Tauhid Adalah Puncak Rasa Syukur – Al-Ustadz Abdullah Taslim

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

🕸️ Tauhid Adalah Puncak Rasa Syukur – Al-Ustadz Abdullah Taslim حافظ الله – YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=rY9e-O72Iyk

Transcript:
(00:04) Islam para pendengar [musik] dan pemirsa Raja TV di mana pun Anda berada. Kami akan hadir di layar bagi Anda para pemirsa Raat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian [musik] ilmiah secara langsung. Roja TV, saluran tilawah [musik] Alquran dan kajian Islam. 3 2 s. Bismillahirrahmanirrahim.
(00:44) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwat Islam azaniallahu waakum. Alhamdulillahiabbil alamin hamdan mubaran f yahubunaard wasatu wasalamu asil mursalin waa alihi wahi ajab yaumil ba ikh islamaniakum para pemerhati raja sahabat raja semuanya di mana pun antum berada di kesempatan pagi hari ini kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala atas karunia kenikmatan dan keberkahan yang Allah berikan kepada kita semuanya di pagi hari ini.
(01:23) Dan kita tentunya memohon kepada Allah agar itu diberikan kepada kita di hari ini hingga menjelang malam nanti. Allahum amin. Ikhwat Islam azani Allahuakum. Dan kita pun bersyukur pada pagi hari ini kembali kita berkesempatan untuk menyimak satu kajian ilmiah dari pembahasan kita Fawaidul Fawaid yang insyaallah akan disampaikan oleh guru kita Al Ustaz Alfadil Abdullah Taslim MA. hafidullahu taala.
(01:51) Dan pada kali ini beliau akan membahas dengan tema tauhid adalah puncak syukur. Satu pembahasan yang menarik sekali bagi kita untuk kita simak bersama yang tentunya dalam menyimak kajian ini kita mohon kepada Allah subhanahu wa taala agar Allah menambah ilmu kita dan tentunya memohon kepada Allah diberikan kemudahan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan.
(02:13) Tanpa berpanjang waktu, kami akan mempersilakan kepada Ustaz yang telah hadir di studio Roja Kendari dan kita akan simak bersama. Kepada Ustaz kami persilakan. Falyatafadol maskuran. Nam. Barakallahu fikum. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(02:55) Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabiyina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bisihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah. MaaSyiral muslimin, maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin hafidakumullah. Kaum muslimin, para pemerhati dan pendengar setia Rajak TV dan Radio Rajak di mana pun antum berada. Barakallahu fikum.
(03:21) Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya, atas taufik kebaikan yang senantiasa dimudahkannya bagi kita. Termasuk kebaikan besar yang Allah mudahkan untuk kita tetap dan terus menuntut ilmu, mengkaji kitab-kitab para ulama. Sebagaimana kajian rutin yang kita bawakan di kesempatan hari Kamis pagi ini, yaitu [berdehem] mengkaji kitab yang sangat bermanfaat, kitab Alfawaid, buah karya dari Al Imam [berdehem] Abu Abdillah Ibnu Qayyim Al Jauzi rahimahullahu taala.
(03:56) Ya, barakallahu fikum. kita masih melanjutkan pembahasan di kitab fawaid ini ya, masih di judul tentang tafsir Al-Qur’an dan tafsir. Masih kelanjutan dari pembahasan ya yang lalu tentang kenapa Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di dalam firmannya, orang-orang yang bersyukur dan yang bersabar itulah yang bisa mengambil manfaat dari perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an atau tanda-tanda kekuasaan Allah.
(04:28) Allah Subhanahu wa taala berfirman, azubillahiminasyaitanirrajim. Inna fi dzalika laatil likulli shobbarin syakur. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang sangat kuat kesabarannya dan sangat tinggi rasa syukurnya. Kita teruskan di sini penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala sehubungan dengan makna ayat ini maupun makna ayat-ayat yang sebelumnya.
(05:01) Ya kata beliau wa innama wasukru sababan lintifa bilati liannal imana [berdehem] yanbani alri wasukur. Dan hanyalah disebutkan di sini orang-orang yang bersabar dan bersyukur. [berdehem] Ya, disebutkan di ayat ini kenapa sabar dan syukur disebutkan secara khusus orang-orang yang memilikinya bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat tanda-tanda kekuasaan Allah.
(05:40) Jadi, hanyalah sifat sabar dan syukur merupakan sebab orang yang memilikinya bisa mengambil manfaat dari perenungan terhadap ayat-ayat Allah. Karena iman itu dibangun di atas sabar dan syukur. Jadi iman itu dibangun di atas sabar dan syukur. [mendengus] Ada pernyataan yang mungkin kita pernah dengar dari Imam Al-Han Albashri rahimahullah taala, imam besar dari kalangan tabiin penduduk Basrah yang mulia.
(06:10) Beliau pernah mengatakan, “Al imanu nisfani nisfun lisyukri wa nisfun lisabr.” Iman itu terbagi dua bagian. setengahnya adalah untuk syukur, setengahnya lagi untuk sabar. Jadi iman itu dibangun di atas sabar dan syukur. [berdehem] Tiib. Fainna r syukri atauhidu waruri tarqu ijabati dail hawa. Maka sesungguhnya puncak dari rasa syukur adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa taala.
(06:47) [mendengus] Tauhid yang merupakan inti utama keimanan ya, merupakan puncak dari rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita mensyukuri nikmat Allah menciptakan kita, memberikan rezeki kepada kita, menghidupkan, mematikan, memudahkan kita segala kebaikan, menjauhkan dari keburukan. Wujud syukur yang paling utama adalah dengan mentauhidkannya, mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam beribadah hanya kepadanya tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.
(07:21) Sedangkan puncak dari kesabaran adalah meninggalkan ijabatud dail hawa. ya, meninggalkan atau berpaling dari mengikuti tarikan hawa nafsu. Makanya segala kebaikan bersumber dari hati yang selalu ingat kepada Allah, selalu tunduk mentauhidkan Allah, dan nafsu yang selalu diselisihi keinginannya. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an di surah Alkahf.
(07:54) Wal man agfalna qbahuikrina wataba hawahu wana amruhu. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang kami lalaikan hatinya dari mengingat kami mengingat Allah serta dia memperturutkan hawa nafsunya sehingga semua urusannya menjadi rusak melampai batas membawa kepada keburukan. Jadi dua sumber utama keburukan.
(08:22) Hati yang lalai dari mengingat Allah dalam kelilaian terbesar jelas adalah perbuatan syirik. Hati yang ingat selalu kepada Allah adalah hati yang selalu hanya beribadah kepada Allah semata-mata. Dan yang kedua ya tidak memperturutkan, selalu memperturutkan hawa nafsu. [berdehem] Ittibaul hawa. memperturutkan hawa nafsu. Jadi puncak dari kesabaran adalah meninggalkan atau berpaling, tidak memperturutkan keinginan hawa nafsu.
(08:52) Faidza kaana musyrikan muttabian hawahu lam yakun shobiron wala syakuron. [berdehem] Fala takunul ayu nafiatan lahu wala muat wala muatiratan fihi imana. Maka jika seseorang itu adalah pelaku syirik, naudubillah minzalik, ya dan selalu memperturutkan hawa nafsunya, maka orang ini jelas bukanlah orang yang bersabar dan bersyukur kepada Allah.
(09:24) Karena puncak dari sabar dan syukur justru dilanggarnya. Maka orang seperti ini tidak mungkin ayat-ayat Allah bisa memberi manfaat kepada dirinya, mempengaruhi pada dirinya dengan menambah keimanannya. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, kita perhatikan bagaimana penjelasan yang berhubungan dengan ayat ini. Bahwa seseorang ya ketika dia telah menunaikan puncak dari syukur, insyaallah untuk bersyukur terhadap hal-hal yang lainnya akan dimudahkan.
(09:58) Sebagaimana kalau dia telah menunaikan puncak dari kesabaran, bersabar untuk hal-hal yang lainnya, insyaallah akan dimudahkan oleh Allah. Kemudian ya termasuk ketika dia bersabar merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik sebab untuk menguatkan keimanannya, menambah syukurnya, menguatkan kesabarannya, menyempurnakan tauhidnya.
(10:21) Maka orang yang tidak memiliki hal ini tidak akan mungkin dia bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa taala di alam semesta ini. Jadi kita perhatikan, tauhid adalah puncak dari syukur. Sedangkan puncak dari kesabaran adalah menahan diri tidak memperturutkan hawa nafsu.
(10:46) Maka Allah subhanahu wa taala ketika menyebutkan di dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang Allah akan jadikan surga sebagai tempat tinggal mereka yang kekal abadi. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wa amma man khoa maqom rbihi wahan nafsail hawa fainnal jannata hial mawa.” Adapun orang-orang yang memiliki rasa takut akan agungnya kedudukan kebesaran Allah, kemaha besaran Allah, dan selalu menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya ya keinginannya yang buruk, maka sesungguhnya Allah akan jadikan surga
(11:24) sebagai tempat kembali, tempat tinggal mereka. Inilah manfaat tauhid yang merupakan puncak dari kesuruk kesyukuran kepada Allah dan meninggalkan hawa nafsu. Berpaling dari memperturutkan hawa nafsu yang merupakan puncak dari kesabaran. Maka wajar ketika dikatakan tadi sabar dan syukur itu adalah dua inti utama yang membangun keimanan di hati seorang hamba.
(11:52) Tiib. Wa amma aslani. Lanjutan dari pembahasan yang lalu. Sekarang pokok yang kedua. Oleh yang pertama tadi kan kebaikan itu akan menggiring kepada kebaikan yang lainnya. Yni kita ingat hadis yang dibawakan sudah kita ambil di pertemuan yang lalu ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Alaikum bidqi fainidq yahdi ilal bir wa inal birro yahdi ilal jannah.
(12:23) Ya, hendaknya kalian berpegang teguh dengan kebaikan karena kebaikan itu akan berpegang teguh dengan kejujuran. Karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan. Kebaikan akan membawa kepada surga. Sebaliknya, hati-hati kalian dari dusta. Dusta itu akan membawa kepada [berdehem] keburukan dan keburukan akan membawa kepada neraka.
(12:44) Ya, jadi pembahasan kebaikan itu akan menggiring kepada kebaikan berikutnya. Ya, sudah selesai. Sekarang pokok yang kedua. Wahidul fujur wal kibri waladibi lidolal. Yaitu perbuatan buruk, kesombongan dan kedustaan itu akan ya [berdehem] membawa kita, menggiring kita kepada kesesatan. Keburukan konsekuensinya akan membawa kepada kesesatan.
(13:21) Sebagaimana kebaikan konsekuensinya akan menggiring kita kepada petunjuk, kepada jalan kebaikan dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Sekarang [berdehem] pembahasan ini kata Ibnu Qayyim rahimahullah taala, fakirun aidon fil Quran. Ini juga banyak ditunjukkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa taala menetapkan orang-orang yang sesat sesuai dengan apa yang mereka lakukan.
(13:44) ya, dengan sebab perbuatan yang mereka kerjakan di muka bumi ini. Naudubillah minzalik. Coba kita lihat beberapa ayat dibawakan sebagai contoh di sini. Iya. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa taala di surah Albaqarah ayat 26-27. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Yudillu bihi katir waahdi bihi kato w yudillu bihi illal fasiqin alladzina yanquduna ahdallahi min ba’di miqihi waqtauna ma amarallahu bihi ay yusola waufsiduna fil ard ulaika humul khosirun Allah menyesatkan dengan hal itu banyak manusia dan memberi petunjuk kepada
(14:41) banyak manusia yang lainnya dan tidaklah Allah sesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasik. Jadi yang berhak mendapatkan kesesatan orang-orang yang fasik. perbuatan fasik yang mereka lakukan menjadi sebab itu, yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian Allah setelah dikuatkannya perjanjian itu dan mereka memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk harusnya disambung serta mereka melakukan kerusakan di muka bumi.
(15:12) Mereka inilah orang-orang yang merugi. Jadi yang tersesat itu adalah orang yang melakukan sebab-sebab perbuatan buruk. Ya, melanggar perjanjian dengan Allah, memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambung, membuat kerusakan di muka bumi dengan perbuatan maksiat. Ulaika humul khosirun. Merekalah orang-orang yang rugi. Jadi, jelas sekali keburukan itu mengandung konsekuensi membawa kepada kesesatan.
(15:41) [berdehem] Kemudian contoh yang lain di surat Ibrahim ayat ke-27. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Yutsabbitullahina amanu bilquiti filtid dunya wafil akhirati waudillahudimina wafalullahu ma yasya.” Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman, akan menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, ucapan yang kokoh, yakni dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
(16:28) Serta Allah menyesatkan orang-orang yang berbuat zalim dan Allah melakukan apa saja yang dikehendakinya. Perhatikan, Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Siapa yang disyesatkan? Orang-orang yang melakukan kezaliman, keburukan. Maka Allah jadikan dia tersesat dengan sebab kezaliman yang dia lakukan.
(16:50) Jadi, keburukan itu mengandung konsekuensi mendatangkan kesesatan. Naudubillah minzalik. Waqala taala. Di ayat lain surat An-Nisa ayat 88, Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Fama lakum fil munafiqina fi’ataini wallahu arkasahu bima kasabu.” Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Mengapa kalian wahai orang-orang yang beriman [berdehem] terpecah menjadi dua kelompok ketika menyikapi orang-orang munafik? Padahal Allah Subhanahu wa taala telah mengembalikan mereka kepada kekufuran.
(17:34) ” Bima kasabu disebabkan perbuatan buruk yang mereka lakukan. Jadi karena keburukan yang mereka lakukan, Allah jadikan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Naudubillah minzalik. Ini jelas sekali menunjukkan makna ya dasar kedua yang disebutkan atau dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Di ayat lain Allah Subhanahu wa taala berfirman [berdehem] di surat Albaqarah ayat 88 juga.
(18:11) Waqolu qulubuna gulfun balahumullahu bikufrihim faqilam ma yminun. Dan mereka berkata, “Hati kami tertutup.” Balahumullah. Bahkan Allah melaknat mereka disebabkan kekufuran mereka sehingga sedikit sekali di antara mereka yang beriman. Jadi Allah melaknat mereka. Dijauhkan mereka dari rahmat Allah karena apa? Kekufuran yang mereka lakukan.
(18:48) Sehingga sedikit sekali di antara mereka yang beriman. Naudubillah minzalik. Ini jelas sekali. Sebab Allah Subhanahu wa taala melaknat, menjauhkan mereka dari rahmatnya adalah karena perbuatan kufur yang mereka lakukan. Kemudian di ayat lain Al-An’am ayat 110 Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wuqollibu afidatahum wa absorum wa absorum kama lam yminu bihi awala marah waruhum fianiim ymahun.
(19:22) ” Kami akan membolak-balikkan hati dan pandangan mata mereka pada hari kiamat. Sebagaimana awal pertama kali kebenaran datang, mereka tidak mau mengimaninya. Mereka tidak mengimaninya. Jadi Allah perintahkan, Allah balas mereka sesuai dengan kekufuran yang mereka lakukan. Ya, pada hari kiamat dijadikan hati mereka dan pandangan mereka berguncang, berbolak-balik sebagai balasan dari keengganan mereka untuk beriman kepada kebenaran yang Allah turunkan.
(19:57) Ya, jadi [berdehem] ayat-ayat ini menjelaskan makna prinsip dasar yang disebutkan tadi bahwa kesesatan itu adalah konsekuensi dari keburukan, kedustaan dan kezaliman yang dilakukan oleh para pelakunya. Naudubillahzalik faakhbarallahu [berdehem] faakbaro annahu aqobahum ala takufihimil imani lamma jaahum wao wau anhu bianqaba afidatahum wa absahum wainahum wainal iman.
(20:42) Maka Allah kabarkan di ayat ini ya, di ayat yang terakhir tadi, Al-An’am ayat 110. Allah kabarkan di ayat ini bahwa Allah Subhanahu wa taala menghukum mereka karena keengganan mereka untuk beriman. Ketika datang kepada mereka kebenaran, mereka juga telah mengetahuinya tapi kemudian berpaling darinya. yaitu Allah berikan balasan dengan Allah jadikan hati mereka berbolak-balik, pandangan mereka berbolak-balik, serta Allah halangi mereka dari keimanan itu.
(21:23) Ya, falammaagu azagallahu qulubahum. Ketika mereka berpaling, maka Allah sekalian palingkan hati mereka. Jadi, ada sebab keburukan yang mereka lakukan sehingga Allah berikan balasan mereka ditimpa kesesatan. Ya, naubillah minzalik. Yakni Allah halangi mereka dari hati mereka dari keimanan. Kama qala taala. Sebagaimana makna firman Allah di surat Al-Anfal ayat ke-24.
(21:53) Ya ayyuhalladzina amanustajibu lillahi walirasuli idza daakum lima yuhyikum walamuallaha yahulu bainal mari waqbih. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya yang mengajakmu untuk memberikan kehidupan yang baik bagimu. Dan ketahuilah Allah Subhanahu wa taala dialah yang menghalangi seseorang dari hatinya.
(22:24) Ya, ini jelas sekali diterangkan oleh beliau di sini. Faamarahum bilistijabati lillahi waliasulihi hina yaduhum ila ma fihi hayatuhum. Allah perintahkan orang-orang yang beriman untuk memenuhi seruan Allah dan seruan rasul-Nya ketika mengajak mereka kepada hal yang memberikan kehidupan yang sesungguhnya bagi mereka, kehidupan yang indah bagi mereka.
(22:55) minufiak istijabati allzi yakunu sababinahum. Kemudian Allah peringatkan orang-orang yang beriman, jangan sampai kalian ketinggalan, jangan sampai kalian terlambat ya mengijabahi, menjawab seruan Allah dan Rasul-Nya. Karena ini merupakan sebab Allah akan menghalangi kalian dari hati kalian. Yakni Allah akan menghalangi hati kalian sehingga tidak bisa menerima keimanan setelah itu.
(23:32) Balasan yang sesuai dengan perbuatan di awal yang mereka lakukan. Naudubillah minzalik. Jadi ini satu peringatan bagi kita ya, bahwa menunda-nunda, menerima kebenaran enggan untuk segera bertobat dan kembali kepada Allah. Padahal sudah jelas ada peringatan yang sampai kepada kita. Sudah jelas ada ketukan di hati kita untuk segera sadar.
(23:57) Ada orang mungkin sebagian berpikir, “Ah, kalau saya tidak bertobat hari ini, kan masih bisa besok. Kalau saya tidak lakukan hari ini, mungkin sore nanti saya bisa lakukan. nanti mungkin umur sekian saya akan berubah. Ya, kita sudah tahu. Pertama, tidak ada yang bisa menjamin umur kita akan sampai pada waktu yang kita angan-angankan tersebut.
(24:16) Itu yang pertama. Yang kedua, ini juga tidak kalah pentingnya. Kalaupun umur kita sampai di waktu itu, siapa yang bisa menjamin hati kita masih terbuka menerima kebenaran? Hidayah itu di tangan Allah. Hati manusia hanya Allah yang menguasai dan maha maha kuasa untuk membolak-balikkannya. Ya, kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, in bani Adam baahman wahidin yasya.
(24:50) Sesungguhnya hati manusia semuanya berada di antara isbaini atau usbini min asobiahman. Dua jari dari jari-jari Allah yang maha pemurah yang Allah bolak-balikkan sesuai dengan kehendaknya. Jadi Allah yang maha menguasainya. Tidak ada yang bisa menjamin. Saat ini Allah bukakan hati seseorang untuk bisa menerima kebenaran. Belum tentu besok dia bisa melakukan itu.
(25:12) Apalagi khususnya ketika ada peringatan dalam ayat ini. Siapa yang menunda-nunda untuk mengikuti seruan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah sebutkan ancaman di sini. Allah maha kuasa untuk menghalangi manusia dari hatinya sehingga hatinya tidak bisa lagi terbuka untuk menerima kebenaran setelah itu. Naudubillah minzalik.
(25:34) Nah, tib qala taala. Di ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala berfirman surat Assaf ayat yang kelima. Falamma zagu azagallahu qulubahum wallahu la yahdil qual fasiqin. Dan ketika mereka berpaling, Allah subhanahu wa taala jadikan hati mereka berpaling. Dan Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang fasik.
(26:09) Jelas disebabkan karena hati mereka yang enggan. Sekalian Allah palingkan hati mereka dan dia yang maha kuasa menguasai hati manusia dan Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang fasik. Ya, ini juga balasan dari perbuatan mereka. Nauzubillah minzalik. Kemudian di surat almutifin ayat ke-14, kalla bal rona ala qulubihim mau yaksibun.
(26:38) Sekali-sekali tidak. Bahkan telah menjadi penutup hitam yang meliputi hati mereka ya keburukan keburukan yang dulunya mereka lakukan ini juga apa ini menjelaskan bahwa tertutupnya hati sehingga tidak bisa menerima kebenaran itu disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu yang orang tidak segera bertobat darinya.
(27:04) Ya, tentang ayat ini mungkin pernah kita sebutkan di kajian-kajian kita yang lalu. Ada hadis yang diriwayatkan di dalam [berdehem] diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan yang lainnya. Dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan ayat ini, beliau menyebutkan sebab tertutupnya hati.
(27:28) Ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabdalaniuatakarahullahui faq ayah. Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa maka akan diberikan atau dibubuhkan satu titik hitam di hatinya. Kalau dia segera bertobat, mencabut diri, beristigfar, mohon ampun kepada Allah, bening kembali hatinya, bersih kembali hatinya.
(28:06) Tapi kalau dosanya bertambah, maka titik hitam itu bertambah. Hatta tau qolbahu sehingga menutupi semua permukaan hatinya. Itulah makna arron, penutup hitam yang Allah sebutkan. Kemudian beliau bacakan ayat ini, firman Allah di surat almutffifin ayat ke-14. Ya, jadi [berdehem] jelas ini penafiran langsung dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menjadikan proses tertutupinya hati sedikit demi sedikit.
(28:33) Membiarkan perbuatan dosa tidak segera bertobat, tidak segera dibersihkan. Kotoran tadi akhirnya menumpuk. Semakin tebal akhirnya meliputi semua permukaannya dan semakin sulit untuk dibersihkan kecuali bagi orang-orang yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan tentu saja. Akbar subhanahu anbahumihim waha wainal biayatihi.
(29:03) Maka Allah kabarkan di ayat ini di surat almutfifin ini bahwa perbuatan buruk yang dulunya mereka lakukan inilah yang menutupi hati mereka dan menghalangi antara hatinya untuk beriman kepada ayat-ayat Allah. faq maka bahkan mereka mengatakan asatirul awalin ya Al-Qur’an itu hanyalah dongeng cerita dari orang-orang yang terdahulu naubillah minzalik ya seperti yang disebutkan dalam surat almutifin tutla alaihi ayatuna q asirul awal kalau dibacakan kep kep kep kep kepadanya ayat-ayat kami maka dia mengatakan itu hanyalah kisah dongeng
(29:44) dari orang-orang terdahulu sehingga dia tidak bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang demikian besar kebaikan dan keberkahannya. Nah, jadi ini lagi contoh yang menggambarkan tentang hal tersebut. Waqala taala fil munafikin. Di ayat lain di surat at-Taubah ayat 67 Allah berfirman tentang orang-orang munafik. Nasullaha fanasiahum.
(30:12) Mereka lupa kepada Allah maka Allah pun lupa kepada mereka. dibalas. Tentu lupa di sini ya. Bukan lupa karena tidak ingat karena Allah maha sempurna ilmunya tidak ada kelupaan padanya. Tap maksudnya di sini dilupakan yakni tidak diberikan petunjuk kebaikan oleh Allah Subhanahu wa taala. Fajazahum ala nisyanim lahu anasiahum.
(30:38) Falam [berdehem] falam yadkuruhum biluda warahmah. Maka Allah berikan balasan kepada mereka karena mereka lupa kepada Allah. Yaitu Allah lupakan mereka yaitu maka Allah tidak mengingat mereka dengan memberikan petunjuk dan rahmatnya. Ya, ini balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka. [berdehem] Wa akhbaro annahu ansahum anfusahum.
(31:11) Dan Allah kabarkan disebabkan karena mereka lupa atau berpaling dari mengingat Allah, Allah jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Seperti yang Allah sebutkan di dalam surah al-Hasyr ayat ke-19. Wala takunu kalladina nasullaha faansahum anfusahum ulaika humul fasquun. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah jadikan dia lupa kepada dirinya sendiri.
(31:43) Mereka itulah orang-orang yang fasik. Ini juga sama. Dijadikan lupa kepada dirinya sendiri, lupa kepada kebaikannya, lupa kepada sebab-sebab yang bisa menyelamatkan dirinya dari kecelakaan atau kebinasaan.Aamlubualaha amatlubuala bilmi nafi walh. Maka ketika dia telah lupa kepada dirinya sendiri, maka dia tidak akan mencari kesempurnaan atau kebaikan untuk dirinya dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan amalan saleh.
(32:13) Wahumal huda winul haq. Yang keduanya itulah yang merupakan makna petunjuk dan agama yang benar yang dibawa oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. mahabbatahuatahu alaihianisani lahu. Maka Allah jadikan mereka lupa untuk menuntut hal itu. Allah jadikan mereka tidak [berdehem] mencintainya, tidak mengenalnya, tidak bersemangat untuk mengejar kebaikan itu sebagai hukuman balasan disebabkan mereka lupa kepada Allah.
(32:52) Jadi jelas sekali ini ayat-ayat semua menggambarkan tentang ya pokok yang kedua yang disebutkan di awal pembahasan tadi. Kesesatan merupakan konsekuensi dari berpalingnya manusia, kezaliman yang dilakukannya, kedustaan dan keburukan-keburukan yang lain. Naudubillah minzalik. Waq taala fi haqihim. [berdehem] Ya.
(33:18) Dan Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang orang-orang yang durhaka ini. Ulikadinau ahwaahum walladinada huda waahum taqwahum. Kita perhatikan ayat ini. Surah Muhammad ayat 16. Surah Muhammad sallallahu alaihi wasallam ayat 16 tentang orang-orang munafik. Merekalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa taala tutup hati mereka serta mereka selalu memperturutkan hawa nafsunya.
(33:51) Sedangkan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah, Allah akan tambahkan bagi mereka petunjuk dan Allah akan berikan kepada mereka ketakwaannya. Berbalik ya. Yang pertama Allah tutup hatinya karena selalu memperturutkan hawa nafsu, selalu berbuat kebik keburukan. Sedangkan orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah, Allah semakin tambahkan sempurnakan petunjuk dan Allah anugerahkan ketakwaan.
(34:19) [berdehem] Fajamaa lahum bainbail hawa wali alladzi huaabatuhu. Maka Allah kumpulkan balasan bagi orang-orang munafik di sini ya, antara mengikuti hawa nafsu dan kesesatan yang memang itu adalah buah serta konsekuensinya. Jadi karena mengikuti hawa nafsu ya maka hasilnya dia akan tersesat. konsekuensinya akan dia dipalingkan dari kebenaran, dipalingkan dari petunjuk kebenaran.
(34:54) Kama jamaa lil muhtadina bainat taqwa wal huda. Sebagaimana di kelanjutan ayat ini Allah menyebutkan bahwa dia mengumpulkan untuk orang-orang yang selalu mengikuti petunjuknya antara ketakwaan dan hidayah yang semakin Allah sempurnakan, tambahkan, dan sempurnakan pada diri mereka. Masyaallah. ini merupakan [berdehem] penjelasan yang sangat bermanfaat agar kita mengetahui bagaimana cara kita mengusahakan perbaikan diri kita dan kita mengetahui sumber segala keburukan yang terjadi pada diri kita kalau kita jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa
(35:32) taala dan hawa nafsu yang selalu diperturutkan tipu daya setan yang tidak berusaha untuk kita lawan ya dengan selalu berpegang teguh mengikuti petunjuk Allah dan petunjuk Rasulnya sallallahu alaihi wasallam. Alhamdulillah selesai pembahasan yang berhubungan dengan materi tadi. Semoga bermanfaat dan kita bisa mengambil pelajaran darinya untuk ya semakin meningkatkan semangat kita berpegang teguh dengan kebenaran mengikuti petunjuk Allah azza wa jalla dan rasulnya sallallahu alaihi wasallam meskipun sedikit demi sedikit karena
(36:08) ternyata itu menjadi sebab terbukanya pintu-pintu kebaikan berikutnya yang kemudian Allah subhanahu wa taala sempurnakan kebaikan dan ketakwaan bagi hamba-hamba yang mengikuti yang selalu mengikuti petunjuknya. Semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan itu bagi kita semua. Babakallah fikum. Kita teruskan dengan menjawab pertanyaan dari hal-hal yang mungkin antum tanyakan ya di kesempatan yang masih ada.
(36:32) Barakallahu fikum. Shallallallahu wasallam wabarak ala nabiyana Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Nam ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas mat yang telah disampaikan di kesempatan pagi hari ini tentang tauhid adalah puncak rasa syukur. Masyaallah. Dan ikhwat Islam aani Allahu wyakum.
(36:55) Untuk berikutnya kami mengajak Anda semuanya di sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung, Anda dapat menghubung kami di 0218236543 ataupun Anda dapat kirimkan pertanyaan yang pertanyaan Anda di 0218236543. Kami pesakkan untuk yang pertama kali melalui melalui telepon yang telah terhubung.
(37:17) Silakan bagi Anda yang telah terhubung untuk langsung bertanya ya. Silakan ya silakan. Baik terputus. Kami berikan kesempatan kembali kepada Anda ikhwat al Islam. Azaniallahu wyakum. Untuk Anda yang bertanya di 0218236543. Baik, masih terputus. Kita angkat pertanya mulai pesan. Iya, silakan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(37:50) Dengan siapa, Ibu, dan berada di mana? Dari hamba Allah. Dari hamba Allah dari Tangerang. Baik, silakan Ibu ya. Silakan Ibu [berdehem] dari Tanger Ustaz mau tanya ee di ya di lingkungan saya kan ada pengajian itu kalau apa amalan yang dibaca ee apa kalau makbirli apa ya? Allah itu yang doa itu yang tiap bulan wali walidafri wali ibigfirli waliwalidai warhamhumair i lal pertanya apa ibu silakan pertanyaannya apa pertanyaan apa tadi pertanyaannya yang dibaca 70 kali itu.
(38:52) Oh, baik. Itu saja, Ibu. Apakah mungkin pertanyaan alayya kalau enggak salah gitu? Iya. Itu apa dibaca tiap hari apa setiap bulan Rajab doang? Hm. Baik, mungkin bacaan doa Rajab Bu ya yang dibaca Ibu ya. Baik, terima kasih buat pertanyaannya. Kita akan simak jawaban dari Ustaz dan kepada Ustaz kami persilakan jawab. Silakan Ustaz.
(39:18) Iya. Barakallahu fik. Pertanyaan yang sangat baik dari Ibu yang dari Tangerang tadi. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memudahkan taufik, kebaikan dan keberkahan bagi beliau dan bagi kita semua. Iya. Ee bacaan yang dimaksud yang mirip-mirip yang saya ingat seperti itu adalah ada beberapa bentuk istigfar atau permohonan ampun.
(39:41) Doa memohon ampun kepada Allah yang pernah dibaca oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. disebutkan di dalam hadis yang sahih atau hasan seperti misalnya, “Rabbigfirli watb alaiya innaka ant tawwabur rahim.” Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berilah tobat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima tobat lagi maha penyayang. Atau doa yang sejenisnya ya.
(40:06) Misalnya istigfar secara umum juga diperbolehkan ya. [berdehem] Misalnya astagfirullahalazim astagfirullahalazzim. Kalau yang berhubungan dengan ee bulan Rajab tadi, Ibu, jadi tidak ada ketentuan khusus doa-doa tertentu yang dibaca di bulan ini. Tidak ada dalil yang sahih yang menyebutkan hal tersebut. Kemudian kalau namanya istigfar, memohon ampun kepada Allah rahmatnya, kita lakukan di waktu kapan saja.
(40:34) Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan di dalam hadis yang sahih, inni la astagfirullaha wa atubu ilaihi fi kulli yaumin miar. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah, memohon ampun kepadanya dalam setiap hari 100 kali, ada yang lebih dari 70 kali. Itu boleh kita lakukan. Ya, justru [berdehem] tiap hari kita lakukan istigfar kepada Allah.
(40:57) Memperbanyak istigfar. Kalau kita ingin lakukan seperti Nabi sallallahu alaihi wasallam, kita hitung sampai 100 boleh atau lebih juga boleh. Ya, kita perbanyak istigfar setiap saat karena banyak dosa-dosa yang kita lakukan. Adapun yang disebutkan di waktu-waktu tertentu kayak tadi bulan Rajab dengan bilangan tertentu ini tidak ada dalilnya.
(41:17) Yang ada dalilnya adalah yang disebutkan di dalam hadis tadi tentang istigfar dan permohonan ampun bertobatnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bisa kita ucapkan tadi astagfirullahalazim wa atubu ilaik. Astagfirullah [berdehem] ya astagfirullah wa atubu ilaih misalnya atau tadi rbighfirli watuba alaiya innaka ant tawwaburrahim.
(41:36) Boleh kita baca istigfar seperti ini, kita perbanyak sehari-hari kita ucapkan sebagaimana contoh yang dibutkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis tadi. Nam [mendengus] ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jaban yang telah diberikan Ustaz. Demikian jaban untuk Ibu yang berada di Tengerang. Mudah-mudahan dapat dipahami jawaban yang telah disampaikan.
(42:01) N ik azani allahu wyakum. Kami buka kembali pertanyaan berikutnya di l telepon 0218236543. Dan sebagai Anda yang telah terhubung kami persilakan untuk bertanya ya. Silakan ya silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Ibu yang berada di mana? Halo. Asalamualaikum.
(42:24) Baik, Ibu. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, Ibu berada di mana, Ibu? Dengan siapa? Oh, ini dari Ibu, dari [berdehem] hamba Allah di Riau. Oh, iya, silakan, Ibu. Ya, silakan, Ibu. Pertanyaannya, Ibu. Iya, terima kasih. Ini suaranya putus-putus di sini. Iya. ini ee saya ingin menanyakan kalau ada seseorang itu bekerja di suatu instansi umpamanya instansi A He.
(42:57) Terus karena dia ingin ee pindah dari situ, dia meminta tolong kepada seseorang yang tidak berkompeten di bidang itu. Akan tetapi dia memiliki jabatan jabatan yang tinggi dan suaranya insyaallah didengar. Apakah ee si yang ee seseorang ini boleh meminta tolong kepada orang yang tidak berkompeten di bidang itu.
(43:27) Akan tetapi dia bisa melobi seseorang yang ada di tempat pekerjaan itu dengan syaratnya dia membayar orang itu atau tidak membayar agar dia lulus. Apakah hal ini boleh dilakukan? ini demi keselamatan dunia akhirat kami. Baik, terima kasih buat pertanyaannya. Cukup Ibu ya dapat kami simak dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab.
(43:48) Silakan Ustaz. Iya. [berdehem] Barakallah fik. Pertanyaan sangat baik dari Ibu tadi yang bertanya. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa melimpahkan kebaikan, rahmat dan keberkahan bagi beliau dan juga bagi kita semua. Ya, untuk masalah seperti ini [berdehem] ketika seseorang bekerja dan ingin dipindahkan ke tempat yang lain, maka tentu saja asalnya diperbolehkan selama dia menempuh cara-cara yang dibenarkan dalam syariat, yakni dia mengajukan permohonan atau ya mengajukan alasan-alasan kenapa dia ingin pindah. Kemudian juga melalui
(44:24) prosedur yang berlaku. Misalnya dia melamar apa mengajukan apa ini pemindahan dari tempat asalnya kemudian dia mengajukan mungkin juga di tempat yang ditujunya selama dia menempuh cara yang benar. Tidak dengan cara-cara menzalimi, tidak dengan cara-cara yang kayak tadi misalnya kepada orang yang punya kedudukan dibayar atau tidak.
(44:45) Ya, kalau dibayar berarti mungkin ada sogokan di situ. Kalaupun tidak mungkin orang tadi punya pengaruh ya yang dikhawatirkan nanti dia melakukan hal-hal yang tidak benar atau mungkin menzalimi hak orang lain, maka jelas ini tidak diperbolehkan. Jadi boleh saja dia pindah tapi menempuh cara yang benar, cara yang sesuai dengan prosedur.
(45:03) Mungkin agak lama, mungkin agak susah, maka lakukanlah. Karena itu yang insyaallah menyelamatkan dunia dan akhirat kita. Jangan menempuh cara yang sudah dikatakan tadi. Orang yang tidak berkompeten, bukan orang yang memang bertugas untuk itu, bukan orang yang memang berada di jalur itu, ya. Maka ini tidak diperbolehkan.
(45:23) Ya, kita khawatir nanti orang tersebut [berdehem] ya memindahkan tanpa aturan atau mungkin mengambil hak orang lain yang ada di sana. Apalagi jika dengan ada bayaran tertentu ini yang kita lakukan menjadi sebab pekerjaan tersebut nantinya tidak berkah dan menjadi sebab kerugian dunia dan akhirat. Nauzubillah minzalik. Nam nam ustaz. Jazakumullah khairan.
(45:45) Barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz. Demikian jawaban untuk Ibu yang berada di Riau. Mudah-mudahan dapat dipahami jawaban yang telah disampaikan oleh Ustaz. Kita akan angkat pertanyaan berikutnya Ustaz. Melalui pesan singkat yang sudah masuk dari penanya kita di Depok. Ustaz Afwan, izin bertanya.
(46:04) Jika anak laki-laki Ana berbuat dosa sampai main judi online dan terjerat pinjaman online saat dia usia 18 tahun dengan alasan, katanya karena kecewa dengan Ana sebagai ibunya. Sewaktu kecil yang mendidiknya terlalu keras. Apakah ana berdosa atas dosa yang telah dilakukannya? Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum. Silakan, Ustaz.
(46:29) Iya. Barakallah fik. Pertanyaan sangat baik. saya dari ibu yang bertanya. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa melimpahkan taufik kebaikan bagi beliau dan bagi kita semua. Ya, tentu saja ketika seorang tua sudah berusaha mendidik anak tersebut dengan sebaik-baiknya kemudian dia melakukan dosa. Ya, orang tua tidak menanggungnya.
(46:46) Hukum asalnya seperti yang disebutkan di dalam Islam, alla taziru waziratu wizro ukhro. Seseorang tidak menanggung dosa orang lain. Ibunya apalagi sudah berusaha menasihatinya, mendidiknya. Kalau anaknya alasannya tadi itu alasan yang dibuat-buat. Apalagi alasannya orang tua terlalu keras mendidiknya.
(47:04) Lah kalau keras itu tujuannya untuk mengarahkan dia yang sudah dikerasi sama seperti ini. Apalagi yang dilunak yang diberikan kelunakan malah lebih parah lagi bisa jadinya. Jadi jadi tidak perlu didengarkan alasan tersebut. Yang jelas orang tua selama dia sudah berusaha mengingatkan itu dosa yang ditanggung oleh anak itu sendiri yang bisa dilakukan adalah sekarang berusaha menas menasehatinya, mendekatinya, berusaha mengarahkan kepadanya tentang menjelaskan tentang keburukan perbuatan tersebut.
(47:30) itu yang bisa dilakukan oleh orang tua. Apalagi dalam hal ini ibunya itu yang dia bisa laksanakan tentu dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala memohon agar anak tersebut ya dimudahkan untuk kembali ke jalan yang sesuai dengan keridaan Allah subhanahu wa taala. Nam nam ustaz jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan ustaz.
(47:52) Dan kita akan kembali angkat pertanyaan-pesan singkat Ustaz dari beberapa ada dua pertanyaan yang semakna Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustaz. Barakallahu fikum. Izin bertanya Ustaz. Jika dalam salat terbentik dalam hatinya sesuatu dan kita segera sadar, apakah boleh dalam sujud kita beristigfar darinya? Dan apakah doa dalam sujud harus dalam harus dalam hati karena takut? Karena takut jadi pembatal salat? Jika dilafazkan mohon Ustaz memberikan penjelasan.
(48:24) Dan kemudian apakah seorang yang dalam salatnya terbesit gambaran sesuatu yang kurang bagus, satu yang berbau porno, kemudian dia teringat apakah dia batal salatnya, Ustaz atau dia tetap melanjutkan salatnya, Ustaz? Mohon Ustaz berikan penjelasan. Silakan, Ustaz. Iya. Barakallah fik. Pertanyaan sangat baik sekali.
(48:46) Semoga Allah subhanahu wa taala melimpahkan keberkahan dan kebaikan bagi beliau yang bertanya dan juga bagi kita semua. Kalau muncul pikiran-pikiran seperti ini dalam salat, ya pikiran buruk atau hal-hal yang seperti ditanyakan tadi itu disyariatkan untuk kita berlindung kepada Allah dari godaan setan. Karena itu adalah bisikan setan yang memang disebutkan di dalam hadis sahih riwayat Muslim ya.
(49:11) Setan itu ada yang ya diutus oleh iblis untuk mengganggu orang yang sedang melaksanakan salat. Ketika seorang sahabat yang mulia Utsman bin Mad’un radhiallahu taala anhu datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam mengadukan bahwa dia sering ada bisikan-bisikan buruk dalam salatnya. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dzaka situn yuqolu lahu khinzab.
(49:33) ” Itu adalah setan yang disebut namanya khinzab. Ya. Jadi setan yang khusus bertugas mengganggu orang dalam salat. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Fa ahsastahu,” kalau kamu rasakan kehadirannya, berlindunglah kepada Allah dari godaannya. Kemudian menghembuslah ke arah kiri tiga kali. Jadi ucapkan azubillah minasyaitanirrajim.
(49:53) Kemudian kayak meludah sedikit ke kiri tiga kali seperti itu. Itu diperbolehkan. Disebutkan dalam hadis yang sahih ini untuk menghindarkan godaan tersebut. Karena sahabat ini ketika dia praktikkan kata dia, “Faadhaballahu dalalikaai.” Maka Allah hilangkan gangguan setan itu dari diriku. [berdehem] Itu yang kita lakukan.
(50:13) Adapun masalah yang berhubungan dengan istigfar tadi ya, kita istigfar kepada Allah kan setelah selesai salat nanti ada istigfar tersendiri. Yang penting kita hilangkan gangguan tadi seperti yang disyariatkan tadi. Kita hilangkan pikiran kita dari godaan setan tadi. Kemudian kita [berdehem] baca tadi azubillah minasyaitanirrajim.
(50:32) Kemudian menghempus tiga kali tadi. Itu kita lakukan. Kemudian doa di dalam sujud kita lakukan setelah kita membaca zikir sujud dan dilafazkan. Doa itu tidak membatalkan salat. Kalau do seandainya doa membatalkan salat berarti doa kita dari awal. Salat kita dari awal batal terus. Karena dari awal kita baca doa istiftah misalnya.
(50:52) Allahumma baid baini misalnya dalam Sahih Bukhari dan Muslim kan ini doa. Kalau seandainya membatalkan salat, doa itu dari awal salat berarti sudah batal doa salat kita. Jadi doa itu disyariatkan bahkan di dalam salat dan itulah doa yang terbaik caranya kita baca setelah waktu sujud ya. Karena waktu sujud dianjurkan banyak berdoa.
(51:10) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Faaktirudai afihi.” Perbanyaklah doa di dalam sujudmu. Setelah kita baca zikir sujud misalnya subhana rabbiyal a’la atau yang lainnya, kita baca doa dan dilafazkan doa tersebut. Karena doa ini bukan pembicaraan. Yang membatalkan salat itu adalah pembicaraan manusia biasa.
(51:28) Kita panggil orang misalnya, kita menegur orang lain itu batal salatnya. Atau kita berbicara sendiri, berbicara dalam bahasa bahasa kita ini batal salatnya. Tapi kalau berdoa ini tidak membatalkan salat. Ini justru dianjurkan. Apalagi ketika sujud kita memperbanyak doa ya setelah kita membaca zikir dalam sujud kita. Namak fikum nam ustaz taufik barakallah jazakumullah khairan atas jawaban yang telah diberikan ustaz.
(51:54) Dan kita akan angkat pertanyaan berikutnya telepon kembali di 0218236543. Dan kepada Anda yang telah terhubung kami persilakan untuk bertanya ya. Silakan ya silakan. Baik, terputus. Kami tunggu kembali kepada Anda semuanya Islam azani Allah wayakum. Untuk Anda yang bertanya secara langsung, Anda bisa menghubung kami di 0218236543 dan untuk Anda yang bertanya ma chat WA di 0218236543.
(52:28) Nah, kami angkat kembali pertanyaan mau telepon di 0218236543 ya. Silakan ya. Silakan. Baik, terputus kembali. Kita akan angkat satu pertanyaan. Pesan singkatnya sudah masuk Ustaz dari penanya kita. Asalamualaikum Ustaz Ana izin bertanya. Jika kita pernah berbuat syirik seperti pernah berdoa ke kuburan, saat tobat gimana cara kita bersyahadat kembali ustaz? Apakah harus ada yang memandu seperti syahadatnya orang yang mualaf, Ustaz? Jazakullah khairan atas jawabannya, Ustaz. Silakan, Ustaz.
(53:08) Iya, barakallahu fikum. Pertanyaan sangat baik sekali. Semoga Allah Subhanahu wa taala memudahkan kebaikan selalu bagi antum yang bertanya dan bagi kita semua. Ya, untuk bersyahadatnya cukup kita bersyahadat sendiri saja. Kita bersyahadat sungguh-sungguh di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Mengucapkan dua kalimat syahadat, merenungkan maknanya dan tentu saja bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
(53:30) Cuman tadi yang dicontohkan seperti orang berdoa di kuburan. Orang berdoa di kuburan belum tentu syirik. Mungkin dia berdoa kepada Allah ya. Dia berdoa kepada Allah. Dia menyangka di situ adalah [berdehem] tempat dikabulkannya doa. Ya, ini bisa menyenempet kepada kesyirikan. Karena kenapa dia menyangka seperti itu? Tapi kalau dia berdoa hanya sekedar berdoa di kuburan ini kita katakan perbuatan yang tidak disyariatkan tapi belum tentu syirik.
(53:54) Beda kalau dia berdoa misalnya meminta kepada penghuni kubur atau meyakini penghuni kubur sebagai perantara untuk memudahkan doanya diterima oleh Allah. Jelas ini bisa merupakan kesyirikan. Jadi perlu dirinci tadi orang yang berdoa di kuburan belum tentu itu syirik. Ya, jelas itu bisa mengantarkan kepada kesyirikan.
(54:13) Bahkan bisa syirik besar tapi juga bisa perbuatan lain seperti bidah atau hal-hal yang lainnya tapi tidak sampai kepada kesyirikan. Nam. Barakallahu fik Ustaz Wfiq. Barakallah. Jazakumullah khairan atas jawabannya ustaz yang telah berikan. Dan kita akan angkat kembali pertanyaan telepon di 0218236543. NAM silakan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan.
(54:41) Baik kita akan angkat satu pertanyaan. Kembali melalui pesan singkat Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustaz. Dari hamba Allah. Terima kasih Ustaz atas materinya sangat bermanfaat. Izin bertanya Ustaz. Iman itu kan naik turun ya Ustaz dan dibangun atas dasar atas dasar sabar dan syukur. Bagaimana agar kita bisa menjaga agar iman tetap stabil jika dikaitkan dengan sabar dan syukur tadi, Ustaz? Terima kasih Ustaz untuk jawabannya.
(55:10) Semoga kami sekeluarga di selalu dalam lindungan hidayah Allah Subhanahu wa taala. Amin. Silakan Ustaz. Amin. Barakallahu fikum. Amin. Waakum. [berdehem] Pertanyaan sangat baik sekali dari beliau yang bertanya ya. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memudahkan taufik, kebaikan dan limpahan rahmat bagi beliau dan juga bagi kita semua.
(55:30) Ya, dalam kaitannya dengan sabar dan syukur tadi untuk menjaga iman kita agar selalu dalam kebaikan, pertama yang paling penting adalah berdoa kepada Allah. Karena semua kebaikan ada di tangan Allah dan yang maha kuasa untuk menjaga kita dalam segala kebaikan, menjauhkan dari keburukan hanya Allah Subhanahu wa taala semata-mata.
(55:50) Adapun yang secara khusus berkaitan dengan sabar dan syukur itu seperti yang disebutkan di dalam hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis yang sahih ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ajaban liamril mukmin inna amrahuahuirun waisahadin lilmin in asar syakaro fakalikair lahu wa asobar fakanaikair lahu.
(56:21) ” Alangkah indah, alangkah indah dan mengagumkan keadaan seorang yang beriman. Sesungguhnya urusannya semua membawa kepada kebaikan. keadaannya semua membawa kepada kebaikan dan tidak akan bisa mendapatkan ini kecuali hanya orang yang beriman saja. Kalau dia ditimpa ee nikmat mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur kepada Allah, maka itu membawa kebaikan bagi dirinya.
(56:46) Kalau dia ditimpa kesusahan, hal-hal yang tidak menyenangkan, maka dia bersabar. Maka itu [berdehem] membawa kebaikan bagi dirinya. Jadi caranya kita menyikapi keadaan kita dengan dua hal ini. Waktu kita mendapatkan nikmat kita bersyukur kepada Allah. Kalau kita baca seperti yang disyariatkan, dicontohkan dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(57:04) Alhamdulillahilladzi binikmatihi tatimus shihat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sempurna kebaikan-kebaikan. Maka tentu ini sangat besar keutamaannya. Kalau waktu ditimpa hal-hal yang tidak menyenangkan kita bersabar, tetap bersangka baik kepada Allah, meyakini pilihan Allah itulah yang terbaik untuk kita.
(57:24) [berdehem] Ya, di situ juga ada zikir yang disyariatkan untuk kita baca. Alhamdulillahi ala kullial. Segala puji bagi Allah dalam semua keadaan. Maka seperti ini kita menyikapi kondisi dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita selalu berada di atas kebaikan. Kita selalu menggunakan syukur sewaktu kita mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan menggunakan sabar ketika mendapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Nam.
(57:48) Barakallahu fikum. Nam ustazfik. Barakallah. Jazakumullah khairan at jemaan yang telah diberikan Ustaz. Dan kita angkat kembali pertanyaan mulai telepon kepada Anda yang telah terhubung kami persilakan untuk bertanya ya. Silakan ya silakan. Ya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(58:14) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana ya? Halo, Bapak. Dengan siapa? Dengan Pak Rahmat di Tangerang Pesisir, Pak Ustaz. Iya, baik Pak Rahmat di Tengerang Pesisir. Silakan Pak Rahmat pertanyaannya. Ya, silakan Bapak pertanyaannya. Iya, mau tanya, Ustaz, ya. Silakan. Iya, silakan.
(58:43) Halo. Iya, silakan, Pak. Silakan. Ee ini waktu beberapa tahun yang lalu. Iya. [mendengus] Ya, langsung saya punya istilahnya mantan istri punya najar janji. Heeh. Baik, Bapak mohon maaf Bapak langsung saja jangan menyimak lagi. Kepada almarhum Bapak mohon maaf Bapak langsung saja Bapak sampaikan tidak perlu menyimak ee janji kepada almarhum ee sebelum dibayar ya masyaallah.
(59:28) Terus almarhum sudah ini harus dibayar atau tidak tuh Pak Haji? Baik Pak Ustaz. Baik. Terima kasih Pak Rahmat atas pertanyaan. Cukup Pak ya. Baik terima kasih Bapak dan kita akan persilakan kepada Ustaz untuk menyampaikan jawabannya. Silakan Ustaz Ya. Iya. Barakallahu fik. Pertanyaan sangat baik sekali dari Bapak yang bertanya.
(59:47) Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa melimpahkan kebaikan untuk beliau, keluarganya, dan untuk kita semua. Ya, kalau itu sudah merupakan janji, maka harusnya ditunaikan tentu saja. Karena kita diperintahkan di dalam Al-Qur’an dalam hadis-hadis yang sahih untuk menunaikan janji. Ya.
(1:00:08) [berdehem] Wau bil ahdi innalda masula. Dan tunaikanlah janjimu. Karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Kemudian [berdehem] di dalam hadis yang sahih ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan tanda-tanda orang munafik ada tiga. Waidza wa’ada aklafa. Kalau dia berjanji, dia ingkar janji.
(1:00:29) Kalau itu berhubungan dengan orang yang sudah meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya, ya. Maka ditunaikan janjinya. Kalau misalnya itu janji berupa membelikan sesuatu, kalau misalnya dia sudah wafat, ya berikan kepada ahli warisnya sesuatu itu sesuai dengan apa yang kita janjikan. Berikan kepada ahli warisnya untuk mereka bagi sesuai dengan pembagian warisan yang diterangkan dalam Islam.
(1:00:49) Yang jelas itu janji harus ditunaikan karena ini termasuk yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa taala dan rasulnya alaihialatu wasalam. Nam nam ustaz. Jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan ustaz. Dan kita akan angkat satu pertanyaan terakhir di perjumpaan kita pagi hari ini, Ustaz. Satu pertanyaan melalui pesan singkat yang sudah kami pilih Ustaz.
(1:01:14) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ustaz mohon Ustaz memberikan e mohon maaf Ustaz mau bertanya bolehkah kita berpuasa setiap hari yaitu puasa sunah dikarenakan pengin hidup sehat karena sudah sering sakit-sakitan dan obesitas. Mungkin saat di sini ada dua pertanyaan tentang hukum puasa sunah setiap hari yang tidak ada jeda dan kemudian tentang niat berpuasa untuk hidup sehat.
(1:01:41) Ustaz silakan Ustaz. Iya. Barakallah fik. Pertanyaan yang sangat baik dan bermanfaat sekali dari beliau yang bertanya. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memudahkan kebaikan bagi beliau dan bagi kita semua. Iya. Berpuasa setiap hari selain dari puasa yang wajib puasa Ramadan ya itu dilarang dalam Islam.
(1:02:00) Ada larangannya di dalam hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya tentang sahabat yang ingin setiap hari berpuasa ditegur oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dan beliau menyebutkan puasa yang terbaik adalah puasa Nabi Daud. Sehari berpuasa, sehari tidak berpuasa. Itu yang terbaik, sudah ya.
(1:02:21) Jadi yang disyariatkan dalam Islam kalau kita ingin memperbanyak puasa adalah puasa Nabi Daud. Sehari puasa, sehari tidak puasa. Kemudian tadi niat berpuasa bukan ditujukan untuk tujuan dunia seperti tadi. Karena ini nanti tidak bernilai ibadah ya. Tidak bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa taala. Lagi pula ketika Allah subhanahu wa taala tidak mensyariatkan hal tersebut, kita yakin itu akan mendatangkan madarat untuk kita.
(1:02:47) Bahkan bukan untuk mendatangkan kebaikan. Jadi kita yakin segala sesuatu yang tidak disyariatkan dalam agama ini justru tidak membawa kebaikan, justru akan membawa keburukan. Jadi kita niatnya ikhlas untuk mencari keridaan Allah, untuk mencari kebaikan-kebaikan di sisinya. Adapun masalah-masalah yang berhubungan dengan hasil yang baik, kalau betul-betul kita niatnya ikhlas, maka Allah akan berikan kebaikan itu untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.
(1:03:11) Jadi, jangan kita niatkan untuk semata-mata karena kesehatan ya, tapi kita niatkan untuk melaksanakan puasa dalam rangka taat kepada Allah, dalam rangka membiasakan, menundukkan hawa nafsu kita di jalan Allah. yang ini akan berpengaruh dengan dengan masalah keikhlasan kita dalam beramal nantinya dan kebaikan-kebaikan lainnya dalam urusan agama kita.
(1:03:32) Jadi, jangan kita niatkan hanya untuk urusan dunia tersebut. [berdehem] Karena ibadah yang agung itu balasan kebaikannya adalah di akhirat nanti yang merupakan balasan yang merupakan sebaik-baik balasan tentu lebih baik daripada balasan-balasan duniawi. Barakallahu fikum. Semoga Allah mudahkan kita menyimak, mengambil manfaat dan bisa merenungkan mempraktikkan.
(1:03:54) ilmu yang kita dapatkan dalam kajian kita di kesempatan hari ini. Sekali lagi mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wa ala alihi washbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik.
(1:04:14) Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih banyak kepada guru kita Al Ustaz Alfadil Abdullah Taslim MA hafidullahu taala jazakumullah khairan barakallah fikum atas waktu yang telah beliau berikan, materi yang telah beliau sampaikan, dan jawaban-jaban yang telah beliau paparkan untuk kita semuanya.
(1:04:36) Semoga Allah subhanahu wa taala menjaga beliau dan meluaskan keamanan beliau sehingga semakin banyak faeda ilmu yang dapat kita ambil dari setiap perjambahan bersama beliau insyaallah. Allahum amin. Dan juga kami ucapkan terima kasih banyak untuk rekan-rekan kamiorja Celengsi dan Koroja Kendari atas kerja samamanya dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala bisa menghadirkan kajian di tengah-tengah kalangan kaum muslimin.
(1:04:59) Semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan kembali pada kajian berikutnya. Insyaallah. Allahumma amin. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum. Dan untuk Anda semuanya ikhot Islam aaniallahu ayakum yang telah bersama kami dari awal hingga akhir kajian ini. Kami ucapkan terima kasih banyak. atas kebersamaan Anda. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum.
(1:05:18) Nantikan kembali kajian beliau insyaallah pada hari Kamis yang akan datang untuk kita ikuti kelanjutan dari pembahasan kitab Fawaidul Fawaid. Sebuah sebuah karya kitab ulama yang sangat penuh dengan faedah yang bisa kita ambil. Dan akhir kalam kami sampaikan kepada Anda semuanya tetap jaga kesehatan, memohon kepada Allah perlindungan dan juga semoga Allah mudahkan bagi kita mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Akhir barakallahu fikum.
(1:05:44) Billahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Roja TV [musik] radio Raj Bogor. Yeah.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *