(3) [LIVE]: Ustadz Dr. Emha Hasan Nasrullah, M.A. – Ilmu Ushul Tafsir – YouTube
Transcript:
(00:00) [Musik] bagi Anda para pemirsa Raja Bismillah.
(01:33) as Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina.
(02:40) Man yahdihillah fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiya ba’dah. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabiyina Muhammad wa ala alihi thyibin thhirin wa ashabihil guril mayamin waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Qalallahu jalla waala.
(03:19) Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ikhwat Islam rahimakumullah. Alhamdulillah segala puji bagi Allah jalla waala yang senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita semua. Kenikmatan yang berlimpah yang memberikan kesempatan kepada kita untuk terus beribadah kepadanya. Allah Subhanahu wa taala memberikan kemampuan, memberikan kesempatan, memberikan petunjuk hidayatut taufik di dalam hati kita untuk menjalankan ketaatan.
(04:14) Tentunya ini merupakan kenikmatan yang besar. Maslahat dari ketaatan, maslahat dari ibadah itu kembali kepada kita semua. Maka kita berusaha untuk senantiasa memuji Allah Subhanahu wa taala. Kita telah mendapatkan kenikmatan terbesar mengenal Islam. Mempelajari bagaimana cara berislam.
(04:53) dan terus tertarik untuk menambah ilmu, menambah wawasan, mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan syariat Islam agama kita yang mulia ini. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala jadikan kita termasuk hamba yang pandai bersyukur. Kemudian Allah tambahkan kenikmatan untuk kita semua. Semakin hari bertambah ilmunya, bertambah amalnya.
(05:24) Dan besar harapan kita adalah kelak di hari akhirat kita terselamatkan dari neraka kemudian masuk ke dalam surganya. TB ikhwatal Islam rahimakumullah, insyaallah pada malam hari ini kembali kita akan melanjutkan kajian kita Ushulut tafsir dan insyaallah kita akan membahas tentang al-ikhtilaf, tentang al-ikhtilaf di dalam tafsir dan ijma mufassirin tentunya di dalam di dalam tafsir ini poin pembahasan kita pada malam hari ini yaitu yang pertama tentang al-ikhtilaf, kemudian selanjutnya tentang al-ijma.
(06:08) Ijma lawannya al-ikhtilaf. Kalau kita perhatikan sebenarnya al-ikhtilaf perselisihan itu wajar terjadi di kalangan kita, terjadi di kalangan para ulama. Karena setiap manusia punya akal dan akal manusia itu berbeda-beda. Setiap kepala memiliki ide. Oleh karena itu yang namanya khilaf, perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang wajar.
(06:55) Makanya agama syariat kita itu kembali kepada dalil. bukan kembali kepada akal. Seandainya syariat itu kembali kepada akal, maka syariat ini akan berubah terus akan mengalami perubahan di setiap tempat dan setiap zaman. Karena cara berpikir orang itu berbeda-beda. Kemudian ikhwatal Islam rahimakumullah, ketika Allah Subhanahu wa taala memberikan sebuah syariat yang sempurna dan syariat ini enggak akan berubah sejak diturunkannya Al-Qur’anul Karim, diutusnya Rasul sallallahu alaihi wasallam 1400 tahun yang lalu, ketika beliau wafat, maka syariah ini sudah sempurna. sampai zaman ini dan sampai akhir zaman
(07:45) berlaku terus-menerus dan enggak akan berubah. Berbeda ketika kembali kepada akal manusia apalagi kembali kepada perasaan apalagi perasaannya pakai baper tambah berubah berubah. Kalau kita perhatikan misalkan salat magrib, salat magrib sejak diutusnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 3 rakaat sampai detik ini 3 rakaat kita salat magrib 3 rakaat dan enggak perlu ditambah meskipun mungkin sebagian akal mengatakan ditambah satu rakaat kan bagus apalagi pakai perasaan semakin banyak semakin baik misalkan tetapi dalam
(08:32) syariat enggak boleh ditambah satu rakaat kalau sengaja salatnya enggak sah. Ini dalam masalah salat. Begitu juga dalam urusan-urusan yang lain. Ketika sebuah syariat atau sebuah ajaran itu ditambah, maka seiring berjalannya waktu nanti akan berubah tambahannya itu akan berubah di tempat tertentu. Mungkin seorang punya amaliah tertentu.
(08:58) Misalkan berzikir dengan menggerakkan badan dengan gerakan-gerakan tertentu misalkan. Kemudian di tempat lain sambil berdiri sambil muter-muter misalkan. Ini bermacam-macam. Setiap tempat dan setiap zaman akan mengalami perubahan. Oleh karena itu kita semua berusaha untuk kembali kepada petunjuk dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(09:27) Kalau kita kembali kepada petunjuk Rasul sallallahu alaihi wasallam maka pada hakikatnya kita telah menyatukan menyatukan umat ini dan menjauhi perselisihan. Tetapi ketika kita memunculkan sebuah ajaran yang baru, maka justru akan menimbulkan perselisihan. Nanti orang lain juga bikin ajaran yang baru, yang sana juga bikin ajaran yang baru, akhirnya terjadi perselisihan.
(09:54) Tapi kalau kita semua sepakat untuk kembali kepada ajaran Nabi, maka perselisihan itu akan semakin berkurang dan semakin berkurang. Tapi realitanya terkadang ketika kita berusaha ya kita semua kaum muslimin semuanya ingin kembali kepada ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ternyata muncul pernyataan bahwasanya justru yang seperti itu dianggap memecah belah umat ikhwatul Islam rahimakumullah sebenarnya perselisihan itu wajar ketika semuanya kembali kepada kebenaran, kembali kepada petunjuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nah, ketika sudah masing-masing ingin kembali kepada petunjuk Rasul,
(10:40) akan tetapi salah, bukan salah, akan tetapi terjadi perselisihan di dalam memahami petunjuk Nabi, maka itu tidak masalah, itu wajar. Yang salah adalah ketika sudah mengetahui amalan diri ini enggak sesuai dengan petunjuk Nabi, tetapi masih ngeyel, masih ngotot, dan enggak mau menerima petunjuk Nabi. Ini yang salah.
(11:07) Di dalam sebuah kisah ketika Rasul sallallahu alaihi wasallam mengutus sebuah pasukan, para sahabat diutus untuk pergi ke Bani Quraidah. Beliau berwasiat, “Jangan salat asar kecuali di Bani Quraidah.” Ketika sampai di sebuah perjalanan, sebagian sahabat mengatakan ini kalau kita sampai ke Bani Quraidah, kita akan terlambat salat asar. Kita salat di sini.
(11:41) Sebagian lain mengatakan, “Enggak bisa kita salat di Bani Quraidah sesuai dengan wasiat Rasul sallallahu alaihi wasallam.” Ada yang berpendapat maksudnya adalah Rasulullah memerintahkan kita untuk cepat jalan cepat supaya sampai ke Bani Quraidah sebelum tenggelam matahari. Kemudian salat asar di sana. Akhirnya terjadi khilaf. Ada yang salat di Bani Quraidah, ada yang salat di tengah perjalanan.
(12:06) Dan Rasul sallallahu alaihi wasallam tidak menyalahkan semuanya. Ini menunjukkan bahwasanya khilaf kalau tujuannya adalah mencari kebenaran maka enggak masalah. Yang penting jangan sampai memunculkan khilaf dalam rangka untuk mencari pembenaran. Orang-orang Quraisy mereka sudah dihadapkan dengan berbagai macam dalil yang menunjukkan kebenaran risalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(12:41) Yang menunjukkan kebenaran nubuwah kenabian Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Misalkan mereka sudah mengetahui kejujuran Nabi. Mereka hidup 40 tahun bersama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di Makkah. sebelum Rasulullah diutus 40 tahun hidup bersama mereka. Artinya mereka benar-benar mengetahui siapakah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Namun ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang nabi, diutus sebagai seorang rasul, mereka enggak mau menerima ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(13:09) Justru melontarkan kata-kata yang mereka sendiri mendustakan apa yang mereka katakan. Mengatakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebagai kadzab pendusta. Padahal mereka meyakini bahwasanya Rasulullah adalah al-amin, yang paling jujur, amanah dan sebagainya. Mereka katakan bahwasanya Al-Qur’anul Karim adalah dongeng orang-orang terdahulu. Mereka katakan bahwasanya Al-Qur’anul Karim adalah perkataan setan.
(13:36) Padahal mereka adalah orang-orang Arab. Mereka paham keindahan bahasa Al-Qur’anul Karim. Sebagian mereka memang benar-benar memiliki ilmu bahasa Arab yang tinggi. Secara umum mereka orang-orang Arab fusoha bahasa mereka belum tercampuri dengan A’jam. Ketika turun Al-Qur’an mereka paham ini enggak mungkin perkataan Muhammad dan juga bukan perkataan setan.
(14:00) Bahasanya indah, ajarannya juga mulia. Tapi tetap mereka tidak mau menerima lah. Ini jangan sampai kita memiliki penyakit seperti itu disebabkan karena kesombongan, gengsi, atau lebih suka dengan kebiasaan yang kita lakukan. Memang untuk merubah kebiasaan itu tidak mudah. Tetapi bagaimanapun juga ketika kita berhadapan dengan sebuah nas, dalil petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka kita enggak ada pilihan kecuali harus tunduk kepada aturan Allah dan Rasul-Nya.
(14:36) Tib ikhwatul Islam rahimakumullah, kita masuk pada pembahasan tentang al-ikhtilaf, tentang masalah khilaf di dalam dunia tafsir yang akan kita bahas dua ya. Jadi yang pertama bahas masalah khilaf, yang kedua masalah ijma. Tentang khilaf kita juga akan membahas dua poin. Yang pertama aqsamul khilaf, macam-macam khilaf.
(15:02) Kemudian yang kedua adalah asbabul khilaf, sebab terjadinya khilaf di kalangan almufassirin. Yang pertama, aqsamul khilaf. Jenis-jenis atau macam khilaf. Yang pertama ini sudah pernah kita bahas. Yang pertama adalah al-khilaf atau ikhtilaf tanawu. Ikhtilaf tanawu. Yang kedua adalah ikhtilaf tadat. Ikhtilaf tanawu adalah ketika ayat itu ditafsirkan dengan lebih dari satu makna. Antum alal ayah ala jami maqila fiha.
(15:47) Kemudian idat ma’anin sahih ghair muta’aridah. Ketika makna tadi yang bermacam-macam tadi semuanya benar dan tidak ada pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Itu namanya khilaf tanawu. Kemudian waminhuma yakun. Dan sebagian khilaf atau gambaran khilaf tanawu ini adalah ketika ada misalkan dua pendapat.
(16:12) Yang satu A misalkan, yang satu lagi B. dengan ibarah, dengan takbir, dengan kata-kata yang berbeda dan tidak ada saling menafikan antara yang satu dengan yang lainnya. Nah, ini juga disebut sebagai khilaf tanawu. Jadi, ayatnya bisa diartikan ini dengan itu atau perkataan mufassir yang menafsirkan sebuah ayat dengan perkataan satu atau perkataan dua.
(16:44) Namun di situ tidak saling bertabrakan. antara satu dengan yang lainnya atau dengan kata lain bisa digabungkan. Ini namanya khilaf tanawu. Kemudian yang kedua adalah ikhtilaf tadat. Intinya adalah humal ulan almutanafian. Dua perkataan atau tentunya lebih ya, dua perkataan yang saling menafikan antara yang satu dengan yang lainnya.
(17:11) Maksudnya adalah seandainya kita mengambil satu pendapat berarti secara otomatis kita telah menafikan pendapat yang lain. Ketika kita merojihkan satu pendapat berarti kita telah menganggap pendapat yang lain marjuh. Ini namanya khilaf tadat. Contohnya misalkan kalau ikhtilaf tanawu ini sering kita jelaskan bahwasanya lafaz siratal mustaqim jalan yang lurus.
(17:39) Apa itu siratal mustaqim? Sebagian ulama mengatakan maksudnya adalah alislam. Ada yang mengatakan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ada yang mengatakan al-Haq, kebenaran. Nah, ini lafaznya berbeda-beda. Namun intinya sama, yaitu Islam adalah agama yang hak. Dan Islam dan yang hak ini adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Inilah ikhtilaf tanawu.
(18:11) Adapun ikhtilaf tadat, ikhtilaf yang enggak bisa digabungkan. Misalkan seperti lafaz al-quru. Al-Quru’ di dalam surah Albaqarah ayat 228 Allah jelaskan wal mutallaqatu yatarabbasna bi anfusihinna salatata quru. Orang yang dicerai, wanita-wanita dicerai menunggu masa iddahnya adalah tiga kali quru. Apa itu makna quru? Dalam bahasa Arab quru bisa diartikan haid, bisa diartikan suci.
(18:43) Ini khilaf antara ulama dan ini enggak bisa digabung. Kalau kita mengambil pendapat masa idahnya adalah tiga kali suci, berarti kita telah memarjuhkan atau meninggalkan pendapat yang tiga kali haidat. Atau kalau kita mengambil tiga kali haid berarti kita telah memarjuhkan pendapat yang satunya itu adalah khilaf dadat.
(19:09) Kemudian sebagian ulama Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsimin rahimahullah menjelaskan, ya ini juga sekedar pembagian aja. Beliau membagi menjadi tiga jenis khilaf itu terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah ikhtilaf fil lafzi dunal makna. Alikhtilaf fil lafad dunal makna. Perselisihan di dalam lafaz. Namun artinya sama, tidak ada perselisihan.
(19:38) Jadi yang berselisih itu yang diperselisihkan adalah lafaznya saja. Ini yang pertama. Yang kedua, ikhtilaf fil lafdzi wal makna. Ikhtilaf lafaznya dan maknanya. Wal ayah tahtamil maknain liadamud bainahuma. Dan ayat itu bisa diartikan dengan dua-duanya. Kemudian fatuh ayat alaihim. Maka ayat ini bisa ditafsirkan dengan ini, bisa ditafsirkan dengan itu.
(20:16) Kemudian yang ketiga adalah ikhtilafil lafzi wal makna. Perselisihan pendapat dalam lafaznya dan maknanya juga. Tetapi ayat tadi ketika yang satu menafsirkan A, yang satu menafsirkan B, maka A dan B ini bertentangan. Kalau yang tadi enggak bertentangan lah, ini bertentangan. Maka ayat itu harus dirajihkan dengan apa? Imam dengan siak al-ayah atau dengan tarjih yang lainnya, dengan murajjih yang lainnya.
(20:53) Dan ini hanya sekedar pembagian saja. Namun intinya sama, yaitu yang namanya khilaf di dalam tafsir itu imma tadat wa imma tanawu. Dan kebanyakan khilaf di dalam tafsir itu adalah khilaf tanawu bukan khilaf tadat. Meskipun ada tentunya khilaf khilaf tadat. Sebagian ulama mengatakan enggak ada. Syekhul Islam Ibnu Taimah rahimahullah mengatakan, “Alkilafu bain salaf fit tafsir qalil.
(21:18) ” Khilaf dari kalangan salafus saleh di dalam masalah tafsir itu sedikit. ahkami akar minih tafsir. Dan khilaf mereka salafus saleh di dalam masalah hukum itu lebih banyak daripada khilaf mereka di dalam masalah tafsir. Dan biasanya atau kebanyakan khilaf yang dinisbatkan kepada salafus saleh dalam masalah tafsir itu kebanyakan khilaf tanawu bukan khilaf bukan khilaf tadat.
(21:59) Dan mereka ketika berselisih pendapat, perselisihan pendapat itu tidak membawa mereka kepada permusuhan. Kenapa? Karena mereka semua ingin mencari kebenaran. Yang menimbulkan perselisihan, menimbulkan permusuhan itu adalah ketika yang satu mencari kebenaran, yang satu mencari pembenaran. Tayib. Itu yang pertama. Yang kedua, asbabul khilaf.
(22:33) Yang kedua adalah poin tentang sebab-sebab terjadinya khilaf. Sebagian ulama menjelaskan bahwasanya secara umum sebab khilaf itu kembali kepada dua hal. Yang pertama ikhtilaf fuhumil mujtahidina minal ulama. Pemahaman para mujtahid, para ulama. Yes. Ada gangguan seperti kita lanjutkan.
(23:31) Jadi sebab khilaf itu kembali kepada dua hal. Yang pertama kembali kepada mujtahid. kembali kepada pemahaman para ulama. Yang kedua, kembali kepada lafaz lafaz yang diperselisihkan. Tib. Jadi kembali kepada dua hal. Yang pertama kepada pemahaman ulama yang menafsirkan sebuah lafaz. Yang kedua kembali kepada lafaz yang ditafsirkan.
(24:00) Nah, Syaikhul Islam Ibnu Taimah rahimahullah menjelaskan yang pertama adalah ayuabbir klu wahid minhumil mur biibar ibtihibihi musamma akadil musamma. Jadi masing-masing ahli tafsir menafsirkan dengan sebuah ibarah atau dengan sebuah perkataan yang perkataan itu enggak sama dengan perkataan mufasir yang lainnya, tetapi intinya kembali ke satu makna lah.
(24:42) ini seperti yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Sh Utsaimin rahimahullah, lafaznya berbeda namun maknanya sama lah. Kemudian beliau memberikan permisalan. Wadzalika mal asmail husna. Contohnya seperti asmaul husna. Kemudian juga asma ar rasul sallallahu alaihi wasallam. Kemudian asmaul Qur’an. Kenapa? Fainna asmaillah. Fainna asmaallahi azza waalla semuanya menunjukkan zat yang satu. Misalkan ketika seorang berdoa dengan ya rahman.
(25:12) Ya Rahman. Yang satu berdoa dengan ya Rahim. Yang satu, Ya Hayyu, Ya Qayyum misalkan dengan lafaz yang berbeda-beda. Namun intinya sama. Semuanya berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Kemudian juga misalkan nama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(25:37) Ada yang menyebut Ahmad atau menyebut Muhammad almahi wal Hasyir wal Aqib dan lain sebagainya. Namun intinya adalah kembali menyebut nama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Begitu juga ketika seorang menyebut nama Al-Qur’an, ada sebagian yang menyebut dengan sifat-sifatnya. Misalkan Al-Qur’an, alfurqan, al-huda, asyifa wal bayan wal kitab dan lain sebagainya. Jadi itu adalah lafaz yang berbeda-beda, namun intinya sama.
(26:03) Nah, inilah terkadang menimbulkan khilaf ya. Contohnya seperti yang sudah kita bahas, ihdinasiratal mustaqim. Ketika setiap ulama menafsirkan dengan ibarah atau dengan kata-kata yang menyelisihi perkataan ulama yang lainnya. Namun intinya sama. Al-Haq, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam atau Islam atau ahlusunah misalkan ahlusunah wal jamaah dan lain sebagainya.
(26:29) Kemudian yang kedua di antara sebab munculnya khilaf dan ini adalah khilaf tanawu tentunya kul mufassirin minal ismil ami alilal. Setiap mufasir menyebutkan contoh dari sebuah lafaz yang umum. Jadi ketika ada sebuah lafaz yang umum, kemudian mufassir tadi menafsirkan lafaz yang umum tadi dengan menyebutkan sebagian contoh.
(27:04) Tujuannya apa? Untuk memudahkan kita di dalam memahami lafaz tadi. Lah masing-masing mufasir memberikan contoh yang berbeda, namun intinya sama. Contohnya adalah di dalam surah at-takatur Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Tumma tusalunna yaumaidin anin naim.” Kalau di hari akhirat kita akan ditanya tentang annaim, dimintai pertanggungjawaban.
(27:34) Apa itu annaim? Apa itu kenikmatan? Nah, sebagian ulama menjelaskan maksudnya adalah al-aman wasihah wal akal wasrub. makan, minum, kondisi sehat atau kondisi yang aman. Nah, kemudian ada sebagian ahli tafsir yang menyebutkan misalkan takfifus syarai’ ketika kita mendapatkan syariat yang mudah. Karena memang syariat Islam itu adalah mudah. Adinu yusrun.
(28:01) Agama ini mudah. Ada juga yang menafsirkan maksudnya kembali ke assama wal bashar, pandangan, penglihatan. kemudian bisa mendengarkan dan kenikmatan-kenikmatan yang lainnya. Ada juga yang menjelaskan air panas di musim dingin atau air dingin di musim panas lah.
(28:25) Ini masing-masing para mufassirin menjelaskan contohnya saja sehingga di sini muncullah khilaf. Tetapi khilaf di sini maksudnya adalah khilaf tanawu. Nah, sebagian ulama menjelaskan di antaranya Syikhul Islam Taimiyah rahimahullah mengatakan wani naanqal gbani ala tafsiri salafil ummah. Dan dua jenis inilah yang sering terjadi di kalangan salafus saleh. Yang ketiga, ayyakunal lafad muhtamalan liamrain. Nah, ini kembali kepada lafaznya.
(28:54) Jadi lafaznya itu memiliki kemungkinan imma liannahu mustar fil lughah wa imma liannahu mutawati. Jadi bisa jadi ada sebuah lafaz yang dia itu musytarak. Musytarq itu satu kata namun memiliki lebih dari satu makna. Contohnya adalah misalkan ain. Ain artinya mata, tapi juga bisa diartikan misalkan mata air. Ainul ma misalkan.
(29:27) Atau misalkan mata-mata jasus itu juga disebut ain. Kalau mata kaki ana enggak tahu apakah dalam bahasa Arab disebut ainur rijal ya. Ana enggak pernah enggak pernah mendengar. Tapi yang jelas kata-kata ain satu kata memiliki lebih dari satu makna. Ini disebut musytarak. Nah, inilah yang kadang-kadang menimbulkan khilaf. Jadi kembali kepada lafaz. Contohnya misalkan Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wallaili idza as’as.
(29:56) ” Dan demi malam ketika as-as. Apa itu as-as? Ada sebagian yang menafsirkan al-iqbal, maksudnya ketika datang. Ada juga yang menafsirkan al-idbar artinya ketika pergi. Dan dua-duanya secara bahasa as-as ini benar. Bisa diartikan ali-iqbal, bisa diartikan al-idbar. Dan di dalam Al-Qur’an dua-duanya ada wallaili idza yagsya.
(30:26) Demi malam ketika sudah mulai menyelimuti alam semesta ini dengan kegelapannya. Wallaili id adbar. Ini dalam surat yang lainnya lah. Ini satu kata memiliki lebih dari dua makna. Adapun yang mutawati adalah ketika sebuah sifat ya itu dimiliki oleh dua hal yang berbeda. Misalkan fulan dan fulan. Misalkan ada Abdullah atau misalkan ada Nasrullah, ada Ayatullah, ada Amrullah.
(30:59) Misalkan ada Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Basit dan sebagainya. Ini kan banyak, tetapi semuanya memiliki sifat yang sama. Apa? manusia. Ini namanya mutawati. Nah, di dalam Al-Qur’an ada hal-hal seperti itu. Terkadang kembali ke masalah damir, kadang-kadang kembali kepada masalah sifat.
(31:24) Misalkan di dalam surah ee dalam surah al-Insyiqaq Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Ya ayyuhal insanu innaka kadihun ilbika kadhan famulaqih.” Wahai manusia engkau beramal. Kemudian innaka benar-benar beramal ilaika kadan famulaqih. maka kamu akan menjumpainya.
(31:54) Lah famulaqihi dir ha di sini kembali ke mana? Kembali kepada Allah azza waalla ila rbika atau kembali kepada innaka kadihun atau kadahan. Kembali kepada amal atau kembali kepada Allah. Nah, sebagian ulama menyebutkan ketika damir itu bisa kembali kepada lebih dari satu maka dikembalikan kepada semuanya. Dan kalau kita melihat realitanya, manusia itu kelak di hari akhirat akan menjumpai amal dia.
(32:22) Dan setiap manusia akan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa taala untuk mempertanggungjawabkan amalannya. Jadi bisa ditafsirkan dengan dua-duanya. Contoh lain misalkan wa innahu ala dzalika lasyahid. Di antara sifat manusia itu kan. Kanud itu maksudnya adalah ketika mendapatkan musibah dia mengeluh. Ketika mendapatkan nikmat lupa bersyukur.
(32:46) Yang diingat adalah kesengsaraannya aja, lupa dengan kenikmatan. Itu sifat manusia. Kemudian dilanjutkan dalam ayat selanjutnya al-adat yang keet7 Allah berfirman, “Wa innahu alalika syahid.” Wa innahu di sini kembali kepada siapa? Ada yang menafsirkan kembali kepada Allah, ada yang menafsirkan kepada manusia itu sendiri. Tib.
(33:10) Contoh lain misalkan yang kembali kepada ausf atau kembali kepada sifat. Sifatnya sama tetapi yang disifati berbeda. Allah berfirman, “Fala uqsimu bil khunnas.” Allah Subhanahu wa taala bersumpah dengan alkunnas. Apa itu alkunnas? Ada yang menafsirkan alkunnas adalah bintang. Kenapa bintang itu bersembunyi? Kapan? Ketika muncul matahari.
(33:42) Ada juga yang menafsirkan maksudnya adalah binatang seperti misalkan ee seperti misalkan banteng ya, banteng liar atau misalkan seperti rusa dan jenis-jenis binatang yang kalau melihat manusia dia pergi lari. Kalau orangnya pergi dia datang makanya mereka disebut alkunnas.
(34:05) Ini sebagian tafsir menafsirkan dengan yang satu kadang-kadang juga menafsirkan dengan yang lainnya. Nah, ini di antara sebab munculnya khilaf. Kemudian yang terakhir, yang keempat adalah ayuabbiru alal ma’na bialfadin mutaqoribah. Ini yang keempat. Ini kembali kepada mujtahid, kembali kepada ulama, kembali kepada mufassir. Masing-masing memaknai sebuah lafaz dengan lafaz yang berdekatan. Bukan dengan ibarah, enggak.
(34:37) Bukan dengan menyebutkan permisalan, tidak. Tetapi dengan lafaz yang berdekatan. Misalkan ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Warilladinakinahum laiban walahwa wumul hayat dunya.” Dan tinggalkanlah orang-orang yang itakuinahum laiban wahwa yang menjadikan agama ini sebagai senda gurau atau lahu. Kemudian wagum hayat dunya dan mereka tertipu dengan kehidupan dunia.
(35:07) Wakir bihibsala nafsab. Maka peringatkanlah mereka dengan Al-Qur’an jangan sampai mereka an tubsala nafsun bima kasabat. Apa itu tubsala? Sebagian ulama mengatakan tuhbas. Tuhbas itu seperti orang ditahan, dipenjara atau benar-benar di ya ditahan gitu. Ada yang mengatakan turtahan, turtahan tertahan. Ditahan seperti itu. Waqila.
(35:37) Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah ketika diserahkan atau masuk menyerahkan diri ke dalam neraka. Nauzubillah minzalik lah. Ini dengan masing-masing mufassir menyebutkan atau menafsirkan dengan lafaz yang berdekatan. Memang kadang-kadang seorang itu susah, mufassir susah untuk mendapatkan sebuah kata yang sama sehingga mereka menafsirkan dengan lafaz yang berdekatan. Bukan yang sama atau muradif, tidak tetapi yang berdekatan.
(36:07) Tujuannya apa? supaya kita berusaha untuk bisa memahami lah ketika kita membaca tafsir yang banyak dengan berbagai macam perselisihan lafaznya. Tapi ketika kita semakin banyak membaca tafsir para ulama, kita semakin paham. Yang satu mengatakan tuhbas, yang satu mengatakan turtahan, yang satu mengatakan demiki-demikian dipenjara, ditahan dan sebagainya.
(36:32) Ah dengan membaca perbedaan perkataan para mufassirin, kita akan semakin mudah untuk memahami lafaz dalam Al-Qur’anul Karim. Tayib. Ikhwatul Islam rahimakumullah. Inilah pembahasan tentang ikhtilaf. Yang terakhir adalah al-ijma’. Bukan yang terakhir tapi poin yang kedua secara umum. Yang kedua adalah al-ijma’. Nah, di sini ada sedikit yang perlu kita bahas. Ada beberapa poin, enggak banyak cuman lima.
(36:59) Yang pertama adalah attrif. Maksudnya ijma mufassirin itu apa? Kemudian yang kedua, apa manfaat seorang mengetahui ijma mufassirin? Kemudian yang ketiga, ada sebuah permasalahan. Bagaimana seorang itu bisa menemukan ijma mufassirin.
(37:25) Artinya, bagaimana seorang itu bisa tahu bahwasanya mufassirin itu ijmak, bersepakat dalam masalah pendapat dalam sebuah menafsirkan sebuah ayat misalkan bagaimana bisa atau cara untuk mengetahuinya. Kemudian perbedaan antara ikhtilaf tanawu dengan ijma. Antara ikhtilaf tan ijma. Kemudian yang terakhir adalah ee tanbihat haul ijma fit tafsir. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ijma ini. Yang pertama, takrif ijma.
(37:57) Kalau menurut al-usuliyun, orang-orang ahli usul, mereka mengatakan, “Ittifaqu mujtahidi hadil ummah ba’da Nabi sallallahu alaihi wasallam ala hukmin syari.” Ijma maksudnya adalah kesepakatan seluruh mujtahid, ahlul ijtihad setelah wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam menentukan sebuah hukum syar’i.
(38:26) Artinya kalau yang sepakat itu bukan ulama, bukan ahlil ijtihad misalkan, maka la yuktabar. Enggak dianggap. Kemudian juga setelah wafatnya Rasulullah. Kenapa? Karena ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam masih hidup semuanya kembali kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian ala hukmin syari di dalam menentukan hukum syari.
(38:51) Kalau bukan berkaitan dengan hukum syar’i, misalkan masalah makanan, masalah sepeda motor, mobil, urusan dunia, sebagainya, maka itu enggak perlu seorang ittifak atau ijma antara ulama. Adapun yang dimaksudkan ijmaul mufassirin, ijmnya ahli tafsir adalah ketika seluruh mufassirin yang tentunya mereka itu adalah ahli tafsir semuanya bersepakat ala makna minal ma’ani fi tafsiri ayatin minal Quran atau min kitabillah.
(39:24) Ketika seluruh mufassirin bersepakat dalam menafsirkan sebuah makna ayat dari Al-Qur’anul Karim. Ini kurang lebih definisi atau pengertian tentang ijma. Nah, tentunya ijma ini merupakan sebuah hujah, argumen yang sangat yang sangat kuat, dalil bagi kita semua dan sangat kuat sekali. kedudukannya sangat tinggi. Yang pertama Al-Qur’an, yang kedua hadis, yang ketiga ijmak.
(39:58) Karena dalam hadis dijelaskan lan yajtami umati aladalah. Rasulullah jelaskan bahwasanya umatku ini tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Artinya kalau sudah dijelaskan ijma ulama tentang hukum sesuatu, maka itu harus kita ambil. Enggak boleh kemudian kita menyelisihi ijma tersebut. Karena ijma sendiri juga kesepakatan para ulama yang mereka kembali kepada Al-Qur’an dan hadis.
(40:23) Kemudian poin yang kedua adalah apa manfaat seorang mengetahui ijma? Nah, di antaranya adalah ketika seorang mengetahui ijma mufassirin. Misalkan ahli tafsir semuanya bersepakat bahwasanya makna ayat ini adalah demikian demikian demikian. Maka berarti seorang itu telah menafsirkan Al-Qur’an dengan sesuatu yang terpercaya.
(40:53) Itu yang pertama. Yang kedua adalah jazakallah khair. Jazakallah khair. Yang kedua adalah ketika seorang mengetahui ijma para ahli tafsir, dia tidak bermudah-mudahan untuk menafsirkan sebuah ayat kemudian menyelisihi ijmak tadi. Ini di antara manfaat seorang untuk mengetahui ijma almufassirin.
(41:23) Jadi enggak kemudian seorang memberanikan diri berijtihad misalkan ketika sudah mengetahui ini kan ijmak semuanya mengatakan hukumnya demikian dalam masalah ayat misalkan enggak kemudian ada muncul orang yang hidup setelahnya kalau menurut saya enggak seperti itu atau menafsirkan seolah-olah dirinya adalah ahl ijtihad ini juga enggak boleh sembarangan.
(41:47) Kalau sudah ahli tafsir, salafus saleh semuanya bersepakat maka kita tinggal mengikuti aja. Enggak perlu kemudian kita berijtihad, apalagi kita bukan ahli ijtihad. Jangan sampai merasa bangga menafsirkan sebuah kata yang tafsir itu tidak pernah disampaikan, enggak pernah diucapkan oleh salafus saleh.
(42:09) Dan ternyata tafsir ini menyelisihi pendapat salafus saleh atau ijmak mereka. Justru ini dikhawatirkan terjatuh kepada kesalahan. Kemudian yang ketiga, bagaimana kita bisa mengetahui, bagaimana kita bisa mengetahui ijmaat almufassirin. Nah, yang pertama ini ada dua. Bagaimana kita bisa mengetahui ijma mereka? Ada dua. Yang pertama adalah kita membaca, mencari perkataan mufassir yang mengatakan bahwasanya pendapat para ulama mufassirin itu ijmak dalam sebuah ayat. Atau dengan kata lain kita mencari ulama yang mengatakan ijma.
(42:54) Jadi ini kita harus belajar dan harus membaca atau dalam istilah Arabnya adalah alistiqra. kita membaca misalkan ee ulama fulan mengatakan bahwasanya para ulama ijmak di dalam menafsirkan kata ini. Lah kita mencari hal-hal yang seperti itu berarti kita harus banyak membaca. Kemudian yang kedua, lebih susah lagi kita membaca seluruh pendapat ahli tafsir. Kemudian kita yang kita sendiri yang menyimpulkan.
(43:27) Ketika kita membaca pendapat fulan seperti ini, pendapat fulan seperti ini. Setelah kita baca banyak sekali dari ahli tafsir kok kebanyakan semuanya sama. Bukan kebanyakan, bahkan keseluruhannya sama dan di situ tidak ada satuun yang menyelisihi. Maka kitaanya mengambil kesimpulan. Oh, berarti di sini ijma. Tetapi ini susah.
(43:44) Kalau kita sendiri yang istiqra, kita sendiri yang baca susah. Dan itu tentunya bukan tugas kita. Ini adalah tugas para para ulama. Nah, di antaranya seperti misalkan Ibnu Jarir rahimahullah, seorang ahli tafsir, imam mufassirin, imam ahli tafsir ketika beliau mengatakan makna ayat ini adalah demikian dan tidak ada khilaf di situ.
(44:05) Atau seluruh ulama mengatakan seperti itu lah. Itu sudah selesai. kita kembali kepada perkataan ee para aimmah. Kemudian yang berikutnya perbedaan antara ikhtilaf tanawu dengan ijma. Ketika para ulama menafsirkan dengan lafaz yang berbeda, namun intinya kembali ke satu makna yang sama.
(44:34) Adapun ijma, maka tidak ada perselisihan pendapat sama sekali. Lah sebagian ulama mengatakan ijma itu kembali kepada dua hal. Ijma lafaz dan makna. Ada juga yang mengatakan ijmak maknanya saja tanpa lafaznya. Namun intinya juga sama. Ketika semuanya sudah menafsirkan dengan sebuah penafsiran yang sama maka itu adalah ijma. Wallahuam. Tayib.
(45:10) Kemudian poin yang terakhir adalah tanbihat atau hal-hal yang berkaitan dengan masalah ijma di dalam tafsir. Yahqki ba’dul mufassirina ijmaan fil lafz minal ayah latawaqo f khilaf walika lisiddati zuhuril makna. Sebagian ahli tafsir itu menghikayatkan atau menyebutkan adanya ijmak. Kenapa? Karena permasalahan itu sangat jelas.
(45:37) Permasalahan itu sangat jelas sehingga seorang ulama mengatakan ini adalah ijmak. Misalkan seperti Syekh Muhammad bin Amin Muhammad al-Amin Asyanqiti rahimahullah ketika menyebutkan menafsirkan firman Allah Subhanahu wa taala. Tumma aataina Musal kitab. Kemudian Allah Subhanahu wa taala memberikan kepada Nabi Musa alaihi salam alkitab.
(46:06) Apa itu Alkitab? Al Imam atau Syekh Muhammad bin Alamin Asyikit rahimahullah menyebutkan Alkitab Taurah bil ijma. Hu Taurah bil ijma. Jadi menafsirkan Alkitab di sini enggak mungkin Al-Qur’an, Zabur juga enggak, Injil juga enggak, tetapi apa? Attaurah. Dan ini adalah sesuatu yang jelas sehingga sebagian ulama langsung menukil kata-kata ijma tadi.
(46:31) Begitu juga dengan firman Allah Subhanahu wa taala dalam surah Albaqarah ayat 121. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Waid yarfa Ibrahimul qawaida minal baiti ila akil ayah.” Ketika Nabi Ibrahim mengangkat asas ya qawaid itu maksudnya pondasi di ee Ka’bah. Qala Ibnu Atiyah, Albait Alka’bah bil ijma.
(46:58) Ibnu Atiyah, salah seorang ulama mengatakan, “Maksud albait di dalam ayat ini adalah alka’bah bil ijma.” Artinya tidak ada perselisihan antara ulama dalam masalah lafaz ini. Lah dari sini kita bisa mengetahui ijmak para aimmah. Ketika misalkan Syekh Muhammad Amin Asyikit rahimahullah mengatakan maksudnya Alkitab hu taurah bil ijma.
(47:24) Kemudian perkataan Ibnu Atiyah rahimahullah mengatakan albait maksudnya adalah alka’bah bil ijma. Nah, seperti ini kita akan mengetahui, oh ternyata tidak ada perselisihan antara ulama dalam masalah ini. Kemudian yang berikutnya, sebagian ulama terkadang terkadang menyebutkan ijma itu bukan hanya yang berkaitan dengan makna ayat, tetapi hal-hal yang berkaitan dengan selain makna ayat. Contohnya apa? Misalkan seperti asbabun nuzul.
(47:55) Terkadang terjadi khilaf. Imam yang satu mengatakan sababu nuzul hadil ayah sebab turunnya ini adalah demikian demikian demikian. Ada yang mengatakan dengan perkataan yang lain sebab turunnya bukan itu tapi yang seperti ini. Nah, ada juga sebagian ulama ketika melihat satu asbabun nuzul dan ternyata itu merupakan sesuatu yang khilaf eh sesuatu yang ijmak bukan yang khilaf.
(48:22) Ah, di situ juga ada yang namanya ijma dalam masalah asbabun nuzul. Kemudian masalah madani dan maki. Surat ini makiyah atau madaniah? Ini enggak berkaitan dengan makna ayat. Tetapi terkadang ahli tafsir juga bersisi pendapat. Terkadang di situ juga ada ijma. Baik. Yang terakhir yang harus kita perhatikan juga adalah sebagian ulama, sebagian imam menyebutkan ijma, menafsirkan ijma itu bukan kesepakatan seluruh para ulama, tetapi mayoritas ulama. Ya.
(49:03) Mimma yajutanbi alaihial ijma baqil aksar. Jadi sebagian ulama menganggap bahwasanya ijma itu bukan pendapat semuanya tetapi pendapat mayoritas ulama. Nah, sehingga terkadang ketika menukil ajma ahli tafsir misalkan ala kad waad ternyata itu adalah pendapat mayoritas. Wallahuam. Sebagian ulama ilan mengatakan yang namanya ijma itu adalah kesepakatan semuanya.
(49:28) Kalau misalkan mayoritas mengatakan a ternyata ada satu yang muncul dan yang muncul menyelisihi yang mayoritas dan ketika muncul yang muncul ini adalah ahlut tafsir juga maka itu enggak bisa disebut sebagai ijma kecuali enggak ada yang menyelisihi sama sekali maka di situ disebut ijma. Meskipun ada mengatakan ijma itu ada yang dononi, ada yang qat’i.
(49:51) Yang qat’i yang sudah jelas-jelas ya berarti benar-benar ijma. Yang zoni adalah ketika misalkan mayoritas ulama menafsirkan sesuatu dengan sebuah penafsiran dan tidak ada yang menyisihi. Misalkan seperti itu. Bab ikhwat Islam rahimakumullah. Inilah pembahasan kita dan alhamdulillah sudah kita selesaikan. Ini sudah waktunya azan ya. Bab silakan azan dulu. Insyaallah kita lanjutkan setelah setelah azan.
(50:14) Wallahuam. Ikhwatan Islam untuk selanjutnya Ikhwatan Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar. [Musik] Eşhadu en la ilaheillallah. Eşhadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar rasulullah.
(51:24) [Musik] Ashadu anna muhammadar rasulullah. Hayya al shah. Hayya alas shah. [Musik] Hayya alal falah. Hayya alal falah. [Musik] Allahu Akbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [Musik] Laahaillallah.
(52:49) Ikhwat Islam rahimakumullah. Ini pembahasan tentang masalah ijma dan khilaf. sudah kita selesaikan. Dan sebenarnya ada poin yang terakhir yaitu tentang qawaidut tafsir, kaidah-kaidah tafsir. Dan tentunya ini sangat panjang sekali karena kaidah itu ee tentunya banyak ya yang disusun oleh para ulama.
(53:15) Sebagian masyaikh, sebagian ulama zaman ini mereka mengumpulkan kaidah-kaidah tafsir dengan cara apa? Alistiqra. Istiqra maksudnya membaca kembali kepada kutub atau kitab-kitab induk. kembali ke kitab Ibnu Jarin misalkan yang jumlahnya sangat banyak sekali. Kemudian dicari di situ kaidah-kaidah yang berkaitan dengan tafsir.
(53:34) Kemudian kembali ke kitab lain, kembali ke kitab ushul, kembali ke kitab bahasa, dicari kaidah-kaidah. Nah, kemudian dikumpulkan, dipelajari, dan disyarah. itu sampai ada seorang ulama atau seorang ya seorang ahli di bidang ee ilmul Quran dan tafsir, Syekh Khalid Syekh Utsman Asabd. Syekh Khalid bin Utsman Assabit. Beliau menyusun buku kaidah tafsir sampai sampai dua jilid. Ya.
(54:02) Kemudian ee kalau kita kembali ke masalah kaidut tafsir maka panjang pembahasannya dan insyaallah kita akan memulai mengkaji tafsir, mengaji tafsir tafsir Quranul Karim pada pertemuan yang selanjutnya dan kita awali dengan surah al-Fatihah insyaallah. Kemudian ini sudah ada beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang kemarin-kemarin belum ana jawab.
(54:30) Ini sudah muncul pertanyaan yang lainnya. Pertanyaannya masih ana simpan. Wah. Masyaallah. Tiayib. Sebentar. ngantri pertanyaan yang lalu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ahsanallahikum bertanya apakah ada sunahnya setelah membaca surah at-Tin akhir ayat dan membaca lafaz bala wa ana alalika minasyahidin? Begitu juga di akhir surah alqiyamah.
(55:07) Mohon penjelasannya. Wallahuam. Sebagian ulama mengatakan, sebagian ulama mengatakan la aslalahu. Enggak ada dalilnya. Tapi ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwasanya ini mustahab. Dianjurkan. Dianjurkan ketika melewati sebuah ayat misalkan di situ ada pertanyaan dan pertanyaan itu enggak semua pertanyaan meminta jawaban.
(55:33) Ada pertanyaan yang di situ maksudnya adalah untuk takrir menetapkan biasanya bukankah? Kalau sudah bukankah di situ jawabannya bukan menjawab dengan sebuah jawaban. Enggak. Tetapi kita mentakrir bala. Ada yang mengatakan bala subhanak. Ada yang mengatakan bala wa ana alalika minyah misalkan. Ah sebagian ulama mengatakan ee mustahab dianjurkan.
(55:59) Sebagian yang lain mengatakan tidak ada dalilnya. Wallahuam. Ada juga yang mengatakan ada dalilnya. Tetapi sebagian ulama mengatakan hadis ini enggak sahih atau diif. Wallahuam. Kemudian pertanyaan yang lain yang belum dijawab lah. Ini ada yang ee ana enggak paham di akhir zaman disebutkan dalam hadis bahwa mimpi seorang muslim adalah demikian-demikian.
(56:30) Ee ana enggak bisa membaca maka afwan. Kemudian bagaimana tafsir fiilalil Quran? Apakah layak untuk dipelajari tafsir filil Quran yang ditulis oleh Sayid Kutub? Ee kita tahu bahwasanya tafsir itu banyak dan tafsir yang lebih selamat itu banyak. Oleh karena itu, maka kembali aja ke tafsir-tafsir yang sudah jelas.
(56:55) Misalkan seperti tafsir Ibnu Katsir sudah jelas rahimahullah. Beliau adalah seorang muhaddis, seorang yang alim. Nah, kemudian juga tafsir Assa’di yang agak ringkas. Jadi, enggak perlu kembali kepada tafsir-tafsir seperti tafsir yang di dalamnya terdapat ya sesuatu yang ee tidak sesuai dengan petunjuk Rasul. Kemudian yang berikutnya, kenapa salat Nabi ada nama Ali? Apakah ada dalil yang bisa menjelaskannya? Ana enggak paham maksudnya Ali di sini.
(57:34) Maksudnya apakah Ali bin Abi Thalib? Kalau Ali, Ali bin Abi Thalib itu pakai ain Ali. Tapi dalam selawat biasanya disbutkan apa? Allahumma sholli ala ali Muhammad. Allahumma shalli ala Muhammad wa ala Ali pakai Hamzah. Ali bukan Ali. Ali artinya adalah pakai Hamzah. Ali Muhammad maksudnya adalah keluarga bukan? Maksudnya adalah Ali bin Abi Thalib. Seperti itu. Kemudian pertanyaan yang terakhir, “Asalamualaikum Ustaz.
(58:00) Apakah ada hadis kisah Rasulullah bertemu dengan wanita yang mempunyai penyakit ain seperti kejang-kejang? Apakah ada, Ustaz?” Iya, ada. Tadi ana carikan hadisnya. Kemudian ee dalam sebuah riwayat jelaskan ya, an Atha bin Abi Rabah, salah seorang ulama dari kalangan tabiin bin Abi Rabah. Beliau mengatakan, “Qala Ibnu Abbas, Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, seorang sahabat eh imamul mufassirin mengatakan, “Ala uri min ahlil jannah.
(58:30) ” Mau enggak aku tunjukkan kamu seorang wanita penduduk surga? Qulubala. Iya, maksudnya ya senang itu untuk menerima informasi atau ilmu itu. Qala hadil maratus sauda atat anabya shallallahu alaihi wasallam. Ada seorang wanita ee yang berkulit hitam mendatangi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(58:56) Qalat wanita ini mengatakan, “Inni usro wa inni atakasyafad’ullahai. Aku punya penyakit yang kejang-kejang tadi. Penyakit ayan atau apa istilahnya ee penyakit ayan ya. Kemudian ketika sedang kambuh auratnya tersingkap. Fadullahi. Maka wanita ini minta didoakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam supaya sembuh. Jadi minta didoakan supaya sembuh.
(59:30) Kemudian Rasulullah menjawab, “Qala insti wakil jannah.” Kalau kamu mau sabar, kamu akan masuk surga. Bagimu adalah surga. Wa daullaha ayuaak. Kalau kamu mau ya sudah saya doakan sekarang supaya kamu sembuh. Nah, kemudian wanita tadi mengatakan qat asbir ya Rasulullah aku lebih memilih sabar daripada didoain kesembuhan di dunia sebentar lebih baik aku mendapatkan surga.
(1:00:04) Nah kemudian beliau wanita ini mengatakan qat fainni atakasyaf. Tapi ketika kambuh tersingkap auratnya. Fad’ullaha alla atakasyafadaha. Kemudian minta didoakan supaya apa? Enggak tersingkap. Jadi bukan minta kesembuhan tapi ee ketika kamu minta supaya tidak tersingkap. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendoakannya. Ini hadisnya. Jadi sebagian pertanyaan enggak ana jawab langsung, ana cari dulu.
(1:00:30) Kalau dibacakan hadisnya seperti ini kan lebih nyaman. Nyaman buat ana dan nyaman yang bertanya. Karena ana enggak hafal hadis ini. Dan dari hadis ini banyak sekali sebenarnya pelajaran bisa kita ambil. Di antaranya apa? Wanita ini memiliki kesabaran ketika punya sebuah penyakit kemudian ditawarin sama Rasulullah.
(1:00:49) Kalau mau didoain supaya sembuh tapi kalau mau sabar surga. Maka beliau lebih memilih surga. Karena memang kenikmatan di akhirat itu jauh lebih baik. Wal akhiratu khairun wa abqo kekal. Adapun kenikmatan di dunia semuanya akan berakhir dengan kenikmatan, akan berakhir dengan kematian. Kan seperti itu. Tiib. Wallahuam.
(1:01:16) Ini yang pertama berkaitan dengan masalah ee talak tiga ya. Apakah jatuh, kemudian masalah nafkah dan sebagainya. Wallahualam. mungkin bisa dijawab di pertemuan yang selanjutnya dua pekan lagi atau ya atau bisa ditanyakan kepada yang lainnya. Kemudian ada juga pertanyaan sebentar ini ustaz apakah khilaf bisa di dalam perkara akidah misalkan yang menafsirkan makna arsy Allah ada yang berpendapat Allah tidak boleh bertempat.
(1:01:52) Mohon penjelasannya. Dalam masalah akidah, salafus saleh tidak berselisih pendapat. Mereka menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan zahir dan tidak akan keluar dari zahir ayat kecuali dengan apa? Dengan dalil. Kalau enggak ada dalilnya, maka hukum asalnya adalah kembali kepada zahir.
(1:02:12) Dalam masalah akidah enggak ada khilaf. Kapan munculnya khilaf? Ya, setelah mereka generasi setelah mereka muncul orang yang mulai mentakwil dalam masalah asma sifat dan sebagainya. Di situlah muncul khilaf. Kemudian ini ada pertanyaan lagi. Bentar. Asalamualaikum, Ustaz. Apakah di tahiyat awal kita harus apa ini? Mengentikan mengentik ee apa ini? Mengentikan jari atau tidak? Mohon penjelasannya. Syukran.
(1:02:47) Apa mengentikan jari? Mengertikan jari apakah di tahiyat awal kita harus Ana enggak tahu kalau maksudnya adalah telunjuk. Iya. Tetapi wallahu alamin maksudnya bagaimana? Kemudian asalamualaikum izin bertanya, apakah ada ijma para ulama tentang salat? Salat salat apa ini? Ee enggak tahu. Bagi wanita yang bagi wanita yang ee baru suci dari haid, yang sedang safar sehingga tidak bisa mandi wajib. ataupun jika terkena najis belum bisa mensikannya. Wallahualam.
(1:03:26) Ini perlu dipelajari dulu, perlu dipelajari dan perlu memahami dengan baik pertanyaannya. Tib. Ee yang terakhir, bismillah. Asalamualaikum. Maaf, Ustaz minta nasihatnya. Ada anak ketika disuruh salat, tapi ada tapi ee tapi ada ana bilang salat urus aja masing-masing. Apakah ada ana terkena syubhat? Adik Ana. Astagfirullah. Maaf Ustaz minta nasihatnya.
(1:04:06) Adik ana ketika disuruh salat, tapi adik ana bilang salat urus aja masing-masing, apakah adik ana terkena subhat? Ya, tergantung adik antum. Kalau masih TK ya enggak apa-apa itu ya mungkin aja terkena syubhat. Tapi bukan syubhat ya, masih TK kan belum bisa berpikir. Dan Asran ketika kecil belum 7 tahun, Rasulullah memerintahkan anak kecil itu ee salat ketika 7 tahun dan dipukul kapan? Ketika 10 tahun. Wallahualam.
(1:04:32) Tapi kalau sudah tua, sudah besar dipukul kelahi nanti. Jadi ya sudah dinasehhatin pelan-pelan. Kemudian dijelaskan pentingnya salat. Bahwasanya salat itu adalah tiangnya agama. Kalau seorang enggak salat, seolah-olah dia telah merobohkan tiangnya agama. Dan kalawalu ma yuhaabu bildi yaumalqiamah asalah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah itu adalah salat. Kalau salatnya baik, amalannya menjadi baik.
(1:05:04) Kalau amalannya jelek, ya jelek seluruh amalannya. Lah kalau enggak salat. Jadi harus salat. Salat itu enggak bisa ditinggalkan dalam kondisi apapun. Orang lagi perang tiarab ngangkat sedikit kena tembak misalkan waktunya salat, waktunya mau habis ya salat. Terus gimana? Sesuai dengan kondisinya. Mastatum sebisa fattaqulah mastatum.
(1:05:25) Orang lagi sakit enggak bisa berdiri duduk enggak apa-apa. Enggak bisa duduk, berbarin juga enggak apa-apa. Yang penting salat harus. Salat itu kewajibannya enggak bisa digantikan. Oleh karena itu, jelaskan kepada adik antum pelan-pelan. Kemudian ee ya tugas kita hanya menyampaikan itu namanya hidayatul irsyad.
(1:05:51) Tetapi yang memiliki wewenang untuk merubah isi hatinya adalah Allah Subhanahu wa taala. Ini sering kita bahas. Hidayatul taufik itu adalah cahaya yang Allah berikan kepada hati seseorang. Oleh karena itu, setelah kita menyampaikan hidayatul irsyad, maka perlu bagi kita semua juga untuk mendoakan adik kita. Dan kita enggak senang adik kita enggak salat, tapi kita suka kepada adik kita secara tabiat. Karena itu adik kita, kita sayang kepada adik kita.
(1:06:15) Maka jangan kemudian benci kepada dia karena dia enggak salat. Justru kita merasa kasihan. Sampaikan pelan-pelan kemudian doakan seperti itu. Kalau misalkan enggak mempan, mungkin kita enggak bisa memberikan nasihat atau dia enggak suka dengan kita, terlalu sering menasehati, ya misalkan enggak usah dinasihatin sekali ditraktir atau dengan didekatin istilahnya.
(1:06:41) Kadang-kadang orang itu kalau dikasih nasihat terus sebelum melihat kita, dia sudah bisa nebak ini habis ini nasihat ini. Sampai-sampai ngasih kunyah ini Abu Nasihat gitu. Sudah kalau memang enggak bisa, enggak harus kita lewat orang lain yang disegani oleh adik kita. Misalkan ini contoh ya kita berusaha untuk cari solusi. Kemudian dalam sebuah syair ahsin ilanasid qulubahumqbadal insana ihsanu ahsin ilanas. Berbuatlah baik kamu kepada manusia qulubahum.
(1:07:16) kamu akan menarik hati dia. Karena orang itu insana ihsan berapa banyak orang itu bukan diperbudak tapi orang itu akan tertarik secara otomatis terhadap apa? Terhadap kebaikan. Orang dikasih dibaikin terus, dibaikin terus, lama-lama luluh hatinya akan luluh. Seandainya kita sudah berusaha untuk melembutkan hatinya, ditraktir, dikasih hadiah dan sebagainya. Hadiah itu punya pengaruh.
(1:07:47) Tahadu tahabu kata Rasulullah, “Singlah memberikan hadiah niscaya kau akan saling mencintai.” Jadi terkadang orang itu enggak melihat hadiahnya, oh kok cuman itu. Enggak. Tapi melihat itu, oh ini adalah hadiah pemberian. Orang itu akan suka lah. Kita sudah memberikan ternyata hatinya masih belum luluh misalkan, maka apa yang kita usahakan, apa yang kita keluarkan itu enggak akan sia-sia di sisi Allah Subhanahu wa taala.
(1:08:14) Nah, kemudian setelah kita berusaha maka jangan lupa untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk kepada adik antum dan kepada kita semua bisa istikamah sampai akhir hayat. Kita tutup majelis kita. Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Roja TV Islam rahimani Allah wayakum.
(1:08:56) Telah kita simak bersama kajian ilmiah yang bermanfaat bersama asatizah kita. Semoga yang singkat ini dapat menambahkan ilmu dan berfaedah untuk kita semuanya. Yeah.
Leave a Reply