(17) [LIVE] Kajian Ahad ” Kitab Riyadhus Shalihin ” Oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA Hafidzahullah – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

Transcript:
(00:00) utan kajian membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Riyadus Shihin min Kalami Sayyidil Mursalin karya dari Al Imam Abu Zakaria Yahya Ibnu Syarof An-Nawawi rahimahullahu taala. Saat ini kita masih melanjutkan pembahasan di kitabul fadil kitab tentang keutamaan-keutamaan amal. Sekarang kita masuki pembahasan di bab yang baru.
(00:37) [berdehem] Wataswiyatiha wal amri bitmami sufufilaliwatiha watari fiha. Bab keutamaan saf yang pertama dan perintah untuk menyempurnakan saf-saf yang terdepan terlebih dahulu, [berdehem] meluruskannya dan merapatkannya. Ini juga tentu bagian dari keutamaan besar dan termasuk bentuk almusaraah. Bersegera dalam melakukan kebaikan, berlomba-lomba dalam mengerjakannya.
(01:24) Yakni ketika salat berjamaah berusaha untuk datang lebih awal agar bisa menempati saf yang pertama. Karena tentu ini yang lebih utama dan menunjukkan sikap bersegera dalam melakukan amal kebaikan. Yang ini dipuji di dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di dalam banyak ayat Al-Qur’an seperti dalam firman Allah Subhanahu wa taala ketika memuji hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa.
(01:52) Ulaika yusariuna filhairati wahum laha sabiquun. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan dan berlomba-lomba melaksanakannya. Jadi termasuk tentu saja mengisi saf yang pertama TB. Kita akan baca di sini beberapa hadis yang disampaikan atau dibawakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah taala dalam pembahasan ini.
(02:26) Hadis nomor 1082 dari awal kitab. Imam Nawawi rahimahullah taala berkata, “An Jabir bin Samurat radhiallahu anhuma qal.” Dari sahabat Jabir bin Samsurah semoga Allah meridainya. radhiallahu anhuma. Semoga Allah meridainya, meridai keduanya dia dan bapaknya. Dia berkata, “Khoroja alaina Rasulullah sallallahu alaihi wasallam faqal.
(02:57) ” Suatu hari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam keluar menemui kami ketika mereka sedang salat berjamaah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam keluar kepada kami dan beliau bersabda, “Ala tffunakama tasful malaikatuha. Apakah kalian tidak ingin bersaf atau berbaris sebagaimana para malaikat bersaf atau berbaris di sisi Allah subhanahu wa taala? Faqulna maka kami pun berkata, “Ya Rasulullah, waaifa tasofful malaikatu rabbiha.
(03:37) ” Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, bagaimanakah para malaikat bersaf-saf atau berbaris? alaihiusalatu wasalam alaihimusalam di sisi Rabbnya di hadapan Allah subhanahu wa taala qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda yutimmunfual wataruna f rawahu muslim [mendengus] mereka menyempurnakan saf-saf yang terdepan terlebih dahulu dan mereka merapatkan barisan dalam saf tersebut.
(04:14) Ini yang diperbuat oleh para malaikat alaihiusalatu wasalam. Hadis riwayat Imam Muslim. Ini berarti menunjukkan ya, karena malaikat adalah makhluk-makhluk yang selalu taat kepada Allah maka mereka jadi panutan dalam segala kebaikan. Kita diperintahkan untuk menyerupai atau bertasyabuh dengan mereka. Ya, bertasyabuh dengan menyerupai orang-orang yang saleh ini cara mereka berbaris di hadapan Allah Subhanahu wa taala.
(04:45) Menunjukkan ketaatan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya ini perbuatan para malaikat. Mereka meluruskan saf kemudian menyempurnakan yang awal terlebih dahulu untuk menunjukkan kepada kita bahwa orang yang menempati saf terdepan itulah yang terbaik dibandingkan yang berikutnya. Tiib. Kita lihat faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini.
(05:14) Yang pertama, ikhbarun anal malaikata yakununa sufufanallahi tabaraka wa taala. Watataruna fisofi fala yakunu khalalun bainahum. penjelasan bahwa para malaikat itu mereka berbaris bersaf-saf di hadapan Allah Subhanahu wa taala dan merapatkan safnya, merapatkan barisannya sehingga tidak ada khalal, tidak ada kesenjangan, tidak ada celah di antara mereka.
(05:53) Jemaah sekalian hafidakumullah. Aturan untuk merapatkan saf ya [berdehem] sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih yaitu meluruskan dan merapatkannya. Cara melakukannya tentu saja tidak sampai terlalu sempit dan juga tidak terlalu longgar. Disebutkan di dalam hadis yang sahih dari Anas bin Malik radhiallahu taala anhu ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam memerintahkan, ini hadis sahih riwayat Imam Bukhari, para sahabat ya aimu sufufakum watarasu luruskanlah saf-saf kalian dan rapatkanlah.
(06:37) Anas bin Malik radhiallahu taala anhu menyebutkan bagaimana para sahabat mempraktikkan perintah ini. Dan tentu mereka yang paling paham tentang makna perintah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kata Anas bin Malik radhiallahu taala anhu, “Roaitu ahadana yulsiku manibahu bimanibihibihi warijlahu birijlih.
(07:01) ” Aku melihat masing-masing kami menempelkan pundaknya di pundak temannya di samping dan kakinya di kaki temannya di samping. Jadi bukan cuma sekedar kaki yang ditempelkan. Dan ukurannya bukan kaki. Ini sudah kita ulang berkali-kali. Kenapa bukan kaki? Karena kaki itu antum bisa lebarkan sekali, antum bisa sempitkan sekali.
(07:29) Coba antum rapatkan kaki jadi rapat, tidak ada jarak lagi. Dilebarkan sekali jadi lebar sekali. Ini juga salah. Tapi yang menjadi ukurannya adalah pundah. Karena pundah kan pasti pas. Tidak bisa dilebarkan, tidak bisa di dikurangi. Kalau kita tegakkan pundak kita, ya sudah itulah ukurannya. kaki mengikuti pundak.
(07:50) Sehingga cara merapatkan saf adalah seperti itu. Pundaknya saling bersentuhan kemudian kakinya di bawa bersentuhan. Jadinya rapat ya. Sehingga tidak dibenarkan ketika kita melihat sebagian ikhwan yang melaksanakan salat itu dengan kaki yang sangat dilebarkan melebihi pundaknya. ini nanti akan menjadikan kelonggar ketika terlihat nanti kalau sudah duduk.
(08:17) Kalau orang sudah duduk kan duduknya pasti sesuai dengan ukuran pundaknya. Nah, ketika dia kakinya terlalu lebar nanti akan longgar, akan ada senjang. Ketika duduk akan kelihatan. Tapi kalau dari sejak berdiri dia sudah meratakan kaki dengan pundaknya sama-sama bersentuhan, maka niscaya nanti insyaallah ketika duduk pun akan rapat.
(08:41) ketika duduk pun akan rapat. Ada sebagian ikhwan yang mungkin berpikiran, “Ya, bagaimana kalau saya menjadikan ukurannya pundak, maka teman di samping saya terlalu jauh. Karena temannya terlalu jauh, apalagi orang awam, maka dia akan melebarkan kakinya selebar mungkin supaya kena dua-duanya.” Kita katakan ini salah.
(09:06) Ketika Anda mengatur saf ya dalam salat berjamaah itu saf yang dijadikan patokan adalah yang di belakang imam yang lurus dengan imam. Setiap saf seperti itu. Patokan ini maksudnya ketika antum meluruskan saf jangan dilihat yang jauh dari imam. Lihat yang di samping imam atau di belakang imam. Bagaimana dia dalam masalah safnya? Itu yang jadikan ukuran lurusnya saf.
(09:38) Sehingga ketika antum nanti datang sebagai barisan yang misalnya tidak langsung di belakang imam, antum datang berikutnya, maka merapatlah ke arah saf yang ada di belakang imam, baik dari kanan maupun kiri. Datang merapat. Yang datang setelah Anda, tugasnya dia adalah merapat ke Anda, ke antum. Bukan antum yang berusaha untuk rapatkan dua-duanya.
(10:03) Kalau dia misalnya terlalu jauh, usahakan pakai isyarat ajak dia supaya mendekat. Kalau tidak mau, ya sudah. Kewajiban kita merapatkan saf kita ke arah yang di belakang imam. Jadi antum tidak berkewajiban untuk kakinya harus menyentuh dua-dua sebelah kiri dan kanan. Airnya sangat lebar sekali. Ini salah. Antum kewajibannya merapatkan ke arah yang menuju saf imam, menuju belakangnya imam.
(10:29) [berdehem] Ya, adapun orang yang menjauh itu bisa kita ajak pakai isyarat atau kita tarik kalau belum mulai salat kita suruh mendekat. Kalaupun dia tidak mau, ya itu urusannya dia yang berdosa. Antum tugas antum adalah merapatkan saf, bukan berusaha untuk membuat kaki yang lebar, akhirnya melanggar dua-duanya.
(10:46) Ke sini tidak dapat, ke sini juga tidak dapat. Ini salah ya. Jadi [berdehem] kita ingat di sini merapatkan saf adalah begitu caranya sehingga saf ini tetap rapat meskipun kita berdiri waktu kita duduk ya tetap lurus dan rapat tidak ada celah di antaranya yang kita tahu celah ini akan bisa menjadi sebab masuknya setan untuk menggoda orang yang sedang melaksanakan salat naudubillah minzalik.
(11:19) Nam tibani faedah yang kedua, tasfiatus saofi watarasuhu dalalatun ala wahdatil umati waltizamu jamaatiha bidinin wahidin wa imamin wahidin wa aqidatin wahidah. Lurus dan rapatnya saf adalah dalalah, dalil yang menunjukkan kesatuan umat ini. Ya. Dan berpegang teguh dengan jemaah kaum muslimin dengan agama yang satu, imam yang satu dan akidah yang satu yaitu tauhid.
(12:02) Hanya mengesakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata dan tidak menyekutukannya. Nah, ikhwan dan akhwat fiddin aazakumullah. Kita tahu dalam hal meluruskan dan merapatkan saf juga [mendengus] ya masing-masing jemaah bertanggung jawab ketika terjadi saf yang bengkok masing-masing berusaha untuk meluruskannya.
(12:26) Ingat tadi patokannya adalah orang yang berdiri langsung di belakang imam. Inilah ukurannya. Sudah kita sering ingatkan ketika kita datang salat berjamaah membentuk saf baru. Ada sebagian orang masyaallah ini akibat dari tidak belajar agama dia bentuk saf paling ujung. Masyaallah yang tengah kosong ini tidak boleh.
(12:44) Dia harus bentuk dari tengah kemudian seterusnya seterusnya seterusnya. [berdehem][batuk] Kemudian kita tahu kan ada larangan berdiri di saf sendirian. [berdehem] Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih, shat liman sha kh wahdahu. Tidak ada salat bagi orang yang berdiri di belakang saf sendirian. Makanya ketika bisa kita cari di antara cela-cela saf masih bisa kita isi, kita isi.
(13:10) Kecuali kalau misalnya tidak ada lagi, terpaksa kita berdiri belakang sendiri, kita berharap ada orang yang datang. Kalaupun tidak ada kalau sudah kita berusaha, maka tentu kita tidak kena karena kita sudah berusaha. Ya, ini maksudnya kalau ada saf yang kosong berusahalah untuk diisi. Misalnya ada orang awam salatnya terlalu renggang, antum izin untuk masuk masuk di tengah-tengahnya tidak mengapa.
(13:30) Bahkan kalau ada saf yang kosong kita diperintahkan mengisinya. Karena [berdehem] ini termasuk perbuatan menyambung saf yang dipuji dalam hadis yang sahih. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Man wasan waslahullah waman qotan qotahullah.” Barang siapa yang menyambung saf maka Allah akan menyambungnya. ini menyambung kebaikan baginya.
(13:52) Dan barang siapa yang memutuskan saf, maka Allah akan memutusnya. Sehingga kalau ada saf yang putus, kita harus sambung. Misalnya ada orang yang sedang salat berjamaah, tiba-tiba ada yang batal wudunya, dia keluar akhirnya kosong safnya. Yang belakang bisa maju atau yang di samping merapatkannya? Dilihat saja.
(14:11) Kalau tidak ada yang maju dari belakang, maka yang samping menutup saf tersebut. Yang lain kemudian bergeser. Tidak mengapa. Ini tujuannya untuk meratakan saf disyariatkan meskipun di tengah-tengah pelaksanaan salat kita boleh melakukan hal itu. Nam. Kemudian alhadu alat tasyabbuhi bil malaikati liannal malaikata maksumuna minal khat watasyabbuhu bil maksumi yuaddi ila syibhil kamali fil amal.
(14:43) Anjuran menyerupai para malaikat alaihimusam. Karena para malaikat adalah hamba-hamba yang terjaga dari kesalahan. Allah lindungi mereka dari kesalahan dan menyerupai orang-orang yang terjaga dari kesalahan ini membawa kita untuk bisa mendekati kesempurnaan dalam beramal. Ya, makanya termasuk yang dianjurkan di sini tadi apa? Meratakan dan meluruskan saf seperti para malaikat di hadapan Allah subhanahu wa taala.
(15:19) Dan beberapa hadis yang sahih menyebutkan seperti masalah mengucapkan amin. Setelah imam membaca surah al-Fatihah kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Fainnahu man waqminu tamminal malaikati gufir lahu ma taqdama minambih.” Sesungguhnya barang siapa yang bersesuaian antara ucapan aminnya dengan aminnya para malaikat, ucapan amin para malaikat akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.
(15:47) Ini keutamaan kita mengucapkan amin. Tidak boleh mendahului imam tapi kita tunggu. Imam mengucapkan amin kita ucapkan maka ini akan bersesuaian dengan ucapan aminnya para malaikat. itu menjadi sebab diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Ini menunjukkan mengikuti para malaikat memang dianjurkan karena mereka adalah hamba-hamba yang selalu taat kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya.
(16:10) Jadi kita ingat tadi faedah hadis ini berhubungan dengan bersegera untuk mendapatkan saf yang pertama kemudian meluruskan dan merapatkan saf ketika salat berjamaah. Ya, makanya memang ketika kita melaksanakan salat memang sebisa mungkin kita harus melatih ya badan kita untuk ya terbiasa misalnya kaki kita agak luruskan jangan terlalu bengkok.
(16:41) Ada orang salat masyaallah kakinya bengkok sekali. Ini Anda berbaris berbaris dengan rapi lurus dan rapat. Berarti kan kaki kita harus luruskan. Wong kita upacara saja atau berbaris baris berbaris. kita berusaha, kita bentuk kaki kita, kita, langkah kita, kita susun. Apalagi ini berbaris di hadapan Allah Subhanahu wa taala yang merupakan amal ketaatan yang besar.
(17:03) Ya, cuman selalu kita katakan, ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah, seperti penjelasan para ulama, di dalam salat itu gerakan-gerakan kita wajar. Tidak ada yang sampai dipaksa melakukan sesuatu. Misalnya ada orang kayak sekarang terlalu sempit sampai susah untuk duduk iftirasy atau duduk tawaruk susah karena terlalu sempit. Ini juga salah.
(17:26) Kalau sempit kita longgarkan sedikit. Mungkin ada yang sana longgar kita lapangkan sedikit atau kita suruh salah seorang yang terakhir datang untuk mundur karena tidak cukup lagi safnya. Kemudian tadi kaki kita usahakan luruskan sewajarnya. Tidak usah juga sampai sebagian orang masyaallah kakinya sampai dibengkokkan dalam rangka meluruskan kepada orang lain. Tidak.
(17:47) Kita katakan Anda ketika meluruskan saf, berbuatlah semaksimal yang menjadi kewajiban kita. Luruskan kaki kita. Sudah pas jarak kita dengan pundak kita. Kita berdiri, orang lain kita ajak untuk mendekat. Kalau dia tidak mau mendekat, berarti tanggung jawab dia. Karena dia tidak meluruskan saf. Adapun kewajiban kita untuk merapat ke arah saf yang ada di belakang imam itu yang kita utamakan dan kita dahulukan.
(18:10) Orang lain yang tidak melaksanakannya, ya kita ajak untuk mendekat atau rapatkan saf. Kalau dia tidak mau, maka itu menjadi tanggung jawab dia. Ketika dia tidak mau meluruskan atau merapatkan saf barisan dalam salat berjamaahnya. Nam. Barakallahu fik. Kemudian hadis yang berikutnya 1083 an Abi Hurairat radhiallahu anhu anna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam qol dari sahabat Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Sakhar Addausi radhiallahu taala anhu sahabat yang paling Paling banyak meriwayatkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam secara mutlak
(19:00) bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Lau ya’lamunasu ma fin nidai wasofil awali tumma lam yajidu illa an yastahimu alaihi lastahamu muttafaq alaih.” Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui keutamaan mengumandangkan azan dan berdiri di saf yang pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan cara kecuali dengan mengundi.
(19:35) ” Agar bisa mendapatkan keutamaan itu, maka hendaknya mereka mengundi. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, mengundi itu diperbolehkan dalam Islam asal tidak ada taruhannya. Bukan judi namanya kalau mengundi, sekedar mengundi karena ada satu keutamaan ya.
(19:59) Seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengundi istri-istrinya siapa yang ikut misalnya safar bersama beliau. Karena banyak yang punya hak tapi cuma satu yang diberikan. Boleh diundi seperti ini ya. Misalnya ada hadiah yang ingin diberikan kepada para santri atau para penuntut ilmu. Hadiahnya cuma tiga, sementara penuntut ilmunya ada 100 orang.
(20:26) Ya, kita boleh saja mengguni misalnya dengan menyampaikan pertanyaan siapa yang bisa jawab dia dapat hadiah tersebut. Atau dengan tadi ya kita kocok namanya yang keluar kita berikan. Itu boleh. Undan seperti ini boleh karena tidak ada taruhan dari masing-masing peserta. Ya, ada seorang ikhwan misalnya punya istri tiga.
(20:53) [berdehem] Ya, ini contoh ikhwan di luar mungkin ya. Karena di sini kayaknya semoga Allah menolong kita dalam kebaikan. Ah, dia diberi hadiah salah seorang temannya baju untuk perempuan, untuk istrinya. Temannya mungkin tidak tahu, dikira istrinya cuma satu. Ketika dia ingin berikan salah satu, masing-masing punya hak. Ini boleh diundi.
(21:19) Kan tidak boleh misalnya ada orang beri hadiah satu baju, “Oh, istriku ada tiga, masa cuma satu dikasih.” Wah, ini namanya minta-minta. Kan tidak boleh seperti itu. Atau misalnya anaknya lima, diberi hadiah baju anak kecil satu. Misalnya dia bilang, “Anakku lima, kenapa cuma satu?” Dikasih tidak boleh. Ya namanya di hadiah diterima.
(21:37) Ketika semua anaknya ini berhak, maka dia bisa mengundinya untuk memberikan kepada salah satunya. Nah, di sini disebutkan sehubungan dengan keutamaan mengemandangkan azan dan saf yang pertama. Kalau orang mengetahui keutamaannya yang besar, kemudian karena mereka rebutan, tidak ada cara untuk bisa menentukan kecuali dengan diundi, maka hendaknya diundi.
(21:59) Ya, ini maksudnya dalam kebaikan agama itu kita jangan mengalah. Kalau keutamaan kita harus berlomba mendapatkannya. Ya, kita di saf yang pertama ada orang tua datang terakhir, kita persilakan dia. Jangan. Kecuali kalau mungkin pas di belakang imam, ya. Karena yang di belakang imam kan orang yang hafal Al-Qur’an.
(22:18) Orang yang bisa meluruskan kesalahan imam. Kita tahu kita kurang punya kemampuan dalam hal itu. Ya, kita mengalah. Kita agak ke samping sedikit ya. Karena nanti kita akan baca hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lialiani insyaallah liani minkum ulul ahluha. Hendaknya yang berdiri di belakangku adalah orang-orang yang berakal dan berilmu.
(22:38) Karena harus dia punya ilmu untuk bisa meluruskan kalau imamnya salah atau kalau imamnya tiba-tiba batal. dia butuh pengganti. Yang menggantinya yang di belakangnya atau imamnya lupa bacaan tertentu, siapa yang meluruskannya? Imamnya. Ada kesalahannya dalam salat supaya imamnya misalnya lupa untuk diingatkan, kelupaannya yang di belakangnya ya.
(23:02) Tapi secara asal kalau kita diberi berdiri di saf pertama ya kita tidak mengalah karena kita disuruh berlomba. Kalau perlu kita berundi. Sama-sama kita datang tiba-tiba safnya cuma satu kita barengan datangnya. Ya, biasa kita ngalah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Kalau bisa diundi, diundi ya mungkin kita saat ini undian yang lebih cepat pakai apa? Mungkin shoot ya.
(23:23) Apa namanya? Sot ya. Boleh kita shoot. Satu saf yang terisi dua orang datang sama-sama atau tiga orang kita shoot. Siapa yang menang dia yang dapat.” Itu boleh untuk menunjukkan bahwa kita tidak kita tidak mau mengalah dalam kebaikan agama, dalam keutamaan seperti ini. Ya. Barakallahu fikum.
(23:42) Ini hadisnya sudah pernah kita jelaskan di tentang di bab tentang keutamaan azan. Yang jelas ya kalau azan kan sudah pernah kita sebutkan azan itu sudah tentu dipilih. Misalnya orang di masjid sudah ada muadzin rawatibnya tapi kadang-kadang mungkin muadinnya berhalangan. Kalau kita datang cepat kan kita akan dipersilakan.
(24:02) Siapa yang mau azan silakan. Masyaallah harusnya dia bersegera. Ini keutamaannya besar. Karena orang-orang yang mengumandangkan azan itu nanti akan paling panjang lehernya para pada hari kiamat. Sampai sebagian dari para ulama berselisih pendapat mana yang lebih utama menjadi imam atau menjadi muadzin? Ada yang mengatakan muadin lebih utama, ada yang mengatakan imam lebih utama.
(24:21) Al kulihal keutamaannya besar ya. Di samping nanti kalau kita datang pertama kan di samping kita bisa dapatkan azan kalau misalnya muadinnya berhalangan, kita juga bisa dapatkan keutamaan saf yang pertama ya. Keutamaan yang sangat besar. Barakallahu fikum. Tib. Berikutnya hadis nomor 1084. Wa anhu radhiallahu anhu qal.
(24:46) Masih dari Abu Hurairah Addausi radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, “Qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.” Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Iir sufufirjali awaluhayarruha akhir.” Sebaik-baik saf laki-laki adalah di awalnya, yang paling awal, paling depan. Dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang.
(25:17) Wakhairu sufufin nisai akhir waarruha awwaluha. Sedangkan sebaik-baik saf bagi perempuan ketika salat berjamaah di masjid adalah yang paling akhir dan yang paling buruk adalah yang paling di awal. Rawahu Muslim. Ya, karena perempuan dan laki-laki sebisa mungkin dia lebih jauh. Makanya yang paling utama perempuan safnya di belakang ya. Dan kalau sekarang sudah di dijadikan terpisah, dijadikan terpisah seperti yang ada saat ini, maka alhamdulillah ini sudah menjadi sebab untuk terhalanginya pertemuan laki-laki dan perempuan.
(25:56) Tentu di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tempatnya mereka satu. Oleh karena itu kaum perempuan kan setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam apa ini mengucapkan salam, mereka langsung pulang supaya tidak bertemu dengan laki-laki. Laki-laki disuruh duduk sebentar yakni berzikir dulu. perempuan dibiarkan pulang terlebih dahulu supaya tidak terjadi ikhtilat campur baur antara laki-laki dan perempuan.
(26:19) Seperti itu yang dilakukan di zaman Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, jelas yang menjadi syahid di sini sebaik-baik saf laki-laki adalah yang terdepan. Ini yang paling yang paling utama. Baik. Faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini yang pertama istihbabu yubakir rijalu fil huduri ilal masjidi liyakuna lahum fadlus sabqi wa tahsilus sufufil ual anjuran untuk kaum muslimin laki-laki bersegera datang menghadiri salat berjamaah di masjid supaya mereka mendapatkan keutamaan yakni yang datang terlebih dahulu dan juga bisa mendapatkan saf-saf yang
(27:08) terdepan ini. Karena keimanan di akhir zaman semakin lemah. Kita tahu akibatnya minat untuk bersegera datang ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah atau untuk kajian bahkan itu sudah lemah sehingga orang-orang terlambat. terbiasa terlambat ya. Rata-rata setelah azan dikumandangkan baru siap-siap.
(27:39) Ya, ini juga sebenarnya bukanlah hal yang dikatakan sampai salah, tapi ada sebab yang menjadikan dia kemudian tidak mendapatkan saf yang pertama. Padahal kan untuk salat dia sudah tahu jadwalnya. Apalagi sekarang sudah ada jam, di handphone juga ada jam. Kadang-kadang kita pakai jam tangan, ada juga jam di rumah kita. harusnya kita sudah lebih bisa bersiap-siap untuk hal-hal yang seperti ini, tidak lalai lagi.
(28:08) Karena demikian banyak yang bisa mengingatkan kita ya. Maksudnya seseorang yang benar-benar mempersiapkan dirinya paling tidak kalau mungkin dia ingin dapatkan keutamaan taruhlah misalnya dia ingin salat sunah di rumah karena keutamaannya lebih besar tentu saja salat sunah atau termasuk rawatib dilaksanakan di rumah maka mestinya dia sudah siap-siap berwudu.
(28:31) Ketika selesai azan dia langsung laksanakan misalnya salat dua rakaat tambah lagi dua rakaat. Kemudian dia berjalan pelan tenang ke masjid dapat keutamaan melangkah juga sampai di masjid masih sempat dia mungkin salat tahiyatul masjid lagi dua rakaat. Masyaallah. Dia akan dapatkan banyak keutamaan dari segeranya dia, bersegeranya dia dalam mempersiapkan diri melaksanakan salat berjamaah yang agung ini.
(29:02) Tapi yang terjadi sampaiun di kalangan penuntut ilmu. Bahkan [berdehem] pernah ada salah seorang syekh yang ditanya tentang hukumnya anak-anak kecil yang datang ke masjid kemudian duduk akhirnya dia berdiri salat berjamaah di belakang imam. Kan tidak boleh anak kecil ya. Seorang syekh ditanya, maka syekh ini memberikan jawaban sekaligus juga teguran atau sindiran.
(29:40) Dia berkata ya, yakni dia [berdehem] jelaskan tidak boleh anak kecil berdiri di belakang imam karena hadis yang tadi kita bacakan liani minkum ulul ahlami wuha hendaknya yang berdiri di belakangku di antara kalian orang-orang yang berakal, orang-orang yang sudah dewasa dan berilmu. Karena dia bisa menggantikan imam, meluruskan kesalahannya imam.
(29:59) Tapi Syekh mengatakan di sini, ditambah jawabannya oleh beliau, para ulama atau orang-orang yang berilmu sudah melalaikan salat berjamaah. sehingga mereka terlambat. Akhirnya anak-anak yang datang di luar. Yakni akhirnya bukan orang-orang yang berilmu yang datang di luar. Nah, orang-orang yang tidak berilmu ketika dia datang di luar dia juga pengin saf di depan. Dia tidak berpikir.
(30:20) Yang penting dia maju ke depan sampai di belakang imam pun kita mau tegur dia kan kita juga serba salah. Dia datang di luar. Kalau dia misalnya ngotot saya pengin di belakang imam. Kalau kita mengatakan orang yang berilmu yang di situ ya harusnya ustaz yang berdiri di situ, dia mengatakan, “Kenapa ustaznya terlambat? Kenapa nuntut ilmunya terlambat? Harusnya dia datang di luaran.
(30:43) Ya kan bisa kita kebingungan menjawabnya. Jawabannya benar dia. Karena orang-orang yang perhatian kepada agama tidak lagi memperhatikan untuk bersegera datang sehingga mereka bisa menempati saf di belakang imam yang itu harusnya mereka perhatikan. Jadi ini menunjukkan kepada kita bahwa ya keadaan seperti ini memang merupakan kelalaian kita.
(31:07) Apalagi salat Jumat kita tahu. Masyaallah ya ini koreksi bagi kita semua. Salat Jumat itu sunahnya datang lebih awal ya. Sampai para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang mereka itu melakukan qilulah sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Qailulullah tidur siang yang biasanya mereka lakukan sebelum salat zuhur ya mungkin sekitar setengah jam atau 1 jam paling lama.
(31:29) itu akhirnya mereka lakukan setelah Jumat karena mereka bersegera datang untuk mendatangi salat Jumat. Disebutkan dalam Sahih Bukhari ya kata siapa ini? Sahabat Anas bin Malik kalau tidak salah ingat radhiallahu taala anhu yang mengatakan, “Kunna nubakkiru bil jumati waqilu ba’dal jumah.” Kami bersegera mendatangi salat Jumat kemudian melakukan qilulah setelah selesai salat Jumat.
(31:53) Tidur siangnya setelah selesai salat Jumat. Padahal mereka biasanya melakukan sebelum salat zuhur. Maksudnya di sini kita harus perhatikan keutamaan-keutamaan seperti ini. Yakni apalagi sekarang apa kurangnya masjid-masjid kita? Masyaallah masjid yang ada AC-nya. Kalaupun tidak ada AC-nya ada kipas anginnya lapang. Rata-rata saat ini masjid kan luas dan lapang.
(32:16) Tidak kepanasan kita di dalamnya ya. [berdehem] yang harusnya kita bisa manfaatkan dengan sebaik-baiknya agar kita bisa mengamalkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ini. Nah, TB. [berdehem] Kemudian faedah berikutnya, yhabbinisa fiuriha lil masjidi luhila afdolfil akhir.
(32:53) Adapun untuk wanita dianjurkan untuk ya lebih terakhir dalam menghadiri fi huduri hidnah menghadiri salat berjamaah di masjid supaya dia bisa mendapatkan keutamaan saf yang terakhir. Ya, adapun kalau berhubungan dengan seperti zaman sekarang yang alhamdulillah saf-saf sudah lebih terpisah, tidak mengapa dia datang di awal apalagi dia bisa laksanakan salat-salat sunah di awal.
(33:21) ya tetap dia dapatkan keutamaan bersegera dalam kebaikan tersebut. Yang ketiga, hirsul islami ala adami ala adamil maratiu haramiuli alal marah. Semangatnya Islam untuk menjadikan perempuan itu tidak melihat aurat laki-laki. Sebagaimana Islam juga berusaha keras untuk menjadikan laki-laki tidak melihat perempuan.
(33:54) Ya, maka kita sudah tahu ayat-ayat yang memerintahkan tentang hijab dan seterusnya ini menunjukkan kepada kita bahwa agama Islam memang menginginkan agar laki-laki dan perempuan terpisah, tidak saling melihat. Ya, makanya oleh karena itu sangat-sangat tidak dibenarkan ketika pengajian itu laki-laki dan perempuan bercampur atau ustaz yang menyampaikan pengajian bisa dengan leluasa melihat jemaah perempuan di hadapannya.
(34:22) Ini tidak sesuai dengan petunjuk dari para ulama ahlusunah wal jamaah yang kita ketahui ya ketika mereka menyampaikan kajian-kajian yang dihadiri laki-laki dan perempuan. [mendengus] Kemudian salitan yang ketiga atau yang keempat rabian iniroful nisai yakunu qlairofir rijali hatta lahtal anisa birrijali fil masajid.
(34:53) Kaum perempuan itu pulang dari masjid segera sebelum laki-laki pulang. yni agar mereka tidak bercampur laki-laki dan perempuan di masjid. Jadi kaum perempuan itu biasanya mereka di awal setelah salam langsung mereka mungkin baca istigfar tiga kali kemudian allahum antas salam selesai langsung berpaling keluar laki-laki menyelesaikan zikirnya baru keluar agar tidak terjadi ikhtilat ya tentu kalau sudah dijadikan terpisah antara pintu laki-laki dan perempuan maka ini lebih baik lagi karena sesuai dengan tujuan ya
(35:29) disyariatkannya hal-hal yang seperti ini. Nah, khamisan yang kelima, arijalu bikurbihim lil imaniamuna bihiamu bihimisa w fihi masalatun analjuzu lahaqamu arjula [berdehem] fah. kaum laki-laki yang lebih dekat dengan imam, mereka tentu ya meneladani imam dalam salatnya. Kemudian kaum perempuan meneladani yang laki-laki.
(36:11) Maka di sini ada satu masalah fikih bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk melaksanakan salat berjamaah di depan laki-laki. Kecuali kalau kondisi darurat ya. Ini seperti yang sering terjadi di Masjid Al-Haram misalnya. Karena laki-laki dan perempuan tempat masuknya ada yang sama [berdehem] ya. Sehingga kadang-kadang kalau sudah azan dikumandangkan, qat dikumandangkan ya kondisinya ada perempuan di depan kita ya terpaksa karena itu saf yang ada.
(36:40) Tapi hukum asalnya tidak diperbolehkan hal tersebut. Yang laki-laki harus di depan, yang perempuan di belakang. Tib. Kemudian faedah yang berikutnya sadar sisan yang keenam arrijalu aqwa alam risalatiil anbiya wau albha minanisa wajabuhumfu alqadamatuir kaum laki-laki itu lebih kuat dari dalam hal membawa risalah, membawa petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan lebih bersemangat petunjuk para nabi alaihialatu wasalam dan lebih bersemangat dalam menyampaikannya dibandingkan kaum perempuan. Oleh karena
(37:31) itu, wajib untuk mendahulukan laki-laki ya dan saf-saf mereka di yang paling terdepan adalah sebaik-baik saf. [berdehem] Ya, ini juga berhubungan dengan faedah yang kenapa Nabi sallallahu alaihi wasallam mendahulukan laki-laki. Karena memang kaum asalnya dalam hal yang berhubungan dengan menyampaikan agama itu laki-laki yang dikedepankan dalam [mendengus] hal ini.
(37:56) Meskipun tetap saja ya kaum perempuan ketika ada pengajian yang bisa menyampaikannya juga perempuan, maka ini lebih baik, lebih afdal tentu saja asal memang dia punya kemampuan dalam hal menyampaikannya. Kalau tidak pun juga tidak mengapa. laki-laki yang menyampaikan yang penting mereka ditempatkan di tempat yang tersendiri jauh dari penglihatan kaum laki-laki.
(38:18) Tib. Kemudian di hadis yang berikutnya, hadis nomor 1085. Imam annawawi rahimahullah taala berkata, waan Abi Saidinil Khudri radhiallahu taala anhu anna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam roa fi ashabihi taakuran faq lahum taqaddamuammu bi walamma bikum man ba’dakum la yazaluun yataakuna hatta yuakhirahumullah rawahu muslim dari sahabat yang mulia Abu Said alkhudri Saad Ibnu Malik Ibnu Sinan Alkhudri, satu dari tujuh sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadis beliau bahwa Rasulullah sallallahu alaihi
(39:08) wasallam melihat para sahabatnya agak taakur yakni ke belakang ketika salat berjamaah. Yakni tidak datang di saf-saf yang pertama. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Taqaddamu majulah kalian supaya kalian bisa langsung ya mengikutiku dalam salat. Dan hendaknya orang yang di belakang kalian mengikuti yang di depan.
(39:34) Senantiasa satu kaum itu mundur tidak mau maju ke depan sehingga Allah subhanahu wa taala akan mengakhirkan mereka.” Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Yakni mengakhirkan mereka dari rahmatnya, dari kebaikan-kebaikan dari sisinya. Kalau kita tidak segera maju untuk kebaikan, misalnya saf yang pertama termasuk thaabul ilmi datang di tempat yang di depan yang sering mundur akan dimundurkan oleh Allah Subhanahu wa taala ya tentu kecuali dalam kondisi-kondisi yang dibutuhkan ya seperti yang menjadi kameraman kan dia harus di
(40:09) belakang. Kalau di depan dia nanti gak akan bisa mengambil dengan baik. Ini satu hal yang ada hajatnya ya. Adapun asalnya ketika tidak ada hajat yang seperti ini, asalnya seseorang berusaha untuk di depan untuk kebaikan-kebaikan seperti ini. Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini yang pertama alhaddu alat taalumi wal hirsu alaih.
(40:37) Ya, anjuran untuk mempelajari agama dan bersemangat menuntut ilmu. Karena yang tadi disebutkan maju ini termasuk saf salat berjamaah juga termasuk barisan atau tempat duduk dalam menuntut ilmu. Tanian yang kedua man taak fit taalumi wal iqtidai bin nabi shallallahu alaihi wasallam taalumil fadili wtinabiriliakhumullahu rahmatihi waimwabihi.
(41:14) Barang siapa yang tidak maju, barang siapa yang mundur atau mencari yang di belakang dalam menuntut ilmu atau mengambil teladan mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, mempelajari keutamaan-keutamaan, menjauhi keburukan-keburukan sehingga Allah akan [berdehem] mengakhirkannya dari rahmat nya ya dan mengakhirkannya dari pahalanya yang mulia.
(41:49) Yakni orang yang tidak bersemangat sehingga dia mundur. Ini menunjukkan dia tidak minat kepada hal tersebut. Kalau kita benar-benar mengetahui keutamaan dan kemuliaannya, pasti kita semangat mengejar dan mendahului dalam mendapatkannya. Maka dibalas sesuai dengan perbuatannya. dia mundur maka Allah subhanahu wa taala jadikan dia terhalangi atau diakhirkan dalam mendapatkan rahmat dan pahala karunianya yang agung.
(42:18) an yang ketiga jawazimadil makumi imamu wu mubinuahu mutabian lil imam diperbolehkannya makmum itu dalam mengikuti imam yang tidak dilihatnya ya bisa berpatokan kepada makmum yang ada di hadapannya. Yakni imam yang tidak dilihat dan tidak didengarkan. Dia bisa berpatokan kepada mubalig. Misalnya ada yang menyampaikan suara atau kepada saf yang ada di hadapannya yang dia lihat saf itu mengikuti imam itu diperbolehkan.
(43:04) Apalagi sekarang dengan adanya pembesar suara. Makanya kita katakan kalau terjadi listrik padam, maka ikhwan yang ada di belakang hendaknya mengeraskan suara supaya [berdehem] didengar oleh jemaah yang ada di luar atau mungkin jemaah akhwat misalnya. Ya, ini juga termasuk perkara yang diperbolehkan dalam hal ini ketika terjadi seseorang tidak melihat atau mendengarkan langsung suara imam [batuk] Tib.
(43:32) ini yang berhubungan dengan [berdehem] ya hadis yang dibawakan juga untuk menjelaskan keutamaan keutamaan di saf yang terdepan. Kemudian hadis yang berikutnya nomor 1086. Waan Abi Mas’udin radhiallahu anhu qal, kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yamsahu manakibana fatiqul. Dari sahabat yang mulia Abu Mas’ud, Abu Mas’ud albadri yang namanya Uqbah ibn Amr Albadri radhiallahu taala anhu.
(44:10) Beliau berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam selalu mengusap ya pundak-pundak kami ketika salat, yakni ketika salat berjamaah. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengusap pundak-pundak para sahabat dan beliau bersabda, “Istawu wtali fatalubukum.” Luruskanlah saf kalian dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian akan berselisih.
(44:39) Liani minkum ulul ahluha. Hendaknya yang berdiri di belakangku di antara kalian adalah orang-orang yang berakal, yang sudah dewasa dan memiliki ilmu. Kemudian tummalladzina yalunahum. Tsummalladzina yalunahum. Kemudian orang-orang yang datang setelah mereka dan orang-orang yang datang setelah mereka.
(45:04) Hadis sahih riwayat Imam Muslim ya. Ini juga memerintahkan untuk meluruskan saf dan meratakan saf. tidak boleh berselisih dalam hal ini. Faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini yang pertama tasfiatus sufufi sababun fi wihdatil umati walfiha halillahil matin. meratakan atau meluruskan saf ini adalah sebab untuk menyatukan umat dan agar mengumpulkan umat ya di sekitar tali Allah yang kuat agar sama-sama berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa taala yang kuat.
(45:41) Sudah pernah kita jelaskan kan para ulama itu menyebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih dikatakan bahwa di zaman para khulafaur rasyidin ketika salat berjamaah sudah dihadiri banyak orang itu dijadikan petugas khusus untuk meluruskan atau meratakan saf. Jadi imam itu ketika dia menjadi imam paling tidak ya setelah azan dan qat dikumandangkan jangan buru-buru.
(46:05) Dia berdiri sejenak tanyakan saf yang pertama bagaimana. Saf yang kedua, saf yang ketiga sudah semua. Kemudian saf di kalangan akhwat ini kalau salatnya berjamaah banyak. Kalau mungkin cuma satu dua saf dia gampang melihat langsung. Tapi dalam rangka untuk mempraktikkan sunah ini tidak perlu buru-buru.
(46:25) Tanyakan saf yang pertama, saf yang kedua, atau beri kesempatan luruskan saf. Tolong semua diperhatikan agar menjadikan patokan saf itu yang di tengah, yang di belakang imam. Masing-masing yang di kanan dan di kiri. Saf berikutnya, saf berikutnya tunda sejenak baru kemudian mulai bertakbir agar benar-benar dipraktikkan perintah meluruskan saf ini.
(46:48) tanian yang kedua ikhtilafulahiri yuaddi iltilafil batin w yuakidu tairahiri alal batin wal aksu bil aksi salban wa ijaban ikhtilafulud zahir perselisihan dalam perkara yang zahir ini bisa menggiring kepada perselisihan dalam batin ini orang berbeda satu penampilan fisik nya atau perbuatan yang nampak itu bisa menjadi sebab perselisihan di dalam hatinya.
(47:24) Maka ini menguatkan ya pengaruh apa yang tampak pada fisik seseorang bisa mempengaruhi pada batinnya. Begitu pula sebaliknya, baik dalam hal-hal yang bersifat positif atau negatif. Jadi kenapa kita diperintahkan untuk selalu dekat dengan orang-orang yang saleh? Karena kalau kita dekat mereka, kita lihat mereka rajin beribadah, akhirnya kita akan ikut.
(47:55) Setelah kita ikuti mereka secara zahir, itu juga akan memperbaiki hati kita karena kita terpengaruh dengan kebaikan hati mereka. Demikian pula sebaliknya, kita dilarang bergaul dengan orang-orang yang buruk karena itu akan mempengaruhi. Mengidolai orang-orang yang buruk akan mempengaruhi nanti akan menjadikan kita mencintainya. Naudubillah.
(48:14) Ini perintah dalam Islam seperti itu ya. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Jangan kalian berselisih yakni berselisih dalam saf menjadi sebab perselisihan di hati kalian.” Naudubillah minzalik. an yang ketiga yustahabbu yalial imamu aladu analial imama aluadu wa ahlul ilmi bil kitabiunahum waak dianjurkan untuk berdiri di belakang imam para penghafal al-Qur’an orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan sunah kemudian yang setelah mereka seperti itu ya Jadi sudah kita sebutkan ada kekhususan untuk orang yang berdiri di
(48:59) belakang imam. Tentu ini kita katakan ya harusnya orang yang kedudukannya seperti ini dia datang cepat supaya nanti dia bisa berdiri di belakang imam agar mendapatkan keutamaan dan kemuliaan ini. Makanya selalu kita katakan ya urutan saf itu yang paling utama adalah yang paling depan tentu saja. Kemudian yang di antara yang paling depan yang paling dekat dengan imam itu yang paling utama.
(49:27) Setelah itu baru yang sebelah kanan baru kemudian sebelah kiri. Cuma tentu tidak boleh juga sampai kita fullkan sebelah kanan yang kiri terlalu jauh jaraknya karena ada keutamaan lebih dekat dengan imam. Kalau sudah seimbang kiri dan kanan kita dahulukan yang lebih dekat dengan imam karena ada hadis yang sahih yang menyebutkan demikian.
(49:47) Kemudian faedah yang berikutnya, bayanu fadlil ilmi bikitabillahi sunnati rasulihi sallallahu alaihi wasallam liannahu sababun fi taqadumi haulai al girihim penjelasan keutamaan ilmu ya memiliki ilmu tentang al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam karena dengan ilmu inilah yang menjadi sebab mereka-mereka yang memilikinya didahulukan dibandingkan yang selain mereka.
(50:16) Ini juga keutamaan ya orang-orang [berdehem] yang memiliki ilmu dan tentunya keutamaan ini harusnya diiringi dengan praktik dan amal yang benar dari mereka agar mereka benar-benar bisa mendapatkan keutamaan dan kemuliaan yang tinggi ini. Barakallahu fikum. Bab cukup sampai di sini insyaallah beberapa hadis yang bisa kita baca di kesempatan siang hari ini.
(50:38) Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan silakan. Tib. Barakallah fikum, Ustaz. Kita bacakan beberapa pertanyaan dari WhatsApp. Ustaz, ada satu pertanyaan pertama di luar tema, Ustaz. Bismillah.
(51:00) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Ustaz, ketika kita hendak ee ziarah kubur, menziarahi kuburan orang yang sangat dekat dengan kita, Ustaz, saat orang tersebut masih hidup, ee kami berniat berziarah ee mengingat kematian bagi kami yang masih hidup dan hendak membersihkan kuburannya dari rumput-rumput.
(51:25) Tetapi saat di kuburan, kami rindu sosok sosok orang yang di dalam kubur sehingga kami jadi sedih. Pertanyaannya, Ustaz, apakah ini termasuk meratap yang dilarang dalam syariat, Ustaz? [berdehem] Ya, kalau sampai berakibat seperti itu mengingatkan kepada kesedihan, ya seharusnya tidak perlu melakukan hal yang tadi karena dikhawatirkan menjadikan dia tidak rida.
(51:54) Kemudian kuburan itu ketika perlu dibersihkan ya tidak perlu sampai kita jadikan terlalu bersih juga. Yang penting dia tidak sampai misalnya terbongkar bangunannya atau mungkin kayak tergerus air sehingga perlu kita jadikan ee hal-hal yang bisa menghalangi tergerus airnya. Ya, kalau dalam kondisi aman-aman saja.
(52:17) Apalagi sekarang kan kuburan juga mungkin ada yang penjaganya yang dibertugas untuk menjaganya maka itu sudah cukup. kita datang untuk sekedar mengingat kematian atau mendoakannya itu sudah cukup ya. Kalau sampai dengan perbuatan tadi menjadikan kita teringat kembali sampai menjadikan kita sedih yang akhirnya membawa kita kurang rida kepada ketentuan Allah ini yang tentu menjadikan hal tersebut jadinya terlarang. Namam.
(52:41) Barakallahu fikum. Babikum, Ustaz. Kita bacakan kembali beberapa pertanyaan seputar salat. Asalamualaikum, Ustaz. Bagaimana hukumnya kalau salat berjamaah tapi tidak merapatkan saf seperti di salah satu masjid yang cukup besar juga di Kota Kandari, Ustaz itu tidak merapatkan saf, Ustaz. Dan mohon nasihatnya terkait orang yang salat berjamaah tapi menggunakan kursi.
(53:09) Bagaimana seharusnya, Ustaz? Karena kalau berdiri lurus maka kursi berada di tempat sujud saf belakang. Kalau kursinya sejajar dengan saf, maka saat berdiri tidak bisa lurus dengan jamah yang di samping. Ustaz, mohon penjelasan dan nasihatnya. Iya, barakallahu fikum. Kalau mereka tidak merapatkan saf, ya tentu itu akan menjadi sebab kekurangan.
(53:31) Tapi secara asal ya kata para ulama e salatnya tetap sah-sah saja. maksudnya ini menjadi kewajiban kita untuk menasihati mereka karena mereka meninggalkan keutamaan yang besar ini. Itulah ee kita mungkin lakukan, kita luruskan atau kalau kita punya kedudukan kita bisa jelaskan atau mungkin kepada jemaah kita bagikan ee artikel atau mungkin buku yang bermanfaat yang bisa menjelaskan tentang bagaimana pentingnya merapatkan saf ini.
(53:58) Itu yang harus kita lakukan pada masjid-masjid seperti ini. Tentu ini juga yang kita harusnya banyak ee edukasi kepada kaum muslimin tentang pentingnya perkara ini dalam agama Islam. Adapun masalah yang berhubungan dengan dudu tadi dengan menggunakan kursi, maka ya tentu sebagian orang membutuhkannya. Ada orang yang memang mungkin sakit, dia tidak bisa e duduk ya dengan sempurna.
(54:23) Maka untuk orang yang melakukan ini kita katakan hendaknya dia berusaha untuk mencari ya kursi jangan terlalu besar ya kursi yang secukupnya supaya tidak menjadi sebab jarak terlalu jauh misalnya ya. Kalau dia mencari kursi yang secukupnya insyaallah yang di belakang pun juga tidak terganggu atau mungkin kalau mungkin agak sempit safnya kita jadikan anak-anak yang di belakangnya supaya bisa menjadi sebab rapatnya kembali saf tersebut.
(54:49) Tapi yang jelas dengan kursi ini dia punya uzur ya. Kalau mungkin ada sedikit halangan ya ini sesuatu yang dimaklumi karena kondisi yang seperti itu ya kondisi yang seperti itu. Seandainya masjid bisa menyiapkan kursi yang khusus yang ukurannya lebih pas, maka ini lebih baik supaya nanti tidak perlu menggunakan kursi sendiri yang dibawa mungkin yang lebih besar.
(55:10) Al kulihal kita usahakan menyesuaikan ya. Kalau memang dia berdirinya menggunakan kursi, maka tentu berarti dia ketika duduk itulah posisinya seperti orang yang berdiri. Diusahakan dijadikan kursinya ya sejajar dengan ketika dia berdiri, orang-orang yang berdiri sekitarnya itu yang dia mampu lakukan sesuai dengan kemampuannya.
(55:32) Kemudian bagi orang yang melaksanakan salat dalam posisi duduk di kursi ini, mungkin lebih bagus awalnya dia berdiri kemudian takbiratul ihram dalam keadaan berdiri kemudian dia perkirakan semampu yang dia bisa berdiri kalau dia tidak mampu lagi duduk. Seandainya dia mampu misalnya untuk rukuk dalam keadaan berdiri baik. Nanti mungkin dia terhalang ketika mau sujud, ya sudah nanti sujudnya saja sambil duduk di kursi.
(55:55) Pokoknya sebanyak mungkin dia bisa berdiri itu lebih baik selama tidak memberatkan, tidak menyusahkan dirinya. Nah, barakallah fik. Ustaz, kita bacakan pertanyaan berikutnya. Ustaz, sunah apa yang dilakukan Nabi setelah salat fardu? Berdoa setelah ee setelah zikir usai salat fardu. Apakah bukan waktu yang mustajab? Ustaz, sunah yang dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam setelah salat fardu adalah istigfar tiga kali.
(56:20) Kemudian baca Allahumma antasalam, waminkas salam dan seterusnya sampai selesai. Kemudian zikir-zikir yang disyariatkan. Intinya setelah selesai salat fardu itu adalah dianjurkan berzikir. Karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Faid qoditumkurullaha qiam waud wa junubikum.” Kalau kalian telah menunaikan salat, maka berzikirlah kepada Allah.
(56:47) Adapun berdoa setelah selesai itu boleh-boleh saja, tapi bukan tidak di dikatakan itu ada jaminan tertentu dikabulkannya doa. Waktu yang mustajab untuk berdoa itu justru dalam salat. Waktu kita sujud, waktu kita setelah tahiyat dan membaca selawat itu waktu dikabulkannya doa. Ya, adapun setelah selesai salat ya boleh-boleh saja.
(57:07) Kalau kita setelah berzikir kita ingin berdoa boleh. Tapi tidak dikatakan dia ada jaminan tertentu ya atau ada keutamaan tersendiri. Orang yang berdoa ketika itu. Yang jelas yang diutamakan sama dia adalah hendaknya dia berzikir dulu sebagaimana yang disyariatkan dan dicontohkan di dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam. Pada pertanyaan berikutnya, Ustaz ee salah satu waktu yang diijabah atau waktu yang mustajab saat berdoa adalah di waktu khatib kedua saat salat Jumat.
(57:38) Lalu, apakah boleh jemaah mengangkat tangan dan berdoa? Karena di sini ada larangan berbicara saat khatib lagi berbicara dan masih seputar salat Jumat, Ustaz. Apakah imam salat Jumat itu dan khatib jumatnya itu bagian dari rangkaiannya sehingga boleh pengurus masjidnya membedakan khatibnya dan imamnya, Ustaz? Ya, kalau pertanyaan yang kedua boleh dibedakan.
(58:06) Fatwa dari para ulama mengatakan itu tidak wajib. Lebih utama kalau khatib sekaligus dia imam. Tapi kalau [berdehem] seandainya dijadikan imamnya yang berbeda atau mungkin ada kepentingan lain, imamnya yang lebih bagus, ya tidak mengapa ya. Adapun yang pertama ee yang dikatakan tadi termasuk pendapat yang mengatakan waktu dikabulkannya doa itu di hari Jumat.
(58:29) Di antaranya adalah ketika khatib sedang berkhotbah [berdehem] ya. Maka dalam kondisi seperti ini, karena ada larangannya kita mengangkat tangan ketika itu, maka kita berdoa tanpa mengangkat tangan. Karena ada hadis yang sahih yang menyebutkan larangan mengangkat tangan ketika itu. Lagi pula kita dilarang juga untuk berbicara.
(58:51) Dan ketika itu kan khatib ketika dia beristirahat antara dua khotbah, dia tidak sedang berkhotbah. Jadi kita boleh berdoa singkat waktu itu tidak mengapa. [berdehem] Dan khatib juga boleh berdoa ketika itu untuk semua jemaah kaum muslimin. Nah, I Tib. Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat.
(59:13) Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallahu wasallam wabarak ala nabina muhammadin waa alihi wasbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin walhamdulillahabbilamin subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Ah.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *