(3) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid – YouTube
Transcript:
(00:01) 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wasalamu ala asrofil iyaai wal mursalin waa alihi wa ashabihi waman tabiahumin yaumiddin amma ba ikhwat al islam rahimani warahimakumullah sahabat raja di mana pun Anda berada kita memuji serai bersyukur k Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah limpahkan kepada kita semuanya sehingga pada kesempatan sore yang berbahagia ini
(01:11) kembali kami hadir menyapa antum semuanya semuanya melalui saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam, TV dan juga Radio Roja guna mengikuti bimbingan dan pelajaran yang insyaallah akan disampaikan oleh Ustaz Abu Khair Asundawi hafidahullahu taala dari lanjutan kitab Alqulul Farid Fawaid Ala Kitabi Tauhid bab keutamaan tauhid.
(01:40) Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan serta tercurahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk keluarganya, untuk para sahabat yang di seluruh pengikutnya hingga akhir zaman nanti. Dan untuk itu kita akan segera menuju ke Masjid Agung Alkukhuah Jalan Wastu Kencana nomor 27 Kota Bandung guna mengikuti bimbingan dan pelajaran bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Selanjutnya kepada Ustaz kami persilakan.
(02:12) Falyatafadol masykuran ya ustaz. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi baata fil ummiina rasula minhum yatlu alaihim ayatihi wazakihim wauallimuhumul kitaba wal hikmah wain kanu min qoblu lafi dolalim mubin wa ashadu alla ilahaillallah al malikul haqqul mubin wa ashadu anna muhammadan am wasatu wasalamu ala asrofilyaai wal mursalin waa alihi wa ashabihi ajmain waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin wad hadirin jemaah masjid agunghwah Bandung
(03:20) para pendengar radio tarbiah sunah Bandung, pendengar radio Roja di beberapa kota, radio-radio lain yang juga ikut gabung, pemirsa Roja TV dan TV-TV lain serta para netizen di mana saja Anda berada. Kembali kita berjumpa masuk kepada bab Fadlut Tauhid wama yukiru minadzunub. Keutamaan tauhid dan perkara yang bisa menghapus dosa-dosa.
(04:00) Ayat pertama yang dijadikan dalil tentang keutamaan tauhid ini adalah surah Al-An’am ayat 82. Di ayat ini Allah berfirman, “Alladzina amanu walam yalbisu imanahum bidzulmin ulaika lahumul amnu wahum muhtadun.” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman. Beriman dan tidak berbuat zalim.
(04:45) Akan dapat dua jaminan. Pertama, ulaika lahumul amnu. Bagi mereka akan memperoleh keamanan. Aman di dunia, aman di akhirat. Wahum muhtadun. Dan mereka pun akan memperoleh hidayah. Dua yang Allah janjikan dan hidayah. Asal imannya tidak dicampur dengan kezaliman. Apa kaitan ayat ini dengan tauhid? Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat.
(05:33) Kenapa? karena salah paham terhadap makna yang terkandung dalam ayat ini. Mereka menyangka bahwa kezaliman dalam ayat ini zalim biasa. Zalim ke diri sendiri, zalim ke sesama makhluk. Baik manusia kadang ke binatang, kadang zalim ke lingkungan hidup merusak kayak gitu. Itu pemahaman mereka.
(06:13) Yang kedua, karena mereka memahami zalim di sini, zalim kepada sesama manusia, mereka meyakini sudah banyak melakukan kezaliman. Seluruh dosa adalah zalim, apapun bentuknya, minimal zalim ke diri sendiri. Nah, mereka menganggap tidak ada orang yang bersih dari dosa. Akhirnya mereka bertanya, “Ya Rasulullah, ayyuna lam yadlim nafsah? Ayuna lam ya’mal suan.
(06:54) ” Wahai Rasulullah, siapa sih di antara kita yang tidak permaha perbuat zalim? Siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat salah? Kalau imannya dicampur dengan kezaliman, dua yang Allah janjikan enggak dapat. Pertama, keamanan. Aman dari azab Allah, dunia akhirat alias dapat azab. Kedua, tidak akan dapat hidayah alias tersesat. Bayangkan kalau para sahabat tidak bertanya langsung dengan otaknya, dengan akalnya, dengan ryunya memahami hadis eh memahami ayat, ternyata keliru, salah. Untung bertanya.
(07:47) Kasus salah pahamnya sahabat tentang ayat, tentang hadis itu banyak. Dan semua bertumpuk pada ryu mereka. Padahal kurang apa para sahabat bahasa Arab jago karena orang Arab. Al-Qur’an hafal imannya enggak perlu diragukan. Tapi ketika mereka memahami ayat dengan ryu keliru. Salah satu contohnya ini. Contoh lain banyak seperti ayat walladzina yutuna maau wa qulubuhum wajila. Orang mukmin.
(08:37) Orang yang sudah melakukan amal-amal yang mereka lakukan tapi hati mereka takut. sudah beramal kok takut. Aisyah salah paham. Kalau takut berarti ini amalan dosa. Lalu dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka itu orang yang sudah mencuri minum khamer sampai takut?” Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Laisal amru kama tadunnin.” Oh, ayat ini tidak seperti yang kamu duga, hai Aisyah.
(09:14) Tapi maksudnya orang yang sudah beriman, beramal saleh, beribadah, melakukan kebaikan, tapi hati mereka takut semua amalnya tidak diterima. itu maksudnya termasuk ayat ini. Ayat ini turun para sahabat memahami secara keliru. Oh, kalau kita iman tapi masih zalim, masih dosa, enggak dapat keamanan, enggak dapat hidayah.
(09:48) Maka mereka bertanya, “Ayyuna lam yadlim nafsah?” Ayyuna lam lam ya’mal suan. Siapa di antara kita yang enggak pernah zalim, enggak pernah berbuat dosa? Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, “Laisal amru kama tadunnun.” Oh, perkara ini tidak seperti yang kalian duga. Alam tasma rajul shih. Tidakkah kamu kalian e pernah dengar ucapan seorang yang saleh yakni Luqman alhakim ketika ber kata kepada anaknya, “Ya bunayya la tusyrik billah innasyirka ladulmun adim.” Hai anakku, jangan kamu menyekutukan Allah.
(10:36) Jangan syirik. Syirik itu kezaliman yang sangat besar. Kenapa syirik disebut zalim? Makna zalim itu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Lawan dari adil. Syirik disebut sebesar-besar kezaliman. Karena syirik menempatkan ibadah bukan kepada yang berhak menerimanya. Harusnya kepada Allah. Eh, ini ditujukan kepada sesama makhluk.
(11:11) Bahkan makhluk yang lebih hina sok apa yang disembah oleh orang-orang musyrik kalau enggak banda mati seperti patung, pohon, atau binatang. Ada yang menyembah sapi, ada yang menyembah ah macam-macam. Lebih hina. Kurang gimana zalim tuh. Dari sinilah maka para ulama seperti Syekh Al-Utsimin rahimah dalam kitab alqualmu fi t ala kitab tauhid.
(11:45) Zalim itu ada tiga. Pertama, zalim kepada diri sendiri. Maka tidak boleh seperti tidak memberi hak terhadap diri kita secara zahir. Walaupun dalam rangka ibadah seperti saum tiap hari. Enggak pernah umpamanya tidak saum. Padahal tubuh membutuhkan asupan, nutrisi, konsumsi sampai ceking, sampai umpamanya kurus, sampai kurang gizi, itu zalim.
(12:28) Atau semalaman tidak tidur salat sehingga lelah. Padahal tubuh butuh istirahat. Inilah yang di tegur oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kata beliau, “Wallahi ana aksyakum billah waqokum lillah.” Aku lebih bertakwa, lebih takut kepada Allah dibanding kalian. Tapi kalau malam aku tidur, aku pun salat. Kalau siang aku kadang saum, kadang tidak. Wana atazawajunisa.
(13:02) Dan aku menikahi beberapa wanita. Ini sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi walaupun dalam rangka ibadah tidak boleh sampai menghalangi hak diri pribadi untuk makan, untuk istirahat, untuk punya pasangan. Enggak boleh. Setiap hak harus ditunaikan. Termasuk ke diri sendiri. Di saat tidak ditunaikan zalim dosa. Iya dosa oleh Nabi ditegur. Sunati falis min.
(13:39) Kedua, zalim kepada sesama makhluk seperti menyakiti mereka, menghina, tidak memberikan hak mereka, merampas kehormatan mereka, zalim baik orang ataupun binatang. Nah, yang ketiga ini yang terbesar. Adlamuli. Kezaliman yang paling besar zalim kepada Allah. Kalau zalim kepada makhluk aja sudah besar dosanya, apalagi kepada Allah.
(14:16) Dengan cara apa? Dengan cara menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Nah, ayat ini maknanya zalim dalam arti syirik. Alladzina amanu. Orang-orang yang beriman walam yalbisu imanahum bulmin dan tidak mencampur adukan iman dengan zalim. Maksudnya dengan syirik. Baik syirik besar ataupun syirik kecil. Ini menunjukkan bertauhid. Dia beriman dan tidak syirik.
(14:50) bertauhid maka dapat dua ganjaran atau dua balasan. Pertama aman dari murka dan azab Allah. Yang kedua dapat hidayah. Ini keterkaitan ayat ini dengan tauhid. Dari ayat ini ada beberapa faedah yang diterangkan oleh mualif. pertama anna min anna min fawaid waili tauhid husulul amni wal hidayah fidarain adunya wal akhirah faedah pertama di antara faidah dan keutamaan tauhid adalah teraihnya keamanan dan hidayah di dua neger bukan bukan negeri Indonesia dan Saudi ya, bukan di negeri dunia dan negeri akhirat.
(15:54) Kedua, mungkin timbul pertanyaan, bagaimana orang tidak syirik bertauhid, tapi melakukan kezaliman kepada sesama atau kepada diri sendiri. Ada ahli tauhid tapi dia bermaksiat banyak. Apakah mereka akan tetap dapat keamanan dan dapat hidayah? Nah, diterangkan dalam poin yang kedua, anna lam yukit imanahu bisyirkin yahsulu lahu amna mutlq ata bimtuhid.
(16:41) aahsulahu mutlaqu amnin bimna annahu amnun laisa bikamil wa innama hua naqis wzalika biqadri ma ata bihi minat tauhid. Ayat ini pun menjelaskan orang yang tidak mencampuradukan iman dengan syirik dia memperoleh keamanan yang mutlak. Apabila dia mengaplikasikan seluruh isi kandungan tauhid, dapat keamanan mutlak itu aman dari segala jenis azab atau siksa di dunia ataupun di akhirat.
(17:31) Kita tahu azab itu siksa itu kadarnya beda-beda, bentuknya beda-beda. Makin gede dosa, makin besar maksiat, makin dahsyat siksa, makin lama waktu teralaminya siksa tersebut. Kalau paling gede banget syirik dan kufur, bisa abadi di neraka selama-lamanya. Ada lagi dosa yang diazab lebih ringan dari itu. Ada yang teringan, berbeda-beda. Azab disesuaikan dengan kadar dosa.
(18:12) Kalau orang beriman dan tidak syirik serta mengaplikasikan semua konsekuensi dari tauhid. Kita pernah bahas tauhid itu ada hakikat tauhid, ada beberapa poin salah satunya hukut tauhid, hak-hak tauhid. Apa hak tauhid? Imtisalu awamiri wtinabu nawahi. Melaksanakan perintah yang ditauhidkan.
(18:41) Menjauhi larangan yang ditauhidkan. Yang ditauhidkan siapa? Allah. Laksanakan perintahnya, jauhi larangan itu hak tauhid. Karena itulah semua konsekuensi dari tauhid diaplikasikan. Artinya dia tidak hanya beriman, beribadah, beramal saleh, tapi dijauhi juga dosa-dosa besar bahkan kecil. Dia dapat keamanan secara mutlak dalam arti enggak dapat azab apapun.
(19:13) Aman secara sempurna. Tapi siapa orang yang hanya menerapkan sebagian dari konsekuensi tauhid, tapi konsekuensi tauhid lain dilanggar diabaikan. Maka dia disebut yahsulu lahu mutlaqu amnin. Dia memperoleh mutlak ee kemutlakan dari keamanan. Maknanya dia belum tentu aman dari semua azab.
(19:54) Mungkin aman dari sebagian azab, tapi tidak aman dari azab yang lain. Kalau dia tidak musyrik, dia tidak akan memperoleh azab yang diperuntukkan untuk orang musyrik. Kalau dia umpamanya tidak berzina, tidak mabuk, tidak berjudi, tidak mencuri, maka dia aman dari azab itu. Tapi dia gibah, tapi dia berdusta, tapi dia menghina, maka akan kena dengan azab, gibah, dusta, hinaan, dan seterusnya. Tapi dia aman dari dosa-dosa yang tidak dia kerjakan.
(20:37) Jadi seseorang akan memperoleh keamanan dari azab Allah sesuai dengan kadar tauhid yang diaplikasikannya. Itu maknanya. Itulah yang kedua. Ketiga, anna maknal amni fid dunya ayanal abdu fiha al nafsihi wahi walihi bisababi had tauhid. Ayat ini menerangkan bahwa makna aman di dunia kan tadi orang yang bertauhid aman di dunia, aman di akhirat.
(21:20) Aman di dunia apa? Aman tentang dirinya, kehormatannya, dan hartanya. Maknanya dia tidak boleh di ganggu gugat, dirampas hartanya, kehormatannya ataupun nyawanya, darahnya oleh sesama muslim. Jadi dia tidak boleh dilukai apalagi dibunuh. Tidak boleh hartanya diambil secara batil seperti dirampas, dirampok, ditipu, dicuri, dan yang sejenisnya.
(21:58) Demikian juga kehormatannya. Tidak boleh dirampas dengan cara dihinakan, dengan cara direndahkan, dengan cara digibahi, difitnah. Haram. Siapa yang melakukannya dia berdosa. Bersabda Rasul sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim dalam kitab sahihnya, “Manqala la ilahaillallah wa kafaro bima yubadu min dunillah haruma maluhu wa dammuhu wa hisabuhu alallah.
(22:36) ” Siapa orang yang mengatakan lailahaillallah lalu dia kufur kepada semua sesembahan selain Allah? Tauhid nih, maka haramlah hartanya dan darahnya termasuk kehormatannya dan hisabnya atas Allah. Allah nanti yang menghisabnya. Makna haram hartanya, hartanya enggak boleh diambil secara batil, kecuali melalui proses yang dihalalkan.
(23:13) Jual beli, hadiah menghadiahi, upah buruh kerja itu proses yang dihalalkan secara syari. Tapi kalau diambil secara tidak sah secara syari seperti ditipu, dicuri, dirampas, dirampok, maka haram. Tidak boleh. Pelakunya terkena dosa. Demikian juga kehormatannya tidak boleh kecuali dengan alasan yang hak. Alasan yang hak itu yang membolehkan dia menggibahi orang lain seperti ketika di zalimi.
(23:57) Dia berhak menggibahi orang yang menzaliminya atau hmm ini hati-hati berhutang enggak dibayar juga padahal mampu. Maka orang yang punya kemampuan bayar hutang tapi tidak dibayar juga halal kehormatannya, halal hukumannya. Boleh diadukan ke hakim untuk dihukum, boleh digibahi. Ini pernah kita bahas di beberapa pertemuan yang lalu.
(24:30) Nah, jadi yang dimaksud keamanan orang itu di dunia adalah aman dari gangguan sesama muslim. Baik hartanya atau darahnya ataupun kehormatannya. Dia aman tidak akan diganggu. dihina, digibahi, difitnah juga tidak akan dilukai apalagi dibunuh. Atau umpamanya hartanya tidak akan diambil secara tidak benar aman dia.
(25:07) Siapa yang melanggar hak dia yang dijamin keamanannya oleh syariat, syariat yang menentukan hukuman bagi para pelakunya. Ini di dunia termasuk aman juga dari azab yang Allah berikan di dunia kepada orang-orang yang berdosa berupa musibah. Allahu azza waalla menyatakan asobakum musibatin fabima kasabat aidikum wir musibah apa saja yang menimpa kalian itu karena dosa-dosa kalian ma nazalal bala illa bidzan wama rufi’al bala illa bit taubah.
(25:58) Itu perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa dan tidaklah bala ini diangkat kecuali dengan tobat.” Nah, karena dia tadi tidak berdosa, aman dari azab di dunia berupa musibah. Adapun di akhirat dia aman pertama dari goncangan dahsyat pada hari kiamat. Ketika kiamat terjadi semuanya goncang.
(26:34) Ketika di apa namanya? Dibangkitkan di akhirat. Semua orang takut dan sedih ketika dikumpulkan di padang mahsyar. Ketika hisab, maka orang yang ahli tauhid tadi akan Allah selamatkan Allah akan Allah berikan keamanan dari semua itu. Sebagaimana firman Allah dalam beberapa ayat di antaranya dalam surah Al-Anbiya ayat 103 Allah menyatakan, “La yahzunuhumul f’ul akbar.
(27:14) ” Mereka tidak akan disedihkan dengan goncangan yang dahsyat pada hari kiamat. Innalladzina qalu rbunallah tummaqomu fala khaufun alaihim wala hum yahzanun. Sesungguhnya orang-orang yang berkata rabb kami Allah lalu istiqamah. Fala khaufun alaihim walah hum yahzanun.
(27:46) Maka tidak ada ketakutan atas mereka dan juga tidak ada kesedihan yang menimpa. Dalam ayat lain, innalladzina qubu rbuna tummqamu tatanazalu alaihimul malaikah alla takofu wala tahzanu wa absyiru bil jannatillati kuntum tuadun. Orang yang berkata Rabb kami Allah kalau istiqamah dia istiqamah di atas tauhid para malaikat akan turun membisikkan jangan takut jangan sedih, tapi berbahagialah dengan surga yang Allah janjikan untukmu. Nah, ini bisikan menenangkan, menentramkan.
(28:31) Imam Ibnu Katsir rahimahullahu taala menjelaskan momen turunnya malaikat ini enggak sekali dua kali, beberapa kali. Pertama saat sakaratul maut semua orang stres mau mati. Takut terhadap masa depannya di alam kuburnya. Sedih terhadap apa yang akan ditinggalkannya, istrinya, anaknya, kekayaannya dan semuanya. Turun malaikat membisikan, “Jangan takut, jangan sedih.
(29:05) ” Kedua, di alam kubur. Dan yang ketiganya di hari kiamat nanti. Karena itulah maka keamanan yang Allah berikan kepada ahli tauhid dunia dan akhirat. Di dunia dalam dua bentuk. Bentuk pertama keamanan. dari aspek hak-hak pribadinya, baik hartanya, jiwanya, ataupun kehormatannya, tidak boleh diganggu oleh sesama muslim.
(29:39) Yang kedua, aman dari azab di dunia. Nah, di akhirat aman dari semua penderitaan di alam kubur, penderitaan di alam mahsyar ketika hisab sampai akhir terminal akhir dari kehidupan aman dari azab neraka, dimasukkan ke dalam surga. Itulah keamanan yang dimaksud dalam ayat tadi. Wa ammal hidayatu fid dunya.
(30:16) Fainnallaha azza waalla yahdihi fi had dunya ila ma fihi sinii wunyahu. Kedua tadi memperoleh keamanan dan hidayah. Hidayah juga dunia akhirat. Adapun hidayah di dunia adalah Allah memberi hidayah dalam kehidupan dunia ini agar dia bisa meraih kemaslahatan agama dan dunianya. Di dunia ini ada dua jenis hidayah di dunia. Hidayah yang pertama berupa ilmu, pencerahan, penjelasan.
(31:01) Penerangan nasihat disebut hidayah irsyad wad dilalah. Irsyad itu bimbingan. Dilalah itu petunjuk. Ilmu ini hidayah. Dan hidayah berupa ilmu wajib dicari. Setelah dapat wajib di-share, dibagi, diajarkan, didakwahkan. Allahu azza wa jalla menyatakan, “Innaka latahdi ila sirati mustaqim.
(31:37) ” Engkau hai Muhammad memberi hidayah ke jalan yang lurus. Maksud hidayah di sini ilmu, penerangan, penjelasan. Menyampaikan ayat, menyampaikan hadis itu hidayah irsyad wad dilalah. Kedua, ini yang lebih mahal. Ini yang menjadi tujuan dari yang pertama. Yang pertama mah ilmu mah bukan tujuan. Ilmu itu alat. Ilmu itu wasilah. Ilmu itu hanya sarana. Tapi tujuannya apa? Tujuannya amal.
(32:13) Agar beramal termotivasi untuk beramal dan amalnya benar. Karena didasarkan pada ilmu itu tuh. Makanya kalau orang hanya mencari ilmu tapi tidak diamalkan sama dengan hanya orang yang bawa-bawa alat saja tapi enggak dipakai-pakai gitu. Tujuan dari ilmu adalah amal. Nah, amal ini hanya bisa dilakukan dengan hidayah jenis yang kedua yang disebut hidayah taufik dari Allah azza wa jalla. Hidayah taufik itu berupa dua.
(32:53) Pertama, keinginan iradah atau masyiah, kehendak. Kehendak untuk apa? Untuk beriman, beramal, melakukan kebaikan, menjauhi keburukan. Itu keinginan harus ada. Kedua, kemampuan untuk melakukan apa yang diinginkannya itu. Baru lahir amal. Kenapa kita salat? pertama ingin, kedua mampu dari segala segi.
(33:26) Kenapa kita datang ke sini untuk ngaji? Karena ingin dan karena mampu dari segala segi. Banyak orang ingin tapi enggak bisa karena sakit, enggak punya ongkos, terhalang hujan atau jauh gitu. Banyak orang mampu ke sini tapi enggak ingin, ah ngapain datang ke ukhuwah capek-capek kan gitu. Akhirnya enggak datang. Kita yang datang ini ya ingin ya mampu.
(33:56) Kenapa kita ingin dikasih keinginan itu oleh Allah? Bukan hasil ikhtiar kita. Bukan. Kita enggak bisa memunculkan keinginan untuk hadir di sini. Enggak bisa. Tapi Allah yang kasih tuh. Kenapa kita mampu? Allah juga yang kasih. Tentang keinginan. Allah berfirman, “Wama tasyauna illa a yasya Allahu rabbul alamin.” Kalian enggak akan punya keinginan kecuali Allah yang kasih keinginan itu.
(34:27) Kemampuan la haula wala quwwata illa billah. Tidak ada alhaul dan alquah. Alul alquah ada kemampuan kecuali dari Allah. Jadi baik keinginan atau kemampuan Allah yang kasih. Begitulah cara Allah memberi hidayah taufik kepada kita. Diberi keinginan untuk beramal, diberi kemampuan untuk beramal, lalu kita beramal. Disebut hidayah taufik. menyatunya dua hal ini.
(35:03) Nah, hidayah taufik ini mah hak prerogatif Allah. Orang enggak bisa ngasih hidayah taufik. Termasuk para nabi, termasuk nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allah menyatakan, “Innaka la tahdi man ahbabta. Walakinnallaha yahdi may yasya. Engkau, hei Muhammad, enggak bisa ngasih hidayah kepada orang yang engkau cintai.
(35:37) Tapi Allah yang ngasih hidayah kepada siapapun yang dikehendaki. Maksud hidayah di sini hidayah taufik. Tadi dikatakan engkau, hai Muhammad memberi hidayah ke jalan yang lurus. Kok ini engkau tidak bisa memberi hidayah? Kok bertolak belakang? Bukan bertolak belakang. Beda jenis hidayahnya. Yang tadi mah hidayah berupa ilmu. Engkau memberi hidayah ke jalan yang lurus.
(36:06) Artinya memberi ilmu, penjelasan, penerangan, nasihat Quran, sunah. Kalau di sini engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, maksudnya hidayah taufik itu mah ada di tangan Allah. Nabi sallallahu alaihi wasallam sebelum ke Makkah waktu di eh sebelum ke Madinah waktu di Makkah ditindas di tekan wah pokoknya mah menderita.
(36:34) Beliau pernah berdoa, “Ya Allah kuatkan Islam dengan salah satu di antara dua Umar. Satu Umar bin Khattab, satu Umar pamannya sendiri. Eh, yang dapat hidayah bukan pamannya, tapi Umar bin Khattab yang tak ada hubungan kekerabatan dekat dengan beliau. Ketika Abu Thalib umpamanya berjuang, membela, melindungi, menyayangi, enggak dapat hidayah.
(37:09) Karena di tangan Allah hidayah itu bukan di tangan orang. Makanya tak heran kalau di kalangan para nabi ada orang terdekatnya kafir, penentang dakwahnya. Nabi Nuh, Nabi Luth, istri-istrinya kafir, anaknya kafir. Nabi Ibrahim tukang memberantas patung. Eh, bapaknya tukang tukang bikin patung. Nabi Musa siapa musuh besarnya? Ayah angkatnya.
(37:42) Firaun itu ayah angkatnya sejak bayi diasuh di istana. Mereka enggak bisa memberi hidayah taufik. Ini dua jenis hidayah di dunia. Kalau hidayah irsyad wad dilalah wajib dicari dan kalau sudah dapat wajib di-share. Kalau hidayah taufik sama wajib dicari dan kalau sudah dapat tidak bisa di-share, tidak bisa diberikan. Gimana cara mencari hidayah taufik? Banyak. Salah satunya tauhid.
(38:20) Ini kata Allah, siapa yang beriman dan tidak mencampuradukan iman dengan zalim alias bertauhid, dia akan dapat keamanan dan dapat hidayah. Hidayah apa? Dua-duanya. Hidayah irsyad wad dilalah dan hidayah taufik. Banyak cara untuk apa? meraih hidayah taufik dengan cara ngaji seperti ini, dengan cara berdoa seperti ini, dengan berkata yang baik, dengan semua ibadah amal saleh itu pengundang hidayah.
(38:57) Kalau ada orang umpamanya belum salat atau belang-belang atau wanita belum menutup aurat atau sudah menutup aurat tapi alisnya dikerok gitu terus bikin alis sendiri hitam pakai areng atau bulu matanya di apa gitu ya tapi sudah berjilbab Lalu ditegur, “Kenapa kamu masih begitu? Kan tahu itu, Teo.” Tidak boleh.
(39:35) Kan tahu menutup auratnya wajib. Apa jawabnya? Belum dapat hidayah. Ada yang begitu banyak. Betul enggak ucapan? Betul. Tidak salah. Ya, betul. Dia belum dapat hidayah makanya auratnya masih terbuka. Terus kalau memang betul di mana salahnya? Salahnya sudah tahu belum dapat hidayah enggak dicari. Itu kesalahannya para wajib mencari hidayah itu.
(40:13) Dengan cara apa? Banyak caranya ngaji, menuntut ilmu, beribadah, melakukan banyak kebaikan, menjauhi dosa-dosa dan maksiat. Karena dosa dan maksiat penghalang turunnya hidayah. Mungkin karena itu dia tahu bahwa itu wajib tapi tidak dilaksanakan. Terhalang dari hidayah karena dosa, maksiat. Baik dosa itu jangan dianggap melanggar yang haram aja bukan.
(40:44) Tapi ada dosa malah lebih besar yaitu mengabaikan kewajiban. Kewajiban rukun Islam yang lima itu yang paling kuat. Kalau itu diabaikan, wah itu lebih besar dosanya daripada melanggar larangan. Dosa meninggalkan salat aja itu lebih gede daripada dosa mencuri, berzina, mabuk, ee judi, merampok ginggalkan salat itu.
(41:24) Karena itulah maka Imam Azzahabi memasukkan tarkus salah ke dalam urutan kedua dari dosa-dosa besar. Dosa besar pertama syirik dan kufur. Yang kedua tarquus sha meninggalkan salat. Kenapa? Karena kalau merampok, mencuri itu mengambil hak sesama makhluk. Kalau tidak salat mengambil hak Allah. Salat itu hak Allah. Suum Ramadan itu hak Allah.
(41:53) Tidak ditunaikan dosanya lebih besar daripada merampas hak sesama manusia. Itulah dua jenis hidayah di dunia. Hidayah irsyad wadilalah berupa ilmu dan hidayah taufik. Nah, orang yang bertauhid pertama akan diberi hidayah ketika di dunia dan di akhirat juga dapat hidayah. Apakah perlu hidayah di akhirat? Ya perlu. Untuk apa? Hidayah ini adalah tuntunan petunjuk menuju surga.
(42:39) Allah berfirman dalam surah Muhammad ayat 6, wudkilum wudkilumul jannata arhaahum. Allah akan masukkan mereka ke dalam surga yang sudah Allah kenalkan, Allah perkenalkan, Allah tunjukkan jalan-jalannya kepada mereka. Dalam hadis yang sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari, nanti enggak perlu kita bingung setelah menyeberang sirat, selamat ke mana jalan ke surga. Enggak, enggak perlu bingung. ditunjukkan digiring nanti oleh malaikat untuk menuju surga.
(43:24) Berkata Rasul sallallahu alaihi wasallam, “Fawalladzi nafsu Muhammadin biyadih lahaduhum ahda bimanzilihi ilal jannati minhu bimanzilihi fid dunya.” Demi Allah yang jiwa Muhammad, jiwaku jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangannya. Sesungguhnya manusia akan lebih tahu jalan menuju tempat tinggalnya di surga dibanding jalan menuju rumahnya ketika di dunia.
(44:00) Sekarang kita di dunia pergi ke mana pun pulangnya enggak akan tersesat. Ya enggak asal sudah sampai Bandung ya sudah ke Ubek. Bandung mah dibawa oleh ojol umpamanya ke rumah saya di kukurilingan pasti tahu. Jangan ke sana salah gitu kan. Tidak hanya tahu jalan, tapi tahu juga mana jalan tercepat atau terbagus.
(44:28) Kadang ada banyak jalan, ada yang jauh, ada yang dekat, ada yang sedang, tapi ada juga yang mulus, yang jelek, atau yang macet. Kita tahu enggak akan tersesat. Enggak pernah kita 3 hari tidak pulang karena enggak tahu jalan pulang. Enggak pernah. Kalau selama kita di kota kita sendiri. Ya, itu di dunia apalagi di akhirat nanti.
(44:56) Ya, inilah faedah yang ketiga. Faidah keempat. Anas syirka dulun bal hua a’domud dzulmi. Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan syirik itu kezaliman. Bahkan kezaliman terbesar. Kalau di dunia saja kita tidak memberi hak seseorang. Kita tahan, kita selewengkan. Zalim. Ada orang tolong titip uang nih R miliar ke si A. Setelah kita bawa, ah sayang nih R miliar.
(45:44) Lalu kita tilap baik sebagian apalagi seluruhnya. Zalim enggak tuh? Zalim bisa dipenjara? Iya bisalah asal ada bukti. Kalau enggak ada bukti susah juga itu ke orang apalagi kepada Allah. Ini ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah eh dibelokkan kepada sesama makhluk. Malah seperti yang saya tadi bilang, dibelokannya kepada makhluk yang lebih hina.
(46:16) Kalau kepada yang lebih mulia seperti raja, itu saja sudah enggak boleh. Presiden, penguasa, orang kaya, enggak boleh. Orang saleh, wali Allah kita sembah, enggak boleh. Apalagi ini yang lebih hina dari dirinya. ya batu kek, pohon kek, binatang kek, atau roh orang-orang yang sudah mati kek.
(46:48) Ah, itu bukan hak mereka untuk disembah, diibadati. Maka dia membelokan ibadah yang harusnya kepada Allah diberikan kepada pihak lain. Zalim, bahkan kezaliman terbesar. Sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman 13. [Musik] Karena itu maka ketika dosa syirik terbawa mati tak ditobati tidak akan diampuni. Innallaha la yagfiru ayusroka bihi. Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
(47:30) Ayat ini tentang yang tidak tobat. Syiriknya terbawa mati, tidak ditobati. Tapi kalau sebelum mati tobat diterima, dihapus. Tapi kalau tidak tobat sampai ke bawah tuh la yugfar, tidak diampuni. Wagfiru mauna dalalika lima yasya. Tapi dosa selain syirik bisa diampuni walaupun tidak tobat, terbawa mati.
(48:05) kezaliman yang lain asal bukan syirik tidak ditobati terbawa mati bisa diampuni. Apakah semua orang? Tidak. Limay yasya bagi orang-orang yang Allah kehendaki. Siapa orang yang diampuni walaupun tidak tobat, terbawa mati? Ah, orang-orang yang banyak melakukan amalan-amalan penghapus dosa selain tobat dan istigfar. Orang yang banyak melakukan amal kebaikan terampuni dosanya.
(48:38) Sebagian dosa. Innal hasanati yudhibn sayiat. Kebaikan-kebaikan menghapus dosa. Makanya idfa billati ya ahsan. Hasanah tamhu ikuti keburukan dengan kebaikan. Maka kebaikan tadi menghapus dosa keburukan tadi. Jadi kalau melakukan banyak kebaikan walaupun tidak tobat bisa menghapus sebagian dosa. Musibah. Semua musibah menghapus dosa. Makin hebat musibah makin banyak tuh.
(49:22) Dan banyak lagi faktor penghapus dosa yang lainnya. Ya. Tapi kalau syirik tidak terhapus dengan apapun kecuali dengan tobat. Berkata mualif, wain kanat zulman lakin hadambuulmun funfa yuqilul abdu ihsanallahi waahu bil bihi waliirkaun maunisafsi rbah bikilafunub fainnaha tataqu bisahwat walaupun Wupun dosa-dosa lain itu kezaliman juga. Dosa selain syirik kezaliman.
(50:14) Tapi dosa itu, dosa syirik itu kezaliman yang buruk. Kenapa? Bagaimana mungkin seorang hamba sudah diberi beragam nikmat, beragam kebaikan oleh Allah, dibalas dengan menyekutukan Allah. Air susu dibalas dengan air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Adapun terus syirik adalah kezaliman yang murni tanpa adanya keinginan apapun dari orang yang melakukannya. Orang umpaya menyembah berhala.
(51:00) itu tidak ada keinginan lain kecuali mengagungkan yang disembahnya. Adapun perbuatan dosa lain itu ada kesenangan, ada kegembiraan, ada kepuasan batin dengan melakukan dosa-dosa tadi. Ada syahwat di sana. Orang berjudi karena senang judi sampai lupa waktu.
(51:30) orang mabuk, apalagi orang berzina, apalagi orang umpamanya bergibah, ada kesenangan di sana, ada syahwat, ada rugbah. Tapi kalau orang berbuat syirik, enggak ada syahwat di sana. Enggak ada kesenangan dengan berbuat syiriknya, murni pengagungan atau takut terhadap apa yang disembahnya dengan ketakutan yang tidak proporsional.
(51:57) Karena itulah maka syirik merupakan kezaliman terbesar. Inilah yang keempat. Faidah kelima. Anna min adawati taukid fil balaghirul fasl walkur hunairhumfadu [Musik] minalik anula humul muhtadun. Wa annaam ya bima bihi haula annahu laisa bimuadin walid atil jumlatul ismiah wah tufalaginubut wal istim q wahum muhtadun fal hidayatu tsabitatun mustamiratun lahum.
(52:46) Di antara kata yang memberi makna penekanan menurut ilmu balaghah, ilmu sastra Arab adalah digunakannya damir fasel. Diistilahkan dalam ilmu nahwu damir munfasil. Damir itu kata ganti. Saya, kamu, mereka, kita itu kata ganti dalam bahasa Arab disebut damir. Ada kata ganti orang pertama, kedua, atau ketiga. Nah, damir itu ada dua macam.
(53:26) Damir munfasil, damir muttasil. Munfasil terpisah. terpisah penulisannya seperti ana muslimun. Ana ini munfasil ana hua huma, hum, hiya huma, hunna, anta, antuma, antum, anti, antuma, antuna, ana, anu itu damir munfasil. Kalau kedudukan dia rafa. Aduh, rafa itu apa? Diikan dulu bisi bisa muttasil. Muttasil nyambung.
(54:10) Kalau damir ini disimpan di akhir kata seperti saya memukul kamu. Nah, kamu ini di akhir ditulisnya tersambung. Ana adribuka gitu. Saya memukul mereka. Ana adribuhum itu nyambung. Atau kata umpamanya ee ana katabtu saya telah menuliskannya hunya ini dari hua. Kalau hua munfasil kalau hu muttasil. Ada perbedaan dalam ilmu balagah. Kalau menggunakan damir munfasil mengandung makna subut wal istimrar. tetap dan terus-menerus.
(55:04) Nah, di dalam ayat ini disebutkan ulaika lahumul amnu wahum muhtadun. Pakai hum muhtadun. Hum ini damir munfasil. Allah di sini tidak menggunakan fi’il. Fi’il itu kata kerja. Tidak menyatakan alladzina yahtadun. Tidak begitu. Mereka orang-orang yang dapat hidayah pakai dengan fi’il yahtadun. Tidak. Tapi dengan isim. Isim itu kata benar.
(55:36) Hum almuhtadun. Dua-duanya isim. Hum. Isim. Isim damir. Almuhtadun juga isim. Isim jamak ee mudzakar salim. Dalam kaidah disebutkan jumlah ismiah itu tufidul tufidusut wal istifrar. Memberi makna tetap dan terus-menerus. Maknanya siapa yang memenuhi syarat ini yaitu tauhid dipastikan ada tauhid di sini dapat keamanan dan dapat hidayah.
(56:22) Dipastikan selama bertauhid maka hidayah dan keamanan melekat pada dirinya. Maknanya ketika menyimpang dari tauhid walaupun sekejap saja apalagi sama sekali tidak bertauhid, dua-duanya ini tidak diperoleh. Siapa yang menyimpang dari tauhid tidak akan dapat keamanan dan tidak akan dapat hidayah.
(56:52) Maknanya apa? Maknanya dia akan memperoleh kebalikan dari aman dan hidayah. Yaitu dia akan terkena azab dan akan tersesat. Inilah beberapa ee faedah yang bisa kita ambil dari ayat ini. Ya, cukup sore hari ini sampai di sini. Waktunya sudah cukup untuk menjelaskan. Kita tinggal tersisa waktu untuk bertanya jawab kepada alri di studio Radio Rojat Cilengsi dipersilakan untuk memandu tanya jawab dengan pendengar dan pemirsa. Wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa asabihi wasallam.
(57:33) Silakan Ari Tib ustaz. Barakallah fikum. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas kesediaan ustaz meluangkan waktu untuk kembali menyampaikan bimbingan dan pelajaran yang sangat bermanfaat di kesempatan sore hari ini. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan keberkahan, kemudahan untuk kita semuanya bisa mengambil faedah-faedah yang bermanfaat tentang apa yang telah dijelaskan kepada kami di kesempatan kali ini.
(58:02) Berikut ini kami akan bacakan pesan singkat yang telah masuk. Salah satunya dari Ibu Sri di Tangerang. Asalamualaikum, Ustaz. Saya alhamdulillah sekeluarga mendapat hidayah sunah dan qadarullah saya sebagai ibu rumah tangga kadang-kadang prihatin dengan ibu-ibu yang belum mendapatkan hidayah di sekitar lingkungan kediaman kami.
(58:35) Bagaimana kiat-kiat agar kami istikamah terus dalam menjalankan hidayah ini, Ustaz? dengan berbagai hal yang ada di lingkungan kita. Begitu banyak syubhat yang ada. Silakan Ustaz Sukon. Jazakallahu khairan. Tib wa jazakillahu khair. Ibu Sri di Tangerang ya. Barakallahu fik. Bagaimana bisa istiqamah di lingkungan yang belum mengenal sunah? Pertama, amalkan ilmu-ilmu yang sudah diterima.
(59:13) Kedua, tetaplah aktif hadir di majelis-majelis kajian. Karena ilmu tadi hidayah juga mengundang, hidayah taufik. Ilmu bisa menepis syubhat, hidayah, taufik bisa menepis syahwat. Ya, kalau ada syubhat yang dilontarkan oleh orang lain dengan ilmu kita bisa tepis.
(59:47) Kalau belum tahu jawabannya bisa ditanyakan di dalam kajian. Jadi kajian itu sesuatu yang sangat-sangat penting. Kenapa dapat hidayah? Pasti karena ngaji. Nah, pertahankan hidayah itu dengan mempertahankan hadir di majelis kajian sesering yang kita bisa. Kalau ada kajian tiap hari, tiap harilah ngaji tanpa mengabaikan kewajiban di rumah tangganya. Jangan sampai karena sering ngaji suaminya, anak-anaknya terlantar.
(1:00:21) Enggak boleh. Karena khidmah kepada suami mengurus anak-anak fardu ain. Sedangkan ee mencari ilmu bisa dengan beragam cara, ya. Jadi, yang kedua ngaji terus. Yang ketiga, bergaullah dengan orang-orang yang berilmu dan beramal saleh supaya keciipratan, supaya kita tetap dapat nasihat, dapat pengaruh baik dari mereka dan hindarkan pergaulan dengan orang-orang yang bisa menyeret kita kepada keburukan.
(1:01:04) Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, “Almaru aladini khili falyan ahadukum yukil.” Seseorang itu agamanya akan dipengaruhi oleh agama kawannya. Maka perhatikan dengan siapa kalian berkawan? Berkawanlah hanya dengan orang-orang baik. Adapun dengan orang yang kurang baik bukan dimusuhi, bukan. Tapi tidak bergaul rapat menjadikan mereka sebagai circle pergaulan kita.
(1:01:36) Enggak boleh menjadikan besti, soulmate, nanti terbawa pengaruh buruk. Ya, tapi kalau ketemu ya biasa asalamualaikum, basa-basi gitu. Tapi bergaul dekat tidak. terus menasihati mereka ya nasihati sebatas memberi nasihat setelah itu sudah agar kita tidak terpengaruh oleh keburukan mereka itu yang ketiga.
(1:02:02) Jadi yang pertama amalkan ilmu yang ada. Yang kedua tetap ngaji. Yang ketiga pilih ccle pergaulan yang baik. Keempatnya jauhi pergaulan yang buruk. Kelimanya jangan lupa berdoa agar Allah mengistiqamahkan kita. Allahumarzuqnil istiqamah. Ya Allah rezekikan kepada saya istiqamah. Baca rbana la tuziq qulubana ba’daid hadaitana sampai akhir.
(1:02:36) Baca doa Allahumma ya muqallibal qulubbit qolbi alaik. Allahumma ya musifalub sfqbi ala thaatik. Baca doa. Allahumma inni as’aluka fi’al kiratarkal munkaro. Baca doa. Allahumma ati nafsi taqwaha wazakiha anta khairu man zakaha anta waliuha maulaha. itu doa-doa meminta istiqamah, meminta dijauhkan dari ketergelinciran, meminta hidayah untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran.
(1:03:24) Ya, semoga Ibu Sri tadi diberikan keistikamahan oleh Allah azza waalla. Demikian juga kita semuanya. Wallahuam. Silakan lagi. Tib ustaz. Barakallah fikum. Terima kasih. atas jawaban dan nasihatnya untuk Ibu yang bertanya khususnya dan kita semua yang menyimak pada kesempatan kali ini. Ustaz, berikut kami bacakan kembali asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin bertanya, Ustaz.
(1:03:48) Di fase kehidupan sekarang, khususnya setelah menikah, memiliki anak dan istri, saya sangat menjaga dengan apa yang keluar dari lisan dan pula apa-apa yang berkaitan dengan maksiat serta berusaha mencari siapa-siapa yang pernah saya gibahi di masa lalu. Pertanyaannya, bagaimana cara saya bertobat dari dosa gibah atau dosa lain yang terlupa dan yang ingat orangnya, Ustaz? Karena berkaitan dengan perkataan seorang tabiin, Al Imam Alhan Albashri rahimahullah, maka seorang hamba yang berbuat dosa kemudian dia bertobat dan memohon ampun
(1:04:33) maka akan diberikan ampunan baginya. Akan tetapi dosa-dosa itu takkan terhapus dari catatan amalannya sebelum dihadapkan kepadanya kemudian ditanyakan kepadanya. Kemudian Alhan pun menangis sejadi-jadinya. Sera berkata, “Dan kalaulah sekiranya kita tidak menangis kecuali karena malu terhadap ee hal tersebut di yaumil hisab nanti.
(1:05:03) ” Bagaimana kita, Ustaz menyikapi hal ini, Ustaz? Silakan. Tib. Barakallahu fik. Iya. Kita wajib tobat atas semua dosa di masa lalu dan terutama dosa kezaliman ke orang. pernah menggibahinya, pernah menghinanya, pernah juga menyakitinya. Baik lisan ataupun perbuatan. Tobatnya ditambah tuh. Selain berhenti dari dosa, menyesal, bertekad, tidak mengulang, minta dihalalkan, kembalikan hak dia.
(1:05:50) Sebelum dikembalikan tidak terhapus. dosa itu sebelum dikembalikan haknya tobatnya tidak sah karena ada satu syarat yang belum terpenuhi akan diperhitungkan pada hari kiamat nanti. Jadi kembalikan itu yang dimaksud oleh perkataan Imam Hasan Albashari. Sekarang kalau dosanya dalam bentuk gibah kepada orang lain, perlukah kita memberitahukan dan meminta maaf? Para ulama merinci.
(1:06:28) Pertama, kalau orang itu sudah tahu, sudah mendengar, kita menggibahinya dan merasa tersakiti, secara gentil datang ke dia minta maaf, bilang khilaf. Kemarin saya khilaf tergoda setan. Terserah balasan dia mau diapain, mau dimaafkan, mau tidak kewajiban kita minta maaf, minta dihalalkan. Kalau dia menyatakan tujuh turunan enggak akan saya maafkan, itu tanggung jawab dia dengan Allah.
(1:07:07) Tanggung jawab dan kewajiban kita untuk minta maaf sudah ditunaikan. Jadi kalau dia sudah mendengar, gentel, minta maaf. Adapun kalau dia tidak tahu dan belum mendengar kita menggibahinya, tidak boleh diberitahukan kepada dia. Karena memberitahukannya madarat. Dia bisa ngamuk, marah, bisa membenci, bisa memusuhi. Walaupun belum pasti ya, tapi mungkin saja itu terjadi dan itu madarat.
(1:07:50) Maka kalau orang yang kita gibahi belum tahu, belum mendengar, enggak perlu kita memberitahukannya. Karena meritahukannya menyakitinya dua kali. Pertama digibahi, yang kedua diberitahunya. Akhirnya mungkin saja dia kalap. Terus gimana tobatnya? Pertama ralat. gibahan kita. Kalau kita menggibahi dia di hadapan 10 orang, datangi lagi 10 orang diralat.
(1:08:18) Kemarin saya bilang si fulan begini begini begini diralat. Saya yang salah, yang keliru. Si fulan enggak sejelek yang saya omongkan. lagi dan jangan disebarkan lagi. Saya enggak tanggung jawab kalau sampai disebarkan berita buruk kemarin sebarkan aja ralatannya ini. Itu pertama. Kedua, mintakan ampun. Doakan ampunan, rahmat, hidayah, ampunan, segala jenis kebaikan bagi dia. Maka itu cara tobat dari gibah.
(1:08:54) Apabila orangnya belum tahu kita menggibahinya, insyaallah itu dimaafkan ya. Nah, jadi berat menggibahi orang lain kalau sudah tahu orang itu selain harus minta maaf juga harus apa? Meral. Kalau gibahnya lewat media sosial sudah di-share lagi ke banyak orang ke seluruh dunia, uh, itu bisa jariah dosanya tuh.
(1:09:24) Makanya hati-hati dengan gibah di media sosial atau menghinakan orang lain di media sosial sedunia orang tahu. Mungkin kitanya sudah tobat tapi keburukan yang kita sebar masih tuh. Jadi tobat dari gibah yang belum diketahui cukup seperti itu. Nah, sekarang ada orang yang sudah kita gibahi, orangnya sudah dengar, kita mau minta maaf tapi kita enggak tahu dia di mana, sudah pindah dan seterusnya. Dicari di media sosial, di grup-grup tidak ada.
(1:10:04) Apa yang harus kita lakukan? Pertama kita bertobat, menyesal, berhenti, bertekad, tidak kembali, terus doakan kebaikan bagi dia. Ya, ralat gibahan kita tentang dia ke banyak orang. Insyaallah dengan cara seperti itu tobat kita diterima dan kesalahan kita dihapus. Wallahuam bisawab. Silakan lagi, Ari. Terima kasih jazakallahu khairan atas jawabannya. Berikut ini kami bacakan kembali dari saudara kita yang bertanya.
(1:10:37) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Bagaimana menguatkan iman dan tauhid bagi seperti kita anak-anak muda yang hidup di zaman yang sudah berbeda? Sangat banyak platform yang hadir di media-media sehingga banyak pengaruh atau influence kepada diri kita.
(1:11:05) baik itu informasi tentang agama, tentang gaya hidup dan lain sebagainya. Khususnya kalau sekarang disebut dengan zaman fitnah ini, Ustaz. Silakan. Baik. Barakallahu fik. Sebenarnya pertanyaan mirip dengan yang pertama tadi, cuma berbeda ungkapan. Tadi bertanya, “Gimana caranya agar istiqamah?” Ini juga mirip ya. Tayb. Pertama, jawabannya sama dengan yang tadi. Lakukan empat hal.
(1:11:34) Tetaplah ngaji. Kedua, tetaplah berdoa. Ketiga, pilih ccle yang bagus. Nah, terus amalkan ilmu yang ada. Nah, yang poin terakhir, jauhi ccle yang buruk. termasuk ini termasuk nih termasuk jangan dengarkan jangan ada masukan yang buruk ke dalam pemahaman kita. Syubhat-syubhat jangan didengarkan. Kalau sudah tahu ada orang yang pola pikirnya menyimpang, keliru, salah gitu ya. Ah, iseng-iseng didengarkan.
(1:12:26) Jangan meracuni hati kita lemah. Fitnah itu menyambar dahsyat. Betapa banyaknya orang yang menyimpang pemahaman bahkan murtad hanya karena mendengar pencerahan dari orang-orang yang menyimpang pemikirannya. Dan kasus seperti ini banyak yang murtad banyak. Dan ini banyak contoh. Contoh yang pertama Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan salah satu di antara fitnah terbesar Dajjal.
(1:13:11) Ada empat agar kita bisa terselamatkan dari fitnah Dajjal. Salah satu di antaranya adalah bila mendengar berita tentang Dajjal di suatu tempat, pergilah ke tempat lain, jauhi. Sampai Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan ada seorang pemuda, dia yakin pede terhadap imannya. Saya akan hadapi dajal, perangi dajal. sampai Dajjal Moses dan saya menjadi syahid yang paling agung.
(1:13:48) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, orang yang paling agung syahidnya adalah seorang pemuda menghadapi Dajjal, memperingatkan orang ini dajal gitu. Jauhi oleh Dajjal dibunuh. Setelah dibunuh dibelah dua. Kata Dajjal, “Apakah kalian mau yakin aku Tuhan kalian kalau aku hidupkan lagi? pemuda ini iya dihidupkan lagi. Ketika hidup pemuda ini menyatakan, “Saya tambah yakin kamu ini dajal.” Akhirnya Dajjal mau membunuhnya lagi.
(1:14:18) Tapi enggak bisa. Akhirnya dilempar ke dalam api yang diciptakan oleh Dajjal. Orang-orang menganggap dia dilempar ke neraka padahal dia dilempar ke surga. Kata Nabi, “Itu seagung-agung syuhada umatku.” Ada pemuda, “Ah, siapa tahu saya jadi pemuda itu.” Akhirnya dihadapi Dajjal. Apa yang terjadi? Dia akhirnya tunduk dan menjadi pengikut setia Dajjal.
(1:14:50) Setelah Dajjal memperlihatkan kesaktiannya, pengaruhnya, wibawanya, orang ini akhirnya luluh tunduk dan menjadi pengikut Dajjal. Ini bahaya. bahaya dari terlalu apa? Overcfidence, terlalu percaya diri, tidak mengukur kemampuan dan ilmu dirinya dan tidak mengetahui bahaya fitnah yang akan dihadapinya. Akhirnya dia hadapi eh dia terpengaruh.
(1:15:23) Pernahk saya cerita, ada seorang pemuda alim, dia mengikut memahami akidah ahlusunah secara benar. Tukang debat dengan khawarij, kalah khawarij. Akhirnya dia punya saudara, sepupu wanita berpaham khawarij. Dia mau meluruskan, mendakwahkan lalu dinikahi. Eh, setelah dinikahi dia lebih khawarij daripada istri. nya terpengaruh. Ini dahsyatnya fitnah.
(1:15:59) Karena itu tetaplah berada di cirkel yang benar, komunitas yang benar, komunitas kajian-kajian ilmu dari kalangan asatizah yang terpercaya, baik ilmu ataupun akidah dan manhajnya. Jangan coba-coba iseng-iseng mendengarkan yang syubhat-syubhat, khawatir terpengaruh nanti ya. Wallahuam bisawab. Terakhir ya Ari ya.
(1:16:32) Silakan pertanyaan dari Saudara Rene yang bertanya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustaz. Apakah terserah apakah berserah diri hanya kepada Allah bagian dari tauhid? Bagaimana bila kita sakit? Apakah harus berobat atau hanya berdoa saja kepada Allah? Dari Reni di Bekasi. Silakan. Tib. Barakallahu fik. Reni di Bekasi.
(1:16:58) Iya. Tawakal bagian dari tauhid. Makna tawakalah bersandar kepada Allahu azza wa jalla. Terutama dalam perkara-perkara yang hanya Allah yang mampu dijadikan sandaran. Apakah mutlak tidak boleh tawakal kepada selain Allah? Tidak. Tidak mutlak. Boleh enggak tawakal kepada orang? Boleh. Dengan catatan pertama, orang itu memang mampu disandari.
(1:17:37) Kedua, dalam perkara-perkara yang mubah. Yang ketiga, tidak sampai menimbulkan dua hal. Dua hal itu pengagungan berlebihan kepada yang dijadikan tempat bersandar. Kedua, menghinakan diri di hadapan dia. Seperti umpamanya seorang pekerja tawakal kepada bosnya dalam hal gaji bulanannya. itu tawakal. Iya. Dan dibolehkan dibolehkan.
(1:18:17) Pertama, orang itu bisa memberikan rezeki yang kita butuhkan. Yang keduanya kita tidak menjadikan dia itu lebih agung dari kita dan tidak menjadikan kita lebih hina dari dia. Dan perkara yang kita lakukan perkara yang mubah maka itu boleh. termasuk apabila kita sakit, Allahu azza wa jalla melisan rasulnya menyuruh kita berobat ikhtiar.
(1:18:50) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, tadawu fainna likulli dain dawa. Berobatlah kalian karena setiap penyakit itu ada obatnya. Dan tidaklah Allah menciptakan penyakit kecuali menciptakan juga obatnya. Nah, kita disuruh ikhtiar. Ikhtiar bukan berarti bertawakal kepada objek ikhtiar kita. Salah satu ikhtiarnya adalah berobat ke dokter, ke terapis, ke tabib atau yang secara ilmiah, secara logis, secara rasional, secara empiris betul bisa menyembuhkan.
(1:19:34) Ada alasan logisnya, alasan rasionalnya, alasan ilmiahnya. Ada hubungan sebab akibat antara obat itu dengan penyakitnya. Maka boleh dan itu ikhtiar dan diperintahkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam kalau kita menyuruh orang untuk beli sesuatu itu tawakal
(1:20:04) kepada orang itu. Tolong belikan terasi. itu tawakal. Apa arti tawakal? Menyerahkan urusan kepada dia dan mempercayai sepenuhnya. Bersandar kepada dia. Boleh. Boleh. Karena pertama itu perkara yang bisa dia lakukan. Kedua, pekerjaannya mubah. Ketiga, kita tidak mengagungkan dia. Keempat, kita tidak merendahkan diri di hadapan dia. Maka tawakal seperti dibolehkan dan tidak mengurangi tauhid kita, tidak merusak tauhid kita.
(1:20:40) Ya, termasuk berobat kepada dokter bagian dari dan ikhtiar tak bisa dipisahkan dari tawakal. ikhtiar dulu hasilnya serahkan kepada Allah azza wa jalla ya demikian wallahuam bissawab cukup sampai di sini insyaallah kita jumpa lagi hari Jumat yang akan datang melanjutkan kajian kitab ini. Subhanakallah wabihamdik ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik walhamdulillahi rabbil alamin.
(1:21:14) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallahu khairan. Wabarakallahu fikum. Kepada Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah berkenan untuk kembali hadir di kesempatan sore hari ini mengisi waktu kita dengan bimbingan serta kajian yang bermanfaat. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan keberkahan, kemudahan, hidayah bagi kita semuanya untuk bisa mengambil pelajaran ini untuk kita amalkan dalam rangka meningkatkan keimanan serta ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa taala. Sahabat di mana pun Anda berada, kami
(1:21:56) yang bertugas mohon pamit undur diri. Mohon maaf apabila ada kekurangan kekhilafan dalam kami menemani antum semuanya menghadirkan program acara di kesempatan sore hari ini. Kami akhiri subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply