(14) [LIVE] Kajian Ahad ” Kitab Riyadhus Shalihin ” Oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA Hafidzahullah – YouTube
Transcript:
(00:00) nya ya. Jadi untuk masalah meluruskan saf, merapatkan saf itu sama. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan dinyatakan sahih oleh para ulama. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innamisau syaqaiqu rijal.” Kaum perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki.
(00:24) Yakni dalam hukum-hukum agama asalnya mereka sama selama tidak ada dalil yang membedakan. Kalau ada dalil baru kita merujuk kepada dalil tersebut. Bab sekarang kita lanjut pembahasan ini. Kita sampai di hadis nomor 1087. Wa anasin radhiallahu anhu qala ya. Imam Nawawi rahimahullah taala berkata dari sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiallahu taala anhu Abu Hamzah Alkraji al-Anshari radhiallahu taala anhu.
(01:00) Satu dari sahabat tujuh sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadis beliau bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Sawu sufufakum fainna taswiyatifi min tamamah. Wafi riwayatil bukhari fainna taswiyat sufufi min iqti shah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Luruskanlah saf-saf kalian.
(01:29) ” Ini beliau sampaikan ya sebelum pelaksanaan salat berjamaah. Tentu saja ya. Karena imam itu hendaknya dia mengingatkan jemaah sebelum mulai bertakbiratul ihram dalam salat berjamaah. Sawu sufufakum. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sau sufufakum.” Luruskan atau rapat ratakan saf-saf kalian. Karena meluruskan dan merapatkan saf itu termasuk kesempurnaan salat.
(02:02) Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Dan di dalam lafaz yang terdapat dalam Sahih Bukhari, fainna taswiyatasfufi sesungguhnya merapatkan, meluruskan, dan merapatkan saf-saf termasuk penegakan salat. Yakni maknanya sama, merupakan kesempurnaan dari salat berjamaah. Jadi urusan saf ini tidak boleh kita remehkan. Para imam tidak diperkenankan untuk buru-buru bertakbir.
(02:35) Apa yang dia kejar? Ya, ketika azan dikumandangkan kemudian ada waktu menunggu setelah itu iqamah. Ini kan menunjukkan bahwa salat ini dilaksanakan secara berjamaah. Dan tentu berjamaah itu ya lebih sempurna lebih baik. Jemahnya lebih banyak lebih baik. Kemudian diluruskan safnya.
(02:57) Ini kesempurnaan salat berarti paharanya lebih. Maka tidak ada alasan untuk terburu-buru. Tidak ada alasan untuk terburu-buru. Ya, beri waktu. Katakan sawu sufufakum. Luruskan safnya. Aqimu sufufakum. Ada beberapa hadis yang di situ Nabi sallallahu alaihi wasallam ya mengucapkan ucapan ini yang tentu lebih bagus kita sampaikan ucapan ini di depan jemaah salat sebelum mulai takbiratul ihram.
(03:25) kita ucapkan, sampaikan berapa waktu kemudian diperiksa kembali. Kalau tidak sempat kita periksa cukup kita tanyakan bagaimana saf yang kedua, saf yang ketiga, saf seterusnya, bagaimana saf akhwat sudah rata, sudah lurus rapat semua kan begitu. Ini termasuk hal yang menjadikan salat berjamaah lebih sempurna, lebih banyak pahalanya.
(03:45) Nah, oleh karena itu antum perhatikan ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, memang yang namanya imam itu bukan orang yang sekedar bisa menghafal Al-Qur’an atau bagus bacaannya. Kalau dia tidak paham hukum-hukum dalam agama, akhirnya nanti dia akan terburu-buru. Kemudian pelaksanaan salatnya juga banyak yang tidak sesuai dengan contoh dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(04:09) ya tetap akan berkurang pahalanya. Meskipun dia banyak hafalannya, tapi karena tidak paham hukum-hukum salat, akhirnya pelaksanaan salat yang dilakukannya banyak yang tidak sesuai dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Namib. Faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini ya, hadis ini riwayat Imam albukhari dan Muslim ya, hadis sahih.
(04:36) Yang pertama yambagi alal imamiasa bitasti sufufi qoblurui fisah. Semestinya bagi imam, bagi seorang imam untuk memerintahkan kepada jemaah salat agar meluruskan, merapatkan saf-saf mereka sebelum memulai salat, yakni sebelum takbiratul ihram. Sudah kita sebutkan. Bahkan di zaman khulafaur rasyidin ada yang ditugaskan untuk merapatkan saf khusus tugasnya itu.
(05:17) Yakni mengecek lurus dan rapatnya saf. Ini menunjukkan perhatian mereka terhadap masalah ini. Dan ini tentu merupakan tugas dari imam. Memastikan jemaahnya sudah lurus dan rapat. Saf yang terdepan sudah diisi semua sebelum melangkah ke saf yang berikutnya. Ya, ini tugasnya imam ya. Jadi, imam harus dia balik kepada makmum untuk melihat, memberikan kesempatan bagi mereka untuk meluruskan saf kemudian mengecek jangan sampai ada yang maju, ada yang mundur.
(05:53) Ya, jadi imam ketika melihat ada saf yang bengkok, dia mengatakan, “Ini saf sebelah kiri, kenapa bengkok?” “Mundur sedikit.” “Ini yang sana si fulan, maju sedikit.” Begitu kata apa tugasnya imam untuk saf kedua begitu juga ah ikuti saf yang di depan dan seterusnya. Jadi tidak buru-buru orang melaksanakan salat berjamaah itu dan memang tidak ada alasan untuk buru-buru.
(06:17) Buat apa? Kita ingin salat yang sempurna, ingin yang dapat pahala. Iya kan? Yang keutamaannya besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, antum ketika bertugas menjadi imam atau mengenal seorang imam ya di masjid dekat rumah kita, sampaikan kepadanya, “Imam itu tugasnya seperti ini, luruskan saf.
(06:34) ” Karena itu kita dapatkan pahala yang lebih besar dari salat berjamaah kita. Kan kita beruntung. Lima kali kita lakukan dalam sehari semalam, kemudian ternyata tidak teratur safnya dan seterusnya. Kan kita rugi salat berjamaah kita jadi kurang kesempurnaannya. Nah, ananih atau tsanian. Faedah yang kedua, alamru bitasfiyat sufufi wa iqomatihi yakunu ba’da iqomatisah.
(07:06) Ini juga penting. Sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Perintah untuk meluruskan saf dan menegakkannya. Ya, arti menegakkan di sini berarti lurus dan rapat. Nanti kita jelaskan lagi makna rapat yang sudah kita terangkan juga di pertemuan yang lalu. Sebenarnya ini dilakukan kapan? Dilakukan setelah iqamat saf, iqamatis shah.
(07:38) Setelah dikumandangkan ya iqamah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, asadu sampai qodqati salat dan seterusnya sampai habis baru orang berdiri semua. Jadi sebagian kadang-kadang masjid saking semangatnya ya belum dikumandangkan iqamah kadang-kadang imam sudah datang berdiri dulu didapatkan baru iqamah salat. Katanya supaya lebih mudah meluruskan.
(08:02) Tidak ada yang lebih indah dibandingkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya. Maka perintah atau tugas imam untuk merapatkan dan meluruskan saf itu setelah qamat dikumandangkan. Kan sudah pernah kita jelaskan waktu jemaah itu berdiri untuk pelaksanaan salat berdasarkan riwayat yang sahih itu ada dua waktunya.
(08:31) Kalau kita melihat imam, imam datang ke masjid atau imam masuk ke masjid untuk menuju ke saf yang terdepan, kita mulai berdiri. Karena dalam hadis yang sahih riwayat Imam Muslim, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Fala takumu hatta taruni.” Janganlah kalian berdiri wahai para makmum sampai kalian melihatku.
(08:53) Yang kedua, ada sebuah asar yang sahih dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu taala anhuma. Beliau berdiri ketika qat dikumandangkan sewaktu dibaca kalimat qada qqatisatu qada qqati shah beliau berdiri ketika itu. [mendengus] Dan ini juga riwayatnya sahih ya dinyatakan sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullahu taala.
(09:20) Sehingga Syekh Albani rahimahullah taala menyimpulkan waktu makmum itu berdiri ketika salat berjamaah ada dua. Pertama kalau kita lihat imam kita berdiri begitu imam kita lihat ya ini begitu imam datang masuk masjid kita berdiri untuk ya mulai membentuk saf ya selama imamnya belum datang tetap duduk. Yang kedua, kalau misalnya imam kita tidak lihat, [berdehem] tetapi muadzin atau salah seorang telah mengumandangkan qat sampai diucapan qodqatisu qod qqat shah kita berdiri.
(10:03) Karena kadang-kadang mungkin kita berdiri di sebelah sini ramai imamnya masuk dari pintu depan muadinnya sudah diberitahu atau orang yang qat sudah diberitahu sama imam saya sudah datang nih di pintu maka dia kumandangkan qat kita enggak lihat imam berarti ketika muadin atau orang yang qat mengatakan qqatisatu qqatah kita berdiri ketika itu.
(10:26) Ini dua sunah waktu kita berdiri ya. Ya, ada sebagian orang yang mengatakan, “Ya, kapan saja kita berdiri?” Boleh. Ya, silakan antum berdiri. Kalau antum mau ikut ikut sunah, dapat pahala seperti ini. Karena ada dalilnya. Antum paham, ya? Jadi, kita tidak membicarakan sembarangan. Kan ada yang mengatakan, “Wah, kan boleh kita berdiri terserah.
(10:44) ” Iya, antum terserah berdiri kapan saja sama dengan masalah saf. Terserah saya mau saf di silakan antum bawa saf di saf di belakang silakan. Cuman antum tidak dapat keutamaan seperti yang disebutkan di hadis-hadis tentang keutamaan saf yang terdepan. Tidak ada masalah. Kalau antum merasa sudah banyak pahala, ya silakan ah di belakang saja.
(11:01) Tidak perlu terburu-buru datang ke depan. Tapi kalau antum mau sempurna, dapatkan keutamaan ya. Dan orang yang bersegera maju ke depan, orang-orang yang dikedepankan oleh Allah untuk mendapatkan keutamaan dan karunia darinya. Orang yang ingin di belakang ya akan dibelakangkan juga untuk mendapatkan keutamaan tersebut.
(11:22) Naudubillah minzalik. Maka kalau kita ingin ikuti sunah, begini cara yang sesuai dengan sunah. Karena ini ada dalilnya dalam riwayat riwayat yang sahih. Namib. Kemudian rabiah faedah yang keempat tasfiyatus sufufi juzun min shatil jamaah. Merapatkan dan meluruskan saf itu merupakan bagian dari salat berjamaah.
(11:54) merupakan bagian dari salat berjamaah. Oleh karena itu, sekali lagi ini harus mendapatkan perhatian karena ini menjadikan sempurnanya keutamaan pahala salat berjamaah yang kita dapatkan. Ya, jadi ini perkara yang harus kita pahami dan kita pahamkan kepada orang-orang kaum muslimin, apalagi yang punya tugas menjadi imam.
(12:23) baik itu imam utama mungkin atau mungkin dia imam cadangan. Dia harus perhatikan hal ini agar dia bisa menegakkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang ini menjadi sebab keberkahan dalam jemaah masjid tersebut. Barakallahu fikum. Tib. Di hadis yang berikutnya nomor 108. Wa anhu radhiallahu anhu qal.
(12:50) Masih dari Anas bin Malik, sahabat yang mulia tadi radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, ukimatatu faqbala alaina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biwajhi faqal. Satu hari ya qat salat sudah dikumandangkan. Lalu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menghadap kepada kami dengan wajah beliau dan beliau bersabda, “Lihat ini dipraktikkan langsung oleh siapa?” Oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(13:26) Ketika qat, beliau menghadap kepada para sahabat untuk meluruskan merapatkan saf. Aqimu sufufakum watarasu. Luruskanlah saf-saf kalian dan rapatkanlah. Ini termasuk ucapan yang disunahkan diucapkan oleh imam ketika merapatkan dan meluruskan saf. Karena ini Nabi sallallahu alaihi wasallam melakukan dan ini praktiknya. Akimu sufufakum watarasu.
(13:54) Luruskanlah saf-saf kalian dan rapatkanlah. Fainni arak min warairi. Sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Ini termasuk ya mukjizat tanda kenabian yang Allah berikan kepada beliau. [mendengus] Dan ini beliau sebutkan ketika salat berjamaah. Bukan berarti nanti kita katakan, “Oh, berarti dalam semua keadaan Nabi sallallahu alaihi wasallam bisa melihat orang dari belakangnya.
(14:25) ” Tidak. Ini kan beliau katakan ketika salat berjamaah di waktu ini. Berarti beliau akan melihat kalau para sahabat itu bengkok safnya. Beliau bisa mengetahui Allah yang perlihatkan. Berarti ketika para sahabat melakukan gerakan cara untuk merapatkan saf itu yang benar. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam melihat mereka kalau seandainya salah pasti beliau akan menegurnya atau meluruskannya.
(14:54) Ya. Jadi sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Rawahul Bukhi bilfhi wa Muslimun bimahu. Hadis ini riwayat Imam Bukhari dengan lafaz seperti ini. Juga riwayat Imam Muslim dengan maknanya. Nah, ada tambahan dalam Sahih Bukhari dibawakan di sini. Wafi riwayatin lil Bukhari. Ini yang saya pernah jelaskan di pekan yang lalu ya, awal kita kaji bab ini.
(15:21) Dalam riwayat Imam Bukhari. Riwayat lain dari dalam Sahih Bukhari, Anas bin Malik mengomentari berkata, “Wakana ahaduna yulziku manqibahu bimanqibihibihi waqamahu biqodamihi.” Masing-masing dari kami ketika diperintahkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam bagaimana para sahabat mempraktikkannya? Begini cara mereka praktik ya.
(15:54) Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, para sahabat itu generasi yang terbaik termasuk dalam cara mempraktikkan dalil. Ingat, kalau ada perbuatan seperti ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam memerintahkan kemudian para sahabat melakukan seperti ini, berarti itu petunjuk mereka dalam mempraktikkan dalil tersebut. Contoh seperti masalah merapatkan saf.
(16:16) Apa kata Anas bin Malik di sini radhiallahu taala anhu, “Masing-masing kami menempelkan bahunya di bahu temannya yang di sampingnya dan menempelkan kakinya di kaki temannya.” Ini yang saya sudah pernah jelaskan di pertemuan kita yang lalu. Inilah cara merapatkan saf. Jadi, ukurannya bukan di dari kaki saja. Karena kalau kaki itu orang bisa lebarkan.
(16:47) Dan sampai saat ini sebagian ikhwan ana masih saksikan ketika salat berjamaah kakinya terlalu lebar sehingga nanti ketika duduk akan terjadi celah. Tapi coba praktikkan yang seperti yang disampaikan oleh Anas bin Malik di sini. Kaki dirapatkan dan bahu dirapatkan. Bahu itu yang menjadi ukuran. Karena bahu kan tidak bisa kita lebarkan, tidak bisa kita sempitkan. Kalau kaki bisa ya.
(17:15) Sekarang kalau orang kayang masyaallah mungkin tiga saf dia ambil. Iya kan? Itu pakai kakinya. Tapi kalau kakinya sejajar dengan bahunya inilah yang lurusnya akan sama ketika dia berdiri, ketika dia rukuk, ketika dia duduk. [berdehem] Dan ingat merapatkan saf bukan hanya waktu berdiri saja, termasuk waktu duduk juga.
(17:38) Ya. Jadi dengan kita praktikkan ini, kita merapatkan bahu kita dengan bau teman kita dan kayak kita. Berarti sejajar bau dengan kakinya. Ini yang akan menjadikan saf itu benar-benar rapat dan lurus. [berdehem] Ya. Dan di sini rapatnya tidak sampai terlalu berdesakan karena sudah sejajar dengan bahu kita.
(18:02) Karena tidak boleh juga kita terlalu mempersempit teman kita sampai susah duduk, susah misalnya duduk tawaruk gak boleh juga ya. Juga tidak boleh terlalu longgar. Yang terbaik adalah yang di tengah-tengah seperti ini. Merapatkan bahu dengan bahu ya dan merapatkan kaki dengan kaki. Artinya bahu dan kaki kita jadikan sejajar supaya yang teman di samping juga sejajar.
(18:27) Sehingga dengan cara seperti itulah rapat dan lurusnya saf yang sempurna. Dan ini yang dipraktikkan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Karena [mendengus] nanti akan ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kita akan baca nanti. Walinu biidi ikhwanikum. Ya. Yakni bersikap lembutlah terhadap tangan-tangan saudaramu.
(18:49) Yakni jangan terlalu mendesak sampai dia kesakitan. Ya. Ada juga sebagian ikhwan ya. Ya. Ini semua mungkin karena semangat kita katakan cuman ya inilah perlulah kita belajar. Ketika mereka merapatkan saf, masyaallah kaki kita sampai didesak saking semangatnya. Sudah lebar kakinya kita didesak sampai dipepet. Kadang-kadang menyakitkan kaki kita atau apalagi kaki kita sedang sakit misalnya tambah sakit ini juga tidak boleh.
(19:15) Ini sekedar bersentuhan jangan sampai menyakiti. Itu yang benar. Dan inilah petunjuk yang dipraktikkan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Nah, TB. Ini hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini yang pertama takidu iqomati sufufi watasfiatuha watasfiatiha thabil imamika wafi asnaati.
(19:53) Penegasan untuk meluruskan saf. dan merapatkannya, meluruskan saf dan menegakkannya. Ketika imam memerintahkan hal itu dan juga di tengah-tengah pelaksanaan salat. Jadi, jangan sampai orang beranggapan meluruskan saf di awal saja setelah itu biar bengkok-bengkok tidak apa. Tidak. Tetap kita berdiri luruskan lagi, rapatkan lagi semampu yang bisa kita lakukan.
(20:26) Jadi bukan cuma di awal, di tengah-tengah sampai selesai. Kan sudah kita bahas kemarin. Allah mencintai saf yang lurus dan rapat seperti safnya para malaikat. Safnya para malaikat seperti itu. Dari awal sampai terakhir mereka berbaris dalam keadaan lurus dan rapat. Inilah yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala ya dalam ibadah salat berjamaah ini namb ataniyatu yang kedua isbatu mukjizatin nabi mukjizatin lin nabii shallallallahu alaihi wasallam waahu yar ashabahu min warahriakunika Di sini ada penetapan mukjizat
(21:18) ya, hal yang luar biasa yang Allah berikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam yaitu bahwa beliau bisa melihat para sahabat, para makmum di belakang dari belakang punggung beliau. Yang ini akan menjadikan mereka tentu lebih bersungguh-sungguh dalam menegakkan saf, dalam meluruskan dan merapatkan saf. Ya. Ya. Ini sudah pernah saya sebutkan.
(21:44) Kadang-kadang kita kalau berdiri waktu salat ya kaki kita kurang lurus dan kita biarkan seperti itu. Ini sebenarnya kurang bagus. Antum ketika salat itu kan berdiri sungguh-sungguh kepada Allah. Ya. [berdehem] Sekarang orang baris berbaris saja di depan apa ini pembina upacara atau apa? Komandan upacara.
(22:09) Kalau kita kaki kita kurang lurus, kita akan ditegur. Bahkan orang melaksanakan upacara sampai latihan dulu kan supaya rata, supaya lurus. Ya, ini sekarang kita menghadap Allah, kita bersikap sangat santai biar kaki tidak mau kita luruskan. Kaki kita bengkok seperti ini, harusnya kita luruskan supaya kita benar-benar bersungguh-sungguh berusaha untuk menjadikan sikap kita sempurna dalam menghadap Allah Subhanahu wa taala.
(22:37) Kan sudah pernah kita contohkan jemaah sekalian. hafidakumullah. Ya, ketika para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam menceritakan tata cara salat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang memang beliau bersabda, kita tahu dalam Sahih Bukhari, sholu kama roaitumuni usolli. Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat. Nah, kita generasi yang datang setelah para sahabat kan tidak bisa melihat langsung salatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(23:03) Yang melihatnya langsung adalah para sahabat. Nah, mereka itu ketika menceritakan ini kan disebutkan dengan rinci. Nabi sallallahu alaihi wasallam meletakkan tangan kanan beliau di atas, tangan kiri beliau di atas dadanya. Itu berdasarkan riwayat yang hasan atau sahih. Sampai disebutkan dalam riwayat dalam Sunan Abi Daud yang juga sahih, Nabi itu meletakkan tangan kanannya ya di atas tangan kirinya di kena tiga tangannya.
(23:33) Jadi punggung tangannya kena, pergelangan tangannya kena, kemudian bagian lengannya kena. Ini dicontohkan dengan rinci ya. Sampai ketika saya menghadiri kajian Sunan Abi Daud di Masjid Nabawi, As Syekh Abdul Muhsin Al Ababbad, guru kita yang mulia, Syekh kita yang mulia, syekh yang paling senior di Madinah. Beliau mempraktikkan, mencontohkan seperti ini bahwa itu kena punggung tangannya, kena apa ini? Pergelangan dan kena lengannya.
(23:59) Tiga-tiganya kena begini sedikit bisa. Yang penting seperti ini. Ini dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi tidak terlalu seperti ini. Kayak orang kedinginan. Tidak juga cuma seperti ini. Tapi di tengah-tengah kena tiga-tiganya. Yang kanan ini kena tiga tempat. Ini saya pernah jelaskan dulu awal-awal saya ikut pengajian kita membaca kitab sifat salat Nabi yang ditulis oleh Syekh Albani rahimahullah taala.
(24:24) Buku terjemahan. Dan inilah di antara permasalahan terjemahan disebutkan di dalam terjemahan tersebut dan kita salah pahami sampai lama pemahaman salah ini. Sampai kemudian ketika ana dengarkan kajian saya baru saya paham. Oh, ternyata salah pemahaman dulu. Itu kita anggap cara meletakkan itu ada tiga.
(24:49) Boleh di apa ini? Telapak tangan bagian atas, boleh di tengah-tengah, boleh di sini. Kadang-kadang ini, kadang-kadang ini. Ternyata tidak. Itu hadisnya satu, bukan satu. Ini dua yang kedua ini. Tidak. Hadisnya satu. Nabi sallallahu alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan, di atas pergelangannya dan di atas apa? Ini bagian lengan di sini.
(25:11) Jadi tiga-tiganya kena. Antum lihat ini kan dirinci oleh para sahabat. Apakah para sahabat merincinya hanya sekedar untuk menyebutkan rincian tanpa ada faedah? Tentu tidak. Maksudnya supaya apa? Kita meneladani salatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beginilah cara beliau bersedekap. Termasuk meletakkan di atas dada. Itu diterangkan oleh para ulama ada nukilan dari pernyataan Imam Ahmad di atas dada.
(25:38) Itu artinya di atas ya mohon maaf ya, di atas ee dada kita di bagian di atas perut ya, di bagian buah dada kita. Itulah tempat kita meletakkan tangan kita itu dirinci. Ketika sahabat menceritakan Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika rukuk lurus sampai kalau dituangkan air airnya tidak tumpah misalnya. Itu untuk kita contoh.
(26:05) Jadi antum sekarang misalnya antum bisa praktikkan ya rukuk dilihat teman kita atau dicermin supaya kita bisa lihat lurus atau tidak. Karena kadang-kadang kalau antum lihat, kalau kita rukuk tanpa kita periksa lurus tidaknya itu kadang-kadang terlalu bengkok ke bawah, terlalu tinggi ke atas. [berdehem] Bagaimana kita tahu dan kita bisa mengikuti sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang disebutkan rinci seperti ini oleh para sahabat? Yaitu kalau kita suruh orang lain lihat atau lihat di cermin.
(26:35) Kenapa tidak mau kita berusaha? Padahal ini adalah untuk kesempurnaan salat kita. Para sahabat sendiri menyebutkan Nabi sallallahu alaihi wasallam seperti itu tegak dan lurusnya menunjukkan kesempurnaan beliau dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Ini tidak berlebihan karena ada dalilnya. Solu kama roitumuni usolli.
(26:54) Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat. Ya tentu beda kalau kondisi-kondisi ya darurat. Orang sedang sakit punggungnya tidak bisa diluruskan, dia tidak bisa duduk sempurna. Ya, jelas beda keadaannya. Ketika ada salat berjamaah misalnya ada jemaah misalnya yang mungkin dia harus gunakan tongkat atau mungkin dia sakit kakinya sehingga waktu merapatkan saf tidak terlalu rapat karena dia butuh duduk yang lebih luas.
(27:23) Ini kan kondisi-kondisi adzarurah tidak sama dengan kondisi-kondisi lapang. Tentu ini diperlakukan sesuai dengan keadaannya. Barakallahu fikum. Nah, tib. atau faedah yang ketiga, annafsul basyariatu maama alaihaqibun yarquuhafa amala bikilafi maid usnidal amru ilaihanaha jiwa manusia itu selama ada yang mengawasinya maka dia akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya.
(28:21) J ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan saya melihat kalian dari belakang punggungku. berarti kan dia mengawasi salat para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Ini berbeda kalau perkara ini diserahkan kepada diri kita sendiri ya. Karena diri kita kadang-kadang semangat, kadang-kadang malas, maka dengan diawasi ini lebih menyemangati dia untuk terus semangat dalam ibadah.
(28:50) Nah, makanya seseorang yang merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah ini akan menjadikan ibadahnya tentu lebih lurus dan lebih sungguh-sungguh. Inilah sebabnya kenapa? Mengenal Allah, mengenal kesempurnaan sifat-sifatnya. Apalagi yang berhubungan dengan sifat maha mengawasi, maha melihat, maha mengetahui, maha mendengar, maha menyaksikan.
(29:16) Ya, nama-nama Allah arraqib, asyahid. Assami albasir alim. Kalau kita dalil makna ini akan menumbuhkan dalam diri kita rasa selalu diawasi. Kalau pengawasan manusia dia bisa lalai tapi Allah tidak mungkin lalai. Wamallahu bighfilin amma tamalun. Allah tidak mungkin lalai dari apa yang kalian lakukan. Oleh karena itu, orang semakin mengenal Allah, dia akan semakin merasakan muraqabatullah, pasti ibadahnya akan semakin tinggi nilainya, semakin khusyuk salatnya, semakin bersungguh-sungguh, bersemangat dia dalam melaksanakannya.
(29:57) [berdehem] Ya, ini kedudukan muraqabatullah sudah pernah kita terangkan juga. Ini adalah kedudukan ihsan. takunahu fahu yaraoka. Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya. Kalau kamu tidak melihatnya maka sungguh dia maha melihatmu. Ini yang menjadikan semangat ibadah seseorang ketika dia mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah ini.
(30:22) Makanya ini yang selalu kita jelaskan mengenal Allah itu adalah kunci utama untuk memperbaiki keimanan kita, menyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Tib. Kemudian yang berikutnya faedah yang ke empat. Tasfiyatusf yakunu biilzaakil manqibi bil manqibi wal qodami bilqadam. yang namanya meluruskan dan merapatkan saf itu adalah dengan menempelkan kaki ee pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki.
(31:09) Ya, menempelkan pundak dengan pundak serta kaki dengan kaki. Inilah petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hal yang berhubungan dengan menempelkan kaki dengan kaki atau pundak dengan pundak untuk meluruskan dan merapatkan saf. Ya, kadang-kadang mungkin ya pada kondisi-kondisi tertentu kita akan sulit merapatkan saf.
(31:41) Kalau ada kondisi yang tadi kita katakan ada orang yang datang ya kondisi kakinya misalnya agak pincang atau ya dia kurang sehat sehingga tidak bisa terlalu rapat juga ya kita katakan sesuai keadaannya. atau orang duduk di kursi apalagi yang datang pakai kursi roda masuk di tengah-tengah saf. [batuk] Bagaimana [berdehem] cara kita merapatkan atau meluruskannya? Ya, kita katakan orang yang duduk di kursi roda, maka ketika dia duduk itulah pengganti dia berdiri.
(32:13) Maka ketika itulah dia meluruskan saf dengan ketika dia duduk. Di sini kadang-kadang ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, dalam kondisi tertentu bisa jadi antum atau salah seorang di antara kita salat berjamaah di tempat yang tidak ideal, yakni di depan kita untuk sujud terlalu dekat atau mungkin ada di belakang kita ya tiang misalnya sehingga kita berdiri dalam rangka untuk merapatkan saf supaya tidak memutuskan saf kita berdiri di tiang tersebut karena nanti ada keutamaan yang menyambung saf ya.
(32:51) Tidak boleh saf itu terpisah karena tiang. Mungkin kalau tiangnya pas-pas di posisi saf ya kita berdiri di situ. Nanti kita sujud atau rukuk terpaksa harus maju. Ini tidak mengapa. Yang penting waktu antum berdiri luruskan saja. Mungkin imamnya mengatakan Allahu Akbar untuk rukuk.
(33:10) Antum maju sedikit kemudian rukuk sebisanya. Yang penting ketika berdiri rata kembali. Maksudnya kadang-kadang kita bisa maju mundur sedikit karena kondisi dan keadaan ya. Samiallahu liman hamidah berdiri mundur lagi, rapatkan lagi. Nanti sujud maju lagi sedikit tidak [berdehem] mengapa. Atau mungkin kita perlu mundur sedikit kalau mungkin di depan kita terlalu dekat.
(33:33) Ini kondisi-kondisi seperti ini boleh kita bergerak. Yang penting ketika dalam kondisi kita bisa rapatkan, kita rapatkan. Kalau memang kita butuh bergerak sedikit untuk menyempurnakan sujud kita atau rukuk kita, tidak mengapa kita bergerak sedikit karena kondisinya kondisi yang memang darurat atau hajat. Barakallahu fikum.
(33:54) Nam kita melangkah di hadis yang berikutnya. Hadis nomor 1089. Wauman ibni basyir radhiallahu anhuma qasulullah sallahu alaihi wasallam yaakulnaufakumahuikum alai wa riwayatin muslim rasulullahu alaihi wasallam yusawi sufufana kaama yusawialidahi anquman faq hatta kada yukabbirulan badianu mini faqala ibadallahi sufufakumallahu wujuhikum
(34:59) Hadis dari sahabat yang mulia An Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu taala anhuma. Dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Sungguh kalian akan sungguh kalian meluruskan saf-safmu.” Atau Allah Subhanahu wa taala akan menjadikan berselisih di antara wajahmu, yakni berselisih di antara hatimu, kalian akan saling bermusuhan.
(35:28) Karena tidak rapatnya saf menjadi sebab permusuhan, perselisihan, ya. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Kemudian dalam riwayat Imam Muslim, dalam satu riwayat Imam Muslim disebutkan lafaznya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika melaksanakan salat berjamaah selalu meluruskan saf-saf kami sampai-sampai seolah-olah beliau meluruskan alkidah, anak panah ya supaya lurus nanti ketika dilontarkan.
(36:00) sampai ketika beliau melihat kami sudah memahami perintah beliau ini. Ini sudah dilaksanakan dengan benar. Satu hari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya kemudian keluar untuk melaksanakan salat berjamaah dan beliau berdiri sebagai imam. Sampai ketika beliau hampir memulai takbir maka beliau melihat salah seorang di antara jemaah yang dadanya itu agak maju dari saf, tidak rata berarti.
(36:30) Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ibadallah, wahai hamba-hamba Allah, sungguh kalian akan meluruskan meratakan saf-safmu.” Atau Allah Subhanahu wa taala akan menjadikan berselisih wajah-wajahmu, yakni berselisih hatimu. Kalian bisa menjadi bermusuhan gara-gara ini.
(36:52) Ya, ini menunjukkan kepada kita bahwa jangan diremehkan perkara saf ini bisa menjadi sebab perselisihan dan permusuhan. menjadikan rusak persatuan. Ya, jadi antum lihat saat ini karena kaum muslimin kebanyakan ketika salat berjamaah tidak perhatian dalam masalah saf, lihatlah persatuan di antara mereka, kerukunan di antara mereka sulit tercipta kecuali kalau mereka mau melaksanakan sebab-sebab yang menjadikan kesatuan hati sebagaimana yang dibimbing oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini. Nam.
(37:24) Makanya ini juga termasuk tugas imam tadi untuk meluruskan dan merapatkan saf. Lihat ini Nabi sallallahu alaihi wasallam sampai memulai takbir hampir memulai karena ada yang maju sedikit langsung beliau hentikan untuk menegur orang tersebut. Nah, faedah hadis ini yang pertama tasfiyatus sufufi huaidalul qomati wasaddul khalali.
(37:48) Yang namanya meluruskan saf itu adalah iidal lurusnya. Apa ini? Ee qama itu postur tubuh kita. Q itu artinya tinggi seseorang dari kepala sampai kakinya, lurusnya tubuh kita, dan tertutupnya cela-cela di antara satu orang dengan yang lain. Makanya ini juga salah satu di antara [mendengus] ya yang sering terjadi kalau orang salat membawa sajadah masing-masing.
(38:20) Dia merasa dia harus pakai sajadahnya sendiri. sajadahnya lebar. Pokoknya dia berdiri selebar sajadahnya. Tidak boleh orang lain menginjaknya. Ini yang bikin kadang-kadang saf juga jadinya ada celahnya, ada kosong karena sajadah terlalu lebar. Jadi sudah sajadahnya bergambar mengganggu pikiran juga menjadi sebab terputusnya saf karena ada menjadikan celah di antara satu dengan yang lain ya.
(38:49) Dan dikatakan di hadis tadi kan ketika orang ini dadanya terlalu maju berarti memang orang itu diluruskan semua ya. Nanti ada yang bertanya, “Bagaimana Ustaz kalau orang yang perutnya gendut? Kan susah kalau dia menahan napasnya. Nanti dari salatnya tidak tidak bisa konsentrasi. Kita katakan ya lakukanlah sesuai dengan kesanggupan.
(39:10) Yang penting jangan terlalu maju dimundurkan sedikit. Yang penting sesuai dengan ukuran yang tadi kita katakan. Kalau pundaknya sudah rata dengan pundak saudaranya, kakinya juga, maka insyaallah itulah cara meluruskan saf dan meratakannya dengan benar. Barakallahu fikum. Tib. Ataniyatu yang kedua wukuquul waidi. Wukuquul waidi min jinsil jinayati wahiyal mukhalafatu wa ala hadza fahua wajibun wat tafritu fihi haramun.
(39:57) Ya, jatuhnya ancaman ancaman keburukan itu sesuai dengan jenis kejahatan yang dilakukan, keburukan yang dilakukan. Yakni aljazau min jinsil amal. Balasan itu sesuai dengan perbuatan. Ya, wahiyal mukhalafah. yaitu mukhalafah. Orang yang tidak rapat dan lurus berarti terjadi perselisihan dalam safnya. Maka ini menjadikan perselisihan di hati mereka. Naudubillah minzalik.
(40:35) Wa ala hadza. Maka berdasarkan ini berarti ini wajib hukumnya meluruskan saf itu wajib. Karena apa tadi hukumannya? Menjadikan perselisihan di hati. Sekarang perselisihan di hati haram atau sekedar makruh hukumnya? Haram kan? Berselisih hati, bermusuhan. Haram hukumnya. Berarti sebab yang membawa kepada hal ini diharamkan, yaitu saf yang tidak lurus dan rapat.
(41:00) Berarti ini wajib hukumnya. Watfritu fihi haramun. Ya, tafrit kurang dalam memperhatikan hal ini adalah perkara yang diharamkan. Berarti seorang imam itu berdosa ketika dia melaksanakan salat tidak mengingatkan jemaahnya untuk meluruskan dan merapatkan saf. Karena ini wajib. Ya, disebabkan ancaman yang disebutkan di dalam hadis ini adalah perkara yang diharamkan, yaitu perselisihan hati dan permusuhan di antara kaum muslimin.
(41:36) TB salitan yang ketiga. Adamu tasfiyati sufufi yuaddi ilal ikhtilaf. Walil ikhtilafu yuaddi ila iqil adawati wal bagtilafil qulubi. Tidak merapatkan saf, tidak meluruskan saf. Ini akan membawa kepada perselisihan. Dan perselisihan itu akan membawa kepada terjadinya permusuhan dan kebencian serta perselisihan di hati.
(42:14) Yakni tidak menyatukan, membuat perpecahan. Tidak menjadi sebab persatuan atau kerukunan di antara kaum muslimin. Naudubillah minzalik. Jadi dengan kondisi seperti ini tidak boleh seseorang itu kemudian berkomentar, “Kenapa kita harus bahas mengenai masalah saf saja?” Ini kan masalah bukan yang paling penting.
(42:40) Yang paling [mendengus] penting itu kita harus mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Kita katakan ini tentara orang ini bodohnya ya. Ah, dengan apa kalian menyatukan kalau bukan dengan menegakkan kebenaran seperti yang diterangkan di dalam hadis yang sahih ini. Bukankah sebab persatuan di antaranya adalah merapatkan saf? [berdehem] Kalau kemudian dikatakan ini tidak perlu dibahas, ini adalah perkara yang cuma sekedar yakni penyempurna saja.
(43:07) Padahal Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan ini bisa menjadi sebab permusuhan dan kebencian, menjadi sebab berselisihnya hati. Jadi ada orang-orang yang berbicara memang dengan kebodohan dan jahil ya. Mereka mengatakan perkara-perkara seperti ini ini bukan inti agama. Ini yang mereka istilahkan dengan apa? Alquyur.
(43:28) Cuma kulit-kulitnya saja ya. Akibat dari tidak belajar agama sehingga menjadikan sebagian orang terjerumus ke dalam kebodohan. Nauzubillah minzalik. Makanya diingatkan di bagian poin yang terakhir di sini kata Syekh Salim Alhilali yang di dalam yang menjelaskan ini dalam kitab Bahajatun Nadirin syarah Riyadus Shihin kata beliau ahamiatu taswiyati sufufi fati waahu yuiru ala waqiil umti waulfatiha fahal minalati laajuzolu biha pentingnya meluruskan merapatkan saf dalam salat berjamaah Dan ini ternyata mempengaruhi keadaan umat ini dan persatuan mereka.
(44:13) Mempengaruhi persatuan mereka. Maka apakah ini bisa dikatakan sebagai termasuk dari kulit kulitnya agama yang tidak perlu kita berikan perhatian atau tidak perlu kita menyibukkan diri membahasnya? A anal jahla walama yuhlikuhibahu atau memang karena kebodohan dan kebutaan yang membinasakan orang itu sendiri.
(44:36) Ini karena jahil dia tidak tahu bahwasanya perkara seperti ini ternyata [mendengus] faedahnya sangat penting dalam hal yang berhubungan dengan menyatukan umat ya. Dan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang disabdakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak mungkin beliau sampaikan para sahabat menugilnya.
(44:55) Para ulama kemudian memberikan perhatian, memuat di dalam kitab-kitab mereka kalau kemudian perkara ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting, hanya kulit-kulitnya agama atau tidak perlu kita menyibukkan diri dengannya. Ini karena kejahilan seperti ini. Kemudian orang-orang yang jahil ini yang mengatakan ingin memperjuangkan agama, ingin mengembalikan kejayaan umat Islam.
(45:14) Ini jelas pernyataan yang sangat [berdehem] jauh dari jauh dari kenyataan, yakni jauh panggang dari api. Nauzubillah minzalik. Nah, bab. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita. Mudah-mudahan [berdehem] apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita.
(45:33) Kalau ada pertanyaan yang ingin sampaikan sebelum kita akhiri kajian, maka saya persilakan. Barakallahu fikum. I silakan. Yeah. tidak rapat
(47:15) tidak I barakallahu fikum. Itulah kemuliaan agama ini dan kemuliaan orang yang mengenal agama ini dengan dalilnya. Ketika dia mempelajari dalil, dia baca sendiri. Kita baca sendiri antum dengar sendiri dalilnya bagaimana, terjemahannya juga saya bacakan. Apakah mungkin hadis-hadis seperti ini kita ingin remehkan hanya karena kita mendengarkan pendapat seperti ini, pendapat seperti ini, menyaksikan perbuatan sebagian kaum muslimin, perbuatan kaum muslimin bahkan perbuatan orang-orang yang menisbatkan diri kepada
(47:50) ilmu bukan dalil. Ada dalilnya sudah kita baca. Kalau mereka melakukan yang menyelisihi dalil, tinggalkan. Ya, kita berpegang teguh dengan pendapat para ulama ahlusunah wal jamaah. Al shahal haditu fahua mahabi. Jika ada hadis yang sahih, maka itulah mazhabku. Kita ikuti pernyataan dari Imam Syafi’i rahimahullah taala yang terkenal.
(48:12) Ajal muslimahu lahu sunatun rasulillah shallallahu alaihi wasallam falam yah lahuadaaha ahad. Telah bersepakat semua kaum muslimin bahwa barang siapa seseorang yang telah jelas di hadapannya sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka tidak halal dia meninggalkannya karena mengikuti ucapan siapapun. [berdehem] Ya.
(48:37) Jadi ketika ada yang mengatakan ini sunah, maksudnya sunah kan ada yang wajib, ada yang tidak wajib. Kalau dia mengatakan sekedar anjuran, apakah mungkin anjuran sampai seperti ini akibatnya menyebabkan perpecahan, permusuhan? Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam sampai ketika memulai sudah mau takbir, ada yang kelihatan dadanya maju sedikit.
(48:54) Beliau berhenti untuk menegur orang tersebut. Apakah ini dikatakan sunah seperti ini? Iya, [berdehem] kadang-kadang orang berpendapat tapi tidak kuat dalilnya. Kita tolak pendapat tersebut. kita amalkan yang lebih kuat ya. Dan para sahabat tadi komentarnya Anas bin Malik ketika mendengarkan perintah Nabi sallallahu alaihi wasallam menempelkan pundak dengan pundak temannya, kaki dengan kakinya, mereka tidak tidak kemudian ketika mendapatkan perintah ini langsung bersantai-santai, tidak merapatkan.
(49:20) Ternyata mereka praktikkan semua. Masing-masing dari mereka mempraktikkan hal tersebut. Maka itulah yang saya katakan tadi, setelah kita mengenal kebenaran, mengenal dalil, kita tahu yang wajib untuk kita lakukan dalam setiap permasalahan adalah mengikuti dalil. Bukan berpegang teguh dengan perselisihan yang lemah ya dalilnya. Tapi yang benar kita memegang pendapat yang kuat dalilnya. Barakallahu fikum.
(49:44) Nah, barallah fikum. Kita bacakan beberapa pertanyaan dari WhatsApp, Ustaz. Silakan. Ee bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, bagaimana harusnya kita bersikap sebagai guru TK? Di mana di sekolah yang kami kerja ini diajarkan doa makan, Allahumma bariklana dan seterusnya. Dan salat itu menggunakan niat usolli dan seterusnya.
(50:07) Apakah kita berdosa jika membiarkan karena kita sudah tahu tidak sesuai yang diajarkan Nabi sallallahu alaihi wasallam ataukah bagaimana seharusnya sikap kami, Ustaz? [berdehem] Iya. Barakallah fikum. Tetap saja kalau kita mengetahui sesuatu salah kita ikuti, apalagi kita sebagai pengajar ya namanya salah [berdehem] ya kita harus meluruskan.
(50:32) Kalau misalnya yang berhubungan dengan masalah doa makan tadi kita sampaikan kita sebagai guru bisa kita mengajarkan. Kita katakan ada hadis yang menyebutkan seperti ini, tapi ini hadis yang lemah. kita ganti ya dengan hadis yang seperti ini. Bawakan hadisnya ya, doa sebelum makan. Seperti yang diajarkan dalam hadis-hadis yang sahih.
(50:52) Sekedar kita suruh anak-anak baca bismillah saja itu sudah didukung dengan hadis yang sahih ya. Jadi kita ganti, kita harus berani menyatakan ini yang kuat riwayatnya. Kalau perlu kita bawakan mungkin ee tulisan ya untuk kita terangkan kepada guru atau mungkin penanggung jawab di sekolah tersebut. yang jelas-jelas menyebutkan kelemahan riwayat tersebut.
(51:17) Sudah kita ambil saja yang sahih. Demikian pula yang masalah yang berhubungan dengan usolli-usoli tadi. Sampaikan, nukilkan. Alhamdulillah sekarang ada keterangan dari yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi dari Imam Syafi’i sendiri yang kemudian disalah pahami oleh salah seorang pengikut mazhab Imam Syafi’i yang menyebutkan masalah usoli.
(51:36) Ini ada penjelasan dari para ulama. Tinggal kita nukilkan saja sebutkan dan juga terjemahannya ada untuk diterangkan bahwa ini ternyata bukan pendapat Imam Syafi’i. Karena semua ulama ahlusunah wal jamaah dan semua ulama ahlul lughah ahli bahasa Arab bahkan mengatakan yang namanya niat itu tempatnya ada adalah di dalam hati tidak dilafazkan.
(51:55) Ya. Sebagaimana ini disepakati oleh para ulama ahlusunah wal jamaah dan para ulama ahli bahasa Arab. Kan ini penjelasan yang jelas seperti ini [berdehem] ya. Mungkin kita perlu sampaikan dengan cara pelan-pelan ya. Anak-anak mungkin tidak perlu harus tahu dengan perselisihan sebagaimana yang tadi kita maksudkan.
(52:16) Perlu kita sampaikan kepada mereka langsung kesimpulannya saja. Misalnya anak-anak ini niat cukup di dalam hati ya. Waktu [berdehem] salat kita kuatkan dalam hati kita bahwa saya ingin melaksanakan salat zuhur misalnya empat rakaat salat zuhur ini ya. Dalam hati cukup ya. Karena niat itu untuk membedakan antara salat yang kita lakukan ini salat zuhur atau kita ingin salat sunah misalnya di saat ini.
(52:41) Cukup seperti itu yang penjelasan yang ringkas saja. Adapun mungkin kalau kita perlu berhadapan dengan pihak yang bertanggung jawab di atas ya tidak mengapa kita jelaskan dengan cara yang lebih rinci sesuai dengan yang disebutkan oleh para ulama kita. Yang jelas kita harus mengingkari hal tersebut tidak boleh membiarkannya. Barakallahu fikum.
(53:01) Ba kita bacakan pertanyaan beberapa pertanyaan lagi Ustaz. Ee Ustaz, bagaimana cara mendoakan anak kami yang meninggal sebelum balig? Apakah boleh kami berinfak atas namanya? [berdehem][batuk] Anak yang meninggal sebelum balig itu tempatnya di surga. Jangankan [berdehem] anaknya seorang muslim, anaknya orang kafir saja menurut pendapat yang terkuat dia tempatnya di surga.
(53:27) Dalam sebuah hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Albazzar dalam musnadnya dan disahihkan oleh Syal Albani rahimahullah taala, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah berkata, “Saaltubiina yuibahum faonim.” Aku pernah meminta kepada Allah tentang anak-anak kecil yang masih bermain-main, yakni yang belum balig agar Allah tidak mengazab mereka, maka Allah berikan itu kepadaku.
(53:49) Jadi anak-anak semua, anak kaum muslimin jelas mengikuti orang tuanya, bahkan anak orang kafir karena dia masih di atas fitrah. Maka yang seperti ini ya [berdehem] sudah menjadi kebaikan untuk kita. Apalagi anaknya seorang muslim. Jelas-jelas Alquran mengatakan, “Walladina amanuatumyatuhum biimanin alhaqna bihimatahum.” Orang-orang yang beriman dan anak-anak mereka akan mengikuti mereka dalam keimanan.
(54:20) Kami akan kumpulkan mereka ya dengan keturunannya. Jadi yang perlu kita doakan adalah diri kita sendiri. Adapun anak kecil yang meninggal dunia sebelum balik cukup kita doakan doa-doa yang berhubungan dengan kita bersabar ya dengan ketentuan Allah Subhanahu wa taala atau meminta kebaikan dari musibah yang menimpa kita sebagaimana yang diajarkan dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya.
(54:48) Seperti misalnya ee Allahumma jurni fi musibati waklufli khairon minha. Ya Allah berikanlah pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah dengan yang lebih baik. Ya, adapun anak-anak itu sendiri sudah dijamin, sudah ada jaminannya disebutkan di dalam dalil-dalil yang sahih. Nam. Barakallahu fikum. Barakallahu fikum. Ee kita bacakan pertanyaan berikutnya.
(55:05) Bismillah. Ustaz, bagaimana hukumnya kalau imam memberi peringatan pakai bahasa Arab untuk merapikan saf tapi jemahnya tidak paham sehingga safnya tetap tidak rapi? Dan yang kedua, apakah salat berjamaah kami tetap sah jika ada sebagian jemaah yang tidak meluruskan saf karena mereka tidak mengerti yang disampaikan imam dalam bahasa Arab tadi.
(55:25) Ustaz, [batuk] ini imamnya juga bagaimana dia berkomunikasi sama orang dengan hal yang tidak orang pahami? Apa gunanya dia menyampaikan kalau dia hanya menyampaikan sesuatu orang yang tidak paham? Ya, ini tidak [berdehem] benar yang seperti ini. Tujuannya dia memperingatkan itu supaya orang paham dan bisa mengamalkannya.
(55:49) Kalau dia ingin gunakan bahasa Arab gak apa-apa terjemahkan juga. Misalnya dia mengatakan saw sufufakum aqimu sufakumu. Terjemahkan setelah itu. Luruskan saf dan terjemahkan. Ee luruskan saf dan rapatkan. Ya. Jadikan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki bertemu supaya lurus saf. orang tidak mengamalkan setelah itu, maka itu tanggung jawabnya sudah lepas.
(56:14) Lebih baik lagi kalau misalnya dia setelah selesai salat mungkin memberikan satu waktu untuk menjelaskan kepada jemaah ya tentang hal yang berhubungan dengan saf. sebutkan hadisnya mungkin terangkan sedikit supaya nanti untuk berikutnya jemaah bisa lebih perhatian dalam masalah ini. Kalaupun tidak semua mengamalkannya, sebagian ada yang mengamalkannya itu sudah merupakan kebaikan yang mudah-mudahan itu akan semakin bertambah dan semakin menjadikan sempurna keutamaan salat berjamaah tersebut. Barakallahu fikum. Nah,
(56:44) tapi jangan pertanya iya. Tapi tetap sah salatnya. Kalaupun ada yang tidak merapatkannya, tetap secara umum salat berjamaah itu sah. Karena imam sudah berusaha juga menyampaikan atau mengingatkan mereka. Nah, bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. E mau tanya, Ustaz. Apabila pada saat di luar rumah bersama keluarga sehingga masuknya waktu salat hingga masuknya waktu salat berjamaah.
(57:06) Sedangkan anak-anak bila sama ibunya salat anak kita ini masih susah diatur, sering ribut dan main-main. Sebagai bagaimana sikap seharusnya, Ustaz, seorang istri apakah dia juga sebaiknya salat berjamaah atau salatnya nanti di rumah saja, Ustaz? Iya. Kita tahu yang diwajibkan salat berjamaah itu adalah [berdehem] laki-laki.
(57:36) Adapun seorang perempuan kalau tidak ada halangan yang berarti tidak mengapa dia ee laksanakan di rumah apalagi dengan kondisi anak-anaknya. Kecuali kalau ada halangan tadi misalnya dikhawatirkan ee waktu perjalanannya lama sehingga tertunda. Dikhawatirkan nanti ada hal-hal yang menjadikan berakhir waktu. Beda kalau sudah rumahnya dekat, sudah tinggal pulang misalnya.
(57:59) [batuk] Nah, atau mungkin dia di waktu-waktu menjelang haidnya, khawatir keburu datang haidnya, akhirnya dia terhalangi. Maka tentu kita perintahkan dalam kode seperti ini segera melaksanakan salat. Kalau anak-anaknya mungkin belum bisa dikendalikan, ya sudah bapaknya dulu yang laksanakan salat kemudian gantian menjaga anaknya kemudian ibunya.
(58:19) Kalau kondisinya seperti itu ya. [mendengus] Dan kalau seandainya anak-anak bisa di tetap bisa dijaga dan diawasi, sebaiknya dia laksanakan salat ketika itu agar tidak perlu menunda-nundanya. Ya. Jadi kita pertimbangkan keadaan dan kondisi tadi [berdehem] untuk kita memutuskan hal itu.
(58:37) Kalau yang laki-laki ya tetap dia kewajiban kalau tidak ada uzur ya kewajiban dia melaksanakan salat berjamaah. Adapun yang perempuan adalah mempertimbangkan hal-hal seperti tadi. Barakallahu fikum. N kita bacakan satu pertanyaan terakhir ustaz dari WhatsApp. Ee bismillah ustaz. Apakah bisa kita melaksanakan salat tahajud, puasa Senin Kamis, kita niatkan pahalanya untuk orang kedua orang tua kita.
(59:01) Namun orang tua kita masih hidup, Ustaz. [batuk] [berdehem] Iya. Ini tidak ada dalil yang menyebutkan [berdehem] kalau meniatkan pahala untuk orang yang masih hidup kecuali kalau orang tua. Kecuali kalau orang tua karena orang tua itu disebutkan di dalam hadis yang sahih atau hadis yang hasan derajatnya.
(59:25) Dalam riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya dua dalam Sunan at-Tirmidzi. Kata Syl Albani ini hasan derajatnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wa inna waladahu min kasbihi.” Sesungguhnya anak termasuk usaha dari orang tuanya. Tidak perlu diniatkan pahalanya untuk orang tuanya. Emangnya antum sudah punya pahala banyak sehingga dikasih pahala ke orang lain? Jadi tidak perlu dilihatkan.
(59:45) Kita amalkan saja. Maka kita termasuk usaha orang tua kita, maka pahalanya pun sampai kepada orang tua. Kecuali kalau orang tua menghalangi kita dari mengamalkan amal kebaikan. Kalau orang tua tidak menghalangi kita dan dia tetap mendukung kebaikan yang kita lakukan, apalagi dia termasuk yang menganjurkan, maka tetap dia mendapatkan pahalanya.
(1:00:04) Karena anak itu termasuk bagian dari usaha orang tuanya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis tadi. Dan juga keutamaan dalam hadis riwayat Imam Muslim yang menyebutkan ee apa ini? pahala yang terus mengalir ya amal jariah termasuk waladin shihin yad’uahu anak yang saleh yang selalu mendoakan kebaikan kepada orang tuanya ini bukan cuma doanya saja semua amal saleh yang dilakukan oleh anak yang saleh ini sampai kepada orang tuanya barakallahu fikum ini sampai dengan otomatis ya tanpa perlu diniatkan [mendengus]
(1:00:38) cukup sampai di sini insyaallah kajian kita semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita mohon maaf atas segala segala yang salah dan kurang shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum bisihsanin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Okay.
Leave a Reply