberikan penjelasan-penjelasan lebih define kepada umat agar umat tidak tertipu di mana persala permasalahan yang sangat besar terjadi suatu fitnah di tengah umat ini adalah gelombang menyatakan Al-Qur’an itu makhluk yau datang dari fitnah orang-orang Muktazilah.
(04:27) Nah, kenapa ulama begitu mempertahankan bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah? adalah kalamullah adalah karena di sinilah apa namanya sumber ajaran Islamik. Kalau Al-Qur’an itu dikatakan makhluk berarti dia adalah sesuatu yang bisa di apa? dirubah bisa di di apa namanya dikoreksi bisa di ee tidak perlu dijadikan sebagai pedoman yang utama dan sebagainya.
(04:54) Karena dari sinilah akan muncul nanti penyimpangan-penyimpinfangan lain kalau tidak dikatakan aku itu bukan kalam Allah. bisa berubah, bisa dikoreksi, bisa ada seperti ada yang pernah viral di masa yang lalu untuk ada orang-orang mengatakan bahwa Al-Qur’an perlu diamendemen dan sebagainya. Ini suatu pemahaman yang memang diinginkan di balik itu oleh orang-orang Alam. Nah, karena ulama kita membaca ee ee kesimpulan dan tujuan serta muara dari pandangan itu, maka oleh itu Imam Ahmad dan para ulama-ulama yang semasa dengan beliau mempertahankan argumentasi berargasi dengan makud itu adalah kalamullah sifat bagi Allah Subhanahu wa taala. Allah berbicara hakikatkan Al-Qur’an itu didengar oleh Jibril lalu
(05:33) disampaikan kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maka ee ini juga e dan kalau ee apa namanya simhat dari mereka ini bisa hal-hal yang telah di muncul hari ini di mana sebagian kelompok-kelompok liberalisme menjadikan alfon sebagai anti kajian bukan dalam arti dia sebagai teks yang suci maka mereka menemukan tidak ada tek yang suci tapi bagi kita sebagai umat Islam bahwa Al-Qur’an dalam satu absepsi kebenarannya mutlak ya tidak Ada yang batil.
(06:15) Allah sebutkan dalam firmannya kalau Al-Qur’an bukan di sisi Allah tentu kalian ketemukan Alquran itu ada banyak sekali pertentangan-pertentangan baik dan banyak sekali dalil-dalil Al-Qur’an yang di Allah katakan nur Al-Qur’an itu adalah kalam Allah bukan kalam Jibril bukan kalam sallallahu alaihi wasallam. Baik.
(06:38) Maka sehingga ulama ee betul-betul membela idah ini dengan banyak ee penjelasan-penjelasan yang rinci. Salah satu syubhat yang tadi kita mereka katakan adalah yaitu masalah hawadis. Kalau kalian mengatakan Allah bicara Allah berkehendak berbicara itu kapan saja yang bagaimana dia kehendaki dan siapa yang mau dibicarakan Allah dalam perkataannya itu kembali kepada masatillah.
(07:03) Nah, salah satu perbang sebenarnya kalau untuk ee apa namanya? Orang-orang ahli kalam ini terpecaah merasa pendapat ini dan banyak pendapat sebenarnya tapi secara umum mereka itu ada dua pendapat yang besar. Yang pertama mengatakan Al-Qur’an itu kalam Allah makhluk. Mereka katakan kalam Allah makhluk. ini pendapatnya orang jahiliah dan ini.
(07:29) Yang kedua adalah ee yaitu pendapat dari kelompok ee yang mengatakan bahwa kalam Allah itu tidak makhluk. Tidak kalam Allah tidak makhluk. Tapi nafsi wahid mereka mengatakan adalah satu yang ada pada zat Allah. Ini tidak. Nah, kelompok yang kedua ini mencari tentang bahwa Allah itu bicara dengan dengan suara yang didengar dengan porus yang bisa di apa dengan suruh dan kemudian didengar ee kemudian juga berbicara ee di waktu sewaktu ya tidak ee sebagaimana pemahaman mereka mengatakan Allah itu bicara kalamul qadim, kalamun nafsi, kalam bicara dalam dirinya, kalah bicara dengan secara
(08:13) lurus. Kalau kita melihat bagaimana Allah menciptakan kalam yang bisa kita ambil contoh contoh sangat mudah pokoknya kita ambil dalam surah Albaqarah itu situ terdapat suatu penggambaran bagaimana Allah bicara Allah bicara kepada malaikat ya Allah kepada malaikat Allah berkata kepada malaikat aku menjadikan di bumi itu seorang khalifah Lalu malaikat ee meminta ee apa namanya? Hikmah dari penciptaan itu.
(08:54) Jadi Allah bicara kepada malaikat sebelum adanya Adam. Belum diciptakan Adam. Adam belum diciptakan. Nah, kemudian setelah itu Allah mengajarkan kepada Adam Adam asmaha. Allah menj kepada Adam nama-nama makhluk ya berbagai bahasa ya. Kemudian Allah tawarkan kepada malaikat Allah tanya karena tadi malaikat mengatakan bahwa makhluk kami ini adalah makhluk yang telah ya kita dan menyucikanmu tidak cukupkan sebagai makhluk.
(09:39) Allah di sini menunjukkan bahwa makhluk yang diciptakan Allah ini juga punya ee keistimewaan di antaranya itu ilmu yang Allah ajarkan kepada mereka lahir nabi-nabi sebenarnya para ulama lahir di kalangan bani Adam ini eh dari Adam itu nabi-nabi yang mulia memiliki ilm salah satu di sini ketika malaikat mengatakan demikian bahwa kami adalah hamba-hamba-Mu yang selalu mensucikan-Mu beribadah kepada-Mu.
(10:04) Allah berikan suatu menunjukkan bahwa malaikat itu bukanlah makhluk yang artinya ee artinya tidak cukup dengan mereka. Allahkan untuk beribadah kepada Allah. Tidak. Allah sebutkan di sini keutamaan Adam di mana Allah ajarkan pada Adam ilmu yang sudah diajarkan kepada malaikat. Ketika Allah tawarnya kepada malaikat, “Sutkanlah nama-nama mereka ini kepada saya, kepada Allah nama-nama mereka benar.
(10:30) ” Malaikat menjawab ketika ditawarkan untuk ditanya tentang nama-nama ya makhluk-makhluk yang telah di nama-nama kepada Adam. Kami tidak punya ilmu apa yang telah ajarkan kepada kami. Itu jawab mereka. Setelah itu Allah berkata kepada Adam, “Wahai Adam, beritahulah mereka dengan nama-nama mereka.
(10:57) ” Ini nama-nama yang telah dij kepada Adam beritahu kepada malaikat apa nama-nama? Berarti kan Allah bicara kepada malaikat sebelum diciptakan Adam. Kemudian Allah bicara kepada ee pada pada ee kepada Adam mengajarkan menang sesuatu. Kemudian Allah bicara lagi kepada malaikat untuk membuktikan bahwa Adam itu memiliki ilmu ya. Bahwa lebih apa namanya juga memiliki keutamaan.
(11:20) Kemudian makhluk diciptakan Allah yang tadi diterit di awalnya atau diminta hikmahnya oleh malaikat tentang apa tujuan diciptakannya. Kemudian setelah itu Allah berkata kepada Adam setelah diciptakannya Adam ya Adam wahai Adam beritahu mereka tentang nama-nama mereka tersebut. Nah, setelah itu setelah Allah melihatkan bagaimana Adam ini memiliki keutamaan dan juga kemuliaan mana di dalam keutamaan Adam adalah Allah ciptakan langsung dan kedua tangannya.
(11:44) Dalam e ayat Alquran yang lain ketika iblis untuk bersujud kepada Adam ya tidak mau Allah ya. Nah, setelah itu setelah terlihat kemuliaan Adam ini, lalu Allah berkata lagi kepada malaikat ya berkata kepada malaikat kepada Adam Ibnu Isah ini kan semuanya artinya baru di sini bukan berarti baru tidak ada Allah itu maka kalamullah dibagi oleh para ulama itu adalah yaul qadim wahaduh hadis. Maksudnya apa? Allah itu memiliki sifat yang manaali mampu bicara.
(12:27) Tapi Allah terjadinya sifat bicara Allah kepada makhluk itu kehendak Allah. Kepada siapa Allah bicara? Kepada malaikat, kepada Adam. Ya. Kalau seandainya kalam Allah itu qadim, tentu berarti Allah kepada berkata kepada malaikat sama dengan waktu berkata kepada Adam dan waktu berkata kepada iblis dan sebagainya.
(12:45) Padahal di sini ee jelaskan ada rentang waktu ketika Allah bicara kepada memberi kabar kepada malaikat ya menciptakan seorang khalifah di bumi. Kemudian juga ada rentang waktu ketika setelah itu Allah bicara kepada Adam ya beritahulah mereka dengan nama-nama. Kemudian juga setelah itu Allah bicara kepada malaikat.
(13:08) Jadi kata-kata orang-orang alkalam mengatakan bahwa Allah kalam Allah itu wahidunajza gak ada gak ada dalilnya sekali ya. Kalam nafsi, kalam yang tersembunyi dalam diri Allah, qadim azali. Maka para ulama kita di sini yang sebut itu hadas. Baru itu maksudnya apa? Bukan baru, tidak ada sebelum sifat, tapi adalah sifat Allah itu yang sifat kalam ini sifat hadas maksudnya sesuai dengan kehendak Allah, ikhtiar Allah untuk bicara sapan dan ee dengan siapa dan apa yang Allah sampaikan kepada makhluk.
(13:38) Itu yang dimaksud hadas. Itulah yang kita jelaskan pada pertanyaan yaitu zikir yang baru itu Al-Qur’an maksud ya Al-Qur’an ini bicara ya Allah bicara belum diturunkan kepada ee bicara setelah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam diutus ya ketika Nabi Muhammad kita telah diutus maka ya nida kepada Nabi kita sallallahu alaihi wasallam ya nida kepada Nuh ya Nuhu ya dan ketika Allah bicara kepada Isa pada waktunya bicara kepada Musa. Nah, ini semuanya kan menunjukkan akidah ahl sebetulnya permasalahan ini orang-orang
(14:16) yang baca Al-Qur’an itu jelas sekali bagi dia bahwa Allah itu bicara matyaa waifa. Allah bicara kapan Allah kehendaki, dengan siapa Allah kehendaki dan apa yang mau Allah sampaikan. Jadi kalau orang mengatakan kalamullah adalah wahid ini gak ada gak ada e sedikit pun dalil menutan ituam nafsi itu kalam wahid satu tidak terbagi-bagi.
(14:42) Ini semuanya orang-orang yang mengatakan pun dia tidak paham apa hakikatnya tidak karena mereka mengatakan kalau Allah itu mengatakan huruf ada huruf ada apa lalu mereka mengatakan berarti kita menyerupakan salah orang makhluk. Nah, di sini inilah masalah yang selalu mereka. Saya katakan bagaimana akan sama perkataan Allah maknanya saja luas percataan Allah yaitu Nabi sallallahu alaihi wasallam ya.
(15:12) Kelak di akhirat juga Allah akan bicara kepada manusia orang yang jauh jelas seperti orang mendengar dekat tidak ada yang kalam makhluk. Jadi sebenarnya makanya di dalam kaidah ahli sunah jah yaitu alqu alqu sifat itu kuncinya begitu saja itu sangat mudah di bahwa keimanan kita dalam mengimani sifat-sifat Allah seperti kita mengimani zat Allah.
(15:38) Bagaimana kita mengimani zat Allah? Bah Allah itu punya zat tidak serupa dengan zat makhluk. Demikian pula ketika kita mengimani sifat-sifat Allah. Allah punya sifat tapi tidak sefat makhluk. Walaupun nama sifatnya sama-sama sama nama bukan berarti sama hakikat. Nah, ini yang perlu dipahami. Oleh sebab itu disebutkan para ulama ya asma asma ya kesamaan mirip nama bukan berarti ya mirip pula orang yang diberi nama itu serupa orang diberi nama dengan nama yang sama. Tidak.
(16:21) Banyak sekali sifat-sifat makhluk umpamanya namanya sama tetapi hakikatnya sangat jauh berbeda. Jadi sebetulnya dua hal ini saja kalau sudah dipakai kaidahnya itu sudah sudah aman sebenarnya. Apa kaidahnya? Ya alqulu fifat kalqu meyakini mengimani sifat-sifat Allah seperti kita meyakini keimanan kita pada zat Allah. Bagaimana keyakinan kita pada zat Allah? Allah itu punya zat tapi tidak sesuai dengan zat makhluk.
(16:49) itu pasti ya Allah punya zat bahwa zat Allah tidak serupa dengan zat makhluk diaan sunah bahwa Allah punya sifat Allah punya sifat sesuai dengan Allah sifatnya dalam dirinya bukan pula kita menentukan sifat-sifat Allah dari diri kita sendiri tidak menyebut sifat tanpa ada dalilnya maka oleh ahlusunah wal jamaah menyebutkan dasar penetasan sifat itu bila Allah memang tetapkan untuk dirinya karena Allah lebih tahu tentang dirinya bukan kita buat sekarang-karang sendiri tidak bukan pula kita kiaskan setiap sifat yang dimiliki makhluk Tapi Allah punya sifat seperti sifat yang bukan ya. Tetapi kita tetap mengatakan
(17:22) sifat-sifat Allah itu sesuai yang telahisbatkan pada Al-Qur’an sunah yang oleh Rasulullah sallahu al wasam. Maka dasar pertama Al-Unah dalam menkan sifat itu adalah Al-Qur’an dan sunah. tidak menyebutkan istilah-istilah yang menyebutkan permasalahan yang perdebatan-perdebatan yang tidak berujung yang pada akhirnya timbul pemahaman-pemahaman yang keliru, penafsiran-penafsiran yang yang melenceng.
(17:47) Nah, jadi kalau kita meyakini Allah itu punya zat, bahwa zat Allah tidak serupa dengan zat makhluk, demikian pula harusnya semua sifat yang Allah sebutkan dalam Quran atau disebutkan dalam hadis yang sahih, Allah punya sifat itu tidak serupa dengan sifat makhluk itu. Nah, kedua harus kita katakan jangan dipahami karena sama nama lalu diartikan sama bentuknya. Tidak.
(18:12) Maka tadi kaidah yang keduanya adalah asmaalamu [Musik] yaitu kaidahnya adalah sama nama tidak mengharuskan harus mirip persis atau sama orang yang punya nama itu. Kalau mau kita buat contoh sangat banyak sekali. Jangankan antara sifat Allah dengan sifat makhluk, sifat sesama makhluk saja banyak namanya sama, tapi hakikat dan bentuknya beda.
(18:39) Ya, kalau kita urut umpamanya yang kita contohkan umpamanya, ya kan? Contoh umpamanya ee kepala, sifat kepala. Manusia punya kepala, sakit punya kepala, kerbau punya kepala, ular punya kepala ya kan? Banyak sekali makhluk-makhluk lain yang binatang-binatang punya kepala.
(19:07) Apakah mirip kepala ular dan kepala gajah? Apakah mirip kepala gajah dan kepala kambing? Cuma sifatnya kepala. Nah, kesamaan nama jangan diartikan sama bentuk. Jika antara makhluk sesama makhluk saja walaupun nama sifatnya sama, hakikat dan bentuknya berbeda, bagaimana akan dikatakan kalau sifat Allah itu sifat makhluk? Tidak mungkin.
(19:31) Samafud saja walaupun sama nama sifat mereka justru berbeda hakikatnya. Karena maka oleh sebab itu ulama mengatakan setiap sifat sesuai difakakan kepada zat diopakan sifat ya setiap sifat sesuai dengan maknanya. Kepada siapa difakkan sifat itu. Kalau diidfakan kepada Allah maka dia tidak akan mirip dengan sifat makhluk. Itu kuncinya. Kalau ada orang katakan ini namanya ini love jangan kan firna sama nama kamu katakan sama bentuk maka tidak ada tasbih di situ. Di makhluk saja juga banyak sama nama ya tidak sama bentuknya gitu.
(20:13) Jangankan antara makhluk dengan makhluk yang lain, satu makhluk saja bisa berbeda sifatnya dengan berbeda zaman, dengan berbeda waktu. Kalau Allah Subhanahu wa taala ya tidak berubah-rubah sifat Allah sempurna. Contoh kepala si Ahmad ketika berumur 5 tahun beda dengan kepalanya ketika berumur 50 tahun.
(20:32) Itu sifat makhluk yang satu saja. Nah kalau sifat makhluk sifatnya adalah berubah-rubah kemudian kurang tidak sempurna. Allah sifat Allah mutlu tidak akan bisa diserangkan. Maka ee faedahnya adalah yang jadi persoalan benar-benar persoalan bagi mereka oleh Allah alam ini kayaknya adalah mereka selalu mengatakan berarti kalau sama nama akan sama bentuk.
(20:58) Kalau kita samakan bentuk berarti kita musyabbih. Nah untuk lepas dari paham musyabbih kita harus mentakwil. Mau ke mana itu takwil? Contoh mereka takwil pokoknya. Nah, kalau kita katakan Allah itu beristiwa, makhluk juga beristiwa, maka berarti Allah itu seperti makhluk. Nah, itu syubhat mereka. Kalau katakan Allah beristiwa, Allah katakan berbicara, hah Allah dikatakan mendengar, melihat dan sebagainya, berarti Allah seperti makhluk. Kenapa? Karena makhluk melihat, mendengar, bicara, dan istiwa poknya. Nah, ini kan ketika dia menafsirkan
(21:31) sifat Allah dan sifat makhluk karena sama menurut mereka. Nah, tadi kita sama nama bukan sama bentuk dan hakikat. Nah, jangankan antara Allah dengan makhluknya sesama makhluk aja enggak sama kan berbeda. Turun pemak sifat turun berbeda-beda. Turun sifat turun kan. Nah, cicak turun di dinding ya. Ayah turun dari loteng ke ayah turun dari lantai du ke satu.
(22:05) Beda itu makhluk semuanya turun, sifat turun, semua hujan turun tidak seperti cetak turun dari diindis ya kan. Layang-layang turun atau pesawat turun semua sifat itu. Tapi tidak mungkin dikatakan bahwa si layang-layang turun seperti turunnya pesawat atau turunnya hujan seperti turunnya pesawat. Enggak ada. Sebenarnya itulah kenapa persoalan asma was sifat tidak pernah menjadi persoalan di kalangan para sahabat, para tabiin, para ulama sampai masuknya ilmu kalam ke dalam pembahasan ya ee agama ini.
(22:38) Di situlah menjadi popul. Nah, di mereka ee membagi wujud ini dan mungkin wujud dan segala mereka punya mukadimah-mukadimah yang pada asalnya untuk memahami Al-Qur’an ini gak perlu karena banyak sekali sahabat-sahabat yang tidak pernah mengenal ilmu kalam, para tabiin, para ulama mereka memahami Al-Qur’an ini dengan sangat.
(23:03) Saya ingat orang-orang kafir pun, orang-orang musyrik pun gak pernah ee mengkritik Al-Qur’an dari sisi ini. Kenapa? Karena bagi mereka itu jelas ya. Kalau mereka kritik mereka dikatakan bodoh ini. Bodoh kamu berbahasa Arab. Bodoh kamu dalam berpikir gitu. Memalukan diri sendiri gitu. Orang-orang alkitab pun tidak pernah mempersoalkan ayat-ayat asma asfat.
(23:24) Gak pernah mereka mengcoer mencari ke kelemahan Islam atau kesesatan Islam atau menolak Islam dengan cara membahas ayat asma sifat itu ah itu agama apa? Mereka katanya melarang kita menyembah berhala. Kok malah Tuhannya katanya milik berhala? Gak ada mereka mengatakan. Katanya Tuhannya punya tangan Tuhannya.
(23:49) Karena mereka ya orang-orang yang dahulu itu mereka ya ahli bahasa memahami makud. Cuman mereka tidak mau mengambil ajaran Islam itu ya. Tapi mereka dalam sisi ini mereka tidak pernah gunakan hujah mengatakan Islam itu merupakan Tuhannya dengan makhluk. Enggak ada. Nah, inilah musibah yang ada. Padahal sebenarnya persoalannya ringan saja, sangat mudah dipahami bahwa Allah memiliki sifat tidak mirip dengan sifat. Selesai.
(24:15) Maka Allah katakan Allah tidak mirip dengan sesuatu. Dinafikan tidak mirip bukan Allah tidak punya sifat. Allah punya sifat tapi kemirian enggak ada dalam sifat itu. Itu mana antara sifat makhluk dengan makhluk lain sifat gajah tidak milik dengan sifat kambing ya. Kaki gajah enggak seperti kaki kambing.
(24:34) Walaupun namanya sama-sama kasih gitu sayap begitu juga maap kapal terbang gak seti sayapnya namanya sama gitu namanya sama-sama sayap ya. Kemudian sayap ee ayam gak seperti sayap isik dan sebagainya. Bisa saya ee ee ayam namanya tap sifat itu namanya. Nah, sebetulnya ini yang sangat mudah. Nah, lalu mereka juga mengatakan kalau kita katakan Allah cara sesuai dengan masiahnya. Nah, ini yang soalpersoalan kita paham.
(25:08) Bukan jelas saja ketika tadi ayat ini surah Albaqarah ini sedikit saja kita buka contohnya kan dalam Alquran banyak sekali ya. Ketika Nabi Ibrahim diut bicara kepada Nabi Ibrahim ya. tidak bicara kepada ya bukan berarti kalau seanya kalam Allah qadim itu berarti sudah bicara Allah diazali kepada Nabi Ibrahim berarti baru setelah Nabi Isa diutus lalu Allah bicara kepada Nabi Musa dengan Nabi Isa, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan seterusnya.
(25:38) Nah, kalau begitu berarti mereka mengatakan kalamullah qadim. Berarti salatnya lima waktu itu sudah diwajibkan semenjak Adam dong. Ya kan? Berarti ketika Allah mewajibkan itu sudah langsung lima. Tapi kan disebutkan dalam kisah Isra Mikraj. Pertama Allah wajib itu berapa? 50. Lalu nabi kita meminta keringanan. Ntiya kan ada Allah itu berbicara.
(26:00) Ini sebetulnya persoalannya mudah dipahami selagi orang tadi kita kena dengan syubhat atau ee apa namanya ee argumentasi-argumentasi ya orang ahli kalam ya jelas saja. Makanya setelah Adam Allah kata kepada Adam, “Wahai Adam, tinggallah engkau di surga bersama istri makanlah ya apa saja yang enak-enak di dalam ini. Jangan pohon ini.
(26:33) ” Lalu Adam dipengaruhi oleh setanah setelah itu Adam ya diperintahkan Allah setelah itu untuk keluar. Jadi ketika Allah berkata kepada malaikat akan menciptakan Adam, kemudian setelah diciptakan Adam, malaikat baru disuruh kejut. Setelah Adam diciptakan, disuruh tinggal di surga. Setelah Adam menganggar perintah Allah di surga, Allah katakan kepada Adam, ihbitu minha.
(27:00) Baru Allah berkata kepada Adam, “Keluarlah dari surga.” Jadi ini jelas ini yang bentuk maksudnya bahwa Allah itu bicara sesuai maksiat dari kehendaknya. Jadi bukat Allah itu berbicara semua yang akan diwahyukannya satu waktu sepertimana dipahami oleh orang Asyairah Maturibiyah Allah itu kalamu nafsi qadim wahidun laajazza ya kenapa ini? Ah karena itu karena itulah mereka berdasarkan tadi mereka memahami Al-Qur’an itu bukan kalam Allah.
(27:37) Maka orang-orang jahiliah ee kalau ee Muktazilah dengan ee Jahmiah mengatakan salam Allah makhluk. Kalau orang-orang Asyair Rurbiah dan Tulabiah mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Quran yang makhluk itu kalam Allah gak makhluk. Karena kalam Allah menurut kalamun nafsi qadim azalil wahidun. Itu kondisi mirip baik.
(28:04) Ini kan gampang sebenarnya ya memahami apa yang kita lihat dari kisah Adam ini dia ciptakan Allah Subhanahu wa taala ya. Kemudian Adam diterima tobatnya oleh Allah Subhanahu wa taala ya. Kemudian setelah itu qulbitu minha jam Allah berkata kepada Adam ya iblis suruh keluar semua dari surga.
(28:35) Kemudian Allah berkatakan lagi kepada bani isah ini kapan ini Allah bicara kepada Bani Israil Bani Israil setelah diutusnya Nabi Nuh kemudian diutusnya Nabi Isa dan Nabi kita Muhammad karena istilah Bani Israil itu belum ada sebelum Nabi takut karena dia yang bergelar dengan Israil Israil di masa Nabi Ibrahim enggak ada istilah Bani Israil.
(29:05) Jadi sebetulnya pembahasannya sangat mudah jika dipahami dengan melihat Al-Qur’anul Karim. Jadi ini yang ee masih tersisa dari pembahasan yang lalu sebenarnya ya. Karena mereka mengatakan ya Allah kalam Allah itu adalah kalam qadim. Maka oleh sebab itu tidak ada ulama yang mengatakan kalam Allah itu qadir istilahnya dalam istilah mereka suratim artinya adalah kalau kalim Allah memiliki sifat kalam dari azab iya tetapi terjadinya sifat kalam karena sifat kalam iniya ada laun bicara itu Allah bicara kepada siapa yang Bukan berarti Allah berbicara setiap
(29:53) saat ya tidak berhenti. Kan begitu. Sebenarnya sifat kalam ya itu adalah ada dua bagian minit jinsi. No adalah sifat itu aslinya ada oleh Allah. Tapi wuku kalam ya dengan malaikat dengan para nabi itu namanya ee hadis baru. E itu hadis hadis e jinsul kalam qadim w apa wul kalam qadim. Ya, naam ya.
(30:29) Hadisul ahad itu maksudnya adalah adapun terjadinya bicara Allah kepada makhlukmuknya baik malaikat para nabi itu sesuai kehendak Allah Subhanahu wa taala. Baik. Maka maksud muhdas dalam kalam Allah tadi itu yang dimaksud muhdas yang baru. Jadi Allah bicara kepada Adam setelah Adam diciptakan. Allah bicara kepada Nabi Nuh telah Nuh diutus. Bukan maksud baru itu diciptakan kalam Allah oleh Allah.
(31:09) Adapun kalam Allah jalla ya Allah bicara dengannya yang sebelumnya Allah belum bicara dengan kalamnya itu. Maka itu yang dimaksud dengan kalam muhdas. Allah sebutkan Allah jelaskan dalam Alquran karena kalam Allah itu dari Allah berasalnya dengan kembali kepada Allah dan tidak dikatakan ya bahwa kalam Allah itu makhlukul kalam qadim maka bentuk kalam Allah itu qadim ya azali artinya Allah itu mati berbicara dengan masyiahnya kapan ia kehendaki yazaki ada sifat kalam ada pada zat Allah.
(32:04) Nah muhdas. Nah ketika Allah bicara dengan makhluknya sesuai kehendaknya maka kapan dia ingin bicara dengan makhluk dengan siapanya itu yang disebut dengan masyiah wal ikhtiya. Ketu kehendak Allah dan pilihannya itu yang dimaksud dengan mukhlas tadi ya. Contoh ketika Allah berkata kepada Adam setelah ee dia diciptakan disuruh ee malaikat untuk kepada Adam itu terjadi setelah Allah berkata kepada malaikat ketika Allah baru berkata kepada mereka dari awal sebelum dicciptakannya adab. Nah itu sisi itu muhdas maksudnya barunya seperti itu maksudnya bukan baru
(32:37) artinya Allah tidak punya sifat kalam sebelumnya. Maka sebut Ibnu Hajar Asqalani menukil dari Imam Razi ungkapannya ini mereka ini Rzi ini salah seorang ah kalam tapi kadang-kadang dia ketika terjebak dengan dalil-dalil dia kadang-kadang ada ungkapan-ungkapannya yang itu mengakui kebenaran apa yang diyakini oleh a jamaah sehingga pendapat orang mengatakan Allah bicara dengan sifat kalam terdapat pada zatnya dan sesuai dengan kehendaknya dan pilihannya hua asahul ahwal naqlan wa aql ini pendapat ini juga diakui oleh
(33:16) Rzi walaupun dia seorang ahli kalam itu pendapat yang lebih tepat secara dalil naqlan secara wahyu wa aklan secara logika itu pengakuan dari Imam Arrazi yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar Assqalani dalam Fathlul Bahari yaitu ee jilid 13 halaman 450 ini biar ee para ahli kalam yang biasa menjelaskan kepada umat merujuk kepada penjelasan e nukilan dari Ibnu Hajar dari Asalani terhadap pendapat Imam Arrazi.
(33:52) Dari sinilah orang-orang kadang-kadang memfitnah ulama ahlusunah ketika mereka mengatakan Allah itu bati wabya itu secara ringkas ungkapan para ulama menjelaskan tentang sifat kalam bahwa Allah itu bicara ya dengan apa eh bagaimana Allah dengan siapa yang Allah kehendaki kafan Allah apa yang ingin Allah bicarakan kepada hamba-hambanya tersebut.
(34:29) Nah, maka oleh sebab itu sebenarnya sudah kita sebutkan mereka menuduk umat-umat sunah wal jamaah mengatakan ketika kita ada sifat Allah yang baru artinya Allah itu memiliki sifat ya ee hadas baru dalam artian Allah bicara berbuat e sesuatu yang dia Allah kehendaki ya dalam waktu rentang waktu yang berbeda. Itu itu yang disebut.
(34:52) Lalu mereka mengatakan kalau begitu berarti Allah ada sesuatu yang baru dengan zat Allah. Nah, itulah syubhatnya mereka baru sini bukan berarti Allah itu tidak mengikuti sifat. Di mana Allah itu sifatnya ya ada yang bergantung dengan masiah Allah seperti sifat istiwa umpamanya. Nah, di antara hujah mereka men juga hadas. Karena sifat-sifat di situ disebutkanwa al kemudian berarti Allah tidak beristiwa sebelumnya. Baru setelah ciptakan arasy, Allah beristiwa di atas arasy.
(35:21) Setelah ciptakan langit dan bumi, Allah beristiwa di atas arasy. Di mana yang Allah jelaskan dalam awal surah Assajah dan berapa ayat-ayat yang lain menjelaskan dan banyak sekali dalil-dilurnya. Demikian pula sifat nuzul ya. Maka para ulama menetapkan apa namanya supaya bagi Allah Subhanahu wa taala. Sifat ikhtiariah ini adalah ee terdapat pada sifat Allah Subhanahu wa taala berdalil dengan Al-Qur’an dan sunah.
(36:05) tadi antara dalil pemastawa alas kemudian berarti setelah Allah ciptakan langit dan bumi istiwa maklum wajib ya makna dan istiwa secara umum adalah diketahui beriman dengan sifat Allah adalah wajib adalah perbuatan Allah yang Allah lakukan kemudian juga bumi ini semuanya akan dalam Allah pada hari kiamat Ini bukti bahwa Allah memantuan sesuatu itu dengan apa? Bukti bahwa Allah ee berbuat sesuatu dengan maksiat itu pada hari kiamat baru bumi ini diang Allah. Sekarang tidak.
(36:50) menggam sifat Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat Allah akan datang dan para malaikat secara berbaris-baris sifat juga ikhtiar Allah pada hari kiamat maka para ulama memakai faedah yang telah dipatenkan oleh Imam Malik semuanya ketika ditanya wal istiwa ma’du dalam satu riwayat majhul istiwa itu diketahui Maknanya apa maksudnya secara ee umum secara mutlak bukan disumpakan is makl makhluk ya wal iman bihi wajib ya dan beriman dengan sifat isti Allah itu wajib kata Imam Malik karena Allah menyatakan sifat itu bagi dalam
(37:30) Al-Qur’an mencari bahwa konsekuensi kita beriman kepada Allah menetapkan sifatnya konsekuensi iman kepada kitab Allah adalah kita mengimani sifat-sifat orang dalam Al-Qur’an wiyu wajib ya kemudian wal majbur bagaimananya itu enggak tahu tahu bagaimana bentuk istiwanya Allah. Nah, ituul.
(37:49) Jadi yang dimfulkan, yang tawakuf ulama di situ yang tafid oleh ulama ahlusunah adalah tentang kaifiahnya. Bagaimana bentuk Allah bicaranya malaikat itu kaifiah. Allahuam. Kalau kaifiah maka dia majhul bagaimana peristiwanya Allah bicara tentang ya Allah bersiwa surga.
(38:14) maksudnya ulama mengatakan kalau ada orang bertanya tentang kej tanya bagaimana Allah itu bahkan bisa menjawab ini di antara penjelasan ulama kita sebenarnya penjelasan ini sangat mudah dipahami ya tidak terlalu berbelik-belik sebenarnya gitu memahami masalah ini baik wal majhul bagaimananya bagaimana bentuk turun Allah majhul jadi beda antara makna dengan makna makna tentang sifat-sifat Allah jelas.
(38:40) Maka Allah binaskan lafaz-lafaz ya yang lafazkan istilahnya dengan sifat yang sama namanya dan sifat makhluk namanya ya bukan hakikat kaifiahnya supaya apa supaya makhluk memahami maknanya. Kalau Allah sebutkan satu lafaz yang tidak ketahui maknanya, bagaimana makhluk akan sampai pada sebagian makna itu.
(39:05) Maka digunakanlah istilah penamaan sifat sama dengan penamaan sifat makhluk agar makhluk sampai kepada maknanya. Tapi kaifiah dan hakikatnya Allahuam. Maka kata walhul bagaimana hakikatnya? Kaisianya itu Allah yang tahu makhluknya ada yang tahu. Wasalu bidah bertanya tentang bentuk hakikat kaifiah sifat Allah itu bidah. Nah, yang menjadi ee ee persoalan kadang-kadang adalah ketika hadir dalam pikiran sebagian orang itu bertanya bagaimana bentuk.
(39:30) Nah, itu yang tidak bisa dipertanyakan karena akan karena sahabat itu enggak pernah bertanya pada Nabi tentang hal-hal seperti ini. Bagaimana istira Allah ya Rasulullah? Bagaimana Allah itu turun ya Rasulullah? Gak per gak pernah ditanya oleh para sahabat. Karena yang jelas bagi mereka adalah sifat Allah tidak akan sama seperti sifat makhluk.
(39:55) Maka bertanya itu kenapa diatakan bidah? Ada berapa hal yang menyebabkan dikatakan bidah oleh para ulama berfiah itu adalah pertama itu suatu pertanyaan yang keliru. Kenapa harus tanya kaifiah Allah? Karena kafiah itu sudah tidak ada yang tahu.
(40:15) Kemudian kalau ditanya kaifiah orang akan ragu akan menimbulkan keraguan tentang sifat Allah. Nah, yang ketiga adalah kalau ada orang membahas jatuh kepada menyifatkan Allah dengan makhluk. Ini di antara penjelaspan kita tentang persoalan ini. Baik. Ee kemudian setelah itu ya Allah ber untuk sesuatu Cukup Allah itu manusia tiap hari Allah itu memiliki urusan yang begitu baik di urusan makhluk ini.
(41:11) itu semuanya itu ada yang Allah wafatkan ada yang hidupkan, Allah yang sehatkan memberi penyakit Allah uji Allah mengurus dengan sekian banyak sekali urusan makhluk ini tidak satuun yang wudu maka surah ee ayat kursi itu jalani luar biasa se Allah mengurus urusan makhluk ini tidak sedikit pun hal itu menyisahkan, memberatkan, membebankan kepada Allah subhanahu wa taala.
(41:43) Allahu la ilahaill kenapa Allah tidak memiliki sifat antuk dan se tidak merasa berat bagi Allah untuk mengurus ini Allah itu maha tinggi dan maha besar baik maka oleh sebab itu para ulama menjelaskan hal ini ya para ulama salam beriman tanpa harus tak, tanpa harus tak juga tidak tabdah. Semua ulama yang berjalan dalam Alquran sunah mengatakan kamu beriman dengan hal itu semuanya datang dari sisi Rab kami Musa.
(42:36) Allah baru bicara kepada Musa kan setelah sampai Musa diikut sini. Sebelum itu Allah berbicara kepada Musa. Ini yang menunjukkan Allah bicara dengan masih bicara dengan masih ada. Baik. kemudian ya makna qiyamul hawadid ya ada sesuatu yang baru dalam zat Allah yang dimaksud adalah sifat-sifat ikhtiya Allah bukan adanya makhluk ya adalah sifat Sifat-sifat ikhtiar Allah yang tadi sifat-sifat ikhtiar ya Allah baru bicara kepada Musa setelah Musa sampai kepada ya Allah baru bicara kepada Musik.
(43:39) Ee kemudian juga dalil-dalil dalam sunah sangat banyak ketika Rasulullah menyampaikan, “Innallah id ahabba abdan nana Jibril.” Allah apabila mencintai seorang hamba, Allah baru menil Jibril beritahu Jibril tapi Allah baru mengatakan kecintaan kepada hamba. Tadi setelah hamba itu diciptakan hamba itu beramal saleh bukan dari sebenarnya yang disebutkan oleh orang ahli.
(44:05) Jadi fahal mun ketika Allah memanggil Musa, ketika Allah memanggil hambanya yang dicintai memanggil Jibril ya, apakah itu qadir atau hadis? Apakah itu baru atau azali? Tentu yang jelas itu adalah baru beriktibar dengan sifat Allah yang sebelum Allah bicara ketika Allah bicara kepada Adam kemudian Allah bicara kepada Nuh. Bari bicara Allah kepada Nuh itu adalah bicara kepada Nuh.
(44:29) Sunah juga dalam dalil Alquran tidak ada seorang di antara kalian di akhirat itu nanti kalau di akhirat masing-masing orang Allah akan bicara kepadanya tidak ada seorang pun di antara kalian nanti kecuali Allah akan bicara kepadanya Ada penterjemah antara hamba dengan Allah Taala.
(45:03) Ini Allah baru bicara kepada malaikat ya. E Allah bicara kepada hamba-hambanya setelah setelah hari kiamat ini baru saya lindung asad. Bukan berarti sudah terbicara. Kalau seandainya qadiru bagaimana Allah bicara? Berarti Allah gak bicara lagi nanti hari kiamat kepada baik kepada ahli surga, baik kepada ahli neraka. Baik.
(45:28) Maka orang-orang yang ee membantah ulama-ulama ahlusunah dengan istilah kalamul ee hadis dan sebagainya itulah penjelasannya dari kalangan para ulama ahlusunah wal jamaah. Baik. Maka maksud mereka dengan hawaris adalah yaitu perbuatan Allah yang berkenaan dengan ikhtiar Allah Subhanahu wa taala. Ya, bukan berarti adanya sifat Allah itu yang makhluk. Kesurutan sifat makhluk.
(45:55) Orang-orang mengingkari tersebut adalah tujuannya adalah jadi mereka orang-orang yang mengingkari sifat ikhtiariah bagi Allah ini mereka ingin apa istilahnya menggambarkan kepada manusia bahwa maksud mereka itu adalah sebenarnya maksud mereka adalah bahwa Allah itu tidak ada perubahan-perubahan atau tidak ada sesuatu yang baru dari perbuatan Allah.
(46:20) Nah, itu yang ingin mereka katakan sebenarnya. Padahal fakta makhluk sendiri berbeda-beda. Allah tidak sekaligus mewafatkan melahirkan makhluk ya menciptakan makhluknya menciptakan langit, diciptakan makhluk-makhluk lain. Setelah itu kan ada perbuatan yang hadis maksud. Kemudian maksud mereka yang mengkari sifat-sifat hadis itu adalah Allah tidak berbuat sebagai kehendak.
(46:53) W kalam Allah tidak berbicara w Allah tidak berbuat apa-apa yang berkenaan dengan kehendak dan kemampuan Allah subhan kudrat Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala baik maka oleh sebab itu telah kita jelaskan wful hawadis lafaz hawadis itu adalah kalimat yang ambil boleh saja dimaksud adalah wqqais hal-hal yang berkurang hal-hal yang jelek atau makhluk maka hal itu yang dimaksudkan maka itu Allah maha suci dari Allah maha suci.
(47:34) Tapi bila dimaksudkan bahwa Allah itu sifat Allah itu ada yang bergantung dengan ikhtiarnya e apa ikhtiar Allah, kehendak Allah dan iradahnya Allah itu adalah kalau sebut hawaris atau tidak hawaris yang penting Allah itu berbuat sesuai dan kehendak. Baik. Baik. Ee pembahasan berikutnya adalah membahas tentang selesai kita dengan sifat hawa di sini. Apakah ada sesuatu yang baru dari sifat Allah atau tidak? Ya, itu yang dimaksud sifat yang baru.
(48:15) Sesuatu yang baru sifat adalah sifat yang berkenan sifat ikhtiariah bagi Allah subhanahu wa taala. Bahwa Allah berbuat sifat itu sesuai ee kehendak dan wasiahnya Allah Subhanahu wa taala. Baik. Kemudian di antara tuduhan-tuduhan ya kepada Syekh Isam Timiyah juga mereka mengatakan bahwa ini mengatakan bahwa para nabi itu tidak maksum.
(48:40) Ini di antara fitnah yang disebarkan oleh sebagian kelompok tentang syarat Islami. Mereka mendu bahwa eh Ibnu Kemati tidak mengatakan bahwa ee para nabi itu maksum secara mutlah. Ini mereka katakan. Kemudian Nabi Sallallahu Alaih Wasamya menjelaskan hal ini apa yang dimaksud ya? Apakah beliau benar-benar mengatakan nabi tidak? Selama kita membaca memahami kitab-kitab bel enggak pernah beliau mengatakan hadis itu maksud.
(49:12) Cuma beliau menyebutkan ada perbedaan perbedaan ulama salaf dalam hal masalah maksum itu dari sisi tananya. Kalau dari sisi penyampaian wahyu itu semua ulama bersepakat secara mutlak Nabi sallallahu alaihi wasallam maksud tidak ada satuun salah dalam menentukan wahyu dari satu takwa kepadanya. Adapun dalam perbuatan hal-hal dosa-dosa kecil. Nah, para ulama di sini berbeda.
(49:40) Ada yang mengatakan, “Iya, ada para nabi ada yang kecil tetapi mereka dalam hal itu untuk hikmah. Pertama menunjukkan mereka itu manusia biasa yang bisa tersalah. Yang kedua ada hikmah, ada hukum di balik suatu perbuatan ketika salah harus menunjukkan apa yang harus dilaksikan.” bertobat.
(50:05) Bang ketika mereka bahwa bahwa mereka tidak melakukan dosa itu eh berkali-kali kali saja. Maka di antara contoh namanya sifat Nabi sallallahu alaihi wasallam abw contoh di antaranya yang disebut oleh para ulama. Baik. Maka di sini akan dibahas bahwa kalau dalam masalah penyampaian wahyu Rasulullah sahu al wasallam secara mutlak adalah maksum. Maka beliau mengatakan inalumit.
(50:36) Maka sesungguhnya para nabi dan rasul itu maksum terhadap apa yang mereka sampaikan dari Allah Subhanahu wa taala dalam penyampaian risalahnya secara diiliktifa secara ulama sepakat. Kemudian beliau menjelaskan maksud is kemudian maka ismah ini adalah hal yang sudah pasti bagi para semua nabi dan rasul. Dan itulah tujuan maksud daripada membebani tugas mereka dengan dibebani mereka tugas dengan membuah dan besang.
(51:21) Ini juga bantahan kepada ahlusunah yang ditunjukkan oleh Syekh Arafidah ketika mereka menduk ahlus sunah mengatakan bahwa mereka tidak meyakini para anbiya itu nafsu. Baik. Kemudian adapun selain dari wahyu tugas syari karena rasul itu ada dia sebagai manusia dan juga sebagai rasul katakanlah aku ini manusia seperti kalian tetapi diberikan wahyu oleh Allah subhanahu wa jika rasul sallallahu alaihi wasallam kelirus disent oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini bentuk maksumnya mereka.
(52:08) Kemudian yang jadi perfcangan adalah cifra di luar tugas risang. Bukan dalam tugas syari, bukan dalam urusan syarak. Nah, ada perbedaan pendapat di sini ya. Maka yang dijikan oleh adalah bahwa para nabi itu maksum yaitu dari melakukan satu dosa secara terulang. Itu maksum di sini dosa kecil ya. Nah, pertama ulama sepakat kalau kita mau mudah sepakat dalam urusan penyampaian agama para anbiya semua mak. Yang kedua dalam semua dosa besar para anbiya semua makud.
(53:01) Jadi dosa besar penyampaian syariat itu maksud yang bicara yang pertincangkan masa-masa gaib rasa-rasa kecil. Nah, tetapi walaupun mereka ada melakukan dosa-dosa kecil alai al mereka tidak mengulang perbuatan mereka langsung diberikan taufik oleh Allah untuk bertobat. Baik. Bahkan mereka maksum juga.
(53:37) Jadi kalau kita bisa katakan maksum dari menyampaikan syariat, maksum dari dosa besar, maksum dari mengulang dosa kecil. itu tiga hal ya qad hal ini dinukilkan dari qadiat bahwa jami fuqaha muhadisin sepakat dalam hal ini. Adapun sebagian ulama tadi yang kita tekankan tadi ada perbedaan kalau sawair karena enggak nabi bisa jatuh ke dalam sahair. Ini satu tapi tadi maksum ya maksum dari untuk mengulang biar bisa terulang tujuan hal itu di antaranya ada hikmah tentu bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah masuk kecil itu ada hikmahnya tadi yang sudah tulis sebag.
(54:16) Nah, siapa di antara ulama berkata demikian? Contohnya almutawali asyafi’i. Seorang ulama dari ulama Syafi’iah ya. yaitu Abdurrahman bin Muhammad Alma’ruf Mutawal fqih usuli Syafi’i yang wafat pada tahun 478 Hijriah di Baghdad. Nah, apa pandangan beliau? alai masalah kecil kata beliau para ulama berbeda pendapat apakah nabi itu bisa kecilah sebagian ulama menafikan hal itu, meniadakan hal itu untuk masalah yaitu pembuktian isma bahwa mereka itu adalah orang yang maksum p nabi itu di antara mereka ada yang membolehkan misalnya jatuh sebagian nabi ya dalam sebagian
(55:03) dosa kecil alaiulu qasul anbiya I. Nah, ini atasnya kisah-kisah para nabi, pujeminkan pendapat adanya kemungkinan bisa sebagian nabi itu jatuh kepada sebagian dosa kecil tetapi mereka tidak akan mengulangnya. Itu berdasarkan kisah-kisah yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an. Wahuairun fil Quran.
(55:26) Ini kalau kita baca Al-Qur’an akan nampak masih Al-Qur’an. Baik. Kemudian dosa-dosa kecil itu terjadi di sebagian tadi bukan sebagian dosa kecil atau sebagian nabi yang jatuh dalam sebagian dosa kecil itu. Itu dalam melihat tiga hal. Pertama asahwu wisat lupa ya. Yang kedua imar aula meninggalkan lebih utama ya.
(56:08) Yang ketiga, istibahul mandi bil mubah, yaitu ragunya antara hal ini dibolehkan atau dilarang. Nah, ini para ulama menjelaskan ya ketika ada terdapat dalam Al-Qur’an kisah-kisah para nabi yang nabi itu ditegur oleh Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur’an di mana tadi kita abah dan juga sisa-sisa nabi yang lainnya seperti bungnya Nabi Harun dengan Nabi Musa dan Harun ketika Nabi Musa marah kepada saudaranya kemudian Harun tidak mencari pengarah Bani Israel dan sebagainya.
(56:43) Nah, ini ini dosa-dosa kecil ini terdapat sebagian dosa kecil. Tetapi alasan kenapa Nabi bisa jatuh ke situ ah disebutkan para ulama infah atau hal yang lebih utama atau adanya adanya keraguan bagian ini dilarang atau diboleh firman Allah Subhanahu wa taala kepada Nabi Nuh. inuka minahil ini contoh sesungguhnya aku peringatkan engkau wahai Nuh kata Allah janganu termasuk orang-orang yang ini sebenarnya adalah ketika Nabi Nuh memohon kepada Allah meminta agar Allah mengelamatkan anak ini secara peringatkan orang-orang dan juga tentang Nabi Yunus. Nah, ini dalil-dalil kita
(57:36) idal fuqi almun. Ini kisah Nabi Yunus ketika dia apa namanya? Lari ya dari kapal. Kemudianik dan juga tentang Nabi Daud maka Allah katakan kami ampuni bagi hal itu. Ini menunjukkan bahwa adanya hal yang Nabi Adam makan buah yang dilarang surga ini nabi di sini kan ada disebutkan alfran wal istilah-istilah yang disebutkan terjadi perbuatan perilaku yang tidak diai.
(58:21) Karena itulah pendapat jumhur ulama, jumhur umat ya di sini kenapa Islam banyak yang dikatakan orang padahal sebetulnya sudah banyak ulama yang membahas sebelum beliau tadi almut dan itu para ulama-ulama lain bahas masalah. Kemudian yang berikutnya pembahasan adalah masalah haramnya ziar anbiyaihin tentang keharaman melakukan perjalanan menziarahi kubur para nabi dan orang saleh.
(59:02) Kemudian dalilnya dalam hal ini adalah ini banyak kebiasaan-bacaan ya itu persoalan para ulama adah apa hukumnya mengadakan perjalanan menyewa kendaraan Bapak siap untuk topi safar dengan tujuan kunjungan kuburan atau tempat suatu masjid yang dianggap lebih mulia untuk beribadah.
(59:28) Ini jadi pesahan pembahasan oleh para ulama. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melarang dalam hadisnya dilarangkan melakukan hal itu adalah memperatkan perjalanan membawa bekal dan sebagainya kecuali untuk menuju tiga masjid nanti boleh cafaya menabung bersiap untuk perjalanan berbekal ya tidak boleh mempercayakan bekal untuk perjalanan untuk melakukan perjalanan istilah untuk beribadah tentunya bukan berdagang beribadah yang maksud itu ibadah maka dikaitkan dengan masjid maka tidak ada masjid f dunia ini yang paling utama untuk dikumpulin yang tiga ini masjid haram masjid aqsa
(1:00:16) kalau tujuannya ibadah maka dari hadis ini ulama banyak mengambilkan dalil ketika itu kan larangan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam larang wasam untuk mengadakan perjalanan juga ibadah. Jika ke masjid lain saja tidak ada kecil tiga masjid ini. Karena ada orang yakini beribadah di masjid lebih ee apa namanya utama, banyak pahalanya atau karena ada kuburan apa di masjid dianggap lebih mulia kuburan tadi di masjid itu karena ada kuburan ini sekarang ada sebagian yang memahami di masjid. Maka berdasarkan dari hadis inilah para
(1:00:58) ulama melarang mempersiapkan perjalanan untuk tujuan kuburan orang saleh atau nabi. Nah, rihal ini adalah yufidul hasar ya atau adalah bisat nahi la tasyub ada datang dalam bentuk nafi, ada bentuk larangan. Kemudian juga kalau kita melihat tidak ada seorang pun sahabat dari kalangan para tabiin juga demikian yang mereka menganjurkan untuk men perjalanan untuk menziarahi tempat-tempat tertentu ataupun asarul anbiya.
(1:01:38) anbiya maksudnya adalah tempat-tempat yang pernah diunjungi oleh para nabi ataupun kubur-kuburan para nabi masjid atau masjid-masjid di tempat-tempat para nabi salat ke situ kecuali kecuali hanya tiga tiga masjid e dalil kan di tengah kehidupan para sahabat ketika Ketika sahabat radhiallahu anhu menaklukkan Syam, Baitul Maqdis, Palestina lam yasbut wahid.
(1:02:40) Tidak ada dari sahabat yang mendatangi Ibrahim Alaih Salam ataupun menganjurkannya. Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam juga tidak pernah menganjurkan para sahabat yang ya berada di Syam untuk mengunjungi kuburan Nabi Ibrahim alaihi salam. Maka ya Iraq tidak didengar adanya ulama dari Syam, dari Iraq ya untuk sekedar menuduh kuburan Nabi tertentu ataupun kuburan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam tetapi dan dengan tujuan ziarah kubur ya berjalan.
(1:03:16) Cuman ulama mengatakan bila seseorang sampai ke masjid Nabi sallallahu alaihi wasallam di Madinah maka dia diahkan untuk menziarahi kubur Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lebih tujuan dari kampungnya bukan ziarah kubur tapi di kampungnya adalah untuk salat di tempat Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(1:03:36) Kemudian alasan lain adalah sesungguhnya ibadah itu kuncinya adalah sunah dan fiksidah. Jadi kalau berjalan sujud ibadah jadi selain sikit itu kalau berdagang boleh saja kan atau mengadap penelitian atau melihat ee sej apa namanya peninggalan sejarah tapi tidak ada hubungannya dengan ibadah ya ada pahala dan sebagainya. Maka oleh sebab itu di sini dijelaskan para ulama tentang ee apa namanya? Ziarah kubur atau yang dipersoalkan adalah mempersiapkan bekal untuk ziarah dengan tujuan ziarah.
(1:04:18) Kemudian di antara dalil adalah yaitu hadis Abu Hurairah. Dia pergi ke Bukit Toksin di mana Musa bicara di sini. Maka dia ketemu dengan sahabat Basratulifar tatkala bertemu itu seandainya engkau bertemu aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke sana nis engkau tidak akan pergi ke sana. Nah, lalu disebutkan oleh Basratul Gifari hadis yang melarang untuk berkunjung ke tempat-tempat dalam tujuan mempiri berkah ibadah dan sebagainya dengan hadis tadi yaitu ini paham dari para sahabat tentang hadis.
(1:05:14) Kemudian adapun secara mutlak ziarah kuburan yang dimaksud adalah bila mereka ingin ya ziarah kubur Nabi setelah mereka sampai di masjid Nabi sallallahu alaihi wasallam maka itu disunut maka ini ditunahkan untuk dia menar Salam bukan untuk berdoa diikur Nabi sallallahu alaihi wasallam tapi adalah untuk memberikan salam kepada Nabi sallallahu alaihi wasam.
(1:05:54) Demikian pula ziarah bagi orang-orang yang sudah berada di Mina atau lewat di Madinah tanpa harus mempersiapkan perjalanan secara sengaja. Tujuan utamanya hanyalah untuk ziarah. ini yang menjadi ee catatan bagi baik Imam Nawawi ini kita nukilat Imam Nawawi dalam kitab Majmu beliau menjelaskan Imam Alamain Abul Ma Aljuwaini Imam Haramain dari syikhu a waliduhu bahwa orang tuanya Imam Har ini melarang memberikan fatwa melarang untuk melakukan perjalanan selain dari tiga masjid tujuan dalam tujuan beribadah tentunya dial hadis berdasarkan hadis ini
(1:06:48) waqama ya dan Imam Haramain ini menjelaskan bahkan mungkin belum mengatakan haram Nah, inilah di antara penjelasan singkat tentang hal ini. Barakallahung jaminan. Kita kembali kepada kita dari ada tiga topik kita bahas pada kesempatan ini. Pertama adalah masalah terbekal-bekal untuk tujuannyaar tertentu.
(1:07:32) Yang kedua tadi kita bahas tentang ee salaf ee ee usmatul anbiya kemaksumat para nabi. Kemudian kita bahas juga tentang masalah adanya hal yang baru dalam sifat Allah. Bukan berarti itu adalah yang dikatakan baru ee bagian dari makhluk tetapi adalah sifat ishtiariah bagi Allah subhanahu wa taala. Barakallahu fikum.
(1:07:56) Kita kembali kepada yang kita di studio nam. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ustaz. Syukran jazakullah khair atas materi yang telah disampaikan oleh Al Ustaz di kesempatan hari ini. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya dengan betul dan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Barakallahu fik. Dan selanjutnya kami buka sesi tanya jawab dan alhamdulillah sudah ada beberapa pertanyaan yang masuk dan mungkin ee Anda juga yang ingin bertanya secara langsung kami persilakan bisa menghubungi kami di L telepon di 0218236543.
(1:08:27) Yang pertama, Ustaz, kami ajukan terlebih dahulu di layanan pesan WhatsApp. Ada pertanyaan dari Pak Muhammad Amin di Ogan Ilir Sumatera Selatan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Ustaz, ahli kitab mengatakan tangan Allah terbelunggu sedangkan tangan mereka terbuka.
(1:08:48) Pertanyaannya, apakah ahli kitab mempercayai bahwa Allah itu mempunyai tangan? Syukran. Jazakullah khairan. Baik. Ya, di situ orang Alkitab menetapkan bahwa tangan Allah berlind sebagainya ya. Kemudian ya sifat kalam sifat ya alyat sifat ayat tangan bagi Allah itu Allah banta sifat tersebut dari situ bukan kalau seandainya Allah tidak memiliki sifat tentu Allah tidak menjawab tidak mengulang perkataan tangan itu.
(1:09:30) Maka di sini Allah sudah memberikan rezeki ya memberikan untuk sesuai yang Allah kehendaki. Nah, ini masiah juga perbuan masiah Allah subhanahu wa taala Allah beri ini saya ini Allah berikan rezeki sesuai kehendak Allah dalam setiap masa Allah turunkan nikmatnya sesuai masa sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wa taala.
(1:10:01) Kalau seandainya Allah tidak memiliki sifat tangan, tentu Allah juga tidak akan baik. Terima kasih banyak ustaz. Demikian untuk Pak Muhammad Amin. Dan selanjutnya kembali di layanan pesan WhatsApp yang kedua Ustaz, apakah Allah selalu berada di luar makhluk? ee Allah turun langit ke bumi di setiap sepertiga malam tapi tidak masuk ke langit.
(1:10:30) Bagaimana memahaminya, Ustaz? Karena hal ini sering didebat oleh orang-orang Asyari Asyairah terkait hal ini, Ustaz. Karena katanya tidak logis. Mohon jawaban dan penjelasannya. Ik Islam. Azakumullah. Sahabat Roja di mana pun Anda berada, kami mohon maaf ee audio yang terkoneksi kami dengan Al Ustaz terputus dan ee kami coba kembali untuk mengkoneksikannya dan mungkin bisa diulang kembali Ustaz jawaban dari pertanyaan yang kedua tadi dari awal.
(1:11:39) Ustaz na hilang dulu ya. Nah, kami terlebih dahulu sampai kami terkoneksi dengan Al Ustaz Al Dr. Almistri untuk melanjutkan sesi tanya jawab ini. Bagi Anda jangan ke mana-mana setelah beberapa jeda berikut ini. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM.
(1:12:30) Menyebar cahaya sunah Roja TV para inalhamdulillah. Roja TV, saluran tilawah Al-Quran dan kajian Islam, ayat ayat-ayat Al-Qur’an. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Waid qatil malaikatu ya Maryamu innallahafaki wa thaharaki wastofaaki ala nisil
(1:13:39) alamin. Ya Maryamu qnuti lirabbiki wasjudi warka’i maari’in. Dan ingatlah ketika malaikat Jibril berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia yang semasa dengan kamu. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu. Sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.
(1:14:18) Ayat ayat-ayat Al-Qur’an. Kajian Islam ilmiah di Raj TV dan radio Raja. Di mana Allah Subhanahu wa taala sebutkan dalam firmannya surah Alimah ayat 31. Katakanlah ya Muhammad jika kalian benar-benar cinta kepada Allah fattabiun maka ikutilah aku. [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja.
(1:15:05) Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah. Amma ba’du. Al Islamakumullah. Alhamdulillah kami sudah terkoneksi lagi dengan Al Ustaz. Untuk melanjutkan sesi tanya jawab tadi, Ustaz yang kedua ee mungkin kami ulangi Ustaz pertanyaannya ya Ustaz.
(1:15:26) Apakah Allah selalu berada di luar makhluk? Artinya Allah turun langit ke langit ee bumi di setiap sepertiga malam tapi tidak masuk ke langit. Bagaimana memahaminya, Ustaz? Karena hal ini sering didebat oleh ee orang-orang yang tidak mempercayai ini yang katanya tidak masuk akal atau logis. Nonon jawaban dan penjelasannya. Baik. Kalau mereka mengatakan Allah masuk ke dalam makhluk dengan hal itu, siapa yang tidak logis? Kata mereka bahwa kita katakan Allah itu baq.
(1:15:50) Allah tidak bercampur zat Allah dengan zat makhluk. Dan tidak ada satuun zat Allah yang berada dan zat makhluk. Kalau dia katakan Allah masuk, kalau dia katakan turun masuk ke langit, berarti dia mengatakan fikir Allahama Allah beristiwa di atas langit atau berarti Allah di dalam langit.
(1:16:09) Bukan berarti Allah berada dalam langit ya. Maka ketika Allah bicara kepada ahli surga berarti Allah berada dalam aslinya sekumpung oleh makhluk. Maka oleh sebab itu jangan dipikirkan kesian bagaimana Allah turun ke langit. Ya Allah itu berarti ditumpuk oleh langit. Apakah Allah itu lewat langit kelima, keempat, ketiga lewat. Ya, itu kan kfiah Allah berbisaran dengan kafia ya berbisaran.
(1:16:36) Maka bagaimana turunnya Allah itu bahkan makhluk pun makhluk umpamanya ya makhluk jangankan kita simpaikan sifat Allah dalam sifat makhluk aja mungkin saja makhluk ya paal ketika ee apa namanya seseorang ya turun atau umpamanya layang-layang ataupun pesawat turunnya berbeda-beda tidak sama ya sekarang kita umpunya lang-layang kita di atas gedung yang berlantai 30. Lalu ditetapkan 30 ke lantai.
(1:17:12) Sekarang layang-layangnya sudah turun di lantai pertama. Apa tadi layang-layang tadi melewat lantai kedua, ketiga, empat? Tidak. Artinya jika sifat itu mungkin pada makhluk gitu, bukan berarti Allah masuk ke langit dunia. Kalau begitu Allah lebih kecil dari langit dunia. Allahu Akbar.
(1:17:43) Allahkan Allah jangankan itu kursi Allah saja wasama kursi Allah saja lebih luas dari langit dan bumi. Bagaimana dengan Allah? Aras saja disebutkan dalam hadis itu adalah perbandingan dengan langit bumi adalah yaitu bagaikan sebuah gelang atau yang dilempar di tengah luas. Itu perbandingan antara kursi Allah dengan langit dan bumi yang tujuh lapis. Ini yang telah ini baru langit pertama.
(1:18:11) Bahkan kita tidak melihat pertama awan yang saya lihat kita di bawah langit pertama ini ada matahari, ada bulan ada bintang semuanya. Terus ada lagi langit kedua ketiga wallahuam ya. Ada aja makhluk apa makhluk ada di sana. Nah bukanlah berarti Allah itu masuk ke dalam langit dan Allah maha kuasa atas segala kalib.
(1:18:35) Maka jangan kita pikirkan sifat Allah seperti sifat makhluk yang mana kalau dia seorang makhluk berada di lantai 7 turun ke lantai pertama kalau manusia pasti dia lewat dulu lantai 6 ini itu kan kfiah pada makhluk dan tidak bisa dikiatkan kiah pada Allah subhanahu wa taala maka jangan dipikirkan bagaimana Allah turunnya bukan bagaimananya Allah itu memiliki sifat nuzul betul bagaimana Allahu Allah miliki sifat istiwa, maka sama istiwa juga bagaimana ya enggak enggak makbul itu Allah enggak nempel di aras ya dia pikirkan dengan akalnya seperti mana yang ada pada makhluk karena yang
(1:19:13) sampai akal kita apa yang terlihat pada makhluk maka lalu mengkiiaskan apa yang ada dalam pikiran kita itu apa yang terlihat oleh pada makhluk sedangkan Allah subhanahu wa taala tidak serupa dengan segala sifat makhluk hakikat sifat Allah subhanahu wa taala itu saja maka kita katakan ya ketika kita mengkiat askan sifat makhluk digunakan fias aula. Nah, itu sifatnya para ulama.
(1:19:36) Jika pada makhluk aja mungkin Allah lebih aula ya tidak harus seperti mana. Contoh umpamanya ketika menyebutkan di atas ya ketika diatakan kalimat di atas h ya bahwa sesuatu yang di atas harus nempel yang di bawah untuk dalam hati kita amamin sama ya. Tidak kalian beriman dengan zat yang ada di atas langit di atas langit apa Allah pikiran kita kalau memikir dengan akal kita kepala bahkan sebenarnya tidak setiap yang di atas menempel kepada yang di bawah banyak sekali jangan Allah makhluk saja makhluk saja umpamanya Ya, ketika
(1:20:27) katakan umpamanya awan di atas gunung, awan tidak nempel atau umpamanya awan di atumi atau pesawat terbang di atas gak nempel ke rumah-rumah orang itu di bawahnya. Langit pertama gak nempel ke langit kedua enggak nempel langit pertama langit pertama langit kelima gak nempel langit keempat ya.
(1:20:50) itu sesuatu yang di atas tidak mesti harus menempel makanya langit pertama gak menempel ke bumi. Maka kalau dalam pikir logika kita mau disuruhkan dengan sifat yang makhluk yang mana gak bisa. Karena logika kita itu hanya bisa melogikan hal yang bisa pada makhluk pada Allah subhanahu wa taala hendak serupa sifat dan kaifiah sifatnya dengan makhluk. Selesai cerita.
(1:21:13) Kalau enggak masuk asal ya kamu berpikir bagaimana Allah turun. Nanti kamu pikir juga bagaimana Allah datang hari kiamat. Bagaimana datang ya? Naik kendaraanah naik pesawat naik apa? Itu namanya Allah. Bagaimana Allah datang? Yang jelas Allah menyebutkan sama juga Allah menyatakan sama juga dengan sifat Allah berbicara ini.
(1:21:54) Maka di situlah ulama mengatakan wal majhul bagaimananya itu tuh gak ada makhluk yang hatta Rasulullah sallallahu alaihi wasallam para anbiya kaifa kfat Allah enggak ada satu makhluk kalau kita masuk berarti dia masuk ke langit dunia. Nah, itu maksudnya berbicara tentang kaitliat. Kita bicara dengan wallahuam bawab. Nah, Ustaz, alhamdulillah terima kasih banyak, Ustaz. Jazakir atas jawaban dan penjelasannya.
(1:22:19) Demikian untuk yang bertanya dan pertanyaan tadi menutup pertemuan kita, Ustaz di kesempatan hari ini karena waktu yang sudah habis yang telah disediakan dan mungkin ada khitam yang dapat disampaikan Ustaz. Silakan. Baik, terima kasih ee pada semua pengurusan seminar yang telah bergabung pagi hari ini.
(1:22:45) Terus juga kepada teman-teman di studio Tinci dan studio di Indonesia. Semoga Allah Subhanahu wa taala selalu membaat kita, mena kita selalu memudahkan kita untuk ee hidmat kepada umat, memberikan ilmu, dakwah dan seterusnya. Dan kita juga selalu dilindungi dan hal-hal yang membuat kita lemah, malas dan sebagainya. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih sekali lagi untuk ustaz jazak khair barakallah fik.
(1:23:24) Semoga menjadi pertemuan yang diberkahi dan dirahmati Allah subhanahu wa taala dan ilmu yang bermanfaat yang telah disampaikan oleh Ustaz menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Ee semoga Allah menjaga ustaz beserta keluarga, berkahi ilmu yang telah disampaikan dan juga terus memberikan kesehatan kepada ustaz supaya bisa terus memberikan faedah-faedah yang bermanfaat untuk kita.
(1:23:44) Jazakumullah khair barakallahu fikum. Kepada antum yang sudah menyimang acara kami di kesempatan hari ini dari pembahasan faedah-faedah sejarah Islam bersama Al Ustaz Dr. Alim Musri Semjan Putra hafidahullahu taala dari Simsyah Pekanbaru Riau. Simak kembali kelanjutannya di Jumat pekan yang akan datang insyaallah.
(1:24:02) Demikian kami undur diri mohon maaf apabila ada kesalahan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak radio
Leave a Reply