[LIVE] “Tawakallah Kepada Allah, Maka akan Tercukupi Semua Urusanmu” Sesi 1 | Ustadz Abdullah Taslim – YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=2x1uG0fS07U
Transcript:
(00:03) nya semenjang 10 menit 6 .30 orang istirahat sebentar Ah. Asalamualaikum.
(01:23) warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina may yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan Ya ayyuhalladina amanquqh w tamutunna illa wa antum muslimun yahanquakumadziquum min nafsi wahidah wq minha zaujaha walan Innallahaanaikumq
(02:38) yazina amanqulaha wa sadliakumakumfirakumunubakumasulahuq Amma baqal haditabullah wiramin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muh wa muhda bidah wa bidatinalah waatin finar w alhamdulillah maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin hafidakumullah Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita senantiasa memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya.
(03:34) Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala atas limpahan nikmat Islam, nikmat mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Nikmat mengenal iman. yang sungguh demi Allah ini adalah nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada manusia dan sungguh lebih bernilai, lebih baik, dan lebih mulia dibandingkan kesenangan apapun dari urusan dunia yang Allah Subhanahu wa taala mungkin berikan kepada banyak manusia.
(04:16) Allah azza wa jalla berfirman azubillahiminasyaitanirjim qul bifadlillahi wabirahmatihi fabidzalika falyafrahu huairum mimma yajmaun katakanlah dengan karunia Allah yaitu Al-Qur’an dan dengan rahmatnya yaitu keimanan keimanan yang benar maka dengan itulah hendaknya orang-orang yang beriman merasa bangga juga merasa gembira, merasa mulia.
(04:50) Karena karunia dan rahmat Allah itu khairum mimma yajmaun. Lebih baik dari apapun yang dikumpulkan oleh manusia dari kesenangan dalam urusan dunia. Barakallahu fikum. Jemaah sekalian hafidakumullah. pelajaran tentang iman dan tauhid. Kita semua tahu ini adalah pembahasan paling penting dalam agama kita. Wallahi, sungguh demi Allah, pelajaran ini harus kita ulang-ulang, harus terus kita bahas dan kita kaji.
(05:27) Karena inilah sebab yang menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Dan pelajaran ini terbukti berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya, banyak manusia yang masih terjerumus dalam penyimpangan dalam masalah tauhid. Sehingga tidak bisa kita remehkan, tidak bisa kita katakan cukup kita mengkaji sekali atau dua kali.
(06:03) ya harus kita ulang-ulang berkali-kali dan kita belajar untuk mempraktikkannya dalam kehidupan kita. Karena segala kebaikan, semua kemuliaan tentu Allah Subhanahu wa taala jadikan bagi orang-orang yang benar-benar beriman kemudian mengamalkan amalan saleh. Semua kebaikan Allah berikan kepada mereka.
(06:33) Dan kita tahu hakikat iman yang sesungguhnya adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala. Hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata dan tidak menyekutukannya. Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur’an di surah Annahl. Man amila shiham minakarin unsa wahua mukminun falanuh hayatanum. ajrahum biahsani mau ymalun. Barang siapa yang mengamalkan amalan saleh dari kalangan laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sungguh Kami akan berikan untuknya hayatan thayibah. Kehidupan yang indah.
(07:25) Masyaallah. Kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Kepada siapa Allah janjikan? kepada orang yang imannya benar dan melaksanakan amalan saleh. Tentu iman yang benar maksudnya bertauhid, ikhlas karena Allah semata-mata. Amalan saleh pastinya maksudnya amal yang sesuai dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(07:47) Kami akan berikan untuknya kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di dunia. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, ini maksudnya di dunia. Dan najziannahum. Kami benar-benar akan berikan untuk mereka balasan yang lebih baik di akhirat nanti daripada apa yang mereka kerjakan di dunia. Antum lihat orang yang beriman dan beramal saleh dengan benar, hidupnya selalu dekat dengan sebab-sebab kebaikan, kecukupan, penjagaan dari Allah, istiqamah di atas kebaikan.
(08:24) Ini kehidupan indah yang sesungguhnya. Tapi karena permasalahan inti dalam hal ini banyak dilanggar oleh kebanyakan manusia kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Sehingga hal ini atau balasan yang Allah janjikan ini tidak dirasakan oleh kebanyakan orang kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
(08:51) Mungkin antum sudah sering dengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bagaimana perbuatan syirik masih menimpa kebanyakan manusia. Seperti firman Allah Subhanahu wa taala di surah Yusuf ayat 105. W yu aksaruhum billahi illa wahum musyrikun. Dan tidaklah kebanyakan mereka, kebanyakan manusia benar-benar beriman kepada Allah kecuali mereka masih dalam keadaan melakukan perbuatan syirik.
(09:23) Siapa yang disebutkan di ayat ini? Aksaruhum kebanyakan mereka. Berarti tidak sedikit yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Ya. Dan kita mungkin pernah mengkaji di kitab tauhid yang ditulis oleh Syaikhul Islam almujaddid as Syekh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi rahimahullahu taala. Ketika dibuat bab khusus babul khaufi minasyirki, bab takut dari perbuatan syirik.
(09:54) Ini kita semua tahu dijadikan dalil di situ adalah ucapan Nabi Allah yang mulia Khalilullah Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam. Ketika dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala tentang berhala-berhala yang dijadikan sembahan selain Allah. Apa katanya dalam doa ini? Dalam surah Ibrahim alaihiatu wasalam. Wahai Rabbku, jauhkanlah diriku dan anak-anakku dari menyembah berhala.
(10:41) Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala ini menyesatkan banyak manusia. Sungguh demi Allah, ikhwan dan akhwat fiddin aazakumullah. Kalau Nabi Ibrahim takut seperti ini, siapa di antara kita yang merasa aman? Padahal Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam kita tahu Imamul Hunafa. Imamnya ahli tauhid yang sampai petunjuknya Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk selalu mengikutinya.
(11:14) Agamanya yang lurus, yang selalu menegakkan tauhid. Allah perintahkan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallamin. Kemudian kami wahyukan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ikutilah itabi mill Ibrahim agama Nabi Ibrahim yang selalu hanif lurus. Hanif artinya selalu menghadapkan diri kepada Allah berpaling dari selainnya dan dia tidak termasuk orang-orang yang melakukan perbuatan syirik.
(11:51) Jadi maksudnya di sini, ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah, menegakkan tauhid ini perkara yang paling penting dan harus diulang-ulang. Dan ingat banyak manusia tuj rumus di dalam bab yang tadi kita sebutkan dalam Kitabut Tauhid bab alkhauf minas syirik, takut dari perbuatan syirik. Sungguh demi Allah kalau kita semua sepakat dan yakin tauhid adalah perkara yang paling penting dalam urusan agama kita ya dalam kehidupan kita sehari-hari.
(12:28) Bukankah sesuatu yang kita anggap paling berharga? Pasti kita paling sungguh-sungguh dalam menjaganya. Iya kan? Pasti kita paling sungguh-sungguh dalam berusaha memurnikannya, menjaganya dari tidak hilang, tidak berkurang. Masa kalau harta kita perlakukan seperti itu, sementara urusan yang menjadi sebab keselamatan kita dunia dan akhirat tidak kita berikan perhatian yang sepantasnya.
(12:56) Apalagi yang kita katakan tadi, kalau Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam saja takut, kenapa kita merasa aman? Dari sinilah ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah. Tauhid itu, keimanan itu kalau benar-benar sudah kita amalkan, kalau benar-benar sudah kita praktikkan dalam kehidupan kita, mesti dia akan membuahkan buah-buah yang indah, buah-buah yang manis yang akan terasa dalam kehidupan kita.
(13:36) Sehingga tidak perlu lagi kita merasa ikut terguncang ketika ekonomi krisis, ketika barang-barang mahal yang kemudian ikut-ikutan seperti orang-orang yang tidak kenal agama, yakni menjelek-jelekan pemerintah. Akhirnya ikut-ikut melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah.
(14:03) Ada yang demo, ada yang melakukan ini, mencela sana sini. Ini kan kita sudah tahu dan sudah kita belajar dari akidah ahlusunah wal jamaah sangat menyimpang dari manhaj salaf. Dan ini bukan solusi. Ya, kita harus ketahui sebab utama yang menjadikan kerusakan di muka bumi dan ini kita pelajari dari awal-awal kajian kita adalah karena kita jauh dari petunjuk Allah.
(14:32) Karena alam semesta ini Allah Subhanahu wa taala yang menguasainya. Kalau kita dekat dengan petunjuknya, kehidupan kita akan dijauhkan dari sebab-sebab kesempitan. Tapi kalau kita berpaling dari petunjuknya Allah azza walla kita tahu dalam Alquran berfirman, “Barang siapa yang berpaling dari peringatanku, maka sungguh dia akan merasakan penghidupan yang sempit dan di hari kiamat nanti dia akan dikumpulkan dalam keadaan buta.
(15:08) ” Jadi solusinya itu bukan menambah masalah dengan melakukan hal-hal yang menyimpang dari petunjuk Allah dan rasulnya. Justru solusinya adalah kembali kepada petunjuk Allah. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Alqur’an. musibah apa saja yang menimpa kamu ya musibah apa saja ini nakirah fiaki syar artinya sesuatu yang bersifat umum dalam bahasa Arab musibah semua musibah termasuk musibah dalam diri kita tidak tenang tidak bahagia musibah dalam rumah rumah tangga kita.
(15:58) Musibah yang berhubungan dengan kehidupan ekonomi, sosial, semua musibah apa saja yang menimpa kamu, maka itu akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh tangan-tanganmu sendiri. Ya. Dan Allah memaafkan dari kebanyakan dosa-dosamu. Seandainya Allah tidak memaafkan, lebih banyak lagi yang kita akan rasakan. Ini kaidah ahlusunah wal jamaah dalam menyikapi setiap permasalahan.
(16:27) Apalagi masalah tauhid yang merupakan hak utama Allah Subhanahu wa taala. Jadi sumber semua permasalahan kita adalah karena kurang dalam memperhatikan dan berupaya menyempurnakan tauhid dan penghambaan diri kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Mungkin kita sudah tahu secara teorinya, tapi secara praktiknya ya termasuk dalam hal menyikapi ketentuan takdir Allah Subhanahu wa taala.
(17:02) Bersabar ketika menghadapi cobaan, bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Selalu bersangka baik kepada Allah seperti yang nanti kita akan bahas. Masalah tawakal, rida dengan segala ketentuannya, belum cinta, takut dan berharap kemudian khusyuk dalam ibadah. Kan ini masalah-masalah yang kita sendiri sudah lama ngaji masih banyak mengalami kekurangan dalam masalah ini dan kita akui semua itu sampai semua permasalahan dalam hidup kita.
(17:33) Ada nukilan pernyataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Alwabil Sayib minal kalim thayib. Beliau pernah mengatakan seperti ini. qallahu qan la yuraddu wala yudfa anna man ahabba saaian siwallahi udziba bihi wala budda waman khofa girahu alaihi wamaniru alaihi sungguh Allah telah menetapkan satu ketentuan ya yang tidak akan bisa ditolak, tidak akan bisa dihindari.
(18:20) Ketentuan yang pasti terjadi pada diri manusia. Apa itu? Barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah bukan karena Allah, dia akan diazab dengan sesuatu itu. Jadi, salah menempatkan cinta ya. Cinta kepada makhluk berlebihan melebihi kecintaan kepada Allah. azab kita, penderitaan kita dari makhluk yang kita cintai berlebihan dan bukan karena Allah ini.
(18:51) Barang siapa yang takut kepada selain Allah, sesuatu itu akan dijadikan menguasai dirinya. Semakin takut kepada makhluk, makhluk itu akan justru semakin memperbudak diri kita. Semakin akan kita ditundukkan di hadapannya. B kalau kita takut kepada Allah, Allah jadikan semua makhluk takut kepada kita. Tapi karena ketakutan kita kepada Allah lemah, akhirnya semua makhluk justru bisa menundukkan kita.
(19:18) Naudubillah minzalik. Kemudian wamanarhu alaihi. Barang siapa yang lebih mendahulukan makhluk dibandingkan Allah subhanahu wa taala, itu akan menjadi sebab kesialan bagi dirinya. Coba lihat ini praktik dari tauhid yang salah ya dalam menempatkan cinta, menempatkan takut, mengutamakan, berharap ketika salah ditempatkan kepada selain Allah Subhanahu wa taala yang terjadi apa? yang terjadi adalah Allah Subhanahu wa taala jadikan keburukan, malapetaka, kesialan timbul dari hal-hal yang seperti ini sehingga bagaimana hidup kita akan
(20:08) dimudahkan kebaikan, dekat dengan kebahagiaan, dijadikan tenang dalam menghadapi semua keadaan. Kalau hal-hal yang seperti ini, sebab-sebab keburukan seperti ini masih kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita semua yakin janji Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin diingkarinya. Tapi pertanyaannya, siapa yang sudah benar-benar mewujudkan syarat sehingga janji Allah Subhanahu wa taala tersebut terpenuhi? Coba antum perhatikan di dalam Al-Qur’an ketika Allah mengajak kita kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya,
(20:49) Allah itu janjikan keutamaan yang demikian agung, keutamaan yang demikian tinggi. Di surat Al-Anfal ayat ke-24 Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Ya ayyuhalladzina amanustajibu lillahiuli daakum lima yuhyikum. Wahai orang-orang yang beriman, istajibu. Penuhilah, ikutilah panggilan Allah dan panggilan rasul-Nya yang mengajakmu untuk yuhyikum.
(21:29) Memberikan kehidupan yang baik bagimu. Masyaallah ya. Siapa yang ingin hidupnya menderita? Siapa yang ingin hidupnya susah? Pasti tidak ada yang mau. Makanya Allah tawarkan dan Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian yang menguasai kehidupan dunia akhirat. Allah menawarkan petunjuk yang Allah turunkan di dalam Al-Qur’an dan di dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu diturunkan hakikatnya untuk menyempurnakan kebaikan hidup bagimu.
(22:05) Semakin banyak yang kita ambil, semakin banyak yang kita pahami dan amalkan dengan benar, berarti apa? Semakin sempurna kita mengumpulkan kebaikan dalam hidup kita. Ini kan janji Allah. Tidak mungkin Allah ingkari. Cuma masalahnya siapa yang sudah benar-benar mempraktikkan ini secara nyata dalam kehidupannya atau dia masih memperturutkan hawa nafsunya atau dia masih banyak kelalaiannya atau kecintaannya kepada dunia masih terlalu besar.
(22:33) Ketika menafsirkan ayat ini di kitab Alfaid, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata, ayat iniana mengandung makna bahwa kehidupan indah yang sesungguhnya, kehidupan bahagia yang sejati adalah kehidupan orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya lahir dan batin. Jemaah sekalian hafidakumullah, lihatlah kehidupan para nabi dan para rasul alaihiusalatu wasalam para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
(23:32) Kebahagiaan dan ketenangan hati mereka adalah ketika mereka mengamalkan salat, mereka beristirahat di dalam salatnya. Dan salat seperti inilah yang akan bisa dirasakan khusyuknya. Kan tidak asing bagi kita di dalam hadis yang sahih Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad juga Imam Annasai di dalam sunannya dinyatakan sahih oleh Sy Albani rahimahullah taala.
(24:06) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabdaun dijadikan aku cinta terhadap urusan dunia terhadap perempuan yakni istri beliau yang halal tentu saja dan kepada minyak wangi karena menyenangkan dicium baunya harum tetapi dijadikan kesejukan hatiku adalah di dalam salat. Jadi mereka ketika menunaikan salat, masyaallah masalahnya semua hilang.
(24:39) Nabi Nabi sallallahu alaihi wasallam amru menghadapi masalah sebesar apapun langsung melaksanakan salat. Hilang semua. Di dalam hadis yang sahih lainnya juga dalam Musnad Imam Ahmad dinyatakan Hasan atau Shih Alyal Albani rahimahullahu taala. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Bilal ketika mereka sedang melakukan perjalanan di siang hari di padang pasir panas tiba waktu salat.
(25:08) Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Bilal, “Ya Bilal akimata faha.” Wahai Bilal, kumandangkan azan salat supaya kita bisa beristirahat di dalam salat kita. Mereka tidak punya kesenangan selain ibadah. Dan inilah kesenangan yang hakiki. Inilah kebahagiaan yang sejati. Inilah gambaran kebahagiaan yang dirasakan orang-orang yang beriman di dunia.
(25:33) Dan nanti akan disempurnakan kebahagiaan mereka di akhirat. Antum mungkin pernah dengar ada ee apa ini pernyataan dari para ulama salaf yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab beliau Lahfan. Ulama ini pernah berkata di depan murid-muridnya, “Masakinu ahl dunya khju minha waba ma fiha.” Alangkah miskin, kasihan orang-orang yang mengejar dunia terlalu mencintai dunia berlebihan.
(26:12) Kenapa? Ketika mereka di dunia sampai meninggalkan dunia ini, mereka tidak pernah merasakan kenikmatan tertinggi di dunia. Dihalangi atb kebahagiaan tertinggi dunia mereka tidak pernah dapatkan. Padahal mereka yang mengejar dunia dengan ambisi besar. Murid-muridnya bertanya, “Waiaiinabu ma fiha?” Apa itu kenikmatan tertinggi yang ada di dunia? Ulama ini mengatakan makrifatullah mengenal Allah wa mahabbatuhu mencintai Allah wal unsubuhi merasakan nikmat ketika mendekatkan diri kepada Allah wasu liq dan rindu untuk bertemu Allah.
(27:00) Kenikmatan tertinggi di dunia adalah kenikmatan iman. Kenikmatan ketika bisa beribadah dengan khusyuk. Kenikmatan ketika membaca Al-Qur’an dan menerungkan isinya. Ketika berzikir yang kemudian menjadikan hati kita tenang. Ala bikrillahiu alub. Ketahuilah dengan mengingat Allah, berzikir kepada Allah, hati manusia akan menjadi akan menjadi tenang.
(27:27) Nah, oleh karena itu jemaah sekalian hafidakumullah, ikhwani wa akhwati fiddin azakumullah. Ketika kita membahas tema tentang ya makna firman Allah Subhanahu wa taala di ayat yang kita kenal firman Allah di surah at-Thalaq wam yattaqillaha yaj’alahu makhraja warzuq min haitsu la yahtazib walah alallahi fahua hasbuh barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan untuknya jalan keluar dan Allah akan berikan untuknya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
(28:13) Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya. Ini ayat bukan cuma teori. Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, apalagi yang mengenal manhaj salaf. Berapa kali mungkin antum dengarkan dalam kajian dibahas tentang makna ayat ini ya.
(28:41) Bertawakal kepada Allah dengan benar artinya dapat kecukupan dari Allah. Yang menjamin kecukupan di ayat ini adalah zat yang memiliki segala sesuatu. Dialah alghaniyu yang maha kaya. yang al-qadir maha kuasa atas segala sesuatu. Alqawiyul azizul matin maha kuat maha perkasa, maha kokoh. Dialah yang maha albarrur rahim, maha baik, maha pengasih.
(29:18) Semua sifat-sifat kebaikan ada padanya. Antum kan tahu di antara nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah adalah assamad. Qul huallahu ahad. Allahus somad. Katakanlah, “Dialah Allah yang Maha Esa dan dia adalah assamad.” Antum tahu artinya Somad. Asamad itu artinya zat yang maha sempurna dalam sifat-sifatnya. Sehingga semua makhluk itu menghadapkan diri, menghadapkan hatinya kepada Allah dalam meminta segala hajatnya.
(29:49) Karena semua yang mereka butuhkan ada pada Allah. Ya, orang yang meminta rezeki, Allah adalah Arrazzak. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa memberikan rezeki. Bahkan semua makhluk bergantung kepada Allah dalam hal membutuhkan rezeki. Iya kan? Arrazaq coba selalu kita ingatkan ya. Ingat makna arrazzaq Allah pemberi rezeki.
(30:12) Jangan cuma diartikan rezeki itu berupa uang, fasilitas duniawi, eh makanan, minuman. Ini rezeki umum. Meskipun juga kita minta kepada Allah, tapi rezeki ini tidak ada istimewanya karena Allah berikan kepada semua makhluk. Ya, paham? Semua makhluk, orang yang kafir juga dapat makan, dapat minum. Orang yang taat juga orang muslim, orang yang durhaka dan taat.
(30:40) Bahkan hewan pun dapat. Tapi ada makna rezeki yang khusus. Ini yang harus kita fokuskan dalam permintaan waktu kita menyebut nama Allah Arraazzak. Apa itu rezeki yang khusus? Mengenal keimanan, mengenal tauhid, masyaallah, mengenal manhaj salaf, mengikuti pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum. Ajmain. Antum lihat banyak orang-orang yang tidak mengenal sampai saat ini.
(31:02) Mungkin tetangga kita, keluarga kita, mereka tidak pernah belajar tauhid, tidak mengenal indahnya mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, tidak mengenal manhaj para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Istiqamah di atas agama. Ini rezeki Allah yang khusus yang diberikan kepada orang-orang yang tentu saja diistimewakannya.
(31:24) Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kita semua orang-orang yang dipilih dan dimuliakannya untuk mendapatkan rezekinya yang khusus. Minta rezeki sekarang minta penjagaan. Tidak ada selain Allah azza wa jalla yang bisa menjaga kita. Karena Dia maha kuat, maha perkasa, maha kuasa atas segala sesuatu. Kemudian dia adalah alhafiz, maha sempurna penjagaannya.
(31:47) Jadi, karena semua sifat-sifat Allah itu maha sempurna sehingga dengan sendirinya hati kita selalu menghadapkan diri kepada Allah dalam segala hajat dan kebutuhan kita. Antum tahu makna ini adalah inti daripada makna tauhid. Inti dari makna tauhid. Jadi, tauhid itu artinya kita selalu bergantung kepada Allah. Kita selalu menyandarkan hati kita kepada Allah. Ini makna tawakal.
(32:23) Berarti kita selalu menghadapkan diri kepada Allah dengan segala hajat dan kebutuhan kita. Makanya kalau tawakal tadi dijanjikan kecukupan dan siapa yang menjanjikannya? Zat yang memiliki segala sesuatu. Antum tahu dalam kehidupan kita kalau ada sesuatu yang menjamin kita dan orang yang yang menjamin ini misalnya makhluk yang menjamin ini kita anggap punya kemampuan pasti kita akan merasa tenang.
(32:59) Ya, sekarang orang-orang misalnya tinggal di sebuah kompleks yang ada satpam yang menjaganya, dia merasa lebih tenang karena ada penjaga ketika dia tidur ada penjaga yang bergantian satpam yang bergiliran menjaga di pos depan kompleks rumah tersebut. Padahal penjaga bisa lalai, bisa ketiduran. Kalau datang pencuri yang lebih kuat, bagaimana? Kalaupun pencurinya mereka bisa kalahkan karena mereka kuat-kuat misal apalnya TB kalau pencurinya yang datang tidak kelihatan jin misalnya atau setan atau misalnya pencurinya kerja sama
(33:36) dengan satatpam tersebut banyak kemungkinan itu pun kita bisa merasa aman ya kalau ada pekerjaan ditangani oleh orang yang kita anggap punya kemampuan ya misalnya bosnya ya langsung turun tang sudah saya akan selesaikan pekerjaan tersebut kita merasa aman. Kita ada orang yang yang kena penyakit, dokter yang spesialis yang langsung turun tangan menanganinya.
(34:05) Padahal semua ini bisa salah. Manusia biasa dokternya juga nanti juga mati ya. Dia yang suka mengobati orang dia sendiri juga punya penyakit. Tapi ketika Allah yang mengatakan fahua hasbuh. Dialah Allah yang mencukupkanmu. Apa yang kita khawatirkan setelah itu? Semua kebaikan ada di tangannya. Semua yang kita butuhkan dia yang maha kuasa memenuhinya.
(34:29) Jadi ini yang tadi kita katakan inti makna tauhid. Sehingga semua sumber kesyirikan yang tadi sudah kita sebutkan, sumber malapetaka dan semua keburukan dalam hidup kita karena penyimpangan dalam mengamalkan tauhid ini, inti utamanya adalah tadi penyandaran hati kita kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Inilah inti dari perbuatan syirik.
(35:00) Ada pernyataan yang di sebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala di dalam kitab Madarijus Salikin ketika beliau telah membahas masalah ini dan beliau sebutkan kesimpulannya nya wabil jumlah faasir waqidah bun alaihaallirillah kesimpulannya maka aslu syirki landasan kesyirikan ya pokok kesyirikan Dan landasannya yang semua bangunan syirik dibangun di atasnya adalah apa? Attaalluk bigirillah.
(36:06) Ketergantungan hati kepada selain Allah. Ketergantungan hati kepada selain Allah. Bersandar kepada makhluk. Bersandar kepada sebab. Ya. Bersandar kepada kemampuan diri sendiri. Kadang-kadang kita lupa dalam kehidupan kita, kita berbuat sesuatu, kita anggap, “Ah, saya bisa.” Lupa kita berdoa kepada Allah, lupa kita bersandar kepada Allah, lupa kita misalnya menyebut nama Allah, minta pertolongannya.
(36:38) Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih riwayat Imam Muslim? Iris al ma yanfauka wastain billah. Bersemangatlah melakukan, bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagimu. Dan mohon pertolonganlah kepada Allah. Kenapa ditekankan mohon pertolongan kepada Allah? Supaya kamu tidak bersandar kepada kemampuan dirimu sendiri.
(37:03) Karena ini adalah bibit kesyirikan. Subhanallah. Kita lihat surah al-Fatihah. Kenapa para ulama menyebutkan inti kandungan surah al-Fatihah adalah terdapat dalam firmannya iyaka na’budu wa iyaka nasta’in. Di dalam tafsir Ibnu Katsir dinukil ucapan seorang ulama salaf yang berkata tentang ayat ini, “Satul fatihati sirrul Qur’an wasirruha hadil kalimah.
(37:36) ” Surah Al-Fatihah itu adalah inti kandungan Al-Qur’an dan inti kandungan surah Al-Fatihah adalah ayat ini. Iyaka na’budu wa iyaka nasta’in. Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Antum kan tahu bentuk kalimat seperti ini dalam bahasa Arab itu memberikan pengertian hasr pembatasan. Didahulukan objek.
(38:04) Kan harusnya biasanya kita bicara i apa ini? Hanya kepadamu kami menyembah ya Allah atau kami menyembah kepadamu ya Allah. Kami mohon pertolongan kepadamu. Objek diakhirkan kan ya. Pak
Leave a Reply