alaikumqiba. Ya ayyuhalladina amanutqulaha wauluan sadida. had kitabullahir huda huda Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhatu wa muhda bidah wa bidatinalah waalatin finar W ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala yang memudahkan banyak kebaikan, selalu melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita bisa tetap berpegang teguh dengan agamanya.
tetap dimudahkan untuk menunaikan kewajiban kita melaksanakan salat subuh secara berjamaah. Dimudahkan dengan taufiknya untuk berkumpul bertemu kembali di dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Al-Ikhlas yang mubarak ini. Ya, di lanjutan kajian membahas kitab yang sangat bermanfaat, Attaudihu Wal Bayanu lisyajaratil iman.
Penjelasan tentang pohon iman tulisan Asyekh Alallamah Abdurrahman bin Nasir Ass’di rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Pembahasan tentang pohon iman ini merupakan perkara pembahasan yang paling kita butuhkan di dalam agama kita. Dan dengan sebab inilah insyaallah kita akan meraih keimanan yang benar sesuai dengan kesungguhan kita dalam mempelajari perkara ini.
Maka sesuai dengan itulah taufik yang Allah Subhanahu wa taala akan berikan kepada hamba-Nya. Makanya selalu kita ingatkan bahwa pembahasan masalah ini jangan hanya sekedar dijadikan sebagai wawasan atau sesuatu yang hanya kita tulis di catatan kita. Setelah itu kita lupakan. Sungguh demi Allah, ini adalah pembahasan yang berhubungan dengan sebab yang membenarkan iman kita, yang akan menyempurnakan ketakwaan kita, penghambaan diri kita, tauhid kita kepada Allah.
Maka mestinya harusnya kita sering mengulanginya kembali, memperbaiki hal-hal yang masih kurang dalam diri kita. Apalagi yang berhubungan dengan pembahasan inti dalam kitab ini ya yang kita akan bahas saat ini insyaallah di fasal yang kedua alfaslut tsani yaitu fiikril umurillati yustamadu minhal iman. penjelasan tentang perkara-perkara yang merupakan sumber pengambilan iman.
Sumber yang menjadi sebab bertambahnya dan semakin sempurnanya keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Barakallahu fikum para ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Karena kita tahu dan kita yakini agama Islam ini sempurna petunjuknya. Apalagi dalam perkara-perkara yang paling kita butuhkan dalam agama kita ya.
Perkara yang berhubungan dengan sebab yang menguatkan atau menyempurnakan iman, yang menyempurnakan tauhid. Tidak mungkin perkara yang paling penting seperti ini luput dijelaskan di dalam Islam. Bahkan kita yakini justru hal-hal seperti inilah yang paling banyak dibahas di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di dalam hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Bahkan semua kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tujuan utamanya adalah untuk menguatkan, menyempurnakan keimanan dan penghambaan diri kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Cuman permasalahannya siapa yang mau menggali kandungan yang indah ini? Siapa yang mau bersungguh-sungguh untuk mempelajarinya? Ingat kembali firman Allah Subhanahu wa taala yang disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an.
Walaqod yassarnal qurana lidzikri fahal mim muddakir. Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an itu sebagai peringatan, sebagai pelajaran, maka apakah ada orang yang mau mengambil nasihat atau pelajaran darinya? Yakni permasalahannya sekarang petunjuk Al-Qur’an sempurna, tapi siapa yang benar-benar mau membaca dan merenungkan isinya? Siapa yang benar-benar mau menghadapkan diri untuk menggali faedah utamanya yang berhubungan dengan keimanan ini? Siapa yang benar-benar mau mempelajari tafsirnya sehingga keberkahan Al-Qur’an bisa didapatkannya secara secara
sempurna? Ya, penuntut ilmu kalau dia sungguh-sungguh dia akan dapatkan hal tersebut. Ketika menafsirkan ayat yang tadi kita baca, salah seorang ulama salaf berkata, “Hal min tholibil ilmi fayuanu alaihi?” Apakah ada yang benar-benar mau mempelajari ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur’an yang sehingga Allah Subhanahu wa taala pasti akan menolongnya? Yakni kalau untuk urusan dunia atau masalah rezeki saja Allah Subhanahu wa taala berikan kepada kita.
Kemudian dalam urusan hidayah beberapa di antara kita mungkin mendapatkan hidayah dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala tentu saja tanpa dia terlihat bersungguh-sungguh mencarinya. Ini mungkin dia mampir di sebuah masjid atau ada undangan untuk mengikuti pengajian, dia iseng mengikutinya, awalnya tidak sungguh-sungguh ternyata dia dapat hidayah.
Ada yang seperti itu. Kalau orang yang tidak sungguh-sungguh saja atau dalam urusan dunia saja Allah berikan kepada kita, apalagi yang berhubungan dengan kebaikan dalam agama, ya. Apalagi yang berhubungan dengan masalah rezeki Allah yang khusus. yang sudah selalu kita tekankan ketika kita meminta dengan nama Allah Arrazzaq maha pemberi rezeki.
Jangan yang muncul dalam pikiran kita hanya rezeki dalam urusan dunia. Ini justru rezeki yang lebih penting dan khusus yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Ini juga adalah rahmat Allah yang khusus. Jadi kesungguhan kita dalam berdoa kepada Allah, dalam meminta kepada Allah karunia yang terbesar ini, itulah gambaran tentang keimanan kita, gambaran tentang perhatian kita kepada petunjuk Allah Subhanahu wa taala yang sempurna.
Sehingga yang harusnya kita minta dengan sungguh-sungguh adalah perkara yang seperti ini bukan cuma untuk urusan urusan dunia saja. Barakallahu fikum. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Qul ma ya’bikumbi laula duaukum.” Katakanlah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Rabbku Allah Subhanahu wa taala tidak akan peduli kepadamu, tidak akan memberikan perhatian kepadamu. Laula duaukum.
” Kalau bukan karena doamu, karena kesungguhanmu dalam berdoa. Bagaimana seorang hamba akan mendapatkan perhatian dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala? Sementara dia sendiri tidak mempedulikan sebab-sebab yang akan menolong dia untuk memperbaiki agamanya. Jadi, jemaah sekalian rahimakumullah, sekali lagi ilmu kita pelajari karena dengan sebab ilmu inilah kita meraih kebaikan.
kita memperbaiki diri dengan sebab ilmu inilah kita meraih ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa taala yang sesungguhnya. Ilmu inilah yang akan membimbing kita untuk meniti jalan Allah Subhanahu wa taala yang lurus. Maka harusnya kita benar-benar berusaha untuk menjadikan ilmu ini benar-benar merasuk ke dalam hati kita.
Tidak hanya sekedar tertulis dalam catatan atau buku kita. tanpa kita berusaha untuk mengulanginya dan mempelajarinya mempelajarinya kembali. Nah, alilmu nafiu hua ma basyaral qulub. Ilmu yang bermanfaat itu adalah yang menyentuh hati yang artinya kita pelajari, kita ulangi agar masuk ke dalam hati kita. Fayujibu laha al khasyata wasakinata. yang kemudian melahirkan di dalam hati itu rasa takut kepada Allah, rasa tenang ketika berzikir kepada Allah, ketundukan ya, pengharapan dan rasa takut rasa takut kepadanya.
Barakallahu fikum. Tib ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Di pembahasan yang baru ini ya, fiikril umur yustamadu minal iman. penjelasan tentang perkara-perkara atau sebab-sebab yang merupakan sumber penguatan iman, sumber yang menyempurnakan iman. Ini termasuk tentu saja inti dari pembahasan kitab ini.
Kata Syekh Ass’adi rahimahullahu taala, wah faslun adimun naf’i wal hajati. Baliduratul baluratu masatun ilaharifatihi. Wal inayati bihi makrifatan wattisofan. Beliau berkata, “Hadza faslun adzim.” Ini adalah pasal atau pembahasan yang sangat besar manfaatnya dan sangat besar kebutuhan kita untuk memahaminya. Bahkan azzarurah, kebutuhan yang sangat mendesak untuk memahami pembahasan ini.
Ya, karena tidak mungkin kita akan menyempurnakan iman kita tanpa kita mengenal sebab-sebabnya. Kalau kesempurnaan iman itu adalah perkara yang paling wajib, maka sarana untuk meraih hal tersebut jelas juga merupakan kewajiban besar dalam agama kita. Maa yatimul wajibu illa bihi fahua wajib.
Sesuatu yang menjadikan kewajiban tidak sempurna tanpanya, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya. Tayib. Jadi darurah kebutuhan yang sangat mendesak untuk memahami perkara ini dan memberikan perhatian besar kepadanya dalam memahami kemudian memiliki sifat-sifat ini. Yakni menghiasi diri kita dengan sebab-sebab ini. Mengamalkannya. Walika anal imana hua kamalul abdi wabihi tartafiu darojatuhu fid dunya wal akhirati.
Wahuabu watqu likulli khairin ajilin wa ajil. Hal ini dikarenakan hal ini disebabkan karena iman itu dialah kesempurnaan seorang hamba. Itulah sebab kesempurnaan seorang hamba. Dan dengan iman itu kedudukan seorang hamba akan semakin tinggi, semakin agung di dunia dan di akhirat. Dan imam iman itulah sebab serta jalan untuk meraih segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Barakallahu fikum.
Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Sudah pernah kita jelaskan di pertemuan kita yang lalu ya. Ketika kita mendapati pada diri kita banyak indikasi atau petunjuk yang menunjukkan bahwa banyak masalah dalam keimanan kita. Contoh seperti mengamalkan kebaikan kita belum belum merasakan kelezatannya atau kenikmatannya. Dalam hadis yang sahih, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Man saratuhu hasanatuhu wasa’athu sayi’atuhu fahua mukmin.
” Barang siapa yang gembira ketika melakukan perbuatan baik, ketika mengamalkan amalan saleh dan merasa sakit atau sedih ketika melakukan keburukan, maka berarti dia adalah orang yang imannya benar. Sekarang contoh ini saja kita praktikkan pada diri kita. Kita lihat bagaimana kita waktu misalnya bagi seorang laki-laki luput salat berjamaah.
Bagaimana ketika dia tidak membaca Al-Qur’an di suatu hari? Bagaimana kalau dia ketinggalan atau luput mengamalkan zikir pagi dan petang misalnya? Apakah ada pengaruh pada dirinya? Apakah ada rasa sakit di hatinya? Sebagaimana ketika dia melakukan kebaikan, apakah dia merasa gembira? Apakah dia merasa tenang jiwanya, leg perasaannya? Ini bukti keimanan.
Nah, ternyata kalau perkara-perkara ini hanya kita rasakan dalam urusan dunia saja, waktu kita makan makanan yang menjadi kesenangan kita, baru kita merasa gembira, kita merasa lapang. Sehingga untuk makan saja kita harus cari jauh, kita harus bayar mahal. Ya, kalau kita ketinggalan makan baru kita merasakan sakit.
Sementara dalam urusan ibadah tidak seperti itu, bagaimana mungkin orang seperti ini keimanannya benar? Bahkan orang yang tidak mendapatkan dalam ibadahnya, dalam amal saleh yang dikerjakannya ketenangan, kelapangan hati. Kan sudah pernah saya nukilkan pernyataan Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala yang menggambarkan bahwa orangorang yang merasakan seperti ini hendaknya dia mencurigai imannya.
Hendaknya dia harus mengoreksi. Jelas ada yang rusak dalam imannya. Karena yang seperti ini menggambarkan iman yang tidak sehat, iman yang tidak benar. Sama gambarannya seperti anggota badan manusia. Kalau benar-benar dia sehat, kondisi fisiknya prima, pasti dia akan merasakan makanan itu nikmat, lezat, ya.
Tapi kalau dia sedang sakit, maka makanan yang seenak apapun akan terasa pahit, akan terasa mau muntah, perutnya penuh dan seterusnya. Maka gambaran iman itu harusnya lebih terasa lagi dirasakan oleh seorang hamba. Dan ini sudah cukup untuk menilai diri kita ya, menilai tentang kondisi keimanan kita yang harusnya kita segera untuk memperbaikinya, segera untuk membenarkannya kembali selagi Allah Subhanahu wa taala masih memberikan kesempatan kita untuk hidup di dunia ini.
Nah, TB. Kata beliau, wala yahsulu wala yaqwa wala yatimmu illa bimifati ma minhu yustamadu wa yanbuihi wa asbabihi waukih. Dan kita tidak akan meraih keimanan itu, tidak akan bisa menguatkannya. Dan tidak akan bisa sempurna kecuali dengan kita mengenal perkara-perkara yang merupakan sumber penguat iman, sebab yang akan menyempurnakan iman.
Kita harus mengenal yanb ya mengenal sumber atau mata air tempat keluarnya iman itu sebab-sebab dan jalan-jalan yang akan semakin menambah dan menyempurnakan iman tersebut. Ya. Dan kita tahu perkara seperti ini justru yang merupakan inti penjelasan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sehingga menjadikan kita harusnya merenung. Sudah sejauh ini.
Sudah berapa lama kita membaca Al-Qur’an? Sudah berapa banyak hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sudah kita baca dan pelajari, tapi kenapa pengaruhnya atau dampak positifnya terhadap pertumbuhan iman kita tidak begitu nyata atau tidak begitu terasa? Maka ini menunjukkan banyak kelalaian yang kita lakukan selama ini.
Kita hanya cukupkan diri kita dengan membaca, mengetahui sesuatu secara zahir atau menjadikan ilmu agama ini hanya sebagai pengetahuan yang bersifat wawasan. Tidak kita berusaha untuk banyak merenungkan, banyak mempelajari yang menjadikan iman itu benar-benar merasuk ke dalam hati kita. Kita ingat Allah Subhanahu wa taala memuji orang-orang yang berilmu yang sesungguhnya di dalam Al-Qur’an.
Bal hua ayat bayyinatun fi sudurilladina utul ilma. Bahkan Al-Qur’an itu merupakan ayat-ayat yang jelas, ayat-ayat yang menunjukkan argumentasi yang nyata yang terdapat di dalam dada orang-orang yang beriman, yang terdapat di dalam dada orang-orang yang berilmu. Jadi, Al-Qur’an itu tempatnya di hati. Bukan sekedar diucapkan di lisan, tetapi tidak direnungkan sehingga tidak merasuk ke dalam hati manusia untuk menumbuhkan keimanan di hatinya.
Tib. Wallahu taala qod ja’ala likulli matlubin sababan wa thqon yusilu ilaih. Allah subhanahu wa taala sungguh telah menjadikan likulli matlub semua perkara yang dicari yang dituntut Allah telah jadikan baginya sebab dan jalan untuk bisa mencapainya. Yakni dalam semua perkara Allah menjadikan sebab untuk meraihnya.
Apalagi dalam perkara yang paling penting dalam urusan yang berhubungan dengan iman kita. Wal imanu a’domul matolbi wa ahammuha wa aammuha. Sementara iman itu adalah tuntutan yang paling besar, yang paling penting, dan paling luas manfaatnya. Waqad ja’alallahu lahu mawadan kabiratan tajlibuhu wa tuqawihi kamaana lahu asbabun tudifuhu wa tuhiihi.
Dan sungguh Allah Subhanahu wa taala telah menjadikan untuk urusan iman ini sebab-sebab besar yang akan bisa menambah dan menguatkannya. Sebagaimana juga ada sebab-sebab yang bisa melemahkan dan menurunkan atau mengurangi keimanan. Barakallahu fikum. Jemaah sekalian rahimakumullah. Permasalahan kita yang hidup di akhir zaman adalah banyaknya tersebar sebab-sebab yang melemahkan iman di sekitar kita.
Dan ini kita ketahui bagaimana fitnah di akhir zaman yang bahkan bukan hanya menjadi sebab yang melemahkan atau mengurangi iman, bisa menghilangkan iman sama sekali. Nauzubillah minzalik. Kalau bukan karena penjagaan dari Allah Subhanahu wa taala, maka kita semua sudah binasa. Ya, oleh karena itu kebutuhan seseorang di akhir zaman ini untuk memahami sebab-sebab yang menguatkan iman, sebab-sebab yang menjaga imannya tentu lebih besar dibandingkan kebutuhan orang-orang yang misalnya ada di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, para sahabat
radhiallahu taala anhum ajmain. Tapi anehnya justru mereka yang lebih takut dibandingkan kita. Dalam praktik, dalam kenyataan ya kita perhatikan diri kita. Berapa kali kita berdoa meminta keteguhan iman, meminta penjagaan dari Allah? Bagaimana rasa takut kita terhadap sebab-sebab yang bisa memalingkan kita dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala yang lurus? Kan sudah sering kita ingatkan, tidak jarang kita merasa ya dengan kita sudah mengikuti pengajian, dengan kita sudah merasa belajar tauhid, kita merasa sudah
aman. Padahal perkara seperti ini justru yang paling besar rasa takut terhadap keburukan-keburukan seperti ini justru ada pada diri hamba-hamba Allah yang beriman. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Padahal kalau kita pikir apa yang mereka takutkan? Iman mereka dipuji di dalam Al-Qur’an, di dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Mereka telah dijamin masuk surga dan mereka adalah generasi yang terbaik umat ini. Ini seharusnya orang yang punya bekal cukup dia yang pede, dia yang merasa aman. Sementara yang bekalnya sedikit harusnya yang lebih takut. Tapi ini malah justru kebalikannya ya. Antum pernah dengar para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mengkhawatirkan ada kemunafikan pada diri mereka.
Ini kemunafikan. Bukan sekedar mereka takutkan dosa yang menurunkan iman atau melemahkan iman. Mereka mengkhawatirkan kemunafikan ada pada diri mereka. Bahkan kita tahu Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu yang datang kepada Hudzaifah radhiallahu taala anhu untuk bertanya, “Apakah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan diriku termasuk orang-orang munafik?” Ini sekelas Umar ibnu Khattab radhiallahu taala anhu ya.
Di dalam sahih Imam Bukhari, asar yang terkenal dari seorang tabiin yang mulia Ibnu Abi Mulaikah rahimahullahu taala yang mengatakan, “Adraktu salatina min ashabi rasulillah sallallahu alaihi wasallam kulluhum yakhofun nifaqo ala nafsih.” Aku menjumpai 30 orang sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang semua mereka mengkhawatirkan kemunafikan ada pada diri mereka.
Ya, kata para ulama ini menunjukkan semua sahabat seperti itu. 30 yang dijumpai ini sekedar contoh saja ya yang menggambarkan semua sifat para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain adalah seperti itu. Yaitu mereka sangat mengkhawatirkan adanya hal yang bisa membatalkan keimanan dalam diri mereka. Ingat, bukan sekedar yang mengurangi keimanan.
Sekarang mereka kurangnya apa? dalam ilmu, dalam amal, ya dalam keterdahuluan berislam, mengamalkan Islam, zamannya juga masih zaman yang penuh dengan kebaikan. Mereka takut. Ada nasihat yang mungkin dulu saya pernah nukilkan dari pernyataan Imam Sufyan atauri rahimahullahu taala. Imam besar dari kalangan tabiut tabiin yang terkenal. Ketika dia menasmenasihati murid-muridnya, dia berkata, “Amma ba’du fainnakum fi zamanin kana ashabu rasulillah sallallahu alaihi wasallam yataawaduna billahi an yudrik walahum minal ilmi ma laisa lana walahum minasri ma laisa
lana wahum Sungguh saat ini kalian hidup di masa atau di zaman yang dulu para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berlindung kepada Allah untuk tidak mencapai zaman tersebut. Padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki. Memiliki kesabaran dalam menundukkan hawa nafsu yang tidak kita miliki.
Memiliki mereka mempunyai bekal lebih dahulu masuk Islam yang tidak kita miliki. Mereka memiliki orang-orang yang membantu mereka dalam kebaikan. Yakni semua sebab untuk bertahan itu mereka punya. Fakaifa bina hina adraknahu. Maka bagaimana kira-kira keadaan kita ketika mencapai zaman ini yang para sahabat berlindung darinya dengan ilmu kita yang sedikit, yakni bekal kita yang pas-pasan atau bahkan kurang.
Ilmu kita, kurang kesabaran kita dalam menundukkan hawa nafsu kurang kebaikan dalam Islam juga kurang. penolong-penolong kita, pembantu-pembantu kita dalam kebaikan juga kurang. Ditambah lagi dengan kerusakan zaman, banyaknya fitnah. Coba bayangkan dan ini beliau ucapkan di masa tabiut tabiin ya, di zaman yang masih generasi terbaik umat ini.
Bagaimana kira-kira kalau beliau mengetahui tentang zaman kita sekarang? Yakni bagaimana seorang mukmin bisa merasa tenang dengan agamanya ketika kondisi seperti ini. Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Kan kita tahu ya keimanan itu kalau betul, seandainya betul keimanan dalam diri kita misalnya kuat, sempurna, ikhlas kita, rasa takut kita, pengharapan kita, kecintaan kita kepada Allah seandainya benar-benar kuat dan sempurna.
Itu pun juga kan menjadi menjadi sebab kita harus semakin menjaganya. sesuatu itu kalau semakin berharga orang yang memilikinya apakah akan semakin bersungguh-sungguh menjaganya atau dia akan meremehkannya. Pasti dia lebih lebih sungguh-sungguh. Ditambah lagi sesuatu itu semakin besar harganya, semakin tinggi nilainya.
Pengintai, pencuri yang ingin mengambilnya apakah semakin bersungguh-sungguh untuk bisa mencurinya atau tidak bersungguh-sungguh? Pasti jawabannya mereka semakin sungguh-sungguh. Sekarang siapa pencurinya? Setan. Iblis dan bala tentaranya yang selalu berusaha untuk merusak keimanan di hati kita. Sudah pernah kita sebutkan contoh dan perumpamaan yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam masalah ini.
Para sahabat saja merasakan banyak bisikan-bisikan di hati mereka. Karena pastinya kalau iman itu baik, iman itu kuat, maka di hati hamba itu ada barang yang paling berharga. Nah, iblis atau setan yang ingin merusak ee iman manusia ibaratnya pencuri. Jadi, iman semakin kuat berarti kita butuhkan penjagaan yang lebih kuat juga. Nah, di sini kita bisa menilai diri kita.
Bagaimana perhatian kita tentang iman ini, bagaimana doa-doa yang selalu kita ucapkan. Bagaimana upaya kita untuk terus mengulangi pelajaran tentang masalah ini untuk bisa kita kuatkan. Ingat, ilmu ini adalah penjaga, penjaga bagi iman kita. Al ililmu khairun minal mali. Ini pernyataan dari sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu.
Ilmu itu lebih baik dibandingkan harta. Karena ilmu yang akan menjagamu sedangkan harta kamu yang justru harus menjaga dia. Kita sekarang lebih semangat mencari harta bukan mencari bukan lebih semangat mencari yang menjadi sebab penjagaan kita. Al ililmu yahrusuka. Ilmu akan menjagamu. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala memperumpamakan ilmu agama itu seperti bintang di langit yang Allah jadikan sebagai panah api untuk membakar setan yang mencuri-curi berita di langit.
Setan melontarkan syubhat di dalam hati dalam rangka merusak iman. Akan berusaha untuk membisikkan syahwat dan syubhat. untuk melemahkan iman kita. La syubhat ini selalu dilontarkan oleh setan setiap saat. Dia tidak pernah libur, tidak pernah berhenti. Bagaimana kita akan selamat kalau bukan karena penjagaan dari Allah Subhanahu wa taala dengan sebab ilmu yang nanti akan menjadi panah api atau meteor yang membakar syubhat tersebut.
Ini kalau kita punya ilmu. Kalau tidak punya ilmu, bagaimana akan menjadi sebab yang bisa membakar syubhat tersebut? Lama-lama orang akan terpengaruh dengan syubhat. Mungkin sekali dibisikan belum terpengaruh. Kedua kali, tiga kali, empat kali, lama-kelamaan dia akan terpengaruh. Nah, ini orang yang penjagaan ilmu dalam dirinya lemah.
Karena dia sendiri malas menuntut ilmu, malas mengulangi pelajaran tentang ilmu atau dia sudah punya sudah belajar tapi tidak berusaha dijadikan ilmu itu merasuk ke dalam hatinya. Ingat, kebutuhan kita kepada agama ini sangat besar. Dan jadikan contoh generasi yang utama, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
Bagaimana mereka beragama ya. Jadi bagaimana perhatian mereka terhadap agama yang demikian besar? Makanya wajar Allah Subhanahu wa taala memberikan bagi mereka hidayah yang sempurna. Itulah yang seharusnya kita berusaha ikuti dan jadikan sebagai teladan dalam kebaikan agama ini. Barakallahu fikum. Tib. Kata Syekh selanjutnya, wawaduhullati tajlibuhu wa tuqwihi amrani mujmalun wa mufasal.
Dan sebab-sebab atau materi-materi yang menambah dan menguatkan iman ini ada dua perkara. Ada dua jenis secara umum, dua macam secara garis besar. Ya, mujmalun wa mufassal. Pertama, sebab-sebab yang bersifat umum, yang bersifat global, dan yang kedua yang bersifat mufassal, yang bersifat rinci secara umum. Ya, sebabnya ada kemudian ada yang lebih rinci.
Semakin banyak kita melakukan sebab ini, tentu dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala semakin kita akan dapatkan hasilnya dalam upaya menguatkan dan menyempurnakan iman kita. Ya, jemaah sekalian rahimakumullah. Kita semua mengetahui Rabb kita adalah Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang yang kebaikan-kebaikannya berlimpah dan akan selalu diberikan kepada hamba-hamba yang sungguh-sungguh meminta dan bersandar kepadanya.
Allah Subhanahu wa taala almuhsin maha berbuat kebaikan. Albarrur rahim maha baik dan maha penyayang. Aljawwad maha dermawan. Alkarim Maha Pemurah. Sifat-sifat yang baik ini akan diberikan kepada siapa? Kalau bukan kepada orang-orang yang beriman yang yang tentu sungguh-sungguh sungguh-sungguh dalam meminta dan bersandar kepadanya. Ammal mujmal.
Adapun sebab-sebab yang bersifat umum atau secara garis besar tadi, fahua attadabburu liatillahil matluwah. yaitu banyak merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca. Ini sering kita ingatkan. Bacalah Al-Qur’an dan renungkan isinya. Karena orang yang disebut sebagai ahli Al-Qur’an bukan yang sekedar membaca atau menghafal hurufnya.
Ya, ahli Al-Qur’an kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih, “Hum ahlullahi wa khasatuhu.” Orang yang terdekat dan istimewa di sisi Allah. Ya. Dan kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, yang namanya ahli Al-Qur’an adalah yang suka mentilawah Al-Qur’an. bukan hanya mentilawah lafaznya, tapi juga mentilawah maknanya, memahami isinya.
Bagaimana kandungan Al-Qur’an yang penuh berkah dan indah menyentuh hati kita kalau kita tidak paham sewaktu membacanya. Meskipun sedikit tapi ada yang berbekas di hati. Ini lebih utama dibandingkan membaca yang banyak. Tapi ada yang tapi tidak ada yang membekas di hati kita. Ingat metode para sahabat dalam belajar Al-Qur’an.
Mereka tidak terburu-buru mengkhatamkan. Mereka membaca 10 ayat dan tidak akan melangkah ke 10 ayat berikutnya sampai mereka pahami isi dan kandungannya. Dengan cara seperti ini, mereka membaca Al-Qur’an pelan-pelan tapi bekas dan dampak positifnya merasuk ke dalam hati. Ya, ini yang pernah kita ketahui dalam hadis riwayat Imam Muslim.
Pernyataan seorang tabiin yang mulia Abu Abdurrahman Asulami rahimahullahu taala yang berkata ya akna hadal qurana anumin akbaruna annahum taallamu asro ayatin lam yatajawazuhunna ilal asril ukta yalamu ma fiha kami hatta ylamu maal Kami mengambil Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an dari satu kaum, yakni para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang mereka mengabarkan kepada kami bahwa dulu ketika mereka mempelajari 10 ayat Al-Qur’an, para sahabat tentu belajar dari siapa? Dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak akan
melewatinya kepada 10 ayat berikutnya sampai mereka mengamalkan kandungan dari 10 ayat tersebut. Yakni sampai mereka paham, mereka renungkan, dan mereka praktikkan. Inilah cara mereka belajar Al-Qur’an. Tidak terburu bururu ya, tapi benar-benar sesuai dengan tujuan diturunkannya Al-Qur’an yaitu agar ditadaburi maknanya.
Jadi, attadabburu liatillahil matluah. Merenungkan mendalami makna ayat-ayat Allah yang dibaca. minal kitabi wasunnati baik itu Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Wat taamulu lihathil kauniyati alhtilafi anwaiha. juga memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini ya dengan berbagai macam jenisnya. Jadi kita merenungkan alam semesta melihat kesempurnaan ciptaan Allah untuk kita mengambil dalil tentang kesempurnaan, kemahaungan dan kemahagian nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang itu akan
menjadikan kita semakin mensyukuri nikmat-Nya, semakin mencintainya, semakin tunduk kepadanya. Wal hirsu ala makrifatil haqqilladzi khuliqo lahul abdu. Juga bersemangat untuk mengenal kebenaran yang merupakan tujuan penciptaan hamba, tujuan penciptaan manusia. Wal amalu bilhaq. Mengamalkan kebenaran, mengamalkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
yakni menundukkan hawa nafsu untuk bisa mempraktikkan kebaikan. Fajamiul asbabi marjiuha ila hadlil adzim. Maka semua sebab-sebab untuk meraih hal ini kembalinya kepada landasan yang agung ini. Jadi inti kebaikan itu adalah yakni kembali kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam memahami dan mengamalkannya.
Tentu dengan pemahaman yang benar. Pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Ini secara umum. Maka orang yang ingin memperbaiki keimanannya, dia mesti menuntut ilmu dan menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang selalu menyertai hidupnya sampai mati. Ya, kita tahu menuntut ilmu tidak ada tidak ada batas akhirnya. thabul ilmi minal mahdi ilal lahdi.
Menuntut ilmu itu dari buaian sampai kita meninggal dunia. Ya. Dan itu yang merupakan nasihat dari para ulama hal apa yang seharusnya selalu menyertai diri kita sampai kita sampai di akhir hayat kita yaitu menuntut ilmu agama. Nah, jadi secara umum mempelajari ilmu agama, memahami dan mengamalkannya itu adalah sebab untuk bisa selalu meningkatkan keimanan kita dan menyempurnakan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala.
Oleh karena itu, dekat dengan agama adalah sumber kebaikan. Dan sudah kita katakan berkali-kali dekat dengan agama ini bukanlah sesuatu yang menyusahkan atau sesuatu yang menjadikan seseorang itu membencinya. Justru sebaliknya, agama ini adalah kebaikan, ketenangan hidup dan kenikmatan yang paling kita butuhkan. Makanya supaya kita semakin dekat dengan agama, kita harus memperbaiki dulu keadaan di hati kita yang menjadikan kita kurang semangat dalam beragama.
Karena agama adalah sebesar-besar nikmat yang Allah turunkan kepada manusia. Berarti ini harusnya menjadi kenikmatan paling besar ya. Iman itu manis dan nikmat. Ketika kita belum merasakannya, bukan berarti kita jadikan ini sebagai sebab kita menjauhi agama. Tidak. kita harus perbaiki. Sekarang seorang manusia kalau dia sakit ya ada yang tidak beres pada organ tubuhnya sehingga dia tidak bisa merasakan makanan nikmat.
Apakah dia mengatakan kalau begitu saya tidak tidak usah makan saja? Pasti dia akan berusaha menyembuhkan penyakit tersebut. Demikian sungguh-sungguhnya dia sampai rela mengorbankan banyak biaya, waktu dan tenaga untuk pengobatan tubuhnya. Kenapa? dalam urusan agamanya dia tidak melakukan yang lebih lagi. Padahal ini yang paling dibutuhkan dan paling bermanfaat bagi dirinya karena menyangkut kebaikan dunia dan akhiratnya.
Jadi kalau kita merasakan ada yang sakit di hati kita, kita sembuhkan supaya kita merasakan hak agama ini benar-benar sesuai dengan hakikatnya, yaitu merupakan kenikmatan terbesar yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada manusia. Nah, itulah sebab secara umum. Kemudian waamma tafsilu. Adapun sebabnya yang rinci, maka beliau akan sebutkan di sini ya, fal imanu yahsulu waqwa biumurin ksirah.
Maka iman itu akan didapatkan dan dikuatkan dengan umurin katirah. Dengan sebab-sebab yang sangat banyak dijelaskan di dalam agama. Ya, sebab yang rinci yang demikian banyak dijelaskan di dalam agama. Pertama, alawal minha bal a’domuha. Di antaranya bahkan sebab yang paling besar di antara sebab-sebab yang menguatkan dan menyempurnakan iman yaitu apa? Makrifatu asmaillahil husna alwaridati fil kitabi wasunnati wal hirsu ala fahmi ma’aniha wat taabbudi lillahi fiha.
mengenal nama-nama Allah yang maha indah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah, yakni hadis-hadis yang sahih, serta bersemangat, berusaha keras untuk memahami kandungan maknanya dan mengamalkan ibadah kepada Allah sesuai dengan kandungan makna tersebut. mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah ini merupakan gerbang utama untuk menyempurnakan iman.
Bahkan ini termasuk jalan yang paling pintas untuk memperbaiki unsur-unsur keimanan dalam diri kita. Ya, kita tahu dan sudah kita sering jelaskan penopang utama iman adalah cinta, takut, dan berharap kepada Allah. Cara yang paling mudah untuk menyempurnakan cinta kepada Allah adalah apa? Mengenal kemahadahannya. Fitrah manusia pasti mencintai sesuatu yang indah.
Urusan dunia saja yang keindahannya terbatas. Ya, kalau kita tahu sesuatu yang indah, sesuatu yang menarik, kita akan suka. Apalagi mengenal sesuatu yang maha indah. yang keindahannya merupakan dambaan hati yang paling besar. Ya. Kemudian yang kedua, mengenal kebaikan. Mengenal kebaikan-kebaikan orang yang kita kenal dalam kehidupan kita.
Banyak kebaikan yang dilakukannya pasti kita akan suka. Ada teman kita yang suka berbuat baik, ramah, suka menolong kita. Kita senang bertemu dengan dia, kita senang ngobrol dengan dia karena kebaikannya. Makanya kita paling cinta kepada kedua orang tua kita karena kita ingat kebaikan mereka sejak mereka dilahirkan, sejak kecil kita diasuh dan seterusnya.
Ini kebaikan manusia yang terbatas. Bagaimana kalau kita mengenal kebaikan Allah yang kebaikannya tidak pernah terputus? Sebaik-baiknya manusia kepada kita, tidak ada yang bisa memasukkan hidayah kepada kita untuk mengenal agama, berpegang teguh dengan Islam, berpegang teguh dengan sunah. Itu cuma Allah Subhanahu wa taala yang maha kuasa memasukkannya ke dalam hati kita.
Kalau kita renungkan kebaikan-kebaikan, limpahan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, pasti kita akan semakin mencintainya. Kemudian menumbuhkan rasa takut, pengharapan kepada Allah. Jelas sebab utamanya adalah dengan kita mengenal sifat-sifat kebesaran Allah, kemahakuasaan Allah, mengenal bagaimana dahsyatnya azabnya agar menumbuhkan rasa takut kita kepada Allah.
Kita mengenal bagaimana kalau kita durhaka kepada Allah, maka Allah mencabut hidayah dari diri kita. Maka dengan sebab ini kita takut dan segera bertobat kepada Allah. Terus pengharapan arraja, bagaimana kita menumbuhkan dalam diri kita berharap. Kalau kita berharap kepada makhluk, kita tahu makhluk itu miskin, tidak punya apa-apa.
Ya ayyuhanasu antumul fuqarallah. Wahai sekalian manusia, kalian adalah makhluk-makhluk yang miskin, butuh kepada rahmat Allah. Kalau kita bersandar kepada makhluk, kita akan kecewa karena makhluk tidak memiliki apa-apa. Sedangkan wallahu huwal ghaniyul hamid. Allah Subhanahu wa taala. Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji.
Segala kebaikan ada di tangannya. Ya, kebaikan dalam urusan dunia apalagi dalam kebaikan. Kebaikan dalam urusan agama kita pasti semakin kita mengenal Allah kita akan semakin bersandar kepadanya. Jadi semua perkara-perkara yang berhubungan dengan hal-hal yang menguatkan iman secara sempurna kita akan dapatkan dengan semakin kita mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
Makanya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata, “Akmalunasi ubudiyatan almutaabbidu lillahi bijamiil asma wasifat yataial basyar.” Orang yang paling sempurna penghambaan diri, penghambaan dirinya kepada Allah adalah orang yang beribadah kepada Allah dengan mengenal kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Allah Subhanahu wa taala jadikan mampu untuk dipahami oleh manusia.
Jadi, inilah sebab yang paling sempurna mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha agung. Makanya inilah ilmu yang paling mulia dalam agama kita, dalam agama kita secara mutlak. Tib. Itulah rincian sebab yang pertama dan karena penjelasannya di sini masih agak panjang, insyaallah untuk penjelasan masalah ini kita akan lanjutkan di kajian kita di pertemuan berikutnya. Babakallahu fikum.
Untuk kajian kita di kesempatan pagi hari ini cukup sampai di sini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Ya, sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan dari antum, ana persilakan. Barakallahu fikum. Tib kita jawab pertanyaan yang ada.
H. Ustaz, apakah di zaman saat ini ilmu sihir masih ada? Bukan cuma ada, banyak. Zaman itu semakin jauh dari zaman kebaikan semakin tersebar keburukan. Ya, sihir masih ada dan tersebar ya. Dilakukan oleh orang-orang yang durhaka kepada Allah Subhanahu wa taala dan rasulnya bahkan semakin banyak.
Oleh karena itu, meminta penjagaan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala itu harus selalu kita lakukan. Dan alhamdulillah sebaik-baik petunjuk dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita zikir-zikir perlindungan untuk berlindung dari keburukan-keburukan seperti ini.
Ya, cara melindungi diri dari perbuatan sihir tersebut ya berdoa kepada Allah kemudian membaca zikir pagi dan petang. Membaca zikir-zikir yang disyariatkan misalnya sebelum tidur dan seterusnya membaca Al-Qur’an. ya merenungkan isinya. Semua sebab-sebab yang menguatkan keimanan ini termasuk sebab utama untuk menangkal gangguan-gangguan keburukan seperti ini.
Nah, tentang boikot produk-produk Yahudi yang lagi viral. Saya bingung, Ustaz. Karena saya mempunyai warung kecil-kecilan yang ada sedikit produk-produk tersebut. Karena seperti air menalar, pasta gigi, sabun dan sebagainya itu bagaimanakah? Apakah saya termasuk orang yang tidak per peduli keadaan Palestina? Ya. Iya.
boikot seperti ini memang termasuk perkara yang ya disyariatkan dan disebutkan tentang ee hal ini oleh para ulama kita. Cuman tentu perkara seperti ini ketika ada hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan kita, apalagi misalnya mereka-mereka yang berjualan, maka hendaknya dia memilih. Seandainya ada produk lain yang mencukupkan yang tidak mendukung produk dari orang-orang Yahudi tersebut, lebih baik kita menjual atau membeli produk tersebut.
Ya, tapi kalau seandainya sudah ada misalnya terlanjur kita beli tidak tidak juga disyariatkan untuk kita buang atau kita musnahkan, tidak. Tetap kita jual, kita habiskan atau kita manfaatkan, kita gunakan. Setelah itu nantinya kita memilih misalnya untuk berikutnya ya kita mencari produk yang lebih selamat dari perkara yang seperti ini.
Karena kita tahu hukum asalnya barang-barang seperti ini kan selama itu halal diperjual belikan maka dia halal. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dulu juga di Madinah bermuamalah sama orang-orang Yahudi ya dalam masalah jual beli kemudian dalam masalah perkara-perkara yang lainnya dan beliau sallallahu alaihi wasallam melakukan hal tersebut karena hukum asalnya boleh tapi karena kita ketahui sekarang kezaliman yang mereka lakukan kepada saudara-saudara kita di Palestina maka kita berusaha semaksimal mungkin tidak membeli produk mereka
supaya tidak ikut membantu mereka dalam kejahatan dan kezaliman mereka tersebut. Nah, saya merasa keimanan itu lebih bertambah saat kajian dibandingkan saat melakukan ibadah lain. Apakah hal ini benar atau ada yang perlu diperbaiki? Ya, saat kita menghadiri kajian kan kita beribadah ya.
Saat-saat kita menambah ilmu. Para ulama salaf dulu mengatakan, “Ya taalau najlisu saatan nazdadu imanan.” Marilah kita duduk sejenak untuk menambah iman kita. Yakni kita duduk berzikir, kita duduk saling mengingatkan, saling menyampaikan ilmu untuk menambah iman kita. Jadi majelis ilmu itu jelas menambah iman. Karena ini adalah raudatun min riyadil jannah. Taman dari taman-taman surga.
Nah, cuman dalam ibadah harusnya juga sebab yang menambah dan menguatkan iman. Karena ilmu adalah tempat kita belajar waktu beribadah, tempat kita mengamalkan ilmu. Dua-duanya merupakan kebaikan. Kalau seseorang beribadah tidak merasa bertambah imannya, berarti ibadahnya memang dia belum laksanakan dengan benar.
Dia belum renungkan dengan hatinya. Mungkin ibadah yang diamalkannya masih banyak melibatkan anggota badannya, tapi tidak melibatkan hatinya. Seperti merenungkan makna ibadah atau zikir yang dibacanya, doa yang dibacanya. Kayak tadi membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya. Dia perlu memperbanyak hal tersebut supaya dalam setiap ibadahnya itu semakin menguatkan dan meningkatkan imannya.
Nah, jika di zaman sekarang banyak fitnah, sangat banyak fitnah, maka apakah ganjaran pahala kita lebih banyak dibandingkan zaman dahulu yang belum banyak fitnah? Ya, kalau kita bisa melewatinya, kita bisa bersabar, maka tentu pahalanya lebih besar. Tetapi pahala yang besar tidak menjadikan seseorang itu lantas lebih utama dibandingkan generasi yang terdahulu.
Kita masih ingat hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan tentang orang-orang yang dikatakan alqabiduna alal jamr. Orang-orang yang menggenggam bara api di akhir zaman yang ketika itu karena fitnah dan ujian lebih besar mereka mendapatkan pahala yang lebih banyak. Ya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam sebagian riwayat yang karena riwayat ini kan dari berbagai jalurnya sehingga menjadi kuat kan begitu ya.
Di antara sebagian riwayat menyebutkan, “Almutamassikuna fiha bidinihim mlu ajril khamsin.” Orang yang berpegang teguh dengan agamanya di waktu itu, di hari-hari yang membutuhkan kesabaran ini, di akhir zaman. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya, dia mendapatkan pahala seperti 50 orang. Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, minna a minhum?” 50 orang dari kalangan kami atau dari kalangan kalian? Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Kemudian bal minkum bahkan dari kalian yakni melebihi melebihi 50 orang pahalanya sahabat pahala 50 orang sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Tapi kata para ulama bukan berarti ini menunjukkan lebih utama generasi yang datang ya. Tetapi ini menunjukkan keutamaan beramal dan berpegang teguh dengan Islam ketika di zaman fitnah.
Dan tentu ini membutuhkan perjuangan, membutuhkan kesungguhan dalam bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala untuk bisa ditolong. Dalam hal ini, adakah hukum menentukan hari baik atau keberuntungan untuk memulai pembangunan tempat usaha? Jawabannya tidak ada. Tidak bisa kita hari baik atau hari sial dalam Islam.
Karena ini termasuk tathayyur, yaitu termasuk perbuatan syirik kecil. Jadi, semua hal itu baik. Yang penting kita mulai dengan berdoa kepada Allah. Kita memulai dengan meniatkan untuk tempat usaha ini adalah tempat usaha yang halal yang membantu kita dalam berzikir dan beribadah kepada Allah. Tidak melalaikan kita dari mengingat Allah.
Selama kita berdoa meminta pertolongan kepada Allah dan meniatkan kebaikan seperti ini, maka itu insyaallah menjadi sebab keberkahan dan kebaikan bagi usaha tersebut. Tib. Jadi jawabannya tadi untuk masalah hari baik atau menentukan hari yang buruk tidak ada. Kita mulai saja dengan berdoa kepada Allah. Menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari yang baik, hari yang lain itu hari yang kurang baik atau sial ini justru tidak disyariatkan dan semakin menjauhkan kita dari pertolongan Allah karena ini termasuk perbuatan syirik. Benarkah hukum merokok itu
haram? tidak adanya seperti ganja. Apakah amal ibadah saya, salat saya bisa diterima sedangkan saya belum bisa berhenti merokok? Ya, kita tahu hukum merokok itu haram berdasarkan penjelasan para ulama kita yang kita ketahui tidak ada seorang pun di antara ulama ahlusunah yang membolehkannya.
Ada pernyataan dari Imam Assyaukani yang dinukil oleh sebagian orang. Padahal Imam Syaukani itu waktu menyebutkan pernyataan ini, beliau masih mengaitkannya dengan menganggap bahwa rokok ini tidak berbahaya. Adapun di zaman sekarang jelas sudah ketahuan bahayanya, bahkan perusahaan rokok sendiri mengatakan merokok membunuhmu. Ya, jadi itu sudah jelas-jelas.
Maka setiap orang yang ilmu bahkan setiap orang yang berakal apalagi yang berilmu tidak akan mungkin menghalalkan menghalalkan hal ini. Nah, oleh karena itu orang yang melakukannya hendaknya dia bertakwa kepada Allah. Kalau ada yang masih susah untuk melakukannya, dia bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah, kita katakan ya bukan berarti dengan sebab itu akan tertolak agamanya. Tidak.
Insyaallah akan diterima oleh Allah. Tapi perbuatan yang haram ini kalau dia sungguh-sungguh minta kepada Allah, berlindung kepadanya, bersungguh-sungguh melakukan sebab untuk meninggalkannya, maka niscaya Allah Subhanahu wa taala akan memudahkan pertolongan baginya untuk menyempurnakan kebaikannya.
Tentang sahabat yang menghafal 10 ayat Al-Qur’an, mengamalkannya dan tidak berpindah ke ayat berikutnya. bagaimana teknisnya yang mulai ayat-ayat mana dimulai karena kehidupan sangat kompleks. Maksudnya belajar dari awal Al-Qur’an misalnya kita ingin mempelajari Al-Qur’an supaya lebih mudah kita belajar dari juz ke-30 karena itu yang banyak hafalan kita berkisar di situ. Ya, tidak mengapa.
kita pelajari dari ayat-ayat yang pendek dulu atau kalau kita ingin mulai dari juz 30 berarti dari amma yatasaalun surat Annaba kita pelajari beberapa ayat kita baca tafsirnya nanti kita murajaah kembali kita ulangi kembali kalau kita mulai dari ayat-ayat pendek ini kan karena sering kita baca berarti lebih mudah kita renungkan setiap kita renungkan itu kan yang menjadi sebab keberkahan Al-Qur’an masuk ke dalam diri kita karena Allah Subhanahu berfirman, kitab Al-Qur’an yang kami turunkan kepadamu wahai Rasulullah penuh
dengan berkah agar manusia merenungkan isinya. Berarti keberkahan Al-Quranungkan atau mentadaburinya. Makanya kita bisa mulai dari ayat-ayat Al-Qur’an yang pendek atau kita juga bisa mulai dari misalnya awal Al-Qur’an, Alfatihah, kemudian Albaqarah dan seterusnya. Boleh. Karena ayat Al-Qur’an tentu kita diperintahkan untuk mempelajari semuanya.
Tapi maksudnya kita jangan terburu-buru sekedar untuk menyelesaikan tapi tidak berusaha memahami kandungan kandungan maknanya. Barakallahu fikum. Tib. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita. Semoga bermanfaat. Sekali lagi mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin wa akhir dakwanahamdulillahiabbil alamin.
Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply