Penjelasan Tentang Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A ‎حفظه الله

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah. nahmaduhu wa nastainuhu wa nastagfiruh wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina may yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.
  • Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qulan faq fauzanima. Amma ba’du fainna asdaqal hadis kitabullah wakirul hadi hadyu Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhdasatuha waulla muhdain bidah waulla bidatin dolalah wa kulla dolalatin finar wa ba’du.
  • Alhamdulillah. Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya atas taufik kebaikan yang dimudahkannya bagi kita sehingga kita senantiasa bisa terus memahami dan mengamalkan Islam terus bisa mempelajari dari keindahan agamanya.
  • Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala di pagi hari ini setelah melaksanakan salat subuh secara berjamaah kita dipertemukan di dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Al-Ikhlas yang mubarak ini. Di kajian rutin kita membahas kitab kecil yang sangat bermanfaat. Kitab At-Taudih wal bayan lisyajaratil iman.
  • penjelasan tentang pohon iman tulisan dari As Syekh Alallamah Abdurrahman bin Nasir Ass’di rahimahullahu taala. Alhamdulillah saat ini kita akan masih melanjutkan pembahasan di pasal yang kedua. Fiikril umurati yustamaddu minhal iman. penjelasan tentang hal-hal yang merupakan sumber penguat iman, sebab yang semakin menumbuhkan menguatkan keimanan.
  • Ya. Dan ini tentu saja merupakan pembahasan yang sangat kita butuhkan. Dan ternyata seperti yang sudah kita jelaskan, sebab-sebab penguat iman ini telah Allah Subhanahu wa taala turunkan sempurna di dalam agamanya, di dalam syariatnya. Seandainya kita benar-benar mau sungguh-sungguh mempelajarinya, tentu dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala, niscaya kita akan mendapatkan sebab-sebab tersebut.
  • Bahkan sebab-sebab yang tidak hanya disebutkan dengan sempurna atau lengkap dalam Islam juga Allah Subhanahu wa taala mudahkan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan. Barakallahu fikum. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur’an. Auzubillahiminasyaitanirrajim.
  • Walaq yassarnal qurana lidzikri fahal mim mudakir. Sungguh kami telah mudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran, sebagai peringatan. Apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran darinya? Tib. Barakallahu fikum ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Setelah di pertemuan yang lalu kita telah membahas sebab yang pertama, yakni sebab secara rinci yang pertama sudah kita bahas yaitu mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi.
  • Memahami dan mengamalkannya dalam ibadah kita. Dan tentu mencakup semua jenis tauhid yang tiga dan ini jelas merupakan sebab yang paling utama. Kemudian sebab yang kedua, saat ini kita akan bahas sebab penguat iman atau sebab yang menumbuhkan iman secara rinci. Yang kedua, waminha tadabburul qurani ala wajhil umum.
  • Di antaranya kata beliau adalah rahimahullahu taala merenungkan Al-Qur’an secara umum. Al-Qur’an adalah sebaik-baik petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk kebaikan besar. Setiap kita membaca ayat-ayatnya, maka kandungan maknanya benar-benar sangat sesuai dengan kebutuhan hati manusia. Bahkan hati yang berpenyakit, hati yang kotor pun Allah Subhanahu wa taala jadikan Al-Qur’an sebagai obat dan pembersih kotoran tersebut.
  • Ya Allah subhanahu wa taala berfirman, “Ya ayyuhannasu qod jaatkum maidotum mirbikum wasifaul lima fisur.” Wahai sekalian manusia, sungguh telah datang kepadamu sebaik-baik nasihat dari Rabbmu dalam Al-Qur’an dan obat bagi penyakit hatimu. Jadi, Al-Qur’an diturunkan untuk semua kebaikan. Bukan hanya orang yang sudah siap untuk menerima kebenaran, bahkan orang yang masih ada penghalang di hatinya.
  • Al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik sebab untuk menghilangkan penghalang atau kotoran tersebut. Ya. Jadi, Al-Qur’an ini adalah benar-benar harusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Membaca dan memahami isinya adalah sebaik-baik sebab yang akan menyempurnakan kebaikan pada diri seorang hamba.
  • Cuman tadi syaratnya fahal mim muddakir. Apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran darinya? Yakni apakah ada orang yang mau membacanya dengan benar, merenungkan isinya supaya dia bisa mengambil kebaikan-kebaikan tersebut? Ya, di dalam kitab Ightatul Lahfan, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala menjelaskan setelah menyebutkan fungsi Al-Qur’an yang benar-benar menyembuhkan semua penyakit hati manusia, penyakit syubhat maupun syahwat.
  • Karena dalil-dalil dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ilmu yang akan menguatkan keyakinan kita yang ini akan menghilangkan segala sesuatu yang namanya syubhat, kerancuan. Itu dalil-dalil yang sangat kuat dan banyak. Argumentasi yang sangat tinggi. Kemudian penyakit syahwat. Bagaimana Allah Subhanahu wa taala ketika menjelaskan tentang perumpamaan dunia, rendahnya dunia agar kecintaan manusia kepada dunia yang berlebihan akan terkikis ketika dia membaca dan merenungkan Al-Qur’an.
  • Setelah menjelaskan semua ini, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala lantas mengatakan, “Walakinna dalalika maukufun ala fahmihi wafatil murodi minhu.” Akan tetapi kebaikan dan keberkahan Al-Qur’an ini kita akan bisa dapatkan tergantung dari bagaimana sejauh mana kita memahaminya dan mengerti kandungan isinya.
  • Jadi, Al-Qur’an sebagai obat penyakit hati. Berarti hati harus tersentuh dengan makna dan kandungan Al-Qur’an yang indah. Ini sudah kita ingatkan berkali-kali. kita harus merubah cara kita membaca Al-Qur’an yang kalau selama ini kita hanya mentargetkan selesai berapa lembar atau bahkan berapa juz, maka jadikan benar bacaan Al-Qur’an kita meskipun sedikit yang kita baca tapi kita bisa berusaha memahami isinya, mentadaburi maknanya supaya ada yang tertinggal di hati kita yang dengan sebab Sebab itulah Al-Qur’an benar-benar kita praktikkan sesuai
  • dengan fungsi diturunkannya, yaitu untuk mengobati kotoran penyakit hati kita supaya hati kita terbuka. Yang setelah itu akan mudah kebaikan-kebaikan akan masuk. Sebab-sebab yang menguatkan dan menumbuhkan iman akan semakin kuat. Ya. Dan ini merupakan fungsi dan kebaikan. terbesar dari Al-Qur’an yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada manusia memang untuk tujuan yang agung ini.
  • Nam kata Syekh di sini, “Fainnal mutadabbir fainnal mutadabbir la yazalu yastafidu min ulumil quran wa maarifihi ma yazdadu bihi imanan. Karena sesungguhnya orang yang merenungkan makna Al-Qur’an, dia akan selalu mengambil faedah dari pengetahuan dan ilmu yang Allah turunkan di dalam Al-Qur’an. Ya, yang dengan itu ma yazdadu bihi iman.
  • Allah subhanahu wa taala akan menambah akan semakin menguatkan imannya. Kan sudah kita ketahui kenapa Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur’an secara iya berangsur-angsur sedikit demi sedikit, tidak langsung sekaligus hikmahnya. Di antara hikmahnya kata para ulama yaitu untuk menguatkan hati Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.
  • Setiap ada kejadian yang penting Allah Subhanahu turunkan petunjuknya dalam Al-Qur’an. Allah turunkan wahyu, maka dengan itu keimanan mereka akan semakin kuat, bertambah lagi. Karena di dalam Al-Qur’an jelas menjelaskan semua perkara dengan gamblang sehingga semakin banyak diturunkan ayat Al-Qur’an semakin kuat hati mereka.
  • Kalau ini bisa menguatkan hati Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, apalagi umat beliau tentu saja yang sangat membutuhkan penguatan iman dengan sebaik-baik petunjuk yang diturunkan dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa taala berfirman, waqalladzina kafaru laula nuzila alaihil quranu jumlatan wahidah kadalika linutabbita bihi fuadaka warattalnahu tartila.
  • Dan orang-orang kafir berkata, “Kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam jumlatan wahidah sekaligus sekali turun semua?” Maka Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Kadzalika linutabbita bihi fuada.” Memang demikian. Wahai Rasulullah, wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, supaya kami kuatkan hatimu dengan ayat Al-Qur’an yang turunnya berangsur-angsur itu.
  • ” Jadi, Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur, maksudnya perlahan-lahan supaya kebaikan-kebaikannya juga masuk ke dalam hati manusia secara bertahap. Kita baca sedikit, kita renungkan, kita ambil faedah. Sekarang bagaimanapun Al-Qur’an sudah turun secara sempurna, tapi kita ingat metode mempelajarinya tidak berubah.
  • Sejak zaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Sampai di zaman kita kalau kita ingin dapatkan sebaik-baik petunjuk sebagaimana yang mereka dapatkan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Kita masih ingat yang pernah saya sampaikan dan mungkin kita pernah dengar juga dalam Sahih Muslim pernyataan dari imam besar dari kalangan tabiin Abu Abdurrahman Asulami rahimahullahu taala yang mengatakan akna hadal Quranin akbaruna annahum kanu idza taallamu asro ayatin lam yatajawazuhunna ilal asril ukh hatta yalamu ma fiha H kami mengambil pelajaran Al-Qur’an ini
  • dari satu kaum yakni para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan beliau ini menemui beberapa sahabat yang senior radhiallahu taala anhum. Ya, seperti Abdullah bin Mas’ud radhiallahu taala anhu, Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya yang pernah dijumpai oleh Abu Abdurrahman Asulami ini.
  • Beliau mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an dari satu kaum, yakni para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan kepada kami bahwa dulunya ketika mereka mempelajari 10 ayat dari Al-Qur’an, mereka tidak akan melangkah atau melampauinya ke 10 ayat berikutnya sampai mereka memahami isinya, sampai mereka bisa membaca dan merenungkan kandungannya.
  • ” Ini istimewanya para sahabat. radhiallahu taala anhum ajmain. Allah benar-benar jadikan Al-Qur’an sebagai sebab yang menguatkan iman mereka. Karena mereka mempelajarinya tidak terburu-buru. Mereka mempelajarinya dengan tujuan untuk menguatkan hati, menumbuhkan iman di hati. Kalau mereka saja melakukan hal itu, apalagi kita ya.
  • Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah petunjuk yang sempurna. Maksudnya keikhlasan, cinta kepada Allah, takut, pengharapan, khusyuk, dan semua kebaikan dalam Islam. Ya, yang saat ini kita ketahui kebanyakan manusia belum bisa menyempurnakan hal itu, hal-hal itu pada diri mereka.
  • Sekarang permasalahannya di mana? Petunjuk Allah telah sempurna ya. Tidak ada lagi setelah 30 juz Al-Qur’an kemudian juz yang ke-31 kan tidak ada juz yang ke-31 sudah lengkap petunjuknya. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mempelajari petunjuk Allah dengan lengkap. Dan kita tahu setelah wafat Allah Subhanahu wa taala tidaklah mewafatkan Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kecuali setelah disempurnakan petunjuk dalam dalam agama ini.
  • Berarti kan tidak ada alasan bagi kita kenapa ikhlas kita masih bermasalah, khusyuk kita dalam salat belum sempurna. Kenapa kecintaan kepada Allah, rasa takut dan pengharapan kepadanya lemah dan seterusnya? Tidak ada alasan. Petunjuk Al-Qur’an sudah sempurna, berarti permasalahannya ada di kita. Kenapa tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya petunjuk tersebut? Kenapa kita hanya mencukupkan diri dengan membaca atau menghafalnya, tapi tidak berusaha merenungkan kandungan isinya sebagaimana yang dulu dilakukan oleh para sahabat radhiallahu taala
  • anhum ajmain. Ya, kalau petunjuk Islam telah sempurna, berarti semua kebaikan-kebaikan dalam Islam telah sempurna dijelaskan juga cara untuk meraih kebaikan tersebut. Cuman tadi permasalahannya siapa yang mau benar-benar mempelajari Al-Qur’an dan merenungkan isinya. Tib kata Syekh di sini, “Kamaqala taala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala ya di surat al-Anfal ayat yang kedua ketika menyebutkan orang-orang yang beriman waidza tuliat alaihim ayatuhu zadathum imanan wa alabihim yatawakalun Dan jika dibacakan kepada mereka
  • ayat-ayat Allah itu menambah keimanan mereka dan mereka hanya selalu berserah diri hanya menyandarkan hatinya bertawakal kepada Allah Subhanahu wa taala. Itulah orang yang beriman ketika dibacakan ayat Al-Qur’an bertambah keimanannya. Jadi bayangkan saja orang yang membaca Al-Qur’an dari awal dari surah Al-Fatihah dia baca dengan perenungan.
  • Setiap dia membaca Al-Qur’an bertambah imannya sampai akhir ayat, sampai akhir surat surat An-Nas. Ya, berarti dia telah menyempurnakan petunjuk Al-Qur’an. Telah dibacanya petunjuk tersebut dengan sempurna. Kemudian dia renungkan. Berapa banyak penguatan iman yang selalu didapatkannya dengan membaca ayat-ayat ini dan merenungkan isinya? Ya, Al-Qur’an inna hadal qurana yahdi lillati hiya aqwam.
  • Al-Qur’an ini benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Ya. Jadi permasalahannya di sini petunjuknya telah sempurna dan lengkap. Al-Qur’an maupun penjelasnya yaitu sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tetapi apakah umat Islam ini yang benar-benar sudah mengambil faedah secara sempurna dari petunjuk yang lengkap dan sempurna ini? Makanya selalu kita katakan ambil pengobatan dari Al-Qur’an dengan cara selalu membaca dan merenungkan isinya.
  • Memang kita butuh untuk belajar tentang tafsir Al-Qur’an meskipun tafsir secara ringkas. Apalagi ayat-ayat Al-Qur’an yang paling sering kita baca di dalam salat kita. Misalnya surat-surat pendek di juz ke-30 atau juz 29 misalnya. Kita bahas tafsirnya. Paling tidak harus ada tafsir misalnya terjemahan di rumah kita agar kita bisa baca.
  • Nanti waktu kita membaca ayat-ayat tersebut. akan ada perenungan sehingga menyambung ke hati kita. Nah, kotoran dan penyakitnya ada di hati, tapi obatnya tidak pernah disentuhkan ke tempat penyakit tersebut. Bagaimana akan sembuh penyakitnya? Ya kan sudah pernah kita jelaskan penyakit hati yang paling besar itu kurang ikhlas, tidak khusyuk dalam salat, tidak takut kepada ancaman azab Allah Subhanahu wa taala, lemah kecintaan kepada akhirat misalnya, tidak merasakan nikmatnya beribadah.
  • Ini semua penyakit parah dan pengobatannya sebaik-baik pengobatannya ada dalam Al-Qur’an. Tapi sepanjang waktu atau sekian lama penyakit ini bersarang di hati kita, sampai sekarang juga belum kita menempuh pengobatan atau upaya menghilangkan penyakit tersebut secara maksimal. Karena kita selalu membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca hurufnya, tidak berusaha merenungkan kandungan isinya.
  • Sehingga tadi obat tidak menyentuh penyakitnya, bagaimana akan sembuh? Ya, jadi membaca Al-Qur’an dengan perenungan terhadap isinya. Ini ada adalah sebaik-baik pengobatan untuk mengobati hati manusia. Dan dengan sebab ini kita akan mengeluarkan keberkahan dan kebaikan-kebaikan Al-Qur’an. Kitabun anzalnahu ilaika mubarok liyadabbaru ayatihi waliyatadzakaro ulul albab.
  • Kitab Al-Qur’an yang kami turunkan kepadamu wahai Rasulullah penuh dengan kebaikan agar manusia merenungkan isinya, mentadaburi maknanya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya. Makanya di ayat yang tadi kita bacakan kan disebut orang yang beriman itu kalau dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Allah, dia dengarkan bacaan Al-Qur’an atau dia baca sendiri, imannya bertambah.
  • Ya, sekarang kita bisa rasakan apakah ciri ini ada pada diri kita. Kita baca Al-Qur’an. Baik kita baca dalam salat kita apa kemudian di luar salat kita. Kita rasakan perubahan yang kita dapatkan setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau setelah selesai kita salat dengarkan bacaan imam misalnya. Ini bacaannya bagus, bacaannya masyaallah dengan tajwid, bacaannya dengan lancar.
  • Setelah itu apa perubahan yang kita rasakan pada diri kita? Apakah kita semakin takut kepada akhirat? Semakin takut terhadap azab Allah Subhanahu wa taala, semakin zuhud terhadap dunia dan seterusnya. Kalau perubahan ini kita rasakan, berarti kita masih punya iman. Berarti ayat Al-Qur’an yang tadi kita baca menambah keimanan kita.
  • Kalau tidak ada yang kita rasakan perubahan tersebut, berarti ini satu tanda yang sangat berbahaya. Kalau ada yang mengatakan bagaimana kita bisa merenungkan? Paham saja tidak ya makanya belajar. Makanya berusaha untuk belajar. Inilah bedanya orang yang berilmu dan tidak berilmu. Qul hal yastawilladzina ya’lamuna walladzina la ya’lamun.
  • Katakanlah apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu? Ya. Jadi berarti permasalahan kita, kita harus berusaha untuk belajar bahasa Al-Qur’an agar kita bisa memahami isinya. Paling tidak selalu membaca terjemahannya, baca tafsirnya. Karena ini termasuk sebesar-besar sebab yang akan menumbuhkan keimanan di hati kita setiap kali kita membaca dan merenungkan isinya.
  • Wakalika nadomi wahi waahu yusdiqu bau baahuus bau bawa bau ba’ laisa fianaqudun wtilafun tq annahu tanzilun min hakimin hamid Ya. Demikian pula ketika seseorang memperhatikan keteraturan isi Al-Qur’an dan kejelasannya, Al-Qur’an saling membenarkan satu sama lain, tidak ada pertentangan padanya, saling bersesuaian maknanya, saling menjelaskan satu sama lain.
  • Tidak ada pertentangan atau kontradiksi, tidak ada perselisihan di dalamnya. Maka seorang hamba akan yakin sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala. La yatiil batil min baini yadaihi w min khalfihi tanzilum min hakimin hamid. Al-Qur’an itu tidak ada kebatilan, tidak ada kesalahan dari depan maupun dari belakangnya.
  • Karena diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala yang maha sempurna hukum dan hikmahnya lagi maha terpuji. Al-Qur’an tidak ada kebatilan. Selalu benar isinya, saling menjelaskan. Bahkan lafaz-lafaznya maknanya benar. Tidak ada kemungkinan salah padanya. Sehingga menggunakan lafaz dalam Al-Qur’an dalam penetapan masalah-masalah akidah itu senantiasa ditekankan atau didahulukan oleh para ulama dibandingkan lafaz-lafaz yang tidak bersumber dari syariat.
  • Ya, inilah keindahan Al-Qur’an. Lafaz dan maknanya benar-benar indah karena diturunkan dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Jadi orang yang membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya, pasti imannya akan semakin bertambah dan semakin kuat. Waahu laana minhairillahi lawajadu fi minilfi umurun minun. Dan bahwasanya kalau Al-Qur’an itu bukan diturunkan dari sisi Allah, kalau Al-Qur’an diturunkan dari sisi selain Allah, maka akan didapati di dalamnya pertentangan dan perselisihan yang sangat banyak.
  • Tetapi karena dari sisi Allah tidak ada pertentangan, justru saling menjelaskan, saling menerangkan, saling bersesuaian. Allah berfirman di surat An-Nisa ayat ke-82. Afala yatadabbarunal qurana walauana mini girillahi lawajadu fiilfanir. Apakah mereka tidak merenungkan, tidak mentadaburi Al-Qur’an yang kalau seandainya Al-Qur’an itu dari sisi selain Allah mestinya mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan, banyak pertentangan.
  • Ya, kita tahu Al-Qur’an yang kandungannya sangat indah ini telah menjadikan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain sebagai generasi yang terbaik. Jadi termasuk sebab yang menjadikan mereka benar-benar generasi yang terbaik dalam keimanan, dalam ilmu, dalam amal, dalam ikhlas dan semua kebaikan agama. Di antara sebabnya apa? Karena Al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan mereka paham isinya, hati mereka terbuka dan siap untuk menerimanya.
  • Ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam surah Ali Imran ya menyebutkan tentang hal ini. Waifa takfuruna wa antum tutla alaikum ayatullahi wafikum rasuluh. Wam yasim billahi faq hudiya ilaatim mustaqim. Bagaimana mungkin kalian akan kufur? Yakni para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Alkufru baidun ankum.
  • Kekafiran sangat jauh dari kalian. Karena di hadapan kalian dibacakan ayat-ayat Allah dan di kalangan kalian ada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan petunjuk Allah, maka sungguh dialah yang akan selalu terbimbing untuk ditunjukkan menempuh jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain memang generasi Allah yang Allah pilih, generasi yang terbaik.
  • Allah jadikan sebab kebaikan mereka seperti yang disebutkan di ayat ini yaitu ayat Al-Qur’an turun langsung dibacakan di hadapan mereka. Siapa yang bacakannya? Jelas. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga langsung beliau jelaskan, “Ala wa inni utitul qurana wlahu maahu.” Itu hadis sahih dalam Sunan Abi Daud.
  • Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Ketahuilah aku ini diturunkan, diberikan kepadaku atau diturunkan kepadaku Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya, yakni sunah yang menjelaskan Al-Qur’an.” Jadi ayat Al-Qur’an turun langsung diterangkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam di hadapan mereka sehingga iman mereka semakin kuat, semakin bertambah.
  • Dan tentu Allah maha tahu ayat-ayat yang diturunkan dalam firmannya sesuai dengan kebutuhan para sahabat dan kondisi mereka saat itu. Ada permasalahan yang mereka belum pahami. Mereka akan datang bertanya kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan sudah kita sering sebutkan contohnya juga sudah sering antum dengarkan ya.
  • Ayat-ayat yang mereka tidak pahami yang kemudian mereka merasa berat. Contoh seperti ketika turunnya firman Allah Subhanahu wa taala, alladzina amanu walam yalbisu imanahum bidulmin ulaika lahumul amnu wahum muhtadun. Ya, orang-orang yang beriman yang tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman. Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan keimanan dan selalu mendapatkan petunjuk.
  • Kita ingat di hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu taala anhu. Ketika para sahabat turun ayat ini mereka merasa berat. Karena ayat ini seolah-olah yang mereka pahami dengan salah ya. Orang yang beriman tidak boleh ada kezaliman sama sekali, tidak bisa berbuat dosa sama sekali, tidak bisa menzalimi dirinya sendiri, baru dia akan mendapatkan keamanan dan selalu mendapatkan petunjuk.
  • Jadi mereka merasa berat tentang ayat ini. Mereka segera datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam menanyakan maknanya. Ternyata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Bukan seperti yang kalian maksudkan. Innama hua asyirku.” Zalim di sini maksudnya adalah kesyirikan. Berdasarkan firman Allah di ayat yang lain.
  • Ya bunayya la tusyrik billahi innas syirka ladulmun adzim. Ya, wahai anakku, janganlah kamu melakukan perbuatan syirik. Ini kata Luqman al-Hakim kepada anaknya, sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang sangat besar. Jadi, Al-Qur’an dijelaskan dengan ayat yang lain dan yang langsung menjelaskannya adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
  • Sebik sebaik-baik nabi yang menasihati umatnya alaihialatu wasalam. Maka para sahabat terbentuk dengan didikan seperti itu ya. Dan sekarang Al-Qur’an ada di hadapan kita. Telah sempurna. Turun semua ayat-ayat sebagai petunjuk. Bahkan sebaik-baik petunjuk. Hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga seperti itu telah diturunkan dengan sempurna dalam wahyu Allah Subhanahu wa taala.
  • Ya, sekarang tinggal kita berusaha mempelajarinya, membaca dan merenungkan isinya. Yakni kita mengikuti para sahabat dengan metode mereka dalam belajar. Kita akan dapatkan dengan izin Allah hasil seperti yang mereka dapatkan. Walladina tabauhum biihsan. Itulah maknanya orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan.
  • Jadi jangan mengikuti kebiasaan orang awam yang sekedar membaca Al-Qur’an buru-buru ingin menyelesaikan. Wala yakunu hammu ahadikum akir surah. Kata Ibnu Mas’ud radhiallahu taala anhu, “Jangan yang menjadi target atau perhatian salah seorang dari kalian sekedar menyelesaikan surat, tapi tidak ada yang tertinggal di hatinya.
  • ” Ini yang harus benar-benar kita benahi. Setelah kita punya kesempatan saat ini belajar pemahaman agama yang benar, kita punya kesempatan bisa membaca tafsir atau mendengarkan kajian tafsir, harusnya kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena inilah kebaikan yang benar-benar Allah telah sempurnakan dan Allah janjikan untuk Allah mudahkan bagi orang-orang yang benar-benar ingin mengambil pelajaran dari Al-Qur’an tersebut.
  • Nam kata Syekh di sini w min a’domi muqawiyatil iman. Dan ini termasuk sebesar-besar sebab yang menguatkan iman. Iya. Bahkan sebab yang lain kayak kita bahas yang sebab yang pertama memahami dan mengenal tauhid yang tiga macam mengamalkannya. Di mana kita mengambil dalil-dalilnya? Kita baca tentang praktiknya ya dalam Al-Qur’an.
  • Setelah kita belajar tauhid, kita sudah paham bagaimana caranya kita mengambil faedah dari tauhid tadi. Ya, waktu kita membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Karena Al-Qur’an mayoritas isinya adalah tentang tauhid, membantah kesyirikan. Jadi ayat-ayat tentang yang memerintahkan untuk beribadah kepada Allah, mengingkari perbuatan syirik dalam segala bentuknya, menyeru kepada selain Allah atau menjadikan sekutu dalam beribadah kepada Allah.
  • Kan mayoritas Al-Qur’an isinya adalah seperti ini. Waktu kita baca dan kita renungkan, masuk ke hati kita dengan sebab ini, dengan izin Allah inilah yang akan menguatkan hati kita untuk kuat di atas tauhid. Dan tauhid kita tahu adalah inti keimanan. Inilah yang akan menguatkan hati kita untuk menjauhi, mengingkari perbuatan syirik dalam segala bentuknya.
  • Ya kan? Kita ingat hati manusia itu tidak ada yang bisa menguasainya selain Allah. Orangnya sendiri, kita sendiri dibatasi dari hati kita. Allah yang membatasinya. Wamu! Inti utama iman belum kita
  • padahal petunjuknya sudah kita baca dengan sempurna. Berarti ada kesalahan fatal dalam hal ini. Iya kan? Kenapa tidak nyambung apa antara apa yang kita baca dan hasil yang kita dapatkan? Ternyata permasalahannya apa? Ya tadi buru-buru ingin menyelesaikan tidak berhenti. Tetap seperti itu kepada Allah Subhanahu wa taala.
  • Waq rasulu ya rabbi innaaku hadal qurana mahjur. Dan rasul berkata mengadu kepada Allah, “Wahai Rabbku, ya Allah sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang mereka tinggalkan.” Ini keluhan Rasul, nabi kita, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, ini kebanyakan umat ini masih meninggalkan Al-Qur’an.
  • Padahal kita tahu umat ini juga banyak membaca. membaca bukan untuk perbaikan hati tadi. Dan ini masih dikatakan sebagai orang yang meninggalkan Al-Qur’an sebagaimana yang terjadi pada pada kebanyakan umat ini kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Nah, walihadza kanal mukminunalummalu yaak. Oleh karena itulah orang-orang yang beriman dengan sempurna mereka mengatakan sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ya di dalam surat Ali Imran.
  • Rabbana innana samna munadi yunadi lil imani anbikum faamna. Wahai Rabb kami. Ya, sesungguhnya mendengarkan seorang penyeru yang menyeru kepada keimanan. Dia mengatakan, “Berimanlah kalian kepada Rabbmu, kepada Allah, maka kami pun beriman.” Siapa penyeru ini? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Apa yang diserukannya adalah Al-Qur’an.
  • Inilah yang dikatakan penyeru yang menyeru kami kepada keimanan. Berarti ayat-ayat Al-Qur’an isinya adalah seruan kepada keimanan. Seandainya kita bisa membacanya dengan benar dan renungkan isinya. Ya. Jadi, maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Pelajaran tentang Al-Qur’an memang harus benar-benar digiatkan, diperbanyak karena ini sumber kebaikan yang kita kurang optimal dalam memanfaatkannya.
  • Ya, petunjuk para ulama salaf dalam mempelajari Al-Qur’an belum kita amalkan dengan sebaik-baiknya. Sekarang kebanyakan kita hanya merasa bangga dengan ya menghasilkan penghafal-penghafal Al-Qur’an. Meskipun jelas ini kebaikan, tidak kita ragukan. Menghasilkan pembaca-pembaca Al-Qur’an yang sampai tingkatan juara dan seterusnya.
  • Ini kita katakan tentu kebaikan besar, tapi kebaikan ini jangan hanya dibatasi pada hal tersebut saja. Tujuan Al-Qur’an diturunkan yang paling utama adalah untuk direnungkan, tidak tercapai. Kan sudah pernah kita sebutkan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala menyebutkan tilawah Al-Qur’an ya tilawatul makna afdolu min mujarrod tilawatil lafzi.
  • Membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya lebih utama daripada sekedar hanya membaca lafaznya. Wa ahluha hum ahlul Quran. Dan orang yang selalu membaca Al-Qur’an dengan memahami kandungan maknanya, inilah ahli Al-Qur’an. Ahli Al-Qur’an adalah ahlullah, orang-orang yang sangat diistimewakan di sisi Allah.
  • Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih, “Ahlul Quran, ahlullahi wa khasatuhu.” Ahli Al-Qur’an, mereka adalah orang-orang yang paling terdekat dan paling diistimewakan di sisi Allah Subhanahu wa taala. Jadi ini jelas ya, sesuatu hal yang harus kita perbaiki agar kita bisa mengambil faedah terbesar diturunkannya Al-Qur’an yaitu untuk menumbuhkan keimanan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala sebagaimana yang dulu telah menguatkan keimanan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Alhamdulillah selesai yang kedua dari sebab-sebab rinci untuk menguatkan dan menambah keimanan. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita di kesempatan pagi hari ini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Saya persilakan kita akhiri kajian kalau ada pertanyaan yang ingin antum sampaikan.
  • Barakallahu fikum. I 49 ya Bismillah, Ustaz mohon kiat-kiat supaya
  • kami tidak malas dalam mempelajari Al-Qur’an karena saat hanya mengandalkan datang ke kajian ilmu tanpa mempelajari Al-Qur’an. Mohon nasihat, Ustaz. Syukran. Jazakallahu khairan wabarakallahu fikum. Amin. Waakum. Iya. Kiat untuk selalu semangat dan rajin baca membaca Al-Qur’an tentu kita semua butuhkan ya.
  • Karena kita adalah orang-orang yang lalai yang semoga Allah Subhanahu wa taala memperbaiki keadaan kita dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan kita ini. Ya, selalu berdoa kepada Allah itu selalu kita katakan sebaik-baik kiat dan kiat yang paling pertama. Karena semua kebaikan itu di tangan Allah, maka rajin berdoa kepada Allah.
  • Selalu minta di waktu-waktu dikabulkannya doa, ingat yang diminta adalah kebaikan seperti ini. Ya Allah, mudahkan kita untuk selalu membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, bisa mentadaburi maknanya, bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai sebab yang menguatkan dan menyempurnakan keimanan di hati kita.
  • Ingat kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala, innadua miftahu kulli khairin. Berdoa kepada Allah itu adalah kunci pembuka segala kebaikan. Maka berdoa dengan sungguh-sungguh. Kalau kita mengetahui ini kita yang paling besar, maka mestinya doa kita akan sungguh-sungguh. Ya, ingat ini adalah kebutuhan kita yang lebih besar dibandingkan kebutuhan terhadap urusan dunia apapun.
  • Karena inilah sebab yang akan menjadi keselamatan dunia dan akhirat kita dengan izin Allah. Ya, kami hanya mengandalkan datang kajian ilmu tanpa mempelajari Al-Qur’an. Ya, tidak bisa seperti ini. Kita datang ke majelis ilmu untuk belajar membenarkan pemahaman kita. Kapan kita praktikkan? Waktu di rumah. Waktu kita membaca Al-Qur’an di rumah kita ya.
  • Kalau misalnya sekedar kita mengumpulkan teman-teman kita, apalagi di antara mereka mungkin ada yang lebih berilmu misalnya, misalnya kalau kita ingin hidupkan majelis kita butuh teman-teman, undang teman kita beberapa orang kita baca. Sekadar kita hadirkan misalnya ada tafsir terjemahan karena ada ringkasan tafsir Ibnu Katsir terjemahannya ada.
  • Kemudian tafsir Assa’di yang ditulis oleh Syekh ini juga ada. Sekadar kita buka bersama-sama kita baca. Masyaallah. Itu faedahnya besar ya. Kita baca Al-Qur’an mulai dari surat-surat yang pendek baru kita baca terjemahannya, setelah itu kita baca tafsirnya. Masyaallah. Ini termasuk kebaikan yang tentu kita usahakan.
  • Nah, yang seperti ini kita harusnya bisa luangkan waktu kita waktu di rumah daripada kita hanya berkumpul kemudian sekedar membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. bahkan mungkin mendatangkan dosa. Naudubillah minzalik. Maka lebih bagus kita adakan majelis seperti ini. Apalagi kalau seandainya itu bisa dibimbing oleh orang yang berilmu.
  • Kalaupun tidak bisa, paling tidak di antara kita ada yang namanya mudzakarah. Majelis mudakarah. Yakni saling berdiskusi di antara kita tentu dengan bimbingan dari petunjuk Allah yang sudah kita siapkan juga. Paling tidak tadi tafsir terjemahan misalnya. Nanti ada hal-hal yang tidak kita pahami, tanyakan kepada ustaz.
  • Bisa kita telepon langsung atau dengan mengirim pesan. Ya, ini adalah sebaik-baik cara untuk kita bisa memanfaatkan waktu kita di luar waktu pengajian yang kita hadiri. Nah, saya pernah mendengar ada perkataan Abu Bakar radhiallahu taala anhu tentang doa, yaitu aku tidak khawatir doaku tidak dikabulkan. Tapi aku khawatir jika tidak diberi taufik untuk berdoa.
  • Apakah hal ini benar? Jika sahih, bagaimana maksudnya? Yang saya ketahui ini ada ucap adalah ucapan dari sahabat Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu. Di antaranya disebut Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Alfawaid. Lafaz yang disebutkan oleh beliau dalam kitab tersebut. Jadi Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu berkata, “Inni la ahmilu hammal ijabati walakin faidza ulhimtua fa ijabata takunu maahu.
  • ” Sesungguhnya aku tidak membawa semangat untuk sekedar berdoa untuk sekedar dikabulkan. Tapi yang aku semangat adalah ham keinginan atau semangat untuk berdoa. Karena jika kamu telah mendapatkan ilham untuk selalu berdoa, niscaya pengabulan akan menyertainya. Jadi begini, maksudnya doa itu kita butuhkan dan kita semangat lakukan bukan hanya pertimbangan untuk dikabulkan saja permintaan kita, tapi doa itu sendiri sudah merupakan kebaikan besar.
  • Ya, doa tadi kita katakan adalah pembuka kunci, pembuka segala kebaikan. Doa ini ibadah terlepas dari keutamaan ya dikabulkannya doa kita yang sudah kita pernah sebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Kan pengabulan itu bisa langsung dijadikan untuk tabungan pahala di akhirat. Iya kan? atau sebab dipalingkan dari kita dari keburukan yang semisal doa tersebut.
  • Itu disebutkan dalam Sahih Muslim. Jadi doa itu sendiri adalah kebaikan dan pahalanya besar. Bahkan kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, kunci taufik selalu mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala adalah selalu berdoa sungguh-sungguh selalu bersandar kepadanya. miftahuhu aduau wasidqul luju ilaihi warbatu warahbatu ilai selalu berdoa, selalu bersandar kepada Allah, selalu takut dan berharap kepadanya.
  • Ini kunci taufik. Maksudnya orang yang telah memegang kunci ini berarti dia akan mudah membuka pintu taufik. Ya, miftah faq arftahahu. Kata beliau, “Barang siapa yang diberikan padanya kunci ini, berarti Allah ingin membukakan baginya pintu taufik. Tapi barang siapa yang tidak memiliki kunci ini, maka dia akan mendapatkan taufik selalu tertutup di hadapannya.
  • ” Ini penjelasan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Alfaid. Jadi kunci dari segala kebaikan adalah rajin berdoa. Bukan hanya pertimbangan untuk dikabulkan. Jadi orang tidak merasa saya berdoa ketika saya butuh, ketika lagi banyak hutang, ketika lagi kesulitan ekonomi, baru rajin berdoa. Di mana Anda ketika di saat-saat yang Anda merasa lapang, yang harusnya waktu lapang, banyak berdoa kepada Allah supaya kita ditolong waktu sempit.
  • Yang kedua, apakah betul orang tidak punya kebutuhan dia berbuat baikan, dia butuh istikamah? Kenapa dia tidak sungguh-sungguh berdoa? Orang yang rajin menghadiri pengajian, bukankah dia ingin terus rajin? Bagaimana caranya supaya terus rajin? Ya, berdoa kepada Allah agar hidayah dan taufik, rajin mengikuti pengajian Allah tetapkan pada dirinya.
  • Kita melihat orang berbuat maksiat, kita kan tidak mau melakukannya. Kita ingin dijauhkan dari perbuatan maksiat. Bagaimana caranya? berdoa kepada Allah karena cuma Dia yang bisa menjauhkan kita dari sebab keburukan tersebut. Jadi dalam semua keadaan orang itu semakin banyak nikmat yang dia dapatkan harusnya semakin rajin berdoa meminta sungguh-sungguh kepada Allah agar ditetapkan nikmat itu pada dirinya.
  • Apalagi kalau orang yang merasa dirinya punya banyak kekurangan. Kenapa dia tidak rajin terus berdoa kepada Allah? Itu maksudnya. Jadi selalu rajin berdoa meminta kepada Allah. itu yang kita butuhkan lebih daripada sekedar keinginan hanya untuk sekedar dikabulkan permintaan kita. Apakah di dalam Al-Qur’an ada perintah harus bermazhab dengan sebab bagian ustaz menuduh kaum salaf tidak bermazhab hingga tersesat? Justru pernyataan ini yang tersesat.
  • Ya. Apa artinya kalau dikatakan bermazhab itu wajib? Artinya seolah-olah dia mengatakan bahwa pendapat yang diikuti dalam mazhab tersebut itulah pendapat yang benar semua. Yang jelas tidak benar. Manusia sepintar apapun dia pasti ada pendapatnya yang salah. Sebagai manusia biasa ahlusunah wal jamaah kita tahu mereka tidak menyengaja untuk menyelisihi dalil.
  • Tidak sengaja, tidak menyengaja untuk berpendapat yang salah sesuai ilmu yang sampai kepada mereka. Makanya karena yang terjamin dan maksum hanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Yang wajib kita ikuti semua pendapatnya atau ucapannya hanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Karena wantiquil hawa in hua illa wahyu yuha.
  • Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak berkata dari hawa nafsunya. Tidak lain yang beliau sampaikan adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Masih ingat pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah taala yang terkenal? Laaisa ahadun ba Nabi shallallahu alaihi wasallam illa whira ill nabi shallallahu wasallam. Tidak ada seorang pun setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam kecuali diambil pendapatnya.
  • bisa diambil pendapatnya kalau benar sesuai dengan dalil dan bisa ditinggalkan kecuali Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kemudian kalau orang yang bermazhab misalnya dengan mazhab Imam Syafi’i, lantas dia ke manakan? Imam Ahmad yang merupakan muridnya Imam Syafi’i yang katakan oleh para ulama sebagai ulama yang paling banyak hafalannya dalam masalah hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Terus dikemanakan Imam Malik yang merupakan gurunya Imam Syafi’i sendiri, Imam Abu Hanifah dan seterusnya. Karena kalau kata-kata bermazhab kan dia hanya berpegang teguh dengan satu mazhab. Ini yang yang salah. Kalau misalnya dia mempelajari buku mazhab tapi kemudian dia terangkan dengan dalil, boleh-boleh saja.
  • Dan ini metode yang ditempuh oleh sebagian dari para ulama. Tapi kalau dikatakan hanya berpendapat dengan mazhab tersebut, seolah-olah kebenaran semua ada pada seseorang ini. Ini tidak benar. Ya, yang terjaga pendapatnya atau perkataannya semua benar hanyalah hanyalah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
  • Makanya kita ketahui para imam mazhab pun tidak berpendapat seperti ini. Tidak menyuruh umatnya atau pengikutnya untuk fanatik. Semua mereka mengatakan shal haditu fahua mazhabi. Ketika sebuah hadis itu sahih, maka itulah pendapatku, itulah itulah mazhabku. Ya. Kemudian masalah yang berhubungan dengan mazhab ini banyak penjelasan dari para ulama yang kita ketahui ya.
  • Termasuk ini penyakit yang bisa merusak pemahaman karena menjadikan seseorang itu menganggap mazhabnya saja semua kebenaran yang lain akan ditolak. Naudubillah minzalik. Sampai mencari-cari dalil untuk membenarkan pendapat dalam mazhabnya. Meskipun jelas-jelas dalil lain yang sahih tidak sesuai dengan mazhab tersebut.
  • dan diterangkan juga oleh para ulama lainnya. Kemudian kata para ulama, kalau seandainya ingin bermazhab, kenapa mengambil mazhab dari orang-orang yang sudah jauh dari masa Nabi sallallahu alaihi wasallam? Harusnya lebih pantas kita mengikuti mazhabnya Abu Bakar Asssiddiq misalnya, mazhabnya Umar ibn Khattab, Khulafaur Rasyidin yang empat ya.
  • Dan kalau dikatakan kewajiban bermazhab itu harus, berarti orang-orang yang hidup sebelum zaman Imam Syafi’i mereka ikut mazhabnya siapa? Sebelum zamannya Imam Abu Hanifah. Ya, Imam Abu Hanifah kan yang paling senior di antara Imam yang empat dan masa beliau juga kalaupun tabiin, tabiin yang sudah yang sudah belakangan ya.
  • Imam Malik, tabiut tabiin, Imam Syafi’i setelah itu dan seterusnya Imam Ahmad ya. Jadi yang orang-orang yang hidup kaum muslimin sebelum mereka ikut mazhab siapa? Ini semua adalah menunjukkan kebatilan tentang pemahaman tersebut. Yang diwajibkan bagi kita adalah mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Para ulama dijadikan sebagai perantara untuk memahami petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Karena mereka orang-orang yang berilmu yang punya kapasitas untuk menjelaskan ilmu agama. Tapi tidak boleh kita berfanatik kepada salah seorang di antara mereka. Apakah yang dimaksud dengan merenungi ayat adalah kita merenungi sendiri dan membaca kitab tafsir sendiri atau menghadiri majelis kajian tafsir ditakutkan membaca tafsir sendiri bisa membuat kekeliruan karena masih awam penuntut ilmu.
  • Sedangkan majelis kajian tafsir masih sangat sedikit dibandingkan kajian umum kitab-kitab hadis. Iya. kita tuh kita harus belajar bukan merenungkan sendiri ya. Tidak boleh kita merenungkan sendiri kita harus belajar. Saya katakan tadi kalau seandainya waktu belajar kita sedikit dan banyak waktu kosong tidak mengapa.
  • Tadi kita saling mengajak teman-teman yang sudah ngaji, kita saling membaca tafsir, nanti kalau ada yang tidak dipahami tanyakan kepada ustaz. Karena kan permasalahan-permasalahan dalam tafsir tidak semua permasalahan-permasalahan yang rumit. Ada yang bisa kita baca apalagi dengan pengetahuan yang sudah kita dapat dalam kajian-kajian.
  • Kemudian sebenarnya kajian-kajian bidang lain selain tafsir adalah seperti kajian hadis, kemudian kajian fikih ini juga mendukung pemahaman tafsir yang benar tentu saja. Cuman ya jelas pengajian tafsir itu harus diperbanyak. Dan tadi kita katakan untuk merenungkan ini bukan dengan memahami sendiri, tapi kita merujuk kepada tafsir para ulama.
  • Ini saya katakan bagi orang yang belum bahasa Arab kan ada terjemahan setelah dia belajar kajian menghadiri majelis ilmu dia pulang dia bisa membaca Al-Qur’an dan ketika ada hal-hal tidak dipahami dia merujuk kepada tafsir. Kalau dia tidak paham tanyakan kembali kepada ustaz. Seperti itu caranya. Jadi kita tetap praktikkan di rumah kita.
  • Karena bagaimanapun waktu di luar kan juga banyak waktu yang kita habiskan untuk urusan dunia kita lebih banyak. Makanya kita perbanyak untuk bisa selalu memb Al-Qur’an dan merenungkan isinya dengan bantuan kitab misalnya terjemahan dari tafsir-tafsir yang bermanhaj salaf. Nah, bagaimana dengan kaum khawarij yang pandai baca Al-Qur’an tapi mereka rumus dalam akidah yang menyimpang? Iya, karena mereka hanya pandai membaca tapi tidak merenungkan isinya.
  • Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang mereka dalam hadis riwayat Imam Muslim tentang orang-orang Khawarij. Yaqraunal qurana la yujawizu hanajirohum. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melampaui tenggorokan atau kerongkongannya. Ini tidak masuk ke dalam hatinya karena tidak ada perenungan. Ini yang menjadikan Al-Qur’an bagi sebagian mereka ya hanya hiasi lisan tapi tidak sampai ke dalam hati.
  • Sebagian ulama salaf mengatakan rubbaq qoriin lil qurani wal quranu yalanu. Berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an tapi Al-Qur’an melaknat dirinya karena dia tidak paham. Dia membaca Al-Qur’an bahkan hafal Al-Qur’an tapi melakukan perbuatan syirik. Akidahnya menyimpang. masih menyembah-nyembah di kuburan dan seterusnya.
  • Ini jelas karena tidak membaca dan merenungkan Al-Qur’an sehingga tidak mendapatkan bimbingan hidayah Al-Qur’an. Bolehkah kita belajar membaca Al-Qur’an dari seorang yang akidah dan manhajnya berbeda? Jawabannya tidak boleh. Karena ini justru berbahaya. Al-Qur’an sebaik-baik petunjuk. Ya, kalau orang yang akidahnya menyimpang dari manhaj salaf berarti dia tersesat.
  • Nah, ketika Al-Qur’an tidak bermanfaat untuk dirinya, bagaimana bisa memberi manfaat untuk orang lain? Orang mengatakan faqidusai la yutihi. Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa. Jadi, Al-Qur’an saja tidak memperbaiki. Bagaimana bisa memperbaiki orang lain? Ya, jangan belajar dari orang yang seperti ini karena ini akan menjadi sebab dia bisa menyusupkan pemahamannya.
  • Bagaimanapun namanya guru terhadap murid, guru pasti ingin mengajarkan sesuatu yang dianggapnya baik. Kalau dia menyampaikan penyimpangan, dia menyusupkan pemahaman-pemahaman yang menyimpang, bagaimana? Apalagi ini di ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan sumber hidayah kita. Sumber hidayah untuk menambah kebaikan dan menyempurnakan keimanan kita.
  • Bagaimana cara mengobati penyakit hati, hasad, iri dengan metode belajar Al-Qur’an. Iya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang penyakit-penyakit hati ini kita baca berulang-ulang, kita renungkan seperti itu caranya. Jadi, Al-Qur’an obat penyakit di hati kita. Sentukan ayat-ayat tersebut diulang.
  • Oh, ternyata begini maknanya. Perenungan seperti ini akan membersihkan menghilangkan kotoran penyakit hati tersebut dengan subhanahu wa taala kalau kita benar dalam merenungkan atau mentadaburinya. Bagaimana apabila kita menjumpai Al-Qur’an dengan kondisi yang sudah rusak, apabila dikumpulkan akan hanya menuhi tempat dan tidak terawat.
  • Kalau kondisinya rusak, maka diperbaiki. Kalau seandainya bisa diperbaiki, disampul kembali nanti kita letakkan di masjid atau berikan kepada orang yang butuh. Tapi kalau sudah robek-robek, sudah hilang-hilang hurufnya, maka tidak mengapa kita bakar supaya nanti orang tidak membacanya dengan keliru. Begitu.
  • Nah, apakah boleh kita bila kita Iya menguburnya? Iya tidak mengapa. Kalau seandainya rusak, robek-robek sehingga tidak bisa dibaca boleh kita membakarnya. Dibakar tujuannya untuk supaya orang tidak nanti membacanya keliru nanti. Misalnya sudah hilang-hilang hurufnya, sudah dimakan rayap misalnya ya.
  • Seperti mungkin Quran-Quran yang lama. Kalau masih bisa diperbaiki, diperbaiki dulu. misalnya sampulnya sekedar sampulnya yang rusak lembar-lembarannya dikumpulkan, maka itu yang kita usahakan supaya bisa kita berikan kepada orang lain yang bisa memanfaatkannya. Bagaimana kalau pasangan atau suami kita belajar membaca Al-Qur’an? Kebanyakan belajar sendiri padahal Iya.
  • Ya, karena istri mendapatkan apa ini? Pembimbingnya karena alhamdulillah istrinya sudah belajar tahsin dan dengan seorang ustazah. Iya, tidak mengapa. Harusnya suaminya jangan belajar sendiri karena ini pasti akan menjadi sebab banyak salahnya termasuk membacanya apalagi tentang isinya. Dia belajar sama istrinya yang sudah belajar.
  • Ya, jangan dia merasa gengsi karena rangga yang yang dibangun yang beriman isinya adalah saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, yang ingin saya tanyakan, apakah saya istri berdosa tidak membimbing suami agar lancar bisa membaca Al-Qur’an? Kalau kita kan berdosa. Tapi kalau sudah kita berusaha minta ternyata suami yang tidak mau yaitu dosa ditanggung oleh dirinya sendiri.
  • ini sekarang ada kesempatan dia bisa belajar sama istrinya, dimudahkan lagi di rumahnya mempelajarinya. Kenapa dia tidak manfaatkan dengan sebaik-baiknya? Yang jelas istrinya berusaha untuk meminta kepada suamiar bisa membimbingnya atau mungkin dengan disampaikan dengan bahasa belajar bersama supaya suaminya tidak merasa digurui.
  • Ya, yang jelas tujuannya untuk saling membimbing dalam kebaikan besar ini. Barakallahu fikum. Ya, cukup di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas bermanfaat dan menab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin.
  • Wa akirhamdulillahiabbilamin. Subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla an. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Yeah.

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *