- Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu waastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
- Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanquumadakum min nafsi wahidah wq minha zaujaha w minhuma rijalanisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba ya ayyuhalladina amanutaqulaha wauluan sadida Tidak. Yuslih lakum a’alakumagfirakum dunubakum wutiillahaasulahu faq faza fauzan adima.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya.
- [mendengus] Kita memuji Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa melimpahkan taufik kebaikan bagi kita. Utamanya dalam hal yang berhubungan dengan kebaikan agama kita ya. nikmat mendapatkan hidayah menjadi seorang muslim yang kemudian dimuliakan dengan iman, dimuliakan dengan selalu mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam kemudian [mendengus] dimudahkan untuk menuntut ilmu, bisa mengkaji kitab-kitab para ulama ahlusunah wal jamaah dengan dalil-dalil yang mereka selalu nukil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan
- hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Yang ini merupakan sebesar-besar nikmat yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada manusia yang tentu saja nikmat yang agung ini ya harusnya selalu kita syukuri kepada Allah subhanahu wa taala dan menjadikan kita semakin semangat untuk memuji Allah, untuk selalu berzikir kepadanya, beribadah kepadanya dengan sebaik-baiknya sebagai bukti bahwa kita adalah hamba yang selalu selalu berusaha mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.
- Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur’an. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Fadkuruni adzkurkum waskuru li wala takfurun. [mendengus] Maka berzikirlah. Ingat, ingatlah kalian kepadaku, maka aku akan mengingatmu. Allah akan memudahkan pertolongannya bagimu. Waskuru li bersyukurlah kepadaku serta janganlah kalian kufur.
- Ayat ini menunjukkan berzikir kepada Allah merupakan puncak dari rasa syukur. Yakni kita berusaha untuk semangat beribadah kepada Allah. terus berzikir, yakni beribadah, memuji dan menyanjung Allah, terus membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, terus menuntut ilmu. Ini adalah puncak dari rasa syukur manusia kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Babakallahu fikum jemaah sekalian hafidakumullah. Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang mempertemukan kita kembali di dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Nurul Iman yang mubarak yang penuh berkah ini. Diilanjutan kajian kita membahas ya secara rutin kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Akqidatul Wasitiyah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.
- Alhamdulillah. Ini merupakan nikmat yang besar ketika seorang hamba dimudahkan untuk mengkaji kitab yang agung seperti ini yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah. Apalagi yang berhubungan dengan memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, maha agung, dan maha mulia.
- Karena ini merupakan pintu gerbang utama untuk meraih kesempurnaan iman, menyempurnakan ibadah dan penghambaan diri kita kepada Allah subhanahu wa taala. [berdehem] Kita ingat kembali ucapan dari Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi rahimahullahu taala. Manofallaha biasmaihi wa sifatihi wa af’alihi ahabbahu la mahalata. Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji, maka pasti dia akan mencintai Allah subhanahu wa taala.
- Mencintai Allah dan menjadikan kecintaan kepada Allah lebih daripada semua yang ada di dunia ini. Tidak mungkin kita akan capai kalau bukan dengan taufik dari Allah. Kemudian melalui mengenal nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi. Ya. Sementara cinta kepada Allah itu inti keimanan ya. Roh daripada iman.
- Maksudnya iman tidak akan hidup tanpanya. Ah, bagaimana mungkin iman kita akan bisa menyelamatkan kita? Bagaimana mungkin amal-amal kita akan bernilai dan diterima oleh Allah kalau tanpa ruh? Yakni artinya iman akan mati tanpanya. Ya, Syekh Abdurrahman Ass’a rahimahullah taala ketika menggambarkan kedudukan mahabbatullah, mencintai Allah, beliau mengatakan, “Hiya ruhul iman wa hakikatut tauhid wa asasut taqarub wa ainut taabbud.
- ” Mencintai Allah itu adalah rohnya iman, nyawa bagi iman. hakikat daripada tauhid ya, landasan pendekatan diri kepadanya dan inti penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa taala. Inti daripada ibadah. Bagaimana kita akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa taala kalau kita tidak mengenal ya kemahaagungannya, kemaha tinggiannya.
- Sementara kita tahu tabiat asal manusia hati mereka akan mencintai sesuatu yang indah dalam urusan-urusan dunia. Sesuatu yang indah, yang menarik, sesuatu yang sempurna kita sukai, kita cintai. Pemandangan yang indah, kita akan betah berlama-lama di situ. Sesuatu yang kita indah, kita akan senang melihatnya.
- Apalagi kalau kita mengenal yang maha indah, yang maha sempurna keindahannya. Innallaha jamilun yuhibbul jamal. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha indah dan dia mencintai keindahan.” Inilah cara untuk menumbuhkan ya hakikat ibadah yang sejati pada diri kita yang merupakan inti daripada tauhid, inti daripada ibadah.
- Makanya belajar tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala berdasarkan pemahaman akidah ahlusunah wal jamaah ini merupakan ya mempelajari ilmu ini berarti mempelajari ilmu yang paling agung, yang paling tinggi kedudukannya di dalam di dalam Islam. Kita masih ingat hadis yang pernah kita sebutkan dalam Sahih Bukhari tentang seorang sahabat yang ketika ditugaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memimpin rombongan jihad.
- Kemudian sahabat ini selalu ketika menjadi imam salat ya setelah membaca surah Al-Fatihah dan surat lainnya selalu diakhiri dengan surah Al-Ikhlas. Qulhuallahu ahad. Intinya setelah mereka pulang, setelah mereka pulang, teman-temannya melaporkan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam perbuatannya ini.
- Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam kembali menyuruh mereka, saluhu liin yasnaalik. Coba tanyakan kepadanya apa sebabnya dia melakukan itu. Ketika ditanya maka dia menjawab, “Qala liannaha sifatur rahman wa ana uhibbu an aqra biha.” Karena surah Al-Ikhlas ini mengandung sifat-sifat Allah yang maha tinggi. Dan aku cinta, aku suka membaca surat ini, aku mencintainya.
- Aku mencintai membaca surat ini. Mendengar jawaban ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akbiruhu anallaha yuhibbuh.” Sampaikan kepadanya bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mencintainya. Kata para ulama ya, sahabat yang yang mulia ini meraih kedudukan yang paling tinggi, paling mulia di sisi Allah dengan Allah mencintainya.
- Ya, dengan sebab dia mencintai surah Al-Ikhlas. Ya, ini surat yang sangat ringkas, kita semua hafal. Tapi dengan surat ini ketika direnungkan maknanya [berdehem] ketika seorang hamba membaca dan merenungkan mencintai isi kandungannya menjadi sebab Allah Subhanahu wa taala mencintainya. Yakni Allah mencintai hamba yang suka mempelajari kandungan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi.
- Maka ini merupakan sebab perbaikan keimanan kita, perbaikan akidah kita, perbaikan tauhid kita. Ya, jangan sampai kita luput untuk selalu mengkaji pembahasan yang paling penting dalam urusan agama kita. Karena inilah yang akan menyempurnakan semua ibadah kita lahir dan batin. [mendengus] Ya, as Syekh Alallamah Syekh Abdur Razzaq Albadr hafidahullahu taala dalam kitab Fiqhul Asmail Husna ketika menjelaskan hal ini menyebutkan kesimpulan.
- Wabil jumlah fal ubudiyatu bijami anwha rojiatun ila muktadatil asma wasifat. Kata [mendengus] beliau, kesimpulannya yang namanya al-ubudiyah, peribadatan, penghambaan diri kepada Allah, mentauhidkan Allah azza waalla dalam semua jenisnya, yakni ibadah lahir dan batin. Semua jenisnya, semua macam ibadah [mendengus] kembalinya kepada memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
- Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah, [mendengus] kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala mengkaji kitab al-Aqidatul Wasitiyah. Ya, kita baca penjelasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Kemudian nukilan dari [mendengus] penjelasan para ulama lainnya yang menjelaskan metode atau manhaj ahlusunah wal jamaah dalam memahami perkara yang agung ini.
- Karena masih banyak orang-orang yang menyimpang dan menyeleweng. Dan Allah sudah ingatkan di dalam Al-Qur’an. Walillahil asmaul husna faduhu bihaina yulhiduna fi asmaihi sayujza mau ymalun. [mendengus] Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kepada Allah, beribadahlah kepada Allah dengan memahami nama-namanya yang maha indah.
- Serta tinggalkanlah orang-orang yang menyeleweng dalam memahami nama-nama Allah. Sungguh mereka akan mendapatkan balasan yang pedih. Ya, azab yang pedih di sisi Allah disebabkan apa yang mereka lakukan. [mendengus] Jadi ada orang-orang yang menyimpang ketika memahami hal ini mereka tidak menggunakan, tidak mengikuti metode para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
- Tidak mengikuti metode para ulama ahlusunah wal jamaah dalam perkara yang sepenting ini. Mereka menggunakan akal, mereka menolak apa yang Allah azza wa jalla tetapkan atau kadang-kadang menetapkan tapi mentakwilkannya, yakni [mendengus] menyelewengkan maknanya. Ya, yufulunal kalim mawadiihi. Seperti orang-orang Yahudi menyelewengkan kalimat-kalimat Allah dari tempat-tempatnya. Naudubillah minzalik.
- Sementara ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini tujuannya ya Allah bermaksud untuk [mendengus] menjelaskan kepada hamba-hambnya tentang nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha agung. Supaya hamba ini mengenal kemaha. yang menjadikan hati mereka menemukan perhiasannya yang sejati, yaitu perhiasan iman.
- Tidak mungkin perkara yang sepenting ini yang tadi kita sudah sebutkan ini ya merupakan sebab yang akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, rasa takut kepada Allah, pengharapan, tawakal, dan semua sifat-sifat yang mulia ya, sifat-sifat utama yang menopang keimanan. Tidak mungkin perkara seperti ini kemudian diturunkan oleh Allah dalam keadaan yakni tidak jelas, membingungkan sehingga perlu ditakwil.
- Ini diterima dengan akal, ini ditolak dengan akal. Tidak mungkin. [mendengus] Tidak pernah kita dapati kisah atau riwayat dari para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain satu pun yang ketika mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Padahal ini mayoritas isi Al-Qur’an seperti penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.
- Tidak pernah kita dapati satuun riwayat yang [mendengus] ya di situ mereka menolak sifat-sifat Allah atau menanyakan bagaimana ini [mendengus] atau berdalam-dalam membahasnya. Mereka memahami apa adanya sesuai dengan apa yang Allah turunkan dalam bahasa Arab. Mereka memahami kemahahannya. Kemahaurnaan sifat-sifat Allah yang itu semakin menambah keimanan karena tujuannya untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah.
- Kita ingin menjadi orang-orang yang saleh, kenapa mereka bisa berlomba-lomba dalam beribadah, bersegera melakukan amalan kebaikan? Ulika yusariuna filhairati wahum lahaquun. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera melakukan kebaikan dan berlomba-lomba mengerjakannya. Kenapa mereka ketika takut kepada Allah dengan ketakutan yang sangat? Kenapa mereka selalu berharap hanya kepada Allah? Kita ingin tumbuhkan sifat ini pada diri kita.
- Ya. Nah, tentu untuk menumbuhkannya dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala adalah melalui kita mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah. Tapi tentu dengan cara yang benar. Bagaimana mungkin akan tumbuh kecintaan kepada Allah dengan benar? Kalau ketika ada ayat seseorang merasa tidak masuk akalnya, dia tolak.
- Ah, ini tidak masuk akal. Padahal akalnya yang kurang. Kenapa harus menuduh Al-Qur’an yang salah atau hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang perlu ditakwilkan? Kenapa bukan menuduh diri kita sendiri? Padahal Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Antum a’lamu amillah?” Apakah kamu lebih tahu dibandingkan Allah Subhanahu wa taala? Bukankah Allah yang lebih tahu tentang sifat-sifat yang pantas yang sesuai dengan kemahagian, kemahaungan dan kemaha muliaannya? [mendengus] Ya.
- [berdehem] Jadi, bagaimana kita akan mewujudkan iman yang benar, kecintaan yang benar kepada Allah. Kan sudah pernah kita sebutkan. Cinta itu [mendengus] akan menjadikan sesuatu yang kita kerjakan dengan dasar cinta itu menjadi nikmat, menjadi lezat. Ya. Kata Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Alfaid, al alladzatu tabiatun lil mahabbah.
- [mendengus] Kelezatan itu mengikuti rasa cinta. Orang yang keimanannya benar, kecintaannya benar kepada Allah, pengharapannya, ketakutannya benar kepada Allah, maka pasti dia rasakan manisnya iman, lezatnya iman. Salatun man kunna fihi wajada bihinna halawatal iman. Ada tiga perkara.
- Barang siapa memilikinya, dia akan merasakan manisnya iman. Iman itu ternyata manis hakikatnya. Ya. [berdehem] Kenapa dirasakan manis? Karena didasari cinta. Cinta yang benar. Ada hadis yang lain riwayat Imam Muslim.Qal iman akan merasakan kelezatan, kenikmatan iman. Nah, ini kan kita ingin capai jalurnya ya adalah mengenal Allah tadi dengan benar.
- Jadi ayat-ayat Al-Qur’an perlu kita renungkan dengan benar supaya setiap kita membaca nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tumbuh di hati kita adalah semakin yakin bahwa Allah Subhanahu wa taala memang sebagaimana yang Allah perkenalkan kepada hamba-hambanya. Dialah yang memiliki alasmaul husna, nama-nama yang maha indah.
- Sudah pernah kita sebutkan kemarin apa artinya maha indah. Balighatun fil husniataha mencapai puncak dalam kemahadahannya. Bukan sekedar indah, bukan sekedar baik. Makanya tidak boleh kita menetapkan dengan akal kita karena akal kita terbatas. Sesuatu kita anggap baik, indah, belum tentu itu sesuai dengan nama Allah.
- Karena Dia maha indah, sifat-sifatnya maha tinggi, maha sempurna. Artinya la naqso fiha biwajhin minal wuju. Tidak ada kekurangan, tidak ada cacat. Tidak ada celaan dari semua segi, dari semua sudut pandang. Kita harus menumbuhkan keyakinan ini dalam hati kita. Itulah sebabnya kita berusaha merenungkan dengan benar nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
- Karena kita yakin Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walillahil matsalul a’la.” Dan Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat-sifat yang maha tinggi. [mendengus] Oleh karena itu, di sinilah penting kita selalu merujuk kepada pemahaman para salaf, para ulama salaf, [mendengus] para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
- Sudah kita contohkan perkara-perkara yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah ini disepakati oleh mereka. Contoh sifat al-ulub, sifatnya Allah maha tinggi di atas semua makhluknya. Imam Azzahabi rahimahullahu taala, imam besar dari kalangan ahlusunah, ahlul hadis yang terkenal ya. Dalam kitab al-ulil Aliil Gffar menukil ijmak kesepakatan para ulama salaf dari kalangan sahabat, tabiin, tabiut tabiin tentang penetapan sifat ulullah.
- Maha tingginya Allah di atas semua makhluknya. Ya, apalagi sudah kita pernah sebutkan ayat-ayat Al-Qur’an sangat banyak menyebutkan hal ini. Arrahmanu alal arsyistawa. Allah yang maha pemurah beristiwa di atas arsynya. Maha tinggi di atas arsynya. Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar. Dan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya.
- Tentu dia lebih besar dibandingkan semua makhluknya. Al-ulu maha tinggi mencakup semua makna. Tinggi pada zatnya, maha tinggi sifat-sifatnya maha tinggi alkohor kemahakuasaannya. Kemahakuatannya. Sehingga ketika Allah memutuskan sesuatu, menakdirkan sesuatu, tidak ada yang bisa melawannya. Tidak ada yang bisa luput darinya atau lolos darinya.
- yang seperti ini masih ada orang-orang yang mentakwil dan mengingkari sifat kemahagian Allah. Sehingga kata para ulama, orang yang mengingkari ini kufur karena jelas-jelas ayat Al-Qur’an, hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan [berdehem] ya kita pernah sebutkan Nabi sallallahu alaihi wasallam waktu [berdehem] didatangi oleh sahabat Muawiyah Ibnu Hakam radhiallahu taala anhu yang menceritakan tentang budak perempuannya yang ingin dia merdekakan ya. Karena budak itu kan dimerdekakan
- kalau sudah beriman [berdehem] ya. Karena kalau dia masih kafir lebih baik di dimajikannya supaya dia tetap mendengarkan ajaran Islam, mendengarkan Al-Qur’an. Ketika itu Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh datang budak perempuannya tersebut. Ini dalam Sahih Muslim, hadis sahih. Ketika di hadapan Nabi sallallahu alaihi wasallam, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada budak ini, “Ya ainallah, di mana Allah?” Ini Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menanyakannya, menunjukkan pertanyaan ini disyariatkan. [mendengus]
- Maka budak ini menjawab, “Fissama Allah di atas langit,” yakni di atas semua makhluknya. Waman ana? Dan siapakah saya? Siapakah aku? Budak ini menjawab, “Anta Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Engkau adalah rasul utusan Allah.” Ketika mendengarkan ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda kepada sahabat Muawiyah Ibnu Hakam ini, “Atiqha fainnaha mukminah.
- ” Merdekakanlah, bebaskan budakmu ini. Karena dia adalah seorang perempuan yang beriman dengan dua pertanyaan dihukumi dia sebagai seorang yang beriman. Ya, hal-hal yang seperti ini disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih, yakni tidak ada tempat untuk mengingkarinya, tapi masih ada orang-orang yang mengingkarinya dengan tadi karena kejahilan, mendewakan akal, tidak merujuk kepada dalil.
- Padahal kalau mereka sungguh-sungguh membaca Al-Qur’an dengan perenungan yang benar, kembali kepada penafsiran para ulama ahlusunah wal jamaah. Alhamdulillah kitab-kitab tafsir bahkan sudah ada terjemahan tafsir Ibnu Katsir, tafsir Syekh Abdurrahman Ass’di rahimahumullahu taala. Masyaallah kita akan dapati penjelasan yang benar-benar menyejukkan hati kita karena Al-Qur’an diturunkan ya sebagai sebab yang akan menyejukkan hati kita.
- Tentu saja sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diturunkan untuk menghidupkan hati kita. Bukan untuk membikin bingung atau malah semakin menjauhkan dari Allah Subhanahu wa taala. Ingat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bersabda, “Inna matalama baataniallahu bihi minal huda wal ilmi kamali gitin asoba ardon.
- ” [mendengus] Sesungguhnya perumpamaan atau permisalan dari petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan kepadaku, ya yang Allah utus mengutusku dengannya adalah seperti perumpamaan hujan yang bermanfaat yang diturunkan di muka bumi. Wallahi, sungguh demi Allah waktu kita belajar akidah, mengenal tauhid, mengkaji sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, kita rasakan hati kita sejuk sebagaim seperti permukaan bumi yang disirami hujan.
- Tapi kalau kita belajar dengan metode yang tidak jelas, sedikit-sedikit ada ayat dipertanyakan, ya. Padahal orang-orang yang beriman itu waid tuliat alaihim ayatuhuadathum imanan. Ketika dibacakan di hadapannya ayat-ayat Allah bertambah imannya, mereka justru semakin bertambah penolakannya, justru mempertanyakannya, justru menganggap tidak masuk akal, tidak sesuai dengan akal.
- Padahal akal yang sehat siapa yang ciptakan? Al-Qur’an siapa yang turunkan? Tidak mungkin bertentangan antara petunjuk yang Allah turunkan dengan akal yang benar, yang lurus yang Allah ciptakan pada diri manusia. Oleh karena itu, ini semua sekedar kita ingatkan bahwa ya nikmat mengenal akidah yang benar itu adalah nikmat yang paling besar yang Allah karuniakan dalam hidup kita.
- Karena inilah sebab yang akan menjadikan lapang jiwa kita, menjadikan tenang hati kita. Alladina amanu watinul qulubuhum bidikrillah ala bidikrillahi tatmainulub. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang, menjadi tentram ketika mengingat Allah, ketika mendekatkan diri kepada Allah. Ketahuilah dengan mengingat Allah, dengan mendekatkan diri kepada Allah, hati manusia hanya dengan itu, hati manus hati manusia menjadi tenang, jiwanya menjadi tentram.
- Ya, oleh karena itu ini yang menjadikan kita semangat selalu berusaha mengkaji permasalahan akidah ya. Apalagi dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah yang maha tinggi lagi maha agung maha besar dengan selalu mengikuti metode para ulama ahlusunah wal jamaah dalam menjelaskan pembahasan yang sangat penting dalam urusan agama kita ini.
- [mendengus] Tib saat ini kita akan melanjutkan pembahasan yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala [berdehem] ya. masih tentang dalil-dalil yang beliau nukilkan yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Yaitu saat ini kita akan membahas tentang sifat maiyatullah [mendengus] ya, sifat kebersamaan Allah.
- [mendengus] Sifat maiah. Kita harus ingat Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala [mendengus] dan ini merupakan ya kalamullah, firman Allah yang tentu kandungannya sangat penuh dengan kebaikan, indah, saling menjelaskan satu sama lain dan tidak ada pertentangan padanya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Afala yatadabbarunal Quran walauana minillahi fi ikhtilafan.
- ” Apakah mereka tidak merenungkan isi Al-Qur’an? Seandainya Al-Qur’an itu dari sisi selain Allah, mestinya mereka mendapati banyak pertentangan atau kontradiksi di dalamnya. Tapi karena dari sisi Allah semua tidak mungkin ada pertentangan padanya. [mendengus] Ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat maiyah Allah bersama makhluknya ini tidak bertentangan dan tidak mungkin kontradiksi dengan ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat kemahagian Allah di atas arsynya.
- Ya, seperti misalnya firman Allah Subhanahu wa taala di surat Al-Hadid ayat yang keempat [mendengus] ya yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala di dalam kitab ini. [mendengus][berdehem] Allah Subhanahu wa taala berfirman azubillahiminasyaitanirjim. Hualladzi khalaq samawati wal ard fi sittati ayyamin tummwa alal ars [mendengus] ylamu ma yaliju ardhi w yakruju minha w yanzilu minasama w ya y’ju fiha wahua maakum ainama kuntum wallahu bima tamaluna basir.
- Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi di dalam 6 hari kemudian Allah beristiwa di atas arsynya. Yakni istawa artinya ala wartafa maha tinggi di atas arsynya. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. dan dia bersamamu di mana pun kalian berada.
- Dan Allah Subhanahu wa taala maha melihat apa yang kamu lakukan. [mendengus] [berdehem] Kemudian di surah Al-Mujadalah atau Al-Mujadilah ayat yang keet7 Allah Subhanahu wa taala juga menyebutkan tentang sifat ini. Ma yaku minatin illa huiuhum wamsatin illa hua sadisuh wala adna minzalika wala aksara illa hua maahum ainamau tumma yunabbiuhum bima amilu yaumalqiamah innallaha bikulliin alim.
- Ya, [berdehem] tidaklah terjadi najwa pembicaraan rahasia yang mereka lakukan ya, tiga orang kecuali Allah yang menjadi keempatnya dan tidaklah lima orang kecuali Allah menjadi keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih dari itu kecuali Allah selalu bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Allah akan mengabarkan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat pada hari kiamat nanti.
- Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui segala sesuatu. Ini ayat termasuk yang banyak dipahami secara keliru oleh orang-orang yang tidak mengenal ya akidah yang benar berdasarkan manhaj ahlusunah wal jamaah. Mereka mengartikan dengan serampangan. Wahua maakum ainama kuntum. Yakni Allah ada di mana saja di semua permukaan bumi ini sampaiun nauzubillah minzalik di dalam tempat-tempat yang kotor.
- Yakni ketika orang dalam Allah juga bersamanya. Ya taalallahualika. Maha tinggi dan maha suci Allah dari pemahaman yang buruk ini dengan kemahagian ya yang agung. [berdehem] Sifat maiah itu diterangkan oleh para ulama [berdehem] bahwa maknanya itu adalah kebersamaan yang bersifat mutlak.
- Karena nanti kita akan sebutkan ya maiyah itu ada yang umum, ada yang khusus. Karena ada yang Allah khususkan misalnya dengan sifat-sifat terpuji dalam agama dan dengan orang-orang tertentu. Seperti ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Innallaha maalladina taqau walladzina hum muhsinun.” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
- [mendengus] Atau misalnya wallahu maobirin. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala bersama orang-orang yang bersabar. [mendengus][berdehem] Sekarang kita artikan dulu. Seperti diterangkan oleh Syekh Ibnu Utsimin rahimahullahu taala, kata-kata maa atau maiah dalam bahasa Arab itu secara bahasa bisa mengandung tiga arti, ya.
- Ada yang mengandung arti ikhtilat atau mukhalath. Misalnya orang mengatakan, “Syaribtul maa maaban.” Aku minum air bersama susu. Yakni dicampur dengan susu. Bisa berarti musoahabah ya berdekatan. Misalnya kita mengatakan, “Roaitu Ahmad maa zaidin yamsiani ilasuk atau yadhabani ilasuk.” Aku melihat Ahmad bersama Zaid ya bersama berjalan bersama.
- Aku melihat Ahmad bersama Zaid. Keduanya berjalan menuju pasar misalnya artinya berdekatan. Ada juga yang mutlak mutlak kebersamaan [berdehem] meskipun tidak berdekatan. Seperti Ibnu Taimiyah rahimahullah taala mencontohkan pernyataan orang Arab ee yang mengatakan penyair Arab yang mengatakan mazilna nasiru fill laili wal qomaru maana.
- Kami tetap melakukan perjalanan di mala di malam hari dan bulan bersama kami, bulan menyertai kami. Tidak ada seorang pun yang memahami kalimat ini bahwa bulannya turun di samping mereka jalan. Ya, bulan tetap di atas langit, tapi sinarnya karena menyinari mereka dikatakan bulan bersama kami. Ya. [berdehem] Kemudian Syekh Utsimin rahimahullah taala mencontohkan misalnya ketika ada seorang pasukan ee seorang komandan pasukan mengatakan kepada pasukannya, “Pergilah kalian ke medan perang ya, ke medan perang dan aku
- bersama kalian.” yakni dia berdiri di tempatnya sebagai komandan. Kemudian pasukannya pergi. Tapi dikatakan karena dia mengawasi mereka, melihat mereka dari jauh, dikatakan dia bersama mereka. Ya, sebagaimana seorang ibu mengatakan kepada anaknya, “Pergilah kau menuntut ilmu. Doa ibu selalu bersamamu.
- ” Ibunya berdoa di rumahnya, tapi karena dalam doanya yang disebutkan itu anaknya, dikatakan ini bersama. Ya, [berdehem] alulihal. Ini contoh yang dicontohkan oleh para ulama tentang masalah makna yang ketiga dari bersama tidak mesti mengandung arti berdekatan atau bercampur satu sama lain. Bab sudah waktu azan ya.
- Insyaallah nanti kita teruskan setelah selesai salat. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Allahu [bernyanyi] Akbar. [bernyanyi] Allahu Akbar. Allahu [bernyanyi] Akbar. Allahu [bernyanyi] [bernyanyi]
- Akbar. ashadu alla [bernyanyi] ilahaillallah [bernyanyi] [bernyanyi] [bernyanyi] Ashadu alla [bernyanyi] [bernyanyi] ilahaillallah. [bernyanyi] ashadu anna muhammadar
- [bernyanyi] rasulullah [bernyanyi] [bernyanyi] asadu [bernyanyi] Muhammad Rasulullah. [bernyanyi] Hayya alas shah. [bernyanyi] [bernyanyi] Hayya alas.
- [bernyanyi] [bernyanyi] [bernyanyi] Hayya alal [bernyanyi] falah. [bernyanyi] Hayya alal falah. [bernyanyi] [bernyanyi]
- Allahu [bernyanyi] Akbar [bernyanyi] Allahu Akbar. La [bernyanyi] ilahaillallah [berdehem] [bernyanyi] Allahu U akbar. Allahu [bernyanyi] akbar. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar [bernyanyi]
- rasulullah. Hayya alas shah. Hayya alal falah. [bernyanyi] Qad qomatis. Qad qomatis. Allahu akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallah [bernyanyi] lurus. Allahu Akbar. Alhamdulillahirabbil
- alamin. arrahmanirrahim maiki yaumiddin iyyaka na’budu wa iyyaka nasta ihdinasiratal mustaqimathalladina alaiimad alhaju ashurum maumaan wq
- jibala fil haj wama taf’alu min khairin ya’lam watazawwadu fainna khairzal taqwa wattaquuni junah tablanbikum faidza akum min aatin fagfurullahaal masaril Waduruh kama hadakum [bernyanyi] min qablihi minadin tummaid
- min haitsu afadasu wastagfirullah Innallaha gfurur rahim. Allahuakbar. Samiallahu liman hamidah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.
- Allahu Akbar. Alhamdulillahirabbil alamin arrahmanirrahim maiki yaumiddin. Iyaka na’budu wa iyyaka nasta ihdinasirathal mustaqim sirathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdubi alaihim wadin Faidza qitum
- manasikakum fadkurullaha kadikum aba fahumu asyadda zikro faminansi atina fid dunya w lahu fil akhirati min khalaq waminhum yaquulu rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanat lahum nasibum mim kasabum wallahu
- Allahu akbar Samiallahu liman hamidah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu
- Akbar. Allahuakbar. Allahu Akbar.
- Samiallahu liman hamidah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Subhanallah.
- Allahu Akbar. Samiallahu liman hamidah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu
- Akbar. Yes. Asalamualaikum warahmatullah.
- Asalamualaikum warahmatullah. Asalamualaikum warahmatullahi.
- Alhamdulillah Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufiihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah takziman lisyanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu addi ila ridwan shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba’. Alhamdulillah Bapak, Ibu, dan Jemaah sekalian hafidakumullah.
- Jadi, kita kembali membahas tentang sifat maiyatullah. Tadi sudah kita jelaskan dalam pengertian bahasa Arab pun ternyata kata-kata maa atau maiyah tidak mesti mengandung mengandung arti bercampur atau berdekatan. Ya. Sehingga seperti yang tadi kita sebutkan ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala menyebutkan pernyataan orang Arab ya mailna nasiruil walqaru maana.
- Kami terus melakukan perjalanan di malam hari dan rembulan menyertai kami atau bersama kami. Ini tidak menunjukkan bulannya turun ke samping mereka berjalan bersama. Kan begitu. [mendengus] Kemudian tadi juga kita sebutkan contoh dalam penggunaan bahasa Arab ya. Bahkan dalam bahasa kita, saya sering menyebutkan contoh ya, bahwa penggunaan kata-kata bersama tidak mesti mengandung arti berdekatan.
- Contoh misalnya kalau kita menyaksikan ee penyiar televisi yang mengajak ee masyarakat misalnya menyaksikan atau mendengarkan pidato kenegaraan presiden, dia mengatakan, “Marilah kita bersama mendengarkan pidato kenegaraan yang dibawakan oleh Bapak Presiden di Istana Negara.” Kan ini bukan berarti semua orang harus datang ke sana.
- Masing-masing menyaksikan dari rumahnya karena perhatiannya sama, maka dikatakan ini bersama. atau kalimat misalnya, “Marilah kita bersama-sama membangun negeri ini, membangun negeri ini.” Tidak mesti kita harus berdekatan membangunnya masing-masing di daerah sendiri-sendiri. Ya, [berdehem] pada hari ini kaum muslimin bersama-sama melaksanakan bersama melaksanakan misalnya salat Idul Fitri ya.
- Ini masing-masing melaksanakan di tempatnya sendiri-sendiri tapi karena perhatiannya sama, karena semangat mereka sama dikatakan bersama. Dan ini menunjukkan kata-kata bersama tidak mesti mengandung arti berdekatan atau bercampur. Oleh karena itulah sifat maiyatullah itu dibagi oleh para ulama ya menjadi dua.
- Ada maiyah yang amah mutlaqoh yang bersifat umum dan mutlak. Allah bersama semua makhluknya yakni secara umum. Baik yang kafir, yang muslim, yang taat, maupun yang durhaka. Artinya Allah ya meliputi mereka dengan pendengarannya, penglihatannya, ilmunya, kekuasaannya, pengaturannya dan semua makna rububiyah. Kita perhatikan ayat yang tadi kita sebutkan dalam surat Al-Hadid kan diakhiri dengan wallahu bima tamaluna bir dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan.
- Berarti kebersamaan di sini adalah Allah bersama dengan mereka dengan penglihatannya, pengawasannya. Kalau ayat yang kedua tadi ya, [berdehem] ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan bahwa dia bersama orang-orang kafir yang melakukan pembicaraan rahasia itu dalam rangka untuk melawan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.
- Allah menyebutkan di akhir ayat ini, innallahaliiin alim. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui segala sesuatu. Berarti Allah bersama mereka dengan pengetahuannya yang maha sempurna. Yakni Allah meliputi mereka dengan pengetahuannya, penglihatannya, pendengarannya dan semua makna rububiyah yang lainnya.
- Yang kedua, almaiyatul khasah. Kebersamaan Allah yang bersifat khusus. Yaitu karena ini khusus berarti ada makna tambahan. Ketika Allah menyebutkan bahwa dia bersama misalnya tadi innallaha maasobirin. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar. Ini kan khusus karena dikhususkan yang punya sifat sabar.
- Berarti di sini ada makna tambahan. Di samping Allah melihat mendengar mereka juga Allah akan selalu menolong mereka. Ada makna annasru watyid. Watyid. Allah menolong. Allah selalu mendukung mereka. Allah selalu menjaga mereka. memberikan taufik kepada mereka. Ya Allah selalu melindungi mereka dari segala keburukan. Kayak tadi innallaha maalladina taqau walladina hum muhsinun.
- Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Nah maiah yang khusus pun kebersamaan yang khusus ini pun di dalam Al-Qur’an disebutkan ada dua macam. Ada yang dikaitkan dengan sifat, ada yang dikaitkan dengan orang, dengan manusia. Contoh seperti ya kalau yang sifatkan tadi bersama orang yang bersabar, bersama orang yang bertakwa dan orang-orang berbuat kebaikan.
- Kalau yang bersama dengan syaks, yakni manusia. Seperti ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar Assiddiq ketika mereka bersembunyi di dalam goa dari kejaran orang-orang kafir Quraisy. Ya taniini idhuma fil gari id yaqulu lhibihi la tahzan innallaha maana. Dia adalah satu dari dua orang yang [berdehem] berada di dalam gua tersebut ya di bukit di bukit yang tempat mereka dikejar itu di Bukit Tsur ya.
- Huma fil ketika keduanya berada di dalam gua ketika dia berkata kepada temannya yakni Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar Asiddiq radhiallahu taala anhu. La tahzan inallaha maana. Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. Ini kebersamaan yang lebih khusus lagi dibandingkan tadi dengan sifat kayak orang yang bersabar, orang yang bertakwa.
- Kemudian ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Musa dan Harun alaihialatu wasalam, innani maakuma asmau wa arro. Sesungguhnya aku bersama kalian berdua, aku mendengar dan melihat. Ya, ini berarti lebih khusus lagi. Yang jelas sifat kebersamaan Allah Subhanahu wa taala ini ya kita pahami sebagaimana yang dipahami oleh para ulama ahlusunah wal jamaah, yang diterangkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah bahwa ini adalah makna yang hakiki, makna yang sesungguhnya.
- Tetapi dengan pengertian yang tadi kita sebutkan di dalam bahasa Arab, kalimat maa atau bersama itu ternyata mengandung pengertian. Tiga pengertian tadi tidak mesti mengandung makna berdekatan sehingga diartikan dengan pengertian yang sangat keliru tadi ya. Orang yang mengatakan Allah Subhanahu wa taala itu berada di mana-mana. Ini keliru.
- Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya. Kemudian dengan pengawasannya, pendengarannya, penglihatannya yang maha sempurna, dia bersama hambanya. Karena Allah Subhanahu wa taala meliputi semua makhluknya. [berdehem] Tib. Sama juga seperti hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda menyebutkan sifat kebersamaan Allah yang khusus ini.
- Ya, dalam sebuah hadis qudsi yang sahih Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wa ana maa abdi haitsuakaroni wataharakat biyafatahu. Dan aku bersama hambaku ketika hambaku berzikir kepadaku. Yakni berzikir memujiku, menyebutku, mengingat Allah. Dan ketika lisannya syafaatahu, yakni kedua bibirnya bergerak untuk memuji Allah, mengagungkan Allah, membesarkannya.
- Makanya ini menunjukkan keutamaan orang yang berzikir kepada Allah. Dia mendapatkan kebersamaan Allah yang bersifat yang bersifat khusus. Maka inilah makna kebersamaan Allah Subhanahu wa taala yang tentu saja faedah kita mengimani sifat Allah ini ya menjadikan kita selalu ya merasakan pengawasan Allah. Kita mengetahui dan meyakini pendengaran Allah, penglihatan Allah, pengetahuan Allah tentang semua perbuatan kita adalah sempurna.
- Menjadikan kita seharusnya selalu takut kepada Allah Subhanahu wa taala meskipun kita sendiri. Ya. Kemudian bagi orang yang melakukan sifat-sifat terpuji yang kemudian disebutkan ada kebersamaan Allah yang khusus ini menjadikan dia semakin yakin ketika berpegang teguh dengan sifat-sifat terpuji tersebut. bahwasanya Allah subhanahu wa taala akan selalu memberikan taufik kepadanya, akan selalu menolongnya, melindunginya dari segala keburukan, memudahkannya dalam segala kebaikan, menjadikan seorang hamba selalu yakin dengan pertolongan Allah
- Subhanahu wa taala yang dekat dengan hamba-hamba yang beriman. Jadi ini ya [mendengus] yang berhubungan dengan makna sifat maiyatullah ya yang sekali lagi hendaknya kita pahami dengan benar. Karena di sini para ulama ya benar-benar ya bersepakat menyatakan tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah Subhanahu wa taala di mana-mana dengan zatnya.
- Ini pernyataan yang kufur karena bertentangan dengan dalil-dalil yang sahih dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sudah juga kita bahas di pertemuan yang lalu tentang sifat kemahagian Allah Subhanahu wa taala. Bahwa Dia maha tinggi di atas arsynya. Makanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala membawakan pembahasan tentang sifat maiyatullah setelah sifat al-ul maha tingginya Allah.
- Karena ini bersesuaian agar kita memahaminya dengan benar bahwa kedua sifat ini tidak bertentangan. Karena Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat-sifat yang maha tinggi, yang maha agung sesuai dengan kemaha besarannya dan kemaha muliaannya. Bab. Barakallahu fikum. Alhamdulillah selesai sampai di sini pembahasan tentang masalah ini. Semoga kita bisa mengambil faedah dan semakin menguatkan keyakinan kita tentang Allah Subhanahu wa taala.
- Semakin menjadikan kita merasa mantap dan yakin dengan mengikuti akidah ahlusunah wal jamaah. Apalagi dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Inilah yang akan menyelamatkan kita dari penyimpangan-penyimpangan dalam masalah keimanan, masalah tauhid. masalah berakidah kepada Allah subhanahu wa taala. Barakallahu fikum.
- Ya, sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan maka saya persilakan ya. sallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain walhamdulillahiabbil alamin. 418 I silakan. Waalaikumsalam. Iya. Barakallahu fikum. Pertanyaan
- sangat baik dan bermanfaat sekali. Bagaimana kiat-kiat kita untuk istiqamah di akhir zaman yang penuh dengan fitnah saat ini? Kalau sampai orang-orang yang berilmu saja bisa tergelincir, apalagi kita. Iya. Barakallahu fikum. Semua kebaikan istiqamah termasuk penjagaan dalam kebaikan, perlindungan dari keburukan itu semua di tangan Allah Subhanahu wa taala. Maka selalu berdoa kepada Allah.
- Jangan pernah yakni kita menjauh dari berdoa. Apalagi di waktu-waktu dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa taala antara azan dan iqamat sepertiga malam yang terakhir ya waktu kita berpuasa menjelang berbuka puasa kita manfaatkan. Dan ingat perkara yang paling penting memang dalam urusan agama kita adalah penjagaan iman kita agar tetap kita teguh di atasnya, tetap istikamah di atasnya [mendengus] ya.
- Bukti bahwasanya istiqamah ini sangat penting. Allah mewajibkan kita untuk selalu berdoa meminta keteguhan di atas iman, di atas hidayah. Itu di setiap rakaat salat kita dalam surat Alfatihah. Iya e ihdinasiratal mustaqim. Ya Allah tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Ini kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala maknanya bukan hanya meminta hidayah saja tapi juga thabutat alaiha meminta keteguhan di atas hidayah.
- Karena orang saat ini mungkin dia bisa ngaji, bisa melaksanakan amal-amal kebaikan besoknya bagaimana, seterusnya bagaimana sampai di akhir hayatnya. Apalagi kita tahu manusia itu amal yang penutupannya itu yang akan menentukan. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih, innamal a’malu bil khawatib.
- Sesungguhnya amal manusia tergantung dari penutupnya, akhirnya. Ya, kalau penghuni surga saja di dalam Al-Qur’an ketika mereka mau surga mereka mengatakan alhamdulillahilladzi hadana lihadza w kunna linahtadiya laula an hadanallah. Segala puji bagi Allah yang memberikan hidayah kepada kita sehingga bisa masuk ke dalam surga.
- Dan sungguh kita tidak akan mendapatkan hidayah kalau bukan karena hidayah dari Allah. Berarti hidayah itu kan dibutuhkan di dunia sampai di akhirat sampai masuk surga. Jadi tidak boleh kita lepas dari meminta hidayah, meminta keteguhan dan istiqamah. Ini ini sebab yang paling penting selalu kiat itu yang paling pertama adalah berdoa dan meminta kepada Allah karena semua kebaikan ada di tangannya.
- Makanya Ibnu Taimiyah rahimahullah taala mengatakan, “Innadua miftahu kulli khairin.” Sesungguhnya berdoa kepada Allah adalah kunci segala kebaikan, kunci pembuka segala kebaikan. Kemudian melakukan sebab-sebab yang disebutkan di dalam agama kita. Contoh seperti dua kalimat ini merupakan jaminan keteguhan iman yang Allah janjikan di dalam Alquranitullahina amanuun ak Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
- Ada penafsiran dari Nabi sallallahu alaihi wasallam di hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang makna kalimat yang teguh di ayat ini. Yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar. Yakni tauhid, menjauhi kesyirikan, berpegang teguh dengan sunah, dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang dari sunah.
- Kemudian membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya. Ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an ya. [berdehem] Kadzalika linutabbita bihi fuada waralnahuila. Demikianlah kami turunkan Al-Qur’an itu berangsur-angsur supaya kami kuatkan hatimu dengannya. Menunjukkan kalau kita baca Al-Qur’an pelan-pelan kita pahami maknanya ini sebab yang menguatkan hati kita.
- Ya, makanya pengajian yang mengkaji tafsir, yang mengkaji hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, yang mengkaji masalah-masalah akidah ini sebab utama yang akan meneguhkan keimanan kita ya. Tentu juga disertai dengan menjauhi fitnah ya, fitnah harta, fitnah kedudukan. Kalau kita sudah tahu ada ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengingatkan kita tentang fitnah harta.
- Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Inna likulli ummatin fitnah wa fitnatu umatial ma.” Sesungguhnya masing-masing umat ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta. Berarti tidak boleh kita PD menghadapi harta atau kedudukan atau kekuasaan. Ya, artinya kita selalu berlindung kepada Allah dan tidak berambisi untuk mencarinya.
- ya, tidak sampai menghabiskan semua waktu kita untuk mengejar urusan-urusan dunia seperti ini. Agama ini lebih penting untuk kita utamakan. Kita berikan waktu untuk belajar, untuk mengkaji agama, untuk selalu mempelajari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Kita usahakan sebab-sebab seperti ini. Kemudian minta nasihat.
- Jangan ragu-ragu. Kalau kita merasa iman kita sedang turun, hadir di pengajian, ada teman kita minta nasihatnya atau ada ustaz yang kita kenal minta nasihatnya. Karena meminta nasihat ini menjadi sebab Allah Subhanahu wa taala menguatkan kita ya. Seorang saudara kita bisa menjadi sebab untuk nasihatnya itu membuka hati yang tertutup ya mengingatkan tentang kesalahan dan kelalaian kita.
- termasuk menghadiri majelis ilmu sendiri kan merupakan bagian dari berteman dengan orang-orang yang baik ya. Di majelis ilmu kita akan lihat orang yang semangat, akhirnya kita juga akan ikut semangat ya. Kita akan terpengaruh dengan orang-orang yang selalu bergaul dengan kita. Makanya kita bergaul dengan orang-orang yang baik, selalu menghadiri majelis ilmu, insyaallah ini merupakan sebab yang akan menguatkan keimanan kita ya.
- Dan selalu kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa taala dari sebab-sebab yang menjerumuskan atau memalingkan kita dari jalan Allah Subhanahu wa taala. Barakallahu fikum. Bab cukup sampai di sini insyaallah kajian kita. Semoga bermanfaat. Sekali lagi mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallahu wasallam wabarak ala nabina muhammadin waa alihi washbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuhikumsalam
#23 Menetapkan Sifat Allah Al-Maiyyah – Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply