[LIVE] Ustadz Abdullah Taslim, M.A. | Minhajul Firqatin Naajiyah – YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=RPT2G_prBAs
Transcript:
(00:00) Wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan [berdehem] kelayar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radio Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil
(00:33) faedahnya. Dan kami mengucapkan selamat menyimak, semoga bermanfaat. Roja TV bagi Anda para pemirsa TV. Man
(03:17) H [berdehem] [berdehem] [berdehem] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa’inuhu wafiruh wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina may yahdihillahu fala mudhillalah. [batuk] Wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la
(04:22) syarikalah. Wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa. Wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaanaana alaikumq.
(05:01) Ya ayyuhalladzina amanutqulaha wauluan sadida yuslih lakum aalakumagfir lakum dunubakum w yutiillaha waasulahu faq faza fauzanima. Amma ba’du fainna asdaqal hadis kitabullah wahair hadi hadyu Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhdasatuha wa muhdain bidah waulla bidatin dolalah wa dolatin finaru wa ba’du.
(05:36) [berdehem] Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. MaaSyiral [berdehem] Muslimin, kaum muslimin, para pemerhati dan pendengar setia Radio Rajak maupun Rojak TV di mana pun antum berada. Barakallah fikum. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang memudahkan taufik kebaikan bagi kita di malam hari ini sehingga kita bisa mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid Albarkah yang mubarak ini.
(06:13) [berdehem] Di lanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat Qutayyib atau kitab kecil yang sangat bermanfaat. Kitab Minhajul Firqatin Najiyati Wathifatil Mansurah. Metode beragama golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. Tulisan dari As Syekh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu taala.
(06:42) kitab yang menjelaskan tentang ciri-ciri golongan yang selamat, keyakinan mereka, metode mereka dalam beragama, ya setelah kita membaca banyak pembahasan dalam kitab ini, [berdehem] maka kita mengetahui bahwa memang metode beragama golongan yang selamat adalah satu-satunya yang mempraktikkan kan Islam secara keseluruhan [berdehem] sebagaimana yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagaimana yang dipahami dan dipraktikkan oleh para sahabat
(07:28) radhiallahu taala anhum ajmain. [berdehem] baik dalam memahami masalah akidah ya, masalah dakwah, memahami dan mempraktikkan masalah akidah, masalah dakwah, masalah muamalah dan semua permasalahan-permasalahan di dalam Islam. Kita lihat beberapa kali [berdehem] pembawa pembahasan yang dibawakan oleh Syekh rahimahullahu taala itu [berdehem] menyinggung masalah-masalah yang berhubungan dengan penegakan tauhid ya.
(08:03) upaya untuk menjauhi [berdehem] perbuatan syirik dalam segala bentuknya. Yang ini banyak dilalaikan oleh orang-orang yang tidak perhatian terhadap manhaj salaf. Sekali lagi dianggap ini sebagai sesuatu yang ya tidak terjadi di kalangan kaum muslimin atau dianggap sebagai sesuatu yang cukup dibahas sekali atau dua kali saja.
(08:28) Padahal kita ketahui Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik petunjuk hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang merupakan sebaik-baik pembimbing kita untuk meniti jalan Allah Subhanahu wa taala yang lurus. Ternyata ayat-ayat dan hadis-hadis yang sahih banyak memperingatkan tentang perbuatan syirik yang dilakukan oleh manusia. Bahkan ini peringatan yang paling banyak diulang-ulang di dalam Al-Qur’an [berdehem] sebagaimana yang kita ketahui.
(09:03) Apalagi syirik dalam hal berdoa ya meminta kepada selain Allah Subhanahu wa taala sebagaimana yang sudah sering kita jelaskan. Kemudian saat ini juga setelah di pembahasan yang lalu Syekh menjelaskan tentang masalah yang berhubungan dengan al-hakimiyah atau inil hukmu illa lillah. Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Ini pun juga didudukkan maknanya.
(09:31) Bagaimana pemahaman ahlusunah wal jamaah dalam masalah ini agar kita bisa memahaminya dengan benar. tidak hanya menggunakan kalimatnya, tapi tidak mempraktikkan kandungan maknanya dengan benar. Sebagaimana yang sudah kita ketahui ini yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij yang menggunakan kalimat ini tapi untuk makna yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
(09:59) Yakni sekali lagi banyak tersebar kalimat-kalimat yang benar. Kalimatu haqin urida biha batil. Kalimat-kalimat yang kelihatannya benar tapi dimaukan di balik semua itu kebatilan. Karena kenapa? Kesimpulannya ya setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala karena tidak merujuk kepada penafsiran salaf, tidak menukil pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dalam menjelaskan tentang istilah-istilah syariat, istilah-istilah syari’i dalam agama ini masing-masing menjelaskan sesuai dengan pemahamannya sendiri.
(10:39) Masing-masing mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, mengambil satu ayat meninggalkan yang lain. Maka hanya pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dalam memahami dan mengamalkan Islam yang pemaham pemahaman ini bersifat menyeluruh. Saling menjelaskan satu ayat dengan ayat yang lainnya.
(11:01) Saling menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian dengan praktik dari para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Barakallahu fikum. Tib. Saat ini kita akan masuki pembahasan yang berikutnya yang dibawakan oleh Syekh Muhammad bin Jamil Zain rahimahullahu taala. Asyirkul akbaru wa anwauhu.
(11:33) [berdehem] Iya. syirik besar dan jenis-jenisnya. [batuk] Kembali diulang pembahasan tentang tauhid dan akidah dan terus diingatkan oleh beliau dan ini merupakan bagian dari manhaj salaf, manhaj para sahabat ridwanullah taala alaihim ajmain. Syirik besar dan jenis-jenisnya. Tib kata beliau rahimahullahu taala, asyirkul akbaru an tajala lillahi niddan mailan taduhu kama tadullah tusrifuahu naan min anwail ibadati kalistigatihi ainariha Syirik besar itu
(12:37) adalah dengan seseorang atau dengan kaum menjadikan [berdehem] seseorang menjadikan tandingan atau yang serupa yang disamakan dengan Allah Subhanahu wa taala yang dia menyerunya sebagaimana yang dia berdoa meminta kepadanya sebagaimana berdoa kepada Allah atau memberikan kepadanya satu dari jenis-jenis ibadah.
(13:02) dalam agama ini seperti meminta pertolongan atau menyembelih untuknya atau bernazar atau yang selainnya. Tentu di sini maksudnya ada annid menjadikan tandingan secara sempurna tandidun kamil supaya membedakannya dengan syirik kecil. Kalau syirik kecil kan padanya ada tandapi giriru kamil menjadikan tandingan tapi tidak sempurna tapi ini merupakan perantara kepada syirik besar.
(13:37) Ya, [berdehem] sudah kita sebutkan contoh-contohnya. Orang yang [berdehem] misalnya melakukan yasirur riya, memperlihatkan, memerkan amalnya kepada manusia, tapi bukan tujuannya adalah menjadikan tandingan yang sempurna pada orang tersebut, pada diri manusia tersebut. Sama seperti [berdehem] ucapan-uncapan yang mengandung makna menyetarakan Allah dengan makhluk. Ya, masyaallahu was’ta.
(14:09) Ini dengan kehendak Allah dan kehendakmu sudah kita pernah sebutkan pembahasannya. Artinya kalau syirik besar jelas di situ ada tandingan menjadikan tandingan yang sempurna kepada selain Allah. Adapun untuk syirik kecil ya tidak sampai sempurna sebagaimana syirik besar. Tapi karena dia adalah mengandung makna kesyirikan sehingga dia merupakan perantara kepada syirik yang besar.
(14:40) Naudubillahzalik wafahihaini an ibni Mas’udin radhiallahu taala anhu qala saaltun Nabi sallallahu alaihi wasallam ayyudanbi a’dom. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim dari sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu taala anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dosa apakah yang paling besar?” Qala.
(15:09) Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “An taj’ala lillahi niddan wahua khalaqoka.” Yaitu kamu menjadikan tandingan bagi Allah padahal dialah yang menciptakanmu satu-satunya. Ya. Jadi ini adalah hal yang sangat tidak pantas. Allah satu-satunya pencipta, pengatur alam semesta.
(15:37) Satu-satunya yang memiliki sifat rububiyah terhadap alam semesta ini. Menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, menjauhkan segala keburukan, mendatangkan segala kebaikan, memenuhi hajat, kemudian dijadikan dengan sekutu dengan makhluk yang lemah. [berdehem] Ya, maka ini merupakan dosa yang paling besar, kezaliman yang paling zalim. Ya, bersamaan dengan itu banyak manusia yang masih melakukannya karena tipu daya setan.
(16:11) Ya, yang ini menunjukkan kepada kita bahwa perbuatan syirik adalah perbuatan yang harus selalu diing diingatkan kepada kaum muslimin agar mereka menjauhinya. Karena terbukti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan ini adalah dosa yang paling besar. Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala dan hari akhir tentunya akan berusaha sejauh mungkin untuk menjauhi dosa yang paling besar.
(16:37) Kalau dia berusaha menjauhi dosa-dosa yang lainnya, apalagi dosa yang paling besar, apalagi itu kezaliman yang paling yang paling yang [berdehem] paling buruk. Barakallahu fikum. Anniddu almailu wasariq. Andid artinya almashil ya yang diserupakan atau sekutu tandingan. Rawahul Bukhari wa Muslim. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim.
(17:08) Ya. Dan yang namanya menjadikan tandingan itu seperti kayak tadi memalingkan ibadah kepadanya atau menjadikan orang itu berdoa kepada selain Allah atau menyekutukan dia berdoa bersama kepada Allah juga kepada yang lain seperti [berdehem] menjadikan perantara perantara dalam beribadah kepada Allah dengan orang-orang yang saleh.
(17:32) Alangkah banyaknya ini terjadi di kalangan kaum muslimin kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Ma nabuduhum illa liuqoribuna ilallahi zulfa. Kesyirikan di zaman jahiliah. Kami tidak menyembah sembahan-sembahan itu kecuali agar mereka menjadikan kami dekat kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
(17:54) Ya. Naudubillah minzalik. [berdehem][batuk] Nam. Jadi ini namanya syirik. Syirik yang besar. Bab. Kemudian dijelaskan anwaus syirkil akbar. Macam-macam kesyirikan yang besar. Ternyata syirik itu bukan cuma satu macam. Ya, bisa jadi seseorang mungkin tidak merasa dia memalingkan satu jenis ibadah kepada selain Allah atau menyamakan ibadah.
(18:32) Apalagi yang berhubungan dengan ibadah hati. [berdehem] Dia mencintai makhluk seperti mencintai Allah. Takut kepada makhluk seperti takut kepada Allah. Nah, amalan hati ini kan tidak bisa kita kendalikan. Hanya Allah Subhanahu wa taala yang maha membolak-balikkan hati. Sehingga dengan sendirinya kalau kecintaan di hati seseorang, rasa takutnya, rasa takut di hatinya kepada Allah lemah, pengharapannya, tawakalnya kepada Allah lemah, maka hatinya akan tergerak untuk bersandar kepada selain Allah Subhanahu wa taala.
(19:09) Dan itu pasti terjadi. Ya, sekarang mungkin kalau yang berhubungan dengan ibadah terang-terangan orang sujud kepada pohon saat ini kan sudah hampir tidak ada lagi yang melakukannya terang-terangan. meskipun masih ada orang-orang bodoh yang melakukan demikian, apalagi di kalangan kaum muslimin. Tetapi ketika berhubungan dengan ketergantungan hati, banyak orang-orang yang melakukan kesyirikan seperti itu dianggap makhluk yang mungkin meskipun makhluk itu tidak ada di hadapannya, dia kemudian meminta, dia kemudian menyandarkan hatinya. Ada
(19:47) sebagian orang dengan dengan guru-guru yang dianggapnya bisa memenuhi hajatnya. Ini banyak terjadi di kalangan kaum muslimin karena kelemahan iman dan ingat lemahnya penyandaran hatinya kepada Allah Subhanahu wa taala. Jadi akibat dari tidak mengenal Allah mungkin juga sebagian orang yang meremehkan pembahasan tentang iman.
(20:16) Satu saat dia terjerumus ke dalam ya satu kesulitan besar. Maka ketika itu hatinya karena lemah penyandaran hatinya kepada Allah Subhanahu wa taala maka mau tidak mau dia akan bersandar kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Dan kita harus ingat tipu daya setan itu sangat kuat dalam memalingkan manusia dari kebenaran. Apalagi dalam masalah tauhid.
(20:41) Tib. Kita akan lihat di sini jenis-jenis perbuatan syirik besar. Ala-awal yang pertama syirkud doa. Syirik dalam berdoa. Wahua duau ghairillah. yaitu berdoa kepada selain Allah [berdehem] ataupun menyertakan selain Allah dalam berdoa kepada Allah. Yakni membuat perantara dan ini yang paling banyak terjadinya. Minal anbiyai wal auliyai lolabir rizkiil mar.
(21:32) Baik itu dari kalangan para nabi, orangorang yang dianggap sebagai wali untuk meminta rezeki atau penyembuhan sakit. Yakni sebagian orang dan mungkin antum juga pernah mengalami atau menyaksikan [berdehem] kejadian ketika dalam kondisi lapang dia bertauhid, dia mengakui keharusan bersandar hanya kepada Allah, hanya menyembah kepada Allah.
(21:58) Tapi ketika dalam kondisi-kondisi terdesak, dia tidak sabar berdoa. Dia menginginkan kesembuhan. Padahal Allah Subhanahu wa taala memilikan yang terbaik untuknya. Karena lemah keimanannya, lemah dia mengenal Allah. Dia tidak meyakini bahwasanya pilihan Allah yang terbaik. Maka dia akan mencari penyembuhan dengan cara apapun.
(22:22) Dan ini terjadi sebagian gara-gara satu penyakit yang menimpa misalnya anaknya atau cucu kesayangannya, dia sudah berusaha berobat tidak dapatkan kesembuhan seperti yang dia inginkan. Akhirnya dia mencari pengobatan yang dikatakan tadi alternatif ternyata menyerempet kepada perbuatan syirik. Padahal orangnya sudah lama mengikuti pengajian.
(22:48) Yakni belum tentu orang itu dalam keadaan lapang sama keadaannya dalam keadaan susah kecuali orang-orang yang ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya, [berdehem] ini terjadi yang seperti ini. Padahal sudah kita katakan cukuplah kesembuhan yang terbesar pada diri orang yang bersandar kepada Allah. Allah sembuhkan dia dari penyakit yang paling besar yaitu syirik.
(23:12) Lagi pula ternyata ya sebagian orang yang melakukan ini ketika dia sudah melakukan apa yang disebut tadi pengobatan alternatif dia tidak sembuh juga. [mendengus] Jadi penyakitnya semakin parah ya penyakit fisiknya apalagi penyakit penyakit hatinya, penyakit batinnya yaitu melakukan kesyirikan tadi bersandar kepada selain Allah subhanahu wa taala.
(23:35) Oleh karena itu, ikhwani wa akhwati fiddin aakumullah, ya meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa taala Asyafi’i, maha penyembuh satu-satunya. Kita harus yakini kesembuhan itu bukan seperti yang kita inginkan, yakni penyakit. Kemudian dengan berdoa sekali dua kali langsung hilang semua. Masih banyak hikmah-hikmah yang Allah Subhanahu wa taala jadikan pada diri seorang hamba ketika misalnya Allah menyembuhkannya secara perlahan-lahan.
(24:09) Bahkan mungkin tidak disembuhkan tapi disembuhkan dari sisi yang lain. Ya, belum tentu juga orang yang punya penyakit seperti ini kemudian penyakit ini menjadi sebab dia menderita atau menjadi sebab ajalnya. Misalnya banyak orang-orang yang kelihatan sehat-sehat saya, tapi kemudian ternyata dia lebih cepat mati dibandingkan orang yang kelihatan sakit-sakitan.
(24:34) Ini al kulihal yakni keimanan, sangka baik kepada Allah, mengenal sifat-sifat kesempurnaannya, selalu meyakini hikmah yang agung di balik semua bencana yang diberikannya kepada kita. Ini adalah sebaik-baik pengobatan untuk kesembuhan hati kita. Dan kita tahu sebab kesembuhan hati merupakan sebab kesembuhan semua anggota badan.
(25:00) Keyakinan yang kuat kepada Allah ya tawakal ini bisa merupakan sebaik-baik pengobatan bagi seorang hamba. Kan sudah pernah kita nukilkan pernyataan dari siapa? Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Wirum minal mard yusfauna bila tadawin ya birukatin nafiatin dawatin mustajabatin husn tawakulin. Ya kata beliau kebanyakan dari orang yang sakit itu disembuhkan dengan izin Allah subhanahu wa taala tanpa berobat.
(25:42) Jni berobat dianjurkan dalam Islam. Tapi bukan cuma itu satu-satunya cara untuk kesembuhan. Yakni orang berobat sudah berusaha dan sunah menurut jumhur ulama anjuran. Iya kan? Berobat. Tetapi ketika hal itu tidak mendatangkan kesembuhan yang kita inginkan kan usaha kita bukan cuma itu. Kata beliau, banyak orang yang sakit Allah sembuhkan tanpa berobat.
(26:12) Tapi misalnya dengan rukiah yang bermanfaat, bacakan ayat-ayat Al-Qur’an, doa-doa kesembuhan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam atau doa yang dikabulkan. Ya, [berdehem] au quatil qbi wa husnit tawakl atau kuatnya keyakinan di hatinya dan penyandarannya kepada Allah subhanahu wa taala. Karena kita lemah dalam memahami hal-hal yang seperti ini, maka buahnya pun juga Allah Subhanahu wa taala tidak berikan kepada kita secara sempurna.
(26:44) Kita hanya membaca wam yatawakala alallahi fahua hasbuh. Barang siapa yang bertawakal dengan benar kepada Allah maka Allah akan mencukupinya. Tapi siapa yang mempraktikkan ini dengan benar? Sebelum dia melakukan pengobatan, sebelum dia bertanya kepada orang ahli, dia berdoa dulu kepada Allah, membenarkan dulu penyandaran hatinya kepada Allah.
(27:04) Kan jarang yang praktikkannya. Kita selalu gelisah, mencari yang lain dulu, pengobatan dulu, mencari ini dulu, nanti berdoa kepada Allah subhanahu wa taala setelah melakukan usaha-usaha yang lain. Allah dijadikan nomor dua, nomor tiga. Bagaimana Allah Subhanahu wa taala akan memberikan buah dari tawakal.
(27:22) Padahal sudah kita ketahui di sini Allah memberikan balasan untuk tawakal itu tidak dengan makhluknya, tapi Allah sendiri yang mencukupkan hamba tersebut. Yakni kalau Allah azza wa jalla yang melakukannya, yang menjaminnya, maka siapa yang ragu dengan jaminan Allah Subhanahu wa taala bagi orang-orang yang beriman? Ya, jadi kita harus ingat di sini melakukan usaha itu bukan cuma satu [mendengus] dan tidak diharuskan.
(27:52) kita melakukan satu macam usaha saja ya. [berdehem] Yang penting kita lakukan sebab yang sesuai dengan syariat. Dan sudah pernah kita katakan berkali-kali sebaik-baik sebab yang kita lakukan adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala karena meminta langsung kepada yang punya. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, waaisa saaiun minal asbabi anfaa minadai.
(28:21) Wa ablag fi husulil matlubi minhu. Dan tidak ada satupun di antara sebab-sebab yang ada lebih bermanfaat dibandingkan doa dan lebih besar pengaruhnya dalam mencapai apa yang kita inginkan melebihi daripada doa. Tapi masalahnya doa kita kan doa seadanya. Kita lebih sungguh-sungguh melakukan sebab yakni kita bisa beli obat dengan harga yang mahal.
(28:50) Kita bisa konsultasi dengan ahli meskipun jauh ngantri bayarnya mahal. Tapi waktu berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala terburu-buru. Itu pun doanya waktu diingatkan saja. Sekali kita ingat. Yakni doa ini kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala seperti pedang. Pedang itu bagaimana kita akan bisa gunakan dengan baik kalau tidak melatih diri.
(29:15) Kalau tidak kita berusaha mempelajari apa ini jurus-jurusnya. supaya bisa maksimal dalam melumpuhkan lawan misalnya. Kalau kita gunakan seadainya ya pedang itu bahkan bisa melukai diri kita sendiri. Jadi kita kurang memaksimalkan sebaik-baik sebab ini. Tawakal kita lemah. Doa kita juga kepada Allah Subhanahu wa taala.
(29:43) Hanya doa-doa yang seperti itu saja tidak berusaha ditingkatkan kualitasnya. Ini semua yang menjadikan buah ya pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala, kecukupan dari Allah Subhanahu wa taala, ketenangan hati kita yang merupakan justru sebab utama yang akan menyembuhkan penyakit anggota badan ini lemah pengaruhnya pada diri kita.
(30:05) Dulu pernah kita ucapkan, kita nukilkan pernyataan dari sahabat yang mulia ya yang ini juga kita harus yakini. Sahabat Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma dinukil pernyataan ini oleh Imam Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyah dan yang lainnya. Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma pernah mengatakan, “Innal lil hasanati ladyaan fil wajhi wauron fil qolbi wa quwatan fil jasadi wa sa’atan fir rizki wa mahabbatan fi qulubil khalqi.
(30:37) ” Masyaallah, sebaik-baik pengobatan ini [berdehem] ya. Sesungguhnya perbuatan baik, perbuatan taat kepada Allah itu memberikan kecerahan di wajah. [berdehem] Ya, tidak perlu perawatan, wajahnya berseri-seri, cerah, [berdehem] kecerahan di wajah, cahaya di hati, kekuatan pada fisik, kelapangan rezeki, yakni kecukupan, keberkahan pada rezeki, dan kecintaan di hati makhluk kepada orang yang melakukannya.
(31:11) Ini perbuatan baik, perbuatan taat. Sebaliknya wa inna lisayiati perbuatan buruk ya menjadikan sawadan fil wajhi kehitaman kemuraman pada wajah. Wulmatan filqbi kegelapan di dalam hati. Wfan fil jasadi kelemahan pada fisik. Kalau fisiknya lemah kan mudah kena penyakit ya. Kemudian fir kesempitan pada rezekinya dan bugi qulubil khqi kebencian di hati makhluk kepadanya.
(31:47) Kita lupa bahwa bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala adalah sebaik-baik sebab untuk menjaga kebaikan pada diri kita. Kebaikan lahir maupun batin termasuk masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Dijauhkan dari penyakit yang macam-macam. Ini inti utamanya adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa taala.
(32:09) selalu bersandar kepada Allah dan selalu banyak berdoa meminta kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa taala. Barakallahu fikum. Tib. Jadi berdoa kepada selain Allah baik itu kepada para nabi atau kepada orang-orang yang dianggap wali untuk meminta rezeki atau penyembuhan penyakit. liquihi taala. Karena Allah subhanahu wa taala berfirman di surat Yunus.
(32:42) Azubillahiminasyaitanirjim. Wala tad’u min dunillahi ma la yanfauka wala yadurruk. Fain fa’alta fainnaka id minadzolimin a musyrikina billah. Janganlah kamu berdoa menyeru kepada selain Allah. kepada yang tidak bisa memberikan manfaat kepadamu dan tidak mendatangkan keburukan bagimu. Karena kalau kamu lakukan itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu adalah termasuk orang-orang yang zalim.
(33:19) Yakni orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah. Ini kan yang sudah kita katakan selalu syirik tidak masuk akal. Berdoa kepada selain Allah sementara makhluk selain Allah ini diciptakan oleh Allah. Rezekinya juga berasal dari Allah. Dia sendiri butuh dan bergantung kepada Allah. Kenapa kita minta kepada sama-sama makhluk yang lemah seperti kita? Tidak minta kepada Allah Subhanahu wa taala yang maha kuat lagi maha perkasa, yang maha kaya, yang maha kuasa atas segala sesuatu.
(33:51) Jadi ini yang menunjukkan perbuatan syirik itu adalah benar-benar perbuatan orang-orang yang sangat rendah pemikirannya. Sangat bodoh pemikirannya. Naudubillah minzalik. Waliquulihi sallallahu alaihi wasallam. [berdehem] Dan karena sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Man mata wahua yad’u min dunillahi niddan dakalanar.
(34:29) ” Barang siapa yang mati dalam keadaan dia menyeru kepada tandingan selain Allah, maka dia akan masuk ke dalam neraka. Ya, sudah pernah kita jelaskan. Kesyirikan yang paling banyak diperingatkan atau dibantah di dalam Al-Qur’an adalah kesyirikan dalam hal berdoa. Yang ini menunjukkan kepada kita bahwa memang mayoritas penyakit hati terbesar yang menimpa banyak manusia adalah kurang bersandar kepada Allah, kurang yakin dengan pertolongan Allah.
(35:06) Kurang yakin dengan kecukupan rezeki dari Allah. Ini semua berarti memang ini masalah kita yang paling besar. Sehingga terbukti kan seperti masalah doa tadi. Jarang-jarang kita berdoa hanya ketika merasa ada kebutuhan. Itu pun dengan doa-doa yang begitu saja. Padahal sudah kita sering terangkan orang-orang yang saleh dalam Al-Qur’an baca setiap mereka dipuji pasti selalu disebutkan mereka berdoa kepada Allah rogaban waohaban dengan berharap dan takut. Doanya serius sungguh-sungguh.
(35:40) khaufan wa thamaan dalam keadaan takut dan mengharapkan rahmatnya. Ya, wajar Allah berikan kepada mereka pertolongannya, taufiknya karena mereka selalu menjadikan penyandaran hati kepada Allah adalah perkara yang paling utama dan paling nomor satu mereka lakukan ya dalam pemahaman dan pengamalan tay. Kemudian wadalilu ala anna dua ghairillahi minal amwati ail gina syirkunullahi taala.
(36:21) Dan dalil yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah, kepada orang-orang mati, kepada orang-orang yang tidak hadir karena dia [berdehem] tidak akan mendengar suara kita. Ini adalah termasuk kesyirikan adalah firman Allah Subhanahu wa taala ya di dalam surah Fatir Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walladzina taduna min dunihi ma la maa yamlikuna [berdehem] min qitmir inaduhum la yasma duaakum wau samiuabu khir.
(37:16) Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian seru selain Allah tidak memiliki sesuatu sekecil apapun. Kitmir ini apa? Itu kulit tipis yang membungkus kayak kurma itu bijinya. Kalau antum makan kurma ada kulit tipis sekali kan mungkin kayak kita kulit ari begitu ya tipis sekali ya [berdehem] itu kitmir namanya untuk menggambarkan sesuatu yang tipis itu saja mereka tidak miliki tidak kuasai bagaimana untuk memenuhi hajat orang-orang yang berdoa kepadanya [mendengus] [berdehem] ya jadi orang-orang atau sembahan-sembahan yang
(37:57) kalian seru selain Allah tidak memiliki meskipun setipis kulit Ya, kulit yang membungkus biji kurma tadi. Kalaupun kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengarkan seruanmu. Karena mereka pendengarnya terbatas. Ya, manusia seperti itu. Mereka tidak bisa mengetahui orang yang menyeru dari jauh apalagi yang menyeru banyak.
(38:26) Karena yang maha kuasa untuk maha mendengarkan, maha mengetahui hajat hamba-hambnya hanya Allah Subhanahu wa taala. Jadi kalau kamu menyeru mereka, mereka tidak akan dengarkan seruanmu, doamu. Kalaupun mereka mendengarkannya misalnya dekat, mereka juga tidak bisa memenuhi apa yang kamu minta. Oh, mereka sendiri juga butuh untuk dipenuhi permintaannya kepada Allah subhanahu wa taala.
(38:52) Kemudian pada hari kiamat nanti mereka akan mengingkari perbuatan syirik yang kalian lakukan. Kalau orang-orang yang saleh pasti dia akan mengingkarinya, pasti dia akan menolak. Karena mereka sendiri justru berlomba-lomba untuk memurnikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya mereka lalai dan pasti akan mengingkari perbuatan dari orang-orang yang menjadikan mereka sebagai tandingan selain Allah.
(39:17) [berdehem] Jadi pada hari kiamat nanti mereka akan mengingkari perbuatan syirik yang kalian lakukan. Wala yunabbiuka mlu khabir. Dan tidak ada yang bisa memberitakan kepadamu sebuah berita seperti Allah yang khabir yang maha terperinci pengetahuannya. [berdehem] Ya. Maka ini gambaran yang menunjukkan kepada kita bahwa penyandaran kepada selain Allah Subhanahu wa taala bukan hanya kerugian dunia akhirat, tapi juga sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
(40:00) Sudah syirik, tidak dapatkan juga apa yang diminta, kemudian malah bersandar kepada sesuatu yang lemah. Kemudian nanti yang lebih parah lagi pada hari kiamat mereka juga tidak bisa menolong kita bahkan berlepas diri dari perbuatan orang-orang yang menjadikan mereka sebagai tandingan selain Allah Subhanahu wa taala. Naudubillah minzalik [berdehem] tayib.
(40:24) Itu jenis syirik besar yang pertama. ani. Kemudian yang kedua, asyirku fi sifatillah, perbuatan syirik dalam sifat-sifat Allah. Yakni sifat-sifat yang khusus bagi Allah diserahkan kepada makhluk. Jelas ini syirik atau dianggap makhluk memilikinya. Kaliqadi bial anbiyaa auliyaa yaamunal gaibah. Seperti keyakinan sebagian orang yang mengatakan para nabi atau wali-wali orang-orang yang dianggap wali itu mengetahui perkara yang gaib dengan sendirinya.
(41:18) Bukan pemberitaan dari Allah. Mengetahui semua perkara yang gaib. Ini berbahaya. Ini syirik. Ya, kita tahu para nabi dan para rasul yang mengetahui perkara yang gaib itu Allah beritakan bahwa itu karena Allah yang menyampaikan kepada mereka. Alimul gaibi fala yudhiru ala gaibihi ahada illa manirtad mir rasulin fainnahu yasluku min baini yadai win khalfihi rod.
(41:48) Allah yang maha mengetahui perkara yang gaib, maka dia tidak menampakkan perkara gaib ini kepada seorang pun kecuali rasul yang Allah ridai, yang Allah beritakan sebagian dari perkara gaib. Ini pun bukan semua. Iya kan? Enam. Qallahu taala di ayat dibawakan di sini di surat Al-An’am Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Waahu mafatihul gaibi la yalamuha illa hu.
(42:19) ” Dan di sisi Allahlah kunci-kunci pengetahuan yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali kecuali Allah. Jadi bayangkan meyakini orang ada yang mengetahui perkara gaib ini syirik. [berdehem] Ya, makanya para dukun dan tukang sihir yang mengaku-ngaku mengakui perkara yang gaib ini, kekufuran mereka bukan hanya karena ketika berbuat melakukan sihir mereka mempraktikkan kesyirikan dan kekufuran.
(42:50) Karena setan tidak mau melayani mereka dalam perbuatan buruk ini sampai mereka kufur atau berbuat syirik. Di samping itu, karena tadi mengaku mengaku ngaku mengetahui yang gaib ini adalah kekufuran juga. Karena ini ilmu yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa taala. Kulla yalamu ma fis samawati wal ardil gaiba illa illallah.
(43:12) Katakanlah, tidak ada satuun yang mengetahui perkara yang gaib di langit dan di bumi ini kecuali Allah subhanahu wa taala semata-mata. Ya, jadi ini juga termasuk perbuatan syirik. Asal yang ketiga, syirkul mahabbah. Syirik dalam hal kecintaan. Nah, ini termasuk penyakit hati yang besar ya. Kecintaan di hati ini kan bukan perkara yang bisa kita kuasai.
(43:51) Apa saja yang dominan kesukaan di hati kita termasuk dominan hawa nafsu yang membisikkan keburukan-keburukan di hati kita itu yang akan menjadi besar di hati kita. Nah, kalau ini sudah menandingi kecintaan kepada Allah jadinya syirik. Maka antum perhatikan sangat dekatnya hati manusia itu kalau tidak dijaga dengan Allah, tidak dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala sangat dekat dengan kemungkinan terjerumus ke dalam perbuatan syirik.
(44:20) Maka ini yang menjadikan kita harus benar-benar yakni hadar waspada dari kesyirikan. Kesyirikan itu tidak jauh dari kita kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya rbi innahunna adlalna katsir minanas. Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala ini menyesatkan banyak manusia. Ini pernyataan dalam Al-Qur’an.
(44:43) Siapa yang merasa aman setelah ada ayat seperti ini kecuali tentu orang yang mendapatkan keamanan dari Allah Subhanahu wa taala. Wahua mahabbatu ahadil auliyai whairihim kamahabbatil kamahabbatillah. yaitu mencintai salah seorang dari wali-wali atau yang selain mereka seperti kecintaan kepada Allah. Ya, khususnya jelas maksudnya di sini kecintaan itu menjadikan dia berpaling dari ketaatan kepada Allah, melalaikan dia dari mengingat Allah, menjadikan dia mendahulukan ya hal-hal yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dibandingkan mengamalkan
(45:29) ketaatan. Ini jelas syirik dan ini banyak terjadi. Ini mungkin terjadi ya pada diri seseorang tanpa dia sadari karena berhubungan dengan kecintaan di hatinya. liquihi taala ya belum [berdehem] karena firman Allah Subhanahu wa taala di surah Albaqarah kurang 5 menit 5 menit 5 menit ya karena firman Allah Subhanahu wa taala dalilnya di surat Albaqarah waminanasi may yattakhidzu min dunillahi Illah.
(46:20) Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah yang mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti mencintai Allah. Sudah pernah kita bahas di sini bahwa Imam Ibnu Qayyim menjelaskan makna ayat ini bahwa pelaku syirik itu mencintai Allah. Bukan mereka tidak mencintai Allah.
(46:42) Mereka mencintai Allah ya. Tapi dikatakan berbuat syirik karena kecintaan mereka kepada Allah sama dengan kecintaan kepada berhala-berhala yang mereka jadikan tandingan selain Allah. Ya, ini syirik. Jadi mencintai Allah saja bahkan mencintai dengan kuat belum menyelamatkan. Kalau kekuatan cintanya sama dengan kecintaan kepada berhala.
(47:09) Makanya orang-orang yang beriman yang disebutkan di kelanjutan ayat ini, inilah yang benar-benar bertauhid. Walladzina amanu asyaddu hubban lillah. Dan orang-orang yang beriman ya lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah. Yakni dibandingkan kecintaan pelaku syirik itu terhadap berhala-berhala yang mereka sembah.
(47:32) [tertawa] Jadi ini bisa menimpa manusia dalam kecintaan kepada keluarganya kalau itu sampai melalaikan dia dari ketaatan kepada Allah. Ini makanya orang-orang yang tidak tega menegur keluarganya yang berbuat salah, yang melakukan penyimpangan, tidak mau menjadikan kecintaannya adalah menjadi kecintaan karena Allah. mengajak mereka dalam kebaikan, mengajak mereka ikut pengajian, mengajak mereka untuk selalu berzikir kepada Allah.
(48:05) Ini berbahaya kecintaan yang seperti ini ya. Dan ini yang menjadi sumber malapetaka yang kadang tidak disadari pada diri seorang hamba. Karena tadi masalah kecintaan itu kan amalan hati dan hati itu akan menggerakkan anggota badan sesuai dengan apa yang dominan di dalam dirinya berupa kecintaan tadi. Makanya kalau orang kecintaannya kepada dunia misalnya dominan, pasti urusan dunia yang akan selalu menjadi kegiatan utamanya dalam sehari-hari.
(48:39) Coba orang itu memperbaiki kecintaannya kepada Allah, kecintaannya kepada agama, maka akan terlihat mayoritas hidupnya akan diisi dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, beristigfar. Ya, tapi kalau ini tidak dominan dalam hatinya, ya sudah ketika buka handphone pun pasti dia akan membuka dalam urusan-urusan dunia sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
(49:02) Kan sudah pernah kita jelaskan. Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala menyebutkan, kegiatan [berdehem] manusia yang sadar itu ya mayoritasnya dibimbing dengan apa yang dirasakan di dalam hati. Apa yang dominan di hati, kegiatan kita yang sadar yang kita lakukan dengan dengan kehendak itu yang membimbing adalah mayoritasnya adalah keinginan yang ada di dalam hati kita.
(49:26) Oleh karena itu, membenarkan kecintaan di hati kepada Allah, kecintaan kepada agama ini akan membenarkan tingkah laku kita secara keseluruhan. Otomatis lisan kita akan selalu berzikir kepada Allah. Otomatis perhatian kita terhadap agama semakin besar. Waktu kita sendiri pun yang kita akan ingat adalah berzikir kepada Allah, beristigfar dan seluruhnya.
(49:50) Ya, ini yang berhubungan dengan syirik dalam hal kecintaan ini juga besar pengaruhnya dalam ya setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala dalam meluruskan kegiatan atau aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Babakallah fikum. Kita kemandangkan azan dulu karena sudah waktu. Silakan Ikhwatan Islam, kita simak dikumenangkannya azan salat Isya untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
(50:26) Allahu Akbar. Allahu [berteriak] Akbar. Allahu Akbar. Allahu ekberşhedü en la ilaheillallah ashadu alla ilahaillallah ashadu U anna muhammadar rasulullah [berteriak] ashadu anna muhammadar rasulullah hayya alas shah. Hayya alas shah.
(51:39) Hayya [berteriak] alal falah. Hayya alal falah. [berteriak] Allahu akbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [berteriak] Allahumma salli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama salita ala ali ibrahim innaka hamidun majid. Allahumma barik ala Muhammad waa ali Muhammad kama barakta ala ali ibrahim innaka hamid majid. Allahumma rabba hadwatah wasatilqimah muhammad wasil fadilah wabu maqaman mahmud B [berdehem]
(53:45) Bab. Barakallahu fikum. [mendengus] Kita teruskan kembali ya jenis-jenis perbuatan syirik besar. Kemudian yang ketiga, asal ee yang keempat arrabi. Arrabi’ yang keempat syirkut thaah. [berdehem] Syirik dalam hal ketaatan. [berdehem] Syirik dalam hal ketaatan yaitu wahua thaatul ulamai wal masyaikhi fil maksiati maqodihim jawazaalika.
(54:31) yaitu mentaati orang-orang yang berilmu atau guru-guru orang-orang yang ditokohkan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Yakni jelas-jelas Allah halalkan mengikuti perkataan gurunya yaitu haram. Jelas-jelas dia tahu dalilnya ini haram tapi karena gurunya mengatakan halal maka dia ikut menghalalkannya. Jadi mentaati orang-orang yang dianggap berilmu atau para guru, para syekh yang ditokohkan dalam maksiat kepada Allah dengan keyakinan hal itu diperbolehkan.
(55:06) [berdehem] Ini termasuk fanatik buta. Sudah tahu dalilnya kemudian dia mengikuti pendapat yang salah hanya karena fanati kepada gurunya. Padahal dia sudah tahu itu tidak sesuai dengan dalil. Ada dalil yang sahih yang menyelisihi pendapat tersebut misalnya. [berdehem] Ya. Jadi harus ada keyakinan. Dia meyakini hal itu diperbolehkan.
(55:30) Dia meyakini boleh mentaati ucapan gurunya meskipun jelas-jelas merupakan maksiat kepada Allah. Jadi beda kalau dia tidak tahu ya bahwa itu adalah salah atau pendapat yang lemah misalnya dia tidak tahu dalilnya ada dalil yang lain yang lebih kuat begitu. Kalau ini kan tidak sampai pada kesyirikan.
(55:47) [mendengus] liquulihi taala. Karena firman Allah Subhanahu wa taala di dalam [berdehem] Al-Qur’an di surah at-Taubah ya. Itaku ahbarum waruhbanahum arbabam min dunillah wal masihha bna Maryam. Wama umiru illa liya’budu ilaha wahida la ilaha illa hua subhanahu amma yusyrikun. Mereka orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadikan akbar pendeta-pendeta mereka, tokoh-tokoh agama mereka atau orang-orang yang dianggap saleh di kalangan mereka sebagai Rabb-rob yang disembah selain Allah.
(56:35) [berdehem] Dan juga Nabi Isa Ibnu Maryam mereka jadikan sembahan selain Allah. Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah sembahan yang satu. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia. Satu-satunya Allah Subhanahu wa taala. Maha suci Allah. Amma yusyrikun dari perbuatan syirik yang mereka lakukan. [berdehem] Yaqia maallahu waahrimi ma ahallallah.
(57:07) Yang mana ibadah di sini ditafsirkan yaitu dengan mentaati tokoh-tokoh agama tersebut dalam perbuatan maksiat kepada Allah dengan menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya mengharamkan apa yang Allah halalkan. Kita pernah ketahui kan tafsiran ini disebutkan di dalam [berdehem] riwayat ya dari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(57:31) Hadis dari sahabat yang mulia, hadis yang terkenal ya, yaitu Ali bin Hatim ati yang tadinya adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam. Ketika dia datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam mendengar ayat ini dibaca langsung dia mengatakan, “Ya Rasulullah, inna lasna na’buduhum.” Wahai Rasulullah, kami tidak menyembah.
(57:52) ” Kenapa dikatakan di sini menjadikan [berdehem] tokoh-tokoh agama sebagai Rabb-rab yang disembah selain Allah? Kami tidak pernah melakukan ini. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam di hadis tersebut, “Alaisu yuhilluna ma haramallahu fatuhillunahu waurimuna ma ahallallahu faturimunahu.” Ya, bukankah mereka yuhilluna menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah? fatuhillunahu.
(58:18) Kemudian kalian ikut-ikut menghalalkannya. Sebaliknya ketika mereka ah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kemudian kalian ikut-ikut mengharamkannya. Maka beliau sahabat ini mengatakan, “Naam.” Betul wahai Rasulullah. Ya, ajal. Betul wahai Rasulullah. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Fatilka ibadatuhum.
(58:39) ” Itulah bentuk peribadatan kepada mereka. Karena yang berhak menghalalkan dan mengharamkan hanya Allah Subhanahu wa taala. Kalau sudah jelas-jelas tahu dalilnya ini haram atau ini halal, kemudian mengikuti perkataan lain dalam keadaan dia menganggap itu boleh. Ini yang dikatakan ya terjerumus ke dalam yang namanya syirik.
(58:59) Syirik ketaatan. Menyekutukan Allah Subhanahu wa taala dalam ketaatan. Ya, dengan mentaati makhluk dalam hal-hal yang jelas-jelas merupakan perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa taala. Nauzubillah minzalik. Qala sallallahu alaihi wasallam di dalam sebuah hadis yang sahih ya tadi hadisnya dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi ya dan dinyatakan hasan oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyah juga oleh Syekh Albani rahimahullahu taala.
(59:25) Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di hadis yang sahih bersabda, “La thaata limakhluqin fi maksiatil khaliq.” Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa taala, kepada sang maha pencipta. Sahihun rawahu Ahmad. Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
(59:46) Dan ini adalah hadis yang sahih juga disahihkan oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Babakallahu fikum. Cukup sampai di sini. Sampai yang keempat ya dari jenis-jenis kesyirikan besar. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji di malam hari ini bermanfaat untuk semakin menguatkan keimanan kita, memurnikan tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa taala dan semakin menjauhkan kita dari perbuatan syirik dalam segala bentuk dan jenisnya.
(1:00:12) Barakallahu fikum. Bab sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan ana persilakan. Fadal [mendengus] Silakan kalau ada pertanyaan
(1:01:38) ya. yang benar kepada Allah Taala. Kita tahu garahnya kita masukisan. Itu maksudnya selaras antara lisan dengan hati ya, Ustaz? Iya [berdehem] harus selaras antara lanisan dan hati. Cuma memang ketika iman kita lemah kadang-kadang kita mudah mengucapkan sesuatu padahal tidak sekuat yang ada di hati kita.
(1:02:06) Makanya itulah sebabnya kenapa iman itu harus selalu dibenarkan. selalu diluruskan dan [berdehem] memang iman asalnya di hati kemudian terpancar pada anggota badan. Itu pentingnya supaya nanti dalam hal mewujudkan tawakal yang sesungguhnya itu tidak hanya dengan di lisan. Makanya kata para ulama tentang makna tawakal seperti [berdehem] penjelasan dari Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala, tawakal itu adalah sidutimadilqolbi alallahi fi jalbi almanafi wfil madhori.
(1:02:38) Benarnya penyandaran hati kepada Allah subhanahu wa taala dalam mengusahakan kebaikan-kebaikan dan menolak keburukan-keburukan. Tentu disertai dengan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan dalam syariat, yakni yang diizinkan. oleh Allah Subhanahu wa taala. Nam. Asalamualaikum. Izin bertanya. Waalaikumsalam warahmatullah.
(1:03:03) Dahulu para sahabat Nabi radhiallahu anhum setelah salat mereka apa ini? Mereka untuk berbagi apa ini? [berdehem] Para sahabat Nabi setelah seles salat mereka untuk berbagi kopi dan teh gratis. Ana belum pernah dengar riwayat ada perusahaan kopi, perusahaan teh di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam ya. [berdehem] Ana belum pernah dengar ini ya.
(1:03:41) Atau mungkin membagi minuman atau makanan mungkin maksudnya begitu ya. Dikarenakan zaman sekarang ana melihat sosmet lagi viral yaitu masjid sejuta pemuda karena alasannya [berdehem] mereka membagikan kopi teh gratis itu adalah dakwah agar supaya orang-orang tertarik untuk mau mengikuti syariat.
(1:04:03) Karena orang-orang jarang salat. Apakah ini sesuai [berdehem] tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? ya memberi makan kepada orang yang membutuhkan apalagi orang-orang yang mungkin musafir ya jelas disyariatkan ya cuman tetap ini bukan kita katakan sebagai sesuatu yang harus ya meskipun bagus kalau ada orang-orang yang mempersiapkan dirinya untuk memberikan makan membagi kepada orang yang sedang perjalanan apalagi yang sedang mampir di masjid butuh pertolongan bukanlah sesuatu yang diingkari tentu saja cuman yang paling penting juga waktu kita
(1:04:33) mengajak orang-orang seperti ini tetap kita harus ajak mereka untuk salat ya. Kita ajak mereka untuk berpegang teguh dengan Islam ya. [berdehem] Jadi tentu saja kalau orang melakukan kebaikan kita dukung dan kita berdoa kepada Allah semoga Allah azza wa jalla membalas kebaikan mereka dan menjadikan sebab untuk mereka mendapatkan hidayah mengenal jalan Allah subhanahu wa taala yang lurus.
(1:04:57) Allah berikan balasan kebaikan untuk dunia dan akhirat mereka. Cuman ya kita tentu kita sarankan mereka untuk ee niatnya ikhlas. Kemudian juga adalah jangan lupa ketika berbuat baik kepada orang lain karena ini kesempatan untuk bisa mengajak karena hati mereka sedang terbuka mengajak mereka untuk berpegang teguh dengan Islam kemudian mengamalkan salat dengan benar ya mengajarkan tauhid dan kebaikan-kebaikan lainnya.
(1:05:25) Nah, maka ini yang harusnya kita usahakan ketika [berdehem] ee mendudukkan hati orang-orang yang membutuhkan karena di saat itu sedang terbuka hati mereka. Kata para ulama, ahsin ilanasi tasta’bid qulubahum. Berbuat baiklah kepada manusia, niscaya kamu akan mudah menundukkan hati hati mereka. Nah, baik.
(1:05:48) Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita di kesempatan malam hari ini. Semoga apa yang kita bahas, kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri. sallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bianin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh Roja TV.
(1:06:34) Demikianlah ikhwat al islama.
Leave a Reply