#25 Menetapkan Al Qur’an Adalah Kalamullah (Firman Allah) – Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina may yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan dan abduhuasul ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqq tuq wala tamutunna illa wa antum muslimun ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan
  • inallahaikum yaina amanqulaha waanadida [berdehem] yuslih lakum aalakumagfirakum dunubakum w yutiillahaasulahu faq faza fauzanima Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah.
  • Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat taufik kebaikan yang diberikannya kepada kita. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang mudahkan kita untuk kembali bertemu, berkumpul di majelis ilmu yang mulia di malam hari ini di Masjid Nurul Iman yang mubarak ini.
  • di lanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat yang kitab yang sangat bermanfaat yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah wal jamaah yaitu kitab Al-Aqidatul Wasitiyah buah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Ya, barakallahu fikum. Saat ini kita masih melanjutkan pembahasan di ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, yang maha agung, yang maha mulia.
  • Yang mana pembahasan ini merupakan pembahasan tentang ilmu yang paling agung, yang paling mulia dalam Islam secara mutlak. yang karena yang dikaji dalam pembahasan ini adalah tentang Allah zat yang maha mulia, yang maha agung, maha sempurna. Dan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala adalah bukan makhluk.
  • Karena nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala ada pada zatnya yang maha mulia. Sehingga dengan membahas tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala dengan pemahaman yang benar, inilah cara kita mengenal Allah Subhanahu wa taala. Yang kita tahu dengan kita mengenal Allah Subhanahu wa taala, kita akan mencintainya dengan benar.
  • Kita akan selalu berharap kepadanya, kita akan takut, tunduk kepadanya, bertawakal, rida, dan semua kebaikan-kebaikan lainnya yang merupakan ibadah-ibadah hati yang agung yang bahkan itu merupakan inti dari ibadah, ketaatan dan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa taala. [mendengus] Sudah berkali-kali kita ulangi makna firman Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur’an di surah Fatir.
  • Azubillahiminasyaitanirrajim. Innama yaksyallaha min ibadihil ulama. hanyalah yang takut kepada Allah di antara hamba-hambnya hanyalah orang-orang yang berilmu. Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini, a al ulamaul arifuna bihi. Maksudnya berilmu di sini adalah berilmu yang mengetahui, yang mengenal Allah Subhanahu wa taala, yang mengenal nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi.
  • Kata beliau selanjutnya kata Ibnu Katsir rahimahullahu taala, liannahu kamaatilfatu billahi atamma wal ilmu bihi akmalaatil khasyatu lahu aoma wa aksar. Hal ini dikarenakan semakin bertambah, semakin pengetahuan seorang hamba, semakin pengenalan seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa taala semakin kuat, semakin bertambah, dan ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin dipahaminya, maka otomatis akan menjadikan rasa takutnya, ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa taala semakin besar dan semakin Min kuat pula. Jemaah sekalian
  • hafidakumullah. Pelajaran tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tentang sifat-sifat Allah yang sudah pernah kita sebutkan menurut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala juga bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini adalah mayoritas isi Al-Qur’an.
  • Karena Allah Subhanahu wa taala memang menjadikan mengenal kemahaungannya, kemaha besarannya adalah perkara yang paling dibutuhkan untuk menyempurnakan keimanan manusia untuk menguatkan ketakwaan di hati manusia kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, kita ingat kembali pernyataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala.
  • Akmalunasi ubudiyatan alaabidu lillahi bijamil asma wasifat alaiha alar. Orang yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah, yang paling sempurna dalam menunaikan ibadah kepada Allah adalah yang beribadah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang bisa dipahami oleh pemahaman manusia.
  • Oleh karena itu, Jemaah sekalian hafidakumullah, saat ini kita sedang dalam kebaikan besar, dalam ibadah yang besar. Karena kita membahas kitab al-Aqidatul Wasitiyah, tujuannya kita membahas prinsip-prinsip dasar akidah, landasan utama keimanan. Dan ini adalah sarananya, yaitu menuntut ilmu.
  • Mengkaji kitab-kitab para ulama ahlusunah wal jamaah yang selalu membuat penjelasan bagaimana akidah ahlusunah wal jamaah didukung dengan dalil-dalil. Ya, kita bahas pembahasan dalam kitab ini kan selalu yang dibawakan ayat-ayat Al-Qur’an berturut-turut beberapa ayat dibawakan untuk menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala.
  • Nanti lagi akan ada di bawakan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Karena akidah Islam yang benar tentu mestinya paling banyak dijelaskan, paling diberikan perhatian besar untuk banyak disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
  • Contoh seperti masalah yang berhubungan dengan memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala dengan benar. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walillahil asmaul husna fad’uhu biha.” Dan Allah Subhanahu wa taala memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kamu kepada Allah, beribadahlah kamu kepada Allah dengan memahami nama-namanya.
  • Wulladzina yulhiduna fi asmaihi sayujzauna mau yammalun. Dan tinggalkanlah orang-orang yang yulhidun, menyeleweng, menyimpang dalam memahami nama-nama Allah, sungguh mereka akan mendapatkan balasan azab yang pedih karena apa yang mereka lakukan itu. Ini jelas. Al-Qur’an [berdehem] memberikan penjelasan tentang masalah ini dengan sangat gamblang.
  • [berdehem] Makanya ketika kita mengkaji kitab-kitab seperti ini, sungguh demi Allah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala karena kita dimudahkan memahami akidah yang sangat agung ini. Sebab yang menguatkan, menyempurnakan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala ini ya. Bagaimana mungkin kita akan bisa mencintai Allah, tunduk kepada Allah dengan ketundukan yang sebenarnya kalau kita tidak mengenal keindahannya dengan benar.
  • Apalagi orang-orang yang selalu menyelewengkan makna nama-nama dan sifat-sifat Allah. Bahkan ada yang menolaknya, tidak menerima apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih. Ada juga yang berani atau lancang menyelewengkan maknanya. mentakwilkannya. Bagaimana orang ini akan selamat keyakinannya? Bagaimana akan benar ibadah dan amal ketaatan yang dilakukannya? Padahal sudah pernah kita sebutkan.
  • Iya kan? Ibadah itu adalah intinya alhubbul kamil maadzullit tam. Kecintaan yang utuh, kecintaan yang sempurna dan ketundukan diri yang utuh kepada Allah. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala tentang makna ibadah, “Ibaratun amma yajmaal hubbi waalliillah.” Sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan kesempurnaan sikap tunduk kepada Allah.
  • Nah, bagaimana orang yang ah tidak mengenal Allah atau salah dalam memahami ya perkara yang berhubungan dengan mengenal Allah ini nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi. Keliru dalam memahami hal ini, bagaimana akan tumbuh dengan benar kecintaannya kepada Allah, ketundukannya kepada Allah, pengharapan dan rasa takutnya kepada Allah.
  • Jadi, hanya orang yang memahami dengan benar permasalahan ini, inilah yang akan bisa membenarkan keimanannya. akan bisa meluruskan ibadahnya, akan bisa menumbuhkan ikhlas di hatinya, khusyuk dalam salatnya, dalam ibadahnya, akan bisa menjadikan jiwanya tenang ketika menghadapkan diri kepada Allah. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala yang juga sudah berapa kali kita nukilkan.
  • Man arrofallaha biasmaihi wasifatihi wa af’alihi ahabbahu la mahalata. Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan perbuatannya yang maha terpuji, pasti dia akan mencintai Allah. Fitrah manusia akan mencintai keindahan. Apalagi ini yang maha indah, apalagi ini yang maha agung, maha besar, maha sempurna.
  • Pasti hatinya akan mencintai Allah dan bahkan menjadikan kecintaan kepada Allah pastinya melebihi dari kecintaan kepada apapun yang ada di dunia ini. Maka dengan sebab inilah iman akan hidup. Karena cinta kepada Allah Subhanahu wa taala seperti yang dinyatakan oleh Syekh Abdurrahman Ass’adi rahimahullahu taala, kedudukannya dalam Islam, cinta kepada Allah itu adalah ruhul iman waqiqatut tauhid wa ainut taabbud wa asasut taqarub.
  • Cukup empat ini saja sudah mewakili semua kebaikan dalam agama. Apa kedudukan cinta kepada Allah dalam Islam? Dia adalah roh keimanan, nyawa iman. Akhirnya artinya iman tidak akan hidup tanpanya. Cinta kepada Allah yang benar. [mendengus] Dia adalah hakikat tauhid. Ainut taabbud, inti penghambaan diri kepada Allah.
  • Wa asasut taqarub dan landasan utama pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa taala. Maka tidak akan benar ibadah dan penghambaan diri seorang hamba kepada Allah tidak akan bernilai zikir-zikir yang diucapkannya ataupun bacaan Al-Qur’an yang dibacanya, doa-doanya kepada Allah kalau dia salah dalam mengenal Rabbnya. [mendengus][berdehem] Ya, bahkan tidak akan mungkin dia akan terbimbing untuk semangat dalam beribadah kalau dia salah dalam mengenal Allah Subhanahu wa taala.
  • tidak mensikapi dengan benar makna nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Lihatlah ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur’an, “Mensifati orang-orang yang lalai dari mengenal Allah, mengingat Allah, yang berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa taala yang benar.
  • ” Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wala takunu kalladina nasullaha faansahum anfusahum ulaika humul fasiquun.” Dan janganlah kamu berbuat seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah jadikan dia lupa kepada dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Yakni orang lupa kepada dirinya, dia tidak akan mengetahui kemaslahatan untuk dirinya.
  • Dia tidak akan semangat beribadah, bahkan melalaikan ibadah. Dia akan lupa kepada tujuannya. Akhirat nanti dia akan lalai dengan dunianya sehingga dilalaikan, disibukkan. Semua keburukan-keburukan ini adalah akibat dari berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa taala. berpaling dari pemahaman yang benar dalam mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha mulia.
  • Di ayat yang lain di surat Alkahf Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wala tut man agfalna qbahuikrina wataba hawahu wana amruhu fur dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang kami jadikan hatinya lalai. dari mengingat kami mengingat Allah serta dia memperturutkan hawa nafsunya sehingga menjadikan keadaan dan urusannya semua melampai batas semuanya rusak.
  • Inilah hamba yang berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan pengenalan yang sebenarnya. Babakallahu fikum jemaah sekalian hafidakumullah. di pertemuan kita yang terakhir di bulan yang lalu pembahasan kita di kitab al-Akqidatul Wasitiyah ini sampai pada pembahasan isbat sifatil kalami lillah. menetapkan sifat al-kalam berfirman bagi Allah subhanahu wa taala.
  • [berdehem] Allah berfirman, “Ya, dengan suara yang didengar dengan [berdehem] disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an ya. Misalnya ketika Allah subhanahu wa taala berfirman, “Wakallamallahu Musa taklima.” Dan Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Musa dengan sebenarnya. [berdehem] Bahkan disebutkan di dalam beberapa dalil ya Allah Subhanahu wa taala yunadi memanggil.
  • Kemudian ada juga yunaji. Kalau memanggil itu dari jauh, kalau munajat dari dekat. Yakni semua makna yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada hamba-Nya yang tentu kita yakini sebagaimana sifat-sifat yang lain. Sifat-sifat ini adalah sifat yang maha tinggi sesuai dengan kemaha besaran dan kemahagungan Allah.
  • Tidak mungkin sama dengan apa yang ada pada makhluk. Ini kaidah secara umum. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Laisa kamitlihi saiun wahua samiul bashir.” Tidak ada satuun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala. Maka dan dialah yang maha mendengar lagi maha melihat. Dan di sini tentu saja dengan kita mengimani meyakini Al-Qur’an itu adalah firman Allah dan firman Allah ini adalah sifat Allah.
  • sifat yang ada pada zat Allah berarti dia bukan makhluk. Ya. Sehingga kita meyakini bahwa tentu membaca Al-Qur’an adalah amal saleh yang paling tinggi kedudukannya dalam Islam dibandingkan amal-amal lisan lainnya misalnya seperti memuji Allah, berzikir atau berdoa. Memang ini juga besar keutamaannya tapi tidak akan melebihi keutamaan membaca Al-Qur’an.
  • Ya, demikian pula ayat Al-Qur’an kedudukannya [berdehem] tentu tidak sama dengan ucapan-ucapan yang lain. Contoh seperti misalnya Al-Qur’an, hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam kan diucapkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sendiri. Ya, adalah sabda-sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sendiri.
  • meskipun maknanya dari Allah Subhanahu wa taala. Beda dengan Al-Qur’an lafaz maknanya dari Allah Subhanahu wa taala sehingga Al-Qur’an kita membaca lafaznya itu adalah ibadah. [berdehem] Apalagi kita pahami kandungan maknanya lebih utama lagi ya. Beda dengan yang lainnya seperti hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Sekedar membaca lafaznya tidak bisa kita jadikan sebagai ibadah. Misalnya tidak bisa kita baca di dalam Al-Qur’an setelah Al-Fatihah misalnya kita baca hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam kita jadikan seperti Al-Qur’an. Jelas tidak bisa. Karena kalamullah adalah firman Allah Subhanahu wa taala lafaz dan maknanya.
  • Sehingga sudah pernah kita jelaskan juga ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa dia menjaga kemurnian Al-Qur’an. Inna nahnu nazalnadikra wa inna lahu lahafidun. Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an ini dan kamilah yang akan menjaganya. Ingat yang dijaga di sini lafaz dan maknanya.
  • Karena Al-Qur’an adalah lafaz dan makna. Sehingga sebaik-baik orang yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang merenungkan kandungan maknanya. Dan ini merupakan sebaik-baik petunjuk untuk ya semakin banyak kita baca dan kita pahami kandungan Al-Qur’an semakin menguatkan keimanan di hati kita, menumbuhkan kebaikan-kebaikan dalam hati kita.
  • Yang ini tentu lebih baik daripada sekedar membaca tapi tidak merenungkan merenungkan isinya. Ala kulihal inilah firman Allah ya yang merupakan sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa taala. Nah, sekarang pembahasan kita selanjutnya adalah menetapkan isbatul Quran kalamullah. Isbatu annal qurana kalamullah. Menetapkan bahwa Al-Qur’an itu adalah firman Allah.
  • Dan ini disebutkan secara tegas di dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah. Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan bukan makhluk. Firman Allah dan bukan makhluk diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi. Ya. Dan kita tahu orang-orang yang menentang pemahaman yang benar ini dari kalangan orang-orang Muktazilah dan yang lainnya yang mereka mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk sampai terjadi perdebatan [berdehem] fitnah yang besar ujian di zaman para ulama ahlusunah wal jamaah ketika mereka
  • membela mempertahankan akidah Islam yang benar. Ini contoh [berdehem] yang kita selalu dengar kisahnya adalah kisah yang masyhur dari Imam Ahmad bin Hambbal rahimahullahu taala. Bagaimana Allah subhanahu wa taala meneguhkan keimanan beliau ketika terjadinya fitnah ini, yaitu khalifah yang ada saat itu menguji dan menyuruh memaksa para ulama untuk mengakui akidah yang menyimpang ini yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk.
  • Bahkan yakni memaksa para ulama ahlusunah wal jamaah untuk mengatakan ucapan tersebut. Ya, termasuk yang teguh dengan pendiriannya sampai mendapatkan yakni penyiksaan di penjara dan seterusnya adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala yang dengan sebab ini Allah Subhanahu wa taala jadikan akidah ini akidah yang kokoh di kalangan kaum muslimin karena beliau tidak mau mengikuti ya paksaan dari penguasa saat itu.
  • yang tentu saja penguasa di sini terpengaruh dengan seorang tokoh Muktazilah Ibnu Abi Duad ya yang kemudian yakni mempengaruhinya dengan syubhat kerancuan sehingga meyakini akidah yang sesat ini. Intinya ketika itu para ulama sampai mengatakan ya dengan sebab keteguhan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala, para ulama mengatakan, “Innallaha nasaral Islam bi Abi Bakrin Siddiq yauma riddah yaumar riddah wabi Ahmad ibn Hambal yaumal mihnah.
  • ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala menolong Islam ini, menjaga agama Islam ini dengan keberadaan sahabat Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu, khalifah yang mulia yang beliau bersikap tegas di hari ketika banyak kabilah-kabilah Arab yang murtad sepeninggal setelah wafatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Karena ketegasan Abu Bakar Assiddiq, fitnah ini ya dengan izin Allah bisa dipadamkan.
  • Kemudian dengan keberadaan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala ketika di hari zaman Khalifah Makmun yang menguji dan memaksa para ulama untuk mengucapkan akidah yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah ini. [mendengus] Ya. Dan ini merupakan ya satu hal yang menunjukkan kepada kita bahwa akidah Islam yang benar itu akan selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala.
  • Nah, saat ini kita akan lihat ayat-ayat [berdehem] Al-Qur’an yang menegaskan tentang Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan benar-benar berasal dari sisi Allah Subhanahu wa taala, bukan makhluk. Ya. Dan apa arti Al-Qur’an? Ya, Al-Qur’an adalah apa yang dibaca oleh imam ketika salat, ya. Waktu membaca Al-Fatihah dan surat.
  • Ya. Kemudian apa yang kita yang dihafal oleh penghafal Al-Qur’an di dalam dada mereka, apa yang ditulis di dalam mushaf ya tentu tidak perlu lagi kita pertanyakan. Misalnya kalau begitu bagaimana suara yang mengucapkannya atau kertas yang menulisnya? Ya, jelas yang namanya kertas atau suara manusia ya pastinya makhluk.
  • Tapi yang dibaca itu adalah Al-Qur’an. Dan seperti itulah yang dinyatakan di dalam dalil-dalil yang sahih ya, yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Tayib. Ada berapa ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam pembahasan ini.
  • Yang pertama yaitu firman Allah di surah at-Taubah ayat yang ke-6. Allah Subhanahu wa taala berfirman, azubillahiminasyaitanirrajim. Wain ahadum minal musyrikinastajaroka faajirhu hatta yasmaa kalamallah. [mendengus] Oke, terjemahan ayat ini At-Taubah ayat ke6 ya. Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik itu, jika salah seorang dari kaum musyrikin itu istajaroka meminta perlindungan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan yakni tinggal
  • bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian dijaga keselamatannya. Faajirhu. Maka berikanlah perlindungan kepadanya. Jadikan dia tinggal bersamamu sehingga dia bisa mendengarkan kalamullah. Sehingga dia bisa mendengarkan firman Allah. yakni mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, oleh Nabi Muhammad alaihi salalatu wasalam yang dibaca oleh kaum muslimin.
  • Ketika dia tinggal misalnya di tempat yang di situ dekat dengan masjid, dia akan dengarkan bacaan Al-Qur’an, mendengarkan penjelasan Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sering menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an. Jelas sekali di sini maksudnya sehingga dia bisa mendengarkan firman Allah. Berarti Al-Qur’an adalah firman Allah.
  • Karena tidak mungkin orang musyrik ini langsung Allah Subhanahu wa taala berbicara dengannya. Kan ya tentu adalah ya Allah hanya berikan kepada hamba-hamba yang dipilihnya dari kalangan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Ya. [berdehem] Maka ayat ini jelas sekali menyebutkan bahwa [berdehem] ketika terjadi di masa Nabi sallallahu alaihi wasallam ada seorang musyrik yang datang meminta untuk tinggal bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian meminta perlindungan maka Allah perintahkan untuk terima.
  • Jadikan dia tinggal dekat masjid supaya dia bisa mendengarkan firman Allah Subhanahu wa taala. Karena tentu orang musyrik paham ya di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam orang musyrik Arab paham bahasa Arab. Dan Al-Qur’an adalah tentu sebaik-baik nasihat yang akan membuka hati orang-orang yang Allah kehendaki baginya kebaikan.
  • Ya, di sini juga menggambarkan atau menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an ini itu pengaruhnya ketika didengarkan oleh orang-orang yang memang sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran itu sangat luar biasa. Akan menjadi sebab, sebaik-baik sebab yang akan membuka hatinya untuk menerima kebaikan Islam. Ini yang selalu kita tekankan tekankan ya, bahwa kita jangan bosan-bosan untuk mendengarkan nasihat yang dalam nasihat itu di nukilkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Bahkan sungguh nasihat itu tidak akan terasa nilai manfaatnya kalau tidak ada nukilan dalil dari Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kita lebih percaya dan lebih yakin dengan pengaruh kebaikan. Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dibacakan daripada sekedar ucapan manusia biasa.
  • Ya, terbukti dengan ayat ini Allah perintahkan ya orang musyrik ini diterima supaya dia bisa mendengarkan firman-firman Allah yang dengan sebab itu dia dapat hidayah masuk Islam. Dan terbukti seperti itu. Bahkan beberapa di antara sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang masuk Islam ketika dia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibaca yang kemudian dia meyakini keindahan ayat-ayat Al-Qur’an ini.
  • Ya, bahkan bukan dari kalangan manusia, dari kalangan jin seperti yang disebutkan dalam surah Aljin ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an memberikan petunjuk yang lurus mereka kemudian mengatakan inna samal qurana ajaba. Sesungguhnya kami mendengarkan Al-Qur’an yang sangat mengagumkan. Ya, maksudnya ini pelajaran bagi kita semua ya.
  • Kalau kita ingin nasihati orang, jangan ragu untuk menyebutkan Al-Qur’an. Karena ini adalah sebaik-baik nasihat. Ini justru lebih baik daripada ucapan kita sendiri. Ya. [berdehem] Tayib. Jadi Allah Subhanahu wa taala menegaskan di dalam ayat ini bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah. Sebagaimana akidah ahlusunah wal jamaah, Al-Qur’an kalamullah munazzalun minillah giriru makhluk.
  • Al-Qur’an itu adalah firman Allah diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala dan bukanlah makhluk ya. Ya, tentu saja seperti kita katakan tadi, orang-orang Muktazilah yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah, mereka mengatakan Al-Qur’an itu makhluk bukan kalamullah. [berdehem] Ya, mereka berdalil yang tentu saja dengan syubhat.
  • Seperti dengan firman Allah Subhanahu wa taala di surah Az-Zumar ayat ke-62. Allahu kholiqu kulliai wahua ala kulliyaaiin wakil. [berdehem] Ya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan dia ala kulli saaiin wakil. Maha menjaga, maha melindungi segala sesuatu. Dia mereka mengatakan Al-Qur’an termasuk asyai.
  • Sementara Allah mengatakan di sini Allah pencipta segala asyai, segala sesuatu. Jadi Al-Qur’an termasuk sesuatu kata mereka. Berarti Allah menciptakan. Karena Allah mengatakan di sini pencipta dia adalah pencipta segala sesuatu. Maka tentu saja kita jawab. Pertama Al-Qur’an itu sifat dari [berdehem] sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
  • Jelas bukan makhluk. [mendengus] Di antara bukti bahwasanya kalamullah bukan makhluk kan kita diperbolehkan di dalam Islam bahkan diajarkan di dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimatnya yang maha sempurna. Seandainya kalamullah atau kalimat-kalimat Allah itu makhluk berarti ini syirik.
  • Karena tidak boleh berlindung dengan selain Allah Subhanahu wa taala. Seperti doa yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Ya, doa yang diajarkan ketika seseorang itu nazala manzilan singgah di satu tempat ya atau mungkin singga di tempat menginap tertentu. Kata sebagian dari para ulama termasuk misalnya orang menempati rumah baru dia membaca [berdehem] zikir.
  • Auzubikalimatillahi tammati min syarri ma khalaq. Auzubikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna ya dari kejahatan semua makhluknya. [mendengus] Berlindung kepada selain Allah syirik hukumnya. Tidak mungkin Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita kepada kesyirikan karena di sini kita berlindung dengan makhluk.
  • Ini menunjukkan bahwasanya kalamullah, kalimat-kalimat Allah bukan bukan makhluk. Makanya kita bisa berlindung dengannya. [berdehem] Seperti Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika mengucapkan dalam doanya, audubiri min sakatika. Ya Allah, aku berlindung dengan keridaanmu dari kemurkaanmu. Keridaan Allah bukan makhluk karena termasuk sifat-sifat Allah.
  • Berarti diperbolehkan yang seperti ini. Nah, jadi Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan kalamullah itu adalah ada pada zat Allah dan dia bukanlah makhluk. [mendengus] Kemudian ya firman Allah Subhanahu wa taala di ayat tadi, Allahu khaliquai. Allah menciptakan segala sesuatu ya tidak berarti semua yang ada dikatakan makhluk.
  • Contohnya Al-Qur’an firman Allah bukan makhluk. Sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama ya, ayat atau bentuk lafaz seperti ini dalam bahasa Arab kadang-kadang dimaksudkan umum yang dikehendaki padanya khusus. Amun yuradu bihi alhas. Sesuatu yang umum yang dikehendaki atau dimaksudkan padanya kekhususan. Contoh seperti misalnya ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang ee ratu Saba disebutkan dalam Al-Qur’an di surah Annaml ketika mensifati kerajaannya wat utiat min kulli walaha arsyun adim.
  • Ratu ini diberikan atau didatangkan padanya segala sesuatu dan dia memiliki singgahsana yang besar. Waat minai dikatakan begitu. Diberikan padanya segala sesuatu. Masuk akal. Apakah semua yang ada di dunia ini ada di kerjaan tersebut? Pasti ada yang tidak ada kan? Tapi karena banyaknya [berdehem] ya sehingga dikatakan seolah-olah diberikan padanya segala sesuatu.
  • Tapi ada pasti hal-hal yang tidak ada di kerajaannya. [berdehem] Ya, sama juga seperti ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Tudammiru kullaiin biamribiha faasbahu la yuro illa masakinuhum.” Angin itu menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Allah Subhanahu wa taala biamri rabbiha. Maka pagi-pagi di pagi harinya tidak terlihat kecuali rumah-rumah mereka lah.
  • Berarti rumahnya tidak dihancurkan kan? Padahal Allah mengatakan menghancurkan segala sesuatu. Buktinya rumah-rumah mereka masih terlihat. Al kulihal ya kita katakan di sini Allah pencipta segala sesuatu. Ya memang segala sesuatu yang merupakan makhluk Allah ciptakan. Tapi yang bukan makhluk yakni kalamullah ya tentu ini bukanlah yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa taala.
  • Karena kalamullah adalah sifat Allah. Firman Allah adalah sifat Allah yang ada pada zat Allah Subhanahu wa taala. Ini yang disebutkan oleh sebagian dari para ulama [berdehem] bantahan terhadap ee pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Tib itu ayat yang pertama. Kemudian ayat yang kedua yang menjelaskan tentang hal ini yaitu firman Allah di surah Albaqarah ayat ke-75.
  • [mendengus] Allah Subhanahu wa taala berfirman ya tentang [berdehem] mereka orang-orang yang menolak kebenaran, orang-orang ahlul kitab yang berpaling dari petunjuk Rasul sallallahu alaihi wasallam. Waqquum minhum yasmauna kalamallahi yuhirifahu ba’di maqamunakum waq minhum yasma kalamallahi ba’di maq wahum yamun.
  • Apakah kalian tetap berharap bahwa mereka itu akan mau beriman, membenarkan kalian? Padahal sungguh sebagian dari mereka benar-benar telah mendengarkan. Sebagian dari mereka itu ada yang mendengarkan kalamullah, [tertawa] mendengarkan firman Allah. Setelah itu mereka menyelewengkan firman Allah itu. Menyelewengkan firman Allah Subhanahu wa taala itu setelah mereka memahaminya dalam keadaan mereka mengetahuinya.
  • Dikatakan di sini padahal sebagian dari mereka mendengarkan kalamullah. Kira-kira dia dengarkan dari mana? Apakah langsung dari Allah? Kan tidak mungkin. Iya kan? Dia mendengarkan yang dibaca oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Karena Al-Qur’an menjelaskan tentang ya penjelasan tentang para nabi yang terdahulu.
  • Petunjuk mereka memuji dan membenarkan para nabi-nabi yang terdahulu mereka telah dengarkan. Tapi tetap saja mereka kemudian menyelewengkan maknanya berpaling dari petunjuknya. Ini jelas menunjukkan sekali lagi yang mereka dengarkan adalah Al-Qur’an. Allah mensifatinya di sini sebagai kalamullah bukan makhluk. Ini merupakan dalil bahwa yang didengar oleh orang-orang ahlul kitab tersebut adalah ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam maupun yang dibaca oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Bab kita akan lanjutkan insyaallah sedikit beberapa ayat lagi kita baca setelah selesai pelaksanaan salat Isya. Barakallahu fikum. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi ajma walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Allahu akbar. Allahu akbar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  • [mendengus] Alhamdulillah Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrullahu ala taufikihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwan shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba’du barakallahu [mendengus] fikum maasyiral muslim maasyiral ikhwa wal akhwat fidin Hafidakumullah aakumullah.
  • Kita teruskan kembali membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di dalam kitab al-Akqidatul Wasitiyah ini untuk menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk sebagaimana akidah ahlusunah wal jamaah. Ya, ada lima ayat yang dibawakan oleh beliau di sini.
  • yang dua ayat sudah kita bahas. Kemudian ayat yang ketiga kita terangkan saja secara ringkas ya, karena maknanya sudah lebih sama seperti yang sebelumnya. Alayatus thah ayat yang ketiga yaitu firman Allah Subhanahu wa taala di surah Al-Fath ayat ke-15. Azubillahiminasyaitanirrajim. Yuriuna ayubaddilu kalamallah tattabiuna kadalikum qallahu minqobl.
  • [berdehem] Ya, ini menceritakan tentang orang-orang Arab Badui yang [berdehem] [mendengus] ya tidak ikut dalam peperangan, tapi kemudian ingin ikut ketika dalam pembagian rampasan perang. Allah berfirman tentang mereka, “Yuriduna yubadilu kalamallah.” Mereka ini ingin menggantikan, ingin merubah kalamullah, yakni merubah ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an.
  • Maksudnya sekali lagi Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di sini bahwa ya Allah Subhanahu wa taala menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamnya, firman-Nya. [mendengus] Qadzalikum qallahu minqabl. Seperti itulah Allah Subhanahu wa taala berfirman sebelumnya. Jadi jelas sekali ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah dengan penegasan dari Allah Subhanahu wa taala sendiri ketika menyebutkan bahwa mereka-mereka yang melakukan perbuatan tersebut ingin merubah ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an. Maka Allah Subhanahu wa taala
  • menyebutkan mereka itu ingin merubah kalamullah. Berarti Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Baik. Tib. Kemudian di ayat yang keempat Allah Subhanahu wa taala juga menyebutkan tentang penetapan hal ini. itu di firman Allah di surah Al-Kahf ayat ke-27 [berdehem] yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ayat yang keempat yaitu Alkahf ayat yang keet7 watlu ma uhiya ilaika min kitabika la mubadila likalimatih [mendengus]
  • Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman memerintahkan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Watluma bacakanlah kepada mereka apa yang wahyu yang Allah turunkan kepadamu dari kitab Allah dari kitabullah Al-Qur’an. Tidak ada yang bisa menggantikan kalimat-kalimat Allah. Ini menunjukkan Al-Qur’an adalah kalamullah.
  • Ya, [berdehem] Al-Qur’an adalah wahyu yang Allah Subhanahu wa taala turunkan dari sisinya. Di dalamnya terdapat kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan ini adalah kalamullah [mendengus] dan bukan makhluk sebagaimana akidah ahlusunah wal jamaah. Ini juga dalil yang beliau bawakan untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah.
  • ya, diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan ketika Al-Qur’an tersebut ditulis dalam mushaf juga tetap namanya adalah kalamullah. Ketika Al-Qur’an dibaca oleh pembaca Al-Qur’an, dibaca oleh imam dalam salat, dia tetap adalah kalamullah. Sebagaimana yang dihafal di dalam [berdehem] ee dada-dada para penghafal Al-Qur’an tetap dikatakan sebagai kalamullah.
  • Tib. Kemudian ayat yang kelima adalah firman Allah Subhanahu wa taala di surah An-Naml ayat ke-76. Inna hadal qurana yaquusu ala bani israil aksaradzi hum fihi yakhtalifun. Sesungguhnya Al-Qur’an ini menceritakan kepada Bani Israil kebanyakan dari hal-hal yang mereka perselisihkan. Kata-kata yakusu menceritakan Allah maksudnya yang menceritakan dalam Al-Qur’an ya.
  • Dan kata para ulama yaakussu menceritakan itu harus dengan ucapan. Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala berfirman, menceritakan tentang kisah Bani Israil. Maka ayat ini dari kata-kata yaakusu menunjukkan Allah Subhanahu wa taala berfirman ya ketika menceritakan kisah-kisah ini di dalam Al-Qur’an berarti ini menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah karena [berdehem] Allah Subhanahu wa taala yang menceritakan kisah-kisah tersebut dalam firmannya sehingga bisa kita baca, bisa kita dengarkan dari orang yang membacanya. Sekali lagi ini
  • juga menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk sebagaimana akidah ahlusunah wal jamaah. Babakallahu fikum. Inilah lima ayat yang dibacakan atau dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala untuk menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Sekali lagi Al-Qur’an sebagai kalamullah ya bagaimanapun bentuknya.
  • Apakah itu ditulis oleh orang yang menulisnya atau dicetak dalam mushaf ataupun dihafal di dada orang-orang yang menghafal Al-Qur’an, dibaca oleh pembaca Al-Qur’an atau imam yang membaca dalam salat, tetap dikatakan itu adalah sebagai Al-Qur’an. Karena yang namanya ucapan itu dinisbatkan kepada siapa kali siapa yang pertama kali mengucapkannya.
  • Seandainya sekarang saya mengatakan sebuah lafaz di hadapan antum, saya mengatakan innamal [berdehem] bin niat wa innama likulriin ma nawa. Ini adalah ucapan siapa? Ucapan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Iya kan? Jadi ucapan itu dinisbatkan kepada yang pertama kali mengucapkannya. [mendengus] Ketika saya membaca sebuah hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, antum tah antum mengatakan itu adalah hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam meskipun yang mengucapkannya adalah saya.
  • Iya kan? Tapi kita katakan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ketika antum mendengarkan, “Saya pernah [berdehem] mendengar sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam.” Apakah berarti antum dengar langsung dari Nabi sallallahu alaihi wasallam? Kan dengarnya dari penceramah, iya kan? Atau dari ustaz yang menyampaikannya. Maka seperti itulah kalamullah.
  • Allah sebutkan firman Allah yang dibaca itu tetap adalah firman Allah. Firman Allah yang dihafalkan itu adalah firman Allah. Firman Allah yang tertulis dalam mushaf itu adalah firman Allah. tetap dikatakan dia sebagai kalamullah. Berarti Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk sebagaimana akidah ahlusunah wal jamaah. Nah, barakallahu fikum.
  • Bab, cukup sampai di sini insyaallah pembahasan tentang masalah ini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan maka saya persilakan. Barakallahu fikum. [mendengus] Iya. Iya. Barakallahu fikum.
  • Kalau menurut akidah ahlusunah wal jamaah, orang yang mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk, hukumnya kufur. Karena sifat Allah adalah sifat-sifat maha sempurna. Makanya tadi kita bisa berlindung dengan sifat Allah Subhanahu wa taala. Misalnya kita berlindung dengan rahmat, minta pertolongan. Birahmatika astagitu.
  • Iya kan? Ya hayyu ya qayyum birahmatika astagitu. Wahai Allah yang maha hidup maha berdiri sendiri. Dengan rahmatmu aku mohon pertolongan. Seandainya sifat Allah itu makhluk tidak boleh kita minta pertolongan dengan makhluk. Iya kan? Al kulihal. Jadi konsekuensinya itu ya jelas merupakan menisbatkan kepada Allah sifat kekurangan yang tidak pantas bagi kemahaungan dan kemaha besarannya.
  • Firman Allah adalah jelas [mendengus] ya bersumber dari sisi Allah Subhanahu wa taala ada pada zat Allah yang menunjukkan bahwa ini adalah tidak mungkin makhluk karena tidak mungkin ada yang ada pada zat Allah Subhanahu wa taala adalah makhluk. Nah, barakallahu fikum. [mendengus] Tib.
  • Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bishsanin ila yaumiddin. Wa akhir dakwana anilhamdulillahi rabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik.
  • Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Oh, masyaallah. Oh, masyaallah.

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *