[LIVE] Kajian Ahad ” Kitab Riyadhus Shalihin ” Oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA Hafidzahullah – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

Transcript:
(00:00) Atalif yang ketiga dari alkulafaur rasyidin dan satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga dalam satu hadis beliau berkata, Utsman ibn Affan radhiallahu taala anhu, beliau berkata, “Samiu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaakul, aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, Man sha isyaa fi jamaatin fakaanna maqoma nisfail waman shaha fi jamaatin fakaanama sha laila kullahu rawahu muslim.
(00:46) [mendengus] Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang salat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia melaksanakan salat setengah malam. Dan barang siapa yang melaksanakan salat subuh secara berjamaah, maka seolah-olah atau sepertinya dia melaksanakan salat semalaman penuh. Hadis riwayat Imam Muslim.
(01:29) Adik-adik, hadis riwayat Imam Muslim. Jadi nilai keutamaannya orang yang melaksanakan subuh, salat subuh berjamaah seperti salat semalaman penuh semalam suntuk. Adapun salat Isya berjamaah seperti salat setengah malam. Ya, jelas ini merupakan keutamaan yang besar yang mesti akan berlomba-lomba dikejar oleh orang-orang yang beriman.
(02:00) Wafi riwayatin an Utsman wafi riwayat Tirmidzi an Utsman bin Affan radhiallahu anhu qal. Dalam riwayat lain dalam Sunan at-Tirmidzi juga dari Utsman Ibnu Affan radhiallahu taala anhu, beliau berkata, “Qala Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, man syahidal isyaa fi jamaatin kana lahu qiamu nisfil nisfi lailah waman sha isya waqala Tirmidzi hadisun hasanun sahih.
(02:51) Di dalam riwayat lain dalam Sunan at-Tirmidzi dari Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang menghadiri salat Isya secara berjamaah, maka baginya pahala seperti salat setengah malam. Dan barang siapa yang menghadiri salat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka baginya pahala seperti salat semalaman penuh.
(03:26) At-Tirmidzi mengatakan hadis ini adalah hadis yang hasan sahih. Nam. Jadi kedua hadis ini menjelaskan keutamaan tadi. Cuma di dalam riwayat yang kedua menyebutkan yang nilainya salat semalam suntuk itu semalam penuh itu kalau subuhnya dia berjamaah, isyanya juga dia berjamaah. Yang jelas menunjukkan pentingnya kedua kedua salat ini untuk dijaga.
(03:58) Karena kedua salat ini sekali lagi dilaksanakan di waktu gelap. yakni orang-orang tidak ada yang melihatnya. Hanya Allah Subhanahu wa taala yang menyaksikannya. [mendengus] Bab faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini yang pertama, istihbabul muhafadati ala shatai asubhi wal isyai fi jamaah. Keutamaan menjaga dua salat.
(04:33) Subuh dan isya secara berjamaah. Lianna man hafad alaihima kana muhafidon ala girihima min babil aula. Min babi aula. Karena barang siapa yang menjaga dua salat ini, maka terlebih-lebih lagi dia akan menjaga salat-salat yang lain. Ini bukan berarti tiga salat yang yang lainnya tidak penting. Tetapi barang siapa yang menjaga isya dan subuh berjamaah, maka salat-salat lainnya tentu lebih mudah bagi dia untuk dijaga dan dikerjakan secara berjamaah juga.
(05:18) Nam tanian yang kedua, almuhafadatu ala shail fajri wal isya fi jamaatin min alamatil min alamatil iman. Orang yang menjaga salat berjamaah subuh dan isya [mendengus] atau isya dan subuh secara berjamaah ini merupakan atau termasuk ciri-ciri keimanan, tanda-tanda keimanan yang benar. Liannahuma yakunani fil golas wal atamati.
(06:00) Karena keduanya dilakukan di waktu gelap, di waktu sangat malam, yakni untuk diperlihatkan ke orang lain. Tidak bisa. Jadi benar-benar dorongannya karena mencari keridaan Allah. ini dominannya orang yang melaksanakan salat ini seperti itu. Kalau siang hari masih ada keinginan dilihat orang misalnya ini orang-orang yang tentu imannya rusak ya.
(06:27) Tapi untuk dua waktu salat ini dilakukan di waktu gelap dan di waktu malam. Tiib. Haitsitu la yatakhallafu illal munafiqu ud uzrin. Yang mana? Tidak ada yang tertinggal melaksanakan salat ini kecuali orang munafik atau orang yang punya uzur. Dan pastinya kita bisa rasakan memang kedua salat ini adalah salat yang paling berat untuk dilakukan dari segi salat Isya.
(07:06) Ya, sudah di akhir waktu saatnya orang sudah mungkin mengantuk atau sudah kecapekan bekerja seharian. Apalagi salat subuh di saat ya bangun tidur pertama kali orang melakukannya. Maka kedua salat ini adalah di waktu yang paling berat dilaksanakan kecuali tentu orang-orang yang beriman bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barakallahu fikum.
(07:41) Nah, bahkan kita tahu kan sudah pernah kita jelaskan juga salat salat Isya juzru diutamakan untuk dilaksanakan diakhirkan. Ya, kalau semakin tengah malam dilakukan maka lebih utama. Seandainya tidak dikhawatirkan memberatkan bagi jemaah. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(08:06) Salitan yang ketiga, fadlu shati subhi fi jamaatinqiami lailah. Keutamaan salat subuh berjamaah itu seperti melaksanakan salat semalaman penuh. [mendengus] Keutamaannya seperti melaksanakan salat semalaman penuh. Dan kita sudah pernah terangkan mungkin di kajian-kajian yang lalu kalau ada hadis yang menyebutkan keutamaan satu amalan seperti amalan ini misalnya contoh seperti orang yang [mendengus] melaksanakan salat subuh berjamaah.
(08:46) Tummaada yadkurullah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hatta tatlu asyam sampai matahari terbit. Kemudian dia menunggu sekitar 15 menit dia laksanakan salat dua rakaat salat isyraq namanya. salat isyraq kanat lahu ajri hajatin wa umratin tamatan tamatan tama maka dia dapatkan pahala seperti haji dan umrah sempurna sempurna sempurna lafaz seperti ini bukan menunjukkan bahwa keutamaan tersebut menggantikan amalan tadi tidak cuma dikatakan keutamaannya seperti itu.
(09:23) bukan berarti menggantikannya. Sehingga orang tidak bisa mengatakan, “Ah, kalau dia sudah laksanakan salat isyraq beberapa kali, berarti dia enggak perlu haji, enggak perlu umrah.” Ini salah. Karena dikatakan keutamaannya sama, tapi bukan menggantikannya. Ya, sama seperti di sini orang yang salat subuh berjamaah seperti dia salat semalaman penuh.
(09:51) Bukan berarti dia mengatakan, “Ah, saya tidak perlu bangun salat malam atau qiyamulail, tidak perlu salat tahajud.” Jelas salah. Salat tahajud punya keutamaan tersendiri. Ya. Adapun yang disebutkan di hadis ini adalah keutamaannya bisa menyamai amalan tersebut tapi tidak bisa menggantikan amal itu sendiri. Nah, barakallahu fik.
(10:16) Rabian yang keempat, fadlu shatil isya fi jamaatinqiami nisfi lailah. Keutamaan salat isya berjamaah seperti melaksanakan salat setengah malam. [mendengus] Seperti melaksanakan salat setengah malam. Masyaallah. Jadi ini benar-benar keutamaan yang sangat mulia bagi orang yang terbiasa melaksanakan salat berjamaah.
(10:47) Apalagi jemaah di zaman sekarang untuk dua salat ini tidak seberat di zaman dahulu. Tentu saja [mendengus] ya dengan segala fasilitas yang ada, penerangan juga ada. Bahkan mati lampu pun kita bisa menggunakan senter dari handphone kita. Kemudian juga jalan-jalan yang kita tempuh tentu tidak se berbahaya di zaman dahulu.
(11:21) Maka sangat merugi seorang yang memahami keutamaan besar seperti ini kemudian dia tidak berusaha meraih dan mengejarnya. Barakallahu fikum. Nah, [mendengus] bab. [berdehem] Lanjut hadis berikutnya. Hadis nomor 1072. Kata Imam an-Nawawi rahimahullahu taala, wa an Abi Hurairat radhiallahu anhu [mendengus] anna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam qal launa ma fil atamati wasubhi.
(12:00) La atauma walau hawan muttafaqun alaih. Dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam secara mutlak. Nama beliau adalah Abdurrahman Ibnu Sakhr Addausi. Yakni banyak perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang nama beliau. Di antara yang paling kuat adalah namanya Abdurrahman Ibnu Sakhar Addausi radhiallahu taala anhu.
(12:33) Bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya mereka mengetahui keutamaan melaksanakan salat subuh, salat Isya dan salat subuh secara berjamaah, maka niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Walaupun sambil berjalan merangkak, ya ini karena sakit mungkin tidak bisa jalan biasa.
(13:00) Kalau dia tahu keutamaannya dia akan berusaha mendatanginya meskipun dengan berjalan merangkak. Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim [berdehem] ya. Yang hadis ini sudah dibahas keutamaannya yang lalu ya di bab keutamaan azan. Intinya hadis ini menjelaskan keutamaan salat Isya dan salat subuh secara berjamaah yang sebisa mungkin pasti akan dikejar keutamaan tersebut oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
(13:39) Kemudian hadis nomor 1073 wa anhu radhiallahu anhu qal. Masih dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Laisa shatunqala alal munina min al fajri wal isya walau yamuna ma fihima lauma walau habwan muttafaqun alaih.
(14:18) ” Mirip dengan hadis yang sebelumnya. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam, “Tidak ada salat satu salat pun yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi salat subuh dan salat Isya berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaan pada dua salat ini, maka niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.
(14:48) ” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. [mendengus] Berarti ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang munafik ya secara umum mereka berat melaksanakan semua ibadah apalagi salat ya. Waidza qomu ilati qomu gusala. Kalau mereka berdiri melaksanakan salat malas-malasan. Apalagi salat yang paling berat tadi dilakukan di waktu malam dalam keadaan gelap, yaitu isya dan subuh berjamaah.
(15:23) Itu yang lebih berat lagi bagi mereka. Ya. Jadi ini menunjukkan kepada kita sebagaimana faedah yang kita bahas di pertemuan lalu, melaksanakan salat dua salat ini berjamaah merupakan ciri-ciri tanda-tanda benarnya iman di hati seorang hamba. Maka menjaganya berarti juga menjaga kebaikan iman di hati kita. Barakallahu fikum.
(15:54) Faedah di hadis ini yang pertama, fadlu shati subhi wal isyai fi jamaatin adim. Keutamaan salat subuh dan salat isya berjamaah sangat agung. Tanian yang kedua almunafi yaquumu bil ibadati bikumulin wa nafsin khabitah. [mendengus] Orang munafik mereka akan menegakkan ibadah dengan malas-malasan dan dengan jiwa yang buruk.
(16:33) Tidak semangat, tidak dengan kecintaan. Karena di hati mereka jelas dipenuhi kebencian kepada Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. sehingga mereka melaksanakan ibadah hanya sekedar untuk menampakkan dirinya ya tidak seperti kenyataannya. Walidzalika wasofahumullahu biquihi. Oleh karena itu Allah sifati mereka dengan firmannya di surat Annisa ayat 42.
(17:01) Waidza qu il shati qomu quala yurounasa wala yadkurunallaha illa qolila. Dan ketika mereka berdiri melaksanakan salat, mereka berdiri melakukannya dengan malas-malasan. Mereka memperlihatkan amal kepada manusia dan mereka tidak berzikir kepada Allah kecuali sangat sedikit. Inilah sifat orang-orang munafik ya. yang di antara cirinya tadi adalah merasa berat untuk melaksanakan salat apalagi salat Isya dan subuh secara berjamaah.
(17:41) Oleh karena itu, berarti ini menunjukkan juga kepada kita bahwa menjaga dua salat ini secara berjamaah termasuk sebab yang akan menjauhkan kita dari sifat kemunafikan. Barakallahu fikum. Bab, pembahasan ini selesai dengan tiga hadis yang kita baca dan mohon maaf berhubungan dengan kondisi suara ana yang kurang stabil maka kita cukupkan kajian.
(18:07) Artinya cukup kita membaca hadis-hadis yang ada tadi dan kita lanjutkan dengan menjawab pertanyaan kalau ada pertanyaan yang ingin antum sampaikan. Barakallah fikum. sallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasbihi ajma walhamdulillahi rabbil alamin. Silakan kalau ada pertanyaan. Barak fikum ustaz.
(18:40) Kita bacakan beberapa pertanyaan dari WhatsApp Ustaz. Iya silakan. Ee bismillah. Izin bertanya di luar tema. Ustaz Ustaz, apabila jenazah perempuan setelah selesai dimandikan oleh tim akhwat, kemudian jenazah tersebut ditutup auratnya menggunakan kain dalam memindahkan jenazah dari tempat memandikan ke tempat pengkafanan, apakah boleh dilakukan oleh laki-laki mahram jenazah tersebut? Iya. Barakallahu fikum.
(19:17) [mendengus] Kalau dalam kondisi terjaga dan tertutup auratnya ya asalnya kalau cuma dipindahkan diperbolehkan. Yang sudah kita ketahui kalau memandikannya jelas untuk jenazah perempuan. Perempuan yang memandikannya untuk laki-laki. Laki-laki yang memandikannya kecuali suami istri. Iya kan? [berdehem] yang disebutkan dalam hadis yang sahih.
(19:39) Tapi kalau untuk sekedar memindahkannya selama terjaga dan tertutup, maka laki-laki apalagi mahramnya jelas itu diperbolehkan untuk mengangkatnya. Nah, barakallahu fikum. Kita bacakan pertanyaan berikutnya. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam, Ustaz. Imam tetap di masjid dekat rumah ana bacaan ayat suci Al-Qur’annya kadang salah makhrajnya.
(20:11) Akhirnya saya sesekali mengajar sengajakan masbuk agar saya tidak mendengarkan imam membaca surah-surah pendek setelah membaca surah al-Fatihah. Apakah yang saya lakukan demikian salah, Ustaz? Iya, tetap salah. Karena kaidahnya tadi kesalahan tersebut menjadikan salatnya batal atau tidak. Karena kata para ulama, man shahat shatuhu shahat imamatuhu.
(20:41) Barang siapa yang salatnya sah berarti dia sah menjadi imam. Maka kalau salatnya tidak sah karena bacaannya salah, berarti tidak sah dia menjadi imam. Salatnya sendiri saya tidak sah, apalagi jadi imam. Maka kalau tadi dikatakan makhrajnya kan sekarang sebagian ulama itu membedakan antara ah kesalahan tersebut kesalahan yang sifatnya menjadikan batal salatnya ya.
(21:12) Dalam hal ini Al-Fatihah misalnya karena dia rukun salat ya. Kalau salahnya itu sampai salah seperti makhraj sampai berubah ya sampai menjadikan bacaannya berubah maknanya maka al-Fatihahnya batal berarti salatnya batal. Berarti makmumnya semua batal semua salatnya. [berdehem] Tapi ada sebagian ulama seperti Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah taala misalnya mengatakan kalau yang salah semua cuma tajwidnya maka tidak sampai batal.
(21:42) misalnya panjang pendeknya atau yang lainnya. Selama tetap makhrajnya benar, dia cuma meninggalkan keutamaan, berkurang keutamaannya tapi tidak sampai salah bacaannya. Ini dibedakan dua hal tersebut. Cuman yang jelas bagaimanapun juga keadaannya ya, kewajiban kita adalah mengingatkan kepada pengurus masjid untuk seharusnya memilih imam yang terbaik.
(22:10) yang makhrajnya benar, tajwidnya benar, supaya dia bisa membaca dengan keutamaan yang maksimal didapatkan olehnya sehingga jemaahnya pun juga mendapatkan keutamaan besar dari salat tersebut. Adapun perbuatan tadi, dia meninggalkan sebagian supaya tidak mendengarkan, tetap saja imam itu kan salat dengan bacaan tadi.
(22:33) Maka meskipun kita datangnya terlambat ya, kalau bacaannya tidak benar ya kita ikut kena akibatnya. ya ikut kena akibatnya. Makanya tadi kita perlu perlu bedakan dulu kesalahan bacaan tadi sampai menjadikan berubah makna bacaannya atau tidak ya kesalahannya itu sampai merubah makna bacaan Al-Qur’annya atau tidak.
(22:55) Apalagi yang berhubungan dengan surah Al-Fatihah yang merupakan salah satu rukun rukun salat. Nah [mendengus] bab kita bacakan pertanyaan berikutnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustazam. Ustaz, ketika kita bertaazkiah, bertakziah ke rumah keluarga yang sedang tertimpa musibah kedukaan yang di mana di dalamnya ada perbuatan syubhat.
(23:16) Misalnya keluarga mengundang pesantren untuk membaca Al-Qur’an 30 juz, Ustaz, yang biasa terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Apakah kedatangan kita untuk menghibur keluarga tersebut termasuk dalam mengikuti perbuatan syubhat itu? Mohon nasihatnya, Ustaz. Iya. Barakallahu fikum. Pertama, takziah itu disyariatkan bukan setelah jenazah dikuburkan.
(23:43) Kalau sudah dikuburkan tidak ada lagi takziah namanya. Ini malah membangkitkan kesedihan. Dalam sebuah riwayat yang sahih yang dinyatakan sahih juga oleh Asyekh Albani rahimahullah taala dalam kitab Ahmul Janaiz, ada asar dari sahabat Jarir bin Abdillah Albajali radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, “Kunna naudu alijtima ahlil mayiti wasami bafni minha.
(24:13) Kami dulunya menganggap, menghitung, berkumpul pada keluarga mayat setelah jenazah dikuburkan dan menghidangkan makanan. Itu termasuk perbuatan niahah, meratapi mayit yang merupakan dosa besar dalam Islam. Jadi, takziah [berdehem] dilakukan ya sebelum jenazah dikuburkan. sekaligus kita membantu misalnya datang termasuk menyelenggarakan jenazah atau kalau kita ingin datang menghibur waktu itu, itulah waktunya.
(24:50) Apalagi kalau kita bisa membantu membawakan hidangan makanan untuk mereka yang sedang sibuk dengan kedukaannya sehingga mungkin mereka tidak mempersiapkan dirinya untuk makanan bagi keluarga tersebut. kita datangkan dari luar misalnya, maka ini amalan yang utama dan termasuk sunah yang banyak ditinggalkan saat ini.
(25:12) Adapun setelah dikuburkannya jenazah, maka takziah tidak lagi dilakukan dengan cara mengunjungi rumahnya. Kalau kita ingin menghibur dia, boleh lewat. Apalagi sekarang sudah ada pesan WhatsApp ya, chat WhatsApp misalnya atau telepon. Dia tidak disyariatkan lagi untuk datang berkumpul-kumpul di rumahnya setelah jenazah dikuburkan.
(25:35) Karena itu hanya membangkitkan dan memperbaharui kesedihan mereka. Nah, [mendengus] baik. Barfikum, Ustaz. Kita bacakan pertanyaan berikutnya lagi. Ustaz, siapa yang lebih berhak menjadi imam ketika beberapa orang berkumpul? Apakah ada urutannya? Dan berikutnya batasan waktu salat isyraq sampai mana, Ustaz? Dan setelah salat isyraq, apakah boleh melaksanakan salat duha lagi? Tayib.
(26:16) yang berhubungan dengan ee siapa yang berhak menjadi imam itu kan sudah ada kriterianya dari Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Beliau sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ya umulumitabillah fauqatiwa nabi wasamu sawa faqdamum hijratan riwayatinamuhum sinnan.” Yang menjadi imam di satu kaum adalah yang paling pandai membaca Al-Qur’an.
(26:54) Yakni yang paling bagus bacaannya, yang paling banyak hafalannya. Dan tentu paling paham tentang isi Al-Qur’an tersebut. Kalau dalam masalah bacaan mereka sama, maka yang paling mengetahui tentang sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kemudian yang paling dahulu hijrahnya juga yang paling tua usianya.
(27:19) Ini kalau semua kriterianya sama dipilih yang paling tua, yang paling senior di antara mereka. Nah, itu yang berhubungan dengan masalah siapa yang paling berhak menjadi imam. Makanya imam itu dipilih ya sebagaimana muadzin dipilih orang yang suaranya lantang, orang yang amanah dalam masalah waktu salat, orang yang perhatian dalam masalah waktu salat dipilih yang demikian.
(27:50) Bab. Adapun masalah yang berhubungan dengan pertanyaan kedua, waktu salat isyraq, ya kan hadisnya tadi dan yang pendapat yang terkuat hadis tersebut adalah hadis yang kuat derajatnya. Sebagaimana dinyatakan kuat oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, manal fi jamaatinullahatamsu rakatri hajatin wa umrin tamatan tamatan tamah.
(28:24) Barang siapa yang salat subuh secara berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit ah kemudian dia salat dua rakaat. Ingat setelah matahari terbit tidak boleh langsung salat karena ada larangan yang keras. Ketika itu orang-orang musyrik atau kafir sujud kepada matahari, maka kita tidak boleh menyerupai mereka.
(28:47) Kata para ulama, kita tunda dulu sekitar 15 menit atau sekitar 13 sampai seterusnya ya. 13 menit, 13 menit sudah bisa. Matahari tinggi sekitar satu tombak begitu. Kita sudah boleh melaksanakannya. Dan ini memang adalah awalnya waktu salat duha. Awalnya waktu salat duha. Ya, [berdehem] ketika matahari sudah terbit sudah boleh kita lakukan salat.
(29:19) Artinya sudah hilang larangannya. Misalnya ada orang yang ingin melaksanakan salat Idul Fitri dipercepat ee atau salat Idul Adha dipercepat ya. Karena salat Idul Fitri kan diperlambat sedikit karena biar orang menunaikan zakat dulu yang terlambat malamnya. Ah, misalnya salat Idul Adha dipercepat bisa dilaksanakan setelah 15 menit waktu matahari terbit.
(29:41) Ah, jadi [berdehem] ketika ada yang ingin melaksanakan salat duha setelah salat isyraq boleh saja diperbolehkan, sudah masuk waktunya. Tapi kita tahu salat duha itu kan lebih utama diakhirkan. Lebih utama artinya tetap boleh di awal tapi kalau diakhirkan sampai sekitar 11.30, jam 11. lebih afdal. Karena ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam juga dalam Sahih Muslim Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Shatul awabina tarmadul fisal.
(30:12) ” Salatnya orang-orang yang selalu kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan. Anak-anak unta mulai kepanasan ya ketika matahari sudah agak tinggi mulai jam 10-an mungkin atau setelahnya. Dan dikatakan ini salatnya awwabin, orang-orang yang selalu kembali kepada Allah.
(30:34) Karena di waktu ini biasanya orang sedang sibuk dengan urusan dunianya. Ketika pedagang berjualan biasanya larisnya di waktu-waktu ini. Maka sewaktu seseorang menyempatkan dirinya untuk salat duha misalnya dua rakaat atau empat rakaat di waktu ini, berarti dia adalah orang yang selalu ingat kepada Allah. Karena ketika orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunianya, dia tetap mengutamakan untuk berzikir kepada Allah atau melaksanakan salat dua rakaat.
(31:07) Ya, tentu saja kalau kita sedang berdagang ya tidak perlu kita menutup pasar kita di waktu itu. Kita cari waktu-waktu ketika senggang tidak ada pembeli, kita laksanakan salat dua rakaat untuk mendapatkan keutamaan tersebut. Apalagi orang yang bekerja di kantor ya tidak boleh dia meninggalkan dulu pekerjaannya untuk salat dua rakaat karena ini waktu kewajibannya.
(31:29) Kalau kecuali kalau diizinkan atau mungkin tidak ada orang yang datang maka dia melaksanakan salat dua rakaat boleh-boleh saja tapi jangan sampai dia meninggalkan kewajibannya hanya karena mengejar keutamaan tadi. Nam. Barakallah fik. Tapi kita ada pertanyaan dari umahat ustaz. Iya. Silakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin bertanya, Ustaz.
(31:50) Ee Ustaz, pernikahan kami sudah 9 tahun, tapi belum dikaruniai seorang anak. Kadang sifat iri sering muncul kalau melihat saudara ataupun teman yang sudah punya anak. Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa penantian panjang ini adalah bentuk kasih sayang Allah, bukanlah hukuman. Dan bagaimana agar kita terus berprasangka baik atas ketetapan Allah? Mohon doanya juga, Ustaz.
(32:15) Semoga kami dikaruniai seorang anak. Jazakallah khairan. Iya. Barakallahu fikum. Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kebaikan senantiasa dalam ketentuan takdir yang diberikannya kepada antum dan kepada kita semua. Karena Allah Subhanahu wa taala yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Jelas semua ini ada hikmah yang sempurna di balik semua itu.
(32:41) Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wa asa anqrahu wahuairul lakum wa asa an tuhibai wahua lakum wallahu ylamu wa antum la tlamun.” Wahai manusia, bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal dari situlah kebaikan untukmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal dari situlah keburukan untukmu.
(33:12) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. Jadi bersangka baik kepada Allah itu yang sepantasnya. Karena Allah yang menentukan segala sesuatu. Karena bersangka buruk pun atau tidak terima pun tidak akan berubah keadaan kita. Jadi kalau kita ingin dapatkan kebaikan dari setiap ketentuan takdir Allah, kita bersangka baik.
(33:34) Yang ini akan menjadikan kita dapatkan pahala. Kemudian dimudahkan kebaikan dari setiap ketentuan takdirnya. Sampai pun yang kita anggap buruk ternyata menjadi sebab kebaikan bagi kita. Belum lagi pahala dan keutamaan di akhirat nanti. Oleh karena itu hendaknya kita selalu bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa taala dalam setiap ketentuan takdirnya dan tidak menghalangi kita untuk bisa melakukan kebaikan misalnya dengan cara berbuat baik kepada anak yatim atau membiayai mereka-mereka yang butuh untuk misalnya di pondokan atau
(34:12) mendapatkan pendidikan Islam yang baik atau banyak jalan-jalan kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala Taala bisa mudahkan bagi kita dengan kita tidak punya keturunan pun kita bisa dapatkan ah tabungan kebaikan. Yang jelas ini hanya urusan dunia saja yang sementara. Adapun di akhirat nanti semua yang kita inginkan Allah subhanahu wa taala akan mudahkan dan berikan bagi kita sesuai dengan apa yang kita minta di surga nanti. Nam.
(34:41) Barakallahu fikum. Satu pertanyaan lagi, Ustaz. Ustaz, kalau kita diundang oleh tetangga untuk menghadiri yasinan, Ustaz, bagaimana hukumnya, Ustaz? Dan apakah itu boleh membacakan Yasin untuk orang yang sudah meninggal dari hari pertama sampai hari ketujuh saja, Ustaz? Iya, barakallahu fikum. Yang sudah kita ketahui surat Yasin maupun surah-surat yang lainnya adalah surat yang agung dan surat yang mulia.
(35:11) Apalagi dengan merenungkan istrinya. Jelas banyak kebaikan-kebaikan dan sebab-sebab yang menambah iman kita. Cuma yang jadi masalah sebagian orang meyakini dibaca di waktu-waktu tertentu sewaktu orang meninggal 1 hari sampai 7 hari atau di waktu-waktu yang lainnya malam Jumat dan seterusnya padahal tidak ada dalil yang mendukungnya.
(35:32) Ini yang menjadi masalah. Maka acara-acara seperti ini tidak boleh kalau kita bisa menasihati mereka untuk misalnya lebih baik membaca Al-Qur’an ya. Dan Al-Qur’an itu kan dibaca untuk orang yang masih hidup bukan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Kita bisa menasihati mereka lebih bagus kita doakan kepada mayit tersebut ya.
(35:59) Karena bacaan-bacaan Al-Qur’an yang dikhususkan di waktu-waktu ini tidak ada dalilnya dan tidak mendatangkan kebaikan karena tidak dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Itu harusnya kita nasihatkan kepada mereka. Adapun kalau sekedar acara seperti ini tidak boleh kita menghadirinya. Karena keutamaan-keutamaan yang berhubungan dengan surat Yasin yang disebutkan di waktu-waktu tertentu ini semua tidak ada dalilnya.
(36:27) Adapun ada yang ada dalilnya semua adalah dalil yang tidak sahih. Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama termasuk As Syekh Albani rahimahullahu taala. Ah namam barakallahu fikum. Ada pertanyaan di sini, Ustaz. Bagaimana hukumnya kita sebagai ojol yang membonceng wanita yang bukan mahram? Haram hukumnya dan kerusakannya sangat banyak.
(36:54) Ya, kalau membonceng apalagi pakai motor misalnya ya, sedangkan pakai mobil saja sudah jelas khalwatnya. Ingat sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. La yakna bimahuma. Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali setan menjadi pihak ketiganya. Apalagi kalau bergandengan di motor yang potensi untuk bersentuhan jelas sangat besar.
(37:33) Menyentuh wanita yang bukan mahram jelas dosa besar. Sampai disebutkan ancamannya sangat keras. Dalam hadis yang sahih kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, min hadidin lahu minyamatan. Sungguh jika seseorang [berdehem] jika kepala seorang laki-laki ya ditusuk dengan jarum dari besi dan lebih baik baginya daripada dia menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
(38:07) Kemudian fitnah yang sangat besar tentu saja secara umum fitnah perempuan bagi laki-laki sangat besar. Maka tidak mungkin hal seperti ini diperbolehkan ya dalam kondisi-kondisi sehari-hari harusnya seseorang yang punya profesi seperti ini menolak ketika itu apa ini penumpangnya adalah seorang perempuan. Nah, barakallahu fik.
(38:32) [batuk] [berdehem] Baik. Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini. [berdehem] Kita akhiri sampai di sini. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam. wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi ajma walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Yeah.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *