Al-‘Aqiidah Ath-Thohaawiyyah – Ust. Abdullah Taslim Lc. MA

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • Bismillahirrahmanirrahim. Wasama [bernyanyi] watariq wama adrakam thaq annajmutqib. In kullu nafsin lamma [bernyanyi] alaiha hafid. Falyzuril insanu mimma khuliq khuliq mim main dafiq yakhruju mim bainisbi watarib innahu aa raji’ihi laqadir yauma tublara ir fama lahu min quwatin wala nasir wasama
  • dzatir raj wal ardhi dzisad innahu laquulun fas wama hua bilha hazl innahum yakiduna kaida [bernyanyi] kair amhum ruida. Bismillahirrahmanirrahim. Sabbihismaabbikal a alladzi khalaqa fasawa walladzi qaddara fahada walladzi akhrajal mar faja’alahu ghutaan [bernyanyi] ahwa sanuqriuka [musik] fala tansa
  • [bernyanyi] illa masyaallah [bernyanyi] innahu ya’lamul jahra wama yakh wauyassiruka lilusra fadakkir in nafa’atzikra sayadzakkaru yakhsya waatajannabu allzi yaral kubra tumma [bernyanyi] laa yamutu fiha wala yahya qad aflaha man tazakka wazakarma rabbihi fasalla bal tirunal hayatad dunya walakhiratu khairu ab [bernyanyi]
  • in lafil suhufi ibrahima wa mus. Bismillahirrahmanirrahim. [musik] Hal ataka haditul ghasiah wujuhun yaumaidin khasiah amilatun nasibah tasla naaran hamiah tusqa min ainin aliah laisa lahum thaamun illa La yusminu yni min ju
  • wujuhun yaumaidzin naimah lis’aiiha radiah fi jannatin aliah [bernyanyi] Inalhamdalillah nahmaduhuinuhuastagfiruh wa naudubillahi minuriuri anfusina wamin sayiati a’malina yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadialah wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah Wa asadu anna muhammadan abduhu waasul.
  • Allahumma shi wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah di malam hari ini kita memuji Allah subhanahu wa taala yang memudahkan kita untuk kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjidus Sunah yang mubarak ini.
  • Di lanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab al-Akqidatut Thahawiyah karya dari Al Imam Abu Jaf’ at-Tahawi rahimahullahu taala dengan penjelasan yang di sebutkan oleh Al Imam Ibnu Abil Iz al-Hanafi rahimahullahu taala. Ya, [berdehem] pembahasan kita saat ini masih melanjutkan keterangan dari Imam Ibu Imam Abu Jafar at-Thawi bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sayyidul mursalin, [berdehem] sayid pemimpin para nabi para rasul alaihialatu wasalam.
  • Kemudian di pembahasan yang terakhir kita kaji di pertemuan yang lalu adalah apakah kita boleh [berdehem] membandingkan antara satu nabi dengan yang lain atau bahkan mengatakan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah nabi yang paling mulia. Karena [berdehem] itu yang dinyatakan langsung oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sendiri dalam hadis yang sahih.
  • Ana sayyidu waladi Adam. Aku adalah pemimpin semua umat manusia, pemimpin semua anak Adam. Tapi di hadis yang lain, [berdehem] Nabi sallallahu alaihi wasallam menegaskan, “La tufadiluni ala Musa.” Ya, janganlah kalian melebihkan [berdehem] aku di atas Nabi Musa alaihialatu wasalam. Sebagaimana juga di dalam hadis sahih lainnya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “La yambagi liabdin anakula ana khairun min Yunus ibnu Matta alaihialatu wasalam.
  • Tidak pantas bagi seseorang hamba berkata bahwa aku lebih baik daripada Nabi Yunus Ibnu Matta Alaihissalam.” [berdehem] sudah kita bahas di pertemuan yang lalu ya, bahwa yang dilarang di sini adalah membandingkan dengan tujuan untuk mencela atau menganggap kurang almaful ya yang dianggap di bawah. Ini yang tercela dan terlarang.
  • Para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam adalah hamba-hamba Allah yang mulia. [berdehem] Yang jelas mereka hamba-hamba yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala. Kalaupun mereka melakukan kesalahan, ya dan sudah pernah kita jelaskan menurut pendapat yang terkuat para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam itu maksum, terjaga dari kesalahan, dari dosa-dosa besar.
  • Adapun dosa-dosa kecil seperti yang dilakukan oleh Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. Bahkan sebagian ulama mencontohkan seperti yang diperbuat oleh nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika abasa wa tawalla ya bermuka masam dan berpaling. Dosa-dosa kecil bisa dilakukan oleh mereka tapi Allah subhanahu wa taala langsung memberikan taufik kepada mereka untuk segera bertobat dari dosa-dosa kecil tersebut.
  • Sehingga setelah wafat atau sebelum mereka wafat telah bersih dari dosa-dosa yang besar maupun dosa-dosa yang kecil. [berdehem] Ya. Maka di sini jawaban yang kita sudah sebutkan secara umum bahwa kalau membandingkan atau mengatakan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah nabi yang paling mulia atau kita mengatakan ulul azmi minar rasul.
  • Nabi yang disebut, para nabi yang disebut alaihialatu wasalam ulul azmi yang punya tekad yang kuat ini lebih utama dibandingkan yang lain. Kalau bukan tujuannya untuk mencela atau menganggap kurang yang lain, maka itu diperbolehkan dan tidak mengapa. Nam. Lagi pula kemarin sudah kita bahaskan bahwa sebab Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan hadis tentang Nabi Musa alaihi salatu wasalam.
  • La tufadiluni ala Musa alaihissalam. Janganlah kalian [berdehem] ya melebihkan aku di atas Nabi Musa alaihi salatu wasalam. sudah kita bahas kemarin. Itu sehubungan dengan pertengkaran antara seorang muslim dan seorang Yahudi. Kita lanjut di sini membaca keterangan yang disebutkan oleh Imam Ibnu Abil Iz Al-Hanafi rahimahullahu taala.
  • Beliau berkata, “Waqod ajaba ba’duhum bijawabin akhar wahua anna qulahu shallallallahu alaihi wasallam la tufadiluni ala Musa alaihalam waquuh la tufadilu bainalbiya. Nahyun an tafdil khas. Sebagian ulama memberikan jawaban lain tentang masalah ini, yaitu bahwa sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Janganlah kalian melebihkan aku di atas Nabi Musa Alaih Salam.
  • ” Kemudian sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Janganlah kalian tufadilu bainal anbiya. Janganlah kalian membandingkan di antara para nabi, melebihkan satu nabi di atas yang lain. Ya, ini kita yakin tidak mungkin bertentangan. Apalagi sudah kita baca kemarin firman Allah kan dalam Al-Qur’an di surat Albaqarah.
  • Tilkar rasusulu fadalna ba’ahum ala ba’.” Para rasul itu kami lebihkan sebagian di atas yang lain. Ini jelas sekali. Allah menegaskan para rasul itu ada yang punya kelebihan dibanding yang lain. Jadi [berdehem] hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, janganlah kalian membandingkan atau melebihkan di antara para nabi alaihiusalatu wasalam.
  • Ini adalah nahun anit tafdil khas. Larangan mengutamakan secara khusus. Jangan artinya janganlah dilebihkan sebagian rasul di atas sebagian yang lain secara tertentu, secara perorangannya. Kalau disebutkan kelebihan secara umum, maka itu boleh. Ini jawaban yang lain. Iya. Ya, di sini kita membaca keterangan para ulama agar kita tahu ya segi-segi yang benar dalam masalah ini dengan jawaban-jawaban yang mereka berikan.
  • [berdehem] Bikhilafi quulihi ini beda dengan sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam di hadis sahih lainnya yang sudah kita sebutkan ini. Hadis riwayat at-Tirmidzi dan yang lainnya dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Ana sayidu waladi Adam wala fakhr. Aku adalah pemimpin semua anak manusia dan tidak ada kebanggaan, tidak ada kesombongan.
  • Ini kan secara umum. Fainnahu tafdilun amun fala yumnau minhu. Ini adalah pengutamaan secara umum. Tidak disebutkan perorangan. Yni nabi ini lebih utama dibandingkan nabi ini. Tapi kalau secara umum itu ya boleh seperti yang ditunjukkan dalam hadis ini. Ini adalah pengutamaan secara umum sehingga tidak dilarang.
  • [batuk] Tidak [berdehem] dilarang darinya. Wah kama lauqila fulanun afdolu ahli baladi. Ahlil balad la yansobbu ala afrodihim. Ini sebagaimana kalau kita mengatakan dalam bahasa kita sehari-hari, si fulan itu adalah orang yang paling utama di negeri ini. Ini kan secara umum. [berdehem] Ini tidak tertuju kepada perorangan, kepada orang perorangan.
  • Ya, bikilafi ma laqila liahadihim. Ini berbeda dengan kalau kita mengatakan kepada salah seorang di antara penduduk negeri tersebut misalnya fulanun afdolu minka. Si fulan lebih utama dibandingkan kamu. Ini kan tertentu berarti karena menyebutkan secara perorangan. [berdehem] Ya tumma inni roitu thahawiyah rahimahullah taala q ajaba bial jawabi syarhil mailar.
  • Kemudian sungguh aku melihat Imam Attahawi memberikan jawaban seperti ini. Rahimahullahu taala memberikan jawaban seperti ini di dalam kitabnya Syarhu Ma’anil. Ya. Jadi Imam Attahawi itu punya kitab Syarhu Ma’anil. Dia selalu menjelaskan hadis-hadis yang masih ee sebagian orang masih [berdehem] belum memahaminya dengan baik.
  • Maka beliau jelaskan dalam kitab ini ya, kitab Syarhu Ma’anilar tulisan Imam Abu Jafar athuhawi rahimahullahu taala. Jadi sekali lagi kalau kita menyebutkan keutamaan secara umum itu boleh. Adapun kalau membandingkan perorangan Nabi dengan perorangan yang lain itu yang di dilarang. Ini jawaban yang kedua. Wa amma ma yurwa anan nabi sallallahu alaihi wasallam q.
  • [berdehem] Adapun yang diriwayatkan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, kita [berdehem] harus ingat juga kadang-kadang orang menukil hadis misalnya itu tidak sesuai dengan lafaz yang sahih. Dia nukil dengan makna saja. Padahal ketika ketika merujuk kepada sumbernya, sumber rujukan tidak seperti lafaz misalnya dalam Sahih Bukhari dan Muslim.
  • Ini yang jadi kadang-kadang akhirnya salah dipahami. Harusnya [berdehem] kita rujuk dulu kepada lafaznya yang asli. Apa? Contoh seperti ini ya. Diriwayatkan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam katanya beliau bersabda, “La tufadiluni ala Yunus ibni Mattah.” Janganlah kalian mengutamakan aku di atas Nabi Yunus Ibnu Matta. ini tidak ada lafaz yang seperti ini, tapi diriwayatkan sebagian dari mereka dengan makna, tapi maknanya juga keliru.
  • Ya, ini beliau ingin dudukkan kan ini juga berhubungan dengan masalah apa perbandingan ya antara nabi dengan nabi. Janganlah kalian mengutamakan aku di atas nabi yunus ibnu matta alaihissalam. Wa ba’uyuki qala [berdehem] la yufasiru lahumal hadta y maalan jazila. Sampai sebagian dari syekh, sebagian dari para syekh ada yang berkata bahwa dia tidak akan menafsirkan hadis ini di hadapan orang-orang yang di majelisnya sampai diberikan uang yang banyak.
  • Ya, ini Syekh Matadita namanya ini ya. Ini [berdehem] bukan tentu bukan akhlak dari para ulama. Menyembunyikan ilmu harus dikasih uang banyak dulu baru dia tafsirkan. Tafsirnya salah lagi. Hadis yang ditafsirkan juga tidak ada lafaz dalam Sahih Bukhari dan Muslim dengan lafaz seperti ini. Ya. Jadi dia tidak akan menafsirkan kepada murid-muridnya hadis ini sampai diberikan harta yang banyak.
  • Ini majelis hadis atau majelis lelang begitu ya. Aneh ya. Falamuahu. Ketika telah diberikan padanya uang yang banyak, harta yang banyak baru dia tafsirkan kepada mereka. Dia jelaskan bianna qurba yunusa minallahi wahua fi batnil huti kaqurbi minallahi lailatal m’raji. Dia menafsirkannya bahwa kedekatan Nabi Yunus Ibnu Matta alaihalam kedekatannya dengan Allah Subhanahu wa taala ketika dia berada di dalam perut.
  • Ikan [berdehem] paus itu ya adalah seperti kedekatanku, yakni kedekatan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dari Allah ketika beliau mikraj diangkat ke atas langit ketujuh untuk bertemu Allah subhanahu wa taala menerima perintah salat lima waktu. Ya, ini peristiwa Mikraj Isra dan Mikraj. Waadu [berdehem] wau h tafsiraniman.
  • Kemudian mereka menganggap ini adalah tafsir yang sangat agung, yang sangat tinggi nilainya. Padahal ini keliru. Dari mana dia mengatakan seperti ini? Kedudukan tersebut sama dengan kedudukan mikraj. Padahal Nabi Yunus tetap dengan kita memuliakan para nabi alaihialatu wasalam. Karena Nabi Yunus ketika itu dia berbuat salah, ditegur oleh Allah karena dia ketika berputus asa mendakwahi kaumnya dia pergi maka Allah berikan hukuman.
  • Yakni para nabi dan para rasul tidak boleh berbuat salah seperti ini. Sudah kita katakan tadi [berdehem] meskipun mereka itu tidak luput dari dosa-dosa kecil tapi Allah segera menegur mereka sehingga mereka segera bertobat. Dan kita kan akhirnya mengetahui Nabi Yunus Alaihi salatu wasalam ketika mengucapkan di dalam perut ikan ini, dia mengatakan, “La ilahailla anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.
  • ” Tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, ya Allah. Maha suci engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Ini menjadi doa atau semacam pembukaan doa yang dijamin pengabulan doa dari Allah. Pengabulan doa ini dari Allah Subhanahu wa taala ketika seorang hamba memulai doanya dengan membaca seperti ini.
  • Jelas ini kedudukan mulia. Tapi tetap saja ketika itu Nabi Yunus alaihi salatu wasalam ditegur oleh Allah. Masa disamakan dengan kedudukan ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam naik ke langit ketujuh kemudian langsung Allah subhanahu wa taala berfirman kepadanya memerintahkan untuk salat lima waktu yang kita sudah tahu kisahnya beberapa kali Nabi sallallahu alaihi wasallam berbolak-balik.
  • Jelas itu kedudukan yang sangat tinggi ya, tidak bisa disamakan dengan keadaan ini. Makanya mereka menganggap ini tafsir yang sangat agung. Ya, kata Syekh di sini dikomentari oleh Imam Ibnu Abil Iz alhanafi rahimahullahu taala. Wah yadullu ala jahlihim bikalamillahi wa kalami rasulihi lafdon wa maknan. Maka ini menunjukkan kejahilan mereka terhadap makna firman Allah dan sabda rasulnya sallallahu alaihi wasallam.
  • Lafaz dan maknanya. Lafaznya tidak ada seperti ini. Maknanya juga ini kacau. Mana dalilnya? Fainna hadal had bial lafzi lam yarwihi ahadun min ahlil kutubillati yamadu alaiha. Karena sesungguhnya hadis ini kalau dengan lafaz seperti itu la tufadiluni ala Yunus ibni Matta janganlah engkau janganlah kalian mengutamakan aku di atas Nabi Yunus Ibnu Matta alaihialatu wasalam dengan lafaz seperti ini tidak ada seorang pun yang meriwayatkannya dari para imam penulis kitab-kitab hadis yang dijadikan sandaran ini riwayat dengan makna itu pun salah
  • keliru maknanya wa amma lafadzi fahih Adapun lafaz yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim ya, yaitu kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “La yambagi liabdin yaquula ana khairun min Yunus ibnu Matta.” Tidak pantas bagi seseorang yang berkata, seorang hamba berkata bahwa ana dia maksudnya hamba ini lebih baik daripada Yunus Ibnu Matta.
  • Masa orang menganggap dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. Ini nabi yang mulia dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala. Sama seperti yang kita bahas pernah Nabi Adam alaihi salatu wasalam kan kadang-kadang muncul dalam pikiran orang. Nabi Yunus Alaih Salam dia putus asa dalam berdakwah.
  • Saya saja ketika berdakwah tidak putus asa. Anggapannya begitu. Iya kan? Nabi Adam masa digoda sama iblis tergoda dia makan buah larangan tersebut digoda-goda supaya ini kamu kekal. Makanya kamu diilarang makan supaya kamu tidak kekal. Maka masa dia tergoda. Kita pikir gampang menghadapi godaan setan. Kita pikir gampang menghadapi situasi seperti Nabi Yunus alaihi salatu wasalam.
  • Ya, harusnya yang kita pikirkan adalah bahwa mereka-mereka yang semulia para nabi ini, Nabi Adam alaihialatu wasalam, kemudian Nabi Yunus bahkan dia nabi dan rasul alaihi salalatu wasalam. Kalau mereka saja bisa tergoda, apalagi kita yang iman kita di bawah mereka. Tentu saja harusnya ini kan menjadikan kita takut dengan godaan setan.
  • Bukan malah percaya diri, “Ah, mereka imannya sampai segitu banget. Masa bisa tergoda. Berarti saya lebih baik dibandingkan mereka.” Muncul pikiran seperti ini, kan? Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang. Tidak pantas seorang hamba mengatakan bahwa saya lebih baik daripada Nabi Yunus Ibnu Matta alaihialatu wasalam. Ini tidak benar.
  • Nah, wafi riwayatin manqala inni khairun min Yunus ibni matta. Min Yunus binni Matta faqad kadab. Dalam riwayat lain ya dalam Sahih Bukhari, “Barang siapa yang berkata bahwa saya sesungguhnya aku lebih baik daripada Yunus Ibnu Matta, maka sungguh dia telah berdusta.” Jelas tidak seperti itu. Nabi Yunus alaihiatu wasalam nam [berdehem] wad al umum laagiahadin yufadila nafsahu ala Yunus ibn Matta alaihalam.
  • Padahal lafaz ini kan menunjukkan makna umum. Ini yang benar yang tadi kita sebutkan diperbolehkan. Tidak pantas bagi seseorang untuk mengutamakan dirinya dibandingkan Nabi Yunus Ibnu Matta Alaih Salam. Laisa fi nahyul muslimina yufadil yufadilu muhammadan shallallallahu alaihi wasallam ala yunus. [berdehem] Ya, di hadis ini tidak terdapat larangan bagi kaum muslimin untuk mengutamakan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dibandingkan Nabi Yunus alaihi salatu wasalam.
  • Boleh-boleh saja, bukan dengan tujuan untuk mencela Nabi Yunus alaihiatu wasalam. Walika liannallah taala qod akhbaro anhu annahul taqomahul hutu wahua mulim a failu ma yulamu alai. Hal ini dikarenakan ketika Allah memberitakan ya bahwasanya karena Allah subhanahu wa taala telah memberitakan bahwa ketika Nabi Yunus Alaih Salam ditelan oleh ikan besar tersebut wahua mulim disebutkan dalam Al-Qur’an dalam keadaan dia mulim.
  • Mulim artinya melakukan sesuatu yang tercela [berdehem] yang menjadikan dia tercela. yakni ketika dia meninggalkan kaumnya, berputus asa mendakwahi mereka. Ya, seperti yang disebutkan di dalam surah ee Al-Kalam ya. [berdehem] Nah, Allah Subhanahu wa taala berfirman ee di surat Alqalam bagian akhir-akhir surat bagaimana? Laulaadarokahu nikmatumbihi bil wahua mulim.
  • Iya kan? [berdehem] Kalau bukan karena dia mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa taala, nikmat dari Allah Subhanahu wa taala, maka dia akan dilemparkan di tempat tersebut ya dalam keadaan dia melakukan perbuatan yang tercela itu. Nam waqala taala di ayat yang lain di surat Al-Anbiya ayat ke-87 Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang Nabi Yunus Alaih Salam.
  • Wanunihaba mugiba idhaba mhna allaqai alla ilahailla anta subhanaka inni kuntu minadimin. Dan ingatlah Nabi Yunus alaihi salalatu wasalam ketika dia pergi dalam keadaan marah [batuk] [berdehem] dan dia menyangka bahwa kami tidak akan mampu atasnya. Lalu dia menyeru di dalam kegelapan, ya dalam kegelapan laut, kegelapan malam, kemudian kegelapan perutnya ikan.
  • bahwa ya Allah tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Ini yang tadi kita katakan doa inilah yang termasuk ya dijamin oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Orang yang berdoa dengannya Allah akan kabulkan. Makanya doa ini pantas kita hafal, kita selalu sebutkan di awal-awal doa kita sebelum kita minta yang lainnya.
  • Kenapa? Antum perhatikan di sini ada tawasul yang agung. bertawasul dengan kalimat tauhid lailahaillallah mensucikan Allah kemudian juga bertawasul dengan sikap merendahkan diri mengakui dosa-dosa. Ketika seorang hamba bertawasul dengan keadaan dirinya yang lemah, penuh dengan dosa dan kesalahan [berdehem] ya untuk dia minta pengampunan kepada Allah, merendahkan diri di hadapan Allah, maka ini termasuk sebab yang akan menjadikan doanya mudah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa taala insyaallah.
  • Ya, maka ini [berdehem] keadaan Nabi Yunus alaihi salatu wasalam sebagaimana yang diberitakan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. waqinahu akunus alaihami faqaba ya [berdehem] maka sungguh terkadang timbul dalam diri seseorang, muncul dalam jiwa seseorang sebagian orang bahwa dia lebih utama, lebih mulia dibandingkan Nabi Yunus, lebih sempurna dibandingkan Nabi Yunus.
  • Maka dia tidak butuh kedudukan seperti ini. Yakni doa mengakui dia banyak berbuat zalim. Dia tidak butuh karena dia tidak melakukan sesuatu yang tercela. Seperti Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. Barang siapa yang menyangka seperti ini maka sungguh dia telah berdusta. Emang dia tidak pernah berbuat salah? Lebih banyak lagi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang lain, orang biasa dibandingkan Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. Tentu saja.
  • [berdehem] Bal kullu abdin min ibadillahi yaakulu maqala Yunus. Bahkan semua hamba dari hamba-hamba Allah harusnya mengucapkan seperti ucapan Nabi Yunus alaihi salatu wasalam ini ya. Alla ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin. [berdehem] Ya. Ya Allah tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau. Maha suci Engkau.
  • Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Bahkan dicontohkan para nabi dan para rasul yang mulia mengucapkan doa yang semakna dengan ini. Kama qala awalul anbiya wa akhiruhum. Sebagaimana [berdehem] ini diucapkan oleh nabi yang paling pertama dan yang terakhir. Dan yang paling terakhir. Fawaluhum Adam alaih salam qala Nabi Adam alaihi salatu wasalam mengucapkan yang semakna dengan ini di surat Al’raf ayat ke-23.
  • Rbana dolamna anfusana waillam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin. Wahai Rabb kami, sungguh wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri-diri kami sendiri, maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, maka pasti kami termasuk orang-orang yang merugi. Ya, doa-doa seperti ini menunjukkan mereka mengakui dosa dan merendahkan diri di hadapan Allah.
  • Wa akhiruhum wa afdoluhum was sayyiduhum Muhammadun sallallahu alaihi wasallam. Ya, nabi yang paling terakhir, yang paling utama dan pemimpin para nabi yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Qala fil hadis sahih. Haditul istiftah min riwayati Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu whairi.
  • Beliau berkata di dalam hadis yang sahih, hadis yang mengajarkan salah satu doa istiftah dalam salat kita dari riwayatnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu dan selainnya. Ba’hi [berdehem] wajatu wajhiya ila akhirihi. Setelah dia mengucapkan di awalnya wajahtu wajah lillahi dan seterusnya. Aku menghadapkan wajahku kepada Allah sampai selesai.
  • Di bagian akhir doa ini atau pertengahan doa ini ada lafaz Allahumma antal maliku la ilahailla anta antabi wa ana abduk. amtu nafsi bidambi fagfirliubi jamian la yagfirunuba illa anta ya Allah engkau adalah almik yang maha menguasai tidak ada sembahan yang benar kecuali engkau engkaulah rabku dan aku adalah hambau aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku mengakui dosa-dosak maka ampunilah semua dosa-dosak tidak ada yang mengamp ampuni dosa-dosa kecuali engkau. Sampai selesai hadisnya.
  • Ini hadis riwayat Imam Muslim, hadis sahih. [berdehem] Iya. Bahkan di dalam sayidul istigfar yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam kan ada lafaz apa? Abuaka binikmatika alya wa abuu bidambi. Ya, aku mengakui kepadamu ya Allah besarnya nikmat yang Engkau berikan dan aku mengakui dosa-dosaku.
  • Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, lafaz inilah yang menjadikan sayidul istigfar itu tinggi keutamaannya, besar kemuliaannya dibandingkan istigfar yang lain. Karena ada lafaz pengakuan seorang hamba akan banyaknya kekurangan dan kesalahannya serta pengakuan dia [batuk][berdehem] akan besarnya limpah limpahan nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepadanya.
  • Inilah hamba yang sejati. Ketika seorang merendahkan diri kemudian membesarkan dan meninggikan Allah subhanahu wa taala karena memang Dialah yang maha besar dan maha tinggi, maha agung. Sementara hamba penuh dengan kekurangan, kelemahan, dan ketergantungan kepada Rabb-Nya. Jadi ini contoh Nabi sallallahu alaihi wasallam mengucapkan doa ini atau doa yang semakna dengan ini.
  • Wakala Musa alaihiatu wasalam. Demikian pula ucapan Nabi Musa alaihiatu wasalam di surat Al-Qasas ayat ke-16. Qala rbi inniamtu nafsi fagfirli fagofarolah innahu huwal gfurur rahim. Nabi Musa alaihi salatu wasalam berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Allah pun mengampuninya.
  • Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [berdehem] [berdehem] Ya, ini menunjukkan kepada kita bahwa kedudukan ya yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala yang telah dipraktikkan oleh para nabi dan para rasul sebagaimana contoh di ayat-ayat ini adalah kedudukan yang harusnya dipraktikkan oleh orang-orang yang lain, hamba-hamba Allah yang lain.
  • tidak boleh dia membandingkan untuk meninggikan dirinya dan merendahkan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam seperti Nabi Yunus dan yang lainnya. Ya, karena [berdehem] inilah yang dilarang sebagaimana yang tadi kita jelaskan. Wa inama akbar shallallahu alaihi wasallam annahu sayidu waladi adam yumkinumunaamika bobarihi labiun baahu yukbiruna biimiqhiallah.
  • Dan hanyalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam memberitakan kepada kita bahwa dia adalah pemimpin semua umat manusia. Yakni seandainya Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak memberitakan, siapa yang akan beritakan kepada kita? [berdehem] Allah tidak memberitakan dalam Al-Qur’an tentunya, tapi ada isyarat.
  • Tapi yang tegas-tegas menyampaikan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaan Nabi Musa dalam beberapa hadis kemudian nabi-nabi yang lain karena beliau kan mendapat wahyu dari Allah. Nah, setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam kan tidak ada lagi nabi, tidak ada lagi wahyu.
  • Maka tentu yang memberitakan tentang keutamaan keutamaan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah beliau sendiri dalam hadis-hadis yang sahih. Karena tidak ada lagi Nabi setelahnya, tidak ada lagi wahyu Allah Subhanahu wa taala. Seperti ketika beliau innallaha ketika beliau sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innallaha qadak khilan kama tak ibrahima khilan.
  • ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala telah menjadikan aku sebagai khalil, kekasih terdekatnya. Sebagaimana Allah menjadikan Nabi [berdehem] Ibrahim sebagai kekasih terdekatnya. Ini khalil lebih tinggi dibandingkan Habib. Nah, Al-Qur’an hanya menyebutkan wattakadallahu Ibrahima khila. Dan Allah Subhanahu wa taala telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalilnya, kekasih terdekatnya.
  • Ternyata Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim tadi bahwa beliau juga diangkat oleh Allah Subhanahu wa taala sebagai khalil, kekasih terdekat Allah Subhanahu wa taala. Nah, ini yang memberitakan pasti Nabi sallallahu alaihi wasallam karena tidak ada nabi setelahnya. Jadi, Nabi sallallahu alaihi wasallam memberitakan bahwa dia adalah pemimpin semua anak Adam.
  • Karena kita tidak mungkin mengetahui hal itu kecuali dengan berita dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Karena tidak ada lagi nabi setelahnya yang bisa memberitakan agungnya kedudukan Nabi sallallahu alaihi wasallam di sisi Allah. Kama akhbaron hua bifadil anbiya qoblahu shallallahu alaihi wasallam ajmain. Sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam mengabarkan kepada kita tentang keutamaan-keutamaan para nabi sebelum beliau ya alaihialatu wasalam.
  • Wali atbaahu biquihi w fakr. Oleh karena itu, Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam riwayat tadi yang kita sebutkan riwayat Tirmidzi setelah mengatakan ana sayidu waladi Adam, aku adalah pemimpin semua anak Adam. Dalam riwayat lain disebutkan apa? Wala fakhr dan tidak ada kesombongan.
  • Tidak boleh kesombongan dalam hal ini. Ya, tidak ada kesombongan dalam masalah ini. Kama jaa fi riwayatin sebagaimana yang disebutkan dalam satu riwayat. Wa yaakulu man yu billahi wal yaumil akhir inna maqomadzi usri bihibihi wahua muqun muqarqadzi ulqiya fiil huti wahua mulim. Maka apakah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan berkata, “Sesungguhnya kedudukan ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam diperjalankan Isra Mikraj, diperjalankan kepada Allah Subhanahu wa taala dalam keadaan beliau didekatkan, diagungkan, dimuliakan
  • sama dengan kedudukan Nabi Yunus ketika dia dilemparkan [berdehem] ke dalam perut ikan besar tersebut dalam keadaan dia tercela karena melakukan perbuatan yang tercela. Dalam keadaan dia melakukan perbuatan yang tercela itu jelas tidak mungkin disamakan. Wa ainal muadomul muqaru minal mumtahanil muadab.
  • Di mana perbandingan antara hamba yang dimuliakan, didekatkan dengan Allah dengan hamba yang diuji dan sedang dididik ya Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. Fahad fiati takqrib w fi takdib. Maka yang pertama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam puncak kedekatan dengan Allah ketika itu, ketika mikraj. Sementara Nabi Yunus itu dalam puncak takdib, pendidikan [berdehem] ya sedang dididik oleh Allah Subhanahu wa taala.
  • ila istidlal liannahu bial maknal muhar bial maknal muharri laf bial muhar lam ya rasul shallallahu alaihi wasallam wahua yuqimu dalila wahal yuqwimu hadilu ala nafiillahi taala kata [berdehem] beliau, maka lihatlah kepada pengambilan dalil seperti ini. Karena [berdehem] dengan makna yang merubah lafaz seperti ini yang tidak diucapkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sama sekali.
  • Apakah dalil ini bisa melawan? Ya, untuk menafikan kemaha tinggian Allah di atas semua makhluknya. Dalil-dalil yang sahih dan tegas yang pasti yang menjelaskan kemaha tinggian Allah di atas semua makhluknya yang melebihi 1000 dalil. Yakni ternyata makna ini mengisyaratkan menafikan sifat maha tingginya Allah Subhanahu wa taala.
  • Mengisyaratkan makna Allah itu di mana-mana sebagaimana keyakinan rusak mereka. Maka jelas ini dibantah oleh beliau karena dalil-dalil yang menetapkan sifat maha tinggi Allah. Kata beliau di sini dalil yang tegas, yang pasti, yang sangat jelas, yang sahih. Lebih dari 1000 dalil. kama yatil isaratu ilaiha syekh rahimahullahu taala muhitun bikulliin wa fauqohu insyaallahu taala sebagaimana nanti akan ada isyarat ini nanti ketika membahas ucapan Imam as Syekh Imam Abu Jafar at Thaahawi.
  • Muhitun bikulli wa fauqahu. Allah itu meliputi segala sesuatu dan maha tinggi di atas semua makhluknya insyaallahu taala. [berdehem] Jadi intinya beliau membantah penafsiran tadi, penafsiran yang keliru disebabkan karena tidak merujuk kepada lafaz yang sahih dari hadis tersebut. Nah, bab kita kemandangkan azan dulu karena sudah waktu azan. Silakan.
  • Allahu [musik] Akbar. Allahu Akbar. Allahu [musik] Akbar. Allahu Akbar. Ashadu alla ilahaillallah. [musik] Ashadu alla ilahaillallah. [musik] Ashadu anna Muhammadar [musik] Rasulullah. [musik] Ashadu anna [musik]
  • Muhammadar Rasulullah. [musik] [musik] [berdehem] Hayya alah [musik] Allah [musik] hayal hayya alas falah. [musik] [musik]
  • Allahu Akbar. Allahu [musik] Akbar. Lailahaillallah. [musik] ditegur an itu riibut
  • [berdehem] Iya, kita selesaikan. Ini tinggal beberapa paragraf untuk pembahasan ini. Kata [berdehem] beliau selanjutnya wa aid fayunus alaihalam lamma fihibirukika w takibil hut. [berdehem] juga ya Nabi Yunus alaihi salalatu wasalam ketika dikatakan tentangnya dalam surah al-Qalam 48, fasbir lih hukmi rabbika, maka bersabarlah engkau wahai Rasulullah dalam menghadapi hukum ketentuan Rabbmu.
  • Dan janganlah kamu berbuat seperti shahibil hut, yakni orang yang dimakan ikan besar, yaitu Nabi Nabi Yunus alaihi salatu wasalam. waquluhu. Dan juga hadis yang disebutkan tadi. Man inni khairun min Yunus ibni Matta faq kadab. Ya, barang siapa yang mengatakan sungguhnya aku lebih baik dibandingkan Yunus ibnu Matta berarti dusta.
  • Dia berdusta. Fa innahu la qudir annahuana afdol faal kalamu yasiru naqsan fayakunu kadiban. [berdehem] Karena sesungguhnya kalau ditakdirkan orang ini betul-betul lebih utama dibandingkan Yunus alaihi salatu wasalam, maka berarti ucapan ini menjadi ada kekurangan padanya. Berarti dia dusta. Wahad laakuluhu nabiyun karim.
  • Dan ini tentu tidak akan mungkin dikatakan oleh seorang nabi yang mulia ya seperti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Fainnahu bal hua takdirun mutlq. Ya, bahkan ini merupakan takdir pemuliaan yang mutlak. A manqala hadza fahua kadibun. Ya, artinya barang siapa yang mengucapkan ini maka dia telah berdusta.
  • Waana yaquuluhu nabiyun. Meskipun ini tidak mungkin diucapkan oleh seorang nabi alaihialatu wasalam. Kama qala taala ini sama dengan ketika Allah berfirman di surat azzumar ayat 65 kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lain asrqta lahbatna amaluka. Kalau kamu berbuat syirik, maka sungguh-sungguh akan gugur amal-amalmu.
  • Kan Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak mungkin melakukan perbuatan syirik. Tapi ini Allah ingatkan, kalau kamu berbuat syirik, gugur amalmu. Ya. Wainana sallallahu alaihi wasallam maksuman anir meskipun Nabi sallallahu alaihi wasallam jelas terjaga, tidak mungkin melakukan perbuatan syirik. Terjaga dari perbuatan syirik. Wakinnal wa’da walida libayani maqadiril amal.
  • Tapi yang namanya janji dan ancaman itu untuk menjelaskan tingkatan-tingkatan kemuliaan amal. [berdehem] Yaha nabi wasamu [berdehem] biulilmiar ulul azmi minaruli. Maka [berdehem] Nabi sallallahu alaihi wasallam di ayat tadi, di ayat Alqalam tadi kan dilarang untuk menyerupai Nabi Yunus alaihiatu wasalam. ketika dia melakukan perbuatan yang dicela itu.
  • Dan Allah justru memerintahkan beliau untuk menyerupai ulul azm minar rasul. Seperti dalam surat Al-Ahqaf ayat 35. Fasbir kama shobar ul azmi minar rasul. Bersabarlah kamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagaimana bersabarnya ulul azmi, para nabi yang disebut ul azmi [batuk] dari [berdehem] kalangan para rasul, yakni Nabi Nuh alaihi salatu wasalam, ya Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam [batuk][berdehem] alaihi wasalatu wasalam.
  • Q yaakulu man yaakul ana khairun min yunus lil afdoli ya lil [berdehem] afdoli yafur alunahu fakaifa id lam yakun afdol maka terkadang orang yang ada yang mengatakan bahwa saya lebih baik dibandingkan Nabi Nabi Yunus alaihi salatu wasalam untuk seorang yang lebih utama membanggakan dirinya atas orang yang di bawahnya.
  • Maka bagaimana kalau dia ternyata bukan orang yang lebih utama? Finnallaha la yuhibbu mukhtalin fakur. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala tidak menyukai, tidak mencintai setiap orang yang membanggakan dirinya. Orang yang angkuh lagi membanggakan dirinya. Fafi shahi muslimin anin Nabi sallallahu alaihi wasallam annahu qal.
  • Kemudian dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Uhi ilai antaawta laf yaf ahadun ala ahad w y ahadun ala ahad.” Diwahyukan oleh Allah kepadaku hendaknya kamu bersikap merendahkan diri supaya tidak ada seorang pun yang berbangga di atas orang yang lain dan tidak ada seorang yang menzalimi yang lainnya.
  • Ini hadis sahih muslim. Taala naha [berdehem] yafar ala umumil mukminin kaifa ala nabiin karim. Di sini Allah subhanahu wa taala melarang Nabi sallallahu alaihi wasallam membanggakan dirinya dibandingkan di atas semua keum kaum muslimin. Bagaimana lagi di atas seorang nabi yang mulia yaitu Nabi Yunus alaihi salatu wasalam.
  • Falihah qal. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala e oleh karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda di hadis yang tadi laagi yaqu ana khairun min yunus ibni matta ya tidak pantas bagi seorang pun berkata bahwa aku lebih baik daripada Yunus ibnu Mattah nahyunun likulli ahadin yatafadola ala Yunus.
  • Maka ini merupakan larangan umum bagi semua orang untuk melebihkan dirinya atau membanggakan dirinya di atas Nabi Yunus alaihi shalatu wasalam. Jadi ini penjelasan yang panjang lebar yang selalu beliau bawakan di sini ya untuk menuduhkan makna sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang seorang yang melebihkan dirinya dibandingkan Nabi Yunus alaihi salalatu wasalam bahwa ini tidak berarti larangan.
  • kita memuliakan atau melebihkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dibandingkan nabi-nabi yang lainnya secara umum bahkan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih sendiri seperti itu. Namakallahu fikum bab cukup sampai di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia akhirat kita, menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
  • Nah, sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan ana persilakan. Silakan kalau ada pertanyaan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullah. Saya ingin sekali keluar dari pekerjaan saya yang berhubungan dengan ribawi. Tapi saya ragu dengan apakah saya bisa lebih baik dari keadaan ekonomi sekarang.
  • Tapi saya juga rasa kurang keberkahan pada kehidupan saya. Ya, [berdehem] kalau Anda ragu berarti ini menunjukkan kelemahan iman [berdehem] ya. Ketika seseorang itu mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa taala untuk menyadari kesalahan dalam pekerjaannya, maka itu adalah nikmat yang paling besar yang harusnya itu yang dijadikan pertimbangan utama.
  • Apalagi di sini jelas-jelas dia merasa tidak berkah dan betul pastinya akan seperti itu. [berdehem] Dengan dia mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk meninggalkan pekerjaan yang haram ini kan sudah merupakan nikmat besar yang tiada taranya harusnya segera dia menyambut hidayah tersebut. Kemudian [berdehem] jangan berpikir setelah itu, setelah dia misalnya berhijrah, berusaha dengan usaha yang lain, ya.
  • Dia berpikir penghasilannya harus melebihi apa yang dia dapatkan waktu melakukan riba. Siapa yang mengatakan bahwa Anda ketika diberikan penghasilan yang lebih berarti itu merupakan sebab kebaikan? Ya, Anda baru saja, antum baru saja diuji dengan fitnah harta, alhamdulillah Allah berikan hidayah. harusnya bersyukur ketika Allah Subhanahu wa taala memberikan apapun dari ee hasil ya usaha yang antum lakukan setelah itu kecil ataupun besar itu yang terbaik yang Allah Subhanahu wa taala berikan.
  • Ini yang jadi masalah sebagian mereka seperti sudah pernah kita jelaskan. Ada orang yang ketika dia meninggalkan riba ya, dia berhijrah. Kemudian dalam angan-angannya ketika saya melakukan usaha yang halal, dia berpikir waktu dia melakukan usaha yang halal harusnya Allah berikan penghasilan yang besar melebihi besarnya ketika dia melakukan usaha yang haram.
  • Ini siapa yang mengatakan harus seperti itu? Allah Subhanahu wa taala memberikan kepada kita yang terbaik bukan seperti yang ada dalam pikiran kita. Karena apa yang ada dalam pikiran manusia dianggap baik bisa jadi menjadi buruk. Sebaliknya yang diangg diangka buruk bisa jadi di situ kebaikan baginya.
  • Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala di surat Albaqarah. Waasa anqrahu wahuair lakum wa asa tuhibbu wahu lakum wallahu yamu wa antum laamun. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, kamu membenci sesuatu padahal dari situlah kebaikan untukmu. Atau bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal dari situlah keburukan bagimu.
  • Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. [berdehem] Jadi ya ketidakberkahan, kesempitan dia akan rasakan dan itu merupakan hukuman yang Allah berikan bagi orang yang ya melakukan pelanggaran dalam sebab-sebab mendapatkan penghasilan. Sebagaimana salah satu penafsiran dari makna firman Allah Subhanahu wa taala.
  • Dan barang siapa yang berpaling dari petunjukku dalam hal yang berhubungan mencari rezeki, maka sungguh dia akan mendapatkan maisyah, penghidupan yang sempit, sebab-sebab penghasilan yang sempit dijadikan sempit, tidak berkah hidupnya. ya, ketika dia melanggar ketentuan syariat Allah Subhanahu wa taala dalam hal mencari mencari nafkah.
  • Nah, barakallahu fikum. Yang kedua, [berdehem] Afan, Ustaz, bolehkah puasa Asyura tapi belum mengganti puasa Ramadan? Pertanyaannya, kenapa antum belum mengganti puasa Ramadan sudah sejauh ini? Ini akibat dari menunda-nunda. Sudah selama ini, sudah sejauh ini Ramadan sudah berapa bulan berlalu. I baru sekarang diingat ketika sudah dekat-dekat seperti ini harusnya bersegera.
  • Ketika ada kesempatan lakukan dengan segera. Apalagi ini kewajiban hutang kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Orang yang misalnya wafat, dia tidak melaksanakan puasa Asyura misalnya, meskipun keutamaannya jelas besar, dia kan tidak berdosa. Tapi kalau dia wafat, dia belum melaksanakan membayar utang kewajibannya di bulan Ramadan, dia akan berdosa.
  • Karena ini hutangnya kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi harusnya ibadah-ibadah yang wajib seperti ini, utang kita yang seperti ini jangan ditunda-tunda. Harusnya segera dibayar [berdehem] supaya nanti kita dalam keadaan tanggungan kita sudah sudah bersih kepada Allah subhanahu wa taala. Nah, baik. Cukup sampai di sini.
  • Insyaallah kita akhiri kajian kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallahu wasallam w ala nabina muhammadin waa alihi wasbihi waman tabiahumin yaumiddin walhamdulillahbilamin subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubuik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Ik

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *